Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

“MANAJEMEN PENYAKIT HERPES KELAMIN (HERPES


SIMPLEX)”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Penanggulangan Penyakit Menular &
HIV AIDS

Dosen pengampu : Dra. Meity Albertina, SKM, S.ST., M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok 1

Siti Normah P07220116116

Sri Bintang Regita P07220116117

Tito Prasetiyo P07220116118

Vera Dwi Tamara P07220116119

Yulpianti Annisa P07220116120

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang “MANAJEMEN
PENYAKIT HERPES KELAMIN (HERPES SIMPLEX)” dapat selesai tepat pada
waktunya sebagai salah satu tugas mata kuliah Penanggulangan Penyakit Menular &
HIV AIDS.

Terimakasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu


dalam proses penyusunan makalah ini, baik yang terlibat secara langsung maupun
yang tidak.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena
keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah yang
lebih baik lagi.

Balikpapan, 14 Februari 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 1


DAFTAR ISI ............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 3
A. Latar Belakang .................................................................................................. 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 4
C. Tujuan................................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 5
A. Pengertian .......................................................................................................... 5
B. Epidemiologi ..................................................................................................... 5
C. Etiologi .............................................................................................................. 7
D. Pathogenesis ...................................................................................................... 8
E. Manifestasi Klinis ............................................................................................. 9
F. Pemeriksaan Laboratorium ............................................................................. 11
G. Komplikasi ...................................................................................................... 13
H. Penatalaksanaan .............................................................................................. 13
I. Pencegahan ...................................................................................................... 15
J. Patofisiologi .................................................................................................... 15
K. Pathway ........................................................................................................... 16
L. Konsep Asuhan Keperawatan ......................................................................... 17
1. Pengkajian ................................................................................................... 17
2. Diagnosa Keperawatan ................................................................................ 18
3. Intervensi Keperawatan ............................................................................... 19
BAB III PENUTUP .................................................................................................. 26
A. Kesimpulan ..................................................................................................... 26
B. Saran ................................................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 27

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit herpes simpleks hingga saat ini menjadi salah satu penyakit
menular yang sering di jumpai di masyarakat. Hal ini semakin meningkat di picu
oleh beberapa factor diantaranya rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit herpes simpleks itu sendiri. Kebanyakan individu mengalami gangguan
psikologi dan psikososial sebagai akibat dari nyeri yang timbul serta gejala lain
yang menyertai ketika terjadi infeksi aktif. Sampai saat ini penyakit herpes
simpleks tidak dapat disembuhkan serta bersifat kabuhan maka terapi sekarang
di fokuskan untuk menurunkan gejala yang timbul, meningkatkan pengetahuan
mengenai herpes simpleks, menjarangkan kekambuhan serta menekan angka
penularan sehingga diharapkan kualitas hidup penderita menjadi lebih baik
setelah dilakukan penanganan dengan tepat.

Herpes simpleks menyebabkan luka – luka yang sangat sakit pada kulit.
Gejala pertama biasanya gatal – gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti
degan lepuh yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat dorman
(tidak aktif) dalam sel saraf selama beberapa waktu. Namun tiba – tiba infeksi
menjadi aktif kembali. Herpes dapat aktif tanpa gejala.

Virus herpes simpleks tipe I (HSV-1) adalah penyebab umum untuk luka –
luka demam (cold sore) di sekeliling mulut.HSV-2 biasanya menyebabkan
herpes kelamin. Namun HSV-1 dapat menyebabkan infeksi pada kelamin dan
HSV-2 dapat menginfeksi daerah mulut melalui hubungan seks oral.

Ketakutan masyarakat akan penyakit menular seksual (PMS), yang


dihubungkan dengan kesadaran akan bahaya terhadap HIV, ternyata tidak
mampu menurunkan insidens infeksi HSV-1 dan HSV-2, penyebab umum
herpes genetalis dan herpes stomatitis. Meskipun gencar dikumandangkan pesan
tentang seks aman, survey di Amerika Serikat menunjukan seroprevalensi HSV-
2 meningkat 30 antara periode 1976 – 1980 dan 1988 – 1994. Antara 1 – 30%
HSV genetalis primer disebabkan oleh HSV-1.

3
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu herpes simplex?
2. Bagaimana cara pengkajian penyakit herpes simplex?
3. Apa saja diagnose dari herpes simplex?
4. Apa tujuan dan kriteria hasil dari penyakit herpes kompleks?
5. Bagaimana rencana keperawatan herpes simplex?
6. Bagaimana evaluasi keperawatan penyakit herpes simplex?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami penjabaran tentang penyakit Herpes
Simpleks.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian, penyebab, klasifikasi, tanda
dan gejala, patofisiologi, pathway, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan, serta komplikasi dari penyakit Herpes Simpleks.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Infeksi Menular Seksual (IMS) didefiniskan sebagai penyakit yang
disebabkan karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu
kelamin yang sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik yang
berlainan jenis ataupun sesame jenis.

Herpes simpleks adalah penyakit berbentuk lesi pada kulit di sebabkan oleh
Herpes Simplex Virus (HSV) yang menimbulkan infeksi akut dan di tandai
dengan vesikel berkelompok pada kulit yang lembab.

Herpes simpleks adalah penyakit infeksi akut oleh Herpes Simplex Virus
(HSV) tipe I dan tipe II yang ditandai dengan vesikel berkelompok pada kulit
eritematosa pada daerah dekat mukokutan.Sedangkan infeksi berlangsung secara
primer ataupun rekuren.

HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari


ginggiovostomatitis sampai keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin
dan infeksi neonatal. Komplikasi tersebut menjadi bahan pemikiran dan
perhatian dari beberpa ahli seperti : ahli penyakit kulit dan kelamin, ahli
kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Virus herpes merupakan
sekelompok virus yang termasuk dalam family herpesviridae yang mempunyai
morfologi yang identik dan mempunyai kemmpun untuk berada dalam keadaan
laten dapat bertahan untuk periode yang lama bahkan seumur hidup penderita.
Virus tersebut tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi
kembali sehingga dapat tejadi infeksi rekuren.

B. Epidemiologi
Prevalensi antibody dari HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada
factor – factor seperti Negara, kelas social ekonomi dan usia. HSV-1 umumnya
ditemukan pada daerah oral pada masa kanak – kanak terlebih lagi pada kondisi
social ekonomi terbelakang. Kebiasaan, orientasi seksual dan gender
mempengaruhi HSV-2. Prevalensi HSV-2 lebih rendah disbanding HSV-1 dan
lebih sering ditemukan pada usia dewasa yang terjadi karena kontak seksual.

5
Studi serologis pada populasi menunjukan bahwa 50% usia 20 tahun telah
terpajan HSV. Studi pada populasi juga menunjukan bahwa 2 – 4% adalah karier
asimptomatik dan merupaka suatu continual virus reservoir untuk terjadinnya
infeksi baru.

Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan secara signifikan lebih
tinggi Amerika Serikat daripada Eropa dan etnik kulit hitam disbanding kulit
putih. Seroprevalensi HSV-2 adalah 5% pada populasi wanita secara umum di
Inggris, tetapi mencapai 80% pada wanita Afro – Amerika yang berusia antara 60
– 69 tahun di USA.Kelompok yang mengalami peningkatan tertinggi ialah
remaja (Peningkatan insidens 2 kali lipat).

Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan


1990-an. Di inggris laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS
meningkat enam kali lipat antara tahun 1972-1994. Kunjungan awal pada dokter
yang dilakukan oleh pasien di Amerikat Serikat untuk episode pertama dari
herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari 16.986 pasien di tahun
1970 menjadi 160.000 di tahun 1995 per 100.000 pasien yang berkunjung.
Disamping itu lebih banyaknya golongan wanita di bandingkan pria disebabkan
oleh anatomi alat genital (permukaan mukosa lebih luas pada wanita).Seringnya
rekurensi pada pria dan lebih ringan gejalanya pada pria. Walaupun demikian,
dari jumlah tersebut di atas hanya 9% yang menyadari akan penyakitnya.

Studi pada tahun 1960 menunjukkan bahwa HSV-1 lebih sering


berhubungan dengan kelainan oral dan HSV-2 berhubungan dengan kelainan
genital.Atau dikatakan HSV-1 menyebabkan kelainan di atas pinggang dan HSV-
2 menyebabkan kelainan di bawah pinggang.Tetapi didapatkan juga jumlah
signifikan genital herpes 30-40% disebabkan HSV-1.HSV-2 juga kadang-kadang
menyebabkan kelainan oral, diduga karena meningkatnya kasus hubungan seks
oral.Jarang didapatkan kelainan oral karena HSV-2 tanpa infeksi genital. Di
Indonesia, sampai saat ini belum ada angka yang pasti, akan tetapi dari 13 RS
pendidikan Herpes Genitalis merupakan PMS dengan gejala ulkus genital yang
paling sering di jumpai.

6
C. Etiologi
Herpes Genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH),
yang merupakan anggota dari family herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV
adalah:

1. Herpes Simplex Virus tipe I yang menyebabkan infeksi herpes non genital,
meskipun kadang-kadang dapat menyerang daerah genital. Pada ummnya
menyebabkan lesi atau luka pada sekitar wajah, bibir, mukosa mulut, dan
leher.

Gambar 1. HSV tipe 1


2. Herpes Simplex Virus tipe II hampir secara eksklusif hanya ditemukan pada
traktus genitalis dan sebagian besar ditularkan lewat kontak seksual.
Umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya (bokong, anal, dan
paha).

Gambar 1.2. HSV tipe 2

Herpes simplex virus tergolong dalam family herpes virus, selain HSV yang
juga termasuk dalam golongan ini adalah Epstein Barr (mono) dan varisela zoster
yang menyebabkan herpes zoster dan varisela. Sebagian besar kasus herpes
genitalis disebabkan oleh HSV-2, namun tidak menutup kemungkinan HSV-1

7
menyebabkan kelainan sama. Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang
penularannya secara utama melalui vaginal atau anak seks.Beberapa tahun ini,
HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes genital. HSV-1 genital
menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau bibir, tetapi
beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau seks.

D. Pathogenesis
HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam family herphesviridae, sebuah
grup virus DNA rantai ganda lipid-enveloped yang berperan secara luas pada
infeksi manusia. Kedua serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai
hubungan dekat sebagai subfamily virus alpha-herpesviridae. Alfa herpes virus
menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh cepat dan secara efisien
menghancurkan sel host dan infeksi pada sel inang. Infeksi pada natural host
ditandai oleh lesi epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan
penyebaran virus pada system saraf dan menetap sebagai infeksi laten pada
neuron, dimana dapat aktif kembali secara periodic. Transmisi infeksi HSV
seringkali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien yang dapat menularkan
virus lewat permukaan mukosa.

Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui


droplet pernapasan, atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi.
Seseorang terpajan HSV-1 pada umumnya sebelum pubertas. Kulit dan mukosa
merupakan pintu masuk sekaligus tempat multplikasi virus, yang menyebabkan
sel lisis dan terbentuknya vesikel.

SV-2 biasanya ditularkan secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam


tubuh hospes, terjadi penggabungan dengan DNA hospes dan mengadakan
multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit. Waktu itu pada hospes itu
sendiri belum ada antibody spesifik. Keadaan ini dapat mengakibatkan timbulnya
lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus
menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan berdiam di
sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di
ganglion syaraf trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan
infeksi laten di ganglia dorsalis sakralis. Bila pada suatu waktu ada faktor
pencetus, virus akan mengalami reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga

8
terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh hospes sudah ada antibody
spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya tidak seberat
pada waktu infeksi primer. Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma
atau koitus, demam, stress fisik atau emosi, sinar UV, gangguan pencernaan,
alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus tidak diketahui dengan jelas
penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksual baik genito
genital, ano genital maupun oro genital. Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten
tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggung jawab terhadap penyebaran
penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan mukosa
(orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel
epidermis dan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan.

E. Manifestasi Klinis
Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik.
Symptom dari infeksi awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi
awal) symptom khas muncul antara 3 hungga 9 hari setelah infeksi, meskipun
infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam tahun pertama setelah
diagnose di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode yang juga
merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1
dan HSV-2 agak susah dibedakan.

Manifestasi klinis stomatitis herpetika primer berbeda dari bentuk


rekurennya.Infeksi primer dapat bersifat subklinis, tetapi pada beberapa keadaan
menimbulkan manifestasi berat di daerah oral dan disebut gingivostomatitis
herpetika primer. Manifestasi bentuk rekuren dapat terjadi di estra oral (herpes
labialis) atau intra oral (herpes intra oral).

Keparahan dan kekerapan manifestasi klinis serta rekurensi herpes genital


dipengauhi oleh faktor virus dan pejamu, misalnya tipe virus, imunitas
sebelumnya, jenis kelamin, dan status imun pejamu. Pengaruh faktor pejamu
lainnya terhadap kemudahan tertular infeksi ataupun ekspresi penyakit,
termasuk umur, ras, tempat inokulasi, latar belakang genetic masih belum jelas.

Tanda utama dari genital herpes adalah luka sekitar vagina, penis, atau di
daerah anus. Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum,
bokong atau paha. Luka dapat muncul sekotar 4-7 hari setelah infeksi. Gejala

9
dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang
terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya
sebagai berikut :

1. Nyeri dan dysuria


2. Uretral dan vaginal discharge
3. Gejala sistemik (malaise, demam, myalgia, sakit kepala)
4. Limfa denopati yang nyeri pada daerah inguinal
5. Nyeri pada rectum, tenesmus

Tanda-tanda :

1. Eritem, vesikel, pustule, ulserasi multiple, erosi, lesi dengan krusta pada
tingkat infeksi
2. Limfadenopati inguinal
3. Faringitis
4. Servisitis

a. Herpes Genital Primer


Infeksi primer biasanya terjadi dalam waktu 2-21 hari setelah
hubungan seksual (termasuk hubungan oral atau anal).Tetapi lebih banyak
terjadi setelah interval yang lama dan biasanya setengah dari kasus tidak
menampakkan gejala.Erupsi dapat didahului dengan gejala prodromal, yang
meybabkan salah diagnosis sebagai influenza dan juga di tandai dengan
gejala sistemik dan local yang lama.Demam, nyeri kepala, malaise, dan
myalgia.Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang
menjadi vesikel dan cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang
tidak nyeri, lebih sering pada glans penis, preputium, dan frenulum, korpus
penis lebih jarang terlihat.
b. Herpes Genital Rekuren
Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu
waktu bila ada faktor pencetus, virus akan menjalani reaktivitas dan
multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi rekuren, pada saat itu di dalam
hospes sudah ada antibody spesifik sehingga kelainan yang timbul dan
gejala tidak seberat infeksi primer. Faktor pencetus antara lain: trauma,

10
koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan, kelelahan, makanan
yang merangsang, alcohol, dan beberapa kasus sukar diketahui
penyebabnya. Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi aktif dan
menyebabkan outbreaks beberapa kali dalam setahun. HSV beridam dalam
sel saraf di tubuh kita, ketika virus terpicu untuk aktif, maksa akan bergerak
dari saraf ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri dan dapat timbul luka
ditempat terjadinya outbreaks.
Mengenai gambaran klinis dari herpes progenitalis : gejala klinis
herpes progenital dapat ringan sampai berat tergantung dari stadium
penyakit dan imunitas dari pejamu. Stadium penyakit meliputi: infeksi
primer-stadium laten-replikasi-virus-stadium rekuren.
Manifestasi klinik dari infeksi HSV tergantung pada tempat infeksi,
dan status imunitas host. Infeksi primer dengan HSV berkembang pada
orang yang belum punya kekebalan sebelumnya terhadap HSV-1 atau HSV-
2, yang biasanya menjadi lebih berat, dengan gejala dan tanda sistemik dan
sering menyebabkan komplikasi.
Berbagai macam manifestasi klinis:
1. Infeksi oro-fasial
2. Infeksi genital
3. Infeksi kulit lainnya
4. Infeksi ocular
5. Kelainan neurologis
6. Penurunan imunitas
7. Herpes neonatal

F. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah tes tzank diwarnai
dengan pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak.
Sensitifitas dan spesifitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan
laboratorium yang lain adalah sebagai berikut termasuk chancroid dan
kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elekton atau
kultur jaringan.

Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis antara lain


neuralgia, retensi urin, meningitis aseptic dan infeksi anal. Sedangkan

11
komplikasi herpes genitalis pada kehamilan dan pada neonatus dapat terjadi lesi
kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis. Herpes genital primer
HSV 2 dan infeksi HSV-1 ditandai oleh kekerapan gejala local dan sistemik
prolog. Demam, sakit kepala, malaise, dan myalgia dilaporkan mendekati 40%
dari kaum pria dan 70% dari wanita dengan penyakit HSV-2 primer. Berbeda
dengan infeksi genital episode pertama, gejala, tanda dan lokasi anatomi infeksi
rekuren terlokalisir pada genital.

Tabel 1. Penggunaan Berbagai Teknik Diagnosis Pada Inveksi Virus Herpes


HSV 1 & HHV 6
Teknik VZV CMV EBV HHV 8
2 &7
Serodiagnostik + ++ ++ +++ + +
Kultur +++ ++ ++ ± ± ±
Deteksi
+++ +++ +++ + ± ±
Antigen
Deteksi Asam
++ ++ ++ ++ +++ +++
Nukleat

Dalam banyak kasus hasil serologi herpes tidak memberikan nilai yang
berarti. Antibody spesifik HSV pada periode simptomatik infeksi primer belum
di produksi, sehingga teknik serologi tidak dapat digunakan untuk penentuan
terapi pada kasus darurat. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menentukan
prevalensi pada populasi dan mendeteksi kasus asimptomatik. Selain itu
pemeriksaan serologi juga dipakai umtuk mengevaluasi status imun kelompok
tertentu, kepastian status wanita hamil, dan pernapisan antara infeksi primer dan
rekuren.

Hasil serokonversi memberikan nilai yang besar untuk diagnostic, tetapi


perlu waktu, pengukuran afinitas yang lemah IgG dan adanya IgM dalam serum
merupakan petunjuk infeksi primer baru.

Pemeriksaan serologic untuk HSV-2 dapat menjadi komponen penting


untuk program penjegahan herpes genitalis, tetapi rekomendasi untuk
pemeriksaan dan skrining dapat bervariasi terhadap populasi yang berbeda.

12
G. Komplikasi
Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang
serius pada orang dewasa. Sering dijumpai komplikasi pada susunan syaraf
pusat (SSP) dan superinfeksi jamur. Komplikasi pada SSP berupa meningitis
aseptik, disfungsi sistem syaraf otonom. Pada pria bisa terjadi impotensia. Pada
sejumlah orang dengan imunitasnya tidak bekerja dengan baik, bisa terjadi
outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang
lama. Orang dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada
mata yang disebut herpes okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-
1 namun terkadang dapat juga disebabkan oleh HSV-2. Herpes dapat
menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk kebutaan.

Wanita hamil yang menderita herpes dapat menginfeksi bayinya. Bayi yang
lahir dengan herpes dapat meninggal atau mengalami gangguan otak, kulit atau
mata. Bila pada kehamilan timbul herpes genital, hal ini perlu mendapat
perhatian serius karena virus dapat melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal
serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian pada janin.Infeksi neonatal
mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari yang hidup menderita cacat
neutologis atau kelainan pada mata.

H. Penatalaksanaan
Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes
genitas, namun pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti :

1. Menjaga kebersihan local


2. Menghindari trauma atau faktor pencetus
3. Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara local sebesar
5% sampai 40% dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun,
pengobatan ini memiliki beberapa efek samping, di antaranya pasien akan
mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga terjadi.

Pengobatan herpes genitalis bertujuan untuk menjegah infeksi (terapi


profilaksis), memperpendek masa sakit termasuk kekarapan komplikasi infeksi
primer, mencegah terjadinya latensi dan rekuresi klinis setelah episode pertama,
mencegah rekurensi pada mereka yang asimtomatik, mengurangi transmisi
penyakit dan eradikasi infeksi laten.

13
Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda
akan meresepkan obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu
mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini akan mengurangi resiko menularnya
herpes pada pasangan seksual. Obat-obatan untuk menangani herpes genital
adalah :

1. Asiklovir
Atau yang dikenal juga dengan nama asikloguanosin, adalah obat
antiviral yang digunakan secara luas untuk pengobatan herpes simplex,
mekanisme kerja asiklovir didasarkan atas penghambatan enzim DNA
polymerase virus. Asiklovir segera diubah menjadi asiklo-guanosin
monofosfat oleh enzim timidin kinase virus, kemudian diubah lagi menjadi
asiklo-guanosin trifosfat (asiklo-GTP). Asiklo-GTP bergabung dengan
DNA virus yang akanmengakibatkan terhentiya aktifitas enzim DNA
polymerase.
2. Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan
hampir lengkap berubah menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan
meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai 54%. Oleh karena itu dosis
oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah yang sama
dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan
asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis
episode awal.
3. Famsiklovir
Famsiklovir adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang
efektif menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2. Sama dengan asiklovir,
pensiklovir memerlukan timidinkinase virus untuk fosforilase menjadi
monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam)
sehingga memiliki potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbs
peroral 70% dan dimetabolisme dengan cepat menjadi pensiklovir. Obat ini
dimetabolisme dengan baik.
Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara section
caesaria bila pada saat melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini.

14
Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum ketuban pecah atau paling
lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu hamil
tidak dianjurkan.

I. Pencegahan
Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah
HSV.Kondom dapat menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih
dapat terjadi pada daerah yang tidak tertutup kondom ketika terjadi ekskresi
virus.Spermatisida yang berisi surfaktanmonoxynol-9 menyebabkan HSV
menjadi inaktif secara invitro.Di samping itu yang terbaik, jangan melakukan
kontak oral genital pada keadaan dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.

Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu:

1. Mendidik seseorang yang beresiko tinggi untuk mendapatkan herpes


genitalis dan PMS lainnya untuk mengurangi transmis penularan.
2. Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.
3. Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up
dengan tepat.
4. Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang
terinfeksi.
5. Skrinning disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan
dalam pencegahan.

J. Patofisiologi
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau
setiap kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat hidup di luar lingkungan yang
lembab dan penyebaran infeksi melalui cara selain kontak langsung kecil
kemungkinannya terjadi. HSV memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam
sel melalui fusi langsung dengan membrane sel. Pada infeksi aktif primer, virus
menginvasi sel pejamu dan cepat berkembang dengan biak, menghancurkan sel
pejamu dan melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel
disekitarnya. Pada infeksi aktif primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke
kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfa denopati.

Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi

15
tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal
timbul fase laten. Selama masa ini virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang
mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi disepanjang akson untuk
bersembunyi di dalam ganglion radiks dorsalis tempat virus berdiam tanpa
menimbulkan sitotoksisitas atau gejala pada manusia

Infeksi HSV dapat menyebar ke bagian kulit mana saja, misalnya : mengenai
jari-jari tangan (herpetic whitlow) terutama pada dokter gigi dan perawat yang
melakukan kontak kulit dengan penderita. Tenaga kesehatan yang sering terpapar
dengan sekresi oral merupakan orang yang paling sering terinfeksi (Habif, 2004).
Bisa juga mengenai para pegulat (herpes gladiatorum) maupun olahraga lain
yang melakukan kontak tubuh (misalnya rugby) yang dapat menyebar ke seluruh
anggota tim (Sterry, 2006).

K. Pathway

16
L. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Biodata
Dapat terjadi pada semua orang di semua umur; sering terjadi pada
remaja dan dewasa muda jenis kelamin; dapat terjadi pada pria dan
wanita.
b. Keluhan Utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat pelayanan
kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
 Pada beberapa kasus,timbul lesi/vesikel perkelompok pada penderita
yang mengalami demam ataupenyakit yang disertai peningkatan
suhu tubuh atau pada penderita yangmengalami trauma fisik
maupun psikis.
 Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada aera kulit yang
mengalami peradangan berat dan vesikulasi hebat.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Sering diderita kembali oleh klien yang pernah mengalami penyakit
herpes simplek atau memiliki riwayat penyakit seperti ini.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Ada anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.
f. Kebutuhan Psikososial
Klien dengan penyakit kulit, terutama yang lesinya berada pada bagian
muka atau yang dapat dilihat oleh orang, biasanya mengalami gangguan
konsep diri. Hal itu meliputi perubahan citra tubuh, ideal diri tubuh, ideal
diri, harga diri,penampilan peran, atau identitas diri.
Reaksi yang mungkin timbul adalah:
 Menolak untuk menyentuh atau melihat salah satu bagian tubuh.
 Menarik diri dari kontak sosial.
 Kemampuan untuk mengurus diri berkurang.
g. Kebiasaan sehari-hari
Dengan adanya nyeri, kebiasaan sehari - hari klien juga dapat mengalami
gangguan, terutama untuk istirahat/tidur dan aktivitas. Terjadi gangguan

17
BAB dan BAK pada herpes simpleks genitalis. Penyakit ini sering
diderita oleh klien yang mempunyai kebiasaan menggunakan alat-alat
pribadi secara bersama-sama atau klien yang mempunyai kebiasaan
melakukan hubunganseksual dengan berganti ganti pasangan.

Pemeriksaan Fisik
1. Tekanan Darah
2. Nadi
3. Pernafasan
4. Suhu tubuh
5. Kulit
Kelembaban kulit, bersih, turgor, tidak terdapat pitting edema, warna
kulit, tidak ada hiperpigmentasi.
6. Kepala
Bentuk kepala,kebersihan, berbau, terdapat lesi, warna rambut.
7. Mata
Reflek pupil , diameter pupil, konjungtiva, koordinasi gerak mata
simetris dan mampu mengikuti pergerakan.
8. Hidung
Simetris, bersih, tidak ada polip hidung, cuping hidung.
9. Telinga
Simetris, bersih, tidak ada tanda peradangan ditelinga/ mastoid. Cerumen
tidak ada, reflek suara baik dan telinga sedikit berdenging.
10. Mulut
Bentuk bibir, mukosa bibir, lidah, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada
stomatitis dan gigi. Sekitar bibir terdapat bintik bintik kemerahan yang
membentuk gelembung yang berisi cairan.

2. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan masalah
herpes simplek antara lain:

a. Hipertermia berhubungan dengan penyakit (infeksi herpes simpleks


genitalis) ditandai dengan suhu tubuh > 37,50C, kulit kemerahan, kulit
teraba hangat.

18
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologis
ditandai dengan adanya ulkus superfisial di area genital.
c. Nyeri akut berhubungan dengan perubahan agen cedera biologis (herpes
simpleks).
d. Risiko infeksi (sekunder) berhubungan dengan pertahanan tubuh primer
tidak adekuat (integritas kulit tidak utuh).
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (gatal
dan nyeri pada lesi herpes simpleks) ditandai dengan mengantuk disiang
hari, malaise, lesu, iritabilitas.
f. Gangguan body image berhubungan dengan penyakit (krusta akibat lesi
herpes simpleks) ditandai dengan pandangan negatif tentang tubuh,
perubahan actual pada struktur.
g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai
dengan gelisah, khawatir.
h. Defisiensi pengetahuan mengenai proses penyakit, pengobatan, dan
pencegahan kekambuhan infeksi Herpes Simpleks Genitalia
berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi ditandai dengan
pengungkapan masalah mengenai ketidaktahuan tentang penyakit,
ketidakakuratan mengikuti perintah pengobatan dan pencegahan (sering
terjadi rekurensi infeksi).

3. Intervensi Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan penyakit (infeksi herpes simpleks
genitalis) ditandai dengan suhu tubuh > 37,50C, kulit kemerahan, kulit
teraba hangat.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
suhu badan anak dalam batas normal
Intervensi :
1) Ukur suhu badan anak setiap 4 jam.
Rasional: suhu 38,9 – 41,1 menunjukkan proses penyakit infeksius.
2) Pantau suhu lingkungan.
Rasional: Untuk mempertahankan suhu badan mendekati normal.
3) Berikan kompres hangat.
Rasional: Untuk mengurangi demam.

19
4) Berikan selimut pendingin.
Rasional: Untuk mengurangi demam lebih dari 39,50C.
5) Kolaborasi dengan tim medis : pemberian antipiretik.
Rasional: Untuk emngurangi demam dengan aksi sentralnya di
hipotalamus.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologis
ditandai dengan adanya ulkus superfisial di area genital.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
Kerusakan integritas kulit teratasi dengan kriteria hasil :
 Kulit menjadi sehat.
 Friksi bisa terhindari.
 Cedera bisa terhindari.
 Kulit bisa terhindari dari sinar UV berlebihan.
Intervensi:
1) Kaji ukuran, warna, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik
dan kondisi sekitar luka.
Rasional: Memberikan info dasar tentang kebutuhan penanam kulit
dan kemungkinan petunjuk tenang sirkulasi pada area grafitasi.
2) Berikan perawatan luka yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.
Rasional: Menyiapkan jaringan untuk penanam dan
menurunkan resiko infeksi.
3) Lakukan mamase dengan lembut kulit sekitar area yang sakit.
Rasional: Merangsang sirkulasi.
c. Nyeri akut berhubungan dengan perubahan agen cedera biologis (herpes
simpleks).
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
Nyeri hilang atau berkurang dengan kriteria hasil:
 Klien mengatakan bahwa nyeri hilang atau berkurang.
 Klien tampak tidak meringis.
 Klien tampak rileks.
Intervensi:
1) Kaji keluhan nyeri, perhatika lokasi atau karakteristik dan intensitas.

20
Rasional: Nyeri hampis selalu ada pada beberapa derajat beratnya
keterlibatan jaringan atau kerusakan tapi biasanya paling berat
selama pergantian balutan dan debridemen. Perubahan lokasi atau
karakteristik atau intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi.
2) Ubah posisi sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi.
Rasional: Gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan
kelelahan otot tapi tipe latihan tergantung pada lokasi dan luas
cedera.
3) Pertahankan suhu lingkungan nyaman, berikan lampu penghangat,
penutup tubuh hangat.
Rasional: Pengeturan tubuh dapat mencegah menggigil.
4) Kolaborasi pemberian analgesic.
Rasional: Mengurangi nyeri.
d. Risiko infeksi (sekunder) berhubungan dengan pertahanan tubuh primer
tidak adekuat (integritas kulit tidak utuh).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam,
dengan kriteria hasil :
 Penyembuhan luka berjalan baik.
 Tidak ada tanda infeksi seperti eritema, demam.
 Tekanan darah >90/60 mmHg.
 Nadi < 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal.
Intervensi:
1) Kaji dan catat kualitas, lokasi dan durasi nyeri. Waspadai nyeri yang
menjadi hebat.
Rasional: Nyeri berlebihan menunjukkan tanda inflamasi
dan infeksi.
2) Awasi dan catat tanda vital terhadap peningkatan suhu, nadi, adanya
pernapasan cepat dan dangkal.
Rasional: Sebagai data dasar untuk penetuan intervensi selanjutnya.
3) Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptic.
Rasional: Mengurangi resiko terjadinya infeksi.

21
4) Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka/drain,
eritema.
Rasional: Karakteristik luka sebagai data dasar penentuan diagnose
dan intervensi selanjutnya.
5) Kolaborasi: antibiotic.
Rasional: Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi.
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (gatal
dan nyeri pada lesi herpes simpleks) ditandai dengan mengantuk disiang
hari, malaise, lesu, iritabilitas.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
Ganguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil :
 Klien dapat beristirahat/ tidur diantara gangguan.
 Melaporkan peningkatan rasa sehat dan merasa dapat istirahat.
Intervensi :
1) Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan peubahan yang terjadi.
Rasional : mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang
tepat.
2) Berikan tempat tidur yang nyaman dan beberapa milik pribadi.
Rasional : meningkatkan kenyamanan tidur serta
dukungan psikologis.
3) Instruksikan tindakan relaksasi.
Rasional : membantu menginduksi tidur.
4) Kurangi kebisingan dan lampu.
Rasional : memberikan situasi kondusif untuk tidur.
5) Kolaborasi pemberian sedatif, jika perlu.
Rasional : mungkin diberikan untuk membantu pasien tidur/ istirahat
selama periode transisi.
f. Gangguan body image berhubungan dengan penyakit (krusta akibat lesi
herpes simpleks) ditandai dengan pandangan negatif tentang tubuh,
perubahan actual pada struktur.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
Ganguan citra tubuh teratasi dengan kriteria hasil :
 Klien tidak mengalami gangguan citra diri.

22
 Klien memahami kondisi kulitnya.
 Klien lebih merasa nyaman.
 Klien tidak merasa takut lagi.
 Klien bisa menilai diri dan mengenali masalahnya.
Intervensi:
a. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan
merendahkan diri sendiri).
Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap
penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien, kesan orang
terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri.
b. Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan.
Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra
diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.
c. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan.
Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan
dipahami.
d. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien.
Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan
kecemasan yang tidak perlu terjadi
e. Bantu klien yang cemas mengembangkan kemampuan untuk menilai
diri dan mengenali masalahnya.
Rasional: Memulihkan realitas situasi, ketakutan merusak adaptasi
klien .
g. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai
dengan gelisah, khawatir.
Tujuan: : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam
Ansietas teratasi dengan kriteria hasil: Menunjukkan pengendalian diri
terhadap ansietas.
Intervensi :
1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
Rasional : faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap
ancaman diri, potensial siklus ansietas, dan dapat mempengaruhi
upaya medik untuk mengontrol ansietas.

23
2) Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal
pikiran dan perasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas.
Rasional : membantu pasien menurunkan ansietas dan memberikan
kesempatan untuk pasien menerima situasi nyata.
3) Berikan informasi faktual menyangkut diagnosis, terapi,dan
prognosis.
Rasional: menurunkan ansietas sehubungan dengan
ketidaktahuan/harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta
untuk membuat pilihan informasi tentang pengobatan.
4) Jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang biasanya di alami
selama prosedur.
Rasional: memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat
membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat
meningkatkan kerjasama dalam program terapi, kerjasama penuh
penting untuk keberhasilan hasil setelah prosedur.
5) Ajarkan teknik relaksasi misalnya imajinasi terbinbing, visualisasi.
Rasional : memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan
Ansietas dan meningkatkan proses penyembuhan.
6) Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas, jika perlu.
Rasional: dapat digunakan untuk menurunkan ansietas dan
memudahkan istirahat.
h. Defisiensi pengetahuan mengenai proses penyakit, pengobatan, dan
pencegahan kekambuhan infeksi Herpes Simpleks Genitalia
berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi ditandai dengan
pengungkapan masalah mengenai ketidaktahuan tentang penyakit,
ketidakakuratan mengikuti perintah pengobatan dan pencegahan (sering
terjadi rekurensi infeksi).
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam,
tingkat pemahaman yang ditunjukkan tentang proses penyakit dengan
kriteria hasil: Klien mampu menyebutkan pengertian, penyebab,tanda
dan gejala dan pengobatannya.
Intervensi:
1) Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya.

24
Rasional : mengetahui apa yang diketahui pasien tentang
penyakitnya.
2) Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan pasien.
Rasional : supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan
penyakitnya.
3) Beri kesempatan pasien dan keluaga pasien untuk bertanya bila ada
yang belum dimengerti.
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga
pasien setelah di beri penjelasan tantang penyakitnya.
4) Beri reinforcement positif jika klien menjawab dengan tepat.
Rasional : memberikan rasa percaya diri pasien dalam kesembuhan
sakitnya.

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Herpes simplex adalah infeksi akut oleh virus Herpes Simplex (virus Herpes
Hominis) tipe I dan tipe IIyang ditandai dengan vesikel berkelompok diatas kulit
yang eritematosa di daerah mukokutan.

Ciri-ciri Herpes simplex adalah adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau
sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan.
Virus herpes simpleks menyebar melalui kontak tubuh secara langsung dan
sebagian besar dengan kontak seksual. Gejala herpes adalah Area yang terinfeksi
biasanya berwarna kemerahan, dan menjadi sensitif, setelah itu timbul bintik-
bintik merah. Jumlahnya bervariasi.

B. Saran
1. Agar terhindar dari penyakit herpes sebaiknya kita menjaga kebersihan diri
sendiri maupun lingkungan.
2. Bagi penderita herpes hindari menggaruk area yang terinfeksi agar herpes
tidak menyebar.

26
DAFTAR PUSTAKA

Arief, M, Suprohaita, Wahyu I.W. Wiwiek S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED :


3 jilid : 2. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI : Jakarta

Dochterman, Joanne McCloskey. 2004. Nursing Interventions Classification (NIC)


Fourth Edition. St. Louis, Missouri: Mosby Elsevier

Harahap, Marwali.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: ECG : Jakarta.

Marques AR, Straus SE. Herpes Simplex. In: Wolff K, Goldsmith LA, editors.
Fitzpatrick's: Dermatology In General Medicine. 7th ed. New York: McGraw Hill;
2008. 1879-1885

Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. St.
Louis, Missouri: Mosby Elsevier

NANDA Internasional. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-


2011. Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit


vol 2. Edisi 6. Jakarta: EGC

Smeitzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah Brunner &


Suddarth. EGC: Jakarta

27