Anda di halaman 1dari 126

Mata Pelajaran Agribisnis Ternak Ruminansia

Sekolah Menengah Kejuruan


Bidang Agribisnis dan Agroteknologi

Kelompok Kompetensi
POTENSI,TINGKAH LAKU DAN PENANGANAN
TERNAK RUMINANSIA

Penulis :
Mujiyono, Sp.MP
Ir. Zumrotun,MP
Ir. Sunarno, MP

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan


PUSATKementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2016

1 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Disajikan pada:
Pendidikan dan Pelatihan
Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Guru Program Keahlian Agribisnis Ternak
Paket Keahlian Agribisnis Ternak Ruminansia

Modul Ini Membahas Tentang

POTENSI,TINGKAH LAKU DAN PENANGANAN


TERNAK RUMINANSIA

Penyusun

Mujiyono, Sp.MP
Ir. Zumrotun,MP
Ir. Sunarno, MP

Penyunting

Dr. Iwan Heriawan

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA
KEPENDIDIKAN PERTANIAN
CIANJUR
2016

2 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Halaman Perancis

Penulis :
1. Mujiyono, SP.MP, dkk

Penelaah :
Dr. Iwan Heriawan

Illustrator
..............................

Copyright @2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Peternakan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan
komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan

3 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Guru sebagai tenaga profesional merupakan bagian integral dari organisasi


pendidikan di sekolah secara menyeluruh. Agar organisasi pendidikan
tersebut mampu menghadapi perubahan diperlukan adanya
pengembangkan sekolah sebagai sebuah organisasi pembelajar dan guru
secara individu maupun secara bersama-sama dengan masyarakat
seprofesinya harus didorong untuk menjadi bagian dari organisasi
pembelajar melalui keterlibatannya secara sadar dan sukarela serta terus
menerus dalam berbagai kegiatan belajar guna mengembangkan
profesionalismenya.

Atas dasar pertimbangan tersebut di atas, dalam rangka peningkatan


kompetensi profesi guru maka perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan.
Modul Guru Pembelajar Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak
Ruminansia ini disusun sebagai bagian dari perangkat pendidikan dan
pelatihan yang dimaksud.

B. TUJUAN

Setelah mempelajari modul ini peserta diklat diharapkan mampu


meningkatkan kompetensinya yang mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan dan sikap secara utuh, yang meliputi : Mengembangkan
Potensi Peternakan Ruminansia, Menerapkan Tingkah Laku Ternak
Ruminansia, dan Melakukan Penanganan Ternak Ruminansia.

4 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
C. PETA KOMPETENSI

MODUL GURU PEMBELAJAR


POTENSI, TINGKAH LAKU DAN PENANGANAN
TERNAK RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


ANATOMI FISIOLOGI TERNAK RUMINANSIA DAN
K3LH

MODUL GURU PEMBELAJAR


TEKNOLOGI REPRODUKSI DAN PEMBIBITAN
TERNAK RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PERKANDANGAN DAN PEMELIHARAAN TERNAK
RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PEMBERIAN PAKAN DAN PEMBUATAN PAKAN
TERNAK RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


AGRIBISNIS HIJAUAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA
TERNAK
RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PEMERAHAN DAN KESEHATAN TERNAK
RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PEMANENAN DAN EVALUASI HASIL PRODUKSI
TERNAK RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PENGOLAHAN HASIL DAN LIMBAH TERNAK
RUMINANSIA

MODUL GURU PEMBELAJAR


PENGELOLAAN USAHA TERNAK RUMINANSIA
5 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak
Ruminansia
D. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Modul Potensi, tingkah laku dan penanganan ternak


ruminansia ini meliputi materi Mengembangkan Potensi Peternakan
Ruminansia, Menerapkan Tingkah Laku Ternak Ruminansia, dan
Melakukan Penanganan Ternak Ruminansia.

Materi Mengembangkan Potensi Peternakan Ruminansia mencakup


potensi ternak ruminansia, kontribusi ternak ruminansia, dan prospek ternak
ruminansia.
Materi Menerapkan Tingkah Laku Ternak Ruminansia mencakup
menerapkan teori tingkah laku pada budidaya ternak ruminansia, tingkah
laku reproduksi ternak ruminansia, tingkah laku makan ternak ruminansia,
dan tingkah laku sosial ternak ruminansia.
Materi Menerapkan Penanganan Ternak Ruminansia mencakup peralatan
penanganan ternak ruminansia, dan melakukan penanganan ternak
ruminansia.

E. SARAN CARA PENGGUNAAN MODUL

1. Lakukan dan biasakan selalu berdoa sebelum dan sesudah


melaksanakan kegiatan.
2. Bacalah dan pahamilah modul ini secara mandiri (perorangan),
berurutan mulai dari kata pengantar sampai pada huruf E pada bab
pendahuluan.
3. Jika ada yang kurang jelas tanyakan kepada fasilitator Anda.
4. Untuk memudahkan belajar Anda dalam menguasai kompetensi ini,
maka pada setiap kegiatan pembelajaran baca secara cermat judul
kegiata pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensinya. Baca uraian materinya, baca dan lakukan aktivitas
pembelajarannya secara runut, selesaikan latihan, tugas dan lembar
kerja.
5. Lakukan aktivitas nomor 3 baik secara individu maupun kelompok
sesuai dengan perintah yang menyertai latihan, tugas dan lembar kerja
yang ada.

6 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
6. Untuk memperdalam penguasaan materi, selanjutnya Anda disarankan
untuk membaca rangkuman kemudian melakukan umpan balik dan
tindak lanjut
7. Cocokkan hasil jawaban lembar latihan yang telah Anda kerjakan
dengan kunci jawaban.
8. Jika anda telah selesai melakukan seluruh kegiatan pembelajaran,
kerjakan lembar evaluasi.
9. Modul ini merupakan salah satu sumber belajar dalam pelaksanaan
diklat, oleh karena itu, untuk melengkapi dan meningkatkan pencapaian
kompetensi Anda, gunakan sumber – sumber belajar lainnya yang
relevan seperti buku dan literatur lainnya serta internet.

7 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
KEGIATAN PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
POTENSI PETERNAKAN RUMINANSIA

A. TUJUAN

1. Setelah mempelajari modul ini, melalui aktivitas membaca, curah


pendapat, diskusi, praktik, dan presentasi, peserta diklat diharapkan
mampu menganalisis potensi peternakan ruminansia di Indonesia

2. Tujuan Pembelajaran Khusus

Setelah mempelajari modul ini melalui aktivitas membaca, curah


pendapat, diskusi, praktik dan presentasi, peserta diklat diharapkan
mampu

a. Menganalisis sumberdaya peternakan ruminansia


b. Menganalisis kontribusi peternakan ruminansia
c. Menganalisis prospek peternakan ruminansia

B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

1. Menganalisis sumberdaya peternakan ruminansia


2. Menganalisis kontribusi peternakan ruminansia
3. Menganalisis prospek peternakan ruminansia

C. URAIAN MATERI

1. SUMBER DAYA PETERNAKAN RUMINANSIA

Ternak adalah hewan yang sengaja dipelihara, yang kehidupannya (makan,


minum, kesehatan dan perkembangbiakan) diatur dan diawasi oleh manusia,
serta dipelihara khusus sebagai penghasil produk berupa bahan pangan dan
jasa yang berguna bagi kepentingan hudp manusia

Ternak ruminansia merupakan suatu istilah untuk ternak pemamah biak (Ordo
Artiodactyla atau hewan berkuku genap, terutama dari sub ordo Ruminantia),

8 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
yaitu ternak yang mencerna makanannya dalam dua langkah. Pertama dengan
menelan bahan mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah
setengah dicerna dari perutnya dan mengunyahnya lagi. Ternak ini sangat
efisien dalam menyerap nutrisi yang terkandung dalam pakan. Penyerapan
nutrisi dibantu mikroorganisme di dalam perut-perut pencernannya.

Produk utama peternakan ruminansia adalah daging dan susu. Produk ini
merupakan sumber protein hewani yang sangat diperlukan oleh tubuh manusia.
Dengan demikian, salah satu peranan utama peternakan adalah menyediakan
kecukupan bahan pangan sumber protein hewani bagi masyarakat. Ternak
ruminansia yang berkembang di Indonesia adalah sapi, kerbau, domba,
kambing.

a. Sapi

Nenek moyang sapi di Indonesia adalah banteng (Bos sundaicus) yang pada
saat ini hanya ada di Taman Margasatwa Pangandaran (Jawa Barat), Meru Betiri
(Jawa Timur) dan Ujung Kulon (Banten). Jenis-jenis sapi yang sudah lama
terdapat di Indonesia dan teleh berkembang secara turun temurun dikenal
dengan sebutan sapi lokal, seperti sapi bali, sapiu madura, PO dan sapi aceh.

Sapi bali merupakan hasil domestikasi sapi banteng selama ratusan tahun. Sapi
Bali mula-mula hanya terdapat di pulau Bali saja. Saat ini, sapi bali telah tersebar
hampir di seluruh daerah di Indonesia dengan konsentrasi penyebaran terutama
di pulau Lombok, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur,
Sumbawa, Timor Timur dan Lampung. Keunggulan sapi bali adalah mempunyai
fertilitas (kesuburan) yang tinggi dengan angka kebuntingan dan angka kelahiran
lebih dari 80%, potensial sebagai penghasil daging, tipe pekerja yang baik dan
mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Sapi madura terkenal sebagai sapi karapan (sapi sonok), diduga merupakan
hasil perkawinan silang antara Bos indicus dan Bos sondaicus. Sapi madura
merupakan tipe pedaging yang cukup baik, terdapat di pulau Madura dan
sekitarnya. Karakteristik Sapi Madura adalah punuk yang kecil diwarisi dari Bos
indicus dan warna kulit coklat atau merah bata diwarisi dari Bos sondaicus, pada
kepalanya terdapat tanduk melengkung ke depan dengan melingkar bulat sabit

9 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Sapi ongole merupakan keturunan sapi zebu dari india yang mulai diternakan
secara murni di pulau Sumba, sehingga dikenal dengan sebutan sapi „Sumba‟
ongole. Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal Indonesia menghasilkan
sapi yang mirip dengan sapi ongole dan dikenal dengan sebutan sapi Peranakan
Ongole (PO). Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan dapi pekerja, cepat
bereproduksi dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Sapi
PO terutama terdapat di pulau jawa. Sapi Aceh juga merupakan keturunan sapi
Ongole yang tersebar luas di daerah Aceh dan perbatasan Sumatera Utara.

Sekitar tahun 2000, di Indonesia mulai tumbuh perusahaan sapi potong


komersial. Kebanyakan mereka mengimpor sapi dari luar negeri, seperti
Australia. Jenis sapi yang di pelihara kebanyakan jenis BX (Brahman Cross).
Sapi Brahman merupakan sapi keturunan zebu yang telah berkembang pesat di
Amerika Serikat dengan iklim tropis. Di negara tersebut, sapi ini diseleksi dan
ditingkatkan mutu genetiknya. Hasil persilangan antara sapi Brahman dengan
sapi daerah sub tropis seperti short horn, drought master, dll adalah sapi BX.
Sapi ini termasuk tipe sapi potong terbaik di daerah tropis karena tahan terhadap
panas dan gigitan caplak.

Selain tipe sapi potong, di daerah tertentu di Indonesia berkembang juga tipe
sapi perah. Sapi perah adalah sapi yang dipelihara dengan tujuan utama bukan
untuk dipotong dan diambil dagingnya, tapi manfaat pemeliharaan lebih ditujukan
untuk diambil susunya. Jenis sapi perah yang berkembang adalah sapi FH
(Friesien Holstein) namun pada tahun 1990 Indonesia mengimpor sapi Sahiwal
Cross dari Selandia Baru. Sahiwal cross merupakan sapi perah hasil persilangan
sapi Sahiwal dari India dengan sapi FH Selandia Baru. Persilangan tersebut
bertujuan untuk mendapatkan keturunan sapi perah yang memiliki sifat toleran
terhadap iklim tropis, sehingga sesuai dengan kondisi iklim Indonesia

b. Kerbau

Kerbau asli Indonesia adalah kerbau rawa (Bubalus bubalis)) atau kerbau lumpur
(swamp bufalo) dimanfaatkan sebagi penghasil utama daging, dan tenaga kerja
untuk mengolah tanah. Berdasarkan habitatnya, jenis ternak kerbau di Indonesia
dibagi menjadi dua jenis yakni kerbau rawa/lumpur (swamp buffalo) dan kerbau

10 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
sungai (river buffalo). Ternak kerbau di Indonesia sekitar 95% merupakan kerbau
rawa (swamp buffalo) dengan keragaman warna, ukuran dan tingkah laku yang
cukup besar. Sisanya sebanyak 5% termasuk kerbau sungai (river buffalo) yang
banyak dipelihara di Sumatera Utara (Tapanuli), termasuk kerbau murrah.

c. Domba

Domba termasuk ternak yang mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi


lingkungan. Nenek moyang domba Indonesia diduga berasal dari domba mouflon
dari Eropa Selatan dan Asia kecil, domba Argali dari Asia Tenggara dan domba
urial dari Asia.

Di Indonesia, ternak domba diduga telah mulai dikenal sejak nenek moyang
pertama bangsa Indonesia mendiami Indonesia. Adanya ternak domba asli
Indonesia seperti domba priangan dan domba-domba lokal lainnya yang tersebar
di seluruh nusantara memberi petunjuk bahwa nenek moyang pertama bangsa
Indonesia telah melakukan domestikasi ternak domba.

Menurut teori Merkens dan Soemirat, domba garut diperkirakan merupakan hasil
persilangan segitiga antar domba asli Indonesia, domba merino dari Asia kecil
dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan. Sedangkan teori lain menjelaskan
bahwa domba garut berasal dari hasil persilangan 3 rumpun bangsa domba yaitu
Merino dari Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia.
Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sejak lama sebagai jenis domba lokal,
Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke Indonesia sedangkan Domba
Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah Jawa sekitar abad ke-19.

11 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Tabel 1. Populasi Ternak Ruminansia di Indonesia (dalam ribu ekor)

Jenis TAHUN
No
Ternak
2004 2005 2006 2007 2008

Sapi
1 10,532,889 10,569,312 10,875,125 11,514,871 12,256,604
Potong

2 Sapi Perah 364,062 361,351 369,008 374,107 457,577

3 Kerbau 2,403,298 2,128,491 2,166,606 2,085,779 1,930,716

4 Kambing 12,780,961 13,409,277 13,789,955 14,470,214 15,147,432

5 Domba 8,075,149 8,327,022 8,979,849 9,514,184 9,605,339

Keterangan: angka 0 menunjukan tidak ada data atau dibawah satuan.


Sumber : Ditjendepdiknas (2009)

Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia serta berkembang di
daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Domba ini berukuran kecil dan lambat
dewasa sehingga dagingnya relatif sedikit. Keuntungannya domba ini bersifat
prolifik, mampu melahirkan kembar (2-5 ekor setiap kelahiran).

Domba ekor gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi dan lombok.
Pada awalnya domba ini berasal dari asia barat yang di bawah para pedagang
bangsa arab pada abad ke 18 pada tahun 1731-1779 pada masa pemerintahan
hindia belanda yang sudah melakukan impor jenis domba kirmani sebagai
domba ekor gemuk yang berasal dari persia. Karakteristik domba ekor gemuk
(kibas) bobot badan Jantan 40 – 60 kg dan betina 25 – 50 kg., tinggi badan
berkisar antara 52-65 cm untuk jantan, dan betina antara 47-60 cm. Memiliki bulu
yang tebal wol yang berwarna putih dengan tekstur yang kasar. Ciri khas domba
ini memiliki ekor yang sangat besar, panjang dan lebar. Di bagian pangkal ekor
terlihat besar karena di ekor tersebut tempat menimbunnya lemak, hanya untuk
cadangan lemak saja di waktu musim paceklik.

d. Kambing

Kambing kacang adalah salah satu kambing asli Indonesia, yang juga dapat
ditemui di negara Malaysia dan filipina. Kambing kacang berbadan kecil dan
mudah beradaptasi dengan lingkungan. Kambing kacang bersifat prolifik (sering

12 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
melahirkan anak kembar dua atau tiga), dan tahan terhadap berbagai kondisi
termasuk dalam kondisi pemeliharaan yang sederhana.

Disamping itu, terdapat kambing peranakan ettawa (PE). Kambing PE


merupakan hasil persilangan antara kambing ettawa (India) dengan kambing
kacang. Kambing PE penampilannya lebih besar dari pada kambing kacang,
memiliki kelenjar susu (ambing) yang besar dan banyak dipelihara sebagai
penghasil utama susu disamping daging.

2. PETERNAK

Sumber daya manusia mempunyai kedudukan penting dalam peternakan.


Bagaimana pun melimpahnya sumber daya alam lain tidak akan banyak
menghasilkan manfaat bagi manusia dan lingkungannya seandainya tidak
ditangani. Sumber daya alam akan menghasilkan manfaat berlimpah jika ada
manusia yang menggerakkannya. Oleh karena itu pengembangan sumber daya
manusia mempunyai arti penting bagi usaha peternakan untuk dapat bersaing
dengan usaha lainnya.

Peternak adalah subyek pelaku dalam usaha peternakan. Peternak baik


peternak kecil ataupun peternak skala besar adalah sama-sama manajer bagi
usaha peternakannya. Peternak menjadi manajer bagi sumber daya peternakan
lainnya. Keberhasilan suatu usaha sedikit banyak ditentukan oleh kemampuan
peternak dalam mengelola usahanya. Pengetahuan dan keterampilan
merupakan aset berharga yang harus dimiliki peternak.

Sumber daya manusia yang terlibat langsung menangani peternakan berbeda-


beda pada setiap peternakan. Ada peternakan yang hanya mempunyai satu
orang pekerja, yaitu dirinya sendiri, terlibat dalam seluruh proses kegiatan
produksi. Dari mulai memberi makan sampai menjual hasil panen dan
menghitung keuangan dilakukan sendiri. Atau dibantu anak istri dan sanak
family. Ini biasanya terjadi pada peternak kecil dengan skala usaha kecil dengan
kepemilikan ternak beberapa ekor saja.

Pada usaha peternakan skala besar, peternak atau pemilik peternakan


membutuhkan pekerja lain yang membantunya menyelesaikan seluruh

13 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
pekerjaan. Masing-masing ada yang menangani khusus untuk bidang produksi,
keuangan atau pemasaran. Tenaga ahli kesehatan bertugas menjaga kesehatan
ternak, juga ahli nutrisi yang memastikan kecukupan nutrisi ternak. Selain itu,
untuk pekerjaan teknis dipercayakan pada pekerja yang bertugas langsung di
kandang setiap harinya. Pekerja kandang, demikian sebutannya, bersentuhan
langsung dengan ternak dalam hal pemberian kesehatan, pencegahan penyakit,
menjaga kebersihan panen dan lain-lain. Pekerja ini pun perlu mendapat
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan teknologi.

3. SUMBER DAYA ALAM

a. Bahan baku pakan


Peningkatan jumlah populasi ternak berkaitan dengan ketersediaan pakan
secara terus menerus. Peternakan menuntut peternak menyediakan semua
keperluan ternak, termasuk pakan. Cara pemeliharaan ternak turut
mempengaruhi besarnya jumlah pakan yang diperlukan. Semakin intensif cara
pemeliharaan yang dilakukan, semakin tinggi tuntutan pemenuhan pakan baik
kuantitas maupun kualitas.

Ternak ruminansia membutuhkan jumlah pakan berupa rumput atau hijauan yang
cukup, berupa padang rumput-lapang penggembalaan ataupun rumput
potongan. Pakan lainnya berupa konsentrat, berupa campuran bahan pakan biji-
bijian dan limbah pertanian yang telah digiling halus.

b. Lahan/tanah dan lingkungan


Seperti usaha peternakan lainnya, peternakan ruminansia membutuhkan
lahan/tanah sebagai tempat berlangsungnya pemeliharaan. Selain untuk
mendirikan bangunan, lahan diperlukan untuk merealisasikan kebutuhan hijauan
pakan.

Dalam hal ini, lahan terdiri dari faktor alam lainnya seperti temperatur udara,
kelembaban, sinar matahari dan lain-lain termasuk cuaca dan iklim. Iklim yang
sesuai memudahkan pengelolaan pemeliharaan, sebaliknya iklim yang kurang
sesuai merupakan beban berat bagi ternak.

c. Bahan baku kandang dan perlengkapan

14 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Setelah lahan, kandang dan peralatan didirikan di atasnya. Bahan baku kandang
dapat dipilih dan disesuaikan dengan lingkungan lahannya. Batu, kayu, batu
bata, ram kawat, plastik dan lain-lain merupakan contoh bahan baku pembuatan
kandang dan perlengkapannya.

d. Bahan baku vitamin, vaksin dan obat-obatan


Vitamin penambah tenaga, vaksin penambah sistem kekebalan tubuh serta obat-
obatan pemulih kesehatan sangat diperlukan sebagai penanganan kesehatan.
Vaksin berbahan baku berupa mikroorganisme bibit penyakit yang telah
dilemahkan.

e. Sumber energi
Air bersih adalah sumber energi yang tidak dapat ditawar lagi ketersediaannya.
Seperti ternak lainnya, ternak membutuhkan air minum setiap hari dan seumur
hidup.

4. LEMBAGA PENDUKUNG

Dalam peternakan, lembaga pendukung menjadi sangat diperlukan. Kebijakan


pemerintah, lembaga pendidikan dan pelatihan, lembaga penyuluhan, lembaga
keuangan/permodalan, pasar dan lain-lain sangat dibutuhkan untuk
perkembangan peternakan.

a. Koperasi atau Organisasi Peternakan


Koperasi dan oganisasi peternakan berpotensi penting dalam memajukan
peternakan. Lembaga ini membantu para peternak angotanya dengan
memberikan sarana untuk saling bertukar informasi tentang pembibitan,
kesehatan, pakan, kerjasama permasaran, bantuan permodalan dan lain-lain.
Dengan bergabung dalam satu ikatan membuat peternak-peternak, terutama
peternak kecil mempunyai kekuatan dan meningkatkan daya saing.

Organisasi yang bergerak dalam peternakan antara lain GKSI (Gabungan


Koperasi Susu Indonesia) sebagai koperasi susu sekunder dan koperasi
peternak sapi perah (KPS) sebagai koperasi primer, yang menangani agribisnis
susu. Koperasi ini memiliki pabrik pakan ternak, gudang pencampuran pakan,
mengimpor bibit sapi perah dan bahkan mempunyai pabrik pengolahan susu
sendiri (milk treatment). Susu hasil ternak sapi milik peternak ditampung di

15 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
koperasi bersama-sama susu hasil ternak sapi dari peternak lain, untuk diolah
dan selanjutnya dipasarkan. Dengan bergabung dalam organisasi memperkecil
biaya pengangkutan dan pemasaran susu. Tentu saja tujuan akhir yang
diharapkan adalah peternak dapat meningkat pendapatan dan kesejahteraannya.

b. Lembaga Pendidikan dan Pelatihan


Lembaga pendidikan baik formal maupun non formal bertanggung jawab
menghasilkan lulusan dan menyediakan SDM yang berkualitas tinggi ditinjau dari
segi daya pikir, wawasan maupun keterampilan memecahkan permasalahan-
permasalahan yang timbul dan yang akan timbul di dalam masyarakat. Oleh
karena itu, lembaga pendidikan dan pelatihan berperan penting melahirkan
sumber daya manusia, dari mulai pekerja kandang, peternak sampai tenaga ahli
dan peneliti peternakan.

Tenaga ahli dalam genetika dan pemuliabiakan diperlukan untuk meningkatkan


mutu genetik ternak. Begitu pula dengan ahli nutrisi ternak, ahli kesehatan ternak
dan lain-lain untuk meningkatkan efisiensi pemeliharaan dan kesehatan.

Selain itu, lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi, berperan menghasilkan


produk-produk unggulan yang dibuat melalui teknologi, baik teknologi sederhana
maupun modern guna memenuhi kebutuhan masyarakat industri dan masyarakat
pengguna lainnya. Peternakan memerlukan inovasi-inovasi teknologi untuk
mempermudah dan mengefisienkan proses produksi ternak sehingga peternakan
menjadi maju.

c. Lembaga Penelitian
Teknologi dan pengetahuan adalah alat untuk meningkatkan efisiensi. Lembaga
penelitian berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
dengan tujuan meningkatkan produktivitas peternakan dan pada akhirnya
peningkatan pendapatan peternak dan negara. Pengembangan teknologi tepat
guna amat relevan dengan kebutuhan peternak kecil. Selain itu pengembangan
teknologi canggih diperlukan guna memperbaiki kualitas produk ternak. Hasil-
hasil riset tersebut diharapkan dapat dengan mudah diaplikasikan ke masyarakat
pengguna.

16 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
d. Pemerintah
Pemerintah merupakan motor penggerak dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara profesional dan mampu mendayagunakan semua potensi
bagi kemajuan dan perkembangan masyarakat. Bagi para pelaku usaha
peternakan, pemerintah berperanan aktif dalam memberikan bantuan dan
kemudahan menjalankan usaha. Melalui kebijakannya di sektor peternakan,
pemerintah dapat memberikan usaha yang kondusif untuk perkembangan
peternakan.

Kebijakan lain yang patut diperhatikan adalah izin mendirikan usaha. Pemerintah
telah mengeluarkan ketetapan tentang pemberian izin usaha berdasarkan jenis
ternak dan skala usahanya. Ini dimaksudkan agar para pelaku usaha dalam
menjalankan usahanya tidak mengalami kendala (Rahardi dan Hartono, 2006).

Pemerintah pusat/daerah harus mendukung /menyediakan ruang lingkup tata


ruang lahan sebagai sumber produksi hijauan. Dukungan tersebut berupa
kebijakan Pemerintah pusat/daerah untuk membuat peraturan RUTR/RTRW
(Rencana Tata Ruang Wilayah) bagi usaha sub sektor peternakan agar lahan
yang dipergunakan tidak beralih fungsi menjadi sekor non pertanian
(Perkantoran, Industri, dsb.). Dengan adanyan peraturan tersebut memberikan
jaminan bagi peternak untuk mendapatkan hijauan pakan yang mudah dan
murah secara berkelanjutan.

e. Lembaga keuangan dan permodalan


Salah satu faktor yang menentukan berjalannya usaha peternakan adalah
ketersediaan modal yang cukup. Dari sudut pandang ekonomi, modal
mempunyai arti barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi
lain dan tenaga kerja serta pengelolaan dapat menghasilkan barang baru. Dalam
pengertian sehari-hari, modal merupakan sejumlah uang yang perlu dimiliki
sebagai langkah awal untuk berusaha. Besarnya uang yang digunakan sangat
tergantung pada skala usaha, jenis usaha serta ketersediaan barang dan bahan
yang diperlukan untuk melakukan usaha tersebut.

Pada umumnya, modal yang digunakan dalam usaha tidak semuanya bersumber
dari modal sendiri, tetapi sebagian berasal dari luar. Bahkan beberapa di antara
peternak mengunakan keseluruhan modal usaha dari luar. Lembaga keuangan

17 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
seperti bank, bank syariah lembaga ventura berperan sebagai penyedia modal
bagi usaha peternakan. Lembaga keuangan juga memudahkan kegiatan
transaksi penerimaan dan pembayaran uang. Saat ini, transaksi antar rekening
bank menyederhanakan perputaran uang dalam kegiatan bisnis, termasuk usaha
peternakan.

f. Pasar
Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar dan rantai
tataniaganya, seperti toko dan lain-lain mempermudah peternak dalam
memperoleh sarana produksi berupa bibit, pakan, peralatan kesehatan, vitamin,
vaksin dan obat-obatan. Begitu pula sebaliknya, pasar adalah tempat peternak
menjual hasil panen baik berupa ternak hidup, daging dan susu.

5. KONTRIBUSI PETERNAKAN RUMINANSIA

Produk utama ternak ruminansia berupa daging dan susu.

a. Daging
Daging adalah sekumpulan otot yang melekat pada kerangka dan merupakan
bagian yang sudah tidak mengandung tulang. Daging terdiri dari tiga komponen
utama, yaitu jaringan otot (Muscle tissue), jaringan lemak (Adipose tissue), dan
jaringan ikat (Connective tissue). Banyaknya jaringan ikat yang terkandung di
dalam daging akan menentukan tingkat kealotan/ kekerasan daging. Sedangkan
karkas berupa daging yang belum dipisahkan dari tulang atau kerangkanya.

Daging merupakan bahan pangan yang penting dalam memenuhi kebutuhan


gizi. Komposis gizi daging terdiri dari air 56 - 72%, protein 15 - 22%, lemak 5 -
34%, dan substansi bukan protein terlarut 3,5% meliputi karbohidarat, garam
organik, substansi nitrogen terlarut, mineral dan vitamin.

Daging mempunyai kandungan protein tinggi (15 - 20%) dari berat bahan.
Protein daging dibagi dalam tiga kelompok yaitu 9,5% miofibrilar, 6%
sarkoplasma dan 3% stroma. Protein sangat dibutuhkan untuk proses
pertumbuhan, perkembangan, dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Protein

18 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
daging lebih mudah dicerna dari pada protein nabati. Pada daging terdapat pula
kandungan asam amino esensial yang lengkap dan seimbang.

Selain kaya protein, daging juga mengandung energi sebesar 250 kkal/100 g.
Jumlah energi dalam daging ditentukan oleh kandungan lemak intraselular di
dalam serabut-serabut otot, yang disebut lemak marbling. Kadar lemak pada
daging berkisar antara 5 - 40% tergantung pada jenis dan spesies, makanan,
dan umur ternak. Lemak terdiri dari fosfolipida, kolesterol. Karbohidrat terdapat
dalam bentuk 0.8% glikogen, 0,1 % glukosa dan dalam intermedier dari
metabolisme sel 0,1 % dari berat daging.

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Daging Ternak Ruminansia

Jenis Potongan Daging Air Protein Lemak Abu Energi


Ternak (%) (%) (%) (%) (Kal)
Sapi Chuck 56,0 18 25,0 0,8 303
Flank 72,0 22 5,0 1,0 139
Loin 50,0 15 34,0 0,7 370
Rib 57,0 18 25,0 0,8 300
Round 67,0 20 12,0 0,9 197
Rump 59,0 18,0 25,0 0,8 271
Flank 60,0 18,0 25,0 0,8 303
Hamburger 60,0 18,0 21,0 20,7 268
Anak Sapi Chuck 70,0 19,0 10,0 1,0 173
Loin 69,0 19,0 11,0 1,0 181
Rib 66,0 19,0 14,0 1,0 207
Kambing Leg 66,0 18,0 15,0 1.4 209
Loin 59,0 17,0 25,0 0.9 276
Sumber : Bahar, B (1984)

Daging juga mengandung kolesterol, walaupun dalam jumlah yang relatif lebih
rendah dibandingkan dengan bagian jeroan maupun otak. Kadar kolesterol
daging sekitar 500 miligram/100 gram lebih rendah dari pada kolesterol otak
(1.800-2.000 mg/100 g) atau kolesterol kuning telur (1.500 mg/100 g). Kolesterol
memegang peranan penting dalam fungsi organ tubuh. Kolesterol berguna untuk
menyusun empedu darah, jaringan otak, serat saraf, hati, ginjal, dan kelenjar
adrenalin. Selain itu, kolesterol juga merupakan bahan dasar pembentukan
hormon steroid, yaitu progestron, estrogen, testosteron, dan kortisol. Hormon-
hormon tersebut diperlukan untuk mengatur fungsi dan aktivitas biologi tubuh.
Kadar kolesterol yang sangat rendah di dalam tubuh dapat mengganggu proses

19 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
menstruasi dan kesuburan, bahkan dapat menyebabkan kemandulan, baik pada
pria maupun wanita.

Daging juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang sangat baik. Secara
umum, daging merupakan sumber mineral kalsium, fosfor, dan zat besi, serta
vitamin B kompleks (niasin, riboflavin dan tiamin), tetapi rendah kadar vitamin C.
Hati yang lebih dikenal sebagai jeroan, mengandung kadar vitamin A dan zat
besi yang sangat tinggi. Zat besi sangat dibutuhkan untuk pembentukan
hemoglobin darah, yang berguna untuk mencegah timbulnya anemia. Anemia
akan berdampak buruk seperti lesu, letih, lelah, tak bergairah, dan tidak mampu
berkonsentrasi, sehingga pada akhirnya akan menurunkan prestasi.

Kualitas daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor
sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging adalah genetik,
spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan dan bahan aditif
(hormon, antibiotik, dan mineral), serta keadaan stres. Faktor setelah
pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging adalah metode
pelayuan, metode pemasakan, tingkat keasaman (pH) daging, bahan tambahan
(termasuk enzim pengempuk daging), lemak intramuskular (marbling), metode
penyimpanan dan pengawetan, macam otot daging, serta lokasi otot.

Istilah daging dibedakan dengan karkas. Pada dasarnya, kualitas karkas adalah
nilai karkas yang dihasilkan oleh ternak relatif terhadap suatu kondisi pemasaran.
Faktor yang menentukan nilai karkas meliputi berat karkas, jumlah daging yang
dihasilkan dan kualitas daging dari karkas yang bersangkutan. Nilai karkas
dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin atau tipe ternak yang menghasilkan
karkas, umur atau kedewasaan ternak, dan jumlah lemak intramuskular atau
marbling didalam otot. Faktor nilai karkas dapat diukur secara subyektif, misalnya
dengan pengujian organoleptik atau metode panel. Disamping kualitas (nilai)
karkas, juga dikenal kualitas hasil, yaitu estimasi jumlah daging yang dihasilkan
dari suatu karkas.

Faktor kualitas daging yang dimakan terutama meliputi warna, keempukan dan
tekstur, flavor dan aroma termasuk bau dan cita rasa dan kekhasan jus daging
(juiciness). Disamping itu, lemak intramuskular, susut masak (cooking loss) yaitu

20 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
berat sampel daging yang hilang selama pemasakan atau pemanasan, retensi
cairan dan pH daging.

Tabel 3. Produksi Daging, Telur dan Susu Nasional (dalam ton)

JENIS TAHUN
NO
TERNAK
2004 2005 2006 2007 2008

DAGING
1 Sapi 447,573 358,707 395,842 339,479 392,511

2 Kerbau 40,237 38,052 43,887 41,756 39,032

3 Kambing 57,132 50,607 65,013 61,615 66,027

4 Domba 66,057 47,326 75,178 56,852 47,028

TOTAL 2,020,356 1,817,029 2,062,861 2,067,421 2,137,601


SUSU
Susu
1 549,945 535,960 616,548 567,682 646,953
Segar

TOTAL 549,945 535,960 616,548 567,682 646,953

Keterangan: angka 0 menunjukan tidak ada data atau dibawah satuan.

Sumber : Ditjendepdiknas (2009)

Pada prinsipnya, jumlah daging yang dihasilkan adalah proporsional secara


langsung terhadap berat karkas dan berbanding terbalik secara proporsional
terhadap jumlah lemak karkas. Jadi penilaian karkas dapat didasarkan atas berat
karkas dan tingkat perlemakan. Meskipun demikian, karena lemak tidak selalu
terdistribusi secara merata, maka estimasi nilai-nilai karkas (kualitas hasil) masih
menghadapi problem yang kompleks.

Keunggulan daging adalah mempunyai nilai gizi yang tinggi, sumber protein
hewani yang dibutuhkan oleh tubuh dan sangat baik untuk pertumbuhan, dan
salah satu komoditas perdagangan yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat
tinggi. Kandungan nutrisi daging dijelaskan pada Tabel 1, sedangkan produksi
daging secara Nasional per Propinsi tertera pada Tabel 2. Daging segar dapat
diolah menjadi produk lainnya seperti sosis, nugget, abon, dendeng, dll. Tingkat

21 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
konsumsi daging di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 6,5 kg per
kapita/tahun.

b. Susu
Susu merupakan sekresi dari kelenjar ambing mamalia dari ternak ruminansia.
Tujuan produksi susu adalah memberi makan kepada anak ternak mamalia.
Pada ruminansia kelompok perah, misalnya jenis sapi Frisien Holstein (FH),
produksi susunya melebihi jumlah susu yang dibutuhkan oleh anak sapi,
kelebihan produksi susu tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia.

Tabel 4. Komposisi Nutrisi Susu beberapa Ternak

Ternak Total Solid Lemak Protein Kasar Kasein Laktose Abu

Sapi Eropa 12.60 3.80 3.35 2.78 4.75 0.70


Kambing 13.18 4.24 3.70 2.80 4.51 0.78
Domba 17.00 5.30 6.30 4.60 4.60 0.80
Kerbau 16.77 7.45 3.78 3.00 4.88 0.78
Sapi Asia 13.45 4.97 3.18 2.38 4.59 0.74

Sumber : Potter, 1996 dalam Nugroho, 2007

Kebutuhan gizi anak ternak mamalia berbeda satu dengan lainnya, sehingga
komposisi susu dari ternak yang satu berbeda dengan ternak lainnya. Susu
memiliki nilai gizi yang tinggi, tersusun dari sejumlah zat gizi yang lengkap,
mempunyai perbandingan zat gizi yang ideal dibanding jenis makanan lain dan
mudah diserap dalam saluran pencernaan (koefisien-cerna 100%). Produksi
susu nasional per tahun dapat dilihat pada Tabel. 3, sedangkan komposisi
kandungan nutrisi susu tertera pada Tabel 4.

Fenomena yang berkembang di Indonesia adalah hanya bayi dan anak-anak


yang perlu minum susu. Pada hakekatnya kaum remaja, wanita dewasa, ibu
hamil, bahkan para lansia pun perlu minum susu. Susu memang minuman yang
menyehatkan. Kandungan gizinya terhitung lengkap. Susu mengandung kalsium
yang sangat tinggi, fosfor hingga protein. Meski kandungan protein dalam susu

22 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
terbilang kecil, tapi berkualitas baik karena berasal dari produk hewani. Selain
itu, susu juga mengandung sejumlah vitamin, di antaranya vitamin A dan D.

Mengingat gizinya yang lengkap ini, ibu hamil disarankan untuk minum susu.
Dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang ditambah susu, maka ibu
hamil akan terhindar dari anemia (kurang darah). Dengan demikian,
pertumbuhan otak dari janin yang dikandungpun akan maksimal. Para lansia
yang memiliki risiko osteoporosis (pengeroposan tulang) juga perlu sekali minum
susu, karena susu memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Kalsium, adalah zat
gizi yang sangat baik bagi kesehatan tulang. Para ahli meyakini, kalsium yang
terbaik untuk kesehatan tulang adalah kalsium alami yang berasal dari susu.
Kalsium susu lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding kalsium dari sumber
lain.

Karena pentingnya manfaat susu, para orang tua disarankan untuk


membiasakan anaknya minum susu sampai besar. Dan terus berlanjut sampai
lanjut usia. Hanya saja, kadang-kadang para remaja putri juga para ibu muda,
enggan minum susu karena takut gemuk. Padahal, gizi yang terkandung dalam
susu sangat dibutuhkan oleh mereka. Namun pada saat ini produsen susu mulai
membuat produk susu yang rendah (tanpa) lemak sehingga tidak menyebabkan
gemuk.

Kandungan kolesterol di dalam susu ditakutkan banyak orang. Namun tidak


perlu terlalu khawatir mengenai hal ini karena kandungan kolesterol dalam susu
tidak banyak. Dalam satu gelas susu, terkandung sekitar 32 mg kolesterol.
Kandungan kolesterol ini terhitung lebih kecil dibanding kandungan kolesterol
dalam sepotong daging yang mencapai 54 mg. Bahkan, kalau kita memang
takut dengan kolesterol, telur yang mesti kita waspadai. Sebab, kandungan
kolesterol dalam satu butir telur saja mencapai 252 mg. Jauh lebih banyak
ketimbang kolesterol dalam satu gelas susu.

23 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
6. KONTRIBUSI TERNAK RUMINANSIA DARI ASPEK SOSIAL-EKONOMI

Disamping menghasilkan produk pangan hewani bergizi tinggi berupa daging,


dan susu, sektor peternakan juga memberikan kontribusi lainnya terhadap
kehidupan manusia. Kontribusi tersebut antara lain memanfaatkan limbah
pertanian, mendorong industri biji-bijian, menyerap tenaga kerja, sebagai sumber
tenaga dan mendorong tumbuhnya industri kulit.

a. Memanfaatkan Limbah Pertanian

Limbah hasil pertanian dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Limbah tersebut
sudah tidak bisa dikonsumsi oleh manusia. Limbah yang berasal dari pengolahan
hasil pertanian, misalnya: bulu ayam, tepung darah, bungkil kedelai, bungkil
kelapa, onggok singkong, ampas tahu, dedak padi, dedak jagung, tetes tebu,
bungkil kelapa sawit dll. Limbah-limbah tersebut dimanfaatkan oleh ternak untuk
diubah menjadi daging dan susu, sehingga efesiensi usaha tani menjadi
meningkat.

Limbah pertanian yang siap digunakan seperti (jerami jagung, jerami kedele) dan
limbah pertanian yang harus mengalami pengolahan terlebih dahulu karena
mengandung senyawa lignin dan hemiselulose yang tinggi seperti jerami padi,
tandan sawit, jerami sorgum dll.

b. Mendorong Industri Biji-bijian

Pakan ternak banyak menggunakan biji-bijian seperti jagung, kedelai, sorgum,


kacang tanah, kapas dll, kebutuhan tersebut mendorong industri biji-bijian
berkembang. Hingga saat ini Indonesia masih mengimpor jagung, dan bungkil
kedelai yang dibutuhkan untuk pakan ternak.

c. Menyerap Tenaga Kerja


Usaha peternakan dapat menyerap tenaga kerja, baik sebagai peternak atau
menyerap tenaga buruh. Daya serap sektor peternakan pada tahun 2005
sebanyak 2,576,940 orang.

d. Sumber Tenaga
Pada beberapa tempat di Indonesia ternak kerbau dan sapi masih dimanfaatkan
untuk membantu petani untuk mengolah sawah atau ladangnya. Untuk sawah

24 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
yang lumpurnya dalam biasanya pengolahan tanahnya dengan kerbau, sedang
untuk tanah yang dangkal dan berpasir menggunakan sapi. Namun dengan
modernisasi mekanisasi pertanian peran tersebut banyak digantikan dengan
hand traktor.

e. Mendorong timbulnya industri kulit


Perkembangan peternakan ruminansia, terutama untuk domba garut, mengalami
perluasan produk. Kulit domba garut terkenal memiliki kualitas terbaik, banyak
dicari untuk diolah menjadi sepatu, jaket dan tas.

7. PROSPEK PETERNAKAN RUMINANSIA

Prospek peternakan ruminansia di Indonesia dapat dilihat dari sisi permintaan


(demand side) dan sisi penawaran (supply side). Dari sisi permintaan, prospek
peternakan ruminansia berkaitan dengan kontribusi ternak ruminansia dalam
struktur konsumsi produk peternakan. Dari sisi penawaran, prospek peternakan
ruminansia berhubungan dengan ketersedian sumber daya.

a. Prospek Peternakan Ruminansia dari Sisi Permintaan

1) Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.


Berdasarkan sensus penduduk tahun 2006, populasi penduduk Indonesia
mencapai 221,6545 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2010 penduduk
Indonesia mencapai 231,9966 juta jiwa. Jumlah penduduk yang sangat besar,
merupakan potensi pasar dan peluang usaha atau di bidang peternakan,
termasuk peternakan ruminansia.

Produk utama peternakan ruminansia berupa daging dan susu adalah bahan
pangan sumber protein hewani. Protein hewani ini sangat diperlukan manusia
dan tidak dapat digantikan oleh jenis protein lain baik fungsi maupun perannya.
Pada tahun 2006 konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia baru bisa
terpenuhi sebesar 5,34 g/ kapita/hari. Sementara itu, FAO menetapkan standar
konsumsi protein hewani bangsa Indonesia minimal sebesar 6 gr/ kapita/hari
(Statistik Pertanian, 2006). Hal ini berarti bahwa berdasarkan norma gizi minimal,

25 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
meskipun konsumsi protein hewani mengalami peningkatan, masyarakat
Indonesia baru mengkonsumsi 89% protein hewani. Tingkat konsumsi protein
hewani di Indonesia termasuk rendah bila dibandingkan dengan Negara Asia
lainnya seperti Malaysia 36,7 kg/kapita/ tahun, Thailand 13,5 kg/kapita/tahun dan
Philippines 7,5 kg/kapita/tahun.

Dari sisi permintaan, hal ini juga merupakan peluang bagi usaha peternakan
ruminansia untuk berkembang dan meningkatkan produksi. Jumlah penduduk
yang besar masih memerlukan kecukupan pemenuhan pangan hewani, termasuk
daging dan susu.

2) Tingkat pendapatan penduduk

Dari sudut pandang ekonomi, daging dan susu memiliki sifat permintaan yang
elastis terhadap perubahan pendapatan. Artinya, bila pendapatan penduduk
mengalami peningkatan, permintaan penduduk terhadap produk ini akan
cenderung semakin meningkat. Terdapat korelasi positif yang tinggi antara
pendapatan per kapita dengan jumlah konsumsi produk peternakan. Di masa
yang akan datang, pendapatan per kapita penduduk Indonesia masih akan terus
mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan perkembangan ekonomi.
Dengan demikian, permintaan penduduk terhadap produk peternakan juga
diperkirakan akan meningkat.

Jumlah penduduk yang terus bertambah diikuti dengan peningkatan pendapatan


per kapita merupakan peluang perkembangan produk peternakan.

3) Perkembangan industri jasa

Perkembangan sektor lain seperti industri dan jasa (catering, pariwisata, hotel
dan restoran) juga turut memacu permintaan akan produk peternakan.

4) Industri pasca panen

Sektor lain yang mendukung permintaan daging dan susu adalah industri
pascapanen. Produk seperti baso, sosis, kornet, abon, dendeng, dan lain-lain
membutuhkan daging sebagai bahan baku. Sementara industri pengolahan susu
dengan produknya seperti keju, dan susu bubuk, UHT, pasteurisasi, susu kental
manis dan lain-lain memerlukan bahan baku susu segar dalam jumlah banyak.

26 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
b. Prospek Peternakan Ruminansia dari Sisi Penawaran

1) Tenaga kerja

Prospek peternakan ruminansia dari sisi penawaran berkaitan dengan


ketersediaan dan kesiapan sumber daya yang ada. Jumlah penduduk yang
besar, selain sebagai pangsa pasar, dapat dilihat pula sebagai sumber daya
yang melimpah. Tenaga kerja di Indonesia dikenal relatif lebih murah dibanding
negara lain di ASEAN. Dengan demikian, untuk tenaga kerja peternakan akan
relatif lebih mudah dan murah dalam mendapatkannya.

2) Ketersediaan pakan

Ternak ruminansia membutuhkan jumlah pakan berupa rumput dan hijauan yang
cukup. Untuk merealisasikan kebutuhan hijauan ini hanya mungkin terpenuhi
untuk daerah luar pulau Jawa, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB
dan NTT.

Ternak ruminansia membutuhkan jumlah hijauan pakan berupa limbah pertanian,


rumput dan leguminosa yang cukup dan tersedia sepanjang tahun. Untuk
merealisasikan kebutuhan hijauan ini dapat dipenuhi dengan melakukan
budidaya tanaman pakan (rumput/leguminosa) unggul yang baik dalam satu
hamparan maupun diintegrasikan dengan tanaman pangan, perkebunan dan
kehutanan. Dengan demikian kita dapat memiliki sumber hijauan yang establis
dalam luasan lahan terbatas. Untuk daerah luar pulau Jawa, seperti di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, NTB dan NTT secara luasan bisa menjamin ketersediaan
hijauan sepanjang tahun, namaun pada kenyataanya tidsak. Ketersediaan
hijauan pakan ternak bisa terjamin sepanjang tahun, apabila dilakukan introduksi
tanaman pakan unggul, integrasi tanaman pakan dan pangan, perkebunan, dan
kehutanan dengan sistem pertanaman campuran (mix croping), tumpang sari
(intercroping), dan pertanaman lorong (Alley croping).

Industri pakan konsentrat juga masih memungkinkan untuk ditingkatkan. Dengan


mempercepat pengembangan biji-bijian seperti jagung dan kedele di Indonesia,
akan memperbesar prospek usaha peternakan. Langkah mengurangi bahan
baku pakan terhadap produk impor dapat menurunkan biaya produksi, sehingga
mampu meningkatkan skala usaha yang optimal.

27 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
3) Bibit dan bakalan

Dalam upaya mendorong populasi sekaligus untuk perbaikan genetik ternak,


pada tahun 1970-an pemerintah telah memasyarakatkan teknologi Inseminasi
Buatan (IB). Namun, jangkauan IB masih terbatas, dan populasi ternak masih
rendah. Sumber bibit ternak, terutama untuk sapi, dapat dipenuhi dari hasil
inseminasi buatan yang saat ini terdapat cukup banyak di wilayah pelayanan IB
seperti Lampung, Jawa dan NTB.

Bisnis peternakan mempunyai peranan yang besar terhadap perekonomian


nasional. Namun, tidak dapat dielakkan bahwa peternakan sering mengalami
permasalahan-permasalahan yang menghambat pengembangannya. Bibit
unggul atau bakalan sapi potong masih relatif mahal, sehingga pengadaannya
lebih murah dilakukan dengan impor dari luar negeri. Dalam jangka panjang,
ketergantungan terhadap bibit dan bakalan impor dapat menjadi masalah, karena
dalam batas waktu tertentu negara pengimpor bisa menghentikannya.

Faktor yang masih menjadi kendala di lapangan adalah iklim usaha yang kurang
kondusif. Permasalahan keamanan, sistim perbankan, serta tata ruang yang
masih belum jelas sering men jadi penghambat dalam mengembangkan usaha
peternakan. Infrastruktur yang kurang memadai seperti tersedianya jalan yang
memadai, kelayakan pelabuhan dan sarana transportasi laut yang belum
memadai, bahkan kita belum memiliki kapal laut yang khusus untuk mengangkut
ternak antar pulau/negara, maupun ketersediaan air juga dapat menciptakan
permasalahan yang rumit bagi peternak disamping permasalahan ekonomi biaya
tinggi akibat berbagai pungutan liar.

c. PENGEMBANGAN PROSPEK PETERNAKAN RUMIINANSIA MELALUI


POLA AGRIBISNIS

1) Keadaan dan tantangan sub sektor peternakan

Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian. Sebagaimana


diketahui bersama bahwa masalah utama pembangunan pertanian secara
keseluruhan adalah “kekurangan (shortage) produksi pertanian”. Oleh karena itu
priorita utama tentunya adalah pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu tanaman

28 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
pangan, khususnya beras, walaupun sebenarnya permasalahan kekurangan
produksi juga terjadi pada sub sektor peternakan. Oleh karena itu semua
penyediaan infrra struktur seperti bendungan, irigasi, jalan desa, jembatan,
kelembagaan seperti koperasi lembaga keuangan, penyuluhan ditujukan untuk
mendukung terpenuhinya kebutuhan pokok tersebut di atas, yaitu beras.

Upaya ini sejalan dengan komposisi pola makan masyarakat Indonesia pada
umumnya, yaitu makanan utamanya adalah makanan asal tanaman pangan,
sedangkan produk peternakan berada pada prioritas berikutnya setelah tanaman
pangan. Hal ini bisa dipahami karena semua orang lebih mementingkan
makanan pokok (beras) terlebih dahulu, sementara produk peternakan harganya
relatif lebuh mahal dibanding produk tanaman pangan dan perikanan. Sehingga
permintaan produk peternakan akan meningkat jika pemenuhan kebutuhan
pangan yang pokok (beras) telah terpenuhi atau telah terjadi penngkatan
pendapatan.

2) Pergeseran Skala Usaha Peternakan

Tipologi usaha peternakan dapat dibedakan berdasarkan skala usaha dan


tingkat pendapatan peternak. Tipologi usaha peternakan tersebut diklasifikasikan
menjadi 4 kelompok, yaitu:

a) Peternakan sebagai usaha sambilan


Yaitu petani yang mengusahakan berbagai macam komoditi pertanian tanaman
panangan, dan ternak sebagai usaha sambilan untuk mencukupi kebutuhan
sendiri (subsistence), dengan tingkat pendapatan dari ternak kurang dari 30%

b) Peternakan sebagai cabang usaha


Yaitu Petani peternak yang mengusahakan pertanian campuran (mix farming)
dengan ternak sebagai cabang usaha tani, dengan pendapatan dari budidaya
peternakan mencapai 30% - 70% (semi komersial atau usaha terpadu)

c) Peternakan sebagai usaha pokok

Yaitu Peternak mengusahakan ternak sebagai usaha pokok dan komoditas


pertanian tanaman pangan atau lainnya sebagi usaha sambilan (singke
comodity) dengan tingkat pendapatan dari ternak mencapai 70% - 100%.

29 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
d) Peternakan sebagai usaha industri
Yaitu Peternakan sebagai usaha industri, mengusahakan komoditas ternak
secara khusus (specialized farming) dengan tingkat pendapatan 100% dari
usaha peternakan.

Pada umumnya skala usaha peternakan masih pada posisi sebagai usaha
peternakan rakyat yang berskala kecil. Berkaitan dengan pertumbuhan sub
sektor peternakan, diakui bahwa keberadaan usaha peternakan rakyat yang
berskala kecil tersebut sangat besar perannya.

Dalam rangka peningkatan sub sektor peternakan, maka usaha peternakan


rakyat tersebut tentunya perlu didorong untuk bergeser mencapai tingkat yang
lebih ekonomis sehingga selain dapat mensejahterakan peternaknya, juga dapat
dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan daerah melalui retribusi ternak
maupun pajak usaha, dan tentunya diharapkan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat banyak. Pergeseran skala usaha ini penting dimulai
dari peternakan sebagai usaha sampingan menuju peternakan sebagai cabang
usaha dan peternakan sebagai usaha pokok. Pergeseran skala usaha ini
merupakan pra kondisi untuk mencapai skala usaha industri peternakan.

Pergeseran skala usaha sebagaimana dijelaskan di atas bertujuan untuk


mensejahterakan peternak, mendorong pemberantasan masyarakat tertinggal,
dan sebagai landasan menuju industri peternakan yang tangguh. Hal ini sejalan
dengan tujuan pembangunan peternakan yang diantaranya adalah:

a) Meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan kualitas dan


produktifitas sumberdaya masyarakat peternak

b) Meningkatkan prod. ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam


negeri yang terjangkau masyarakat, penyediaan bahan indusatri dan
ekspor

c) Meningkatkan kualitas pangan dan gizi masyarakat melalui diversifikasi


produk bahan pangan asal ternak

d) Mengembangkan agribisnis peternakan untuk mendorong peningkatan


pendapatan dan perluasan kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan

30 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
e) Optimalisasi pemanfaatan SDA untuk memperoleh manfaat bagi
peningkatan prod ternak dengan tetap memperhatikan kelestarian
lingkungan.

3) Abribisnis Berbasis Peternakan Ternak Ruminansia

Berkaitan dengan usaha peternakan, maka perlu adanya reorientasi wawasan


atau cara pandang masyarakat tentang usaha peternakan. Reorientasi wawasan
tentang usaha peternakan tersebut dari cara pandang usaha peternakan sebatas
budidaya menuju ke cara pandang baru yaitu Industri biologis peternakan dan
Sistem agribisnis berbasis peternakan. Industri peternakan bukan sebatas
pada tingkat budidaya (on farm) saja, tetapi lebih luas sampai pada pasca panen,
pengolahan, pengemasan dan pemasaran (off farm). Perlu dipahami bahwa
Usaha peternakan sebagai bentuk industri biologis peternakan, mencakup 4
aspek, yaitu:

a) Peternak sebagai subyek, Harus ditingkatkan kesejahteraannya


b) Ternak sebagai obyek, Harus ditingkatkan produksi dan produktifitasnya
c) Lahan sebagai basis ekologi budidaya, Harus dilestarikan
d) Teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan
efisiensi, perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan
Demikian juga tentang konsep Sistem Agribisnis Berbasis Peternakan, bahwa
kegitan usaha peternakan bukan semata – mata kegiatan usaha di bidang
budidaya namun merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa sub sistem
yang membentuk suatu kesatuan, saling ketergantungan antara sub sistem satu
dengan sub sistem lainnya, sehingga setiap sub sistem akan saling mendukung
sub sistem lainnya secara bersama untuk tumbuh dan berkembang secara
bersama – sama pula.

Berkaitan dengan Sistem Agribisnis Berbasis Peternakan Ruminansia, sub


sistem – sub sistem yang dimaksud adalah:

a. Sub sistem Hulu


Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem hulu antara lain:
(1) Pembibitan

31 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Yaitu kegiatan usaha peternakan yang menghasilkan bibit ternak
ruminansia, baik sapi, domba, kambing atau kerbau, baik ternak pedaging
maupun ternak perah.
(2) Industri pakan ternak dan proses perdagangannya
(3) Industri peralatan peternakan dan proses perdagangannya
(4) Industri obat hewan serta proses perdagangannya

b. Sub Sistem Budidaya


Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem budidaya antara lain:
budidaya sapi perah, budidaya sapi potong, penggemukan sapi, budidaya
domba, penggemukan domnba, budidaya kambing, penggemukan
kambing, dan lain sebagainya

c. Sub sistem Hilir


Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem hilir antara lain: pasca panen
daging ternak ruminansia dan proses perdagangannya, pasca panen susu
dan proses perdagangannya, pengolahan daging dan proses perdagannya,
pengolahan susu dan proses perdagangannya, hasil samping peternakan
ruminansia dan proses perdagangannya

d. Lembaga Penunjang
Lembaga penunjang adalah lembaga yang mendukung atau mensupport
kegiatan usaha baik yang berada di hulu, budidaya maupun di hilir.
Lembaga penunjang tersebuat atara lain: Litbang, Penyandang Dana /
Modal, Konsultan, Transportasi, Asuransi dan lain sebagainya.

Dengan memahami konsep kegiatan usaha peternakan sebagai suatu industri


(industri biologis peternakan) dan konsep sistem agribisnis berbasis peternakan
(ternak ruminansia) maka pengembangan usaha budidaya ternak ruminansia
memiliki prospek yang cukup baik, dalam rangka peningkatan pemenuhan
kebutuhan protein hewani, mensejahterakan peternak dan masyarakat luas
sekaligus menciptakan lapangan kerja yang semakin luas pula.

32 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
D. AKTIVITAS PEMBELAJARAN

Langkah – langkah yang perlu dilakukan dalam mempelajari materi diklat ini
mencakup aktivitas individu dan kelompok.
1. AKTIVITAS INDIVIDUAL, MELIPUTI:

a. Memahami dan mencermati materi diklat tentang “Potensi


Peternakan Ruminansia”
b. Mengerjakan latihan dan tugas
c. Bertukar pengalaman (shering) tentang materi diklat “Potensi
Peternakan Ruminansia”.
d. Menyimpulkan hasil pembelajaran tentang “Potensi Peternakan
Ruminansia”.
e. Melakukan umpan balik dan tindak lanjut

2. AKTIVITAS KELOMPOK MELIPUTI:

a. Berdiskusi kelompok tentang materi diklat “Potensi Peternakan


Ruminansia”.
b. Mengerjakan / menyelesaikan lembar kerja
c. Bertukar pengalaman (shering) dalam menyelesaikan lembar kerja
d. Diskusi dan pengambilan kesimpulan berdasarkan hasil
penyelesaian lembar kerja
e. Shering pengalaman dengan cara presentasi hasil penyelesaaian
lembar kerja
f. Membuat rangkuman.

33 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Alur proses pembelajaran yang akan anda laksanakan berkaitan dengan
materi ini dapat digembarkan pada diagram alir sebagai berikut:

Mengamati
Pendahuluan Curah Pendapat
Membaca Modul)

Mengerjakan
Presentasi Diskusi Kelompok Latihan / Kasus/
Lembar kerja

Membuat Umpan Balik dan


Penutup
rangkuman Tindak Lanjut

E. LATIHAN, TUGAS DAN LEMBAR KERJA

1. Latihan
a. Jelaskan 4 macam tujuan pembangunan peternakan yang anda
ketahui!
b. Jelaskan 4 aspek yang tercakup dalam konsep industri biologis
peternakan.
c. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Sistem Agribisnis Berbasis
Peternakan Ruminansia!

2. Tugas
Buatlah makalah tentang prospek usaha budidaya ternak ruminansia
berdasarkan bahan bacaan yang berupa buku, jurnal dan sumber bacaan
lainnya yang relevan termasuk sumber informasi dari internet.

34 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
3. Lembar Kerja

Lembar Kerja 1.
Judul : Menganalisis potensi peternakan ruminansia
Tujuan : Peserta diharapkan mampu mengidentifikasi
potensi dari peternakan ruminansia
Waktu : 2 x 45 menit
Alat dan bahan : Peternakan ruminansia beserta seluruh aktivitas
budidayanya.
ATK
Kertas koran
Langkah Kerja :

1. Silahkan anda membentuk kelompok – kelompok keci. Setiap


kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.
2. Pilih salah satu diantara anggota kelompok untuk menjadi ketua
kelompok.
3. Lakukan dan biasakan berdoa sebelum dan sesudah
melaksanakan kegiatan.
4. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan!
5. Buatlah lembar observasi sesuai dengan kebutuhan!
6. Identifikasi komponen-komponen dari peternakan ruminansia!
7. Identifikasi masing-masing sumber daya yang dimiliki peternakan
ruminansia tersebut!
8. Buatlah daftar identifikasi dari hasil kegiatan tersebut!
9. Diskusikan dengan kelompok anda!
10. Apa yang dapat anda simpulkan?
11. Presentasikan hasil diskusi kelompok anda!

35 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Lembar Kerja 2.
Judul : Mengidentifikasi kontribusi ternak ruminansia.
Tujuan : Peserta diharapkan mampu mengidentifikasi
kontribusi ternak ruminansia sebagai sumber
pangan hewani aspek sosial-ekonomi.
Waktu : 2 x 45 menit
Alat dan bahan : Peternakan ruminansia beserta seluruh aktivitas
budidayanya.
ATK
Kertas koran
Langkah Kerja :

1. Silahkan anda membentuk kelompok – kelompok keci. Setiap


kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.
2. Pilih salah satu diantara anggota kelompok untuk menjadi ketua
kelompok.
3. Lakukan dan biasakan berdoa sebelum dan sesudah
melaksanakan kegiatan.
4. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan!
5. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan!
6. Lakukan analisis kontribusi ternak ruminansia baik sebagai sumber
pangan hewani maupun dari aspek ekonomi.
7. Diskusikan dengan kelompok anda!
8. Apa yang dapat anda simpulkan?
9. Presentasikan hasil diskusi kelompok anda!

36 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Lembar Kerja 3.

Judul : Menganalisis prospek peternakan ruminansia


Tujuan : Peserta diharapkan mampu menganalisis prospek
peternakan ruminansia di Indonesia
Waktu : 2 x 45 menit
Alat dan bahan : Peternakan ruminansia beserta seluruh aktivitas
budidayanya.
ATK
Kertas koran
Langkah Kerja :

1. Silahkan anda membentuk kelompok – kelompok keci. Setiap


kelompok terdiri dari 4 – 5 orang.
2. Pilih salah satu diantara anggota kelompok untuk menjadi ketua
kelompok.
3. Lakukan dan biasakan berdoa sebelum dan sesudah
melaksanakan kegiatan.
4. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan!
5. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan!
6. Lakukan analisis peluang usaha ternak ruminansia yang ada di
Indonesia !
7. Lakukan analisis faktor penghambat usaha dari ternak ruminansia
yang ada di Indonesia!
8. Diskusikan dengan kelompok anda!
9. Apa yang dapat anda simpulkan?
10. Presentasikan hasil diskusi kelompok anda!

37 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
F. RANGKUMAN

Produk utama peternakan ruminansia adalah daging dan susu. Produk ini
merupakan sumber protein hewani yang sangat diperlukan oleh tubuh manusia.
Sumber daya manusia mempunyai kedudukan penting dalam peternakan.
Bagaimana pun melimpahnya sumber daya alam lain tidak akan banyak
menghasilkan manfaat bagi manusia dan lingkungannya seandainya tidak
ditangani. Sumber daya alam akan menghasilkan manfaat berlimpah jika ada
manusia yang menggerakkannya.

Sumber Daya Alam, yang mendukung potensi ternak ruminansia adalah: bahan
baku pakan, lahan/tanah dan lingkungan, bahan baku kandang dan
perlengkapan, bahan baku vitamin, vaksin dan obat-obatan, dan sumber energy
Dalam peternakan, lembaga pendukung menjadi sangat diperlukan. Lembaga
pendukung yang dimaksud adalah Koperasi atau Organisasi Peternakan,
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Lembaga Penelitian, Pemerintah , Lembaga
keuangan dan permodalan, dan Pasar
Prospek Peternakan Ruminansia dari Sisi Permintaan sangat baik mengingat
beberapa aspek, yaitu: Jumlah penduduk, Tingkat pendapatan penduduk,
Perkembangan industri jasa dan Industri pasca panen

Prospek Peternakan Ruminansia dari Sisi Penawaran, juga sangat baik


mengingat adanya: Tenaga kerja, Ketersediaan pakan , Bibit dan bakalan.
Tipologi usaha peternakan dapat dibedakan berdasarkan skala usaha dan
tingkat pendapatan peternak. Tipologi usaha peternakan tersebut diklasifikasikan
menjadi 4 kelompok, yaitu:peternakan sebagai usaha sambilan, Peternakan
sebagai cabang usaha, Peternakan sebagai usaha pokok dan Peternakan
sebagai usaha industri.

Tujuan pembangunan peternakan yang diantaranya adalah:


a. Meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan kualitas dan
produktifitas sumberdaya masyarakat peternak

b. Meningkatkan prod. ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam


negeri yang terjangkau masyarakat, penyediaan bahan indusatri dan ekspor

38 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
c. Meningkatkan kualitas pangan dan gizi masyarakat melalui diversifikasi
produk bahan pangan asal ternak

d. Mengembangkan agribisnis peternakan untuk mendorong peningkatan


pendapatan dan perluasan kesempatan kerja dan berusaha di pedesaan

e. Optimalisasi pemanfaatan SDA untuk memperoleh manfaat bagi


peningkatan prod ternak dengan tetap memperhatikan kelestarian
lingkungan.

Industri biologis peternakan, mencakup 4 aspek, yaitu:

a. Peternak sebagai subyek, Harus ditingkatkan kesejahteraannya


b. Ternak sebagai obyek, Harus ditingkatkan produksi dan produktifitasnya
c. Lahan sebagai basis ekologi budidaya, Harus dilestarikan
d. Teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi,
perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan

Sistem Agribisnis Berbasis Peternakan Ruminansia, terdiri dari beberapa sub


sistem, yaitu:

a. Sub sistem Hulu. Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem hulu antara
lain:Pembibitan, Industri pakan ternak dan proses perdagangannya, Industri
peralatan peternakan dan proses perdagangannya dan Industri obat hewan
serta proses perdagangannya
b. Sub Sistem Budidaya.Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem
budidaya antara lain: Budidaya sapi perah, Budidaya sapi potong,
Penggemukan sapi, Budidaya domba, Penggemukan domnba, Budidaya
kambing, Penggemukan kambing, dan lain sebagainya
c. Sub sistem Hilir. Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem hilir antara
lain: pasca panen daging ternak ruminansia dan proses perdagangannya,
pasca panen susu dan proses perdagangannya, pengolahan daging dan
proses perdagannya, pengolahan susu dan proses perdagangannya, hasil
samping peternakan ruminansia dan proses perdagangannya
d. Lembaga Penunjang. Lembaga penunjang adalah lembaga yang
mendukung atau mensupport kegiatan usaha baik yang berada di hulu,
budidaya maupun di hilir. Lembaga penunjang tersebuat atara lain: Litbang,

39 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Penyandang Dana / Modal, Konsultan, Transportasi, Asuransi, dan lain
sebagainya.

G. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT

Setelah Anda mempelajari materi Kegiatan Pembelajaran 1, tentang “Potensi


Peternakan Ruminansia”, yang mencakup sumberdaya peternakan ruminansia,
kontribusi peternakan ruminansia, dan prospek peternakan ruminansia, lakukan
umpan balik dan tindak lanjut, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut:

a. Pertanyaan:
Hal-hal apa saja yang dapat anda lakukan terkait dengan materi “Potensi
Peternakan Ruminansia”?

Jawaban:....................................................................................................

b. Pertanyaan:
Pengalaman baru apa yang anda peroleh dari materi “Potensi Peternakan
Ruminansia”?

Jawaban:.....................................................................................................

c. Pertanyaan:
Manfaat apa saja yang anda peroleh dari materi “Potensi Peternakan
Ruminansia”?

Jawaban:.....................................................................................................

d. Pertanyaan:
Aspek menarik apa saja yang anda temukan dalam materi “Potensi
Peternakan Ruminansia”?

Jawaban:..........................................................................................................

40 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2.

MENERAPKAN TINGKAHLAKU TERNAK


RUMINANSIA

A. TUJUAN
1. Melalui diskusi peserta guru/pendidik dapat menerapkan teori tingkah laku
pada budidaya ternak ruminansia dengan cermat dan teliti
2. Melalui diskusi dan praktek peserta guru/pendidik dapat menerapkan
tingkah laku reproduksi pada budidaya ternak ruminansia dengan cermat
dan teliti
3. Melalui diskusi dan praktek peserta guru/pendidik dapat melakukan
menerapkan tingkah laku makan pada budidaya ternak ruminansia sesuai
prosedur dengan teliti dan cermat
4. Melalui diskusi dan praktek peserta guru/pendidik dapat menerapkan
tingkah laku sosial pada budidaya ternak ruminansia sesuai dengan
kondisi tanah iklim daerah setempat dengan teliti dan cermat

B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI


1. Menerapkan teori tingkahlaku pada budidaya ternak ruminansia
2. Menerapkan tingkahlaku reproduksi pada budidaya ternak ruminansia
3. Menerapkan tingkahlaku makan pada budidaya ternak ruminansia
4. Menerapkan tingkahlaku sosial pada budidaya ternak ruminansia

C. URAIAN MATERI

1. Menerapkan Teori Tingkahlaku Ternak Ruminansia


Salah satu tahapan penting sebelum melakukan agribisnis ternak ruminansia
yang perlu dilakukan adalah mengenali tingkah laku ternak. Perilaku merupakan
suatu aktivitas yang perlu melibatkan fungsi fisiologis. Setiap macam perilaku
melibatkan penerimaan rangsangan melalui panca indera. Perubahan
rangsangan-rangsangan ini menjadi aktivitas neural, aksi integrasi susunan
syaraf dan akhirnya aktivitas berbagai organ motorik, baik internal maupun

41 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
eksternal untuk mempertahankan proses keseimbangan agar proses
metabolisme di dalam tubuh dapat berlangsung secara normal.

Tingkah laku atau etologi hewan merupakan hal yang penting dalam melakukan
budidaya ternak. Tingkah laku ini telah dimanfaatkan oleh para pemburu sejak
jaman masa pra sejarah kemudian oleh para masyarakat untuk menjinakkan
hewan-hewan tersebut. Namun sampai pada pertengahan abat ini, para
ilmuwan di bidang pertanian tidak banyak mengenal ilmu tingkah laku hewan
baik secara praktis sebagai hal yang penting maupun sebagai hal yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Semua mahluk hidup di dunia ini mempunyai tingkah laku yang berbeda dan
harus saling mengenali tingkah laku masing-masing untuk tujuan masing-masing
pula. Termasuk pula peternak, untuk membuka usaha ternak yang sukses,
peternak harus mengetahui tingkah laku pada ternaknya. Tingkahlaku ternak
tingkah tanduk atau kegiatan hewan yang terlihat dan saling berkaitan secara
individual atau kolektif dan merupakan cara hewan berinteraksi secara dinamik
dengan lingkungannya. Dengan mengenal tingkah laku ternak itulah peternak
dapat dengan mudah menangani ternak-ternaknya. Dari tingkah laku ini kita
akan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kedudukan manusia
sebagai mahluk sosial, mendapatkan informasi tentang indera hewan tersebut
dan tentang mekanismenya homoestatik hewan supaya keadaan selalu
seimbang atau adaptasi agar tetap hidup.

Jenis ternak yang paling menyumbangkan sebagai bahan pangan sumber gizi
terbesar adalah ternak ruminansia terutama ternak sapi. Ilmu pengetahuan
tentang ruminansia baik mengenahi prinsip pemeliharaan secara teoriitis
ataupun praktis, serta ilmu tentang produksi, reproduksi, genetik, teknologi hasil
produksi (daging, susu) dan pemasarannya sudah bisa dimengerti tetapi sedikit
sekali yang memahami tentang tingkah laki dari jenis ruminansia ini. Sehingga
masih ada masalah sedrhana yang belum bisa teratasi karena kurang pahaman
tentang tingkah laku ternak ini.
Strategi apa yang belum diterapkan secara intensif oleh peternak yaitu
mengembangkan, mensosialisasikan, konsolidasi dan perkembangan tingkah
laku ternak ruminansia itu sendiri.

42 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Tingkah laku ternak didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun
eksternal. Dapat juga didefinisikan sebagai respons ternak terhadap stimulus /
rangsangan. Ethologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku hewan (animal
behavior) di lingkungan alami dan di lingkungan lain di mana ternak tersebut bisa
hidup. Sedangkan etogram merupakan katalog yang tepat dan trinci yang
memuat respons yang membentuk tingkahlaku hewan. Etogram ini sangat
berguna untuk mengetahui bagaimana hewan mengatasi bermacam-macam
lingkungan dan pengalaman.

Hewan (termasuk juga ternak) merupakan makhluk hidup yang selalu


berinteraksi secara dinamis dengan lingkungannya. Interaksi tersebut ditunjukkan
berupa tingkah laku yang terlihat dan saling berkaitan secara individual maupun
kolektif. Setiap ternak memiliki tingkah laku yang khas dan spesifik. Tingkah laku
ini merupakan bawaan dan refleksi karakteristik spesies ternak tersebut yang
dapat membedakannya dengan ternak lain. Tingkah laku khusus yang dimiliki
spesies ternak tidak akan berubah oleh proses belajar meskipun semua sifat
bawaan lainnya dapat berubah.

Ethologi sebagai ilmu tingkah laku hewan kedudukannya saling berkaitan dan
berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisiologi, genetika, zoologi, dan
psikologi. Ethologi dapat memberikan studi secara lebih komprehensif mengenai
tingkah laku hewan. Pengetahuan tentang tingkah laku hewan ini berguna untuk
memberi informasi yang berkaitan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk
sosial. Ethologi dapat diaplikasikan di berbagai bidang untuk kepentingan
manusia. Ilmu ini bermanfaat dalam konservasi dan pemeliharaan hewan. Di
bidang peternakan, ethologi berguna dalam memudahkan penanganan ternak
yang dipelihara agar dapat meningkatkan efisiensi usaha.

Ethologi dapat diterapkan pula dalam bidang geologi untuk memprediksi


terjadinya gempa atau tsunami. Setelah terjadinya gempa dan gelombang
tsunami di negara-negara Asia dan Afrika pada tanggal 26 Desember 2004 lalu,
berbagai peneliti dari dalam dan luar negeri banyak yang menyerukan untuk
menggunakan ethologi dalam memprediksi tsunami tersebut. Ethologi mampu

43 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
untuk menjelaskan secara ilmiah tentang berbagai fenomena tingkah laku aneh
yang terlihat pada hewan sebelum terjadinya gempa.

Berkembangnya ethologi di era modern sekarang ini tidak terlepas dari peran
para peneliti di masa lalu. Ethologi dirintis sejumlah ilmuwan besar, mereka
adalah Konrad Z. Lorenz, Karl Von Frisch, dan Nikolaas Tinbergen. Konrad Z.
Lorenz telah diangkat sebagai Bapak Ethologi Modern (Father of Modern
Ethology) yang juga telah meraih Hadiah Nobel (Nobel Prize) pada tahun 1973.

a. Perilaku dasar ternak ruminansia


Perilaku dasar pada hewan seperti makan, minum, tidur, istirahat, aktivitas
seksual, eksplorasi, latihan, bermain, ekplorasi, aktivitas melarikan diri,
pemeliharaan dan sebagainya sangat penting untuk diketahui dalam rangka
untuk memenuhi kebutuhan dan memberi rasa nyaman serta aman terhadap diri
mereka. Kondisi dimana perilaku dasar tersebut tidak terpenuhi akan berdampak
pada kinerja dan produktivitas dari hewan. Beberapa perilaku dapat merugikan
kesehatan dan produksi bahkan jika penyebab perubahan perilaku semakin
meningkat maka secara tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan sehingga
kembali perlu ditekankan tentang pentingnya memahami perilaku normal sapi
sebagai indikator untuk mengetahui respon perilaku umum. Kondisi yang
menghambat perilaku dasar memaksa menciptakan suatu penggiatan atau
intensifikasi untuk mengatasi hal tersebut.

b. Istilah-istilah dalam ilmu tingkahlaku ternak


(1) Ingestif.
Ini mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar makan. Seperti halnya
ternak mammalia yang masih muda yang mendapatkan makanan dalam bentuk
susu cair. Pada domba dan kambing, ingestif diperlihatkan pada tingkahlaku
merumput, memakan tunas-tunas, mengunyah, menjilati garam, minum,
menyusui, mendorong dengan hidung.

(2) Shelter –seeking (pencarian tempat berteduh)


Beberapa jenis mammalia memilih keadaan lingkungan yang optimal bagi
dirinya, misalnya berteduh dibawah pohon apabila udara terlalu panas atau

44 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
dingin. Lebih menyukai beberapa jenis pohon-pohonan tertentu untuk
bersarang misalnya pada burung. Tingkahlaku ini sring menyebabkan
berkumpulnya hewan di suatu tempat. Keadaan sosial alami kebanyakan ternak
yang telah dipelihara mempersiapkan mereka untuk membentuk kelompok
dalam lingkungan mereka pilih sebagai tempat yang nyaman bagi
kebutuhannya.

Pada domba dan kambing diperlihatkan dengan tingkah laku bergerak kearah
pohon, ke dalam kandang, berkumpul bersama untuk menjauhkan dari lalat-lalat.
Saling berdesakan pada keadaan iklim yang sangat dingin, membuat lubang
dari tanah dan terlentang. Sedangkan ternak sapi merupakan ternak yang sangat
mudah beradaptasi dengan lingkungannya karena sapi bisa mempertahankan
suhu tubuhnya dengan panas maupun suhu dingin, sehingga perilaku Shelter –
seeking tidak begitu tampak.

(3) Investigatory (penyidikan)


Hal ini merupakan kharakteristik yang penting dari beberapa species ternak
untuk memudahkan mereka melihat keadaan bahaya atau menemukan
temannya. Sebagai contoh dua ekor anjing yang bertemu akan menjilati
sesamanya termasuk menjilati anusnya masing-masing. Para peneliti
seharusnya pula juga mempunyai diagram khusus untuk jenis tingkahlaku
tersebut.

Pada kambing dan domba diperlihatkan dengan perilaku mengangkat kepala,


mengarahkan mata, telinga dan hidung kearah gangguan. Mencium benda atau
mencium domba dan kambing yang lain. Sedangkan investigative behavior pada
sapi potong ditunjukan dengan sifat tergolong agresif saat baru saja didatangi.
Kepalanya akan mendongong untuk melihat siapa yang datang dan
meninggalkan aktivitas makannya, lama-kelamaan saat dielus kepalanya dia
akan lebih tenang. Ternak sapi mempunyai sifat mudah stress dan hal ini yang
menyebabkan sapi selalu dalam kondisi waspada .

(4) Alelomimetik
Alelomimetik merupakan suatu kecenderungan untuk terbang atau berkelompok
dan terikat dalam tingkah laku yang sama dalam satu satuan waktu. Ciri ini

45 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
merupakan kharakteristik hewan dengan tingkat sosial yang tinggi seperti
hewan didomestikasi.

(5) Agonistik
Agonistik mempunyai arti yang cukup luas meliputi menonjolkan postur,
melakukan pendekatan, menakut-nakuti, dan berkelahi.

Gambar 2.1. Perilaku agonistik pada domba


Sumber. Wikimedia (2009)

Agonistik meliputi seluruh tingkahlaku yang ada hubungannya dengan


agresivitas, kepatuhan, dan pertahanan. Agonistik berasal dari kata latin yang
berarti berjuang.

Pada kambing dan domba tingkahlaku agonistik diperlihatkan dengan mencakar,


menanduk, mendorong dengan bahu. Lari bersama dan menerjang (menendang
dan berkelahi, melarikan diri, menanduk)

(6) Eliminatif
Meliputi kencing dan buang kotoran yang berbeda-beda antara species dan
jenis kelamin. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk menandai aktivitas seksual,
misalnya ternak betina jongkok waktu kencing, dan dapat juga dimanfaatkan
untuk menandai daerah kekuasaannya (misal pada anjing dengan air kencing)
dan merupakan dan bagian komunikasi antara temannya. Tingkahlaku
eliminatif pada domba dan kambing ditunjukkan dengan posisi kencing yaitu
membungkukkan punggung atau membengkokkan kaki pada anak domba
jantan.

Pada sapi, perilaku eliminatif ditunjukkan dengan cara mengangkat ekor keatas
serta kaki belakang akan dilebarkan sedikit lalu mengeluarkan kotoran setelah itu

46 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
mengibaskan ekornya. sedangkan pada proses urinate yaitu dengan cara yang
hampir sama namun kaki belakang agak di tekuk sedikit. Pada saat
mengeluarkan urine ataupun kotoran maka ekor sapi akan otomatis naik.

(7) Epimelitik (care-giving) dan etepimeletik (care- soliciting).


Perlu dicatat bahwa pada kebanyakan mammalia terlihat jelas adanya
tingkahlaku keindukan. Pada ternak domba dan kambing, care giving ditunjukkan
dengan menjilati dan menggigit membrana placenta pada anak.
Membungkukkan punggung untuk memberi kesempatan anak menyusu,
mencium anak domba mulai dari ekor. Mengembik atau berteriak pada ternak
dewasa bilamana dipisahkan dari kelompoknya.

(8) Boddy care behavior


Boddy care terbagi atas tiga sifat , yaitu :
- Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibaskan badan dan menggosokan badan pada dinding kandang.
Jadi perlu menyiapkan kandang dengan dinding yang sedikit kasar dan
tak menyakitinya kita juga perlu memerhatikan kandang bila ada dinding
tajam atau paku di dinding.
- Thermoregulatory yaitu usaha untuk mempertahankan suhu tubuh untuk
mencapai rasa nyaman
- Comfort seeking (Mencari Kenyamanan). Ditunjukan dengan cara saling
menjauh dari kerumunan, bersandar dan duduk disamping dinding
tersebut. Kambing muda lebih suka beraktifitas.

(9) Seksual atau reproduksi


Merupakan tingkahlaku yang beragam yang diperlukan sebelum kopulasi terjadi.

(10) Bermain
Bermain merupakan tingkahlaku yang sering terlihat pada ternak yang masih
muda dan sehat ini dapat dimanfaatkan dalam proses mempelajari beberapa
kejadian yang berguna kelak pada saat mereka dewasa. Pada ternak kambing
dan domba, tingkahlaku bermain ini ditunjukkan dengan :
- bermain seksual : menaiki/ dinaiki oleh yang berkelainan jenis kelamin.

47 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
- bermain agonistik : bermain sambil saling menerjang
- bermain alelomimetik: berlari bersama
- “gambolling” : meloncatat sambil mengangkat kaki dan berputar diudara
bersama-sama
- “game pllying”: meloncat bersama dia atas batu karang atau kayu yang
roboh.

(11) Grouping behavior


Grouping behavior atau sifat berkelompok. Pada domba grouping behavior
sangat nampak, mereka bergerombol antara domba satu dengan yang lain, dan
saling mengendus meskipun tertutup oleh sekat – sekat dinding, bahkan anak
domba yang berukuran tubuh kecil berlarian dari kandang satu kekandang lain,
yang memang terdapat lubang yang muat untuk dimasuki. Sikap grouping
tampak saat mereka berkomunikasi dan saling bergelombor

(12) Home range


Home range merupakan suatu daerah bagi hewan-hewan pengembara tetapi
bagi hewan tersebut tempat ini merupakan tempat yang tidak perlu
dipertahankan.

(13) Teritorial
Teritorial merupakan suatu daerah yang akan dipertahankan oleh hewan-hewan
lain dari species dan jenis kelamin yang sama yang melintasi darah tersebut.

(14) Daerah pribadi


Seekor hewan juga menjaga daerah sekitarnya ysng disebut dngan darah
pribadi (personal space). Jika daerah ini dilanggar, hewan tersebut akan
memperlihatkan tingkahlaku agresifnya atau menyerang atau paling tidak
memperlihatkan tingkah laku menyerang secara submisif, bergantung pada
tingkat dominasinya dalam kelompok tersebut. Daerah ini tidak perlu sama jauh
dari sluruh tubuh tetapi biasanya dimulai dari kepala . Daerah pribadi ini bisa
dianggap sebagai jenis daerah perjalanan yang bergerak bersama hewannya.

(15) Flight distance

48 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Daerah ini merupakan daerah tempat hewan bergerak bila didekati oleh
predator atau orang yang menanganinya. Gerakan terpaksa ini terjadi apabila
seorang mendekatinya sampai jarak tertentu (fligh distance) dari ternak
tersebut. Karena kebanyakan hewan sangat peka terhadap arah seseorang
atau anjing yang sudah dilatih mendekati hewan tersebut. Peternak yang
terampil akan menggunakan pengetahuan ini utuk menggiring ternaknya secara
mudah dari satu tempat ke tempat lain.

2. Menerapkan Tingkahlaku Reproduksi Pada Budidaya Ternak


Ruminansia

Reproduksi dikontrol oleh faktor internal dan eksternal. Terdapat tanda-tanda


yang ditunjukkan oleh seekor ternak yang siap untuk kawin. Baik lawan jenisnya
ada disekitar ataupun tidak. Diantaranya pada kelompok sapi, yang merupakan
kelompok ternak dengan nafsu seksual yang aktif atau disebut SAG = Sexual
Active Groups, sapi betina menaiki betina lainnya. Contoh tanda-tanda lainnya
adalah bau kambing jantan yang disebabkan oleh percikan air kencing dan
semen di badannya, bau skresi wax pada wool domba jantan pada periode
kawin, sekresi androstenol dan androstenon dari kelenjar air liur babi jantan,
pengangkatan kaki oleh anjing jantan dan termasuk pemberian tanda-tanda
pada daerah kekuasaannya) bersama-sama dengan pemberian tanda bagi
kehadiran anjing betina dalam keadaan berahi yang ditunjukkan oleh seringnya
kencing selama birahi.

a. Identifikasi rangsangan
Terdapat juga tanda-tanda yang khas apabila pada saat siap kawin terdapat
lawan jenisnya. Ternak juga perlu mengetahui apakah lawan jenisnya cocok
untuk teman kawinnya. Jadi, perlu untuk menentukan jenis kelaminnya apakah
jantan, betina atau netral dan apakah lawan jenisnya itu dapatdan siap untuk
kawin.

Beberapa jenis ternak menjumpai seekor ternak yang asing baginya lewat
pertemuan antara muka dan muka, misalnya hidung dengan hidung, contohnya
pada babi dan kucing. Yang lainnya lewat pertemuan antara kepala dan ekor
atau perut bawah, contohnya pada anjing, sapi, domba dan kambing. Sementara

49 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
kuda dapat melakukan salah satu atau keduanya dari cara-cara pertemuan
tersebut.

b. Penyerentakan rangsangan
Apabila teman kawin telah diketahui, masih terdapat satu tahapan rangsangan
seksual yang penting sebelum terjadinya perkawinan yang berhasil. Hal ini
disebut proses sinkronisasi untuk jantan dan betina dan kesiapan dalam diri
ternak tersebut menjadi rangsangan eksternal untuk membantu proses
perkawinan.
1). Secara fisiologis
Ternak betina harus dalam keadaan berahi dan jantan siap untuk kawin. Dalam
hal ternak dari daerah sub tropis perubahan panjangnya hari terang adalah
suatu penghambat untuk membawa ternak ke dalam musim kawin.

2). Rangsangan seksual


Semua aktivitas yang diperlihatkan oleh ternak tersebut akan mencapai
puncaknya dengan kawin. Ternak jantan mendekati lawan jenisnya dengan cara
agresif. Jadi, rangsangan seksual mendorong jantan untuk kawin dan buka untuk
memperlakukan betina sebagai lawan. Sementara ternak betina didorong untuk
diam atau siap untuk dirangsang serta dikawini dan bukan untuk bercanda.
Akhirnya hasil rangsangan seksual pada jantan dan betina menunjukkan
aktivitas dalam pertautan atau penyatuan tubuhnya dan berada tetap pada
posisi kawin yang diperlukan untuk berhasilnya kopulasi.

Gambar 2.2. Pelipatan bibir atau flehmen pada domba


sumber https://rollingharbourlife.wordpress.com

Pelipatan bibir atau flehmen adalah satu diantara beberapa respon yang sering
diperlihatkan selama periode perangsangan seksual pada ungulata. Waktu
flehmen, kepala diangkat dan dijulurkan, bibir atas dilipat ke atas dengan mulut

50 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
sedikit terbuka. Respon flehmen yang dilakukan pejantan ini adalah untuk
menentukan apakah betina dalam keadaan berahi

Dalam keadaan digembalakan di padang rumput, domba jantan akan mencium


domba betina pada daerah sekitar anus. Respon yang normal yang ditunjukkan
oleh betina adalah kencing. Ternak jantan kemudian mengadakan flehmen,
mungkin sebagai suatu tanda adanya penciuman bau badan dengan organ
vomero-nasal (organ jocobson).

Organ ini adalah penerima bau yang berbentuk sepasang saluran buntu yang
terletak diantara rongga hidung yang terletak diantara rongga hidung dan
dihubungkan ke atas langit-langit mulut terus ke pusat penglihatan di otak.
Feromon dalam air kencing dijadikan tanda oleh ternak jantan akan adanya
betina dalam keadaan berahi. Flehmen adalah suatu tanda yang dapat dilihat
dari pengujian air kencing.

3). Kopulasi
Kopulasi adalah penempatan spermatozoa ke dalam organ reproduksi betina
untuk membuahi sel sel telur. Pada ternak mammalia, tingkahlaku betina yang
bergerak terus sehingga pejantan tersebut dapat melakukan kopulasi dengan
baik.

Pada beberapa jenis ternak telah ditemukan bahwa ternak jantan yang merasa
lelah sementara setelah perkawinan dan tidak lagi terangsang oleh betina yang
telah dikawini. Apabila ternak betinanya diganti, maka akan menunjukkan
perhatian pada betina yang baru tersebut. Ini merupakan sifat pejantan yang
cenderung menyebarkan kesnangan atau sprmatozoa kepada beberapa betina
dari pada hanya kepada satu ekor betina.

c. Siklus berahi (estrus atau berahi) pada ternak ruminansia


Pada dasrnya siklus berahi diatur oleh oleh keseimbangan antara hormon-
hormon steroid dan protein dari ovarium dan hormon-hormon gonadotropin dari
hipopisa anterior. Progesteron mempunyai suatu pengaruih dominan terhadap
siklus berahi. Selama periode diestrus, ketika konsentrasi progesteron tinggi,
konsentrasi FSH, LH dan sisa total Estrogen relatif rendah.

51 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Saat ini pada beberapa spesies dapat dideteksi adanya pertumbuhan folikel,
tetapi sangat lambat bila dibandingkan apabila yang terjadi 2 atau 3 hari
menjelang terjadinya ovulasi. Demikian juga selama kebuntingan, konsentrasi
progesteron yang tinggi menahan pelepasan hormon-hormon gonadotropin yang
dapat menyebabkan munculnya tingkah laku berahi. Kejadian ini merupakan
kontrol dari progesteron terhadap hormon gonadotropin, dengan mekanisme
kerja umpan balik negatif.

Pada akhir diestrus, PGF 2-alpha dari uterus menyebabkan tejadinya regresi
corpus luteum. Bersamaan dengan ini terlihat konsentrasi progesteron dalam
darah menurun dengan tajam. Penurunan yang tiba-tiba ini menyebabkan
timbulnya rangsangan pada hipofisis anterior, ditambah dengan hilangnya
blokade dari progesteron menyebabkan terjadinya pelepasan FSH,LH dan LTH.
Dengan bertumbuhnya folikel, terjadi suatu gelombang estrogen yang
menyebabkan munculnya keinginan dan tingkah laku berahi, dan merupakan
picu terhadap pelepasan LH oleh hipopisis anterior melalui mekanisme umpan
balik positif. Setelah terjadinya ovulasi, di bekas tempat ovum yang berevolusi
terbentuk corpus luteum. Menjelang hari ke 4 atau 5 siklus, peningkatan
progesteron sudah dapat dideteksi, yang merupakan petunjuk dimulainya
periode diestrus. LH dengan LTH merawat corpus luteum untuk berfungsi pada
hewan ternak. LH bekerja untuk mempertahankan fungsi ini dengan peningkatan
aliran darah melalui corpus luteum. Sebaliknya PGF 2-alpha menutup aliran
darah ke corpus luteum yang menyebabkan tidak terjadinya sintesis progestin
oleh corpus luteum, dan regresi corpus luteum. Siklus estrus terdiri atas
beberapa periode yaitu :
1) Estrus/ berahi
Periode ini dapat ditandai dari tingkah laku hewan yang bersangkutan, seperti:
berusaha menunggangi sapi lain, Vulva membengkak dan keluar lendir yang
jernih yang biasanya melekat pada bagian pantat atau flanks. Aktivitas fisik
meningkat pada hari berahi, sapi keliatan gelisah ingin keluar kandang.
Melenguh-lenguh dan pangkal ekor terlihat sedikit terangkat Pada sapi betina
dara, pada waktu berahi sering terlihat vulvanya bewarna sedikit kemerah-
merahan.

52 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Pada sore hari lama berahinya lebih lebih panjang sekitar 2-4 jam. Saat
terjadinya ovulasi bila dihubungkan dengan berahi, pada sapi adalah 10-12 jam
sesudah akhir berahi, pada domba pada pertengahan akhir berahi, pada babi
sekitar pertengahan berahi dan pada kuda satu sampai dua hari sebelum berahi
berakhir.

2) Metestrus (Post-estrus)
Periode ini ditandai dengan tidak terlihat tau telah terhentinya berahi. Sel-sel
granulosa folikel dibagian bekas ovum yang berevolusi tumbuh dengan cepat
membentuk corpus luteum (corpora klutea pada hewan yang multipel ovulasi)
dibawah pengaruh LH dari Adenohypophysa. Corpus luteum yang terbentuk
menghasilkan progesteron, yang menghambat sekresi FSH. Akibatnya
pematangan folikel tertier menjadi folikal de Graaf terhenti. Pada saat ini terjadi
perubahan pada uterus untuk menyiapkan diri memelihara perkembangan
embrio. Pada sapi selama awal metestrus kadang-kadang terlihat pendarahan
(haemorrhagi). Pendarahan ini disebabkan karena pecahnya kapiler yang sangat
hiperhaemis pada lapisan epitel dinding uterus akibat penurunan estrogen.

3) Diestrus
Periode dietrus adalah periode terpanjang diantara keempat periode siklus
berahi. Periode ini terjadi pada hari kelima pada sapi, pada babi dan domba hari
keempat, dan hari kedelapan pada kuda. Dalam periode ini corpus luteum sudah
berfungsi sepenuhnya. Endometrium menebal, kelenjer dan urat daging uterus
berkembanmg untuk merawat embrio dari hasil pembuahan danuntuk
pembentukan plasenta. Bila memang terjadi pembuahan keadaan ini berlanjut
sealama kebuntingan,dan corpus luteum tetap bertahan sampai terjadi kelahiran,
dan corpus lutemnya dinamakan corpus luteum gravidatum. Bila tidak terjadi
pembuahan, corpus luteum akan beregrasi. Pada sapi regresi corpus luteum
terjadi pada hari ke-16 atau 17 siklus berahi.

4) Proestrus
Periode ini dimulai dari saat beregrasinya corpus luteum sampai hewan benar-
benar berahi. Pada saat ini hewan telah memperlihatkan tanda-tanda berahi,

53 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
tetapi belum bersedia untuk melakukan kopulasi. Hal ini mungkin disebabkan
karena kadar estrogen yang dihasilkan oleh folikel belum cukup untuk
memalingkan kehendak betina untuk menerima hewan jantan. Perubahan alat
kelamin bagian dalam, terlihat pada ovariumnya, dimana terjadi pertumbuhan
folikel yang cepat sekali dari folikel tertier menjadi folikel de Graaf. Uterus dan
oviduct tebih banyak mengandung pembuluh darah dari pada biasanya. Kelenjer-
kelenjer endometrium tumbuh memanjang, cervix mulai rilex dan kelenjer-
kelenjer lendir mulai bereaksi.
Sedangkan berdasarkan kadar hormon yang dihasilkan oleh ovarium, beberapa
ahli reproduksi membagi siklus berahi atas 2 fase yaitu:
a) Fase Estrogenik (fase folikel). Fase ini menggabungkan fase proestrus
dan estrus.
b) Fase Prostegenik (fase luteal)
Fase ini menggabungkan fase Etestrus dan diestrus

Siklus birahi pada setiap hewan berbeda antara satu sama lain tergantung dari
bangsa, umur, dan spesies. Interval antara timbulnya satu periode berahi ke
permulaan periode berikutnya disebut sebagai suatu siklus berahi. Siklus berahi
pada dasarnya dibagi menjadi 4 fase atau periode yaitu ; proestrus, estrus,
metestrus, dan diestrus. Berikut ini adalah keadaan korpus luteum dan folikel
pada ovarium sapi selama siklus estrus.

d. Tingkahlaku reproduksi pada ternak domba


Di daerah tropis domba mengalami musim berkembang biak sepanjang tahun.
Sedangkan di negara-negara sub tropis musim berkembang biak terjadi pada
saat hari terang yang pendek. Siklus berahi berkisar 17 hari (variasi antara 16 –
20 hari).

Tanda-tanda umum dari domba jantan nampaknya adalah feromon yang


terdapat pada lemak yang keluar dari kulit dan bulu wool domba. Pada domba
betina tidak didapati tanda-tanda umum seperti pada sapi betina untuk
mendeteksi berahinya. Tetapi domba betina dalam keadaan berahi tidak
seharusnya tidak aktif.

54 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Tingkat dominansi memegang peranan penting dalam keadaan kawin di
kandang. Sedangkan dalam keadaan dilepas, pejantan yang subordinat dapat
mengawini betina dalam jumlah yang sama. Beberapa peneliti telah menyelidiki
pembentukan satu kelompok betina tertentu dari domba betina berahi di sekitar
pejantan yang dominan. Domba betina berahi tidak selalu berhubungan dengan
domba jantan dominan dan pada saat betina bergerak keluar daerah padang
(audience area) pejantan dominan maka domba betina akan dikawini oleh
pejantan subordinat. dalam keadaan tertutup, pejantan yang dominan
menghalang-halangi pejantan subordinat untuk kawin walaupun pejantan
dikandangkan pada kandang tepisah. Kejadian ini dikenal dngan istilah
“pengaruh pemirsa” (audience effect). Respon tingkah laku dalam jarak dekat
dari betina dewasa yang merangsang pejantan untuk aktivitas selanjutnya
antara lain :
 menoleh kebelakang
 mencium skrotum pejantan
 mengibaskan ekor
 berdiri diam
Gerakan ekor kesamping waktu dikibas-kibaskan merupakan suatu respons
untuk membantu memasukkan penis. Apabila domba betina pergi meninggalkan
pejantan, ini menunjukkan bahwa betina tidak dalam keadaan birahi.

Domba betina muda sering memperlihatkan suatu pola yang kurang sempurna
pada respons perkawinan dan tidak mencari pejantan . Pada suatu penelitian
didapatkan bahwa pada beberapa domba muda yang telah mencapai pubertas
dan ovulasi ketika dinaiki oleh pejantan menjatuhkan diri dan tidak bisa dikawini,
atau berdiri siap untuk dinaiki dan dikawini tetapi belum ovulasi.

Domba jantan muda terampil dan kawin dengan frekuensi tinggi tetapi hanya
beberapa ekor betina yang bunting. dalam hal ini tingkah laku seksual lebih dulu
terjadi daripada perkembangan fisiologi produksi spermanya. Berlawanan
dengan hal itu , juga terbukti bahwa sejumlah domba jantan muda yang tidak
mau mengawini (non-worker) walaupun mereka mempunyai kualitas semen
yang baik.

e. Tingkah laku reproduksi pada ternak kambing

55 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Kambing sering diklasifikasikan sama dengan domba sebagai satu species.
Tetapi tingkah lakunya sangat berbeda. Siklus berahi pada kambing setiap 19-
21 hari dengan lama berahi 1 sampai 3 hari.
Tanda-tanda umum kambing jantan adalah penyebaran air kencing pada
bulunya. Kambing jantan mengeluarkan suatu percikan air kencing dengan
tekanan tinggi dari penis yang tegang sepanjang perut, dada dan bahu dan
menuju ke dagu. Kambing jantan membungkukkan badan dan melipat satu kaki
belakang untuk memudahkan percikan air kencingnya ke arah mulut,
kerongkongan serta dagu dan/ membungkukkan badan dan melipat kedua
kakinya.

Domba jantan tidak melakukan hal seperti ini walaupun mereka juga bisa
mencium sangat tajam.Kambing juga mempunyai kelenjar dengan bau khusus
dekat tanduk dan satu kelenjar pada ekornya.
Kambing jantan memamerkan diri dengan badan yaitu dengan mengangkat
kepala tinggi sekali diatas kepala atau punggung betina, leher dipanjangkan
dan hidung dilengkungkan ke arah tanah dan jantan mengikuti gerakan betina.
Bulu leherdan pundak didirikan. Pejantan banyak mengembek selama
perangsangan seperti yang dilakukan betina berahi. Pejantan tetap menaruh
kepalanya agak kebawah, mendatar dan sering diputar. Mereka mungkin juga
membuat lubang ditanah atau menendang ke tanah di depan betina tanpa
mengganggu betina atau mengeluarkan lidah sementara membuat suara
mengembek yang lebih rendah.

Gambar 2.3. Tingkahlaku reproduksi pada kambing


sumberhttp://www.ternakpertama.com/2014

56 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Pejantan menguji betina dengan mencium bagian dekat anus sementara
betina kencing sambil bergerak. Pejantan mencium kencing, memberikan
respons dengn flehmen dan kemudian memutuskan apakah ia akan mengikuti
betina atau tidak. Pergerakan ekor pada betina adalah suatu tanda yang pasti
dari timbulnya berahi.

Pejantan yang paling dominan dalam kelompok akan melakukan hampir


seluruh perkawinan. Dalam satu kelompok kambing liar yang diamati, pejantan
yang paling dominan dan tertua dalam kelompokmelakukan hampir semua
perkawinan. Dia dapat mengawini 3 ekor kambing betina berahi sbanyak 12 kali
sementara pejantan yang lebih muda mengawini hanya satu kali

f. Tingkah laku reproduksi pada sapi


Sapi termasuk ruminansia besar yang berbulu. Siklus berahinya antara 18 s.d. 24
hari, yang mengembara pada daerah yang luas di padang rumput. Mereka
merumput pada daerah-daerah yang lebih luas dibandingkan dengan kelompok
domba yang kompak. Jadi sapi memerlukan suatu sistem penglihatan yang lebih
luas.

Sapi betina yang sedang berahi atau mendekati waktu berahi atau mendekati
waktu berahi yang berada dalam satu kelompok dan saling menaiki sesamanya.
Hal ini dijadikan tanda oleh sapi jantan, yang melihat dari jarak tertentu, bahwa
terdapat beberapa betina yang sedang berahi dan pejantan bergerak
mendekati sapi betina ke daerah tersebut untuk kawin.

Penggunaan “ pewarna ekor” untuk mendeteksi birahi telah mulai digunakan.


Cat luminous dioleskan dioleskan pada salah satu sisi ekornya. Sapi betina
yang dalam keadaan berahi akan sering dinaiki dan cat akan kabur dari salah
satu sisi ekornya. Dengan menggunakan metode ini kejadian brahi yang tidak
dideteksi lebih rendah dari 5%. Pada sapi yang dilepas bebas, sapi berahi akan
cenderung bergerak mendekati pejantan.

Pada jarak dekat, penciuman mungkin penting artinya. Ini ditunjukkan oleh
kenyataan bahwa anjing bisa dilatih untuk mendeteksi sapi yang berahi. Tetapi
sapi jantan tidak bisa mendeteksi apakah sapi betina dalam keadaan berahi

57 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
apabila sapi betina tersebut diikat pada jarak lebih dari satu meter. Dalam
kelompok yang terdiri dari 15 ekor sapi betina, didapati bahwa tidak ada sapi
betina yang menaiki sesamanya, tetapi dalam kelompok yang kecil ini terdapat
seekor pejantan yang dapat dengan mudah mengidentifikasi sapi-sapi betina
yang sedang berahi.

Pada peternak kecil di Indonesia dengan jumlah ternak sapi 5 ekor atau kurang
dan tidak mempunyai pejantan, sering menjumpai kesulitan dalam mendeteksi
berahi. Sapi-sapi betina yang sendirian, terutama sapi yang diikat, lebih sulit
dideteksi birahinya dibandingkan yang dipelihara dalam kelompok, tetapi
beberapa sapi akan melenguh, mempunyai ambing yang penuh, nafsu makan
kurang, memperlihatkan pembengkakan vulva dan selama berahi sapi akan
mengeluarkan lendir yang transparan dari vulva. Hal ini menunjukkan bahwa
peternak perlu memperhatikan tanda-tanda berahi seperti yang telah
diterangkan diatas.

Saat yang paling baik dan paling teliti untuk mendiagnosis sapi berahi adalah
selama periode merumput atau pada tmpat latihan ketika sapi dalam keadaan
bebas, terutama dalam satu kelompok pada satu daerah yang luas. peternak
dengan jumlah ternak sedikit akan mengetahui lebih baik tingkahlaku setiap ekor
sapinya daripada peternak dengan kelompok sapi yang besar. Dengan demikian
peternak dapat memperhatikan tanda-tanda tingkahlaku yang aneh.

Apabila peternak belum yakin apakah sapinya dalam keadaan birahi, akan lebih
baik bila pejantan dan betina ditempatkan bersama-sama dalam satu kandang.
Jika peternak tidak mengandangkan pejantan dan betina bersama-sama karena
takut salah diagnosa, maka banyak sapi tidak akan mempunyai kesempatan
untuk dibuahi pada kesempatan yang paling dini dan terbaik. Bila dibuahi di
kemudian hari berarti produktivitas ternak berkurang.

Rangsangan terakhir dari suatu kopulasi yang berhasil yaitu diamnya sapi
betina itu sendiri. Pada saat dinaiki, atau sebelumnya, penis sudah terbuka dari
selubungnya dan dimasukkan ke dalam vagina. Dorongan ejakulasi terakhir
sangat kuat sehingga kaki belakang pejantan mungkin terangkat dari atas tanah.
Jadi beberapa tanda berahi yang terlihat pada sapi diantaranya:

- Melenguh-melenguh atau mengeluarkan suara seolah-olah memanggil

58 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
pejantan

- Sering gelisah (Sapi menggerak-gerakkan atau mngangkat pangkal ekor


- Sering kencing sedikit seolah terputus-putus.
- Sering mengerak-gerakkan atau mengangkat pangkal ekor sehingga
vulvanya terlihat jelas
- Terjadinya pembengkakan pada bibir vulva, biasanya ditandai warna
kemerah-merahan, terjadinya peningkatan peredaran darah didaerah
tersebut, jika diraba terasa hangat, keluar lendir bening dari vulva dan
menggantung hingga jatuh dilantai kandang
- Sapi mau didekati dan diam pada saat dinaiki pejantan

g. Libido
Libido dapat ditrangkan sebagai tingkat kemauan dan kemampuan jantan untuk
mengawini danmenginseminasi betina. Bila seekor jantan harus memenuhi
tugasnya untuk membuat sejumlah hewan betina bunting. Ia harus memenuhi
dua syarat yaitu dapat melakukan spermatogenesis dan cukup libido. Saat kini
libido dimanfaatkan secara luas oleh peternak, para peneliti dalam bidang
produksi ternak, dan dokter hewan sbagai respons seksual dari pejantan yang
dipelihara.

3. Menerapkan Tingkah Laku Makan (Ingestif) Pada Budidaya


Ternak Ruminansia

Tingkah laku hewan bersifat khas untuk hewan tertentu. Tingkah laku pada
ruminansia, antara lain dapat dilihat pada tingkah laku makan dan minum
(ingestive behaviour).

Tingkah laku ingestif ini meliputi bukan hanya memakan pakan solid tetapi juga
menyusui anak dan meminum pakan cair. Mempertahankan konsumsi pakan
yang cukup untuk hidup dan suksesnya reproduksi merupakan hal yang sangat
penting bagi semua species ternak. Karena itu mengerti pola tingkat laku yang

59 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
digunakan oleh hewan untuk mencari, mendapatkan, menyeleksi, dan memakan
pakan penting sekali untuk berhasilnya pengembangan usaha peternakan.

Seleksi pakan pada kondisi penggembalaan bebas sangat bergantung pada


pola dasar tingkah laku ingestif. Dalam keadaan dikandangkan secara intensif,
seperti sistem potong angkut (cut and carry) yang umumnya berlaku di
Indonesia, manusia mengontrol kebanyakan faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkah laku ingestif. Hal ini meliputi jenis dan jumlah pakan yang tersedia dan
tempatnya, periode waktu selama pakantersedia bagi ternak, dan kelompok
sosial ternak yang bersaing untuk mendapatkan pakan. Tetapi, walaupun dalam
keadaan yang terbatas dan bahkan bila ternak diberi makan secara individu,
faktor-faktor sosial mempengaruhi tingkah laku ingestif dan jumlah pakan yang
dimakan.

a. Pola makan dalam keadaan penggembalaan bebas


Ketika ternak diberikan pakan dalam jumlah yang terbatas dalam waktu tertentu,
mereka tidak punya pilihan kecuali memakan semua pakan yang diberikan.
Pada pemberian pakan secara berlebihan (ad lib), pola makan sehari-hari akan
berkembang.

Pada ternak ruminansia dengan penggembalaan bebas pada daerah sub-tropis,


periode merumput terjadi paling banyak ketika rumen diisi dengan rumput yang
baru dan hal ini terjadi menjelang pagi sampai pagi, senja sampai setelah
matahari terbenam dengan satu priode lebih singkat kira-kira tengah malam.
Periode 24 jam dibagi secara jelas menjadi periode merumput, mengunyah dan
bristirahat.

Didaerah tropis, siklus merumput biasanya sebaliknya. Pada waktu tengah hari
yang panas, ternak beristirahat di bawah naungan atau dekat tempat air dan
terdapat periode merumput yang panjang pada malam hari. Ternak berhenti
merumput bila ia merasa kepanasan, terutama bagi ternak yang berasal dari
daerah sub-tropis. Di daerah tropis, ternak yang ditempatkan dalam kandang
tertutup pada malam hari tanpa disediakan pakan atau air, konsumsi pakannya
sering menurun secara nyata, terutama pada hewan yang tidak mempunyai
daya adaptasi yang baik yang berasal dari daerah sub-tropis seperti sapi
Friesien Holstein, yang tidak diberi pakan selama hari panas.

60 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Secara umum, sapi meluangkan waktunya 8-10 jam untuk mrumput, tetapi
mempunyai fleksibilitas yang cukup untukmenyesuaikan waktu merumput untuk
mempertahankan jumlah pakan yang dimakan pada periode banyak angin dan
hujan, cuaca panas ketika merumput terhenti. Mereka juga bisa mengatasi
peningkatan kebutuhan fisiologis dari periode akhir kebuntingan dan laktasi pada
beberapa keadaan yang berbeda.`

Dalam keadaan cuaca panas dan lembab, aktivitas makan sapi tertinggi pada
waktu suhu udara lebih rendah yaitu pada pagi hari. Hal yang sama telah
didapatkan pada ternak domba dan babi. Terdapat suatu hal yang menarik
tetapi tidak ada pengamatan yang pasti yang mengatakan bahwa domba dan
sapi bisa meramalkan keadaan panas yang akan terjadi dan dengan demikian
mereka merumput lebih dini. Sapi dari daerah sub-tropis berhenti merumput
lebih dini dalam satu hari dibandingkan dengan tipe sapi Zebu yang mempunyai
daya adaptasi yang lebih baik terhadap keadaan panas.

b. Penyesuaian diri terhadap jumlah pakan yang dimakan


Waktu yang digunakan oleh ternak untuk makan tergantung pada species ternak
itu sendiri, status fisiologisnya (seperti pertumbuhan, periode akhir kebuntingan,
laktasi dan juga ternak yang tidak bunting, ternak tidak laktasi dan ternak
dewasa), serta tipe dan persediaan pakan.

Iklim yang sangat ekstrim juga berpengaruh. Jumlah pakan yang dimakan akan
meningkat pada keadaan musim dingin. Pada saat merumput dalam keadaan
kering, ternak meningkatkan waktu untuk merumput ( contohnya sapi yang
merumput 12 jam tetapi dalam keadaan padang rumput kering, berubah menjadi
14 jam). Sdangkan domba di Selandia baru sering merumput lebih dari 10 jam.

Semua hewan bisa juga bervariasi dalam jumlah pakan yang dimakannya
dngan mengubah jumlah gigitan per menit dan meningkatkan besarnya
renggutan tersebut.

c. Perbedaan species ternak dalam pemilihan pakan di padang rumput

61 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Pemilihan pakan adalah berbeda di antara ternak herbivora. Tetapi semua jenis
lebih suka memakan daun daripada batang atau bahan dengan warna hijau
(muda) daripada bahan yang kering (tua). Bila jumlah pakan yang tersedia
berkurang, maka akan terdapat kecenderungan bahwa ternak menjadi kurang
selektif, walaupun pakan yang terletak disekitar kotoran dan kencing tidak dipilih
sebisa mungkin terutama oleh ternak sapi. Sapi lebih menyenangi daun-daunan
yang lebih panjang dibandingkan dengan domba dan kambing dan hal ini
mungkin disebabkan oleh lebih besarnya ukuran rahangnya. kambing yang
diberikan suatu pilihan lebih suka memakan daun pucuk muda dan menguliti
kayu-kayu tanaman atau gulma. Kambing juga memakan lebih sedikit clover
dibandingkan dengan domba. Tetapi mereka bisa menyebabkan kerusakan
berat terhadap vegetasi yang dikehendaki dan akhirnya bisa mengakibatkan
erosi.

d. Ternak yang diberi makan di kandang dan kemudahan sosial dari


makan.
Pada sistim potong dan angkut, peternak mempunyai kontrol yang lengkap
terhadap pakan apa yang dimakan oleh ternak piaraannya dan berapa banyak
yang dimakan. Dimungkinkan untuk memberi pakan dengan komposisi yang
seimbang, memotong pakan menjadi potongan kecil untuk menghindari
terbuangnya pakan tersebut. Tetapi walaupun dalam keadaan demikian,
tingkah laku ingestif di pengaruhi oleh tingkah laku sosial.

Pada saat ternak diberi makan dalam kelompok, dua faktor sosial bisa
mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi. Tingkah laku agonistik bisa
mengurangi jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak yang tidak dominan dan
kemudian sosial bisa meningkatkan jumlah pakan yang dimakan tersebut.
Masalah yang berhubungan dengan ternak subordinat yaitu tidak mendapatkan
cukup pakan yang dimakan atau tidak cukup mendapatkan pakan dengan
kualitas baik yang tidak terkontaminasi oleh kotoran dan parasit.

e. Pilihan terhadap pakan


Seekor ternak dapat mengntrol jumlah pakan yang dimakannya dngan cara lain
dan bisa menolak untuk memakan satu jenis pakan atau pakann lainnya. Ada

62 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
kelompo pakan tradisional yang dapat dimakan ternak dengan enak, tetapi ada
pula bberapa pakan lain yang bernilai gizi tinggi dan harganya murah tetapi
ternak tidak dapat merasakan enaknya selama memakan pakan tersebut untuk
pertamakalinya.

Pakan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu : pakan hijauan, pakan yang
telah diproses dan disenangi ternak dan pakan yang tidak disenangi .
Sedangkan ransum adalah pakan yang diberikan kepada ternak selama 24 jam,
pemberiannya dapat 1 kali atau beberapa kali selama 24 jam. Zat makanan
adalah penyusun bahan pakan yang umumnya mempunyai komposisi kimia yang
diperlukan makhluk hidup (protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air).
Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna
sebagian atau seluruhnya, bermanfaat dan tidak berbahaya atau mengganggu
kesehatan makhluk hidup. Setiap pakan ternak yang diberikan harus berkualitas
baik yaitu mengandung zat-zat makanan yang sesuai dengan kebutuhan.

Air merupakan kebutuhan utama untuk mempertahankan kehidupan ternak. Air


peranan dalam mengangkut zat-zat makanan ke jaringan tubuh dan membuang
sisa-sisa metabolisme, membantu berfungsinya dengan baik reaksi-reaksi enzim
dan mekanisme pengaturan suhu tubuh. Kebutuhan air minum pada ternak
sangat variatif, tergantung beberapa hal, antara lain : banyaknya bahan kering
yang dimakan, banyaknya air yang hilang dari tubuh, spesies ternak dan
keadaan ternak (berproduksi atau tidak). Apabila ternak kekurangan air maka
akan berpengaruh pada air yang diminum, makanan yang dimakan,
metabolisme, dan produktivitas ternak.

Ikatan induk-anak terbentuk dengan adanya panggilan / suara induk untuk


menunjukkan makanan pada anak (maternal feeding) peran induk terbatas pada
proteksi dan mengajarkan mengenal pakan edible maupun inedible.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pakan ternak domba dapat bervariasi


sangat besar sebelum mereka mengembangkan suatu pola pakan yang tetap.
Masalah yang serius sering timbul pada saat satu jenis pakan yang baru harus
diberikan secar tiba-tiba, terutama dalam keadaan keurangan pakan, misalnya

63 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
pada musim kering, beberapa ternak memilih tidak mau menerima pakan yang
baru dan mati karena kelaparan daripada makan pakan yang baru.

Kadang-kadang dengan melihat teman dalam kelompok yang telah


berpengalaman memakan pakan yang baru, dapat mmbantu ternak yang belum
berpengalaman untuk memakan pakan yang baru tersebut. Fenomena ini
disebut transmisi sosial dan tingkah laku makan belajar berdasarkan pegamatan.

Bagi ternak muda yang masih menyusui, terdapat kemungkinan untuk belajar
mengenal bau pakan melalui air susu. Pada anak yang lebih tua yang telah
disapih (yaitu 7 sampai 8 bulan), belajar dari ternak biasa yang bukan induk
merea sendiri. Jadi memberikan masa perkenalan bagi ternak terhadap pakan
atau suplementasi yang mungkin diharapkan untuk dimakan dalam keadaan
darurat merupakan hal yang sangat berguna.

Metode sederhana dapat digunakan untuk mengecek ternak yang mana yang
memakan dan yang tidak memakan pakan yang baru. Hal ini dapat dikerjakan
dengan menggunakan satu tempat pakan . Pada tempat pakan ini, ternak harus
menempatkan kepalanya dan menekan sepotong spons yang diisi pewarna atau
menyendut benang yang diwarnai. Dengan teknik ini maka ternak yang cepat
menangkap pelajaran dipindahkan untuk memberi kesempatan yang lebih lama
dan mengurangi persaingan bagi mereka yang lebih lambat belajar. Ternak yang
lambat menangkap pelajaran mendapatkan beberapa pakan yang disenanginya
untuk tetap menjaga fungsi rumennya, sementara ternak ini lambat memulai
memakan pakan yang baru.

Masalah yang baru yang timbul adalah jika pakan tambahan (suplemen) yang
mahal lebih disukai daripada pakan dasar yang murah. Peternak mungkin
menghendaki pakan tersebut sebagai suplementasi, tetapi ternak itu sendiri
memperlakukan pakan tersebut sebagai pakan pengganti, misalnya pada saat
kurangnya rumput lapangan atau rumput gajah yang dipotong dan lebih banyak
tambahan konsentrat yang harganya mahal.

Pencampuran antara pakan yang enak dan tidak enak yang kemudian mnjadi
sedikit enak (misalnya urea dan molases), pemberianpakan yang murah
pertama kali, atau/ dan pemberian pakan tambahan pada waktu yang tidak

64 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
teratur shingga ternak tidak mempunyai pengharapan dan menunggu untuk
makan pada waktu tertentu adalah merupakan jalan pemecahan poblem tersebut
diatas.

f. Perilaku ingestif pada sapi dan domba/kambing


1). Ingestif pada sapi
Pada sapi ingestif diperlihatkan dengan mengambil makanan dengan
menggenakan lidahnya, serta gigi seri bawah yang merupakan penjepit
makanannya dan rahang atas menutup, rahang pada ternak akan bergeser dari
kiri ke kanan sehingga melumatkan pakan. Sedangkan tingkah laku minum
diperlihatkan dengan mengunakan lidahnya dan memasukkan dalam mulutnya
(tidak terlihat saat pengamatan). Suhu dan kelembaban dapat mempengaruhi
kehidupan sapi khususnya pada tingkah laku makan, jika suhu lingkungan tinggi
sapi cenderung lebih banyak minum dari pada merumput (makan).

Ketersediaan pakan yang terbatas akan cenderung meningkatkan perilaku sapi


yang menyentuhkan bagian mulutnya ke benda seperti tempat air, memainkan
lidahnya, atau menggertakkan giginya.

Adapun perilaku sapi secara umum dibagi menjadi lima kategori yang masing-
masing dijabarkan sebagai berikut :
a) Merumput (grazing)
- Pola merumput (Stereotip) (konstan)
Berjalan melintasi padang rumput, hidung selalu dekat dengan tanah

pada saat merenggut rumput, dibulat-bulatkan lalu ditelan. Caranya :

rumput dibelit dengan lidah, ditarik, dipotong dengan gigi dengan dibantu

oleh hentakan kepala

- Cara merumput. rumput dibelit dengan lidah, ditarik, dipotong dengan gigi
dengan dibantu oleh hentakan kepala
- Sikap merumput. Berdiri dengan kepala tunduk. Pada pedet kadang-
kadang berbaring.Rumput yang diambil paling pendek ± 1,25 cm
- Jarak jelajah : selama 24 jm dan akan bertambah apabila cuaca jelek,
padang penggembalaan becek dan rumput jarang dan banyak ektoparasit
(kutu, caplak, tungau)

65 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
- Siklus merumput. Dalam 24 jam : 4-5 periode merumput dan paling lama
saat fajar dan senja. Dan dapat berlangsung pada malam hari.
- Periode merumput : jalan, lalu istirahat, kemudian ruminansi dan
merumput kembali.

b) Meranggas (Browsing)
Sapi menggunakan 40% dari waktu makannya untuk meranggas guna memilih
tanaman yang nilai gizinya tinggi, biasanya makan bagian-bagian dari semak
atau pohon

c) Makan (Feeding)
Yang dimaksud dengan makan disini adalah proses makan di dalam kandang
atau makan rumput segar dan konsentrat (di Indonesia) atau hay, silage (di
daerah bermusim empat/temperate/sub-tropis). Untuk ruminansia yang memiliki
empat kompartemen lambung dikenal istilah ruminasi yaitu dimana hewan
golongan tersebut setelah memakan rumput akan memuntahkan (regurgitasi)
kembali rumput dari rumen dan reticulum tersebut, setelah itu akan mengunyah
(mastikasi) kembali makanan yang telah dimuntahkan tersebut yang dilakukan
sambil istirahat, dan menelan kembali makanan yang sudah halus dikunyah
tersebut. Kelebihan dari ruminansia adalah bisa makan lebih banyak dalam
waktu singkat.

Untuk minum sendiri, perilaku ini dipengaruhi oleh dua daktor, yaitu faktor dalam
berupa rasa haus dan faktor luar yaitu karena melihat air. Adapun jumlah air
yang diminum tergantung pada : Temperature lingkungan, Kondisi makanan :
(kadar air kurang /kering, kadar protein, kadar garam, dan komposisi ransum,
Umut kebuntingan, Bangsa dan Tingkat laktasi.

Keseimbangan NaCl (garam dapur) dalam tubuh harus diimbangi dengan banyak
minum sehingga jumlah air disekitar lingkungan sapi harus berlebih atau lebih
dikenal dengan istilah ad-libitum.

2). Ingestif pada kambing


Ingestive behavior pada Kambing Peranakan Etawah (PE) yaitu dengan
mencium pakannya lalu merenggut dengan cara mengambil makanan dengan

66 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
menggenakan lidahnya, serta gigi seri bawah yang merupakan penjepit
makanannya lalu menutup dengan gigi atas, rahang pada ternak akan bergeser
dari kiri ke kanan hingga melumatkan pakan lalu menelannya.

Kambing mempunyai kebiasaan makan yang berbeda dengan ruminansia


lainnya. Bila tidak dikendalikan, kebiasaan makan dapat mengakibatkan
kerusakan. Bibirnya yang tipis mudah digerakkan dengan lincah untuk
mengambil pakan. Kambing mampu makan rumput yang pendek, dan merenggut
dedaunan. Disamping itu, kambing merupakan pemakan yang lahap dari pakan
yang berupa berbagai macam tanaman dan kulit pohon.
cara ternak menganbil minuman adalah dengan memasukkan sebagian
mulutnya dalam kubangan air lalu memasukkan dalam mulut dan meminumnya.

Tingkah laku meranggas sering kali dilakukan oleh ternak kambing pada saat
digembalakan dan menunjukkan tingkah laku makan dengan memanjat pohon
perdu/semak. Ternak kambing lebih menyukai ramban (daun-daunan)
dibandingkan dengan rumput, sehingga untuk menyiasati pola makan dalam
kandang dapat dilakukan dengan meninggikan pakan yang diberikan atau
mengikat pakan dan menempatkannya pada dinding kandang/pagar kebun
setinggi 0,1-1m dari lantai kandang

4. Menerapkan tingkahlaku sosial pada budidaya ternak


ruminansia

Tingkahlaku sosial merupakan tingkah laku yang biasa dan dapat diduga yang
terjadi antara dua atau lebih individu pada kelompok hewan. Tingkah laku
sosial didefinisikan sebagai beberapa perilaku hewan yang disebabkan atau
dipengaruhi oleh hewan lainnya. Sedangkan organisasi sosial bisa diartikan
kesatuan dari individu-individu tersebut mengintegrasikan sendiri secara jujur dan
baik dan menjadikan kelompok tersendiri yang konsisten dan berdasarkan pada
kebebasan dari respon masing-masing individu tersebut terhadap yang lainnya.

Pada saat dewasa : kanibal, saling bertengkar, patuk mematuk, berebut pakan
(saat seperti ini sering muncul peck order). Tingkah laku dasar yang berkembang
pada akhirnya meliputi : ingestif (makan–minum), eliminatif (ekskresi), parental
(Maternal behavior), investigative (keingintahuan), shelter seeking (mencari

67 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
perlindungan), allelomimetik / mimicking (bertingkahlaku sama), agonistic /
combat (beradu, merupakan upaya untuk mempertahankan diri)

a. Dominasi dan hirarki


Pada semua jenis ternak yang telah dijinakkan, adalah ternak dengan tingkat
sosial yang tinggi yang hidup berkelompok. Dalam kelompok ternak yang telah
terbentuk, ternak yang berbeda mempunyai status , peringkat atau posisi dalam
susunan tertentu yang berbeda. Dengan kata lain ternak yang dominan akan
menghambat tingkah laku ternak yang tingkat dominansinya lebih rendah
(subordinat). Ternak yang dominan biasanya mempunyai tingkat hidup terbaik.

Ternak dominan dalam padang penggembalaan akan berada jauh dari


manusia atau ternak lainnya. Dalam kelompok ternak yang telah terbentuk jauh
sebelumnya terutama padang rumput yang luas terbentuk jauh seblumnya
terutama pada padang rumput yang luas, peringkat kepemimpinannya terlihat,
misalnya pada domba, sapi dan kuda, tetapi hal ini tidak ada hubungannya
dengan dominansi.

Keadaan tingkah laku dominan tidak begitu jelas apabila banyak sumber
tersedia, speti misalnya dalam sistem penggembalaan di padang rumput yang
makanan dan air banyak tersedia. Tetapi hal ini akan terlihat nyata dan penting
dalam keadaan berdesakan. Pada keadaan ini ternak subordinat tidak bisa
menghindar dari ternak dominan. Dengan ruangan yang luas tetapi sumber
pakan dan air terbatas atau bila jumlah pakan yang diberikan oleh manusia
terbatas dalam waktu yang terbatas (selama musim kering atau musim dingin
dinegara yang bermusim dingin), dominasi beberapa ternak akan terlihat. Dalam
keadaan ini, ternak subordinat akan menerima pakan dalam jumlah yang kecil
atau pakan yang telah brcampur dengan kotoran. Akibatnya , ternak subordinat
akan mngalami kelaparan atau menderita penyakit parasit yang berat. Hal ini
terjadi pada kambing.

Meskipun dominansi biasanya mulanya dicapai dengan tingkahlaku yang


agresif, beberapa individu ternak yang terlalu besar dan/ atau memperlihatkan
kepercayaan diri lebih besar, yang ditunjukkan dengan bentuk tubuhnya,

68 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
mungkin mendapatkan status dominan tanpa harus memperlihatkan tingkah
laku yang agresif. Yang lainnya menghindar dari mereka.

Jika ternak diperkenalkan pada waktu yang berbeda ke dalam suatu daerah
atau kelompok, maka ternak yang sebelumnya telah ada di kandang cenderung
lebih dominan daripada ternak yang baru masuk. Juga, ternak yang lebih muda
yang sebelumnyalebih kecil dan dapat dikontrol oleh yang lainnya mungkin akan
tetap seperti keadaan sebelumnya, walaupun sudah menjadi lebih besar
dibandingkan ternak yang lebih tua.

Tingkah laku patuh memiliki nilai bagi ternak yang lebih lemah dan lebih
muda.Hal ini memberi kesempatan pada mereka untuk tetap tinggal dalam
kelompok dan brbagi sumber pakan atau air. Ternak subordinat mmperlihatkan
tingkah laku menurut (misalnya mrendah dan membalikkan kepala,berjongkok
dan menjauhkan diri) yang dapat mengalihkan atau mengurangi tingkah laku
agrsif ari ternak yang dominan. Perlu dicatat bahwa perbedaan-perbedaan dalam
tingkah laku spesifik dari stiap jenis ternak berhubungan dengan keganasan
dan kepatuhan.

Perubahan komposisi kelompok yang terlalu sering menyebabkan punahnya


peringkat dominansi dengan meningkatnya tingkah laku kegaganasan dan stress
pada semua ternak karena susunan atau peringkat baru sedang dibentuk.
Menghilangkan peningkatan tingah lakuagesif misalnya pada ternak dari
kelahiran yang berbeda yang dikumpulkan di satu kandang setelah penyapihan
tidak selalu dimungkinkan.

Menempatkan seluruh ternak dalam lingkungan yang baru bagi semua ternak
adalah lebih baik dibandingkan memasukkan seekor ternak baru ke dalam
kandang atau daerah kekuasaaan ternak lainnya.

Untuk keamanan, akirnya peternak yang cerdik dan mempunyai pengetahuan


yang luas akan melihat gerakan tubuh dari tingkahlaku yang mmbahayakan,
terutama pada ternak yang lebih besar dan mengambil tindakan terbaik untuk
mencegah mereka melukai dirinya.

69 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
b. Pengenalan dan ingatan

Peringkat dan dominansi yang stabil akan terjadi jika telah terjadi pengenalan
yang baik terhadap sesama anggota dalam suatu kelompok .Pada beberapa
kelompok yang besar dalam keadaan dikandangkan, jumlah anggota kelompok
akan terlalu besar untuk melangsungkan suatu proses pengenalan atau
pengingatan dari dan oleh semua anggota dalam satu kelompok. Sebagai
contoh Seekor sapi betina dapat mengenal lebih dari 100 ekor anggota lainnya
dalam kelompoknya, tetapi seekor ayam betina hanya dapat mengenal kira-kira
25 ekor ayam lainnya.

Walau dalam suatu kelompok trlalu besar untuk memungkinkan suatu proses
pengenalan oleh seluruh anggota tetapi pada kelompok yang besar dan stabil,
tingkahlaku agresif akan menurun perlahan lahan. Hal ini memungkinkan karena
anggotanya tinggal pada daerah yang berbeda dan terbatas, dan seluruh ternak
mengenal sesamanya dalam daerahnya.

Bila seekor ternak dipindahkan dan kemdian dikembalikan lagi ke kelompoknya,


waktu yang diperlukan ntuk mengingat dan waktu yang diperlukannya untuk
menjaga statusnya tanpa timbul tingkah laku agonistik yang baru,
bervariasi.Variasinya tergantung pada jenis ternak dan juga bergantung pada
status ternak tersebut. Ternak dominan diingat lebih lama

c. Tingkah laku menjilat


Tidak seluruh interaksi dalam satu kelompok ternak bertipe dominan /kalah atau
agresif/ mengalah. Dalam satu kelompok, dengan dominansi yan tetap , dapat
dilihat anggotanya saling menjilati. Bila sekor ternak menjilati ternak lainnya,
ternak yang menjilati memiliki tingkatan sosial dibawah ternak yang dijilati.
beberapa peniliti mengatakan bahwa seekor ternak menjilati ternak lainnya
untuk menikmati rasa asin pada lapisan kulit luar ternak yang dijilatinya.

Dalam suatu penelitian yang pengamatannya memerlukan waktu yang lama,


pada sapi Zebu yang setengah liar dan sapi dari dataran tinggi Skotlandia
diperoleh kesimpulan yang berbeda. Dari penelitian disimpulkan bahwa tingkah
laku menjillati berlawanan dengan tingkah laku agonistik. Tingkah laku menjilati

70 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
menjadikan ternak dapat mendekati ternak lainnya tanpa menimbulkan rasa
takut. Selain itu juga disimpulkan bahwa tingkah laku menjilati sering
merupakan suatu gerakan dua arah dan terlepas dari hubungan dominansi.
Ternak subordinat tidak perlu takut pada temannya yang dominan. Sementara
menjilati dan frekuensi menjilati dan dijilati tidak bergantung pada ranking. dari
hasil penelitian dapat ditunjukkan pula bahwa tingkah lau ini merupakan suatu
ikatan faktor sosial yang menyebabkan ikatan kelompok didasarkan pada
hubungan yang baik dan bertentangan dengan sifat agonistik

Tingkah laku yang mnyenangkan dan bersahabat ini juga didapati dalam
kelompok kecil sapi perah jantan yang digembalakan di padang rumput yang
sempit. Sangat mnarik membandingkan frekuensi, tidak hanya pada tingkah laku
agresif, tetapi juga pada tingkah laku menjilati dalam kelompok yang telah
terbentuk lama dan yang baru. Tingka laku menjiati merupakan hal yang sangat
penting dalam mengurangi ketegangan dan stress.

d. Implikasi manajemen di Indonesia


Di Indonesia, terutama pada ternak ruminansia kecil, yang dipelihara dalam
kandang-kandang kecil, ternak-ternak subordinat atau ternak lainnya mungkin
dicegah untuk memakan cukup pakan yang berkualitas baik. Ternak bunting
biasanya lebh mengalah walauun kebutuhan akan pakan meningkat. Ternak
yang lebh muda dan sedang tumbuh mungkin tidak beruntung apabila
dikandangkan dengan yang lebih tua.

Ternak subordinat betina mungkin juga dihalang halangi untuk kawin oleh ternak
betina yang lebih dominan dalam kandang tersebut, sehingga mengakibatkan
ternak subordinat gagal memproduksi anak. Ternak subordinat mungkin juga
tidak mendapat kebebasan untuk memperhatikan anaknya yang bar lahir selama
periode kelahiran. Hal ini dapat meningkatkan kematian anak. Induk-induk
domba atau kambing betina subordinat yang baru melahirkan tidak bisa
menjalin ikatan yang kuat dengan anaknya dan juga dihalangi menyusui anaknya
secukupnya.

Pada pejantan yang dipelihara dalam kandang yang kecil, akan terlihat bahwa
hanya ternak yang dominan yang mempunyai kebebasan mengawini betina

71 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
yangberahi. Perludicatat bahwa tidak da hubungan antara dominansi, libido dan
fertilitas atau dengan kharakteristik produksi yang lainnya. Berbeda halnya
dalam keadaan penggemballaan yang luas, dimana pejantan subordinat dari
beberapa species ternak dapat kawin dengan betina yang berahi sebab
didaerah yang luas pejantan dominan tidak dapat mencegah kebebasan
ternak betina untuk kawin.

Oleh karena itu , diperlukan pemisahan bermacam-macam elas ternak seperti


halnya ternak muda dan ternak sedang tumbuh dari ternak-ternak yang lebih
besar dan lebih tua. Demikian juga pemisahan ternak betinabunting, sebelum
kelahiran dan selamperiodekelahiran. Jadi, pakan yang telah tersedia
dipergunakan sepenuhnya untuk produksi tidak hanya untuk menggemukkan
ternak yang telah gemuk dengan tingkat harga pakan untuk pertumbuhan dan
produksi.

e. Sosial Stress
Hal ini berhubungan dengan perubahan tingkah laku sosial dan kepadatan
populasi yang mungkin berpengaruh pada pertumbuhan, tampilan produksi, dan
reproduksi dengan beberapa tipe rangsangan dari lingkungan. Pada ruminansia
banyak yang menyebabkan stress misalnya karena kandang yang terlalu panas
atau dingin, kekurangan makanan dan air, banyaknya populasi, kekurangan
ruang gerak, penyakit dan kompetisi sosial.

Ternak (termasuk ruminansia) yang dipelihara pada kandang secara


bergerombol (flocks) dengan jelas terdapat perbedaan hubungan sosial
diantaranya. Beberapa penelitian menunjukkan karakteristik tingkah laku dari
domba, kambing dan sapi. Salah satu tingkah laku sosial tersebut adalah peck
order atau tingkatan sosial dalam kelompok ternak yang sejenis dimana yang
kuat mendominasi yang lemah.

D. Aktivitas Pembelajaran

72 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Agar Anda dapat memahami materi pada kegiatan pembelajaran 2 ini,
diharapkan Anda melakukan aktivitas pembelajaran sebagai berikut

Membaca uraian Mengerjakan Melakukan


materi kegiatan semua tugas /LK diskusi kelompok
pembelajaran 2 pada kegiatan membahas
pembelajaran 2 tugas/LK pada
Keg Pblj 2

Mengerjakan Membuat laporan Mempresentasikan


lembar latihan hasil kerja hasil kerja
pada kegiataan kelompok kelompok
pembelajaran 2

Melakukan Membuat tindak Melanjutkan ke


umpan balik lanjut materi materi kegiatan
materi kegiatan kegiatan pembelajaran 3
pembelajaran 2 pembelajaran2

E. Latihan/Kasus/Tugas
1. Latihan
1) Mengapa seorang peternak perlu mempelajari tingkah laku ternak ?
2) Jelaskan apa yang disebut tingkah laku dan ethologi!
3) Jelaskan apa yang Anda ketahui tentang :
- Shelter –seeking

73 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
- Investigatory
- Alelomimetik
- groming

2. Tugas (Lembar Kerja)

Judul 1 : Tingkah laku makan dan minum ternak domba,


kambing, sapi

Tujuan : Peserta diklat mampu merngenali tingkah laku makan


dan minum ternak unggas dipelihara dengan benar.

Waktu : 2 x 45 menit

Alat dan bahan : 1. domba, kambing, sapi yang sedang melakukan


aktifitas makan dan minum dalam kandang.
2. Pakan (rumput, konsentrat )
3. Alat tulis
4. Penunjuk waktu (jam)
Keselamatan kerja : - Gunakan pakaian kerja

- Hati-hati dalam bekerja

Langkah Kerja : 1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan


2. Lakukan identifikasi terhadap ternak yang diamati
3. Lakukan pengamatan terhadap tempat pakan dan
minum.
4. Lakukan pengamatan tingkah laku makan minum
pada kambing, domba dan sapi.
5. Catat identifikasi dan semua hasil pengamatan
serta waktu.
6. Buatlah kesimpulan.
7. Presentasikan hasil pengamatan yang anda
lakukan.

74 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Judul 2 : Tingkah laku reproduksi ternak kambing, domba dan
sapi

Tujuan : Peserta diklat mampu mengamati tingkah laku


reproduksi ternak ruminansia dengan benar.

Waktu : 2 x 45 menit

Alat dan bahan : Domba, kambing dan sapi yang sedang estrus
Alat tulis
Pencatat waktu (jam)
Keselamatan kerja : - Gunakan pakaian kerja

- Hati-hati dalam bekerja

Langkah Kerja : 1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan


2. Identifikasi ternak yang diamati.
3. Lakukan pengamatan terhadap tingkah laku
reproduksi (pada sapi, domba dan kambing estrus)
4. Catat identitas ternak ruminansia yang diamati dan
semua hasil pengamatan.
5. Buatlah kesimpulan
6. Presentasikan hasil pengamatan.
Diskusi : Mengapa terdapat perbedaan tingkah laku reproduksi
ternak sapi, domba atau kambing pada saat pra
estrus, estrus dan met estrus serta diestrus

Judul 3 : Tingkah laku sosial ternak ruminansia

Tujuan : Peserta diklat mampu mengamati tingkah laku sosial


ternak ruminansia (kambing, domba, sapi) dengan
benar.

Waktu : 2 x 45 menit

Alat dan bahan : 1. Sekelompok ruminansia (sapi, kambing, domba)


dalam kandang

75 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
2. Sekelompok ruminansia (sapi, kambing, domba)
dalam padang penggembalaan
3. Alat tulis
Keselamatan kerja : - Gunakan pakaian kerja

- Hati-hati dalam bekerja

Langkah Kerja : 1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan


2. Lakukan identifikasi rruminansia yang diamati
3. Lakukan pengamatan tingkah laku sasial
ruminansia
4. Catat identitas dan semua hasil pengamatan
5. Adakah perbedaan tingkah laku sosial ternak
didalam kandang dengan di padang
penggembalaan?
6. Buatlah kesimpulan
7. Presentasikan hasil pengamatan
Diskusi : Adakah perbedaan tingkah laku sosial antar kelompok
(sex, umur) ruminansia

F. Rangkuman

Tingkah laku ternak didefinisikan sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun
eksternal. Dapat juga didefinisikan sebagai respons ternak terhadap stimulus /
rangsangan. Ethologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku hewan (animal
behavior) di lingkungan alami dan di lingkungan lain di mana ternak tersebut bisa
hidup. Sedangkan etogram merupakan katalog yang tepat dan terinci yang
memuat respons yang membentuk tingkahlaku hewan.

Reproduksi dikontrol oleh faktor internal dan eksternal. Terdapat tanda-tanda


yang ditunjukkan oleh seekor ternak yang siap untuk kawin. Baik lawan jenisnya
ada disekitar ataupun tidak. Terdapat tanda-tanda yang khas pada saat ternak
siap kawin, baik ada lawan jenisnya maupun tidak terdapat lawan jenisnya. Dan

76 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
ternak perlu mengetahui apakah lawan jenisnya cocok untuk teman kawinnya
apa tidak. Apabila teman kawin telah diketahui, maka masih ada tahapan
rangsangan seksual yang penting yaitu proses sinkronisasi baik untuk jantan
atau betina dan kesiapan dalam diri ternak tersebut menjadi rangsangan
eksternal untuk membantu proses perkawinan.

Secara fisiologis ternak betina harus dalam keadaan berahi dan jantan siap
untuk kawin, dan semua aktivitas yang diperlihatkan oleh ternak tersebut akan
mencapai puncaknya dengan kawin. Puncak dari proses perkawinan adalah
adanya kopulasi. Kopulasi adalah penempatan spermatozoa ke dalam organ
reproduksi betina untuk membuahi sel sel telur. Siklus estrus terdiri atas
beberapa periode yaitu : estrus/ berahi, met estrus, di estrus dan pro estrus.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Setelah anda mempelajari materi Kegiatan Pembelajaran 2, tentang “
Menerapkan tingkah laku Ternak Ruminansia” yang mencakup menerapkan teori
tingkah laku pada budidaya ternak ruminansia, menerapkan tingkah laku reproduksi
pada budidaya ternak ruminansia, menerapkan tingkah laku makan pada budidaya
ternak ruminansia dan menerapkan tingkah laku sosial pada budidaya ternak
ruminansia lakukan umpan balik dan tindak lanjut, dengan menjawab pertanyaan-
pertanyaan sebagai berikut:
a. Pertanyaan:
Hal-hal apa saja yang dapat anda lakukan tekait dengan materi
menerapkan tingkah laku ternak ruminansia ?
Jawaban:

b. Pertanyaan:
Pengalaman baru apa yang anda peroleh dari materi menerapkan
tingkah laku ternak ruminansia?
Jawaban:

77 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
c. Pertanyaan:
Manfaat apa saja yang anda peroleh dari materi menerapkan tingkah
laku ternak ruminansia?
Jawaban:

d. Pertanyaan:
Aspek menarik apa saja yang anda temukan dalam materi
menerapkan tingkah laku ternak ruminansia?
Jawaban:

78 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Kegiatan Pembelajaran 3.
Melakukan Penanganan Ternak Ruminansia

A. Tujuan
Setelah mempelajari materi ini dan dengan disediakan alat dan bahan serta
sarana pendukung lainnya diharapkan Anda mampu menangani ternak
ruminansia dengan hasil ternak mudah dikendalikan, ternak aman, nyaman dan
tidak menyebabkan baik itu ternak maupun peternak terluka.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


Indikator pencapaian kompetensi pada kegiatan pembelajaran: menangani
ternak ruminnasia meliputi :
1. Memilih peralatan penanganan ternak ruminansia
2. Melakukan penanganan ternak ruminansia

C. Uraian Materi
Pembelian atau penjualan ternak hidup selama prosesnya selalu berkaitan
dengan perpindahan atau penanganan ternak. Tentu saja selama proses
pembelian atau penjualan ternak selalu dilakukan penanganan oleh manusia.
Melalui komunikasi yang efektif dengan ternak selama prosedur-prosedur
penanganan, kesejahteraan ternak dan kesehatan serta keselamatan kerja dapat
terjamin. Pendidikan dan pelatihan tentang penanganan ternak perlu dilakukan
disetiap peternakan agar kompetensi tentang penanganan ternak dapat
meningkat. Kompetensi penanganan ini meliputi proses-proses penanganan
ternak selama pengeluaran di atas kapal, di pelabuhan yaitu memindahkan
ternak dari kapal ke truk, menurunkan ternak di depot-depot peternakan dan
penanganan umum ternak selama di lokasi farm .

Cara pendekatan ke arah penanganan ternak memberikan alat bagi peternak


untuk memahami ternak dengan lebih baik. Memahami kebutuhan ternak, dan
bagaimana mereka menanggapi lingkungan mereka menjadikan orang-orang
yang menanganinya dapat menyelesaikan masalah-masalah dan meningkatkan
proses-proses penanganan ternak.

79 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
1. Memilih Peralatan Penanganan Ternak Ruminansia
Keberhasilan didalam proses penanganan ternak ruminansia sangat ditentukan
oleh bagaimana manajemen penanganan yang diterapkan. Apabila manajemen
penanganan ternak ruminansia yang diterapkan bagus, maka kemungkinan
berhasilnya suatu usaha penanganan ternak ruminansia juga sangat besar.

Manajemen penanganan ternak ruminansia menyangkut bebera hal, salah


satunya adalah bagaimana cara/ teknik menangani atau handling ternak dengan
benar. Sehingga tidak menyebabkan cidera baik bagi ternak maupun sipelaku
handling. Hal ini sangat penting karena penanganan atau handling ternak
ruminansia akan jauh berbeda dengan ternak unggas. Sebagai contoh
kegiatan handling dalam pemeliharan ternak ruminansia, yang umum adalah ;
memindahkan ternak dari suatu tempat ketempat yang lain, melakukan
pemotongan tanduk, pemotongan kuku, recording dengan cara penandaan
ternak, melakukan kastrasi, memasang tali hidung (tali keluh), memandikan
ternak, memberi obat dan bahkan kalau dimungkinan kegiatan mengangkat
domba atau kambing, menjatuhkan atau merobohkan ternak dan lain
sebagainya.

Macam peralatan penanganan ternak ruminansia

Untuk memudahkan di dalam setiap kegiatan penanganan (handling), maka


peternak harus mampu memilih peralatan yang dapat dipergunakan untuk
menangani ternak ruminansia.

a. Tali tambang

Disamping dapat memilih peternak juga harus mengetahui atau memiliki


kompetensi tentang tali temali. Ada beberapa macam jenis tali yang dapat
dipergunakan dalam kegiatan penanganan ternak ruminansia diantaranya : tali
tambang dari bahan pastik atau nilon, tali tambang dari bahan pohon rami dan
tali tambang dari bahan pohon waru dan lain sebagainya. Dari masing-masing
bahan tali tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan dari
bahan tali tersebut misalnya tali mudah didapat, harganya murah dan tidak
menyebabkan sakit pada ternak dan peternak pada saat digunakan untuk
kegiatan penanganan. Kekurangan misalnya harga mahal, tali susah didapat, tali

80 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
tidak tahan lama, dan tali tersebut kurang baik apabila dipergunakan untuk
kegiatan penanganan.

Adapun macam cara penggunaan tali tambang pada kegiatan penanganan


ternak rumimansia diantaranya:

1) Tali sambung .

Yaitu tali tambang yang disambung antara ujung tali yang satu dengan ujung
tali yang lain, dengan tujuan agar talinya menjadi panjang sehingga dapat
dipergunakan untuk kegiatan penanganan ternak ruminansia. Disamping tali
menjadi panjang, sampungan tali tersebut kuat tidak mudah lepas selama
dipergunakan. Dan sambungan tali tersebut mudah dilepas apabila tidak
dipergunakan lagi. Model sambungan tali ini, umumnya dipelajari pada
kegiatan ekstrakurikuler ( pramuka)

2) Tali patok (simpul pangkal).

Simpul pangkal digunanya untuk mengikatkan tali pada sebuah tiang atau patok.
Tali patok atau simpul pangkal ini pergunakan pada saat salah satu ujung tali
untuk mengikat leher ternak dan kemudian tali pangkalnya diikatkan pada
batang pohon, tiang atau patok yang telah disediakan. Penggunaan tali patok ini,
umum dipergunakan oleh para peternak untuk mengikat ternak-ternaknya baik
dikandang maupun di luar kandang atau di padang penggembalaan. Sehingga
ternak-ternak mudah dikendalikan dan ternak tersebut tidak pindah kemana-
mana. Adapun lebih jelasnya bisa dilihat gambar berikut.

3) Tali leher (Simpul leher)

Simpul leher digunakan untuk mengikat leher ternak supaya ternak tidak terjerat
atau tercekik akibat tali yang digunakan. Kenapa demikian? karena semua
ternak pada dasarnya ingin bebas dan maunya menuruti kemauannya sendiri.
Dia ingin bersama –sama dengan teman, tidak mau dipaksa, tidak mau disiksa
dan lain sebagai. Sehingga apabila ternak harus diikat agar mudah dalam
penanganannya, maka dalam penggunaan tali lehernya harus betul aman bagi
ternak.

4) Tali halter (tali muka)

81 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Tali halter biasanya digunakan untuk menuntut atau memindahkan ternak
sapi/kerbau agar lebih mudah dikendalikan atau dijinakkan. Tali halter ini
dipasang pada bagian muka ternak. Untuk ternak ruminansia besar yang sudah
jinak penggunaan tali halter ini kadang-kandang tidak diperlukan. Karena ternak
yang sudah jinak menuntut dengan menggunakan tali leherpun sudah cukup.
Jadi penggunaan tali halter ini untuk ternak yang agak galak. Ukuran panjang
tali halter kurang lebih 4-5 meter.

Cara Membuat Tali Halter

 Siapkan tali tambang yang mempunyai 3 pilin


 Kemudian ukurlah tali tersebut , untuk ternak sapi atau kerbau dewasa
panjang tali kurang lebih 4,5 meter. Dengan diameter 1,25 cm. Dan
untuk ternak muda panjang kurang lebih 3,5 meter dengan diameter 1
cm.
 Kemudian potonglah ujung-ujung sampai rata, pada saat memotong
dapat menggunakan alat berupa gunting, pisau, dan korek api
 Untuk membuat taali halter yang pertama dilakukan adalah buatlah tali
simpul dari benang gujer, pada ujung pendek tali berkisar 1- 2 cm
dengan dan rapi
 Kemudian buatlah lubang cincin
 Setelah dibuat lubang cincin , kemudian masukkan ujung tali pendek dari
tali simpul berlubang cincin
 Tali panjang dimasukkan ke lubang cincin
 Buatlah loop atau lingkaran lubang cincin tadi
 Kemudian tali bentuk 3 cincin pada ujung tali simpul yang pendek
dengan bantuan sebuat pensil atau batang yang kuat, peganglah tali
dengan kedua tangan dan berilah jarak. Putarlah secara berlawanan tali
yang dipegang, kemudian tekan kearah yang saling berlawanan sehingga
menjadi longgar.
 Masukkann pensil atau batang yang kuat ke ketiga lubang cincin yang
sudah dibuat sambil dibentuk tiga cincin dan diatur-atur, sehingga tali
yang sudah diikat dengan simpul yang kuat dapat masuk dengan baik
dan tidak rusak

82 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
 Tali halter sudah jadi damn siap di gunakan untuk menghandel ternak
ruminansia besar.

b. Tongkat

Untuk menangani ternak ruminansia seperti sapi dan kerbau yang mempunyai
ukuran tubuh yang besar, demi keamanan maka peternak atau handler perlu
menggunakan alat bantu berupa tongkat. Tongkat ini dapat terbuat dari bahan
kayu atau pipa besi yang ukuran tidak terlalu besar, sehingga tidak berat apabila
dibawa pada saat dipergunakan untuk penanganan. Yang perlu diingat bahwa
alat tongkat ini bukan alat untuk memukul ternak, akan tetapi haya merupakan
alat perpanjangan tangan. Sehingga jangkau tangan peternak pada saat
melakukan penanganan lebih panjang, yang akhirnya ternak akan merasa takut.
Peralatan tongkat hanya dipergunakan untuk menakut-nakuti ternak saja.

c. Bendera

Bendera juga hampir sama seperti alat tongkat yaitu dipergunakan untuk
menakuti-nakuti ternak dan bukan alat untuk memukul ternak. Bendera
dipergunakan hanya untuk menghalau ternak agar ternak dapat bergerak atau
berpindah dari suatu tempat ke tempat lain sesuai dengan harapan peternak
selaku handler. Bendera dibuat dari bahan kain agar tidak mudah robek dan
tahan lama untuk alat penanganan ternak.

d. Penarik Hidung (nose lead)

Penarik hidung ( nose lead), alat ini digunakan umtuk menarik hidung ternak sapi
atau kerbau agar supaya bagian kepalanya mendongok keatas. Dengan
penggunkan alat ini maka kegiatan penanganan ternak ruminansia akan lebih
mudah dilakukan, karena ternak mudah dikendalikan.

Selain peralatan tersebut diatas, ada sarana lain sebagai sarana


pendukung dalam kegiatan penanganan ternak diantaranya;

 Patok

Patok dipergunakan untuk tempat mengikat tali simpul pangkal tambang yang
berhubungan dengan tali leher ternak, agar ternak tidak berpindah tempat.

83 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Patok ini dapat terbuat dari bahan besi, kayu, atau bambu, tergantung dari
kondisi dan situasi yang ada.

 Sepatu boot

Untuk menjaga keamanan kaki dari bahaya benda-benda tajam/tumpul/kotor dan


untuk menahan agar tidak sakit apabila terkena injakan kaki ternak, maka
peternak perlu memakai sepatu lapangan atau sepatu boot pada saat
melakukan kegiatan penanganan ternak. Sepatu boot yang terbuat dari kulit
atau karet dengan memakai pelindung ujung jari kaki itu lebih baik. Pelindung
pada ujung jari kaki berguna untuk melindungi jari-jari kaki dari injakan ternak.

2. Melakukan Penanganan Ternak Ruminansia


Ternak ruminansia seperti sapi, kerbau , domba dan kambing memiliki tenaga
yang lebih besar/kuat dibandingkan dengan ternak unggas. Disamping
mempunyai tenaga yang besar/kuat, ternak tersebut mempunyai tanduk untuk
menyeruduk yang berbahaya bagi keselamatan orang yang akan menangani.

Oleh karena itu seorang handler harus bisa memahami bagaimana tingkah laku
ternak atau behaviour dari ternak yang akan ditanganinya. Dengan memahami
tingkah laku ternak ruminansia tersebut, seorang handler dapat memperkirakan,
kira-kira ternak tersebut apabila diberi stimulus akan memberi respon seperti
apa? apakah akan lari, berbalik arah ataukah akan menendang.

Ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, domba dan kambing, mereka bisa
melihat, mendengarkan suara, mencium bau seperti halnya dilakukan manusia,
hanya saja mereka tidak bisa berbicara seperti manusia. Ternak ruminansia
seperti sapi, kerbau, domba dan kambing mempunyai mata di kedua sisi
kepalanya. Ternak tersebut melihat dan memperkirakan jarak benda
disampingnya dengan satu mata (monocular vision) dan pandangan dimuka
kepalanya dengan dua mata (binocular vision).

Sapi dan kerbau cukup sensitif dengan gerakan atau suara yang gaduh dan
mengejutkan. Sapi dan kerbau jantan akan sangat agresif pada saat musim
kawin, demikian pula sapi dan kerbau betina yang baru melahirkan , mereka
akan selalu melindungi anaknya dengan segala kekuatannya. Sehingga handler

84 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
harus mengetahui apa sifat-sifat dan karakter dari ternak sapi dan kerbau
tersebut.

Ternak sapi dan kerbau agar mudah, dikendalikan atau dijinakkan, peternak
harus bisa memahami apa yang menjadi kemauan dan kebutuhan mereka
misalnya : mereka ingin bersama dengan kelompoknya, mereka tidak ingin
tersendiri atau terisolasi, mereka tidak mau disiksa atau disakti, mereka maunya
disayangi dan mereka ingin mengikuti temannya dan lain-lain.

Ada 4 prinsip utama komunikasi ternak

a. Posisi : tempat Anda dalam hubungannya dengan Mata


Dimana anda saat berhubungan dengan ternak tersebut. Karena hal ini
berhubungan dengan posisi mata ternak. Apakah Anda berada didepan mata
ternak. Kalau anda berada persis didepan mata ternak, maka hindarilah atau
hentikanlah. Apalagi anda baru kenal atau pertama kali berhadapan dengan
ternak tersebut. Pada posisi Anda persis didepan mata ternak, maka bagi
ternak mereka merasa tertekan atau berbahaya. Begitu pula Anda juga dalam
keadaan berbahaya.

Apakah posisi Anda berada di belakang ternak secara langsung ? jika ya berarti
ternak tidak dapat melihat Anda. Dalam posisi seperti itu , Anda tidak dapat
mempengaruhi ternak, dengan posisi ini ternak kadang-kadang menjadi gugup,
menendang dan berbalik berputar karena merasa berbahaya bagi mereka.

Apakah posisi Anda berada disamping ternak? apabila posisi Anda berada
disamping ternak, maka anda dapat mempengaruhi ternak tersebut, sehingga
anda dapat mempengaruhi ternak kemana saja yang anda inginkan agar ternak
pergi.

b. Tekanan : yang ada harus dibebaskan

Ternak ruminansia seperti sapi dan kerbau tidak suka dipaksa atau ditekan.
Apabila sapi dan kerbau melihat banyak orang, dan orang tersebut asing bagi
mereka, maka ternak tersebut akan merasa tertekan. Sehingga ternak dapat
menjadi tidak senang, terpaksa dan bahkan ternak menjadi marah. Tanda-tanda
ternak sapi dan kerbau marah misalnya : menggerak-gerakan salah satu kaki

85 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
depan, telinga diangkat, sorot matanya menunjukan kemarahan, tanduk
diarahkan kelawan dan lain-lain. Itupun juga tergantung dari jenis dan macam
ternaknya. Sapi local biasanya lebih jinak dari pada sapi dari luar atau ternak
sapi dan kerbau yang liar akan lebih mudah marah bila dibandingkan dengan
ternak sapi dan kerbau yang jinak.

Ternak sapi dan kerbau apabila sedang digiring dan posisi yang menggiringnya
terlalu dekat dibelakangnya, maka ternak tersebut akan lari karena merasa ada
tekanan. Sedangkan apabila anda agak menjauh atau tekanan dikurangi, maka
ternak tersebut juga akan mengurangi larinya yaitu dengan berjalan pelan-pelan.
Untuk itu apabila anda sedang menggiring ternak harus bisa mengatur jarak
antara anda dan ternak. Misalnya: anda berjalan maju mendekat pada ternak,
berarti anda memberi tekanan pada ternak tersebut (ternak menjadi tidak
nyaman dan gelisah). Begitu sebaliknya apabila anda berjalan mundur
kebelakang berarti anda mengurangi tekanan ( ternak merasa nyaman dan
santai).

Yang perlu diingat bahwa, pada saat menggiring ternak kurangilah atau bahkan
hentikanlah penggunaan kantong plastik atau plastik sebagai alat bantu untuk
menghalau atau melambai ternak. Karena kantong plastik atau plastik dapat
menimbulkan bunyi atau suara yang tidak disenangi oleh ternak. Begitu juga
pada saat menggiring ternak jangan memukul benda-benda dari besi, seng, atau
bahan lain yang dapat menimbulkan bunyi yang nyaring.

Agar ternak yang sedang digiring dapat merasa nyaman dan tenang serta
berjalan santai, maka saat menggiring dapat dilakukan dengan cara berjalan
atau bergerak mendekati ternak dan kemudian menjauhi ternak. Lakukan
kegiatan ini secara berulang-ulang sehingga ternak yang digiring sampai
ketempat tujuannya.

86 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Gambar 3.1 Sapi sedang memberi respon (Dok. MLA & LIVECORP)

c. Pergerakan : kepada ternak dan kepada rekan kerja Anda

Agar ternak sapi dan kerbau yang digiring dapat berjalan sesuai kehendak anda
maka, lakukan gerakan tubuh anda. Pergerakan tubuh anda dapat dilakukan
dengan jalan meningkatkan gerakan tubuh anda, yaitu dengan
meningkatkan/menaikkan atau menurunkan pergerakan tubuh anda.

Untuk memperpanjang fungsi angota tubuh anda dapat menggunakan alat bantu
berupa tongkat, bendera atau alat bantu yang lain. Yang perlu diingat seperti apa
yang telah disebut dibagian atas bahwa : tongkat dan bendera merupakan
perpanjangan tubuh anda. Tetapi bukan merupakan alat untuk memukul ternak
sapi atau kerbau tersebut.. tongkat dapat dari bahan kayu maupun pipa besi.
Bendera dapat terbuat dari bahan kain atau bahan yang lain.

Ternak yang anda digiring akan bergerak berjalan apabila pergerakan tubuh dan
posisi anda dalam keadaan benar. Pergerakan tubuh anda dapat dengan cara
melompat sambil melambaikan tangan, dengan cara itu ternak akan merasa
takut.

d. Komunikasi : kepada ternak dan kepada rekan kerja Anda

Komunikasi merupakan hal yang sangat penting, di dalam membangun


hubungan kerja. Apabila anda berkomunikasi dengan baik, maka anda
mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk berhasil. Komunikasi anda
dianggap baik apabila informasi yang anda sampaikan dapat diterima oleh orang

87 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
lain sesuai dengan apa yang anda harapkan. Adapun ciri komunikasi yang
dianggap baik apabila : Orang yang diajak berkomunikasi dapat menerima
pesan, memahami pesan , mengingat pesan dan menanggapi pesan dengan
benar.

Untuk menjadi peternak yang berhasil selain anda harus bisa berkomunikasi
dengan sesama peternak, semua pihak-pihak yang terkait, anda harus bisa pula
berkomunikasi dengan ternak yang anda pelihara. Ternak sapi, kerbau, domba
dan kambing itu mempunyai rasa, mempunyai kemauan, kesukaan dan lain
sebagainya. Berkomunikasi dengan ternak itu tidaklah mudah, perlu ilmu,
kesabaran/ketenangan, kehati-hatian, dan harus bisa memahami tingkah laku
serta kemauan ternak.

Bagaimana cara berkomunikasi dengan ternak ?

Cara berkomunikasi dengan ternak sapi, kerbau, domba dan kambing dapat
dilakukan dengan menggunakan zona lari. Yang dimaksut dengan zona lari
disini adalah ruang atau area dimana ternak atau sekelompok ternak tersebut
berada, dan apabila ruang atau area tersebut ditembus /ditekan, maka ternak
tersebut merasa terganggu yang akhirnya ternak tersebut bergerak atau
berpindah mencari jarak yang aman dan nyaman dari gangguan tersebut. Ciri
ternak sapi, kerbau yang terganggu atau merasa mendapat tekanan dapat
menunjukkan gerakan menjauh/berlari dari gangguan/tekanan, kedua telingga
ternak sapi atau kerbau tersebut bergerak keatas /diangkat , sorot mata tajam
menatap asal sumber gangguan/ tekanan, salah satu kaki depan digaruk-
garukan ditanah atau lantai dan lain sebagainya. Apabila sapi dan kerbau sudah
menunjukan ciri-ciri tersebut diatas maka sapi /kerbau tersebut sedang marah.
Sapi/kerbau yang sedang marah susah diajak komunikasi, sehingga perlu di
ditenangkan terlebih dahulu. Sapi yang sedang marah/emosinya memuncak
untuk menormalkan kembali memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu kurang
lebih 20-30 menit. Semakin sapi/kerbau gugup dan takut, maka sapi/kerbau
tersebut semakin kurang menurut dan sapi/kerbau menjadi lebih bringas yang
akhirnya susah untuk dikendalikan.

Agar pesan atau instruksi dapat diterima oleh ternak dengan baik, maka
peternak harus memahami juga apa yang menjadi kemauannya dan memahami

88 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
kesenangannya. Karena pada dasarnya ternak itu tidak mau di kasar, tidak mau
disiksa, maunya bersama kelompok atau kawanannya, tidak mau terisolasi,
maunya merasa nyaman dan tenang, dan mereka ingin melihat apa yang
menekan atau menggangu mereka.

Berbicara tentang komunikasi yang dimaksut disini adalah komunikasi kepada


ternak dan komunikasi kepada rekan-rekan kerja. Sebagai contoh dalam
kegiatan menggiring ternak apakah semua komunikasi yang anda lakukan sudah
benar dan suda jelas, baik itu bagi teman /rekan kerja maupun dengan ternak.

Apakah semua intruksi atau penyampaiannya sudah jelas bagi ternak, sehingga
dia melakukan apa yang anda perintahkan. Apabila yang terjadi anda tidak
dapat berkomunikasi dengan ternak, karena ternak tersebut takut kepada anda,
maka anda dapat mengurangi zona lari ternak tersebut. Zona lari yang dimaksut
adalah ruang gerak atau wilayah ternak dimana posisi ternak dapat merasa
aman dan santai apabila didekati. Atau jarak diantara anda dan ternak, yang
menentukan suatu respon lari atau bahkan respon perlawanan.

Masing-masing jenis ternak ruminansia mempunyai zona lari yang berbeda-beda


satu dengan yang lainnya, tergantung keadaan ternak tersebut apakah ternaknya
liar atau tidak. Kalau jenis ternak sapi Peranakan Ongol (PO) dan kerbau local
biasanya zona larinya lebih sempit. Karena ternak tersebut sering didekati,
dipegang-pegang, dielus-elus oleh peternak atau sering disebut dengan istilah
ternak telah berkomunikasi dengan peternak. Seorang handler tidak akan dapat
berkomunikasi dengan ternak yang takut kepadanya. Apabila kondisi ternak takut
kepada anda maka, anda harus menjauhi zona lari ternak.

Sebagai seorang peternak atau seorang handler Anda dapat mempengaruhi


zona lari; yang berkaitan dengan teknik-teknik penanganan, mengurangi zona
lari dari ternak ruminansia yang dalam keadaan gugup dan meningkatkan zona
lari dari ternak ruminansia yang dalam keadaan tenang . dengan memahami
akan perilaku ternak ruminansia dan zona lari, maka ada beberapa hal yang
dapat dicapai diantaranya:
o Penekanan strategis pada zona lari dari satu atau sekawanan atau
sekelompok ternak.

89 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
o Bagi yang menangani ternak jangan pernah menembus zona lari dengan
agresif atau terlalu dalam sehingga ternak ruminansia panik dan melarikan
diri seperti melompat pagar dan lain sebagainya. Hal ini merupakan proses
penerapan dan pembebasan tekanan pada tepi zona lari dalam suatu cara
untuk mendapatkan respon yang Anda inginkan.
o Tekanan sama dengan kedekatan, kecepatan dan bahasa tubuh. Jangan
mencampuradukkan kecepatan dan bahasa tubuh. Ingatlah bahwa bahasa
tubuh mencerminkan pernyataan emosional Anda.
o Anda dapat bergerak sangat cepat namun tetap tenang dan percaya diri
dan Anda akan mendapatkan respon yang sangat berbeda daripada orang
lain yang berpindah pada kecepatan yang sama tetapi dengan frustasi dan
marah.
o Agar hal ini berhasil, Anda perlu mengembangkan sentuhan untuk zona lari
dan memahami dinamika kawanan sehingga Anda dapat berada di tempat
yang tepat pada waktu yang tepat dan dengan cara yang benar.
o Memiliki sentuhan untuk zona lari akan memungkinkan Anda untuk
menyiasati zona lari menggunakan pergerakan Anda dan posisi Anda
untuk membuat ternak ruminansia pergi ke mana yang Anda perintahkan
dengan santai dan tenang.

Catatan: Ternak ruminansia yang melewati Anda akan memiliki zona lari yang
lebih kecil daripada ternak ruminansia yang datang langsung ke arah Anda.

Selain harus memehami atau mengetahui cara berkomunikasi kepada


ternak dengan baik, peternak juga harus mengetahu tentang beberapa hal
diantaranya :

a. Perilaku ternak

Teknik atau cara bagaimana menangani ternak akan mempengaruhi prilaku


setelahnya. Perlakuan yang kasar akan membuat ternak semakin memberontak
dan ketakutan. Semakin ternak ketakutan maka semakin susah atau sulit untuk
ditangani. Karena ternak akan menjadi lebih liar dan ganas , bahkan
kemungkinan besar ternak tidak dapat dikendalikan atau dijinakkan.

90 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Apabila anda dapat memahami prilaku ternak, maka akan dapat mengurangi
ternak menjadi stres, dan dapat pula menyebabkan bertambahnya berat badan
ternak tersebut. Ternak ruminansia seperti sapi dan kerbau memiliki daya ingat
yang lama, pengaruh kegiatan penanganan yang kasar sebelumnya akan dapat
mempengaruhi reaksi stress yang cukup lama pula.

Pada prinsipnya agar ternak dapat ditangani dengan mudah dan menjadikan
ternak lebih bergairah maka kegiatan penanganan harus dilakukan dengan
lemah lembut. Untuk memulihkan kondisi ternak setelah kegiatan penanganan
atau untuk memulihkan stabilitas emosi ternak setelah adanya perlakuan yang
kasar memerlukan waktu kurang setengah jam .Dengan waktu setengah jam itu
dapat membuat laju jantung atau detak jantung untuk kembali normal.

Ternak ruminansia seperti sapi dan kerbau mempunyai tingkatan stress yang
tinggi. Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi tingkat stress ternak
diantaranya:

1) Jumlah kontak dengan manusia

Ternak semakin sering berkomunikasi atau kontak dengan manusia atau


peternak maka, dia akan lebih tahan stress terhadap gangguan lingkungan yang
kurang baik, apabila dibandingkan dengan ternak yang tidak berhubungan atau
tidak pernah kontak dengan manusia . Semakin sering kontak dengan manusia
/peternak maka ternak tersebut akan semakin mudah beradaptasi dengan
lingkungan.

2) Kualitas penanganan

Ternak sapi dan kerbau juga memerlukan rasa kasih sayang. Ternak yang
diperlakukan dengan lemah lembut biasanya ternak akan lebih jinak , bila
dibandingkan dengan ternak yang diperlukan dengan kasar. Oleh karena itu
disaat menangani ternak lakukan dengan lemah lembut. Dengan perlakukan
yang lemah lembut ternak akan tahu siapa teman dan siapa lawan. Kalau
peternak memperlakukan ternaknya dengan lemah lembut, maka ternak tersebut
akan mengerti apa yang menjadi kehendak pemberi peternak

91 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
3) Genetik (keturunan)

Genetik atau yang sering disebut sifat keturunan dari induk atau bapaknya
juga dapat mempengaruhi tingkat kesetresan ternak. Apabila sifat genetis dari
induknya bagus dalam menghadapi tingkat kesetresan, maka biasanya
mempunyai keturunan yang bagus pula dalam menghadapi tingkat kesetresan.
Jadi sifat genetis dari induknya atau bapaknya mempunyai pengaruh yang
cukup tinggi.

Keadaan suasana terang akibat cahaya atau kondisi gelap akan mempengaruhi
bagaimana ternak akan bereaksi.Ternak sapi,kerbau, domba dan kambing akan
menyukai untuk berpindah dari gelap ke terang dan dia kurang menyukai
perpindahan dari keadaan terang ke gelap. Kadang-kadang sangat sulit untuk
memindahkan ternak dari tempat berkumpulnya yang dalam keadaan terang ke
dalam jalan yang dalam keadaan yang gelap.

Suara dan bunyi sangat penting dan akan berpengaruh bagi ternak. Telinga
mereka sangat peka dan merespon secara positif terhadap musik atau suara
dan bunyi yang menenangkan dan dia akan merespon secara negatif terhadap
suara dan bunyi yang dalam kondisi yang keras.

b. Struktur & Dinamika Gerombolan Ternak

Setiap segerombolan ternak yang berada disuatu tempat baik itu yang berada di
dalam kandang secara koloni atau berada dipadang penggembalan, pasti ada
yang menjadi pemimpin. Ternak sapi/kerbau yang menjadi pemimpin pada
umumnya berada di luar depan atau paling depan, dia memberikan komando
arahan dan langkah untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain dan
mereka dinamakan “No 1”

Sedangkan pemimpin potensial persis dibelakang “No 1” dan mereka dinamakan


No 2. Untuk ternak yang paling lemah berada di pusat kawanan atau
gerombolan, pada umumnya yang paling sedikit jumlah tekanannya. Pengikut
merupakan mayoritas hewan dalam suatu “Kawanan” atau “Gerombolan”.
Mereka menantikan arahan dan stabilitas dari pemimpin.

c. Indera Ternak

92 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
 Seperti apa yang telah dijelaskan di bagian atas sapi memiliki daya
penglihatan panorama dan binokuler yang memberikan kesiagaan yang baik
terhadap pemangsa. Mereka tetap memiliki kelemahan dibelakang mereka.
Ternak sapi memiliki persepsi kedalaman yang lemah. Karena hal ini, sapi
akan seringkali menghindar dan menolak untuk melintasi suatu bayangan
atau kisi saluran.
 Ternak ruminansia lebih baik atau senang melihat warna kuning dari
pada warna biru.
 Ketika sedang digembalakan ternak sapi banyak “mengendus”. Karena
mereka dapat membedakan bau, misalnya mereka akan menghindar dari
bau darah dan kotoran.
 Indera sentuhan juga penting dalam menentukan rerumputan apa yang
ditolak atau disukai.
 Terang dan cahaya mempengaruhi bagaimana sapi bereaksi terhadap
pergerakan. Sapi menyukai untuk berpindah dari gelap ke terang, dari pada
terang ke gelap. Seringkali sangat sulit untuk memindahkan sapi dari tempat
penampungan yang terang kedalam jalan lintasan yang gelap.
 Bunyi dan suara penting bagi sapi. Telinga mereka sangat sensitif dan
merespon secara positif terhadap musik yang menenangkan dan merespon
secara negatif untuk bunyi yang keras.

2.1 Penanganan Ternak Ruminansia Besar

Kegiatan penanganan atau handling sangat diperlukan pada saat mengelola


tataniaga pembelian ternak. Disamping itu penanganan atau handling sangat
diperlukan di setiap kegiatan memindahkan ternak dari suatu tempat ke
tempat yang lain, mengangkut ternak dengan menggunakan kendaraan,
menurunkan ternak dari kendaraan, menerima ternak kemudian memasukkan
ke dalam kandang dan lain-lain. Pada saat melakukan penanganan/handling
ternak khususnya ternak ruminansia, diperlukan keberanian, keyakinan dan
keterampilan.

Pengangkutan ternak adalah kegiatan mengangkut atau memindahkan ternak


dari suatu tempat ke tempat lain dengan bantuan sarana alat angkut. Kegiatan

93 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
mengangkut atau memindahkan ternak sesungguhnya merupakan hal yang
biasa terjadi pada perusahaan peternakan. Ternak diangkut atau dipindahkan
ke tempat lain dengan berbagai alasan, termasuk karena alasan pembelian dan
pemasaran atau penjualan.

Bagi perusahaan peternakan khususnya ternak ruminansia yang berskala


besar, tentu saja sering mengangkut atau memindahkan ternak dalam jumlah
banyak, kegiatan pemindahan ternak umumnya dilakukan dengan bantuan
kendaraan darat, kereta, maupun kapal laut.

Untuk negara berkembang, kendaraan bermotor yang umum digunakan


sebagai pengangkut ternak biasanya berupa kendaraan sejenis truk terbuka
atau pick up.

Pada saat pengangkutan ternak perlu dilakukan penanganan yang serius,


dimulai saat memuat, mengangkut sampai menurunkan dari kendaraan. Apabila
pada saat mengangkut ternak tidak dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka
dapat menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Pengangkutan
ternak yang dapat menyebabkan ternak tidak nyaman, stress dan luka dapat
menurunkan produktivitas ternak. Bagi ternak yang akan disembelih,
pengangkutan yang tidak benar dapat menurunkan kualitas daging yang
dihasilkan. Oleh karena itu, kegiatan pengangkutan ternak ini merupakan
kegiatan harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab.

Persyaratan Alat Transportasi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengangkutan ternak salah
satunya adalah kelayakan alat transportasi. Kelayakan alat transportasi ini
penting, karena menyangkut lancar dan tidaknya proses pengangkutan ternak
tersebut. Kendaraan apa pun yang digunakan sebagai pengangkut ternak, baik
truk, gerbong kereta atau kapal laut, pada dasarnya harus memenuhi kesamaan
dalam kriteria sebagai kendaraan pengangkut ternak. Kendaraan tersebut harus
memiliki bentuk yang cukup kuat untuk memuat berat ternak dan mampu
menjaga ternak dari lepas atau terlempar keluar kendaraan, serta mampu
melindungi ternak dari berbagai kondisi cuaca.

94 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
a. Menggiring (mustering) ternak

Kegiatan menggiring ternak ruminansia besar adalah kegiatan yang dilakukan


oleh peternak atau handler dengan cara mengarahkan atau membawa ternak
dari suatu tempat seperti dari padang penggembalaan, ternak turun dari kapal
atau ternak turun dari kendaraan untuk dibawa ke suatu tujuan yang dikendaki
oleh sipeternak atau sihandler. Untuk mengiring ternak ruminansia besar yang
jumlahnya banyak dan tenaga pekerja peternak kurang maka peternak atau
seorang handler dapat menggunakan kendaraan bermotor, kuda maupun ajing.
Kuda dan anjing dapat dipergunakan sebagai pembantu didalam menggering
ternak. sebab kuda dan anjing lebih lincah. Pada saat kegiatan menggering
ternak dengan menggunakan bantuan kuda dan anjing pada umumnya
dilakukan di luar negeri. Hal ini dilakukan karena tenaga kuda dan anjing tidak
usah membayar mahal.

Walaupun menggunakan bantuan tenaga kuda dan anjing dalam menggiring


ternak, peternak juga masih menggunakan alat kendaraan sepeda motor.
Kendaraan sepeda motor digunakan peternak untuk mondar-mandir kesana
kemari. Bisa kedepan atau kebelakang dalam gerombolan ternak. Kendaraan
sepeda motor didepan dapat difungsikan sebagai petujuk jalan bagi gerombolan
ternak. Sedangkan kalau posisi dibelakang berfungsi untuk menghalau
segerombolan ternak tersebut.

Kegiatan menggiring ternak (mustering) terbaik dilakukan pada kondisi hari yang
sejuk dan ketika pandangan baik, sapi mungkin lebih baik ditangani setelah
periode merumput yang panjang (sore hari) dan persiapan rute baik untuk
menghasilkan yang baik.

Ternak dapat lebih baik dikendalikan ketika telah diistirahatkan pada suatu
tempat setelah penggiringan atau setelah cukup waktu untuk mengenal
lingkungannya yaitu halaman kandang (yard).

Paling sedikit dua orang handler diperlukan untuk menangani rutin yang
memuaskan pada sapi potong di yard. Ketika bekerja dikandang diharuskan
memakai sepatu boot yang terbuat dari kulit atau karet dengan memakai
pelindung ujung jari kaki. Tindakan lain yang baik adalah melepaskan jam tangan
dan menggulung baju setinggi mungkin. Celana panjang yang terbuat dari bahan

95 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
tebal cukup baik untuk melindungi kaki anda dari tendangan sapi atau terjepit
pada pagar.

Gambar 3.2 Menggiring ternak (Dok. MLA & LIVECORP)

b. Drafting atau memisahkan ternak

Di dalam pemeliharaan ternak sapi dan kerbau yang dilakukan secara koloni
atau berkelompok, kemungkinan ada ternak yang sakit atau terluka itu adalah
fajar. Terlukanya ternak dalam kandang koloni bisa disebabkan karena berantam
atau karena berdesak-desakan pada saat ternak tersebut berebut makanan.
Ternak yang terluka atau ternak yang sakit perlu dilakukan penanganan. Pada
saat melakukan penanganan ternak yang dalam kedaan sakit atau terluka,
perlu dipisahkan dengan kelompoknya.

Kegiatan memisahkan ternak tidak hanya pada saat mengobati atau


memisahkan antara yang sehat dengan yang sakit, ada juga kegiatan
memisahkan ternak antara jantan dan betina, antara anak dan induknya, antara
yang besar dan yang kecil tergantung dari tujuan pemisahan tersebut.

Pada saat memisahkan ternak antara yang satu dengan yang lainnya, lebih
mudah dilakukan pada saat ternak dalam keadaan tenang. Jangan memisahkan
ternak dalam keadaan stres/garang ataupun liar, apabila ternak pada keadaan
tersebut sebaiknya ditenangkan terlebih dahulu dengan jalan memberi pakan
dan minum. Setelah kondisi ternak tenang barulah dilakukan kegiatan
pemisahan. Memisahkan ternak dimulai dengan memilih ternak yang akan
dipisahkan. Setelah ternak yang akan dipisah sudah terpilih, maka dekatilah

96 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
ternak tersebut dan pisahkan dengan ternak yang lain dengan pelan dan hati-
hati.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat memindahkan atau
memisahkan ternak diantaranya :

 Bekerjalah di samping ternak dimana mereka dapat melihat Anda


 Jangan berdiri langsung di belakang ternak, selama lebih dari lima detik
 Ingatlah zona lari ternak, apabila ternak terlalu banyak tekanan maka
ternak akan bergerak menjauh , kalau kedaaan itu terjadi maka anda
harus berjalanlah ke belakang.

c. Mengeluarkan ternak dari kandang

Mengeluarkan ternak sapi dan kerbau dari dalam kandang itu tidaklah mudah.
Mungkin bagi seorang peternak atau seorang handler yang sudah mempunyai
kompetensi handling (penanganan).kegiataan itu memang mudah. Akan tetapi
bagi seseorang peternak atau seorang handler yang belum mempunayai
kompetensi dalam bidang tersebut memang sangat susah. Terlebih-lebih apabila
ternak yang ada didalam kandang cukup banyak, pada hal yang akan
dikeluarkan dari dalam kandang hanya dua atau tiga ekor saja.

Kegiatan mengeluarkan ternak dari dalam kandang agar berhasil atau sukses
dan memerlukan waktu yang tidak lama, maka ada beberapa tahapan yang perlu
dipahami. Adapun tahapan-tahapan kegiatan didalam mengelurkan ternak dari
dalam kandang adalah :

 Tahap pertama : Membawa ternak ke pintu kandang.

Untuk membawa ternak kearah pintu kandang dapat anda lakukan dengan
cara : Anda harus bergerak kebelakang kandang dan bekerja membentuk suatu
huruf T terbalik terhadap kemana anda harus bergerak. Kemudian disamping itu
anda harus bergerak kekiri dan kekanan anda serta bergerak kearah depan dan
belakang. Hal ini bertujuan untuk memberi tekanan terhadap ternak tersebut agar
posisi atau keadaan ternak yang kita inginkan menuju atau mengarah kepintu
kandang. Lakukan kegiatan ini dengan pelan-pelan tetapi pasti, usahakan ternak

97 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
tersebut tidak lari. Oleh karena itu kegiatan atau pekerjaan ini minimal dilakukan
oleh dua atau tiga orang.

Gambar 3.3 Mengarahkan ternak kearah pintu kandang (Dok. MLA & LIVECORP)

 Tahap kedua: Mengeluarkan ternak melalui pintu kandang.

Setelah ternak sudah mengarah kearah atau kedekat pintu kandang, salah satu
orang bergerak menuju pintu kandang untuk mempengruhi ternak agar keluar
melalui pintu kandang. Yang perlu dingat bahwa untuk menggerakkan ternak
kearah pintu kandang tersebut, anda harus bergerak kedepan dan kebelakang
serta kekanan dan kekiri untuk mempengaruhi ternak tersebut. Untuk mengatur
ternak yang mana yang akan dikeluarkan dari dalam kandang, salah satu orang
menjaga dan mengatur pintu kandang tersebut, agar ternak yang keluar dari
dalam kandang sesuai dengan keinginan.

d. Menuntun ternak muda

Pedet anak sapi dan gudel anak kerbau, kadang ada yang mudah didekati dan
ada pula yang susah atau sulit untuk didekati. Bagi pedet dan gudel yang mudah
didekati dan jinak akan mudah dikendalikan sehingga akan mudah untuk
dituntun kemanapun yang dikendaki.

Cara menuntun pedet dan gudel yang jinak cukup mudah. Dengan jalan tangan
kanan mencengkeram dagu bagian bawah dekat mulut, dan tangan kiri
memegang erat tanduk atau telinga, kemudian tuntun ternak tersebut ketempat
yang dikendaki.

98 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Yang perlu diperhatikan pada saat menuntun ternak, jangan ada perlakuan yang
kasar terhadap ternak tersebut, terlebih-lebih untuk mempermudah pada saat
menuntun ada yang membantu didepannya dengan membawa pakan berupa
hijauan didepan ternak tersebut.

e. Menuntun Ternak Dewasa

Menuntun sapi atau kerbau yang jinak bisa dilakukan tanpa menggunakan tali
tambang, yaitu cukup dengan memegang atau menarik hidungnya ke atas.
Tangan kanan memegang lubang hidung ternak tersebut, dengan cara
memasukkan ibu jari ke lubang hidung bagian kanan dan jari telunjuk ke lubang
sebelah kiri. Sedangkan tangan kiri memegang tanduk atau telinga ternak
tersebut. Kemudian tuntunlah ternak ke tempat yang dikehendaki. Pada saat
menuntun sama dengan menuntun ternak pedet atau gudel tersebut, jangan ada
perlakuan yang kasar dan gunakanlah sepatu boot pada saat menuntut.

Catatan : Pada saat anda menuntut ternak dewasa dengan menggunakan ibu
jari dan jari telunjuk yang dimasukkan ke lubang hidung ternak.
Jangan sekali -kali kondisi kuku tangan anda dalam keadaan panjang.
Karena pada saat kuku anda dalam kedaan panjang, maka dapat
menyebabkan hidung ternak terluka dan berdarah. Usahakan sebelum
melakukan kegiatan penganan ternak demi keamanan anda dan
ternak kuku tangan anda harus dipotong.

Untuk menuntun sapi dan kerbau dewasa yang jinak dapat menggunakan tali
tambang yang diikatkan pada leher ternak tersebut. Panjang tali tambang yang
digunakan kurang lebih 4,5 meter. Caranya dengan menarik ujung tali
tambang yang sudah diikatkan pada leher ternak tersebut, posisi kita berada
didepan ternak. Karena ternak sudah jinak maka pada saat menarik ujung tali
cukup pelan dan posisi tali agak kendor saja. Dengan ditariknya ujung tali
tambang yang sudah melingkar dilehernya ternak tersebut, maka ternak akan
mengikuti di belakang kearah tujuan yang anda kendaki.

f. Menuntun Ternak Dewasa yang Galak

Cara menuntun sapi atau kerbau yang mempunyai temperamen galak / ganas
adalah susah. Oleh karena itu seorang handler harus mempunyai keterampilan

99 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
khusus. Ternak yang mempunyai temperamen galak pada saat dituntun, maka
ternak tersebut harus diberi tali hidung (keluh). Selain itu perlu juga alat bantu
berupa tali halter serta satu orang lagi yang membantu.

Caranya hampir sama dengan menuntun sapi atau kerbau yang galak yaitu
tangan kiri kita menarik ujung tali leher dan tali halter sedangkan tangan kanan
kita menarik tali hidung (tali keluh) dan pangkal tali halter, posisi kita sebaiknya
disebelah kiri ternak. Ternak yang galak apabila tali hidung (tali keluh) nya ditarik
maka ternak tersebut akan kesakitan. Karena merasa sakit, maka ternak tersebut
akan mengikuti kemana saja akan dibawa. Apabila pada saat dituntun ternak
agak susah berjalan (malas atau meronta), maka tariklah agak kencang terutama
tali hidung (tali keluh) nya. Dan mintalah bantuan seseorang teman untuk
mendorong ternak dari arah belakang, dengan cara memegang ekornya. Setelah
ternak sudah mau dituntun, kendorkan tarikannya. Lakukan dengan penuh
perasaan dan hati-hati.

g. Mengikat Ternak

Mengikat ternak sapi dan kerbau, adalah mudah bagi orang yang sudah
mengerti, dan susah bagi orang yang tidak mengerti. Mengikat ternak sapi dan
kerbau dapat dilakukan untuk keperluan menuntun, atau keperluan peternak
untuk menggembala ternaknya. Atau mungkin keperluan untuk mengikat ternak
didalam kandang agar tidak kemana-mana. Pada saat mengikat ternak sapi dan
kerbau, harus diperhatikan dengan seksama. Mengikat sapi dan kerbau
sebaiknya menggunakan tali tambang dari bahan rami.

Pada saat pengikatan ujung tali dileher sebaiknya tidak mudah lepas dan tidak
menyebabkan ternak tercekik. Apabila pada saat pengikatan tidak tepat atau
salah dapat membahaya ternak. Tali yang dipasang dileher ternak sebaiknya di
pasang longgar, agar ternak tidak tercekik. Setelah ternak sapi atau kerbau
tersebut, diikat dengan tali tambang dibagian leher dengan posisi kendor dan
ikatan tidak akan lepas, kemudian ujung talinya diikatkan di patok atau ditiang.
Dengan tujuan agar ternak tidak pergi kemana-mana.

100 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
h. Merobohkan sapi
Kegiatan merobohkan sapi atau kerbau memang bukan hal mudah, bagi
seseorang yang tidak mempunyai kompetensi. Apalagi jika sapi atau kerbau
yang akan dirobohkan adalah sapi atau kerbau jantan yang berukuran besar.
Ada banyak teknik yang bisa digunakan untuk merobohkan sapi atau kerbau.
Namun pada umumnya masyarakat belum banyak mengetahui teknik ini. Bisa
kita lihat saat penyelenggaraan ibadah kurban. Kebanyakan cara yang
digunakan untuk merobohkan sapi adalah dengan mengikat keempat kaki sapi
menjadi satu di tengah dan mengikat kepala sapi pada satu tonggak yang kuat
kemudian tali pada kaki tersebut ditarik hingga sapi tersebut rebah.

Adapun langkah-langkah untuk merebahkan atau merobohkan sapi atau kerbau


adalah sebagai berikut :
 Siapkan tali tambang dengan panjang kira-kira 10 meter.
 Lilitkan tali tambang tersebut pada badan sapi seperti pada gambar
di atas.
 Mintalah bantuan satu orang teman untuk memegangi kepala
sapi/kerbau (memegang “keloh”) untuk mencegah kepala sapi /kerbau
tertekuk saat jatuh.
 Kemudian tariklah ujung tali ke arah belakang maka sapi/kerbau akan
terduduk dan akan terbaring dengan perlahan.
 Untuk melakukan teknik ini tidak diperlukan tenaga yang besar, hanya
saja anda harus yakin.
 Apabila sapi/kerbau sudah terbaring jangan kendurkan talinya,
apabila tali kembali kendur maka sapi/kerbau bisa bangkit kembali.
 Anda harus menahan pada posisi awal anda seperti pada saat
menarik ujung tali.
 Untuk penanganan lebih lanjut, masing-masing kaki depan dan
belakang diikat menjadi satu. Leher ditekan agar sapi tidak bangkit
lagi.

i. Memandikan Sapi/ Kerbau

Dalam usaha budidaya sapi atau kerbau, kegiatan yang tidak kalah pentingnya
adalah menjaga kebersihan ternak. Menjaga kebersihan sapi atau kerbau

101 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
secara tidak langsung merupakan upaya untuk menjaga kesehatan ternak
tersebut. Oleh karena itu, ternak-ternak yang dibudidayakan harus dijaga
kebersihannya dengan cara memandikannya. Ternak sapi atau kerbau yang
tidak pernah dimandikan kulitnya akan tertutup daki atau kotoran.
Daki yang menempel pada kulit sapi atau kerbau tersebut dapat mengganggu
dan mempengaruhi kesehatan sapi atau kerbau itu sendiri. Beberapa pengaruh
daki terhadap kesehatan sapi atau kerbau diantaranya :
 Daki berpotensi menutup lubang keringan pada kulit sapi atau kerbau,
sehingga keringat yang harusnya keluar akan tersumbat. Keringat yang
tidak bisa keluar tersebut akan mengganggu pengaturan suhu di dalam
tubuh sapi /kerbau, dan pengaturan suhu yang tidak berjalan sempurna
akan mengganggu kesehatan sapi/kerbau tersebut.
 Daki merupakan kotoran, sehingga berpotensi menjadi tempat yang
disenangi oleh mikroorganisme parasit, baik bakteri maupun
mikroorganisme lain, yang dapat menimbulkan penyakit pada sapi
tersebut, misalnya mrenyebabkan gatal-gatal.
 Oleh karena itu, sapi/kerbau yang dipelihara harus dimandikan secara
teratur, sehingga kebersihan sapi/kerbau akan tetap terjaga dan secara
tidak langsung akan menghindarkan sapi atau kerbau yang
dibudidayakan bebas dari berbagai penyakit. Memandikan sapi dapat
dilakukan dengan jalan menggosok-nggosok kulit menggunakan sikat
atau alat lain.

2.2 Penanganan Ternak Ruminansia Kecil Domba dan Kambing

Seperti apa yang telah dibahas diatas bahwa kegiatan handling merupakan
kegiatan yang mutlak harus dikuasahi oleh seorang peternak atau seorang
handler, karena dengan menguasahi teknik atau cara handling semua pekerjaan
yang berhubungan dengan penanganan ternak dapat berjalan dengan lancar.

Kegiatan handling pada ternak ruminansia kecil domba dan kambing meliputi :
bagaimana cara menangkap ternak,mengendalikan ternak, mendudukkan
sehingga ternak tidak meronta dan bisa kita jinakkan. Kegiatan menangkap
ternak domba atau kambing yang mudah adalah di dalam kandang yang
ukurannya sempit. Di dalam kandang yang ukurannya sempit ternak akan

102 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
terbatas dalam geraknya. Namun apabila menangkap ternak ditempat yang luas
seperti dipadang penggembalaan akan kesulitan. Untuk memudahkan dalam
pelaksanaan kegiatan penangkapan ternak tersebut, dengan jalan
menggiringnya kesalah satu sudut, kemudian barulah ternak domba atau
kambing tersebut ditangkap.

Kegiatan mengendalikan ternak domba dan kambing yang umurnya masih muda
atau ukuran badannya kecil, mengendalikannya dapat dilakukan dengan cara
memegang ternak pada posisi berdiri. Dan yang paling mudah dan terbaik untuk
mendudukan ternak domba/kambing dengan cara menekuk kepala tersebut
kearah sisi bahunya.

1) Menangkap (catching)

Apabila ingin menangkap ternak kambing atau domba, posisi anda harus benar-
benar berada dibelakang ternak, sehingga tidak kelihatan oleh ternak yang akan
ditangkap. Pada saat menangkap domba/kambing, tangkaplah pada bagian
pangkal pahanya sambil membungkukkan badan anda. Kenapa pada bagian
pangkal paha, karena pada pangkal paha dagingnya tebal. Dengan harapan
ternak tidak merasa kesakitan. Namun apabila pada saat anda menangkap
tangan anda pada posisi ujung kaki ternak akan merasa kesakitan yang akhirnya
ternak akan meronta – ronta.

Apabila menggunakan alat bantu pengait, kaitkan alat pengait di bagian leher
ternak dan tarik kebelakang. Setelah itu cepat-cepat sebelah tangan dengan
terbuka memegang leher dekat kepala dan tangan yang lain memegang
pantatnya. Sedangkan bila ternak domba/kambing mau diangkat, tangan yang
memegang leher agar diturunkan sampai dada dan tangan yang memegang
dipantat diturunkan ke pangkal paha sambil ditekan kedalam.

2) Mengendalikan Ternak

Suatu cara yang mudah mengendalikan ternak domba/kambing dalam posisi


berdiri adalah dengan menempatkan domba/kambing pada dinding atau pagar.
Kemudian tempatkan tangan anda pada dagu, sementara lutut anda menekan
tubuh domba/kambing. Pada tempat yang terbuka dan domba/kambing tidak
terlalu besar cara yang terbaik adalah dengan cara menempatkan tubuh anda

103 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
diatas tubuh domba/kambing, tangan kiri berada di dagu dan tangan kanan
didaerah pangkal ekor.

Yang perlu diperhatikan dalam perlakukan diatas, yaitu usahakan punggung


anda dalam posisi lurus. Untuk ternak domba/kambing yang ukurannya besar
anda dapat memegang dengan cara menempatkan diri anda disamping
domba/kambing dengan tangan kiri berada didagu domba/kambing dan tangan
kanan didaerah pangkal ekor

3) Mendudukan domba/kambing

Di tempat yang datar dan luas peganglah domba/kambing dengan cara posisi
anda disamping domba/kambing, sehingga lutut anda berada di tempat bagian
samping tubuh domba/kambing, sedangkan salah satu tangan anda berada
didaerah dada dan tangan yang lain disekitar pinggul.

Tekuklah muka domba/kambing kearah sisi bahu dan dengan cepat tekan
pinggul, sehingga domba/kambing menahan berat badannya pada salah satu
kaki. Ketika domba/kambing sudah tertumpu pada salah satu kakinya, dengan
cepat angkat tubuh bagian depan domba/kambing dan pindahkan kedua tangan
anda pada kaki domba/kambing tersebut, sehingga domba/kambing terduduk
pada bagian rumpnya.

Yang perlu diingat usahakan agar punggung anda selalu dalam posisi lurus.
Domba/kambing akan lebih mudah dikendalikan pada posisi duduk dengan
menekan lutut anda tepat dibelakang domba/kambing sehingga domba/kambing
dapat bersandar secara santai dan nyaman pada lutut anda. Cara lain untuk
menunjang kondisi santai yaitu dengan menekukkan kepala domba/kambing.

Setelah anda terampil dalam hal handling (penanganan) domba/kambing, anda


akan lebih mudah dalam hal penanganan kesehatan, yaitu pada saat akan
memotong kuku, memandikan dan mencukur bulu. Disamping itu anda dapat
juga melihat gigi ternak.

104 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Gambar 3.4 melihat gigi domba Gambar 3.5 melihat gigi sapi

D. Aktivitas Pembelajaran
Agar Anda dapat memahami materi pada kegiata pembelajaran 3 ini,
diharapkan Anda melakukan aktivitas pembelajaran sebagai berikut:

Membaca uraian Mengerjakan semua Melakukan diskusi


materi kegiatan tugas /LK pada kelompok
pembelajaran 3 kegiatan membahas
pembelajaran 3 tugas/LK pada
Keg Pblj 3

Mengerjakan
lembar latihan Mempresentasikan
pada kegiataan Membuat laporan
hasil kerja kelompok hasil kerja
pembelajaran 3 kelompok

Melakukan umpan balik Membuat tindak lanjut

105 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
E. Latihan/Kasus/Tugas

Latihan
1. Jelaskan peralatan yan diperlukan untuk kegiatan penangan ternak
ruminansia besar !
2. Apa yang anda ketahu tentang Zona lari ternak !
3. Jelaskan 4 prinsip utama dalam berkomunikasi pada ternak ruminansia !
4. Jelaskan factor yang dapat mempengaruhi tingkat stress ternak ruminansia
5. Jelaskan ciri-ciri sapi yang sedang marah !
6. Apa yang anda ketahui tentang drafting, mustering , catching dan nose
lead !
7. Berapa waktu yang diperlukan bagi ternak sapi untuk memulihkan
stabilitas emosi setelah ternak apabila ada perlakuan yang kasar !
8. Jelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat memindahkan
atau memisahkan ternak ruminansia !

Kasus :

Di salah satu peternakan penggemukan sapi potong, ternyata di dalam satu


kandang koloni yang ada beberapa ekor sapi yang dalam sakit perlu dipisahkan
dan diobati. Bagaimana caranya untuk mengeluarkan sapi yang sakit, namun
sapi yang lain tidak ikut keluar ?

Buatlah langkah kerja untuk mengeluarkan sapi yang sakit dari dalam kandang
dan ternak yang lain tidak ikut keluar dari dalam kandang!

106 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Tugas :
Lembar Kerja 1
Judul : Mengidentifikasi peralatan untuk menangani ternak
ruminansia
Tujuan : Anda mampu mengidentifikasi peralatan yang
dipergunakan untuk menangani ternak ruminansia

Waktu : 2 x 45 menit

Alat dan bahan : ATK


Langkah Kerja : 1. Siapkanlah semua alat dan bahan yang
diperlukan
2. Biasakanlah berdoa sebelum memulai bekerja
3. Lakukan indentifikasi terhadap peralatan yang
digunakan untuk kegiatan menangani ternak
ruminansia yang

4. Apakah peralatan yang dipergunakan untuk


menangani ternak khususnya untuk
memisahkan, menuntun dan menggiring
ternak tersebut sudah sesuai kebutuhan !

Lembar kerja 2
Judul : Menuntut Ternak Sapi/Kerbau
Tujuan : Anda mampu menuntut ternak sapi/kerbau sampai ke
tempat tujuan yang dinginkan
Waktu : 4 x 45 menit
Alat dan bahan : 1. Sapi/kerbau
2. Tali halter
Keselamatam : Hati-hatilah pada saat bekerja dan gunakan sepatu
kerja boot pada saat melakukan kegiatan menuntun ternak
Langkah Kerja : 1. Sebelum mulai bekerja biasakanlah berdoa terlebih
dahulu

107 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
2. Siapkan semua alat yang diperlukan seperti:
sepatu boot, pakaian kerja lapangan yang cukup
tebal, kuku tangan tidak boleh panjang dan
pakailah topi
3. Dekatilah ternak sapi/kerbau secara perlahan-
lahan, dari arah samping dengan sudut 45 derajat
4. Lakukan rangsangan dengan cara membelai –belai
ternak pada bagian paha belakang, ke bagian tubuh
hingga kepala dengan penuh rasa kasih sayang
dan kelembutan
5. Pasanglah tali halter pada ternak sapi/kerbau dan
perhatikan cara pemasangannya yaitu tempat
memegangnya terletak disebelah kiri ternak
6. Apabila anda merasa kesulitan pada saat
memasang tali halter pada ternak, mintalah
pertolongan pada teman anda.
7. Tuntunlah ternak sapi/kerbau dengan cara
memegang tali halternya dengan jarak sekitar 1
meter dari tubuh ternak, dan sebaiknya anda
menuntut dari sebelah kiri ternak
8. Cobalah anda menuntut ternak sapi/kerau dengan
jarak lebih dari 1 meter dan bagaimana reaksinya
---------------- Selamat mencoba------------------

108 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Lembar kerja : 3
Judul : Mendudukkan ternak domba/kambing

Tujuan : Anda mampu mendudukan ternak domba/kambing secara benar

Waktu : 3 x 45 menit

Alat dan bahan : 1. Domba/kambing


2. Sepatu boot
3. Pakaian lapangan
4. Tali tambang

Keselamatam : Hati-hatilah pada saat bekerja


kerja
Langkah Kerja : 1. Siapkan semua alat dan bahan yang diperlukan
2. Biasakanlah berdoa sebelum bekerja
3. Ambilah salah satu ternak domba/kambing yang
ada di dalam kandangnya
4. Bawalah ternak tersebut ketempat yang lapang dan
datar
5. Buanglah atau singkirkanlah benda-benda yang
keras dan tajam yang ada di tempat yang lapang
tersebut
6. Peganglah domba/kambing dengan posisi Anda
berdirilah disamping domba/kambing dan posisikan
lutut Anda berada disamping tubuh domba
7. Dudukanlah domba/kambing tersebut dengan cara:
- pedang dada domba/kambing dengan tangan kiri
dan tangan kanan memegang sekitar pinggul
8. Tekuklah muka domba/kambing kearah sisi bahu
dan dengan cepat dan tekan pinggulnya
9. Ketika domba/kambing sudah tertumpu pada salah
satu kakinya, cepat angkat tubuh bagian depan
domba/kambing
10. Pindahkan kedua tangan anda pada kaki
domba/kambing tersebut, sehingga domba/kambing

109 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
terduduk pada bagian rumpnya.
11. Usahakan agar punggung Anda selalu pada posisi
lurus
12. Ulangilah beberapa kali agar Anda lebih trampil.

F. Rangkuman
Kompetensi penanganan ini meliputi proses-proses penanganan ternak selama
pengeluaran di atas kapal, di pelabuhan yaitu memindahkan ternak dari kapal ke
truk, menurunkan ternak di depot-depot peternakan dan penanganan umum
ternak selama di lokasi farm . Cara pendekatan ke arah penanganan ternak
memberikan alat bagi peternak untuk memahami ternak dengan lebih baik.
Memahami kebutuhan ternak, dan bagaimana mereka menanggapi lingkungan
mereka menjadikan orang-orang yang menanganinya dapat menyelesaikan
masalah-masalah dan meningkatkan proses-proses penanganan ternak.

Zona lari ternak adalah ruang atau area dimana ternak atau sekelompok ternak
tersebut berada, dan apabila ruang atau area tersebut ditembus /ditekan, maka
ternak tersebut merasa terganggu yang akhirnya ternak tersebut bergerak atau
berpindah mencari jarak yang aman dan nyaman dari gangguan tersebut.
Dengan memahami akan perilaku ternak ruminansia dan zona lari, maka ada
beberapa hal yang dapat dicapai diantaranya:
o Penekanan strategis pada zona lari dari satu atau sekawanan atau
sekelompok ternak.
o Bagi yang menangani ternak jangan pernah menembus zona lari dengan
agresif atau terlalu dalam sehingga ternak ruminansia panik dan melarikan
diri seperti melompat pagar dan lain sebagainya. Hal ini merupakan proses
penerapan dan pembebasan tekanan pada tepi zona lari dalam suatu cara
untuk mendapatkan respon yang Anda inginkan.
o Tekanan sama dengan kedekatan, kecepatan dan bahasa tubuh. Jangan
mencampuradukkan kecepatan dan bahasa tubuh. Ingatlah bahwa bahasa
tubuh mencerminkan pernyataan emosional Anda.
o Anda dapat bergerak sangat cepat namun tetap tenang dan percaya diri
dan Anda akan mendapatkan respon yang sangat berbeda daripada orang

110 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
lain yang berpindah pada kecepatan yang sama tetapi dengan frustasi dan
marah.
o Agar hal ini berhasil, Anda perlu mengembangkan sentuhan untuk zona lari
dan memahami dinamika kawanan sehingga Anda dapat berada di tempat
yang tepat pada waktu yang tepat dan dengan cara yang benar.
o Memiliki sentuhan untuk zona lari akan memungkinkan Anda untuk
menyiasati zona lari menggunakan pergerakan Anda dan posisi Anda
untuk membuat ternak ruminansia pergi ke mana yang Anda perintahkan
dengan santai dan tenang.

Sedangkan ciri-ciri sapi yang sedang marah adalah kedua telingga ternak sapi
atau kerbau tersebut bergerak keatas /diangkat, sorot mata tajam menatap asal
sumber gangguan/ tekanan, salah satu kaki depan digaruk-garukan ditanah atau
lantai dan lain sebagainya. Sapi yang sedang marah/emosinya memuncak untuk
menormalkan kembali memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu kurang lebih
20-30 menit.

Setiap segerombolan ternak yang berada disuatu tempat baik itu yang berada di
dalam kandang secara koloni atau berada dipadang penggembalan, pasti ada
yang menjadi pemimpin. Ternak sapi/kerbau yang menjadi pemimpin pada
umumnya berada di luar depan atau paling depan, dia memberikan komando
arahan dan langkah untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain dan
mereka dinamakan “No 1”
Ada 4 prinsip utama dalam berkomunikasi pada ternak ruminansia !
a. Posisi: tempat Anda dalam hubungannya dengan MATA
b. Tekanan: yang ada harus dibebaskan
c. Pergerakan: meningkatkan atau menurunkan pergerakan tubuh Anda
d. Komunikasi: kepada sapi dan kepada rekan kerja Anda

Ada Factor yang dapat mempengaruhi tingkat stress ternak ruminansia


diantaranya : jumlah kontak dengan manusi, kualitas penanganan dan faktor
genetik (keturunan) . Beberapa peralatan yan diperlukan untuk kegiatan
penangan ternak ruminansia besar diantaranya: tali tambang, tongkat, bendera
dan nose lead

111 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah Anda mempelajari materi kegiatan pembelajaran 3. tentang
penangan ternak ruminansia yang mencakup tentang: memilih peralatan
penanganan ternak ruminansia dan melakukan penanganan ternak ruminansia,
lakukan umpan balik dan tindak lanjut !

A. Umpan Balik
No Pernyataan Deskriptif

1 Setelah Anda Mempelajari Materi Kegiatan Pembelajaran 3.


Penanganan ternak ruminansia

a. Apakah ada hal-hal yang perlu ditambahkan atau dikurangi tentang


pemahaman materi konsep penanganan ternak ruminansia.......................

b. Apakah ada hal-hal yang perlu ditambahkan atau dikurangi tentang


pemahaman materi memilih peralatan penanganan ternak ruminansia ......

c. Apakah ada hal-hal yang perlu ditambahkan atau dikurangi tentang


pemahaman materi melakukan penanganan ternak ruminansia .................

B. Tindak Lanjut
1 Setelah Anda mempelajari materi kegiatan pembelajaran 3. tentang
penanganan ternak ruminansia .

a. Tindak lanjut apa yang akan Anda lakukan terhadap materi pemahaman
konsep penanganan ternak ruminansia...................................................

b. Tindak lanjut apa yang akan Anda lakukan terhadap materi memilih
peralatan penanganan ternak ruminansia...................

c. Tindak lanjut apa yang akan Anda lakukan terhadap materi melakukan
penanganan ternak ruminansia ......................................................

112 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
KUNCI JAWABAN LATIHAN

Kunci Jawaban Latihan Kegiatan Pembelajaran 1

1. Tujuan pembangunan peternakan antara lain:

a. Meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan kualitas


dan produktifitas sumberdaya masyarakat peternak

b. Meningkatkan prod. ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi


dalam negeri yang terjangkau masyarakat, penyediaan bahan
indusatri dan ekspor

c. Meningkatkan kualitas pangan dan gizi masyarakat melalui


diversifikasi produk bahan pangan asal ternak

d. Mengembangkan agribisnis peternakan untuk mendorong


peningkatan pendapatan dan perluasan kesempatan kerja dan
berusaha di pedesaan

e. Optimalisasi pemanfaatan SDA untuk memperoleh manfaat bagi


peningkatan prod ternak dengan tetap memperhatikan kelestarian
lingkungan.

2. Industri biologis peternakan, mencakup 4 aspek, yaitu:

a. Peternak sebagai subyek, Harus ditingkatkan kesejahteraannya


b. Ternak sebagai obyek, Harus ditingkatkan produksi dan
produktifitasnya
c. Lahan sebagai basis ekologi budidaya, Harus dilestarikan
d. Teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan
efisiensi, perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan
3. Sistem Agribisnis Berbasis Peternakan Ruminansia, terdiri dari
beberapa sub sistem, yaitu:

a. Sub sistem Hulu. Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem
hulu antara lain:Pembibitan, Industri pakan ternak dan proses
perdagangannya, Industri peralatan peternakan dan proses
perdagangannya dan Industri obat hewan serta proses
perdagangannya

113 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
b. Sub Sistem Budidaya.Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem
budidaya antara lain: Budidaya sapi perah, Budidaya sapi potong,
Penggemukan sapi, Budidaya domba, Penggemukan domnba,
Budidaya kambing, Penggemukan kambing, dan lain sebagainya
c. Sub sistem Hilir. Kegiatan usaha yang berada pada sub sistem hilir
antara lain: pasca panen daging ternak ruminansia dan proses
perdagangannya, pasca panen susu dan proses perdagangannya,
pengolahan daging dan proses perdagannya, pengolahan susu dan
proses perdagangannya, hasil samping peternakan ruminansia dan
proses perdagangannya
d. Lembaga Penunjang. Lembaga penunjang adalah lembaga yang
mendukung atau mensupport kegiatan usaha baik yang berada di
hulu, budidaya maupun di hilir. Lembaga penunjang tersebuat atara
lain: Litbang, Penyandang Dana / Modal, Konsultan, Transportasi,
Asuransi, dan lain sebagainya.

Kunci Jawaban Latihan Kegiatan Pembelajaran 2

Kunci Jawaban Tes Formatif 1


1. Seorang peternak perlu mempelajari tingkah laku ternak sebab untuk
membuka usaha ternak yang sukses, peternak harus mengetahui tingkah
laku pada ternaknya. Tingkahlaku ternak tingkah tanduk atau kegiatan
hewan yang terlihat dan saling berkaitan secara individual atau kolektif
dan merupakan cara hewan berinteraksi secara dinamik dengan
lingkungannya. dengan mengenal tingkah laku ternak itulah peternak
dapat dengan mudah menangani ternak-ternaknya. Dari tingkah laku ini
kita akan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan kedudukan
manusia sebagai mahluk sosial, mendapatkan informasi tentang indera
hewan tersebut dan tentang mekanismenya homoestatik hewan supaya
keadaan selalu seimbang atau adaptasi agar tetap hidup.
2. Tingkah laku ternak adalah sebagai ekspresi dari sebuah usaha untuk
beradaptasi atau menyesuaikan diri perbedaan kondisi internal maupun
eksternal. Dapat juga didefinisikan sebagai respons ternak terhadap
stimulus / rangsangan.

114 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Ethologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku hewan (animal
behavior) di lingkungan alami dan di lingkungan lain di mana ternak
tersebut bisa hidup. Sedangkan etogram merupakan katalog yang tepat
dan trinci yang memuat respons yang membentuk tingkahlaku hewan.

3. Shelter –seeking : pencarian tempat berteduh


Pada domba dan kambing diperlihatkan dengan tingkahlaku bergerak
kearah pohon, ke dalam kandang, berkumpul bersama untuk menjauhkan
dari lalat-lalat. Saling berdesakan pada keadaan iklim yang sangat dingin,
membuat lubang dari tanah dan terlentang.

Investigatory : penyedikan. Pada kambing dan domba diperlihatkan


dengan perilaku mengangkat kepala, mengarahkan mata, telinga dan
hidung kearah gangguan. Mencium benda atau domba dan kambing yang
lain. Sedangkan investigative behavior pada sapi potong ditunjukan dengan
sifat tergolong agresif saat baru saja didatangi kepalanya akan
mendongong untuk melihat siapa yang datang dan meninggalkan aktivitas
makannya, lama- kelamaan saat di elus kepalanya dia akan lebih tenang,
sebab ternak sapi akan mudah stress dan hal ini yang menyebabkan
membuat sapi selalu waspada

Alelomimetik
Alelomimetik merupakan suatu kecenderungan untuk terbang atau
berkelompok dan terikat dalam tingkahlaku yang sama dalam satu satuan
waktu. Ciri ini merupakan kharakteristik hewan dengan tingkat sosial
yang tinggi seperti hewan didomestikasi
Grooming yaitu usaha membersihkan diri ditunjukan dengan cara
mengibaskan badan dan menggosokan badan pada dinding kandang

Kunci Jawaban Latihan Kegiatan Pembelajaran 3

1. Peralatan yan diperlukan untuk kegiatan penangan ternak ruminansia besar


diantaranya: tali tambang, tongkat, bendera dan nose lead
2. Yang dimaksut dengan zona lari ternak adalah ruang atau area dimana
ternak atau sekelompok ternak tersebut berada, dan apabila ruang atau area

115 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
tersebut ditembus /ditekan, maka ternak tersebut merasa terganggu yang
akhirnya ternak tersebut bergerak atau berpindah mencari jarak yang aman
dan nyaman dari gangguan tersebut
3. 4 prinsip utama dalam berkomunikasi pada ternak ruminansia !
a. Posisi: tempat Anda dalam hubungannya dengan MATA
b. Tekanan: yang ada harus dibebaskan
c. Pergerakan: meningkatkan atau menurunkan pergerakan tubuh Anda
d. Komunikasi: kepada sapi dan kepada rekan kerja Anda

4. Factor yang dapat mempengaruhi tingkat stress ternak ruminansia adalah:


a. Jumlah kontak dengan manusia
b. Kualitas penanganan
c. Genetik (keturunan)
5. Ciri-ciri sapi yang sedang marah adalah kedua telingga ternak sapi atau
kerbau tersebut bergerak keatas /diangkat, sorot mata tajam menatap asal
sumber gangguan/ tekanan, salah satu kaki depan digaruk-garukan ditanah
atau lantai dan lain sebagainya
6. Yang dimaksud dengan :
 Drafting memisahkan ternak dari kelompoknya
 Mustering adalah menggiring ternak
 Catching adalah menagkap ternak
 Nose lead alat penarik hidung
7. Sapi yang sedang marah/emosinya memuncak untuk menormalkan kembali
memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu kurang lebih 20-30 menit
8. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat memindahkan atau
memisahkan ternak ruminansia !
 Bekerjalah di samping ternak dimana mereka dapat melihat Anda
 Jangan berdiri langsung di belakang ternak, selama lebih dari lima detik
 Ingatlah zona lari ternak, apabila ternak terlalu banyak tekanan maka
ternak akan bergerak menjauh , kalau kedaaan itu terjadi maka anda
harus berjalanlah ke belakang

116 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
PENUTUP

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan Modul Guru Pembelajar “ Potensi,
tingkah laku dan penanganan ternak ruminansia “ ini dapat terselesaikan.
modul ini membahas tentang mengembangkan potensi peternakan ruminansia,
menerapkan tingkah laku ternak ruminansia dan menerapkan penanganan
ternak ruminansia sehingga apabila ingin memperdalam lagi secara detail atau
rinci, baik konsep maupun teknisnya diharapkan banyak-banyak menggali ilmu
dan pengetahuan dari sumber lain.

Mudah-mudahan modul ini, dapat bermanfaat bagi peserta pelatihan dan


pembaca pada umumnya yang sudah meluwangkan waktunya dalam
mempelajari modul ini. Kami menyadari bahwa Modul Guru Pembelajar “
Potensi, tingkah laku dan penanganan ternak ruminansia “ ini disusun
sebagai bagian dari perangkat pendidikan dan pelatihan, masih banyak
kekurangan dan kesalahannya. Oleh karena itu semua saran dan kritik yang
sifatnya membangun demi sempurna modul ini, kami terima dengan senang
hati.

117 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
DAFTAR PUSTAKA
1. AAK,1991 . Petunjuk Beternak Sapi Potong dan Kerja. Penerbit Kanisius
Yogyakarta.
2. Akhmad Sodiq dan Zainal Abidin. 2002. Penggemukkan Domba Agromedia
Pustaka
3. Anonimus /Holden Agricultural Management Systems Pty.Ltd., 2008. Materi
Pembelajaran untuk Pelatihan Menangani Ternak “Pelatihan Feedlot di
Indonesia. MlA LIVE CORP
4. Anonimus. 2008. Konsumsi Pangan Indonesia. indoagribusiness_com » Blog
Archive » Konsumsi Pangan Indonesia.htm.

5. Anonimus. 2008. Outlook Komoditas Peternakan. Pusat data dan Informasi


Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

6. Anonimus. 2010. Basis Data Peternakan.


http://www.ditjennak.go.id/basisdata.asp

7. Bambang Cahyono,1998. Beternak Domba dan Domba . Penerbit Kanisius


Yogyakarta.
8. Astawan, M. 2004. Mengapa Kita Perlu Makan Daging. Gizi.net. Kompas
Cyber Media.

9. Bambang Sugeng. 1991. Beternak Domba. Penebar Swadaya


10. B. Sarwono , Hario Bimo Arianto, 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara
Cepat . PT. Penebar Swadaya Jakarta.
11. Darmono, 1993. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman, Penerbit Kanisius
Yogyakarta.
12. Farland D.M.C.1994. Animal Behavior Psychology, Ethology and Evolution.
Singapore :ELBS
13. Manika W, dkk. 1991. Reproduksi, tingkah laku dan produksi ternak di
Indonesia. Diterbitkan atas kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
International Developmen Program of Australian Universities and Collages.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
14. Mulyono, S. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. 2011. Jakarta: Penebar
Swadaya

118 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
15. Nugroho, C.P. 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia. Dinas Pendidikan
Nasional. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta
16. Rahardi, F dan Rudi hartono. 2006. Agribisnis Peternakan. Jakarta: Penebar
Swadaya

17. R.M. Sumoprastowo,2003. Penggemukan Sapi dan Kerbau. Penerbit Papas


Sianar Sinanti Jakarta.
18. Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis Berbasis Peternakan. USESE
Foiundation dan Pusat Studi Pembangunan IPB. Bogor.

19. Siagian, V. 2008. Peningkatan Protein hewani Untuk Ketahanan Pangan.


Harian Bisnis Indonesia, 2 Januari 2008.

20. Siswono. 2005. Konsumsi Protein Hewani di Bawah Standar.


http://www.republika.co.id/.

21. Soedjana, T. D. Tjeppy. 2007. Masalah dan Kebijakan Peningkatan Produk


Peternakan Untuk Pemenuhan Gizi Masyarakat. Seminar Nasional HPS
Bogor, 21 Nopember 2007. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen
Pertanian. Jakarta.
22. Sudarmono, A.S dan Sugeng, Y. Bambang. 2006 . Beternak Domba. Jakarta
: Penebar Swadaya
23. Purbowati, E, dan Tim Penulis Mitra Tani Farm. 2009. Usaha Penggemukan
Domba. Jakarta: Penebar Swadaya.
24. Undang Santoso,2005. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar
Swadaya Jakarta.
25. Toelihere, M.R, 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Cetakan ke 10.
Penerbit Angkasa. Bandung
26. W, dkk. 1991. Reproduksi, tingkah laku dan produksi ternak di Indonesia.
Diterbitkan atas kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
International Developmen Program of Australian Universities and Collages.
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
27. Zainal Abidin, 2002. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka
Jakarta.

119 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
GLOSARIUM

Binocular vision : dua mata


Catching : menagkap ternak
Drafting : memisahkan ternak dari kelompoknya
Genetik : keturunan
Halter : Tali muka
Handler : Orang yang menangani atau mengendalikan
ternak/hewan
Handling : Penanganan ternak
Kastrasi : Pengebirian ternak/hewan
Loop : Lingkaran lubang untuk tali
Pilin : Bagian-bagian anyaman tali
Monocular vision : satu mata
Mustering : menggiring ternak
Nose lead : alat penarik hidung ternak
Yard : halaman kandang
Zona lari : ruang atau area dimana ternak atau
sekelompok ternak tersebut berada dan
dalam keadan yang aman

120 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
CURICULUM VITTAE PENULIS

Nama Lengkap : Mujiyono, SP.MP


Telp Kantor/ HP : 0263.28003
E-mail : mujiyonowongso@gmail.com
Akun Facebook : mujiyonovedca
Alamat Kantor : Jl. Raya Jangari KM 14 Cianjur, Jawa Barat
Bidang Keahlian : Agribisnis dan Agroteknologi
Riwayat Pekerjaan/profesi dalam 2 tahun terakhir : Widyaiswara Madya
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar
1) S2 : Fakultas Pertanian Jurusan Agroteknologii, UNWIN
2) S1 : Fakultas Pertanian Jurusan Agronomi, UNWIM

Judul Buku yang Pernah Ditulis ( 10 tahun terakhir)


1) Buku Teks Siswa SMK : Agribisnis Ternak Ruminansia Pedaging 1
2) Buku Teks Siswa SMK : Agribisnis Ternak Ruminansia pedaging 2
3) Buku Teks Siswa SMK : Agribisnis Ternak Unggas
4) Modul Guru Pembelajar : Teknologi Potensi, Tingkah laku dan Penanganan
Ternak Ruminansia
5) Modul Guru Pembelajar : Hijauan Pakan ternak
6) Modul Guru Pembelajar : K3LH dan Limbah Aneka Ternak

121 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
CURICULUM VITTAE PENULIS

Nama Lengkap : Ir. Zumrotun, MP


Telp Kantor/ HP : 0263.28003
E-mail : zumsuri@Gmail.com
Akun Facebook : Zumrotun Mahfudz
Alamat Kantor : Jl. Raya Jangari KM 14 Cianjur, Jawa Barat
Bidang Keahlian : Agribisnis dan Agroteknologi
Riwayat Pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir : Widyaiswara Madya
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar
1) S2 : Fakultas Kehutanan Jurusan Konservasi Biodeversity, IPB (2004-
2006)
2) S1 : Fakultas Peternakan jurusan Peternakan, UNDIP (1980-1987)

Judul Buku yang Pernah Ditulis ( 10 tahun terakhir)


1) Buku Teks Siswa SMK : Dasar-Dasar Pembibitan Ternak 1
2) Buku Teks Siswa SMK : Agribisnis Ternak Unggas Petelur 1
3) Buku Teks Siswa SMK : Agribisnis Ternak Unggas Petelur 2
4) Modul Guru Pembelajar : Teknologi Potensi, Tingkah laku dan
Penanganan Ternak Ruminansia
5) Modul Guru Pembelajar : Teknologi Reproduksi dan Pembibitan Ternak
Ruminansia
6) Modul Guru Pembelajar : Teknologi Reproduksi dan Pembibitan Ternak
Ruminansia
7) Modul Guru Pembelajar : Perkandangan dan Pemeliharaan Ternak
Ruminansia
8) Modul Guru Pmbelajar : Pemerahan dan Kesehatan Ternak
Ruminansia
9) Modul Guru Pmbelajar : Pemanenan dan Evaluasi Hasil Ternak
Ruminansia
10) Modul Guru Pmbelajar : Pengelolaan Pemeliharaan Unggas Pedaging
dan Unggas Petelur

122 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
CV PENULIS

Nama Lengkap : Ir. Sunarno, MP.


Telp Kantor/HP : 0263 285003/085221649790
E-mail : nanovedca.1007@gmail.com
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : PPPPTK Pertanian, Cianjur
Jl. Jangari, KM. 14 Desa Sukajadi, Kecamatan
Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Jawa Barat
BidangKeahlian Peternakan
Riwayat pekerjaan/profesidalam 10 tahun terakhir:
1. Karyawan PT Buana Superior Feedmill (PT. Cipendawa Group) Divisi
Pakan Ternak, tahun 1988 s.d 1998
2. Pegawai di PPPPTK Pertanian, Cianjur, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, tahun 2001 s.d sekarang
Riwayat Pendidikan Tinggi danTahun Belajar
1. S2: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Program Studi
Konservasi Biodiversitas , (tahun 2004 - 2006)
2. S1: Fakultas Peternakan Jurusan Peternakan, Universitas Diponegoro
(1983 – 1988)

Judul Buku yang pernah di tulis (10 tahun terakhir)


1. Beternak Rusa, Tahun 2008.
2. Buku Teks Bahan Ajar Siswa “Dasar Dasar Pakan Ternak 2, tahun 2014
3. Buku Teks Bahan Ajar Siswa “Dasar Dasar kesehatan Ternak 1, tahun
2014
4. Modul Guru Pembelajar: Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak
Ruminansia, tahun 2015
5. Modul Guru Pembelajar: “Pemeliharaan Ternak K3 dan Kesejahteraan
Hewan” tahun 2015
6. Modul Guru Pembelajar: “Sistem Pernapasan, Sistem Pencernaan dan
Sistem Kekebalan Tubuh Hewan” tahun 2015
7. Modul Guru Pembelajar: “ Anatomi Fisiologi Ternak Ruminansia dan
K3LH, tahun 2015
8. Modul Guru Pembelajar: Pemberian Pakan dan Pembuatan Pakan Ternak
Ruminansia, tahun 2015
9. Modul Guru Pembelajar: Pemerahan dan Kesehatan Ternak Ruminansia,
tahun 2015
10. Modul Guru Pembelajar: Pemanenan dan Evaluasi Hasil Produksi Ternak

123 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
Ruminansia, tahun 2015
Judul Penelitiandan Tahun Terbit (10 tahun terakhir)
1. Produktivitas Rumput Lapang dan Palatabilitas Kulit Pisang Nangka
(Musa paradisiaaca L) Untuk Pakan Tambahan Pada Rusa Timor (Cervus
timorensis de Blainville) di Penangkaran, tahun 2006
2. Pemberian Bakteri Lactobacillus plantarum untuk Meningkatkan Kualitas
Silase Rumput Gajah, tahun 2011
3. Pengaruh Pembatasan / Penjatahan Pemberian Pakan Terhadap
Performance Ayam Broiler, tahun 2012

124 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
CURICULUM VITTAE PENELAAH

Nama Lengkap : Dr. Ir. Iwan Herdiawan, MP.


Telepon Kantor/HP : 0251-8240753/085215429364
Email :herdiawanmaliq@gmail.com
Akun Face Book :
Alamat Kantor : Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor. Jl. Veteran III
Banjarwaru, Ciawi-Bogor
Bidang Keahlian : Agrostologi/Tanaman Pakan Ternak

Riwayat Pekerjaan/Profesi dalam 10 tahun terakhir.


1. Koordinator Wilayah Pengembangan Pertanian Pasang Surut, Sumatera Selatan
2. Ketua Program Hijauan Pakan Ternak

Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar.


1. S1 Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung (1984-1989)
2. S2 Pasca Sarjana, Fapet Universitas Padjadjaran, Bandung (2000-2003)
3. S3 Pasca Sarjana Fapet Institut Pertanian Bogor, Bogor (2007-2013)

Judul Buku yang telah ditelaah (10 tahun terakhir).


1. Hijauan Pakan Ternak di Indonesia.(2006)
2. Hijauan Makanan Ternak untuk lahan sub-optimal (2013)

Judul Jurnal dan tahun terbit (10 tahun terakhir).


1. Productivity of Calliandra calothyrsus, Indigofera zollingeriana, and
Gliricidia sepium
on acid soil in the greenhouse (Tahun terbit 2015)
1. Tanaman legum pohon Desmodium rensoniisebagai tanaman pakan ternak
bermutu (Tahun terbit 2015)
2. Produktivitas tanaman pakan Indigofera sp. pada tingkat cekaman
kekeringan dan interval pemangkasan berbeda (Tahun terbit 2012)
3. Produktivitas Indigofera zollingeriana pada berbagai taraf naungan dan
kemasaman tanah di lahan perkebunan kelapa sawit (Tahun terbit 2013)
4. Status Nutrisi Hijauan Indigofera zollingeriana Pada Berbagai Taraf
Perlakuan Stres Kekeringan dan Interval Pemangkasan (Tahun terbit 2012)

125 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak


Ruminansia
126 Alih Fungsi – Potensi, Tingkah Laku dan Penanganan Ternak
Ruminansia