Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis ucapkan keHadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat

limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyusun makalah ini

yang berjudul"Abortus" tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan

tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk

itu dalam kesempatan ini Penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang

sebesar-besarny akepada Dosen Pembimbing dan semua pihak yang membantu dalam

pembuatan makalah ini.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada par

apembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik

dari bentuk penyusunan maupun materinya, untuk itu Penulis mengharap kan kritik

dan saran dari pembaca, atas kritik dan sarannya, Penulis mengucapkan terima kasih.

bukittinggi, mei 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................................i

Daftar Isi ................................................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN ..................................................................................................1

A. Latar Belakang ...........................................................................................................3


B. Rumusan Masalah ......................................................................................................4
C. Tujuan ........................................................................................................................4

BAB II : PEMBAHASAN ABORTUS ...............................................................................5

A. Pengertian ..................................................................................................................5
B. Etiologi .......................................................................................................................5
C. Patogenesis .................................................................................................................6
D. ManifestasiKlinis .......................................................................................................7
E. PemeriksaanPenunjang ..............................................................................................7
F. Komplikasi .................................................................................................................7
G. Macam-MacamAborsi ...............................................................................................8
H. Diagnostic...................................................................................................................10
I. TeknikPengeluaranSisaAbortus .................................................................................11
J. Factor Prediposisi/ResikoAbortus .............................................................................11
K. Penatalaksanaan .........................................................................................................11

BAB Ill :PENUTUP ..............................................................................................................12

A. Kesimpulan ................................................................................................................12
B. Saran ..........................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................13
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ensiklopedi Indonesia mengartikan abortus sebagai pengakhiran kehamilan

sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1000 gram.

Pembatasan ini tidak mengecualikan apakah abortus itu termasuk abortus spontan atau

abortus buatan. Abortus spontan adalah abortus yang tidak disengaja dan tanpa

tindakan apa pun. Abortus macam ini lebih sering terjadi karena faktor di luar

kemampuan manusia, misalnya pendarahan atau kecelakaan. Adapun abortus buatan

(abortus provocatus) adalah abortus yang terjadi sebagai akibat tindakan tertentu.

Abortus macam ini masih dapat dibagi lagi ke dalam abortus artificialis therapicus

atau abortus yang dilakukan berdasarkan pertimbangan medik, dan abortus provocatus

criminalis atau abortus yang dilakukan tanpa berdasarkan pertimbangan medik.

Abortus artificialis therapicus selalu positif karena bertujuan menyelamatkan

jiwa ibu yang terancam jika kehamilannya dipertahankan, sedangkan abortus

provocatus criminalis selalu negatif mengingat bencana yang banyak ditimbulkannya.

Banyak contohnya. Sebelum Undang-Undang tentang abortus disahkan di negara

bagian California Amerika Serikat pada era 1960-an misalnya, komplikasi yang

timbul akibat pengguguran tidak sah menyebabkan satu dari lima kematian yang

berhubungan dengan kelahiran, umumnya terjadi di kalangan wanita berpenghasilan

rendah.

Hasil penelitian di Kolombia pada tahun 1964 menunjukkan bahwa

komplikasi penyakit akibat pengguguran tidak sah merupakan faktor utama yang

menyebabkan kematian di kalangan wanita usia 15 hingga 35 tahun. Data di Santiago

Chile selama tahun 1980-an mengungkapkan separuh dari kematian yang

berhubungan dengan kelahiran adalah akibat pengguguran tidak sah.


B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan abortus?
2. Apa Etiologi dari Abortus?
3. Bagaimana Patogenesis dari Abortus?
4. Apa Manesfestasi Klinis dari Abortus?
5. Apa pemeriksaan penunjang dari abortus?
6. Apa Komplikasi dari Abortus?
7. Apa macam-macam dari abortus?
8. Bagaimana cara Mendiagnostik Abortus?
9. Bagaimana Teknik Pengeluaran Sisa Abortus?
10. Apa Faktor Resiko/Predisposisi Abortus?
11. Bagaimana Penatalaksanaan Abortus?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui macam-
macam abortus, efek samping/risiko, penatalaksanaan pasca abortus, diagnostik serta
teknik pengeluaran abortus.
BAB II

PEMBAHASAN
ABORTUS

A. Pengertian
Perkataan abortus dalam bahasa Inggris disebu tabortion berasal dari bahasa
latinyang berarti gugur kandungan atau keguguran. Sardikin Ginaputra dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia member pengertian abortus sebagai pengakhiran
kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
Kemudian menurut Maryono Reksodi pura dari Fakultas Hukum UI, abortus adalah
pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara
alamiah).
Dari pengertian di atas dapat dikatakan, bahwa abortus adalah suatu perbuatan
untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan
sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan.
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa
getasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek
liewollyn&Jones, 2002).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Istilah abortus dipakai
untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan.
Kelainan dalam kehamilan ada beberapa macam yaitu abortus spontan, abortus
buatan, dan terapeutik. Biasanya abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kualitas
sel telur dan sel sperma. Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan
disengaja sebelum usia kandungan 28 minggu. Pengguguran kandungan buatan
karena indikasi medik disebut abortus terapeutik.

b. Etiologi
Faktor ovovetal yang menyebabkan abortus adalah kelainan pertumbuhan janin dan
kelainan pada plasenta. Penyebab kelainan pertumbuhan janin ialah kelainan kromosom,
lingkungan kurang sempurna, dan pengaruh dari luar. Kelainan plasenta disebabkan
endarteritis pada villi koriales yang menghambat oksigenisasi plasenta sehingga terjadi
gangguan pertumbuhan bahkan menyebabkan kematian (Prawirohardjo, S, 2002).
Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan
sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah
a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X

b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna

c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau alkohol.

Pada awal abortus terjadi pendarahan yang menyebabkan janin terlepas. Pada kehamilan
kurang dari 8 minggu janin biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum
menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales
menembus desidua secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga
banyak perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang
telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta
(Prawirohardjo, S, 2002).
Keadaan ibu yang menyebabkan abortus antara lain:
1) penyakit Ibu seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria,
2) toksin, bakteri, virus, plasmodium masuk ke janin menyebabkan kematian sehingga
terjadi abortus,
3) penyakit menahun, dan
4) kelainan traktus genitalis, seperti inkompetensi serviks, retroversi uteri, mioma uteri,
dan kelainan bawaan uterus (Prawirohardjo, S, 2002).

B. Patogenesis
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis jaringan sekitar
yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus.
Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus desidua secara
dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14
minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu, janin
dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dalam berbagai
bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya
(lighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus,
maserasi atau fetus papiraseus.

C. Manifestasi Klinis
1. Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil,
suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium/tidak bau busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan
berbau busuk dario ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah abortus
2. Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

E. Komplikasi
1. Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi
2. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah
F. Macam-macam Aborsi

Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas:

1. Abortus iminens, perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu,


tanpa ada tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat.
2. Abortus insipiens, bila perdarahan diikuuti dengan dilatasi serviks.
3. Abortus inkomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus. Bila
abortus inkomplit disertai infeksi genetalia disebut abortus infeksiosa
4. Abortus komplit, bila seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus
5. Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak dikeluarkan
selama 8 minggu atau lebih.
Pengertian
1. Abortus imminens adalah terjadinya perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, janin masih dalam uterus, tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosisnya terjadi
perdarahan melalui ostium uteri eksternum disertai mual, uterus membesar sebesar tuanya
kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Penanganannya : 1)
Berbaring, cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan sehingga
rangsang mekanik berkurang. 2) Pemberian hormon progesterone. 3) Pemeriksaan USG
(Sarwono Prawirohardjo, 2002).
2. Abortus insipiens adalah peristiwa peradangan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi serviks. Diagnosisnya rasa mules menjadi lebih sering dan
kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran janin dengan kuret vakum atau cunam ovum,
disusul dengan kerokan. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu bahaya peforasi pada
kerokan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infuse
oksitosin. Sebaliknya secara digital dan kerokan bila sisa plasenta tertinggal bahaya
perforasinya kecil (Sarwono Prawirohardjo,2002).
3. Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian janin pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal,
servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang – kadang
sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa
janin dikelurkan, dapat menyebabkan syok. Penanganannya, diberikan infuse cairan NaCl
fisiologik dan transfusi, setelah syok diatasi dilakukan kerokan. Saat tindakan disuntikkan
intramuskulus ergometrin untuk mempertahankan kontraksi otot uterus (Sarwono
Prawirohardjo, 2002).
4. Abortus kompletusditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, uterus
sudah mengecil dan tidak memerlukan pengobatan khusus, apabila menderita anemia perlu
diberi sulfas ferrosus atau transfuse (Sarwono Prawirohardjo, 2002).
5. Missed abortion adalah kehamilan yang tidak normal, janin mati pada usia kurang
dari 20 hari dan tidak dapat dihindari (James L Lindsey,MD , 2007). Gejalanya seperti
abortus immines yang kemudian menghilang secara spontan disertai kehamilan
menghilang, mamma agak mengendor, uterus mengecil, tes kehamilan negative. Dengan
USG dapat diketahui apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan
(Sarwono Prawirohardjo,2002). Dengan human chorionic gonadotropin (hCG) tests bisa
diketahui kemungkinan keguguran (James L Lindsey,MD , 2007).Biasanya terjadi
pembekuan darah. Penanganannya, Pada kehamilan kurang dari 12 minggu dilakukan
pembukaan serviks uteri dengan laminaria selama + 12 jam kedalam servikalis, yang
kemudian diperbesar dengan busi hegar sampai cunam ovum atau jari dapat masuk ke
dalam kavum uteri. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, maka pengeluaran janin dengan
infuse intravena oktsitosin dosis tinggi. Apabila fundus uteri tingginya sampai 2 jari
dibawah pusat, maka pengeluaran janin dapat dikerjakan dengan penyuntikan larutan
garam 20% kedalam dinding uteri melalui dinding perut. Apabila terdapat
hipofibrinogenemia, perlu persediaan fibrinogen (Sarwono Prawirohardjo,2002).
Pemberian misoprostol (Cytotec) 400-800 mcg dengan dosis tunggal atau ganda untuk
mengurangi rasa sakit (James L Lindsey,MD , 2007).
6. Medical aborsi adalah cara terakhir untuk melindungi seperti surgical aborsi dengan
mengetahui resiko kehamilan ectropic , aborsi spontan, kelahiran dengan berat yang
minim, dan kelahiran premature sebagai rangkaian kehamilan. Efek medical aborsi
berturut-turut dalam kehamilan adalah sulit untuk hamil lagi, disebabkan kematian ditiga
minggu pertama kehamilan. Faktor resiko untuk kehamilan ectropic ditemukan dengan
kenaikan resiko yang signifikan untuk kehamilan ectopic berhubungan dengan aborsi
medik tetapi tidak dengan surgical abortion,sebagai bandingan dengan wanita yang tidak
pernah melakukan aborsi. (Professor Paul D. Blumenthal, MD, MPH and Beverly
Winikoff, MD, MPH, 2007.)
Secaraumum, penggugurankandungandapatdibagikepadaduamacam:
1. Abortus Spontan (Spontaneus Abortus), ialah abortus yang tidak disengaja.
Abortus spontan bias terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan dan
sebagainya
2. Abortus yang disengaja (Abortus Provocatus/ Induced Pro Abortion) dan
abortus ini Ada 2 macam:
a. Abortus Artificialis Therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas
dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan jiwa
sicalon ibu, karena penyakit yang berat seperti TBC yang berat dan ginjal
b. Abortus Provocatus Criminalisi, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar
indikasi medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan
seks di luar nikah/ untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.

G. Diagnostik
1. Anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidak gejala / keluhan
lain, cari faktor risiko / predisposisi. Riwayat penyakit umum dan riwayat obstetri
/ ginekologi.
2. Prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan per vaginam abnormal
HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan.
3. Pemeriksaan fisis umum : keadaan umum, tanda vital, sistematik. JIKA keadaan
umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera !
4. Pemeriksaan ginekologi : ada tidaknya tanda akut abdomen. Jika memungkinkan,
cari sumber perdarahan : apakah dari dinding vagina, atau dari jaringan serviks,
atau darah mengalir keluar dari ostium
5. Jika diperlukan, ambil darah / cairan / jaringan untuk pemeriksaan penunjang
(ambil sediaan SEBELUM pemeriksaan vaginal touche)
6. Pemeriksaan vaginal touche : hati-hati. Bimanual tentukan besar dan letak uterus.
Tentukan juga apakah satu jari pemeriksa dapat dimasukkan ke dalam ostium
dengan MUDAH / lunak, atau tidak (melihat ada tidaknya dilatasi serviks). Jangan
dipaksa. Adneksa dan parametrium diperiksa, ada tidaknya massa atau tanda akut
lainnya.
H. Teknik Pengeluaran Sisa Abortus
Pengeluaran jaringan pada abortus : setelah serviks terbuka (primer maupun
dengan dilatasi), jaringan konsepsi dapat dikeluarkan secara manual, dilanjutkan
dengan kuretase.
1. Sondage, menentukan posisi dan ukuran uterus.
2. Masukkan tang abortus sepanjang besar uterus, buka dan putar 90o untuk
melepaskan jaringan, kemudian tutup dan keluarkan jaringan tersebut.
3. Sisa abortus dikeluarkan dengan kuret tumpul, gunakan sendok terbesar yang bisa
masuk.
4. Pastikan sisa konsepsi telah keluar semua denganeksplorasi jari maupun kuret

I. Faktor Risiko/Predisposisi Abortus


1. Usia ibu yang lanjut
2. Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
3. Riwayat infertilitas
4. Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes,
penyakit gh Imunologi sistemik dsb).
5. berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)
6. paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb)
7. trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama
8. kelainan kromosom (trisomi / monosomi)
Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom ternyata paling sering dan
paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus.

J. Penatalaksanaan
Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi
uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian.
Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan
pemakaian kontrasepsi kondom atau pil).
BAB Ill

PENUTUP

A. Kesimpulan

Abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau

sebelum janin mencapai berat 1000 gram. Abortus adalah keluarnya janin sebelum

mencapai viabilitas. Dimana masa getasi belum mencapai 22 minggu dan beratnya

kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones, 2002). Kelainan dalam kehamilan ada

beberapa macam yaitu abortus spontan, abortus buatan, dan terapeutik. Biasanya

abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.

Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia

kandungan 28 minggu. Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut

abortus terapeutik

B. Saran

Pada pembahasan ini tentang abortus, betapa pentingnya benar-benar

diperhatikan dan dapat bermanfaat bagi kita semua untuk mengantisipasi dari pada

bentuk abortus, faktor-faktor penyebab abortus serta dampak negative yang dapat

mengancam jiwa bagi penderita.

Abortus hendaknya dilakukan jika benar-benar terpaksa karena bagaimanapun

didalam kehamilan berlaku kewajiban untuk menghormati kehidupan manusia dan

abortus hendaknya dilakukan oleh tenaga profesional yang terdaftar.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC


Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Hamilton, C. Mary. 1995. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6. Jakarta:
EGC
Km Ita Wirasadi. 2010. Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
Pada Pasien Dengan Abortus.
Liza. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kehamilan Abortus.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius.
Jakarta
Wiknjosastro Hanifa.1991. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Gramedia
http://lizanurviana.blog.com/2010/11/28/askep-abortus/
http://ppnikarangasem.blogspot.com/2010/02/asuhan-keperawatan-gawat-darurat-
pada.html
http://ardyanpradana007.blogspot.com/2012/04/askep-abortus.html