Anda di halaman 1dari 32

SID dan DD Embung Kresek di Kab.

Madiun LAPORAN AKHIR

BAB 7
OPERASI DAN PEMELIHARAAN

7.1 LINGKUP PEKERJAAN

Gagasan Operasional dan Pemeliharaan lahir dari kenyataan alam bahwa semua benda atau
alat, betapapun bagus kualitasnya, tentulah mengalami keausan dan penurunan fungsi sesuai
dengan umurnya. Artinya semakin panjang umur benda atau alat tersebut, semakin besar
keuntungan ekonomi yang didapat oleh pengelolanya, disamping semakin besar pula biaya
yang diperlukan untuk Operasi dan Pemeliharaan, karena itu, perlu diperhatikan dan dicari
keseimbangannya.

Hasil-hasil pembangunan selama ini telah dirasakan cukup bermanfaat oleh masyarakat.
Investasi dana dan daya yang tertanam telah sedemikian besar diharapkan dapat
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi hajat hidup masyarakat banyak. Untuk itu,
operasional dan pemeliharaan pantas apabila mulai diberi tempat pada prioritas yang wajar,
diantara kegiatan pembangunan lainnya dan dipersiapkan secara seksama.

Pembangunan Embung Kresek penting dilaksanakan dalam rangka meningkatkan


infrastruktur irigasi guna mendukung ketahanan pangan. Disamping itu, pembangunan
embung ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam penyediaan air
baku untuk wilayah Kabupaten Madiun.

Pengembangan Embung Kresek bertujuan untuk menjamin kontinuitas pasokan air Sungai
Plupuh terhadap pemenuhan kebutuhan air baku dan untuk peningkatan infrastruktur
wilayah Kabupaten Madiun. Lokasi potensi Embung Kresek terletak di daerah pengaliran
sungai Plupuh, dengan luas tangkapan daerah aliran sungai sebesar 8.90 Km2.

Perencanaan embung yang akan melayani kehidupan para penduduk di wilayah Kabupaten
Madiun, serta embung yang direncanakan (perbaikan maupun rencana pembangunan baru),
perlu dijaga kelestariannya dengan melakukan kegiatan Operasional dan Pemeliharaan (OP)
secara efisien.

Dalam rangka menuju kearah 0 & P yang efisien, diperlukan proses-proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan pelaksanaan dan pengontrolan oleh pihak pengelola.
Berdasarkan peta dan inventarisasi embung, hasil pekerjaan lapangan dalam rangka
pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Embung Kresek, serta memperhatikan standard
organisasi yang ada, dapat dibuat rencana pembagian wilayah rencana kebutuhan tenaga

7–1
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

serta kegiatan-kegiatan untuk operasional pemeliharaannya. Disamping itu, dengan


mengikuti ketentuan perundangan yang berlaku, kegiatan operasional dan pemeliharaan
embung diatur dengan pemilahan pembebanan tanggung jawab.

Memperhatikan hal ini, upaya Operasional dan Pemeliharaan tampaknya bukanlah masalah
yang sederhana, karena menyangkut teknologi yang digunakan, penataan kelembagaan,
kualitas pengelola dan penyediaan dana.

Bagian demi bagian akan diuraikan secara lebih terinci, dengan maksud agar dapat
memberikan sumbangan pemikiran tentang kegiatan Operasional dan Pemeliharaan Embung
Kresek di Kabupaten Madiun.
7.2 PENGERTIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN
Kegiatan Operasional dan kegiatan Pemeliharaan merupakan dua kegiatan yang sangat erat
hubungannya. Tujuan kegiatan O& P Embung adalah kelestarian fungsi waduk, guna
memperoleh manfaatan sebesar-besarnya untuk memenuhi hajat hidup masyarakat.

Hasil pemanfaatan dari pengembangan daerah irigasi, baru memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bila telah menghasilkan produksi pertanian sebagaimana direncanakan
pada proses perencanaan teknik. Produksi pertanian akan tercipta apabila terdapat elemen-
elemen dasar yang terdiri dari air, tanah dan tanaman.

Apabila tanaman telah tertanam di tanah sawah, dengan jumlah air yang cukup dan kualitas
memadai, maka terjadilah hubungan yang sangat kompleks antara ke tiga elemen tersebut
di atas.

 Air dan tanah hubungannya menjadi : kebasahan tanah.


 Air dan tanaman hubungannya menjadi : pertumbuhan partial.
 Tanah dan tanaman hubungannya menjadi : pertumbuhan partial.
 Kedua pertumbuhan partial, menjadi pertumbuhan tanaman.
 Kebasahan tanah dan pertumbuhan tanaman hubungannya menciptakan produksi.
Dengan demikian, berdasarkan pengertian di atas, kegiatan O&P haruslah menjamin
kelestarian terjadinya ke lima proses hubungan sebagaimana tersebut di atas

7.2.1 Operasional
Operasional Embung adalah semua kegiatan pengoperasian Embung dalam upaya melayani
kebutuhan air untuk menciptakan produksi pertanian dan kebutuhan air minum. Embung
Kresek ini dibangun dengan perencanaan dengan tipe Bendungan Urugan Homogen.

Pengoperasian atau penggunaan air dari Embung diperlukan sewaktu musim kemarau
hanya untuk mengatasi kekeringan sewaktu tanam, sipatnya untuk mengatasi gagal panen.

7–2
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Petugas operasional hanya mengatur pengoperasian pada saat-saat tertentu seperti pada
saat awal musim kemarau atau awal musim hujan.

Untuk menuju pelaksanaan operasional yang memadai, perlu dipersiapkan baiknya dengan
mengetahui perilaku 3 (tiga) elemen di bawah ini :

1. Air : curah hujan, tinggi air hujan di sungai, di jaringan pelimpah, dilahan, PH
dan salinitas
2. Tanah : luas banjir / genangan, luas kekeringan, luas tanam / panen.

3. Tanaman : jenis tanaman, pola tanam, produksi/ha, harga produksi/ton, hama, dll.

Pendataan ketiga elemen diatas dalam jangka waktu tertentu akan memberikan informasi
perilaku waduk dalam kaitannya dengan produksi pertanian. Dengan pengenalan ini dapat
dipikirkan langkah-langkah operasional dan langkah-langkah pemeliharan Embung menuju
pelayanan air yang lebih baik dan produksi yang lebih tinggi. Selain itu, fungsi dari Embung
juga harus dipahami oleh operator pintu.

Embung yang direncanakan di Kabupaten Madiun secara umum mempunyai fungsi :

1. Lahan dibiarkan tetap basah pada lapisan 20 - 50 cm dibawah muka tanah untuk
mencegah terjadinya oksidasi pada tanah lapisan atas yang dapat menyebabkan tanah
menjadi asam.

2. Sistem Suplesi atau lebih tepatnya sistem untuk pemenuhan kebutuhan air di sawah
adalah dengan menahan air hujan dilahan persawahan dan di saluran. Hal ini
dimungkinkan dengan adanya bangunan balok sekat di ujung hilir saluran-saluran
sekunder dan primer.

Fungsi dari masing-masing bagunan pun harus diketahui secara rinci untuk menghindari
kesalahan dalam operasional ataupun pemeliharaan.

7.2.2 Pemeliharaan
Kegiatan Pemeliharaan Embung adalah semua upaya untuk mempertahankan kondisi
Embung supaya fungsinya tetap baik, agar dapat dioperasional dengan prima. Penundaan
kegiatan pemeliharaan sampai batas waktu tertentu tidak secara langsung terlihat dan
terasa gangguannya terhadap kegiatan operasional atau pemeliharaannya. Tetapi sampai
batas titik tertentu, penundaan itu akan berakibat mundurnya fungsi Embung dan
membesarnya kegiatan pemeliharaan atau sekaligus berarti membengkaknya biaya
pemeliharaan.

7–3
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Secara umum, usaha menekan biaya pemeliharaan diupayakan melalui pelaksanaan


pemeliharaan Embung secara teratur, berkala dan tepat pada waktunya. Mempersiapkan
pelaksanaan pemeliharaan secara efisien, perlu dilakukan pendataan keadaan jaringan
pengairan meliputi, saluran primer, sekunder dan bangunannya. Dari hasil pendataan ini
dapat diperoleh informasi untuk proses selanjutnya.

Daerah pengembangan Embung pada umumnya masih menggunakan teknologi sederhana,


kegiatan operasional tidak dilakukan manusia, melainkan oleh alam, Karena itu kegiatan
pemeliharaan menjadi lebih menonjol, dan kegiatan operasional diarahkan untuk
pendataan perilaku air, guna memperoleh masukan kegiatan perbaikan dan pemeliharaan.

Jenis pemeliharaan embung, dibagi sebagai berikut :

A. Pemeiiharaan Berkala :

1. Tebas Pembersihan.

2. Perbaikan.

3. Penyempurnaan.

4. Pemugaran setempat.

B. Pemeliharaan Sesaat :

Perbaikan dan pemeliharaan kerusakan Embung akibat bencana alarn banjir besar,
bendung bobol

Untuk mengatur pelaksanaan pemeliharaan berkala, Embung telah menetapkan


kriteria bagi masing-masing kegiatan tersebut di atas.

Metode pemeliharaan yang disarankan meliputi :

1. Pembersihan saluran dari tumbuh-tumbuhan.

- Dilakukan hanya sampai pangkal batas, tidak sampai akar karena akar berfungsi
untuk mencegah longsoran.

- Untuk jaringan suplesi dilakukan minimal 2 - 3 bulan sekali, sedangkan untuk


jaringan pelimpah dilakukan minimal 5 - 6 bulan sekali.

- Alat yang digunakan berupa mesin potong rumput/semak, parang dan sabit.

2. Membuang lumpur atau endapan.

- Dilakukan bila sudah terjadi penggenangan dan aliran sangat lambat, pada
umumnya dilakukan setahun sekali.

7–4
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

- Peralatan yang digunakan meliputi :

1. Dengan tenaga manusia berupa cangkul, sabit, garu dan ember tukang.

2. Dengan mesin berupa traktor yang dimodikasi khusus, excavator short arm
dengan bucket khusus.

3. Rehabilitasi Embung.

Rehabilitasi dilakukan jika terjadi kelongsoran yang dapat menghambat aliran


sedangkan longsoran yang membentuk kemiringan stabil Embung dapat dibiarkan.
Perbaikan dalam volume kecil dapat dilakukan dengan tenaga manusia, sedangkan
dalam volume besar diperlukan alat-alat besar.

4. Pemeliharaan Bangunan Air.

Dalam pemeliharaan khusus untuk Embung direncanakan bangunan-bangunan suplesi


dan pelimpah yang terbuat dari bahan-bahan:

- Beton bertulang
- Pasangan bata/batu
- Besi
- Kayu Ulir (Kelas 1 dan tahan air)
Pemeliharaan bangunan suplesi yang terbuat dari besi dilakukan 2 - 3 tahun sekali
dengan melakukan pengecatan kembali.

Untuk bangunan pelimpah diharapkan setiap 4 - 5 tahun baru ada perbaikan.

Konstruksi beton dilakukan pemeliharaan terhadap retakan-retakan yang terjadi. Pada


bagian depan dan belakang bangunan dipasang saringan sampah yang tujuannya untuk
menyaring sampah. Pemeliharaan dilakukan dengan membersihkan sampah-sampah
yang tersaring.

7.2.3 Masukan Umpan Balik


Data yang terhimpun dalam kegiatan Operasional dan Pemeliharaan ini dapat digunakan
untuk :

a. Evaluasi yang hasilnya berupa informasi, sebagai umpan balik terhadap proses
perencanaan teknis, maupun terhadap proses pelaksanaan pembuatan embung.
b. Bahan penyusunan rencana dan program kegiatan Operasional dan Pemeliharaan
selanjutnya.

7–5
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

7.2.4 Persiapan Operasional Dan Pemeliharaan


Guna melaksanakan kegiatan Operasional dan Perneliharaan sebagaimana diuraikan di
atas perlu dipersiapkan perangkat yang memadai berupa :

a. Organisasi dan personil yang terampil.


b. Peralatan dan perlengkapan kerja yang dibutuhkan.
c. Metoda kerja dan prosedurnya.
Juga dipersiapkan lahannya dengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan embung,
sehingga mampu memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Dengan demikian, apabila
lahan dan perangkat untuk kegiatan Operasional dan Pemeliharaan telah dipersiapkan
dengan mantap, maka pelaksanaannya dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

7.3 PERSIAPAN OPERASIONAL EMBUNG


7.3.1 Persiapan Operasional
Proses persiapan Operasional merupakan kumpulan dari 6 (enam) proses yaitu

1. Proses penyusunan Rencana Umum, berupa strategi Persiapan O&P.


2. Proses penyusunan manual O&P terdiri dari:
 Proses perhitungan harga standar O&P.
 Proses pengkajian sosial ekonomi masyarakat petani yang mempelajari
kemungkinan kemungkinan biaya O&P sebagian dibebankan kepada petani
yang menikmati adanya bangunan Pengairan di wilayah usaha tani dan
pernukimannya.
 Penyusunan manual O&P, dengan menggunakan hasil dari kedua proses tersebut
diatas.
3. Proses pengadaan Personil dan Perlengkapan.
 Kebutuhan personil diutamakan pegawai proyek setempat, sedangkan khusus
untuk Ketua Kelompok Karya dapat diambil dari petani setempat dengan terlebih
dahulu diseleksi, terutama tingkat pendidikan formal minimal Sekolah Menengah
Pertama.
 Perlengkapan meliputi kantor, rumah, sepeda motor, sepeda dayung dan lain lain
yang menyangkut perlengkapan personil untuk memperlancar pelaksanaan
tugasnya.
4. Proses pengadaan dan pemasangan peralatan O&P

7–6
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Peralatan O&P terdiri dari peralatan Hidrologi seperti AWLR, Penakar curah hujan,
papan duga, piezomoter dan lainnya seperti theodolit, waterpass, meetband serta
peralatan pemeliharaan dan peralatan kantor.

5. Proses Penyuluhan Personil


Mengingat tenaga personil terutama Pengamat dan Juru adalah personil yang dialih
tugaskan dari pelaksanaan lapangan, seperti mekanik, operator alat berat, pengawas
dan lain lain, maka untuk kesatuan dan kesamaan bahasa dalam melaksanakan tugas
O&P perlu adanya penyuluhan khusus dibidang O&P pengelolaan embung.

6. Proses Peragaan di Lapangan


Proses ini merupakan "tes" terakhir bagi keterampilan personil melaksanakan O&P.

Jika kumpulan dari ke 6 (enam) proses tersebut diatas dapat dilaksanakan secara
sistematis, maka diharapkan dapat terwujudnya keluaran berupa Perangkat yang siap
melaksanakan O&P.

7.3.2 Proses Persiapan Pemeliharaan


Proses persiapan pemeliharaan merupakan kumpulan 6 (enam) proses utama yaitu :

1. Proses pembuatan rencana umum perbaikan dan penyempurnaan bangunan


pengairan.

2. Proses Pembinaan Teknologi Proses ini harus mampu memberi kemudahan dan
kelancaran terhadap ketiga proses lainnya. Hasil dari proses ini berupa:

 Metoda atau cara.


 Formulir/form atau blanko blanko isian, dan lain lain.
 Syarat syarat, standar standar dan lain lain.
3. Proses Perhitungan Volume

Berdasarkan kedua proses diatas maka dibuatlah proses perhitungan volume. Proses
ini juga merupakan kumpulan proses yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

 Proses Pengukuran, Proses ini menghasilkan topografi lahan dan potongan


memanjang serta melintang dari saluran yang ada.
 Proses ini sebaiknya dilakukan bersama sama dengan proses pengadaan dan
pemasangan peralatan Operasi terutama dalarn hal pengikatan titik titik
tingginya.
 Proses Pembuatan "Gambar Konstruksi", Berdasarkan hasil pengukuran diatas,
dan peta konstruksi, maka dibuatlah analisa (lebih banyak menggunakan

7–7
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

"Judgement") "BAGAIMANA" perbaikan atau penyempumaan dari Bangunan


Pengairan harus dilaksanakan, sehingga menghasilkan suatu produk yang sesuai
dengan sasarannya.
Proses analisa ini harus memberikan produk berupa "Gambar Konstruksi" yang
merupakan pedoman di dalam pelaksanaan konstruksi dari pekerjaan Perbaikan atau
Penyempurnaan Bangunan Pengairan.

Gambar konstruksi yang merupakan Gambar Kerja, harus disertai daftar yang
memuat:

 Kode Lokasi.
 Volume Pekerjaan.
 Harga Satuan Pekerjaan.
 Harga Bahan dan Upah setempat.
 Sketsa Keadaan lapangan dan cara penanganannya.
4. Proses Pembuatan Program Pelaksanaan Perbaikan dan Penyempurnaan

Berdasarkan ketiga proses terdahulu, maka dapat disusun Program Pelaksanaan


Perbaikan dan Penyempurnaan Bangunan Pengairan/Saluran". Keluaran dari proses
ini adalah berupa Daftar Isian Proyek (DIP) dan Petunjuk Operasional (P.O). Dalam hal
ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 Biaya yang tersedia.


 Urutan prioritas.
 Waktu pelaksanaan.
5. Proses Kegiatan Pembinaan Peralatan

Mengingat bahwa pelaksanaan Program dilaksanakan secara "full constructing", maka


proses ini akan lebih banyak tergantung kepada Pelaksana dalam hal ini "Kontraktor".

6. Proses Pelaksanaan Perbaikan dan Penyempurnaan

Proses ini sebagian besar dilaksanakan oleh "PROYEK" dalam hal ini perlu
diperhatikan:

 Form form mulai dari "Undangan Pelelangan" sampai dengan Penetapan


Pemenang" sebelum pelaksanaan fisik di lapangan
 Form form saat pelaksanaan fisik di lapangan (AS Built Drawing, Angsuran,
Amandemen, Pekerjaan Tambah, serta Serah Terima Pekerjaan)
 Perwujudan Sistem Pelaporan (harian, mingguan dan bulanan)

7–8
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Jika ke 6 (enam) proses tersebut diatas dapat terlaksana secara sistematis, diharapkan
proses Persiapan Pemeliharaan akan mampu mewujudkan keluaran berupa "BANGUNAN
PENGAIRAN SIAP DI O & P".

7.3.3 Struktur Organisasi


Pembagian dan pengaturan tugas dan wewenang dalam operasional dan pemeliharaan
harus dijabarkan dalam suatu struktur organisasi. Struktur organisasi operasi dan
pemeliharaan diperlukan untuk pelaksanaan O & P yang baik. Struktur organisasi O&P
berfungsi untuk :

1. Melaksanakan kegiatan pekerjaan fisik operasional dan pemeliharaan.


2. Melaksanakan pengaturan kegiatan operasi dan pemeliharaan.
3. Mengadakan pengaturan kegiatan operasi dan pemeliharaan.
4. Mengadakan koordinasi/komunikasi dengan instansi instansi lainnya yang ada.
5. kaitannya dengan kegiatan O&P khususnya dan kegiatan dalam konteks.
6. Pengembangan waduk pada umumnya.
7. Mengatur dan menyelenggarakan penyuluhan kepada para petani pemakai air.
Berdasarkan struktur organisasi pada Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di
tingkat Wilayah, serta berdasarkan kondisi lapangan maka diusulkan suatu Struktur
Organisasi O & P seperti pada Gambar 7.1.

7.3.4 Tugas Personil


A. Tingkat Seksi
Sebagaimana ketetapan terdahulu, bahwa seorang Kepala Seksi mempunyai wilayah seluas
+20.000 Ha. Kalau seorang juru dianggap mempunyai tugas pelaksanaan dan mereka
dikendalikan oleh Pengamat, maka tugas kepala Seksi dalam memimpin wilayah haruslah
mampu mengintegerasikan permasalahan yang timbul serta mensinkronisasikan
ketatalaksanaan yang ada.

Untuk dapat mewujudkan tugas diatas, secara singkat Kepala Seksi mempunyai tugas
koordinasi, lebih ditekankan pada koordinasi tahapan informatif, karena koordinasi pada
tahapan operasional sepenuhnya ditangani Kepala Cabang Seksi (Pengamat).

7–9
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

PSDA

CABANG DINAS

SEKSI

PENGAMAT

JURU

JURU - 1 JURU - 2 JURU - 3 JURU - 4


(Saluran) (Saluran) (Bangunan) (Bangunan)

Gambar 7.1 Tipikal Struktur Organisasi Operasional dan Pemeliharaan


B. Tingkat Pengamat

1. Tugas Pokok Pengamat


 Terselenggaranya ketertiban dalam pelaksanaan O&P sehari hari di daerahnya.
 Menyampaikan usulan rencana program tahunan O&P di daerahnya kepada
Kepala Cabang Dinas.
 Membina kerjasama dengan instansi setempat lainnya dan para pemakai air
(dalam hal ini pengamat diibaratkan sebagai poros Dinas PU ditingkat
Kecamatan).
Untuk melaksanakan ketiga tugas pokok tersebut diatas pengamat mempunyai 3
(tiga) fungsi pokok.

2. Fungsi Pokok Pengamat


 Melaksanakan pengendalian kegiatan O&P didaerahnya.
 Melaksanakan koordinasi dengan juru yang berada di daerahnya dan
menyampaikan rencana dan program ke Kepala Cabang Dinas.
 Melaksanakan hubungan kerja dengan instansi lain.

7–10
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Tabel 7.1 Ringkasan Tugas dan Fungsi


Kapan Harus Melaksanakan
No Tugas
Fungsi 1 Fungsi 2 Fungsi 3

1 Rapat Juru - Dilaksanakan setiap hari -


Dikantor Pengamat Rabu, pada Minggu ke II
& IV

2 Inspeksi Dilaksanakan setiap - -


hari Selasa,
melaksanakan
Pengawasan, Evaluasi
& memberi petunjuk
tindak turun tangan
Kepala Juru

3 Rapat Pengamat - Dilaksanakan tiap hari -


Di Cabang Dinas Jum'at, pada Minggu ke
IV menyampaikan
Usulan Rencana &
Program O&P serta
menerima instruksi
Cabang Dinas

4 Pertemuan Dengan - - Dilaksanakan


Instansi Lain Di setiap saat bila
Kecamatan dianggap perlu

C. Tingkat Juru
1. Tugas Pokok Juru :

 Terselenggaranya operasi dan pemeliharaan sehari-hari dan jaringan pengairan


yang dibiayai pemerintah.
 Terkumpulnya data tentang kondisi bangunan pengairan, perilaku air, tanarnan
dan genangan/kekeringan, tanah, cara garap, saprodi dan hama, petani, arah
pemasaran/lokasi pemasaran serta pendapatan petani di daerahnya.
 Terselenggaranya komunikasi dua arah antara Dinas Pekerjaan Umum/Pengairan
dengan petani pemakai air.
Untuk dapat melaksanakan ke 3 tugas pokok tersebut diatas, Juru pengairan
mempunyai tiga fungsi pokok.

7–11
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

2. Fungsi Pokok Juru

 Melaksanakan kegiatan O&P atas bangunan pengairan yang dibiayai pemerintah.


 Melaksanakan koordinasi para pekerja sedemikian rupa sehingga data tersebut di
atas dapat terkumpul.
 Bertatap muka dengan para petani Pemakai Air, untuk menerima usul/saran
mereka maupun memberikan anjuran & teknis yang diterima dari pengamat
setempat.

Tabel 7.2 Ringkasan Tugas Kegiatan Juru


Kapan Harus Melaksanakan
Kegiatan
No Fungsi 1 Fungsi 2 Fungsi 3
1 2 3 4
1 Inspeksi Dilakukan setiap hari Idem Idem
Senin dan Kamis pada
minggu ke-1 dan ke-3
Mengawasi & Checking terhadap Mengadakan
memberi perintah keandalan alat hidrologi wawancara para
atas penyetel-an pintu dan hidrometri. Cara- petani Pemakai
air/alat dan cara Pa Karya Air (PPA) dan
mengawasi jalannya mengumpulkan data, memberikan
pemeliharaan dan serta memberi saran-saran
mencatat dalam petunjuk-petunjuk teknis
formulir juru.
Cheking atas usulan
obyek pemeliharaan &
lain-lain dari K3
2 Inspeksi Dilaksanakan setiap - -
hari Selasa,
melaksanakan
Pengawasan, Evaluasi
& memberi petunjuk
tindak turun tangan
Kepala Juru
3 Rapat Pengamat - Dilaksanakan tiap hari -
Di Cabang Dinas Jum'at, pada Minggu ke
IV menyampaikan
Usulan Rencana &
Program O&P serta
menerima instruksi
Cab.Dinas
4 Pertemuan Dengan - - Dilaksanakan
Instansi Lain Di setiap saat bila
Kecamatan dianggap perlu

7–12
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

7.3.5 Perlengkapan Dan Peralatan Pengamat Dan Juru

A. Perlengkapan dan Peralatan Pengamat


1. Perlengkapan

 Peta pengamat, yang berisikan lokasi lokasi/pembagian daerah menurut juron, tata
letak saluran, peralatan hidrometri dan hidrologi, tata letak rumah/kantor
pengarnat, juru, dan sebagainya.
 Gambar/peta lokasi pekerjaan.
 Daftar inventarisasi saluran dan bangunan air.
 Dan lain lain.
2. Peralatan

 Alat ukur jarak (roll meter).


 Alat ukur tanah (Soil tester).
 Alat ukur tinggi (water pass).
 pH meter dan pH paper.
 Bor tanah/gambut.
 Chain saw, sower (alat pemotong rumput).
 Data peralatan yang terpasang di lapangan (hidrometri/hidrologi).

B. Perlengkapan dan Peralatan Juru


Peta yang berisi :

 Tata letak peralatan hidrologi & hidrometri yang ada pada daerahnya.
 Tata letak saluran dan bangunan air.
 Pembagian blok blok dengan kodenya.
 Tata pemanfaatan P, LU I & II (P Pekarangan, LU I = lahan usaha I, LU Lahan usaha II).
 Tata letak rumah/kantor Juru.

7.3.6 Sistem Pelaporan


Untuk memudahkan sistem pelaporan serta memahami saat atau hari-hari dalam
Pengisian Formulir, maka perlu adanya kesepakatan bersama didalam pelaksanaannya.

Pengertian dasar Minggu pertama setiap bulan, adalah hari Minggu pertama pada bulan
yang bersangkutan.

Contoh :

 Pada bulan Agustus tahun 2005, maka yang dimaksud Minggu Pertama adalah pada hari
minggu pada tanggal = 7 Agustus 2005.

7–13
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

 Sedangkan pada bulan September tahun 2005, maka Minggu pertama adalah tanggal 4
September 2005.
 Dan seterusnya.
Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka pada setiap bulan mempunyai Minggu ke 1
s/d Minggu ke 4 dan khusus untuk bulan tertentu mempunyai minggu ke 5 (dalam setiap
tahun ada 4 (empat) bulan mempunyai Minggu ke 5).

Pada saat minggu ke 5, dapat digunakan sebagai "kajian untuk mengkaji ulang apa yang
sudah disumbangkan untuk O&P, sejauh mana manfaat yang sudah diterima dan oleh
siapa, dan bagaimana kita meningkatkannya".

Dengan adanya kesepakatan pengertian tentang Minggu ke 1 setiap bulan seperti tersebut
diatas, maka diharapkan akan adanya 'Keseragaman Gerak" pada individu yang menangani
Kegiatan O&P, mulai dari K3, Juru, Pengamat, Seksi, Propinsi dan Pusat).

7.3.7 Lingkup Kegiatan

Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh Konsultan mencakup :


a. Pengukuran Topografi untuk tapak rencana embung, jalan akses, quary dan borrow
area, penyimpanan material, tempat pembuangan galian dan daerah genangan.
b. Penyelidikan geologi teknik pondasi embung dan bangunan pelengkapnya, penyelidikan
material konstruksi dan penyelidikan rencana daerah genangan.
c. Analisis hidrologi daerah tangkapan air.
d. Analisis kependudukan di daerah tapak embung dan rencana genangan serta daerah
penerima manfaat embung.
e. Analisis sosial, ekonomi dan budaya pada daerah tapak embung dan rencana genangan
serta daerah penerima manfaat embung.
f. Menyusun detail desain embung, pelimpah, serta bangunan pelengkap lainnya seperti :
g. Sistim pengelakan
h. Bangunan pengambilan
i. Jalan masuk proyek
j. Bangunan fasilitas lainnya
k. Membuat gambar teknis rencana embung beserta bangunan pelengkapnya dan fasilitas
yang berkaitan dengan pembangunan embung dan peta daerah genangan.
l. Menyusun nota desain yang meliputi kriteria yang dipergunakan dalam menyusun
desain dan perhitungan gambar teknis.

7–14
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

m. Membuat spesifikasi teknis yang meliputi ukuran yang harus dipenuhi untuk mencapai
kualitas pekerjaan yang disyaratkan dan peralatan yang dipergunakan dalam
pelaksanaan konstruksi.
n. Menyusun metode pelaksanaan yang meliputi cara pengelakan aliran sungai,
penimbunan tubuh embung, pemasangan peralatan hidromekanikal dan lain-lain.
o. Menyusun rencana anggaran biaya pembangunan embung yang meliputi perhitungan
volume pekerjaan dan pembiayaan.
p. Menyusun Dokumen Pengadaan Konsultan Supervisi untuk pekerjaan konstruksinya.
7.4 OPERASI & PEMELIHARAAN EMBUNG
Kegiatan Operasional dan kegiatan Pemeliharaan merupakan dua kegiatan yang sangat erat
hubungannya. Tujuan kegiatan O& P embung adalah kelestarian fungsi embung, guna
memperoleh manfaat sebesar-besarnya untuk memenuhi hajat hidup masyarakat.

Hasil pemanfaatan dari pengembangan daerah irigasi, baru memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bila telah menghasilkan produksi pertanian sebagaimana direncanakan
pada proses perencanaan teknik. Produksi pertanian akan tercipta apabila terdapat elemen-
elemen dasar yang terdiri dari air, tanah dan tanaman.

Apabila tanaman telah tertanam di tanah sawah, dengan jumlah air yang cukup dan kualitas
memadai, maka terjadilah hubungan yang sangat kompleks antara ke tiga elemen tersebut
di atas.

 Air dan tanah hubungannya menjadi : kebasahan tanah.


 Air dan tanaman hubungannya menjadi : pertumbuhan partial.
 Tanah dan tanaman hubungannya menjadi : pertumbuhan partial.
 Kedua pertumbuhan partial, menjadi pertumbuhan tanaman.
 Kebasahan tanah dan pertumbuhan tanaman hubungannya menciptakan produksi.
Dengan demikian, berdasarkan pengertian di atas, kegiatan O&P haruslah menjamin
kelestarian terjadinya ke lima proses hubungan sebagaimana tersebut di atas

7.4.1 Umum
Embung merupakan sarana penyimpanan air yang dimanfaatkan untuk menyimpan dan
menampung air pada musim penghujan yang kemudian akan dimanfaatkan dan
didistribusikan pada saat musim kemarau. Pendistribusian air tampungan di embung ini
akan disesuaikan dengan macam kebutuhan yang direncanakan. Kondisi air tampungan di
embung tentunya akan selalu berubah-ubah sesuai dengan keseimbangan yang terjadi
antara outflow dan inflow. Untuk menjaga agar kondisi tampungan selalu pada kondisi yang

7–15
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

direncanakan, maka diperlukan pengendalian neraca air agar terjadi suatu kondisi yang
menyebabkan tampungan air di embung senantiasa sampai batas air yang diperlukan.

7.4.2 Pola Operasi Kebutuhan


Maksud dari pola operasi disini adalah merupakan pola pendistribusian air yang pada
dasarnya dipengaruhi oleh komponen-komponen outflow maupun komponen-komponen
inflow. Untuk studi ini dilakukan dengan cara pendekatan pembagian waktu dalam
beberapa periode. Pada setiap 1 (satu) bulan terdiri dari 3 (tiga) periode dengan pembagian
yang disesuaikan dengan jumlah hari pada masing-masing bulan, hal ini karena disesuaikan
dengan pembagian periode pola tanam.

Pola pendistribusian air, didasarkan pada hasil simulasi dengan derajat kepercayaan
sebesar 90 %, akan terdapat pola perilaku muka air selama setahun pada setiap periode.
Perilaku ini akan dapat diandalkan sebagai pola standar dengan peluang 90%.

Pada simulasi ini tentunya akan memanfaatkan volume tampungan efektif, yaitu volume
yang berada di antara elevasi mercu pelimpah dan elevasi intake. Sedangkan tampungan
total adalah tampungan efektif ditambah tampungan banjir dan tampungan dasar.

Pola operasi (pengaturan pembagian air) embung meliputi hal-hal dan dapat dijelaskan
sebagai berikut :

A. Untuk Kebutuhan Irigasi


Besarnya kebutuhan air irigasi yang dikeluarkan dari embung sebesar kebutuhannya dalam
lt/detik.

B. Kebutuhan Air Bersih


Berdasarkan kondisi ketersediaan air pada tampungan, pengambilan air bersih untuk
kebutuhan penduduk dapat dilakukan penuh setiap bulan sepanjang tahun. Untuk
memudahkan pengambilan air baku oleh penduduk dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu :

1. Melalui bak penjernih.

Pada bak penjernih tersebut disediakan bak mandi di bagian dalam dan dipasang
beberapa keran di bagian luar, untuk pengambilan.

2. Pompa otomatis (Favor-Farmers Auto Pump)

Pompa jenis tersebut disarankan untuk dipasang karena memiliki beberapa kelebihan,
diantaranya hemat energi, mudah pengoperasian dan pemeliharaannya.

7–16
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

3. Besarnya kebutuhan air baku untuk Kabupaten Madiun, disesuaikan dengan adanya
pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten tersebut. Berikut. ini akan disampaikan
penambahan besaran debit yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Untuk pendistribusian air guna kebutuhan PDAM harus dibangun terlebih dahulu
infrastrukturnya. Distribusi tersebut bisa dilakukan melalui pembangunan jaringan pipa
tertutup dari intake Embung Kresek sampai menuju lokasi PDAM

7.4.3 Pola Eksploitasi Embung Kresek


Eksploitasi air embung pada saat musim kemarau harus dilakukan secara hati-hati
mengingat jumlah air yang bisa dimanfaatkan akan terbatas jumlahnya. Pada kondisi ini
ada beberapa kegiatan pengoperasian yang bisa dilakukan. Jika keadaan elevasi muka air
waduk sesuai dengan yang direncanakan, maka kegiatan yang harus dilakukan diantaranya
adalah :

 Pengaturan pengoperasian kran pada pipa intake dengan melakukan pengontrolan


debit pada alat ukur.
 Pemantauan secara periodik harian mengenai elevasi muka air embung dan debit
pengeluarannya.
 Jika elevasi muka air lebih tinggi dari yang direncanakan maka pengoperasian air
dilakukan melalui pelimpah.

7.4.4 Pemeliharaan Embung Kresek


Pemeliharaan merupakan suatu usaha untuk merawat, menjaga dan melestarikan sehingga
embung akan tetap dapat memberikan "daya layan" yang optimal kepada masyarakat.
Sebagai penerima manfaat dari proyek pembangunan embung adalah masyarakat, untuk
itu diperlukan usaha sosialisasi cara pengoperasian dan pemeliharaan, sehingga
masyarakat merasa memiliki dan menjaga subyek dari pembangunan embung tersebut.

7.4.5 Organisasi
Apabila embung yang direncanakan telah selesai dibangun, hendaknya dapat dikelola oleh
masyarakat desa setempat, dengan cara membentuk semacam himpunan petani pemakai air
yang akan bertanggung jawab terhadap segala operasional waduk tersebut. Dinas pengairan
setempat dapat memberikan bantuan kepala desa dalam masalah-masalah teknik.

7.4.6 Peninjauan lokasi (Inspeksi)


1. Desa pengelola embung melakukan peninjauan lokasi embung atau inspeksi minimal
sekali dua minggu terutama tubuh embung, pelimpah dan kom waduk.

7–17
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

2. Pada waktu dan setelah hujan lebat perlu dilakukan peninjauan lokasi.
3. Ketika menjelang musim kemarau perlu diperiksa apakah alat sadap keran air dapat
bekerja dengan baik.

7.4.7 Kolam waduk


1. Pada batas genangan dibuat pematang/tanggul dan ditanami rumput dan pada jarak 10
m ditanami dengan jenis tanaman perdu atau tanaman keras yang berukuran
sedang/tidak terlalu besar. Pembuatan pematang tersebut sangat bermanfaat untuk
mengurangi masuknya sedimentasi.

2. Pemakaian air atau para penduduk hendaknya tidak mengambil air secara langsung
dari kom waduk, hal ini untuk menghindari pemborosan air.

3. Melarang/menghindari kegiatan mencuci kendaraan, mobil atau lainnya langsung dari


waduk.

4. Hewan ternak dilarang minum langsung pada kom waduk, hal ini guna mencegah
penularan penyakit hewan terhadap manusia. Pembuatan pagar di sekeliling kom
waduk mungkin diperlukan.

7.4.8 Daerah Tadah Hujan (DTH)


1. Tata guna lahan daerah tadah hujan yang paling dominan adalah untuk pertanian
palawija singkong dan jagung. Untuk mengurangi erosi dan sedimentasi maka perlu
diperhatikan cara pengolahan tanah, yaitu dengan membuat siring-siring (gulutan).

2. Seluruh daerah tadah hujan (yang bukan lahan pertanian dan pemukiman) sebaiknya
dihijaukan dan tidak dibiarkan terbuka, serta disarankan untuk dapat ditanami
rumput.

3. Hewan ternak hendaknya tidak memasuki daerah tadah hujan untuk menjaga kebersihan air
dari pencemaran kotoran hewan.

7.4.9 Masalah yang Membahayakan Tubuh Embung


Beberapa masalah yang membahayakan embung perlu diperhatikan dalam inspeksi antara lain:

1. Daerah luas yang basah atau menghasilkan aliran

Kondisi yang demikian sering ditandai dengan tumbuhnya tanaman yang lebih subur
dibandingkan di tempat lain, yang disebabkan oleh adanya rembesan melalui
tubuh embung atau pondasi. Tindakan pertama yang perlu kita lakukan adalah dengan
menyingkirkan tanamannya, dan amatilah permukaan tanahnya dan bila daerahnya

7–18
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

basah maka segera dilaporkan kepada Dinas Pengairan setempat. Akibat dari keadaan
yang demikian daerah tanaman yang basah dapat menyebabkan terjadinya longsoran
lokal karena jenuh.

Dalam menanggulangi hal tersebut teknik perbaikan yaitu di sekitar daerah yang
basah ditutup dengan urugan beban pengimbang (counterweight) lulus air yang landai
dengan struktur urugan sebagai berikut :

 Paling bawah, langsung menutup daerah basah, urugan-sirtu atau pasir.


 Di atas lapisan sirtu ditumbuhi dengan lapisan lempung dipadatkan.
 Kaki luar beban pengimbang berupa urugan kerikil kerakal.
2. Deretan mata air atau basahan di lereng hilir tubuh embung

Mata air atau basahan terjadi secara memanjang relatif sempit dan berarah horizontal.
Hal ini disebabkan karena adanya lapisan urugan lulus air di antara urugan lempung,
sehingga terjadilah rembesan. Kondisi yang demikian perlu segera dilaporkan kepada
Dinas Pengairan setempat, karena dapat berakibat erosi buluh pada lapisan lulus air
dan selanjutnya perusakan tubuh embung atau bocoran air tampungan.

Teknik perbaikan yang dapat dilakukan adalah :

 Buat paritan sejajar sumbu tubuh embung, dari puncak embung vertikal ke bawah
menembus lapisan lulus air, lebar parit minimal 0,60 m, dasar parit mencapai 0,50
m di bawah lapisan lulus air.
 Isilah paritan dengan bahan lempung plastis yang dipadatkan.
3. Retakan Melintang

Retakan melintang ditandai dengan adanya retakan terbuka di puncak embung, dari
udik ke hilir. Air dapat mengalir dari kolam waduk ke lereng hilir sehingga terlihat
sebagai mata air. Penyebab hal itu karena penurunan kwalitas timbunan yang tidak
merata, yang akibatnya terjadi erosi yang dapat memperlebar dan memperdalam
retakan serta air hujan yang dapat merembes dan menjenuhkan tubuh embung.

4. Retakan memanjang tubuh embung.

Retakan memanjang di tubuh embung ditandai dengan terjadinya retakan di puncak


embung sejajar sumbu, biasanya terbuka lebar dan dalam. Penyebabnya yaitu bila
lurus merupakan penurunan urugan yang tidak merata dan juga melengkung hal ini
merupakan awal longsoran. Akibat dari keadaan ini air hujan dapat merembes dan

7–19
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

menjenuhkan urugan serta dapat memicu terjadinya longsoran, hal ini perlu
dilaporkan pada Dinas Pengairan setempat.

Teknik perbaikan yang dapat dilakukan yaitu :

 Jika retakan lurus, maka buatlah paritan dan isi dengan lempung atau lapaisan
yang dipadatkan basah.
 Jika retakan melengkung, maka kupaslah sampai ke dasar gerakan dan isi kembali
dengan bahan yang sesuai dan dipadatkan.
5. Erosi alur di tubuh embung

Kondisi di atas ditandai dengan adanya alur bekas erosi di lereng tubuh embung dari
puncak ke bawah yang biasanya makin ke bawah makin lebar. Hal ini mungkin
disebabkan oleh pelindung erosi tidak berfungsi baik seperti (rumput, atau pelindung
yang lain) atau muka lereng tidak merata, sehingga permukaan yang rendah menjadi
jalan hujan, keadaan ini dibiarkan akibatnya alur akan semakin dalam dan lebar tubuh
embung juga merusak jalan di puncak, maka perlu segera dilaporkan pada Dinas
Pengairan setempat ( hal ini terjadi biasanya pada embung Homogen).

Teknis perbaikan yang dapat dilakukan :

 Bersihkan alur dan urug kembali dengan bahan sejenis.


 Ratakan muka lereng tubuh embung.
6. Alur erosi di pelimpah

Alur erosi di pelimpah ditandai dengan adanya alur bekas erosi di dasar saluran
pelimpah berarah sejajar sumbu saluran peluncur pelimpah yang penyebabnya tak
jauh berbeda dengan erosi alur di tubuh waduk.

Akibat kondisi ini :

 Dapat mengakibatkan longsoran.


 Alur erosi berkembang makin lebar, makin dalam dan panjang menuju ke udik.
 Bila berkembang ke udik hingga ke kolam waduk akan mengakibatkan kehilangan
air karena daya tampung waduk berkurang.
Teknik perbaikan yang dapat dilakukan :

 Tutuplah air dengan bahan kerikil/kerakal.


 Ratakan dasar saluran pelimpah.
7. Gerusan lokal di pelimpah

7–20
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Keadaan ini ditandai dengan lubang setempat di dasar pelimpah biasanya dalam area
terbatas dan membentuk kaskade tangga-tangga. Hal ini disebabkan proteksi erosi
yang kurang memadai dan dasar saluran tidak merata, sedikit berundak-undak.

Kondisi ini bila dibiarkan akan berakibat gerusan yang makin dalam sehingga
mengakibatkan longsoran. Gerusan dapat berkembang ke udik, sehingga dapat
membahayakan tubuh embung, dan bila mencapai kolam waduk dapat mengakibatkan
kehilangan air oleh karena daya tampung embung yang makin berkurang.

Teknik perbaikan yang dapat dilakukan :

 Tutuplah lubang dengan batu-batu ukuran bongkahan.


 Dengan memakai bronjong.
8. Tanaman tumbuh tinggi di tubuh embung atau saluran pelimpah

Tanaman yang tumbuh tinggi lebih dari 0,50 m dapat berupa rumput, semak, tanaman
keras, yang meyebabkan adanya perbedaan benih vegetasi dan pemeliharaan yang
kurang baik. Akibatnya dalam hal ini akan menyulitkan pengamatan atau inspeksi
visual dan akar tanaman dapat menembus badan embung sehingga menjadi lintasan
air dan jika pada saluran pelimpah akan dapat menghalangi aliran banjir yang akan
mengakibatkan peluapan (overtopping) pada puncak embung. Namun tumbuhan
rumput sangat bermanfaat untuk menghindarkan gerusan di tubuh embung dan
pelimpah pada saat terjadi limpasan.

Tindakan yang dapat dilakukan :

 Singkirkan semua jenis tanaman yang tumbuh lebih dari 0,50 m termasuk
akarnya.
 Buang bongkaran tanaman keluar daerah waduk.
 Tanam rumput di tempat bekas tanaman tersebut.

7.4.10 Saluran Pembilas Di Hilir Intake


Saluran pembilas terletak di sebelah pintu air, saluran pembilas mempunyai fungsi pokok
sebagai berikut:

 Membilas dan mengurangi sebanyak mungkin sedimen endapan lumpur yang ada pada
embung, sehingga tidak masuk ke jaringan saluran irigasi.
 Mengontrol dan mengatur tinggi muka air yang masuk ke intake terutama saat banjir
terjadi.

7–21
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

 Saluran pembilas dan bagian-bagian mekanik lainnya secara berkala perlu diuji coba
dengan menggerakkan atau menjalankan dan bila mekanismenya terganggu perlu
segera diadakan perbaikan.
Pengoperasian dan pemeliharaan saluran pembilas harus memperhatikan hal hal sebagai
berikut :

 Pengoperasian saluran bilas dilakukan secara periodik sesuai dengan volume sedimen
yang ada. Hal ini bisa dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali atau lebih pendek lagi bila
volume sedimennya banyak.
 Saluran pembilas dibuka, ditutup dan dirawat sesuai dengan jadwal pengoperasian yang
ditetapkan dan dilakukan secara periodik.
 Saluran pembilas harus dibuka penuh bila terjadi banjir besar yang menyebabkan
elevasi muka air di situ terlalu tinggi. Hal ini untuk menghindari melimpasnya air ke
saluran intake.
 Setelah terjadi banjir atau gempa, saluran pembilas harus diperiksa sistem
pengoperasinya dan apabila terjadi kerusakan perlu segera diadakan perbaikan.
 Pembilasan hendaknya dilakukan dengan memperhatikan debit air yang ada pada
saluran terutama pada waktu musim kemarau. Pada saat tersebut, kebutuhan air
meningkat, maka pengoperasiannya harus disesuaikan dengan melhat kebutuhan air.

7.4.11 Bangunan Pelimpah


Pada bagian bangunan pelimpah yang harus diperhatikan dalam pemeliharaannya adalah
kolam olakan dan mercu pelimpah jika pelimpah terbuat dari tanah. Kolam olakan yang
terdapat dihilir pelimpah berfungsi untulk menanggulangi penggerusan lokal. Kolam olakan
yang terbuat dari beton harus diperiksa secara rutin terhadap kerusakan yang mungkin
terjadi. Pemeliharaan yang harus dilakukan yaitu :

 Pengecekan terhadap lantai kolam olakan secara rutin untuk mencegah kerusakan yang
lebih besar. Apabila terjadi kerusakan yang kecil, maka harus segera diadakan
perbaikan. Misalnya ada bagian lantai yang tergerus dan terkelupas, maka harus segera
dibongkar dan diperbaiki.
 Perbaikan ringan dan pemeliharaan rutin setiap maksimum 6 bulan sekali hendaknya
dilakukan untuk menjaga fungsi kolam olakan secara optimum. Perbaikan ringan
meliputi perbaikan lantai yang tergerus dan besarnya kecil serta dinding pengaman di
samping kiri dan kanan lantai kolam olakan.

7–22
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

7.4.12 Saluran Intake


Saluran intake berfungsi sebagai bangunan penyadap dan pengatur, yaitu untuk mengatur
besarnya debit air yang disadap dari sungai ke dalam sistem saluran yang ada di
belakangnya.

Pengoperasian dan pemeliharaan saluran intake harus memperhatikan hal-hal sebagai


berikut:

 Pengambilan harus disesuaikan dengan kapasitas saluran yang ada, serta batasan untuk
menghindari penggerusan atau pengendapan.
 Pengambilan harus memperhatikan jadwal tanam pada areal sawah yang hendak diairi
dan disesuaikan jadwal tanam pada areal persawahan.
 Lantai landasan daun saluran harus diperhatikan dan dijaga agar tetap halus dan juga
pada perapat daun saluran. Hal ini untuk menghindari kebocoran pada bagian bawah
daun saluran. Jika terjadi kerusakan harus segera diperbaiki agar saluran intake dapat
difungsikan secara optimal.
 Pengecekan terhadap saluran intake harus dilakukan setelah terjadi banjir atau gempa.
Hal ini perlu dilakukan karena kemungkinan terjadinya kerusakan akibat banjir atau
gempa tersebut.
 Fungsi saluran yang sangat penting sebagai bangunan penyadap dan pengontrol aliran
yang masuk ke dalam saluran di belakangnya. Oleh karenanya pemeliharaan yang baik
dan tepat sangat diperlukan untuk menjaga fungsi saluran secara optimal.

7.4.13 Sarana Penunjang


Dalam sistem jaringan pengairan terdapat sarana sarana pendukung bagi terselenggaranya
kegiatan operasi dan pemeliharaan sistem jaringan. Sarana pendukung pada sistem jaringan
tersebut adalah jalan. Sarana jalan merupakan alat untuk metakukan inspeksi dan
mobilisasi personil maupun peralatan dari dan ke tempat yang akan dituju.

Jalan merupakan sarana yang penting, karena jalan berfungsi sebagai penghubung antara
tempat yang satu dan yang lain dalam pelaksanaan kegiatan operasional dan pemeliharaan
jaringan irigasi maupun sebagai sarana transportasi penduduk. Jalan yang terdapat di tepi
saluran umumnya kecil dan hanya diialui oleh petani atau penduduk yang membawa ternak.

Pada jalan inspeksi yang besar, misalnya di tepi saluran primer, maka penanganan dan
perhatian terhadap jalan tersebut akan lebih besar. Jalan tersebut biasanya digunakan oleh
petani untuk mengangkut hasil panen ke tempat lain, yang biasanya menggunakan
kendaraan roda empat.

7–23
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Oleh karena itu kerusakan yang kecil pun harus segera ditangani dan diperbaiki untuk
menjaga keamanan pengguna jalan. Pemeliharaan merupakan suatu usaha untuk merawat,
menjaga dan melestarikan sehingga embung akan tetap dapat memberikan "daya layan"
yang optimal kepada masyarakat. Sebagai penerima manfaat dari proyek pembangunan
embung.

7.4.14 Persoalan Kegiatan O & P


Persoalan dalam kegiatan Perencanaan Embung adalah :

1. Daerah Embung pada umumnya lokasinya terpencil dan jauh dari keramaian, hubungan
dengan kota tidak mudah dan mahal.
2. Berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku, UU NO. 11/74 dan Keppres No.
14A/70, pelaksanaan kegiatan O&P diatur dengan mengadakan pemilahan pembebanan
tanggung jawab.
a. Bendungan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah, dengan mengikut
sertakan masyarakat.
b. Embung Tingkat Pedesaan oleh masyarakat Petani Pemakai Air, P3A.
3. Embung merupakan satu kesatuan sistem yang utuh, dalam memenuhi fungsi pelayanan
air untuk memenuhi kebutuhan petani.
Artinya untuk mencapai pelayanan yang optimal, Embung harus dalam kondisi dan
fungsi yang baik.

4. Jaringan Pengairan yang telah ada, kondisi dan fungsinya telah menurun, sesuai dengan
umurnya. Sementara itu, kegiatan O&P yang rutin efisien belum dapat dilaksanakan dan
baru pada tahap persiapan.
5. Kemunduran fungsi Embung telah sampai pada batas, yang gangguannya telah
dirasakan secara langsung oleh petani dan perlu segera ditanggulangi, gangguan
tersebut antara lain genangan/banjir dan pedangkalan saluran.
Dari hal-hal tersebut di atas, pelaksanaan kegiatan O&P menimbulkan beberapa persoalan,
seperti berikut ini

7.4.15 Organisasi Dan Personil


Mencari tenaga O&P tingkat Juru dan Pengamat dengan kualifikasi yang sesuai dan bersedia
bertempat tinggal di lokasi terpencil karena sifat tugasnya, tentu tidak mudah. Tambahan
pula, selama ini peniiaian O&P pada skala prioritas yang rendah diantara jajaran kegiatan
pembangunan lainnya sehingga sukar ditemukan personil yang tertarik, yang paham dan
menyadari perlunya kegiatan O& P.

7–24
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Sejumlah tenaga proyek yang berlebihan dibidang pembangunan biasanya enggan dan tidak
tertarik beralih ke bidang O&P, karena membosankan di daerah terpencil. Maka ini tetap
menjadi beban biaya Administrasi Proyek.

7.4.16 Kelembagaan
Berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, kegiatan O&P di Embung
Kabupaten Madiun harus dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah/DPUP Madiun. Sementara
itu, pemeliharannya Embung sudah mendesak perlu dilaksanakan, pengelolaannya
masih dibawah PSDA Direktorat Pengairan sehingga pelaksanaan O&P oleh PSDA,
belum sesuai dengan yang diisyaratkan dalam peraturan perundangan di atas.

7.4.17 Pendanaan
Bila dikehendaki Embung Kresek, kondisi dan fungsinya sedemikian baik, untuk dapat
dilakukan O&P yang efektif dan efisien, diperlukan dana yang cukup besar. Sedangkan
alokasi dana tahunan PSDA/Direktorat Pengairan dibatasi dengan dana tertentu, sehingga
dana untuk O& P pun terbatas. Keterbatasan dana O& P kurang memberikan peluang
pelaksanaan O& P yang efektif dan efisien.

7.4.18 Embung
Persoalan embung, khususnya di lokasi Kresek, secara langsung menjadi persoalan para
petani. Menurunnya fungsi Embung telah dirasakan mengganggu kehidupan antara lain:

- Proses intrusi air sungai.


- Proses tergenangnya lahan karena belum lengkap dan belum berfungsinya embung,
sehingga menyebabkan perubahan produksi pertanian.

7.4.19 Pembuatan Rencana Pola Tanam


Tampaknya Rencana Pola Tanam belum berfungsi sebagai pedoman tunggal bagi petani di
daerah Kecamatan Kewapante karena penanaman terganggu dari hujan yang terjadi. Petani
menanam padi tidak serempak, dengan cara mereka sendiri. Hal ini menyebabkan kurang
efisien dalam mengatur pelayanan, khususnya pemberantasan hama yang menjadi
tanggung jawab PPL.

Petani belum menggunakan Rencana Pola tanam yang ada terlihat dari :

- Jadwal tanam bersama


- Jenis padi berbeda-beda.
Hal ini memberi kesempatan serangan hama dan sukar pengendaliannya secara langsung
berpengaruh terhadap produksi.

7–25
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

7.4.20 Struktur Organisasi Dan Personil


Struktur organisasi O& P yang diperlukan di embung Kresek terdiri dari 1 Pengamat dan
2 Juru serta personilnya.

7.5 ORGANISASI DAN PERSONIL


Pada dasarnya, seberapa besar organisasi O& P dibentuk dan didasarkan pada 2 (dua)
pertimbangan, masing-masing :

a. Luas areal unit yang akan dilayani, setara beban kegaiatan.


b. Mengikuti standard tingkatan organisasi, sebagai berikut :

No Tingkatan Organisasi Personil Luas Areal Pelayanan

1 Propinsi Pengairan Propinsi


2 Wilayah 29 orang 70.000 ha
3 Seksi 12 orang 20.000 ha
4 Cabang Seksi/Pengamat 5 orang 5.000 ha
5 Juru/Kejuron 5 orang 1.500 ha
Sumber : Standarisasi Kimpraswil

Embung Kresek di Kabupaten Madiun, berdasarkan standard di atas dan mengingat daerah
Kecamatan Kewapante mempunyai 1 Unit Hidrologi, hanya memerlukan 1 (Unit) tingkatan
bentukan organisasi sebagai berikut :

1. Juru/Kejuron : 1 orang, dengan 5 personil.

Untuk seluruh daerah embung Kresek dengan Juru/Kejuron tersebut di atas akan
dikoordinasikan oleh Cabang Seksi. Cabang Seksi dibagi lagi menjadi 2 areal pelayanan
kejuron. Masing-masing unit areal pelayanan dapat menampilkan jumlah dan jenis
jaringan pengairan yang harus dilakukan kegiatan Operasional dan Pemeliharaannya.

Memperhatikan bahwa embung Kresek merupakan satu sistem yang utuh, maka dapat
dimengerti bahwa koordinasi Cabang Seksi, dan khususnya antar juru yang areal
pelayanannya berdekatan, serta antara juru dan Cabang Seksi bersangkutan perlu
diciptakan sebaik-baiknya. Koordinasi Cabang Seksi diserahkan pada Kepala Seksi,
sedangkan koordinasi antar juru dalam Cabang Seksi diserahkan sepenuhnya pada
Pengamat Cabang Seksi. Untuk mengatur koordinasi seperti di maksud diatas
diperlukan rincian tugas Pekerja, Juru dan Pengamat baik untuk kegiatan Operasional
maupun untuk kegiatan Pemeliharaan.

7–26
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Dengan rincian tugas diatas dapat dipikirkan prosedur kerja dan peralatan serta
pengaturan jadwal pelaksanaannya.

7.5.1 Tugas Pekerja


Ujung tombak petugas O& P dalam jajaran organisasi O& P adalah Pekerja, pembantu Juru
dalam menyelenggarakan kegiatan O& P sehari-hari. Karena itu dalam merinci tugas-tugas
pekaksana O& P dimulai dengan Pekerja. Pada dasarnya tugas Pekerja meliputi 4 (empat)
kegiatan pokok, yakni :

1. Mengumpulkan data, meliputi :

a. Pengamatan Air
⎼ Pengukuran peilschaal.
⎼ Pengukuran piezometer
Dari pengamatan ini dapat diketahui perilaku air atau hubungan tinggi muka air
di Sungai, Waduk dan Lahan. Data ini juga bermanfaat untuk merencanakan
pengoperasian waduk dan pengaturan debit serta pola tanam.

b. Pengamatan Saluran dan Bangunan Pengairan


⎼ Pengamatan kondisi alat hidrologi.
⎼ Pengamatan kondisi embung.
⎼ Pengamatan kondisi saluran suplesi
⎼ Pengamatan kondisi saluran pelimpah
Data kondisi waduk memberikan input bagi perencanaan pemeliharaan agar dapat
dilaksanakan secara teratur dan berkala, agar terjaga kelestariannya.

c. Pengamatan Tanaman
Pengamatan luas tanam padi palawija, pengamatan genangan, kekeringan dan
hama, pengamatan produksi, semprotan dan cara pengolahan data tanaman
merupakan indikator kuat bagi kondisi tanah dan air, selanjutnya indikator bagi
fungsi jaringan pengairannya.

d. Pengamatan Tanah
⎼ Pengamatan ketebalan lumpur.
⎼ Pengamatan penurunan lumpur.

2. Melakukan pemeliharaan ringan

Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengangkatan sampah, kotoran dan gulma di
saluran, penggantian kertas dan tinta alat hidrologi.

7–27
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

3. Peranan penghubung antara Juru dan Petani

a. Pekerja menyampaikan pesan juru kepada para petani, tentang pemeliharaan dan
pengoperasian waduk ditingkat desa.

b. Pekerja juga menerima usulan petani kepada Juru. Komunikasi dapat melalui
organisasi P3A ataupun secara langsung di lapangan.

Untuk melaksanakan tugas diatas, Pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan antara lain :

⎼ Peta kawasan wilayah kerja Juru dan batas areal kerja pakarya, dalam peta ini
tergambar jelas di Iokasi alat hidrologi/hidrometri, saluran, tanggul dan patok-
patok tetap.
⎼ Daftar isian yang disisipkan untuk berbagai objek pengamatan. Alat ukur panjang
meteran.
⎼ Alat tulis menulis.
⎼ Perlengkapan lapangan.
⎼ Alat transportasi.
Hasil pelaksanaan tugas-tugas Pekerja diatas dicatat secara teratur, berkala dalam
bentuk daftar isian yang tetap. Daftar isian disampaikan kepada Juru sebagai laporan
berkala, untuk di proses lebih lanjut, sebagai input proses pelaksanaan tugas Juru.

7.5.2 Tugas Juru


Juru mempunyai tugas-tugas pokok meliputi :

a. Menyelenggarakan O & P sehari-hari atas jaringan pengairan di kawasan yang menjadi


wilayah kerjanya.

b. Melaporkan pendataan tentang kondisi waduk, perilaku air, keadaan tanaman, produksi
pertanian, metoda/cara menggarap, semprotan, petani dan pemasaran.

c. Menyelenggarakan komunikasi dua arah antara Dinas Pekerjaan Umum / Pengairan


sempat dengan P3A, petani pemakai air.

Untuk melaksanakan tugas di atas, Juru mempunyai fungsi :

1. Pengawasan

Pengawasan dilakukan terhadap pelaksanaan tugas Juru, mencakup :

⎼ Pelaksanaan pemeliharaan waduk.

7–28
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

⎼ Pengoperasian saluran suplesi dan pelimpah.

⎼ Keandalan alat hidrologi/hidrometri.

⎼ Cara pelaksanaan pengumpulan data yang dilakukan oleh Juru.

2. Evaluasi

Evaluasi dilakukan terhadap:

⎼ Laporan O& P hasil pelaksanaan Pekerja.


⎼ Data hasil proses pengumpulan Pekerja dan usulan P3A untuk diproses menjadi
laporan Juru.
3. Koordinasi

Koordinasi dilakukan Juru untuk mengatur para Pekerja dalam melaksanakan


tugasnya. Di samping itu koordinasi dengan P3A melalui pertemuan dan wawancara
dengan petani, serta mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh Pengamat.

4. Pelaporan

Juru menyusun laporan dan usulan sebagai pelaksanaan tugasnya berdasarkan laporan
dan pengumpulan data yang diterima secara berkala dari Pekerja.

Untuk melaksanakan tugasnya, Juru dilengkapi dengan peralatan, seperti tersebut dibawah
ini :

⎼ Peta kawasan wilayah kerjanya dengan isi gambar yang sama seperti yang dipegang oleh
Pekerja.
⎼ Desain saluran dengan ukuran-ukuran tampang melintang dan memanjang.
⎼ Alat tulis
⎼ Sarana Transportasi.

7.5.3 Tugas Pengamat

Pengamat mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan ketertiban pelaksanaan O & P sehari-hari.


b. Mengusulkan rencana untuk program tahunan O & P di wilayah kerjanya untuk
disampaikan kepada Pengamat.
c. Membina kerja sama dan koordinasi dengan instansi setempat dan petani pemakai air
P3A.

7–29
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Untuk melaksanakan tugas-tugas di atas, Pengamat dibekali dengan fungsi-fungsi yang


melekat pada jabatannya, meliputi :

1. Pengendalian terhadap pefaksanaan kegiatan O& P di wilayahnya.


2. Koordinasi antar Juru di wilayah kerjanya untuk Pelaksanaan kegiatan O & P dan
penyusunan rencana program tahunan O & P yang akan disampaikan ke Cabang Seksi.
3. Pelaporan
Pengamat menerima laporan dan usulan dari para Juru di wilayah kerjanya, selanjutnya
menyusun laporan usulan dan rencana program.

Untuk melaksanakan tugas dan fungsi diatas Pengamat dilengkapi dengan peralatan terdiri
dari :

⎼ Peta kawasan areal kerja Pengamat dilengkapi dengan lokasi alat hidrologi/hidrometri,
waduk, saluran suplesi/pelimpah dan titik-titik tetap/BM.
⎼ Gambar lokasi pelaksanaan pemeliharaan.
⎼ Daftar inventarisasi bangunan pengairan diwilayah kerjanya.
⎼ Peralatan ukur antara lain meteran, pH meter, soil tester dan bor.
⎼ Mesin potong rumput.

7.5.4 Struktur Organisasi Dan Personil

Struktur organisasi O & P yang diperlukan di embung Kresek terdiri dari 1 Pengamat dan 2
Juru serta personilnya.

PENGAMAT

JURU JURU
BIDANG OPERASI BIDANG PEMELIHARAAN

SEKURITI OPERASI PERSONIL TETAP PERSONIL TIDAK


2 – 3 Personil 2 – 3 Personil 2 – 3 Personil TETAP
(PEKERJA)

Gambar 7.2 Struktur organisasi Operasi & Pemeliharaan

7–30
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

Contents
7.1 LINGKUP PEKERJAAN ......................................................................................................1
7.2 PENGERTIAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN ................................................................2
7.2.1 Operasional ................................................................................................................2
7.2.2 Pemeliharaan .............................................................................................................3
7.2.3 Masukan Umpan Balik................................................................................................5
7.2.4 Persiapan Operasional Dan Pemeliharaan .................................................................6
7.3 PERSIAPAN OPERASIONAL EMBUNG .............................................................................6
7.3.1 Persiapan Operasional ..............................................................................................6
7.3.2 Proses Persiapan Pemeliharaan .................................................................................7
7.3.3 Struktur Organisasi .....................................................................................................9
7.3.4 Tugas Personil ............................................................................................................9
7.3.5 Perlengkapan Dan Peralatan Pengamat Dan Juru ...................................................13
7.3.6 Sistem Pelaporan......................................................................................................13
7.3.7 Lingkup Kegiatan ......................................................................................................14
7.4 OPERASI & PEMELIHARAAN EMBUNG .........................................................................15
7.4.1 Umum .......................................................................................................................15
7.4.2 Pola Operasi Kebutuhan...........................................................................................16
7.4.2.1 Untuk Kebutuhan Irigasi ...........................................................................................16
7.4.2.2 Kebutuhan Air Bersih ...............................................................................................16
7.4.3 Pola Eksploitasi Embung Kresek ...............................................................................17
7.4.4 Pemeliharaan Embung Kresek .................................................................................17
7.4.5 Organisasi .................................................................................................................17
7.4.6 Peninjauan lokasi (Inspeksi) .....................................................................................17
7.4.7 Kolam waduk ............................................................................................................18
7.4.8 Daerah Tadah Hujan (DTH) ......................................................................................18
7.4.9 Masalah yang Membahayakan Tubuh Embung .......................................................18
7.4.10 Saluran Pembilas Di Hilir Intake ...............................................................................21
7.4.11 Bangunan Pelimpah .................................................................................................22
7.4.12 Saluran Intake...........................................................................................................23
7.4.13 Sarana Penunjang.....................................................................................................23
7.4.14 Persoalan Kegiatan O & P .........................................................................................24
7.4.15 Organisasi Dan Personil............................................................................................24

7–31
SID dan DD Embung Kresek di Kab. Madiun LAPORAN AKHIR

7.4.16 Kelembagaan ............................................................................................................25


7.4.17 Pendanaan................................................................................................................25
7.4.18 Embung ....................................................................................................................25
7.4.19 Pembuatan Rencana Pola Tanam ............................................................................25
7.4.20 Struktur Organisasi Dan Personil .............................................................................26
7.5 ORGANISASI DAN PERSONIL ........................................................................................26
7.5.1 Tugas Pekerja ...........................................................................................................27
7.5.2 Tugas Juru.................................................................................................................28
7.5.3 Tugas Pengamat .......................................................................................................29
7.5.4 Struktur Organisasi Dan Personil .............................................................................30

7–32