Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan kasih dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Ruptur Uteri
dengan baik dan semaksimal mungkin.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun tugas makalah ini kami banyak
menumukan berbagi hambatan ataupun kesulitan. Namun atas bantuan dari banyak
pihak maka kami pun dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tidak
lupa penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing dan teman-
teman yang telah membantu penyelesaian dari makalah ini

Tak lupa kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam
penulisan makalah ini. kami sadar bahwa manusia tidak ada yang sempurna oleh
karena itu kami mengharapkan kebesaran hati dari para pembaca dengan memberikan
kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

Bukittinggi,mei 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................

Daftar isi......................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN........................................................................................3

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................3


1.2 Rumusan Masalah................................................................................................3
1.3 Tujuan..................................................................................................................3

BAB II : PEMBAHASAN Ruptur Uteri ......................................................................4

2.1 Pengertian Ruptur Uteri...........................................................................................4


2.2 Ruptur Uteri di indonesia ........................................................................................4
2.3 Klasifikasi Ruptur Uteri...........................................................................................4
2.4 Tanda-Tanda Ruptur Uteri.......................................................................................7
2.5 Penanganan Ruptur Uteri.......................................................................................10

BAB Ill Tinjauan kasus ...........................................................................................12

3.1 Pendokumentasian dengan metode SOAP..........................................................12


3.2 Pembahasan.........................................................................................................13

BAB 1V Penutup...............................................................................................14
4.1 Kesimpulan.................................................................................................14
4.2 Saran..........................................................................................................14
Daftar Pusaka..................................................................................................15
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


pendarahan masih merupakan 3 penyebab utama kematian maternal (ibu) tertinggi,
disamping preeklamsi/eklamsi dan infeksi. Pendarahan dalam bidang obstetri dibagi
menjadi 3 yaitu, pendarahan pada kehamilan muda (kurang dari 22 minggu), pendarahan
pada kehamilan lanjut, pendarahan saat persalinan, dan pendarahan pasca persalinan (masa
nifas)
ruptur uteri merupakan salah satu bentuk pendarahan pada kehamilan lanjut dan pada
saat persalinan selain dari plasenta previa, solusio plasenta, dan gangguan pembekuan
darah. Pendarahan pada keahmilan lanjut yaitu pendarahan yang terjadi pada kehamilan
yang lebih dari 22 minggu sampai sebelum bayi dilahirkan. Pendarahan pada persalinan
pendarahan intrapartum sebelum kelahiran (proses kelahiran bayi).
Penyumbang kematian terbesar bayi dalam kandungan adalah faktor dari ibu yaitu partus
lama akibat ruptur uteri dan diabetes militus. Maka hali ini menandakan bahwa ruptur uteri
memberikan dampak negati pada kematian ibu atau bayi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pendokumentasian asuahan kebidanan pada ibu ruptur uteri dengan metode
SOAP?
1.3 Tujuan
1. Untuk dapat mengetahui pengertian dari ruptur uteri.
2. Untuk dapat mengetahui kasus ruptur uteri di indonesia.
3. Untuk dapat mengetahui klasifikasi ruptur uteri.
4. Untuk dapat mengetahui etiologi ruptur uteri.
5. Untuk dapat mengetahui menegakkan diagnosis.
6. Untuk dapat mengetahui penanggulangannya.
7. Untuk mengetahui bagaimana cara pendokumentasian kasus asuhan kebidanan apada
ibu ruptur uteri dengan metode SOAP?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ruptur Uteri


Ruptur uteri merupakan komplikasi gawat adlam bidang obstetri yang memerlukan
tindakan dan penanganan serius. (Manuaba, 1996;161)
ruptur uterus adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau persalinan pada saat
umur kehamilan lebih dari 28 minggu.
Ruptur uteri adalah Keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan langsung
antara rongga amnion dan rongga peritoneum atau hubungan kedua rongga masih dibatasi
oleh peritoneum viserale. (Sarwono, 2010)

2.2 Ruptur Uteri di indonesia


Angka kematian ibu dan anak di indonesia masihlah tinggi, yaitu berkisar antara 1:92
sampai 1:428 persalinan. Angka ini masih sangat tinggi dari negara-negara maju yang
hanya 1:1250 sampai 1:2000 kelahiran ( persalinan).
Angka kematian akibat ruptur uteri juga masih tinggi yaitu sekitar 17,9 sampai17,9sampai
26,6 . sedangkan angka kematian angka kematian anak akibat ruptur utrui berkisar antara
69,1 sampai 100%. Pada bayi umumnya meninggal saat terjadinya ruptur uteri bayi masih
hidup, sehingga dilanjutkan dangan laparatomi.
2.3 Klasifikasi Ruptur Uteri
1. Menurut keadaan robek
a. Ruptur uteri inkomplit (subperitoneal)
Yaitu ruptur uteri yang hanya bagian dinding uterus yang ribek sedangkan bagian mukosa
(peritoneum) masih utuh.
b. Ruptur uteri komplit (transperitoneal)
Yaitu ruptur uteri dinding dan mukosanya robek sehingga dapat berada di rongga perut.
2. Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan menjadi:
a. Korpus Uteri
Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio sesarea
klasik (korporal) atau miomektomi.
b. Segmen Bawah Rahim
Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama tambah
regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.
c. Serviks Uteri
Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi, sedang
pembukaan belum lengkap.
d. Kolpoporeksis-Kolporeksis
Robekan – robekan di antara serviks dan vagina.
3. Menurut penyebab terjadinya, ruptur uteri di bagi menjadi:
a. Kerusakan atau anomali uterus yang telah ada sebelum hamil:
 Pembedahan pada miometrium: seksio sesaria atau histerotomi, histerorafia,
Miomektomi yang sampai menembus seluruh ketebalan otot uterus, reseksi pada kornua
uterus atau bagian interstisial, metroplasti.
 Trauma uterus koinsidental: instrumentasi sendok kuret atau sonde pada penanganan
abortus, trauma tumpul atau tajam seperti pisau atau palu, ruptur tanpa gejala pada
kehamilan sebelumnya (silent rupture in previous pregnancy).
 Kelainan bawaan: kehamilan dalam bagian rahim (born) yang tidak berkembang.
b. Kerusakan atau anomali uterus yang terjadi dalam kehamilan:
 Cacat rahim yang didapat: plasenta inkreta atau parkreta, neoplasia trofoblas
gastasional, adenomiosis, retroversio uterus gravidus inkarserata.
4. Menurut etiologinya, ruptur uteri dibedakan menjadi:
a. Karena dinding rahim yang lemah dan cacat, misalnya pada bekas SC
miomektomi, perforasi waktu kuretase, histerorafia, pelepasan plasenta secara manual.
Dapat juga pada graviditas pada kornu yang rudimenter dan graviditas interstisialis,
kelainan kongenital dari uterus seperti hipoplasia uteri dan uterus bikornus, penyakit pada
rahim, misalnya mola destruens, adenomiosis dan lain-lain atau pada gemelli dan
hidramnion dimana dinding rahim tipis dan regang.
b. Karena peregangan yang luar biasa dari rahim
Ruptur Uteri Violenta (Traumatika), karena tindakan dan trauma lain seperti:
 Ekstraksi Forsep
 Versi dan ekstraksi
 Embriotomi
 Versi Braxton Hicks
 Sindroma tolakan (Pushing syndrome)
 Manual plasenta
 Kuretase
 Ekspresi Kristeller atau Crede
 Pemberian Pitosin tanpa indikasi dan pengawasan
 Trauma tumpul dan tajam dari luar.
5. Komplikasi
a. Gawat janin
b. Syok hipovolemik
Terjadi kerena perdarahan yang hebat dan pasien tidak segera mendapat infus cairan
kristaloid yang banyak untuk selanjutnya dalam waktu cepat digantikan dengan tranfusi
darah.
c. Sepsis
Infeksi berat umumnya terjadi pada pasien kiriman dimana ruptur uteri telah terjadi
sebelum tiba di Rumah Sakit dan telah mengalami berbagai manipulasi termasuk periksa
dalam yang berulang. Jika dalam keadaan yang demikian pasien tidak segera memperoleh
terapi antibiotika yang sesuai, hampir pasti pasien akan menderita peritonitis yang luas dan
menjadi sepsis pasca bedah.
d. Kecacatan dan morbiditas.
 Histerektomi merupakan cacat permanen, yang pada kasus belum punya anak hidup
akan meninggalkan sisa trauma psikologis yang berat dan mendalam.
 Kematian maternal /perinatal yang menimpa sebuah keluarga merupakan komplikasi
sosial yang sulit mengatasinya.
2.4 Tanda-Tanda Ruptur Uteri
Menurut buku kapita selekta tanda-tanda ruptur uteri yaitu:
1. Nyeri abdomen
Dapat terjadi tiba-tiba, tajam dan seperti di sayat pisau. Apabila tejadi ruptur saat
persalinan, kontraksi uterus yang intermiten dan kuat akan berhenti secara tiba-tiba, dan
pasien akan mengeluh nyeri uterus yang menetap.
2. Pendarahan pervaginan
Dapat simptomatik karena karena pendarahan aktif dari pembuluh darah yang robek.

Tanda-tanda gejala ruptura uteri yang mengancam adalah:

a. Dalam anamnesa, pasien mengatakan telah ditolong/dibantu oleh dukun/bidan, dan


partus sudah lama berlangsung atau partus macet.
b. Pasien tampak gelisah, ketakutan, disertai dengan perasaan nyeri diperut
c. Pada setiap datangnya his pasien memegang perutnya dan mengerang kesakitan
bahkan meminta supaya anaknya secepatnya dikeluarkan.
d. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasa.
e. Ada tanda dehidrasi karena parvtus yang lama (prolonged labor), yaitu mulut kering,
lidah kering dan haus, badan panas (demam).
f. His lebih lama, lebih kuat dan lebih sering bahkan terus-menerus.
g. Ligamentum rotundum teraba seperti kawat listrik yang tegang, tebal dan keras
terutama sebelah kiri atau keduanya.
h. Pada waktu datang his, korpus uteri teraba keras (hipertonik) sedangkan SBR teraba
tipis dan nyeri kalau ditekan.
i. Perasaan sering mau kencing karena kandung kemih juga tertarik dan teregang ke
atas, terjadi robekan-robekan kecil pada kandung kemih, maka pada kateterisasi ada
hematuri.
j. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin tidak teratur (asfiksia)
k. Pada pemriksaan dalam dapat kita jumpai tanda-tanda dari obstruksi, seperti oedem
porsio, vagina, vulva dan kaput kepala janin yang besar.
Jika ruptur uteri yang mengancam dibiarkan terus maka akan terjadi gejala ruptur uteri
yang sebenarnya yaitu:

1. Gejala yang terlihat saat anamnesis dan inspeksi:


 Pada suatu his yang kuat sekali, pasien merasa kesakitan yang luar biasa, menjerit
seolah-olah perutnya sedang dirobek kemudian jadi gelisah, takut, pucat, keluar keringat
dingin sampai kolaps
 Pernafasan jadi dangkal dan cepat, kelihatan haus.
 Muntah-muntah karena perangsangan peritoneum.
 Syok, nadi kecil dan cepat, tekanan darah turun bahkan tidak terukur.
 Keluar perdarahan pervaginam yang biasanya tak begitu banyak, lebih-lebih kalau
bagian terdepan atau kepala sudah jauh turun dan menyumbat jalan lahir.
 Kadang-kadang ada perasaan nyeri yang menjalar ke tungkai bawah dan dibahu.
 Kontraksi uterus biasanya hilang.
 Mula-mula terdapat defans muskulaer kemudian perut menjadi kembung dan
meteoristis (paralisis usus).
2. Gejala yang teraba saat palpasi:
 Teraba krepitasi pada kulit perut yang menandakan adanya emfisema subkutan.
 Bila kepala janin belum turun, akan mudah dilepaskan dari pintu atas panggul.
 Bila janin sudah keluar dari kavum uteri, jadi berada di rongga perut, maka teraba
bagian-bagian janin langsung dibawah kulit perut dan disampingnya kadang-kadang teraba
uterus sebagai suatu bola keras sebesar kelapa.
 Nyeri tekan pada perut, terutama pada tempat yang robek.
3. Auskultasi
Biasanya denyut jantung janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah ruptur,
apalagi kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk ke rongga perut.
4. Pemeriksaan dalam
 Kepala janin yang tadinya sudah jauh turun ke bawah, dengan mudah dapat didorong
ke atas dan ini disertai keluarnya darah pervaginam yang agak banyak
 Kalau rongga rahim sudah kosong dapat diraba robekan pada dinding rahim dan
kalau jari atau tangan kita dapat melalui robekan tadi, maka dapat diraba usus, omentum
dan bagian-bagian janin. Kalau jari tangan kita yang didalam kita temukan dengan jari luar
maka terasa seperti dipisahkan oleh bagian yang tipis seklai dari dinding perut juga dapat
diraba fundus uteri.
5. Kateterisasi
Hematuri yang hebat menandakan adanya robekan pada kandung kemih.

Lakukanlah selalu eksplorasi yang teliti dan hati-hati sebagai kerja rutin setelah
mengerjakan suatu operative delivery, misalnya sesudah versi ekstraksi, ekstraksi vakum
atau forsep, embriotomi dan lain-lain.

2.5 Penanganan Ruptur Uteri

Untuk mencegah timbulnya ruptura uteri pimpinan persalinan harus dilakukan dengan
cermat, khususnya pada persalinan dengan kemungkinan distosia, dan pada wanita yang
pernah mengalami sectio sesarea atau pembedahan lain pada uterus. Pada distosia harus
diamati terjadinya regangan segmen bawah rahim, bila ditemui tanda-tanda seperti itu,
persalinan harus segera diselesaikan.

Jiwa wanita yang mengalami ruptur uteri paling sering bergantung pada kecepatan dan
efisiensi dalam mengoreksi hipovolemia dan mengendalikan perdarahan. Perlu ditekankan
bahwa syok hipovolemik mungkin tidak bisa dipulihkan kembali dengan cepat sebelum
perdarahan arteri dapat dikendalikan, karena itu keterlambatan dalam memulai pembedahan
tidak akan bisa diterima. Jadi, segera perbaiki shok dan kekurangan darah. Perbaikan shok
meliputi pemberian oksigen, cairan intravean, darah pengganti dan antibiotik untuk
pencegahan infeksi.

Bila keadaan umum penderita mulai membaik dan diagnosa telah ditegakkan, selanjutnya
dilakukan laparotomi (tindakan pembedahan) dengan tindakan jenis operasi:

a. Histerektomi, baik total maupun subtotal.


b. Histerorafia, yaitu tepi luka dieksidir lalu dijahit sebaik-baiknya.
c. Konservatif, hanya dengan tamponade dan pemberian antibiotik yang cukup.

Tindakan aman yang akan dipilih, tergantung dari beberapa faktor, antara lain:

a. Keadaan umum
b. Jenis ruptur, inkompleta atau kompleta
c. Jenis luka robekan
d. Tempat luka
e. Perdarahan dari luka
f. Umur dan jumlah anak hidup
g. Kemampuan dan keterampilan penolong.
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pendokumentasian dengan metode SOAP dalam Asuhan Kebidanan pada ibu
dengan Ruptur Uteri :
Subyektif :
Ny. Z, umur 42 tahun, hamil anak ke 5 sudah melahirkan secara normal 2x dan secara SC
2x dan tidak pernah keguguran, usia kehamilan 8 bulan, Ibu mengeluh nyeri perut bagian
bawah, keluar darah dari kemaluannya, sesak nafas dan mules-mules sejak 1 jam yang lalu.
Obyektif :
Keadaan umum lemes dan tampak cemas, kesadaran composmentis, TD: 80/60 mmhg,
N: 107x/menit, S: 380C, R: 30x/menit, muka pucat, konjungtiva pucat, Pemeriksaan
abdomen: terdapat luka bekas operasi, Palpasi : TFU : ¹/2 antara pusat dan PX (30 cm), L1
= Difundus teraba bulat, lunak, tidak melenting ( Bokong ), LII = sebelah kanan teraba
kecil-kecil ( ektermitas ), sebelah kiri teraba lurus seperti papan ( punggung ), LIII = bagian
bawah teraba keras, bulat, melenting ( kepala ) masih bisa digoyangkan, LIV = belum
masuk PAP. DJJ (+) 144x/menit,Data penunjang : Hb : 9 gr %.
Assessment :
Ny. Z, Usia 42 tahun, G5P4 A0, hamil 32 minggu, Janin Tunggal, Hidup, Intra Uterin,
membujur, Presentasi Kepala dengan ruptur uteri.
Planning :
1. Menyampaikan hasil pemeriksaan (bahwa ada penyulit yang menyertai,
menjelaskan kemungkinan untuk ditranfusi darah, dan dilakukan operasi).
2. Mengatur posisi ibu senyaman mungkin.
3. Memberi dukungan psikologis pada ibu.
4. Memberi oksigen pada ibu.
5. Memberi cairan Ringer Laktat 28 tetes/menit.
6. Memberikan antibiotic ampicilin 2 gr melalui IV.
7. Segera merujuk ibu dengan membawa BAKSOKUDA (Bidan, Alat, keluarga, Surat
(dokumentasi), Obat, Kenderaan, Uang, Donor darah).
3.2 Pembahasan
Sesuai dengan Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Kementrian Kesehatan RI, bahwa
pelayanan atau asuhan standar minimal pemeriksaan 10 T. Pasien telah melakukan 2 kali
kunjungan ANC. Dari hasil anamnesa didapat Ny. Z berumur 42 tahun, hamil yang ke 5,
menurut teori bahwa umur yang baik untuk ibu hamil adalah 20-35 tahun agar segalanya
sehat, baik reproduksinya maupun psikologinya. Berarti tidak sama antara teori dengan
kasus yang diambil, jadi Ny. Z tergolong resiko tinggidan hamil ke 5 ini tidak sesuai
dengan program pemerintah yaitu dua anak lebih baik.
Nyeri perut bagian bawah, keluar darah pada kemaluan, sesak nafas dan nadi cepat yang
dialami ibu, menurut teori adalah tanda gejala ruptur uteri. Tekanan darah Ny Z juga
mengalami penurun 80/60 mmHg. Muka pucat, konjungtiva pucat. Pemeriksaan abdomen:
terdapat luka bekas operasi, saat dilakukan pemeriksaan penunjang, didapat hasil Hb: 9
gram % Hal ini menunjukan keadaan ibu anemis karena menurut teori bahwa normal ibu
hamil 11 gr % (Depkes RI ). Sehingga ibu didiagnosa mengalami rupture uteri, dilihat dari
faktor riwayat persalinan yang lalu.Dikarenakan adanya komplikasi kehamilan pada Ny.Z,
maka harus segera dirujuk ke tempat yang memiliki fasilitas yang memadai, hal ini sesuai
dengan APN 2008 rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

ruptur uteri adalah robekan dinding uterus yang dapat terjadi saat periode
antenatal ketika induksi, persalinan, dan kelahiran atau bahkan selama stadium
ketika persalinan saat umur kehamilan lebih dari 28 minggu.

Ruptur uteri dapat disebabkan oleh dinding rahim yang lemah dan cacat,
misalnya pada bekas SC, kuratase, pelepasan plasenta secara manual dan tindakan
persalinan lainnya, serta kerena peregangan luar biasa pada rahim.

Untuk mencegah terjadinya ruptur uteri sebleum persalinan, penolong


persalinan telah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu apakah ada tanda-tanda
yang dapat menyebabkan ruktur uteri. Bila telah teradi ruptur uteri maka lakukan
penanganan shok terlebih dahulu yairu pemberan cairan intravena, oksigen,
transfusi darah, dan bila diagnosa telah ditegakkan maka lakukan laparatomi
(pembedahan).

4.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan yaitu seorang bidan atau tenaga kesehtan
lainnya harus lebih cepat mendiagnosa dan menegakkan diagnosa, agar kematian
ibu karena ruptur uteri bisa berkurang di indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing –2, JB. Lippincot Company,
Pholadelpia.
1. Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.
2. Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year Book,
Philadelpia.
3. Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan, Gramedia, Jakarta.