Anda di halaman 1dari 38

ETIKA FARMASI

A. HUBUNGAN PERILAKU, PERAN dan ETIKA.


B. ETIKA

PERILAKU
SIKAP = Perbuatan yg berdasarkan pada pendirian atau keyakinan.( KBBI ).
= Pencerminan dan dorongan yg datang dari dalam diri seseorang dan
merupakan reaksi thd stimulus lingkungan.
= Reaksi yg belum ditampilkan.
Sikap yg telah ditampilkan disebut PERILAKU.
PERILAKU = Tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atas lingkungan (KBBI)
= Tindakan manusia yang dapat diamati.
Perilaku manusia berbeda karena interaksi berbeda. INTERAKSI berbeda karena
kemampuan berbeda. KEMAMPUAN berbeda karena KECERDASAN berbeda.
Ada hubungan antara perilaku dengan
interaksi, kemampuan dan kecerdasan.
Pendapat ahli :
PERILAKU dipengaruhi oleh faktor-faktor :
- KEMAMPUAN dan atau
- KEBUTUHAN dan atau
- PENGHARAPAN dan atau
- LINGKUNGAN  beri stimulus  respons 
perilaku.
Pendapat ahli lain :
KEMAMPUAN atau KOMPETENSI tergantung pada:
- Tingkat kecerdasan seseorang dan atau,
- Bakat / pembawaan sejak lahir dan atau,
- Pendidikan dan pengalaman
PERILAKU manusia ditentukan oleh
tiga teori dasar :

1. Teori PSIKO-ANALISIS yg ditemukan oleh


Sigmund Freud.
2. Teori BEHAVIOUR ( tingkah laku ) yg ditemukan
oleh John Locke dan dikembangkan oleh Iwan P
Pavlov.
3. Teori PSIKOLOGI MANUSIA yg ditemukan oleh
Carl Rogers dan dikembangkan oleh Abraham
Maslow.
1. TEORI PSIKO-ANALISIS
PERILAKU manusia merupakan keseimbangan /
integrasi dari ID , EGO dan SUPER EGO.
a. ID = aktifitas yg tidak disadari oleh yang
bersangkutan, merupakan perilaku bawaan.
Perilaku anak kecil seluruhnya didasari oleh Id,
walaupun ada juga orang dewasa / tua yang
bawaan Id ini masih kuat atau alam bawah sadarnya
menghendaki hal tsb.
Id dibagi 2 , yaitu :
a.1. Libido = terdiri dari kepuasan pada ( makanan,
kesenangan, kebahagiaan, kenyamanan,
seksual dsb ).
a.2. Agresi = terdiri dari keinginanan untuk
( berkuasa, berkelahi dsb ).
b. EGO
Ego = Aku = suatu aktifitas yg didasari sumber rasa sadar
( menggunakan logika ), pra sadar atau tak sadar
utk melindungi kehidupan dg cara-cara intelek dan
penalaran.
Perilaku anak muda dan orang dewasa banyak didasari oleh
Ego ini. Ego mengendalikan ID dan SUPER EGO.
c. SUPER EGO.
= Perilaku yg didasari oleh hati-nurani dan merupakan
kekuatan moral dan kepribadian, sebagai sumber/ norma
untuk menilai Ego salah atau benar, berupa evaluasi diri,
introspeksi dsb.
Cara berperilaku orang dewasa dan LANSIA lebih banyak
didasari oleh super-ego ini.
Perilaku manusia menurut Sigmund Freud dipengaruhi oleh
integrasi / keseimbangan dari ID, EGO dan SUPER EGO.
2. TEORI BEHAVIOUR ( PERILAKU )
Menurut teori ini, Perilaku manusia bergantung
pada adanya imbalan yang merangsang.
Imbalan  Rangsangan  Perilaku.
Contohnya : Kuda diberi rumput yg bergerak dan
kuda akan mengejar rumput tersebut. Dan anjing
dilihatkan daging, sehingga air liur anjing akan
keluar .
Manusia ?
3. Teori PSIKOLOGI MANUSIA
Ditemukan oleh Carl Rogers dan dikembangkan oleh Abraham
Maslow.
a. Menurut A Maslow perilaku seseorang mau bekerja karena
manivestasi kebutuhannya ( need ). Ada 5 jenjang kebutuhan
manusia menurut Abraham Maslow , yaitu :
a. Physiological needs ( kebutuhan fisik, berupa pangan,
sandang, papan dan biologis ).
b. Safety needs ( kebutuhan akan keamanan, ketentraman
badan, jiwa dan harta ).
c. Sosial needs ( partisipasi dlm masyarakat, ikut serta dan
dicintai ).
d. Esteem needs ( harga diri, prestige, ingin dihargai, wibawa)
e. Self actualization ( ingin menunjukkan potensi diri,
kreativitas, jabatan, hobby dll ).
Bila kebutuhan 1 sudah terpenuhi, maka akan timbul need utk
kebutuhan 2, dst sampai kebutuhan ke 5. Semakin dewasa
manusia serta semakin terpelajar, maka semakin beradab dan
semakin membutuhkan aktualisasi diri.
b. Menurut Dr. Ibrahim Elfiky kebutuhan manusia
dibagi dalam 7 aspek :
1. Aspek meterial yaitu kebutuhan yg menginginkan pendapatan yg lebih
tinggi dari pendapatan sekarang.
2. Aspek profesi yaitu kebutuhan yg menginginkan kepuasan lebih dalam
ketika bekerja.
3. Aspek sosial yaitu kebutuhan yg menginginkan hubungan yg lebih
harmonis dengan tetangga dan masyarakat.
4. Aspek keluarga yaitu kebutuhan yg menginginkan hubungan yg lebih
baik dengan pasangan hidup, orang tua dan keluarga.
5. Aspek kepribadian yaitu kebutuhan yg menginginkan pribadi yg
mudah bergaul dan disukai orang lain.
6. Aspek kesehatan yaitu kebutuhan yg menginginkan badan yg selalu
sehat dan bugar.
7. Aspek religius yaitu kebutuhan yg menginginkan kehidupan yg religius
dan mendekatkan diri kepada Tuhan YMK.
Tuhan telah memulyakan ( meninggikan ) derajat manusia dari makhluk
lainnya dengan memberikan akal dan pikiran serta menunjukkan jalan yg
benar dan jalan yg sesat.
Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib / keadaan suatu kaum ,
sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri.
c. Teori pengembangan dari Frederick Herzberg
Menurut teori ini,seseorang berperilaku dipengaruhi oleh :
- Faktor HYGIENE ( rasa puas / tidak puas dalam
pekerjaan dan ada kaitannya dengan lingkungan.
Faktor ini berupa uang / status/ keamanan / lingkungan
/ pengawasan dan kondisi. Faktor Hygiene butuh
pengawasan, dilaksanakan dengan teori – X.
- Fator MOTIVASI (= pekerjaan itu sendiri/ prestasi /
pengakuan/ tantangan / tanggung jawab /
pengembangan / cinta/ profesi / senang bekerja.
Faktor motivasi tak butuh pengawasan dan dilaksana
kan dengan penerapan teori-Y.
d. Pendapat ahli lain adalah sikap dan perilaku
dipengaruhi oleh :
1. Kebutuhan manusiawi ( teori Abraham Maslow /
Herzberg ).
2. Sifat pembawaan dari lahir.
3. Pengalaman masa lalu.
4. Lingkungan saat ini.
5. Prospek dan kenyataan.

PERILAKU adalah kegiatan / tindakan manusia yang dapat


diamati.
Menurut teori diatas perilaku manusia mungkin karena :
1. Keseimbangan id, ego dan super ego.
2. Karena imbalan yang merangsang.
3. Karena kebutuhan.
PERAN = Rangkaian kegiatan yg teratur yg ditimbulkan karena
jabatan tertentu atau kegiatan dalam organisasi.
Dalam KBBI salah satu arti peran adalah perangkat tingkah laku
yang diharapkan dimiliki oleh orang yg berkedudukan dalam
masyarakat .
Perilaku yang baik = Etika = Sopan-santun = Budi
Pekerti = Akhlak.
Hubungan perilaku , peran dan etika.
Peran merupakan perilaku yang ada etikanya.
Peran = Perilaku + Etika.
Peran = ( Ada kebutuhan / imbalan ) + Etika.
PERAN (sbg TENAGA PROFESI) = Ada Kebutuhan
/ Imbalan + ETIKA PROFESI.
ETIKA
ETIKA ada yg mengatakan berasal dari bah. Yunani =etos=
moral , semangat, ada yg mengatakan berasal dari bah.
Perancis = etiquette = aturan bergaul dg orang lain = tata
cara bergaul.

ETIKA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , adalah :


1. Ilmu tentang apa yg baik dan buruk dan tentang hak
serta kewajiban moral ( akhlak ).
2. Kumpulan azas atau nilai yg berkenan dengan akhlak.
3. Nilai mengenai benar dan salah yg dianut oleh suatu
golongan dalam masyarakat.
ETIKA = kumpulan tata tertib dan cara bergaul orang yg beradab.
Setiap bangsa, suku , agama memiliki Etika sendiri.
Etika = Budi Pekerti / Akhlak / Sopan-santun / Tata-krama /
Tata-cara.

Etika dilakukan pada tempatnya dan pada waktu


berhubungan ( berinteraksi ) dengan orang lain.
Etika kadang-kadang mengalahkan hak-hak pribadi
seseorang.(contoh dlm bis kota, ……. )
Etika = aturan ( norma ) bergaul yang dibuat oleh -
manusia dan penerapannya sesuai dengan hati nurani.
Ada beberapa norma yg mengatur kehidupan
seseorang , yaitu ; norma agama, norma adat,
norma susila, norma hukum dan norma etika.
Etika dibagi dua :
- Etika umum.
- Etika khusus ( etika keluarga, etika profesi, etika politik , dsb )

ETIKA UMUM =
Kebiasaan perilaku ( tidak tertulis ) seseorang
dalam berinteraksi dg orang lain. Contoh :
- Etika waktu berjumpa.
- Etika berbicara, berkomunikasi, tilpon dsb.
- Etika bertamu.
- Etika berkendaraan / memarkir kendaraan dsb.
- Etika bekerja
- Dll
Etika berjumpa = berjabat tangan, bertemu ujung jari
dan membungkuk, membungkuk,
berpelukan, cium pipi kiri- cium pipi
kanan , dsb.
Etika berbicara = bersikap ramah dan bersahabat, jangan
memotong pembicaraan orang lain, jangan mencela,
tidak membuka rahasia orang lain, tidak menghina, tidak
berdebat, menjadi pendengar yg baik , melihat muka
orang lain sewaktu berbicara dll.

Etika bekerja = bekerja dengan ikhlas, penuh kerelaan


bukan terpaksa, tepat waktu, tekun dan bertanggung
jawab, disiplin, jujur dan dapat dipercaya, bisa bekerja
sama dg orang lain, memperhatikan kepentingan umum
dan lingkungan dsb
Kata-kata penting dalam ETIKA :
TERIMA KASIH ( ketika dibantu orang )thank you, matur nuwun, nuhun.
MAAF ( ketika mengganggu orang )sorry, punten, nuhun sewu.
MINTA TOLONG ( ketika memerlukan bantuan or lain ).

Perbuatan kurang beretika :


Senang mengeritik, mencari-cari kesalahan or lain,
mengorek gigi didepan orang,meludah/membuang
ingus didepan orang lain, suka memuji diri,
menganggap orang lain salah, senangnya berdebat,
menguap, berbicara bercampur bahasa asing, suka
marah-marah, tidak menepati janji dll.
ETIKA KHUSUS:
I. ETIKA KELUARGA : Etika ortu  anak dan
anak  ortu.

II. ETIKA PROFESI :


Profesi = suatu moral community yg memiliki cita-cita dan nilai-
nilai bersama.
Ikatan Profesi dibentuk karena memiliki :
- Keahlian yg sama.
- Latar belakang pendidikan yg sama.
- Karena itu memiliki wewenang dan otoritas yg sama 
monopoli keahlian.
- Kalau ikatannya kuat  sukar ditembus  menutup diri dari
orang luar.
- Pemakai jasa profesi bisa curiga atas jasa layanan yg diberikan
oleh tenaga profesi  dibohongi / dicurangi.
Karena itu perlu aturan internal yg mengatur etika pelayanan 
etika profesi.
I. ETIKA KELUARGA
A. ETIKA ORANG TUA TERHADAP ANAK = sendi dari segala etika.

1. Mengajarkan anak bacaan dan cara beribadah sewaktu masih kanak-kanak


2. Mengajarkan anak membaca kitab suci agama.
3. Mendorong anak untuk ikut beribadah bersama dengan cara lembah lembut.
4. Mengajarkan anak untuk tidak durhaka, mencerca dan melaknat orang lain
dan tidak berbicara kasar dan jelek.
5. Memperingatkan anak untuk tidak belajar main judi walaupun untuk hiburan.
6. Melarang anak membaca / menonton pornografi, kekerasan dan seksual baik
di majalah / internet.
7. Memberi pengertian kepada anak bahwa merokok dan minuman keras tidak
baik untuk kesehatan dan menyebabkan beberapa macam penyakit.
8. Membiasakan anak untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan. Orang tua
hendaknya tidak berbohong kepada mereka walaupun bergurau. Jika
menjanjikan sesuatu kepada mereka, hendaknya harus ditepati.
9. Tidak memberi makan kepada mereka dengan uang hasil korupsi, sogokan,
penipuan, pencurian dsb.
10. Tidak mendoakan kecelakaan atau kerusakan pada mereka, ketika mereka
bandel, karena doa baik maupun buruk kadang-kadang dikabulkan Tuhan dan
mungkin menambah kesengsaraan mereka.
11. Memperingatkan anak untuk tidak syirik, seperti berdoa minta pertolongan
kepada orang yang telah mati atau kekuburan.
12. Memberikan kepada anak perempuan penutup aurat mereka ketika masa
kecilnya agar terbiasa sewaktu dewasa.
13. Mewasiatkan kepada anak untuk memakai pakaian sesuai dengan jenis
kelaminnya.
14. Membiasakan kepada anak untuk menggunakan tangan kanan dalam
mengambil, memberi, menerima sesuatu pada / dari orang lain, atau ketika
makan, menulis dan menerima tamu.
15. Mengajarkan pada anak untuk memulai pekerjaan dengan mengucapkan
basmalah ( dengan nama Tuhan ) terutama untuk makan dan minum dan
harus dilakukan dengan duduk dan diakhiri dengan hamdalah ( puji syukur ).
16. Mengajarkan kepada anak untuk selalu menjaga kebersihan, mencuci tangan
sebelum makan, dan sesudah buang air kecil dan besar.
17. Berlemah-lembut dalam memberikan nasehat kepada mereka dengan cara
diam-diam, tidak membuka kesalahan mereka didepan umum. Jika mereka
tetap membandel diamkan selama 3 hari dan tidak lebih dari itu.
18. Memberikan kasur untuk tidur pada setiap anak jika memungkinkan, jika tidak
mungkin selimutnya harus sendiri-sendiri.
19. Memisahkan kamar tidur anak laki-laki dan anak perempuan.
20. Membiasakan mereka untuk tidak membuang sampah dan kotoran pada
sembarang tempat.
21. Mewaspadai terhadap persahabatan mereka dengan kawan-kawannya yang
nakal dan mewaspadai pergaulannya.
22. Memberi salam kepada mereka ketika memasuki rumah, di kelas dll.
23. Memberikan mereka cerita yang mendidik, cerita para nabi, sahabat, tokoh-
tokoh panutan dan tokoh-tokoh pemberani.
24. Mendidik anak-anak untuk berani menyampaikan kebaikan dan mencegah
kemungkaran serta tidak menakut-nakuti mereka dengan cerita-cerita
bohong.
B. ETIKA ANAK TERHADAP ORANG TUA.
1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan sopan-santun , jangan
mengucapkan kata “ Ah “ kepada mereka, jangan hardik mereka, dan
berkatalah dengan ucapan yang baik.
2. Taati selalu kedua orang tuamu selama tidak dalam maksiat , karena tidak ada
ketaatan pada yang bermaksiat.
3. Berlemah-lembutlah kepada kedua orang tuamu , jangan bermuka masam
didepannya, dan janganlah memelototi mereka dengan marah.
4. Jaga nama baik , kehormatan dan harta benda kedua orang tuamu dan jangan
mengambil sesuatupun tanpa seizin beliau.
5. Lakukan hal-hal yang meringankan keduanya meski tanpa perintah seperti
berkhidmat, membelikan beberapa keperluan dan bersungguh-sungguh dalam
mencari ilmu.
6. Bermusyawarahlah segala pekerjaanmu dengan orang tua dan mintalah maaf
kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih pendapat.
7. Segera penuhi panggilan mereka dengan wajah tersenyum sambil berkata : Ada
apa Bu / Pak ?
8. Hormati kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan
sesudah mati.
9. Jangan bantah mereka dan persalahkan mereka, tapi usahakan dengan sopan
kamu menjelaskan yang benar.
10.Jangan kau bantah perintah mereka, jangan kau keraskan suaramu atas mereka
dengarkanlah pembicaraannya, bersopan santunlah terhadap mereka.
11.Bangunlah ketika kedua orang tuamu memasuki tempat / kamarmu dan
ciumlah tangan / kepala mereka.
12.Bantulah ibumu dirumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam
pekerjaannya.
13. Jangan pergi jika mereka belum memberi izin, meski untuk urusan penting, jika
terpaksa harus pergi maka mintalah maaf pada keduanya dan jangan sampai
memutuskan surat menyurat dengannya jika engkau tinggal ditempat yang
jauh.
14. Jangan masuk ketempat mereka kecuali setelah mendapat izin terutama pada
waktu tidur dan istirahat mereka.
15. Jika anda tergoda untuk merokok, maka jangan merokok di depan mereka.
16. Jangan makan sebelum mereka makan dan hormatilah mereka dalam
makanan dan minuman.
17. Jangan berbohong dengan mereka dan jangan cela mereka jika mereka
berbuat yang tidak menarik anda.
18. Jangan utamakan istrimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan redha
dari mereka sebelum melakukan segala sesuatu, karena redha Allah terletak
pada redha kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan
mereka.
19. Jangan duduk ditempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menselonjor
kan kedua kakimu dengan congkak didepan mereka.
20. Jangan congkak terhadap nasib ayahmu meskipun engkau seorang pejabat
tinggi dan usahakan tidak pernah mengingkari kebaikan mereka meski hanya
dengan satu kata.
21. Jangan kikir untuk menginfakkan harta kepada mereka sampai mereka dulu
yang mengadu padamu, dan itu merupakan kehinaan bagimu, dan itu akan
kamu dapatkan balasannya darianak-anakmu nanti. Apa yang kamu perbuat
akan mendapatkan balasan.
22. Perbanyaklah melakukan kunjungan kepada kedua orangtua dan memberi
hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah mereka dan
ambillah ibarat pada anak-anakmu dan kesulitan-kesulitan selama bersama
mereka dulu.
23. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian
ayahmu. Ketahuilah bahwa sorga berada dibawah telapak kaki ibu.
24. Usahakan untuk tidak menyakiti kedua orang tuamu dan menjadikan mereka
marah sehinga kamu merana didunia dan di akhirat, dan anak-anakmu akan
memperlakukan kamu kelak sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang
tuamu.
25. Jika meminta sesuatu dari orang tuamu maka berlemah lembutlah, berterima
kasihlah atas pemberian mereka dan maafkan jika mereka menolak
permintaanmu serta jangan terlalu banyak meminta agar tidak mengganggu
mereka.
26. Jika kamu telah mampu mencari rezeki maka bekerjalah dan bantulah kedua
orang tuamu jika mereka membutuhkan.
27. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas kamu, dan isterimu mempunyai hak
atas kamu, maka berikan hak mereka. Jika keduanya berselisih, usahakan
kamu pertemukan, dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.
28. Jika orang tuamu bertengkar dengan isterimu, maka bertindaklah bijaksana
dan beri pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak kepadanya jika dia
benar, hanya kamu harus terpaksa meyakinkannya.
29. Jika kamu berselisih dengan kedua orang tuamu tentang perkawinan dan talak
maka kembalikan kepada hukum Islam, karena hal itu merupakan penolong
yang paling baik.
30. Doa orang tua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah, maka hati-hatilah
terhadap doa mereka untuk kejelekan.
31. Bersopan santunlah dengan orang, karena barang siapa mencela orang, maka
orang akan mencacinya.
32. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika mereka masih hidup, dan bila sudah
meninggal bersedekahlah atas nama mereka dan perbanyaklah doa untuk
mereka.
CIRI-CIRI PEKERJAAN PROFESI :
1. Diperoleh melalui pendidikan yang sesuai dengan
standar nasional.
2. Pekerjaannya berlandaskan etika profesi.
3. Mengutamakan panggilan kemanusiaan dari pada
keuntungan.
4. Pekerjaannya legal, dilakukan melalui perizinan.
5. Anggotanya belajar sepanjang hayat.
6. Anggotanya bergabung dalam suatu organisasi profesi.

KOMPETENSI PROFESI : merupakan karakteristik profesi yg


meliputi ukuran kemampuan seorang tenaga profesi serta
cakupan kemampuan yg harus dikuasainya berdasarkan ilmu
yang diperoleh. Kompetensi profesi juga menyiratkan adanya
otoritas profesi yg tidak bisa diganggu gugat sebagai privelege
atas penguasaan ilmunya.
Beberapa kewenangan dan otoritas yg menjadi
kompetensi apoteker
1. Penguasaan kemampuan dalam pembuatan sediaan
farmasi dari bahan baku obat / obat tradisional menjadi
obat , obat tradisional atau kosmetika.
2. Penguasaan kemampuan dalam melakukan pengujian mutu
sediaan farmasi.
3. Penguasaan kemampuan dalam penjaminan mutu sediaan
farmasi.
4. Penguasaan kemampuan dalam membaca resep dan meraciknya
dari praktisi medis ( dr,drg,drh).
5. Penguasaan kemampuan dalam meracik obat dari bahan baku
obat, sediaan farmasi maupun simplisia menjadi obat jadi.
6. Membuat penandaan atas sediaan farmasi yg menerangkan isi,
cara pemakaian, cara penyimpanan dsb.
7. Memberikan informasi tentang sediaan farmasi kepada pasien,
tenaga kesehatan lainnya dan masyarakat.
Setiap anggota profesi harus taat melaksanakan etika
profesi, agar pelanggan / pasien/ klien mendapat
kepuasan utama sehingga profesionalisme tampak
dalam profesi tersebut .

Profesionalisme adalah suatu paham yg menghendaki


dilakukannya pekerjaan tertentu dalam masyarakat
dengan :
- Berbekal keahlian yg tinggi, semangat pengabdian,
selalu siap memberikan pertolongan kepada yg
membutuhkan nya.
Keahlian profesi bukanlah komoditas yg bisa diperjual-
belikan sekadar menambah nafkah.
Keahlian profesi tidak boleh digunakan untuk
mengeksploitasi pasien.
PELANGGARAN KODE ETIK PROFESI yg
dilakukan anggotanya, biasanya terjadi karena :
1. Kurangnya jaminan kesejahteraan dari pekerjaan
profesinya, sebaliknya bagi pelanggar etika
memberikan kesejahteraan yg lebih baik.
2. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman anggota
terhadap kode etik profesi.
3. Idealisme yg terdapat dalam kode etik kadang-
kadang berseberangan dengan fakta yg terjadi
disekeliling mereka yg lebih banyak menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan materi.
4. Tidak adanya sanksi yg tegas bagi pelanggar kode
etik profesi.
Karena itu untuk jalannya etika profesi, perlu juga
hukum harus tegak / jalan.
ETIKA = Suatu ajaran tentang kebiasaan baik ketika
berhubungan dengan masyarakat dan diterima oleh
masyarakat berupa sikap, perbuatan, kewajiban dsb.
ETIKA PROFESI = Pedoman bagaimana anggota profesi
bertindak baik dan etis ketika memberikan pelayanan
profesi, yg dibuat oleh organisasi dan berlaku untuk
seluruh anggota.

SUMPAH PROFESI =Sumpah / Janji yg diucapkan oleh


tenaga profesi sebelum menjalankan tugas profesi,
sesuai dengan agama yg dianutnya, didepan pimpinan
organisasi profesi, pendidik dan pemuka agama.
KODE ETIK APOTEKER 2009-2013
MUKADDIMAH
Bahwasanya seorang apoteker di dalam melaksanakan tugas kewajibannya
serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan
bimbingan dan keredaan Tuhan Yang Maha Esa.
Apoteker di dalam pengabdiannya kepada nusa dan bangsa serta di dalam
mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah / janji
apoteker.
Menyadari hal tersebut apoteker di dalam pengabdian profesinya
berpedoman pada suatu ikatan moral yaitu : Kode Etik Apoteker Indonesia.
Penjelasan :
1. Setiap apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan ilmunya harus didasari oleh
sebuah niat luhur untuk kepentingan makhluk lain sesuai dengn tuntunan Tuhan Yang Maha
Esa.
2. Sumpah / janji apoteker adalah komitmen seorang apoteker yg harus dijadikan landasan
moral dalam pengabdian profesinya.
3. Kode Etik sebagai kumpulan nilai-nilai atau prinsip, harus diikuti oleh apoteker sebagai
pedoman, petunjuk serta standar perilaku dalam bertindak dan mengambil keputusan.
BAB I : KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1.
Sumpah / Janji apoteker. Setiap apoteker harus menjunjung tinggi,
menghayati dan mengamalkan Sumpah apoteker.
Pedoman Pelaksanaan : Sumpah/ janji yang diucapkan seorang apoteker untuk dapat
diamalkan dalam pengabdiannya, harus dihayati dengan baik dan dijadikan landasan moral
dalam setiap tindakan dan perilaku. Dalam sumpah apoteker ada beberapa poin yang
harus diperhatikan yaitu : a. Melaksanakan asuhan kefarmasian.b. Merahasiakan kondisi
pasien, resep dan rekam pengobatan ( medication record) untuk pasien, dan
c. Melaksanakan praktek profesi sesuai landasan praktek profesi, yaitu ilmu, hukum, etika.
Pasal 2.
Setiap apoteker berusaha dengan sungguh-sungguh meng hayati dan
mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.
Pedoman Pelaksanaan: Kesungguhan dalam menghayati dan mengamalkan kode etik apoteker Indonesia
dinilai dari ada tidaknya laporan masyarakat, ada tidaknya laporan dari sejawat apoteker, atau sejawat tenaga
kesehatan lain, serta tidak ada laporan dari Dinas Kesehatan. Pengaturan dalam pemberian sanksi ditetapkan
dalam peraturan organisasi ( PO ).
Pasal 3.
Setiap apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi
apoteker Indonesia, serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada
prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
Pedoman Pelaksanan :
a. Setiap apoteker Indonesia harus mengerti, menghayati dan mengamalkan kompetensi sesuai dengan
standar kompetensi apoteker Indonesia. Kompetensi yang dimaksud adalah ketrampilan, sikap dan perilaku
yang berdasarkan pada ilmu, hukum dan etik.
b.Ukuran kompetensi seorang apoteker dinilai lewat uji kompetensi.
c. Kepentingan kemanusiaan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan
keputusan apoteker Indonesi
d. Bilamana suatu saat seorang apoteker dihadapkan kepada konflik tanggung jawab profesional, maka
dari berbagai opsi yang ada, seorang apoteker harus memilih resiko yang paling kecil dan paling tepat
untuk kepentingan pasien serta masyarakat.

Pasal 4. Setiap apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di


bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Setiap apoteker harus mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan profesionalnya secara
terus menerus.
b. Aktifitas seorang apoteker dalam mengikuti perkembangan di bidang kesehatan, diukur dari
nilai SKP yang diperoleh dari hasil uji kompetensi.
c. Jumlah SKP minimal yang harus diperoleh apoteker ditetapkan dalam peraturan organisasi.
Pasal 5. Didalam menjalankan tugasnya setiap apoteker harus menjauhkan
diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Pedoman Pelaksanaan:
a.Seorang apoteker dalam tindakan profesionalnya harus menghindari diri dari perbuatan yang
akan merusak atau merugikan orang lain.
b. Seorang apoteker dalam menjalankan tugasnya dapat memperoleh imbalan dari pasien dan
masyarakat atas jasa yang diberikannya dengan tetap memegang teguh kepada prinsip
mendahulukan kepentingan pasien.
c. Besarnya jasa pelayanan ditetapkan dalam peraturan organisasi.
Pasal 6.
Seorang apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang
baik bagi orang lain.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Seorang apoteker harus menjaga kepercayaan masyarakat atas profesi yang disandangkan
dengan jujur dan penuh integritas.
b. Seorang apoteker tidak akan menyalahgunakan kemampuan profesionalnya kepada orang
lain.
c. Seorang apoteker harus menjaga perilakunya dihadapan publik.

Pasal 7. Seorang apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan


profesinya.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Seorang apoteker memberikan informasi kepada pasien/masyarakat harus dengan cara
yang mudah dimengerti dan yakin bahwa informasi tersebut harus sesuai, relevan dan
“up to date “.
b. Sebelum memberikan informasi, apoteker harus menggali informasi yang dibutuhkan dari
pasien ataupun orang yang datang menemui apoteker mengenai pasien serta penyakitnya.
c. Seorang apoteker harus senantiasa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap obat,
dalam bentuk penyuluhan, memberikan informasi secara jelas, melakukan monitoring
penggunaan obat dan sebagainya.
d. Kegiatan penyuluhan ini mendapat nilai Satuan Kredit Profesi ( SKP ).
Pasal 8. Seorang apoteker harus aktif mengikuti perkembangan
peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan pada umumnya
dan bidang farmasi khususnya.
Pedoman Pelaksanaan:
a. Tidak ada alasan bagi apoteker tidak tahu peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan kefarmasian. Untuk itu setiap apoteker harus selalu aktif mengikuti
perkembangan peraturan, sehingga setiap apoteker dapat menjalankan profesinya
dengan tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Apoteker harus membuat Standar Prosedur Operasional ( SPO ) sebagai pedoman kerja
bagi seluruh personil di sarana pekerjaan / pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan
atas dasar peraturan perundangan yang ada.
BAB II. KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN
Pasal 9. Seorang apoteker dalam melakukan praktik kefarmasian
harus kengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak
azasi pasien dan melindungi makhluk hidup insani.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Kepedulian kepada pasien adalah merupakan hal yang paling utama dari seorang
apoteker.
b. Setiap tindakan dan keputusan profesional dari apoteker harus berpihak kepada
kepentingan pasien dan masyarakat.
c. Seorang apoteker harus mampu mendorong pasien untuk untuk terlibat dalam
keputusan pengobatan mereka.
d. Seorang apoteker harus mengambil langkah-langkah untuk menjaga kesehatan pasien
khususnya janin, bayi, anak-anak serta orang dalam kondisi lemah.
e. Seorang apoteker harus yakin bahwa obat yang diserahkan kepada pasien adalah obat
yang terjamin mutu, keamanan dan khasiat serta cara pakai obat yang tepat.
f. Seorang apoteker harus menjaga kerahasiaan pasien, rahasia kefarmasian dan rahasia
kedokteran dengan baik.
g. Seorang apoteker harus menghormati keputusan profesi yang telah ditetapkan oleh dokter
dalam bentuk penulisan resep dan sebagainya.
h. Dalam hal seorang apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda dengan permintaan
seorang dokter, maka apoteker harus melakukan komunikasi dengan dokter tersebut kecuali
peraturan perundang-undangan membolehkan apoteker mengambil keputusan demi
kepentingan dan atas persetujuan pasien.

BAB III KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT.


Pasal 10. Seorang apoteker harus memperlakuakn teman sejawat- nya
sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Setiap apoteker harus menghargai teman sejawatnya, termasuk rekan kerjanya.
b. Bilamana seorang apoteker dihadapkan kepada suatu situasi yang problematik, baik
secara formal atau peraturan perundangan yang berlaku, tentang hubungannya
dengan sejawatnya, maka komunkasi antar sejawat harus dilakukan dengan baik dan
santun.
c. Apoteker harus berkoordinasi dengan IAI ataupun majelis Pembina Etik Apoteker
dalam menyelesaikan permasalahan dengan teman sejawat.
Pasal 11. Sesama apoteker harus selalu saling mengingatkan dn
saling menasehati untuk mematuhi ketentuan –ketentuan kode etik
Pedoman Pelaksanaan :
1. Bilamana seorang apoteker mengetahui sejawatnya sejawatnya melanggar kode etik ,
dengan cara yang santun dia harus melakukan komunikasi dengan sejawatnya tersebut
untuk mengingatkan kekeliruan yang ada.
2. Bilamana ternyata yang bersangkutan sulit menerima maka dia dapat menyampaikan
kepada pengurus cabang dan atau MPEAD secara berjenjang.
Pasal 12. Seorang apoteker harus mempergunakan setiap
kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama
apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan
kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam
menunaikan tugasnya.
Pedoman Pelaksanaan :
a. Seorang apoteker harus menjalin dan memelihara kerjasama dengan sejawat
apoteker lainnya.
b. Seorang apoteker harus membantu teman sejawatnya dalam menjalankan
pengabdian profesinya.
c. Seorang apoteker harus saling mempercayai teman sejawatnya dalam menjalin /
memelihara kerjasama.
BAB IV KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP SEJAWAT PETUGAS
KESEHATAN LAIN
Pasal 13.
Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk
membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai,
menghargai dan menghormati sejawat petugas kesehatan lain.
Pedoman Pelaksanaan :
1. Apoteker harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan
lainnya secara seimbang dan bermartabat.
2. Bilamana seorang apoteker menemui hal-hal yang kurang tepat dari pelayanan profesi
kesehatan lainnya, maka apoteker tsb harus mampu mengkomunikasikannya dengan baik
kepada profesi tersebut, tanpa yang bersangkutan harus merasa dipermalukan.
Pasal 14
Seorang apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau
perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya
kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain.
Pedoman Pelaksanaan :
Bilamana seorang apoteker menemui hal-hal yang kurang tepat dari pelayanan profesi kesehatan
lainnya, maka apoteker tsb harus mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada profesi
tersebut, tanpa yang bersangkutan harus merasa dipermalukan.
BAB V PENUTUP
Pasal 15.
Seorang apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan
Kode Etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya
sehari-hari.
Jika seorang apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja
melanggar atau tidak mematuhi Kode Etik Apoteker Indonesia, maka
dia wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah,
organisasi profesi farmasi yang menaganinya ( IAI ) dan mempertang
gung jawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pedoman Pelaksanaan :
Apabila apoteker melakukan pelanggaran Kode Etik Apoteker Indonesia, yang
bersangkutan dikenakan sanksi organisasi. Sanksi dapat berupa pembinaan,
peringatan, pencabutan keanggotaan sementara atau pencabutan keanggotaan tetap.
Kriteria pelanggaran kode etik diatur dalam peraturan organisasi, dan sanksi
ditetapkan setelah melalui kajian yang mendalam dari MPEAD.
Selanjutnya MPEAD menyampaikan hasil telaahannya kepada pengurus cabang,
pengurus daerah dan MPEA.