Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“Program Pencegahan dan Pendidikan IMS”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penanggulangan Penyakit Menular

dan HIV AIDS

Dosen pengampu : DR. Nina M, S.Pd., M.Kes

Disusun oleh:

Tingkat II Keperawatan

1. FITRIYANA (P07220116096)

2. HANIFAH TRI LESTARI (P07220116097)

3. HELDA WURI CHANDRA NINGTIAS (P07220116098)

4. HERNITA AJENG CAHYARINI (P07220116099)

5. MANDA PINGKI HALENIA (P07220116100)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“Program Pencegahan dan Pendidikan IMS” Meskipun masih banyak kekurangan
didalamnya.

Dan juga berterima kasih atas beberapa pihak yang telah membantu dan memberi
tugas ini kepada kami. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai beberapa hal yang bersangkutan
dengan materi tersebut. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya
kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Balikpapan, 13 Februari 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 1

C. Tujuan ................................................................................................................. 2

BAB II. PEMBAHASAN 3

A. Pengertian IMS ................................................................................................... 3

B. Penanganan Kasus Infeksi Menular Seksual ...................................................... 3

C. Komunikasi, Informasi, Edukasi pada pasien IMS ............................................ 4

D. Peran Kesmas Dalam Penanganan IMS ............................................................. 6

E. Evaluasi IMS Pada Anak dan Remaja ................................................................ 7

BAB III. PENUTUP 11

A. Kesimpulan ....................................................................................................... 11

B. Saran………………………………………………………………………….....11

DAFTAR PUSTAKA 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit kelamin (veneral disease) sudah lama dikenal di Indonesia.
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan istilah tersebut sudah tidak
digunakan lagi dan dirubah menjadi Sexually Transmitted Disease (STD) atau
Penyakit Menular Seks (PMS). Sejak tahun 1998, istilah STD berubah menjadi
Sexually Transmitted Infection (STI) agar dapat menjangkau penderita
asimptomatik (Daili et al, 2011). Infeksi Menular seksual adalah infeksi yang
ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui hubungan seksual (Gross &
Tyring, 2011). Meskipun demikian tidak berarti bahwa semuanya harus melalui
hubungan kelamin, tetapi beberapa ada juga yang ditularkan melalui kontak
langsung dengan alat-alat, handuk, thermometer dan sebagainya. selain itu
penyakit ini juga dapat ditularkan kepada bayi dalam kandungan
(Djuanda,2011).
Remaja dan dewasa muda usia 15 – 24 tahun hanya merupakan 25% dari
keseluruhan populasi yang aktif berhubungan seksual namun mewakili hampir
50% kasus baru IMS. Wanita usia muda paling beresiko tertular PMS karena
para wanita remaja dan dewasa muda lebih mudah terpengaruh secara tidak
proporsional.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penanganan kasus IMS ?
2. Bagaimana komunikasi, informasi, edukasi pada pasien IMS ?
3. Apa peran kesmas dalam penanganan kasus IMS ?
4. Bagaimana evaluasi IMS pada anak dan remaja ?

1
C. Tujuan
Tujuan penulisan dalam penyusunan makalah ini :
1. Untuk mengetahui penanganan kasus IMS.
2. Untuk mengetahui komunikasi, informasi, edukasi pada pasien IMS.
3. Untuk mengetahui peran kesmas dalam penanganan kasus IMS.
4. Untuk mengetahui evaluasi IMS pada anak dan remaja.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian IMS

IMS atau Infeksi Menular Seksual adalah suatu gangguan atau penyakit
yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak hubungan seksual.
IMS yang sering terjadi adalah Gonorhoe, Sifilis, Herpes, namun yang paling
terbesar diantaranya adalah AIDS, karena mengakibatkan sepenuhnya pada
kematian pada penderitanya.
Menurut Aprilianingrum (2002), Infeksi Menular Seksual (IMS)
didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi organisme
virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui
hubungan seksual, baik yang berlainan jenis maupun bersamaan jenis.

B. Penanganan Kasus Infeksi Menular Seksual

1. Cara pencegahan
a. A - Abstince
Abstince yaitu menghindari hubungan seksual dengan pasangan yang
terkena penyakit menular seksual.disarankan tidak melakukan hubungan
seks dengan pasangan yang sedang menjalani penyembuhan penyakit
menular seksual.
b. B- Be faithful
yaitu setialah pada pasangannya bagi yang sudah menikah.
c. C- Condom
Selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan IMS.
d. D- Don’t Inject
Jangan menggunakan jarum suntik yang tidak steril.
e. Selalu menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin.

3
2. Penatalaksanan
Menurut WHO (2003), penanganan infeksi menular seksual terdiri dari
dua cara, bias dengan penanganan berdasarkan kasus (case management)
ataupun penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management).
Penanganan berdasarkan kasus yang efektif tidak hanya berupa pemberian
terapi antimikroba untuk menyembuhkan dan mengurangi infektifitas
mikroba, tetapi juga diberikan perawatan kesehatan reproduksi yang
komprehensif. Sedangkan penanganan berdasarkan sindrom didasarkan pada
identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang konsisten, dan
penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yang menimbulkan sindrom.
Penanganan infeksi menular seksual yang ideal adalah penanganan
berdasarkan mikroorganisme penyebabnya. Namun dalam kenyataannya
penderita infeksi menular seksual selalu diberi pengobatan secara empiris
(Murtiastutik, 2008).
Antibiotika untuk pengobatan IMS adalah :
1. Pengobatan gonore : penisilin, ampisilin, anoksisilin, seftriakson,
spektinomisin, kuinolon, tiamfenikol, dan kanamisin (Daili, 2007)
2. Pengobatan sifilis : penisilin, sefalosporin, termasuk sefaloridin,
tetrasiklin, eriromisisn, dan kloramfenikol (Hutapea, 2001).
3. Pengobatan herpes genital : asiklovir, famsiklovir, valasiklovir (Wells et
al, 2003)
4. Pengobatan kalmidia : azithromisin, doksisiklin, eritromisin (Wells et al,
2003)
5. Pengobatan trikomoniasis : metronidazole (Welss et al, 2003).

C. Komunikasi, Informasi, Edukasi pada pasien IMS

1. Pengertian
Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) adalah suatu proses
penyampaian dan penerimaan pesan dalam upaya meningkatkan dan
mengembangkan pemahaman, pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang,

4
kelompok dan atau masyarakat, sehingga mampu mengatasi permasalahan
yang sedang dihadapi. Dengan demikian melalui KIE HIV/AIDS ini
diharapkan setiap orang mampu menemukan solusi yang tepat dalam
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan HIV/AIDS.

2. Tujuan
a. Umum
Secara umum KIE HIV/AIDS ini bertujuan agar petugas sosial dan
masyarakat memahami dan dapat melaksanakan KIE secara efektif,
sehingga pada akhirnya mereka mampu mencegah diri, keluarga dan
lingkungan dari penyebaran dan atau penularan HIV/AIDS.
b. Khusus
1) Pelaksana KIE memiliki panduan dalam melaksanakan KIE
HIV/AIDS kepada kelompok sasaran.
2) Pelaksana KIE memahami ruang lingkup dan sasaran KIE di wilayah
kerjanya.
3) Pelaksana KIE memahami langkah-langkah pelaksanaan KIE
HIV/AIDS di masyarakat
4) Berkembangnya sikap menerima dan kepedulian masyarakat dalam
membantu Odha dan keluarganya serta bersedia untuk berpartisipasi
dalam upaya pencegahan penyebaran HIV.

3. Materi atau Isi Pesan KIE IMS


Beberapa pesan KIE IMS yang perlu disampaikan :
a. Mengobati diri sendiri cukup berbahaya.
b. IMS umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.
c. IMS adalah ko-faktor atau factor risiko dalam penularan HIV.
d. IMS harus diobati secara paripurna dan tuntas
e. Kondom dapat melindungi diri dari infeksi IMS dan HIV.
f. Tidak dikenal adanya pencegahan primer terhadap IMS dengan obat.
g. Komplikasi IMS dapat membahayakan pasien.

5
D. Peran Kesmas Dalam Penanganan IMS

Upaya pencegahan dan perawatan IMS yang efektif dapat dicapai dengan
melaksanakan “paket kesehatan masyarakat”. Komponen pokok paket ini
berupa:
1. Promosi perilaku seksual yang aman.
2. Memprogamkan peningkatan penggunaan kondom, yang meliputi berbagai
aktifitas mulai dari promosi penggunaan kondom sampai melakukan
perencanaan dan manajemen pendistribusian kondom.
3. Peningkatan perilaku upaya mencari pengobatan.
4. Pengintegasian upaya pencegahan dan perawatan IMS ke dalam upaya
pelayanan kesehatan dasar, upaya kesehatan reproduksi, klinik pribadi/ swasta
serta upaya kesehatan terkait lainnya.
5. Pelayanan khusus terhadap kelompok populasi berisiko tinggi, seperti
misalnya para wanita dan pria penjaja seks, remaja, pengemudi truk jarak
jauh, anggota militer termasuk anggota kepolisian, serta para narapidana.
6. Penatalaksanaan kasus IMS secara paripurna.
7. Pencegahan dan perawatan sifilis kongenital dan konjungtivitis neonatorum.
8. Deteksi dini terhadap infeksi yang bersifat simtomatik maupun yang
asimtomatik.
Salah satu komponen penting dari paket kesehatan masyarakat ini adalah
penatalaksanaan kasus IMS secara paripurna, meliputi:
1. Identifikasi sindrom: Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan diagnosis
secara sindrom atau dengan bantuan laboratorium.
2. Edukasi pasien: kepada pasien dijelaskan tentang riwayat alamiah dari
infeksi yang dialaminya, serta pentingnya melaksanakan pengobatan secara
tuntas, serta hal-hal penting lainnya.
3. Pengobatan antibiotik terhadap sindrom: Cara apapun yang digunakan
untuk menegakkan diagnosis, baik dengan menggunakan bagan alur
maupun dengan bantuan laboratorium, secara mutlak diperlukan
ketersediaan antibiotik yang efektif. Obat yang diperlukan perlu disediakan
pada saat petugas kesehatan pertama kalinya kontak dengan pasien IMS.

6
Cara pengobatan yang efektif ini juga perlu disiapkan dan dilaksanakan
pada semua klinik swasta/ pribadi.
4. Penyediaan kondom: Dengan mendorong seseorang untuk menggunakan
kondom, maka Kepala Dinas Kesehatan perlu memberikan jaminan bahwa
kondom tersedia dalam jumlah yang cukup, berkualitas, dan dengan harga
yang terjangkau pada semua fasilitas kesehatan serta berbagai titik
pendistribusian lainnya. Pemasaran Sosial (Social marketing) kondom
adalah cara lain untuk meningkatkan jangkauan terhadap penjualan
kondom.
5. Konseling: Fasilitas konseling disiapkan agar dapat dimanfaatkan oleh
siapa saja yang membutuhkannya; misalnya pada kasus herpes genitalis
kronis atau kutil pada alat genital, baik untuk perorangan maupun untuk
mitra seksualnya.
6. Pemberitahuan dan pengobatan pasangan seksual: Penting bagi setiap
program penanggulangan IMS adalah melakukan penatalaksanaan terhadap
setiap mitra seksual pasien IMS, dan menghimbau agar mereka sendiri lah
yang menghubungi tempat pelayanan IMS untuk mendapat pengobatan.
Upaya ini harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor sosial dan
budaya setempat, untuk menghindari masalah etis maupun masalah praktis
yang mungkin timbul, misalnya penolakan, dan kekerasan khususnya
terhadap wanita.

E. Evaluasi IMS Pada Anak dan Remaja

Pemeriksaan terhadap anak dan remaja yang mengalami kekerasan atau


tindak kekerasan seksual agar dilaksanakan dengan hati- hati supaya tidak
memberi dampak/ trauma lanjutan. Keputusan untuk memeriksa adanya IMS
dilakukan secara individual.
Petugas kesehatan yang berhadapan dengan anak atau remaja harus
menghargai mereka dengan tetap menjaga kerahasiaan. Mereka harus terlatih
dalam menggali riwayat seksual dan melakukan pemeriksaan medis, serta

7
memiliki pengetahuan untuk mengatasi rasa takut pasien pada waktu melakukan
pemeriksaan panggul.
Situasi yang mengarah kepada kecurigaan IMS, sehingga perlu dilakukan
evaluasi IMS :
1. Orang yang melakukan tindak kekerasan seksual menderita IMS atau
berisiko tinggi menderita IMS.
2. Tanda-tanda dan keluhan adanya IMS yang ditemukan pada pemeriksaan
fisik.
Penanganan khusus diperlukan pada pengumpulan spesimen untuk
menghindari timbulnya trauma psikologis dan fisik terhadap para korban.
Manifestasi klinis infeksi menular seksual pada anak dan remaja sering kali
berbeda dengan usia dewasa, di mana beberapa IMS bersifat asimtomatik atau
tidak khas. Penggunaan spekulum anak sangat jarang digunakan, kecuali pada
pemeriksaan terhadap korban tindak kekerasan seksual pada usia sebelum
pubertas. Pada situasi seperti itu, kemampuan, kepekaan dan pengalaman
petugas kesehatan lebih penting dibandingkan dengan alat pendukung yang
canggih sekalipun.

1. Pemeriksaan Awal
Pemeriksaan awal dan tindak lanjut meliputi :
a. Kultur untuk pemeriksaan N.gonorrhoeae dan C.trachomatis
yang diambil dari nasofaring dan anus pada kedua jenis
kelamin, dari vagina untuk wanita dan dari uretra untuk laki-
laki. Spesimen dari serviks tidak dapat dikumpulkan dari anak
perempuan sebelum pubertas. Pada kasus duh tubuh pada anak
laki-laki. pengambilan duh tubuh dari muara uretra sudah cukup
memadai dibandingkan dengan spesimen dari swab intra uretral.
Hanya cara pembiakan kuman yang baku yang dapat digunakan
untuk isolasi N.gonorrhoeae.
b. Spesimen sediaan basah swab vagina dapat digunakan untuk
pemeriksaan mikroskopik adanya infeksi T.vaginalis.
Ditemukannya clue cells mengindikasikan adanya vaginosis

8
bakterial pada anak dengan duh tubuh vagina. Adanya clue cells
atau indikator lainnya dari vaginosis bakterial dengan atau tanpa
adanya duh tubuh vagina tidak dapat digunakan sebagai
indikator adanya paparan seksual.
c. Kultur jaringan virus herpes simpleks atau pemeriksaan
mikroskop lapangan gelap atau tes direct fluorescent antibodiy
untuk pemeriksaan T.pallidum dilakukan bila fasilitas tersedia.
Pengambilan spesimen yang berasal dari vesikel untuk herpes
atau ulkus untuk sifilis perlu dilakukan pada semua anak dari
semua golongan umur dan pada remaja.
d. Penyimpanan serum yang diawetkan dapat digunakan sebagai
bahan analisis di kemudian hari bilamana tes serologi pada saat
tindak lanjut positif. Bilamana paparan seksual yang terakhir
tejadi lebih dari 12 minggu sebelum pemeriksaan awal
dilakukan, maka pemeriksaan serologis perlu dilakukan untuk
mengetahui adanya antibodi terhadap IMS. Pemeriksaan
antibodi yang tersedia adalah terhadap T.pallidum, HIV dan
virus Hepatitis B. Pemilihan tes dilakukan berdasarkan kasus
per kasus.

2. Pemeriksaan 12 Minggu Sesudah Tindak Kekerasan Seksual


Pemeriksaan yang dilakukan kira-kira 12 minggu sesudah
pajanan seksual terakhir merupakan waktu pemeriksaan yang terbaik,
karena telah cukup waktu untuk pembentukan antibodi terhadap agen
penyebab infeksi tersebut. Perlu dipertimbangkan tes serologi terhadap
T.pallidum, HIV dan virus hepatitis B. Prevalensi infeksi tersebut di
atas sangat bervariasi dari tempat ke tempat. Hal yang juga penting
untuk diketahui adalah faktor risiko pemerkosa/ pelaku tindak
kekerasan seksual tersebut. Hasil pemeriksaan Hepatitis B agar di
interpretasikan secara hati-hati, karena virus ini dapat ditularkan secara

9
aseksual. Sekali lagi, pemilihan tes yang akan digunakan agar
dilakukan secara kasus demi kasus.

3. Pengobatan Presumtif
Hanya sedikit data yang menjelaskan hubungan antara timbulnya
infeksi menular seksual akibat tindak kekerasan seksual pada anak.
Risiko tersebut diyakini cukup rendah akan tetapi data pendukung
yang jelas belum ada. Pengobatan presumptif pada anak korban tindak
kekerasan seksual tidak dianjurkan karena infeksi asendens pada anak
wanita lebih rendah bila dibandingkan dengan wanita remaja maupun
wanita dewasa. Meskipun demikian, beberapa anak atau orangtua atau
yang bertanggung jawab mungkin khawatir akan terjadi IMS,
walaupun risiko tersebut.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

IMS atau Infeksi Menular Seksual adalah suatu gangguan atau penyakit
yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak hubungan seksual.
IMS yang sering terjadi adalah Gonorhoe, Sifilis, Herpes, namun yang paling
terbesar diantaranya adalah AIDS, karena mengakibatkan sepenuhnya pada
kematian pada penderitanya.
Menurut WHO (2003), penanganan infeksi menular seksual terdiri dari dua
cara, bias dengan penanganan berdasarkan kasus (case management) ataupun
penanganan berdasarkan sindrom (syndrome management).
Pemeriksaan terhadap anak dan remaja yang mengalami kekerasan atau
tindak kekerasan seksual agar dilaksanakan dengan hati- hati supaya tidak
memberi dampak/ trauma lanjutan. Keputusan untuk memeriksa adanya IMS
dilakukan secara individual. Penanganan khusus diperlukan pada pengumpulan
spesimen untuk menghindari timbulnya trauma psikologis dan fisik terhadap
para korban.

B. Saran
Dengan membaca dan mempelajari makalah mengenai program
pencegahan dan pendidikan IMS, diharapkan mahasiswa khususnya perawat
dapat mengetahui program pencegahan dan pendidikan mengenai infeksi
menular seksua, sehingga dapat mengurangi penyebaran dan kematian yang
diakibatkan oleh infeksi menular seksual.

11
DAFTAR PUSTAKA

Tokoalkes, 2013. Cara Pencegahan dan Penanganan Infeksi Menular Seksual. Link :
http://tokoalkes.com/blog/cara-pencegahan-dan-penanganan-infeksi-menular-seksual
(diakses pada Senin, 13 Februari 2018 pukul 19.00 WITA)

Thompassari, 2010. Komunikasi Informasi dan Edukasi. Link :


http://thompassari.blogspot.co.id/2010/10/komunikasi-informasi-dan-edukasi.html
(diakses pada Senin, 13 Februari 2018 pukul 19.30 WITA)

Spiritia, 2011. Pedoman IMS. Link : http://www.spiritia.or.id/dokumen/pedoman-


ims2011.pdf (diakses pada Senin, 13 Februari pukul 21.22 WITA)

12