Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KAJIAN ETIKA DAN KESEHATAN MASYARAKAT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Global

Oleh :
Kelompok 1
Joko Tri Mulyanto 172520102003
Nanda Prima Dwi Cahyono 172520102004
Riza Indira Fadillah Zam Zam 172520102005
Arifandi Hutomo 172520102007
Eiska Rohmania Zein 172520102010
Caesar Kridha Bagus Prahartiko 172520102013

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan Rahmat dan Karunia Nya sehingga kelompok kami dapat
menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam
makalah ini kelompok kami akan membahas mengenai “Kajian Etika dan
Kesehatan Masyarakat”.
Makalah ini telah dibuat dengan berbagai studi literatur dari buku pedoman
dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan
tantangan dan hambatan selama proses mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu,
kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran
serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik yang konstruktif dari pembaca
sangat kami harapakan untuk menyempurnakan makalah ini selanjutnya. Akhir
kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Jember, 10 Maret 2018

Tim Penulis
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan Masyarakat profesional harus menghadapi tanggung jawab etik
dan konflik yang mungkin meraka alami sebagai akibat dari hubungan mereka
dalam praktik profesional. Kemajuan dalam bidang kedokteran, hak klien,
perubahan sosial dan hukum telah berperan dalam peningkatan perhatian
terhadap etik. Standart perilaku Kesehatan Masyarakat ditetapkan dalam kode
etik yang disusun oleh asosiasi Kesehatan Masyarakat internasional, nasional,
dan negera bagian atau provinsi. Kesehatan Masyarakat harus mampu
menerapkan prinsip etik dalam pengambilan keputusan dan mencakup nilai
dan keyakinan dari klien, profesi Kesehatan Masyarakat, dan semua pihak
yang terlibat. Kesehatan Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk
melindungi hak klien dengan bertindak sebagai advokat klien (R. Rizal
Isnanto. 2009).
Kesehatan Masyarakat sebagai suatu profesi harus memiliki suatu
landasan dan lindungan yang jelas. Para Kesehatan Masyarakat harus tahu
berbagai konsep hukum yang berkaitan dengan praktik Kesehatan Masyarakat
karena mereka mempunyai akuntabilitas terhadap keputusan dan tindakan
profesional yang mereka lakukan. Secara umum terhadap dua alasan terhadap
pentingnya para Kesehatan Masyarakat tahu tentang hukum yang mengatur
praktiknya. Alasan pertama untuk memberikan kepastian bahwa keputusan
dan tindakan Kesehatan Masyarakat yang dilakukan konsisten dengan prinsip-
prinsip hukum. Kedua, untuk melindungi Kesehatan Masyarakat dari liabilitas
(Mujtahid, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana mengetahui Kajian Etika dan Kesehatan Masyarakat?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang Kajian
Etika dan Kesehatan Masyarakat
1.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan
pembaca agar dapat lebih mengetahui dan memahami mengenai kajian etika dan
kesehatan masyarakat sehingga dapat menerapkannya saat bertugas sebagai
tenaga kesehatan nantinya.
1.5 Tinjauan Pustaka
1. Pengertian etika
2. Etika Penelitian Kesehatan Masyarakat
3. Definisi Komite Etik
4. Alasan etika dibutuhkan saat ini
5. Contoh kasus dan analisis
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Etika
Etika adalah prinsip yang harus dipatuhi supaya pelaksanaan suatu
perencanaan oleh seseorang atau peneliti agar dapat berjalan secara benar atau
dapat disebut juga sebuah filosofi yang mendasari prisnsip tersebut. Sehingga
dapat diartikan etika adalah sebuah aturan yang harus dipegang oleh peneliti
dalam melakukan riset dan peneliti harus mengetahui serta paham tentang etika
sebelum melakukan sebuah penelitian. Adapun beberapa aspek mengapa harus
mengerti dan paham tentang aspek penelitian terlebih dahulu, dikarenakan terkait
dengan nilai individu dalam hal kejujuran, integritas personal dan tanggung jawab
terhadap subjek riset terkait izin, kerahasiaan, keanoniman dan kesopanan. Dapat
dikatakan bahwa etika penelitian sebagai hal yang dipertanggung jawabkan
sebagai sosial dan moral peneliti (Mustikawati, 2017).
Etika penelitian ada karena bertujuan untuk penghormatan terhadap harkat
dan martabat manusia, penghormatan terhadap privasi dan kerahasiaan subjek
penelitian, keadilan dan iinklusivitas serta perhitungan terhadap manfaat dan
kerugian yang akan ditimbulkan. Adapun pelanggaran dalam etika penelitian yang
biasa terjadi adalah plagiarisme.
2.2 Etika Penelitian Kesehatan Masyarakat
Menurut Winslow dikutip oleh Djafri dalam Darwin (2014) menyebutkan
bahwa etika penelitian kesehatan masyarakat adalah sebuah aturan yang harus
dipegang oleh peneliti peneliti dalam melakukan riset tentang kesehatan
masyarakat yang bertujuan untuk mencegah penyakit,memperpanjang hidup dan
meningkatkan kesehatan melalui upaya bersama masyarakat secara terorganisir
untuk sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit, pendidikan kesehatan,
pelayanan kesehatan, dan sebagainya mengandung makna bahwa aspek preventif
dan promotif adalah lebih penting daripada kuratif dalam rangka peningkatan
status kesehatan masyarakat.
Apabila disimpulkan secara keilmuwan, ilmu kesehatan masyarakat adalah
kombinasi dari ilmu pengetahuan, keterampilan, moral dan etika yang diarahkan
pada upaya dan peningkatan kesehatan individu dan masyarakat untuk
memperpanjang hidup melalui tindakan kolektif, atau tindakan sosial untuk
mencegah penyakit serta memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.
Menurut Hann 2010 etika kesehatan masyarakat dibedakan dari bentuk-
bentuk yang jauh lebih terkenal dari etika berakar dalam biomedis dan tradisi
dalam profesi kesehatan. Perbandingan pendekatan kesehatan masyarakat dan
biomedis adalah sebagai berikut :
Karakteristik Kesehatan Masyarakat Biomedis
Fokus Populasi Individu
Perspektif Komunitas/Kelompok Perorangan
Masalah Determinan Sosial Tanggung Jawab
Individu
Pemecahan/fokus Sistem Praktik Pengambilan Keputusan
individu atau
perwakilan
Sumber : Canadian Institutes of Health Research – Institute of Population
and Public Health (CIHR IPPH), 2012.
2.3 Definisi Komite Etik
Komite etik adalah suatu badan pengkaji atau komite independen, yang
berada pada level institusi, regional, nasional ataupun suprasional. Nama dari KE
ada bermacam-macam penyebutnya contohnya Ethics Commitee atau Institutional
Review Board (IRB) dimana dipakai di Amerika secara umum, beda negara beda
pula namanya. Anggota dari komisi etik adalah ilmuwan atau profesional medis
maupun ilmuwan ataupun profesional non-medis. Adapun tanggung jawab dari
KE adalah meyakinkan hak, keamanan, dan well-being dari manusia sebagai
subjek terlindungi ketika mengikuti suatu uji klinik (Ruslami, 2013).
Adapun sebuah komite etik harus dibentuk dengan setidaknya delapan
komponen dimana susunan utama terdiri dari ketua dan sekretaris. Angota dari
sebuah komite etik diharapkan adalah gabungan dari medis, non medis/ilmiah,
nonscientific, termasuk masyarakat awam. Berikut adalah komposisinya :
1. Ketua
2. Satu sampai dua ilmuwan medis dasar (umumnya adalah ahli
farmakologi)
3. Satu atau dua dokter dari berbagai institusi
4. Ahli hukum
5. Ilmu pemerintahan
6. Teolog/filsuf
7. Satu orang awam
8. Anggota sekretaris (Das & Sil, 2017)
2.4 Alasan etika dibutuhkan saat ini adalah:
1. Masyarakat semakin pluralistic, termasuk dalam hal moralitas, norma-
norma moral sendiri masih diperdebatkan misalnya dalam bidang
etika seksual, hubungan anak dan orang tuanya, kewajiban terhadap
negara, sopan santun dalam pergaulan.
2. Desakan transformasi pada dimensi kehidupan manusia, sehingga
manusia secara evolusi, dan radikal menganut nilai-nilai baru yang
sesungguhnya tidak sesuai dengan tatanan sosialnya.
3. Eksploitasi modernisasi dari kelompok tertentu untuk kepentingan
sepihak, dan seringkali manusia tidak sadar, bahwa modernisasi
bukanlah untuk mengabaikan tata nilai, tetapi justeru memberikan
kemudahan dalam pencapaian derajat kesejahteraan
4. Kaum agama memubutuhkan perbandingan tata nilai yang bersumber
dari norma-norma budaya secara universalistic dalam kapasitas untuk
memberikan kemudahan logic pada manusia dalam memahami
keyakinan.
Di tengah masyarakat terdapat banyak norma yang berlaku secara khusus dan
umum. Norma-norma tersebut adalah:
1. Norma sopan santun, yaitu tentang sikap lahiriah manusia yang bersifat
moral.
2. Norma hukum, yaitu norma yang tidak boleh dilanggar karena memiliki
sanksi.
3. Norma moral, yaitu norma yang mengatur tentang tuntutan suara hati
dalam suatu kesadaran tertinggi yang memiliki substansi sopan santun
dan norma hokum.
• Etika selalu berkaitan dengan dengan moralitas, dimana dibutuhkan
pertanggunggugatan dari manusia sebagai individu dan anggota
dari individu-individu lainnya pada suatu sistem atau tatanan sosial.
• Pertanggung-gugatan itu sendiri dipengaruhi oleh kebebasan sosial
dan eksistensi.
• Etika adalah ilmu tentang baik dan buruk serta tentang kewajiban
dan hak.
• Etika dapat diartikan sebagai kumpulan azas atau nilai yang
berkenaan dengan ahlak.
• Etika adalah nilai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat.
Prinsip Dasar Etika Penelitian
Sebuah Etika penelitian memiliki 4 prinsip dasar yang mana prinsip
dasar ini harus diaplikasikan apabila seluruh subjek penelitian adalah manusia.
Menurut Sujatno bahwa prinsip dari etika penelitian terdiri atas 4 komponen
diantaranya :
1. Menghormati atau menghargai orang. Dalam hal ini terdapat dua
hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
a. Seorang peneliti harus mempertimbangkan secara mendalam
terhadap kemungkinan bahaya dan penyalahgunaan penelitian
b. Melihat subjek penelitian adalah manusia, yang rentan terhadap
bahaya, maka diperlukan sebuah perlindungan.
2. Manfaat
Sebuah keharusan secara etik untuk mengusahakan manfaat
sebesar-besarnya dan memperkecil atau meminimalisir resiko bagi
subjek dan memperkecil kesalahan dalam penelitian. Hal ini
memerlukan desain penelitian yang tepat dan akurat, seorang
peneliti yang berkompeten, serta subjek yang terjaga
keselamatannya. Adapun Deklarasi Helsinki butir 1.4 melarang
sebuah penelitian yang mengundang resiko. Perlu diketahui bahwa,
sebuah subjek sifatnya adalah sukarela yang harus dihormati.
3. Bahaya
Hal yang terpenting adalah meminimalisir bahaya terhadap subjek
serta melindungi subjek tersebut
4. Keadilan
Keseluruhan subjek diperlakukan dengan baik. Terdapat
keseimbangan manfaat dan resiko. Resiko yang harus dihadapi
sesuai dengan pengertian sehat diantaranya : fisik, mental, dan
sosial. Sebuah resiko yang mungkin dapat membahayakan subjek
diantaranya resiko fisik (biomedis), resiko psikologis, serta resiko
sosial. seluruh resiko tersebut didapat karena penelitian, pemberian
obat atau intervensi selama penelitian. (Jasaputra & Santosa, 2008)
BAB 3. CONTOH KASUS DAN ANALISIS

3.1 Contoh Kasus

Sumber: https://sains.kompas.com/read/2017/12/11/190500123/kasus-
penolakan-vaksinasi-difteri-ini-kata-menkes

Dalam artikel tersebut disampaikan bahwa, Kemunculan penyakit difteri


telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa oleh Kementerian Kesehatan.
Terhitung hingga November 2017, terdapat 593 kasus dan 32 kematian di 20
provinsi. Dari 593 kasus yang telah dilaporkan, 66 persen pengidap difteri tidak
melakukan imunisasi. Sementara itu, 31 persen lainnya melakukan imunisasi tidak
sampai final. Pengobatan pasien difteri tidak murah. Satu orang bisa
menghabiskan dana sekitar Rp 4 juta yang jika ditambah perawatan kelas III
rumah sakit, totalnya menjadi Rp 10 juta per orang. Menurut Menteri Kesehatan
Nila Djuwita F Moeloek, masyarakat yang menolak imunisasi harus membuat
perhitungan dengan cermat. Selain berpotensi menyerang dirinya, penolak
imunisasi juga berpotensi menularkan difteri pada orang lain.

3.2 Analisis Kasus menurut Kajian Etik Kesehatan Masyarakat


Secara umum, pelaksana dan kebijakan kesehatan masyarakat berusaha untuk
meningkatkan kesehatan seluruh masyarakat, dimana hal ini kadang-kadang
bertentangan dengan hak pribadi perorangan. Konflik ini mungkin klinis, seperti
dalam kasus imunisasi. Adapun alasan yang dikemukakan oleh kelompok yang
menolak imunisasi adalah alasan agama yaitu tentang kehalalan dari vaksin yang
digunakan untuk imunisasi. Mereka juga menyampaikan anak-anaknya yang tidak
mendapatkan imunisasi juga tetap dalam keadaan sehat dan tidak mengalami
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Para orang tua menyatakan bahwa
vaksin dirasa tidak aman dan tidak efektif, kurang percaya terhadap pemerintah,
dan kurang percaya bahwa penyakit tersebut akan menyerang anak-anak mereka.
Upaya-upaya harus dibuat untuk memberikan pendidikan kepada keluarga
khususnya tentang permintaan pembebasan vaksinasi, nilai dan keamanan
imunisasi. Analisa terhadap dilema etik tentang penolakan imunisasi oleh orang
tua, penting untuk mempertimbangkan tanggung jawab dari perawat pelaksana
dalam memberikan pelayanan kesehatan pada anak dan keluarga.
3.3 Ditinjau dari Prinsip Etik
Dalam area praktek perawat, semua pemberi pelayanan dibatasi oleh prinsip-
prinsip etik tertentu termasuk autonomy, beneficence dan nonmaleficence. Dengan
merujuk prinsip-prinsip etik tersebut, pemberi pelayanan kesehatan dan orang tua
secara teoritis harus mampu untuk bekerja bersama untuk mencapai kesepakatan
bersama.
a) Autonomy
Prinsip etik yang pertama adalah Autonomy dimana pasien dalam hal ini
adalah anak mempunyai kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih tindakan
tertentu yang memperbolehkan setiap orang untuk memutuskan apa yang terbaik
untuk dirinya. (Halperin MD & Mac Donald, 2007 dalam Alison Fernbach 2010).
Anak yang masih muda dianggap tidak kompeten dan kurang pengetahuan untuk
membuat pilihan dengan implikasi sepanjang hidup (Baines 2008 dalam Alison F,
2010). Hal ini akan menjadi tidak beralasan untuk menganggap bahwa bayi
(infant) atau anak dapat membuat keputusan secara otonomi untuk diimunisasi.
Siapa yang secara moral ditunjuk untuk membuat keputusan bagi anak? Menurut
Baines (2008), orang tua mungkin tidak mempunyai otonomi atas keputusan ini
akan tetapi mereka mempunyai otoritas sebagai orang tua dan karena alasan ini,
perawat tidak boleh mengesampingkan orang tua dalam proses pengambilan
keputusan. Hal ini tidak untuk dikatakan, akan tetapi pendapat orang tua secara
otomatis menentukan tindakan. Setiap kasus harus diujikan secara individu untuk
menentukan apa yang terbaik untuk anak mereka dan komunitas.
Angus Dawson (2005), menyampaikan “the best interest argument for
children vaccination”termasuk :
a. Keputusan medis bagi pasien yang tidak kompeten harus dibuat
berdasarkan pada apa yang terbaik untuk mereka. (dimana keinginan
sebelumnya tidak diketahui atau tidak ada).
b. Anak usia prasekolah termasuk tidak kompeten dan tidak mempunyai
keinginan sebelumnya, oleh karena itu keputusan tentang pelayanan
medis harus dibuat berdasarkan pada apa yang terbaik untuk mereka.
c. “Best Interest”dalam hubungannya dengan anak harus ditentukan dengan
melihat keseimbangan antara potensial bahaya yang ditimbulkan dengan
kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh jika tindakan atau
pelayanan medis ini dilakukan atau tidak dilakukan.
d. Orang tua yang membuat keputusan tentang perawatan bayi dimana
terjadi bahaya yang signifikan setelahnya, maka pihak ketiga dalam hal
ini adalah pemerintah, mempunyai kewajiban untuk memberikan
perlindungan pada bayi tersebut dari konsekuensi akibat keputusan yang
diambil
b) Beneficence and nonmaleficence
Prinsip beneficence menyatakan secara tidak langsung bahwa kewajiban
moral dari pemberi perawatan primer/ perawat adalah untuk memberikan
kebaikan dan membantu orang lain, sedangkan nonmaleficence adalah
menghindari hal yang berbahaya (Do no harm). Ketika prinsip ini
diaplikasikan pada imunisasi, terdapat dua pandangan yang saling
berlawanan yang harus dilihat. Keuntungan dan bahaya dari imunisasi
pada anak sebagai seorang individu versus keuntungan
dan bahaya imunisasi pada komunitas. Pertimbangan pertama dari hal
yang terbaik untuk anak adalah keuntungan dari imunisasi harus lebih
besar dari pada bahaya yang mungkin ditimbulkan akibat imunisasi.
Sedangkan yang kedua, mengevaluasi keuntungan untuk kesehatan
masyarakat dimana masyarakat umum akan beruntung daripada individu
yang mungkin secara fakta dirugikan.
Imunisai mungkin dapat dilihat menguntungkan pada keduanya baik individu
maupun masyarakat. Imunisasi dianjurkan pada anak-anak sebagai prosedur
profilaksis. Pertama bahaya publik jika penyakit ini sangat menular luas dapat
mengakibatkan mortalitas dan morbiditas. Kedua jika ditularkan, penyakit ini
mempunyai potensi untuk mebahayakan setiap individu, imunisasi digunakan
untuk mencegah hal ini. Ketiga efektifitas imunisasi dalam melindungi
masyarakat telah terbukti. Berdasarkan prinsip-prinsip etik ini, orang tua yang
memutuskan untuk mengimunisasikan anak atau tidak harus berdasarkan pada apa
yang menurut mereka terbaik bagi anak-anaknya. Walaupun persepsi terhadap apa
yang terbaik untuk anak bersifat sangat subyektif dan mungkin berlawanan
dengan persepsi petugas kesehatan. Pemikiran tenaga professional harus
didasarkan pada ‘scientific research”dan ‘evidence‘. Hal ini menjadi tanggung
jawab setiap petugas kesehatan untuk memberikan intervensi kesehatan
profilaksis untuk kehidupan anak yang lebih baik dan memberikan perlindungan
dari penyakit-penyakit infeksi yang mungkin menimbulkan masalah kesehatan
pada masa yang akan datang.
3.4 Ditinjau dari Teori – Teori Etik
Teori etik yang dapat digunakan untuk mendukung dan menentang
permasalahan dilema etik pada kasus penolakan imunisasi oleh orang tua adalah
Utilitarianisme dan Deontology. Utilitarianisme adalah salah satu teori
teleological utama dan konsekuensialist yang dikemukakan oleh JS Mill dan J.
Bentham, dimana prinsipnya bahwa moralitas suatu tindakan harus ditentukan
dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia,
sesuai dengan the principle of utility yang berbunyi: the greates happiness of the
greatest number, ” kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar, atau
dengan kata lain kebahagiaan untuk masyarakat umum lebih utama daripada
kebahagiaan individu atau golongan tertentu. (Bertens, 2007), Tindakan
dikatakan baik atau tidak tergantung pada keseimbangan antara kemanfaatan
dengan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan dari tindakan tersebut. Imunisasi
memberikan lebih banyak keuntungan baik bagi anak supaya terhindar dari
berbagai penyakit infeksius maupun bagi masyarakat dalam menurunkan
morbiditas dan mortalitas. Sebagai contoh, imunisasi telah terbukti menekan
angka kejadian dan angka kematian akibat penyakit campak di Indonesia.
Deontologisme merupakan teori yang ditulis oleh filosof German yang
bernama Immanuel Kant (1724 – 1804). Kant menyatakan bahwa hukum
universal harus mendasari setiap tindakan, baik buruknya suatu tindakan tidak
berdasarkan pada hasilnya melainkan semata-mata berdasarkan maksud si pelaku
dalam melakukan perbuatan tersebut, dengan kata lain selama tujuan dari suatu
tindakan itu adalah untuk kebaikan bersama maka tindakan tersebut adalah
bermoral di mata umum. Dari pandangan teori ini, perawat telah melakukan
tindakan beretika yang bertitik tolak pada kewajiban (obligation) yang berasal
dari hati nurani sendiri. Selain itu imunisasi merupakan program pemerintah yang
wajib diberikan oleh perawat / petugas kesehatan, dalam hal ini apa yang
dilakukan perawat berlandaskan aturan / hukum yang mengaturnya, sesuai dengan
Undang-Undang kesehatan No.36 Tahun 2009 pasal 130 yang berbunyi “
Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap pada setiap bayi dan anak”
Berdasarkan hati nuranipun imunisasi mempunyai tujuan yang secara moral
sangat baik bagi anak.
Sekalipun anak tidak kompeten untuk mengambil keputusan terkait tindakan
imunisasi yang akan dilakukan kepada dirinya. Sehingga orang tua yang akan
memberikan keputusan tindakan imunisasi ini dengan dasar memberikan yang
terbaik bagi anak. Meskipun efek samping yang dapat ditimbulkan dari imunisasi
tidak dapat dihilangkan akan tetapi kewajiban untuk memberikan imunisasi bagi
tenaga kesehatan dan orang tua sangat sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Kant.
3.5 Ditinjau dari Aspek Agama Islam
Pandangan agama Islam, para ulama dalam berijtihad untuk menetapkan
hukum terhadap masalah-masalah kontemporer pasti tidak pernah menghasilkan
keputusan ijma’iyyah ‘amiyyah (kesepakatan umum), melainkan khilafiyyah
(perbedaan pendapat diantara mereka). Bentuk khilafiyyah yang paling
ekstrim adalah halal atau haram.
Tidak terkecuali mengenai vaksinasi imunisasi (Danusiri, 2012). Bagi yang
menganggap haram, dikarenakan mereka yakin bahwa manusia adalah makhluk
paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT, sehingga tubuh akan secara
alami mampu untuk melakukan fungsi kekebalan terhadap adanya berbagai
mikroba, virus ataupun benda asing yang menyerang, berbeda dengan orang kafir
yang merasa lemah sehingga butuh vaksinasi untuk kekebalan tubuhnya. Selain
alasan kemuliaan manusia, yang menjadi alasan lain adalah bahan untuk membuat
vaksin terdapat unsur haram seperti unsur babi, sehingga tidak boleh
dipergunakan.
Pandangan kedua adalah kelompok yang mengatakan bahwa vaksinasi imunisasi
adalah halal. Pada prinsipnya vaksinasi-imunisasi adalah boleh alias halal karena;
(1) vaksinasi-imunisasi sangat dibutuhkan sebagaimana penelitianpenelitian di
bidang ilmu kedokteran, (2) belum ditemukan bahan lainnya yang mubah, (3)
termasuk dalam keadaan darurat, (4) sesuai dengan prinsip kemudahan syariat di
saat ada kesempitan atau kesulitan. Sebagaimana dalam QS Al Baqarah : 172
yang menerangkan bahwa Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu
bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut
(nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak
ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa memakan yang mestinya
haram seperti memakan daging babi yang telah dimasak menjadi halal ketika
memang tidak ada makanan selain itu, selagi ia memakannya secukupnya, yaitu
untuk menyambung hidup, bukan dalam arti memakan daging babi dalam
berbagai olahan kuliner sehingga mendatangkan aneka macam aroma, rasa, dan
citarasa. Dengan demikian, secara analogis vaksinasi-imunisasi yang bahanbahan
alaminya najis boleh dilakukan terhadap keluarga muslim lantaran belum ada
vaksin yang sepenuhnya dari benda benda halal dan suci dari najis. Oleh karena
pemberian imunisasi lebih banyak mendatangkan manfaat daripada mudhorotnya
salah satunya mencegah kita dari ancaman agen penyakit sehingga pemberian
imunisasi diperbolehkan (halal). Walaupun masih terdapat permasalahan di
lapangan namun berdasarkan evidance base data jumlahnya tidak terlalu
signifikan.
3.6 Alternatif Pemecahan Masalah
Alternatif solusi yang dapat dilakukan oleh perawat jika menghadapi
kasus dilemma etik terkait penolakan imunisasi harus disesuaikan dengan alasan
penolakan tersebut. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh perawat antara
lain (diadaptasikan dari “Responding to Parental Refusals of Immunization of
Children,” oleh D.S. Diekema and the Committee on Bioethics, 2005, Pediatrics):
1. Jika penolakan karena keyakinan bahwa imunisasi sangat berbahaya
bagi anak-anak mereka, maka perawat berkewajiban untuk (a).
menjelaskan
risiko efek samping yang jauh lebih sedikit daripada tidak mendapatkan
imunisasi, (b) berikan informasi yang up-to-date, (c) Jelaskan
kebingungan atau mispersepsi yang mungkin mereka miliki, (d) Yakin
untuk menyampaikan kebenaran bahwa imunisasi tidak 100% efektif dan
aman,
2. Jika karena alasan memberikan lebih dari 1 imunisasi pada satu waktu
akan menimbulakn nyeri dan trauma pada anak, maka perawat dapat
menggunakan metode untuk mengurangi nyeri disesuaikan usia anak
3. Jika alasan perhatian terhadap 1 atau 2 imunisasi secara khusus
berbahaya, maka sampaikan secara jujur tentang risiko dan keuntungan
dari setiap vaksin dan diskusikan setiap imunisasi secara terpisah.
4. Jika alasan karena biaya, maka diskusikan dengan keluarga strategi yang
efektif untuk menentukan biaya dan rujuk pada pelayanan non swasta yang
memberikan vaksinasi gratis.
Alternatif solusi yang lain yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan,
adalah selalu memberikan “informed consent” terlebih dahulu sebelum
melakukan tindakan pemberian imunisasi pada anak. Berdasarkan paparan diatas,
dapat disimpulkan bahwa imunisasi mempunyai tujuan moral yang sangat baik,
imunisasi pada dasarnya adalah upaya untuk melindungi anak dan masyarakat dari
suatu penyakit berbahaya pada masa yang akan datang.
Adapun beberapa penolakan yang terjadi baik karena agama, takut akan
efek samping yang ditimbulkan, tidak yakin dapat mecegah penyakit tertentu atau
karena biaya, maka dengan penjelasan yang baik (Informed Consent) tentang
standar operasional imunisasi, sterilisasi alat, keuntungan dan risiko imunisasi
pada pasien sehingga dengan adanya kesepahaman dan rasa percaya terhadap
petugas kesehatan pasien akan lebih mudah untuk bekerjasama.
BAB 4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Etika adalah sebuah aturan yang harus dipegang oleh peneliti dalam
melakukan riset dan peneliti harus mengetahui serta paham tentang etika
sebelum melakukan sebuah penelitian.
2. Komite etik adalah suatu badan pengkaji atau komite independen, yang
berada pada level institusi, regional, nasional ataupun suprasional.
3. Etika penelitian kesehatan masyarakat adalah sebuah aturan yang harus
dipegang oleh peneliti peneliti dalam melakukan riset tentang kesehatan
masyarakat yang bertujuan untuk mencegah penyakit,memperpanjang
hidup dan meningkatkan kesehatan melalui upaya bersama masyarakat
secara terorganisir untuk sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit,
pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan sebagainya mengandung
makna bahwa aspek preventif dan promotif adalah lebih penting daripada
kuratif dalam rangka peningkatan status kesehatan masyarakat.

4.2 Saran
Sebagai ahli kesehatan masyarakat harus menghadapi tanggung jawab etik
dan mampu menerapkan prinsip etik dalam pengambilan keputusan dan
mencakup nilai serta keyakinan. Kesehatan Masyarakat sebagai suatu profesi
harus memiliki suatu landasan dan lindungan yang jelas dan harus tahu berbagai
konsep hukum yang berkaitan dengan praktik Kesehatan Masyarakat. Dengan
mematuhi etik diharapkan dapat meningkatkan profesionalitas serta derajat
kesehatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Alison Fernbach,(2011) Parental rights and decision making regarding


vaccinations:Ethical dilemmas for the primary care provider Journal of
the American Academy of Nurse Practitioners23 (2011) 336–345.
Angus Dawson (2005) The Determination Of ‘Best Interests’ In Relation To
Childhood Vaccinations, Bioethics ISSN 0269-9702 188 – 205 Volume
19 Number 2 2005.
Bertens K (2007) Etika ; Seri Filsafat Atma Jaya : 15, PT Gramedia Pustaka
Utama Jakarta.
Danusiri (2012) Pandangan Islam tentang Imunisasi, http://danusiri.dosen
unimus.ac.id diakses pada tanggal 31 Oktober 2012 21:29
Darwin, E. (2014). Etika Profesi Kesehatan. Yogyakarta: Deepublish (CV BUDI
UTAMA).
Das, N., & Sil, A. (2017). Evolution of Ethics in Clinical Research and Ethics
Committee. IJD Symposium, 376.
Departemen Kesehatan RI. 2009. Undang-Undang No. 36 Tentang Kesehatan.
Jakarta.
Jasaputra, D. K., & Santosa, S. (2008). Metodologi Penelitian Medis Edisi 2.
Bandung: PT Danamartha Sejahtera Utama - Grafika.
Mustikawati, I. S. (2017, Oktober 18). Etika Penelitian. Artikel Universitas Esa
Unggul.
Ruslami, R. (2013, Oktober 3). Peran dan tanggung jawab komite etik. Good
Clinical Practice Course, p. 1.