Anda di halaman 1dari 12

668-22037

Di Indonesia, tidak banyak lembaga pendidikan pra-sekolah menggunakan model BCCT


dikarenakan ketidaksiapan SDM dan kekurangan dukungan fnansial. Khusus di Pontianak
misalkan, berdasarkan data yang penulis dapat, dari 38 lembaga pendidikan pra-sekolah, hanya
ada 4 (empat) sekolah yang menggunakan model BCCT yaitu: Taman Kanak-kanak Islam
Mujahidin 1 dan 2, Taman Kanak-kanak Al-Kautsar dan Taman Kanak-kanak Islam Az-Azhar.
Padahal, jika model ini diterapkan, banyak kelebihan dan manfaat yang diterima oleh anak usia
dini untuk memaksinalkan potensi yang dimilikinya.

Pendekatan BCCT secara teoritik dapat dimaknai sebagai pembelajaran yang diselenggarakan
pada sentra dan lingkaran. Di sentra anak belajar sesuai tema dan sentranya. Anak diberikan
aturan bermain saat berada dalam sentra sambil guru mendampingi dan mencatat seluruh
kegiatan siswa. Dan terakhir guru meminta anak membereskan mainannya sekaligus menyuruh
mereka menceritakan pengalaman saat berada di sentra.

Anak pada kegiatan ini mengkonstruk pengetahuan dan pengalamannya sendiri karena
aktvitas yang mereka lakukan. Terdapat beberapa sentra biasanya yang ada di TK/RA yaitu
sentra balok, pasir, air, rumah, rumah ibadah, dapur, seni dan lain sebagainya. Karena terdapat
beberapa sentra, maka pendekatan ini dilaksanakan kegiatan moving class, dimana anak
berpindah dari satu sentra ke sentra lain dalam melakukan pembelajaran. Karena konsep moving
class inilah maka anak menjadi tidak bosan sebab
menghadapi situasi kelas yang selalu berbeda. Inilah sedikit manfaat model BCCT, yang pada
lembar kerja berikutnya akan penulis paparkan lebih rinci

.
Model BCCT atau sentra ini proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan
saat dalam lingkaran. Sesaat sebelum anak bermain, anak oleh guru diklasikalkan dalam bentuk
melingkar mengelilingi guru. Ia bisa dilakukan dengan duduk ditikar atau duduk di kursi. Dalam
posisi lingkaran inilah guru melakukan kegiatan pendahuluan pembelajaran. Pembelajaran
dibuka dengan salam, mengabsen, menanyakan kabar anak, berdo’a, menyampaikan tema
pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan ini dilakukan secara menyenangkan karna
diselingi dengan lagu, gerak tari atau senam, tepukan dan lainlain. Kegiatan dalam lingkran juga
dilakukan ketika penutupan pembelajaran, dimana guru melakukan recalling, memotivasi,
melakukan penguatan dan do’a.

Selain pembelajaran dalam lingkaran, substansi BCCT adalah saat anak dalam area
bermain. Dalam area bermain, sentra harus memenuhi 3 jenis main yang dapat mengakomodasi
seluruh perkembangan anak. Ketiga kelompok main tersebut yakni (1). Main sensorimotor atau
fungsional, (2). Main peran, dan (3) main pembangunan
1. Sentra pendukung pelaksanaan BCCT dapat meliputi: sentra persiapan, sentra bahan alam,
sentra seni dan kreativitas, sentra ibadah, sentra balok dan lain sebagainya tergantung kehendak
pihak sekolah. Membangun sentra harus disertai dengan konsekuensi melengkapi dengan media
permainan yang sesuai;

2. Prosedur pelaksanaan pembelajaran model BCCT meliputi pijakan lingkungan, pijakan


sebelum bermain, pijakan saat ber-main dan pijakan setelah bermain

3. Keunggulan model BCCT meliputi: secara maksimal mengembangkan seluruh potensi AUD
yang meliputi aspek kognitif, sosial-emosional, moral spiritual, fsik, visual spasial, natural dan
bahasa; sebagaimana spirit konstruktivisme, BCCT menjadi model pembelajaran yang dapat
membuat anak menjadi kreatif dan inovatif; Pembelajaran menjadi menyenangkan dan penuh
makna (Joyfull Learning), anak tidak bosan dengan pembelajarannya karena secara reguler
bergantian belajar dalam sentra berbeda, anak sangat antusia, apresiatif dan dinamis dalam
pembelajaran yang sedang dilangsungkan; Anak mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
pengalamannya; Mengajarkan anak mandiri dalam melakukan satu pekerjaan; Mengajarkan anak
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya; Mengajarkan anak bersosialisasi karena permainan
kolaboratif dalam sentra; Guru menjadi fukos dan mendalam menguasai proses pembelajaran
satu sentra dimana ia ditugaskan

15-kasrani

Namun sampai sekarang dalam penyelenggaraan PAUD masih ditemukan beberapa permasalahan
diantaranya rendahnya kualitas guru dan terbatasnya sarana/prasarana untuk kegiatan PAUD.
Permasalahan lainnya adalah pembelajaran yang monoton dan berfokus pada guru, minimnya alat peraga
dan buku pegangan untuk bahan ajar. Permasalahan-permasalahan tersebut harus menjadi perhatian utama
untuk memulai perbaikan penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini.

Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi masalah tersebut adalah mengeluarkan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 58 tahun 2009 tentang standar PAUD, yang kemudian direvisi menjadi
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 137 tahun 2014 tentang standar PAUD yang terdiri atas (1)
Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini selanjutnya disebut STPPA; (2) Standar Isi;
(3) Standar Proses; (4) Standar Penilaian; (5) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan; (6) Standar
Sarana Prasana; (7) Standar Pengelolaan; dan (8) Standar Pembiayaan. Standar PAUD diharapkan
menjadi standar acuan minimal bagi masyarakat dan stakeholders dalam memberikan pelayanan
pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini.
Pembagian waktu belajar kelompok usia 4-6 tahun dari empat lembaga PAUD adalah 150 menit yang
dimulai dari jam 08.00 sampai jam 10.30. Pertemuan dilakukan ada yang sepanjang minggu dari Senin
sampai Saptu, efektif dalam 17 minggu per semester. Tetapi ada juga yang melaksanakan proses belajar
mengajar dengan mengadakan pertemuan dari hari Senin sampai Kamis.

Saat observasi ditemukan bahwa sumber pembiayaan TK dan PAUD di Kecamatan Tanjung Harapan
berasal dari Dinas Pendidikan Kabupaten dan orang tua peserta didik dalam bentuk uang sekolah. Hanya
dari sisi pemanfaatan terlihat adanya ketimpangan diantara pos pengeluaran yang ada. Besaran biaya yang
digunakan lembaga-lembaga PAUD di wilayah ini untuk biaya operasional pendidikan tidak sebesar
pengeluaran untuk pos lainnya, dimana 43%-53% untuk gaji, 22%-26% untuk tunjangan hari raya, 10%-
14% untuk administrasi, 12%- 17% untuk pengadaan APE seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.13.
Jika dikaitkan dengang kondisi sarana yang ada di lembaga-lembaga PAUD ini, akan kelihatan bahwa
mereka belum mampu memanfaatkan keuangan yang ada untuk membiayai kebutuhan pendidikan yang
berhubungan langsung dengan proses belajar anak, termasuk alokasi dana untuk meningkatkan
kompetensi guru dan staf administrasi (capasity building).

Pendidik seharusnya mengetahui bahwa pencapaian peserta didik dapat diketahui tidak hanya semata-
mata dari catatan kondisi perkembangannya selama masa belajar. Lebih dari itu, Frost, et.all. (2007)
berpendapat bahwa hasil penilaian memberi masukan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain itu, memberi informasi apakah peserta didik memerlukan akses terhadap material/Alat Peraga
Edukatif yang dapat menolong anak yang bermasalah dalam pelajaran dan perkembangan.

Brewer (1992: 535-585) bahkan menekankan bahwa penilaian mempunyai arti yang sangat penting,
selain menilai tampilan (performance) anak secara individual, penilaian juga dapat memberi informasi
tentang kualitas program atau efektiftas suatu kegiatan pembelajaran. Hal ini yang belum dilakukan oleh
sebagian lembaga PAUD, karena masih ada anggapan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan merupakan
suatu kegiatan yang sudah baku bagi PAUD.

Buku laporan penilaian perkembangan anak memakai format buku laporan yang dikeluarkan dinas
pendidikan Kabupaten. Ada beberapa tahapan yang dikerjakan guru dalam membuat laporan hasil belajar
anak, yaitu pertama melakukan/menulis penilaian harian dalam buku rencana kegiatan harian / RKH,
kedua memindahkan catatan penilaian harian ke buku rekapitulasi, ketiga melakukan analisa
perkembangan anak per individu berdasarkan hasil rekapitulasi jumlah bintang yang diperoleh anak,
keempat, memindahkan hasil analisa ke dalam buku raport, dan kelima menyerahkan buku laporan/raport
anak kepada orang tua peserta didik

02_artikel_publikasi

Rahardjo, 2006: 7 : banyak kendala yang menjadi penghambat penerapan program PAUD di
negara ini.
Salah satu diantara kendala tersebut yaitu rendahnya tingkat pendidikan para orang tua
khususnya ibu sehingga mengakibatkan pula rendahnya kualitas asuhan terhadap anak usia dini.
Selain itu, tinggi rendahnya tingkat ekonomi masyarakat akan mempengaruhi kualitas pelayanan
dari lembaga/institusi PAUD.

Hambatan berikutnya yaitu masih terbatasnya jumlah lembaga PAUD baik dari jalur Formal
(Taman Kanak-Kanak/ Radhautul Atfal) maupun dari jalur Non Formal (Kelompok Bermain/
Taman Penitipan Anak) dengan tingkat sebaran di suatu wilayah masih belum merata dibanding
dengan sasaran PAUD itu sendiri.

Hambatan terakhir yaitu masih rendahnya kualitas guru/ pendidik PAUD yang belum memenuhi
standar minimal yaitu untuk menjadi pendidik PAUD harus berijasah minimal setara dengan
program D-2 PGTK (Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak). Semakin meningkat kualitas guru,
maka akan meningkat pula kualitas proses pengajaran dan kualitas peserta didik (Rahardjo,
2006: 7).

Terkait hal tersebut di atas, tujuan PAUD tidak hanya untuk memenuhi hak asasi anak untuk
memperoleh pendidikan sedini mungkin, melainkan juga untuk memberikan landasan bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak dalam segala aspeknya, baik aspek ketrampilan, sosial,
akademik, dan moral (Rochaety, 2006: 32)

Setting Kelas Pembelajaran Anak Usia Dini yang Ditawarkan

Pengaturan ruangan kelas merupakan usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasanna belajar
mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi murid untuk belajar dengan
baik sesuai dengan kemampuan.

Dengan demikian manajemen kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses
belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarahkan pada penyiapan bahan belajar,
penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, pewujudan situasi/kondisi proses
belajar mengajar dan pengaturan waktu sehingga pemebelajaran berjalan dengan baik dan tujuan
kurikuler dapat dicapai.

Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah
munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot,
pajangan, dan barang-barang lainnya di dalam kelas.

Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh guru dalam mengelola
kelas. Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai.
Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar
yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Winzer
(Winataputra, 2003: 9-21) bahwa “penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap
tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui
bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang digunakan siswa untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan”.

Penataan ruang kelas disesuaikan juga dengan kondisi dan jumlah peserta didik. Dengan
penataan ruang kelas sedemikian rupa, misalnya tiap minggu/bulan diganti penataan ruang
kelasnya, peserta didik tidak akan merasa bosan untuk belajar. Apalagi dalam pembelajaran di
TK maupun di PAUD, penataan ruang kelas disesuaikan dengan perkembangan anak serta sesuai
dengan minat dan dunianya.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas
menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu: 1) visibility (keleluasaan pandangan); 2)
accessability (mudah dijangkau); 3) flexibility (keluwesan); 4) keindahan; dan 5) kenyamanan.
Atas dasar pandangan Loisell tersebut maka pengaturan seting kelas di pendidikan anak usia dini
yang ditawarkan dapat disajikan secara visual ke dalam diagram sebagai berikut.

Anak belajar dengan cara yang berbeda dengan orang dewasa. Beberapa karakteristik cara
belajar anak itu antara lain (1) anak belajar melalui bermain; (2) anak belajar dengan cara
membangun pengetahuannya; (3) anak belajar secara alamiah, dan (4) anak belajar paling baik
jika yang dipelajarinya menyeluruh, bermakna, menarik, dan fungsional. Bermain sebagai salah
satu cara belajar anak memiliki ciri-ciri simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, suka rela,
ditentukan oleh aturan, dan episodik.

Setting kelas pembelajaran anak usia dini di TK Negeri Pembina Boyolali diatur sesuai dengan
visi dan misi sekolah. Perancangan fasilitas belajar meliputi ukuran fasilitas fisik disesuaikan
dengan dimensi tubuh anak-anak TK sehingga ukuran perabot yang dirancang dapat lebih
nyaman sesuai dengan bentuk dan ukurannya, warna yang menarik, dan memiliki fungsi yang
sesuai kebutuhan.

Penataan ruang kelas diatur dengan memberikan akses ke ruang kerja anak, akses ke material
atau alat permainan, dan dapat melayani perbedaan dan kebebasan individu anak dalam belajar.
Dinding diberi warna yang menarik, dan memiliki fungsi yang sesuai kebutuhan; warna dinding
diubah berwarna krem agar memberi efek ketenangan, sejuk, luas, lembut, leluasa, dan bersih;
dinding kelas ditempel dengan gambar-gambar berwarna-warni yang mencerminkan keceriaan.
1463-article

Efektivitas manajemen kelas kelompok bermain pada PAUD Bon Thorif Palembang
dimaksudkan untuk menciptakan proses pembelajaran efektif. Hal tersebut dilakukan dengan 1).
Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, 2). melakukan pengaturan sedemikian rupa
pada waktu untuk melakukan aktivitas bagi anak ini dilakukan dengan pertimbangan
fleksibelitas dan mengacu pada karakteristik anak, 3). Mengatur Ruang Kelas, dengan cara
mengatur ruang kelas, posisi duduk, pengaturan perabot dan alat permainan, serta membagi
ruangan.

Adapun faktor yang mempengaruhi efektivitas manajemen kelas kelompok bermain pada PAUD
Bon Thorif Palembang adalah 1). Lingkungan fisik yang tidak mendukung, Seperti: kondisi kelas
yang gaduh karena aktivitas anak seperti megobrol, berselisih, berteriak dan lain sebagainya
sehingga mengganggu aktivitas belajar dikelas, b). Terdapat anak tidak bisa tenang seperti
berlari-lari di dalam kelas, dan anak-anak lainnya tampak berkeluyuran tanpa tujuan, c).
Ruangan kelas yang kacau balau akibat aktivitas anak, d). Penempatan perabot yang tidak
mempertimbangkan penggunaan oleh anak sehingga mengganggu aktivitas anak lainnya, 2)
Lingkungan fisik yang mendukung seperti: Hasil pekerjaan anak-anak dipajangkan, tumbuhan
hijau yang sehat di seluruh ruangan, poster berwarna-warni di dinding, dan gorden baru di
jendela, ruangan diatur dalam area aktivitas yang berbeda, terdengar senandung berbicara dan
tertawa, tetapi tidak ada teriakan, anakanak sedang mengerjakan beberapa aktivitas yang diatur
oleh para guru, material disimpan di atas rak terbuka yang rendah, dan anak-anak dapat
menjangkaunya dengan mudah, fasilitas dan peralatan ditempatkan berdekatan dengan aktivitas
yang akan dilakukan anak seperti kran air, ember, dan spons, anak-anak tampaknya benarbenar
menikmati kegiatan pembelajarn dengan senang dan gembira, serta peran guru tampat sebagai
fasilitator dan pembimbing dimana guru berupaya menasihati anakanak dari suatu perubahan
aktivitas ke bentuk aktivitas lainnya yang dirancang.

Sesungguhnya keberhasilan pengajaran tidaklah dapat dipisahkan dari keseriusan usaha dan
semangat guru mengelola kelasnya. Good dan Brophy mensinyalir bahwa kegagalan guru
mengembangkan potensi dirinya dalam pengajaran bukanlah karena mereka tidak menguasai
mata pelajaran tetapi mereka itu tidak mengerti siapa murid-muridnya dan apa kelas itu
sesungguhnya (Good, T.L dan Brophy, JE, 1991:2)

Anak usia dini belum mau dan mampu belajar secara serius karena pada masa-masa ini dunia
anak adalah dunia yang diwarnai dengan bermain, bernyanyi dan berkhayal atau fantasi. Dengan
aktifnya daya motorik, menyebabkan anak-anak tidak tahan berlama-lama duduk di dalam kelas.
Sesuai dengan karateristik ini maka Montolalu mengatakan bahwa proses pembelajaran di
Taman Kanak-Kanak ditekankan pada aktivitas anak belajar sambil bermain (Montolalu,
2009:9.6)

Anak usia dini bersifat imitatif atau peniru, apa yang ia lihat, rasakan dan lihat dari
lingkungannya akan diikutinya karena ia belum mengetahui batasan benar dan salah, baik dan
uruk, serta pantas dan tidak pantas. Anak masih belajar cobaralat berperilaku yang dapat diterima
oleh lingkungannya (Montolalu, 2009:6.5). Karena lingkungan merupakan salah satu faktor
pengaruh perilaku anak, maka sebagai ruang pembelajaran ruangan kelas memiliki pengaruh
yang cukup besar bagi kondisi psikologis anak dan guru.

Kondisi ruangan belajar dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran yang di bangun oleh anak
dan guru. Bagi seorang anak, suasana ruang kelas sangat berpengaruh terhadap dirinya. Jika
ruang kelas berantakan, penuh sesak, terlalu banyak gambar-gambar yang di tempel dan berdebu,
warna dinding yang kusam, kotor atau dicat yang terlalu mencolok akan mengganggu
konsentrasi belajar anak.

Dengan sifat anak yang imitatif diatas mereka meniru perilaku orang dewasa maupun melihat di
media yang mereka tirukan. Perilaku ini menimbulkan dampak negatif dan penyimpangan ketika
mereka berhadapan pada sebuah situasi yang mereka jumpai. Pada pembelajaran dikelas sifat
anak pun beragam, seperti menendang, memukul, membalikkan kursi, menangis dan lain-lain.
Penyimpangan perilaku ini mereka lakukan ketika mereka merasa bosan ataupun ada keinginan
dari mereka yang tidak terpenuhi.

mulai dari masalah kecenderungan anak didik yang selalu berusaha mencari perhatian dari guru,
teman maupun lawan jenisnya. Pola perilaku yang dilakukan anak didik dalam rangka mencari
perhatian ini biasanya diwujudkan dengan sikap-sikap overacting atau sikap yang berlebih-
lebihan. Salah satu bentuknya adalah anak didik selalu menunjukkan sikap reaktif, bahkan
terhadap masalah kecil sekalipun.

Selain itu sikap yang selalu ingin membalas dendam kepada teman-teman yang telah melakukan
kesalahan terhadap dirinya.

kecenderungan anak didik yang selalu merasa tidak mampu dan tidak berdaya. Perasaan ini mirip
dengan sikap minder, dimana anak didik selalu merasa kesulitan atau lebih tepatnya kurang
mampu, jika dimintai untuk melakukan hal-hal tertentu (Wawancara, Husniwaty Amri, 2009)
Dengan perkataan lain kegiatan pembelajaran yang efektif memerlukan pengelolaan kelas yang
baik sehingga anak-anak merasa senang, gembira, aman, dan memiliki kebebasan untuk
melakukan aktivitas belajar yang diminatinya. Kelas yang baik merupakan lingkungan belajar
yang bersifat menantang dan merangsang anak untuk belajar, memberikan rasa aman dan
kepuasan kepada anak dalam mencapai tujuan belajarnya. Oleh karena itu guru sebagai
pengelola kelas yang sekaligus pengelola lingkungan belajar anak, harus mampu menggunakan
pengetahuan tentang teori belajar dan dapat memahamai anak dengan segala aspek
perkembangannya sehingga memungkinkan terciptanya situasi pembelajaran yang kondusif.

ketika anak diharapkan memiliki rasa solidaritas dan empati maka anak diminta untuk saling
berbagi makanan dengan teman yang tidak membawa makanan atau ketika anak diharapkan
memiliki kesenangan pada tumbuh-tumbuhan maka anak diajak untuk merawat dan bercocok
tanam di kebun demikian pula jika anak diharapkan meiliki kepekaan terhadap berbagaai rasa
maka anak diajak untuk melakukan demo masak memasak dan lain sebagainya.

di samping guru, anak juga merupakan faktor penting yang dapat mempengharuhi situasi
pembelajaran yang efektif. Berdasarkan hal ini, Kellaugh (1996) menyatakan bahwa perpsepsi
guru dan anak terhadap pembelajaran dapat mempengaruhi penciptaan situasi belajar yang
efektif (D. Richard Kellough, 1996). Perpsepsi guru terhadap pembelajaran yang dimaksudkan di
atas adalah sebagai berikut :1). Kalau guru tidak percaya bahwa muridnya bisa belajar maka
mereka tidak akan belajar, 2). Kalau guru tidak percaya bahwa ia bisa mengajar mereka maka
guru tidak akan bisa, 3). Kalau murid-murid tidak percaya bahwa mereka bisa belajar sampai
mereka mau belajar, mereka tidak akan bisa.

untuk mendukung kesuksesan pengimplementasian rencana pembelajaran anak, PAUD Bon


Thorif Palembang mempunyai perpsepsi berikut ini: 1). Anak merasa bahwa lingkungan kelas
mendukung aktivitas belajar mereka, 2). Anak merasa senang dalam kelas, 3). Anak menganggap
bahwa belajar yang diharapkan merupakan sebuah tantangan bukan merupakan sesuatu hal yang
tidak memungkinkan untuk dilakukan., 4 ). Anak percaya bahwa hasil belajar diharapkan sebagai
suatu hal yangmenyenangkan sehingga mereka berusaha untuk mencapainya.

Terkait dengan hal ini Kellaugh berpendapat bahwa guru yang berhasil dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran adalah guru yang : 1).mengetahui bahwa semua anak dapat belajar, 2).
Mengharapkan yang terbaik dari setiap anak, 3). Menciptakan suasana ruang kelas yang kondusif
bagi anak untuk belajar,yang akan memotivasi mereka untuk berbuat dengan cara yang terbaik,
4). Mengelola kelas secara efektif sehingga waktu dapat digunakan seefektif mungkin, dengan
paling sedikit gangguan terhadap proses belajar. Bertolak dari pendapat di atas, peneliti juga
berpandangan bahwa untuk menciptakan pembelajaran yang efektif guru harus mempunyai
persepsi yang positif terhadap dirinya dan terhadap anak. Sebagai seorang guru professional ia
mesti mempunyai keyakinan dalam diri bahwa ia akan mampu melaksanakan tugas mengajar
dengan baik. Dorongan yang ada dalam diri guru ini akan sangat mempengaruhi penampilan
mengajar guru di kelas. Guru yang memiliki keyakinan tinggi dan positif akan berbeda
penampilan mengajarnya dengan guru yang tidak yakin dan perpsepsi negatif terhadap dirinya,
seorang guru perlu mengenal diri sendiri terlebih dahulu.

Hasil pemahaman guru terhadap diri sendiri dan anak hendaknya diaplikasikan terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan. Demikian juga halnya dengan kegiatan pengelolaan kelas yang
baik, di mana harus dilakukan atas dasar pemahaman guru secara komprehensif terhadap anak
usia dini sehingga suasasan kelas merupakan tempat yang menyenangkan bagi anak untuk
melaksanakan berbagai aktivitas belajar.

efektifitas manajemen kelas, PAUD Bon Thorif senantiasa:


1. menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Untuk mewujudkan kondisi ini guru perlu mempertimbangkan dua hal pokok, yaitu informasi
tentang anak dan kegiatan yangakan dilakukan anak berkenaan dengan tujuan-tujuan
pembelajaran yang hendak dicapai (Soemiarti, 2000)

2. Pengaturan Waktu.
PAUD Bon Thorif Palembang melakukan pengaturan sedemikian rupa pada waktu untuk
melakukan aktivitas bagi anak ini dilakukan dengan pertimbangan fleksibelitas dan mengacu
pada karakteristik anak. Selaras dengan pendapat Patmonodewo bahwa jadual kegiatan belajar
disesuaikan dengan lamanya anak berada di sekolah (Soemiarti, 2000)

3. Mengatur Ruang Kelas.

Beberapa hal yang juga dilakukan dalam efektifitas manajemen kelas pada PAUD Bon Thorif,
diantaranya:

a.Penyediaan ruang yang memadai.

Idealnya ruang kelas yang dipakai sebagai tempat pembelajaran di pendidikan anak usia dini
adalah ruangan yang dibangun secara khusus
untuk itu, sehingga bangunan ruang kelas yang ada telah disesuaikan dengan karakteristik dan
kebutuhan anak usia dini. Untuk dapat menciptakan kelas yang kondusif bagi anak untuk
melakukan berbagai aktivitas belajar, ruang kelas hendaknya memiliki ukuran yang memadai.
Menurut Sudono (2000) dan Rachman (2014) ukuran ruang kelas untuk TK adalam 7 x 8 bujur
sangkar. Ukuran ruang kelas dipengaruhi oleh jenis kegiatan yang akan dilakukan anak jumlah
anak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Keterbatasan ukuran ruang kelas pada dasarnya dapat diatasi dengan menambah tempat di luar
ruangan sebagai suatu upaya untuk memenuhi aktivitas belajar anak. Hal ini dapat dilakukan
apabila area atau lokasi yang ada di luar kelas juga memungkinkan.

Selain memperhatikan ukuran, Rachman berpendapat ruang kelas harusdiusahakan memenuhi


syarat sebagai berikut; 1. Dapat memberikan keleluasaan gerak, komunikasi, pandangan dan
pendengaran 2. Cukup cahaya dan sirkulasi udara 3.Pengaturan perabot agar memungkinkan
guru dan murid dapat bergerak leluasa 4. Daun jendela tidak mengganggu lalu lintas

b.Mengatur tempat duduk secara fleksibel


Mengatur tempat duduk untuk usia dini pada PAUD sudah jelas tidak sama kondisinya dengan
pengaturan tempat duduk pada anak usia SD. Anak-anak pada masa kanakkanak atau usia
tersebut tidak dikondisikan untuk duduk di kursi mereka dalam waktu yang cukup lama. Mereka
cenderung menghabiskan waktu mereka untuk beraktivitas di lantai atau selalu bergerak dengan
pindah-pindah tempat.

Oleh karena itu, di PAUD Bon Thorif dilakukan pengaturan tempat duduk anak secara fleksibel.
Artinya guru mempunyai pertimbangan yang jelas kapan anak harus duduk dikursi yang
dilengkapi dengan meja, berapa lama dan untuk melakukan kegiatan apa. Tempat duduk dengan
memanfaatkan kursi yang dilengkapi meja hendaknya dengan mudah dapat dipindah-pindahkan.
Alasannya adalah karena dalam kelas yang sama anak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok
sesuai dengan tema pembelajaran yang diminati anak. Ukuran dan tinggi kursi meja juga
disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan anak. Akan lebih baik bila dapat diupayakan
kursi-kursi atau mejayang bisa dilipat sehingga pada saat tidak dipakai dapat disimpan dengan
tidak banyak memakan tempat.

c. Pengaturan perabot dan alat permainan


Perabot dan alat permainan sangat dibutuhkan di lembaga pendidikan anak usia dini guna
mendukung penerapan konsep bermain sambil belajar yang merupakan aktivitas yang disenangi
dan digemari oleh anak-anak usia dini. Alat permainan perlu disediakan sesuai dengan
kebutuhan anak. Dalam hal ini sangat dituntut kreativitas guru untuk menciptakan dan
mengadakan berbagai bentuk alat permainan yang mendukung aktivitas belajar anak

menurut Sudono (2000) alat permainan dan sumber belajar yang baku yang mesti ada di Taman
KanakKanak adalah:
1. Pasir. bak pasir yang dapat diletakan didalam atau diluar ruangan. Untuk menjaga kebersihan,
bak pasir dapat ditutup pada saat tidak digunakan

2. Air dan alat permainan yang dapat dimanfaatkan di air, antara lain yaitu: 1). Gelas, mangkuk,
cangkir plastik 2). Berbagai bentuk ukuran dan volume botol dari aneka bahan, 3). Bebagai
macam ember dan alat penyiram tanaman, gayung, 4). Berbagai corong, ukuran benda cair, pipa
air, 5). Zat pewarna makanan

3. Alat permainan balok. sebagai berikut :1). Berbagai macam alat transportasi, 2). Berbagai
macam orang-orangan, binatang, tanaman,3). Berbagai macam tanda lalu lintas, 4). Berbagai
perabot dan rumah-rumahan

4 . Alat permainan manipulatif. Bentukbentuk alat permainan manipulatif adalah :1).Papan


hitung,2).mozaik 3).puzel,4).alat jahit, 5).boneka

5. Sudut rumah tangga dan tempat pelayanan masyarakat. misalnya :1).alat dapur 2).alat makan
3).rumah boneka lengkap dengan perabotnya, 4).perabot rumah tangga, 5).rumah sakit dengan
segala perlengkapannya

6.Perpustakaan. Perpustakaan merupakan tempat sumber belajar bagi anak. Berbagai bahanyang
perlu disediakan di perpustakaan ini, antara lain adalah :1).buku untuk anakanak 2).buku
referensi 3).berbagai macam gambar

7. Alat untuk berekspresi. Di TK perlu juga disediakan alat permainan untuk berekspresi. Alat
permainanyang dapat disediakan misalnya peralatan pakaian dan tanda-tanda kecil yang
menunjukan suatu profesi yang digemari anak.

d. Membagi Ruangan
PAUD Bon Thorif melakukan pengaturan pada ruangan yang besar. Satu bagian dimanfaatkan
untuk kegiatan yang menggunakan alat permainan yang berukuran besar, tapi penggunaannya
tidak mungkin dilakukan di luar ruangan.
Selanjutnya jarak peralatan yang ada diatur untuk menjaga ketenangan ruang tersebut. Jika,
dihadapkan dengan sebuah ruangan yang sangat besar untuk dijadikan sebuah kelas, ruangan
tersebut dibagi dimana sebagiannya akan dijadikan untuk ruangan kelas.

Oleh karena itu, ruang yang tersedia dimanfaatkan secara kreatif dan fleksibel sehingga proses
pembelajaran yang dilakukan tetap berorientasi pada perkembangan anak

Manajemen pembelajaran PAUD adalah cara guru dalam merencanakan, melaksanakan proses
pembelajaran dan mengevaluasi hasil pembelajaran, seperti yang dinyatakan dalam
Permendikbud 137 Tahun 2014. Perencanaan pembelajaran dapat menjadi acuan bagi guru
PAUD dalam melaksanakan pembelajaran yaitu Program Semester (Prosem), Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian
(RPPH).