Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman aren merupakan tanaman perkebunan yang berpotensi besar
untuk dikembangkan. Aren sangat potensial dalam mengatasi kekurangan pangan,
bahan baku biofuel, dan mudah beradaptasi pada berbagai agroklimat, mulai dari
dataran rendah hingga dataran tinggi. Menurut Maliangkay (2007), Tanaman aren
memiliki kemampuan yang mudah beradaptasi pada berbagai tipe tanah di seluruh
Indonesia termasuk lahan kritis, alang-alang, sehingga banyak digunakan untuk
reboisasi dan konservasi hutan.
Tanaman aren banyak terdapat dan tersebar hampir diseluruh wilayah di
Nusantara, khususnya di daerah-daerah perbukitan yang lembab. Hampir semua
bagian tanaman aren dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Akar untuk
obat tradisional, batang untuk berbagai macam peralatan bangunan, daun muda
atau janur untuk pembungkus atau pengganti kertas rokok, buah aren muda untuk
pembuatan kolang-kaling sebagai bahan pelengkap minuman atau makanan, air
nira untuk pembuatan gula merah atau cuka, pati atau tepung dalam membuat
berbagai macam makanan. Menurut Rozan et al. (2011) secara ekologi tanaman
aren berfungsi sebagai pendukung habitat dari fauna tertentu dan dapat
mendukung program pengawetan tanah dan air. Tanaman aren memiliki perakaran
pohon yang menyebar dan cukup dalam sehingga tanaman ini dapat diandalkan
sebagai vegetasi pencegah erosi tanah. Selain itu, semua bagian tanaman aren
dapat diambil manfaatnya, mulai dari bagian fisik pohon maupun dari hasil-hasil
produksinya.
Secara garis besar perkebunan aren di provinsi Jambi tidak terlalu luas, namun
perkebunan aren tersebar di beberapa kabupaten provinsi jambi diantaranya ialah
kabupaten Kerinci, Merangin, Sarolangun, Batang Hari dan Muaro Jambi.
Perkembangan tanaman aren di Provinsi Jambi mengalami penurunan setiap
tahunnya dari segi luas areal dan produksi, seperti yang tercantum pada tabel 1.

1
Tabel 1. Luas Areal, Produksi, dan Produktivitas Aren di Provinsi Jambi
Tahun Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
2012 358 137 0,383
2013 341 132 0,387
2014 338 131 0,388
Total 1037 400 1,157
Rata-Rata 345,5 133,3 0,386
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Jambi

Berdasarkan tabel 1, terjadi penurunan luas areal dari tahun 2012 hingga
tahun 2014. Penurunan luas areal juga menyebabkan turunnya produksi aren dari
tahun 2012 hingga tahun 2014 dengan rata-rata produksi 133,3 ton dan
menyebabkan populasi tanaman aren semakin berkurang dan semakin langka di
daerah jambi, hal ini terjadi antara lain karena perambahan hutan dan penebangan
pohon aren yang tidak diimbangi dengan regenerasi tanaman aren muda.
Walaupun demikian produktivitas aren dari tahun 2012 hingga tahun 2014
mengalami kenaikan walaupun dipengaruhi oleh berkurangnya luas areal dan
produksi aren.
Secara fisik, benih aren termasuk benih keras baik pada bagian kulit
maupun endospermanya. kulit benih adalah struktur penting sebagai suatu
pelindung antara embrio dan lingkungan di luar benih, mempengaruhi penyerapan
air, pertukaran gas dan bertindak sebagai penghambat mekanis dan mencegah
keluarnya zat penghambat dari embrio. Dormansi yang disebabkan oleh kulit
benih dapat terjadi karena adanya komponen penyusun benih baik yang bersifat
fisik atau kimia. Semakin tua benih aren ternyata semakin rendah
permeabilitasnya terhadap air meskipun kadar airnya semakin menurun sehingga
ketika dikecambahkan proses imbibisi benih aren berlangsung sangat lambat.
Diduga hal tersebut disebabkan oleh struktur benih aren yang bersifat
menghambat masuknya air ke dalam benih (Widyawati et al., 2009).
Benih aren memerlukan waktu sekitar 3 (tiga) bulan untuk berkecambah
karena mengalami dormansi dan saat perkecambahan tidak serentak. Menurut
Morris (2000) menyebutkan bahwa dormansi yang disebabkan oleh kulit benih

2
dapat terjadi karena adanya komponen penyusun benih baik yang bersifat fisik
dan atau kimia.
Pemecahan dormansi kulit benih dapat dilakukan dengan berbagai cara
dan beberapa diantaranya adalah skarifikasi, perendaman dengan air, stratifikasi,
dan kimia. Skarifikasi dilakukan pada benih yang keras karena dapat
meningkatkan imbibisi benih. Skarifikasi dilakukan dengan cara-cara seperti
pengupasan, pengamplasan, pengikiran, pemotongan dan penusukan bagian
tertentu pada benih. Pengupasan kulit benih merupakan cara pemecahan dormansi
yang paling sederhana. Hasil penelitian Kamaludin (2016) menjelaskan bahwa
perkecambahan benih aren setelah diskarifikasi dengan pengamplasan
menghasilkan persentase kecambah yang berbeda pada setiap pengaruh perlakuan
pengamplasan terhadap kecepatan berkecambah benih aren perlakuan yang telah
dilakukan. Rata- rata persentase kecambah yang dihasilkan pada setiap perlakuan
yang telah dilakukan termasuk sedang yaitu 61,25 persen. Sedangkan pada
penelitian sebelumnya oleh Tambun (2005) tentang pengaruh skarifikasi dengan
beberapa cara terhadap perkecambahan benih aren rata-rata persentase kecambah
yang dihasilkan sebesar 33 persen.
Menurut Gardner et al., (1991) Secara kimia pemecahan dormansi
dilakukan dengan perendaman dalam asam kuat encer. Asam kuat sangat efektif
untuk mematahkan dormansi pada biji yang memiliki struktur kulit keras, asam
sulfat (H2SO4) sebagai asam kuat dapat melunakkan kulit biji sehingga dapat
dilalui oleh air dengan mudahdan proses perkecambahan menjadi lebih cepat.
Menurut penelitian Rofik dan Murniati, (2008) dalam Sufyan Atsauri Tanjung,
Ratna Rosanty Lahay (2015) mengatakan bahwa lamanya perlakuan larutan asam
harus memperhatikan dua hal yaitu kulit biji atau pericarp dapat diretakkan untuk
memungkinkan imbibisi dan larutan asam tidak mengenai embrio. Perendaman
selama 1 – 10 menit terlalu cepat untuk dapat mematahkan dormansi, sedangkan
perendaman selama 60 menit atau lebih dapat menyebabkan kerusakan.
Perlakuan perendaman benih dalam air suhu tinggi pada waktu tertentu
merupakan salah satu metode pemecahan dormansi yang efektif. Menurut Sutopo,
(2004) Beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan peredaman didalam air
panas agar memudahkan penyerapan air oleh benih. Prosedur yang umumnya

3
digunakan adalah sebagai berikut: air dipanaskan sampai 180-200°F, setelah itu
benih diletakan dalam kantong kain dan kemudian dimasukan kedalam air yang
sedang mendidih, biarkan selama lebih kurang 2 menit setelah itu diangkat keluar,
untuk dikecambahkan. Benih dimaksudkan kedalam air panas tersebut dan
biarkan sampai menjadi dingin, selama beberapa waktu.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian mengenai
pemecahan dormansi benih Aren menggunakan beberapa perlakuan dengan judul
“Pengaruh beberapa Perlakuan Pemecahan Dormansi Benih Terhadap
Viabilitas Aren (Arenga pinnata Merr.)”

1.2 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh beberapa cara pemecahan dormansi terhadap
viabilitas benih Aren.
2. Untuk mendapatkan cara pemecahan dormansi terbaik benih Aren.

2.1 Kegunaan
Penelitian ini digunakan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan
studi tingkat S-1 pada program studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Jambi. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi
serta referensi terkait pengaruh perlakuan pemecahan dormansi benih terhadap
Vigor dan Viabilitas Aren

2.2 Hipotesis
1. Terdapat pengaruh beberapa cara pemecahan dormansi terhadap viabilitas
benih Aren.
2. Terdapat cara terbaik dalam pemecahan dormansi benih aren.

4
II. TINJUAN PUSTAKA

2.1 Botani Aren


Taksonomi dari tanaman aren adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Arecales
Family : Arecaceae
Genus : Arenga
Spesies : Arenga pinnata Merr.
Aren atau enau , tersebar di seluruh kepulauan nusantara, dari dataran
rendah hingga ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Tanaman yang
berasal dari Assam (India), tumbuh subur di lembah lereng pegunungan, di
sepanjang aliran sungai hingga di ketinggian pegunungan, di hampir semua jenis
tanah, cenderung tumbuh liar, tidak menuntut pemeliharaan dan perawatan.
Bahkan nyaris tidak dipelihara dan dirawat sebab masih belum dibudidayakan
(Gultom, 2009).

2.2 Botani Aren


Tanaman Aren sesungguhnya tidak membutuhkan kondisi tanah yang
khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah-tanah liat (berlempung) dan berpasir.
Tetapi tanah ini tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi (derajat
keasaman tanah terlalu asam) (Soesono, 1991). Di Indonesia, tanaman aren dapat
tumbuh dengan baik dan mampu berproduksi pada daerah-daerah yang tanahnya
subur pada ketinggian 500-800 mdpl. Pada daerah-daerah yang mempunyai
ketinggian kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren tersebut dapat
tumbuh tetapi produksi buahnya kurang memuaskan (Soesono, 1991). Banyaknya
curah hujan juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya tanaman aren. Tanaman
aren menghendaki curah hujan yang merata sepanjang tahun, yaitu minimum
sebanyak 1200 mm setahun. Faktor lingkungan tumbuhnya juga berpengaruh.
Daerah-daerah perbukitan yang lembab, dimana di sekelilingnya banyak tumbuh

5
berbagai tanaman keras, tanaman aren dapat tumbuh dengan subur. Dengan
demikian tanaman ini tidak membutuhkan sinar matahari yang terik sepanjang
hari (Sunanto, 1993).

2.3 Morfologi Tanaman Aren


2.3.1 Pohon Aren
Aren merupakan jenis tanaman tahunan, berukuran besar, berbentuk pohon
soliter tinggi hingga 12 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm
(Ramadani et al , 2008). Pohon aren dapat tumbuh mencapai tinggi dengan
diameter batang sampai 65 cm dan tinggi 15 m bahkan mencapai 20 m dengan
tajuk daun yang menjulang di atas batang (Soeseno, 1992). Waktu pohon masih
muda batang aren belum kelihatan karena tertutup oleh pangkal pelepah daun,
ketika daun paling bawahnya sudah gugur, batangnya mulai kelihatan. Permukaan
batang ditutupi oleh serat ijuk berwarna hitam yang berasal dari dasar tangkai
daun.
2.3.2 Daun Aren
Daun: pinnate, hingga 8 m panjang, anak daun divaricate, panjangnya 1 m
atau lebih, jumlahnya 100 atau lebih pada masing-masing sisi, dasar daun 2
auriculate, ujung daun lobes, dan kadang-kadang bergerigi, permukaan atas hijau
berdaging, bagian bawah putih dan bertepung (Ramadani et al , 2008). Pohon aren
mempunyai tajuk (kumpulan daun) yang rimbun. Daun aren muda selalu berdiri
tegak di pucuk batang, daun muda yang masih tergulung lunak seperti kertas.
Pelepah daun melebar di bagian pangkal dan menyempit ke arah pucuk. Susunan
anak daun pada pelepah seperti duri-duri sirip ikan, sehingga daun aren disebut
bersirip. Oleh karena pada ujungnya tidak berpasangan lagi daun aren disebut
bersirip ganjil. Pada bagian pangkal pelepah daun diselimuti oleh ijuk yang
berwarna hitam kelam dan dibagian atasnya berkumpul suatu massa yang mirip
kapas yang berwarna cokelat, sangat halus dan mudah terbakar. (Lempang, 1996).
2.3.3 Akar Aren
Akar pohon aren berbentuk serabut, menyebar dan cukup dalam dapat
mencapai >5 m sehingga tanaman ini dapat diandalkan sebagai vegetasi pencegah

6
erosi, terutama untuk daerah yang tanahnya mempunyai kemiringan lebih dari 20
% (Sunanto, 1993).
2.3.4 Bunga Aren
Bunga aren jantan dan betina berpisah, besar, tangkai perbungaan muncul
dari batang, panjangnya 1-1,5 m masing- masing pada rachille (Ramadani et al .,
2008). Bunga aren berbentuk tandan dengan malai bunga yang menggantung.
Bunga tersebut tumbuh pada ketiak-ketiak pelepah atau ruas-ruas batang bekas
tempat tumbuh pelepah. Proses pembentukan bunga mula- mula muncul dari
pucuk, kemudian disusul oleh tunas-tunas berikutnya ke arah bawah pohon.
Dalam hal ini bunga aren tumbuh secara basiferal, yaitu bunga yang paling awal
terletak di ujung batang, sedangkan bunga yang tumbuh belakangan terletak pada
tunas berikutnya ke arah bawah. Tandan bunga yang ada di bagian atas terdiri dari
bunga betina. Sedangkan yang di bagian bawah, biasanya terdiri dari bunga
jantan. Jadi pada satu pohon aren terdapat bunga jantan dan bunga betina, hanya
saja berada pada tandan yang berbeda. Karena letaknya ini, maka bunga aren
termasuk kelompok monosius uniseksual. Bunga jantan berwarna keunguan atau
kecoklatan, berbentuk bulat telur memanjang, berdaun bunga tiga, serta
berkelopak 3 helai. Sedangkan bunga betina berwarna hijau, memiliki mahkota
bunga segi tiga yang beruas-ruas, bakal bijinya bersel tiga, dan berputik tiga.
2.3.5 Buah Aren
Buah aren terbentuk dari penyerbukan bunga jantan pada bunga betina.
Penyerbukan aren diduga tidak dilakukan oleh angin tetapi oleh serangga. Apabila
proses penyerbukan berjalan baik maka akan dihasilkan buah yang lebat. Buah
aren tumbuh bergelantungan pada tandan yang bercabang dengan panjang sekitar
90 cm. Untuk pohon aren yang pertumbuhannya baik, bisa terdapat 4-5 tandan
buah. Buah aren termasuk buah buni, bentuknya bulat, ujung tertoreh, 4x5 cm,
sesil dan terdapat 3 bractea yang tebal, secara rapat berkumpul sepanjang tangkai
perbungaan, berwarna hijau, buah masak warna kuning, terdapat 3 biji keras
(Ramadani et al ., 2008).
2.4 Dormansi Benih
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi
tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum

7
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan (Wirawan dan
Wahyuni (2002). Dormansi benih merupakan kondisi benih yang tidak mampu
berkecambah meski kondisi lingkungannya optimun untuk berkecambah.
Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim bahkan
sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dormansinya.
Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya
atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut (Sutopo,
2004).
Berdasarkan faktor penyebabnya, dormansi terbagi menjadi 2 yaitu (1)
Imposed dormancy (quiescence) dan (2) Innate dormancy (rest). Imposed
dormancy yaitu dormansi yang disebabkan terhalangnya pertumbuhan aktif
karena keadaan lingkungan yangtidak menguntungkan, sedangkan Innate
dormancy disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ benih itu
sendiri (Anonim b,2009). Dengan melihat fisik benih maka benih aren termasuk
Innatedormancy (rest) dimana dormansi ini disebabkan oleh benih memiliki kulit
yang keras dan impermeabel sehingga menghambat terjadinya imbibisi air ke
dalam benih.
Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda
perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk
melangsungkan proses tersebut. dormansi dapat terjadi meskipun benih
viabel,benih tidak berkecambah pada kondisi yang sudah memenuhi syarat untuk
berkecambah (suhu, air dan oksigen yang cukup). Dormansi dapat terjadi pada
kulit benih maupun pada embrio. Benih yang telah masak dan siap untuk
berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai
untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya.
Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit benih,
sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embrio.

2.5 Teknik Pemecahan Dormansi


2.5.1 Perlakuan Mekanis
Perlakuan mekanis pada umumnya dipergunakan untuk memecahkan
dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji baik terhadap air

8
atau gas, resistensi mekanis kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit biji.
Terdiri dari: Skarifikasi (mencakup seperti mengikir atau mengosok kulit biji
dengan kertas empelas, melubangi kulit biji dengan pisau dan lain sebagainya)
dan tekanan.
Menurut Ellery dan Chapman (2000), kerasnya kulit benih menyebabkan
benih tidak dapat dilalui oleh air dan udara sehingga benih tidak dapat tumbuh
sebagaimana mestinya. Penelitian biji aren dengan skarifikasi juga dilakukan oleh
Widyawati et al. (2008). Biji aren diamplas dengan lebar pengamplasan adalah
1/4 bagian, 2/4, 3/4 dan seluruh bagian kulit biji. Hasilnya biji yang diamplas
lebih dari setengah bagian mengalami perkecambahan lebih cepat, akan tetapi
persentase perkecambahan berkurang karena mudah terserang jamur
Menurut penelitian kamaludi (2016) yang melakukan pengamplasan benih
aren pada bagian mata tunas akan menghasilkan persentase daya kecambah
81,25%, dan merupakan persentasi daya kecambah tertinggi dibandingkan dengan
perlakuan pengamplasan di ujung dan atas biji, pengamplasan di ujung bawah biji
dan pengamplasan di kedua bagian unjung biji.
2.5.2 Perlakuan Kimia
Perlakuan kimia yaitu perlakuan dengan memberikan bahan-bahan kimia
untuk memecahkan dormansi pada benih. Perlakuan dengan mengunakan bahan-
bahan kimia sering pula dilakukan untuk memecahkan dormansi pada benih.
Tujuanya adalah untuk menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air
pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat dan asam
nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji lebih lunak sehinga dapat
dilalui oleh air dengan mudah. Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah:
potassium hydroxide, asam hidrocklorit, potassium nitrat, dan thiourea.
Disamping itu dapat pula digunakan hormontumbuh untuk memecahkan
dormansi pada benih, antara lain adalah: cytokinin, gibberellin dan auxin.
Menurut Gardner (1991) bahwa asam kuat sangat efektif untuk
mematahkan dormansi pada biji yang memiliki struktur kulit keras, Asam sulfat
(H2SO4) sebagai asam kuat dapat melunakkan kulit biji sehingga dapat dilalui
oleh air dengan mudah. Disamping itu pula larutan kimia yang digunakan dapat
pula membunuh cendawan atau bakteri yang dapat membuat benih dorman.

9
Sadjad et al. (1975) menyatakan bahwa perlakuan kimia (biasanya asam kuat)
yang digunakan dapat membebaskan koloid hidrofil sehingga tekanan imbibisi
meningkat dan akan meningkatkan metabolisme benih. Sagala (1991) dalam Rozi
(2003) mengatakan bahwa perlakuan dengan menggunakan H2SO4 pada benih
biasanya bertujuan untuk merusak kulit benih, akan tetapi apabila terlalu
berlebihan dalam hal konsentrasi atau lama waktu perlakuan dapat menyebabkan
kerusakan pada embrio.
Menurut penelitian yang dilakukan sufyan autsari T, dkk (2017).
Penggunaan larutan H2SO4 (asam sulfat) dengan konsentrasi 0% H2SO4 25%
H2SO4, 50 % H2SO4, dan 75 % H2SO4 dengan lama perendaman 5 menit, 10
menit, 15 menit dan 20 menit didapatkan hasil Konsentrasi asam sulfat yang
semakin meningkat hingga 75% memberikan pengaruh yang nyata terhadap
terhadap parameter persentase perkecambahan, indeks vigor/viabilitas, panjang
radikula, bobot basah dan bobot kering. Kombinasi 75% H2SO4 dengan lama
perendaman 10 menit merupakan hasil tertinggi pada parameter persentase
perkecambahan, indeks vigor dan panjang radikula.
2.5.3 Perlakuan perendaman dengan air
Perendaman menggunakan air bersuhu tinggi teruji efektif menghilangkan
bahan-bahan penghambat perkecambahan dan memicu pembentukan hormon
pertumbuhan sehingga biji dapat berkecambah (Rahardjo, 2002).
Beberapa jenis benih terkadang diberi perlakuan peredaman didalam air
panas agar bertujuan memudahkan penyerapan air oleh benih. Prosedur yang
umumnya digunakan adalah sebagai berikut: air dipanaskan sampai 180-200°F,
benih dimaksudkan kedalam air panas tersebut dan biarkan sampai menjadi
dingin, selama beberapa waktu. Misal: untuk benih apel direndam selama 2 hari,
air mendidih kadang juga diganakan (212°F). Caranya: benih diletakan dalam
kantong kain dan kemudian dimasukan kedalam air yang sedang mendidih,
biarkan selama lebih kurang 2 menit setelah itu diangkat keluar, untuk
dikecambahkan (Sutopo,2004).
Pada percobaan yang dilakukan Rozen dkk (2016), untuk mencapai
kecambah normal (munculnya akar primer hingga keluarnya koleoptil setinggi 2-3
cm), benih enau membutuhkan waktu sekitar 2 bulan. Hal ini merupakan keunikan

10
dari perkecambahan benih enau. Dengan perlakuan perendaman benih dalam air
panas dengan suhu awal 60oC, ternyata benih enau dapat berkecambah selama 8
minggu setelah disemai

2.5.4 Perlakuan Pemberian Temperatur tertentu


2.5.4.1 Stratifiksi
Banyak benih yang perlu diberi temperatur tertentu sebelum dapat
diletakan yang cocok untuk perkecambahannya. Cara yang sering dipakai dengan
memberi temperatur rendah pada keadaan lembab disebut Stratifikasi.Selama
stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangnya
bahan-bahan penghambat pertumbuhan atau terjadi pembentukan bahan-bahan
yang perangsang pertumbuhan. Benih- benih yang memerlukan stratifikasi selama
waktu tertentu sebelum tanam yaitu: apel, angur, pear, pinus, rosa, stroberry,chery
dan lain-lain (Sutopo,2004).
2.5.4.2 Perlakuan pada temperatur rendah dan tinggi
Perlakuan pada temperatur rendah dan tinggi Keadaan dormansi pada
beberapa benih dapat diatasi dengan pemberian efek dari temperatur rendah dan
agak tinggi. Tetapi temperatur extreme pada perlakuan ini tidak boleh lebih dari 0
atau 20°C, pada umumnya berada diatas dari titik beku.
2.5.5 Perlakuan dengan Cahaya
cahaya tidak hanya mempengaruhi persentase perkecambahan benih, tetapi
juga laju perkecambahan. Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan
perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahannya
dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam
durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively
photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya). Biji positively
photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka
waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini
disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic
menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan
dengan temperatur rendah.(Anonim b,2011).
2.6 Perkecambahan Benih

11
Proses perkecambahan benih aren tidak seperti tanaman monokotil
umumnya. Perkecambahan dimulai dengan munculnya axisembrio. Setelah
mencapai panjang tertentu axis embrio membengkak pada bagian ujungnya, pada
bagian inilah akan muncul plumula dan akar (Masano, 1989 dalam Rofik dan
Murniati, 2008).
Menurut Kuswanto (1996), proses awal yang terjadi dalam perkecambahan
adalah Proses imbibisi, yaitu masuknya air ke dalam benih sehingga kadar air di
dalam benih itu mencapai persentase tertentu (50-60%). Proses perkecambahan itu
dapat terjadi jika kulit benih permeable terhadap air dan tersedia cukup air dengan
tekanan osmosis tertentu Air yang diserap oleh biji dapat terjadi melalui proses
imbibisi dan diikuti keluarnya energi kinetik akibat adanya pengambilan molekul
air. Proses imbibisi yang terjadi akan segera diikuti oleh kenaikan aktifitas enzim
dan pernafasan yang besar. Pati, lemak dan protein yang tersimpan dihidrolisis
menjadi zat-zat yang lebih mobil; gula, asam-asam lemak, dan asam- asam amino
yang diangkut ke bagian-bagian embrio yang tumbuh aktif (Sutopo, 2004).
2.6

12
III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat


Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas
Pertanian Universitas Jambi, Desa Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar Kota,
Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan
_________sampai dengan bulan _________ 2018.

3.2 Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah benih aren varietas
dalam yang berkualitas baik, aquades, H2SO4, air panas, dan media persemaian
pasir. Benih aren varietas dalam diperoleh langsung dari pohon aren di desa
Rantau Rasau 1, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Alat yang digunakan adalah bak kecambah, termometer ruang, gelas ukur,
gelas piala, amplas, plastik klip, oven, cawan, kulkas, pisau, timbangan analitik,
timbangan digital, hand sprayer, pipet tetes, penggaris, kertas label, spidol,
kamera, dan alat tulis.

3.3 Rancangan Percobaan


Penelitian ini disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) sederhana
dengan perlakuan pemecahan dormansi yang terdiri dari 5 taraf :
p0 = Kontrol
p1 = Pengamplasan dengan lebar 3/4
p2 = Pengamplasan di area calon mata tunas
p3 = Perendaman benih dalam air panas
p4 = Perendaman benih dalam larutan H2SO4 (Asam Sulfat)
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali, dalam 1 perlakuan
terdapat 25 benih aren. Sehingga diperoleh 500 butir benih aren untuk
keseluruhan penelitian.
3.4 Tahap Penelitian
3.4.1 Seleksi Benih
Benih yang digunakan adalah benih aren yang diambil dari tanaman
indukan berkualitas baik. Benih aren diseleksi melalui seleksi berat, bentuk dan

13
ukuran benih. Untuk menyeleksi berat benih, dilakukan dengan cara merendam
benih dalam air kemudian benih yang mengapung disisihkan. Untuk menyeleksi
bentuk benih, dilakukan dengan memilih bentuk buah aren yang sempurna, tidak
cacat dan bukan benih lanang. Untuk menyeleksi ukuran benih, dilakukan dengan
memilih ukuran benih yang seragam, tidak terlalu besar atau kecil.
3.4.2 Persiapan Perlakuan
Sebelum diberi perlakuan, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan
seperti menyiapkan amplas/kertas pasir, memanaskan air, dan membuat larutan
H2SO4 75%. Selanjutnya memanaskan air hingga mencapai suhu 60°C. Air
dipanaskan di atas kompor, dan diukur suhunya hingga mencapai suhu yang telah
ditetapkan. Sedangkan pada perlakuan perendaman benih dalam H2SO4 75%
dibutuhkan 1000ml H2SO4 75%, maka dilakukan pengenceran H2SO4 96%
dengan memasukan 781,66 ml H2SO4 96% ke dalam gelas ukur lalu
memindahkannya ke dalam gelas piala 1000 ml. kemudian ditambahkan aquades
ke dalam gelas piala hingga mencapai volume 1000 ml.

3.4.3 Perlakuan Pemecahan Dormansi


3.4.3.1 Pengamplasan Dengan Lebar 3/4
Pengamplasan dilakukan dengan amplas/kertas pasir pada kulit benih aren
yang meliputi ¾ bagian dari keseluruhan kulit benih aren yang menyisakan kulit
bagian atas pada benih aren. Kemudian benih yang telah di amplas dibersihkan
dan siap disemai pada kotak persemaian.

3.4.3.2 Pengamplasan Di Area Calon Mata Tunas


Pengamplasan dilakukan dengan amplas/kertas pasir pada kulit benih aren
hanya pada bagian calon mata tunas saja. Kemudian benih yang telah di amplas
dibersihkan dan siap disemai pada kotak persemaian.

3.4.3.3 Perendaman Benih dalam Air Panas


Rendam benih aren dalam air panas dengan suhu air awal 60°C dalam
waktu perendaman 6 jam. Setelah benih direndam dengan suhu dan waktu yang
telah ditentukan, maka selanjutnya benih siap di semai. (Rozen et al., 2011 )

14
3.4.3.4 Perendaman Benih dalam Larutan H2SO4

Merendam benih aren dengan larutan H2SO4 75% dalam waktu 10 menit.
Setelah benih direndam dalam H2SO4 75 %, maka selanjutnya benih dicuci bersih
dan kemudian siap di semai dalam tempat persemaian (sufyan autsari T, dkk.
2017)

3.5 Variabel Pengamatan


3.5.1 Kadar Air Benih
Kadar air benih adalah berat air yang dikandung benih yang kemudian
hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan dan dinyatakan
dalam persentase terhadap berat awal benih. Kadar air benih diuji dengan cara
menimbang sampel butir benih aren untuk satu ulangan. Pengukuran kadar air
benih dibuat 3 kali ulangan. Hasil penimbangan tersebut disebut berat basah.
Benih yang berada didalam cawan dimasukan ke oven selama 24 jam dengan suhu
105°C. Setelah di oven, benih tersebut kembali ditimbang untuk mengetahui berat
keringnya, kemudian kadar air benih dihitung dengan rumus :

(Karina, 2016)
3.5.2 Hitungan Pertama (Hari)
Hitungan pertama dilakukan dengan cara menghitung jumlah hari mulai
dari benih disemai sampai mencapai fase serdadu sebanyak 50% dari jumlah
benih untuk setiap bak perkecambahan (Muniarti dan Zuhry, 2002).
3.5.3 Daya Berkecambah (%)
Daya berkecambah diukur dengan menghitung persentase kecambah
normal. Perhitungan kecambah normal yaitu hari ke-30 dan hari ke-90 atau
sampai tidak ada benih yang berkecambah lagi (Najiyati dan Danarti, 2009). Daya
berkecambah dihitung dengan rumus :

15
(Hedty et al., 2014)

3.5.4 Kecepatan Berkecambah (KCT)


Kecepatan tumbuh merupakan persentase kecambah normal yang dihitung
per hari. Kecepatan tumbuh benih digunakan untuk menentukan kekuatan tumbuh
dari benih yang diuji. Pengamatan kecepatan tumbuh benih dilakukan setiap hari
mulai dari hari pertama sejak semai sampai akhir fase perkecambahan. Kecepatan
tumbuh benih dihitung dengan rumus :

(Kartika et al., 2015)


3.5.5 Keserempakan Berkecambah (%)
Kecepatan tumbuh merupakan persentase kecambah normal yang dihitung
per hari. Kecepatan tumbuh benih digunakan untuk menentukan kekuatan tumbuh
dari benih yang diuji. Pengamatan kecepatan tumbuh benih dilakukan setiap hari
mulai dari hari pertama sejak semai sampai akhir fase perkecambahan. Kecepatan
tumbuh benih dihitung dengan rumus :

(Kartika et al., 2015)


3.5.6 Persentase Benih Tidak Tumbuh
Persentase benih tidak tumbuh adalah banyaknya benih yang tidak tumbuh
sampai akhir pengamatan. Benih yang terserang cendawan sebelum akhir
pengamatan dan belum berkecambah (dorman) termasuk ke dalam perhitungan
persentase benih tidak tumbuh, sedangkan benih yang sudah berkecambah
dimasukkan kedalam perhitungan keserempakan berkecambah. Persentase benih
tidak tumbuh dihitung dengan persamaan :

16
(Kartika et al., 2015)

3.5.7 Bobot Kering Kecambah


Bobot kering kecambah diambil dari hasil uji keserempakan berkecambah,
karena keserempakan berkecambah dengan bobot kering kecambah memiliki
kaitan dengan vigor benih. Benih yang berkecambah normal ditimbang bobot
keringnya pada hari ke 90 setelah semai. Untuk mengetahui bobot kering, benih
yang sudah berkecambah dibuang kotiledonnya kemudian di oven pada suhu 60°C
selama 2 x 24 jam setelah itu ditimbang (Ichsan et al., 2015).
3.6 Analisis Data
Data hasil penelitian terlebih dahulu diuji normalitasnya dengan
menggunakan uji Kolmogorov-smirnov dan homogenitsnya dengan menggunakan
uji Levene. Selanjutnya data yang teruji normal dianalisis dengan menggunakan
analisis ragam (Anova) kemudian untuk melihat perbedaan dilanjutkan dengan uji
Duncan dengan taraf α = 5 %. Analisis dilakukan dengan bantuan software yang
meliputi SPSS 16.0 untuk uji normalitas, Minitab 1.6 untuk uji homogenitas serta
software DSAASTAT 1.2 untuk Anova dan DMRT.

17
DAFTAR PUSTAKA

Ellery dan Chapman (2000) dalam


Anonim b. 2011. Aren.<http://agrica.wordpress.com/2009/01/03/dormansi-biji/>
Diakses tanggal 20 Oktober 2017.

Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2012. Jambi dalam Angka Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Jambi. Jambi

Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2014. Jambi dalam Angka Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Jambi. Jambi

Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2015 Jambi dalam Angka Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Jambi. Jambi

Dinas Perkebunan Provinsi Jambi. 2016. Jambi dalam Angka Dalam Angka.
Badan Pusat Statistik Jambi. Jambi

Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tumbuhan


Budidaya. Penerjemah Herawati Susilo. UI Press. Jakarta.

Gultom. 2009. Jutaan Dolar Harta Karun Tersimpan di Dalam Pohon Aren atau
Enau Alias Bagot. http://arenindonesia.wordpress.com/artikel-
aren/hltgultom. [2 Mei 2010] Diakses tanggal 15 Oktober 2017

Kuswanto H. 1996. Dasar-dasar Teknologi Produksi dan Sertifikasi Benih. Edisi


ke-1. ANDI. Yogyakarta. Hlm 190.

Lasut, M. T. 2012. Budidaya yang Baik Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.).
http://seafast.ipb.ac.id/tpc-project/wp-content/uploads/2014/02/GAP-
Aren.pdf. Diakses pada 18 Oktober 2017.

Maliangkay, R.B. 2007. Teknik budidaya dan rehabilitasi tanaman aren. Buletin
Palma. 33 : 67-77.

Masano. 1989. Perkecambahan benih aren. Duta Rimba. Perum Perhutani 15(105-
106) 24-30.

18
Morris, E.C. 2000. Germination response of seven east Australian Grevillea
species (Proteaceae) to smoke, heat exposure and scarification. Aust. J.
Bot. 48:179-189.

Payung, D., Prihatiningtyas, dan Hasanatun. 2012. Uji daya kecambah benih
sengon di green house. Jurnal Hutan Tropis. 12 (2): 132 – 138

Ramadani P., I. Khaeruddin, A. Tjoa dan I.F. Burhanuddin. 2008.


Pengenalan Jenis-Jenis Pohon Yang Umum di Sulawesi. UNTAD
Press, Palu.

Rofik A., E. Murniati. 2008. Pengaruh perlakuan deoperkulasi benih dan media
perkecambahan untuk meningkatkan viabilitas benih aren (Arenga pinnata
(Wurmb.) Merr.). Bul. Agron. 36(1):33- 40.

Soesono, S. 1991. Bertanam aren. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunanto, H. 1993. AREN: Budidaya dan Multigunanya. Kanisius.Yogyakarta.

Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih (Edisi Revisi). Cetakan 6. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta. 237 hal.

Sutopo, L., 2004. Teknologi Benih. Penerbit Rajawali, Jakarta

Tambun, H. I. 2005. Pengaruh skarifikasi dengan beberapa cara terhadap


perkecambahan benih aren. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas
Lampung. Bandar Lampung

Wirawan, B. dan S. Wahyuni. 2002. Memprodusi Benih Bersertifikat. Penebar


Swadaya. Jakarta.

Sagala (1991), dalam Rozi. 2003.

19
Lampiran 1. Deskripsi Aren

Nama latin : Arenga pinnata Merr.


Varietas : Ganjah
Ketinggian tempat : 500-800 mdpl
Habitat :
Curah hujan : 1200 mm/tahun
Tinggi tanaman : 10 – 20 meter
Batang :
Daun :
Warna daun : Hijau tua
Bentuk daun : berbentuk kipas/bersirip ganjil
Bunga : Bunga betina berbentuk butiran, bunga jantan berbentuk
bulat panjang

Umur berbunga : 12-16 tahun


Buah : berbentuk bulat
Kutiledon :
Kulit buah :
Biji :
Umur panen :
Bentuk biji : Berbentuk lonjong agak pipih berwarna putih agak bening
Ketahanan penyakit :
Kandungan kalsium : 75 mg

Kandungan energi : 368 kkal

20