Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... i


ABSTRAK ............................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI
Pengertian Saluran Udara Tegangan Tinggi...................................................... 2
Perlengkapan SUTT dan Fungsinya ................................................................... 2
SISTEM PROTEKSI DI SUTT
Macam-macam Perlengkapan di SUTT ............................................................. 3
RELAY SEBAGAI SISTEM PROTEKSI
Bagian-bagian atau Elemen di Relay ................................................................... 4
Prinsip Kerja Relay Proteksi ................................................................................ 5
Fungsi dan Syarat-syarat Relay ........................................................................... 5
PENYEBAB TERJADINYA KEGAGALAN PROTEKSI
Gangguan pada Sistem Penyaluran .................................................................... 8
Gangguan Hubung Singkat .................................................................................. 9
PEMELIHARAAN SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI
Jenis-jenis Pemeliharaan SUTT .......................................................................... 9
PENUTUP ............................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12

1
RELAY SEBAGAI PROTEKSI UTAMA DI SALURAN UDARA
TEGANGAN TIGGI 150 KV

Retno Joevinta Sari


Pendidikan Vokasi Universitas Negeri Malang
Email : rjoevinta.s@gmail.com

Abstrak--Saluran udara tegangan tinggi termasuk dalam sistem transmisi daya


listrik jarak jauh yang rentan terhadap gangguan-gangguan yang muncul akibat dari
sistem maupun dari non-sistem. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah sistem proteksi
atau pengaman yang andal dalam menanganinya yaitu relay proteksi. Dalam
menangani, harus diketahui terlebih dahulu gangguan-gangguan apa saja yang
timbul saat sistem beroperasi. Dan dilakukan juga pemeliharaan-pemeliharaan agar
sistem tersebut dapat bekerja secara optimal dan dalam waktu yang lama.

Kata kunci:saluran transmisi, sistem proteksi, relay proteksi, SUTT

PENDAHULUAN

Saluran udara tegangan tinggi merupakan komponen sistem tenaga listrik


yang berperan sangat penting dalam menjaga kualitas dan keandalan sistem
tenaga listrik. Akan tetapi, saluran udara merupakan salah satu komponen dalam
sistem tenaga listrik yang sering mengalami gangguan.
Gangguan yang terjadi dapat berupa hubung singkat, beban lebih, petir,
topan, cuaca buruk dan lain-lain. Gangguan tersebut dapat menyebabkan
terganggunya kelangsungan operasi dan kerusakan peralatan pada sistem tenaga
listrik. Untuk menanggulangi gangguan hubung singkat yang ada, diperlukan
sistem proteksi sebagai pelindung tiap elemen dari sistem serta mengamankan
secepat mungkin dari gangguan yang sedang terjadi (Hutauruk, 1999:102).
Dengan perkembangan sistem tenaga listrik yang semakin besar dan
kompleks dibutuhkan kinerja sistem proteksi yang handal, yang dapat menjamin
bahwa setiap gangguan yang terjadi pada sistem dapat diamankan dengan cepat.
Adanya keterlambatan atau kegagalan dalam memisahkan bagian yang
terganggu dapat menimbulkan kerugian baik dari sisi konsumen maupun dari
sisi penyedia tenaga listrik.
Saluran udara tegangan tinggi menggunakan relai jarak sebagai proteksi
utama dan dilengkapi proteksi cadangan lokal serta proteksi cadangan jauh.
Sistem proteksi cadangan lokal menggunakan relai arus lebih (OCR) dan relai

1
2

gangguan ke tanah (GFR), sedangkan proteksi cadangan jauh menggunakan


zona dua relai jarak dari gardu induk yang lain.

SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI

Saluran udara tegangang tinggi (SUTT) adalah sarana di atas tanah yang
berfungsi sebagai penyalur tenaga listrik dari pusat pembangkit ke gardu induk
(GI) atau dari GI ke GI lainnya yang terdiri dari kawat atau konduktor yang
direntangkan antara tiang-tiang baja melalui isolator-isolator dengan sistem
tegangan tinggi antara 30 kV sampai dengan 50 kV (PLN, 1981). Adapun
pengertian SUTT yang lain adalah sebuah saluran udara yang masuk ke dalam
sistem tranmisi yang berfungsi menyalurkan tenaga listrik dari suatu sumber
pembangkitan ke suatu sistem distribusi atau penyaluran tenaga listrik antar
sistem
Konfigurasi jaringannya sendiri umumnya menggunakan single circuit patau
double circuit yang satu sirkuitnya terdiri dari tiga phasa dengan tiga penghantar
tiga penghantar netralnya diganti oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila
kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing
phasa terdiri dari dua atau empat kawat dan berkas konduktor disebut bundle
conductor. Jarak terjauh dari operasi sistem ini adalah 100 km (jarak yang
efektif). Jika melebihi jarak tersebut, tegangan akan jatuh (drop voltage) terlalu
besar sehingga tegangan di ujung transmisi menjadi rendah.
Ada empat perlengkapan yang harus ada dalam sistem SUTT antara lain
menara transmisi, isolator, kawat penghantar dan kawat tanah.
1) Menara transmisi konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menyangga dan
merentangkan kawat penghantar dengan ketinggian dan jarak yang cukup
agar aman bagi manusia dan lingkungan sekitarnya (Aslimeri et al,
2008:160). Menara biasanya terdiri dari menara baja, tiang beton dan tiang
bertulang. Antara menara dan kawat penghantar terdapat isolator sebagai
penyekat.
2) Isolator sebagai penyekat listrik pada penghantar dengan menara, dengan
penghantar lainnya dan penghantar terhadap tanah. Ada tiga jenis isolator
3

yang dipakai dalam SUTT yaitu isolator jenis pasak, isolator jenis pos saluran
dan isolator gantung.
3) Kawat penghantar (konduktor) adalah media untuk tempat mengalirkan arus
listrik dari pembangkit ke GI atau dari GI ke GI lainnya yang terentang
melalui menara-menara (Aslimeri et al, 2008:106). Bahan konduktor yang
digunakan harus memliki sifat-sifat seperti konduktivitas tinggi, kekuatan
tarik mekanikal tinggi, titik berat, biaya rendah tidak mudah patah.
4) Kawat tanah atau earth wire adalah media untuk melindungi kawat fasa dari
sambaran petir. Kawat ini dipasang di atas kawat phasa dengan sudut
perlindungan yang sekecil mungkin, karena dianggap petir menyambar dari
atas kawat (Aslimeri et al, 2008:172).

SISTEM PROTEKSI DI SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI

Secara umum proteksi tenaga listrik adalah suatu unit peralatan listrik yang
dapat memutuskan dan menghubungkan sistem rangkaian listrik baik dalam
keadaan normal ataupun tidak normal demi keandalan pelayanan daya listrik.
Fungsi sistem proteksi sendiri ialah untuk melindungi peralatan-peralatan listrik
seperti tansformator, generator daya dan jalur tranmisi daya terhadap gangguan-
gangguan yang ada serta dapat terjadi kapan saja.
Suatu sistem saluran transmisi karena berbagai faktor dapat mengalami
kegagalan operasi, oleh sebab itu dibutuhkan sebuah atau beberapa alat proteksi
yang digunakan untuk melindungi suatu sistem tersebut. Peralatan proteksi harus
bisa menjaga wilayah yang hanya terkena gangguan saja dan tidak menyebabkan
terganggunya wilayah lainnya yang tidak terkena gangguan (Sudarto, 2014:74).
1) Relay merupakan sebuah piranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik
untuk menggerakan sejumlah konduktor yang tersusun dengan memanfaatkan
tenaga listrik sebagai sumber energi. Relay adalah komponen yang utama
dalam sistem proteksi di SUTT. Sebagai komponen vital, relay mempunyai
fungsi untuk menjadi alat pendeteksi saat terjadinya gangguan dan yang
selanjutnya memberi perintah trip kepada pemutus tenaga agar tidak terjadi
kerusakan dalam sistem transmisi (Sutrisno, 2000:76).
4

2) Pemutus tenaga (PMT) adalah alat untuk memtuskan atau menghubungkan


satu sistem dengan sistem yang lainnya, baik instalasi dalam keadaan normal
maupun terganggu. Batas-batas dalam sebuah sistem selalu terdiri dari PMT.
3) Circuit breaker (CB) adalah salah satu alat pemutus daya yang berguna untuk
memutus dan menghubungkan rangkaian listrik dalam keadaan berbeban
dengan aman, baik dalam kondisi normal maupun saat sistem sedang
mengalami gangguan

RELAY SEBAGAI SISTEM PROTEKSI

Relay proteksi mempunyai tiga elemen dasar yang bekerja saling terkait
untuk memutuskan arus gangguan yang ada. Ketiga elemen tersebut adalah
elemen pengindera, elemen pembanding dan elemen pengukur.
1) Elemen pengindera berfungsi untuk merasakan besaran-besaran listrik seperti
arus, tegangan, frekuensi dan sebagainya tergantung dengan relay yang akan
digunakan (Aslimeri et al, 2008:373). Pada bagian ini besaran yang masuk
akan dirasakan keberadaanya, apakah keadaan yang diproteksi itu
mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal.
2) Elemen pembanding ini berfungsi menerima besaran yang terlebih dahulu
besaran tersebut diterima oleh elemen pengindera untuk membandingkan
besaran listrik pada saat keadaan normal dengan arus besaran kerja relay
(Aslimeri et al, 2008:373). Setelah membandingkan besaran tersebut akan
dikirimkan ke elemen pengukur.
3) Elemen pengukur berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepat dan
tepat pada besaran yang masuk dan akan memberi perintah untuk membuka
PMT setelah elemen memberi isyarat bahwa besaran yang masuk mengalami
gangguan atau tidak normal.

Prinsip Kerja Relay Proteksi

Prinsip kerja relay proteksi dalam SUTT dibagi menjadi empat karakteristik
yang tergantung dengan waktu penanganan gangguan yang ada.
1) Relay arus lebih seketika (instantaneous overcurrent relay) yang bekerja jika
jangka waktu mulai beroperasinya arus sampai berhentinya sangat singkat (20
5

ms-100 ms) atau tanpa penundaat waktu (Pandjaitan, 2012: 95). Relay ini
pada umumnya dikombinasikan dengan relay arus lebih waktu tertentu atau
waktu terbalik dan hanya dalam beberapa hal berdiri sendiri.
2) Relay arus lebih waktu tertentu (definite time overcurrent relay) jika jangka
waktu mulai arus beroperasi sampai berhentinya diperpanjang dengan nilai
tertentu dan tidak tergantung dari besarnya arus yang menggerakkan Jenis ini
memungkinkan setting menjadi bervariasi untuk mengatasi besar arus
gangguan yang berbeda dengan menggunakan waktu operasi berbeda.
3) Relay arus lebih waktu terbalik (inverse time overcurrent relay) menurut
Priyono (2009) beroperasinya relay ini adalah semakin besar arus gangguan
maka semakin besar cepat waktu kerja relay tersebut. Keuntungan dari relay
ini adalah utuk arus yang sangat tinggi, waktu trip sangat pendek didapatkan
tanpa resiko terhadap selektivitas.
4) Inverse definite time relay ini mempunyai karakteristik kerja berdasarkan
kombinasi antara relay inverse dan definite. Relay akan bekerja secara
definite apabila arus gangguannya besar dan bekerja secara invers jika arus
gangguannya kecil.

Fungsi Dan Syarat-Syarat Relay

Dipasangkannya relay proteksi dalam sistem SUTT bertujuan mengidentifikasi


gangguan-gangguan yang muncul dan memisahkan bagian jaringan yang
terganggu dari bagian lain yang masih normal serta sekaligus mengamankan
bagian yang masih normal dari kerusakan yang lebih parah. Ada lima jenis
peranan relay yang bekerja berurutan yaitu mendeteksi, melepaskan, memberikan
cadangan, meberikan pelayanan dan mengamankan.

1) Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya yang dapat


mengganggu dan membahayakan peralatan atau sistem vital yang sedang
beroperasi
2) Melepaskan atau memisahkan bagian sistem yang terganggu atau yang
mengalami keadaan abnormal lainnya dengan secepat mungkin, sehingga
6

kerusakan yang terjadi akibat arus gangguan dapat diminalisir agar bagian
sistem yang lain dapat beroperasi
3) Memberikan pengamanan cadangan pada bagian instalasi lainnya
4) Memberikan pelayanan keandalan dan mutu listrik yang terjamin dan terbaik
kepada konsumen
5) Mengamankan manusia terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh listrik.

Dalam perencanaan sistem proteksi untuk mendapatkan suatu sistem proteksi


yang andal diperlukan persyaratan-persyaratan. Persyaratan tersebut harus
dipenuhi oleh relay proteksi yang akan bekerja mengamankan sistem SUTT yang
dijelaskan sebagai berikut.
1) Sensitif, relay proteksi yang bertugas mengamankan suatu bagian tertentu
dari suatu sistem tenaga listrik yang termasuk dalam jangkauan
pengamanannya harus cukup sensitif untuk mendeteksi gangguan yang
muncul dengan rangsangan minimum dan bila perlu memberi perintah trip
kepada PMT untuk memisahkan bagian sistem yang terganggu, sedangkan
bagian lain yang normal tidak boleh terbuka (Aslimeri et al, 2008:374). Relay
dikatakan sensitive apabila dapat bekerja dengan masukan dari besaran yang
dideteksi kecil. Jadi relay dapat bekerja pada awal kejadian yang akan
memberikan keuntungan bila kerusakan sistem yang diamankan akibat
gangguan menjadi kecil.
2) Selektif, relay proteksi adalah suatu kualitas kecermatan pemilihan dalam
mengadakan pengamanan. Bagian yang terbuka dari suatu sistem yang
disebabkan oleh gangguan harus sekecil mungkin, sehingga daerah yang
terputus menjadi kecil.
3) Cepat, disaat makin cepat relay bekerja, tidak hanya dapat memperkecil
akibat dari gangguan yang ada, tetapi dapat juga memperkecil kemungkinan
meluasnya kerusakan yang terjadi akibat gangguan yang merusak sistem yang
lain.
4) Andal, dalam keadaan normal atau sistem yang tidak pernah terganggu, relay
proteksi tidak akan bekerja selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun,
namun relay proteksi bila diperlukan harus dan pasti dapat bekerja. Apabila
7

relay gagal bekerja dapat mengakibatkan kerusakan menjadi parah pada


sistem yang diamankan atau mengakibatkan relay lain bekerja sehingga
daerah itu mengalami pemadaman listrik yang luas.
5) Ekonomis, dengan biaya yang minim, diharapkan relay proteksi mempunyai
kemampuan pengamanan yang sebesar-besarnya (Aslimeri et al, 2008:375).
Misalkan untuk sistem tegangan menengah yang radial tidak diperlukan relay
rumit dan sangat cepat bekerjanya, contoh trafo distribusi yang hanya 1000
kVA menggunakan relay diferensial.
6) Sederhana, relay proteksi diisyaratkan mampu mempunyai bentuk yang
sederhana dan fleksibel. Misalkan pengaman untuk sistem tegangan ekstra
tinggi tidak boleh hanya dengan pengaman yang hanya menggunakan
relayarus lebih saja, namun harus menggunakan relay jarak dengan
intertriping ganda.

PENYEBAB TERJADINYA KEGAGALAN PROTEKSI

Jika sebuah sistem proteksi bekerja sebagaimana mestinya maka kerusakan parah
akibat gangguan mestinya dapat dihindari dan dicegah atau kalua gangguan
tersebut disebabkan karena adanya kerusakan (insulation break down) di dalam
peralatan) maka kerusakan itu dapat dibatasi seminimal mungkin. Proteksi yang
benar harus dapat bekerja cukup cepat, selektif dan andal sehingga kerusakan
yang timbul pada bagian sistem yang dilalui arus gangguan dapat dihindari dan
kestabilan sistem terjaga

Sebaliknya jika proteksi gagal dan lambat dalam bekerja maka arus gangguan
ini berlangsung lama, sehingga panas yang ditimbulkan dapat mengakibatkan
kebakaran, kerusakan yang parah pada sistem dan tidak stabil sistem tersebut.
Kegagalan atau kelambatan kerja juga akan mengakibatkan bekerjanya proteksi
cadangan sehingga dapat mengakibatkan pemadaman listrik yang lebih luas atau
bahkan runtuh sistem (collapse). Menurut Aslimeri et al (2008) kegagalan dan
kelambatan kerja dapat disebabkan oleh rusaknya komponen dan setting
komponen dalam sistem dicontohkan pada tabel .
Tabel 1 hubungan antara kerusakan dengan setting komponen
8

Rusaknya komponen Setting antar komponen


Relay rusak akibat tidak konsisten
Setelan relay yang kurang sensitif
bekerja
Hubungan kotak kurang baik pada
Baterai lemah
sirkuit tripping atau terputus
Kegagalan PMT dalam memutus arus Kurang sempurnanya rangkaian sistem
gangguan antara satu dengan yang lain
Trafo arus terlalu jenuh Kemacetan mekanisme tripping

Gangguan Pada Sistem Penyaluran

Sistem tenaga listrik yang terganggu harus dapat segera diketahui dan
dipisahkan dari sistem lainnya secepat mungkin dengan maksud agar kerugian
yang lebih besar dapat dihindarkan. Gangguan pada sistem tenaga listrik dapat
terjadi diantaranya pada pembangkit, sistem tranmsisi dan sistem distribus.
Penyebab gangguan tersebut dibagi menjadi dua yaitu gangguan sistem dan
gangguan non sistem.
1) Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik seperti
pada generator, trafo, SUTT dan lain sebagainya. Gangguan sistem dapat
dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan gangguan temporer (PLN,
2010:22). Gangguan temporer adalah gangguan yang hilang dengan
sendirinya bila PMT terbuka, misal sambaran petir yang menyebabkan flash
over pada isolator SUTT. Pada keadaan ini PMT dapat segera dimasukkan
kembali, baik secara manual atau otomatis oleh recloser. Sedangkan
gangguan permanen adalah gangguan yang tidak hilang dengan sendirinya.
Untuk pemulihannya diperlukan perbaikan yang cukup lama seperti contoh
kawat penghantar SUTT yang putus.
2) Gangguan non sistem adalah ketika sebuah PMT yang terbuka tidak selalu
disebabkan oleh terjadinya gangguan pada sistem, bisa saja PMT terbuka
karena relay yang bekerja sendiri atau kabel kontrol yang diinterferensi dan
lain sebagainya. Gangguan ini disebut gangguan no sistem,. Yang termasuk
gangguan ini adalah kerusakan komponen relay, kabel penghantar terhubung
singkat dan interfensi atau induksi pada kabel penghantar.
9

Gangguan Hubung Singkat


Hubung singkat (short circuit) adalah salah satu gangguan yang bisa terjadi di
sistem tenaga listrik. Definisi hubung singkat menurut IEC 60909 adalah,
hubungan konduksi sengaja atau tidak sengaja melalui hambatan atau impedansi
yang cukup rendah antara dua titik atau lebih yang dalam keadaan normalnya
mempunyai beda potensial.
Gangguan hubung singkat juga dibagi ke dalam dua jenis berdasarkan
kesimetrisnya.
1) Gangguan simetris yang mengakibatkan tegangan dan arus mengalir pada
setiap fasanya menjadi tidak seimbang. Terdiri dari hubung singkat satu fasa
ke tanah, hubung singkat antara dua fasa dan hubung singkat dua fasa ke
tanah
2) Gangguan asimetris merupakan gangguan yang terjadi pada semua fasanya
sehingga arus maupun tegangan setiap fasa tetap seimbang setelah gangguan
terjadi. Gangguan asimetris tetdiri dari hubung singkat antar tiga fasa, hubung
singkat tiga fasa ke tanah.

PEMELIHARAAN SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI

Saluran udara tegangan tinggi merupakan peralatan buatan manusia yang


pada dsarnya bisa rusak, baik karena salah pengoperasian, kesalahan saat
konstruksi maupun telah melampaui masa kerjanya. Kegiatan pemeliharaan
SUTT meliputi perawatan, perbaikan, penggantian dan pengujian.
Jenis-Jenis Pemeliharaan Sutt
Banyak metode pemeliharaan yang dilakukan oleh teknisi-teknisi mulai dari
yang paling sederhana hingga yang rumit. Namun jenis pemeliharaan yang sering
dilakukan oleh teknisi sistem SUTT ada lima jenis.
1) Pemeliharaan rutin adalah kegiatan yang secara periodic dilakukan untuk
mempertahankan kondisi sistem agar selalu dalam keadaan baik dengan
keandalan dan daya guna yang optimal. Pemeliharaan rutin terdiri dari
pemeliharaan tahunan dan pemeliharaan lima tahunan.
2) Pemeriksaan Rutin merupakan pemeriksaan secara visual yang terdiri dari
ground patrol dan climb up inspection. Ground patrol adalah jenis pekerjaan
10

pemantauan harian terhadap jalur tranmsisi tanpa memanjat menara yang


dilakukan oleh line walker secara terjadwal. Sedangkan climb up inspection
adalah jenis pekerjaan pemeriksaan terhadap menara beserta
perelangkapannya yang dilakukan oleh climber dengan cara memanjat
menara SUTT yang dalam keadaan bertegangan (Aslimeri et al, 2008:411)
3) Pemeriksaan sistematis merupakan pengujian yang dimaksudkan untuk
menemukan kerusakan atau gejala kerusakan yang tidak dapat ditemukan atau
diketahui pada saat inspeksi untuk kemudia disusun saran-saran
perbaikannya. Pelaksanaan pemeriksaan ini lebih luas dan lebih teliti daripada
pemeriksaan rutin.
4) Pemeliharaan korektif adalah pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan karena
peralatan mengalami kerusakan atau memerlukan penyempurnaan.
Pemeliharaan korektif kebanyakan terjadi karena jarang atau tidak pernah
dilakukan pemeriksaan rutin.
5) Pemeliharaan darurat dilakukan karena telah terjadi kerusakan pada sistem
SUTT yang disebabkan oleh hal-hal yang di luar rencana seperti gempa,
banjir, gunung meletus, longsor dan lain sebagainya. Pemeliharaan jenis ini
sifatnya darurat dan memerlukan penanganan ekstra serta perlu tindakan
cepat untuk mengatasinya.
11

PENUTUP

Saluran udara tegangan tinggi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik
yang berkapasitas 30 kV sampai dengan 150 kV dan termasuk ke dalam sistem
transmisi yang menyalurkan listrik dari pembangkit ke area distribusi. Dengan
jarak 100 km, sistem ini rentan terkena gangguan-gangguan yang akan merusak
sistem tersebut. Dibutuhkan sistem proteksi yang andal dan mampu mengatasi
gangguan yan muncul akibat dari sistem maupun non sistem. Pemeliharaan di
dalam sistem transmisi juga sangat penting agar peralatan utama dan pendukung
di SUTT dapat bekerja optimal dan mampu bertahan dalam waktu yang lama.
12

DAFTAR PUSTAKA

Aslimeri. dkk. 2008. Teknik Tranmisi Tenaga Listrik untuk SMK. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Hutauruk, T, S. 1985. Tranmisi Daya Listrik. Jakarta: Erlangga.
Hutauruk, T, S. 1999. Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan
Peralatan. Jakarta: Erlangga.
Marsudi, Djiteng. 1990. Sistem Operasi Tenaga Listrik. Jakarta: Balai Penerbit
dan Humas ITSN .
Pandjaitan, Bonar. 2012. Praktik-praktik Sistem Tenaga Listrik. Yogyakarta: Andi
PT. PLN (Persero). 2010. Proteksi dan Kontrol Penghantar. Jakarta.
PT. PLN (Persero). 2012. Buku Pedoman Pemeliharaan Proteksi dan Busbar.
Jakarta
Sutrisno. 2000. Sistem Proteksi Tenaga Listrik. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.