Anda di halaman 1dari 3

BAB 12

EKUITAS

AKUNTANSI
Pendahuluan
Menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 103-105), ekuitas sebagai bagian
hak pemilik dalam entitas, yaitu selisih antara aset dan kewajiban yang ada. Bentuk modal
tergantung dari hukum entitas. Modal Perseroan Terbatas (PT) terdiri atas saham dan secara
hukum terpisah dari kekayaan pemiliknya, sedangkan modal entitas perorangan dan firma
tidak terbagi atas saham sehingga secara hukum tidak terpisah dari kekayaan pemilik
pribadinya.
Akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan PT dilaporkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku untuk badan usaha tersebut dan SAK yang relevan. Sedangkan
akuntansi untuk ekuitas badan usaha berbentuk PT meliputi saham preferen, saham biasa dan
akun tambahan modal saham serta saldo laba.

Modal Saham
Modal Saham merupakan bagian dari ekuitas suatu PT yang dikontribusikan pemilik.
Jenis saham dapat meliputi saham biasa dan saham preferen. Saham Preferen memberikan
hak lebih kepada pemegang sahamnya berupa pembagaian aset terlebih dahulu pada saat
likuidasi, pembagian dividen, convertible, dan dapat ditebus kembali. Penjualan saham pada
umumnya berdasarkan harga pasar. Selisih antara nilai nominal dan haga pasar merupakan
agio ataupun disagio atas saham.

Tambahan Modal Saham


Menutrut SAK-ETAP yang diatur IAI (2009: 105-108), akun tambahan modal saham
terdiri dari berbagai macam unsur penambah modal seperti agio saham, tambahan modal dari
perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah dari pada jumlah yang diterima
pada saat pengeluaran, tambahan modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan
harga di atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan modal dari
perbedaan kurs modal disetor dan lain sebagainya.
Perusahaan terkadang membeli kembali sahamnya untuk tujuan tertentu dan hal ini
sering disebut treasury stock yang diperlakukan sebagai pengurang julah saham yang beredar.
Untuk tujuan pajak, penerimaan dan pembelian kembali saham oleh perusahaan penerbit
dapat dianggap sebagai dividen apabila dalam tahun lampau diperoleh laba atau kelebihan
penerimaan di atas harga perolehannya.
Saham preferen memiliki kemungkinan untuk dikonversi menjadi saham biasa.
Apabila terjadi pertukaran, maka selisih nilai buku saham preferen (nominal dan agio),
dengan nominal saham biasa dapat merupakan agio saham biasa (apabila lebih besar) atau
dibebankan kepada saldo laba (apabila lebih rendah), tetapi apabila sebelumnya pernah
dilakukan transaksi pembelian treasury stock yang sudah dijual kembali dan memperoleh
agio atas saham perbendaharaan tersebut makan dapat dibebankan terlebih dahulu pada agio
saham perbendaharaanan apabila tidak cukup baru dibebankan ke saldo laba.
Pembagian laba dalam bentuk saham termasuk dalam pengertian dividen sehingga
merupakan objek pajak sesuai Penjelasan UU PPH Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) huruf g. Atas
pembayaran penghasilan tersebut wajib dilakukan pemotongan PPH 23/26 ataupun PPH final
oeh yang wajib pajak membayarkan.

Saldo Laba
Pos saldo laba biasanya disajikan terpisah dari pos modal saham. Biasanya saldo laba
disediakan untuk dibagikan sebagai deviden. Namun apabila dianggap perlu maka saldo laba
dapat dicadangkan untuk keperluan lain, seperti untuk ekspansi perusahaan sehingga tidak
seluruh saldo laba didistribusikan. Saldo laba adalah laba yang dikumpulkan setelah dipotong
PPh sehingga menurut akuntansi komersial laba ini tidak boleh dibebani atau dikredit dengan
pos-pos yang seharusnya diperhitungkan pada perhitungan laba rugi tahun berjalan.
Pembayaran yang bersumber dari saldo laba tidak diperkenankan sebagai biaya untuk tahun
buku berikutnya. Contoh : pembayaran bonus, gratifikasi, jasa produksi dan tantiem kepada
pegawai serta pengurus yang diambil dari saldo laba tidak boleh diperhitungkan sebagai
biaya.

PERPAJAKAN
Dalam perpajakan, penjualan saham kepada pihak ketiga yang dilakukan di bursa efek
akan dikenakan PPh yang bersifat final. Berdasarkan PP 14 tahun 1997 jo. KMK-
282/KMK.04/1997 jo. SE-09.PJ.24/1997 maka untuk saham pendiri, pemilik saham pendiri
dikenakan tambahan PPh sebesar 0,5% dari nilai saham perusahaan pada saat penutupan
bursa diakhir tahun 1996. Jadi, total PPh yang dikenakan adalah 0,6% dari nilai saham
perusahaan. Dalam hal saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek setelah 01 Januari
1997, makan nilai saham ditetapkan sebesar harga saham pada saat penawaran umum
perdana.
Saat terutangnya/pemotongan PPh 23/26 ataupun PPh final atas pembayaran dividen
atau bagian keuntungan dari PT dalam negeri dengan ini disampaikan penegasan sebagai
berikut :
1) bagi PT yang tertutup, saat terutangnya PPh 23/26 ataupun PPh final ialah pada saat
disediakan untuk dibayar, yaitu pada saat pembagian dividen diumumkan/ditentukan
dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan.
2) bagi PT yang terbuka kewajiban perusahaan untuk memotong PPh 23/26 ataupun PPh
final baru timbul pada tanggal penentuan kepemilikan pemegang saham yang berhak
atas dividen (recording date).