Anda di halaman 1dari 52

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Konsep Lansia

2.1.1 Pengertian

Penduduk di atas usia 15 tahun dan dibawah 65 tahun makin

membengkak karena pertumbuhan penduduk anak-anak peninggalan masa lalu.

Begitu juga penduduk diatas usia 60 tahun, atau diatas usia 65 tahun. Penduduk

usia ini dikenal sebagai penduduk lanjut usia yang tumbuh dengan kecepatan

paling tinggi (Suyono, 2007).

Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun

keatas, menurut UU RI No.13 Tahun 1998 Bab 1 Pasal 1. Organisasi Kesehatan

Dunia (WHO) menggolongkan lansia menjadi 4 yaitu: usia pertengahan (middle

age) adalah 45 – 59 tahun, lanjut usia (elderly) adalah 60 – 74 tahun, lanjut usia

tua (old) adalah 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun

(Nugroho, 2008). Lansia merupakan seseorang yang berusia 60 tahun ke atas baik

pria maupun wanita, yang masih aktif beraktivitas dan bekerja ataupun mereka

yang tidak berdaya untuk mencari nafkah sendiri sehingga bergantung kepada

orang lain untuk menghidupi dirinya (Tamher, 2009).

2.1.2 Batasan lansia

1) Menurut WHO, lansia dibagi dalam beberapa kelompok yaitu :

1. Usia pertengahan ( Middle Age ) = usia 45 – 59 tahun

2. Usia lanjut ( Elderly ) = usia 60 – 74 tahun

10
11

3. Usia lanjut tua ( Old ) = usia 75 – 90 tahun

4. Usia sangat tua ( Very Old ) = usia diatas 90 tahun

2) Menurut Siti Maryam (2009), lansia dikatagorikan sebagai berikut :

1. Pralansia (prasenilis)

Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun

2. Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih

3. Lansia resiko tinggi

Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih / seseorang yang berusia 60

tahun atau lebih dengan masalah kesehatan

4. Lansia potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan / atau kegiatan yang

dapat menghasilkan barang / jasa

5. Lansia tidak potensial

Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung

pada orang lain.

3) Menurut Undang - Undang No.13 tahun 1998

Seseorang diktakan sebagai lanjut usia setelah mencapai umur 60 tahun

keatas

.4) Menurut Departemen Kesehatan tahun 1994

1. Kelompok lanjut usia dini (55-64 tahun), yakni kelompok yang baru

memasuki lanjut usia

2. Kelompok lanjut usia (65 tahun keatas)


12

3. Kelompok lanjut usia resiko tinggi, yakni lanjut usia yang berusia lebih

dari 70 tahun.

2.1.3 Tipe lansia

Tipe yang ada pada lansia tergantung oleh karakter, pengalaman hidup,

lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho , 2000 dalam

Siti Maryam 2009) :

1) Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan

zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,

dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan

2) Tipe mandiri

Mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan yang baru, selektif

dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi

undangan.

3) Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah,

tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik, dan banyak

menuntut.

4) Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan

melakukan pekerjaan apa saja

5) Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal,

pasif, dan acuh tak acuh.


13

2.1.4 Tugas perkembangan lansia

Menurut Siti Maryam (2009), tugas perkembangan pada lansia yaitu :

1) Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun

2) Mempersiapkan diri untuk pensiun

3) Membentuk hubungan yang baik dengan orang seusianya

4) Mempersiapkan kehidupan baru

5) Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial / masyarakat secara

santai

6) Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan

Tugas perkembangan pada usia lanjut menurut Tamher (2009) yaitu :

1) Penyesuaian terhadap penurunan kekuatan dan kesehatan fisik

2) Penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan penghasilan

3) Penyesuaian terhadap kematian pasangan atau orang terdekat, membangun

suatu perkumpulan dengan sekelompok seusia, mengambil prakarsa dan

beradaptasi terhadap peran sosial dengan cara yang fleksibel, serta

membuat pengaturan hidup atau kegiatan fisik yang menyenangkan.

2.1.5 Teori proses menua

2.1.5.1 Teori Biologi

Teori biologi tentang proses penuaan terdiri dari :

1) Teori Radikal Bebas

Radikal bebas mampu merusak membran sel, lisosom, mitokondria,

dan inti membran melalui reaksi kimia yang disebut peroksidasi lemak.

Teori radikal bebas pada penuaan ditunjukkan oleh hormon yang

ditandai dengan munculnya efek patologis. Radikal bebas dapat


14

menyebabkan terjadinya perubahan pigmen dan kolagen pada proses

penuaan. Meningkatnya radikal bebas dapat dihambat dengan

pengaturan diet (jumlah kalori) serta konsumsi obat/makanan yang

mengandung banyak anti oksidan seperti makanan yang mengandung

vitamin E, vitamin C, selenium, glutation peroksidae, dan superokside

dismutase.

2) Teori Autoimun

Menurut teori autoimun, penuaan diakibatkan oleh antibodi yang

bereaksi terhadap sel normal dan merusaknya. Reaksi tersebut terjadi

karena tubuh gagal mengenal sel normal dan memproduksi antibodi

yang salah. Akibatnya, antibodi tersebut akan bereaksi terhadap sel

normal, disamping sel abnormal yang menstimulasi pembentukannya.

Teori ini didukung dengan kenyataan bahwa jumlah antibodi autoimun

meningkat pada lansia dan terdapat persamaan antara penyakit imun

(seperti artritis reumatoid, diabetes, tiroiditis, dan amiloidosis) dengan

fenomena menua di masyarakat.

3) Teori Telomer

Dalam pembelahan sel, DNA membelah dengan proses mekanisme

satu arah. Setiap pembelahan akan menyebabkan panjang ujung

telomer (ujung lengan pendek kromosom) berkurang panjangnya (65

rantai dasar asam amino) saat terjadi pemutusan duplikat kromosom.

Makin sering sel membelah, makin cepat ujung telomer memendek

dan akhirnya tidak mampu untuk membelah lagi.


15

4) Teori Hormonal

Pusat terjadinya proses penuaan terletak pada otak. Hal ini didasarkan

pada studi tentang hipotiroidisme yang dapat menjadi fatal apabila

tidak diobati dengan tiroksin. Manifestasi dari penuaan akan tampak

jika penyakit tersebut tidak segera ditangani seperti penurunan sistem

kekebalan, kulit yang mulai keriput, munculnya uban, dan penurunan

proses metabolisme secara perlahan.

5) Teori Mutasi Somatik ( error catastrophe )

Menurut teori ini terjadi penuaan karena adanya mutasi somatik yang

diakibatkan oleh pengaruh lingkungan yang buruk. Mutasi somatik

bisa terjadi karena adanya kesalahan dalam proses transkripsi DNA-

aRNA dan proses translasi RNA- a protein atau enzim, dan

berlangsung terus-menerus, sehingga terjadi penurunan fungsi organ

atau sel-sel menjadi kanker atau penyakit. (Suhana, 1994 dalam

Rahayu, 2002).

6) Teori Stres

Teori ini didasarkan pada fakta bahwa menua terjadi sebagai akibat

dari hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan

tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan

usaha dan stres yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai

kembali.
16

2.1.5.2 Teori Sosiopsikologis

1) Teori aktivitas atau kegiatan

Teori ini menyatakan bahwa lansia harus tetap aktif mengikuti

kegiatan di masyarakat untuk mencapai kesejahteraan pada usianya.

Aktivitas sosial dibutuhkan oleh lansia untuk mempertahankan

kepuasan hidup dan konsep diri yang positif. Lansia yang masih aktif

diharapkan tetap bersemangat dan tidak merasa terasingkan oleh

masyarakat karena faktor usia. Teori ini didasarkan pada tiga asumsi

bahwa lebih baik aktif daripada pasif, lebih baik bahagia daripada

murung, dan lansia sejahtera adalah lansia yang bisa selalu aktif dan

bahagia (Havighurst, 1972 dalam Leukenotte, 2000).

2) Teori Pembebasan

Dalam teori ini dijelaskan bahwa bertambahnya usia, seseorang

perlahan-lahan mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau

menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan

interaksi sosial pada lansia menurun, baik secara kualitas maupun

kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda, yaitu kehilangan

peran, hambatan kontak sosial, dan berkurangnya komitmen.

3) Teori kepribadian lanjut

Teori kepribadian lanjut menyangkal teori aktivitas dan teori

pembebasan. Perubahan yang terjadi pada seseorang yang usianya

telah lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe personaliti yang dimilikinya

(Havighurst, 1972 dalam Luekenotte, 2000).

4) Teori Lingkungan
17

1. Exposure Theory

Teori ini menyatakan bahwa paparan sinar matahari dapat

mengakibatkan percepatan proses penuaan

2. Radiation Theory

Adanya paparan radiasi sinar gamma, sinar X dan ultraviolet dari alat-

alat medis memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi

DNA

3. Polution Theory

Polusi udara, air, dan tanah mengandung substansi kimia yang

mempengaruhi kondisi epigenetik dan menimbulkan penuaan dini

4. Stress Theory

Stres fisik maupun psikis yang terjadi dapat meningkatkan kadar

kortisol dalam darah. Jika kondisi stres berlangsung terus-menerus,

maka proses penuaan akan terjadi lebih cepat.

2.1.6 Perubahan yang terjadi pada lansia

Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia menurut Nugroho (2000)

yaitu :

1) Perubahan Fisiologis

1. Sel : jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun,

dan cairan intraseluler menurun

2. Sistem persarafan : Saraf pancaindera mengecil, sehingga

fungsinya menurun serta lambat dalam merespons dan waktu

bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres.


18

3. Sistem pendengaran : Gangguan pendengaran karena membran

timpani menjadi atrofi. Tulang-tulang pendengaran mengalami

kekakuan

4. Sistem pengelihatan : Respon terhadap sinar menurun, adaptasi

terhadap gelap menurun, akomodasi menurun dan katarak

5. Sistem kardiovaskuler : Katup jantung menebal dan kaku,

kemampuan memompa darah menurun, elastisitas pembuluh darah

menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

sehingga tekanan darah meningkat

6. Sistem pengaturan suhu : Hipotalamus dianggap sebagai suatu

termostat yaitu menetapkan suhu tertentu, kemunduran terjadi

berbagai faktor yang sering ditemui antara lain temperatur tubuh

menurun secara fisiologik akibat metabolisme menurun,

keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi

panas.

7. Sistem respirasi : Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan

menjadi kaku, menurunnya aktivitas dari silia, paru-paru

kehilangan elastisitas

8. Sistem gastrointestinal : Esofagus melebar, asam lambung

menurun, lapar menurun, dan peristaltik menurun. Ukuran lambung

mengecil serta fungsi organ aksesori menurun, sehingga

menyebabkan berkurangnya produksi hormon dan enzim

pencernaan.
19

9. Sistem genitourinaria : Ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal

menurun, penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus

menurun

10. Sistem kulit : Keriput serta kulit kepala dan rambut menipis.

Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun,

vaskularisasi menurun, rambut memutih, kelenjar keringat

menurun.

11. Sistem muskuloskletal : Cairan tulang menurun sehingga mudah

rapuh, bungkuk, persendian membesar dan menjadi kaku, tremor

2) Perubahan mental

Di dalam perubahan mental pada usia lanjut, perubahan dapat

berupa sikap yang semakin egosentris, mudah curiga, bertambah pelit atau

tamak akan sesuatu. Faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara lain

perubahan fisik, kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan, dan

lingkungan (Nugroho, 2000).

3) Perubahan psikososial

Perubahan psikososial meliputi pensiun yang merupakan

produktivitas dan identitas yang dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan,

merasakan atau sadar akan kematian, perubahan dalam cara hidup, ekonomi

akibat dari pemberhentian dari jabatan, dan penyakit kronis.


20

2.2 Konsep Tidur

2.2.1 Pengertian

2.2.1.1 Tidur secara umum

Tidur adalah perubahan alami status kesadaran yang biasanya terjadi pada

manusia dalam irama biologis 24 jam atau bioritme (Brooker, 2009). Tidur

merupakan suatu keadaan tidak sadar dimana persepsi dan reaksi individu

terhadap lingkungan menurun atau hilang, dan dapat dibangunkan kembali dengan

indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi, 2008).

2.2.1.2 Kebutuhan tidur pada lansia

Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, usia lanjut membutuhkan

waktu tidur 6-7 jam per hari (Hidayat, 2008). Walaupun mereka menghabiskan

lebih banyak waktu di tempat tidur, tetapi usia lanjut sering mengeluh terbangun

pada malam hari, memiliki waktu tidur kurang total, mengambil lebih lama tidur,

dan mengambil tidur siang lebih banyak (Kryger et al, 2004). Kecenderungan

tidur siang meningkat secara progresif dengan bertambahnya usia. Peningkatan

waktu siang hari yang dipakai untuk tidur dapat terjadi karena seringnya

terbangun pada malam hari. Dibandingkan dengan jumlah waktu yang dihabiskan

ditempat tidur menurun sejam atau lebih (Perry& Potter, 2005).

Pada usia lanjut menunjukkan berkurangnya jumlah tidur gelombang

lambat, sejak dimulai tidur secara progresif menurun dan menaik melalui stadium

1 ke stadium IV, selama 70-100 menit yang diikuti oleh letupan REM. Periode

REM berlangsung kira-kira 15 menit dan merupakan 20% dari waktu tidur total.

Umumnya tidur REM merupakan 20-25% dari jumlah tidur, stadium II sekitar
21

50% dan stadium III dan IV bervariasi. Jumlah jam tidur total yang normal

berkisar 5-9 jam pada 90% orang dewasa. Pada usia lanjut efisiensi tidur

berkurang, dengan waktu yang lebih lama di tempat tidur namun lebih singkat

dalam keadaan tidur. Menurut Darmojo (2009), seiring bertambahnya usia,

terdapat penurunan periode tidur. Seorang usia lanjut membutuhkan waktu lebih

lama untuk masuk tidur (berbaring lama di tempat tidur sebelum tidur) dan

mempunyai lebih sedikit waktu tidur nyenyaknya.

2.2.2 Fase tidur

Menurut Asmadi (2008), fase tidur terbagi menjadi :

2.2.2.1 Tidur REM (Rapid Eye Movement )

Merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial yang berarti

bahwa tidur REM sifatnya nyenyak sekali, namun fisiknya yaitu gerakan

kedua bola mata sangat aktif. Tidur REM ditandai dengan mimpi, otot-otot

kendor, tekanan darah meningkat, gerakan mata cepat (mata cenderung

bergerak bolak-balik), sekresi lambung meningkat, ereksi penis pada laki-

laki, gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung, dan pernapasan sering

tidak teratur dengan ciri lebih cepat, serta suhu dan metabolisme

meningkat. Gejala seseorang yang mengalami kehilangan fase tidur REM,

yaitu :

1) Cenderung hiperaktif

2) Emosinya labil

3) Nafsu makan bertambah

4) Bingung dan curiga


22

2.2.2.2 Tidur NREM ( Non Rapid Eye Movement )

Merupakan tidur yang nyaman dan dalam dengan gelombang otak

yang lebih lambat dibanding pada orang yang sadar atau tidak tidur.

Tanda-tanda pada tidur NREM yaitu mimpi berkurang, tekanan darah

turun, kecepatan pernapasan dan metabolisme tubuh menurun, dan

gerakan bola mata melambat.

Tidur NREM memiliki empat tahap dan setiap tahap ditandai

dengan pola perubahan aktivitas gelombang otak. Tahapan tersebut yaitu :

1) Tahap I

Tahap ini adalah tahap transisi dimana seseorang beralih dari sadar

menjadi tidur. Pada tahap I ini ditandai dengan seseorang merasa kabur

dan rileks, seluruh otot menjadi lemas, kelopak mata mulai menutup

mata, kedua bola mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan

jantung dan pernapasan menurun, pada pemeriksaan EEG terjadi

penurunan voltasi gelombang-gelombang alfa pada otak. Pada tahap

ini, seseorang dapat dibangunkan dengan mudah.

2) Tahap II

Tahap ini merupakan tahap tidur yang ringan dan ditandai dengan

kedua bola mata yang mulai berhenti bergerak, tonus otot perlahan

berkurang, kecepatan pernapasan turun secara signifikan. Pada

pemeriksaan EEG, muncul gelombang beta yang berfrekuensi 14-18

siklus/detik, gelombang ini disebut dengan gelombang tidur. Tahap II

berlangsung 10-15 menit.


23

3) Tahap III

Pada tahap III ini, keadaan fisik lemah lunglai karena tonus otot lenyap

secara menyeluruh. Terdapat penurunan kecepatan jantung,

pernapasan, dan proses metabolisme tubuh akibat dominasi dari sistem

saraf parasimpatis. Pada EEG terlihat perubahan gelombang beta

menjadi 1-2 siklus / detik. Selama tahap III ini berlangsung, seseorang

sulit dibangunkan.

4) Tahap IV

Tahap ini merupakan tahap tidur dimana seseorang berada dalam

keadaan sangat rileks dan jarang bergerak serta sulit untuk

dibangunkan. Pada pemeriksaan EEG hanya tampak gelombang delta

yang lambat dengan frekuensi 1-2 siklus / detik. Denyut jantung dan

pernapasan menurun sekitar 30%. Dalam tahap ini seseorang akan

mengalami mimpi. Selain itu, keadaan tubuh akan pulih pada tahap ini.

Setelah tahap keempat, sebenarnya ada tahap kelima yaitu tahap

dimana kembali gerakan bola mata yang berkecepatan lebih tinggi dari

tahapan sebelumnya dan berlangsung salam 10-15 menit. Selama tidur

malam selama 7-8 jam, seseorang mengalami REM dan NREM secara

bergantian sekitar 4-6 kali.

Jika seseorang tidak mengalami fase tidur NREM, maka akan

muncul gejala :

1. Menarik diri, apatis, dan respon tubuh mengalami penurunan

2. Merasa kurang enak badan


24

3. Ekspresi wajah kuyu

4. Malas berbicara

5. Merasakan kantuk berlebihan

2.2.3 Fisiologi tidur

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang menghubungkan

mekanisme serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan pusat otak

untuk dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem

pengaktivasi retikularis. Sistem pengaktivasi retikularis mengatur seluruh

tingkatan kegiatan susunan saraf pusat, termasuk pengaturan kewaspadaan dan

tidur. Fisiologi tidur seseorang dapat terganggu seiring terjadinya proses penuaan

karena adanya kerusakan sensorik pada sistem saraf pusat. (Hidayat, 2008).

Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon

dan bagian atas pons. Dalam keadaan sadar, neuron dalam Reticular Activating

System (RAS) akan melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Selain itu, RAS

yang dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan,

juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi

dan proses pikir (Hidayat, 2008). Saat tidur terdapat pelepasan serum serotonin

dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu Bulbar

Synchronizing Regional (BSR). Sedangkan pada saat bangun bergantung dari

keseimbangan impuls yang diterima di pusat otak dan sistem limbik. Demikian,

sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah

RAS dan BSR (Hidayat, 2008). Menurut Potter dan Perry (2005) seseorang tetap

terjaga atau tertidur tergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dari

pusat yang lebih tinggi seperti pikiran, reseptor sensori perifer seperti stimulus
25

bunyi atau cahaya, dan sistem limbik seperti emosi. Orang yang mencoba tertidur

maka aktivasi RAS menurun dan BSR mengambil alih kemudian seseorang bisa

tertidur.

Gambar 2.1 Struktur tidur pada usia lanjut dibandingkan dengan anak dan dewasa
muda (H a p o n i k E F . D i s o r d e r S l e e p i n t h e E l d e r l y
d a l a m Principles of Geriatric Medicine and Gerontology.Mc Graw-Hill
Inc. 1990).

2.2.4 Fisiologi gelombang tidur

Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga ditunjukkan dengan

gelombang otak beta yang bercirikan frekuensi yang cepat yaitu lima belas hingga

dua puluh putaran perdetik dan bertegangan rendah yaitu kurang dari lima puluh
26

mikrovolt. Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk

memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat

frekuensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur. Gelombang ini

dinamakan gelombang alpha yang memiliki 8 hingga 12 putaran per detik yang

menggambarkan keadaan santai, tidak tegang tapi terjaga. Setelah beberapa menit

dalam keadaan alpha kecepatan napas mulai melambat. Ini adalah transisi tidur

awal (tidak nyenyak) yang ditandai oleh gelombang theta 50 hingga 100

mikrovolt, 4 hingga 8 putaran perdetik. Dalam keadaan permulaan tidur ini

denyut jantung melambat dan menjadi stabil, napas menjadi pendek-pendek dan

teratur. Tahap ini dapat berlangsung dari sepuluh detik hingga 10 menit dan

kadang disertai dengan citra visual yang disebut halusinasi hipnagogik, karena

otot rangka tiba-tiba mengendur, dan kadang mengalami sensasi seperti jatuh,

yang menyebabkan kita terbangun sebentar dengan gerakan yang menyentak,

keadaan ini dinamakan tidur tahap pertama. Tidur tahap kedua ditandai dengan

gelombang otak theta dengan disertai munculnya gelombang tunggal dengan

amplitudo tinggi dan munculnya sleep spidle (jarum tidur, karena terlihat di

monitor atau kertas perekam yang menunjukkan aktivitas otak). Pada tahap ini

gerakan dan ketegangan otot menurun berlangsung sekitar 10 hingga 20 menit

menandai permulaan tidur yang sebenarnya. Pada tahap ini seseorang biasanya

tidak dapat merespon rangsang dari luar, dan rerata bila seseorang dibangunkan

pada tahap ini akan merasa betul-betul telah tertidur (Setiyo, 2008).

Tahap selanjutnya setelah 20–30 menit adalah memasuki tahap ketiga

yaitu kombinasi theta dan delta (tegangan tinggidengan frekuensi sangat rendah).

Segera setelah tahap ke tiga ini dilanjutkan dengan tahap ke empat yaitu hilangnya
27

sama sekali gelombang theta dan hanya tinggal gelombang delta dengan 0,5 – 2

putaran perdetik, amplitudo 100 – 200 mikrovolt. Dalam tidur delta ini relaksasi

otot terjadi sepenuhnya, tekanan darah menurun, denyut nadi dan pernafasan

melambat. Pasokan darah ke otak berada pada batas minimal. Kondisi tidur

normal ini tidak selamanya dirasakan oleh seseorang yang akan memasuki tidur.

Gangguan dan kesulitan tidur seringkali mengganggu baik ketika memasuki tahap

pertama tidur ataupun ketika tidur berlangsung. Gangguan ini dapat terjadi karena

adanya permasalahan psikis maupun fisik, yang dapat menimbulkan kesulitan

seseorang untuk memasuki keadaan tenang. Keadaan cemas yang berlebihan akan

menyebabkan otot-otot tidak dapat rileks dan pikiran tidak terkendali (Setiyo,

2008).

2.2.5 Kualitas tidur

Kualitas tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu

menghasilkan kesegaran dan kebugaran saat terbangun. Kualitas tidur mencakup

aspek kuantitatif dari tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur serta aspek subjektif

dari tidur. Kualitas tidur merupakan kemampuan setiap orang untuk

mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap tidur REM dan

NREM yang pantas (Khasanah, 2012). Kualitas tidur lansia dipengaruhi beberapa

hal, yaitu pola tidur siang, lama tinggal di panti atau rumah sakit, dan kebiasaan

sebelum tidur. Lansia yang lebih lama tinggal di panti, memiliki kemampuan

adaptasi yang lebih baik daripada penghuni panti yang baru. Gangguan tidur

sering terjadi pada malam pertama di tempat perawatan jangka panjang atau

hospitalisasi yang lama, tetapi sulit tidaknya lansia tidur berhubungan dengan
28

kemampuan lansia dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru (Gitawati,

2007).

Adanya kualitas tidur yang buruk disebabkan seseorang mengalami

gangguan kebutuhan tidur. Gangguan tidur yang sering dialami seseorang terdiri

dari insomnia, hipersomnia, enuresis, narkolepsi, dan apnea tidur.

2.2.5.1 Insomnia

Insomnia adalah bukan bagian normal dari penuaan, tapi gangguan tidur

malam hari pada dewasa yang lebih tua, yang menyebabkan kantuk di siang hari

yang berlebihan (Cole & Richards,2007). Insomnia dapat berupa kesulitan untuk

tetap tidur atau pun seseorang yang terbangun dari tidur, tetapi merasa belum

cukup tidur (Japardi, 2002). Menurut Hidayat (2008), insomnia dibagi menjadi

tiga jenis yaitu :

1) Insomnia initial, yang merupakan ketidakmampuan untuk jatuh atau

mengawali tidur.

2) Insomnia intermiten, yang merupakan ketidakmampuan memepertahankan

tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur.

3) Insomnia terminal, yang merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali

setelah bangun tidur pada malam hari.

Sedangkan menurut Stanley (2006), insomnia dibagi menjadi

1) Jangka pendek

Berakhir beberapa minggu dengan muncul akibat pengalaman

stress yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang dicintai,

tekanan di tempat kerja. Biasanya kondisi ini dapat hilang tanpa intervensi

medis setelah orang itu beradaptasi dengan stressor.


29

2) Sementara

Biasanya disebabkan oleh perubahan-perubahan lingkungan seperti

konstruksi bangunan yang bising atau pengalaman yang menimbulkan

ansietas.

3) Kronis

Berlangsung selama 3 minggu atau seumur hidup. Disebabkan

kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis, penggunaan obat tidur

yang berlebihan, penggunaan alkohol yang berlebihan. Empat puluh

persen insomnia kronis disebabkan oleh masalah fisik seperti apnea tidur,

sindrom kaki gelisah, atau nyeri kronis.

2.2.5.2 Hipersomnia

Hipersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8 atau 9 jam per periode 24

jam, dengan keluhan tidur berlebihan (Stanley, 2006). Biasanya disebabkan oleh

masalah psikologis, depresi, kecemasan, dan gaya hidup yang membosankan.

Dengan pada ciri mengantuk di siang hari yang persisten, mengalami serangan

tidur.

2.2.5.3 Enuresis

Enuresis yaitu kencing yang tidak disengaja atau mengompol, paling

banyak terjadi pada laki-laki (Asmadi, 2008). Pada pria lansia dapat terjadi

hipertrofi kelenjar prostat yang menyebabkan tekanan pada leher kandung kemih

sehingga sering berkemih. Selain itu, hipertrofi prostat dapat mengakibatkan

kesulitan memulai dan mempertahankan aliran urine. Wanita lansia, terutama

wanita yang memiliki anak, dapat mengalami inkontinensia stress, yaitu terjadi

pelepasan urine involunter saat batuk, bersin, atau pun saat tidur tanpa disadari
30

mereka akan mengompol sehingga menyebabkan terbangun. Hal ini disebabkan

karena melemahnya otot kandung kemih pada lansia (Perry & Potter, 2005).

2.2.5.4 Narkolepsi

Merupakan keinginan yang tidak terkendali untuk tidur atau serangan

mengantuk mendadak, sehingga dapat tertidur pada setiap saat di mana serangan

tidur itu datang (Asmadi, 2008). Serangan mendadak yang dialami pada siang hari

tidak bisa dihindari, biasanya berlangsung 10-20 menit atau kurang dari 1 jam

(Copel, 2007). Gambaran tidur pada narkolepsi ini menunjukkan penurunan fase

REM 30-70 %. Terdapat empat gejala klasik penderita narkolepsi yaitu rasa

kantuk berlebihan (EDS), melemasnya otot secara mendadak (katapleksi), dan

sleep paralysis (keadaan ketika akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas

seperti tercekik, dada sesak, sulit berteriak, dan badan sulit bergerak) (Hanun,

2011).

2.2.5.5 Apnea tidur

Apnea tidur merupakan henti napas saat tidur atau mendengkur (Stanley,

2006). Yang disebabkan oleh rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan

di mulut. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas sering terjadi pada usia

lanjut karena otot-otot di bagian belakang mengendur lalu bergetar jika dilewati

udara pernapasan (Asmadi, 2008). Telah dilaporkan apnea napas terjadi pada 11%

sampai 62% pada usia lanjut (Cole & Richards, 2007). Sebagian besar penderita

apnea tidur ini adalah pria, dengan keluhan sering terbangun di malam hari,

banyak tidur di siang hari, mendengkur,dan nyeri kepala pada saat bangun

(Lumbantobing, 2004)
31

2.2.6 Faktor yang mempengaruhi kualitas tidur

1) Faktor psikologis dan stres

Menurut para spesialis masalah tidur, stres merupakan penyebab

kesulitan tidur jangka pendek nomor satu. Pemicu stres yang umum

dialami oleh masyarakat adalah masalah sekolah atau pekerjaan, masalah

keluarga atau pernikahan, dan penyakit serius atau musibah kematian

dalam keluarga. Biasanya masalah tidur akan menghilang seiring dengan

situasi stres yang berlalu. Jika masalah tidur disebabkan oleh insomnia dan

tidak segera ditangani, hal ini akan berlanjut meskipun stres yang menjadi

pemicu telah hilang (Rafiudin, 2004). Seseorang yang mengalami

kecemasan juga dapat terganggu kebutuhan tidurnya. Cemas dan depresi

akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur. Hal ini disebabkan

karena pada kondisi cemas akan meningkatkan norepinefrin dalam darah

melalui sistem saraf simpatis. Norepinefrin akan mengurangi tahap IV

pada NREM dan menghilangkan tahap REM (Asmadi, 2008)

2) Gaya hidup dan diet

Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Jika

seseorang mengalami kelelahan tingkat menengah, tidur nyenyak masih

dapat dialami. Namun bagi seseorang dengan kelelahan yang berlebihan,

dapat menyebabkan periode tidur REM lebih pendek (Asmadi, 2008).

Kebiasaan buruk atau tidak sehat yang dilakukan setiap hari dapat

mempengaruhi kualitas tidur dan kemudian menimbulkan gangguan. Gaya

hidup ini antara lain kebiasaan minum minuman beralkohol atau minuman

yang mengandung cafein di senja atau sore hari, berolahraga saat mau
32

tidur, mengikuti jadwal pagi dan malam hari yang tidak beraturan, dan

bekerja yang memerlukan aktivitas daya pikir sesaat sebelum tidur

(Rafiudin, 2004).

3) Kerja lembur

Pekerjaan yang memerlukan jam lembur / shift, dapat mengganggu

kebutuhan tidur seseorang. Pekerjaan ini menghalangi seseorang memiliki

kesempatan untuk tidur dengan jam tidur cukup dibanding seseorang yang

memiliki pekerjaan reguler di pagi hari (Rafiudin,2004)

4) Status kesehatan

Seseorang yang kondisi tubunya sehat, memungkinkan seseorang

dapat mengalami kualitas tidur yang baik. Namun pada orang yang sakit

dan mengalami nyeri, kebutuhan istirahat dan tidurnya mengalami

gangguan sehingga kualitas tidurnya menurun. (Asmadi, 2008). Penyakit-

penyakit seperti ISPA, gagal jantung, dan penyakit pembuluh darah sangat

berpeluang mengalami gangguan tidur. Seperti misalnya pada pasien

jantung, sangat sering mengalami kualitas tidur yang buruk. Pada pasien

dengan penyakit gagal jantung kongestif, adanya sesak di saat tidur atau

apnea, membuat pasien mengalami gangguan tidur berat. (Rafiudin, 2004).

5) Obat-obatan

Terapi pengobatan yang dikonsumsi seseorang ada yang

menyebabkan tidur, tetapi ada pula yang berefek mengganggu pola tidur,

seperti obat golongan amfetamin dapat menurunkan fase REM (Asmadi,

2008).
33

2.2.7 Penatalaksanaan gangguan tidur

2.2.7.1 Terapi Farmakologi

Seperti pada terapi nonfarmakologi, tujuan terapi farmakologi adalah

untuk menghilangkan keluhan pasien sehingga dapat meningkatkan kualitas

hidup pada usia lanjut (Galimi R., 2010). Ada beberapa prinsip dalam terapi

farmakologi yaitu:

1) menggunakan dosis yang rendah tetapi efektif,

2) dosis yang diberikan bersifat intermiten (3-4 kali dalam seminggu),

3) pengobatan jangka pendek (3-4 mimggu)

4) penghentian terapi tidak menimbulkan kekambuhan pada gejala insomnia,

5) memiliki efek sedasi yang rendah sehingga tidak mengganggu aktivitas

sehari-hari pasien.

Terapi farmakologi yang paling efektif untuk insomnia adalah golongan

Benzodiazepine (BZDs) atau nonBenzodiazepine. Obat golongan lain yang

digunakan dalam terapi insomnia adalah golongan sedating antidepressant,

antihistamin, antipsikotik. Menurut The NIH state of the Science Conference obat

hipnotik baru seperti eszopiclone, ramelteon, zaleplon, zolpidem dan zolpidem

MR lebih efektif dan aman untuk usia lanjut. Beberapa obat hipnotik yang aman

bagi usia lanjut :

1. Benzodiazepine

Benzodiazepine (BZDs) adalah obat yang paling sering digunakan untuk

mengobati insomnia pada usia lanjut. langsung pada reseptor benzodiazepine.


34

(Kamel & Gammack, 2006). Efek yang ditimbulkan oleh BZDs adalah

menurunkan frekuensi tidur pada fase REM, menurunkan sleep latency, dan

mencegah pasien terjaga di malam hari (Ada beberapa hal yang harus

diperhatikan dalam pemberian BZDs pada usia lanjut mengingat terjadinya

perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik terkait pertambahan umur

(Galimi, R., 2010). Absorpsi dari BZDs tidak dipengaruhi oleh penuaan akan

tetapi peningkatan masa lemak pada lanjut usia akan meningkatkan drug

elimination half life, disamping itu pada usia lanjut lebih sensitif terhadap

BZDs meskipun memiliki konsentrasi yang sama jika dibandingkan dengan

pasien usia muda. Pilihan pertama adalah short-acting BZDs serta

dihindari pemakaian long acting BZDs (Galimi, R., 2010).

BZDs digunakan untuk transient insomnia karena tidak dianjurkan

untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan lebih dari 4 minggu akan

menyebabkan tolerance dan ketergantungan. Golongan BZDs yang paling

sering dipakai adalah temazepam, termasuk intermediate acting BZDs

karena memiliki waktu paruh 8-20 jam. Dosis temazepam adalah 15-30 mg

setiap malam. Efek samping BZDs meliputi: gangguan psikomotor dan

memori pada pasien yang diterapi short-acting BZDs, sedangkan residual

sedation muncul pada pasien yang mendapat terapi long acting BZDs. Pada

pasien yang menggunakan BZDs jangka panjang akan menimbulkan resiko

ketergantungan, daytime sedation, jatuh, kecelakaan, dan fraktur (Kamel &

Gammack, 2006).
35

2. Non-Benzodiazepine

Memiliki efek pada reseptor GABA dan berikatan secara selektif

pada reseptor benzodiazepine subtife 1 di otak. Obat ini efektif pada usia

lanjut karena dapat diberikan dalam dosis yang rendah. Obat golongan ini

juga mengurangi efek hipotoni otot, gangguan prilaku, kekambuhan insomnia

jika dibandingkan dengan obat golongan BZDs. Zaleplon, Zolpidem dan

Eszopiclone berfungsi untuk mengurangi latensi tidur sedangkan Ramelteon

(Melatonin Receptor Agonist) digunakan pada pasien yang mengalami

kesulitan untuk mengawali tidur (Galimi, 2010). Obat golongan non-

Benzodiazepine yang aman pada usia lanjut:

3. Zaleplon

Ancoli- Israel menemukan keefektifan dan keamanan dari zaleplon pada

usia lanjut. Zaleplon dapat digunakan jangka pendek maupun jangka panjang,

tidak ditemukan terjadinya kekambuhan atau withdrawal symptom setelah

obat dihentikan. Dosis dari zaleplon 5-10 mg, akan tetapi waktu paruhnya

hanya 1 jam (Kamel & Gammack, 2006).

4. Zolpidem

Zolpidem merupakan obat hipnotik yang berikatan secara selektif pada

reseptor benzodiazepine subtife 1 di otak. Efektif pada usia lanjut karena tidak

mempengaruhi sleep architecture. Zolpidem memiliki waktu paruh 2,5-2,9

jam dengan dosis 5-10 mg. Zolpidem merupakan kontraindikasi pada sleep

related breathing disorder dan gangguan hati. Efek samping dari zolpidem

adalah mual, dizziness, dan efek ketergantungan jika digunakan lebih dari 4

minggu (Petit, dkk., 2003).


36

5. Eszopiclone

Golongan non-benzodiazepine yang mempunyai waktu paruh paling lama

adalah eszopiclone yaitu selama 5 jam pada pasien usia lanjut (Galimi,

2010). Scharf et al dalam penelitiannya menyimpulkan eszopiclone 2 mg

dapat menurunkan sleep latency, meningkatkan kualitas dan kedalaman tidur,

meningkatkan TST pada pasien usia lanjut dengan insomnia primer (Scharf

M., dkk., 2005). Krystal AD et al dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa

eszopiclone 3 mg setiap malam dapat membantu mempertahankan tidur dan

meningkatkan kualitas tidur pada pasien usia lanjut dengan insomnia kronik

(Krystal, dkk., 2003).

6. Melatonin reseptor agonist

Melatonin Reseptor Agonist (Ramelteon) obat baru yang

direkomendasikan oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi

insomnia kronis pada usia lanjut. Ramelteon bekerja secara selektif pada

reseptor melatonin MT1 dan MT2. Dalam penelitian yang dilakukan dengan

metode A randomized, double blind study selama 5 minggu pada 829 sampel

berumur rata-rata 72,4 tahun dengan chronic primary insomnia disimpulkan

terjadi penurunan latensi tidur dan peningkatan TST pada minggu pertama.

Ramelteon tidak menimbulkan withdrawal effect (Petit, dkk., 2003).

7. Sedating Antidepressant

Sedating antidepressant hanya diberikan pada pasien insomnia yang

diakibatkan oleh depresi. Amitriptiline adalah salah satu sedating

antidepressant yang digunakan sebagai obat insomnia, akan tetapi pada usia
37

lanjut menimbulkan beberapa efek samping yaitu takikardi, retensi urin,

konstipasi, gangguan fungsi kognitif dan delirium. Pada pasien usia lanjut juga

dihindari penggunaan trisiklik antidepresan (Galimi, 2010). Obat yang paling

sering digunakan adalah trazodone. Walsh dan Schweitzer menemukan bahwa

trazodone dosis rendah efektif pada pasien yang mengalami insomnia oleh

karena obat psikotik atau monoamnie oxidase inhibitor dan pada pasien yang

memiliki kontraindikasi terhadap BZDs. Dosis trazodone adalah 25-50 mg

perhari, efek samping dari trazodone adalah: kelelahan, gangguan sistem

pencernaan, dizziness, mulut kering, sakit kepala dan hipotensi (Kamel &

Gammack, 2006).

2.2.7.2 Non farmakologik

1) Higene tidur

Memberikan lingkungan dan kondisi yang kondusif untuk tidur merupakan

syarat mutlak untuk gangguan tidur. Jadwal tidur-bangun dan latihan fisik

sehari-hari yang teratur perlu dipertahankan. Kamar tidur dijauhkan dari

suasana tidak nyaman. Penderita diminta menghindari latihan fisik berat

sebelum tidur. Tempat tidur jangan dijadikan tempat untuk menumpahkan

kemarahan. Perubahan kebiasaan, sikap, dan lingkungan ini efektif untuk

memperbaiki tidur. Edukasi tentang higene tidur merupakan intervensi efektif

yang tidak memerlukan biaya (Petit, dkk., 2003).

2) Terapi pengontrolan stimulus

Terapi ini bertujuan untuk memutus siklus masalah yang sering dikaitkan

dengan kesulitan memulai atau jatuh tidur. Terapi ini membantu mengurangi

faktor primer dan reaktif yang sering ditemukan pada insomnia.


38

3) Sleep Restriction Therapy

Membatasi waktu di tempat tidur dapat membantu mengkonsolidasikan

tidur. Terapi ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa

bisa tertidur. Misalnya, bila pasien mengatakan bahwa ia hanya tertidur lima

jam dari delapan jam waktu yang dihabiskannya di tempat tidur, waktu di

tempat tidurnya harus dikurangi. Tidur di siang hari harus dihindari. Lansia

dibolehkan tidur sejenak di siang hari yaitu sekitar 30 menit. Bila efisiensi

tidur pasien mencapai 85% (rata-rata setelah lima hari), waktu di tempat

tidurnya boleh ditambah 15 menit. Terapi pembatasan tidur, secara

berangsurangsur, dapat mengurangi frekuensi dan durasi terbangun di malam

hari (Petit, dkk., 2003).

4) Terapi relaksasi dan biofeedback

Terapi ini harus dilakukan dan dipelajari dengan baik. Menghipnosis diri

sendiri, relaksasi progresif, dan latihan nafas dalam sehingga terjadi keadaan

relaks cukup efektif untuk memperbaiki tidur. Pasien membutuhkan latihan

yang cukup dan serius. Biofeedback yaitu memberikan umpan-balik perubahan

fisiologik yang terjadi setelah relaksasi. Umpan balik ini dapat meningkatkan

kesadaran diri pasien tentang perbaikan yang didapat. Teknik ini dapat

dikombinasi dengan higene tidur dan terapi pengontrolon tidur (Petit, dkk.,

2003).

2.2.8 Pengkajian istirahat tidur

Menurut Asmadi (2008), aspek yang perlu dikaji pada klien untuk

mengidentifikasi mengenai gangguan kebutuhan istirahat tidur meliputi

pengkajian mengenai :
39

1) Pola tidur, seperti jam berapa klien masuk kamar untuk tidur, jam berapa

biasa bangun tidur dan keteraturan pola tidur klien.

2) Kebiasaan yang dilakukan klien menjelang tidur, seperti membaca buku,

buang air kecil dan lain-lain.

3) Gangguan tidur yang sering dialami klien dan cara mengatasinya

4) Adanya kebiasan tidur siang atau tidak

5) Lingkungan tidur klien, bagaimana kondisi lingkungan tidur klien, apakah

kondisinya bising, gelap, atau suhunya dingin dan lain-lain.

6) Peristiwa yang baru dialami klien dalam hidup, perawat mempelajari

apakah peristiwa yang dialami klien yang menyebabkan klien gangguan

tidur.

7) Status emosi dan mental klien. Status emosi dan mental mempengaruhi

terhadap kemampuan klien untuk istirahat dan tidur. Perawat perlu

mengkaji mengenai status

8) Emosi dan mental misalnya apakah klien mengalami stress emosional atau

ansietas, yang dikaji sumber stress yang dialami klien.

9) Perilaku deprivasi tidur yaitu manifestasi dan perilaku yang timbul sebagai

akibat gangguan istirahat tidur seperti :

1. Penampilan wajah misalnya adakah area gelap di sekitar mata,

bengkak dikelopak mata, konjungtiva kemerahan, mata terlihat cekung

dan lain-lain

2. Perilaku yang terkait dengan gangguan istirahat tidur misalnya apakah

klien mudah tersinggung, selalu menguap, kurang konsentrasi, terlihat

bingung dan lain-lain.


40

3. Kelelahan misalnya apakah klien tampak lelah, letih, lesu dan lain-lain.

Selain itu informasi tambahan mengenai istirahat tidur dapat menggunakan

kuesioner untuk tujuan penelitian serta untuk evaluasi klinis. Ada tiga contoh

instrument untuk pengkajian kebutuhan istirahat tidur antara lain Stanford

Sleepiness Scale (SSS), The Epworth Sleepiness Scale (ESS), The Pittburgh Sleep

Quality Index (PSQI). Dimana SSS dan ESS digunakan untuk mengukur perasaan

mengantuk atau kelelahan pada waktu tertentu, tetapi ESS lebih mengukur

kecenderungan tertidur dan jatuh tidur pada waktu tertentu.Sedangkan PSQI yang

mempunyai 9 item digunakan untuk mengukur kualitas tidur subjektif, latensi

tidur, durasi tidur, kebiasaan tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan

disfungsi siang hari selama satu bulan terakhir. Penilaian dengan skala PSQI ini

menggunakan kunci scoring untuk keseluruhan tujuh pasien, yang masing-masing

berkisar dari 0 sampai 3. Semua nilai dihitung dan menghasilkan nilai keseluruhan

taun global yang berkisar dari 0 sampai 21. Nilai keseluruhan 5 atau lebih yang

menununjukkan kualitas tidur yang buruk, semakin tinggi nilai maka semakin

buruk kualitas tidur (Smyth, 2007).

2.3 Penatalaksanaan dengan Musik

2.3.1 Pengertian

Penatalaksanaan dengan musik atau yang lebih dikenal sebagai intervensi

musik terdiri dari dua kata, yaitu “intervensi” dan “musik”. Kata “intervensi”

berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk membantu atau

menolong orang. Biasanya kata tersebut digunakan dalam konteks pada masalah

fisik. Kata “musik” dalam intervensi musik digunakan untuk menjelaskan media

yang secara khusus digunakan dalam rangkaian proses terapi. Intervensi musik
41

adalah sebuah terapi yang bersifat nonverbal karena dengan bantuan musik,

pikiran klien dibiarkan untuk mengenang hal-hal yang membahagiakan,

membayangkan ketakutan yang dirasakan, mengangankan hal-hal yang dicita-

citakan. (Djohan, 2006)

Intervensi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental

dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk

dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat

untuk kesehatan fisik dan mental. Musik memiliki kekuatan untuk mengobati

penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik

diterapkan menjadi sebuah intervensi, musik dapat meningkatkan, memulihkan,

dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini

disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat

nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Perlu diingat

bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu ber-irama. Sebagai contoh,

nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama (Pusat

Riset Intervensi musik, 2011).

2.3.2 Manfaat musik

Manfaat musik antara lain :

1) Musik merangsang fungsi otak

Musik dapat memberi rangsangan pertumbuhan fungsi pada otak

(fungsi ingatan, belajar, bahasa, mendengar dan bicara, serta analisis,

intelek, dan fungsi kesadaran) dan merangsang pertumbuhan gudang

ingatan. (Satyadarma, 2002). Efek Mozart adalah salah satu istilah untuk

efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan


42

intelegensia seseorang (Satyadarrna, 2002). Penelitian menunjukkan

bahwa gelombang otak dapat dimodifikasi oleh musik dan suara-suara

yang ditimbulkannya. Semakin lamban gelombang otak, individu

semakin merasa rileks, puas, dan tenang. Seperti halnya meditasi, yoga,

sugesti dan latihan lain untuk menyatukan fisik dan pikiran. Musik

dengan tempo lambat sekitar 60 beat / menit, dapat mengubah tingkat

kesadaran dari susunan gelombang beta ke gelombang alfa, sehingga

meningkatkan tingkat rileks dan ketenangan (Campbell,2002).

2) Musik mempengaruhi detak jantung, nadi, dan tekanan darah

Detak jantung manusia berespon terhadap beberapa variabel musik

seperti frekuensi, tempo, volume, dan cenderung cepat atau lambat sesuai

irama musik. Seperti halnya dengan pernafasan, detak yang lambat

membuat tekanan darah dan stres menurun, membantu tubuh

menyembuhkan diri sendiri dan dapat menenangkan pikiran (Barnason,

1995).

3) Musik mempengaruhi sistem respirasi

Bernafas dengan pola lambat dan dalam dapat menimbulkan rasa

ketenangan, kontrol emosi, berpikir dalam dan metabolisme tubuh

menjadi lebih baik. Dengan memperlambat tempo musik, pada umumnya

seseorang mampu memperlambat pernafasan, sehingga pikiran menjadi

tenang (Campbell,2002).

4) Musik mempengaruhi suhu tubuh

Musik mempengaruhi suhu tubuh dan berpengaruh terhadap

kemampuan tubuh beradaptasi pada perubahan suhu. Musik yang lembut


43

dengan tempo lambat dan berefek menurunkan suhu tubuh dan membuat

suhu tubuh stabil. Musik mengatur suhu tersebut melalui sirkulasi, detak

nadi, pernafasan, dan keringat (Campbell, 2002).

5) Musik menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan kemampuan

gerak serta koordinasi.

Persarafan auditorik menghubungkan telinga tengah dengan sistem

otot seluruh tubuh melalui sistem saraf otonomik, karena hal itu kekuatan

otot, fleksibilitas dan tonus otot dipengaruhi oleh musik dan vibrasinya

(Campbell, 2002).

Dalam Indrawanto (1997), dijelaskan bahwa musik jenis klasik dan

pop, dapat menurunkan ketegangan otot dan membuat individu menjadi

rileks. Selain itu dijelaskan juga bahwa musik dengan frekuensi 40-66

hertz, beresonansi pada regio punggung bawah pelvis, paha, dan kaki.

Sedangkan semakin tinggi frekuensi musik, akan berefek lebih terasa

pada dada atas, leher, dan kepala.

6) Musik menstimulasi pencernaan

Menurut Campbell (2002), menjelaskan bahwa musik rock

membuat orang makan dengan cepat dan tidak terasa dalam jumlah

banyak. Sedangkan pada musik klasik dan berirama lambat dapat

membuat orang makan dengan perlahan dan menikmati makanan

tersebut.

2.3.3 Mekanisme mendengar

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh

daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau
44

tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani

diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang

akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan

perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkap lonjong.

Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang

menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule

bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong

endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran

basilaris dan membrane tektoria (Guyton, 2007). Proses ini merupakan

rangsang mekanik yang menyebabkan terjadi defleksi stereosilia sel-sel

rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan

listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel

rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang

akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke

nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus

temporalis (Iskandar Nurbaiti, dkk., 2007).

Menurut Chandra (2007) Dalam Harnita (1995) Telinga manusia

hanya mampu menangkap suara yang ukuran intensitasnya 80 dB (batas

aman) dan dengan frekuensi suara sekitar bekisar antara 20-20.000Hz.

Lebar responden telinga manusia diantara 0 dB-140 dB yang dapat

didengar. Dan batas intensitas suara tertinggi adalah 140 dB dimana untuk

mendengarkan suara itu sudah timbul perasaan sakit pada alat pendengaran

(Doelle, 1993).
45

2.3.4 Musik sebagai terapi

Penggunaan musik sebagai terapi didasarkan pada beberapa alasan berikut

menurut Djohan (2005), yaitu :

1) Sebagai fokus perhatian dan atau mengatur latihan. Contohnya seorang

wanita yang menggunakan musik dalam proses persalinan sesuai

dengan pilihan musik dan disesuaikan dengan metode melahirkan, atau

dapat pula pada pasien yang menggunakan musik sebagai sebuah

motivasi untuk terapi latihan fisik

2) Meningkatkan hubungan terapi seorang pasien dan atau keluarga.

Contohnya seorang terapis mengembangkan hubungan yang terbuka

dengan seorang penderita remaja dengan menggunakan musik

kegemaran remaja tersebut.

3) Memprakarsai proses belajar. Contohnya seorang anak diajarkan

mengatur diri untuk membiasakan belajar disiplin diri oleh terapis

dengan mengajarkan tahapannya melalui sebuah lagu.

4) Sebagai audioanalgesik atau penenang atau sebaliknya untuk

menimbulkan pengaruh biomedis yang positif atau psikososial. Pada

penderita penyakit kronis misalnya, diajarkan menggunakan musik

untuk menurunkan gejala fisiologis dan kadar stres dengan

mengalihkan perhatian dari rasa sakit, dan atau mengubah persepsi

secara langsung dengan menurunkan tingkat persepsi terhadap rasa

sakit.

5) Sebagai penata kesehatan dalam hal keterampilan fisiologis, emosi,

dan gaya hidup. Seorang klien belajar memainkan piano untuk


46

mengatasi depresi yang dialami. Orang yang berpartisipasi dalam

kelompok kebugaran akan lebih mudah melaksanakan perintah jika

musik latar yang dipergunakan sesuai dengan gerakannya.

6) Mengatur kegembiraan dan interaksi personal yang positif. Contohnya

anggota keluarga klien sebagai kelompok penunjang, melakukan

diskusi tentang sebuah lirik lagu, penulisan lagu, bernyanyi dan

berimprovisasi untuk meningkatkan rasa saling percaya dan kerjasama

satu sama lain dengan panduan seorang fasilitator.

2.3.5 Musik sebagai pengantar tidur

Musik dengan tempo lamban memberikan rangsangan pada korteks serebri

(korteks auditorius primer dan sekunder) sehingga dapat menyeimbangkan

gelombang otak menuju gelombang otak α yang menandakan ketenangan

dan mengurangi ketegangan otot (Nursalam, 2007). Rangsangan musik

pada korteks serebri akan diteruskan ke serat saraf nuklei rafe sehingga

dapat menghambat sinyal nyeri yang masuk dan mampu menstimulus

sekresi serotonin yang merupakan bahan transmitter utama yang berkaitan

dengan timbulnya keadaan tidur (Guyton&hall, 1997). Musik yang

memiliki karakteristik lembut dan santai dapat membantu menjaga

keseimbangan homeostasis tubuh melalui jalur HPA axis, yang dapat

merangsang produksi β endorphin dan enkephalin yang merupakan

neurotransmitter tidur. Β endorphin dan enkephalin mampu membuat

tubuh menjadi rileks, rasa nyeri berkurang, dan menimbulkan rasa senang

sehingga lansia dapat lebih mudah tertidur (Nursalam, 2007).


47

2.3.6 Musik instrumental

Instrumental adalah memainkan musik tanpa syair. (Hendro, 2005).

Musik instrumental adalah musik yang memiliki media atau sarana utama

berupa bunyi-bunyian dari alat musik, baik alat musik tunggal maupun

berbagai alat musik yang dikomposisikan sedemikian rupa sehingga

menghasilakn karya seni musik yang menawan.

Menurut Kate dan Richard Mucci (2008), seseorang harus

menemukan nada yang bisa menstimulasi bagian tubuh yang kurang sehat.

Biarkan tubuh menyerap getaran tersebut ketika seseorang memusatkan

perhatian pada gelombang suara yang memasuki bagian tubuhnya.

Seseorang dianjurkan untuk mencoba beberapa nada dan secara intuitif

akan dapat merasakan nada seperti apa yang dapat membantu. Seseorang

juga diminta untuk memainkan suatu alat musik untuk membunyikan

rangkaian nada tersebut selama dua puluh satu menit setiap periodenya.

Jenis musik instrumental ada berbagai macam seperti musik klasik,

jazz, perkusi, rock dan musik tradisional. Diantara semua jenis musik

instrumental tersebut, jenis musik yang dapat digunakan sebagai intervensi

relaksasi seseorang adalah musik klasik.

1) Jenis Suara Instrumen Musik

Memahami jenis suara/kesan suara yang dihasilkan oleh instrumen

musik dibutuhkan kepekaan rasa. Menurut jenisnya suara instrumen

musik dibedakan menjadi :


48

1. Instrumen bersuara Tunggal (Ritmik)

Instrumen musik yang bunyinya tidak bernada/tidak menghasilkan

nada

Contoh : Marawis, snar drum dll

2. Instrumen bersuara majemuk (Melodik)

Instrumen musik yang bunyinya menghasilkan nada

Contoh: gitar, piano, biola dsb.

2) Macam – macam instrumen musik menurut sumber bunyi

Dalam memainkan alat musik diperlukan pengetahuan yang memadai,

bakat dan kreativitas pemain. Macam-macam instrumen musik

menurut sumber bunyinya :

1. Idiofon

Bunyi yang dihasilkan dari badan instrumen tersebut. Contoh

:triangle, castanyet, gong

2. Membranofon

Bunyi yang dihasilkan dari membran/selaput yang ditegangkan.

Contoh:, gendang, marawis, drum dan sebagainya.

3. Kardofon

Bunyi yang dihasilkan dari dawai/snar yang ditegangkan. contoh,

gitar, biola, cello dan sebagainya.

4. Aerofon

Bunyi yang dihasilkan oleh udara/satuan udara dalam instrumen

tsb. Contoh: seruling.


49

5. Elektrofon

Instrumen musik yang bunyinya dibantu dengan rangkaian

elektronik dan menggunakan daya listrik.

Contoh: gitar listrik, keyboard dsb.

3) Musik klasik

Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya mengarah

pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian

Barat, sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21 (Oxford, 2007).

Musik klasik mempunyai fungsi menenangkan pikiran dan

katarsis emosi, serta dapat mengoptimalkan tempo, ritme, melodi, dan

harmoni yang teratur dan dapat menghasilkan gelombang alfa serta

gelombang beta dalam gendang telinga sehingga memberikan

ketenangan yang membuat otak siap menerima masukan baru, efek

rileks, dan menidurkan (Nurseha dan Djaafar, 2002). Selain itu musik

klasik berfungsi mengatur hormon-hormon yang berhubungan dengan

stres antara lain ACTH, prolaktin, dan hormon pertumbuhan serta

dapat meningkatkan kadar endorfin sehingga dapat mengurangi nyeri

juga kecemasan. (Champbell, 2001).

2.4 Sugesti

2.4.1 Definisi

Sugesti adalah cara pemberian suatu pengaruh oleh seseorang

kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga orang tersebut mengikuti

pengaruh yang diberikan tanpa harus berpikir panjang. (Sunaryo, 2004).


50

Sugesti dapat diberikan dari seorang individu kepada kelompok, kelompok

pada kelompok, atau kelompok pada individu.

Bentuk sugesti itu sendiri, bermacam-macam. Sugesti dapat berupa

sikap atau tindakan, reklame atau iklan yang dimuat di media cetak

maupun media elektronik. Sugesti akan mudah berhasil pada orang yang

sedang berada dalam kondisi lemah, tertekan, atau frustasi. (Dhohiri dkk,

2007).

2.4.2 Syarat

Ada beberapa syarat sugesti dari beberapa sumber yang ada, yaitu :

1) Menurut Hisyam (2012), syarat sugesti yaitu :

1. Sederhana : tidak bertele-tele dan lugas. Sugesti sebaiknya menggunakan

kata yang mudah dimengerti, tidak membingungkan, dan tidak klise.

2. Positif : kata-kata yang digunakan sebaiknya bermakna positif. Perlu

dihindari pemakaian kata “jangan”.

2) Menurut Saiful Anam (2011), sugesti memiliki syarat sederhana yaitu

singkat, dapat menimbulkan harapan nyata, memiliki kejelasan bahasa dan

arti, dan terdapat batasan waktu yang jelas.

3) Menurut Christina Lia Uripni, dkk (2003), syarat sugesti dapat berhasil

apabila dilakukan dalam :

1. Masyarakat yang otoritas. Maknanya adalah proses sugesti cenderung

berhasil pada orang-orang yang sikapnya menerima pandangan tertentu

dari seseorang yang memiliki keahlian tertentu sehingga dianggap

otoritas dalam keahlian tersebut.


51

2. Mayoritas yang berarti bahwa seseorang akan mudah menerima

pandangan ketika pandangan tersebut dijunjung oleh mayoritas atau

sebagian besar golongan masyarakat.

3. Adanya kepercayaan penuh yaitu dengan penerimaan sikap atau

pengaruh tanpa pertimbangan mendalam karena pengaruh tersebut sudah

ada pada diriindividu yang bersangkutan.

Dari beberapa sumber diatas, syarat sugesti terdiri dari menggunakan bahasa

yang sederhana dan positif, nyata dan memiliki kejelasan arti serta batasan waktu.

Sugesti dapat berhasil jika dilakukan dalam masyarakat otoritas yang memiliki

mayoritas dan terdapat kepercayaan penuh.

2.4.3 Proses

Di dalam tubuh manusia, memiliki 2 macam pikiran. Pikiran sadar

(conscious mind) adalah proses mental yang anda sadari dan bisa anda kendalikan

yang ada di dalam otak kiri. Pikiran bawah sadar (subconscious mind) yang

berada di otak kanan adalah proses mental yang berfungsi secara otomatis

sehingga seseorang tidak menyadarinya. Besarnya pengaruh pikiran sadar

terhadap seluruh aspek kehidupan seseorang, misalnya sikap, kepribadian,

perilaku, kebiasaan, cara pikir, dan kondisi mental seseorang hanya 12%.

Besarnya pengaruh pikiran bawah sadar adalah 88%. Pikiran bawah sadar

mengendalikan tubuh manusia 9 kali lebih kuat dibandingkan pikiran sadar

(Yovan, 2008).

Pikiran sadar mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk,

membandingkan dengan data yang sudah ada dalam memori seseorang,


52

menganalisa data yang baru masuk tersebut dan memutuskan data baru akan

disimpan, dibuang atau diabaikan sementara. Sementara itu pikiran bawah sadar

yang kapasitasnya jauh lebih besar dari pikiran sadar mempunyai fungsi yang jauh

lebih komplek. Semua fungsi organ tubuh manusia diatur cara kerjanya dari

pikiran bawah sadar. Selain itu nilai-nilai yang dianut, sistem kepercayaan dan

keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini. Memori jangka panjang

juga terdapat dalam pikiran bawah sadar.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Hipnoterapi)

Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa proses memasukkan sugesti

(hipnotherapi) menstimulir otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia

yang terdapat diotak, encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk

meningkatkan mood sehingga dapat mengubah penerimaan individu terhadap

sakit atau gejala fisik lainnya. Sementara menurut Profesor John Gruzelier,

seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, guna

menginduksi otak dilakukan dengan memprovokasi otak kiri untuk non aktif dan

memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak

secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat otak fokus pada

suatu hal secara monoton menggunakan suara dengan intonasi datar (seolah-olah

tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan) (Yovan, 2006). Secara umum

mekanisme kerja hypnotherapy sangat terkait dengan aktivitas otak manusia.

Aktivitas ini sangat beragam pada setiap kondisi yang diindikasikan melalui

gelombang otak yang dapat diukur menggunakan alat bantu EEG

(Electroenchepalograph). Berikut diuraikan berbagai gelombang otak disertai

dengan aktivitas yang terkait:


53

1. Beta (14 - 25 Hz) (normal); Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman,

kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kecemasan, ketidaknyamanan,

kondisi lawan/lari

2. Alpha (8 – 13 Hz) (meditatif); Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks,

kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur,

meditasi, awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious)

3. Theta (4 – 7 Hz) (meditatif); Tidur bermimpi (tidur REM/Rapid Eye

Movement), peningkatan produksi katekolamin (sangat vital untuk

pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreatifitas, pengalaman emosional,

berpotensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang

dipelajari, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar

(unconscious)

4. Delta (0,5 – 3 Hz) (tidur dalam) ; Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon

pertumbuhan, kondisi non fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke

pikiran bawah sadar (unconscious) dan memberikan sensasi yang sangat

mendalam ketika diinduksi dengan sugesti.

Otak kanan terutama akan aktif jika manusia sedang rileks. Semakin ia

rileks semakin otak kanan bisa bekerja dengan baik. Otak kanan tidak memiliki

fungsi analitis, tetapi lebih berfungsi secara kreatif dan mudah disugesti. Sugesti

akan lancar apabila dapat diterima dan diproses oleh otak kanan, bukan otak kiri

(Yovan, 2006).

2.5 Teori Keperawatan

Teori keperawatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang

dikemukakan oleh Miller yaitu teori Promoting Sleep Wellness in Older Adults.
54

Siklus tidur lansia dikelompokkan menurut kuantitas waktu yang dihabiskan

lansia saat terbangun menuju tidur, kedalaman serta kualitas tidur secara

keseluruhan. Pertambahan usia dapat mempengaruhi keseluruhan kuantitas tidur

lansia, tetapi tidak secara signifikan mempengaruhi kualitas tidur dan kuantitas

istirahat. Ketidakmampuan untuk memulai mempertahankan tidur merupakan

masalah yang sering dikeluhkan oleh lansia.

Teori keperawatan yang dikemukakan oleh Miller tentang Promoting

Sleep Wellness in Older Adults menjelaskan pengkajian keperawatan terhadap

tidur lansia, faktor yang mempengaruhi tidur lansia dan intervensi keperawatan

yang dapat dilakukan untuk memperoleh perbaikan kualitas tidur lansia.

2.5.1 Pengkajian keperawatan untuk pola tidur

1) Mengidentifikasi Kemungkinan untuk Promosi Kesehatan

Perawat mengkaji pola tidur untuk menilai keadekuaatan pola tidur lansia dan

untuk mengidentifikasi faktor resiko yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas

tidur. Selama pengkajian, perawat mendengar beberapa indikasi dari kurangnya

pengetahuan yang dapat mempengaruhi gangguan tidur. Identifikasi faktor

pengetahuan dapat menjadi panduan untuk kebutuhan promosi kesehatan.

2) Menggunakan Alat Pengkajian Tidur

Perawat dapat mengkaji riwayat tidur dengan meminta lansia untuk memiliki

diari tidur-bangun untuk membantu mengidentifikasi area masalah dan

merencanakan intervensi. Perawat dapat menggunakan PSQI (the Pittsburgh Sleep

Quality Index) untuk menkaji pola dan kualitas tidur lansia dalam setting layanan

kesehatan.
55

2.5.2 Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul jika diperoleh data bahwa lansia

memiliki gangguan tidur adalah gangguan pola tidur. Gangguan pola tidur adalah

keadaan dari seorang individu yang memiliki resiko atau mengalami perubahan

kualitas atau kuantitas dari pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan

atau penurunan kualitas tidur. Faktor umum yang berhubungan adalah nyeri,

ansietas, depresi, nokturia, inkontinensia, efek pengobatan, perubahan hormon

menopaus, perubahan lingkungan atau kondisi, dan kondisi patologi seperti

demensia.

2.5.3 Perencanaan untuk perbaikan pola tidur

Nursing Outcomes Classification (NOC) yang dapat dirumuskan adalah

perbaikan kualitas tidur yang ditandai dengan lansia melaporkan perubahan pola

tidur dengan meningkatnya level kenyamanan, perbaikan kualitas hidup secara

keseluruhan.

2.5.4 Intervensi keperawatan untuk perbaikan tidur

2.5.4.1 Promosi Kesehatan Pola Tidur

Promosi kesehatan yang dapat diajarkan kepada lansia tentang tidur adalah

1) Kegiatan yang harus dilakukan

1. Membangun kebiasaan tidur yang efektif dan menjalankannya setiap

malam

2. Membuat jadwal harian untuk bangun, istirahat dan tidur


56

Tabel 2.1 Jadwal Harian Kegiatan Lansia di Griya Lansia Santo Yosef
Surabaya
Hari Jam Aktivitas
Senin – Sabtu 05.00 Bangun pagi
05.00-06.00 MCK
06.00-06.30 Doa pagi
06.30-07.30 Sarapan pagi
08.00 – 10.00 Kegiatan / Hiburan
10.00-10.30 Snack
10.30-11.30 Istirahat dan mendengarkan musik
klasik rohani
12.00-12.30 Doa siang
12.30-13.30 Makan siang
14.00 – 15.30 Tidur siang
15.30 – 16.30 MCK
17.00-18.00 Makan Malam
18.00-18.30 Doa Sore
19.00 Tidur
Minggu 08.00-09.30 Misa Pagi

3. Melakukan mandi air hangat pada awal malam

4. Setelah jam 13.00 WIB, hindari makanan dan obat-obatan yang

mengandung kafein termasuk kopi, permen soklat, coklat hangat serta

menghindari alkohol, gula.

5. Mengkonsumsi makanan yang dapat mendukung tidur seperti susu

hangat, teh kamomile, dan makanan ringan dengan karbohidrat

kompleks.

6. Menggunakan satu atau lebih metode relaksasi: imajinasi, meditasi,

napas dalam, latihan pasif, musik lembut, pijat tubuh atau kaki.

2) Kegiatan yang harus dihindari

1. Jangan minum alkohol sebelum tidur, jika mau minum alkohol cukup

dalam jumlah kecil.


57

2. Jangan merokok pada sore hari

3. Jika waktu tidur berubah sementara, coba untuk menjaga waktu bangun

mendekati waktu biasanya.

4. Jangan gunakan tempat tidur untuk membaca atau aktivitas lain.

5. Jika terbangun pada malam hari dan tidak bisa kembali tidur, pergi dari

tempat tidur setelah 30 menit dan lakukan aktivitas seperti membaca di

ruangan lain.

3) Nutrisi

1. L-tryptophan memiliki efek hipnotis, yang terdapat dalam susu, telur,

ikan, kacang-kacangan dan sayuran daun hijau

2. Makan makanan dengan masukan zink, kalsium, magnesium, mangan,

vitamin C dan vitamin B kompleks

3. Vitamin E dan asam folat dapat membantu mengurangi restless leg

syndrome

4) Perawatan komplementer dan alternatif

1. Yoga meditasi, hipnoterapi, terapi cahaya, relaksasi progresif, dan

mandi air hangat atau rendam kaki air hangat yang dapat mendukung

tidur secara efektif

2. Kamomile, lavender dan marjoram dapay digunakan sebagai

aromaterapi

3. Herbal yang biasanya digunakan adalah ginseng, catnip, skullcap,

lavender, kamomile, lemon.


58

5) Memodifikasi Lingkungan

Lingkungan yang dapat dimodifikasi untuk mendukung tidur adalah

kurangi sumber keributan, berikan suasana yang tenang, nyaman dan bersih,

kontrol suhu ruangan, dan kontrol penerangan cahaya lampu.

6) Relaksasi dan mental imagery

Menurut Miller, musik yang lembut adalah intervensi tambahan

untuk mendukung tidur. Intervensi musik adalah sebuah cara empiris yang

didasarkan pada intervensi yang ditunjukkan untuk meningkatkan kualitas

tidur, durasi, dan efisiensi, latensi tidur pada lansia. Para lansia dan pengasuh

lansia yang kebutuhannya dibantu dapat diajarkan untuk menggunakan teknik

relaksasi sebagai metode yang efektif untuk menginduksi tidur tanpa adanya

efek samping.

Kaset tape atau CD player dengan tombol mati hidup yang otomatis dapat

digunakan untuk memutar musik atau instruksi relaksasi, guided imagery,

atau latihan relaksasi.

7) Pendidikan kepada lansia tentang pengobatan dan tidur

8) Mengatasi obstructive sleep apnea

Evaluasi kefektifan intervensi keperawatan

Keefektifan intervensi untuk diagnosa gangguan tidur dapat diukur secara

subjektif atau objektif. Pengukuran secara subjektif melalui laporan lansia tentang

tidur mereka dan perasaan mereka setelah bangun tidur. Jika secara objektif

menggunakan alat pengukuran tidur yaitu diperoleh lansia yang mampu tidur

lebih dari 8 jam dan penampilan lansia serta kebutuhan untuk istirahat saat siang

hari.
59

Pengkajian Keperawatan
1. Pola tidur biasa
2. Persepsi dan kepuasan tidur
3. Rutinitas sebelum tidur
4. Resiko gangguan tidur

Penuaan Faktor resiko


1. Penurunan waktu tidur dalam 1. Nyeri/ketidaknyamanan, nokturia
2. Penurunan waktu bermimpi 2. Kepercayaan, sikap, mitos
3. Cemas, depresi
4. Efek pengobatan
5. Kondisi patologis
6. Faktor lingkungan

Keadaan tidur
1. Peningkatan waktu untuk tidur
2. Sering terbangun di malam hari
3. Kualitas tidur buruk

Intervensi Keperawatan
1. Mengajarkan tentang intervensi untuk perbaikan tidur
2. Modifikasi lingkungan
3. Relaksasi dan perbaikan mental ( intervensi gabungan
sugesti dan musik instrumentalia)
4. Mengajarkan tentang pengobatan dan faktor resiko
5. Mengurangi obstuktif sleep apnea

Perbaikan kualitas
1. Merasakan kepuasan tidur
2. Peningkatan skor pada alat pengkajian tidur
3. Peningkatan kualitas hidup
4. Perubahan fungsi kesehatan yang lebih baik

Gambar 2.2 Teori Keperawatan Miller tentang Promoting Sleep Wellness in


Older Adult
60

2.6 Keaslian Penelitian

Adapun penelitian yang terkait dengan penelitian yang berjudul pengaruh

gabungan sugesti dan musik instrumentalia terhadap peningkatan kualitas tidur

lansia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2. Keaslian Penelitian


No Judul Artikel; Penulis; Metode (Desain, Hasil Penelitian
Tahun Sampel, Variabel,
Instrumen, Analisa)
1. Perbedaan Tingkat D: Penelitian Pre Ada perbedaan
Insomnia pada Lansia Eksperimen one tingkat insomnia pada
Sebelum dan Sesudah group pretest post lanjut usia sebelum
Pemberian Intervensi test dan sesudah
musik Keroncong di S: berjumlah 28 pemberian intervensi
Pelayanan Sosial Lanjut responden musik keroncong.
Usia Tulungagung I: Kuesioner PIRS
(Fina Yuli, 2012) A: uji Wilcoxon
Signed Rank Test
2. Pengaruh Intervensi D: Quasy eksperiment Terdapat pengaruh
musik Keroncong dan dengan desain pre yang signifikan antara
Aromaterapi Lavender and post test pemberian intervensi
(Lavandula without control. musik keroncong dan
Angustifola) terhadap S: 20 responden aromaterapi lavender
Peningkatan Kualitas I: lembar observasi terhadap peningkatan
Tidur Lansia di Panti A: Uji Wilcoxson kualitas tidur lansia.
Wredha Dharma Bhakti Statistic Test
Kasih Surakarta ( Fefi
Putri , 2014)
3. Efektifitas Intervensi D: Quasy eksperimen Ada hubungan antara
musik terhadap dengan pendekatan terapi music terhadap
Peningkatan Kualitas One-Group pre peningkatan kualitas
Tidur Penderita test post test tidur penderita
Insomnia pada Lansia S: 20 responden insomnia pada lansia
di Panti Wredha Pucang I: Kuesioner PSQI di Panti Wredha
Gading Semarang A: Uji korelasi Pucang Gading
(Sutrisno, 2007) Spearman Semarang
4. Perbedaan Efektifitas D: Quasy eksperiment Ada perbedaan
Intervensi musik S: 32 responden efektifitas antara
dengan Teknik I: Kuesioner terapi music dan
Relaksasi Progresif observasi teknik relaksasi
terhadap Peningkatan A: Paired T-Test progresif terhadap
Kualitas Tidur Lansia peningkatan kualitas
di Banjar Peken Desa tidur lansia.
Sumerta Kaja
(Widyastuti , 2010)
61

5. Pengaruh Intervensi D: Pre eksperimental Ada pengaruh


musik terhadap Kualitas dengan one-group intervensi musik
Tidur Penderita pretest-posttest terhadap kualitas tidur
Insomnia pada Lanjut design without sebelum dan sesudah
Usia (Lansia) di Panti control group diberikan intervensi
Jompo Graha Kasih S: 16 responden musik.
Bapa Kabupaten Kubu I: Lembar kuesioner
Raya ( Arina, 2014) A: Uji Paired T-test