Anda di halaman 1dari 9

Widget-Animasi-Blog

Kamis, 04 Oktober 2012


HUBUNGAN GIZI DENGAN FERTILITAS DAN INFERTILITAS

HUBUNGAN GIZI DENGAN FERTILITAS DAN INFERTILITAS

A. PENGERTIAN GIZI

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi

secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme

dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,

pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Tak satu

pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang

untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu

mengkonsumsi anekaragam makanan.

Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi

yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi

biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga,

pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu

zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari

makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin

terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
B. FERTILITAS

Fertilitas ( kesuburan ) adalah kemampuan seorang istri menjadi hamil dan

suami bisa menghamili. Pada pria masa fertilitas tertinggi terjadi antara 24 dan 35

tahun di mana pada saat tersebut merupakan tingkat kesehatan fisik dan mental

tertinggi.

Pria ini tidak memiliki abnormalitas organ-organ reproduktif dan memiliki

jumlah sperma 90 sampai 300 juta per mililiter, dengan paling tidak 75% bentuk

sperma normal dan sperma motilitas aktif.

Pada wanita, fertilitas tertinggi pada usia 20-30 tahun di mana kesehatan fisik

dan mental dalam keadaan tinggi. Wanita ini tidak memiliki kelainan organ-organ

reproduktif atau siklus menstruasi serta menghasilkan ovum secara teratur.

1. Zat Gizi pendukung Fertilisasi

Gizi atau makanan tidak saja di perlukan untuk pertumbuhan, perkembangan fisik

dan mental kesehatan , tetapi di perlukan juga untuk fertilitas atau kesuburan

seseorang agar mendapatkan keturunan yang selalu di dambakan dalam keluarga. Hal-

hal yang perlu dilakukan untuk mendukung fertilisasi :

a. Mengkomsumsi makanan yang bergizi seimbang

b. Mengkomsumsi daging (seperti daging ayam,daging sapi,ikan,telur dll)

c. Mengkomsumsi buah dan sayuran segar

d. Roti dan sereal yang tidak banyak diolah (seperti roti ,bubur,biji-bijian,gandum dll)

e. Susu atau hasil olahannya (seperti keju ,yogurt)

2. Cara menunjang fertilisasi atau kesuburan (Neil, 2001) :

a. Menghindari diet makanan pengendali BB


b. Memilih makanan segar

c. Mengolah makanan dengan baik dan benar

d. Makanan bervariasi

e. Hindari makanan yang mengandung zat pengawet

3. Bagaimana proses gizi mempengaruhi fertilisasi (kesuburan)

Gizi yang baik dan seimbang dapat meningkatkan fungsi reproduksi tetapi

kekurangan nutrisi akan berdampak pada penurunan reproduksi , dapat diketahui

apabila seseorang mengalami anoreksi nervosa, maka akan terjadi perubahan-

perubahan hormonal tertentu dengan ditandai penurunan Berat badan yang mencolok ,

hal ini terjadi karena kadar gonadotropin menurun dalam serum urine ,serta

penurunan pola sekresinya , kejadian ini berhubungan dengan gangguan fungsi

hipotalmus.

Pada wanita Anoreksia kadar hormone steroid mengalami perubahan yaitu

menigkatnya kadar testosterone serum dan penuruan sekresi keto-steroid dalam urine

diantaranya androssteron dan eplandrossteron dampaknya terjadi perubahan siklus

ovulasi.Bila Anoreksia tidak terlalu berat dapat di berikan hormone GRH (gonadotropin

relating hormone) dapat mengembalikan siklus haid menjadi normal.

C. INFERTILISASI

Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah

selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat

kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).

pasangan yang telah kawin dan hidup harmonis serta berusaha selama satu

tahun tetapi belum hamil. (Manuaba, 1998).


ketidakmampuan untuk hamil dalam waktu satu tahun. Infertilitas primer bila

pasangan suami istri tidak pernah hamil dan infertilitas sekunder bila istri pernah

hamil. (Siswandi, 2006).

Infertilitas didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengandung setelah

paling tidak 1 tahun dalam hubungan yang normal dan tidak menggunakan kontrasepsi

apa pun. Fertilitas disebabkan oleh banyak faktor. Masalah-masalah infertilitas total

atau sebagian pada pria adalah 40% sampai 50%, faktor pada wanita antara 40%

sampai 50%, dan faktor yang tidak diketahui sekitar 10% sampai 20% dari kasus yang

ditemui.

1. FAKTOR PENYEBAB INFERTILISASI

a. Infertilisasi disengaja

Infertilitas yang disengaja disebabkan pasangan suami istri menggunakan alat

kontrasepsi baik alami (kalender), dengan alat maupun kontrasepsi mantap (tubektomi

♀ tuba falopi & vasektomi ♂ vas deferens).

b. Infertilisasi tidak disengaja

1) Pihak Suami, disebabkan oleh:

a) Gangguan spermatogenesis (kerusakan pada sel-sel testis), misal: aspermia (tdk ada

sperma), hypospermia (volume semen < 1,5 ml), necrospermia (sperma mati).

b) Kelainan mekanis, misal: impotensi, ejakulatio precox (ejakulasi dini: penyemburan

mani keluar segera pada permulaan senggama, penutupan ductus deferens,

hypospadia (kelainan prtumbuhan alat kelamin luar laki-laki), phymosis (ujung

prefusium: kulit ujung luar penis mengalami penyempitan) Infertilitas yang disebabkan

oleh pria sekitar 35-40 %.


2) Pihak wanita, disebabkan oleh :

a) Tuba Falopi Tersumbat atau Rusak

Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh salpingitis (peradangan tuba falopi).

Selain membuat sulit hamil, salpingitis juga dapat menyebabkan kehamilan di luar

kandungan (ektopik). Penyakit menular seksual (PMS) klamidia dapat menyumbat

saluran tuba falopi yang menyulitkan keluarnya sel telur. Sekitar 70% sumbatan tuba

falopi disebabkan oleh infeksi klamidia.

b) Endometriosis

Endometriosis adalah pertumbuhan abnormal jaringan implan diluar uterus,

yang normalnya hanya tumbuh di uterus. Endrometriosis dapat menghalangi proses

konsepsi dan perlekatan embrio di dinding uterus.

c) Kelainan Hormon

Kekurangan hormon lutein dan hormon perangsang folikel dapat

menyebabkan sel telur tidak dapat dilepaskan (ovulasi). Kelainan kelenjar hipotalamus-

pituitari juga dapat menyebabkan anomali hormonal yang menghalangi ovulasi.

d) Tumor Pituitari

Tumor yang biasanya jinak ini dapat merusak sel-sel pelepas hormon di kelenjar

pituitari yang membuat siklus menstruasi terhenti pada wanita atau produksi sperma

menurun pada pria.

e) Kelebihan Prolaktin (Hiperprolaktinemia)

Prolaktin adalah hormon yang merangsang produksi ASI. Kelebihan hormon

prolaktin dapat mengganggu ovulasi. Bila seorang wanita banyak mengeluarkan ASI

meskipun tidak sedang menyusui, kemungkinan dia menderita hiperprolaktinemia.


f) Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Sindroma ini ditandai banyaknya kista ovarium dan produksi androgen (hormon

laki-laki) berlebihan, terutama testosteron. Akibatnya, sel telur sulit matang dan

terjebak di folikel (tidak ovulasi).

g) Menopause Prematur

Menopause prematur terjadi bila wanita berhenti menstruasi dan folikel

ovariumnya menyusut sebelum usia 40 tahun. Kelainan imunitas, radioterapi,

kemoterapi dan merokok dapat memicu kelainan ini.

h) Tumor Rahim (Uterine Fibroids)

Tumor jinak di dinding rahim ini sering dijumpai pada wanita usia 30-40 tahun.

Tumor ini dapat menyebabkan infertilitas bila menghalangi tuba falopi dan perlekatan

telur yang sudah dibuahi di dinding rahim.

i) Adesi

Adesi (adhesion) adalah sekelompok jaringan skar yang saling berkait sehingga

menyatukan dua permukaan organ yang normalnya saling terpisah. Adesi yang

melibatkan tuba falopi karena infeksi atau pembedahan dapat menghalangi fungsi

ovarium dan tuba falopi.

j) Kelainan Kelenjar Tiroid

Kelainan ini menyebabkan kelebihan atau kekurangan hormon tiroid yang

mengacaukan siklus menstruasi.

k) Kelainan Anatomi Bawaan

Kelainan bawaan pada organ reproduksi dapat menyebabkan infertilitas.

Kelainan yang disebut Mullerian agenesis ditandai dengan tidak berkembangnya vagina
atau rahim. Wanita dengan kelainan ini masih dapat punya anak melalui bayi tabung

dengan “menyewa” rahim wanita lain.

l) Merokok

Merokok dapat membahayakan ovarium dan mengurangi jumlah/kualitas sel

telur. Riset menunjukkan wanita perokok cenderung mengalami menopause lebih awal.

m) Stres

Neurotransmiter (pengirim pesan kimiawi) bekerja di kelenjar hipotalamus

untuk mengendalikan hormon-hormon reproduksi dan stres. Tingkat hormon stres

yang tinggi dapat mengganggu sistem reproduksi.

n) Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk

Wanita yang terlalu kurus, misalnya para atlet maraton atau penderita anorexia,

dapat kehilangan fungsi reproduksinya. Kegemukan dapat menyebabkan infertilitas

dengan berbagai cara. Policystic ovarian sydrome (PCOS), misalnya, lebih sering terjadi

pada wanita yang kegemukan.

3) Faktor Lingkungan

Herbisida, pestisida, limbah industri dan polusi lainnya dapat mempengaruhi

fertilitas. Phtalate, zat kimia untuk melunakkan plastik, diduga dapat mengganggu

fungsi hormon-hormon tubuh.

Dengan banyaknya penyebab infertilitas, merupakan hal yang penting bagi

pasangan yang menginginkan untuk memelihara anak menjalani pemeriksaan

diagnostik yang ekstensif. Riwayat diambil dengan sangat cermat dan berhati-hati, dan

pemeriksaan fisik secara lengkap dilakukan pada kedua pasangan. Semen dianalisa

pada awal proses diagnostik, dan pasien wanita diminta untuk melakukan pencatatan

suhu basal serta evaluasi mukosa serviks. Berbagal pemeriksaan lainnya dilakukan

untuk mencoba mengidentifikasi penyebab pasangan infertilitas, dan dianjurkan terapi


yang sesuai. Karena rumitnya diagnosis dan pengobatan infertilitas, maka infertilitas

menjadi sub-spesialis dari obstetri dan ginekologi. Pasangan dapat dirujuk pada dokter

seternpat atau pada klinik infertilitas yang dapat ditemukan pada pusat pelayanan

kesehatan.

2. Bagaimana proses gizi mempengaruhi infertilisasi

Kekurangan nutrisi akan berdampak pada penurunan reproduksi karena

kurangya asupan gizi yang baik dan seimbang serta pola hidup yang tidak sehat baik

istri maupun suami sehingga perkembangan dan kualitas reproduksi menurun seperti

pada pria Gangguan spermatogenesis (kerusakan pada sel-sel testis), misal: aspermia

(tdk ada sperma), hypospermia (volume semen < 1,5 ml), necrospermia (sperma mati)

Kelainan mekanis, misal: impotensi, ejakulatio precox (ejakulasi dini: penyemburan

mani keluar segera pada permulaan senggama, penutupan ductus deferens,

hypospadia (kelainan prtumbuhan alat kelamin luar laki-laki), phymosis (ujung

prefusium yaitu kulit ujung luar penis mengalami penyempitan) dan pada wanita

kerusakan pada tuba ,kelainan hormone ,tumor rahim dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetric Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 1981.

Ginekologi. Elstar Offset, Bandung.

Francin, P. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. EGC, Jakarta, 2005.

Manuaba, IBG, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.


Manuaba, IBG, 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga Berencana

Untuk Bidan. EGC. Jakarta.

Moehji, S. Ilmu Gizi. Jilid I. Bhatara Karya Pustaka, Jakarta, 1982