Anda di halaman 1dari 27

1

ANALISIS PROSPEKTIF BAB 9


10-1 Apa manfaat analisis prospektif ?

Jawab : Analisis prospektif merupakan inti dari penilaian efek. Analisis prospektif juga berguna untuk menguji ketetapan rencana
strategis perusahaan dan berguna bagi kreditor untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.

10-2 Langkah-langkah apa yang dilakukan sebelum proses peramalan dimulai?


Jawab : Sebelum proses peramalan, laporan keuangan dapat disusun kembali untuk menggambarkan realitas ekonomi dengan lebih
baik. Penyesuaian dapat mencakup penghapusan barang sementara atau mengalokasikannya kembali ke masa lalu atau masa depan,
dengan kapitalisasi (pengeluaran) barang yang telah dikapitalisasi (dikapitalisasi) oleh manajemen, penggunaan sewa operasi dan
bentuk pembiayaan diluar neraca lainnya, dan lain-lain.

10-3 Selain tren terbaru, informasi lain apakah yang dapat di pertimbangkan dalam proyeksi penjualan ?

Jawab : Analisis lebih rinci juga bisa melibatkan informasi eksternal seperti tingkat aktivitas ekonomi makro yang diharapkan, peta
persaingan, dan bauran toko baru dan toko lama.

10-4 Apakah yang dimaksud dengan horizon ramalan?

Jawab : Horizon ramalan adalah periode perkiraan spesifik dibuat. Biasanya 5- 7 tahun. Perkiraan di luar perkiraan horizon adalah
nilai yang meragukan karena perkiraan tidak pasti.

10-5 Asumsi apakah yang biasanya dibuat untuk pertumbuhan penjualan pada akhir horizon peramalan?

Jawab : Peramalan adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan
pengambilan data masa lalu dan menempatkannya ke masa yang akan datang dengan suatu bentuk model matematis. Bisa juga
merupakan prediksi intuisi yang bersifat subjektif. Atau bisa juga dengan menggunakan kombinasi model matematis yang disesuaikan
dengan pertimbangan yang baik dari seorang manajer.

10-6 Jelaskan langkah-langkah peramalan laporan laba rugi?

Jawab : Proses proyeksi dimulai dengan perkiraan pertumbuhan penjualan. Laba kotor dan Beban usaha kemudian diperkirakan
sebagai persentase dari perkiraan penjualan rasio historis dan informasi eksternal. Beban penyusutan biasanya diestimasi sebagai
persentase dari aset kotor yang dapat didepresiasi dengan asumsi itu Kebijakan penyusutan akan tetap konstan. Beban bunga biasanya
diperkirakan pada rata - rata tingkat bunga pinjaman yang diterapkan ke saldo awal kewajiban berbunga. Proyeksi suku bunga yang
diharapkan digunakan untuk suku bunga variabel dan baru pinjaman. Akhirnya, beban pajak diestimasi dengan menggunakan tarif
pajak efektif sebelum pajak pendapatan.
10-7 Jelasakan proses dua langkah untuk peramalan neraca!

Jawab : Meramalkan neraca, jika penjualan dinaikkan, maka aktivitasnya harus tumbuh. Karena perusahan beroperasi pada kapasitas
yang penuh, maka setiap pos aktivitas harus ditambah jika ingin penjualan yang lebih tinggi untuk dicapai. Lebih banyak kas yang
dibutuhkan untuk transaksi, penjualan yang lebih tinggi akan menyebabkan piutang yang lebih besar, persediaan tambahan harus
disimpan, dan pabrik serta peralatan baru harus ditambah.

10-8 Apakah yang dimaksud dengan penggerak nilai?

Jawab : Model pendapatan residual mengungkapkan harga saham sebagai nilai buku pemegang saham ekuitas ditambah nilai kini dari
expected residual income (RI). Sisa pendapatan bisa jadi dinyatakan dalam bentuk rasio sebagai, RI = (ROEt – k) * BVt-1 Dimana
ROE=NIt/BVt-1 Formulir ini menyoroti fakta bahwa harga saham hanya terpengaruh selama ROE ??, k. Dalam ekuilibrium, daya saing
akan cenderung mendorong tingkat pengembalian (ROE) untuk biaya (k) sehingga keuntungan abnormal bersaing jauh. Perkiraan
harga saham, maka, jumlah proyeksi pengembalian ROE ke nilai jangka panjangnya untuk perusahaan dan industri tertentu. ROE
adalah driver nilai karena hal itu berdampak pada valuasi Kami harga sahamnya. Komponennya (asset turnover dan profit margin) juga
merupakan nilai driver

10-9 Jelaskan tren penggerak nilai yang umum dari waktu ke waktu?

Jawab : Modal laba bisa menentukan harga saham sebagai nilai buku ekuitas pemegang saham ditambah nilai sekarang dari “laba
sisa” (residual income-RI) yang diperkirakan, dimana RIt = Nrt – (k x Bvt – 1), Dimana ROE = Nlt/Bvt – 1 yang menekankan kenyataan
bahwa harga saham berubah bila ROE ≠ K dalam keseimbangan, tekanan kompetisi akan mendorong tingkat pengembalian (ROE)
mendekati biaya (k) sehingga laba abnormal akan hilang.

10-10 Mengapa ramalan kas jangka pendek penting untuk analisis laporan keuangan?

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


2

Jawab : Perkiraan kas jangka pendek adalah kunci untuk penilaian likuiditas jangka pendek. Aset adalah disebut "cair"
karena akan atau bisa diubah menjadi uang tunai dalam periode sekarang. Analisis prakiraan kas jangka pendek akan mengungkapkan
apakah suatu entitas akan mampu membayar kembali pinjaman jangka pendek sesuai rencana. Ini juga berarti analisis semacam itu
sangat penting bagi pemberi kredit jangka pendek potensial. Prakiraan kas jangka pendek sering terjadi relatif realistis dan akurat
karena rentang waktu yang pendek tertutup.

10-11 Apakah keterbatasan ramalan kas jangka pendek?

Jawab : Peramalan mencakup jangka waktu hingga 1 tahun tetapi umumnya mencakup hitungan bulanan hingga 3 tahun. Peramalan
ini digunakan untuk merancang penjualan, perencananan, dan anggaran produksi anggaran kas dan menganalisis bermacam-macam
rencana operasi.

10-12 Jelaskan hubungan antara arus kas masuk dan arus kas keluar?

Jawab : Dalam hal ini arus kas masuk merupakan kegiatan mendapatkan dana untuk kepentingan/pembiayaan perusahaan.
Sedangkan arus kas keluar adalah pembayaran kembali kepada pemilik dan kreditur atas dana yang diberikan sebelumnya. Jadi,
Hubungan antara arus kas masuk dan arus kas keluar itu sangat erat karena dalam laporan arus kas berguna bagi para pemakai
laporan keuangan, baik bagi pihak manajemen, investor, kreditor maupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, sebagai dasar
untuk menilai kemampuan perusahaan untuk menggunakan arus kas dan setara kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk
menggunakan arus kas tersebut.

10-13 Dari sudut pandang operasi, manajemen lebih berfokus pada kas dari pada modal kerja. Apakah anda setuju dengan pernyataan ini?
Mengapa?

Jawab : Saya setuju, terhadap pernyataan dari sudut pandang operasi, manajemn lebih berfokus pada kas dari pada modal kerja
karena kas merupakan komponen aktiva lancar yg paling likuid, namun tidak menghasilkan jika kas tersebut disimpan dalam brankas
perusahaan, ada beberapa motivasi perusahaan mengadakan kas yaitu iintuk transaksi, spekulasi, berjaga-jaga dan saldo kompensasi.
Maka dari itu manajemen dari sudut pandang operasi lebih berfokus pad akas dan terbagi dalam beberapa manajemn seperti
manajemen pengeluaran kas dan manajemen pemasukan kas

10-14 Jelaskan perbedaan utama antara analisis arus dana dengan analisis rasio. Teknik analisis manakah yang lebih disukai? Mengapa?
Jawab :
 Analisis Rasio
Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang
sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk rasio. Rasio paling bermanfaat bile berorientasi
ke depan artinya kita sering menyesuaikan faktor-faktor yang mempengaruhi rasio untuk kemungkinan tren dan ukurannya di masa
depan.
1) faktor-faktor yang mempengaruhi rasio antara lain peristiwa ekonomi, factor industri, kebijakan manajemen dan metode
akuntansi.
2) interpretasi rasio, bermanfaat jika di interpretasikan dalam perbandingan dengan rasio tahun sebelumnya, standar yang
ditentukan sebelumnya dan rasio pesaing.
 Analisi arus Pendanaan
Adalah metode yang digunakan perusahaan untuk mendapatkan uang untuk
membayara kebutuhan-kebutuhannya. Terdapat dua sumber pendanaan,yaitu:
a. Investor ekuitas( pemegang saham)
Investor memberikan pendanaan dengan harapan mendapatkan pengembalian atas investasi mereka, setelah mempertimbangkan
pengembalian yang di harapkana dan resiko. Pengembalian adalah bagian investor ekuitas atas laba perusahaan dalam bentuk
distribusi laba (pembayaran diveden kepada pemegang saham langsung, deviden dapat diberikan dalam bentuk tunai atau deviden
saham atau secara tidak langsung melalui pembelian kembali saham.pembayaran diveden mengacu pada proporsi laba yang di
distribusikan yang sering di nyatakan dalam rasio atau persentase) atau reinvestasi laba ( mengacu padan penahana laba dalam
perusahaan untuk digunakan dalam bisnis perusahaan. Sering diukur dengan rasio penahanan/rasio laba di tahan= 1- dividen payout
rasio) Pendanaan ekuitas dapat berupa uang tunai,aktiva atau jasa yang di kontribusikan kepada perusahaan sebagai penukar saham.
Penawaran saham privat melibatkan penjualan ke individu atau organisasi. Untuk Penawaran saham ke public berbiaya besar karena
termasuk pemenuhan oeraturan pemerintah, persyaratan pencatatan di bursa, dan komisi untuk agen penjual. Tetapi manfaat utama
nay adalah potensi untuk mensapatkan dana dalam jumlah besar untuk aktivitas bisnis.

10-15 Apakah langkah awal yg umumnya dilakukan dalam membuat peramalan kas? Pertimbangan apakah yg diperlukan dalam langkah
tersebut?

Jawab : Langkah-langkah awal yg diambil dalam membuat peramalan kas yaitu manajemen kas, pegumpulan kas, kosentrasi kas,
manajemen pengeluaran kas dan manajemen pemasukan kas itulah langkah awal yang diambil untuk membuat peramalan kas.

ANALISA KREDIT

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


3

1. Kurnia Aprilliah
Pertanyaan:
Apa pertimbangan utama perusahaan utuk memperoleh pinjaman?
Jawaban:
Pertimbangan utama perusahaan untuk memperoleh pinjaman tersebut adalah bahwa memang dana tersebut sangat dibutuhkan
(sesuai pemanfatannya). Artinya jangan sampai dana yang dibutuhkan melebihi kebutuhan yang sesungguhnya sehingga ada dana
yang mengganggur, sementara beban bunga terus dibayar.
2. Sinta Ayu Surya Ningsih
Pertanyaan:
Seberapa luas analisa atau penilaian aspek keuangan yang harus dihadapi oleh bank?
Jawaban:
Seberapa luas analisa atau penilaian aspek keuangan yang harus dihadapi oleh bank akan tergantung kepad besar kecilnya resiko
yang harus dihadapi oleh bank. Kalau resiko sedemikian besarny amaka pihak bank dapat mengadakan penilaian lebih luas dan teliti,
misalnya dengan menilai / mensyaratkan adanya capital budgeting projected manufacturing cost statement bahkan kalau perlu
sampai pada penilaian teknis misalnya proses tehnologinya.
3. Anggun Dwi Lestari
Pertanyaan:
Jelaskan tahapan budget kas?
Jawaban:
Penyusunan Budget Kas menurut Drs. Bambang Riyanto :
1. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana operasional. Pada tahap ini akan diketahui adanya surplus dan
deficit karena rencananya operasi perusahaan.
2. Menyusun estimasi kebutuhan dana / kredit dari bank atau sumber lain yang diperlukan untuk menutup deficit kas karena rencana
operasinya perusahaan.transaksi disini merupakan transaksi finansial.
3. Menyusun Kembali estimasi penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi finansial dan budget kas yang finak ini
merupakan gabungan dari transaksi operasional dan transaksi finansial yang menggambarkan estimasi penerimaan dan
pengeluaran kas keseluruhan.
4. Yogi Andriani
Pertanyaan:
Jelaskan aspek-aspek pertimbangan kredit?
Jawaban:
Secara umum aspek –aspek pertimbangan kredit tersebut meliputi :
1. Aspek umum
Meneliti masalah –masalah :
a. Bentuk, nama dan alamat perusahaan
b. Susunan manajemen
c. Bidang usaha
d. Keterangan tentang jumlah pegawai/buruh
e. Kebangsaan
f. Bank langganan
g. Bagan organisasi
2. Aspek ekonomi/komersil
Meliputi masalah :
a. Pemasaran dan keadaan harga
b. Persaingan
c. Jumlah penjualan dari tiap –tiap jenis produk
d. Cara penjualan
e. Taksiran permintaan
3. Aspek teknik
Meliputi :
a. Bahan baku dan penolong yang dibutuhkan
b. Tanah dan tempat pabrik
c. Bangunan (milik, umur, sewa, harga)
d. Urut –urutan proses produksi
e. Perincian mesin dan peralatan
f. Jumlah produksi
g. Tersedianyan tenaga kerja (keahlian, pendidikan, tingkat upah)
h. Lain- lain misalnya tenaga penggerak (disel/PLN) tersedianya air (sumur/PAM)
4. Aspek Yuridis
Memenuhi ketentuan hukum yang berlaku termasuk izin yang diperlukan.
5. Aspek kemanfaatan dan keempatan kerja
Hal –hal yang perlu diperhatikan :
a. Manfaat ekonomi bagi penduduk dan pengaruhnya terhadap struktur ekonomi setempat.
b. Jumlah tenaga kerja yang diserap oleh proyek yang bersangkutan.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


4

c. Termasuk sektor yang diprioritaskan oleh pemerintah.


6. Aspek keuangan
Aspek untuk mengetahui likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, serta stabilitas usaha, selain itu juga akan dapat diketahui berapa lama
suatu investasi akan dapat dikembalikan.Hal –hal yang perlu dinilai dalam penilaian aspek finansial suatu permohonan kredit :
a. Neraca dan laporan laba / rugi
b. Laporan sumber dan penggunaan modal kerja.
c. Rencana penerimaan dan pengeluaran kas (cash budget)
d. Proyeksi dan laporan keuangan
e. Penilaian proyek investasi
f. Perhitungan kebutuhan kredit
g. Rencana angsuran kredit

5. Annisa Yuni Ashri


Pertanyaan:
Berikan satu contoh analisis perpos komponen?
Jawaban:
Contoh Analisis per pos / komponen adalah misalnya analisis terhadap pos piutang dagang, (a) harus diperoleh daftar nama, alamat,
jumlah piutang dan analisis menurut umur (age analysis); terutama untuk piutang –piutang yang jumlahnya besar, (b) Analisis mutu
dari piutang tersebut untuk tahun terakhir dan tahun sebelumnya (berapa % piutang yang baik, cukup, lemah dan kecil –kecil), (c)
Bagaimana kegiatan penagihan yang dilakukan perusahaan, (d) Sebutkan pula syarat penjualan daerah penjualan, (e) Tentukan
kecukupan cadangan kerugian piutang dan lain sebagainya.
6. Tiara Rizki Utami
Pertanyaan:
Apa manfaat diadakannya analisa perbandingan?
Jawaban:
Manfaat diadakannya analisa perbandingan adalah Dengan analisis ini akan dapat diketahui perubahan –perubahan yang terjadi, dan
perubahan mana yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Dalam penelitian terhadap suatu perubahan maka harus diperhatikan
perubahan yang terjadi dalam pos –pos yang lain yang mempunyai hubungan yang logis / erat dengan pos yang bersangkutan.
7. Pepi Sundari
Pertanyaan:
Apa Saja yang terdapat dalam analisi ratio?
Jawaban:
Beberapa ratio yang penting dalam hubungannya dengan kepentingan analisis kredit.
a. Ratio Likuiditas
Ratio untuk mengetahui kewajiban finansial pada saat ditagih. Ratio –ratio likuiditas antara lain :
 Current Ratio : ratio antara aktiva lancar dengan hutang lancar.
 Cash Ratio : ratio antara (kas + bank) dengan hutang lancar.
 Quick ratio : ratio antara (aktiva lancar –persediaan) dengan hutang lancar.
 Inventory of working capital : ratio antara (persediaan dengan aktiva lancar –hutang lancar) atau ratio antara persediaan dengan
modal kerja.
b. Ratio Laverage
Ratio untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Dengan mengetahui laverage ratio akan
dapat dinilai; posisi perusahaan terhadap seluruh kewajiban yang bersifst tetap, keseimbangan antara aktiva tetap dengan modal.
Laverage ratio antara lain :
1) Debt to equity ratio
2) Current liabilites to net worth
3) Tangible asset debt coverage
4) Long term debt to equity ratio
5) Debt service
c. Ratio aktivitas
Yaitu ratio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari –hari atau kemampuan perusahaan dalam
penjualan, penagihan piutang, atau pemanfaatan aktiva yang dimiliki.
Ratio aktivitas terdiri dari :
1. Perputaran persediaan (inventory turn over)
2. Average collection period
3. Perputaran aktiva tetap (fixed asset turn over)
4. Perputaran modal kerja (Working capital turn over)
d. Ratio rentabilitas
Yaitu ratio –ratio yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan.
Ratio –ratio yang dapat digunakan untuk menilai rentabilitas antara lain :
1. Profit margin
2. Return of invesment
3. Return of equity

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


5

4. Laba per lembar saham

8. Widi Rahman
Pertanyaan:
Dari prinsip 5c yang anda jabarkan, mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari bank?
Jawaban:
Yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti. Dengan
perkataan lain, permohonan kredit ditolak.

9. Nurpin Hidayat
Pertanyaan:
Apa saja yang dapat diketahui dari Analisa prosentase per komponen
Jawaban:
Dengan cara analisa prosentase per komponen akan diketahui tentang :
a. Tingkat investasi pada masing –masing pos (over investment atau sebaliknya under investment)
b. Strutur permodalan
c. Jumlah atau prosentase dari ssetiap rupiah penjualan yang terserap dalam tiap –tiap jenis biaya.
10. Siti Nur Aini
Pertanyaan:
Apa saja yang menjadi perhatian oleh bank pada setiap syarat 5c?
Jawaban:
Yang menjadi perhatian bank pada setiap syarat 5c yaitu:
1. Character
Adapun beberapa petunjuk bagi bank untuk megetahui karakter nasabah adalah :
b. Mengenal dari dekat.
c. Mengumpulkan keterangan mengenai aktivitas calon debitur dalam perbankan.
d. Mengumpulkan keterangan dan meminta pendapat dari rekan –rekannya, pegawai, dan saingannya mengenai reputasi, kebiasaan
pribadi, pergaulan sosial, dll.
2. Capacity
Ini menyangkut kemampuan pimpinan perusahaan beserta stafnya, baik kemampuan dalam hal manajemen maupun keahlian dalam
bidang usahanya. Untuk itu bank harus memperhatikan :
a. Angka –angka hasil produksi.
b. Angka –angka penjualan dan pembelian.
c. Perhitungan laba rugi perusahaan saat ini dan proyeksinya.
d. Data –data finansial diwaktu yang lalu, yang tercermin di dalam laporan keuangan perusahaan, sehingga dengan demikian dapat
diukur kemampuan perusahaan calon penerima kredit untuk melaksanakan rencana kerjanya di waktu yang akan datang dalam
hubungannya dengan penggunaan kredit tersebut.
3. Capital
Dalam hal ini bank harus mengetahui bagaimana perimbangan antara jumlah hutang dan jumlah modal sendiri.
Untuk itu bank harus :
b. Menganalisis neraca selama sedikitnya dua tahun terakhir.
c. Mengadakan analisis ratio untuk mengetahui : likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas dari perusahaan calon peminjam kredit.
4. Collateral
Collateral berarti jaman. Ini menunjukkan besarnya aktiva yang akan diikatkan sebagai jaminan atas kredit yang diberikan oleh bank.
Untuk itu bank harus :
a. Meneliti mengenai pemilikan jaminan tersebut.
b. Mengukur stabilitas dari pada nilainya.
c. Mengukur kemampuan untuk dijadikan uang dalam waktu relatif singkat tanpa terlalu mengurangi nilainya.
d. Memperhatikan pengikatan barang yang benar –benar menjamin kepentingan bank sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
5. Condition
Bank harus melihat kondisi ekonomi secra umum serta kondisi pada sektor usaha si peminta kredit. Untuk itu bank harus memperhatikan
:
a. Keadaan ekonomi yang akan mempengaruhi perkembangan usaha calon peminjam.
b. Kondisi uasha calon peminjam, perbandingannya dengan usaha sejenis lainnya di daerah dan lokasi lingkungannya.
c. Keadaan pemasaran dari hasil usaha calon peminjam.
d. Prospek usaha di masa yang akan datang untuk kemungkinan bantuan kredit dari bank.
e. Kebijaksanaan pemerintah yang berpengaruh terhadap prospek industri dimana perusahaan pemohon kredit termasuk
didalamnya.

ANALISIS RASIO VALUASI


Liquidity Ratio
Resiko likuiditas jangka pendek terutama berasal dari kebutuhan untuk membiayai operasional lancar (current operations) hingga perusahaan
harus melakukan pembayaran ke suppliers. Sebelum perusahaan dapat pemasukan untuk barang dan servis yang telah disediakan, akan ada
kekurangan kas yang harus dipenuhi, biasanya kekurangan tersebut ditutupi melalui pinjaman jangka pendek. Walaupun pembiayaan kebutuhan

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


6

modal kerja dilakukan secara rutin oleh kebanyakan perusahaan, rasio finansial (Financial Ratio) telah digunakan untuk mengawasi sejauh mana
perusahaan terpapar oleh resiko yang mana tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Yang paling sering digunakan untuk mengukur
resiko likuiditas jangka pendek adalah current ratio dan quick ratio.
Current ratio adalah rasio dari current assets (kas, persediaan, akun piutang) dengan current liabilities-nya (kewajiban yang jatuh tempo untuk
periode selanjutnya).
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
Sebagai contoh current ratio dibawah 1, mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak hutang yang akan jatuh tempo di tahun
berikutnya daripada aset yang diekspektasikan untuk diubah menjadi kas. Hal ini merupakan suatu indikasi terhadap resiko likuiditas.
Ketika analisis tradisional menyarankan bahwa perusahaan menjaga nilai current ratio diatas 2 atau lebih, karena ada pertukaran antara
meminimalisir resiko likuiditas dan meningkatkan kas yang lebih banyak kedalam net working capital (Net working capital = Current Assets –
Current Liabilities). Kenyataannya, hal ini bisa dibantah bahwa dengan current ratio yang tinggi mengindikasikan perusahaan yang tidak sehat,
yang mana memiliki masalah untuk menurunkan persediaannya. Akhir-akhir ini, perusahaan telah berusaha untuk menurunkan current ratio
mereka dan mengelola net working capital mereka dengan lebih baik.
Penggunaan current ratio harus di pertimbangkan dengan beberapa faktor lainnya. Pertama, rasio bisa dimanipulasi dengan mudah oleh
perusahaan dibagian waktu laporan finansial untuk memberikan ilusi rasa aman. Kedua, current assets (aset lancar) dan current liabilities (hutang
lancar) bisa berubah dengan jumlah yang sama, tapi efek dari current ratio tergantung pada tingkat levelnya sebelum berubah. Maksudnya jika
current assets dan current liabilities meningkat dengan jumlah yang sama, current ratio akan menurun jika current ratio lebih dari 1 sebelumnya
dan meningkat jika kurang dari 1.

Quick ratio atau acid test ratio adalah variasi dari current ratio. Hal ini membedakan aset lancar yang bisa diubah menjadi kas dengan cepat (kas,
sekuritas) dari hal-hal yang susah untuk diubah (persediaan, akun piutang).
𝐶𝑎𝑠ℎ + 𝑚𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑠𝑒𝑐𝑢𝑟𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
𝑄𝑢𝑖𝑐𝑘 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
Pengecualian terhadap akun piutang dan persediaan adalah karena peraturan cepat diubah menjadi kas. Jika ada bukti bahwa suatu akun bisa
diubah menjadi kas dengan cepat, bisa dimasukkan menjadi bagian dari quick ratio.
Activity ratio
Rasio aktivitas juga disebut sebagai rasio efisiensi atau perputaran, mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan berbagai asetnya.
Turnover ratio mengukur tingkat efisiensi pengelolaan modal kerja dengan melihat hubungan antara akun piutang dan persiadaan dengan harga
pokok penjualan.

𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠
𝐴𝑐𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 =
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐴𝑐𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑎𝑏𝑙𝑒

𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝐺𝑜𝑜𝑑 𝑆𝑜𝑙𝑑


𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 =
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦
Rasio-rasio ini bisa diinterpretasikan sebagai pengukur kecepatan perusahaan dalam mengubah akun piutang menjadi kas atau inventory menjadi
penjualan. Rasio-rasio ini sering mengekspresikan waktu yang digunakan.
365
𝐷𝑎𝑦𝑠 𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑂𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 =
𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟

365
𝐷𝑎𝑦𝑠 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐻𝑒𝑙𝑑 =
𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟
Rasio yang mirip dan bisa dikomputasikan untuk akun hutang.
𝑃𝑢𝑟𝑐ℎ𝑎𝑠𝑒𝑠
𝐴𝑐𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡𝑠 𝑃𝑎𝑦𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 =
𝐴𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝐴𝑐𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑃𝑎𝑦𝑎𝑏𝑙𝑒

Sejak akun piutang dan persediaan merupakan aset dan akun hutang adalah kewajiban, ketiga rasio ini (distandarisasikan dalam hal hari yang
digunakan) bisa digabungkan untuk mendapatkan estimasi berapa banyak pembiayaan perusahaan yang dibutuhkan untuk membiayai modal
kerja yang dibutuhkan.
𝑅𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑 𝐹𝑖𝑛𝑎𝑛𝑐𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑 = (𝐷𝑎𝑦𝑠 𝑅𝑒𝑐𝑒𝑖𝑣𝑎𝑏𝑙𝑒
𝑂𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔
) + (𝐷𝑎𝑦𝑠 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦
𝐻𝑒𝑙𝑑
) + (𝐷𝑎𝑦𝑠 𝑃𝑎𝑦𝑎𝑏𝑙𝑒
𝑂𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔
)
Semakin lama waktu pembiayaan perusahaan, semakin besar perusahaan menghadapi resiko likuiditas.

Leverage Ratio
Rasio hutang terhadap ekuitas dihitung hanya membagi total hutang perusahaan dengan ekuitas pemegang saham.
Debt ratio yang paling sering digunakan adalah:
𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐷𝑒𝑏𝑡 + 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


7

Rasio pertama mengukur proporsi hutang dengan total kapital perusahaan dan tidak bisa melebihi 100%. Yang kedua mengukur proporsi hutang
dengan ekuitas perusahaan dan bisa disimpulkan dengan rasio yang pertama.
𝐷𝑒𝑏𝑡 ⁄𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜
𝐷𝑒𝑏𝑡 ⁄𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
1 − 𝐷𝑒𝑏𝑡 ⁄𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜
Meskipun rasio-rasio ini menganggap bahwa kapital ditingkatkan hanya melalui hutang dan ekuitas, mereka bisa dengan mudah dimasukkan
dengan sumber pembiayaan lainnya, seperti saham preferen. Walaupun saham preferen terkadang digabung dengan saham biasa dibawah label
ekuitas, sebaiknya kedua saham ini dipisahkan dan dihitung rasio dari saham preferen dengan kapital (yang mana termasuk dalam hutang,
ekuitas, dan saham preferen).
Variasi dari debt ratio
Ada dua variasi yang mirip dengan debt ratio. Pertama, hanya hutang jangka panjang yang digunakan daripada total hutang, dengan asumsi
bahwa hutang jangka pendek hanya sementara dan tidak mempengaruhi kesanggupan pelunasan hutang jangka panjang perusahaan.
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐶𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡 + 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡


𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
Karena dengan mudahnya perusahaan terlilit dengan hutang jangka pendek, dan banyaknya perusahaan yang ingin menggunakan pembiayaan
jangka pendek untuk membiayai proyek jangka panjang, variasi ini bisa memberikan gambaran yang salah terhadap resiko hutang finansial
perusahaan.
Variasi kedua dari debt ratio menggunakan market value(MV) daripada book value, dikarenakan untuk merefleksikan kenyataan bahwa beberapa
perusahaan memiliki kemampuan untuk meminjam dengan signifikan daripada indikasi yang diberikan oleh book value.
banyak analis yang tidak setuju dalam penggunaan market value kedalam kalkulasi mereka, menentang market value, ditambah dengan
susahnya mendapat market value hutang, volatil dan karena itu menjadi tidak bisa dipercaya. Pendapat ini terbuka untuk di debat. Memang benar
bahwa market value dari hutang perusahaan susah didapat yang mana tidak dipublikasikan sebagai hutang yang bisa ditransaksikan, tetapi
market value dari ekuitas tidak hanya mudah untuk didapatkan, juga selalu update untuk merefleksikan luas market dan perubahan perusahaan
yang spesifik. Selanjutnya, penggunaan book value dari hutang sebagai proxy untuk market value dalam kasus dimana hutang tidak
ditransaksikan tidak mengubah market value dari rasio hutang secara signifikan.
Profitability Ratio
Ada banyak cara dalam mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahan (enterprise). Pertama, bagaimana menentukan profitabilitas dari sudut
padang penggunaan modal kerja (capital employed) yang nantinya dapat menentukan rate of return on investment (ROI). Kedua, penentuan
profitabilitas terhadap tingkat penjualan (sales), dengan mengestimasikan margin laba (profit margin).
Tingkat profitabilitas sendiri berupa rasio-rasio keuangan dimana sumber-sumber (sources) dari determinannya berasal dari Income Statement &
Balance Sheet (atau Statement of Financial Position).
Fungsi dari rasio-rasio profitabilitas yang didapat adalah untuk menentukan seberapa efisien kegiatan operasional perusahaan dan kebijakan-
kebijakan pricing yang perusahaan terapkan.

a. ROA (Return on Assets)


ROA digunakan untuk mengukur efisiensi kegiatan perasional perusahaan dalam menghasilkan laba dari “aset-nya”.

ROA = Earnings Before Interest and Taxes(1-Tax Rates)/Total


EBIT =Assets
laba kotor operasional perusahaan sebelum dikurangi beban bunga dan pajak
Tax Rates = tingkat pajak penghasilan badan yang berlaku
Total Assets = total nilai buku bersih aset (setelah disesuaikan atas depresiasi atau amortisasi)

ROA juga dapat dihitung berdasarka basis pre-tax (sebelum pajak) dengan asumsi tidak terdapat loss (kerugian) secara umum, dan
sebagai dasar yang baik untuk membandingkan perusahaan yang berbeda dalam beban pajak yang diterapkan (segi geografis).

ROA = Earnings Before Interest and Taxes/Total


Assets
Determinan ROA:
Rumus ROA dapat diperluas dalam beberapa determinan yaitu, margin laba operasional (operating profit margin) dan rasio perputaran
aset (asset turnover ratio).

ROA = EBIT (1 – t)/Sales x Sales/Total Assets


= Pretax Operating Margin (1 – t) x Asset Turnover Ratio

Pretax Operating Margin =


EBIT/Sales
Determinan tersebut dapat dijadikan sebagai pertimabangan dalam penetapan keputusan strategis perusahaan dalam meningkatkan
angka ROA yaitu, apakah perusahaan akan berusaha untuk menaikkan margin labanya atau menggunakan asetnya seefisien mungkin.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


8

b. ROE (Return on Equity)


Apabila ROA mengukur tingkat profitabilitas bagi perusahaan secara keseluruhan (before tax profit), ROE digunakan untuk mengukur
profitabilitas perusahaan bagi para pemegang saham (equity investor) dalam acuan after tax profit.

ROE = Net Income/Book Value of


BookEquity
value of equity adalah nilai buku rata-rata atas saham biasa (common stocks). Ekuitas yang digunakan disini adalah saham biasa
bukan saham preferen karena sifat saham preferen yang hybrid atau tidak sepenuhnya bersifat ekuitas atas klaimnya.

ROE = ROA + D/E (ROA – i [1 –


t])
D/E = nilai buku Debt / nilai buku ekuitas
i = tingkat bunga atas Debt

Ketika tingkat leverage (pembiayan dengan hutang atau debt) meningkatkan kos atas ekuitas (cost of equity), ROE akan meningkat
diatas cost of equity.

Market Ratio

Ketika stock analyst ingin mencoba untuk memahami bagaimana investor-investor menilai sebuah perusahaan, mereka akan merujuk pada rasio-
rasio pasar. Perhitungan atas rasio-rasio ini memiliki satu faktor yang sama dimana mereka mengevaluasi harga sahama sekarang (current
market price) dari saham biasa terhadap indikator kekuatan laba perusahaan atau aset yang dimiliki oleh perusahaan.

Rasio-rasio pasar meliputi price to earnings, dividend yield, cash flow ratio, dan price to book.

a. Price to Earnings (P/E ratio)

P/E = Market Value per Share/Annual Earnings per


Share
P/E yang tinggi mengindikasikan laba yang tinggi. Jika dua perusahaan memiliki pertumbuhan laba yang sama, perusahaan dengan
P/E yang rendah disebut undervalue dalam pasarnya.

b. Rasio PEG (Price to Earning Growth ratio)


Rasio PEG mencoba untuk mengoreksi pengukuran atas P/E agar nilai yang didapat utuk analisa lebih akurat.

PEG ratio = P/E ratio / Annual EPS


Growth
Apabila membandingkan dua perusahaan, perusahaan yang memiliki rasio PEG yang rendah dianggap memiliki nilai terbaik.

c. Dividend Yield

Dividend Yield (%) = (Market Price per Share/Dividend per


Share) x 100
Dividend yield yang tinggi menandakan kebijakan dividen perusahaan yang aktif dibanding menginvestasikan kembali laba tersebut
untuk menikkan pendapatan (earnings).

d. Price to Book atau Market to Book

Price to Book = Market Price per Share / Book Value per


Share
Book value per share diperoleh dari: (Total Ekuitas – saham preferen) / saham biasa

Market to Book = Total Market Capitalization/Total Book


Value
Total book value diperoleh dari : Total ekuitas – saham preferen

Price to book ratio digunakan untuk menentukan apakah saham perusahaan berada dalam status undervalue.

VALUASI
Relative Valuation

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


9

Relative Valuation adalah model valuasi saham yang menggunakan multiples. Multiples merupakan istilah terhadah nilai pasar suatu aset
perusahaan. Jadi, relative valuation merupakan model valuasi yang membandingkan harga suatu aset dengan nilai pasarnya.
Jenis multiples yang digunakan seperti:
a. Price/Earnings Multiples
b. Price/Book Multiples
c. Price/Sales Multiples

1. Price/Earnings Multiples
Model ini sangat menarik digunakan ketika IPO (Initial Public Offering). P/E meniadakan asumsi-asumsi seperti risiko, pertumbuhan,
dan payout ratio dimana 3 faktor tersebut dibutuhkan sebagai pertimbangan dalam model valuasi DCF (Discounted Cash Flow). P/E
dipandang oleh sebagian investor karena merefleksikan market moods and persepsi.
Mengestimasikan P/E dari fundamental bisnis
Dalam mengestimasikan P/E terhadap fundamental bisnis dapat dikategorikan menjadi 2 karakteristik bisnis perusahaan yaitu,
perusahaan stabil dan perusahaan dengan pertumbuhan tinggi.
 Perusahaan dengan pertumbuhan stabil:

Po = nilai ekuitas
EPS = laba per lembar saham
r = tingkat return atas ekuitas
g = tingkat pertumbuhan dividend

 Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi:

2. Price/Book Value Multiples


Dalam model ini, penentuan estimasi PBV terhadap fundamentalnya dikategorikan ke dalam:

 Perusahaan dengan pertumbuhan stabil:

 Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi/masif:

3. Price/Sales Multiples
Rasio PS menjadi populer akhir-akhir ini dibanding P/E ataupun P/B.

Keuntungan P/S:
a. P/S multiples tersedia meski dalam perusahaan yang paling bermasalah dalam bisnisnya
b. Pendapatan sulit untuk dimanipulasi
c. Volatilitas P/S relatif lebih rendah dibanding P/E

Penentuan rasio P/E terhadap fundamentalnya juga dikategorikan menjadi dua:

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


10

 Perusahaan denga pertumbuhan stabil:

 Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi/masif:

Sumber : (Aswath Damodaran). Investment Va


tion:Tools and techniques for determining the value of any asset

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


11

DIVIDEND DISCOUNTED MODEL (DDM)


Dividend Discount Model merupakan salah satu teknik valuasi yang digunakan untuk menentukan nilai intrinsik dari suatu saham
perusahaan. Metode valuasi ini berasal dari ide bahwa satu-satunya kas atau uang yang didapatkan oleh investor atas kepemilikan saham sebuah
perusahaan adalah dividen. Berdasarkan metode Dividend Discount Model, nilai intrinsik atau nilai wajar dari suatu saham perusahaan adalah
nilai sekarang (present value) dari dividen perusahaan dimasa yang akan datang. Model penentuan harga wajar saham dengan menentukan nilai
intrinsik saham menggunakan teknik valuasi Dividend Discount Model cocok digunakan untuk saham perusahaan besar dan stabil yang rajin atau
terus menerus membagikan dividen tiap tahunnya., namun dapat pula digunakan pada saham perusahaan bertumbuh dimana perusahaan
memiliki tingkat pertumbuhan yang berbeda disetiap tingkatannya. Pada modul ini, akan dibahas dua jenis teknik valuasi menggunakan Dividend
Discount Models, yaitu The Gordon Growth Model dan Three-stage Dividend Discount Model.

1. The Gordon Growth Model


Teknik valuasi The Gordon Growth Model termasuk teknik valuasi Dividend Discount Model yang paling sederhana. The Gordon Growth
Model cocok digunakan untuk menentukan nilai wajar saham perusahaan yang berada pada kondisi steady state atau dimana perusahaan telah
berada pada tingkatan yang stabil dan secara terus menerus membagikan dividen tiap tahunnya. Model valuasi ini cocok diterapkan pada
perusahaan-perusahaan besar yang sudah tidak lagi bertumbuh dan membutuhkan sedikit dana untuk ekspansi sehingga keuntungan yang
didapatkan setiap tahunnya dapat selalu dibagikan kepada pemegang saham perusahaan, dividen perusahaan juga diharapkan untuk selalu
tumbuh. The Gordon Growth Model mencari harga wajar saham dengan menggunakan variabel ekpektasi dividend pada tahun depan, cost of
equity dan harapan pertumbuhan dividen setiap tahunnya.

DPS1 : Ekspektasi dividen tahun depan


Ke : Required Rate of Return (Cost of Equity)
g : Pertumbuhan dividen per tahunnya

DPS1 bisa didapatkan dengan melihat kecepatan pertumbuhan dividen masa lalu dan menggunakan besaran dividen yang dibayarkan
oleh perusahaan pada tahun ini. Untuk variabel, Ke, metode simpelnya adalah dengan menggunakan suku bunga Bank Indonesia pada saat ini.
Dan untuk g, dapat menggunakan pertumbuhan historis dividen pada masa lalu.

Contoh Kasus:
Perusahaan A pada tahun ini memberikan dividen per lembar saham sebesar Rp 1.000, dan dilihat dari data historis pertumbuhan dividen, dividen
terus bertumbuh stabil dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya sebesar 5%. Pada saat ini, suku bunga Bank Indonesia berada pada level
7,50%. Maka harga wajar saham perusahaan A adalah :
DPS1 : (Rp 1.000 x 5%) + Rp 1.000 = Rp 1.050
Ke : 7,50%
g : 5,00%

Dengan menggunakan rumus The Gordon Growth Model diatas, maka dapat ditemukan hasil sebesar Rp 42.000. Dari hasil tersebut, kita
mengetahui bahwa harga wajar saham perusahaan A adalah sebesar Rp 42.000. Setelah mengetahui besaran harga wajar saham perusahaan
A tersebut, maka investor dapat membuat keputusan investasinya terkait membeli dan menjual saham tersebut. Dengan demikian, investor
hendaknya membeli saham perusahaan A tersebut ketika harga sahamnya berada dibawah harga wajar. Begitupun sebaliknya, investor
sebaiknya menjual saham tersebut ketika harga saham telah melampaui harga wajarnya.

2. Three-stage Dividend Discount Model


Teknik valuasi Three-stage Dividend Discount Model merupakan teknik valuasi Dividend Discount yang lebih kompleks dibandingkan
dengan model sebelumnya. Namun demikian, metode valuasi menggunakan Three-stage Dividend Discount Model memberikan tingkat
fleksibiltas yang tinggi dalam penggunaannya. Hal ini dikarenakan model valuasi ini dapat digunakan untuk penentuan harga wajar saham untuk
hampir semua tipe perusahaan, baik yang masih dalam fase pertumbuhan cepat, penurunan pertumbuhan dan pada saat perusahaan memasuki
masa stabil. Pada model Three-stage Dividend Discount Model, investor berasumsi bahwa terdapat tiga tingkatan pertumbuhan pendapatan
perusahaan, yaitu: High Stable Growth, Declining Growth dan Infinite Stable Growth.
a. High Stable Growth – Pada fase ini, perusahaan sedang tumbuh dengan kencang dan terus menerus melakukan ekspansi. Dengan
demikian, perusahaan membutuhkan dana lebih untuk melakukan ekspansi sehingga berdampak pada rendahnya rasio pemberian
dividen kepada investor.
b. Declining Growth – Ini merupakan fase dimana perusahaan telah mengalami penurunan pertumbuhan pendapatan, dimana saat ini
merupakan fase sebelum perusahaan memasuki fase stabilnya. Pada saat ini secara berangsur perusahaan mulai menurunkan
pendanaan untuk melakukan ekspansi dan rasio pembayar dividen kepada investor mulai meningkat.
c. Infinite Stable Growth – Pada fase ini, perusahaan sudah memasuki masa yang stabil dan tidak lagi gencar dalam melakukan
ekspansi. Sehingga hampir sebagian besar pendapatan per tahunnya bisa dibagikan kepada investor.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


12

Harga wajar saham ditentukan oleh present value dari semua harapan penerimaan dividen pada masa High Stable Growth, Declining
Growth dan Infinite Stable Growth (Terminal Value), dengan rumus sebagai berikut:

EPSt : Pendapatan per saham pada tahun t


DPSt : Dividen per saham pada tahun t
ga : Kecepatan pertumbuhan pada fase High Stable Growth
gn : Kecepatan pertumbuhan pada fase Infinite Stable Growth
∏a : Rasio pembayaran dividen pada fase High Stable Growth
∏n : Rasio pembayaran dividen pada fase Infinite Stable Growth
ke : Cost of equity pada fase High Stable Growth (hg), Declining Growth (t) dan Infinite Stable Growth (st)

Contoh Kasus:
Perusahaan B merupakan perusahaan yang bergerak disektor makanan dan minuman dan telah berdiri selama 5 tahun. Pada saat ini
pertumbuhan pendapatan perusahaan masih kencang dan terus melakukan ekspansi ke seluruh pulau Jawa. Pada tahun ini, pendapatan per
saham (EPS) perusahaan sebesar Rp 100 per lembar saham dan diharapkan untuk tumbuh kencang selama 5 tahun kedepan dengan
pertumbuhan rata-rata per tahunnya sebesar 25%. Pada masa ekspansi ini, perusahaan hanya mampu untuk memberikan 20% dari pendapatan
sebagai dividen kepada investor. Ketika memasuki masa diatas 5 tahun tersebut, pertumbuhan diharapkan melambat dan pada tahun ke 10
pertumbuhan EPS hanya akan tumbuh sebesar 5% per tahunnya. Pada masa penurunan pertumbuhan pendapatan ini, perusahaan berangsur-
angsur meningkatkan rasio pembayaran dividen (DPR) kepada investor dari yang sebelumnya 20% menjadi 70%. Pada saat perusahaan
memasuki masa stabilnya, pertumbuhan EPS akan stabil 5% per tahunnya dengan rasio pembayaran dividen dari pendapatan (DPR) sebesar
70%. Denngan asumsi Cost of Equity akan tetap selama 10 tahun kedepan sebesar 7,50%, maka harga wajar saham perusahaan dapat dihitung
sebagai berikut:

Pendapatan Rasio
Pertumbuhan Dividen per Cost of Present Value
Tahun per Saham Pembayaran
Pendapatan Saham (DPS) Equity DPS
(EPS) Dividen (DPR)
1 25% Rp 125 20% Rp 25 7.50% Rp 23
2 25% Rp 156 20% Rp 31 7.50% Rp 27
3 25% Rp 195 20% Rp 39 7.50% Rp 31
4 25% Rp 244 20% Rp 49 7.50% Rp 37
5 25% Rp 305 20% Rp 61 7.50% Rp 43
6 21% Rp 369 30% Rp 111 7.50% Rp 72
7 17% Rp 432 40% Rp 173 7.50% Rp 104
8 13% Rp 488 50% Rp 244 7.50% Rp 137
9 9% Rp 532 60% Rp 319 7.50% Rp 167
10 5% Rp 559 70% Rp 391 7.50% Rp 190
Terminal Value Rp 16.427 7.50% Rp 7.970
Total Present Value Dividen per Saham (Harga Wajar Saham) Rp 8.800

Dengan demikian, setelah melakukan valuasi dengan metode Three-stage Dividend Discount Model , didapatkan hasil berupa harga
wajar saham sebesar Rp 8.800. Setelah mendapatkan harga wajar saham, investor dapat membandingkan dengan harga saham pada saat ini.
Apabila harga saham masih lebih murah dari harga wajarnya (under-value), investor dapat membeli saham tersebut. Namun jika harga saham
pada saat ini lebih mahal dari harga wajarnya (over-value), maka investor lebih baik untuk menjual saham perusahaan tersebut.

DISCOUNTED CASH FLOW MODEL (DCF)


Discounted Cash Flow merupakan salah satu metode valuasi untuk menentukan harga wajar suatu saham perusahaan. Berbeda dengan
metode valuasi yang sebelumnya yang berasumsi bahwa satu-satunya pendapatan yang didapatkan oleh investor adalah dividen, pada metode
Discounted Cash Flow ini investor berasumsi bahwa sebuah harga sebuah perusahaan adalah total kas yang dapat dihasilkan oleh perusahaan
dimasa yang akan datang. Ringkasnya, metode valuasi ini menentukan harga wajar saham perusahaan berdasarkan nilai present vaue dari
seberapa besar perusahaan tersebut menghasilkan uang dimasa yang akan datang. Metode valuasi ini merupakan metode yang sangat kompleks
dan paling banyak digunakan oleh para analis. Metode valuasi Discounted Cash Flow mewajibkan investor untuk berpikir lebih dalam mengenai
perusahaan dimasa yang akan datang seperti proyeksi pertumbuhan penjualan, proyeksi margin keuntungan dan lain-lain. Metode ini juga
mengharuskan investor menentukan discount rate yan akan digunakan dalam perhitungan present value. Metode dan teknik valuasi Discounted
Cash Flow dapat bervariasi, dari yang sederhana sampai dengan yang sangat kompleks. Namun demikian, pada modul inihanya akan dipaparkan

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


13

metode valuasi Discounted Cash Flow yang paling sederhana. Berikut merupakan tahapan paling mendasar dari metode valuasi Discounted
Cash Flow: 1. Periode Proyeksi; 2. Proyeksi Pertumbuhan Penjualan; 3. Proyeksi Free Cash Flow; 4. Penentuan Discount Rate; 5. Perhitungan
Harga Wajar Saham.

1. Periode Proyeksi
Hal pertama yang harus dilakukan ketika melakukan valuasi dengan metode ini adalah menentukan seberapa jauh investor harus
memproyeksikan cash flow. Dalam penentuan periode proyeksi, investor harus mengetahui sejauh mana perusahaan bisa terus bertumbuh diatas
pertumbuhan ekonomi atau yang mana bisa disebut dengan excess return. Sulit untuk mengetahui dengan tepat seberapa jauh perusahaan dapat
bertumbuh diatas pertumbuhan ekonomi, namun investor dapat mengestimasi hal tersebut menggunakan ciri dari perusahaan tersebut seperti
yang tertera pada tabel dibawah ini.
Company Competitive Position Excess Return/Forecast
Perusahaan dengan pertumbuhan lambat, beroperasi dalam
industri yang sangat kompetitif, sifat alami industri yang 1 Tahun
menghasilkan margin keuntungan tipis.
Perusahaan yang kokoh didalam industri, beroperasi dengan
keunggulan tertentu seperti marketing channel yang kuat, jalur
distribusi yang luas, brand equity yang kuat, atau mendapat 5 Tahun
dukungan dari regulator/pemerintah, memiliki patent/lisensi
atas produk unggulan.
Pertumbuhan yang sangat baik dengan pertumbuhan industri
yang kencang, beroperasi dengan hampir monopoli dan sulit
10 Tahun
bagi pemain baru untuk masuk kedalam industri, pemegang
pangsa pasar utama dan prospek bisnis yang cerah .

2. Proyeksi Pertumbuhan Penjualan


Setelah kita menentukan seberapa jauh perusahaan dapat tumbuh diatas pertumbuhan ekonomi, asumsi selanjutnya yang harus
dipikirkan oleh investor adalah memproyeksikan pertumbuhan penjualan. Proyeksi pertumbuhan penjualan merupakan asumsi yang penting
dalam memproyeksikan cash flow dimasa depan. Kita perlu dengan hati-hati berpikir mengenai industri dimana perusahaan beroperasi dan
mempertimbangkan prospek industri dimasa yang akan datang. Memproyeksikan penjualan dapat menjadi asumsi yang sangat kompleks, namun
untuk pembelajaran awal, investor dapat menggunakan rekam jejak pertumbuhan penjualan perusahaan dimasa lampau dan target pertumbuhan
penjualan pada akhir tahun proyeksi untuk memproyeksikan penjualan yang lebih realistis. Sebagai contoh, perusahaan C selama 5 tahun
kebelakang mampu untuk tumbuh cepat sebesar 20% per tahunnya dan pada tahun ini perusahaan mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp
100.000.000. Namun demikian, karena kompetisi yang semakin ketat selama 5 tahun kedepan, pertumbuhan perusahaan kita proyeksikan akan
menurun hingga hanya sebesar 10% pada tahun kelima. Dengan demikian, investor dapat berasumsi mengenai pertumbuhan penjualan seperti
dibawah ini.
Tahun ke-0 Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5
Growth (%) 20% 18% 16% 14% 12% 10%
Penjualan 100.000.000 118.000.000 136.880.000 156.043.200 174.768.384 192.245.222

Seperti yang dapat dilihat pada tabel diatas, pertumbuhan perusahaan semakin melambat. Hal ini merupakan asumsi yang realistis
dikarenakan perusahaan tidak dapat selamanya tumbuh kencang pada kecepatan yang konstan. Namun demikian ini hanyalah salah satu contoh
asumsi, investor memiliki kebebasan untuk berasumsi selama mempunyai dasar yang kuat.
3. Proyeksi Free Cash Flow
Free cash flow merupakan uang yang dihasilkan oleh perusahaan setelah mengurangkan segala pengeluaran kas. Free cash flow
merefleksikan jumlah uang yang aktual yang tersisa dari operasional perusahaan yang dapat digunakan untuk menambah value para pemegang
saham perusahaan. Untuk menghitung free cash flow, investor harus mencari besaran uang yang tersisa dari total penjualan setelah dikurangi
biaya operasi, pajak, biaya investasi (capital expenditure), dan perubahan modal kerja. Depresiasi dan amortisasi tidak dimasukkan kedalam
perhitungan dikarenakan depresiasi dan amortisasi tidak dalam bentuk kas.
a. Proyeksi Biaya Operasi
Cara yang cukup sederhana dalam memproyeksi biaya operasi adalah dengan melihat operating cost margin (OCM) perusahaan
dan membuat rata-rata 3 tahun kebelakang. Sebagai contoh, perusahaan yang sama pada 3 tahun sebelumnya memiliki OCM
sebesar 70%, maka kita dapat berasumsi bahwa pada 5 tahun kedepan berapapun penjualan yang didapat, OCM akan berada pada
level 70%. Sehingga setelah memproyeksikan biaya operasi, kita dapat menemukan hasil berupa operating profit.
Tahun ke-0 Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5
Growth (%) 20% 18% 16% 14% 12% 10%
Penjualan 100.000.000 118.000.000 136.880.000 156.043.200 174.768.384 192.245.222
OCM (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70%
OCM 70.000.000 82.600.000 95.816.000 109.230.240 122.337.869 134.571.656
Operating
30.000.000 35.400.000 41.064.000 46.812.960 52.430.515 57.673.567
Profit

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


14

b. Proyeksi Biaya Pajak


Cukup mudah dalam memproyeksikan pajak dimasa depan. Untuk valuasi, kita cukup memiliki asumsi akan Corporate Tax Income.
Untuk Indonesia, Corporate Tax Income berada pada level 25%.
Tahun ke-0 Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5
Growth (%) 20% 18% 16% 14% 12% 10%
Penjualan 100.000.000 118.000.000 136.880.000 156.043.200 174.768.384 192.245.222
OCM (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70%
OCM 70.000.000 82.600.000 95.816.000 109.230.240 122.337.869 134.571.656
Operating
30.000.000 35.400.000 41.064.000 46.812.960 52.430.515 57.673.567
Profit
Tax (%) 25% 25% 25% 25% 25% 25%
Tax 7.500.000 8.850.000 10.266.000 11.703.240 13.107.629 14.418.392
After Tax
22.500.000 26.550.000 30.798.000 35.109.720 39.322.886 43.255.175
Profit

c. Proyeksi Biaya Investasi (Capital Expenditure)


Untuk tetap bertumbuh, perusahaan akan selalu berinvestasi pada aset tetap seperti pada properti, pabrik dan peralatan. Dalam
memproyeksikan biaya investasi, kita dapat melihat seberapa besar pengeluaran perusahaan untuk investasi terhadap penjualannya
dalam 3 tahun kebelakang. Misalkan hasil penjualan perusahaan adalah Rp 100.000.000 dan sebanyak Rp 7.000.000 digunakan
untuk berinvestasi pada aset tetap, maka rasio investasi pada aset tetap perusahaan adalah sebesar 7% dari penjualan [Rp
7.000.000 / Rp 100.000.000 = 7%].
Tahun ke-0 Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5
Growth (%) 20% 18% 16% 14% 12% 10%
Penjualan 100.000.000 118.000.000 136.880.000 156.043.200 174.768.384 192.245.222
OCM (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70%
OCM 70.000.000 82.600.000 95.816.000 109.230.240 122.337.869 134.571.656
Operating
30.000.000 35.400.000 41.064.000 46.812.960 52.430.515 57.673.567
Profit
Tax (%) 25% 25% 25% 25% 25% 25%
Tax 7.500.000 8.850.000 10.266.000 11.703.240 13.107.629 14.418.392
After Tax
22.500.000 26.550.000 30.798.000 35.109.720 39.322.886 43.255.175
Profit
Investnment
7% 7% 7% 7% 7% 7%
(%)
Investment 7,000,000 8,260,000 9,581,600 10,923,024 12,233,787 13,457,166
After Tax &
Investment 15,500,000 18,290,000 21,216,400 24,186,696 27,089,100 29,798,009
Proofit
d. Proyeksi Perubahan Modal Kerja
Modal kerja mengacu pada kas yang dibutuhkan perusahaan untuk operasi sehari-hari, atau, lebih khusus, pembiayaan jangka
pendek untuk mempertahankan aset lancar seperti persediaan. Semakin cepat bisnis berkembang, semakin banyak uang yang
diperlukan untuk modal kerja. Modal kerja dapat dihitung dengan mengurangkan aset lancar dan hutang lancar. Perubahan modal
kerja adalah perbedaan modal kerja pada tahun ini dengan tahun sebelumnya. Misalkan pada tahun 2010, perusahaan yang sama
memiliki aset lancar sebesar Rp 5.000.000 dan hutang lancar sebesar Rp 4.000.000, maka modal kerja pada tahun tersebut adalah
sebesar Rp 1.000.000 [Rp 5.000.000 – Rp 4.000.000 = Rp 1.000.000]. Jika pada tahun 2011, perusahaan memiliki aset lancar
sebesar Rp 7.000.000 dan hutang lancar sebesar Rp 5.000.000 atau memiliki modal kerja sebesar Rp 2.000.000, maka untuk tahun
2011, perubahan modal kerja perusahaan adalah sebesar Rp. 2.000.000 – Rp 1.000.000 = Rp 1.000.000 [Modal kerja 2011 – Modal
kerja 2010]. Perubahan modal kerja yang positif mengindikasikan bahwa perusahaan membutuhkan kas tambahan untuk menambah
modal kerja. Oleh karena itu dari sudut pandang valuasi Discounted Cash Flow, penambahan modal kerja perusahaan diasumsikan
akan mengurangi kas bebas, sehingga semakin besar kebutuhan perusahaan akan modal kerja, akan semakin mengurangi kas
bebas.
Untuk memproyeksikan perubahan modal kerja, kita dapat menggunakan asumsi sederhana. Yaitu dengan menghitung perubahan
modal kerja pada tahun awal proyeksi dalam valuasi, dan memproyeksikan kenaikan modal kerja dengan tingkat pertumbuhan yang
sama dengan pertumbuhan penjualan. Hal ini berdasarkan pada asumsi, semakin besar penjualan perusahaan, maka dibutuhkan
tambahan modal kerja yang akan tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan pertumbuhan penjualan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.

Tahun ke-0 Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Tahun ke-5

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


15

Growth (%) 20% 18% 16% 14% 12% 10%


Penjualan 100.000.000 118.000.000 136.880.000 156.043.200 174.768.384 192.245.222
OCM (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70%
OCM 70.000.000 82.600.000 95.816.000 109.230.240 122.337.869 134.571.656
Operating
30.000.000 35.400.000 41.064.000 46.812.960 52.430.515 57.673.567
Profit
Tax (%) 25% 25% 25% 25% 25% 25%
Tax 7.500.000 8.850.000 10.266.000 11.703.240 13.107.629 14.418.392
After Tax
22.500.000 26.550.000 30.798.000 35.109.720 39.322.886 43.255.175
Profit
Investnment
7% 7% 7% 7% 7% 7%
(%)
Investment 7,000,000 8,260,000 9,581,600 10,923,024 12,233,787 13,457,166
After Tax &
Investment 15,500,000 18,290,000 21,216,400 24,186,696 27,089,100 29,798,009
Proofit
Perubahan
1,000,000 1,180,000 1,368,800 1,560,432 1,747,684 1,922,452
Modal Kerja
Free Cash
14,500,000 17,110,000 19,847,600 22,626,264 25,341,416 27,875,557
Flow (FCF)

Setelah mengurangkan penjualan penjualan dengan biaya operasi, pajak, biaya investasi, dan perubahan pada modal kerja, maka
didapatkan hasil berupa Free Cash Flow. Free Cash Flow ini merupakan kas yang tersisa yang dimiliki perusahaan yang dapat digunakan untuk
meningkatkan value para pemegang saham, entah dalam bentuk pemberian dividen, shares buyback ataupun dalam bentuk investasi perusahaan
lainnya.

4. Penentuan Tingkat Diskon (Discount Rate)


Setelah mengetahui Free Cash Flow yang dihasilkan perusahaan dalam lima tahun kedepan, investor harus mencari tahu seberapa besar
nilai uang dimasa yang akan datang itu dimasa sekarang, atau dengan kata lain kita mencari present value dari uang dimasa yang akan datang
tersebut. Untuk itu investor membutuhkan tingkat diskon, dan dalam valuasi kali ini, akan digunakan metode penentuan tingkat diskon
menggunakan Weighted-Average Cost of Capital (WACC). WACC sebenarnya merupakan gabungan dari cost of equity dan after-tax cost of debt.
a. Cost of Equity
Pemegang saham memiliki harapan untuk mendapatkan hasil dari jerih payah investasinya pada sebuah perusahaan. Dari sudut
pandang perusahaan, cost of equity memiliki arti berapa persen return yang diharapkan oleh investor agar mereka tetap puas udan
tetap berinvestasi pada perusahaan. Oleh karena itu, cost of equity pada dasarnya adalah biaya perusahaan untuk mempertahankan
harga saham yang memuaskan kepada investor. Metode yang paling banyak digunakan oleh analis untuk menentukan Cost of Equity
adalah dengan menggunakan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM), dengan rumus:

Cost of Equity (Re) = Rf + Beta (Rm – Rf)

- Rf (Risk-Free Rate)
Risk-free rate merupakan suatu aset investasi yang bebas resiko. Biasanya angka ini didapatkan dari tingkat bunga obligasi
pemerintah.
- Beta
Beta saham merupakan tingkat korelasi antara harga saham terhadap benchmarknya. Untuk Indonesia, benchmark yang biasa
digunakan adalah IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Untuk informasi beta saham Indonesia, bisa dilihat pada web
Reuters.com atau bisa mencari manual menggunakan tingkat korelasi pergerakan saham dengan IHSG.
- (Rm – Rf) atau Equity Market Risk Premium
Equity market risk premium merupakan suatu angka yang merepresentasikan pengembalian tambahan atas keberanian investor
untuk masuk kedalam aset yang lebih beresiko seperti pasar saham disuatu negara tertentu. Tidak ada ketentuan pasti dalam
perhitungan ini, namun metode yang biasa digunakan adalah dengan mengurangkan rata-rata pertumbuhan IHSG dengan
tingkat bunga obligasi pemerintah. Atau bisa juga dengan langsung melihat tabel equity risk premium
(http://pages.stern.nyu.edu/~adamodar/New_Home_Page/datafile/ctryprem.html) [Cari negara Indonesia, dan cari angka Total
Equity Risk Premium].

Sebagai contoh, investor ingin mengetahui Cost of Equity jika ia berinvestasi di saham. Risk-free rate pada saat ini sebesar 8,62%
yang diambil dari tingkat suku bunga obligasi pemerintah tenor 5 tahun, dan menemukan angka sebesar 9,05% untuk Risk-
premiumnnya. Setelah menghitungtingkat korelasi saham dengan IHSG, investor menemukan hasil bahwa Beta saham INTP adalah
sebesar 1,08. Maka, Cost of Equity saham tersebut adalah:
Cost of Equity (Re) = 8,62% + 1.08*(9,05%)
= 18,39%
Dengan demikian, investor mengharapkan return investasi sebesar 18,39% setiap tahunnya ketika investor tersebut berinvestasi
pada saham tersebut.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


16

b. Cost of Debt
Cost of Debt dihitung berdasarkan pada rata-rata tertimbang bunga yang harus dibayar perusahaan atas hutang-hutangnya. Sebagai
contoh, misal sebuah perusahaan memiliki dua sumber hutang: 1. Bank KSPM, Nominal Rp 5.000.000, tingkat bunga 20%; dan 2.
Bank Wiratama, Nominal Rp 10.000.000, tingkat bunga 7,5%. Maka cost of debt-nya ialah:
Pemberi Kredit Nominal Porsi Suku Bunga Cost of Debt
Bank KSPM Rp 5.000.000 33,33% 20% 6,67%
Bank Wiratama Rp 10.000.000 66,67% 7,5% 5,00%
Total Rp 15.000.000 100% - 11,67%

c. Cost of Capital
Setelah mengetahui besaran cost of equity dan cost of debt, investor kemudian menghitung berapa besar biaya modal yang harus
diharapkan ketika membeli saham tersebut. Dalam menghitung cost of capital, investor mencari rata-rata tertimbang antara cost of
equity dan cost of capital. Sebgai contoh, perusahan yang sama, memiliki cost of equity sebesar 18,39% dan cost of debt sebesar
11,67% (seperti contoh diatas). Dalam laporan keuangan tahun terakhir, struktur modal perusahaan terdiri dari 60% modal (equity)
dan 40% hutang (debt). Dengan demikian, penentuan cost of capital dapat dicari seperti pada tabel dibawah ini.
Tipe Modal Nominal Porsi Rate Cost of Capital
Equity Rp 6.000.000 60% 18,39% 11,03%
Debt Rp 4.000.000 40% 11,67% 4,67%
Total Rp 10.000.000 100% - 15,70%

5. Perhitungan Harga Wajar Saham


Setelah kita mengetahui proyeksi Free Cash Flow dalam 5 tahun kedepan dan tingkat diskon yang dibutuhkan. Kita sudah dapat
menentukan harga wajar saham. Namun sebelum itu, kita harus menentukan terlebih dahulu yang dinamakan dengan Terminal Value. Setelah
kita memproyeksikan perusahaan selama 5 tahun kedepan, bukan berarti kita berasumsi perusahaan akan bangkrut setelahnya. Namun, kita
berasumsi bahwa perusahaan akan bertumbuh stabil dan memiliki tingkat pertumbuhan yang kurang atau maksimal sama dengan pertumbuhan
ekonomi nasional. Untuk itu, kita membutuhkan Terminal Value sebagai nilai proyeksi dari total Free Cash Flow yang bisa dihasilkan oleh
perusahaan pada masa stabil tersebut. Dalam menghitung Terminal Value, metode yang cukup sering digunakan adalah metode Gordon Growth
Model, dengan rumus sebagai berikut:
Cash Flow Tahun Terakhir x (1 + Pertumbuhan Stabil Perusahaan)
Terminal Value =
(WACC − Pertumbuhan Stabil Perusahaan)
Rp 27.875.557 x (1 + 5%)
Terminal Value =
(15,70% − 5%)
Terminal Value = Rp 273.545.188

Setelah kita mendapatkan nilai dari terminal value, investor sudah dapat mencari present value dari semua kas masa depan termasuk
nilai terminal value. Gunakan hasil WACC sebagai tingkat diskon-nya.
Tahun Free Cash Flow Tingkat Diskon Present Value
1 17.110.000 15.70% 14.788.245
2 19.847.600 15.70% 14.826.590
3 22.626.264 15.70% 14.608.740
4 25.341.416 15.70% 14.141.564
5 27.875.557 15.70% 13.444.875
Terminal Value 273.545.188 15.70% 131.935.688
Total (Enterprise Value) 203.745.702

Setelah kita mendapatkan hasil total dari semua kas masa depan atau yang biasa disebut dengan enterprise value. Kemudian kita
menambahkan hasil tersebut dengan total kas yang tersisa dan total hutang (debt) yang dimiliki perusahaan, Hal ini dikarenakan hutang (debt)
bukanlah milik investor saham, melainkan hak dari pemberi kredit. Oleh karena itu, hak dari pemilik saham adalah kas yang ada pada saat ini
dan kas yang tersedia pada masa yang akan datang. Misal pada contoh ini, total debt yang dimiliki perusahaan adalah sebesar Rp 15.000.000
(seperti pada contoh diatas), dan perusahaan memiliki total kas dan setara kas sebesar Rp 2.000.000, maka:
Fair Value = Enterprise Value + Kas – Total Debt
Fair Value = Rp 203.745.702 + Rp 2.000.000 – Rp 15.000.000
Fair Value = Rp 190.745.702
Hasil ini merupakan nilai wajar atau fair value dari keseluruhan perusahaan, Dikarenakan kita adalah investor saham, maka kita perlu mengetahui
seberapa besar nilai perusahaan yang ada pada tiap lembar sahamnya. Untuk itu kita perlu membagi hasil tersebut dengan jumlah saham yang
beredar saat ini. Misalkan saham beredar saat ini sebanyak 10.000 lembar, maka:

Fair Value per Share = Rp 190.745.702 / 10.000


Fair Value per Share = Rp 1907,45 (Pembulatan: Rp 1.910)

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


17

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa harga wajar saham pada saat ini adalah sebesar Rp 1.910 per lembar sahamnya. Selanjutnya investor
dapat membuat keputusan investasi apakah saham tersebut layak atau tidak dengan mebandingkan harga saham di pasar pada saat ini dengan
nilai wajarnya.
A. Pendahuluan

Uang tunai atau kas (cash) merupakan saldo sisa dari arus kas masuk dikurangi arus kas keluar yang berasal dari periode-periode lalu.
Arus kas bersih (net cash flows), mengacu pada arus kas masuk dikurangi arus kas keluar periode berjalan. Arus kas berbeda dengan kinerja
akrual. Ukuran arus kas mengakui arus masuk saat kas diterima walaupun belum dihasilkan dan mengakui arus keluar saat kas dibayarkan
walaupun beban belum terjadi.
Laporan arus kas melaporkan ukuran arus kas untuk tiga aktivitas utama dalam bisnis, yaitu operasi, investasi dan pendanaan. Secara
lebih umum, informasi arus kas membantu kita menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya, membayar dividen,
meningkatkan kapasitas dan mendapatkan pendanaan. Informasi kas juga membantu kita menilai kualitas laba dan ketergantungan laba pada
estimasi dan asumsi tentang arus kas dan relevansinya untuk laporan keuangan.

B. Laporan Arus Kas

Tujuan laporan arus kas adalah menyediakan informasi arus kas masuk dan arus kas keluar untuk satu periode. Laporan tersebut juga
membedakan sumber dan penggunaan arus kas dengan memisahkan arus kas dalam aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas
pendanaan.
a. Relevansi Kas

Kas merupakan aktiva yang paling likuid serta menawarkan likuiditas dan fleksibilitas bagi perusahaan. Kas merupakan awal
sekaligus akhir siklus operasi perusahaan. Aktivitas operasi perusahaan melibatkan konversi kas menjadi berbagai aktiva (seperti
persediaan) yang digunakan untuk menghasilkn piutang dari penjualan kredit. Siklus operasi menjadi lengkap saat kas kembali ke
perusahaan melalui proses penagihan, yang memungkinkan dimulainya siklus operasi baru.
Analisis arus kas masuk dan arus kas keluar perusahaan sumber operasi, investasi dan pendanaan merupakan salah satu
pekerjaan investigasi yang paling penting, analisis membantu kita menilai likuiditas, solvabilitas dan fleksibilitas. Likuiditas adalah kedekatan
aktiva dan kewajiban pada kas. Solvabilitas adalah kemampuan untuk membayar kewajiban pada saat jatuh tempo. Fleksibilitas keuangan
adalah kemampuan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap kesempatan dan kesulitan.
b. Pelaporan Berdasarkan Aktivitas

Laporan arus kas melaporkan penerimaan kas dan pembayaran kas berdasarkan aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas
pendanaan yang merupakan aktivitas utama dalam bisnis perusahaan.
Aktivitas operasi merupakan aktivitas perusahaan yang terkait dengan laba. Selain pendapatan dan beban yang disajikan dalam
laporan laba rugi, aktivitas operasi juga meliputi arus kas masuk dan arus kas keluar bersih yang berkaitan dengan kegiatan operasi tersebut.
Aktivitas investasi merupakan cara untuk memperoleh dan menghentikan aktiva nonkas (dan aktiva setara nonkas). Meliputi aktiva
yang diharapkan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan, serta pemberian pinjaman dan penagihan pokok pinjaman.
Aktivitas pendanaan merupakan cara untuk mendistribusikan, menarik, dan mendapatkan dana untuk mendukung aktivitas bisnis.
Meliputi mendapatkan pinjaman dari kreditor dan pembayaran pokok pinjaman, serta kontribusi dan penarikan oleh pemilik, serta
pengembalian atas investasi (dividen).

c. Menyusun Laporan Arus Kas

Ada dua metode dalam pelaporan arus kas dari operasi, yaitu metode tidak langsung dan metode langsung. Dalam metode tidak
langsung, laba bersih disesuaikan dengan pos penghasilan nonkas dengan akrual untuk menghasilkan arus kas dari operasi. Keunggulan
metode ini adalah adanya rekonsiliasi perbedaan antara laba bersih dan arus kas operasi yang membantu penguna laporan untuk
memprediksi arus kas melalui prediksi laba yang kemudian disesuaikan untuk jarak laba bersih dengan arus kas, yaitu menggunakan akrual
nonkas.
Arus kas yang disiapkan dengan metode langsung disediakan setelah itu sebagai perbandingan. Metode ini menyesuaikan tiap
pos laporan laba rugi untuk akrual terkait, sehingga menghasilkan format yang lebih baik untuk menilai jumlah arus kas masuk (keluar)
operasi.
a) Mempersiapkan Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan campuran antara laporan laba rugi dan neraca. Laba bersih mula-mula disesuaikan untuk
penghasilan dan beban nonkas untuk menghasilkan laba kas. Laba kas ini kemudian disesuaikan untuk kas yang dihasilkan dan
digunakan untuk transaksi neraca untuk menghasilkan arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


18

Titik awal laporan arus kas adalah laba bersih yang mula-mula disesuaikan untuk beban penyusutan dan amortisasi nonkas.
Arus kas keluar terjadi saat dibelinya aktiva berwujud dan aktiva tak berwujud. Proses penyusutan kemudian mengalokasikan biaya
perolehan tersebut selama masa manfaatnya untuk menandingkan atau mengaitkan beban terhadap pendapatan yang dihasilkan oleh
aktiva bersangkutan.
Karena laporan arus kas berfokus pada arus kas, beban nonkas yang diakui dalam perhitungan laba bersih tersebut harus
dihilangkan, yaitu dengan menambahkan kembali beban penyusutan dan amortisasi. Penambahan beban penyusutan dan amortisasi
tersebut tidak meningkatkan arus kas operasi, melainkan hanya menihilkan (menghapuskan) beban yang dikurangkan dalam
perhitungan laba bersih.
Cara yang sama juga digunakan untuk menyesuaikan laba bersih terhadap keuntungan (kerugian) penjualan aktiva. Namun
tujuan penyesuaian ini bukanlah untuk mengeliminasi keuntungan (kerugian) secara keseluruhan, melainkan memindahkannya dari
bagian operasi laporan arus kas. Arus masuk dari penjualan aktiva yang bersangkutan disajikan dalam arus kas bersih dari aktivitas
investasi. Penyesuaian terakhir adalah analisis kas yang dihasilkan dan digunakan oleh perubahan dalam aktiva lancar dan kewajiban
lancar.

C. Analisis Implikasi Arus Kas


a. Keterbatasan Pelaporan Arus Kas
Keterbatasan pelaporan arus kas, meliputi:
 Tidak diharuskannya pengungkapan terpisah untuk arus kas yang terkait dengan pos luar biasa atau operasi dalam penghentian.
 Bunga dan dividen yang diterima serta bunga yang dibayarkan dikelompokkan sebagai arus kas operasi.
 Pajak dikelompokkan sebagai arus kas operasi
 Pemindahan laba atau rugi penjualan aktiva tetap atau investasi sebelum pajak dan dari aktivitas operasi mendistorsi analisis atas
aktivitas operasi dan aktivitas investasi.

b. Interpretasi arus kas dan laba bersih

Fungsi laporan laba rugi adalah untuk mengukur profitabilitas perusahaan untuk suatu periode. Laporan laba rugi mencatat
pendapatan saat dihasilkan dan beban saat terjadi. Arus kas dari operasi merupakan pandangan yang lebih luas atas aktivitas operasi
dibandingkan dengan laba bersih. Arus kas meliputi seluruh aktivitas perusahan yang terkait dengan laba. Tidak hanya pendapatan dan
beban, tetapi kebutuhan kas operasi juga.
D. Analisis Arus Kas

Analisis harus menetapkan sumber dan penggunaan kas masa lalu. Analisis ukuran sama (common-size analysis) atas laporan arus
kas membantu penilaian ini.
a. Ukuran Arus Kas Alternatif

Akuntansi akrual memungkinkan alternatif perlakuan akuntansi yang beragam dan memungkinkan potensi manajemen laba.
Manfaat arus kas seringkali hilang karena penyalahgunaan. Ketidakpuasan manajemen atas laba yang dilaporkan kadang menyebabkan
anggapan bahwa arus kas adalah ukuran kinerja yang lebih baik. Hal ini sama saja dengan menganggap bahwa penyusutan (atau biaya
lainnya) tidak memerlukan penggunaan kas, yang sebenarnya tidak nyata.
b. Arus kas bebas

Turunan analitis laporan arus kas yang bermanfaat adalah perhitungan arus kas bebas (Free Cash Flow - FCF). Sebagaimana
ukuran analisis lainnya, komponen perhitungan juga harus diperhatikan. Arus kas bebas positif mencerminkan jumlah yang tersedia bagi
aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat
sekarang.
c. Arus Kas sebagai Validasi

Laporan arus kas berguna untuk memprediksi hasil operasi berdasarkan kapasitas produksi yang dimiliki dan direncanakan. Juga
digunakan untuk menilai kapasitas ekspansi perusahaan di masa depan, kebutuhan modalnya, dan sumber arus kas masuknya. Laporan
arus kas melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar, serta kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Laporan
arus kas juga menyediakan petunjuk penting tentang :
 Kelayakan pendanaan pengeluaran modal
 Sumber kas dalam pendanaan ekspansi
 Ketergantungan pada pendapatan eksternal
 Kebijakan dividen di masa depan
 Kemampuan untuk memenuhi persyaratan utang
 Fleksibitas keuangan untuk menghadapi kebutuhan dan kesempatan yang tidak diantisipasi
 Praktik keuangan oleh manajemen
 Kualitas laba rugi

E. Rasio Arus Kas


a. Rasio Arus Kas Khusus

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


19

1. Rasio Kecukupan Arus Kas

Rasio kecukupan arus kas merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas dari operasi yang cukup
untuk menutup pengeluaran modal, investasi dalam persediaan dan dividen tunai. Untuk menghilangkan pengaruh siklus dan pengaruh
acak lainnya, total tiga tahun biasanya digunakan untuk menghitung rasio ini. Rasio kecukupan arus kas dihitung:
Jumlah kas dari operasi selama tiga tahun
Jumlah pengeluaran modal + Penambahan persediaan + Dividen tunai selama tiga tahun

2. Rasio Reinvestasi Kas

Rasio reinvestasi kas adalah ukuran atas persentase investasi dalam aktiva yang mencerminkan kas operasi yang ditahan
dan diinvestasikan kembali dalam perusahaan untuk mengganti aktiva dan menumbuhkan operasi. Rasio dapat dihitung sebagai
berikut:
Arus kas operasi – Dividen
Aktiva kotor + Investasi + Aktiva lain + Modal kerja

Rasio ini memandingkan arus kas yang ditahan untuk melakukan investasi kembali dengan jumlah kotor dari aset tidak lancar
ditambah dengan modal kerja. Rasio ini berguna untuk menggantikan aset yang ada dan tersedia untuk ekspansi. Semakin tinggi rasio
ini menunjukkan kemampuan reinvestasi yang tinggi dari arus kas operasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio ini
dikatakan baik apabila berkisar dari 7% sampai 11%.

Non current asset (gross) diperoleh dari neraca dengan cara menjumlahkan semua aktiva tidak lancar termasuk akumulasi
penyusutan aktiva tetap. Sedangkan modal kerja merupakan selisih antara total aktiva lancar dengan total hutang lancar.

b. Rasio Arus Kas Lainnya

Analisis laporan arus kas menurut Plewa dan Friedlob terdiri atas rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan pengeluaran modal serta
rasio pengembalian kas, yang dijabarkan sebagai berikut :

1. Liquidity Ratios

Rasio ini memfokuskan pada kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek yang jatuh tempo dengan
menggunakan kas dari aktivitas operasi serta digunakan untuk menilai tingkat likuiditas suatu perusahaan. Analisis rasio likuiditas atas
arus kas terdiri dari :

a) Current Cash Debt Coverage

Adalah rasio dari arus kas hasil operasi terhadap hutang lancar rata-rata. Rasio ini menunjukkan berapa besar kas yang
dihasilkan dari aktifitas operasi dapat menutupi kewajiban lancar rata-rata.

Cash Flow From Operational Activities


Current Cash Debt Coverage =
Average Current Liabilities

Hutang lancar rata-rata diperoleh dengan cara menambah saldo awal dengan saldo hutang lancar, kemudian dibagi dengan
dua. Menurut penelitian-penelitian, rasio ini termasuk dalam kategori baik, apabila perusahaan menghasilkan nilai rasio diatas atau
sama dengan 40%.

b) Cash Dividend Coverage

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen dengan menggunakan arus kas dari operasi.

Operating Cash Flow Per Share


Cash Divident Coverage =
Dividend Per Share

Rasio ini dapat dimodifikasi untuk menunjukkan pembayaran dividen kepada semua pemegang saham atau hanya kepada
pemegang saham biasa. Apabila penutupan arus kas atas pembayaran dividen hanya kepada pemegang saham biasa, maka rasio
ini dapat dicari dengan mengurangkan dividen saham preferen dari arus kas operasi dibagi dengan dividen saham biasa.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


20

Semakin tinggi rasio ini,menunjukkan semakin likuid suatu perusahaan, akibatnya akan menarik investor untuk menanamkan
modalnya pada perusahaan.

2. Solvency Ratio

Analisis terhadap rasio solvabilitas pada analisis rasio arus kas bertujuan untuk menilai kecukupan arus kas untuk memenuhi
kewajiban jangka pebdek maupun jangka panjang. Analisis ini terdiri dari :

a) Cash Long – Term Debt Coverage

Rasio ini menunjukkan kecukupan arus kas yang diperoleh dari aktifitas operasi yang digunakan untuk membayar utang
perusahaan.

Cash Flow From Operational Activities


Cash Long-Term Debt Coverage =
Average Total Current Liabilities

Average total liabilities diperoleh dengan cara menambah saldo awal dengan saldo akhir total kewajiban, kemudian dibagi
dengan dua. Suatu bentuk alternatif dari rasio ini adalah dengan mengurangkan arus kas dari operasi dengan pembayaran dividen.
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin solvent suatu perusahaan. Dari kebanyakan literatur yang ada menyarankan bahwa
20% adalah ukuran yang memadai untuk rasio ini.

b) Cash Interest Coverage

Adalah rasio arus kas dari operasi ditambah dengan pembayaran bunga dan pajak terhadap pembayaran bunga aktual.
Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik.

Earning Before Interest and Taxes (EBIT)


Cash Interest Coverage =
Interest Expense

Beban bunga (interest paid) dan beban pajak pada laporan arus kas metode langsung dapat diperoleh langsung dari
aktifitas operasi. Sedangkan arus kas yang menggunakan metode tidak langsung, beban-beban ini dapat diperoleh dari ungkapan
tambahan yang menyertai laporan arus kas.

c) Capital Expenditure Ratio

Untuk menjadi sukses dan kompetitif, suatu perusahaan harus memenuhi semua kewajibannya. Sebagai tambahan,
perusahaan juga dapat mempertahankan aset modalnya serta pengeluaran pendanaan untuk meningkatkan dasar aset tersebut.
Untuk menentukan apakah perusahaan dapat menutupi pengeluaran-pengeluaran ini ada beberapa rasio yang dikembangkan, yaitu
:

1) Capital Acquisition Ratio

Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan dapat membayar pengeluaran modalnya dengan segera.

Cash Flow From Operation - dividends


Capital Acquisition Ratio =
Cash Paid for Acquisitions

Apabila rasio ini sama dengan 100% atau lebih, maka menunjukkan bahwa perusahaan kurang bersandar pada
pembiayaaan eksternal dan kontribusi pemilik untuk memindahkan dan menambahkan modal yang ada. Sebaliknya, apabila rasio
yang dihasilkan lebih kecil dari 100%, berarti perusahaan tidak mampu menutupi biaya pengeluaran modal dari aktifitas operasi.

2) Invesment / Cash Flow From Operating Plus Finance Ratio

Rasio ini menunjukkan bagaimana investasi dibiayai dengan membandingkan arus kas bersih dari aktifitas investasi dengan
arus kas bersih dari operasi dan pendanaan.

Cash Flow From Operating Activities


Current Cash Debt Coverage =
Net Cash Flow From Investing Activities

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


21

Dalam mengevaluasi rasio ini, semakin rendah nilai rasio berarti semakin rendah proporsi investasi dibiayai dari aktifitas
operasi dan pendanaan, hal ini menunjukkan tanda yang baik.

3) Operation / Invesment Ratio

Rasio ini mengukur potensial perusahaan dalam membiayai ekspansi dari dana yang dihasilkan secara internal. Semakin
tinggi rasio ini, berarti semakin kecil ketergantungan perusahaan pada pendanaan eksternal.

Cash Flow From Investing Activities


Investment / Cash From Operating Finance Ratio =
Cash Flow From Operating + Financing Activities

d) Cash Flow Return Ratios

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas pada saat sekarang maupun di masa depan. Rasio
ini terdiri dari :

1) Overall Cash Flow Ratio

Rasio ini digunakan untuk kemampuan menghasilkan kas dari aktifitas operasi yang dapat digunakan untuk aktifitas
pendanaan dan investasi.

Cash Flow From Operating Activities


Overall Cash Flow Ratio =
Cash Flow From Investing + Financing Activities

2) Cash Return On Sales Ratio

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk mengubah nilai penjualan atau pendapatan ke dalam kas, semakin
tinggi rasio ini semakin baik. Kadang kala rasio ini disebut juga sebagai Cash Rasio Margin.

Cash Flow From Operating Activities


Current Return On Sales Ratio =
Sales

3) Cash Flow To Net Income Ratio

Melalui rasio ini diketahui seberapa besar kas dari aktifitas operasi dibandingkan dengan laba bersih yang diperoleh.

Cash Flow From Operating Activities


Cash Flow to Net Income Ratio =
Net Income

4) Quality Of Sales Ratio

Rasio ini digunakan hanya apabila perusahaan menggunakan metode langsung dalam menyajikan laporan arus kasnya.
Melalui rasio ini dapat diketahui alasan perbedaan antara laba bersih dengan penerimaan dan pengeluaran kas. Pengukuran ini
sebagai dasar untuk mengevaluasi kualitas dari pendapatan perusahaan.

Cash Received From Cutomers


Quality Of Sales Ratio =
Sales

5) Quality Of Income Ratio

Apabila suatu perusahaan tidak menggunakan metode langsung dalam menyajikan laporan arus kasnya, maka kualitas
pendapatannya dapat dihitung dengan rasio ini. Melalui rasio ini dapat diketahui mengapa terdapat perbedaan antara laba
perusahaan yang berbasis akrual dengan arus kas dari operasi.

Cash Flow From Operating Activities


Quality of Income Ratio =
Operating Income

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


22

6) Cash Return On Assets Ratio

Rasio ini digunakan sebagai pembanding dengan rata-rata industri dan dengan rasio ini periode sebelumnya untuk menilai
tingkat efisiensi dalam penggunaan aktiva perusahaan.

Cash Return On Assets Ratio = Arus Kas operasi + Pajak + Bunga Total asset

7) Cash Return On Stockholder’s Equity Ratio

Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan mampu menghasilkan pengembalian kas yang cukup bagi para pemegang
saham. Rasio ini dihitung sebagai berikut :

Cash Return On Stockholder’s Equity Ratio = Arus kas operasi + Deviden Total Modal Keseluruhan

8) Cash Flow Per Share

Arus kas per lembar saham dihitung dengan cara membagi arus kas dari aktifitas operasi yang tersedia dengan jumlah
rata-rata jumlah lembar saham yang beredar selama periode tersebut. Apabila terdapat prefferen deviden, jumlah ini harus
dikurangkan dari arus kas operasi untuk menunjukkan arus kas dari aktifitas operasi yang tersedia dari saham biasa.

Operating Cash Flow – Preffered Dividends


Cash Flow Per Share =
Common Shares Outstanding

Rasio ini berguna untuk menelusuri perubahan arus kas sepanjang waktu yang menunjukkan tingkat profitabilitas serta
prospek pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang. Rasio hanya akan meberikan informasi yang berguna apabila
diperbandingkan dengan rasio industri atau rasio tahun sebelumnya.

CHAPTER 8
PENGEMBALIAN ATAS INVESTASI MODAL DAN ANALISIS PROFITABILITAS

PENTINGNYA PENGEMBALIAN ATAS INVESTASI MODAL


Kinerja perusahaan dapat dianalisis dengan berbagai cara. Pertumbuhan pendapatan, laba bersih, dan asset merupakan ukuran kinerja
yang biasa digunakan. Namun tidak satupun dari ukuran-ukuran ini yang dapat digunakan secara terpisah sebagai ukuran kinerja perusahaan
yang komprehensif.
Hubungan antara laba dengan investasi modal, yang disebut pengembalian atas investasi modal (return on invested capital – ROIC) atau
pengembalian atas investasi (return on investment – ROI) mungkin merupaan ukuran kinerja perusahaan yang dikenal luas. Ukuran ini dapat:
 Membandingkan keberhasilan perusahaan atas pengelolaan investasi modal.
 Memungkinkan kita menilai pengembalian perusahaan relatif terhadap resiko investasi modal.
 Membandingkan pengembalian atas investasi modal dengan pengemballian investasi alternative.
Pengembalian atas investasi modal digunakan dalam berbagai area dalam analisis, termasuk:
1. Mengukur Efektivitas Manajerial.
2. Mengukur Profitabilitas.
3. Ukuran untuk Perencanaan dan Pengendalian.

KOMPONEN PENGEMBALIAN ATAS INVESTASI MODAL


Pengembalian atas investasi modal (return on invested capital) dihitung sebagai berikut:
Laba
Investasi Modal
a. Aset Operasi Bersih
Banyak analis memisahkan neraca dan laporan laba rugi menjadi komponen operasi dan non operasi dan menghitung pengembalian
asset operasi bersih (return on net operating assets – RNOA ) sebagai ringkasan ukuran kinerja. Aktivitas operasi merupakan aktivitas inti
perusahaan. Aktivitas ini meliputi seluruh aktivitas yang dibutuhkan untuk membawa produk atau jasa perusahaan ke pasar, serta melayani

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


23

kebutuhan para pelanggan. Dalam laporan laba rugi, aktivitas operasi biasanya meliputi penjualan, harga pokok penjualan, dan beban penjualan
umum serta administrasi. Di neraca aktivitas operasi diwakili oleh asset dan kewajiban yang berhubungan dengan akun-akun laporan laba rugi
di atas, seperti piutang usaha, persediaan, asset tetap, utang usaha dan beban yang masih harus dibayar. Lebih spesifik lagi.

b. Modal Ekuitas Biasa


Pengembalian ekuitas biasa (return on common equity – ROCE) dinyatakan sebagai laba bersih dikurangi deviden saham preferen
dibagi rata-rata ekuitas biasa. Equitas biasa dapat juga dinyatakan sebagai total asset dikurangi utang dan saham preferen.

c. Menghitung Investasi Modal Suatu Periode


Investasi modal untuk suatu periode umumnya dihitung menggunakan rata-rata modal yang tersedia bagi perusahaan selama periode
tersebut. Metode yang paling umum digunakan adalah menambah saldo awal dan akhir tahun investasi modal lalu dibagi dua. Metode yang lebih
akurat adalah dengan merata-ratakan jumlah interim – misalnya, menambahkan jumlah investasi modal tiap akhir kuartal dan membaginya
dengan empat.

Penyesuaian atas Investasi Modal dan Laba


Analisis pengembalian atas investasi modal menggunakan angka laporan keuangan sebagai titik awal. Beberapa angka yang tidak
dilaporkan di dalam laporan keuangan juga perlu diperhitungkan. Beberapa penyesuaian seperti yang berhubungan dengan persediaan,
mempengaruhi pembilang maupun penyebut pengembalian investasi modal, sehingga mengurangi pengaruhnya.

Menghitung Pengembalian Investasi Modal


a. Pengembalian atas Aset Operasi Bersih
Laba operasi bersih setelah pajak (Net operating profit after tax - NOPAT)
RNOA =
Rata-rata aset operasi bersih (Average net operating assets - NOA)

Aset dan kewajiban operasi adalah pos yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha perusahaan, dan meliputi kas, piutang usaha,
persediaan, beban dibayar dimuka, asset pajak tangguhan, asset tetap, dan investasi jangka panjang yang terkait dengan akuisisi strategis.
Kewajiban operasi bersih adalah utang usaha dan beban yang masih harus dibayar serta kewajiban operasi jangka panjang dan kewajiban pajak
tangguhan. Aset non operasi meliputi investasi dalam efek yang dapat diperdagangkan investasi non strategis, dan investasi dalam operasi yang
dihentikan sebelum di jual.
NFO = Kewajiban non operasi – asset non operasi

b. Pengembalian atas Equitas Pemegang Saham Biasa


Pengembalian atas ekuitas biasa dihitung sebagai berikut:
Laba bersih - Deviden saham preferen
Rata-rata ekuitas pemegang saham biasa

ROCE terdiri dari dua komponen, yaitu pengembalian operasi dan pengembalian non operasi.

MENGANALISIS PENGEMBALIAN ATAS ASET OPERASI BERSIH


Pengembalian investasi modal berguna dalam evaluasi manajemen, analisis profitabilitas, serta perencanaan dan pengendalian.
Penggunaan pengembalian atas investasi modal untuk tugas-tugas di atas menuntut pemahaman menyeluruh atas pengukuran pengembalian
ini. Ini karena pengukuran pengembalian mengandung komponen yang berpotensi untuk menyumbangkan pemahaman atas kinerja perusahaan.
Bagian ini akan membahas pengembalian tersebut ketika investasi modal dilihat dari sudut pandang operasi, biasanya disebut sebagai
pengembalian atas asset operasi bersih (RNOA).

Pemisahan Pengembalian atas Aset Operasi Bersih

Kita dapat memisahkan pengembalian ini menjadi komponen yang bermakna secara relative terhadap penjualan. Pemisahan pengembalian atas
asset operasi bersih adalah:

RNOA = margin laba operasi bersih x Perputaran asset operasi bersih

Margin NOPAT dan perputaran NOA merupakan pengukuran yang bermanfaat dan menuntut analisis mendapatkan pemahaman atas
profitabilitas suatu perusahaan.

Figure 8.3 Pemisahan Pengembalian atas Aset Operasi Bersih


Tingkat analisis yang pertama berfokus pada interaksi antara margin NOPAT dengan perputaran NOA. Tingkat analisis yang kedua menyoroti
faktor-faktor penting lain yang menentukan margin laba dan asset.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


24

Dampak Leverage Operasi


Dampak kewajiban operasi terlihat dalam alternative persamaan RNOA berikut ini:

(1+OLLEV)

Dimana OA adalah asset operasi kotor dan OLLEV (kewajiban rata-rata/Rata-rata NOA) adalah rasio leverage kewajiban operasi. Karena OLLEV
memiliki nilai positif, kenaikan OLLEV akan meningkatkan RNOA.

Hubungan antara Margin Laba dan Perputaran Aset


Hubungan antar margin NOPAT dan perputaran NOA diilustrasikan pada Figure 8.4
Margin laba merupakan fungsi dari penjualan (harga jualxunit terjual) dan beban operasi. Perputaran juga merupakan fungsi dari penjualan
(penjualan/asset). Akibatnya, meningkatkan margin laba dengan menaikkan harga jual akan berdampak pada unit terjual. Pengurangan beban
operasi yang berkaitan dengan pemasaran sebagai usaha meningkatkan profitabilitas juga biasanya berdampak pada permintaan untuk
meningkatkan profitabilitas juga biasanya akan berdampak pada permintaan atas produk. Harga jual, pemasaran, litbang, produksi, dan sejumlah
area usaha lain harus dikelola secara efektif untuk memaksimalkan RNOA.

a. Pemisahan Margin Laba


Margin Laba operasi (OPM) didefenisikan sebagai :

Margin laba operasi merupakan fungsi dari harga jual per unit produk produk atau jasa dibandingkan dengan biaya per unit yang dikeluarkan
untuk membawa produk atau jasa tersebut ke pasar dan memenuhi kebutuhan pelanggan setelah penjualan. Untuk tujuan analisis, margin laba
sebelum pajak dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen:
PM sebelum pajak = PM penjualan sebelum pajak + PM sebelum pajak lainnya.
PM penjualan sebelum pajak = (margin kotor÷penjualan) – (beban penjualan÷penjualan) – (beban administrasi÷penjualan) –
(litbang÷penjualan).
PM sebelum pajak lainnya = (laba ekuitas÷penjualan)

Beberapa hal penting dalam analisa profitabilitas:


1. Laba Kotor (Gross Profit)
Laba Kotor diukur dari pendapatan dikurangi harga pokok penjualan, dan sering dilaporkan dalam bentuk persentase yang dihitung dari
laba kotor dibagi dengan penjualan. Laba kotor harus cukup besar untuk mendanai pengeuaran bersifat diskresi penting yang berorientasi
pada masa depan seperti penelitian dan pengembangan, pemasaran, serta iklan.
Analisa terhadap perubahan penjualan dan harga pokok penjualan akan berguna dalam mengidentifikasi pendorong utama laba kotor.
Perubahan laba kotor sendiri sering kali terjadi akibat salah satu atau kombinasi dari perubahan berikut :
a. Kenaikan (penurunan) volume penjualan
b. Kenaikan (penurunan) harga jual unit
c. Kenaikan (penurunan) biaya per unit

2. Beban Penjualan (Selling expenses)


Pentingnya hubungan antara beban penjualana dan pendapatan bervariasi untuk tiap industry dan perusahaan. Di beberapa
perusahaan tertentu, beban penjualan terutama komisi yang sangat bersifat variable, sementara di perusahaan lain sebagian besar bersifat
tetap.
Ketika beban penjualan sebagai persentase dari pendapatan menunjukkan adanya kenaikan, yang perlu menjadi perhatian adalah kenaikan
beban penjualan yang menghasilkan kenaikan pendapatan. Beberapa beban promosi penjualan tertentu khususnya periklanan, menghasilkan
manfaat sekarang dan masa depan. Mengukur manfaat masa depan yang diberikan oleh beban ini memang cukup sulit. Selain memengaruih
penjualan masa depan, pengeluaran ini juga memberikan pandangan tentang kecenderungan manajemen untuk mengelolah laba yang
dilaporkan.
3. Beban Umum dan Administrasi (General and Administrative Expenses)
Sebagian besar beban umum dan administrasi bersifat tetap, kebanyakan karena beban ini meliputi pos-pos seperti gaji dan sewa.

b. Pemisahan Perputaran Aset


Ukuran standar perputaran asset untuk menentukan pengembalian atas asset adalah :

Perubahan komponen pada tingkat perputaran setiap asset dapat berguna dalam analisis suatu perusahaan. Bagian berikut akan membahas
perputaran asset untuk komponen akun asset dan akun kewajiban. Ukuran utilitas asset yang paling relevan adalah penjualan karena penjualan

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


25

pada dasarnya adalah laba. Umumnya tingkat perputaran mencerminkan produktivitas relative tiap asset, atau tingkat volume penjualan yang
kita peroleh dari setiap nilai yang diinvestasikan dalam satu asset tertentu. Namun bukan berarti tingkat perputaran asset yang lebih tinggi lebih
baik daripada yang rendah. Memang kita dapat meningkatkan tingkat perputaran dengan menurunkan investasi dalam asset tetapi hal tersebut
bisa saja menjadi kontraproduktif. Contoh ; Kita membutuhkan tingkat persediaan tertentu untuk mendukung tingkat penjualan saat ini. Jika tingkat
ini mengalami penurunan, kita menghadapi resiko kehabisan barang dan kehilangan penjualan. Jadi, investasi dalam asset harus dioptimalkan
dan tidak selalu harus diminimalkan.

1. Perputaran Piutang Usaha


Tingkat perputaran piutang usaha didefenisikan sebagai berikut :

Piutang merupakan asset yang harus didanai oleh biaya modal. Selain itu piutang memiliki resiko penagihan dan membutuhkan overhead
tambahan dalam bentuk bagian kredit dan penagihan. Dari sudut pandang ini, mengurangi tingkat piutang akan mengurangi biaya tersebut. Akan
tetapi, jika kita mengurangi terlalu banyak melalui kebijakan kredit yang terlalu ketat dampaknya akan merugikan penjualan. Oleh karena itu
piutang harus bisa dikelolah secara efektif.
Pandangan alternative dari perputaran piutang usaha adalah periode penagihan rata-rata yang dihitung dari :

Periode Penagihan piutang =


Ukuran ini mencerminkan lamanya piutang usaha belum tertagih secara rata-rata.

2. Perputaran Persediaan
Tingkat perputaran persediaan dapat dihitung sebagai berikut :

Rasio ini menggunakan HPP sebagai ukuran volume penjualan karena penyebutnya, persediaan dilaporkan berdasarkan harga perolehan bukan
harga pasar. Penurunan rasio perputaran persediaan sering kali mengindikasikan bahwa produk perusahaan tidak kompetitif, mungkin karena
ketinggalan zaman atau teknologi. Perusahaan menginginkan persediaan dalam jumlah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pelanggan tanpa
kehabisan persediaan dan tidak lebih pula. Seperti periode penagihan rata-rata, pandangan alternative tingkat perputaran persediaan adalah :
Rata-rata jumlah hari dalam persediaan = Persediaan ÷ Rata-rata hari harga pokok
penjualan
Rata-rata jumlah hari dalam persediaan memberikan indikasi tentang rentang waktu persediaan tersedia untuk dijual. Untuk mencapai jumlah
hari rata-rata dalam persediaan sesedikit mungkin, kita dapat meminimalkan bahan baku melalui teknik manajemen produksi, seperti pengiriman
just-in-time, atau pengurangan persediaan dalam proses melalui penggunaan proses produksi secara efisien yang menghilangkan bottleneck.
Selain itu, perusahaan ingin meminimalkan persediaan barang jadi dengan sebisa mungkin melakukan produksi berdasarkan pesanan bukan
perkiraan permintaan. Alat manajemen ini akan meningkatkan perputaran persediaan dan mengurangi jumlah rata-rata dalam persediaan.

3. Perputaran Aset Operasi jangka Panjang


Perputaran asset operasi jangka panjang dihitung sebagai berikut:

Industri padar modal seperti perusahaan manufaktur membutuhkan investasi besar dalam asset jangka panjang. Oleh karena itu,
perusahaan ini memiliki perputaran asset operasi jangka panjang yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang tidak padat modal seperti
perusahaan jasa.
Tingkat perputaran asset operasi jangka panjang dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pembilang melalui kenaikan produksi (penjualan) atau
dengan mengurangi penyebut.

4. Perputaran Utang Usaha


Aset operasi lancar seperti persediaan sebagian besar didanai oleh utang usaha. Utang ini biasanya mewakili pendanaan bebas bunga sehingga
lebih murah daripada menggunakan uang yang dipinjam untuk mendanai pembelian persediaan atau produksi. Tingkat perputaran utang usaha
dihitung sebagai berikut :

Karena dirasa lebih murah, perusahaan lebih memilih untuk memanfaatkan sumber pendanaan murah ini sebanyak mungkin sehingga memiliki
tingkat perputaran utang usaha yang rendah (artinya tingkat utang yang tinggi). Menurunkan tingkat perputaran utang usaha dapat dicapai dengan
menunda pembayaran kepada pemasok, di mana penudaan pembayaran ini dapat mengganggu hubungan dengan pemasok jika digunakan
secara berlebihan. Oleh karena itu, utang harus dikelola secara cermat.

5. Perputaran Modal Kerja Operasi Bersih


Modal Kerja operasi bersih sama dengan asset operasi lancar dikurangi kewajiban operasi lancar. Tingkat perputaran modal kerja operasi dihitung
sebagai berikut :

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


26

Perusahaan umumnya menginginkan tingkat perputaran modal kerja operasi bersih yang lebih tinggi daripada lebih rendah, karena perputaran
modal kerja operasi yang lebih tinggi mencerminkan investasi dalam modal kerja yang lebih kecil untuk setiap penjualan.

MENGANALISIS PENGEMBALIAN ATAS EKUITAS BIASA


Kreditor biasanya menerima pengembalian dalam jumlah tetap atas pendanaannya, begitu pula pemegang saham preferen yang
menerima dividen tetap. Namun pemegang saham biasa tidak menerima pengembalian tetap, melainkan memiliki klaim atas laba residu suatu
perusahaan hanya setelah seluruh pendanaan lainnya lunas. Oleh karena itu, pengembalian atas ekuitas saham biasa (return on common
shareholder’s equity/ROCE) sangat penting artinya bagi pemegang saham biasa. ROCE memegang peranan penting dalam penilaian ekuitas
seperti yang digambarkan dalam rumus berikut:

Dimana V adalah nilai perusahaan, BV adalah nilai buku ekuitas pemegang saham, k adalah pengembalian yang diharapkan. Jadi, jika ROCE
lebih tinggi dari k maka nilainya meningkat sebesar kelebihan dari yang ditunjukkan oleh nilai bukunya.

Pemisahan Pengembalian Atas Ekuitas Biasa


Dalam praktiknya, penghitungan ROCE memakai saldo rata-rata selama periode yang dianalisis. Seperti pengembalian atas asset
operasi bersih, untuk tujuan analisis ROCE dipisah menjadi beberapa komponen. Penghitungan ROCE:

ROCE = RNOA + (LEV x Spread)

Keterangan:
RNOA : pengembalian atas asset operasi bersih
LEV (leverage keuangan) : rata-rata NFO/rata-rata ekuitas
NFO (kewajiban keuangan bersih) : RNOA - ekuitas
Spread : RNOA - NFR
NFR (tingkat keuangan bersih) : NFE/ rata-rata NFO (nilainya bisa positif/negatif)
NFE (beban keuangan bersih) : beban bunga dikurangi pengembalian investasi untuk asset non-operasi (nilainya bisa positif/negatif)
 Leverage keuangan akan menaikkan ROE sepanjang spread positif
Dengan kata lain, jika perusahaan mendapatkan pengembalian atas asset operasi yang lebih tinggi daripada biaya utang yang mendanai asset
tersebut, kelebihan pengembaliannya akan memberikan keuntungan bagi pemegang saham.
Pembedaan ROCE menjadi komponen operasi (RNOA) dan non-operasi (LEV x spread) penting karena:
 Banyaknya perusahaan yang memberikan barang dan jasa sebagai usaha utamanya
 Aktivitas operasi berdampak jangka panjang dan paling nyata pada nilai perusahaan
 Meskipun kenaikan ROE dapat diperoleh melalui penggunaan leverage keuangan secara bijaksana, pembayaran utang (pokok dan
bunga) adalah kewajiban kontraktual yang harus dipenuhi.

Spread merupakan fungsi dari tingkat bunga atas utang dan pengembalian investasi yang dapat dilihat secara terpisah sebagai berikut:
NFE/NFO = (tingkat bunga x FL/NFO) – (pengembalian atas asset keuangan x FA/NFO)
Dimana FL adalah kewajiban keuangan dan FA adalah asset keuangan. Kebanyakan perusahaan meminjam dengan tingkat bunga tetap
sehingga NFE kemungkinan tetap, namun bagian pengembalian investasi kemungkinan berfluktuasi sesuai pergerakan pasar modal.

Menghitung Pengembalian Atas Investasi Modal


 Analisa Laporan Keuangan Campbell Soup Company (halaman 466-468)
 Yang perlu diperhatikan:
1. Jika ROCE turun, perlu diidentifikasi komponen yang menyebabkannya agar dapat menilai kinerja perusahaan di masa lalu dan masa depan
dengan lebih baik.
2. Menilai area dengan potensi perbaikan ROCE tebesar dan kemungkinan perusahaan dapat melakukan strategi itu dengan sukses.
3. Analisis strategi perusahaan dan dan potensi perbaikan tergantung pada kondisi industry dan perekonomian.

Menilai Pertumbuhan Ekuitas Biasa


a. Tingkat Pertumbuhan Ekuitas
Tingkat pertumbuhan ekuitas biasa dapat dinilai melalui retensi laba yang menekankan pertumbuhan ekuitas tanpa pendanaan
eksternal. Dengan asumsi retensi laba dan pembayaran dividen yang konstan dari waktu ke waktu, tingkat pertumbuhan ekuitas =

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan


27

b. Tingkat Pertumbuhan Ekuitas Yang Dapat Dipertahankan


Tingkat pertumbuhan ekuitas yang dapat dipertahankan (sustainable equity growth rate) mengakui bahwa pertumbuhan internal
perusahaan tergantung retensi laba dan pengembalian yang diperoleh dari laba yang ditahan.

tingkat pertumbuhan ekuitas yang dapat dipertahankan = ROCE x (1-tingkat pembayaran)

Untuk mengestimasi tingkat pertumbuhan ekuitas masa depan, sebaiknya merata-ratakan/mengakui tingkat pertumbuhan yang dapat
dipertahankan selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, perlu mengakui potensi perubahan retensi laba dan ramalan ROCE.

RESA ARIYANTO | Analisis Laporan Keuangan

Anda mungkin juga menyukai