Anda di halaman 1dari 22

KASUS TUTORIAL

Keluhan Utama:
Nyeri Kepala

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien laki-laki berusia 63 tahun datang dengan keluhan sakit kepala
dibagian belakang kepala, sakit kepala dirasakan berat seperti diikat, ditekan,
tegang seperti dibebani pada sekitar daerah dahi dan tengkuk sejak 4 hari yang lalu
SMRS, disertai pusing tetapi pasien tidak mengalami muntah, keluhan semakin
memberat ketika pasien beraktivitas terutama siang hari. Nyeri dirasakan sekitar 30
menit.

Riwayat Penyakit Terdahulu


 Riwayat hipertensi (+), DM (+)
 Riwayat kolesterol (-)

Anamnese pekerjaan/keluarga/hobi dan sebagainya


Pekerjaan pasien sebagai wiraswasta

Kesan : Sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Gizi : Baik

Pemeriksaan fisik didapatkan TD 130/80 mmHg, N 82x/menit, Suhu: 36.9 derajat


celcius, P 18x/menit.
Diagnosis Klinis : Cephalgia
Diagnosis Topis : m.pericranii, m.trapezius
Diagnosis etiologi : Chephalgia Tension Type Headache
LEARNING OBJECTIVE

1. Cephalgia?
2. Patogenesis nyeri secara umum?
3. Dasar diagnostik pada skenario?
4. Patogenesis nyeri kepala?
5. Prognosis nyeri kepala?
6. Tatalaksana nyeri kepala?
7. Klasifikasi dan cara membedakan nyeri kepala?
8. Pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis?
9. Tanda peningkatan Tekanan Intracranial?
10. Gejala yang mendahului nyeri kepala?
11. Pemeriksaan neurologis pada kasus nyeri kepala?
1. Nyeri kepala berdasarkan waktu
a. akut : < 2 minggu
b. subakut : ≥ 2 minggu, sampai 3 bulan
c. kronik : > 3 bulan
tahun 2004 dihasilkan klasifikasi nyeri kepala oleh International
Headache Society (IHS) Sakit kepala bisa merupakan keluhan primer
atau sekunder:
 Primer : suatu nyeri kepala tanpa disertai adanya penyebab struktural
organik merupakan diagnosis utama, bukan disebabkan karena
adanya penyakit lain.
 Sekunder : sakit kepala merupakan gejala ikutan karena adanya
penyakit lain
Nyeri Kepala Primer
1. Tension Type Headache
2. Migran with aura
3. Cluster headache
Tension Type Headache
TTH merupakan sensasi nyeri pada daerah kepala akibat kontraksi terus
menerus otot- otot kepala dan tengkuk (M.splenius kapitis, M.temporalis,
M.maseter, M.trapezius, M.sternokleidomastoid, M.servikalis posterior,
dan M.levator skapula).Diagnosa TTH harus memenuhi syarat yaitu
sekurang – kurangnya 2 dari berikut ini:
 adanya sensasi tertekan/terjepit,
 intensitas ringan–sedang,
 lokasi bilateral,
 tidak diperburuk aktivitas. Selain itu, tidak dijumpai mual muntah,
tidak ada salah satu dari fotofobia dan fonofobia.

Gambaran klinis TTH


Gejala klinis dapat berupa nyeri ringan- sedang, seperti ditekan atau
diikat, tidak berdenyut, menyeluruh, nyeri, oksipital, dan belakang leher,
terjadi spontan, memburuk oleh stress, insomnia, kelelahan kronis,
iritabilitas, gangguan konsentrasi, , dan rasa tidak nyaman pada bagian
leher, rahang serta temporomandibular. Pemeriksaan neurologik tidak
didapatkan adanya kelainan.

Migrain
Menurut International Headache Society (IHS), migren adalah nyeri
kepala dengan serangan nyeri yang berlansung 4 – 72 jam. Nyeri
biasanya unilateral, sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang
sampai berat dan diperhebat oleh aktivitas, dan dapat disertai mual
muntah, fotofobia dan fonofobia
Klasifikasi migraine
Migraine Tanpa Aura :
Kriteria Diagnosis :
A. Sekurang- kurang 5 kali serangan yang termasuk kriteria B-D.
B. Serangan nyeri kepala berlangsung antara 4-72 jam (tidak diobati atau
pengobatan tidak cukup).
C. Nyeri kepala yang terjadi sekurang- kurangnya dua dari karakteristik
sebagai berikut:
 Lokasi unilateral
 Sifatnya mendenyut
 Intensitas sedang sampai berat
 Diperberat oleh kegiatan fisik
D. Selama serangan sekurang- kurangnya ada satu dari yang tersebut di
bawah ini :
 mual dan atau muntah
 fotofobia dan fonofobia
E. Tidak berkaitan dengan kelainan lain.
 Migraine Dengan Aura
Kriteria Diagnosis :
 sekurang-kurangnya terdapat 2 serangan seperti kriteria B
 sekurang kurangnya terdapat 3 dari 4 karakteristik dibawah
ini.
 Satu atau lebih gejala aura yang reversibel yang menunjukan
disfungsi hemisfer dan atau batang otak
 Sekurang kurangnya satu gejala aura berkembang lebih dari 4
menit atau lebih gejala aura yang terjadi bersama sama
C.Tidak ditemukan kelaian pada poemeriksaan fisik atau neurologik

Cluster Headache
Nyeri kepala atau muka unilateral yang hebat – sangat hebat selama 15
menit-3 jam, beberapa kali dalam sehari dalam kurun waktu beberapa
minggu hingga bulan. Pada sebagian penderita menimbulkan nyeri tekan
di daerah dasar tengkorak dan leher ipsilateral
Manifestasi klinis Cluster Headache
Nyeri timbul mendadak, dan unilateral (mencapai puncak dalam 10-15
menit dan berlangsung hingga 2 jam) berupa nyeri dan sekitar mata,
menetap tak berdenyut, frekuensi 5 serangan dalam sehari. Nyeri
menjalar ke daerah supraorbita, pelipis, maksila dan gusi atas
Gejala penyerta Cluster Headache setidaknya 1 ada.
 injeksi konjungtiva dan atau lakrimasi ipsilateral,
 Kongesti nasal
 Edema palpebra ipsilateral
 Dahi dan wajah berkeringat ipsilateral
 Miosis, Ptosis ipsilateral
 fotofobia dan fonofobia
 Perubahan perilaku selama serangan berupa kegelisahan atau agitasi
Nyeri Kepala Sekunder
a. Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan / atau leher.
b. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler cranial atau
servikal
c. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler
intracranial.
d. Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi atau withdrawalnya.
e. Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi.
f. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler berkaitan dengan kelainan kranium,
leher, mata, telinga, hidung, sinus,gigi,mulut, atau struktur facial
atau kraniallainnya.
g. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik.

Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan / atau leher.
Nyeri kepala pasca trauma dapat merupakan nyeri akut atau kronik. Nyeri
akut dapat terjadi setelah trauma yang menyebabkan trauma ringan atau
berat.
Trauma berat dapat menyebabkan perdarahan otak, perdarahan subdural
atau epidural. Nyeri kepala setelah trauma biasanya merupakan bagian
dari sindrom pasca trauma yang meliputi dizziness, kesulitan konsentrasi,
gelisah , perubahan kepribadian , dan insomnia.
1. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler cranial
atau servikal
a. Nyeri kepala pada tekanan darah tinggi ('hipertensi')
Tekanan darah tinggi dapat menimbulkan keluhan nyeri kepala.
Semua penderita nyeri kepala harus mengetahui tekanan
darahnya. Minum obat sakit kepala tanpa menurunkan tekanan
darah dapat berbahaya, karena 'hipertensi' merupakan ancaman
bagi terjadinya kerusakan organ target hipertensi (ginjal, otak,
jantung dan pembuluh darah).

b. Nyeri kepala SAH (Subarachnoid Hemorhage)


Nyeri kepala terjadi mendadak , seluruh kepala, hebat,
disertai muntah proyektil dan kadang – kadang kesadaran
menurun dan pada pemeriksaan neurologis didapatkan
tanda – tanda rangsangan meningeal
2. Nyeri Kepala Yang Berkaitan Dengan Kelainan Non Vaskuler
Intrakranial.
a. Nyeri kepala karena peningkatan tekanan intrakranial dan atau
hidrosefalus yang disebabkan oleh tumor otak. Berdasarkan
lokasinya , tumor otak dapat terjadi supratentorial atau
infratentorial. Supratentorial menunjukan gejala nyeri kepala,
kelumpuhan , kejang , sedangkan tumor infratentorial sering
menunjukan gejala saraf otak dan gejala serebelum. Analisa
terhadap 200 anak dengan tumor otak menunjukan gejala sakit
kepala (41%), muntah (12%) , ketidak-seimbangan (11%),
gangguan visual (10%), gangguan prilaku (10%), dan kejang
(9%).
b. Pada pemeriksaaan Fisik ditemukan edema papil (38%),
gangguan saraf kranial (49%),gangguan serebelum (48%), dan
penurunan kesadaran (12%)
c. Nyeri kepala karena tumor otak biasanya tidak berdenyut ,
bersifat progresif yaitu makin lama makin sering dan makin
berat. Seringkali disertai muntah. Lokasinya sering menetap
disuatu daerah. Nyeri sering terjadi pada saat bangun tidur pagi
hari , dan diperburuk oleh maneuver valsa berupa batuk, bersin
atau mengejan . nyeri juga diperburuk dengan aktivitas fisik.
d. Nyeri Kepala Berkaitan Dengan Perubahan Cairan
Serebrospinal (Low-CSF –Pressure headache).
- Penyebab diantaranya Dural tear and subsequent CSF leak
caused by strenous activity, heavy lifting, straining, ,
surgery or trauma kapitis, Produksi CSF berkurang dan
ortostatik headache oleh karena dehidrasi, infeksi berat,
DM yg tdk terkontrol baik, spontan atau idiopathic low-
CSF headache pressure
- Faktor yg mempengaruhi : Usia ( lebih sering pd usia
muda), jarum punksi yang tajam dan lobang besar
- Gambaran klinis meliputi ; tekanan CSF < 30 mmH2O,
distribusi nyeri : frontal; temporal, holocephalic ,
karakteristik nyeri : berat, berdenyut, sama seperti migrane
atau TTH, pemicu nyeri : beberapa menit setelah duduk dan
berdiri, dan menetap selama berdiri, berkurang secara
dramatis pada saat tidur terlentang.Disertai gejala lain :
mual, muntah, dizzines, tinnitus, dan kaku leher.
e. Idiopathic Intracranial Hypertension(Pseudotumor Cerebri)
Gejala:
Tekanan CSF > 250 mmH2O, lebih sering pada wanita,
terutama obesitas, sering di jumpai papil edema ,adanya suara
ribut didalam kepala ,tinnitus, diplopia , penglihatan kurang
jelas dalam waktu singkat. Tidak ditemukan tanda-tanda
penyakit intracranial, tidak ada gangguan metabolisme, toksik,
hormon yg bisa menyebabkan hipertensi intrakranial .
Pemeriksaan CSF: protein dan sel normal

d. Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi atau withdrawalnya.

Nyeri kepala juga bisa terjadi karena terlalu lama (lebih dari 15
hari) minum obat sakit kepala, kemudian ketika 'putus obat' malah
menimbulkan keluhan nyeri kepala.

e. Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi.


 Nyeri kepala karena infeksi susunan saraf pusat terutama meningitis
Pada meningitis bakterialis, nyeri kepala ditandai gejala infeksi,
gejala rangsang meningeal dan gejala serebral berupa kejang atau
kelumpuhan. Meningitis tuberkulosa dapat menunjukkan gejala
nyeri kepala berat sebelum munculnya gejala serebral lain dan gejala
rangsang meningeal. Berbeda dengan peninggian tekanan
intrakranial lain, pada meningitis tuberkulosa sering ditemukan
atrofi papil N. II karena saraf otak ke II terkena langsung. Gejala
abses otak mirip dengan tumor otak ditambah gejala
infeksi.Dilakukan pemeriksaan darah, dan pungsi lumbal

 Nyeri Kepala Pada Arthritis Servikal. Nyeri kepala disertai nyeri


leher dan timbul dalam mengerakan kepala. Dilakukan pemeriksaan
rontgen Vertebra cervical AP dan lateral

 Nyeri Kepala Pada Abses Otak. Nyeri baru dirasakan, hilang-timbul,


bersifat ringan sampai berat, dirasakan di satu titik atau di seluruh
kepala Sebelumnya penderita mengalamiinfeksi telinga, sinus atau
paru-paru atau penyakit jantung rematik atau penyakit jantung
bawaan.

f. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler berkaitan dengan kelainan


kranium, leher, mata, telinga, hidung, gigi,mulut, atau struktur
facial atau kraniallainnya.
a. Nyeri kepala karena sakit gigi
Keluhan sakit gigi (nyeri gigi) dapat disebabkan karena berbagai
penyakit pada gigi sehingga kelainan / penyakit pada gigi perlu
dicari dan diatasi oleh dokter gigi.
b. Nyeri kepala pada Hidung
 Sinusitis
Nyeri kepala ringan hingga berat dirasakan di daerah muka, pipi
atau dahi, biasanya disertai juga dengan keluhan 'THT' (telinga,
hidung dan tenggorakan) yang lain, misalnya berdahak, hidung
mampet, hidung meler dan lain-lain.
 Rhinitis
Nyeri kepala dan gangguan hidung (hidung tersumbat, rinore,
rasa sesak atauterbakar) berulang, diakibatkan bendungan dan
edema membran mukosa hidung. Nyeri kepala terutama pada
bagian anterior, ringan sampai sedang dalam intensitasnya.
Penyakit ini biasanya merupakan bagian dari reaksi individu
selama stress. Seringkalidisebut‘rinitis vasomotor’ .
c. Nyeri kepala pada kelainan mata
'Iritis', 'glaukoma' dan 'papilitis', dapat menimbulkan nyeri sedang
hingga berat pada mata dan sekitarnya. Mata tampak memerah
disertai dengan gangguan penglihatan.
g. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik.
Nyeri Kepala Karena Waham, Keadaan Konversi Atau hipokondria. Nyeri
kepala pada penyakit-penyakit ini dimana gangguan klinis umum berupa
suatu reaksi waham atau konversi dan tidak ditemukan suatu
mekanisme nyeri prefer. Yang juga erat kaitannya adalah reaksi
hipokondri, dimana gangguan perifer sehubungan dengan n y e r i
kepala adalah minimal.Penyakit-penyakit ini
d i s e b u t j u g a n y e r i k e p a l a ‘psikogenik

Sumber : Lindsay, Kenneth W,dkk. Headache Neurology and


Neurosurgery Illustrated. London: Churchill Livingstone.2004.66-
72.ISH Classification ICHD II ( International Classification of Headache
Disorders) available at: http://ihs-
classification.org/_downloads/mixed/ICHD-IIR1final.doc.
2. Patogenesis nyeri secara umum :
Organ indera untuk nyeri adalah ujung-ujung saraf “telanjang” yang dijumpai
pada hampir semua jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke susunan saraf
pusat oleh dua sistem serabut.
1. Sistem nosiseptor yang terbentuk dari serabut-serabut Aδ kecil bermielin
dengan diameter 2-5 µm. SIstem ini menghantarkan dengan kecepatan
12-30 m/s
2. Serabut C tak bermielin dengan diameter 0,4-1,2 µm. Serabut ini
ditemukan di bagian lateral radiks dorsalis dan sering disebut serabut C
radiks dorsalis. Serabut ini menghantarkan dengan kecepatan lambat
sebesar 0,5 – 2 m/s.

Kedua kelompok serabut ini berakhir di kornu dorsalis. Transmiter sinaps


yang disekresi oleh serabut aferen primer yang menghantarkan nyeri ringan
cepat adalah glutamate, dan transmitter yang menghantarkan nyeri hebat
lambat adalah substansi P.

Taut sinaps antara serabut nosiseptor perifer dan sel kornu dorsalis di medulla
spinalis merupakan bagian yang sangat plastis. Karena itu, kornu dorsalis juga
disebut sebagai gerbang/pintu, tempat impuls nyeri dimodifikasi.

Sebagian akson neuron kornu dorsalis berakhir di medula spinalis dan batang
otak. Sebagian lain masuk ke sistem ventrolateral, termasuk traktus
spinotalamikus lateral. Beberapa naik di bagian dorsal medulla spinalis.

Beberapa jenis nyeri berdasarkan jaringan yang terlibat:

a. Nyeri cepat dan lambat


Ransangan nyeri akan menimbulkan sensasi yang jelas, tajam, dan
terlokasi yang kemudian diikuti oleh sensasi yang tumpul, difus, kuat dan
tidak menyenangkan.
b. Nyeri dalam
Perbedaan utama antara sensibilitas superficial dan dalam adalah
perbedaan sifat nyeri yang dicetuskan oleh ransangan yang
membahayakan

c. Nyeri otot
Bila otot berkontraksi secara ritmis, tetapi suplai darah tetap adekuat,
biasanya tidak akan timbul nyeri. Namun, apabila suplai darah ke otot
tersumbat, kontraksi dengan segera akan menimbulkan nyeri. Setelah
kontraksi berhenti, nyeri tetap ada sampai aliran darah kembali pulih.

d. Nyeri visera
Selain tidak memiliki lokalisasi yang baik, menimbulkan rasa tidak
menyenangkan dan berkaitan dengan dengan mual dan gejala otonom,
nyeri visceral sering kali menyebar dan dialihkan ke daerah lain. Serabut
aferen dari struktur viscera mencapai SSP melalui jalur simpatis dan
parasimpatis. Secara spesifik, aferen viscera terdapat di saraf fasialis,
glosofaringeus, dan vagus; di radiks dorsalis torakal dan lumbal atas,
serta di radiks sacrum. Juga terdapat serabut aferen viscera dari mata
dalam saraf trigeminus.

e. Nyeri alih
Iritasi pada organ dalam sering menimbulkan nyeri yang dirasakan tidak
pada organ tersebut tetapi pada beberapa struktur somatic yang mungkin
terletak cukup jauh. Contoh nyeri pada jantung dialihkan pada abdomen,
lengan kanan, bahkan ke leher.

f. Nyeri peradangan
Setelah mengalami cedera yang tidak ringan, timbul nyeri peradangan
yang menetap hingga cederanya sembuh. Ransangan di daerah yang
cedera yang dalam keadaan normal biasanya hanya menyebabkan nyeri
ringan menimbulkan respon yang berlebihan (hiperalgesia), dan
rangsangan yang biasanya tidak berbahaya misalnya sentuhan
menimbulkan rasa nyeri (alodinia)

g. Nyeri neuropatik
Nyeri neuropatik dapat terjadi jika serabut saraf mengalami cidera. Nyeri
ini biasanya berat dan sulit diatasi. Salah satunya adalah nyeri pada
ekstremitas yang telah diamputasi (phantom limb). Riset pada hewan
menunjukkan bahwa cedara pada saraf menyebabkan pertumbuhan
berlebihan serabut-serabut saraf simpatis noradrenergic ke dalam
ganglion radiks dorsalis saraf sensorik dari daerah yang cedera.
Pelepasan muatan simpatis kemudian memicu nyeri.

Sumber. Ganong, W.F. 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran ed.22. Jakarta:
EGC

3. Anamnesis:
Pasien datang dengan keluhan sakit kepala dibagian belakang kepala, sakit
kepala dirasakan berat seperti diikat, tegang, seperti dibebani pada sekitar
daerah dahi dan tengkuk sejak 4 hari SMRS, nyeri kepala dirasakan hilang
timbul dan lama nyeri sekitar 30 menit, setalah 30 menit nyeri hilang dan
timbul lagi sekitar 2 jam kemudian. Keluhan dirasakan memberat saat pasien
sedang beraktivitas terutama pada siang hari, nyeri kepala disertai dengan
pusing, rasa mual tetapi tidak sampai muntah, demam (-), Riwayat HT: (+),
Dm (-), Bab & Bak Lancar.
Pemeriksaan neurologis: GCS E4V5M6, FKL: DBN, RM: KK(-), KS (-),
Nn.Cranialis: Normal, Motorik ekstremitas superior: P=B/B, T=N/N, K=5/5,
RF = ++/++, RP = -/-, ekstremitas inferior: P = B/B, T = N/N, K = 5/5, RF =
++/++, RP = Babinski -/-.
Pada pemeriksaan neurologis tidak ditemukan adanya defisit neurologis.
Pemeriksaan fisik:
Ttv: Td:130/80 mmHg, Nadi:82x/menit, suhu: 36,9°C.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis:
Diagnosis Klinis : Cephalgia
Diagnosis Topis : m.pericranii, m.trapezius
Diagnosis etiologi: Chephalgia Tension Type Headache

4. Patogenesis nyeri kepala


Bangunan peka nyeri di kepala apabila teransang akan menimbulkan perasaan
nyeri. Bangunan ini dapat dibedakan menjadi bangunan intracranial dan
ekstrakranial. Bangunan peka nyeri intracranial meliputi pembuluh darah
besar, duramater dasar tengkorak, nervus kranial V. IX dan X, serta saraf spinal
servikal bagian atas. Sementara jaringan otak bukan merupakan bangunan peka
nyeri. Bangunan peka nyeri ekstrakranial meliputi mata dan orbita, telinga,
sinus paranasal, hidung, mastoid, orofaring, gigi, kulit kepala, kuduk dan
vertebra servikal. Nyeri yang berasal dari bangunan intracranial tidak dirasakan
di dalam rongga tengkorak melainkan dirujuk ke bagian lainnya. Nyeri yang
berasal dari duapertiga bagian depan cranium, di fossa cranium tengah dan
depan, serta di atas tentorium serebeli dirasakan di daerah frontal, parietal dan
temporal.Nyeri ini disalurkan melalui cabang pertama nervus trigeminus.
Bangunan peka nyeri ini terlibat melalui berbagai cara yaitu oleh peradangan,
traksi, kontraksi otot, dan dilatasi pembuluh darah.

Sumber : Harsono. 2011. Buku ajar neurologi klinis. Jogjakarta : Gadjah mada
University Press
5. PROGNOSIS
 Tension Headache
Pada penderita TTH dewasa berobat jalan yang diikuti selama lebih dari
10 tahun, 44% TTH kronis mengalami perbaikan signikan, sedangkan 29%
TTH episodik berubah menjadi TTH kronis. studi populasi potong lintang
denmark yang ditindaklanjuti selama 2 tahun mengungkapkan rata&rata
remisi 4'% di antara penderita TTH episodik (rekuen atau TTH kronis,
39% berlanjut menjadi TTH episodik dan 16% TTH kronis. secara umum,
dapat dikatakan prognosis TTH baik.
Nyeri kepala tegang otot ini pada kondisi tertentu dapat menyebabkan
nyeri yang menyakitkan, tetapi tidak membahayakan# Nyeri ini dapat
sembuh dengan perawatan ataupun dengan menyelesaikan masalah yang
menjadi latar belakangnya jika merupakan nyeri kepala tegang otot yang
timbul akibat pengaruh psikis. Nyeri kepala ini dapat sembuh dengan
terapi obat berupa analgetik. Nyeri kepala tipe tegang ini biasanya mudah
diobati sendiri. engan pengobatan, relaksasi, perubahanpola hidup, dan
terapi lain, lebih dari "0% pasien sembuh dengan baik.
 Migrain
Sekitar 23% anak akan bebas migren sebelum usia 25 tahun, prognosis
laki&laki lebih baik. Pada 52% orang tua dengan riwayat migren, akan
memiliki paling sedikit 1 anak yang mengalami nyeri kepala berulang, dan
mungkin migren.
Migren dengan awal kejadian sebelum umur 3 tahun umumnya lebih
banyak terjadi pada laki&laki dibandingkan dengan perempuan pada
beberapa orang dengan migren dapat berlanjut pada umur 7-15 tahun. 20%
akan menjadi bebas migren pada umur 25 tahun dan 50% akan menjadi
migren berlanjut sampai umur 50 dan 60 tahun.
Bagi banyak penderita migren, masa penyembuhan sangat penting,
terutama menghindari Faktor pencetus.Migren pada akhirnya dapat
sembuh sempurna. terutama pada wanita yang sedah memasuki masa
menopause, akan lebih aman mengalami serangan, berhubungan dengan
produksi serotonin.
 Cluster Headache
80 % pasien dengan cluster headache berulang cenderung untuk
mengalami serangan berulang. Cluster headache tipe episodik dapat
berubah menjadi tipe kronik pada 4 sampai 13 % penderita. Remisi
spontan dan bertahan lama terjadi pada 12 % penderita, terutama pada
cluster headache tipe episodic. Umumnya cluster headache menetap
seumur hidup.

Referensi : Dito Anurogo,2014. Tension Type Of Headache. Universitas


Airlangga: Surabaya.

6. Penatalaksanaan tension type headache:


Medikamentosa:
a. Analgesik: aspirin 1000 mg/hari,acetaminophen 1000 mg/ hari, ibu profen
800mg/hari)
b. Caffeine 65 mg
c. Kombinasi: 325 aspirin,acetaminophen+ 40 mg kaffein
d. Antidepressan: amitriptiline ( dosis: 25-100 mg /hari sebelum tidur,
e. Antianxietas : golongan benzodiazepine dan barbutirat (ex: diazepam
dosis 5- 15 mg/hari,alprazolam 0,25- 0,5 mg 3x sehari.

Terapi non farmakologi:


a. Control diet
b. hindari Faktor pencetus
c. Hindari pemakaian harian obat analgesic , sedative dan ergotamine
d. Behavior treatment

Sumber:perdosi, standar pelayanan medic (SPM), Perhimpunan Dokter


Spesialis Saraf Indonesia
7. Cara membedakan Nyeri Kepala
Menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri kepala atau cephalgia dapat primer atau
sekunder:

1. Primer berupa migren, nyeri kepala klaster, nyeri kepala tegang otot
(Tension Type Headache).
2. Sekunder berupa nyeri kepala pascatrauma, nyeri kepala organik sebagai
bagian penyakit lesi desak ruang (tumor otak, abses, hematoma subdural,
dll), perdarahan subaraknoid, neuralgia trigeminus/pascaherpetik,
penyakit sistemik (anemia, polisitemia, hipertensi atau hipotensi, dll),
sesudah pungsi lumbal, infeksi untrakranial/sistemik, penyakit hidung dan
sinus paranasal, akibat bahan toksik dan penyakit mata.
Berikut ini disajikan jenis-jenis cephalgia atau nyeri kepala pada Tabel :

Tabel. Jenis-jenis Nyeri Kepala

Nyeri Lama Gejala


Sifat Nyeri Lokasi Frekuensi
Kepala Nyeri Ikutan
Difus, Bilateral Depresi,
Tension ansietas
Tumpul, Terus
Type Konstan
ditekan menerus
Headache

Migren Berdenyut Unilateral atau 6-48 jam Sporadik Mual,


tanpa aura Bilateral Beberapa kali muntah,
sebulan malaise,
fotobia
Migren Berdenyut Unilateral 3-12 jam Sporadik Prodroma
dengan aura Beberapa kali visual,
sebulan mual,
muntah,
malaise,
fotobia
Klaster Menjemu- Unilateral, 15-20 Serangan Lakrimasi
kan, tajam orbita menit berkelompok ipsilateral,
dengan remisi wajah
lama merah,
hidung
tersumbat,
horner
Neuralgia Ditusuk- Dermaton saraf Singkat, Beberapa kali Zona
trigeminus tusuk V 15-60 sehari pemicu
detik nyeri
Nyeri Berdentum Gejala Progresif Terus- Batuk,
kepala neurologis menerus bersin,
tumor otak dapat timbul / muntah.
tidak tergsntung
lokasinya di
otak

Referensi: Arif Mansjoer. 2000. Jakarta. Klasifikasi Cephalgia. Neurologi medical


note. Jakarta.
8. Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu darah
rutin dan pemeriksaan radiologi yaitu X-Ray kepala . Pemeriksaan penunjang
pada kasus skenario dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding bahwa
cephalgia tidak sdisebabkan oleh adanya kelainan organik di otak maupun
kelaninan sistemik lainnya (cephaligia sekunder)
Referensi:

9. GEJALA DAN TANDA

Gejala klinis TIK antara lain:


„ „ Nyeri Kepala
Nyeri kepala terjadi karena dilatasi vena, sehingga terjadi traksi dan
regangan struktur-sensitif-nyeri, dan regangan arteri basalis otak. Nyeri
kepala dirasakan berdenyut terutama pagi hari saat bangun tidur.
Kadangkala penderita merasa ada rasa penuh di kepala. Nyeri kepala
bertambah jika penderita bersin, mengejan, dan batuk.
„ „ Muntah
Muntah terjadi karena adanya distorsi batang otak saat tidur, sehingga
biasanya muncul pada pagi hari saat bangun tidur. Biasanya tidak disertai
mual dan sering proyektil.
„ „ Kejang
Kecurigaan tumor otak disertai TTIK adalah jika penderita mengalami
kejang fokal menjadi kejang umum dan pertama kali muncul pada usia
lebih dari 25 tahun.
„ „ Perubahan Status Mental dan Penurunan Kesadaran
Penderita sulit memusatkan pikiran, tampak lebih banyak mengantuk
serta apatis.
„ „ Tanda TTIK
Tanda-tanda fisik yang dapat ditemukan adalah papil edema, bradikardi,
peningkatan progresif tekanan darah, perubahan tipe pernapasan,
timbulnya kelainan neurologis, gangguan endokrin, dan gangguan
tingkat kesadaran.
Pada anak-anak, dapat terjadi pembesaran lingkar kepala dengan
pelebaran sutura tengkorak. Kelainan neurologis yang sering adalah
kelumpuhan nervus VI dan nervus III serta tanda Babinski positif di
kedua sisi.

Sumber : Affandi I, G., Panggabean R. Pengelolaan Tekanan Tinggi


Intrakranial pada Stroke. Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran/RSUP Hasan Sadikin Bandung, Indonesia. CDK-238/ vol.43
no.3, th. 2016

10. Gejala yang menyertai Tension Tipe Headache:


a. Serangan sekurang kurangnya terdapat 10 episode serangan nyeri kepala
b. Nyeri kepala berlangsung 30 menit sampai 7 hari
c. Setidaknya memiliki karakteristik nyeri kepala berikut:
 Lokasi bilateral
 Nyerinya menekan/atau mengikat
 Intensitas nyeri ringan sampai sedang
 Tidak di perberat oleh aktivitas rutin seperti berjalan,atau naik tangga
d. Tidak di jumpai:
 Mual atau muntah
 Lebih dari satu keluahan
 Fotofobia atau fonoofobia
e. Tidak berkaitan denfan keluhan lain

Sumber: perdosi, standar pelayanan medic(SPM),perhimpunan dokter


spesialis saraf indonesia
11. Auskultasi bising di daerah karotis dan arteri vertebral dan orbit dapat
memperingatkan klinisi akan potensi stenosis arteri atau diseksi, atau
malformasi arteriovenous.Pemeriksaan saraf kranial dapat menjadi petunjuk
etiologi nyeri kepala. Gangguan penciuman tersering disebabkan oleh trauma
kepala. Gangguan penciuman menunjukkan adanya gangguan pada alur
penciuman (olfactory groove), misalnya tumor frontotemporal. Pada
pemeriksaan funduskopi, adanya perdarahan atau papilledema mengharuskan
dilakukannya imejing yang cepat untuk menyingkirkan kemungkinan lesi
desak ruang. Pemeriksaan lapang pandang yang menunjukkan defek lapang
pandang bitemporal ditemukan pada tumor hipofisis. Selama serangan nyeri
kepala klaster, dokter dapat menemukan adanya lakrimasi ipsilateral,
rhinorrhea, ptosis, miosis, dan wajah berkeringat pada pasien. Kelainan
gerakan mata bisa disebabkan oleh gangguan saraf okulomotor akibat
peningkatan tekanan intrakranial. Saraf kranial lainnya dapat dipengaruhi oleh
berbagai penyebab. Jika keterlibatan bersifat tidak menyeluruh, asimetris, dan
progresif, maka penyebab infiltratif seperti neoplasma, meningitis TB, dan
sarkoidosis harus dipertimbangkan. pemeriksaan neurologis yang meliputi
kekuatan motorik, refleks, koordinasi, dansensoris. Pemeriksaan mata
dilakukan untuk mengetahui adanya peningkatan tekanan pada bola mata yang
bisa menyebabkan sakit kepala.

Referensi : Hanik B, 2015. The Clinicians Approach to The Management Of


Headache. RSUD Dr. Soetomo: Surabaya.
TUTORIAL Mei 2018

CEPHALGIA TTH

Disusun Oleh:
Deddy Lesmana M.B
Yogi Setiawan
I Made Siwa Mertha
Rizki Apriliani
Riska Nur Fatmawati
Nur Aisyah Latifah

PEMBIMBING KLINIK
dr. JENY SAMPE, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN NEUROLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATAPALU
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018