Anda di halaman 1dari 80

SKRIPSI

EFEKTIFITAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN


TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN
SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DI
KABUPATEN TABANAN

MADE SURYA DIATMIKA


NIM. 1103005007

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015
SKRIPSI

EFEKTIFITAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN


TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN
SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DI
KABUPATEN TABANAN

MADE SURYA DIATMIKA

NIM. 1103005007

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

ii
2015

iii
EFEKTIFITAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN
TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG
PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN
SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DI
KABUPATEN TABANAN

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum


pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

MADE SURYA DIATMIKA


NIM. 1103005007

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

iii
Lembar Persetujuan Pembimbing

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI

PADA TANGGAL 18 Maret 2015

Pembimbing I

Dr.I Nyoman Suyatna S.H.,M.H.


NIP. 19590923 198601 1 003

Pembimbing II

Kadek Sarna S.H.,M.Kn


NIP. 19810424 200812 1 002

iv
SKRIPSI INI TELAH DIUJI

PADA TANGGAL : 09 April 2015

Panitia Penguji Skripsi

Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana

Nomor 114/UN14.1.11/PP.05.02/2015 Tanggal 31 Maret 2015

Ketua : Dr. I Nyoman Suyatna S.H., M.H. ( )

Sekretaris : Kadek Sarna S.H., M.Kn. ( )

Anggota : Prof. Dr. I Made Arya Utama S.H., M.Hum. ( )

Cokorde Dalem Dahana S.H., M.Kn. ( )

I Ketut Suardita S.H., M.H. ( )

v
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji Syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena

atas asung kerta wara nugraha Ida penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Efektifitas Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun

2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga Di Kabupaten Tabanan”.

Skripsi ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai

derajat sarjana S1 pada Fakultas Hukum Universitas Udayana. Penulis menyadari

bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam skripsi ini karena

terbatasnya kemampuan dan pengalaman penulis, baik dalam teori maupun

praktek. Karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun guna kesempurnaan skripsi ini lebih berlanjut.

Adapun selesainya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan

dukungan dari berbagai pihak, baik moril maupun materiil. Untuk itu melalui

kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan rasa hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. I Gusti Ngurah Wairocana, S.H., M.H., Dekan Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

2. Bapak I Ketut Sudiarta, S.H., M.H., Pembantu Dekan I Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

3. Bapak I Wayan Bela Siki Layang, S.H., M.H., Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Udayana.

vi
4. Bapak I Wayan Suardana, S.H., M.H., Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

5. Bapak I Ketut Suardita S.H., M.H., Ketua Bagian Hukum Administrasi

Negara Fakultas Hukum Universitas Udayana.

6. Bapak Dr. I Nyoman Suyatna, S.H., M.H., Pembimbing I dan

Pembimbing Akademik dalam penyusunan skripsi ini, beliau selalu

memberikan saran serta masukan dalam perbaikan skripsi ini, guna

menghasilkan skripsi yang sempurna, beliau selalu teliti, cermat serta

sabar dalam membimbing penulis untuk menyelesaikan penyusunan

skripsi.

7. Bapak Kadek Sarna, S.H., M.Kn., Pembimbing II iniyang telah

memberikan petunjuk, arahan, motivasi serta meluangkan waktu untuk

membimbing penulis dalam menyelesaikan kuliah dan skripsi walaupun

beliau sedang sibuk.

8. Bapak dan Ibu Dosen beserta Staf Tata Usaha, Laboratorium dan

Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah

memberikan pengetahuan dan bimbingan yang sangat berharga kepada

penulis maupun membantu penulis dalam penyelesaian berkas-berkas

serta pra syarat dalam penyusunan skripsi, sehingga penulis dapat

menyelesaikan perkuliahan dengan baik sampai dapat menyelesaikan

penyusunan skripsi ini tanpa hambatan.

9. Orang tua tercinta, Bapak Drs. I Made Sudira dan Ibu Ni Wayan Diah

Ratnawati S.E. serta Kakak saya I Putu Mega Christanta S.Kom dan

vii
Komang Dexter, peran mereka sungguh besar terhadap penulis karena

tanpa dukungan, dampingan serta kasih saying mereka penulis tidak akan

bisa menyelesaikan skripsi ini, mereka telah berkorban demi penulis,

mereka selalu ada disaat penulis susah ataupun senang, mendidik,

merawat serta selalu memberi nasihat dan selalu memberikan semangat

agar penulis tidak putus asa, merekalah sinar dalam kehidupan penulis.

10. Rekan seperjuangan senasib, Putu Tantry Octaviani S.H. yang selalu

bersama-sama berjuang disaat keadaan susah maupun senang, berjuang

melawan waktu sampai tengah malam mencari tanda tangan dalam

menyelesaikan skripsi ini.

11. Sahabat saya dari Keluarga Ceria yaitu Dodi, Adiarya, Yudhi

Pratiwindhya, Arik, Panji, Enden, Ajung, Yudi Septiana, Separsa

Kusuma, Agus Teja, Dede Gana, Krishna Pratiwindhya, Hariyasa, Siniwi,

Prastika Jaya, Ayu Diwa, Shintia Dewi, Bunga Revina, Chika, Rini,

Regina dan (alm) Angga Jeyeng Rana yang selalu ada disaat suka

maupun duka serta mendukung penuh penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

12. Sahabat terbaik dari Ovienanda, Mas Putri Dewanti, Saras Adhelia, Putri

Pradnya, Mirah Cintyadewi, Yunitha Kumala, Wira Kurniawan, Angga

Beo, Benny Dipo, Rama, Yudha Wastu, Mardika Raditya, Mahendra

Putra, Degus Aryadhana, Indra Sentanu, Sastrawan, Dhana Belawa,

Dananjaya, Digda, Satrya, Yudha, Dennyningrat, Dony, Bayu Dipa,

Daton, Rio, Ryan Kupank, Usadi Pradnyana, Adi Wiradana, Wahyu

viii
Widura, Wahyu Pratama Putra, Harta serta teman-teman almamater SMA

Negeri 3 Denpasar angkatan 32 dan Luback, mereka telah memberikan

kesenangan dan momen-momen yang tidak terlupakan selama menjalani

masa-masa sulit dalam perkuliahan maupun penyelesaian skripsi.

13. Teman-teman Sekaha Wacana, Wahya Dhiyatmika, Adi Wesnawa, Bayu

Pratama, Agung Dananjaya, Yoga Astika, Putu Agung, Mahatma Suputra,

Agung Wulandari, Cokis Krisnanda, Mirah Cahyati dan Yunix Citra yang

memberikan inspirasi dalam penulisan skripsi ini serta memberikan

warna-warni arti persahabatan selama menyelesaikan skripsi ini.

14. Teman-teman angkatan 2011, Dedox, Gung Surya, Putra Sutarmayasa,

Dimas Rizky, Kresna Wijaya, Agus Fahmi, Imamyudi, Calvin Smith,

Gusti Wira, Santa, Sri Dana, Wira Aditya, Arya Surya, Bima Kumara,

Zaenal Abidin, Dani, Ari Pebriarta, Ari Sujaneka, Dana Supartha,

Anugrah, Mahbubi, Wisnu Kurniawan, Gus De Angga, Andre Santika,

Inten, Ayu Istri, Febri Jayanti, Wahyu Suwena, Ary Widiatmika,

Anandita, Trisnadewi, Nanda, Utami Jayanti, Devi Maharani, Novita,

Evayuni, Ratih Purwantari, Dasri, Ekiksaputra serta kawan-kawan dari

kelas A dan Geng Nyemers (Komeng, Degung, Ari Rama, Adi

Paramartha, Indra, Viriyananta Gotama) yang telah memberikan nuansa

dan warna serta kebahagiaan selama menjalani masa perkuliahan.

15. Rekan-rekan fungsionaris BEMFH serta kawan-kawan 2012 dan 2013

Fakultas Hukum Universitas Udayana yang tidak dapat disebutkan satu

persatu.

ix
Semoga semua budi baik berserta bantuan semua pihak Bapak/Ibu sekalian

mendapat imbalan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Skripsi ini masih belum

sempurna, kritik dan saran yang sifatnya membangun, penulis terima dengan

tangan terbuka dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Denpasar, 4 Maret 2015

Penulis

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

x
Dengan ini penulis menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Penulisan
Hukum/Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi
manapun dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Apabila Karya Ilmiah/Penulisan Hukum/Skripsi ini terbukti merupakan
duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain dan/atau dengan sengaja
mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka
penulis bersedia menerima sanksi akademik dan/atau sanksi hukum yang berlaku.
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban ilmiah
tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak manapun juga.

Denpasar, 4 Maret 2015


Yang menyatakan,
Materai
6000

(Made Surya Diatmika)


NIM. 1103005007

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN............................................................... i

xi
HALAMAN SAMPUL DALAM............................................................. ii

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM.............. iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING/PENGESAHAN........ iv

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI.............. v

HALAMAN KATA PENGANTAR.......................................................... vi

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN............................... xi

HALAMAN DAFTAR ISI........................................................................ xii

HALAMAN DAFTAR TABEL................................................................ xv

ABSTRAK................................................................................................. xvi

ABSTRACT............................................................................................... xvii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah............................................................. 8
1.3 Ruang Lingkup Masalah................................................... 8
1.4 Orisinalitas Penulisan........................................................ 9
1.5 Tujuan Penulisan............................................................... 12
1.5.1 Tujuan Umum.......................................................... 13
1.5.2 Tujuan Khusus......................................................... 13
1.6 Manfaat Penulisan............................................................. 13
1.6.1 Manfaat Teoritis....................................................... 13
1.6.2 Manfaat Praktis........................................................ 13
1.7 Landasan Teoritis.............................................................. 14
1.8 Hipotesis............................................................................ 18
1.9 Metode Penelitian.............................................................. 20
1.9.1 Jenis Penelitian......................................................... 20
1.9.2 Jenis Pendekatan....................................................... 20
1.9.3 Sumber Data............................................................. 20
1.9.4 Teknik Pengumpulan Data........................................ 23
1.9.5 Teknik Analisis......................................................... 23

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI SAMPAH RUMAH

TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH

TANGGA

xii
2.1 Pengertian Sampah, Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga


............................................................................................
............................................................................................

24
2.2 Asas dan Tujuan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga


............................................................................................
............................................................................................

27

BAB III PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN

TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013


3.1 Efektifitas Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Berdasarkan

Perda Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013..............


...........................................................................................

33
3.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Perda

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013........................


...........................................................................................

42

BAB IV UPAYA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN

TABANAN DALAM MENINGKATKAN

PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN

TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013


4.1 Upaya Preventif dalam Meningkatkan Pelaksanaan Perda

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013........................


...........................................................................................

55

xiii
4.2 Upaya Represif dalam Meningkatkan Pelaksanaan Perda

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013........................


...........................................................................................

63

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan........................................................................
...........................................................................................

68
5.2 Saran..................................................................................
...........................................................................................

69

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR INFORMAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Jumlah Container Dinas Kebersihan dan Pertamanan
Kabupaten Tabanan....................................................................
....................................................................................................
48

Tabel 2. Program dan Kegiatan Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi


Kabupaten Tabanan....................................................................
....................................................................................................
58

Tabel 3. Rekapan Jenis Pelanggar Perda, Perbup dan Peraturan


Perundang-Undangan Lainnya Kabupaten Tabanan Tahun
2014............................................................................................
....................................................................................................
64

xiv
ABSTRAK

Kehidupan menyeluruh yang ada pada suatu lingkungan tertentu dan pada
saat tertentu disebut sebagai masyarakat organisme hidup. Manusia adalah
sebagian dari ekosistem dan manusia sekaligus juga sebagai pengelola pula dari
sistem tersebut. Semakin meningkatnya pertambahan penduduk dan aktivitas
kehidupan masyarakat di perkotaan maupun pedesaan, berakibat semakin banyak
timbulnya sampah, yang jika tidak dikelola secara baik dan teratur bisa
menimbulkan berbagai masalah, bukan saja bagi pemerintah tetapi juga bagi
seluruh masyarakat. Dari hal tersebut mengandung permasalahan mengenai
pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
di Kabupaten Tabanan dan upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dalam
meningkatkan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun
2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah
Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini penelitian yang
bersifat hukum empiris dengan jenis pendekatan berupa pendekatan fakta dan
pendekatan perundang-undangan.
Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013
tentang Pengelolaan Sampah dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di
Kabupaten Tabanan belum efektif karena terbatasnya sarana dan prasarana
pengelolaan sampah, kurangnya sumber daya manusia dalam Dinas Kebersihan
dan Pertamanan Kabupaten Tabanan, lemahnya koordinasi pengawasan antar
instasi dalam pengelolaan persampahan, kebiasaan masyarakat yang membuang
dan membakar sampah sembarangan serta budaya masyarakat desa yang tidak
memiliki hukum adat tentang larangan membuang sampah. Upaya preventif
Pemerintah Kabupaten Tabanan yaitu melakukan sosialiasi mengenai pemilahan
sampah dengan penerapan 3R. Upaya represif dari adalah memberikan sanksi
administratif bagi para pelanggar peraturan daerah dan memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa retribusi pelayanan persampahan/kebersihan.

xv
Disarankan perlu adanya penerapan sanksi secara tegas bagi pihak-pihak yang
melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten
Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 serta menambah sarana dan prasarana pengelolaan
sampah.
Kata Kunci : Efektifitas, Sampah Rumah Tangga, Pengelolaan.

ABSTRACT

The overall life that exist in a particular environment and at a certain


moment is referred as community of living organisms. Humans are part of the
ecosystem and human also a manager of the system. The increasing of population
growth and activity of life in urban and rural communities are resulting the
emergence of more and more garbage, which if not managed properly and
regularly can cause a variety of problems, not only for the government but also
for the entire community. Due to those issues regarding the implementation of
Tabanan District Regulation No. 6 of 2013 on Waste Management Household and
Similar Waste Household Waste and Tabanan Tabanan District Government
efforts to improve the implementation of Tabanan District Regulation No. 6 of
2013 on Waste Management Home Stairs and Waste Household Waste kind in
Tabanan.
The method used in this research study is an empirical law with type of
approach used are factual approach and legislation approach.
Implementation Regulation Tabanan District No. 6 of 2013 on Waste
Management and Waste Household Waste kind in Tabanan is not effective because
of limited facilities and waste management infrastructure, lack of human
resources in the Department of Hygiene and Tabanan, weak coordination between
the stakeholders in the management waste, habits of people who throw and burn
the litter and culture of rural communities that do not have the customary law on
the prohibition of taking out the trash. The preventive efforts Tabanan regency
government is by doing socialization regarding to the application of the 3Rs of
waste sorting. The repressive efforts are to impose administrative sanctions for
violators of local regulations and provide services to the public in the form of
retribution waste services / cleanliness. It is suggested of the need for the
imposition of sanctions expressly for those who violate the provisions stipulated in

xvi
Tabanan District Regulation No. 6 of 2013 and increase waste management
infrastructure.
Keywords: Effectiveness, Household Waste, Management.

xvii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kerusakan lingkungan merupakan pengaruh sampingan dari tindakan

manusia untuk mencapai suatu tujuan yang mempunyai konsekuensi terhadap

lingkungan dan pencemaran lingkungan adalah akibat dari ambiguitas tindakan

manusia.1 Manusia telah memasukkan alam dalam kehidupan budayanya, akan

tetapi ia nyaris lupa bahwa ia sendiri merupakan bagian dari alam dimana tempat

mereka hidup. Dengan kelebihannya dari populasi-populasi yang lainnya, manusia

mengemban tugas dan kewajiban untuk mengatur adanya keselarasan dan

keseimbangan antara keseluruhan komponen ekosistem, terutama lingkungan.2


Lingkungan sebagai sumber daya alam adalah aset yang sangat penting untuk

kehidupan dan keselarasan masyarakat.3 Hukum Lingkungan adalah hukum yang

berhubungan dengan lingkungan alam dalam arti seluas-luasnya. Ruang

lingkupnya berkaitan dengan dan ditentukan oleh ruang lingkup pengelolaan

lingkungan. Dengan demikian hukum lingkungan merupakan instrumen yuridis

bagi pengelolaan lingkungan.4 Sistem pendekatan terpadu atau utuh menyeluruh

harus diterapkan untuk mengatur lingkungan hidup manusia secara tepat dan baik.

Sistem pendekatan ini telah melandasi perkembangan Hukum Lingkungan di

Indonesia.5
Di negara Indonesia, yang merupakan negara berkembang dimana letak

geografisnya bersuhu tropis sedang melakukan pembangunan secara berkelanjutan

1
Koesnadi Hardjasoemantri, 1999, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, h. 4.
2
Ibid, h. 5.
3
Supriadi, 2005, Hukum Lingkungan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, h. 4.
4
Koesnadi Hardjasoemantri, op.cit, h. 39.
5
Mochtar Kusumaatmadja, 1972, Pengelolaan Lingkungan Hidup Manusia dan
Pembangunan Nasional, Makalah pada Seminar BPHN, Tanggal 15-18 Mei, h. 49.

1
2

(sustainable) dengan menggunakan teknologi-teknologi modern seiring

perkembangan jaman sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran dan

kerusakan lingkungan yang terjadi dimana-mana. Semakin lama, tindakan oleh

umat manusia ini semakin tidak terkendali yang menyebabkan terjadinya dampak

negatif akibat dari kerusakan lingkungan seperti kebakaran hutan, banjir dan

terutama terjadinya penumpukan sampah yang hampir merata di setiap wilayah

yang sangat mengkhawatirkan.6


Semakin meningkatnya pertambahan penduduk dan aktivitas kehidupan

masyarakat di perkotaan maupun pedesaan, berakibat semakin banyak timbulnya

sampah, yang jika tidak dikelola secara baik dan teratur bisa menimbulkan

berbagai masalah, bukan saja bagi pemerintah tetapi juga bagi seluruh

masyarakat. Menyadari semakin parahnya kerusakan lingkungan ini, beberapa

masyarakat yang peduli terhadap lingkungan melakukan berbagai upaya untuk

melindungi alam lingkungannya sendiri dengan melakukan penuntutan penegakan

hukum lingkungan serta menuntut hak-hak mereka atas lingkungan yang bersih

dan sehat karena mereka sadar akan bahayanya kehancuran yang akan menimpa

masyarakat itu sendiri akibat dari kerusakan lingkungan.7


Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan upaya sistematis

dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan

mencegah terjadinya pencemaran lingkungan hidup sesuai Pasal 1 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup.8 Salah satu upaya lainnya untuk mengantisipasi permasalahan

6
Sukanda Husin, 2009, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, h.
72.
7
Sodikin, 2007, Penegakan Hukum Lingkungan, Djambatan, Jakarta, h. 39.
8
Aziz Syamsuddin, 2011, Tindak Pidana Khusus, Sinar Grafika, Jakarta, h.43.
3

tersebut perlu diambil kebijakan di bidang pengelolaan sampah agar tercapai

lingkungan yang sehat dan dinamis untuk kesejahteraan masyarakat. Sampah

sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan.

Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dilakukan dengan kegiatan

pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan

pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan

penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan,

pengolahan, dan pemrosesan akhir.


Disamping melakukan tindakan-tindakan hukum dalam menjalankan fungsi

pemerintahan administrasi negara juga diberi tugas untuk membentuk undang-

undang dan peraturan-peraturan yang sebenarnya menjadi tugas legislatif atau

lebih tepatnya pemerintah.9 Upaya penegakan sanksi administrasi oleh pemerintah

secara tertata dan konsisten sesuai dengan kewenangannya digunakan sebagai

garda terdepan dalam penegakan hukum lingkungan untuk menjaga kelestarian

fungsi lingkungan hidup. Pemerintah dalam hal ini yakni Pemerintah Daerah

Kabupaten Tabanan merupakan pihak yang memiliki wewenang di bidang

pengelolaan sampah meskipun secara operasional pengelolaannya dapat bermitra

dengan badan usaha. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 17 ayat (1) huruf c

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Selain itu

organisasi persampahan, desa pekraman dan kelompok masyarakat yang bergerak

di bidang persampahan dapat juga diikut sertakan dalam kegiatan pengelolaan

sampah. Pada hakekatnya pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis
9
Marbun dan Mohammad Mahfud, 1987, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara,
Liberty, Yogyakarta, h.71.
4

sampah rumah tangga adalah merupakan kewajiban seluruh komponen

masyarakat dan pemerintah.10


Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

Pasal 1 ayat (38) yang menentukan “Desa adalah kesatuan masyarakat hukum

yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat

istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara

Kesatuan Republik Indonesia”.


Hal ini mengungkapkan bahwa desa harus mengikuti prosedur maupun

kebijakan yang diberikan oleh pemerintah pusat serta menjalankan peraturan-

peraturan tersebut. Begitu juga masyarakat yang menjadi subyek hukum juga

harus menaati peraturan pemerintah pusat yang dijalankan oleh tiap-tiap desa

sesuai Pasal 1 ayat (39) Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun

2013 yang menyebutkan “Masyarakat adalah semua orang yang secara alami dan

hukum memiliki hak dan kewajiban atau menjadi subyek hukum”.


Penanganan sampah tidak hanya menyangkut masalah teknis dan sistem

pengelolaannya saja, akan tetapi juga menyangkut perilaku kehidupan

masyarakat, sehingga dengan demikian masalah persampahan tidak akan tuntas

tanpa adanya peran serta/partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 1 ayat (17) Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan

Nomor 6 Tahun 2013 yang menyebutkan “Penanganan sampah adalah rangkaian

upaya dalam pengelolaan sampah yang meliputi pemilahan, pengumpulan,

pengangkutan, pengolahan dan pemerosesan akhir sampah”. Peraturan daerah

10
Andi Hamzah, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 9.
5

tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah

tangga ini merupakan ketentuan-ketentuan dasar yang menjadi pedoman bagi

daerah dalam kebijakan pengelolaan sampah.


Namun, masyarakat seringkali membakar sampah-sampah tidak pada

waktunya dan bahkan banyak yang menimbun sampah-sampahnya dalam selokan-

selokan di pekarangan rumahnya. Hal ini tentu mengakibatkan pencemaran

lingkungan maupun kerusakan lingkungan akibat dari tindakan yang dilakukan

oleh masyarakat.11 Tindakan mencemari lingkungan tersebut melanggar Pasal 69

ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyebutkan “Larangan kepada setiap

orang untuk tidak melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran

dan/atau perusakan lingkungan hidup”. Tindakan membakar sampah tidak pada

waktunya dan menimbun sampah sembarangan juga bertentangan dengan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga Pasal 24

ayat (1) huruf c yang menyebutkan “membuang, menumpuk, menyimpan sampah

atau bangkai binatang di jalan, jalur hijau, taman, sungai, saluran air, fasilitas

umum dan tempat lainnya yang sejenis” dan Pasal 24 ayat (1) huruf d yang

menentukan “membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis

pengelolaan sampah”. Penyimpangan terhadap norma hukum berupa perbuatan

melanggar Perda Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 Pasal 24 ayat (1)

huruf c dan huruf d tentang Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah

Rumah Tangga, pada umumnya dikenakan tindakan hukum seperti pemberian

11
Sukanda Husin, op.cit, h. 44.
6

sanksi atau ancaman hukuman.12 Norma hukum ditujukan terutama pada

pelakunya yang konkret, pelaku yang melanggar aturan hukum. Norma hukum

bukan untuk penyempurnaan manusia, melainkan untuk ketertiban masyarakat

agar tertib dan teratur. Oleh karena itu, norma hukum harus mempunyai sanksi

yang tegas dan nyata.13


Kurangnya pemahaman dan pengetahuan hukum lingkungan administratif

dari aparat yang terlibat dan kurangnya pengaturan substansi hukum lingkungan

dalam UUPLH maupun Peraturan Daerah mengakibatkan lemahnya pengawasan

dari aparat penegakan hukum lingkungan maupun penegakan peraturan daerah.14


Apabila terjadi pencemaran ataupun kerusakan lingkungan, semata-mata

adalah tugas aparat kepolisian, kejaksaan, hakim. Hal ini menyebabkan tidak

efektifnya suatu peraturan daerah dalam masyarakat desa dan apabila terus terjadi

seperti ini, peraturan daerah tidak akan berguna sama sekali karena tidak adanya

peran serta masyarakat yang menjalankan peraturan pengelolaan sampah tersebut

dalam upaya menjaga lingkungan.15 Pemahaman akan pentingnya lingkungan

hidup, terutama peran masyarakat dalam pengelolaan sampah serta kesadaran

akan hukum perlu ditingkatkan melalui penelitian atau pendidikan sehingga aparat

maupun masyarakatnya memiliki wawasan yang inovatif akan pentingnya

menjaga lingkungan dan juga perlunya peningkatan pengawasan dari aparat

pemerintah terhadap Kota Tabanan dalam pengelolaan sampah untuk upaya

efektifitas suatu Peraturan Daerah.16 Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada BAB XI

12
Ishaq, 2005, Dasar-dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 36.
13
Chainur Arrasjid, 2000, Dasar-dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 12.
14
Aziz Syamsuddin, op.cit, h. 46.
15
Andi Hamzah, op.cit, h. 54.
16
Ibid.
7

tentang peran masyarakat pada Pasal 70 ayat (1) yaitu “Masyarakat memiliki hak

dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup”.


Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian atau kajian secara ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul

“EFEKTIFITAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 6

TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA

DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DI KABUPATEN

TABANAN”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan?


2. Bagaimana upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dalam

meningkatkan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan

Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan?

1.3 Ruang Lingkup Masalah


Untuk menghindari isi serta uraian agar tidak menyimpang dari pokok

permasalahan, maka perlu diberikan batasan-batasan mengenai ruang lingkup

masalah yang akan dibahas. Hal yang akan dibahas, yaitu mengenai pelaksanaan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang

berkaitan dengan sampah rumah tangga serta upaya Pemerintah Daerah


8

Kabupaten Tabanan dalam meningkatkan pelaksanaan Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan.

1.4 Orisinalitas Penelitian


Sejauh ini penelitian tentang “Efektifitas Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

dan Sampah Sejenis Sampah Tangga di Kabupaten Tabanan” ini belum

pernah dilakukan di Kabupaten Tabanan, fakta ini diperoleh dengan observasi di

Ruang Koleksi Skripsi Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana,

secara spesifik tidak ada penelitian yang mengangkat mengenai pelaksanaan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga serta upaya

Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dalam meningkatkan pelaksanaan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di

Kabupaten Tabanan.
Namun berdasarkan salah satu sistematika penulisan harus menyertakan

penelitian yang terkait dengan penelitian ini. Adapun penelitian yang terkait

dengan penelitian ini adalah :


1. Skripsi oleh Made Agus Ghana Kartika Murti tahun 2010 Fakultas

Hukum Universitas Udayana dengan judul Pelaksanaan Peraturan

Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas

Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 1993 tentang Kebersihan dan

Ketertiban Umum di Kota Denpasar. Permasalahan yang dibahas


9

mengenai pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3

Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Denpasar

Nomor 15 Tahun 1993 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di

Kota Denpasar dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan

Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 tentang

Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 15 Tahun

1993 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kota Denpasar.

Hasil penelitian dari Made Agus Ghana Kartika Murti yaitu

Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000

merupakan tugas dan tanggung jawab dari Dinas Kebersihan dan

Pertamanan Kota Denpasar berdasarkan kewenangan atribusi, artinya

kewenangan pelaksanaan peraturan daerah tersebut tetap berada pada

Walikota Denpasar yang pelaksanaannya didelegasikan kepada Kepala

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar. Faktor-faktor yang

mempengaruhi pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3

Tahun 2000 adalah adanya peraturan-peraturan yang ditertibkan oleh

Pemerintah Kota Denpasar berupa:


a. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 13 Tahun 2001 tentang

Pembentukan Dinas Daerah Kota Denpasar


b. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 tentang

Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 15

Tahun 1993 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum


c. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 10 Tahun 2001 tentang

Retribusi Kebersihan di Kota Denpasar


10

2. Skripsi oleh W.Dede Oktovio DCM Fakultas Hukum Universitas

Udayana Tahun 2011, dengan judul Efektifitas Pelaksanaan Peraturan

Daerah Kota Denpasar Nomor 11 Tahun 2001 tentang Usaha Rekreasi

dan Hiburan Umum berkaitan dengan Usaha Permainan dan

Ketangkasan jenis Playstation di Kota Denpasar. Rumusan masalah

yang dibahas tentang pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun

2001 tentang Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum berkaitan dengan

Usaha Permainan dan Ketangkasan jenis Playstation di Kota Denpasar

seta bentuk pengawasan yang dilakukan Pemerintah Kota Denpasar

dalam penegakan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2001. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh W.Dede Oktovio DCM adalah

pelaksanaan dari Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 11 Tahun

2001 tentang Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum berkaitan dengan

Usaha Permainan dan Ketangkasan Jenis Playstation di Kota Denpasar

kurang efektif karena masih banyak dijumpai usaha yang tidak

memiliki izin. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurang

tegasnya aparatur Pemerintah Daerah Kota Denpasar dalam

menegakkan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 11 Tahun 2001

bagi pengusaha yang tidak memiliki izin Usaha Permainan dan

Ketangkasan Jenis Playstation di Kota Denpasar. Bentuk pengawasan

pemerintah untuk menegakkan izin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum

berkaitan dengan Usaha Permainan dan Ketangkasan Jenis Playstation

adalah sebagai berikut :


11

a. Pengawasan langsung yaitu pengawasan yang dilakukan dengan

cara terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui keadaan

yang sebenarnya. Salah satunya melakukan pengecekan

terhadap keberadaan izin-izin yang dimiliki oleh pengusaha

Permainan dan Ketangkasan Jenis Playstation, apakah dalam

pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku atau belum.


b. Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan

secara tidak langsung dengan cara memantau segala

pelaksanaan kegiatan yang dilakukan di lapangan. Tim

pengawasan tidak langsung datang ke lapangan seperti

pengawasan langsung. Mereka melakukan pemantauan terhadap

segala aktivitas yang terjadi di lapangan yang berkaitan dengan

Usaha Permainan dan Ketangkasan Jenis Playstation.

1.5 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai penulis melalui penulisan ini adalah sebagai

berikut :
1.5.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini untuk mengetahui pelaksanaan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah

Tangga berkaitan dengan pengelolaan sampah.


1.5.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan ini untuk mengetahui dan memahami

pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah


12

Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan. Selain itu, tujuan khusus lainnya yaitu

untuk mengetahui dan memahami upaya Pemerintah Daerah Kabupaten

Tabanan dalam meningkatkan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan.

1.6 Manfaat Penulisan


1.6.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penulisan ini yaitu diharapkan dapat menjadi

bahan pengembangan hukum administrasi negara terkait hukum lingkungan

dan hukum pemerintahan daerah.


1.6.2 Manfaat Praktis
Penulisan karya tulis ini memberikan manfaat praktis agar dapat

mengetahui pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan. Selain itu, manfaat lainnya

yakni agar dapat mengetahui upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan

dalam meningkatkan pelaksanaan peraturan daerah.

1.7 Landasan Teoritis


Republik Indonesia dibentuk sebagai negara hukum artinya negara akan

tunduk pada hukum, peraturan-peraturan hukum berlaku pula bagi segala badan

dan alat-alat perlengkapan negara. Negara hukum menjamin adanya tertib hukum

dalam masyarakat dengan memberi perlindungan hukum pada masyarakat.

Penegakkan dan fungsi dari hukum tersebut dijalankan oleh pemerintahan yang

normal.17 Sistem hukum sebagai salah satu sarana untuk melaksanakan ketertiban

17
Hendarmin Ranadireksa, 2007, Arsitektur Konstitusi Demokrasi, Fokus Media, Bandung,
h. 30.
13

dan ketentraman, sehingga tercapai kedamaian dalam masyarakat.18 Hukum

berlaku secara yuridis apabila penentuannya berdasarkan pada kaidah yang lebih

tinggi tingkatnya.
Efektifitas suatu peraturan daerah merupakan suatu ketentuan-ketentuan dasar

yang menjadi pedoman bagi daerah dalam kebijakan yang diaturnya yang harus

dijalankan oleh masyarakatnya. Efektifitas merupakan suatu fakta bahwa kaidah

hukum secara aktual diterapkan dan dipatuhi, sehingga warga masyarakat

bertingkah laku sesuai dengan kaidah hukum tersebut. Dengan demikian, maka

efektifitas merupakan kondisi dari sahnya suatu kaidah hukum, dalam arti bahwa

efektifitas harus menyertai suatu kaidah agar sahnya tidak hilang.


Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 pasal 218 ayat (1) tentang

Pemerintahan Daerah berkaitan dengan pembinaan dan pengawasan diuraikan

“Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh

Pemerintah yang meliputi: a) Pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan

di daerah; b) Pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah”.

Pengawasan yang dimaksud tersebut yakni dilaksanakan oleh aparat pengawas

intern Pemerintah sesuai pasal 218 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah.


Menimbang bahwa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan,

ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan pemerintahan daerah, sehingga

kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah. Untuk efektifitas dan efisiensi, pembinaan dan pengawasan

atas penyelenggaraan urusan pemerintahan menjadi kewenangan daerah


18
Soerjono Soekanto, 1983, Penegakan Hukum, Binacipta, Bandung, (selanjutnya disingkat
Soerjono Soekanto I), h.10.
14

kabupaten/kota. Presiden sebagai penanggung jawab akhir pemerintahan secara

keseluruhan melimpahkan kewenangannya kepada gubernur untuk bertindak atas

nama Pemerintah Pusat untuk melakukan pembinaan dan pengawasan kepada

Daerah kabupaten/kota agar melaksanakan otonominya.


Sesuai Pasal 1 ayat (9) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah yang berbunyi “Sebagian Urusan Pemerintahan yang

menjadi kewenangan Pemerintah Pusat kepada gubernur sebagai wakil

Pemerintah Pusat, kepada instansi vertikal di wilayah tertentu, dan/atau kepada

gubernur dan bupati/wali kota sebagai penanggung jawab urusan pemerintahan

umum.” Selanjutnya Pasal 373 ayat (1) Paragraf 1 BAB XIX tentang Pembinaan

dan Pengawasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah menyebutkan “Pemerintah Pusat melakukan pembinaan dan pengawasan

terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah provinsi”. Pengawasan yang

dimaksud tersebut yakni dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah

terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kabupaten/kota yang secara

nasional dikoordinasikan dengan Menteri. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 373

ayat (2) dan ayat (3) Paragraf 1 BAB XIX tentang Pembinaan dan Pengawasan

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.


Sebagai perwujudan ketentuan tentang pembinaan dan pengawasan tersebut,

telah ada Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman

Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang pada

Pasal 1 ayat (3) dan (4) menyatakan bahwa Pembinaan atas penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan/atau

Gubernur selaku Wakil Pemerintah di daerah untuk mewujudkan tercapainya


15

tujuan penyelenggaraan otonomi daerah. Pengawasan atas penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar

Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana

dan ketentuan peraturan perundang-undangan.19


Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup pada BAB XI tentang Peran Masyarakat pada

Pasal 70 ayat (1) menentukan yaitu “Masyarakat memiliki hak dan kesempatan

yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup”.


Pada bagian angka 6 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2009 dijelaskan, penegakan hukum tindak pidana bidang lingkungan tetap

memperhatikan asas “ultimum remedium” yang hanya berlaku bagi tindak pidana

formil tertentu, yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu air limbah,

emisi dan gangguan.20


Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 Pasal 1

ayat (38) tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga, Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki

batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui

dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Masyarakat adalah semua orang yang secara alami dan hukum memiliki hak

dan kewajiban atau menjadi subyek hukum sesuai Pasal 39 Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


19
Sarman dan Mohammad Taofik, 2011, Hukum Pemerintahan Daerah Di Indonesia, Rineka
Cipta, Jakarta, h. 318.
20
Aziz Syamsuddin, op.cit, h. 47.
16

Efektifnya peraturan daerah di desa-desa khususnya tentang lingkungan yang

dalam kaitannya penanganan dan pengelolaan sampah di Kota Tabanan, sangat

ditentukan oleh peran serta masyarakat dalam upaya menjaga lingkungannya.

Asas keterbukaan merupakan hal yang sangat terpenting dalam pengembangan

wawasan tentang lingkungan serta kesadaran hukum, terutama kaitannya dengan

upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan efektifitas peraturan daerah agar

dapat mencegah pencemaran lingkungan.

1.8 Hipotesis
Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah, maka perlu dibuktikan untuk

menegaskan apakah suatu hipotesis diterima atau harus ditolak, berdasarkan fakta

atau data empiris yang akan diuji dalam penelitian. 21 Dari landasan teoritis diatas,

maka dapat rumuskan hipotesis sebagai berikut :


1. Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah

Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan belum efektif. Faktor-faktor

penyebab dari tidak adanya efektifitas peraturan daerah tersebut, yaitu :


a. Kurangnya sarana dan prasarana
b. Kurangnya kesadaran hukum
c. Lemahnya pengawasan dari aparat penegakan hukum
d. Persepsi dan kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan

yang dan dampak kesehatan negatif dari kerusakan lingkungan.


Selain itu, kurangnya peran masyarakat yang berperan aktif dalam

pengelolaan lingkungan juga menyebabkan menghambatnya pelaksanaan

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang

Pengelolaan Sampah dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Hal ini

21
Amiruddin dan Zainal Asikin, 2003, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Rajawali
Press, Jakarta, h. 58.
17

disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada BAB XI tentang

Peran Masyarakat pada Pasal 70 ayat (1) yaitu “Masyarakat memiliki hak

dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup”.


2. Upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan dalam meningkatkan

pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah

Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan juga belum maksimal, dikarenakan

aparat penegak hukum belum tegas memberikan dalam hal pemberian

sanksi bagi pelanggarnya, kurangnya pengawasan dan sosialisasi mengenai

lingkungan hidup serta peraturan daerah dari Pemerintah Kota Tabanan.

Kurangnya sosialisasi mengenai pemahaman dan pengetahuan hukum

lingkungan administratif dari aparat maupun masyarakat yang terlibat

didalamnya menyebabkan kurangnya pengaturan substansi hukum

lingkungan dalam UUPLH maupun Peraturan Daerah yang berakibat

kurangnya koordinasi mengenai wawasan tentang lingkungan hidup serta

kesadaran hukum antara Pemerintah Kabupaten Tabnanan dengan

Lembaga Swadaya Masyarakat maupun masyarakat itu sendiri. Oleh

karena itu, dibutuhkan keterbukaan dalam pengembangan wawasan

tentang lingkungan hidup dan kesadaran hukum yang berkesinambungan

antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dengan Lembaga Swadaya

Masyarakat dan masyarakat itu sendiri serta perlunya dilakukan

pengawasan maupun pembinaan secara berkala oleh aparat pemerintah


18

untuk merubah paradigma kesadaran hukum masyarakat agar peduli

dengan lingkungan sekitarnya.

1.9 Metode Penelitian


1.9.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang ditempuh untuk memperoleh kebenaran dalam

penelitian ini adalah penelitian hukum empiris.22 Dalam konteks ini hukum

tidak semata-mata dikonsepkan sebagai suatu gejala normatif yang otonom,

sebagai ius constituendum (law as what ought to be), tidak pula semata-mata

sebagai ius constitutum (law as what it is in the book), akan tetapi secara

empiris sebagai ius operatum (law as what it is in society).23


1.9.2 Jenis Pendekatan
Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini berupa

pendekatan fakta (the fact approach),24 dimana pendekatan ini mengacu pada

pencarian data dari beberapa informan dalam penulisan skripsi ini. Selain itu,

pendekatan lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

perundang-undangan (the statute approach) yang mengacu pada Peraturan

Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang

bersangkut paut dengan permasalahan (isu hukum) yang terjadi di Kabupaten

Tabanan.
1.9.3 Sumber Data
Sumber data adalah sumber darimana data diperoleh yang pada

umumnya dibedakan antara data yang diperoleh langsung dari masyarakat

22
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, h. 46.
23
Ade Saptomo, 2009, Pokok-pokok Metodologi Penelitian Hukum Empiris Sebuah
Alternatif, Universitas Trisakti, Jakarta, h. 39.
24
Ibid, h. 71.
19

(data primer) dan data-data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka (data

sekunder).25
Data primer yakni data yang diperoleh langsung melalui penelitian

lapangan (Field Research) yaitu melalui wawancara dengan para informan

dari instansi pemerintahan dan beberapa desa dari Kabupaten Tabanan.

Wawancara dapat dilakukan dengan daftar pertanyaan terbuka dan tertutup

kepada pihak pejabat dari Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Kebersihan

dan Pertamanan Kabupaten Tabanan serta Klian Dinas dari beberapa banjar

yang ada di tiap tiap desa Kabupaten Tabanan.


Data Sekunder, diperoleh dari penelitian kepustakaan (Library

Research). Penelitian Kepustakaan dilakukan untuk menggali data dari buku-

buku yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian. Sumber data

sekunder terdiri dari tiga bahan, yaitu:


1. Bahan hukum primer, berupa Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 18

Tahun 2008 tentang Sampah, Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2009 tentang Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah

Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga,

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor

03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana

Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, Peraturan Pemerintah

25
Ibid.
20

Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman

Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah,

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah

Rumah Tangga, Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 3

Tahun 2008 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata

Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Tabanan, Peraturan Bupati

Tabanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Uraian Tugas Jabatan

Struktural Perangkat Daerah Kabupaten Tabanan, Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 20 Tahun 2011 tentang Retribusi

Pelayanan Persampahan/Kebersihan, Peraturan Daerah Provinsi Bali

Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah.


2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer, seperti buku-buku hukum, hasil

penelitian, pendapat dari para pakar (doktrin) serta jurnal-jurnal

hukum.26
3. Bahan hukum tersier, yaitu berupa bahan yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder, seperti kamus hukum dan ensiklopedia.27

1.9.4 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik wawancara (interview).28 Wawancara menurut Fred N.Kerlinger adalah

situasi peran antar-pribadi bertatap muka, ketika seseorang yakni

26
Amiruddin dan Zainal Asikin, op.cit, h. 32.
27
Ibid.
28
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, op.cit, h. 52.
21

pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk

memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian

kepada seseorang koresponden.29 Wawancara dilakukan bukan sekedar

bertanya pada seseorang, melainkan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang

dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah

penelitian yang ditujukan kepada informan agar hasil wawancara nantinya

memiliki nilai validitas dan reabilitas.


1.9.5 Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah

teknik analisis data kualitatif. 30 Maka keseluruhan data yang terkumpul baik

dari data primer maupun data sekunder, akan diolah dan dianalisis dengan

cara menyusun data secara sistematis, digolongkan dalam pola dan tema,

diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data lainnya, dilakukan

interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial, dan dilakukan

penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas

data.31 Data kemudian disajikan secara deskriptif kualitatif dan sistimatis.32

BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI SAMPAH RUMAH TANGGA DAN

SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

2.1 Pengertian Sampah, Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga


Lingkungan hidup manusia adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada

dalam ruangan yang ditempati oleh manusia dengan membawa pengaruh

29
Amiruddin dan Zainal Asikin, op.cit, h. 82.
30
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, op.cit, h. 53.
31
Ibid.
32
Ibid.
22

terhadap kehidupan manusia itu sendiri.33 Lingkungan hidup seringkali menjadi

sasaran dari pencemaran yang dapat membahayakan kehidupan manusia dan isi

alam semesta. Hal ini diakibatkan oleh tindakan manusia yang disengaja atau

tidak sengaja dan umumnya melalui pembuangan sampah secara sembarangan

yang berasal dari suatu kawasan industri maupun kegiatan sehari-hari. 34 Sudah

sejak lama sampah menjadi persoalan dalam lingkungan hidup karena sampah

merupakan salah satu faktor utama dalam pencemaran lingkungan hidup terutama

di kota-kota besar.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah

Tangga pada Pasal 1 ayat (1) menyebutkan definisi sampah rumah tangga yakni

“Sampah Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari

dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik”. Sampah

rumah tangga sering dimusnahkan daripada didaur ulang oleh masyarakat.

Sehingga seringkali pengumpulan dan penanganan sampah rumah tangga dibiayai

oleh pajak setempat.35 Sementara sampah sejenis sampah rumah tangga adalah

sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri,

kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas


24 umum dan fasilitas lainnya. Definisi
tersebut sesuai dengan Pasal 1 ayat (12) Peraturan Daearah Kabupaten Tabanan

Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga. 24

33
Daud Silalahi, 2001, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
Indonesia, Alumni, Bandung, h. 9.
34
Soedjono, 1979, Pengamanan Hukum Terhadap Pencemaran Lingkungan Akibat Industri,
Alumni, Bandung, h. 21.
35
Koesnadi Hardjasoemantri, 1994, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, h. 194.
23

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Sampah Pasal 1

ayat (1) menyebutkan “Sampah adalah sisa-sisa kegiatan sehari-hari manusia

dan/atau proses alam berbentuk padat”. Terdapat berbagai macam golongan

sampah dalam masyarakat, antara lain :


a Sampah atau limbah padat (Waste Solid) dan limbah cair (Waste Liquid)
b Sampah organik dan sampah anorganik Organic Waste and Anorganic

Waste)
c Limbah atau sampah kimia (Toxic Chemical)
d Sampah Berbahaya (Hazardous Waste)
e Sampah Radioaktif (Radioactif Waste).36
Sampah atau limbah padat adalah benda-benda yang berbentuk plastik,

alumunium, besi, kaleng, botol, beling, kaca, dan sebagainya. Sampah organik

adalah sisa-sisa benda hidup seperti sisa-sisa makanan dan sisa-sisa minuman

yang selalu ada dimana-mana dan dapat didaur ulang menjadi olahan pupuk atau

kompos.37 Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah

Tangga pada Pasal 1 ayat (7) menyebutkan “Sampah organik adalah sampah yang

mengalami pelapukan karena proses alam dan dapat diolah secara spesifik

menjadi pupuk organik”. Sedangkan sampah anorganik merupakan benda-benda

padat yang tidak dapat terurai, seperti plastik, besi, kaleng.


Menurut Pasal 1 ayat (8) Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga yaitu “Sampah yang tidak mengalami pelapukan karena

proses alam tetapi dapat didaur ulang menjadi bahan lain”. Sementara sampah

kimia yaitu sampah yang berbahaya dan beracun yang banyak diperdagangkan

36
M.Taufik Makaro, 2008, Aspek-aspek Hukum Lingkungan, PT.Indeks, Jakarta, h. 155.
37
Subagyo dan Joko, 1996, Hukum Lingkungan, Masalah dan Penanggulangannya, Rajawali
Pers, Jakarta, h. 74.
24

dalam industri petrokimia sehingga berdampak negatif pada air tanah, air, pantai

dan udara karena terkontaminasi dari efek sampah kimia tersebut. Sampah

berbahaya dan beracun biasanya diproduksi oleh industri berupa logam berat,

sianida, pestisida, cat, bahan pewarna, kemasan obat serangga, kemasan oli,

kemasan obat-obatan, obat-obatan kadaluarsa, peralatan listrik, dan peralatan

elektronik rumah tangga. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 17 ayat (2) huruf a

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

2.2 Asas dan Tujuan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga


Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Sampah menyebutkan “sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat,

konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus”. Sumber-

sumber sampah dari pengelolaan khusus tersebut diperoleh dari asal timbunan

sampah yang kemudian diolah oleh penghasil sampah. Penghasil sampah adalah

setiap orang yang menghasilkan timbunan sampah akibat proses alam. Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008

tentang Sampah. Semua kotoran yang berasal dari kertas, daun-daun, kepingan

kayu maupun barang-barang bekas lainnya merupakan sampah yang berasal dari

proses alam tersebut..


Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 1 ayat (5) tentang

Sampah yang berbunyi “Pengelolaan sampah adalah kegiatan sistematis,

menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan

sampah”. Dalam Pasal 5 Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun


25

2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah

Tangga menyebutkan “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga terdiri atas :


a pengurangan sampah; dan
b penanganan sampah”
Ketiga kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip

pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan yang disebut

3R (reduce, reuse, recycle). Menurut Pasal 11 ayat (1) Peraturan Pemerintah

Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga yang berbunyi, “Kegiatan pengurangan sampah

terdiri dari :
a Pembatasan timbulan sampah (reduce)
b Pemanfaatan kembali sampah (reuse)
c Pendauran ulang sampah (recycle).”

Kegiatan pembatasan timbulan sampah adalah upaya

meminimalisasi timbulan sampah yang dilakukan sejak sebelum

dihasilkannya suatu produk atau kemasan produk sampai dengan

saat berakhirnya kegunaan produk dan kemasan produk.

Sedangkan pendauran ulang sampah adalah upaya

memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna setelah

melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu. Kegiatan

pemanfaatan kembali sampah merupakan upaya untuk

mengguna ulang sampah sesuai dengan fungsi yang sama atau

fungsi yang berbeda atau menggunakan ulang bagian dari

sampah yang masih bermanfaat tanpa melalui suatu proses

pengolahan terlebih dahulu.


26

Sesuai Pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Sampah yang

berbunyi “Kegiatan penanganan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19

huruf b meliputi:
a Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
b Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari
sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat
pengolahan sampah terpadu;
c Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari
tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan
sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;”

Penanganan sampah menurut Pasal 7 pada Paragraf 2 tentang Penanganan

Sampah Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga,

terdiri dari :
a Pemilahan;
b Pengumpulan;
c Pengangkutan;
d Pengolahan; dan
e Pemrosesan akhir sampah
Pengembangan seperti ini terus dilakukan dengan penetapan besarnya pajak

didasarkan atas jumlah sampah yang dibuang oleh pihak yang bersangkutan.

Sampah yang menimbulkan masalah-masalah khusus atau dapat didaur ulangkan,

dapat diberikan pungutan khusus dan hasilnya dapat digunakan untuk membiayai

upaya pembuangan dan sebagai insentif untuk pendaurulangan.38


Kebijaksanaan mengendalikan pencemaran adalah mahal dan oleh karenanya

merupakan beban keuangan yang perlu ditanggung oleh semua pihak. 39 Dengan

pengelolaan lingkungan hidup tersebut, akan tercapai tujuan yang dikehendaki,

yaitu :

38
Koesnadi Hardjasoemantri, loc.cit.
39
Ibid, h. 195.
27

a Tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan

hidup sebagai tujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya


b Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana
c Terwujudnya manusia Indonesia sebagai pembina lingkungan hidup
d Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan

generasi sekarang dan mendatang


e Terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara-

negara yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.40


Dalam Pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik

Indonesia Nomor 03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana

Persampahan Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga yang menyebutkan, “Tujuan dari pengelolaan dan

penangan sampah yaitu :


a Mewujudkan penyelenggaraan PSP yang efektif, efisien, dan berwawasan
lingkungan;
b Meningkatkan cakupan pelayanan penanganan sampah;
c Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan;
d Melindungi sumber daya air, tanah, dan udara terhadap pencemaran serta
mitigasi perubahan iklim; dan
e Menjadikan sampah sebagai sumber daya.”

Menurut Pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang

berbunyi “Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah

tangga bertujuan untuk meningkatkan kebersihan, kesehatan masyarakat dan

kualitas lingkungan hidup masyarakat Kabupaten Tabanan, serta menjadikan

sampah sebagai sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan”.

Dalam Pasal 3 Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

dijelaskan “Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah

40
Harun Husein, 1992, Lingkungan Hidup Masalah Pengelolaan dan Penegakan Hukumnya,
Bumi Aksara, Jakarta, h. 51.
28

tangga diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas

manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas

keamanan, dan asas nilai ekonomi”


Asas tanggung jawab adalah pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab

pengelolaan sampah dalam mewujudkan hak masyarakat terhadap lingkungan

hidup yang baik dan sehat. Asas berkelanjutan yaitu asas yang pengelolaan

sampahnya dilakukan dengan cara menggunakan metode dan teknik yang ramah

lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan

masyarakat dan lingkungan, baik pada generasi masa kini maupun pada generasi

yang akan datang. Yang dimaksud dengan asas manfaat adalah pengelolaan

sampah perlu menggunakan pendekatan yang mengaanggap sampah sebagai

sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Sehubungan dengan pengelolaan sampah, dijelaskan mengenai asas keadilan

bahwa pemerintah daerah mendorong setiap orang agar memenuhi sikap

kepedulian dan kesadarankepada masyarakat dunia usaha untuk berperan secara

aktif dalam pengelolaan sampah. Definisi mengenai asas kesadaran adalah asas

yang dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah, pemerintah daerah mendorong

setiap orang agar memenuhi sikap kepedulian dan kesadaran untuk mengurangi

dan menangani sampah yang dihasilkannya. Asas kebersamaan adalah

pengelolaan sampah diselenggarakan dengan melibatkan seluruh pemangku

kepentingan. Asas keselamatan adalah asas yang harus menjamin keselamatan

manusia dalam pengelolaan manusia. Sementara asas keamanan adalah dalam

asas yang menjamin dan melindungi masyarakat dari berbagai dampak negatif.

Asas nilai ekonomi yaitu bahwa sampah merupakan sumber daya yang
29

mempunyai nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan sehingga memberikan nilai

tambah.
Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat

dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Hal

tersebut sesuai dengan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Sampah. Selain itu, kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah

sejenis sampah rumah tangga yang tersebut bermakna agar pada saatnya nanti

seluruh lapisan masyarakat dapat terlayani dan seluruh sampah yang timbul dapat

dipilah, dikumpulkan, diangkut, diolah, dan diproses pada tempat pemrosesan

akhir. Dengan pengelolaan lingkungan hidup berasaskan pelestarian kemampuan

lingkungan yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang

berkesinambungan bagi peningkatan kesejahteraan manusia.41

BAB III
PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN

NOMOR 6 TAHUN 2013

3.1 Efektifitas Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga Berdasarkan Perda Kabupaten Tabanan Nomor

6 Tahun 2013
Efektifitas merupakan suatu fakta bahwa kaidah hukum secara aktual

diterapkan dan dipatuhi, sehingga warga masyarakat bertingkah laku sesuai

41
Ibid.
30

dengan kaidah hukum tersebut. Dengan demikian, maka efektifitas merupakan

kondisi dari sahnya suatu kaidah hukum, dalam arti bahwa efektifitas harus

menyertai suatu kaidah agar sahnya tidak hilang.42 Namun, suatu kaidah tidak

identik dengan kenyataan yang berwujud suatu prilaku dan hal tersebut sama

dengan ketidaksamaan antara sahnya suatu kaidah dengan efektifitasnya.

Efektifitas suatu tertib hukum dan efektifitas suatu kaidah hukum tertentu,

merupakan suatu kondisi bagi sahnya kaidah tersebut. Efektifitas merupakan suatu

kondisi dalam arti bahwa tertib hukum tertentu tidak dapat dianggap sah lagi

apabila efektifitasnya hilang atau pudar. Kaidah dasar adalah dasar sahnya suatu

kaidah hukum tersebut.


Suatu tertib hukum tidak akan kehilangan efektifitasnya apabila salah satu

diantara kaidah-kaidah tersebut kehilangan efektifitasnya. Kaidah hukum berjalan

secara umum efektif dengan cara diterapkan dan dipatuhi, maka suatu tertib

hukum tersebut dapat dikatakan sah. Suatu kaidah juga tidak kehilangan

efektifitasnya apabila pelaksanaannya tidak efektif dalam beberapa kasus tertentu.

Namun, suatu kaidah tidak dapat dianggap sah jika kaidah tersebut tidak pernah

diterapkan atau tidak pernah dipatuhi oleh siapapun juga.43


Soekanto mengemukakan,44 bahwa secara konseptual, maka inti dan arti

penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang

terjabarkan dalam didalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindak sebagai

rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan

mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. Penegakan hukum (rule of law)

42
Soerjono Soekanto I, op.cit, h. 20.
43
Ibid, h. 26.
44
Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali
Pers, Jakarta, (selanjutnya disingkat Soerjono Soekanto II), h. 5.
31

baik dalam arti formal maupun material atau ideologis mendapat pengakuan.

Selanjutnya Friedman berpendapat,45 bahwa penegakkan hukum (rule of law)

dalam arti material berarti :


a Penegakkan hukum yang sesuai dengan ukuran-ukuran tentang hukum

yang baik atau hukum yang buruk


b Kepatuhan dari warga-warga masyarakat terhadap kaidah-kaidah hukum

yang dibuat serta diterapkan oleh badan-badan legislatif, eksekutif dan

yudikatif
c Kaidah-kaidah hukum harus selaras dengan hak-hak asasi manusia
d Negara mempunyai kewajiban untuk menciptakan kondisi-kondisi sosial

yang memungkinkan terwujudnya aspirasi-aspirasi manusia dan

penghargaan yang wajar terhadap martabat manusia


e Adanya badan yudikatif yang bebas dan merdeka yang akan dapat

memeriksa serta memperbaiki setiap tindakan yang sewenang-wenang dari

badan-badan eksekutif dan legislatif.


Dengan demikian, sistem penegakan hukum yang baik menyangkut

penyerasian antara nilai dengan kaidah serta dengan prilaku manusia yang nyata.46
Mengenai pengertian penegakan hukum, Andi Hamzah mengemukakan, 47

bahwa penegakan hukum disebut dalam bahasa Inggris law enforcement, bahasa

Belanda rechtshandhaving. Istilah penegakan hukum dalam bahasa Indonesia

membawa kita kepada pemikiran bahwa penegakan hukum selalu dengan force

sehingga ada yang berpendapat bahwa penegakan hukum hanya bersangkutan

dengan hukum pidana saja. Pikiran seperti ini diperkuat dengan kebiasaan kita

menyebut penegak hukum itu polisi, jaksa dan hakim.

45
Soerjono Soekanto, 1983, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Rajawali Pers,
Jakarta, (selanjutnya disingkat Soerjono Soekanto III), h. 149.
46
Soerjono Soekanto I, op.cit, h. 13.
47
Andi Hamzah, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 48.
32

Penegakan hukum sebagai suatu proses, pada hakikatnya merupakan

penerapan diskresi yang menyangkut dan membuat keputusan yang tidak secara

tidak ketat diatur oleh kaidah hukum, akan tetapi mempunyai unsur penilaia

pribadi. LaFavre menyatakan,48 bahwa pada hakikatnya diskresi berada diantara

hukum dan moral (etika dalam arti sempit).


Sehingga dapat dikatakan bahwa gangguan terhadap penegakan hukum

mungkin terjadi, apabila ada ketidakserasian antara “tritunggal” nilai, kaidah dan

pola prilaku sebagaimana dimaksud yaitu terjadi ketidakserasian antara nilai-nilai

yang berpasangan, yang menjelma didalam kaidah-kaidah yang bersimpang siur

dan pola prilaku tidak terarah yang mengganggu kedamaian pergaulan hidup.

Selain itu, ada kecendrungan yang kuat untuk mengartikan penegakan hukum

sebagai pelaksanaan keputusan-keputusan hakim.49


Suatu kaidah hukum atau peraturan yang berfungsi dipengaruhi oleh empat

faktor, yaitu :
a Kaidah hukum atau peraturan itu sendiri
b Petugas yang menegakkan atau yang menerapkan kaidah hukum tersebut
c Fasilitas yang diharapkan akan dapat mendukung pelaksanaan kaidah

hukum
d Warga masyarakat yang terkena ruang lingkup peraturan tersebut.50
Keempat faktor tersebut merupakan esensi dari penegakan hukum dan tolak

ukur daripada efektifitas penegakan hukum. Artinya, hukum tadi benar-benar

berlaku secara yuridis, sosiologis dan fisiologis. Berfungsinya hukum tersebut

sangat tergantung pada usaha menanamkan ketentuan hukum itu sendiri. 51 Hukum

menentukan peranan apa yang sebaiknya dilakukan oleh para subyek hukum

48
Soerjono Soekanto II, op.cit, h. 7.
49
Ibid.
50
Soerjono Soekanto I, op.cit, h. 30.
51
Ibid, h. 77.
33

maka, hukum yang berlaku tersebut berjalan secara efektif dan semakin mendekati

apa yang telah ditentukan dalam kaidah hukum.52


Berdasarkan hasil wawancara dari Ibu Ni Made Ayu Wikarmini selaku Kepala

Bagian Persampahan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan pada

tanggal 10 Februari 2015, kegiaatan pengelolaan sampah terdiri dari kegiatan

pengurangan sampah dan kegiatan penanganan sampah. Kegiatan penanganan

sampah khususnya sampah rumah tangga tersebut harus dilakukan dengan

memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pengendalian

pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, pengendalian kerusakan

lingkungan hidup dan kesehatan sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali

Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah pada BAB VI tentang

Pelaksanaan Pengelolaan Sampah Bagian Kesatu tentang Pengurangan Sampah

pada Paragraf 1 Pasal 11 ayat (2).


Dalam wawancara oleh Ibu Ni Made Ayu Wikarmini, selaku Kepala Bagian

Persampahan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan pada tanggal

10 Februari 2015, juga menyatakan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga

dilakukan dengan cara pemilahan dan pengolahan sampah khususnya di wilayah

rute pelayanan sampah yang telah terdaftar dalam rute Dinas Kebersihan dan

Pertamanan Kabupaten Tabanan. Pemilahan sampah merupakan kegiatan

pengelompokkan sampah menjadi 5 (lima) jenis sampah yang terdiri dari sampah

yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya,

sampah yang mudah terurai, sampah yang dapat digunakan kembali, sampah yang

dapat didaur ulang dan sampah lain-lainnya.

52
Ibid, h. 79.
34

Hal mengenai pemilahan sampah juga ditegaskan dalam Pasal 22 ayat (1)

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang

berbunyi “Kegiatan penanganan sampah sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal

19 huruf b meliputi :
a Pemilahan dalam bentuk pengelompokkan dan pemisahan sampah sesuai
dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah
b Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan dari sumber
sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan
sampah terpadu
c Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari
tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan
sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir
d Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah
sampah.”

Menurut Ibu Wikarmini, selaku Kepala Bagian Persampahan Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan (wawancara pada tanggal 10

Februari 2015), terdapat dua kecamatan yang dilayani oleh Dinas Kebersihan dan

Pertamanan Kabupaten Tabanan yakni Kecamatan Tabanan dan Kecamatan

Kediri. Dari dua kecamatan tersebut, terdapat delapan desa yaitu desa Dajan

Peken, Dauh Peken, Delod Peken, Bongan, Denbatas dari Kecamatan Tabanan.

Sedangkan Kecamatan Kediri terdiri dari Abiantuung, Kediri dan Banjaranyar.

Khusus untuk daerah yang dilayani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan, masyarakat dihimbau membuang sampah di TPS (Tempat

Pembuangan Sementara) terdekat yang sudah disediakan oleh Dinas Kebersihan

dan Pertamanan Kabupaten Tabanan. TPS (Tempat Pembuangan Sementara)

tersebut berupa truk container, bin-container, bak yang dari beton atau batako dan
35

TPS (Tempat Pembuangan Sementara) yang terdapat dalam rumah/instansi

pemerintahan.
Melalui TPS (Tempat Pembuangan Sementara), sistem pembuangan akan

dilanjutkan pengangkutan sampah dari TPS menuju Depo oleh truk pengangkut.

Depo tersebut merupakan transit pengangkutan sampah menuju TPA. Ibu

Wikarmini menambahkan, pihaknya selaku Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan sudah memiliki enam Depo di Kabupaten Tabanan.


Berdasarkan hasil wawancara dari bapak I Ketut Putera, selaku Kepala Seksi

Pengolahan Sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan pada

tanggal 10 Februari 2015, mengatakan bahwa tujuan pengadaan depo tersebut

untuk kelancaran proses pemilahan sampah. Jika sampah rumah tangga maupun

sampah-sampah lainnya sudah terpilah, maka sampah-sampah yang tidak dapat

terpilah melalui depo akan diangkut menuju ke TPA.


Dalam Pasal 8 ayat (4) pada Paragraf 3 tentang Pemilahan Sampah Perda

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga menyebutkan “Setiap orang, Pengelola/

Penanggung Jawab Kawasan tempat suci, kawasan permukiman, kawasan

pariwisata, kawasan daya tarik wisata, kawasan industri, kawasan komersial,

fasilitas umum, fasilitas sosial, dan pelaku usaha wajib menyediakan sarana dan

prasarana pemilahan sampah”. Jumlah sarana yang sesuai dengan

pengelompokkan sampah serta bentuk, bahan dan wadah yang diberi simbol

maupun label merupakan persyaratan sarana pemilahan sampah dalam

masyarakat.
Sebelum melakukan proses pengangkutan sampah, pemerintah wajib

menyediakan Tempat Pengumpulan Sampah (TPS) dan Tempat Pembuangan


36

Sampah 3R (TPS 3R) pada wilayah pemukiman masyarakat sesuai Pasal 9 ayat

(2) pada Paragraf 4 tentang Pengumpulan Sampah Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dengan tersedianya TPS, maka proses

pengangkutan sampah dilakukan dengan menggunakan alat angkutan sampah

yang terpilah, aman bagi lingkungan dan kesehatan.


Proses pengolahan sampah wajib dilakukan setiap orang dan dapat dilakukan

pada tempat pembuangan sementara (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA)

yang meliputi :
a pemadatan;
b pengomposan;
c daur ulang;dan
d pengolahan sampah lainnya.
Kegiatan pengolahan sampah tersebut tercantum dalam Pasal 11 ayat (2) dan

Pasal 12 ayat (1) pada Paragraf 6 tentang Pengolahan Sampah Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


Menurut Pasal 14 ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah

Tangga menyebutkan “Pemerintah Kabupaten Tabanan melakukan pengolahan

akhir sampah dengan menerapkan sistem/cara :


a penggunaan lahan urug terkendali (Control landfill);
b penggunaan lahan urug saniter (Sanitary landfill);dan
c penggunaan teknologi ramah lingkungan.”
Dalam melakukan pemrosesan akhir sampah, pemerintah

Kabupaten Tabanan wajib menyediakan dan mengoperasikan

TPA sesuai Pasal 23 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik

Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang berbunyi :


37

a. “Melakukan pemilihan lokasi sesuai dengan rencana tata


ruang wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota;
b. Pengelola menyusun analisis biaya dan teknologi; dan
c. Menyusun rancangan teknis.”

Berdasarkan hasil wawancara dari bapak I Wayan Sukanrayasa selaku

Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan pada tanggal 9

Februari 2015, pengumpulan dan penanganan sampah rumah tangga sering

dibiayai oleh pajak setempat karena semakin pesatnya jumlah penduduk serta

peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebersihan

lingkungan hidup terutama yang berhubungan dengan pengendalian persampahan.


Bapak I Wayan Sugatra, selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan (wawancara pada tanggal 9 Februari 2015) mengemukakan

bahwa dalam pelaksanaan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis

sampah rumah tangga, masyarakat Kabuapten Tabanan khususnya dari desa Dauh

Peken, Delod Peken, Dangin Peken serta kecamatan yang sudah terdaftar dalam

rute proses pengelolaan sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten

Tabanan, tidak menyerah untuk terus berpatisipasi meningkatkan pelaksanaan

pengelolaan sampah rumah tangga karena hal tersebut sudah menjadi tanggung

jawab masyarakat untuk menciptakan Tabanan yang bersih. Beliau juga berharap

agar masyarakat seluruh Kabupaten Tabanan untuk ikut aktif dalam mengelola

sampah-sampah disekitarnya khususnya dalam hal pengelolaan sampah rumah

tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga demi terciptanya Tabanan yang

Serasi.
Jadi, pengelolaan sampah dan sampah rumah tangga diolah melalui Depo

yang sebelumnya diangkut dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dalam

ruang lingkup dua kecamatan yakni Kecamatan Tabanan dan Kecamatan Kediri
38

yang dilayani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan.

Selanjutnya pemilahan sampah dilakukan dalam depo berupa pengelompokkan

sampah menjadi 5 (lima) jenis sampah yang terdiri dari sampah yang mengandung

bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya, sampah yang mudah

terurai, sampah yang dapat digunakan kembali, sampah yang dapat didaur ulang

dan sampah lain-lainnya.

3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Perda Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013


Suatu kaidah hukum atau peraturan yang berfungsi dipengaruhi oleh empat

faktor, yaitu :
a Kaidah hukum atau peraturan itu sendiri
b Petugas yang menegakkan atau yang menerapkan kaidah hukum tersebut
c Fasilitas yang diharapkan akan dapat mendukung pelaksanaan kaidah

hukum
d Warga masyarakat yang terkena ruang lingkup peraturan tersebut.53
Apabila faktor-faktor yang mempengaruhi berfungsinya hukum tersebut

dikaitkan dengan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga, maka dapat diuraikan sebagai berikut:


1) Kaidah hukum atau norma hukum yang berlaku
Dalam hal pengelolaan sampah, terdapat peraturan yang memiliki

larangan, kewajiban dan sanksi tegas yaitu Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga mengatur tentang

kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya. Dalam

Pasal 19 ayat (1) yang berbunyi “Setiap orang wajib :


a) Membersihkan jalan, saluran-saluran air, taman dan ruang terbuka
hijau yang ada dilingkungannya;
53
Soerjono Soekanto I, op.cit, h. 50.
39

b) Mengurangi timbulan sampah;


c) Melakukan pemilahan, dan penyaluran sampah organik;dan
d) Melakukan pengolahan sampah yang ramah lingkungan.”

Selanjutnya Pasal 24 ayat (1) yang menyebutkan “Setiap orang dilarang :

a) Membuang sampah secara sembarangan tidak pada tempat yang


telah ditentukan
b) Membuang sampah sisa upakara ke media lingkungan;
c) Membuang, menumpuk, menyimpan sampah atau bangkai binatang
di jalan, jalur hijau, taman, sungai, saluran air, fasilitas umum dan
tempat lainnya yang sejenis;
d) Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis
pengelolaan sampah;dan
e) Membuang sampah diluar tempat/lokasi pembuangan yang telah
ditetapkan.”

Berdasarkan hasil wawancara dari bapak I Putu Oka Paryadnya, selaku

Kepala Bidang Penegakan Hukum Badan Lingkungan Hidup pada tanggal

16 Februari 2015, disebutkan, suatu kaidah hukum atau peraturan yang

tertulis harus memiliki sanksi yang tegas dalam menegakkan efektifitas

kaidah hukum itu sendiri sehingga masyarakat akan mentaati peraturan

tersebut.
Perda Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga memiliki

sanksi yang tegas jika ada masyarakat yang terbukti melanggar ketentuan tersebut.

Hal tersebut diatur dalam Pasal 44 yang berbunyi :


(1) “Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap larangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) diancam dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) bulan penjara atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
(2) Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha pengelolaan sampah tanpa
ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) diancam dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan penjara atau denda paling
banyak Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat 1 dan ayat 2 adalah
pelanggaran.”
40

Pelanggaran yang dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) adalah pelanggaran

ijin kegiatan atau usaha pelayanan pengelolaan sampah dan pelanggaran pidana

yang dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) yaitu pelanggaran yang dilakukan oleh

masyarakat seperti membuang sampah sembarangan maupun membakar sampah

tidak tepat pada waktunya di Kabupaten Tabanan. Selain itu, terdapat juga sanksi

administratif bagi setiap pengelola sampah yang melanggar ijin pengelolaan

sampah. Hal tersebut diatur dalam Pasal 37 yang berbunyi :


(1) “Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa :
a. pemberian peringatan lisan dan / atau tertulis;
b. paksaan pemerintahan;
c. ganti kerugian;
d. penundaan berlakunya perizinan; dan / atau
e. pencabutan perizinan.”

Maka suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah

untuk memulihkan kualitas lingkungan dalam keadaan semula dengan beban

biaya denda serta ganti kerugian yang harus dibayarkan dalam jumlah tertentu

oleh pengelola sampah maupun individu yang melanggar ketentuan dalam

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 sebagai pengganti

dari pelaksanaan sanksi paksaan pemerintahan.


2) Aparat yang menerapkan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 3 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah

Kabupaten Tabanan. Berdasarkan peraturan daerah tersebut, dibentuk

dinas daerah di Kabupaten Tabanan yang salah satu diantaranya adalah

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan dengan tugas dan


41

fungsi melaksanakan urusan kebersihan serta mengawasi langsung

masyarakat dalam hal pengelolaan sampah di wilayah Kabupaten Tabanan

sesuai Pasal 103 ayat (1) huruf d Peraturan Bupati Kabupaten Tabanan

Peraturan Bupati Tabanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Uraian Tugas

Jabatan Struktural Perangkat Daerah Kabupaten Tabanan yang berbunyi

“Melaksanakan pengawasan terhadap alur pengumpulan sampah rumah

tangga, pasar, terminal, obyek wisata, sekolah, kantor pemerintah, kantor

swasta sesuai dengan aturan yang berlaku”.


Sebagai Instansi Pemerintah di Kabupaten Tabanan, pembentukan Dinas

Kebersihan dan Pertamanan didasari atas pemikiran perlunya urusan dan

kewenangan dibidang kebersihan, pertamanan dan Pertamanan dikelola

oleh Institusi yang berdiri sendiri. Hal ini mengingat luasnya ruang

lingkup pengelolaan di bidang Kebersihan dan Pertamanan yang

menyangkut seluruh aspek kehidupan.


Sesuai dengan Rencana strategis yang telah disusun sebelumnya, Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan memiliki visi dan misi

yang merupakan acuan bagi arah perkembangan pembangunan di bidang

kebersihan dan Pertamanan di Kabupaten Tabanan


Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, sampai saat ini Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan, didukung oleh sumber

daya manusia atau personil sebanyak 696 orang antara lain :


 Pegawai Negeri Sipil sebanyak 181 orang
Tenaga Administrasi sebanyak 22 orang
 Tenaga Kebersihan sebanyak 266 orang
 Tenaga Pertamanan sebanyak 100 orang
 Tenaga Persampahan sebanyak 50 orang
 Tenaga Angkutan sebanyak 53 orang
 Tenaga IPLT sebanyak 13 orang
 Tenaga Sarbagita sebanyak 6 orang
42

 Tenaga Pengolahan Sampah sebanyak 5 orang


3) Sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah

Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


Sarana dan Prasarana yang mendukung kegiatan personil tersebut adalah

sebagai berikut :
 Kendaraan Truk sebanyak 13 buah
 Kendaraan Truk Tangki sebanyak 4 buah
 Kendaraan Pick Up sebanyak 4 buah
 Kendaraan Truk Arm Roll sebanyak 7 buah
 Kendaraan Kijang sebanyak 2 buah
 Kendaraan roda dua sebanyak 10 buah
 Truk lif sebanyak 1 buah
 Louder sebanyak 1 unit
 Gerobak sampah sebanyak 34 buah
 Mesin potong rumput sebanyak 14 buah
 Mesin chain saw sebanyak 2 buah
Bapak Ramli, selaku Kepala Seksi Angkutan Dinas Kebersihan dan

Pertamanan Kabupaten Tabanan (berdasarkan hasil wawancara pada

tanggal 14 Februari 2015) mengatakan Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan memiliki 185 jumlah tempat sampah (Bak dan

container) yang tersebar di berbagai lokasi. Untuk data lokasi dan jumah

Bak Sampah di Kabupaten Tabanan dapat dilihat pada tabel 1.


Tabel 1 Data dan Jumlah Lokasi Bak Sampah Kabupaten Tabanan

Lokasi Jumlah Jumlah Transferdepo Ket


TPS Countainer
Delod Peken 24 7 1
Dajan Peken 26 2 3
Dauh Peken 22 9 -
Denbantas 13 - -
Bongan 16 1 -
Kediri 13 5 2
Abiantuwung 18 - -
Banjar Anyar 23 1 2
Pasar Penebel - 1 -
TPS di Pasar - 1 -
43

Candi Kuning
Pasar Marga - 1 -
Pasar Kerambitan - 1 -
1 -
Pasar Bajera - - -
Pasar Pupuan - - -
Jumlah 155 30 8
Sumber Data: Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan
Selain alat pengangkut, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten

Tabanan memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Mandung. TPA

Mandung merupakan TPA terbesar yang ada di Kabupaten Tabanan. Luas

TPA adalah sebsar 2,5 Ha yang dioperasionalkan sejak tahun 1995.


4) Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 9 Februari 2015 oleh bapak I

Wayan Sukanrayasa, selaku Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan, partisipasi dalam hal pengelolaan kebersihan maupun

sampah sangat diperlukan, karena pemerintah daerah memiliki

kemampuan terbatas baik dari segi personil, sarana dan prasarana yang

dimiliki untuk pengelolaan sampah. Partisipasi masyarakat dalam

pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan cara :


a Sampah dibuang di bak sampah atau di Tempat Pembuangan

Sementara (TPS) terdekat dari pukul 05.00 s/d 08.00 Wita dan bila

masih ada sisa sampah di rumah tangga agar dibuang esok hari untuk

menjaga agar sampah tidak berserakan di jalan.


b Dilarang membuang atau membakar sampah didepan rumah, jalanan

umum maupun jalur hijau, kecuali pada tempat dan waktu yang telah

ditetapkan oleh pemerintah daerah


c Masyarakat diwajibkan memilah sampah antara sampah organik dan

anorganik mulai dari tingkat rumah tangga


44

d Masyarakat berpartisipasi dalam menyediakan sarana dan prasana

kebersihan berupa tempat pembuangan sementara mauupun pembuatan

saluran untuk air kotor jika dirasa perlu.


Bapak I Wayan Sugatra (wawancara pada tanggal 9 Februari 2015), selaku

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan

mengatakan bahwa sampai saat ini sudah ada gerakan masyarakat mandiri

peduli sampah yang tersebar dalam dua kecamatan di Kabupaten Tabanan,

diantaranya kecamatan Tabanan dan Kediri.


Selain itu, diharapkan masyarakat juga ikut berpatisipasi aktif dalam

pengelolaan sampah tersebut dengan cara membentuk pengolahan sampah

mandiri berbasis masyarakat. Dengan pembentukan pengolahan sampah

tersebut, masyarakat diharapkan juga menyediakan alat pengangkut sendiri

berupa truk ataupun container yang nantinya akan diarahkan pengangkutan

sampah tersebut ke TPA oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan. Sehingga kelompok pengolahan sampah mandiri

berbasis mandiri cukup membayar biaya retribusi sebesar Rp 50.000,- per-

sekali buang sampah sesuai Pasal 8 huruf s Peraturan Daerah Kabupaten

Tabanan Nomor 20 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan

Persampahan/Kebersihan.
Dengan adanya faktor pendukung, tentu ada faktor penghambat yang

mempengaruhi pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis

Sampah Rumah Tangga, yaitu :


1 Sarana dan prasarana yang kurang memadai.
Belum tersedianya sistem pengolahan sampah yang baik, mengingat

kondisi TPA Mandung yang sudah overload namun masih dapat


45

beroperasional, TPA Baturiti belum ada, (belum operasional). TPA

Pujungan khusus untuk menangani sampah di desa Pujungan dan TPA

Pupuan juga khusus menangani sampah di desa Pupuan tetapi kondisinya

masih dapat dioperasionalkan. Hal tersebut dikarenakan anggaran dibidang

kebersihan dan persampahan sangat minim sehingga menyebabkan

terbatasnya sarana dan prasarana angkutan, misalnya seperti pengadaan

angkutan sampah serta tempat pembuangan sampah. Alat Berat (bouldozer

sudah tidak dapat dioperasionalkan lagi dan louder juga rusak namun

masih operasional) sehingga sampah menjadi menumpuk mengingat

luasnya jangkauan layanannya. Hal ini disampaikan oleh Ramli

(wawancara pada tanggal 14 Februari 2015) selaku Kepala Seksi Angkutan

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan.


Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Ni Made Ayu Wikarmini, selaku

Kepala Bidang Persampahan Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan pada tanggal 10 Februari 2015, mengatakan bahwa

volume sampah yang mampu ditangani dan dikelola oleh pemerintah

daerah sampai saat ini, rata-rata per-harinya baru sebanyak 382 m 3 dari

total timbulan sampah Kabupaten Tabanan sebesar 625 m3/hari. Jumlah

volume sampah yang terangkut ke TPA sebesar 286m3/hari. Hal ini

menyebabkan cakupan layanannya masih terbatas pada perkotaan dan

pasar.
Selain itu, kendaraan pengangkut dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan untuk saat ini, hanya mengangkut sampah

gelonggongan atau dalam skala besar saja. Hal tersebut disampaikan oleh
46

Bapak I Ketut Putera, selaku Kepala Seksi Pengolahan Sampah Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan berdasarkan hasil

wawancara pada tanggal 10 Februari 2015.


2 Kurangnya jumlah personil dalam menerapkan pelaksanaan Peraturan

Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan

Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


Jumlah sumber daya manusia Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan sebanyak 696 orang. Dengan jumlah tersebut, Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan hanya melayani rute

persampahan di 2 (dua) Kecamatan, sementara Kabupaten Tabanan terdiri

dari 9 (sembilan) Kecamatan.


Berdasarkan hasil wawancara dari bapak I Putu Oka Paryadnya, selaku

Kepala Bidang Penegakan Hukum Badan Lingkungan Hidup pada tanggal

16 Februari 2015 mengatakan bahwa Dinas Kebersihan dan Pertamanan

serta Badan Lingkungan Hidup berperan dalam pengelolaan sampah. Jika

dalam lapangan terdapat masyarakat membuang sampah atau membakar

sampah yang terbukti melanggar ketentuan peraturan daerah, pihak Dinas

Kebersihan dan Pertamanan maupun Badan Lingkungan Hidup hanya

memberikan sanksi administratif yakni berupa teguran atau sanksi tertulis.


Selain itu, lemahnya koordinasi pengawasan antar instasi dalam

pengelolaan persampahan yang disebabkan adanya anggapan bahwa

persampahan hanyalah urusan Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan sehingga penanganan sampah bersifat parsial. Belum

maksimalnya aparat pelaksana dalam melakukan sosialisasi mengenai

kegiatan 3R di lingkungan rumah tangga.


3 Kurangnya kesadaran hukum masyarakat
47

Masyarakat yang terbiasa membuang sampah sembarangan dan membakar

sampah tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah

Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga pada BAB

VII tentang Larangan dan Peran Serta Pasal 24 ayat (1) huruf a dan e.
Masyarakat masih belum mematuhi jadwal pembuangan sampah yakni

sampah dibuang di bak sampah dari pukul 05.00 s/d 08.00 WITA. Bapak

I Ketut Putera (wawancara pada tanggal 10 Februari 2015), selaku Kepala

Seksi Pengolahan Sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten

Tabanan, mengemukakan bahwa walaupun pihak Dinas Kebersihan

Pertamanan Kabupaten Tabanan sudah mengadakan pemilahan, tetap saja

sampah-sampah yang berasal dari rumah tangga tersebut belum terpilah.

Masyarakat juga belum mengerti mengenai pemahaman pemilahan

sampah dan menganggap bahwa sampah merupakan sesuatu yang tidak

berguna sehingga menyebabkan penumpukkan sampah pada TPA (Tempat

Pembuangan Akhir).
Dengan adanya pemahaman tersebut menyebabkan masyarakat membuang

begitu saja limbah padat yang dihasilkan akibat dari kegiatan yang

dilakukan tanpa memilah sampah-sampahnya terlebih dahulu yang

mengakibatkan TPA menjadi overload. Hal tersebut dikatakan oleh Bapak

I Wayan Sukanrayasa, selaku Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan (wawancara pada tanggal 9 Februari 2015).


Selain itu, budaya masyarakat dalam ruang lingkup desa pakraman di

Kabupaten Tabanan yang belum memiliki hukum adat (awig-awig) dalam

hal larangan membuang sampah maupun pengelolaan sampah.


48

Pemberdayaan desa pakraman dalam pengelolaan sampah merupakan

potensi yang sudah saatnya menjadi pilihan penanganan sampah karena

permasalahan sampah adalah permasalahan kita semua. Hal tersebut

ditegaskan dalam Pasal 26 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan

Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan

Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga yang berbunyi “Desa Pakraman

dapat membuat Awig-Awig Desa Pakraman bagi masyarakat yang

membuang sampah tidak pada tempatnya”.

BAB IV
UPAYA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TABANAN DALAM

MENINGKATKAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH

KABUPATEN TABANAN NOMOR 6 TAHUN 2013

4.1 Upaya Preventif dalam Meningkatkan Pelaksanaan Perda Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013


Kebersihan merupakan suatu kewajiban yang harus ditangani serius oleh

pemerintah maupun masyarakat khususnya tentang hal pengelolaan sampah


49

rumah tangga. Maka dari itu, pemerintah harus memberikan paradigma baru

pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan sejak dini melalui jalur

pendidikan formal dan non formal bekerjasama dengan dinas pendidikan dan

instansi terkait. Upaya tersebut disampaikan oleh bapak I Wayan Sugatra, selaku

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan (wawancara pada

tanggal 9 Februari 2015).


Sesuai Pasal 34 tentang Pembinaan pada BAB XIII tentang Pembinaan dan

Pengawasan Bagian Kesatu Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun

2013 yang berbunyi “Pemerintah Kabupaten melakukan pembinaan pengelolaan

sampah di Kabupaten Tabanan meliputi :


a Sosialisasi dan diseminasi mengenai peraturan perundangan yang

berkaitan dengan pengelolaan sampah;


b Pendidikan dan pelatihan kepada aparatur pemerintah dalam pengurangan

sampah; dan
c Pembangunan proyek percontohan program pengelolaan sampah yang

ramah lingkungan.”
Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten Tabanan memiliki upaya preventif

dalam meningkatkan pelaksanaan Perda55Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah

Tangga, diantaranya :
1 Membentuk Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi sesuai Keputusan Bupati

Tabanan Nomor 67 Tahun 2011 tentang Pembentukan Kelompok Kerja

(POKJA) Sanitasi Kabupaten Tabanan. Tim POKJA Sanitasi Kabupaten

Tabanan sudah memiliki program kerja selama tahun 2011-2015. Program

kerja dari Tim POKJA Sanitasi Kabupaten Tabanan sesuai dengan


50

Keputusan Bupati Tabanan Nomor 67 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi Kabupaten Tabanan, sebagai berikut :


a Mengupayakan sistem manajemen persampahan terpadu mulai dari

tingkat desa, kecamatan hingga tingkat kabupaten.


b Mengupayakan pemilahan sampah organik dan anorganik serta upaya

komposting dan daur ulang untuk mengurangi volume sampah yang

darus ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir.


c Menambah jumlah tempat penampungan sampah sementara, serta

sarana penunjang pengangkutan sampah lainnya (seperti container,

gerobak, petugas pengangkut sampah) yang disesuaikan dengan kondisi

permukiman yang dilayani.


d Pada daerah atau kawasan tertentu, seperti kawasan perkantoran,

perdagangan jasa, pendidikan, kesehatan, kawasan pariwisata,

pelabuhan, hendaknya disertakan pula kewajiban untuk mengelola

timbulan sampah yang dihasilkannya.


e Selain itu peran serta partisipasi masyarakat dalam pengelolaan

persampahan perlu ditingkatkan dengan sosialisasi secara berkala untuk

mengembangkan pola penanganan sampah 3 R, yaitu:


 Mengurangi (Reduce)
Mengurangi limbah sampah dengan penggunaan produk yang minim

menghasilkan limbah sampah, terutama yang menghasilkan limbah

sampah non-organik.
 Daur Ulang (Recycle)
Daur Ulang adalah upaya pemanfaatan limbah melalui pengolahan

fisik atau kimia, untuk menghasilkan produk yang sama atau produk

yang lain, misalnya sampah organik diolah menjadi kompos,

pembuatan kompos dapat dilakukan dengan skala kelompok dan


51

skala rumah tangga dan besi bekas diolah kembali menjadi barang-

barang dari besi, dapat untuk barang sama maupun barang yang lain.
 Pengunaan Kembali (Reuse)
Penggunaan kembali adalah pemanfaatan limbah dengan jalan

menggunakannya kembali untuk keperluan yang sama atau

fungsinya sama, tanpa mengalami pengolahan ataupun perubahan

bentuk, contohnya botol minyak digunakan kembali untuk botol

minyak lagi.
Dalam pelaksanaan tugas khusus mengenai persampahan, Tim POKJA

Sanitasi Kabupaten Tabanan sudah memiliki program dan kegiatan tahun

2011-2015, seperti terlihat pada tabel 2.

Tabel 2 Program dan Kegiatan Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi Kabupaten

Tabanan

No. Program Kegiatan


- Sosialisasi pemisahan
sampah organik dan
anorganik di tingkat
rumah tangga
- Pengembangan
Program pengembangan pelaksanaan di desa
1
pengelolaan sampah 3R - Bantuan teknis
pengembangan
pengelolaan sampah 3R
- Pengadaan lahan untuk
pengembangan
pengelolaan sampah 3R
2 Program Pengembangan - Perluasan lahan TPA
Kinerja Pengelolaan Mandung
Persampahan - Review DED TPA
Mandung
- Penyusunan Dokumen
UKL UPL TPA
Mandung
52

- Revitalisasi TPA
Mandung
- Supervisi Pembangunan
TPA
- Pengadaan 5 truk
sampah, 2 truk tangki air
dan 5 armrool
- Pengadaan alat pencacah
sampah
Program Peningkatan - Penyiapan lahan TPA
3 sarana dan prasarana Kecamatan
persampahan - Pengadaan TPA skala
kecamatan di 2 lokasi
(Baturiti dan
Selemadeg)
- Pembangunan 20 TPST
Baru
Program pengembangan - Pengembangan tempat
4 sarana dan prasarana pengolahan sampah
pengolahan sampah medis medis di tiap puskesmas
- Pelatihan tenaga teknis
Program penguatan pengelola sampah di
5 kelembagaan pengelola TPA
persampahan - Pembentukan UPTD
TPA Mandung
- Pembentukan 6
kelompok swadaya
Program pengelolaan masyarakat pengelola
6 sampah berbasis persampahan
masyarakat - Bantuan teknis
pengolahan sampah di
tingkat desa
Program pelaksanaan
kerjasama regional - Operasional pengiriman
7
persampahan sampah ke TPA Suwung
SARBAGITA
Program penyusunan - Review Masterplan
8 dokumen perencanaan Persampahan Kabupaten
persampahan Tabanan
- Penyusunan perda
9
pengelolaan sampah
53

- Review Perda Retribusi


Program penguatan
Pelayanan
regulasi pengelolaan
Persampahan/Kebersiha
lingkungan
n
- Sosialisasi Pemisahan
Sampah Organik dan
Program Peningkatan Anorganik
10
Kesadaran masyarakat - Sosialisasi dan promosi
penggunaan pupuk
organic
- Pilot project bank
Sampah di Kecamatan
Tabanan
Program peningkatan
11 - Pemanfaatan Gas Hasil
sanitasi yang inovatif
pengolahan sampah di
TPA menjadi energi
listrik
- Penggalangan dana
Pemanfaatan dana hibah
12 melalui program hibah
dan CSR
IEG
- Pesta seni lingkungan
yang disponsori dana
CSR
- Penggalangan dana dari
bank-bank dan hotel
untuk pengadaan bak
sampah di kawasan
objek pariwisata
Sumber Data : Kelompok Kerja (POKJA) Sanitasi Kabupaten Tabanan
2 Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 3 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah

Kabupaten Tabanan.
Berdasarkan peraturan daerah tersebut, dibentuk dinas daerah di

Kabupaten Tabanan yang salah satu diantaranya adalah Dinas Kebersihan

dan Pertamanan Kabupaten Tabanan dengan tugas dan fungsi

melaksanakan urusan kebersihan (pengelolaan sampah) dalam wilayah

Kabupaten Tabanan.
54

Mengenai pelaksanaan tugas khususnya dalam hal pengelolaan sampah,

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan sudah menetapkan

beberapa program selama tahun 2014, yaitu :


a. Operasional Rutin Persampahan
b. Kerjasama Pengelolaan Persampahan Sarbagita
c. Operasional Rutin Pengangkutan Sampah
d. Operasional Pengelolaan Sampah di Bajera
e. Program Gemah Ripah Bank Sampah
f. Operasional IPLT
g. Outsourcing Rutin Kebersihan
3 Keputusan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan

Nomor 25/DKP/2014 tentang Pembentukan Panitia Pelaksana Kegiatan

Operasional Rutin Persampahan di Kabupaten Tabanan Tahun Anggaran

2014. Panitia pelaksana ini mempunyai tugas sebagai berikut :


a Menyiapkan rencana kerja Operasional Rutin Persampahan
b Melaksanakan kegiatan Operasional Rutin Persampahan
c Mengadakan evaluasi terhadap Operasional Rutin Persampahan; dan
d Melaporkan hasil kegiatan tersebut diatas kepada Kepala Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan.


4 Sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam

meningkatkan pelaksanaan pelaksanaan Perda Kabupaten Tabanan Nomor

6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah

Sejenis Sampah Rumah Tangga bekerja sama dengan pengepul sampah

plastik, kelompok swadaya masyarakat, lembaga swadaya masyarakat dan

SKPD terkait. Keputusan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan Nomor 27/DKP/2014 tentang Pembentukan Panitia

Pelaksana Kegiatan Gemah Ripah Bank Sampah di Kabupaten Tabanan

Tahun Anggaran 2014 yang memutuskan :


55

1) Membentuk Panitia Pelaksana Kegiatan Gemah Ripah Bank Sampah di

Kabupaten Tabanan Tahun Anggaran 2014 dengan susunan

sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.


2) Panitia Pelaksana sebagaimana dimaksud pada diktum Kesatu

mempunyai tugas sebagai berikut :


a Menyiapkan rencana kerja Gemah Ripah Bank Sampah
b Melaksanakan kegiatan Gemah Ripah Bank Sampah
c Mengadakan evaluasi terhadap kegiatan Gemah Ripah Bank Sampah
d Melaporkan hasil kegiatan tersebut diatas kepada Kepala Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan


Sosialisasi dilakukan di tiga Kecamatan yaitu para Perbekel, para Klian

Banjar Dinas dan sekolah-sekolah sebanyak 200 (dua ratus) orang terdiri

dari :
a Kecamatan Baturiti (65 orang)
b Kecamatan Marga (70 orang)
c Kecamatan Penebel (65 orang)
Inti dari sosialisasi Gemah Ripah Bank Sampah adalah mengajak

masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dengan penerapan 3R

(reduce, reuse, recycle) dan materi-materi yang berhubungan 3R, yaitu :


a Pengurangan sampah dari sumbernya
b Pembentukan bank sampah di tiap-tiap kecamatan
c Pendauran ulang sampah.
Berdasarkan hasil wawancara dari bapak I Wayan Sukanrayasa, selaku

Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan pada tanggal 9

Februari 2015, mengatakan pihaknya sedang berupaya untuk menambah luas

lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi 5 Ha agar sesuai dengan

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 untuk meningkatkan daya tampung TPA.

Dengan tercapainya lahan TPA seluas 5 Ha, maka anggaran APBD dari

pemerintah pusat akan segera terealisasikan untuk menunjang program dan


56

kegiatan pengelolaan sampah. Sampai saat ini, luas lahan TPA di Kabupaten

Tabanan hanya sekitar 2 Ha.

4.2 Upaya Represif dalam Meningkatkan Pelaksanaan Perda Kabupaten

Tabanan Nomor 6 Tahun 2013


Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 16 Februari 2015 oleh bapak I

Putu Oka Paryadnya, selaku Kepala Bidang Penegakan Hukum Badan

Lingkungan Hidup Kabupaten Tabanan mengatakan, upaya yang dilakukan Dinas

Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan untuk menekan jumlah pelanggar

Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 yakni melakukan

koordinasi dengan pihak Satpol PP Kabupaten Tabanan, Badan Lingkungan Hidup

serta kelompok masyarakat peduli lingkungan dalam pengelolaan persampahan

karena masyarakat di Kabupaten Tabanan masih menganggap lemahnya

koordinasi antar instasi dalam pengelolaan persampahan yang disebabkan adanya

anggapan bahwa persampahan hanyalah urusan Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan.
Pemerintah Kabupaten Tabanan khususnya yang terkait adalah Satuan Polisi

Pamong Praja Kabupaten Tabanan bersama dengan pihak Badan Lingkungan

Hidup serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan melakukan

upaya represif lainnya dengan cara memberikan sanksi administratif kepada para

pelanggar Perda Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 khususnya bagi

pengelola usaha persampahan yang tertangkap tangan secara langsung maupun

melalui pengaduan masyarakat.


Selama tahun 2014, Badan Lingkungan Hidup bersama dengan Dinas

Kebersihan dan Pertamanan serta Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tabanan

sudah menindak tegas para pengelola usaha persampahan pelanggar perda melalui
57

pemberian sanksi administratif khususnya pelanggar Perda Kabupaten Tabanan

Nomor 6 Tahun 2013 sebanyak 12 (dua belas) orang, diantaranya 5

(orang)/kelompok pengelola usaha persampahan dan 7 (tujuh) orang yang

melanggar ketentuan Pasal 24 ayat (1) Perda Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun

2013. Hal tersebut disampaikan oleh Bapak I Gusti Putu Oka Paryadnya

(wawancara pada tanggal 16 Februari 2015). Data jenis pelanggar Perda

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah

Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga di Kabupaten Tabanan dapat

dilihat pada tabel 3.


Tabel 3 Rekapan Jenis Pelanggar Perda, Perbup dan Peraturan Perundang-

undangan Lainnya Kabupaten Tabanan Tahun 2014


58

No. Perda/Perbup dan Tindak


Jumlah
No Jenis Pelanggaran Peraturan Perundangan Lanjut
Penertiban
Lain Dilanggar Administratif

1 Ketertiban umum Perda No.12 Th. 2002 3 Peringatan


Retribusi Ijin
2 Tempat Usaha Perda No.23 Th. 2002 2 Peringatan
(SITU)
Penetapan Air Perbup No.16 Th.
3 - -
Permukaan (AP) 2009
Penyelenggaraan
4 Administrasi Perda No.5 Th. 2010 - -
Kependudukan
Retribusi Ijin
Tempat Penjualan
5 Minuman Perda No.21 Th. 2011 - -
Beralkohol
(Miras)
Pajak Air Bawah
6 Perda No.4 Th. 2011 1 Peringatan
Tanah (ABT)
Retribusi Ijin
7 Mendirikan Perda No.16 Th. 2011 4 Peringatan
Bangunan (IMB)
Ijin Gangguan
8 Perda No.17 Th. 2011 - -
(HO)
Pendirian Tower
9 Perda No.1 Th. 2012 - -
Telekomunikasi
Pengelolaan
Sampah Rumah
Tangga dan
10 Perda No.6 Th. 2013 12 Peringatan
Sampah Sejenis
Sampah Rumah
Tangga
Retribusi ijin
usaha
pertambangan Perbup No.18 Th.
11 2 Peringatan
mineral bukan 2012
logam dan
bebatuan
Pemberantasan
12 Perda No.13 Th. 2002 - -
pelacuran
JUMLAH 24
59

Sumber Data : Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tabanan


Pemberian sanksi secara administratif tersebut dilakukan agar terciptanya

punish dan reward terhadap masyarakat yang mau peduli terhadap limbah ataupun

sampah yang dihasilkan.


Bapak I Wayan Sugatra mengatakan (berdasarkan hasil wawancara pada

tanggal 14 Februari 2015), melalui upaya represif seperti ini diharapkan dapat

memberikan efek jera kepada masyarakat. Target yang ingin dicapai adalah

adanya kesadaran dari masyarakat yang menganggap kebersihan itu adalah

merupakan suatu kebutuhan bukan paksaan.


Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah yaitu memberdayakan

masyarakat khususnya di desa pakraman maupun banjar-banjar Dinas Kabupaten

Tabanan untuk membuat awig-awig atau hukum adat setempat untuk mengurangi

tindakan pelanggaran pengelolaan sampah karena Bali sebagai daerah yang masih

sangat kental dengan adat istiadat serta awig (aturan yang ada) maka dengan

adanya keterlibatan desa pekraman pengelolaa sampah akan lebih efektif dan

efisien. Hal ini disampaikan oleh bapak I Wayan Sukanrayasa selaku Sekretaris

Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan (wawancara pada tanggal

14 Februari 2015).
Untuk meminimalkan volume sampah di TPA Mandung, Pemerintah

Kabupaten Tabanan khususnya Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten

Tabanan melakukan upaya melalui kegiatan pengolahan sampah rumah tangga,

memanfaatkan sampah baru dan sampah lama menjadi produk yang bernilai

ekonomis. Sampah yang dapat didaur ulang sebelumnya diolah menjadi kertas

dengan pemilahan untuk memisahkan bahan organik yang sesuai dengan

pembuatan kertas dan bahan organik residu yang tidak dapat diolah. Pemanfaatan
60

sampah menjadi kertas ini dilakukan dalam skala besar karena sudah tersedianya

pabrik yang mengelola sampah rumah tangga tersebut dengan peralatan yang

lengkap. Hal ini disampaikan oleh Ibu Ni Made Ayu Wikarmini selaku Kepala

Bidang Persampahan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tabanan

berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 10 Februari 2015).


Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Tabanan membentuk kerjasama

regional persampahan dengan PT. Navigat Organic Energi Indonesia (PT. NOEI)

sebagai mitra swasta dan masyarakat untuk membangun dan mengoperasionalkan

IPST yang lokasinya ditetapkan berada di areal TPA Suwung, Kota Denpasar.

Kerjasama tersebut berupa pengelolaan sampah terpadu yang berlokasi di TPA

Suwung-Denpasar. Volume sampah yang perlu diangkut sesuai wilayah pelayanan

untuk kabupaten Tabanan rata-rata 60 truk setiap minggu. Hal ini disampaikan

oleh Bapak I Wayan Sugatra selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan (wawancara pada tanggal 9 Februari 2015).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat ditarik

kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan, sebagai berikut :


1. Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013

tentang Pengelolaan Sampah dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga

di Kabupaten Tabanan belum efektif. Hal tersebut disebabkan karena


61

kurangnya sumber daya manusia dalam Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan, lemahnya koordinasi pengawasan antar instasi dalam

pengelolaan persampahan dan kurangnya kesadaran hukum masyarakat

masih yang membuang dan membakar sampah sembarangan serta budaya

masyarakat desa yang tidak memiliki hukum adat (awig-awig) mengenai

larangan membuang sampah.


2. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam

meningkatkan pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Tabanan Nomor 6

Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Sampah Sejenis Sampah

Rumah Tangga berupa :


a. Upaya preventif Pemerintah Kabupaten Tabanan yaitu melakukan

sosialiasi mengenai pemilahan sampah dengan penerapan 3R (reduce,

reuse, recycle), melaksanakan kegiatan operasional rutin persampahan,

memperluas lahan Tempat Pembuangan Akhir dan membentuk tim

kelompok kerja sanitasi.


b. Upaya represif yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan

yakni pemerintah dalam kaitan ini merupakan Badan


68
Lingkungan Hidup, melakukan koordinasi dengan

pihak Satpol PP Kabupaten Tabanan untuk memberikan sanksi

administratif bagi para pelanggar peraturan daerah khususnya bagi

pengelola usaha persampahan dan memberikan pelayanan kepada

masyarakat berupa retribusi pelayanan persampahan/kebersihan.

5.2 Saran
1. Pemerintah Kabupaten Tabanan perlu meningkatkan partisipasi

masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui pembuatan awig-awig


62

dalam ruang lingkup desa dan melakukan sosialisasi terhadap masyarakat

mengenai masalah pengelolaan sampah serta penambahan sarana dan

prasarana pengelolaan sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan

Kabupaten Tabanan.
2. Perlu adanya penerapan sanksi secara tegas bagi pihak-pihak yang

melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah

Kabupaten Tabanan Nomor 6 Tahun 2013.