Anda di halaman 1dari 37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Terapi Murottal

1. Definisi murottal

Murottal adalah rekaman suara Al-qur’an yang dilagukan oleh

seorang qori (pembaca Al-qur’an) (Siswantinah, 2011). Murottal juga

dapat diartikan sebagai lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an yang

dilagukan oleh seorang qori (pembaca Al-qur’an), direkam dan

diperdengarkan dengan tempi yang lambat serta harmonis (Purna,

2006).

Murotal merupakan salah satu musik yang memiliki pengaruh

positif bagi pendengarnya (Widayarti, 2011). Mendengarkan ayat-ayat

Al-qur’an yang dibacakan secara tartil dan benar, akan mendatangkan

ketenangan jiwa. Lantunan ayat-ayat Al-qr’an secara fisik

mengandung unsur-unsur manusia yang meruoakan instrumen

penyembuhan dan alat yang paling mudah dijangkau. Suara dapat

menurunkan hormon-hormon stress, mengaktifkan hormon endofrin

alami, meningkatkan perasaan rileks, memperbaiki sistem kimia tubuh

sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan,

detak jantung, denyut nadi dan aktivitas gelombang otak (Heru, 2008).

2. Manfaat Terapi Murottal

Heru (2008) mengemukakan bahwa lantunan Al-qur’an secara fisik

mengandung unsur suara manusia, sedangkan suara manusia

10
Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015
merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan alat yang

paling mudah dijangkau. Suara dapat menurunkan hormon-hormon

endofrin alami, meningkat perasaan rileks, mengalihkan perhatian,

rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh

sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan,

detak jantung, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak.

Murottal (ayat-ayat Al-qur’an) yang dibacakan dengan tartil

mempunyai beberapa manfaat antara lain:

a. Memberikan rasa rileks (Upoyo, 2012)

b. Meningkatkan rasa rileks (Heru, 2012)

c. Terapi murottal (membaca Al-qur’an) dapat menyebabkan

otak memancarkan gelombang theta yang menimbulkan rasa

tenang (Assegaf, 2013)

d. Memberikan perubahan fisiologis (Siswantinah, 2011)

e. Terapi murottal (membaca Al-qur’an) secara teratur adalah

obat nomor satu dalam menyembuhkan kecemasan (Gray,

2010).

3. Mekanisme Murottal Al-Qur’an sebagai Terapi

Setelah lisan kita membaca Al-qur’an atau mendengarkan bacaan

Al-qur’an impuls atau rangsangan suara akan diterima oleh daun

telinga pembacanya.kemudian telinga memulai proses mendengarkan.

Secara fisiologi pendengaran merupakan proses dimana telinga

menerima gelombang suara, membedakan frekuensi dan mengirim

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


informasi kesususnan saraf pusat. Setiap bunyi yang dihasilkan oleh

sumber bunyi atau getaran udara akan diterima oleh telinga. Getaran

tersebut diubah menjadi impuls mekanik di telinga tengah dan diubah

menjadi impuls elektrik ditelinga dalam dan diteruskan melalui saraf

pendengaran menuju ke korteks pendengaran diotak.

Getaran suara bacaan Al-qur’an akan ditangkap oleh daun telinga

yang akan dialihkan ke lubang telinga dan mengenai membran

timpani (membrane yang ada di dalam telinga) sehingga membuat

bergetar. Getaran ini akan diteruskan ke tulang-tulang pendengaran

yang bertautan antara satu dengan lainnya. Rangsangan fisik tadi

diubah oleh adanya perbedaan ion kalium daan ion natrium menjadi

aliran listrikmelalui saraf N.VII (Vestibule Cokhlearis) menuju otak

tepatnya diarea pendengaran. Area ini bertanggung jawab unuk

menganalisis suara kompleks ingatan jangka pendek, perbandingan

nada, menghambat respon motorik yang diinginkan, pendengaran

yang serius dan sebagainya.

Dari daerah pendengaran sekunder (area interprestasi auditorik)

sinyal bacaan Al-qur’an akan diteruskan kebagian posterotemporalis

lobus temporalis otak yang dikenal dengan area wernicke. Diarea

inilah sinyal dari area asosiasi somatic, visual, dan auditorik bertemu

satu sama lain. Area ini sering disebut dengan berbagai nama yang

menyatakan bahwa area ini mempunyai kepentingan menyeluruh, area

interprestasi umum, area diagnostik, area pengetahuan, dan area

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


asosiasi tersier. Area wernicke adalah area untuk interprestasi

(menafsirkan atau memberi kesan) bahasa dan sangat erat

hubungannya dengan area pendengaran primer sekunder. Hubungan

yang erat ini mungkin akibat peristiwa pengenalan bahasa yang

diawali oleh pendengaran.

Setelah diolah diarea wernicke maka melalui berkas yang

menghubungkan dengan area asosiasi prefrontal (pemaknaan

peristiwa) sinyal-sinyal diarea wernicke dikirim ke area asosiasi

prefrontal. Sementara itu disamping diantarkan ke korteks auditorik

primer dari thalamus, juga diantarkan ke amigdala (tempat

penyimpanan memory emosi) yang merupakan bagian terpenting dari

sistem limbik (sistem yang mempengaruhi emosi dan

perilaku).disamping menerima sinyal dari talamus (salah satu bagian

otak yang berfungsi menerima pesan dari indra yang diteruskan

kebagian otak lain). Amigdala juga menerima sinyal dari semua

bagian korteks limbik (emosi/perilaku) seperti juga neokorteks lobus

temporal (korteks atau lapisan otak yang hanya ada pada manusis),

parietal (bagian otak tengah) dan oksipital (otak belakang) terutama

diarea asosiasi auditorik dan area asosiasi visual.

Talamus juga menjalankan simyal ke neokorteks (area otak yang

berfungsi untuk berfikir atau mengolah data serta informasi yang

masuk keotak). Di neokorteks sinyal disusun menjadi benda yang

difahami dan dipilah-pilah menurut maknanya, sehingga otak

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


mengenali masing-masing objek dan arti kehadiranya. Kemudian

amigdala menjalankan sinyal ke hipokampus. Hipokampus sangat

penting untuk membantu otak dalam menyimpan ingatan yang baru.

Hal ini dimungkinkan karena hipokampus merupakan salah satu dari

sekian banyak jalur keluar penting yang berasal dari area “ganjaran”

dan “hukuman”. Diantara motivasi-motivasi itu terdapat dorongan

dalam otak untuk mengingat pengalaman-pengalaman, pikiran-pikiran

yang menyenangkan, dan tidak menyenangkan. Walaupun demikian

membaca Al-qur’an tanpa mengetahui maknanya juga tetap

bermanfaat apabila pembacanya dengan keikhlasan dan kerendahan

hati. Sebab Al-qur’an akan memberikan kesan positif pada

hipokampus dan amigdala sehingga menimbulkan suasana hati yang

positif. Selain dengan membaca Al-qur’an kita juga dapat

memperoleh manfaat dengan hanya mendengarkannya, namun efek

yang ditimbulkan tidak sehebat bila kita membacanya dengan lisan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Daun Telinga Kokhlea
Telinga Tengah

Hipotalamus Amigdala Talamus

Area
Hipokampus Auditorik

Area
Wernicke
Area
Prefrontal

Gambar 2.1 Bagan Neorofisiologi Mendengarkan Al-Qur’an Dengan

Mengetahui Maknanya.

Walaupun tidak memahami makna ayat-ayat Al-qur’an yang kita

dengar, tetapi apabila kita mendengarkannya dengan keikhlasan dan

cinta, Al-qur’an akan tetap berpengaruh positif terhadap suasana hati

melalui kesan yang ditimbulkan dalam amigdala dan hipokampus.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Daun Telinga Kokhlea
Telinga Tengah

Hipotalamus Amigdala Talamus

Hipokampus

Gambar 2.2 Bagan Neorofisiologi Mendengarkan Al-Qur’an Tanpa Mengetahui

maknanya.

4. Pengaruh Murottal Terhadap Kecemasan

Murottal bekerja pada otak dimana ketika didorong dengan

rangsangan terapi murottal maka otak akan memproduki zat kimia

yang disebut zat neuropetide. Molekul ini akan menyangkut kedalam

reseptor-reseptor dan memberikan umpan balik berupa kenikmatan

dan kenyamanan (Abdurrochman, 2008).

Mendengarkan ayat-ayat suci Al-qur’an, seorang muslim baik

mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan

perubahan fisiologis yang angat besar. Secara umum mereka

merasakan adanya penurunan depresi, kesedihan dan ketenangan jiwa

(Siswantinah, 2011).

Mendengarkan murottal Al-qur’an terdapat juga faktor keyakinan,

yaitu agama islam. Umat Islam mempercayai bahwa Al-qur’an adalah

kitab suci yang mengandung firman-firmanNya daan merupakan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


pedoman hidup manusia. Sehingga dengan mendengarkannya akan

membawa subjek merasa lebih dekat dengan Tuhan serta menuntun

subjek untuk mengingat dan menyerahkan segala permasalahan yang

dimiliki kepada Tuhan, hal ini akan menambah keadaan relaks.

B. Aromaterapi

1. Definisi

Aromaterapi adalah penggunaan terkendali dan terampil minyak

astiri dari berbagai tanaman, akar, kulit kayu, cabang, bunga dan daun.

Minyak astiri digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan

kesehatan dan kesejahteraan, sering digabungkan untuk menenangkan

sentuhan penyembuhan dengan sifat terapeutik dari minyak astiri

(Carig Hospital, 2013).

Aromaterapi dapat juga didefinisikan sebagai penggunaan

terkendali esensial tanaman untuk tujuan terapeutik (Posadzki et al,

2012). Jenis minyak aromaterapi yang umum digunakan yaitu :

a. Minyak Eukaliptus, Radiata (Eucalyptus Radiata Oil)

b. Minyak Rosemary (Rosemary Oil)

c. Minyak Ylang-Ylang (Ylang-Ylang Oil)

d. Minyak Tea Tree (Tea Tree Oil)

e. Minyak Lavender (Lavender Oil)

f. Minyak Geranium (Geranium Oil)

g. Minyak Peppermint

h. Minyak Jeruk Lemon (Lemon Oil)

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


i. Minyak Chamomile Roman

j. Minyak Clary Sage (Clary Sage Oil)

2. Mekanisme Aromaterapi

Efek fisiologis dari aroma dapat dibagi menjadi dua jenis : mereka

yang bertindak melalui stimulasi sistem saraf dan orang-orang yang

bertindak langsung pada organ atau jaringan melalui effector-receptor

mekanisme (Hongratanaworakit, 2004).

Aromaterapi didasarkan pada teori bahwa inhalasi atau penyerapan

minyak esensial memicu perubahan dalam sistem limbik, bagian dari

otak yang berhubungan dengan memori dan emosi. Hal ini dapat

merangsang respon fisiologis saraf, endokrin atau sistem kekebalan

tubuh, yang mempengaruhi denyut jantung, tekanan darah, pernafasan,

aktifitas gelombang otak dan pelepasan berbagai hormon di seluruh

tubuh.

Efeknya pada otak dapat baik tenang atau merangsang sistem saraf,

serta mungkin membantu dalam menormalkan sekresi hormon.

Menghirup minyak esensial dapat meredakan gejala pernafasan,

sedangkan aplikasi lokal minyak yang diencerkan dapat membantu

untuk kondisi tertentu. Pijat dikombinasikan dengan minyak esensial

memberikan relaksasi, serta bantuan dari rasa nyeri, kekuatan otot dan

kejang. Beberapa minyak esensial yang diterapkan pada kulit dapat

menjadi anti mikroba, antiseptik, anti jamur, atau anti inflamasi

(Hongratanaworakit, 2004).

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


3. Manfaat Minyak Aromaterapi

Beberapa manfaat minyak aromaterapi (esensial oil) :

a. Lavender, dianggap paling bermanfaat dari semua minyak astiri.

Lavender dikenal untuk membantu meringankan nyeri, sakit

kepala, insomnia, ketegangan dan stress (depresi) melawan

kelelahan dan mendapatkan untuk relaksasi, merawat agar

tidakinfeksi paru-paru, sinus, termasuk jamur vaginal, radang

tenggorokan, asma, kista dan peradangan lain. Meningkatkan

daya tahan tubuh, regenerasi sel, luka terbuka, infeksi kulit dan

sangat nyaman untuk kulit bayi, dll.

b. Jasmine : Pembangkit gairah cinta, baik untuk kesuburan

wanita, mengobati impotensi, anti depresi, pegal linu, sakit

menstruasi dan radang selaput lendir.

c. Orange : Baik untuk kulit berminyak, kelenjar getah bening tak

lancar,debar jantung tak teratur dan tekanan darah tinggi.

d. Peppermint : Membasmi bakteri, virus dan parasit yang

bersarang di pencernaan. Melancarkan penyumbatan sinus dan

paru, mengaktifkan produksi minyak dikulit, menyembuhkan

gatal-gatal karena kadas/kurap, herpes, kudis karena tumbuhan

beracun.

e. Rosemary : Salah satu aroma yang manjur memperlancar

peredaran darah, menurunkan kolesterol, mengendorkan otot,

reumatik, menghilangkan ketombe, kerontokan rambut,

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


membantu mengatasi kulit kusam sampai di lapisan terbawah.

Mencegah kulit kering, berkerut yang menampakkan urat-urat

kemerahan.

f. Sandalwood : Menyembuhkan infeksi saluran kencing dan alat

kelamin, mengobati radang dan luka bakar, masalah

tenggorokan, membantu mengatasi sulit tidur dan menciptakan

ketenangan hati.

g. Green tea : Berperan sebagai tonik kekebalan yang baik

mengobati penyakit paru-paru, alat kelamin, vagina, sinus,

inveksi mulut, inveksi jamur, cacar air, ruam saraf serta

melindungi kulit karena radiasi bakar selama terapi kanker.

h. Ylang-Ylang/Kenanga : Bersifat menenangkan, melegakan

sesak nafas, berfungsi sebagai tonik rambut sekaligus sebagai

pembangkit rasa cinta.

i. Lemon : Selain baik untuk kulit berminyak, berguna pula

sebagai zat antioksidan, antiseptik, melawan virus dan infeksi

bakteri, mencegah hipertensi, kelenjar hati dan limpa yang

tersumbat, memperbaiki metabolisme, menunjang system

kekebalan tubuh serta memperlambat kenaikan berat badan.

j. Frangipani/Kamboja : Bermanfaat untuk pengobatan, antara

lain, bisa untuk mencegah pingsan, radang usus, disentri, basiler,

gangguan pencernaan, gangguan penyerapan makanan pada

anak, radang hati, radang saluran napas, jantung berdebar, TBC,

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


cacingan, sembelit, kencing nanah, beri-beri, kapalan, kaki

pecah-pecah, sakit gigi, tertusuk duri atau beling, bisul dan

patekan. Aromaterapi dari wewangian ini melambangkan

kesempurnaan. Ini dapat digunakan untuk meditasi dan

memberikan suasana hening yang mendalam.

k. Strawberry : Dapat meningkatkan selera makan, mengurangi

penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kanker.

l. Lotus : Meningkatkan vitalitas, kosentrasi, mengurangi panas

dalam, meningkatkan fungsi limpa dan ginjal.

m. Appel : Dapat menyembuhkan mabuk, diare, menguatkan sistem

pencernaan, menjernihkan pikiran, mengurangi gejala panas

dalam.

n. Vanilla : Dengan aroma yang lembut dan hangat mampu

menenangkan pikiran.

o. Nigth Queen : Membuat rasa nyaman dan rileks.

p. Opium : Menggembirakan, memberi energi dan semangat

tertentu.

q. Coconut : Memberikan efek ketenangan, menghilangkan stress,

mampu mempertahankan keremajaan kulit wajah sehingga

wajah selalu nampak bersinar sepanjang masa.

r. Sakura : Di antaranya, disentri, demam, muntah, batuk darah,

keputihan, tumor, insomnia, mimisan, sakit kepala, hipertensi.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Dari uraian aromaterapi dan manfaatnya, aromaterapi yang

mempunyai manfaat meringankan nyeri adalah jenis aromaterapi

lavender. Minyak lavender di ekstrak dari tanaman yang disebut

lavandula angustifolia. Dari semua aromaterapi, lavender dianggap

paling bermanfaat dari semua minyak atsiri.

4. Teknik Pemberian Aromaterapi

Teknik pemberian aroma terapi bisa digunakan dengan cara :

a. Inhalasi : biasanya dianjurkan untuk masalah dengan pernafasan

dan dapat dilakukan dengan menjatuhkan beberapa tetes minyak

esensial ke dalam mangkuk air mengepul. Uap tersebut

kemudian dihirup selama beberapa saat, dengan efek yang

ditingkatkan dengan menempatkan handuk diatas kepala dan

mangkuk sehingga membentuk tenda untuk menangkap udara

yang dilembabkan dan bau.

b. Massage/ pijat : Menggunakan minyak esensial aromatik

dikombinasikan dengan minyak dasar yang dapat menenangkan

atau merangsang, tergantung pada minyak yang digunakan. Pijat

minyak esensial dapat diterapkan ke area masalah tertentu atau

ke seluruh tubuh.

c. Difusi : Biasanya digunakan untuk menenangkan saraf atau

mengobati beberapa masalah pernafasan dan dapat dilakukan

dengan penyemprotan senyawa yang mengandung minyak ke

udara dengan cara yang sama dengan udara freshener. Hal ini

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


juga dapat dilakukan dengan menempatkan beberapa tetes

minyak esensial dalam diffuser dan menyalakan sumber panas.

Duduk dalam jarak tiga kaki dari diffuser, pengobatan biasanya

berlangsung sekitar 30 menit.

d. Kompres : Panas atau dingin yang mengandung minyak esensial

dapat digunakan untuk nyeri otot dan segala nyeri, memar dan

sakit kepala.

e. Perendaman : Mandi yang mengandung minyak esensial dan

berlangsung selama 10-20 menit yang direkomendasikan untuk

masalah kulit dan menenangkan saraf (Craig hospital, 2013).

5. Prosedur Kerja Inhalasi Aromaterapi

Menurut Arwani (2013), metode kerja yaitu dengan pengambilan

data awal tingkat kecemasan dilakukan 2 jam sebelum operasi.

Kemudian responden diberikan aromaterapi dengan cara meneteskan 2

tetes aromaterapi (lavender oil) pada masker untuk dipakaikan selama

10 menit. Peneliti kemudian melakukan pengukuran kedua (post test)

tingkat kecemasan setelah diberikan terapi.

6. Pengaruh Aromaterapi Lavender terhadap Kecemasan sebagai

Media Relaksasi

Indra penciuman memiliki peran yang sangat penting dalam

kemampuan kita untuk bertahan hidup dan meningkatkan kualitas

hidup kita. Dalam sehari kita bisa mencium lebih kurang 23.040 kali.

Bau-bauan dapat memberikan peringatan pada kita akan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


adanya bahaya dan juga dapat memberikan efek menenangkan

(relaksasi). Tubuh dikatakan dalam keadaan relaksasi adalah apabila

otot-otot di tubuh kita dalam keadaan tidak tegang. Keadaan

relaksasi dapat dicapai dengan menurunkan tingkat stres, baik

stres fisik maupun psikis, serta siklus tidur yang cukup dan teratur.

Minyak lavender dengan kandungan linalool-nya adalah salah satu

minyak aromaterapi yang banyak digunakan saat ini, baik secara

inhalasi (dihirup) ataupun dengan teknik pemijatan pada kulit.

Aromaterapi yang digunakan melalui cara inhalasi atau dihirup

akan masuk ke sistem limbic dimana nantinya aroma akan

diproses sehingga kita dapat mencium baunya. Pada saat kita

menghirup suatu aroma, komponen kimianya akan masuk ke bulbus

olfactory, kemudian ke limbic sistem pada otak. Limbic adalah

struktur bagian dalam dari otak yang berbentuk seperti cincin

yang terletak di bawah cortex cerebral. Tersusun ke dalam 53

daerah dan 35 saluran atau tractus yang berhubungan dengannya,

termasuk amygdala dan hipocampus. Sistem limbic sebagai pusat

nyeri, senang, marah, takut, depresi, dan berbagai emosi lainnya.

Sistem limbic menerima semua informasi dari sistem pendengaran,

sistem penglihatan, dan sistem penciuman. Sistem ini juga dapat

mengontrol dan mengatur suhu tubuh, rasa lapar, dan haus.

Amygdala sebagai bagian dari sistem limbic bertanggung jawab

atas respon emosi kita terhadap aroma. Hipocampus bertanggung

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


jawab atas memori dan pengenalan terhadap bau juga tempat

dimana bahan kimia pada aromaterapi merangsang gudang-gudang

penyimpanan memori otak kita terhadap pengenalan bau-bauan

(Buckle J,2001: vol. 4 no. 3; 124-126).

Minyak lavender adalah salah satu aromaterapi yang terkenal

memiliki efek menenangkan. Menurut penelitian yang dilakukan

Snow , et al (2004) minyak lavender memiliki efek sedasi yang

cukup baik dan dapat menurunkan aktivitas motorik mencapai

78%, sehingga sering digunakan untuk manajemen stres. Beberapa

tetes minyak lavender dapat membantu menanggulangi insomnia,

memperbaiki mood seseorang, dan memberikan efek relaksasi.

Penelitian lain yang dilakukan terhadap manusia mengenai efek

aromaterapi lavender untuk relaksasi, kecemasan, mood, dan

kewaspadaan pada aktivitas EEG (Electro Enchepalo Gram)

menunjukkan terjadinya penurunan kecemasan, perbaikan mood,

dan terjadi peningkatan kekuatan gelombang alpha dan beta pada

EEG yang menunjukkan peningkatan relaksasi. Didapatkan pula

hasil yaitu terjadi peningkatan secara signifikan dari kekuatan

gelombang alpha di daerah frontal, yang menunjukkan terjadinya

peningkatan rasa kantuk (Diego AM, dkk, 1998: vol 96; 217-224).

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


C. Kecemasan

1. Definisi Kecemasan

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya “anxiety” berasal dari

Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang

berarti mencekik. Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional

terhadap panilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya

merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui

secara khusus penyebabnya. Kecemasan berbeda dengan takut. Takut

adala penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan

obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan rasa takut.

Kecemasan adalah suatu yang tidak pasti, tidak berdaya yang

berkaitan dengan emosi seseorang terhadap suatu obyek yang tidak

spesifik (Stuart & Sudeen). Menurut American Physicological

Assosiation (APA) kecemasan adalah emosi yang ditandai dengan

perasaan keteganggan, pikiran cemas dan perubahan fisik seperti

tekanan daarah meningkat (Ahmad Abu Basil, 2014).

Frued dan Ardnt (1974) dalam Riyanto menggambarkan dan

mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak

menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti

perubahan detak jantung dan pernafasan. Kecemasan melibatkan

persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi

fisiologis, dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang

dianggap berbahaya.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa

kecemasan adalah ketegangan perasaan, diaman ketegangan itu dapat

disadari maupun tidak disadari, ditandai dengan adanya rasa khawatir,

gelisah, serta perasaan akan terjadi sesuatu hal yang kurang

menyenangkan dan timbul karena manusia mengalami ancaman,

hambatan serta tekanan perasaan.

2. Teori Kecemasan

Menurut Stuart & Sundeen (1991) ada beberapa teori yang

menjelasakan mengenai ansietas, teori tersebut antara lain :

a. Teori Psikoanalisis

Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik

emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id

dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls

primitive seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati

nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya

seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen

tersebut, dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa

ada bahaya.

b. Teori Interpersonal

Dalam pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan

takut terhadap penolakan saat berhubungan dengan orang lain.

Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa

pertumbuhan, seperti kehilangan dan perpisahan dengan orang

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


yang dicintai. Penolakan terhadap eksistensi diri oleh orang lain

ataupun masyarakat akan menyebabkan individu yang

bersangkutan menjadi cemas. Namun bila keberadaanya

diterima oleh orang lain, maka ia akan merasa tenang dan tidak

cemas. Dengan demikian ansietas berhubungan dengan

hubungan antar manusia.

c. Teori perilaku

Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan hasil frustasi.

Ketidakmampuan dan kegagalan dalam mencapai suatu tujuan

yang di inginkan akan menimbulkan frustasi atau keputusasaan.

Keputusasaan inilah yang menyebabkan seseorang menjadi

cemas.

3. Faktor pencetus kecemasan

Faktor yang dapat menjadi pencetus seseorang merasa cemas

dapat berasal dari diri sendiri (faktor internal) maupun dari luar

dirinya (faktor eksternal). Namun demikian pencetus kecemasan dapat

dikelompokkan kedalam dua kategori yaitu :

a. Ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidakmampuan

fisiologis atau gangguan dalam melakukan aktivitas-aktivitas

sehari-hari guna pemenuhan terhadap kebutuhan dasarnya.

b. Ancaman terhadap sistem diri yaitu adanya sesuatu yang dapat

mengancam terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan

status/peran diri dan hubungan interpersonal (asmadi, 2008).

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


4. Faktor yang mempengaruhi kecemasan

a. Usia dan tingkat perkembangan

Semakin tua usia seseorang, tingkat kecemasan dan kekuatan

seseorang semakin koonstruktif dalam menggunakan koping

terhadap masalah yang dihadapi.

b. Jenis kelamin

Menurut jenis kelamin, laki-laki lebih tinggi kecemasannya

dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dibuktikan dari hasil

pemeriksaan asam lemak bebas menunjukkan nilai yang lebih

tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

c. Pengalaman individu

Pengalaman individu sangat mempengaruhi respon kecemasan

karena pengalaman dapat dijadikan suatu pembelajaran dalam

menghadapi suatu stressor atau masalah. Jika respon

kecemasan yang semakin berkurang bila dibandingkan dengan

seseorang yang baru pertama kali menghadapi masalah

tersebut.

5. Karakteristik tingkat kecemasan

Karakteristik tingkat kecemasan menurut Stuart and Sundeen

(1991) adalah:

a. Kecemasan ringan

Fisik : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat,

gejala ringan berkeringat.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Kognitif: lapang persepsi meluas, mampu menerima rangsang

kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah

aktual.

Perilaku dan emosi: tidak dapat duduk dengan tenang, tremor

halus pada tangan, suara kadang-kadang meninggi.

b. Kecemasan sedang

Fisik: sering nafas pendek, nadi ekstra sistole, tekanan darah

meningkat, mulut kering, anoreksia, diare atau konstipasi,

gelisah.

Kognitif: lapang persepsi meningkat, tidak mampu menerima

rangsang lagi, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya.

Perilaku dan emosi: gerakan tersentak-sentak, meremas tangan,

bicara lebih banyak dan cepat,susah tidur dan perasaan tidak

aman.

c. Kecemasan berat

Fisik: nafas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat,

berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur dan ketegangan.

Kognitif: lapang persepsi snagat sempit dan tidak mampu

menyelesaikan masalah.

Perilaku dan emosi: perasaan ancaman meningkat, verbalisasi

cepat.

d. Panik

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Fisik: nafas pendek, rasa tercekik dan palpitasi sakit dada, pucat,

hipotensi, koordinasi motorik rendah.

Kognitif: lapang persepsi sangat menyempit tidak dapat berfikir

logis.

Perilaku dan emosi: agitasi, mengamuk, marah ketakutan,

berteriak,blocking, kehilangan kontrol diri, persepsi datar.

6. Rentang respon kecemasan

Rentang respon individu terhadap cemas berfluktuasi antara

respon adaptif dan maladaptif. Rentang respon yang paling adaptif

adalah antisipasi diman individu siap siaga utuk beradaptasi dengan

cemas yang mungkin muncul. Sedangkan rentang yang palig

maladaptif adalah panik dimana individu suda tidaak mampu lagi

berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami

gangguan fisik, perilaku maupun kognitif (stuart, 2001).

Seseorang berespon adapti terhadap kecemasannya maka tingkat

kecemasan yang dialaminya ringan, semakin maladaptif respon

seseorang terhadap kecemasan maka semakin berat pula tingkat

kecemasan yang dialaminya, seperti gambar dibawa ini:

Respon adaptif Respon maladaptif

Ringan Sedang Berat Berat sekali

Gambar 2.3 Rentang respon kecemasan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


7. Penatalaksanaan kecemasan

Penatalaksanaan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan

kecemasan adalah sebagai berikut:

a. Farmakologi

Dua jenis obat utama yang dipertimbangkan dalam pengobatan

gangguan kecemasan adalah buspirone dan benzodiazepin. Obat

lain yang mungkin adalah trisiklik (imipramin), anti histamine,

dan antagonis andregenik beta (propanol) (Kaplan & Sadock,

2002)

b. Non farmakologi

a. Relaksasi

Pendekatan utama psikoterapik untuk gangguan kecemasan

adalah kognitif-perilaku, suportif, teknik relaksasi yang

dapat diberikan antara lain adalah terapi musik, nafas

dalam, aromaterapi dan guidance imagenary. Psikoterapi

berorientasi untuk memusatkan dan mengungkapkan

konflik bawa sadar dan kekuatan ego. Terapi suportif

menawarkan ketentraman dan kenyamanan pada pasien.

b. Distraksi

Distraksi merupakan metode untk menghilangkan

kecemasan dengan cara menghilangkan perhatian pada hal-

hal lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang

akan dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


menyebabkan pelepasan endofrin yang bisa menghambat

stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli

cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter, 2005).

Salah satu distraksi yang efektif adalah dengan murottal

(mendengarkan bacaan Al-Qur’an), yang dapa menurunkan

hormon-hormon stress, mengaktifkan hormon endofrin

alami, meningkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan

perhatian dan rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki

sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah

serta memperlambat pernafasan, detak jantung, denyut nadi,

dan aktivitas gelombang otak. Laju pernafasan yang lebih

dalam dan lebih lambat tersebut sangat baik menimbulkan

ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam dan

metabolisme yang lebih baik (Heru, 2008).

8. Mekanisme koping

Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya yang akan

terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus dihindari atau

dilawan. Setiap ada stressor penyebab individu mengalami

kecemasan, maka secara otomatis muncul upaya untuk mengatasinya

dengan berbagai mekanisme koping. Secara umum mekanisme koping

terhadap kecemasan diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu

strategi pemecahan masalah (problem solving strategic) dan

mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


a. Problem solving strategic (pemecahan masalah)

Metode pemecahan masalah ini secara ringkas dapat digunakan

sebagai metode STOP (source, trial and eror, other serta pray

and patient).

Source berarti mencari, mencari dan mengidentifikasi apa yang

menjadi sumber masalah. Trial and error berarti mencoba

berbagai rencana pemecahan masalah yang telah disusun. Other

berarti meminta bantuan orang lain bila diri sendiri tidak

mampu. Pray and patient berarti berdo’a kepada Tuhan.

b. Defence mechanism (mekanisme pertahanan diri)

Mekanisme pertahanan diri merupakan mekanisme penyesuaian

ego yaitu usaha untuk melindungi diri dari perasaan tidak

adekuat. Diantara ciri mekanisme pertahanan diri antara lain:

a) Bersifat sementara karena hanya berfungsi untuk

melindungi atau bertahan dari hal-hal yang tidak

menyenangkan dan secara tidak langsung mengatasi

masalah.

b) Mekanisme pertahanan diri terjadi diluar kesadaran.

c) Seringkali tidak berorientasi pada kenyataan (Asmadi,

2008).

Menurut pendapat freud dalam abu (2014) mengemukakan

ada beberapa mekanisme pertahanan yang digunakan untuk

melawan kecemasan antara lain adalah:

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


a) Represi

Represi adalah pelepasan tanpa sengaja sesuatu dari

kesadaran (concious). Pada dasarnya merupakan upaya

penolakan secara tidak sadar terhadap sesuatu yang

membuat tidak nyaman atau menyakitkan.

b) Reaksi formasi

Reaksi formasi adalah bagaimana mengubah suatu impuls

yang mengacam dan tidak sesuai serta tidak dapat diterima

norma sosial diubah menjadi suatu bentuk yang lebih

deterima.

c) Proyeksi

Proyeksi adalah mekanisme pertahanan dari individu yang

menganggap suatu impuls yang tidak baik, agresif dan

tidak dapat diterima sebagai bukan miliknya melainkan

milik orang lain.

d) Regresi

Regresi adalah suatu mekanisme pertahanan saat individu

kembali ke masa periode awal dalam hidupnya yang lebih

menyenangkan dan bebas dari frustasi dan kecemasan

yang saat ini dihadapi. Regresi adalah suatu mekanisme

pertahanan saat individu kembali ke masa periode awal

dalam hidupnya yang lebih menyenangkan dan bebas dari

frustasi dan kecemasan saat ini dihadapi.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


e) Rasionalisasi

Rasionalisasi merupakan mekanisme pertahanan yang

melibatkan pemahaman kembali perilaku kita untuk

membuatnya menjadi lebih rasional dan dapat diterima

oleh kita. Kita berusaha memaafkan atau

mempertimbangkan suatu pemikiran atau tindakan yang

mengancam kita dengan meyakinkan diri kita sendiri

bahwa ada alasan yang rasional dibalik pikiran dan

tindakan itu.

f) Pemindahan

Suatu mekanisme pertahanan dengan cara memindahkan

impuls terhadap objek lain karena objek yang dapat

memuaskan Id tidak tersedia. Misalnya seorang anak yang

kesel dan marah dengan orang tuanya, karena perasaan

takut berhadapan dengan orang tua maka rasa kesal dan

marahnya itu ditimpakan kepada adiknya yang kecil. Pada

mekanisme ini objek pengganti adalah suatu objek yang

menurut individu bukanlah merupakan suatu ancaman.

g) Sublimasi

Berbeda dengan diplacement yang mengganti objek untuk

memuaskan Id, sublimasi melibatkan perubahan atau

penggantian dari impuls Id itu sendiri. Energi instingtual

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


dialihkan ke bentuk ekspresi lain, yang secara sosial bukan

hanya diterima namun dipuji.

h) Isolasi

Isolasi adalah cara kita untuk menghindari perasaan yang

tidak dapat diterima dengan cara melepaskan mereka dari

peristiwa yang seharusnya mereka terikat,

mengekspresikannya dan beraksi terhadap peristiwa

tersebut tanpa emosi.

i) Undoing

Dalam undoing, individu akan melakukan perilaku atau

pikiran ritual dalam upaya untuk mencegah impuls yang

tidak dapat diterima. Misalnya pada pasien dengan

gangguan obsesif kompulsif, melakukan cuci tangan

berulang kali demi melepaskan pikiran-pikiran seksual

yang mengganggu.

j) Intelektualisasi

Sering bersamaan dengan isolasi; individu mendapatkan

jarak yang lebih jauh dari emosinya dan menutupi hal

tersebut dengan analisis intelektual yang abstrak dari

individu itu sendiri.

9. Akibat kecemasan

Kaplan & Sadock (2002) menyatakan akibat dari kecemasan

adalah timbulnya ketegangan motorik, hiperaktivitas otonomik, dan

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik yang paling

dimanifestasikan sebagai gemetaran, kegelisahan dan nyeri kepala.

Hiperaktivitas seringkali dimanifestasikan oleh sesak nafas, keringat

berlebih, palpitasi, dan berbagai gejala gastrointestinal. Kewaspadaan

kognitif ditandai oleh sifat lekas tersinggung dan mudahnya pasien

dikejutkan.

10. Skala pengukuran tingkat kecemasan

Beberapa skala penilaian psikiatrik untuk gangguan kecemasan

telah dikembangkan untuk melihat seberapa besar tingkat keparahan

seseorang mengalami gangguan kecemasan. Beberapa skala penilaian

tersebut antara lain : Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), Covi

Anxiety Scale, Anxiety States Inventory, Brief Outpatient

Psychopathology, Physicisns Questionnaire, Fear Questionnaire,

Mobility Inventory for Agroraphobia, Social Avoidance and Distress

Scale, Acute Panic Inventory, Leyton Obsessional Inventory,

Moudsley Obsessional-Compulsive Inventory, Fear Thermometer,

Impact of Event Scale ( Kaplan 1997 dalam Abu 2014).

Menurut Hawari (2007) yang dikutip Ahmad Abu Basil (2014)

mengemukakan bahwa untuk mengetahui sejauh mana derajat

kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat, berat sekali

(panik) digunakan alat ukur (instrumen) yang disebut Hamilton Rating

Scale for Anxiety (HRS-A). Adapun hal-hal yang dinilai dalam alat

ukur HRS-A ini adalah:

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


a. Perasaan cemas (ansietas) yang ditandai dengan cemas, firasat

buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung.

b. Ketegangan yang ditandai dengan merasa tegang, lesu, tidak

dapat istirahat tenang, mudaah terkejut, mudah menangis,

gemetar, gelisah.

c. Ketakutan ditandai dengan pada gelap, ketakutan ditinggal

sendiri, ketakutan pada orang asing, ketakutan pada binatang

besar, ketakutan pada keramaian lalu lintas, ketakutan pada

kerumunan orang banyak.

d. Gangguan tidur ditandai dengan sukar msuk tidur, terbangun

pada malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu,

mimpi buruk, mimpi yang menakutkan.

e. Gangguan kecerdasan ditandai dengan sukar konsentrasi, daya

ingat buruk, daya ingat menurun.

f. Perasaan depresi ditandai dengan kehilangan minat, sedih,

bangun dini hari, kurangnya kesenangan pada hobi, perasaan

berubah sepanjang hari.

g. Gejala somatik ditandai dengan nyeri pada otot, kaku, kedutan

otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.

h. Gejala sensorik ditandai dengan tinitus, penglihatan kabur, muka

merah dan pucat, merasa lemah, perasaan ditusk-tusuk.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


i. Gejala kardiovaskuler ditandai oleh takikardi, berdebar-debar,

nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemas seperti mau

pingsan, detang jantung hilang sekejap.

j. Gejala pernafasan ditandai dengan rasa tertekan atau sempit di

dada, perasaan tercekik, merasa nafas pendek/sesak, sering

menarik nafas panjang.

k. Gejala gastrointestinal ditandai dengan sulit menelan, mual,

perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri lambung sebelum dan

setelah makan, rasa panas diperut, perut terasa kembung atau

penuh, muntah, defekasi lembek, berat badan menurun,

konstipasi.

l. Gejala urogenetal ditandai oleh sering kencing, tidak dapat

menahan kencing, amenorrhoe, menorrhagia, masa haid

berkepanjangan, masa haid amat pendek, haid beberapa kali

dalam sebulan,frigiditas, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi

hilang, impoten.

m. Gejala otonom ditandai dengan mulut kering, muka merah,

mudah berkeringat, pusing, sakit kepala, kepala terasa berat,

bulu-bulu berdiri.

n. Perilaku sewaktu wawancara ditandai dengan gelisah, tidak

tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka

tegang, tonus otot meningkat, nafas pendekdan cepat, serta

muka merah.

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


11. Cara penilaian tingkat kecemasan

Menurut Hidayat (2008) mengemukakan bahwa cara penilaian

tingkat kecemasan HRS-A adalah sebagai berikut:

Skor 0 : tidak ada gejala sama sekali.

Skor 1 : 1 dari gejala yang ada.

Skor 2 : separuh dari gejala yang ada.

Skor 3 : lebih dari separuh gejala yang ada.

Skor 4 : semua gejala ada.

Penilaian hasil yaitu dengan menjumlahkan nilai skor item 1

sampai dengan 14 dengan ketentuan sebagai berikut:

Skor kurang dari 14 = tidak ada kecemasan.

Skor 14 sampai dengan 20 = kecemasan ringan.

Skor 21 sampai dengan 27 = kecemasan sedang.

Skor 28 sampai dengan 41 = kecemasan berat.

Skor 42 sampai dengan 56 = kecemasa berat sekali/panik

D. Pre Operasi

1. Pengertian

Pre operatif adalah fase dimulai ketika keputusan menjalani

operasi atau pembedahan dibuat dan berakhir ketika pasien

dipindahkan ke meja operasi (Smeltzer & Bare, 2002).

Operasi merupakan tindakan pengobatan yang banyak

menimbulkan kecemasan. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


terancam fisik maupun psikologinya misalnya gambaran diri, dan

identitas diri (Stuart & Sundeen, 2007).

2. Klasifikasi Pembedahan

Menurut Smeltzer & Bare (2002), pembedahan dapat

diklasifikasikan dalam beberapa macam yaitu menurut berbagai alasan,

tingkat urgensinya,lokasi pembedahan dan luas jangkauan

pembedahan.

a. Klasifikasi pembedahan berdasarkan berbagai alasan

Berdasarkan alasan diagnostik, seperti ketika dilakukan biopsi

atau laparatomi eksplorasi. Kuratif, seperti ketika mengeksisi

masa tumor atau mengangkat apendiks yang mengalami

inflamasi. Reparatif, seperti harus memperbaiki luka multiple.

Rekonstruksi atau kosmetik, seperti ketika melakukan

mammoplasi atau perbaikan wajah. Paliatif, seperti ketika harus

menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah.

b. Klasifikasi pembedahan berdasarkan tingkat urgensinya

Berdasarkan tingkat kedaruratan, pasien membutuhkan

perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi

untuk pembedahan yaitu tanpa ditunda, contoh : perdarahan

hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang

tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sangat luas.

Berdasarkan tingkat urgensinya, pasien membutuhkan perhatian

segera. Indikasi pembedahan yaitu dalam waktu 24-30 jam,

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu bara

pada uretra, pasien harus menjalani pembedahan atau operasi.

Indikasi pembedahan yaitu direncanakan daalam beberapa

minggu atau bulan, contoh : hiperplasia prostat tanpa obstruksi

kandung kemih, gangguan tiroid, katarak. Berdasarkan tingkat

elektif, pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi untuk

pembedahan yaitu tidak dilakukan pembedahankarena tidak

terlalu membahayakan, contoh : perbaikan eskar, hernia

sederhana, perbaikan vagianal. Den berdasarkan tingkat pilihan,

keputusan terletak pada pasien. Indikasi untuk pembedahan

yaitu pilihan pribadi, contoh : bedah kosmetik.

c. Klasifikasi pembedahan berdasarkan lokasi pembedahan

Berdasarkan lokasi pembedahan internal, tindakan pembedahan

pada tubuh bagian dalam jaringan perut yang tidak kelihatan,

tetapi dapat menyebabkan komplikasi perlengketan. Sedangkan

berdasarkan lokasi pembedahan eksternal, tindakan pembedahan

tubuh bagian luar jaringan perut akan kelihatan.

d. Klasifikasi pembedahan berdasarkan jangkauan pembedahan

Bedah minor atau kecil, yaitu suatu tindakan pembedahan

sederhana yang tidak mengancam kehidupan dan dapat

dilakukan diruang praktek dokter ahli bedah, klinik, unit rawat

inap bedah, unit poliklinik bedah, dan sebagian besar

menggunakan anastesi lokal. Sedangkan bedah mayor atau

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


besar, yaitu suatu tindakan pembedahan yang dapat mengancam

kehidupan dilakukan dikamar bedah dan biasanya menggunakan

anastesi umum. Contohnya : laparatomi, BPH, SC.

E. Kerangka Teori

Berdasarkan uraian yang telah diikemukakan diatas, maka

kerangka teori dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut

dibawa inI :

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


Karakteristik tingkat kecemasan
Faktor pencetus kecemasan 1. tidak ada gejala sama
sekali.
1. Ancaman terhadap
2. 1 dari gejala yang ada.
integritas diri Kecemasan 3. separuh dari gejala yang
2. Ancaman terhadap
ada.
sistem diri
4. lebih dari separuh gejala
(asmadi, 2008) yang ada.
5. semua gejala ada.
(HARS)
Teori kecemasan
1. Teori psikoanalisis
2. Teori interpersonal
3. Teori prilaku
Stuart & Sundeen
(1991)

Penatalaksanaan
kecemasan

Farmakologi Non Farmakologi


Buspirone,benzodiazepine,trisil
ik
(impramin)Antihistamine,dan
antagonisadregenik
beta(propanol) Terapi Murottal Aromaterapi
lavender
(Kaplan & Sadock,2002)

Penurunan Gejala
Kecemasan

Sumber: Stuart & sundeen (1998), Kaplan & Sadock (2002), HARS, Asmadi

(2008).

Gambar 2.4 Kerangka Teori

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015


F. Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independent
Terapi murottal Variabel Dependent

Aromaterapi lavender Gejala Kecemasan

Gambar 2.5 Kerangka konseptual

G. Hipotesis

Hipotesis dari penelitian ini adalah :

a. H 0 : Tidak ada efektivitas terapi murotal terhadap penurunan gejala

kecemasan pada pasien pre operasi

Ha : Ada efektivitas terapi murotal terhadap penurunan gejala

kecemasan pada pasien pre operasi

b. H 0 : Tidak ada efektivitas aromaterapi lavender terhadap penurunan

gejala kecemasan pada pasien pre operasi

Ha : Ada efektivitas aromaterapi lavender terhadap penurunan

gejala kecemasan pada pasien pre operasi

c. H 0 : Tidak ada perbedaan efektivitas terapi murottal dangan

aromaterapi lavender terhadap penurunan gejala kecemasan

pada pasien pre operasi

Ha : Ada perbedaan efektivitas terapi murottal dangan

aromaterapi lavender terhadap penurunan gejala kecemasan

pada pasien pre operasi

Perbedaan Efektivitas Terapi..., Dwi Muliawati, S1 Keperawatan UMP, 2015