Anda di halaman 1dari 11

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DAERAH

Dalam sebuah negara demokrasi, rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi .


Slogan yang selalu didengungkan oleh negara demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat,
dan untuk rakyat. Bukan saja soal rekruetmen penyelenggara negaranya yang dari, untuk
dan oleh rakyat akan tetapi juga hak atas penyaluran aspirasi , ide dan gagasan juga
mengacu pada prinsip tersebut yaitu dari ,untuk dan oleh rakyat.
Meski kemudian keputusan akhir ada pada tangan parlemen akan tetapi setidaknya
partisipasi masyarakat memberikan masuka, gagasan pemikiran menjadi begitu penting
bagi sebuah negara yang demokratis.

Masyarakat diperlakukan tidak semata-mata sebagai obyek pembangunan akan tetapi


lebih sebagai aktor atau subyek pemabngungnan, mulai dari proses perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan trmasuk juga pemliharan atas hasil2 pembangunan , yang
dilandasi atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga negara. Karena suatu
perencananaan akan tepat sasaran, terlaksana dengan baik dan bermanfaat jika
dilkasnakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sebaliknya Pembangunan tidak akan
pernah mencapai tujuan jika selalu meninggalkan masyarakat, karena pembangunan
dianggap berhasil apabila mampu membawa perubahan kesejahtraan dalam masyarakat.

Keterlibatan masyarakat luas dan berorientasi kebawah memungkinkan penjaringan


aspirasi lebih akurat terhadap kebutuhan dan pemberdayaan rakyat yang lebih banyak.
Disisi lain Masyarakat juga harus terus dikembangkan kemampuan untuk dapat
merumuskan permaslahan yang dihadapi, menyusun dan merencakan langkah-langkah
yang diperlukan, melaksnakannya, menikmatinya dan memliharnya apa yang telah
dilaksankan tersbut.

Pemerintah sekarang ini tidak sebagai pelaksana akan tetapi lebih berperan sebagai
fasilitator atas dinamika pembangunan. Persoalannya kemudian bagaimana peluang
aspirasi masyarakat dapat diprogramkan dan dianggarkan dalam APBD. Karena DPRD
mempunyai kewajiban menyalurkan dan menidak lajuti aspirasi masyarakat tersebut.

1
Secara sederhana aspirasi tersebut tersusun dalam pokok-pokok pikiran DPRD yang
selanjutnya dibahas dalam kelompok kerja anggaran yang merupakan alat kelengkapan
DPRD, bersama dengan Pemerintah daerah untuk dianggarkan sebelum rapat paripurna
penetapan menjadi APBD

Aspirasi masyarakat merupakan wujud nyata dari partispasi aktif masyarakat dalam
bentuk penyampaian saran dan harapan terrhadap adanya perubahan kearah yang lebih
baik, melalui masyarakatlah sumber informasi tentang kondisi, sikap dan kebutuhan
masyarakat, keterlibatanya dalam suatu proses perencanaan menumbuhkan rasa percaya
dan rasa memiliki pembangunan tersebut selain tentu hal ini merupakan hak demokrasi
rakyat dalam suatu pemerintahan yang demokratis.

Penjaringan aspirasi merupakan bagian dari bentuk partispassi masyarakat dalam


menyampaikan usul, gagasan dan harapan terhadap apa dan bagaimana seharusnya arah
pembangunan itu diwujudkan, sedang partisipasi baru efektif apabila memperhatikan
faktor-faktor :

1. Kesempatan, yaitu adanya sarana atau media yang memungkinmkan seseorang atau
sekelompok orang untuk secara bebas menyampaikan gagasan, pikiran dan
pendapatnya.

2. Kemauan, adanya sesuatu yang mendorong/menumbuhkan minat dan sikap mereka


untuk berpartisipasi menyampaikan aspirasinya yang dirasakan sangat bermanfaat
kepada orang banyak

3. Kemampuan, adanya pengetahuan, pemahaman terhadap obyek masalah yang akan


disampaikan, sehingga apayang disampaikan benar-benar memiliki argumentasi dan
alasan-alasan yang cukup untuk dijadikan bahan pertuimbangan untuk dilaksanakn.

Dengan instrumen pendukung tersebut partisipasi masyarakat dalam bentuk


penyampaian aspirasi akan memiliki bobot tinggi untuk bahan masukan pemerintah dalam
penyusunan program pembangunan, karena usulan-usulan dan pikiran yang sempit dan
kurang terintegritas akan menjadi daftar keinginan bukan kebutuhan yang terukur secara
komprehensif.

2
Adapun saluran saluran penjaringan aspirasi masyarakat dalam perencanaan
pembangunan dapat dilakukan dengan beberapa cara :
Sarana-sarana penyaluran aspirasi dapatdilakukan dengan berbagai cara :

1. Jalur Musrenbang dimana masyarakat dapat menayulurkan aspirasinya secara langsung


sesuai dengan tingkatannnya.

2. Jalur Politik atau melalui partai politik yang dilakukan oleh anggota dewan dalam masa
reses.

3. Jalur birokrasi yang dapat langsung disampaikan melalui SKPD maupun kepala daerah.

Jalur musrenbang dapat dikatakan sebagai jalur utama didalam menyalurkan aspirasi
dan peran serta masyarakat didalam penentuan perencanaan pembangunan. Melalui jalur
inilah mayoritas aspirasi masyarakat disalurkan sebagai masukkan bagi proses
perencanaan pembangunanselanjutnya.

Walaupun dikatakan sebagai jalur utama aspirasi masyarakat, aspirasi yang


disampaikan dijalur ini juga dapat dikatakan sebagai jalur yang paling lemah pada proses
perumusan agenda dan usulan kegiatan. Masyarakat tidak banyak tahu seberapa besar
peluang usulannya yang ditampung dan ditindaklanjuti dalam proses pembangunan atau
seberapa besar persentase kegiata-kegiatan yang tertuang didalam dokumen perencanaan
yang berasal dari aspirasi musrenbang. Akan tetapi terrobosan gubernur DKI Joko Widodo
untuk menjaring aspirasi-aspirasi yang masih belum terinventarisir diklakukan kegiatan
rembuk kota dan rembuk Prop8nsi yang hyal ini sebagai sarana Pemerintah Daerah untuk
menjaring atas aspirasi-aspirasi yang belum terakomodir didalam musrembang di semua
tingkatan.
Yang pasti bahwa dengan dibukanya kran demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara maka bukan saja personil penyelenggara negara yang direkrut dari dan oleh
rakyat melalui mekanisme pemilihan yang luber dan jurdil akan tetapi penyelenggara
negarapun dalam menajlankan roda pemerintahnan juga harus mengacu pada aspirasi
yang berkembang dimasyarakat melalui saluran-saluran yang di atur oleh Undang-undang.

Jakarta, 25 Agustus 2014


FERRY ISWAN, SH.MH.

3
Di sisi lain, anggota parlemen masa sekarang dan mendatang tentu saja disibukkan
dengan banyaknya pengaduan keluhan dan penyampaian aspirasi dari masyarakat. Di sini,
anggota parlemen dituntut memiliki kompetensi untuk menyerap aspirasi masyarakat
sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan fungsi representasi, yaitu perwakilan politik
rakyat. Kompleksnya keberadaan dan peran seorang anggota parlemen dapat saja
membenturkan pelaksanaan fungsi representasi pada pilihan‐pilihan yang dilematis.
Apalagi DPR/DPRD merupakan sebuah organisasi yang unik, dimana anggotanya bisa
bekerja dalam kelompok‐kelompok yang lebih kecil berupa komisi dan fraksi. Pada

4
dasarnya ada tiga asas penting yang membuka partisipasi masyarakat dalam optimalisasi
fungsi DPR1, yaitu;
A. Asas kepentingan umum yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara
yang aspiratif, akomodatif dan selektif.
B. Asas keterbukaan. Asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh
informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan
tetap memperhatikanperlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
C. Asas akuntabilitas yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari
kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggung jawabkan kepada
masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang‐undangan. Dari ketiga asas tersebut dapat terlihat bahwa
partisipasi masyarakat menjadi pilar penting dalam kelangsungan sebuah negara
demokrasi.
Apabila dilihat dari peraturan tertulisnya , partisipasi masyarakat dan tata cara
penyampaian aspirasi oleh masyarakat tertuang dengan jelas dalam beberapa UU dan
peraturan, yakni ;
1. UU Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang‐undangan Dalam
UU ini partisipasi masyarakat diatur melalui bab X Partisipasi Masayarakat Pasal 53, yakni
“Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka
penyiapan atau pembahasan rancangan undang‐undang dan rancangan peraturan
daerah”. Pengaturan ini merupakan pernyataan politik yang diberikan oleh negara secara
formal bahwa masyarakat dapat berpartisipasi secara lisan maupun tulisan terhadap
proses legislasi di tingkat nasional maupun di tingkat daerah (lokal).
Selain itu dalam UU 10 Tahun 2004 ini juga diatur mengenai penyebarluasan RUU yang
sedang dibahas. Hal ini diatur dalam Pasal 51 dan Pasal 52, yakni “Pemerintah wajib
menyebarluasan Peraturan Perundang‐undangan yang telah diundangkan dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita negara Republik Indonesia” dan
“Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang diundangkan dalam
Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita
Daerah”. Penyebarluasan RUU yang berasal dari DPR dilaksanakan oleh Sekretariat
Jenderal DPR, sedangkan penyebarluasan RUU yang berasal dari Presiden dilaksanakan
oleh Instansi Prakarsa.

2. Peraturan Presiden No. 68 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan
Undang‐Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang‐undang,
Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden Dalam Perpres No.
68 ini aturan mengenai partisipasi masyarakat tertuang dalam bab VIII Pasal 41, yakni;
a. Dalam rangka penyiapan dan pembahasan Rancangan Undang ‐Undang, masyarakat dapat
memberikan masukan kepada Pemrakarsa.
b. Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menyampaikan
pokok‐pokok materi yang diusulkan.
c. Masyarakat dalam memberikan masukan harus menyebutkan identitas secara lengkap dan
jelas”. Selain itu dalam Perpres ini juga disebutkan adanya penyebarluasan RUU kepada
masyarakat luas untuk kemudian mendapatkan masukan dari masyarakat yang akan
menjadi bahan untuk penyempurnaan UU.

3. Peraturan Tata Tertib DPR RI Periode 2009‐2014


Bab yang khusus membahas mengenai representasi masyarakat dan partisipasi
masyarakat tertuang dalam bab XIV Pasal 203‐211. Dalam Pasal 208, Masyarakat dapat
memberikan masukan secara lisan dan/atau tertulis kepada DPR dalam proses:

5
a. Penyusunan dan penetapan Prolegnas;
b. Penyiapan dan pembahasan rancangan undang ‐undang;
c. Pembahasan rancangan undang‐undang tentang APBN;
d. Pengawasan pelaksanaan undang‐undang; dan
e. Pengawasan pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Bahkan dijelaskan lebih lanjut dalam pasal berikutnya bahwa masukan untuk poin a,b,d,e
diserahkan langsung kepada anggota atau pimpinan alat kelangkapan. Sedangkan untuk
masukan poin c diserahkan langsung kepada pimpinan komisi. Tata Tertib DPR
memberikan penekanan khusus terhadap penyebarluasan materi Program Legislasi
Nasional (Prolegnas) seperti yang diperintahkan Pasal 107 ayat (3) yang menyatakan
Penyebarluasan Prolegnas kepada masyarakat dilakukan melalui media cetak, media
elektronik, dan/atau media lainnya.

Dalam Peraturan Tata Tertib ini juga menjelaskan bahwa pimpinan alat kelengkapan yang
telah menerima masukan dari masyarakat menyampaikan tindak lanjut atas masukannya
tersebut. Ini berarti telah terlihat sebuah mekanisme responsive atas aspirasi yang
disampaikan masyarakat.Peraturan Tata Tertib DPD RI 2009‐2014.

4. Di dalam peraturan Tata Tertib DPD RI dalam Pasal 90 tercantum mengenai keterlibatan
masyarakat dalam pembahasan RUU. Selain itu dalam bab XXI yakni bab mengenai
kegiatan anggota di daerah dijabarkan mengenai cara‐cara yang dapat dilakukan oleh
anggota DPD untuk menghimpun aspirasi masyarakat. Melalui Pasal 145 dijabarkan tujuan
dari kunjungan anggota DPD ke daerah, yakni ;
a. Menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan
daerah pemilihannya masing‐masing yang berada dalam ruang lingkup tugas dan
wewenang DPD;
b. Menyampaikan perkembangan pelaksanaan tugas dan wewenangnya di daerah
pemilihan¬nya masing‐masing;
c. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang undang tertentu.

Untuk dapat memberikan masukan dan aspirasinya, masyarakat dapat turut serta dalam
beberapa kegiatan seperti berikut ini;
a. Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU)
Pada umumnya RDPU dilakukan oleh anggota DPR bisa melalui komisi, fraksi, badan
legislasi yang memanggil beberapa perwakilan masyarakat terkait RUU atau isu yang
sedang dibahas. Pada masa awal sidang, DPR juga akan memanggil berbagai elemen
masyarakat untuk memberikan masukannya terkait dengan Program Legislasi Nasional
(Prolegnas) yang akan disusun oleh DPR. RDPU biasanya terbuka untuk umum. Forum ini
diselenggarakan pada saat Pembicaraan Tingkat I RUU, yaitu setelah adanya
pemandangan umum fraksi atas RUU atau pemandangan umum pemerintah atas RUU dari
DPR. Kesempatan yang hampir sama dapat dijumpai di lingkungan DPD berupa RDPU
dengan Komite atau Panitia Perancang Undang‐Undang (PPUU). Forum ini dilaksanakan
kapan saja di dalam atau di luar waktu pembahasan Usul RUU dan Usul Pembentukan
RUU. RDPU bisa dilaksanakan atas permintaan dari Komite, PPUU atau atas permintaan
pihak lain. Audiensi atau hearing dengan fraksi‐fraksi Forum ini lebih fleksibel, artinya tidak
ada waktu yang terjadwalkan sehingga kita dapat melakukan kapan saja sepanjang proses
pembahasan RUU itu berlangsung. Hearing dengan fraksi dapat lebih mudah jika kita
mengenal salah satu anggota dari fraksi yang bersangkutan.

6
b. Pertemuan dengan komisi, gabungan komisi, panitia khusus, badan legislasi, atau badan
anggaran. Pada umumnya pertemuan seperti ini dilakukan dengan lebih terbatas.
Tujuannya sama yakni menyampaikan secara lisan aspirasi terkait RUU atau isu yang
sedang dibahas.

Tidak hanya alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap, masyarakat dapat menyampaikan
aspirasi terkait dengan persiapan penyusunan, pembahasan rancangan undang‐undang,
atau dalam rangka monitoring dan evaluasi suatu undang‐undang yang berlaku. Sebagai
contoh, DPR membentuk tim pemantau terhadap pelaksanaan UU No 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh dan UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi
Provinsi Papua. Tidak semua undangundang dibentuk tim pemantau secara khuusus,
namun keberadaannya sangat membantu dan memfasilitasi khususnya pemangku
kepentingan dari undang-undang yang dipantau, terkait dengan hambatan dan temuan
yang dianggap bermasalah selama undang‐undang tersebut diimplementasikan.
c. Pengiriman masukan secara tertulis Selain dapat mengikuti RDPU atau pertemuan dengan
perwakilan anggota dewan, masyarakat juga dapat mengirimkan masukannya yang
ditujukan kepada pimpinan DPR dengan identitas yang jelas.

Pilihan untuk menentukan kepada badan mana kita ingin menyampaikan aspirasi dan
berpartisipasi, sebenarnya tergantung pada RUU apa yang anda akan pantau, advokasikan
atau yang menjadi perhatian para pihak yang berkepentingan dan sampai pada tahap
mana RUU tersebut dibahas. Untuk RUU yang sudah masuk tahap pembahasan, akan
lebih efektif apabila gagasan kita disampaikan kepada anggota DPR yang membahas RUU
tersebut. Namun gagasan pada tahap awal, misalnya topik RUU tertentu atau rancangan
naskah akademik RUU atau naskah RUU tertentu, bisa juga disampaikan kepada Badan
Legislasi, Deputi Bidang Perundangundangan Sekretariat Jenderal DPR, Pusat Pengkajian,
Pengolahan Data, dan Informasi (P3DI),
atau fraksi‐fraksi.

Penjaringan aspirasi masyarakat tidak hanya dilakukan secara aktif oleh anggota
masyarakat akan tetapi anggota DPR sendiri juga melakukan berbagai tindakan untuk
dapat menjaring aspirasi masyarakat tersebut. Langkah‐langkah yang dilakukan oleh
lembaga legislative yakni;
a. Penyebarluasan RUU kepada masyarakat
Maksud dan tujuan penyebarluasan adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya RUU
yang sedang dibahas di DPR guna memberikan masukan atas materi RUU.
Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik, seperti TV, Radio, internet
maupun media cetak seperti surat kabar, majalah dan edaran2. Setelah penyebarluasan
tercapai maka yang ditunggu oleh DPR dan DPD adalah pemberian masukan oleh
masyarakat. Masukan tersebut dapat disampaikan secara lisan melalui RDPU atau
pertemuan dengan alat kelengkapan maupun secara tertulis yang dikirimkan kepada
pimpinan DPR dengan identitas pengirim yang jelas.

b. Kunjungan kerja.
Kunjungan kerja ke masing‐masing dapil dilakukan pada saat masa reses. Setiap empat
bulan sekali ada masa reses dan lama masa reses sekitar satu bulan3. Kunjungan kerja
lebih difokuskan untuk menjaring aspirasi di dapil (daerah pemilihan) masing‐masing. Di
samping kunjungan kerja ke dapil, anggota DPR juga melakukan kunjungan kerja komisi
atau kunjungan kerja atas nama alat kelengkapan DPR lain.

7
c. Rumah aspirasi
Rumah aspirasi ditujukan untuk menerima dan menghimpun aspirasi masyarakat. Selain
sarana penyerapan aspirasi, rumah aspirasi juga bertujuan sebagai sarana interaksi antara
anggota dewan dengan konstituennya, sebagai tukar‐menukar informasi yang
memberdayakan, dan juga merupakan pendidikan politik bagi masyarakat. Menurut
Desmon Junaidi Mahesa5, anggota DPR RI dari Kalimantan Timur, rumah aspirasi penting
sebagai media untuk menjembatani antara kepentingan pemerintah dan masyarakat Kaltim
dengan wakilnya yang berada di Senayan. Pada umumnya rumah aspirasi didirikan oleh
anggota dewan di dapilnya masing‐masing. Menurut Ronald Rofiandri dari Pusat Studi
Hukum dan Kebijakan6, rumah aspirasi jangan hanya terfokus pada bangunan fisik saja,
tetapi harus ke konsepnya. Selain itu, Ronald juga menegaskan bahwa apabila hanya
untuk menghimpun aspirasi dari masyarakat maka menjadi mudah akan tetapi yang jauh
lebih sulit dan penting adalah bagaimana mengkonversikan aspirasi‐aspirasi tersebut.
Terdapat prinsip pokok penyerapan aspirasi, yakni; a. bersifat netral atau bukan partisan b.
rumah aspirasi tidak boleh dijadikan rumah tinggal, tetapi lebih dijadikan sebagai tempat
bertemu dengan konstituen c. rumah aspirasi jangan terlalu birokratis dan teknokratis d.
harus ada konsolidasi yang baik7. Intinya adalah rumah aspirasi harus difungsikan sebagai
sarana penyerapan aspirasi masyarakat secara maksimal. Yang harus diperhatikan
bukanlah bangunan fisik dan sarana dari rumah aspirasi tersebut, tetapi bagaimana
penyerapan aspirasi secara maksimal dari berbagai elemen masyarakat untuk kemudian
diperjuangkan oleh anggota DPR. Beberapa contoh anggota DPR yang memiliki rumah
aspirasi di dapil mereka masing‐masing antara lain seperti Budiman Sudjatmiko8, Ingrid
Kansil9, Hajriyanto Thohari10, Anggota PDIP Dapil Sumatera Utara11 (Panda Nababan,
Trimedya Panjaitan, Yasona H. Laoly dan Tritamtomo), Setia Permana12, Ahmad Mutaz
Rais13, Venna Melinda14, Saan Mustopa, Ramadhan Pohan15, dan TB Dedi Gumelar16.

d. Seminar, diskusi publik, lokakarya, FGD


Pengadaan kegiatan ini ditujukan untuk menjaring aspirasi masyarakat melalui sebuah
forum diskusi yang kondusif.

Di samping langkah‐langkah inisiatif yang DPR lakukan untuk menjaring aspirasi


masyarakat terdapat juga mekanisme pelaporan kinerja kerja tiap fraksi kepada
masyarakat. Hal ini tertuang dalam Pasal 18 ayat 6 Tata Tertib DPR RI, “Fraksi melakukan
evaluasi terhadap kinerja anggotanya dan melaporkan kepada publik, paling sedikit 1 (satu)
kali dalam 1 (satu) tahun sidang”. Pasal mengenai pelaporan kinerja yang harus dilakukan
oleh fraksi juga tertuang dalam UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan
DPRD. Dalam UU No 27 Tahun 2009 terdapat dalam pasal 80 ayat 2, “Dalam
mengoptimalkan pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang DPR, serta hak dan kewajiban
anggota DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), fraksi melakukan evaluasi terhadap
kinerja anggota fraksinya dan melaporkan kepada publik”. Aturan ini memperlihatkan
bahwa masyarakat seharusnya mendapatkan informasi yang jelas mengenai kinerja
anggota DPR. Ini dapat menjadi ukuran bagi masyarakat untuk
melihat kualitas dari wakil rakyat terpilih. Masyarakat juga dapat menilai apakah wakil
rakyatnya menjalankan aspirasinya atau tidak. Laporan kinerja juga wajib dilaporkan oleh
pimpinan DPR dalam rapat paripurna sesuai dengan peraturan pasal 30 ayat 1 huruf k
dalam peraturan tata tertib DPR RI.

Selain cara‐cara yang telah dijabarkan di atas, terdapat alternatif cara yang juga dapat
digunakan oleh anggota masyarakat untuk menyalurkan ide dan masukan mereka kepada
anggota DPR, yakni;

8
1. Melalui website DPR / DPD
Di dalam website DPR www.dpr.go.id terdapat satu kolom dengan judul aspirasi yang
dapat digunakan oleh publik untuk memberikan masukannya. Publik dapat langsung
memberikan masukannya kepada komisi yang membidangi isu tersebut. Selain itu terdapat
juga kolom dengan judul aspirasi yang sudah diproses yang berisikan mengenai jawaban
dan proses berjalannya masukan‐masukan tersebut. Akan tetapi sampai dengan saat ini
(210710) dalam kolom aspirasi yang sudah diproses tidak ada
satupun aspirasi yang tertulis. Kolom tersebut kosong. Masih dari lingkungan DPR,
masyarakat dapat memanfaatkan beberapa forum dan kegiatan DPR, sebagai sarana
untuk mengetahui status dan perkembangan suatu rancangan undang‐undang, apakah
masih dalam tahap persiapan, pembahasan, atau persetujuan bersama dengan
Pemerintah. Sebagai contoh, salah satunya setiap Selasa, biasanya DPR
menyelenggarakan rapat paripurna. Pada kesempatan tersebut, biasanya pimpinan DPR
menggunakan forum tersebut untuk menyampaikan tanggapan dan pandangan DPR
secara kelembagaan. Secara tidak lansung ini merupakan pelaksanaan dari Tata Tertib
DPR. Pasal 31 ayat (4) huruf a dan huruf b yang menyatakan bahwa pimpinan DPR
menyampaikan keterangan pers berkaitan dengan kegiatan DPR paling sedikit 1 (satu) kali
1 (satu) minggu dalam masa sidang dan menanggapi isu yang berkembang setelah
mendengarkan pandangan atau pendapat alat kelengkapan atau fraksi. Untuk DPD melalui
www.dpd.go.id juga tidak terlalu berbeda. Terdapat kolom kotak aspirasi di website DPD.
Melalui kotak aspirasi tersebut rakyat dapat langsung memberikan masukannnya dan dapat
ditujukan ke tiap panitia ad hoc atau ke provinsi masing‐masing.

2. Melalui website/blog / email anggota dewan


Selain website DPR, terdapat juga beberapa anggota DPR maupun DPD yang
memiliki website atau blog yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Pada umumnya
website atau blog ini dapat juga menerima masukan melalui kolom contact dan langsung
dapat menulis masukan atau aspirasi rakyat. Dalam website ini anggota DPR juga sering
menuliskan kegiatan mereka sehari‐hari dan pokok‐pokok pikiran mereka mengenai isu‐isu
hangat yang sedang terjadi. Email juga kemudian menjadi salah satu media yang dapat
dengan mudah digunakan masyarakat luas untuk berkomunikasi langsung dengan anggota
dewan. Beberapa contoh website atau blog anggota DPR yang sangat update adalah
www.ahok.org yakni website dari Bapak Ir. Basuki Thahaja Purnama, MM yang duduk di
Komisi II dari Fraksi Partai Golkar, atau seorang staff anggota DPD RI di
http://www.facebook.com/ferdyefandy , http://ferdy-pulaukutercinta.blogspot.com/
,http://markazz212.multiply.com/,https://twitter.com/#!/Ferdy_Markazz.
Selain website, facebook juga menjadi salah satu sarana untuk dapat berkomunikasi
melalui dunia maya dengan anggota dewan. Di era saat ini, hampir semua anggota dewan
telah memiliki akun facebook. Dengan hanya memiliki akun facebook dan berteman
dengan anggota dewan maka kita sudah dapat langsung berkomunikasi dengan mereka.

3. Lobby melalui tenaga ahli atau staf anggota dewan


Alternatif langkah lainnya adalah melalui diskusi informal atau lobi kepada tenaga ahli atau
staf anggota dewan. Langkah ini juga dapat diterapkan kepada staf ahli fraksi sehingga kita
dapat mengetahui pandangan‐pandangan fraksi dan memberikan input.

Akses masyarakat untuk dapat menyalurkan aspirasi mereka juga dilakukan oleh
negaranegara lain, dengan peraturannya masing‐masing. Sebagai contoh, di Kanada,
dibuka ruang untuk melakukan konsultasi publik oleh Parlemen Kanada yang dilaksanakan
oleh Komite. Komite memiliki kewenangan untuk melakukan advokasi legislasi, mengkaji

9
kebijakan pemerintah, memimpin investigasi, memeriksa pengeluaran departemen, dan
penelitian. Sejak 1985, kewenangan tersebut meningkat ketika HoC mengadopsi peraturan
bahwa Komite tidak memerlukan persetujuan dari HoC untuk melaksanakan public hearing
atau commision studies. Penelitian dan technical support service disediakan untuk setiap
komite. Dengan begitu, public hearing menjadi salah satu sarana penting. Komite dapat
melakukan berbagai macam kegiatan,
melakukan kunjungan, mengadakan berbagai macam pertemuan forum, diskusi terbatas,
FGD, dsb. Dewan anggaran pun kemudian memasukkan kegiatan tersebut dalam setiap
rancangan anggaran. Beberapa cara lain yang digunakan oleh Parlemen untuk
mengumpulkan serta memberikan informasi kepada publik antara lain, pertama, dengan
menggunakan internet untuk penyandang cacat. Langkah ini menjadi salah satu cara yang
paling digemari masyarakat (90% masyarakat mengatakan senang). Kedua, menyediakan
siaran langsung yang meliput pembahasan UU dan commitee hearing.

Contoh lain adalah di negara Namibia17, sebuah negara di benua Afrika. Partisipasi
publik dalam pembuatan kebijakan di legislatif diatur dalam konstitusi. Konstitusi mengatur
agar Dewan Nasional (National Council) berada pada posisi sebagai perwakilan
masyarakat sehingga merepresentasikan suara rakyat dan parlemen. Dengan adanya
Dewan Nasional dimungkinkan adanya debat di tingkat regional dan konsesus untuk
meningkatkan partisipasi publik di daerah. Namun Dewan Nasional ini memiliki tantangan
tersendiri. Sebagai satu‐satunya lembaga perwakilan, Dewan Nasional memiliki kewajiban
konstitusional untuk mengumpulkan dan menggabungkan berbagai pandangan publik ke
dalam legislasi.

Perwakilan Daerah sebagai lembaga yang paling dekat dengan masyarakat berkewajiban
untuk memfasilitasi dialog publik pada legislasi nasional, pengumpulan dan fasilitasi
masukan dari masyarakat lokal dan pejabat daerah, NGO/LSM, kelompok masyarakat
daerah, dan pemangku kepentingan daerah. Untuk mengukur tingkat partisipasi publik,
Dewan Nasional melakukan survey nasional yang melibatkan 13 Perwakilan Daerah, ahli di
tingkat daerah dan tradisional di setiap tingkatan, bisnis, NGO/LSM, dan kelompok
masyarakat melalui NANGOF.
Pelaksanaan survey dilakukan melalui penyebaran kuesioner, workshop daerah, dan
konferensi nasional. Survey dan konferensi nasional fokus pada area: partisipasi di tingkat
daerah dalam proses legislasi, aksesibilitas kepada Dewan Nasional, aksesibilitas kepada
anggota Dewan Nasional, aksesibilitas terhadap informasi legislatif di parlemen,
aksesibilitas terhadap calendar kerja parlemen dan program, desentralisasi dan peran
daerah dalam legislatif dan perkembangan pembuatan kebijakan

Di Indonesia, berdasarkan kinerja DPR RI di periode‐periode yang lalu, partisipasi


masyarakat cenderung tidak maksimal. Sebagai contoh, berdasar pantauan LSPP
(Lembaga Studi Pers dan Pembangunan) dari keseluruhan rapat sebesar 60% rapat
diselenggarakan tanpa kuorum. Dari 60% rapat itu, 51,67% adalah RDPU (Rapat Dengar
Pendapat Umum) atau audiensi dengan masyarakat. Namun, rapat tetap diselenggarakan
dengan alasan rapat tersebut tak mengambil keputusan. Selain itu, menurut Koordinator
ICW (Indonesia Coruption Watch) , Danang Widoyoko, DPR sengaja menutup akses publik
terkait dengan pembahasan RUU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. UU Tipikor akan
disahkan menjelang akhir jabatan DPR pada bulan September 2009 tanpa partisipasi
publik. Beberapa contoh ini memperlihatkan bahwa meskipun akses partisipasi masyarakat
tetap dibuka oleh parlemen akan tetapi hanya terlihat sebagai sebuah basa‐basi politik.

10
Fakta lain berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam pemberian aspirasi publik
adalah pada tahun 1999, 24% masyarakat merasa pemerintah tidak peduli dengan apa
yang mereka pikirkan (perasaan terabaikan) dan 69% yang tidak merasa terabaikan.
Survey tahun 2003, 47% masyarakat merasa terabaikan oleh pemerintah. Sedangkan
masyarakat yang merasa tidak terabaikan berjumlah 39%18. Berdasarkan jajak pendapat
pada bulan Agustus 200719, tingkat ketidakpuasan rakyat pada DPR dalam hal
menyalurkan aspirasi masyarakat adalah 77,4%. Pada bulan Maret 2008 sebesar 84,7%.
Pada April 2009, 75% responden menilai sejauh ini aspirasinya belum atau tidak terwakili
oleh parlemen. Berdasarkan angka‐angka survei di atas, terlihat bahwa hak partisipasi
masyarakat dalam memberikan masukan kepada pemerintah atau lembaga legislatif tidak
terlalu tinggi. Masyarakat masih merasa bahwa apa yang mereka sampaikan pada
ujungnya tidak akan didengar yang kemudian masyarakat apatis terhadap kegiatan
legislasi. Hal ini tentunya semakin mempertegas bahwa partisipasi publik yang selama ini
dilaksanakan adalah proyek setengah hati DPR.

Berdasarkan fakta‐fakta ini terlihat bahwa akses masyarakat untuk dapat memberikan
aspirasinya kepada lembaga legislatif belum maksimal, meskipun cara‐cara yang dapat
dilakukan telah ada. Ada 2 faktor utama yang menghambat minimnya aspirasi masyarakat,
yakni; ketidaktahuan publik akan cara dan alternatif cara baik secara formal maupun
informal untuk dapat menyalurkan aspirasinya dan tidak ditindaklanjutinya aspirasi
masyarakat yang telah disampaikan. Berdasarkan dua faktor utama tersebut maka yang
dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi tentang langkah‐langkah apa saja yang
dapat masyarakat lakukan untuk turut serta aktif memberikan aspirasinya kepada lembaga
pembuat kebijakan. Tidak hanya DPR dan DPD yang harus menyebarkan cara‐cara ini,
tetapi juga pemerintah dan kalangan akademisi. Dengan mengetahui langkah‐langkah yang
dapat dilakukan diharapkan masyarakat dengan mudah dapat menyalurkan aspirasi
mereka dan ikut menjadi bagian dari kebijakan‐kebijakan yang akan dihasilkan. Dapat juga
disiarkan di stasiun TV secara langsung saat RDPU dengan kalangan masyarakat sedang
berlangsung.

Selain itu, lembaga legislatif juga harus menerima aspirasi masyarakat dengan serius Tidak
berarti hanya didengar kemudian tidak dipertimbangkan. Tanggapan yang baik dari
anggota dewan akan membuat masyarakat lebih antusias. Sebagai contoh, di website DPR
di kolom aspirasi yang sudah diproses seharusnya tidak dibiarkan kosong begitu saja.
Apakah ini berarti tidak ada satu pun aspirasi yang masuk atau memang aspirasi tersebut
tidak diproses? Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi malas memberikan aspirasi
mereka. Mereka menjadi apatis terhadap proses pembuatan kebijakan dan berimplikasi
terhadap kebijakan yang dihasilkan tidak representatif. Tentunya hal ini harus kita
minimalisasi secara bersama dan menjadi pekerjaan rumah bersama. ( F312DY )

11