Anda di halaman 1dari 16

2.1.1.

Pengertian Anemia
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau konsentrasi
hemoglobin turun dibawah normal (Wong,2003). Anemia berarti kekurangan sel darah
merah, yang dapat di sebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu
lambatnya produksi sel darah merah. (Guyton,1997).
Anemia merupakan suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih
rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam
1𝑚𝑚3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume)
dalam 100 ml darah.

2.1.2. Klasifikasi Anemia


Akibat Pembentukan Eritrosit
1. Anemia Defisiensi besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya mineral Fe
sebagai bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit. Kebutuhan Fe dalam
makanan sekitar 20 mg sehari, dari jumlah ini hanya kira-kira 2 mg yang diserap. Jumlah
total Fe dalam tubuh berkisar 2-4 g, kira-kira 50 mg/kg BB pada wanita. Umumnya akan
terjadi anemia dimorfik, karena selain kekurangan Fe juga terdapat kekurangan asam
folat (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Pada anak-anak, anemia defisiensi besi paling
sering terjadi antara usia 6 bulan sampai 3 tahun; remaja dan bayi prematur juga beresiko
(Kepertawatan Pediatrik, 2005).
2. Anemia Aplastik
Merupakan keadaan yang disebabkan berkurangnya sel hematopeatik dalam darah
tepi seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit akibat berhentinya pembentukan sel
hemopoetik dalam sumsum tulang. Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang
untuk membentuk sel darah (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Anemia aplastik
dikarakteristikkan dengan pansitopenia (anemia, granulositopenia, dan
trombositopenia) dan hipoplasia sumsum tulang (Keperawatan Pediatrik, 2005).
3. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik secara umum mempunyai abnormalitas morfologi dan
pematangan eritrosit tertentu. Morfologi megaloblastik dapat dijumpai pada sejumlah
1
keadaan, hampir senua kasus pada anak disebkan oleh defisiensi asam folat, vitamin
B12 atau kedua-duanya.

Kelainan
1. Anemia Sel Sabit
Penyakit sel sabit (sickle cell disease) merupakan kelompok penyakit yang bersifat
hemolitik, genetik berat, kronis, dihubungkan dengan hemoglobin S (Hb S), yang
mentrasnformasikan sel darah merah ke dalam bentuk sabit (seperti bulan sabit) pada
saat oksigenasi darah menurun. Hemoglobin SS (anemia sel sabit) merupakan bentuk
paling umum dari penyakit sel sabit.
Anemia sel sabit ditemukan paling sering pada orang-orang di pedalaman afrika,
tetapi juga juga pada orang-orang mediterania, karibia, amerika tengah dan selatan, arab,
dan pedalaman Indian timur. Anemia sel sabit merupakan hemoglobinopati yang paling
sering terjadi pada orang afrika amerika dan diperkirakan mencapai 1 setiap 375
kelahiran hidup. Ciri sel sabit merupakan gangguan benigna dan bersifat carrier
(Keperawatan Perdiatrik, 2005).

2. Anemia Hemolitik
Pada anemia hemolitik, umur eritrosit menjadi lebih pendek (normal umur eritrosit 100-
120 hari).

Perdarahan
Anemia yang terjadi karena perdarahan. Perdarahan baik akut maupun kronis
mengakibatkan penurunan total sel darah merah dalam sirkulasi.

2.1.3. Etiologi Anemia Pada Anak


Anemia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
a. Gangguan pembentukan eritrosit

2
Gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat defisiensi
substansi tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam folat),
asam amino, serta gangguan pada sumsum tulang.
b. Perdarahan
Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan penurunan total sel
darah merah dalam sirkulasi.
c. Hemolisis
Hemolisis adalah proses penghancuran eritrosit.

Anemia terjadi sebagai akibat gangguan, atau rusaknya mekanisme produksi sel
darah merah. Penyebab anemia adalah menurunnya produksi sel-sel darah merah karena
kegagalan dari sumsum tulang, meningkatnya penghancuran sel-sel darah merah,
perdarahan, dan rendahnya kadar ertropoetin, misalnya pada gagal ginjal yang parah.
Gejala yang timbul adalah kelelahan, berat badan menurun, letargi, dan membran mukosa
menjadi pucat. Apabila timbulnya anemia perlahan (kronis), mungkin hanya timbul sedikit
gejala, sedangkan pada anemia akut yang terjadi adalah sebaliknya (Fadil, 2005).

2.1.4. Manifestasi Klinik Anemia pada Anak


Area Manifestasi klinis

Keadaan umum Pucat , penurunan kesadaran, keletihan


berat , kelemahan, nyeri kepala, demam,
dipsnea, vertigo, sensitive terhadap dingin,
BB turun.

Kulit Jaundice (anemia hemolitik), warna kulit


pucat, sianosis, kulit kering, kuku rapuh,
koylonychia, clubbing finger, CRT > 2
detik, elastisitas kulit munurun,
perdarahan kulit atau mukosa (anemia
aplastik)

3
Mata Penglihatan kabur, jaundice sclera,
konjungtiva pucat.

Telinga Vertigo, tinnitus

Mulut Mukosa licin dan mengkilat, stomatitis,


perdarahan gusi, atrofi papil lidah,
glossitis, lidah merah (anemia deficiency
asam folat)

Paru – paru Dipsneu, takipnea, dan orthopnea

Kardiovaskuler Takikardia, lesu, cepat lelah, palpitasi,


sesak waktu kerja, angina pectoris dan
bunyi jantung murmur, hipotensi,
kardiomegali, gagal jantung

Gastrointestinal Anoreksia, mual-muntah,


hepatospleenomegali (pada anemia
hemolitik)

Muskuloskletal Nyeri pinggang, sendi

System persyarafan Sakit kepala, pusing, tinnitus, mata


berkunang-kunang, kelemahan otot,
irritable, lesu perasaan dingin pada
ekstremitas.

Gejala Khas Masing-masing anemia


Gejala khas menurut Bakta (2003) yang menjadi ciri dari masing-masing jenis
anemia adalah sebagai berikut :
a) Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis.
b) Anemia defisisensi asam folat: lidah merah (buffy tongue)
c) Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali.

4
d) Anemia aplastik: perdarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.

2.1.5. Patofisiologi Anemia Pada Anak


Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel
darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat
kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang
tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis
(destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan
sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah
(disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam system retikuloendotelial,
terutama dalam hati dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan
memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera
direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar
diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera). (Smeltzer & Bare. 2002 : 935 ).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan
hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila
konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam
glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria) (Fadil, 2005).

5
WOC Anemia

Defisiensi nutrient Hemolisis (Eritrosit Penekanan sumsum tulang Perdarahan


mudah pecah) (misalnya: kanker)

Rusaknya mekanisme produksi sel darah


merah

Penurunan produksi sel-sel darah merah

Kurang paparan informasi ANEMIA anoreksia Mual


Mual/muntah
Berkurangnya Hb dalam
Defisiensi pengetahuan
darah Intake nutrisi
inadekuat
viskositas darah menurun
Ketidakseimbangan Nutrisi
kurang dari dari kebutuhan
resistensi aliran darah perifer tubuh
ketidakefektifan Keletihan
penurunan transport O2 ke jaringan
perfusi jaringan perifer

hipoksia, pucat, lemah

Intoleransi
6
aktivitas
2.1.6. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari terapi anemia adalah untuk identifikasi dan
perawatan karena penyebab kehilangan darah,dekstruksi sel darah atau
penurunan produksi sel darah merah (Catherino,2003).
a. Pemberian tambahan oksigen, pemberian cairan intravena,
b. Resusitasi pemberian cairan kristaloid dengan normal salin.
c. Tranfusi kompenen darah sesuai indikasi.
Evaluasi Airway, Breathing, Circulation dan segera perlakukan setiap
kondisi yang mengancam jiwa. Kristaloid adalah cairan awal pilihan yang
harus segera diberikan.

2.1.7. Komplikasi
Anemia dapat menyebabkan daya tahan tubuh anak berkurang,
akibatnya anak anemia akan mudah terkena infeksi. Mudah terserang batuk,
flu, atau terkena infeksi saluran napas, jantung juga menjadi mudah lelah,
karena harus memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan
anemia, jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan
kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat badan
rendah, anemia bisa juga mengganggu perkembangan organ-organ tubuh,
termasuk otak (Fadil, 2005).

2.1.8. Asuhan Keperawatan Anemia pada Anak


1. Pengkajian
1) Pengumpulan data.
a. Identitas klien.
Pengkajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin, alamat,
no.register dan keluhan utama saat anak masuk rumah sakit.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Kronologis penyakit yang dialami saat ini sejak awal hingga anak
dibawa ke rumah sakit secara lengkap meliputi PQRST.

7
c. Riwayat penyakit dahulu.
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu. Mungkin
ketika masih bayi, baik yang ada hubungannya dengan penyakit
sekarang maupun yang tidak berhubungan dengan penyakit
sekarang, riwayat operasi dan riwayat alergi.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah penyakit degeneratif dari keluarga perlu juga untuk
dikaji.Atau adanya penyakit ganas dan menular yang dimiliki oleh
anggota keluarganya.
e. Riwayat Tumbuh Kembang
- Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan
dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu
umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun
: 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg.
Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat
badan 2,3 kg/tahun.
Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti
meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur (
tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah
yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm.
Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5
cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah
tinggi.
- Tahap perkembangan
Perkembangan psikososial, perkembangan psikosexsual,
perkembangan kognitif, perkembangan moral, perkembangan
spiritual, perkembangan social, perkembangan bahasa, tingkah
laku personal social.

8
f. Riwayat Imunisasi
Anak usia pra sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap
antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
g. Riwayat Nutrisi
Untuk mengetahui status gizi pada anak, adakah tanda-tanda yang
menunjukkan anak mengalami gangguan kekurangan nutrisi.

h. Pemeriksaan fisik
- Status kesehatan umum
Perlu dikaji tentang kesadaran klien, kecemasan, gelisah,
kelemahan yang nampak pada klien.
- Integumen
Dikaji adanya permukaan yang kasar, kering, kelainan
pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau
bersisik, perdarahan, pruritus, ensim, serta adanya bekas atau
tanda urtikaria atau dermatitis pada rambut di kaji warna
rambut, kelembaban dan kusam.
- Kepala
Dikaji tentang bentuk kepala, simetris adanya penonjolan,
riwayat trauma, adanya keluhan sakit kepala atau pusing,
vertigo kelang ataupun hilang kesadaran.
- Mata
Adanya penurunan ketajaman penglihatan akan menambah
stres yang di rasakan klien. Serta riwayat penyakit mata lainya.
- Hidung
Lakukan inspeksi bentuk hidung, adanya kelainan dan fungsi
olfaktori.
- Mulut dan laring
Dikaji adanya perdarahan pada gusi.Gangguan rasa menelan
dan mengunyah, dan sakit pada tenggorok.

9
- Leher
Dikaji adanya nyeri leher, kaku pada pergerakaan, pembesran
tiroid serta adanya pembesaran vena jugularis.
- Thorak :
a. Inspeksi : Dada di inspeksi terutama postur bentuk dan
kesemetrisan adanya peningkatan diameter
anteroposterior, retraksi otot-otot Interkostalis, sifat dan
irama pernafasan serta frekwensi pernafasan.
b. Palpasi
Pada palpasi di kaji tentang kesimetrisan, ekspansi dan taktil
fremitus.

c. Perkusi
Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor
sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.
d. Auskultasi
Kaji bagaimana suara nafas, adakah bunyi-bunyi tambahan
nafas.
- Kardiovaskuler
Jantung dikaji adanya pembesaran jantung atau tidak, dan
hyperinflasi suara jantung melemah.Tekanan darah dan nadi
yang meningkat atau tidak.
- Abdomen dan genitalia
Perlu dikaji tentang bentuk, turgor, nyeri, serta adanya tanda-
tanda kelainan yang lain. Inspeksi genitalia dan kaji adanya
kelainan yang timbul.
- Ekstrimitas
Dikaji adanya edema extremitas, tremor dan adanya tanda-
tanda sianosis.
- Pemeriksaan penunjang

10
Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang untuk analisa
elemen darah pada penderita anemia biasanya akan
menunjukkan hasil sebagai berikut.
 Konsentrasi Hb menurun.
 Hematokrit menurun.
 MCV dan MCHC menurun.
 Keluasan distribusi sel darah merah (kadar: 14%).
 Konsentrasi protoporfirin eritrosit, 1—2 tahun: 80 µg/dl
sel darah merah
 Saturasi transferin , lebih muda dari 6 bulan: 15 µg/L atau
kurang.
 Konsentrasi feritin serum kurang dari 16%.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa untuk penderita anemia yang biasanya muncul adalah:
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan pengiriman
oksigen ke jaringan
b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakadekuatan masukan besi
c. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penyakit, prosedur, pengobatan penyakit anemia
d. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan nutrisi
tidak adekuat dan keterlibatan dengan system perawatan akibat
penyakit anemia

3. Intervensi Keperawatan
a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan pengiriman
oksigen ke jaringan

NOC NIC

Toleransi terhadap aktivitas (0005) 1. Bantuan perawatan diri (1800)

11
1. Saturasi oksigen ketika beraktivitas a. Monitor kemampuan
SaO2 normal : 95-100% perawatan diri secara mandiri
2. Frekuensi nadi ketika beraktivitas b. Berikan bantuan sampai pasien
Nadi Normal Anak : 80-90x/menit mampu melakukan perawatan
3. Frekuensi pernafasan ketika diri mandiri
beraktivitas c. Bantu pasien menerima
RR normal Anak : 20-30x/menit kebutuhan terkait dengan
4. Kemudahan bernafas ketika kondisi ketergantungannya
beraktifitas 2. Peningkatan keterlibatan keluarga
5. Kekuatan tubuh bagian atas (7110)
6. Kekuatan tubuh bagian bawah a. Identifikasi kemampuan
Kekuatan Otot anggota keluarga untuk terlibat
Pada anak yang kooperatif dalam perawatan pasien
5: Normal b. Dorong perawatan oleh
4: Dapat melawan tekanan anggota keluarga selama
3: Dapat menahan berat - tidak perawatan di rumah sakit atau
dapat melawan tekanan perawatan di fasilitas
2: Hanya dapat menggerakkan perawatan jangka panjang
anggota badan 3. Terapi oksigen (3320)
1: Teraba gerakan konstraksi otot, a. Monitor aliran oksigen
tidak dapat bergerak b. Monitor efektifitas terapi
0: Tidak ada konstraksi oksigen dengan tepat
7. Kemudahan dalam melakukan 4. Manajemen nutrisi (1100)
aktivitas hidup harian a. Tentukan status gizi pasien dan
kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi
5. Manajemen pengobatan (2380)
a. Tentukan obat apa yang
diperlukan dan kelola menurut
resep dan/atau protocol

12
b. Monitor efektifitas cara
pemberian obat yang sesuai
c. Monitor efek samping obat
6. Monitor tanda-tanda vital (6680)
a. Monitor tekanan darah, nadi,
suhu dan status pernapasan
dengan tepat
b. Identifikasi kemungkinan
penyebab perubahan tanda-
tanda vital

b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakadekuatan masukan besi

NOC NIC

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari 1. Manajemen nutrisi (1100)


kebutuhan tubuh (00002) a. Tentukan status gizi pasien dan
1. Nafsu makan bertambah (1014) kemampuan pasien untuk
a. Ada hasrat/keinginan untuk memenuhi kebutuhan gizi
makan b. Tentukan jumlah kalori dan
b. Intake nutrisi dan makanan yang jenis nutrisi yang dibutuhkan
adekuat untuk memenuhi persyaratan
2. Berat Badan : Massa Tubuh (1006) gizi
a. Berat badan bertambah 2. Terapi Nutrisi (1120)
3. Status Nutrisi (1004) a. Lengkapi pengkajian nutrisi,
a. Asupan makanan meningkat sesuai kebutuhan
b. Rasio berat badan/tinggi badan b. Monitor intake makanan/cairan
yang ideal dan hitung masukan kalori perhari
sesuai kebutuhan
3. Monitor Nutrisi (1160)
a. Timbang Berat Badan pasien

13
b. Lakukan pengukuran
antropometrik pada komposisi
tubuh
c. Lakukan pemeriksaan
laboratorium dan monitor hasilnya
(Hb, Ht, albumin, kreatinin, darah
rutin, darah lengkap)
4. Manajemen Berat Badan (1260)
a. Hitung berat badan ideal pasien
b. Diskusikan dengan pasien
mengenai hubungan antara asupan
makanan, olahraga, peningkatan
berat badan, dan penurunan berat
badan

c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyakit, prosedur, pengobatan penyakit anemia

NOC NIC

Defisiensi Pengetahuan (00126) 1. Pendidikan Kesehatan (5510)


Pengetahuan : Manajemen penyakit Rumuskan tujuan dalam program
(1844) pendidikan kesehatan
a. Mengetahui tanda dan gejala 2. Pengajaran proses penyakit (5602)
penyakit Anemia a. Kaji tingkat pengetahuan pasien
b. Mengetahui manfaat menajemen terkait dengan proses penyakit
penyakit Anemia
Pengetahuan : Pengobatan (1808) b. Jelaskan patofisiologi penyakit
a. Penggunaan yang benar dari obat dan bagaimana hubungannya
yang diresepkan dengan anatomi fisiologi serta
b. Mengetahui nama obat yang kebutuhan
benar, tampilan obat

14
c. Mengetahui efek terapeutik Obat c. Berikan informasi pada pasien
d. Mengetahui efek samping Obat mengenai kondisinya, sesuai
Pengetahuan : Proses penyakit (1803) kebutuhan
a. Mengetahui karakteristik penyakit 3. Pengajaran prosedur/perawatan
Anemia (5601)
b. Mengetahui tanda dan gejala a. Informasikan pada pasien dan
penyakit Anemia orang terdekat mengenai lama
c. Mengetahui factor penyebab dan tindakan akan berlangsung
factor risiko penyakit Anemia b. Jelaskan prosedur penanganan
Pengetahuan : Prosedur penanganan c. Jelaskan tujuan tindakan yang
(1814) akan dilakukan
a. Mengetahui prosedur penanganan d. Libatkan pasien anak dalam
penyakit Anemia tindakan, tetapi jangan berikan
b. Mengetahui tujuan, langkah- pilihan untuk menghentikan atau
langkah prosedur meneruskan tindakan

d. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan nutrisi tidak adekuat


dan keterlibatan dengan system perawatan akibat penyakit anemia

NOC NIC

Risiko keterlambatan perkembangan 1. Peningkatan Perkembangan: Anak


Perkembangan anak: Usia Anak a. Bangun hubungan saling
Pertengahan (0108) percaya dengan anak
a. Menunjukkan kebiasaan sehat b. Lakukan interaksi social dengan
yang baik anak
b. Bermain berkelompok c. Identifikasi kebutuhan unik
c. Menunjukkan kepercayaan diri setiap anak dan tingkat
kemampuan adaptasi yang
diperlukan

15
d. Menunjukkan pemikiran d. Ajarkan orangtua mengenai
kompleks yang semakin tingkat perkembangan normal
berkembang dari anak dan perilaku yang
berhubungan
e. Sediakan aktivitas yang
mendukung interaksi di antara
anak-anak
f. Tawarkan mainan sesuai usianya
2. Pendidikan Orangtua: Keluarga yang
Membesarkan Anak
a. Pahami hubungan antara
perilaku orangtua dan tujuan
yang sesuai dengan usia anak
b. Identifikasi tugas perkembangan
atau tujuan yang sesuai untuk
anak
c. Berikan sumber informasi
online, buku, dan literature yang
dirancang untuk mengajarkan
orangtua mengenai pengasuhan
anak

16