Anda di halaman 1dari 17

Analisis Dampak Reklamasi Terhadap Kenaikan Muka Air dan Sedimentasi di Teluk Jakarta

Gema Mahardika Yogatama1), Andojo Wurjanto2)


1
Program Studi Magister Teknik Kelautan – Institut Teknologi Bandung, Jl Ganesha N0.10 Bandung
40132, e-mail : gemaalkadiry@gmail.com
2
Kelompok Keahlian Teknik Pantai Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan – Institut Teknologi Bandung,
Jl Ganesha N0.10 Bandung 40132, e-mail : andojowurjanto@gmail.com

ABSTRAK
Reklamasi Pantai Jakarta menjadi isu yang paling hangat dibicarakan dalam rentang waktu 2 tahun
terakhi rini. Namun dampak lingkungan yang dikhawatirkan terjadi apabila 17 pulau reklamasi selesai
dibangun masih belum ada kajian mendalam yang bisa dipublikaskan ke masyarakat. Proses kenaikan
level muka air di muara sungai dan sedimentasi akan dimodelkan menggunakan DELFT3D dimana
hasil akhirnya adalah diperoleh sebaran dan laju sedimen di Teluk Jakarta, dan tingkat kenaikan level
muka air di muara-muara sungai.

Kata Kunci :reklamasi, sedimentasi, simulasi DELFT3D, kenaikan level muka air

1. LATAR BELAKANG
Ibu Kota Jakarta merupakan kota yang ditunjang dengan letak strategisnya di wilayah peisisir pantai.
Namun banjir akibat pasang surut maupun debit curah hujan yang tinggi menjadi permasalahan bagi
masyarakat Jakarta yang hingga saat ini masih belum teratasi secara maksimal.
Reklamasi Pantai Jakarta menjadi isu yang paling hangat dibicarakan akhir akhir ini. Area reklamasi
yang terdiri dari 17 pulau (Gambar 1.1) akan menjadi zona eksklusif yang menguntungkan bagi
pemerintah, pengembang dan masyarakat di sekitarnya menjadi latar belakang disetujuinya mega
proyek Jakarta ini. Namun dampak lingkungan yang kemungkinan akan terjadi masih belum ada
kajian mendalam yang dipublikaskan ke masyarakat.
106°42'30" BT 106°44'15" BT 106°46'00" BT 106°47'45" BT 106°49'30" BT 106°51'15" BT 106°53'00" BT 106°54'45" BT 106°56'30" BT 106°58'15" BT
-20.00

-19.00
U
-18.00 -20.00

-18.00
LAUT JAWA
06°01'45" LS

05°01'45" LS

-14.00
-17.00
0 750 1500 3000 m

-9.00
Pulau -17.00
-16.00 -15.00
A -14.00
-15.00
-15.00
-12.00
06°03'30" LS

06°03'30" LS

-14.00

-13.00

Pulau -12.00
-11.00
B -10.00
-9.00
PROPINSI

Pulau
BANTEN

-11.00
-8.00 Pulau
-7.00 Q
-6.0 0
0
Pulau
P
06°05'15" LS

06°05'15" LS

Pulau -5.00
-4
.0
Pulau O
C Pulau
Pulau
Pulau
H Pulau N
0

rancis D G
-3.0

Kali Pe
Pulau
F M
E
Pulau Koja
-2.00
Pantai Indah Kapuk
Pantai Indah Kapuk Muara Angke I Pulau
-1.00 Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok
Marunda
ca
ng
J Pulau len
Sungai Kanal Timur

iB
L PLTU/PLTG n ga
Su
06°07'00" LS

06°07'00" LS

PLN Pertamina
Muara Angke
oja
Sungai Muara Karang

PENJARINGAN
Kali Suasembada

Sungai Sunter
Waduk iK
Pantai Indah Kapuk
Pluit n ga
Pantai Marina Su
K
col KOJA
JAWA BARAT

Taman Impian Jaya Ancol An


Kali Danau Cincor
PROPINSI

PADEMANGAN CILINCING
Sung

Kali Cili

Kali Sun
ai An
yer

TANJUNG PRIOK
wung
06°08'45" LS

06°08'45" LS
ter 1
1

KETERANGAN:
Kontur Batimetri
JAKARTA BARAT
Sungai
Garis Pantai KELAPA GADING
Batas Kecamatan
05°10'30" LS

05°10'30" LS

Batas Kotamadya / Kabupaten JAKARTA PUSAT


Batas Provinsi JAKARTA TIMUR

106°42'30" BT 106°44'15" BT 106°46'00" BT 106°47'45" BT 106°49'30" BT 106°51'15" BT 106°53'00" BT 106°54'45" BT 106°56'30" BT 106°58'15" BT

Gambar 1.1 Area reklamasi Teluk Jakarta (sesuai Perda DKI Nomor 01-2012)

1
Pada kenyataan di lapangan, kondisi pantai Jakarta dikabarkan semakin hari semakin
memprihatinkan yang diakibatkan sedimentasi yang semakin besar semenjak dimulainya proyek
reklamasi dari pesisi Pantai Muara Kamal. Beberapa kalangan pakar kelautan nasional juga telah
banyak memberikan pendapatnya terkait dampak reklamasi ini, diantaranya Pakar Teknik Kelautan
ITB, Muslim Muin, juga memberikan pendapat bahwa dengan reklamasi, air laut tidak akan terhalangi
untuk masuk ke daratan, namun justru semakin penetrasi ke kanal –kanal yang direklamasi sehingga
memicu banjir yang semakin parah.
Berlatar belakang isu dan pendapat para pakar kelautan nasional ini, penulis mengangkatnya menjadi
objek penelitian ilmiah dengan kenaikan elevasi muka air di muara-muara sungai di muara-muara
sungai Teluk Jakarta dan sedimentasi sebagai topik utamanya.

2. PERANGKAT LUNAK DELFT3D


Penelitian dampak reklamasi di Teuk Jakarta ini akan disimulasikan dengan perangkat lunak Delft3D
yang merupakan perangkat lunak open source yang memliki beberapa modul yang digunakan untuk
simulasi investigasi hidrodinamika, transport sedimen, morfologi dan kulaitas airuntuk estuari dan
lingkungan pantai aik 2 dimensi ataupun 3 dimensi. Delft3d memiliki beberapa modul sebagai
berikut:
1. FLOW : Modul DELFT3D untuk simulasi arus hidrodinamika dan transport sedimen
2. WAVE: Modul DELFT3D untuk simulasi gelombang dan terintegrasi dengan modul FLOW
3. Water Quality (WAQ): Modul DELFT3D yang bisa mensimulasikan konsentrasi zat atau polutan
yang mempengaruhi kualitas air dan tingkat kehidupan (mortality) lingkungan perairan
4. Partickle Tracking (PART): Modul DELFT3D untuk simulasi pola persebaran partikel (2D atau 3D)
yang terintegrasi dengan modul FLOW

3. METODE DAN SETUP MODEL SIMULASI


3.1. Diagram Alir Metode Penelitian
Metode penelitian yang diaplikasikan dalam penelitian dampak reklamasi Teluk Jakarta terhadap
kenaikan muka air di muara sungai dijabarkan dalam diagram alir Gambar 3.1.

2
Gambar 3.1 Diagram alir metode simulasi penelitian

3.2. Kalibrasi Model Simulasi


Tahap simulasi kawasan besar dijadikan acuan awal untuk mengetahui hasil simulasi mendekati
kondisi nyata di lapangan. Hasil dari simulasi kawasan besar akan dikalibrasikan dengan data pasang
surut DISHIDROS di 4 stasiun pasang surut dan 1 stasiun pengamatan arus hingga didapatkan nilai
error terkecil.

Simulasi kawasan kecil di Teluk Jakarta juga akan dilakukan kalibrasi di 3 stasiun pengamatan pasang
surut yaitu di Muara Kamal, Marunda dan Muara Kali Adem, data pasang surutnya diperoleh dari
data pengamatan lapangan survei pasang surut pekerjaan desain pembangunan pelindung pantai di
Jakarta Balai Besar Wilyah Sungai Ciliwung Cisadane. Nilai error dalam % dihitung menggunakan
rumus 3.1 dengan ilustrasi kalibrasi ditunjukkan Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Ilustrasi parameter perhitungan nilai error

1 ẋ𝑖 −𝑥𝑖
𝐸𝑟𝑟𝑜𝑟 = 𝑁
[∑𝑁
𝑖=1 | 𝑇𝑅 |] 𝑥 100% (3.1)

Dimana :

3
ẋ𝑖 = 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑆𝑖𝑚𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖

𝑥𝑖 = 𝐷𝑎𝑡𝑎 𝑂𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖

𝑇𝑅 = 𝑅𝑎𝑛𝑔𝑒 𝑝𝑎𝑠𝑢𝑡(Tunggang Pasang)

𝑁 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐷𝑎𝑡𝑎

3.3. Penyusunan Mesh dan Kondisi Batas


Jangka waktu simulasi adalah 1 bulan yaitu 31 hari di bulan Oktober 2015. Sedangkan kondisi batas
(boundary condition) pasang surut simulasi kawasan besar dibagi menjadi 16 kondisi batas,
sebagaimana tampak di dalam Gambar 3.3. Setup model parameter fisik simulasi baik untuk fisik
fluida air laut maupun kondisi dasar perairan dijabarkan di dalam Tabel 3.1, parameter fisik ini sangat
menentukan tingkat ketelitian kalibrasi simulasi.

Gambar 3.3 Meshing model kawasan besar dan kondisi batasnya

Tabel 3.1 Parameter fisik pemodelan

No Parameter Fisik Nilai Satuan


1 Percepatan Gravitasi 9.81 m/s2
2 Water Density 1025 kg/m3
3 Bottom Roughness 0.029 manning
4 Viscosity 2.00 m2/s
5 Slip Condition Free

Setelah didapatkan kondisi perairan dengan kalibrasi yang memuaskan, didapatkan juga kondisi batas
wilayah laut kawasan kecil di Teluk Jakarta. Simulasi kawasan kecil juga menggunakan kondisi batas
debit air di muara 7 sungai besar Jakarta yang dijadikan obyek penelitian. Terdapat 7 kondisi batas di
wilayah laut dan 7 kondisi batas di wilayah sungai, sebagaimana ditunjukkan Gambar 3.4. Parameter
fisik dari simulasi kawasan kecil baik eksisting maupun alternatif rekayasa pulau reklamasi akan
disesuaikan dengan parameter simulasi di kawasan besar.

4
Gambar 3.4 Meshing model kawasan kecil dan kondisi batasnya

3.4. Alternatif Rekayasa Pulau Reklamasi


Rekayasa pulau reklamasi bertujuan untuk mengurangi dampak kenaikan muka air di muara sungai,
akan diajukan 5 alternatif sehingga dapat diketahui alternatif mana yang paling maksimal dan efektif.
Lima alternatif tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1. Alternatif 1 : Menggeser pulau reklamasi 250 m menjauhi pantai ke arah laut.


2. Alternatif 2 : Menggeser pulau reklamasi 500 m menjauhi pantai ke arah laut.
3. Alternatif 3 : Menggeser pulau reklamasi 750 m menjauhi pantai ke arah laut.
4. Alternatif 4 : Menggeser pulau reklamasi 1000 m menjauhi pantai ke arah laut.
5. Alternatif 5 : Merubah konfigurasi pulau reklamasi
Alternatif 5 (lima) yaitu merubah konfigurasi pulau akan mempertahankan luasan pulau reklamasi
tapi jarak perairan antar pulau reklamasi bertambah lebar dan garis pantai maju mengikuti garis
tanggul pelindung pantai rencana NCICD, perubahan konfigurasi ditunjukkan Gambar 3.5.
106°42'30" BT 106°44'15" BT 106°46'00" BT 106°47'45" BT 106°49'30" BT 106°51'15" BT 106°53'00" BT 106°54'45" BT 106°56'30" BT 106°58'15" BT
-20.00

-19.00
U
-18.00 -20.00

-18.00
Pulau LAUT JAWA
06°01'45" LS

05°01'45" LS

-14.00
A -17.00
0 750 1500 3000 m
-9.00
-17.00
-16.00 -15.00
-14.00
-15.00
-15.00
-12.00
06°03'30" LS

06°03'30" LS

Pulau -14.00

B -13.00

-12.00
-11.00
-10.00
-9.00 Pulau
PROPINSI

Pulau
Q
BANTEN

-11.00
-8.00
-7.00
Pulau
P
0
Pulau Pulau -6.0 0
O
06°05'15" LS

06°05'15" LS

-5.00
C Pulau Pulau G H -4
.0 Pulau
Pulau
Pulau
D F N
0

rancis M
-3.0

Kali Pe E
Pulau
I Pulau
-2.00
Koja
Pantai Indah Kapuk
Pantai Indah Kapuk Muara Angke J Pulau
-1.00 Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok
Marunda
nc
an
g
L Ble
Sungai Kanal Timur

ai
PLTU/PLTG ng
Su
06°07'00" LS

06°07'00" LS

PLN Pertamina
Muara Angke
PENJARINGAN oja
Kali Suasembada
Sungai Muara Karang

Sungai Sunter
Waduk iK
Pantai Indah Kapuk
K ga
Pluit Pantai Marina S un

l KOJA
Anco
JAWA BARAT

Taman Impian Jaya Ancol


Kali Danau Cincor
PROPINSI

PADEMANGAN CILINCING
Sung

Kali Cili

Kali Sun
ai An
yer

TANJUNG PRIOK
wu
06°08'45" LS

06°08'45" LS
ter 1
ng 1

KETERANGAN:
Kontur Batimetri
JAKARTA BARAT
Sungai
Garis Pantai KELAPA GADING
Batas Kecamatan
05°10'30" LS

05°10'30" LS

Batas Kotamadya / Kabupaten JAKARTA PUSAT


Batas Provinsi JAKARTA TIMUR

106°42'30" BT 106°44'15" BT 106°46'00" BT 106°47'45" BT 106°49'30" BT 106°51'15" BT 106°53'00" BT 106°54'45" BT 106°56'30" BT 106°58'15" BT

Gambar 3.5 Rekonfigurasi pulau reklamasi Teluk Jakarta

5
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kalibrasi Simulasi Kawasan Besar
Hasil kalibrasi yang ditunjukkan dari pemodelan kawasan besar ini menunjukkan hasil yang cukup
memuaskan dimana rata-rata nilai error (%) kurang dari 10% yaitu ada pada nilai 6.4%. Nilai error
terkecil terdapat pada stasiun Panjang (2.95%), kemudian untuk stasiun Ciwandan berada pada nilai
9.77%, Cirebon 5.85%, sedangkan di stasiun Tanjung Priok yang merupakan stasiun terdekat dengan
lokasi studi kasus reklamasi menunjukkan nilai error 5.97%. Kalibrasi arus di stasiun Selat Sunda
memiliki nilai error 7.47%. Hasil perbandingan nilai elevasi muka air simulasi dengan data dishidros
untuk 4 stasiun pasut dan 1 stasiun arus ditunjukkan pada Gambar 4.1 - Gambar 4.5.

Gambar 4.1 Hasil kalibrasi pasang surut di 2 stasiun DISHIDROS (Tanjung Priok dan Ciwandan)

Gambar 4.2 Hasil kalibrasi pasang surut di 2 stasiun DISHIDROS (Tanjung Priok dan Cirebon)

Gambar 4.3 Hasil kalibrasi arus di stasiun DISHIDROS Selat Sunda

6
Daftar error kalibrasi hasil simulasi ditunjukkan di dalam Tabel 4.1, dimana rata-rata error berada di
angka 6.4 %. Dari hasil kalibrasi pemodelan dengan stasiun pasang surut dan arus ini, pemodelan
dilanjutkan ke pemodelan kawasan sedang di kawasan Teluk Jakarta sebagai obyek utama studi
penelitian, dengan parameter fisik, numerik dan kondisi batimetri yang sama dengan pemodelan
kawasan besar.

Tabel 4.1 Rangkuman nilai error kalibrasi staisun pasut dan arus

No Lokasi Observasi Nilai Error (%)

1 Panjang 2.95
2 Ciwandan 9.77
3 Tanjung Priok 5.97
4 Cirebon 5.85
5 Selat Sunda 7.47
Rata-Rata Error (%) 6.4

4.2. Kalibrasi Simulasi Kawasan Kecil


Kalibrasi untuk pemodelan kawasan sedang ini menggunakan data dari hasil survei pasang surut di
lokasi Muara Kamal dan Muara Angke yang dilaksanakan pada Oktober tahun 2015. Kondisi
batimeteri ketika kalibrai juga berbeda dengan skenario awal pemodelan, dimana syarat batas
pemodelan kalibrasi ini disesuaikan dengan kondisi saat survei. Hasil kalibrasi cukup memuaskan di
kedua lokasi tersebut, di Muara Kamal error antara hasil pemodelan dengan data survei hanya 2.33%,
sedangkan di lokasi Muara Angke dan Marunda adalah sebesar 3.40% dan 8.79%, grafik kalibrasi
antara data survei lapangan dan hasil simulasi pemodelan ditunjukkan Gambar 4.3.

Gambar 4.4 Kalibrasi simulasi kawasan kecil dengan data survei lapangan (Kamal dan Muara Angke)

7
Tabel 4.2 Rekapitulasi nilai error kalibrasi kawasan kecil

No Stasiun Pengamatan Nilai Error (%)


1 Muara Kamal 2.33
2 Muara Kali Adem 3.40
3 Marunda 8.79
Rata - rata 4.84
4.3. Analisis Kenaikan Elevasi Muka Air di Muara Sungai
Rekapitulasi fluktuasi kenaikan elevasi muka air, menunjukkan bahwa kenaikan level muka air dari
skenario eksisting (tanpa pulau) ke skenario reklamasi-0 17 pulau di muara sungai berada pada
rentang antara 3 cm sampai 14 cm, dimana yang kenaikan elevasi muka air tertinggi terjadi di
Cengkareng Drain dan terkecil di Cakung Drain. Pada Gambar 4.5 - Gambar 4.11 dibawah ini
ditunjukkan rekapitulasi perbandingan kenaikan elevasi muka air.

Gambar 4.5 Hubungan ema dan jarak reklamasi Sungai Tahang

Lokasi studi Sungai Tahang dari Gambar 5.5 tampak bahwa skenario reklamasi-0 memberikan
dampak kenaikan tertinggi sebesar 6.24 cm. Skenario memundurkan pulau ke arah laut memberikan
dampak signifikan mereduksi kenaikan elevasi muka air sampai kurang lebih 2 cm. Kemudian skenario
rekonfigurasi pulau tanpa merubah jarak pulau reklamasi dari pantai memberikan dampak
penurunan elevasi muka air di muara sungai sebesar 3 cm dari reklamasi-0

8
Gambar 4.6 Hubungan ema dan jarak reklamasi Sungai Kamal

Untuk lokasi studi si Sungai Kamal adanya reklamasi pulau menyebabkan kenaikan elevasi muka air
sebesar 11.3 cm. Namun dengan alternatif memajukan pulau dan rekonfirgurasi pulau sangat
memberikan dampak degradasi nilai elevasi muka air di muara sungai hingga 10 cm, sehingga tinggal
1 cm saja.

Gambar 4.7 Hubungan ema dan jarak reklamasi Cengkareng Drain

Seperti yang tampak di Gambar 5.7, kenaikan elevasi muka air di muara Cengkareng Drain
memberikan nilai yang paling tinggi dibanding 6 lokasi lain yaitu sebesar 13.3 cm. Usaha untuk
memajukan pulau dan rekonfigurasi pulau di lokasi ini belum memberikan hasil yang memuaskan,
masih tersisa kenaikan elevai muka air 6 cm pada skenario rekonfigurasi pulau.

9
Gambar 4.8 Hubungan ema dan jarak reklamasi Sungai Adem
Studi kasus di Kali Adem dengan kenaikan elavasi muka air yang tidak terlalu besar berkisar di angka
5.48 cm, empat alternatif memajukan pulau reklamasi memberi dampak menurunkan kondisi elevasi
muka air, sampai pada alternatif skenario rekonfigurasi yang nilai kenaikan elavasi muka air hampir
mendekati nol.

Gambar 4.9 Hubungan ema dan jarak reklamasi Cakung Drain


Berbeda dengan kondisi elevasi muka air di daerah barat, sungai sungai di daerah Timur cenderung
menunjukkan peningkatan elevasi muka air di skenario rekonfigurasi pulau dibandingkan dengan
alternatif memajukan pulau ke laut sejauh 1000 meter. Namun kondisi debit yang kecil di Cakung
Drain membuat kenaikan yang terjadi tidak terlalu besar hanya 3.64 cm sehingga dampak yang
dikahwatirkan dari reklamasi Jakarta di daerah ini cukup minim.

10
Gambar 4.10 Hubungan ema dan jarak reklamasi Sungai Blencong

Kenaikan elevasi muka air di lokasi studi muara Kali Blencong memberikan hasil yang cukup tinggi
yaitu berada di level 10 cm. Alternatif memajukan pulau reklamasi sejauh 1000 meter memberikan
dampak paling minimum dibandingkan alternatif yang lain, seperti tampak dalam Gambar 5.10 di
atas. Rekonfigurasi justu memberikan nilai elevasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan alternatif
rekonfigurasi pulau, yang pada lokasi studi 3 sungai pertama memberikan nilai paling minimal
sehingga berdampak sangat signifikan.

Gambar 4.11 Hubungan ema dan jarak reklamasi BKT

Lokasi Banjir Kanal Timur mengalami kenaikan elevasi muka air sebesar 7.26 cm, kemudian
mengalami penurunan searah dengan alternatif dimundurkannya pulau reklamasi per 250 meter.
Seperti hal nya di Kali Blencong dan Cakung Drain, alternatif rekonfigurasi pulau mengalami kenaikan

11
dibandingkan dengan alternatif memajukan pulau sejauh 1000 meter. Namun kenaikan di BKT dan
Cakung Drain masih dalam rentang yang kecil (di bawah 3 cm), berbeda dengan Kali Blencong yang
masih naik dan berada di level 6 cm.

4.4. Analisis Sedimentasi Dampak Reklamasi Teluk Jakarta

 Skenario Gelombang dari Barat Laut (NW)

Hasil simulasi sedimentasi, dengan gelombang dari arah Barat Laut,dalam jangka waktu satu tahun
menunjukkan bahwa skenario pertama yaitu kondisi perairan tanpa pulau reklamasi, tingkat
sedimentasi di sepanjang garis pantai cukup rendah dengan maksimal terjadi sedimentasi sebesar 1
cm/tahun, sedangkan di laut lepas terjadi sedimentasi hanya sebesar 11cm/tahun.di laut lepas. Pada
Gambar 4.12 ditunjukkan pola sedimentasi skenario tanpa pulau dengan gelombang datang dari arah
Barat Laut.

Gambar 4.12 Pola sedimentasi tanpa pulau (bed level change)-Gelombang dari Barat Laut

Skenario kawasan Teluk Jakarta ketika ada 17 pulau dengan arah gelombang dari Barat Laut sebesar
1.6 m, tampak sedimentasi terkonsentrasi di Pulau Q (paling timur) dengan tingkat sedimentasi
terbesar 1.5 m/tahun. Di Pulau H, I, L dan M di celah antara pulau reklamasi dan pantai Jakarta terjadi
sedimentasi sebesar 0.5 m/tahun, sedangkan di pulau reklamasi seperti Pulau A dan Pulau N memiliki
tingkat sedimentasi 0.2 m/tahun. Pola sedimentasi untuk skenario pulau reklamasi 17 pulau
ditunjukkan lebih jelas di dalam Gambar 4.13.

12
Gambar 4.13 Pola sedimentasi reklamasi-0 (bed level change)-Gelombang dari Barat Laut

Rekonfigurasi pulau reklamasi dengan menambah jarak antar pulau menjadi lebih lebar dan
memajukan pulau 250 meter ke arah laut dari hasil simulasi belum memberikan dampak signifikan
bagi tingkat sedimentasi di Pulau Q tampak di Gambar 6.8. Sedimenatasi di sekitar Pulau Q masih
cukup tinggi hanya persebarannya berganti ke pantai di sebelah timur dari Pulau Q. Sedangkan untuk
6 pulau reklamasi yang pada skenario awal menunjukkan tingkat sedimentasi 0.6 meter sampai 1
meter per tahun, menunjukkan pengurangan menjadi rata-rata 0.3 m/ tahun. Hal ini menunjukkan
perubahan konfigurasi pulau cukup memberikan dampak mengurangi tingkat sedimentasi di celah
antar pulau hingga berkurang 0.5 m/tahun pada skenario gelombang datang dari Barat Daya . Pada
Gambar 4.14.

Gambar 4.14 Pola sedimentasi rekonfigurasi (bed level change)-Gelombang dari Barat Laut

13
 Skenario Gelombang dari Utara (N)

Simulasi sedimentasi dengan input gelombang dari arah Utara dimana tinggi gelombang signifikan
sebesar 1.7 meter terjadi di laut lepas di syarat batas kawasan kecil. Hasil simuasi menunjukkan
persebaran untuk skenario kondisi tanpa pulau hampir mirip dengan hasil yang ditunjukkan oleh
skenario tanpa pulau dan gelombang dari Barat Laut, hanya saja di beberapa titik pantai seperti di
daerah pantai Bekasi terjadi sedimentasi kecil sebesar 10 cm/tahun yang tidak terjadi apabila
gelombang berasal dari arah Barat Laut.

Gambar 4.15 Pola sedimentasi tanpa pulau (bed level change)-Gelombang dari Utara

Pada skenario reklamasi-0 dengan gelombang dari arah Utara, tampak persebaran sedimen di celah
celah pulau reklamasi lebih banyak dan merata dibandingkan skenario gelombang dari Barat Laut. Di
Pulau A, H, I, dan Q menunjukkan tingkat sedimentasi cukup tinggi kurang lebih 1.7 meter/tahun,
namun luasan sedimenntasinya tidak terlalu luas, pola persebarannya bisa dilihati di Gambar 4.16 .
Sedangkan pulai lain selain 7 pulau yang sudah disebut menunjukkan kondisi sedimentasi yang kecil
antara 0.1-0.4 meter/tahun.

14
Gambar 4.16 Pola sedimentasi reklamasi-0 (bed level change)-Gelombang dari Utara

Untuk skenario rekonfigurasi pulau, seperti tampak di dalam Gambar 4.17. tingkat sedimentasi tidak
jauh berubah bahkan cenderung memanjang maju mengikuti pergeseran pulau yang dimajukan 250
meter ke arah laut. Hal ini mengindikasikan bahwa alternatif rekonfigurasi pulau yang pada studi
kasus kenaikan elevasi muka air memberikan dampak mengurangi kenaikan muka air di muara, tidak
terlalu berpengaruh terhadap ancaman dampak sedimentasi yang dikhawatirkan terjadi paska 17
pulau reklamasi selesai dibangun. Dengan tingkat sedimentasi tertinggi 1.5 meter/tahun termasuk
angka yang signifikan, sehingga alternatif penaggulangan dampak sedimentasi ini adalah dengan
melakukan pengerukan secara berkala, agar material sedimen tidak menutupi celah antar pulau
ataupun celah antara pulau dengan daratan.

Gambar 4.17 Pola sedimentasi rekonfigurasi (bed level change)-Gelombang dari Utara

15
5. KESIMPULAN
1. Simulasi kawasan besar dengan perangkat lunak Delft3D memberikan hasil yang memuaskan
dengan rata rata nilai error 6.402%, hal ini menunjukkan bahwa secara hidrodinamika model
yang dibangun untuk simulasi sudah mendekati kondisi nyata di lapangan.
2. Pembangunan 17 pulau reklamasi di Teluk Jakarta, berdasarkan perbandingan hasil simulasi
eksisting tanpa pulau dan reklamasi-0, memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan
elevasi muka air di muara sungai Jakarta dengan rentang antara 3 – 13.5 cm, dimana muara
Cengkareng Drain menjadi lokasi studi yang kenaikannya paling tinggi yaitu sebesar 13.26 cm.
3. Alternatif rekayasa pulau dengan memajukan pulau ke arah laut per 250 meter dan
rekonfigurasi pulau dalam studi kasus kenaikan elevasi muka air, memberikan pengaruh
terhadap penurunan elevasi muka air di muara sungai. Alternatif memajukan pulau 1000 km
dan rekonfigurasi rata rata memberikan nilai penurunan yang signifikan.
4. Analisis sedimentasi hasil simulasi 1 tahun dalam dua kondisi yaitu gelombang dari arah Barat
Laut dan Utara memberikan kesimpulan bahwa pembangunan 17 pulau reklamasi
meningkatkan sedimentai cukup tinggi terutama di Pulau A dan Pulau Q yang terletak di
ujung Barat dan ujung Timur dari gugusan rencana reklamasi. Tingkat sedimentasi mencapai
1.5 meter/ tahun di Pulau Q di dalam skenario gelombang datang dari Barat Laut, dan Pulau
A juga memiliki tingkat sedimentasi 1.5m/tahun pada skenario gelombang dari Utara.
5. Permasalahan tingginya sedimentasi paska pembangunan 17 pulau, maka solusi yang
direkomendasikan adalah melakukan pengerukan secara berkala di area area yang terindikasi
memiliki tingkat sedimentasi yang tinggi. Alternatif-alternatif yang ditawarkan dalam
penelitian ini belum cukup memberikan dampak yang signifikan untuk mengatasi resiko
dampak sedimentasi.

6. DAFTAR PUSTAKA
Mahfudz, Hernawan, Harlan, Dhemi, Sistarani, Meutia, dan Firdaus, Achmad Mukhlis (2009): Analisa
Hidrolika Penggunaan Pintu Air pada Proyek Reklamasi Pantai Utara DKI Jakarta dengan Perangkat
Lunak SMS 8.1, Jurnal Teknik Sipil, hal 162.

Firdaus, Achmad Mukhlis, Mahfudz, Hernawan, Harlan, Dhemi dan Maarif, Ahmad Syafii(2011):
Modeling of Water System Condition Due to Reclamation in Upland of Jakarta, LAPI ITB, hal 266-268.

Achmadi, Bambang (2011): Studi Dampak Reklamasi di Kawasan Kenjeran dengan Penekanan Pada
Pola Arus dan Transpor Sedimen

Azhar, Rian Mohammad(2012): Studi Pengamanan Pantai Tipe Pemecah Gelombang Tenggelam di
Pantai Tanjung Kait, Jurnal Institut Teknologi Bandung

16
Ghipari, Azhar (2012): Pemodelan Perubahan Morfologi Pantai Akibat Pengaruh Submerged
Breakwater Berjenjang, Jurnal POMITS, Vol. 1 No 1, hal 1-6

Oktiarini, Dwi., Atmodjo, Warsito., Widada, Sugeng (2015): Transport sedimen di lokasi perencanaan
pembangunan Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara, Jurnal Oseanografi, Volume 4, Nomor 1, Halaman
325 – 332

Pujiraharjo, Al Wafie (2013): Studi Dampak Rencana Reklamasi Di Teluk Lamong Provinsi Jawa Timur
Terhadap Pola Arus Pasang Surut dan Angkutan Sedimen, Jurnal Rekayasa Sipil, Volume 7

17