Anda di halaman 1dari 22

TERMODINAMIKA TEKNIK KIMIA II

PENCAIRAN GAS SECARA JOULE THOMSON

OLEH:

KELOMPOK 9

1. DORIE KARTIKA NRP. 122017055P

2. HAFIZ NRP.

3. ZULKIPLI NRP.

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2018
PENCAIRAN GAS SECARA JOULE THOMSON

Joule -Thompson effect biasanya digunakan dalam industri migas untuk


dijadikan tolok ukur pada proses pencairan gas. Proses pencairan gas ini dilakukan
karena akibat dari tekanan dan temperatur yang kritis sehingga megakibatkan gas
membentuk kristal yang seperti es atau biasa disebut sebagai gas Hidrat. Proses
pencairan gas yang menggunakan Joule-Thomsone effect adalah dengan
pertolongan suatu kompresor, dimana gas pertama kali ditekan pada tekanan yang
tinggi, kemudian dilepas untuk pengembangan bebas. Gas yang telah mengalami
penurunan suhu akan dialirkan kedalam kompresor dan proses dapat diulang
kembali hingga mencapai suhu yang cukup rendah sehingga pada pengembangan
atau ekspansi dihasilkan cairan sebagai akibat terjadinya proses kondensasi.
Sebagaiamana diketahui bahwa pada umumnya gas yang dialirkan dari bawah
tanah, akan melewati choke valve guna diatur laju alirnya dan masuk kedalam plant
yang tekanannya dijaga tetap. Pada bukaan choke yang kecil, maka tekanan
sebelum choke valve relatif tinggi dan kemungkinan fenomena choking sudah
terjadi. Choking adalah suatu kejadian di valvedimana penurunan tekanan
dikeluarkan choke valve tidak akan menambah laju alir fluida yang melewatinya
seperti lazimnya hukum mekanika fluida, dimana semakin tinggi hilang tekan
ataupressure drop melewati valve maka laju alir fluida yang dapat melewatinya
juga akan semakin besar. Pada umumnya choking terjadi jika rasio tekanan keluar
dan rasio tekanan yang masuk sekitar 0.5 tapi harga ini juga bergantung pada jenis
gas yang melewatinya, yang biasanya diwakili oleh besaran Cp/Cv. Energi di
dalam reservoir akan selalu berusaha untuk dapat mengalirkan sebanyak –
banyaknya fluida melewati choke valve tersebut, yaitu dengan cara mengubah
kondisichoking. Kondisi choking akan bergeser ke arah tidak menjadi choking jika
tekanan yang masuk ke dalam choke valve naik. Berapa besarnya kenaikan ini
tentunya mengikuti kemampuan batas energi dari reservoir yang mendorong fluida
sampai ke permukaan. Dengan begitu besarnya hilang tekan yang melewati choke
valve akan membuat temperatur keluaran gas menjadi semakin dingin.
Ketika choke valve dibuka membesar maka energi reservoir akan memberikan
tekanan sekian saja karena gas sudah bisa mengalir lebih banyak.
Persamaan Joule – Thomson :
H = H ( P,T )

Pada percobaan Joule – Thomson nilai H adalah konstan dH = 0

Sekarang adalah CP, Maka kapasitas panasnya berada dalam tekanan


konstan, sejak
dH = TdS + VdP

Kita perlu mengetahui cara mngukur perubahan temperatur yang menyertai


perubahan tekanan pada entalpi tetap. Kecerdikan untuk mengatasi kendala ini
diberikan oleh joule dan william thomson, yang tidak hanya memecahkan masalah
ini, melainkan juga menemukan cara untuk membuat eksperimen yang sangat peka
utuk masalah ini. Mereka menemukan kesalahan pada eksperimen orisinal joule,
yaitu bahwa kapasitas kalor alat terlalu besar, sehingga perubahan temperatur
menjadi sangat kecil dan tak teratur.
Joule dan thomson mempunyai gagasan yang baik dengan mengunakan gas (yang
kapasitas kalornya rendah) sebagai bak kalornya dan membuat aliran terus-menerus
sehinga efeknya lebih mudah diukur. Gas dibiarkan memuai melalui suatu sumbat
berpori dari suatu tekanan tetap ke tekanan tetap lainya dan memonitor perbedaan
temperatur. Seluruh alat diisolasi sehingga proses tersebut adiabatik. Mereka
mendapakan temperatur yang lebih rendah pada sisi yang tekanannya rendah, dan
perbedaannya sebanding dengan perbedaan tekanannya. Pendinginan dengan
pemuian adiabatik ini sekarang disebut efek joule-thomson (Atkins, 1996).

Kepentingan teknologi efek joule-thomson terletak pada penerapannya dalam


pendinginan dan pencairan gas. Pendingin linde bekerja dengan prinsip bahwa
dibawah temperatur inversinya, gas mendingin pada pemuaian. Dengan demikian
sangatlah penting untuk mengetahui kondisi-kondisi dimana p positif. Sesudah gas
pendingin bersirkulasi ulang, dan untuk penurunan tekanan yang cukup besar antara
sebelum dan sesudah sumbat berpori , temperatur turun sampai dibawah temperatur
pengembunan, dan terbentuklah cairan (Atkins, 1996).

Mesin pendingin joule-thomson digunakan untuk dalam aplikasi medis seperti alat
penyimpan spesimen biomedis dan cryosurgery. Sebegai alat cryosurdery, mesin
pendingin joule-thomson harus memiliki kisaran temperatur yang besar aan mampu
mencapai suhu 120 K agar jaringan kanker yang menginfeksi bagian tubuh dapat
dimatikan (Hidayat, 2011).

Efek joule-thomson biasanya juga digunakan dalam industri migas untuk dijadikan
tolok ukur pada proses pencairan gas. Proses pencairan gas ini dilakukan karena
akibat dari tekanan dan temperatur yang kritis sehingga megakibatkan gas
membentuk kristal yang seperti es atau biasa disebut sebagai gas Hidrat. Proses
pencairan gas yang menggunakan Joule-Thomsone effect adalah dengan
pertolongan suatu kompresor, dimana gas pertama kali ditekan pada tekanan yang
tinggi, kemudian dilepas untuk pengembangan bebas. Gas yang telah mengalami
penurunan suhu akan dialirkan ke dalam kompresor dan proses dapat diulang
kembali hingga mencapai suhu yang cukup rendah sehingga pada pengembangan
atau ekspansi dihasilkan cairan sebagai akibat terjadinya proses kondensasi.

Suatu hari Joule dan Thomson melakukan eksperimen dengan peralatan sederhana
seperti berikut. Bayangkan sebuah tabung dengan pelat berpori (porous plug) yang
memisahkan tabung tersebut menjadi dua bagian. Pelat tersebut dapat dilewati gas
tetapi dengan laju yang lambat (throttle). Pada kedua ujung tabung tersebut terdapat
piston yang bisa masuk dengan tepat dan kuat ke dalam tabung. Setiap piston bisa
bergerak mendekati dan menjauhi poros berpori tersebut. Tabung juga diinsulasi
dengan baik sehingga tidak ada kalor yang bisa masuk dan keluar tabung tersebut
(adiabatik).
Gas dimasukkan di antara pelat berpori dan piston sebelah kiri tabung. Kita
sebut sisi pertama. Pada bagian kanan tabung, piston berada tanpa ruang kosong di
sebelah poros berpori. Sebut saja sisi kedua. Volume awal sisi pertama adalah V1.
Tekanan awal dan temperaturnya masing-masing P1 dan T1. Sekarang, gas pada
sisi pertama didorong piston ke arah poros berpori dan pada saat yang sama piston
sisi kedua akan tertarik menjauhi poros berpori sehingga memiliki tekanan P2 (tentu
saja P2 lebih kecil daripada P1). Pada akhir eksperimen, piston sisi pertama tepat
berada di sebelah poros berpori dan kondisi (volume, tekanan, dan temperatur)
akhir sisi kedua adalah V2, P2, dan T2.
Ada yang aneh hasil percobaan sederhana tersebut! Pengukuran yang akurat
menunjukkan T2 tidak sama dengan T1. Kadang T2 bisa lebih kecil dan lebih besar
dari T1. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Analisis Awal
Proses diawali dengan volume V1=V1 dan V2=0 dan diakhiri dengan V1=0 dan
V2=V2. Kerja yang dilakukan pada sisi pertama: W1= – P1(0-V1) =P1V1. Kerja yang
dihasilkan pada sisi kedua: W2 = – P2 (V2-0) = – P2V2
Berarti kerja total adalah

Wtotal = W1 + W2 = P1V1 – P2V2

deltaU = Q + W. Artinya perubahan energi dalam sistem akan dipengaruhi oleh


panas dan kerja total yang terjadi pada sistem. Karena eksperimen ini dilakukan
pada kondisi adiabatik, maka Q = 0. Dengan demikian energi dalam (deltaU) hanya
bergantung pada W (kerja total sistem).

DeltaU = Wtotal

U2 – U1 = P1V1 – P2V2

U2 + P2V2 = U1 + P1V1

U+PV = H (entalpi)
Jadi, persamaan terakhir ditutup dengan H2 =H1. Proses ternyata berlangsung pada
kondisi ISENTALPI. Biasanya dalam soal atau aplikasi termodinamika, alat yang
berperan sebagai poros berpori (porous plug) tersebut adalah valve.

Efek Joule-Thompson

Apabila sejumlah gas mengalami pengembangan yang sangat cepat dari


keadaan tekanan tinggi menjadi tekanan rendah, cepatnya waktu tadi secara praktis
tidak memungkinkan gas untuk mengalami perambatan kalor dari luar ke dalam
sistem atau sebaliknya. Dengan demikian q = 0 dan proses dapat dianggap
berlangsung secara adiabat. Sebagai akibat pengembangan adiabat ini, gas
mengalami perubahan suhu bisa positif atau negatif. artinya suhu dapat naik atau
turun sebagai akibat pengembangan ini.Gejala ini disebut sebagai efek Joule-
Thompson.

Secara molekular, penurunan suhu pada pengembangan adiabat disebabkan


antara molekul terdapat gaya tarik. Pada saat dikembangkan, diperlukan energi
untuk mengalahkan gaya tarik antar-molekul tersebut.Dengan berlangsungnya
proses secara adiabat,sehingga tidak mungkin memperoleh energi dari luar,sistem
akan mengambil energi dari “simpanannya” sendiri yang mengakibatkan
penurunan suhu.pengembangan yang menghasilkan penurunan suhu sangat
berguna,karena apabila dilakukan berulang-ulang dapat menghasilkan penurunan
suhu cukup besar yang menyebabkan gas mengalami kondensasi atau
pencairan.Untuk mendapatkan kondisi yang tepat agar terjadi pendinginya,
persyaratan termodinamika bagi gejala tersebut akan di bahas.
Dengan pertolongan suatu kompresor, gas pertama kali di tekan ke tekanan
tinggi,kemudian di lepas untuk mengalami pengembangan bebas melalui suatu
moncong berlubang kecil. Gas yang telah mengalami penurunan suhu ini diisap
kembali ke dalam kompressor,dan proses dapat di ulang kembali. Dengan
melakukannya berulang-ulang akan dicapai suhu cukup rendah,sehingga pada
pengembangan atau ekspansi dihasilkan cairan sebagai akibat terjadinya proses
kondensasi.

Secara termodinamika, pengembangan Joule-Thompson dapat digambarkan


sebagai suatu gas yang ditekan melalui media berpori dari bagian kiri dengan
tekanan p1 dan volum V1 ke bagian kanan dengan tekanan p2 yang lebih rendah
dan volum V2.

PENCAIRAN GAS
Di lapangan sering dibutuhkan kondisi dengan temperatur yang sangat rendah
(di bawah -100OC), seperti pada proses pemisahan gas oksigen dan nitrogen dari
udara, pembuatan hidrogen cair untuk bahan bakar mesin roket, riset tentang
superkonduksi dan lain-lain.
Pada sebuah proses pencairan gas, gas harus didinginkan sampai pada
temperatur di bawah temperatur kritisnya. Misal temperatur kritis untuk helium,
hidrogen, dan nitrogen adalah masing-masing –268, -240, dan -147OC. Salah satu
metode refrigerasi yang memungkinkan untuk mendapatkan temperatur sangat
rendah ini adalah metode Linde-Hampson seperti pada gambar di bawah.
Di sini gas baru yang akan dicairkan (1) dicampur dengan gas yang tidak
berhasil dicairkan pada tahap sebelumnya (9) sehingga temperaturnya turun sampai
titik (2) dan kemudian bersama-sama masuk ke kompresor bertingkat.
Pengkompresian dilakukan bertingkat sampai titik (3) dengan dilengkapi
intercooling. Gas tekanan tinggi kemudian didinginkan sampai titik (4) dalam after-
cooler dengan menggunakan media pendingin dan didinginkan lebih lanjut sampai
titik (5) dalam alat penukar kalor regenerative dengan membuang kalornya ke gas
yang tidak berhasil dicairkan pada tahap sebelumnya dan akhirnya di-throttled ke
titik (6) sehingga berubah menjadi campuran jenuh. Uap dipisahkan dari gas yang
telah berubah menjadi cair untuk kemudian dilewatkan melalui alat penukar kalor
regenerative untuk menjalani tahap berikutnya.

Di antara nilai-nilai koreksi tekanan dalam tetapan van der Waals, H2O,
amonia dan karbon dioksida memiliki nilai yang sangat besar, sementara oksigen
dan nitrogen dan gas lain memiliki nilai pertengahan. Nilai untuk helium sangat
rendah.

Telah dikenali bahwa pencairan nitrogen dan oksigen sangat sukar. Di abad
19, ditemukan bahwa gas-gas yang baru ditemukan semacam amonia dicairkan
dengan cukup mudah. Penemuan ini merangsang orang untuk berusaha mencairkan
gas lain. Pencairan oksigen atau nitrogen dengan pendinginan pada tekanan tidak
berhasil dilakukan. Gas semacam ini dianggap sebagai “gas permanen” yang tidak
pernah dapat dicairkan.

Baru kemudian ditemukan adanya tekanan dan temperatur kritis. Hal ini
berarti bahwa seharusnya tidak ada gas permanen. Beberapa gas mudah dicairkan
sementara yang lain tidak. Dalam proses pencairan gas dalam skala industro,
digunakan efek Joule-Thomson. Bila suatu gas dimasukkan dalam wadah yang
terisolasi dengan cepat diberi tekan dengan menekan piston, energi kinetik piston
yang bergerak akan meningkatkan energi kinetik molekul gas, menaikkan
temperaturnya (karena prosesnya adiabatik, tidak ada energi kinetik yang
dipindahkan ke dinding, dsb). Proses ini disebut dengan kompresi adiabatik. Bila
gas kemudian dikembangkan dengan cepat melalui lubang kecil, temperatur gas
akan menurun. Proses ini adalah pengembangan adiabatik. Dimungkinkan untuk
mendinginkan gas dengan secara bergantian melakukan pengembangan dan
penekanan adiabatik cepat sampai pencairan.

 Sistem Pencairan Gas


1. Parameter Kinerja Sistem
Terdapat tiga fungsi pay off ( perhitungan) yang perlu diperhati-
kan , yaitu:
Kerja yang dibutuhkan per unit massa dari gas yang dikompress :
-W /m
Kerja yang diperlukan per unit massa dari gas yang dicairkan ( W )
:
-W / m f
Fraksi total antara aliran gas yang dicairkan dengan gas mula-mula :
y = mf / m
Dari tiga hal diperoleh -W /m = -W / mf y

Pada sistim pencairan , seharusnya mampu meminimalkan kerja yang


dibutuhkan dan memaximalkan fraksi gas yang dicairkan .
Fungsi pay off akan berbeda untuk gas yang berbeda, oleh karena itu
perlu membedakan sistim yang ada bila menggunakan fluida yang
berbeda.
FOM bernilai dari 1 sampai 0 dan memberikan gambaran seberapa
jauh sistim ini mendekati sistim ideal.
Pada sistim real ,yang perlu diperhatikan adalah :
1. kerja kompresor dan ekspander adiabatic
2. kerja kompresor dan ekspander mekanik
3. kerja heat exchanger
4. perubahan tekanan pada pipa dan heat exchanger
5. Perpindahan panas kedalam sistim dari lingkungan
2. Sistim pencairan termodinamika ideal
Sistim ini secara tioritis ideal namun secara praktek tidak
ideal,karena sistim ideal adalah siklus Carnot terbuka dengan tekanan
isothermal reversibel dan ekspansi isentropis reversibel.,dimana pada
7
tekanan isotermal itu diatas 10 psia tidak dapat dicapai dalam
praktek.

3. Proses suhu rendah


 Untuk proses pencairan gas dan menghasilkan suhu rendah
penggunaan ekspansion valve atau joule thomson biasa dilakukan.
Dengan menggunakan hukum thermodinamika I , dan dapat
dikatakan bahwa h1 = h2 , jika energi kinetik dan energi potential
dari aliran tunak diabaikan. Hal ini berlaku juga untuk aliran
irreversibel namun tidak isentropic.
 Untuk gas nyata pada saat terjadi ekspansi dalam valve (penurunan
tekanan) akan ada daerah yang akan mengalami peningkatan suhu
namun ada juga daerah yang mengalami penurunan suhu. Aliran
melalui isolasi ekspansion valve (Joule Thomson) membentuk
kurva temperature yang memisahkan kedua daerah ini disebut kurva
inverse.Jadi gas yang melalui exspansion valve J. Thomson tidak
selalu temperaturnya turun.Hal ini merupakan metoda pertama.
 Metode kedua untuk membuat suhu rendah adalah ekspansi
adiabatik dengan menggunakan ekspander. Dalam hal ideal
ekspansi akan terjadi secara reversibel dan adiabatik sehingga
terbentuk isentropis.
Selalu ekspansi isentropis akan menghasilkan suhu yang lebih
rendah dibandingkan dengan ekspansi isentalpi (Alat j.thomson)
pada suhu awal yang sama . Hal ini disebabkan adanya kerja internal
didalam peralatan.
Contoh Aplikasi Efek Joule Thomson

Konsep Simulasi Katup Kendali


Katup kendali merupakan alat proses yang juga sering ditemui selain separator di
lingkungan industri migas. Kita bisa menggunakannya untuk mengurangi tekanan,
mengendalikan laju alir, mencekik sumur dan lain sebagainya. Secara konseptual,
katup kendali ini diasumsikan bekerja secara isentalpik (entalpi yang tetap) dengan
tidak terjadinya perpindahan kalor. Fenomena ini dibasiskan oleh Hukum
Termodinamika ke-1 yang kurang lebih berbunyi:

Perubahan energi dalam dari suatu sistem tertutup adalah sama dengan jumlah
besarnya kalor yang masuk atau disingikirkan dari sistem dan kerja yang dilakukan
oleh atau pada sistem.

Untuk melihat perumusannya, maka harus dihitung jumlah kerja yang dilakukan
oleh gas untuk bergerak melalui sebuah katup kendali. Seandainya sejumlah gas
pada daerah 1 – sebelum katup kendali – mempunyai volume V1 pada tekanan P1
dan ketika melalui katup kendali sejumlah gas tersebut menuju daerah 2 dengan
tekanan P2 akan menjadi jumlah volume V2. Maka kerja yang dilakukan pada gasdi
daerah 1 adalah P1*V1 (berharga positif), sedangkan kerja yang dilakukan oleh
gas didaerah 2 adalah -P2*V2 (berharga negatif).

Berdasarkan hukum Termodinamika ke-1:


U2 – U1 = Q2-Q1 + P1*V1-P2*V2
Karena adiabatik, maka Q2-Q1 = 0 maka
U2 – U1 = P1*V1 – P2*V2
U2 + P2*V2 = U1 + P1*V1
H2 = H1 (entalpi konstan)

Selain fenomena entalpi konstan, fenomena lain yang terjadi pada katup kendali
adalah efek Joule-Thomson. Hampir semua komponen berfasa gas di industri
migas, apabila diturunkan tekanannya secara adiabatik (tidak terjadi perpindahan
kalor karena luasan katup kendali dianggap sangat kecil), akan mengalami
penuruan temperatur. Info komplitnya ada di sini. Berkaitan dengan efek Joule-
Thomson ini, ada rumus jempol (rule of thumb) yang biasa dipakai di industri
migas, yaitu setiap penurunan tekanan sebesar 100 psig, akan menurunkan
temperatur sebanyak 5 degF. Kita bisa periksa seberapa jauh keberlakuan rumus
jempol ini.

Dua fenomena di atas – entalpi konstan dan efek Joule-Thomson – bisa diperagakan
oleh mas Hysys, sehingga memberikan gambaran proses secara sebenarnya.
Kasus: komponen stream “1”: methane= 0.6, ethane=0.4, FP= Peng-Robinson,
Pressure=800 psig, Temperature, 100 degF, molar flow = 1 MMSCFD.

Tambahkan sebuah katup kendali di Hysys. Buat stream baru dan namakan stream
“2”. Spesifikasikan tekanan pada stream 2 sebesar 700 psig. Konfigurasi di Hysys
akan terlihat sbb.

Informasi apa yang bisa kita lihat di sini? Mari kita periksa satu per satu.

1. Entalpi konstan. Harus dibuktikan bahwa entalpinya sama dan ternyata memang
benar tidak terjadi perubahan entalpi. Molar entalphy masuk – secara absolut –
adalah -3.443e+4 Btu/lbmole sedangkan molar enthalpy keluar sebesar -3.443e+4
Btu/lbmole juga sehingga perbedaan entalpinya adalah 0 Btu/lbmole.

2. Efek Joule-Thomson. Terlihat secara jelas bahwa dengan menurunnya tekanan,


maka menurun pula temperaturnya. Dari awalnya 100 degF menjadi 92.13 degF.
Dengan menggunakan rumus jempol, akan didapatkan temperatur keluaran katup
kendali menjadi 95 degF. Hasilnya cukup dekat namun agak meleset sedikit. Jika
kita ingin melihat seberapa jauh keberlakuan rumus jempol, spesifikasikan tekanan
di stream 2 berturut-turut menjadi: 600 Psig, 500 Psig dan 400 Psig dan amati
temperatur di stream 2. Menurut aturan jempol seharusnya: 90 degF, 85 degF dan
80 degF. Menurut mas Hysys menghasilkan: 83.8 degF, 74.98 degF dan 65.71
degF. Jelas disini ada rentang keberlakuan dari rumus jempol tersebut, terutama
berkaitan dengan seberapa besar hilang tekan, temperatur awal dan komposisi gas
yang diekspansi tersebut.

3. Fraksi uap. Fraksi uap terlihat tidak berubah ketika kita ubah-ubah pada kasus
efek Joule-Thomson. Mari kita ubah temperatur stream 1 menjadi 10 degF dan
tekanan setelah keluar dari katup kendali ditetapkan menjadi 400 Psig. Fraksi uap
terlihat berubah menjadi 0.9279 yang artinya terjadi flashing atau terbentuk fasa
liquid dari campuran hidrokarbon tersebut. Fenomena pembentukan cairan oleh
Joule-Thomson ini sangat banyak diterapkan pada beberapa aplikasi di industri
migas. Hal ini nanti kita bahas pada tulisan lainnya mengenai proses pencairan gas.

Unit Refrigerasi:
Dalam gerobak berpendingin ini terdiri dari dua unit atau komponen utama, yaitu
unit daya dan unit refrigrasi. Di unit daya, gerobak menggunakan accumulator
sebagai sumber energi untuk memberikan energi saat penggunaan refrigerator
dengan menggunakan inverter maka dalam penggunaannya dapat di charger dalam
kondisi tidak tersambung dengan arus PLN. Accumulator yang digunakan yaitu 12
volt sebanyak 2 buah dengan dibantu menggunakan inverter arus AC, accumulator
tersebut mampu untuk diberikan beban daya 80 A Kemudian di unit refrigrasi,
gerobak menggunakan refrigrator untuk merekayasa termal dalam gerobak
sehingga suhu dapat disesuaikan dengan suhu rata-rata normal produk.
Perlunya memperhatikan rancangan struktural ini agar alat dapat bekerja maupun
digunakan secara optimal. Pemilihan desain konstruksi alat dan pemilihan bahan
untuk pembuatan alat seperti besi siku dilakukan agar alat lebih kokoh dan kuat.
Selain itu menggunakan atap fiber karena dimasudkan supaya tahan karat dan
mudah dibersihkan, kemudian pada penggunaan kaca penutup ukuran 7 mm supaya
tahan getaran dan memiliki jarak tembus sinar matahari yang cukup kecil sehingga
tidak terlalu berpengaruh terhadap suhu dalam ruang pendingin.
Mekanisme Kerja Alat Gerobak pendingin ini memperoleh sumber energi dari
accumulator, kemudian dari pembangkit daya ini menghidupkan refrigrator untuk
mendinginkan ruangan. Suhu di atur menggunakan termokopel atau sensor suhu
agar suhu di dalam gerobak konstan.

Alat ini cukup potensial dikembangkan untuk menjadi suatu usaha baru atau inovasi
usaha bagi para penjual sayur dan buah. kebutuhan masyarakat yang meningkat dan
berbanding terbalik dengan kualitas, usaha dengan menggunakan alat ini akan
cukup optimal dalam pemasaran produk kualitas supermarket di jalanan. Dengan
penggunaan alat tersebut, yaitu produk menjadi lebih segar, terhindar dari debu,
lebih higienis, dan terhindar dari lalat.

Pengaturan suhu yang baik merupakan cara yang efektif untuk menurunkan tingkat
kehilangan hasil dan mempertahankan kualitas buah-buahan dan sayur-sayuran.
Suhu yang rendah, tetapi tidak terlalu rendah, dapat menyebabkan terjadinya
penurunan aktivitas fisiologi sehingga buah menjadi rusak. Suhu yang rendah juga
menurunkan laju pertumbuhan mikroba dan laju pembusukan. Pendinginan
merupakan cara yang efektif untuk menjaga kualitas buah-buahan dan sayur-
sayuran. Terdapat berbagai metode pendinginan yang digunakan, antara lain adalah
kamar pendingin (room cooling), udara pendingin yang bertekanan (forced-air
cooling), air pendingin (hydrocooling), pendingin dengan ruangan hampa (vacuum
colling), dan pengemasan dengan lapisan es (package icing). Namun selain sistem
pendingin di atas, terdapat juga pendinginan yang biasa digunakan untuk
membekukan ice cream, yaitu karbondioksida padat atau kriogenik. Kriogenik ini
dapat menghasilkan suhu hingga -40oC. Prinsip kerja proses kriogenik adalah
pemanfaatan energi pribadi gas umpan berdasarkan efek Joule Thomson. Proses
kriogenik ini berlangsung dalam suatu peralatan yang disebut cold box. Di dalam
cold box ini berisi alat penukar panas dan separator yang diisolasi dengan perlite
( S Bagijo, Junaedi, Azhari, 2010).

Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran segar dapat memperpanjang daya


gunanya dan dalam keadaan tertentu dapat memperbaiki mutunya. Tujuan utama
penyimpanan adalah pengendalian laju transpirasi, respirasi, infeksi penyakit, dan
mempertahankan produk dalam bentuk yang paling berguna bagi konsumen
(Pantastico, 1986). Penyimpanan sayuran yang tepat sangat diperlukan agar sayuran
dan buah-buahan tetap berkualitas, baik penampilan fisik maupun kandungan
gizinya. Selama penyimpanan sayuran akan mengalami berbagai perubahan yang
disebabkan oleh faktor dari dalam sayuran itu sendiri dan kondisi penyimpanannya.
Faktor suhu dan kelembaban sangat berpengaruh pada proses penyimpanan.
Penyimpanan sayuran pada suhu 5-8 0C seperti pada lemari es dapat menghambat
kegiatan respirasi dan metabolisme sayuran, proses penuaan, kehilangan air dan
pelayuan, kerusakan oleh bakteri dan kapang, serta proses pertumbuhan yang tidak
dikehendaki seperti pertunasan pada kentang (Novary 1999). Proses penyimpanan
dengan udara terkendali merupakan pembaharuan yang paling penting dalam
penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran sejak penggunaan pendinginan
mekanik. Cara ini bila dikombinasikan dengan pendinginan, dengan nyata
menghambat kegiatan respirasi, dan dapat menunda pelunakan, penguningan,
perubahan-perubahan mutu, dan prosesproses penguraian lainnya dengan
mempertahankan atmosfer yang mengandung lebih banyak CO2 dengan lebih
sedikit O2 daripada dalam udara biasa. Penyimpanan dalam suhu rendah juga dapat
memperpanjang umur simpan, karena dapat menurunkan respirasi, memperkecil
transpirasi, dan menghambat perkembangan mikroba (Darsana 2003).
Mesin refrigerasi Joule Thomson (J-T) saat ini sedang dikembangkan untuk aplikasi
kriogenik menggantikan sistem refrigerasi Linde. Refrigerasi linde bekerja dengan
prinsip bahwa di bawah temperature inversinya, gas mendingin pada pemuaian.
Dengan demikian sangatlah penting untuk mengetahui kondisi-kondisi di mana µ
positif: hal ini digambarkan untuk tiga jenis gas (Atkins,P.W. 1996).

Sesudah sumbat berpori, temperature turun sampai di bawah temperature


pengembunan, dan terbentuk cairan.

Mesin refrigerasi Joule-Thomson (J-T) adalah salah satu jenis dari beberapa
macam mesin refrigerasi bertemperatur sangat rendah dan lainlain, mesin
refrigerasi J-T dapat mencapai suhu lebih rendah sampai di bawah – 60oC
(Sumeru, Tandi, 2009). Pada mesin refrigerasi J-T, yang terdiri dari komponen-
komponen : kompresor, aftercooler, penukar kalor (counterflow heat exchanger),
katup ekspansi dan evaporator, COP-nya tergantung dari efektifitas dari penukar
kalor dan tekanan refrigeran di dalam sistem (Xue at. al, 2001). Salah satu
komponen penting di dalam mesin refrigerasi J-T adalah alat penukar kalor (heat
exchanger), berupa koil pipa helical, dimana terjadi transfer kalor di antara fluida
berbeda temperatur yang mengalir dari bagian aftercooler dan dari evaporator. Pada
Gambar 3 terlihat diagram sistem refrigerasi Joule- Thomson.
Mesin refrigerator yang digunakan adalah lemari es untuk pendinginan. Pendingin
atau refrigerator yang umumnya berdiri tegak pada alat ini dibuat tidur atau
horisontal. Hal ini juga membuat ada sedikit modifikasi pada mesin pendingin
dengan mengubah posisi kompresor supaya tetap tegak lurus. Penambahan
perangkat daya untuk menjalankan lemari pendingin ini pun sudah diberikan yaitu
dengan 2 perangkat accumulator 12 V dan seperangkat inverter 1000 VA.

Pada Gambar 4, terlihat perbedaan sistem refrigerasi Linde dan Joule Thomson,
dimana kelebihan sistem refrigerasi J-T adalah tekanan kerjanya lebih rendah.

Penukar kalor pipa helical juga dapat ditemukan di dalam banyak aplikasi lain
seperti pada : pemrosesan makanan, reaktor nuklir, pemanfaatan panas terbuang
(heat recovery system), proses kimia dan lain-lain. Koil pipa helical cocok untuk
berbagai proses seperti penukar kalor dan reaktor, karena ia dapat berperan dengan
baik sebagai pemindah kalor yang cukup besar dalam ruang yang kecil. Karena
perannya yang cukup banyak di dalam berbagai aplikasi, maka kajian tentang
karakteristik efektifitas dan perpindahan kalor di dalam heat exchanger menjadi
hal yang sangat penting untuk diteliti. Prestasi kerja sistem refrigerasi J-T sangat
tergantung dari karakteristik perpindahan kalor di dalam heat exchanger dengan
ditandai oleh kecepatan pencapaian temperatur, temperatur rendah dan lama operasi
(Yong-Ju Hong, at al.,2009).

Dalam kehidupan sehari hari pasti kita bertanya bagaimana cara kerja suatu alat
seperti kulkas, dan alat lainnya. Ternyata cara kerjanya menggunakan hokum
Termodinamika menggunakan Efek Joule Thomson. Dalam termodinamika , efek
Joule-Thomson (juga dikenal sebagai efek Joule-Kelvin , efek Kelvin-Joule , atau
ekspansi Joule-Thomson ) ditemukan oleh James Prescott Joule dan William
Thomson mereka adalah fisikawan Inggris. Mereka bekerja sama melakukan
melakukan eksperimen yang dirancang untuk menganalisis dan memajukan
termodinamika. Pada tahun 1852, para peneliti membuat penemuan yang sangat
penting. Mereka menemukan apabila sejumlah gas mengalami pengembangan yang
sangat cepat dari keadaan tekanan tinggi menjadi tekanan rendah, cepatnya waktu
tadi secara praktis tidak memungkinkan gas untuk mengalami perambatan kalor
dari luar ke dalam sistem atau sebaliknya. Dengan demikian q = 0 dan proses dapat
dianggap berlangsung secara adiabat. Sebagai akibat pengembangan adiabat ini, gas
mengalami perubahan suhu bisa positif atau negatif. artinya suhu dapat naik atau
turun sebagai akibat pengembangan ini.Gejala ini disebut sebagai efek Joule-
Thompson.

Dalam proses efek joule Thomson di di lakukan pada saat sistem dalam keadaan
adiabatic system yang terjadi tanpa transfer panas dan materi antara system dengan
lingkungan. Perubahan suhu dialami gas expansi tidak bergantung pada tekanan
awal dan akhir akan tetapi juga bergantung pada cara ekspansi yang dilakukan. ika
proses ekspansi reversibel , artinya gas berada dalam kesetimbangan
termodinamika setiap saat, ini disebut ekspansi isentropik . Dalam skenario ini, gas
bekerja positif selama ekspansi, dan suhunya turun. Dalam ekspansi bebas , di sisi
lain, gas tidak bekerja dan tidak menyerap panas, jadi energi internal dilestarikan.
Diperluas dengan cara ini, suhu gas ideal akan tetap konstan, namun suhu gas riil
menurun, kecuali pada suhu yang sangat tinggi. Metode ekspansi dibahas di mana
gas atau cairan pada tekanan P 1 mengalir ke daerah tekanan rendah P 2 tanpa
perubahan signifikan dalam energi kinetik, disebut ekspansi Joule-Thomson.
Ekspansi ini pada dasarnya ireversibel. Selama ekspansi ini, entalpi tetap tidak
berubah. Tidak seperti ekspansi bebas, pekerjaan dilakukan, menyebabkan
perubahan energi internal.

untuk N 2 . Di wilayah yang dibatasi oleh garis merah, ekspansi Joule-Thomson


menghasilkan pendinginan

{\ displaystyle \ mu _ {\ mathrm {JT}}> 0}); Di luar daerah itu, ekspansi


menghasilkan pemanasan. Kurva koeksistensi gas-cair ditunjukkan oleh garis biru,
berakhir pada titik kritis (lingkaran biru padat). Garis putus-putus menunjukkan
daerah dimana N 2adalah cairan superkritis, cairan, atau gas.

Mekanisme kerja nya

Ada dua faktor yang dapat mengubah suhu cairan selama ekspansi adiabatic.
Perubahan energi internal atau konversi antara energi internal potensial dan kinetik.
Suhu adalah ukuran energi kinetik termal (energi yang terkait dengan gerakan
molekuler); Jadi perubahan suhu mengindikasikan adanya perubahan energi kinetik
termal. The energi internal adalah jumlah energi kinetik termal dan energi potensial
termal. Dengan demikian, bahkan jika energi internal tidak berubah, suhu dapat
berubah karena konversi antara energi kinetik dan potensial; Inilah yang terjadi
dalam ekspansi bebas dan biasanya menghasilkan penurunan suhu saat cairan
mengembang. Jika pekerjaan dilakukan pada atau oleh cairan saat mengembang,
maka total energi internal berubah. Inilah yang terjadi dalam ekspansi Joule-
Thomson dan dapat menghasilkan pemanasan atau pendinginan yang lebih besar
daripada yang diamati dalam ekspansi bebas.

Dalam ekspansi Joule-Thomson, entalpi tetap konstan. Entalpi, H, didefinisikan


sebagai

H = U + PV
dimana U adalah energi internal, P adalah tekanan, dan V adalah volume. Jika PV
meningkat, dengan H konstan, lalu U harus menurun akibat fluida yang bekerja di
sekitarnya. Ini menghasilkan penurunan suhu dan menghasilkan koefisien Joule-
Thomson yang bernilai positif. Sebaliknya, penurunan PV Artinya pekerjaan
dilakukan pada cairan dan energi internal meningkat. Jika peningkatan energi
internal melebihi peningkatan energi potensial, akan terjadi peningkatan suhu
cairan dan koefisien Joule-Thomson akan bernilai negatif.

Untuk gas ideal, PV tidak berubah selama ekspansi Joule-Thomson. Akibatnya,


tidak ada perubahan energi internal; Karena tidak ada perubahan energi potensial
termal, tidak ada perubahan energi kinetik termal dan, oleh karena itu, tidak ada
perubahan suhu. Dalam gas riil, PV apakah berubah

Rasio nilai PV Untuk yang diharapkan untuk gas ideal pada suhu yang sama disebut
faktor kompresibilitas , Z. Untuk gas, ini biasanya kurang dari satu pada suhu
rendah dan lebih besar dari pada suhu tinggi (lihat pembahasan dalam faktor
kompresibilitas ). Pada tekanan rendah, nilai Z selalu bergerak menuju kesatuan
saat gas mengembang. Jadi pada suhu rendah, Z dan PV akan meningkat saat gas
mengembang, menghasilkan koefisien Joule-Thomson yang positif. Pada suhu
tinggi, Z dan PV menurun saat gas mengembang; Jika penurunannya cukup besar,
koefisien Joule-Thomson akan negatif.

Koefisien Joule-Thomson (Kelvin)

Tingkat perubahan suhu T

Sehubungan dengan tekanan P

dalam proses Joule-Thomson (yaitu, pada entalpi konstan H) adalah koefisien


Joule-Thomson (Kelvin)

Koefisien ini dapat dinyatakan dalam bentuk volume gas V, kapasitas panasnya
pada tekanan konstan C , dan koefisien ekspansi termal \alfa
Lihat koefisien Derivation of Joule-Thomson (Kelvin) di bawah untuk
membuktikan hubungan ini. biasanya dinyatakan dalam ° C / bar (satuan SI: K / Pa
) dan tergantung pada jenis gas dan suhu dan tekanan gas sebelum ekspansi.
Ketergantungan tekanan biasanya hanya beberapa persen untuk tekanan hingga 100
bar.

Semua gas riil memiliki titik inversi dimana nilai tanda perubahan Suhu titik ini,
suhu inversi Joule-Thomson , bergantung pada tekanan gas sebelum ekspansi.

Dalam ekspansi gas, tekanan menurun, jadi tanda \ parsial P adalah negatif menurut
definisi. Dengan pemikiran tersebut, tabel berikut menjelaskan kapan efek Joule-
Thomson mendinginkan atau menghangatkan gas nyata:

Jika suhu gasnya kemudian

aku s sejak \ parsial P

aku s demikian

harus jadi gasnya

dibawah suhu inversi positif selalu negatif negatif mendingin

diatas suhu inversi negatif selalu negatif positif menghangatkan

Helium dan hidrogen adalah dua gas yang temperatur inversi Joule-Thomson pada
tekanan satu atmosfer sangat rendah (misalnya sekitar 45 K (-228 ° C) untuk
helium). Dengan demikian, helium dan hidrogen hangat bila diperluas pada entalpi
konstan pada suhu ruangan yang khas. Di sisi lain, nitrogen dan oksigen , dua gas
paling melimpah di udara, memiliki suhu inversi masing-masing 621 K (348 ° C)
dan 764 K (491 ° C): gas-gas ini dapat didinginkan dari suhu kamar oleh Joule-
Efek Thomson. selalu sama dengan nol: Gas ideal tidak hangat dan tidak dingin
saat diperluas ada entalpi konstan.
APLIKASI PENERAPAN EFEK JOULE THOMSON

aplikasi penerapan penggunaan efek joule thomson yaitu di terapkan pada alat
rumah tangga seperti kulkas, kompresor, dan pompa angin. Karena pada penerapan
nya gas di masukan dalam suatu tabung adiabatik dan dimampatkan