Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN

PEMANTAUAN TERAPI OBAT DAN MONITORING EFEK SAMPING OBAT


(STASE MEDIUM INTERMEDIET CARE)

Disusun oleh :
KELOMPOK V
RINI DAUD SUPU 260120150504
ZAINAL ARIFIN 260120160014

PEMBIMBING
RINA WINARNI., M.Farm., Apt

PROGRAM STUDI PASCASARJANA FARMASI KLINIK


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG
2017
PEMANTAUAN TERAPI OBAT
(MEDIUM INTERMEDIET CARE)

 IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Ny. DM
Usia : 30 thn
Medrek : 00015xxxxx
MRS : 3 Nov 2016
Pindahan dari : GICU
Masuk MIC : 8 November 2016

 DIAGNOSA KERJA :
 Krisis myastenia gravis
 Hospital Aquired Pneumonia (HAP)

METODE SUBJEKTIF, OBJEKTIF, ASSESSMENT, PLAN (SOAP)

A. SUBJEKTIF

Tanggal
Subjektif
8/11/2016 9/11/2016 10/11/2016 11/11/2016
Batuk tidak berdahak   
Sesak nafas 
Batuk berdahak 
Sesak nafas berkurang   
Susah BAB 

B. OBJEKTIF
1. Pengukuran Tanda Vital
OBJEKTIF
TANGGAL TD HR RR Suhu
90/60-120/180 60-100 12-20 36,5-37,3
(mmHg) (x/menit) (x/menit) (0C)
8/11/2016 112/75 92 24 37
9/11/2016 105/73 86 24 38
10/11/2016 111/94 90 24 37
11/11/2016 108/75 80 14 36
2. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Normal 8/11 9/11 10/11


Natrium (Na) 135 – 145 135 135
Kalium (K) 3,6 – 5,5 3,1 3,4
Klorida (Cl) 98 – 108
Kalsium (Ca) 4,7 – 5,2 4,57 4,71
Magnesium (Mg) 1,70 – 2,55 1,90 2,07
Kreatinin P : 0,5 – 0,9 0,47 0,52
Albumin 3,5 – 5,2
Ureum 15 - 50 14 16
GDS < 140 94 128
Hemoglobin (Hb) P : 12,0 – 16,0 13,8 12,7 11,9
Hemokrit P: 35 – 47 38 36 34
Leukosit 4400 - 11300 26300 23.900 18.900
Eritrosit P : 3,6 – 5,8 4,52 4,42 4,0
MCV 80 – 100 83,8 82,4 82,8
MCH 26 – 34 28,8 28,7 29,2
MCHC 32 – 36 34,3 34,9 35,2
Segmen 40 – 70 94 85
Limfosit 30 - 45 3 8
Monosit 2 - 100 7

C. ASSESMENT
1. Terapi yang diberikan kepada pasien
Bulan : November 2016
Dosis dan Rute Tanggal
Obat
Waktu pemberian pemberian 8 9 10 11
Prostigmine 10 amp drip/24 jam iv √ √ √ √
0,5 mg/ml
Sulfos 5 amp drip/24 jam iv √ √ √ √
atropine
Omeprazole 2 x 20 mg po √ √ √ -

Paracetamol 3 x 500 mg po √ √ √ -

KSR 1 x 600 mg po √ √ √ √

Calos 3 x 500 mg po √ √ √ √

Methil 2 x 16 mg po √ √ √ √
prednisolone
NaCl 0,9 % (CVP 8-12 IV FD √ √ √ √
cmH20)
Ceftazidime 3 x 2 gr iv - - √ √

Laxadine 15 ml (malam hari) po - - - √

NaCl 0,3% (tiap 4 jam) Nebulasi - - - √

2. Profil Obat
a. Prostigmine
 Mekanisme kerja : Menghambat asetilkolinesterase di serabut sinapsis sehingga
mengurangi hidrolisis asetilkolin.
 Farmakokinetik
o Onset kerja : IM : 20-30 menit ; IV : 1-20 menit; Durasi : IM : 2,5-4 jam ; IV :
1 – 2 jam
o Absorpsi : Oral : Buruk (rendah) <2%
o Metabolisme : Hati ; t1/2 0,5-2,1 jam (ginjal normal)
o Ekskresi : Urin 50%

b. Sulfos atropine
 Mekanisme Kerja : Menghambat aksi asetilkolin pada bagian parasimpatik otot
halus, kelenjar sekresi dan SSP, meningkatkan output jantung, mengeringkan sekresi,
mengantagonis histamin dan serotonin.
 Farmakokinetik
o Onset kerja : Cepat
o Penyerapan : sempurna
o Distribusi : Banyak ke seluruh tubuh, melintasi plasenta, ASI, dan sawar darah di
otak
c. Omeprazole
 Mekanisme Kerja : Mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat
pompa proton yang mentranspor ion H+ keluar dari sel parietal lambung.
 Farmakokinetik
o Onset kerja : 1 jam , waktu puncak dalam 2 jam ; Durasi : hingga 72 jam, 50%
efek maksimum dalam 24 jam
o Absoprsi : cepat ; Ikatan protein : 95%
o Metabolisme : Ekstensif di hati oleh sitokrom P450 untuk metabolit yang tidak
aktif ; BA ; oral : ~30% sampai 40% ; t1/2 : Kapsul delayed release 0,5 – 1 jam,
gangguan hati : ~3 jam ; waktu puncak 0,5 – 3,5 jam
o Ekskresi : Urin 77%,
d. Paracetamol
 Mekanisme Kerja : Menghambat sintesis prostaglandin dalam sistem saraf pusat dan
perifer, blok impuls nyeri; menghasilkan antipiretik dengan mengatur panas di
hipotalamus
 Farmakokinetik
o Penyerapan : bervariasi sesuai bentuk sediaan; Durasi 4-6 jam; Onset kerja : < 1
jam ; Ikatan protein : 8 % dan menjadi 43% pada dosis toksik; t1/2 : 1-3 jam
(dewasa); Waktu puncak : oral 10 – 60 menit
o Ekskresi Urin :
o 2%-5% tidak berubah
o 55% sebagai metabolit glukuronat
o 30% sebagai metabolit sulfat

e. KSR
 Mekanisme Kerja : Kation utama dari cairan intraseluler dan menginduksi impuls
syaraf di jantung, otak, otot rangka, kontraksi dan otot halus, memelihara fungsi
normal ginjal, keseimbangan asam basa, metabolisme karbohidrat dan sekresi GI
 Farmakokinetik
o Absorpsi : Baik diserap pada saluran pencernaan bagian atas
o Distribusi : Memamasuki sel melalui transport aktif dari cairan ekstrasel
o Ekskresi : Terutama di urin, kulit, feces
f. Calos
 Mekanisme Kerja :
o Menetralkan asam lambung
o Meningkatkan kadar kalsium plasma untuk berbagai keperluan termasuk
pembentukan tulang
o Mengikat fosfat di saluran pencernaan membemtuk kompleks yang tidak larut dan
menurunkan absorpsi fosfat. Biasanya digunakan untuk mengobati
hiperfosfatemia pada pasien dengan gagal ginjal kronis, atau yang dikaitkan
dengan hiperparatiroid sekunder.
 Farmakokinetik
o Absorpsi : Membutuhkan vitamin D. kalsium dapat diserap baik dalam bentuk
larutan dan bentuk terionisasi. Kelarutan kalsium meningkat saat suasana asam
o Distribusi : melewati plasenta, dan sawar ASI
o Ekskresi : terutama di feces, urin 20%
g. Methil prednisolone
 Mekanisme Kerja : Bekerja dengan menduduki reseptor spesifik dalam sitoplasma
sel yang responsif. Ikatan steroid-reseptor ini lalu berikatan dengan DNA yang
kemudian mempengaruhi sintesis berbagai protein. Beberapa efek penting yang
timbul akibat ini yaitu berkurangnya produksi prostaglandin dan leukotrien,
berkurangnya degranulasi mast cell, berkurangnya sintesis kolagen dan lain-lain.
 Farmakokinetik
o Onset kerja : Oral 1-2 jam, IM : 4-8 jam ; Durasi : oral 30-36 jam, IM : 1-4
minggu
o Distribusi : Vd : 0,7 – 1,5 L/kg, t1/2 : 3 -3,5 jam
o Ekskresi : Berkurang saat obesitas

h. Ceftazidime
 Mekanisme Kerja : Menghambat enzim yang bertanggung jawab terhadap sintesis
dinding sel. Secara in vitro Ceftazidime dapat mempengaruhi mikroorganisme dalam
range/spektrum yang luas, termasuk strain yang resisten terhadap gentamicin dan
aminoglikosid lainnya
 Farmakokinetik
o Distribusi : Secara luas di seluruh tubuh termasuk tulang, empedu, kulit, CSF
(konsentrasi yang lebih tinggi dicapai ketika meninges meradang), endometrium,
jantung, pleura dan cairan limfatik
o Ikatan Protein : 17%
o t1/2 : 1-2 jam (dewasa), waktu puncak IM : 1 jam
o Ekskresi : Urin 80%
i. Laxadine
 Mekanisme Kerja : Sebagai laksatif perangsang. Merangsang gerakan peristaltis usus
besar setelah hidrolisis dalam usus besar, dan meningkatkan akumulasi air dan
alektrolit dalam lumen usus besar
 Farmakokinetik
o Onset : 6-10 jam (oral)
o Distribusi : Vd : 289 L
o t1/2 : 8 jam

3. Problem Medis
a. Myasthenia gravis (Gangguan transmisi neuromuskular, dikenal dengan penyakit
autoimun)
 Indikasi Literatur :
o Prostogmine
o Sulfos atropine
o Methil prednisolon
 Instruksi pada pasien
o Prostigmine 0,5 mg/ml (10 amp drip/24 jam)
o Sulfos atropine 5 amp drip/24 jam
o Methil prednisolone 2 x 16 mg (po)

b. Hospital aquired pneumonia (HAP)


 Indikasi Literatur
Sefalosporin anti pseudomonal (cefefim,ceftazidim,cefirom) atau karbafenem
antipseudomonal atau betalaktam ditambah florokuinolon antipseudomonal atau
aminoglikosida (PDPI, 2003)(IDSA, 2016)
 Instruksi pada pasien
Ceftazidime 3 x 2 gr (iv)

4. Terapi Problem Medis


1. Myasthenia gravis

Nama obat Indikasi literature Pasien Ket


Prostigmine
Sulfos Kombinasi untuk pengobatan
Atropine Myasthenia gravis Myasthenia gravis
Methil Sesuai
Predisolone

2. Hospital aquired pneumonia (HAP)

Nama obat Indikasi literature Pasien Ket


Ceftazidime Sefalosporin anti pseudomonal
(cefefim,ceftazidim,cefirom) atau
karbafenem antipseudomonal atau
betalaktam ditambah florokuinolon HAP Sesuai
antipseudomonal atau aminoglikosida
(PDPI, 2003)(IDSA, 2016)

5. Terapi Tambahan

Nama obat Indikasi literature Pasien Ket


Omeprazole • Stress-ulcer prophylaxis Mencegah stress ulcer Sesuai
(ICU patients; unlabeled use)

KSR • Hipokalemia Hipokalemia sesuai


Dengan kadar : 3,4
Calos • Hipokalsemia Pemenuhan kalsium. sesuai
• Osteoporosis
Pasien mengalami
• Antasid
hipokalsemia dengan
kadar 4,57
Paracetamol • Nyeri dan deman Demam sesuai
• Nyeri yang
Suhu : 380C
berhubungan dengan
osterartritis
NaCl 0,9% • Hiponatremia • Terapi cairan Sesuai
• Opthalmic
untuk mencapai CVP 8
cmH2O
NaCl 0,3% • Bronchodilator diluent • Pasien mengeluh batuk Sesuai
• Hidung tersumbat
berdahak dan sesak
nafas.
Laxadyn • Sulit buang air besar • Pasien sulit Sesuai
Pengosongan usus sebelum
buang air besar
prosedur radiasi
6. Kesesuaian Dosis

Nama obat Rute Dosis Dosis yang diberikan Keterangan


pemakaian literatur
Prostigmine iv Myasthenia Gravis 0,5 mg/ml Sesuai
IM, IV, SK 0.5-2.5 mg every 1-3 hours up to 10 mg/24 (10 amp iv drip/24 jam)
hours maximum
Sulfos atropin iv Untuk mengendalikan efek muskarinik pada penggunaan 0,5 mg/ml Perhatikan perbandingan
neostigmin dalam melawan penghambatan neuromuskular (5 amp iv/24 jam) dosis prostigmin dan sulfos
kompetitif , pemberian injeksi intravena 0,6 – 1,2 mg atropin
Ceftazidim iv 2 gram setiap 8 jam ( PDPI, 2003 dan IDSA, 2016). 3 x 2 gr iv (H-2) Sesuai
KSR po Pengobatan hipokalemia: 40-100 mEq / hari 1 x 600 mg po Perhatikan konfersi dosis
Omeprazole po Digunakan bersama dengan metil prednisolone untuk 2 x 20 mg po Sesuai
prefentive iritasi lambung (gastritis) karena methyl
prednisolone merupakan golongan kortikosteroid. Gastric
ulcer oral : 40 mg/hari penggunaan sampai 4-8 minggu
Methil po Pada kasus miastenia gravis, penggunaan kostikosteroid 2 x 16 mg sesuai
prednisolon dimulai dengan dosis kecil kemudian di tappering dengan
memperhatikan kondisi pasien.
• Dosis maksimal penggunaan kortikosteroid adalah
60 mg/hari
NaCl IV FD 0,9% Target 8 -12 cmH2O
Nebulasi 0,3 % Pasien batuk dan sesak nafas

Laxadine po Dewasa 15-20 ml sekali sehari sebelum tidur 15 ml (malam) sesuai

7. Efek Samping

Obat Efek Samping Keterangan

Prostigmine Aritmia, hipotensi, sakit kepala, meningkatkan saliva, meningkatkan sekresi asam Tidak muncul pada pasien
lambung
Sulfos atropin Bradikardi, sakit kepala, kelemahan, insomnia, demam, mual, muntah, Tidak muncul pada pasien

Ceftazidime Meningkatkan transit transminase (3-9%), diare (<2%), nyeri ditempat suntikan (1%), Tidak muncul pada pasien
demam (<1%), mual muntah (<1%)
omeprazole Sakit kepala (7%), nyeri perut (5%), diare (4%), mual (4%), muntah (3%), perut Tidak muncul pada pasien
kembung (3%), konstipasit (2%
KSR Aritmia, pendarahan, diare, pencernaan terganggu, hiperkalemia, mual, muntah, ruam Tidak muncul pada pasien

Calos Anoreksia, konstipasi, perut kembung, mual, muntah, hiperkalsemia, sindrom susu Tidak muncul pada pasien
alkali
Methil Prednisolone • Cardiovaskular : Bradikardia, serangan jantung, emboli lemak, hipertensi, emboli Tidak muncul pada pasien
lemak
• Dermatologi : jerawat, dermatitis alergi, hipopigmentasi, penipisan kulit kepala
rambut, urtikaria
• Endokrin : timbunan lemak abnormal, ketidak teraturan mestruasi, hirsutisme,
meningkatkan kebutuhan insulin
Retensi cairan, hipertensi, hipokalemia, retensi natrium
Paracetamol Alergi, trombocitopenia, hepatotoksik Tidak muncul pada pasien

NaCl Mual, muntah, nyeri Tidak muncul pada pasien

Laxadine Ruam kulit, sakit perut, kehilangan cairan & elektrolit, diare, mual dan muntah Tidak muncul pada pasien

8. Interaksi Obat

Obat Prostigmine Sulfos Omeprazole Paracetamol KSR Calos Methil Ceftazidime Laxadine NaCl
atropine prednisolone
Prostigmine moderate
Sulfos moderate
atropine
Omeprazole
Paracetamol
KSR
Calos
Methil
prednisolone
Ceftazidime
Laxadine
NaCl

Interaksi Jenis Interaksi Keterangan Keterangan


Prostigmine (iv) + Sulfos atropine (iv) Farmakodinamik Menurunkan efek terapi antikolinergik Monitoring efek samping dan
Sulfos atropine (iv) + Prostigmine (iv) Farmakodinamik Menurunkan efek antikolinesterase terapi
9. Drug Related Problem

DRP Keterangan Rekomendasi


Ada indikasi tetapi tidak di terapi - -
Pemberian obat tanpa indikasi - -
Pemilihan obat yang tidak tepat - -
Dosis terlalu tinggi - -
Dosis terlalu rendah - -
Reaksi obat yang tidak dikehendaki - -
Interkasi Obat Ada Monitoring efek samping
yang ditimbulkan karena
pemberian secara bersamaan

Kepatuhan - -

10. Pembahasan
Pada kasus ini, dilakukan pemantauan pada pasien Ny. DM, usia 30 tahun di ruang
rawat MIC. Pasien pindah dari GICU dan masuk ke ruang MIC pada tanggal 8 november
2016 dan selama dirawat di MIC pasien dalam keadaan compos mentis
Pasien ny. HK di diagnosa kerja oleh dokter mangalami krisis myastenia gravis disertai
juga dengan Hospital Aquired Pneumonia (HAP). Selama perawatan, tidak ada keluhan
berarti yang dirasakan pasien selama dirawat.
Selama dilakukan perawatan, Ny. DM mendapatkan terapi obat diantaranya:
mendapatkan terapi obat diantaranya :
Dosis dan Rute Tanggal
Obat
Waktu pemberian pemberian 8 9 10 11
Prostigmine 10 amp drip/24 jam iv √ √ √ √
0,5 mg/ml
Sulfos 5 amp drip/24 jam iv √ √ √ √
atropine
Omeprazole 2 x 20 mg po √ √ √ -

Paracetamol 3 x 500 mg po √ √ √ -

KSR 1 x 600 mg po √ √ √ √

Calos 3 x 500 mg po √ √ √ √

Methil 2 x 16 mg po √ √ √ √
prednisolone
NaCl 0,9 % (CVP 8-12 IV FD √ √ √ √
cmH20)
Ceftazidime 3 x 2 gr iv - - √ √

Laxadine 15 ml (malam hari) po - - - √

NaCl 0,3% (tiap 4 jam) Nebulasi - - - √

Saat awal masuk MIC, pasien diberikan kombinasi terapi prostigminin 0,5 mg/ml,
sulfos atropine, dam metil prednisolone 16 mg sebagai terapi utama untuk menangani krisis
myasthenia gravis pasien. Pasien juga mendapatkan terapi antibiotik ceftazidime 3 x 2 gr
secara iv untuk menangani infeksi infeksi pneumonia yang di dapat dari rumah sakit.
Terapi tambahan yang diperoleh pasien selama dirawat di MIC diantaranya :
omeprazole (diberikan sebagai preventif untuk mengatasi iritasi lambung (gastritis) karena
penggunaan obat metil prednisolone), Parasetamol (pada tanggal 9/11/2016 suhu tubuh
pasien meningkat menjadi 380 C), KSR (diberikan untuk meningkatkan nilai kalium pasien,
karena pada tanggal 8 dan 9/11/2016 dibawah 3,6, Calos (digunakan untuk memenuhi
kebutuhan kalsium karena pada tanggal 8/11/2016 pasien mengalami hipokalsemia dengan
kadar kalsium 4,57, dan Laxadyn (karena pada tanggal 11/11/2016 pasien mengeluh susah
buang air besar)
Dari pemantauan terapi obat yang dilakukan kepada pasien Ny. DM pemilihan obat dan
pemberian dosis pada sudah tepat sesuai dengan guideline yang ada. Dari hasil pemantauan
belum dapat dinilai perbaikan pasien karena pemantauan hanya dilakukan selama 4 hari
yaitu dari tanggal 8 – 11/11/2016.
Dalam kasus Ny. DM ditemukan masalah terkait interaksi obat yaitu, terjadi interaksi
antara Prostigmin dan Sulfos atropine berupa interkasi farmakodinamik. kedua obat ini jika
diberikan secara bersamaan baik secara iv ataupun oral akan saling mempengaruhi efek
kerja. Interaksi kedua obat ini merupakan interaksi moderat sehingga untuk penggunaan
secara bersamaan perlu dilakukan monitoring efek samping yang mungkin ditimbulkan
karena pemberian secara bersamaan Prostigmin dan Sulfos atropine.

D. PLAN
1. Rencana Farmasi
Penggunaan Prostigmine dan sulfos atropine secara bersamaan akan menyebabkan interaksi
dimana kedua obat ini akan saling menmpengaruhi kerja sehingga perlu dilakukan
pemantauan secara rutin terhadapat efek samping yang muncul karena penggunaan kedua
obat ini.

2. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)


Melakukan komunikasi dengan pasien untuk memberikan informasi dan edukasi terkait obat
yang digunakan. Adapun hal yang penting untuk disampaikan diantaranya :
a. Menjelaskan manfaat obat yang saat ini digunakan oleh pasien
1) Prostigmine : akan diberikan melalui suntikan oleh perawat, gunanya untuk
mengobati kondisi myasthenia gravis pasien
2) Sulfos atropine : akan diberikan melalui suntikan oleh perawat. Obat ini digunakan
untuk mengatasi efek samping dari penggunaan prostigmine dalam melawan
penghambatan neuromuskular kompetitif , pemberian injeksi intravena
3) Omeprazole : obat ini diminum 2 x sehari 2 tablet, gunanya untuk menangani stress
lambung karena penggunaan obat yang banyak
4) Parasetamol : obat ini diminum 3 x sehari 1 tablet, gunanya untuk menurunkan
panas
5) KSR : obat ini diminum 1 x sehari 1 tablet, obat ini digunakan untuk memenuhi
kebutuhan kalium. Karena dari hasil laboratorium pasien mengalami hipokalalemia
6) KSR : obat ini diminum 3 x sehari 1 tablet, obat ini digunakan untuk memenuhi
kebutuhan kalsium.
7) Methil prednisolone : diminum 2 x sehari 1 tablet, obat ini digunakan untuk
mengobati kondisi myasthenia gravis pasien
8) Ceftazidim : obat ini akan diberikan melalui suntikan oleh perawat. Obat ini
digunakan untuk mengatasi infeksi pasien, Karena sesuai hasil diagnosa dokter
pasien mengalami infeksi pneumonia
9) Laxadine : obat ini diminum 1 x sehari 15 ml pada malam hari. Obat ini diberikan
kepada pasien karena tanggal 11-11-2016 pasien mengeluh susah BAB.
b. Menjelaskan efek samping yang umumnya mungkin akan terjadi karena penggunaan
obat-obat tersebut diantaranya, mual, muntah, pusing, sakit kepala ataupun sembelit.
c. Jangan mengkonsumsi obat lain tanpa sepengetahuan dokter. Konsultasikan kepada
dokter, apabila anda mengkonsumsi obat lain
DAFTAR PUSTAKA

Aberg, J.A., Lacy,C.F, Amstrong, L.L, Goldman, M.P, and Lance, L.L., 2009, Drug Information
Handbook, 17th edition, Lexi-Comp for the American Pharmacists Association

Clinical Practice Guideline. Adult Pneumonia Guideline (Community and Hospital Acquired).
Hunter New England

James F. Howard., Jr. 2008. Myasthenia Gravis A Manual For The Health Care Provide.
Foundation of America

Ralf Gold, Reinhard Hohlfeld and Klaus V. Toyka. 2008. Progress in the Treatmen of Myasthenia
Gravis

Stockley, I.H. (20010. Stockley’s Drug Interaction. Edisi ke-9. Great Britain: Pharmaceutical Press.
LAMPIRAN

Lampiran 1 : Penggunaan Omeprazole pada pasien Miastenia Gravis yang menggunakan


methylprednisolone
Lampiran : Guideline pengobatana HAP
Lampiran 3 : Guideline Myasthenia Gravis