Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS

PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR (P2M)


PUSKESMAS ALAK

Oleh :
Janet Edrina Ung, S. Ked
1408010018

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN IKM-IKKOM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
PUSKESMAS ALAK
KUPANG
2018
LAPORAN KASUS
PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR (P2M)
oleh
Janet Edrina Ung, S.Ked
SMF/Bagian IKM – IKKOM
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
Puskesmas Alak

IMUNISASI
I. PENDAHULUAN

Angka kematian bayi (AKB atau IMR) dalam dua dasawarsa terakhir ini menunjukkan
penurunan yang bermakna. Apabila pada tahun 1971 sampai 1980 memerlukan sepuluh tahun
untuk menurunkan AKB dari 142 menjadi 112 per 1000 kelahiran hidup; maka dari data 2001
telah menunjukkan angka 48 per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Indonesia 2001).
Penurunan tersebut diikuti dengan menurunnya angka kematian balita atau AKABA yang telah
mencapai 56 per 1000 kelahiran hidup. Prestasi yang gemilang tersebut tidak lain disebabkan
karena penggunaan teknologi tepat guna selama itu, yaitu memanfaatkan dengan baik Kartu
Menuju Sehat dalam memantau secara akurat tumbuh kembang anak, peningkatan penggunaan
ASI, pemberian segera cairan oralit pada setiap kasus diare pada anak dan pemberian imunisasi
pada anak balita sesuai Program Pengembangan Imunisasi (PPI).
Untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya diperlukan upaya
untuk mencegah terjadinya suatu penyakit melalui imunisasi. Imunisasi adalah memasukkan
kuman penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh dengan cara suntik atau minum dengan
maksud agar terjadi kekebalan terhadap jenis penyakit tertentu di dalam tubuh Berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 pasal 21 (3) Pelayanan imunisasi dasar bagi bayi dan
balita meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT-
HB), Polio, dan Campak. Imunisasi dasar merupakan program wajib pemerintah bagi seluruh bayi
dan balita di Indonesia. Karena merupakan program wajib imunisasi dasar bersifat gratis dan dapat
diperoleh di posyandu dan puskesmas terdekat.
Untuk dapat melakukan pelayanan imunisasi yang baik dan benar diperlukan pengetahuan
dan ketrampilan tentang vaksin (vaksinologi), ilmu kekebalan (imunologi) dan cara atau prosedur
pemberian vaksin. Imunisasi masih sangat diperlukan untuk melakukan pengendalian Penyakit
yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), seperti Tuberkulosis (TB), dipteri, pertusis
(penyakit pernapasan), campak, tetanus, polio dan hepatitis B. Dengan melakukan imunisasi
terhadap seorang anak, tidak hanya memberikan perlindungan pada anak tersebut tetapi juga
berdampak kepada anak lainnya karena terjadi tingkat imunitas umum yang meningkat dan
mengurangi penyebaran infeksi.

II. LAPORAN KEGIATAN


1. Imunisasi Polio
A. Tujuan imunisasi Polio
Mengandung virus polio yang sudah dilemahkan maupun diinaktivasi. Imunisasi polio
bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
terjadinya lumpuh layu pada anak.
B. Jadwal imunisasi Polio
Imunisasi polio oral bivalen-0 (bOPV-0) diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal.
Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis
(bOPV-1, bOPV-2, dan bOPV-3) terpisah berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu.
Pada pemeberian bOPV-3 bersamaan dengan pemberian inactivated polio virus (IPV).
Kemudian dosis penguat (booster) bOPV diberikan pada usia 18 bulan bersamaan dengan
pemberian DPT sebagai penguat.
C. Pemberian imunisasi Polio
Satu dosis imunisasi bOPV sebanyak 2 tetes (0,1 ml) diberikan per oral. Imunisasi IPV
diberikan sebanyak 0,5 ml secara subkutan
D. Biaya imunisasi Polio
Karena polio termasuk imunisasi dasar yang diwajibkan maka biaya imunisasi ini
digratiskan pemerintah. Anda dapat melakukan imunisasi Polio anak anda di posyandu atau
puskesmas terdekat.
E. Jenis vaksin DPT
Vaksin virus polio hidup oral trivalen (tOPV) berisi virus polio tipe 1,2, dan 3. Vaksin virus
polio hidup oral bivalen (bOPV) berisi virus polio tipe 1 dan 3. Vaksin OPV adalah suku
Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan(attenuated). Vaksin ini dibuat dalam
biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa. Virus vaksin ini kemudian
menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun
pada epitelium usus, yang menghasilkan pertahanan lokal terhadap virus polio liar yang
datang masuk kemudian. Sejak April 2016 secara serentak di seluruh Indonesia pemberian
tOPV diganti menjadi pemberian bOPv. Vaksin polio inactivated (IPV) berisi virus polio
tipe 1, 2, 3 dibiakkan pada sel-sel vero ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formaldehid.
Pemberian IPV akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosal maupun humoral)
terhadap tiga macam tipe virus polio. Namun imunitas mukosal yang ditimbulkan oleh IPV
lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh OPV.
F. Efek samping imunisasi Polio
Efek samping yang terjadi adalah mengalami gejala pusing, diare ringan, dan nyeri otot.

G. Kontra indikasi imunisasi DPT/HiB combo


 Penyakit akut atau demam (suhu >38.5oC), vaksinasi harus ditunda,
 Muntah atau diare, vaksinasi ditunda
 Sedang dalam pengobatan kortikosteroid atau imunosupresif yang diberikan oral maupun
suntikan, juga yang mendapat pengobatan radiasi umum ( termasuk kontak dengan pasien)
 Keganasan (untuk pasien dan kontak) yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial
(limfoma, leukemia, dan penyakit Hodgkin) dan yang mekanisme imunologisnya
terganggu, misalnya pada hipogamaglobulinemia, Infeksi HIV atau anggota keluarga
sebagai kontak,
 Vaksin polio oral dapat diberikan bersama-sama dengan vaksin inactivated dan virus hidup
lainnya (sesuai dengan indikasi) tetapi jangan bersama vaksin oral tifoid,
 Bila BCG diberikan pada bayi tidak perlu memperlambat pemberian OPV, karena OPV
memacu imunitas lokal dan pembentukan antibodi dengan cara replikasi dalam usus
 OPV dan IPVmengandung sejumlah kecil antibiotik (neomisin, polimiksin streptomisin)
namun hal ini tidak merupakan indikasi kontra, kecuali pada anak yang mempunyai bakat
hipersensitif yang berlebihan
H. Pelaksanaan Kegiatan
Waktu : 15 Agustus 2018
Tempat : Posyandu Tetesan Kasih III
Pendamping : Bidan Dionisia A. Ona
Pasien
Nama : By. K
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 3 bulan
Alamat : Nunbaun Sabu

III. DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 3.1 Pemberian imunisasi polio


DAFTAR PUSTAKA

1. Sari Pediatri Petunjuk Praktis Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Diakses dari :
http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/2-1-7.pdf

2. IDAI. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi 3. Jakarta : Badan penerbit Ikatan
Dokter Anak Indonesia.
3. Sari Pediatri Petunjuk Praktis Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Diakses dari :
http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/2-1-7.pdf