Anda di halaman 1dari 27

Gubuk Referat

BAB I

PENDAHULUAN

Abortus merupakan salah satu komplikasi terbanyak pada kehamilan yang ditandai

dengan perdarahan. Seringkali perdarahan pada kehamilan muda dikaitkan dengan abortus.

Pada perdarahan kehamilan muda dikenal beberapa istilah sesuai dengan pertimbangan

masing-masing, tetapi setiap kali kita melihat terjadinya perdarahan pada kehamilan kita

harus selalu berfikir rentang akibat dari perdarahan ini yang menyebabkan kegagalan

kelangsungan kehamilan itu sendiri3. Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena kasus

abortus banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus sering

tidak jelas umur kehamilannya dan hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga

biasanya ibu tidak melapor atau berobat. Sementara itu, dari kejadian yang diketahui, 15 –

20% merupakan abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari pasangan yang

mencoba hamil akan mengalami 2 keguguran yang berurutan, dan sekitar 1% dari pasangan

mengalami 3 atau lebih keguguran yang berurutan1.

Rata-rata terjadi 114 kasus abortus per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian

abortus spontan antara 15 - 20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh kejadian

abortus sebenarnya bisa mendekai 50%. Hai ini dikarenakan tingginya angka chemical

pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2 - 4 minggu setelah konsepsi. Sebagian besar

kegagalan kehamilan ini dikarenakan kegagalan gamet (misalnya sperma dan disfungsi

oosit)1.

1
Pada 1988 Wilcox dan kawan-kawan melakukan studi terhadap 221. Perempuan yang

diikuti selama 207 siklus haid total. Didapatkan total 198 kehamilan, di mana 43 (22 %)

mengalami abortus sebelum saat haid berikutnya. Abortus habitualis adalah abortus yang

terjadi berulang tiga kali secara berturut-turut. Kejadiannya sekitar 3 - 5%. Data dari

beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus spontan, pasangan punya risiko

15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan

meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah 3 abortus ber-

urutan adalah 30 - 45%1.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Abortus adalah ancaman atau penegeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram1.

2.2 Etiologi

Abortus umumnya sering lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya
adalah sebagai berikut :

 Genetik

Sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip embrio. Paling
sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenik1.
Bagaimanapun gambaran ini belum termasuk kelainan yang disebabkan oleh
gangguan gen tunggal (misalnya kelainan Mendelian) atau mutasi pada beberapa
lokus (misalnya gangguan poligenik atau multifaktor) yang tidak terdeteksi dengan
pemeriksaan kariotip. Kejadian tertinggi kelainan sitogenetik konsepsi terjadi pada
awal kehamilan. Kelainan sitogenetik embrio biasanya berupa aneuploidi yang
disebabkan oleh kejadian sporadis, misalnya nondisjunction meiosis atau poliploidi
dari fertilitas abnormal1.
Separuh dari abortus karena kelainan sitogenetik pada trimester pertama berupa
trisomi autosom. Triploidi ditemukan pada 16 % kejadian abortus, di mana terjadi
fertilisasi ovum normal haploid oleh 2 sperma (dispermi) sebagai mekanisme patologi
primer. Trisomi timbul akibat dari nondisjunction meiosis selama gametogenesis pada
pasien dengan kariotip normal. Untuk sebagian besar trisomi, gangguan meiosis
maternal bisa berimplikasi pada gametogenesis. Insiden trisomi meningkat dengan

3
bertambahnya usia. Trisomi 16, dengan kejadian sekitar 30 %. dari seluruh trisomi,
merupakan penyebab terbanyak.
Semua kromosom trisomi berakhir abortus kecuali pada trisomi kromosom 1.
Sindroma Turner merupakan penyebab 20 - 25 % kelainan sitogenetik pada abortus.
Sepertiga dari fetus dengan Sindroma Down (trisomi 21) bisa bertahan1.
Pengelolaan standar menyarankan untuk pemeriksaan genetik amniosintesis pada
semua ibu hamil dengan usia yang lanjut, yaitu di atas 35 tahun. Risiko ibu terkena
aneuploidi adalah 1 : 80, pada usia di atas 35 tahun karena angka kejadian kelainan
kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun. Kelainan lain umumnya
berhubungan dengan fertilisasi abnormal (terapioidi, triploidi). Kelainan ini tidak bisa
dihubungkan dengan kelangsungan kehamilan. Tetraploidi terjadi pada 8 % kejadian
abortus akibat kelainan kromosom, di mana terjadinya kelainan pada fase sangat awal
sebelum proses pembelahan. Struktur kromosom merupakan kelainan kategori ketiga.
Kelainan struktural terjadi pada sekitar 3 % kelainan sitogenetik pada abortus. Ini
menunjukkan bahwa kelainan struktur kromosom sering diturunkan dari ibunya1.
Kelainan struktur kromosom pada pria bisa berdampak pada rendahnya
konsentrasi sperma, infertilitas, dan bisa mengurangi peluang kehamilan dan
terjadinya keguguran. Kelainan sering juga berupa gen yang abnormal, mungkin
karena adanya mutasi gen yang bisa mengganggu proses implantasi bahkan
menyebabkan abortus. Contoh untuk kelainan gen tunggal yang sering menyebabkan
abortus berulang adalah myotonic dystrophy, yang berupa autosom dominan dengan
penetrasi yang tinggi, kelainan ini progresif, dan penyebab abortusnya mungkin
karena kombinasi gen yang abnormal dan gangguan fungsi uterus. Kemungkinan juga
karena adanya mosaik gonad pada ovarium atau testis. Gangguan jaringan konektif
lain, misalnya Sindroma Marfan, Sindroma Ehlers-Danlos, homosisteinwri dan
pseudoaxanthoma elasticum. Juga pada perempuan dengan sickle cell anemia berisiko
tinggi mengalami abortus. Hal ini karena adanya mikroinfark pada plasenta. Kelainan
hematologik lain yang menyebabkan abortus misalnya disfibrinogenemi, defisiensi
faktor XIII, dan hipofibrinogenemi afibrinogenemi kongenital. Abortus berulang bisa
disebabkan oleh penyatuan dari 2 kromosom yang abnormal, di mana bila
kelainannya hanya pada salah satu orang tua, faktor tersebut tidak diturunkan. Studi
yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa bila didapatkan kelainan kariotip pada
kejadian abortus, maka kehamilan berikutnya juga berisiko abortus1.

4
 Anatomi
Defek anatomik uterus diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik, seperti
abortus berulang, prematuritas, serta malpresentasi janin. Insiden kelainan bentuk
uterus berkisar 1/200 sampai 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat
abortus, ditemukan anomali uterus pada 27 % pasien1.
Studi oleh Acien (1996) terhadap 170 pasien hamil dengan malformasi uterus,
mendapatkan hasil hanya 18,8% yang bisa bertahan sampai melahirkan cukup bulan,
sedangkan 36,5% mengalami persalinan abnormal (prematur, sungsang). Penyebab
terbanyak abortus karena kelainan anatomik uterus adalah seprum uterus (40 - 80 %),
kemudian uterus bikornis atau uterus didelfis atau unikornis (10 - 30 %). Mioma uteri
bisa menyebabkan baik infertilitas maupun abortus berulang. Risiko kejadiannya
antara 10 – 30% pada perempuan usia reproduksi. Sebagian besar mioma tidak
memberikan gejala, hanya yang berukuran besar atau yang memasuki kavum uteri
(submukosum) yang akan menimbulkan gangguan. Sindroma Asherman bisa
menyebabkan gangguan tempat implantasi serta pasokan darah pada permukaan
endometrium. Risiko abortus antara 25 – 80%, bergantung pada berat ringannya
gangguan. Untuk mendiagnosis kelainan ini bisa digunakan histerosalpingografi
(HSG) dan ultrasonografi1.

 Autoimun

Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit autoimun.
Misalnya, pada Systematic Lupus Erythematous (SLE) dan Antiphospholipid
Antibodies (aPA). aPA merupakan antibodi spesifik yang didapati pada perempuan
dengan SLE. Kejadian abortus spontan di antara pasien SLE sekitar 10 % dibanding
populasi umum. Bila digabung dengan peluang terjadinya pengakhiran kehamilan
trimester 2 dan 3, maka diperkirakan 75% pasien dengan SLE akan berakhir dengan
terhentinya kehamilan. Sebagian besar kematian janin dihubungkan dengan adanya
aPA.

5
aPA merupakan antibodi yang akan berikatan dengan sisi negatif dari fosfolipid.
Paling sedikit ada 3 bentuk aPA yang diketahui mempunyai arti klinis yang penting,
yaitu Lupus Anticoagulant (LAC), anticardiolipin antibodies (aCLs), dan biologically
false-positive untuk syphilis (FP-STS). APS (antipbospholipid syndrome) sering juga
ditemukan pada beberapa keadaan obstetrik, misalnya pada preeklampsia, IUGR dan
prematuritas. Beberapa keadaan lain yang berhubungan dengan APS yaitu trombosis
arteri-vena, trombositopeni autoimun, anemia hemolitik, korea dan hipertensi
pulmonum1.
The International Consensus Workshop pada 1998 mengajukan klasifikasi kriteria
untuk APS, yaitu meliputi:
 Trombosis vaskular
- Satu atau lebih episode trombosis arteri, venosa atau kapilar yang
dibuktikan dengan gambaran Doppier, pencitraan, atau histopatologi.
- Pada histopatologi, trombosisnya tanpa disertai gambaran inflamasi.

 Komplikasi kehamilan
- Tiga atau lebih kejadian abonus dengan sebab yang tidak jelas, tanpa
kelainan anatomik, genetik, atau hormonal
- Satu atau lebih kematian janin di mana gambaran morfologi secara
sonografi normal
- Satu atau lebih persalinan prematur dengan gambaran janin normal dan
berhubungan dengan preeklampsia berat atau insufisiensi plasenta yang
berat

 Kriteria laboratorium
- aCL: IgG dan atau IgM dengan kadar yang sedang atau tinggi pada
2 kali atau lebih pemeriksaan dengan jarak lebih dari atau sama
dengan 6 minggu
- aCL diukur dengan metode ELISA standar.

6
 Antibodi fosfolipid / antikoagulan :
- Pemanjangan tes skrining koagulasi fosfolipid (misalnya aPTT, PT
dan CT)
- Kegagalan untuk memperbaiki tes skrining yang memanjang
dengan penambahan plasma platelet normal
- Adanya perbaikan nilai tes yang memanjang dengan penambahan
fosfolipid
- Singkirkan dulu kelainan pembekuan darah yang lain dan
pemakaian heparin

aPA ditemukan kurang dari 2 % pada perempuan hamil yang sehat, kurang dari
20% pada perempuan yang mengalami abortus dan lebih dari 33% pada perempuan
dengan SLE. Pada kejadian abortus berulang ditemukan infark plasenta yang luas,
akibat adanya atherosis dan oklusi vaskular kini dianjurkan pemeriksaan darah
terhadap B-2glikoprotein l yang lebih spesifik.
Pemberian antikoagulan misalnya aspirin, heparin, IL-3 intravena menunjukkan
hasil yang efektif. Pada percobaan binatang, kerja iL-3 adalah menyerupai growth
horrnone plasenta dan melindungi kerusakan jaringan plasenta.
Trombosis plasenta pada APS diawali adanya peningkatan rasio tromboksan
terhadap prostasiklin, selain juga akibat dari peningkatan agregrasi trombosit,
Penurunan c-reaktif protein dan peningkatan sintesis platelet-activating factor. Secara
klinis lepasnya kehamilan pada pasien APS sering terjadi pada usia kehamilan di atas
10 minggu.
Pengelolaan secara umum meliputi pemberian heparin subkutan, aspirin dosis
rendah, prednison, imunoglobulin, atau kombinasi semuanya. Studi case-control
menunjukkan pemberian heparin 5.000 U 2x/hari dengan 81 mg/hari aspirin
meningkatkan daya tahan janin dari 50% jadi 80% pada perempuan yang pernah
mengalami abonus lebih dari 2 kali tes APLAs positif. Yang perlu diperhatikan ialah
pada penggunaan heparin jangka panjang, perlu pengawasan terhadap risiko
kehilangan massa tulang, perdarahan, serta trombositopeni1.

7
 Hormonal
Ovulasi, implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang
baik sistem pengaturan hormon maternal. Oleh karena itu, perlu perhatian langsung
terhadap sistem hormon secara keseluruhan, fase luteal, dan gambaran hormon setelah
konsepsi terutama kadar progesteron1.
- Diabetes mellitus
Perempuan dengan diabetes yang dikelola dengan baik risiko abortusnya tidak
lebih jelek jika dibanding perempuan yang tanpa diabetes. Akan tetapi
perempuan diabetes dengan kadar HbAlc tinggi pada trimester pertama, risiko
abortus dan malformasi janin meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin-
dependen dengan kontrol glukosa tidak adekuat punya peluang 2 - 3 kali lipat
mengalami abortus.
- Kadar progesteron yang rendah
Progesteron punya peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas
endometrium terhadap implantasi embrio. Pada tahun 1929, Allen dan Corrier
mempublikasikan tentang proses fisiologi korpus luteum, dan sejak itu diduga
bahwa kadar progesteron yang rendah berhubungan dengan risiko abortus.
Swpport fase luteal punya peran kritis pada kehamilan sekitar 7 minggu, yaitu
saat di mana trofoblas harus menghasilkan cukup steroid untuk menunjang
kehamilan. Pengangkatan korpus luteum sebelum usia 7 minggu akan
menyebabkan abortus. Dan bila progesteron diberikan pada pasien ini,
kehamilan bisa diselamatkan.
- Defek fase luteal
Jones (1943) yang perrama kali mengutarakan konsep insufisiensi progesteron
saat fase luteal, dan kejadian ini dilaporkan pada 23 – 60% perempuan dengan
abortus berulang. Sayangnya belum ada metode yang bisa dipercaya untuk
mendiagnosis gangguan ini. Pada peneiitian terhadap perempuan yang
mengalami abortus lebih dari atau sama dengan 3 kali, didaparkan 17%
kejadian defek fase luteal. Dan 50% perempuan dengan histologi defek fase
luteal punya gambaran progesteron yang normal.

8
- Pengaruh hormonal terhadap imunitas desidua
Perubahan endometrium jadi desidua mengubah semua sel pada mukosa
uterus. Perubahan morfologi dan fungsional ini mendukung proses implantasi
juga proses migrasi trofoblas dan mencegah invasi yang berlebihan pada
jaringan ibu. Di sini berperan penting interaksi antara trofoblas ekstravillous
dan infiltrasi leukosit pada mukosa uterus. Sebagian besar sel ini berupa Large
Granular Lympbocyres (LGL) dan makrofag, dengan sedikit sel T dan sel B.
Sel NK dijumpai dalam jumlah banyak, terutama pada endometrium yang
terpapar progesteron. Peningkatan sel NK pada tempat implantasi saat
trimester pertama mempunyai peran penting dalam kelangsungan proses
kehamilan karena ia akan mendahului membunuh membunuh sel target dengan
sedikit atau tanpa ekspresi HLA. Trofoblas ekstravillous (dengan pembentukan
cepat HLA1) tidak bisa dihancurkan oleh sel NK desidua, sehingga
memungkinkan terjadinya invasi optimal untuk plasentasi yang normal1.

 Infeksi
Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak
1917, ketika DeForest dan kawan-kawan melakukan pengamatan kejadian abortus
berulang pada perempuan yang rernyata rerpapar brwcellosis. Beberapa jenis
organisme tertentu diduga berdampak pada kejadian abortus antara lain:
- Bakteria
 Listeria monositogenes
 Klamidia trakomatis
 Ureaplasma urealitikum
 Mikoplasma hominis
 Bakterial vaginosis
- Virus
 Sitomegalovirus
 Rubela
 Herpes simpleks virus (HSV)
 Human immunodeficiency virus (HIV)
 Parvovirus

9
- Parasit
 Toksoplasmosis gondii
 Plasmodium falsiparum
 Spirokaeta
 Treponema pallidum

Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangkan abortus, di antaranya


sebagai berikut :
- Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang
berdampak langsung pada janin atau unit fetoplasenta.
- Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berar sehingga
janin sulit bertahan hidup.
- Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut
kematian janin.
- Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah (misal
Mikoplasma bominis, Klamidia, Ureaplasma urealitileum, HSV) yang bisa
mengganggu proses implantasi.
- Amnionitis (oleh kuman gram-positif dan gram-negatif, Listeria
monositogenes).
- Memacu perubahan genetik dan anatomik embrio, umumnya oleh karena
virus selama kehamilan awal (misalnya rubela, parvovirus 819,
sitomegalovirus, koksakie virus B, varisela-zoster, kronik sitomegalovirus
CMV, HSV)1.

 Hematologik
Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasentasi dan adanya
mikrotrombi pada pernbuluh darah plasenta. Berbagai komponen koagulasi dan
fibrinolitik memegang peran penting pada implantasi embrio, invasi trofoblas, dan
plasentasi1.
Pada kehamilan terjadi keadaan hiperkoagulasi dikarenakan :
 Peningkatan kadar faktor prokoagulan
 Penurunan faktor antikoagulan
 Penurunan aktivitas fibrinolitik

10
Kadar faktor VII, VIII, X dan fibrinogen meningkat selama kehamilan normal,
terutama pada kehamilan sebelum 12 minggu.
Bukti lain menunjukkan bahwa sebelum terjadi abortus, sering didapatkan defek
hemostatik. Penelitian Tulpalla dan kawan-kawan menunjukkan bahwa perempuan
dengan riwayat abortus berulang, sering terdapat peningkatan produksi tromboksan
yang berlebihan pada usia kehamilan 4 - 6 minggu, dan penurunan produksi
prostasiklin saat usia kehamilan 8 - 11 minggu. Perubahan rasio tromboksan-
prostasiklin memacu vasospasme serta agregrasi trombosit yang akan menyebabkan
mikrotrombi serta nekrosis plasenta. Juga sering disertai penurunan kadar protein C
dan fibrinopeprida.
Defisiensi faktor XII (Hageman) berhubungan dengan trombosis sistematik
ataupun plasenter dan telah dilaporkan juga berhubungan dengan abortus berulang
pada lebih dari 22% kasus. Homosistein merupakan asam amino yang dibentuk
selama konversi metionin ke sistein. Hiperhomosisteinemi, bisa kongenital ataupun
akuisita, berhubungan dengan trombosis dan penyakit vaskular dini. Kondisi ini
berhubungan dengan 2l% aborus berulang. Gen pembawa akan diturunkan secara
autosom resesif. Bentuk terbanyak yang didapat adalah defisiensi folat. Pada pasien
ini, penambahan folat akan mengembalikan kadar homosistein normal dalam
beberapa hari1.

 Faktor Lingkungan

Diperkirakan 1 – 10% mallormasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia,
atau radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap
buangan gas anestesi dan tembakau. Sigaret rokok diketahui mengandung ratusan
unsur toksik, antara lain nikotin yang telah diketahui mempunyai efek vasoaktif
sehingga menghambat sirkulasi uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurunkan
pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin. Dengan adanya gangguan
pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang
berakibat terjadinya abortus1.

11
2.3 Klasifikasi

2.3.1 Abortus Menurut Terjadinya

1. Abortus Spontan
Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan atau abortus
yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja atau dengan tidak didahului faktor-
faktor mekanis atau medisinalis, semata-mata disebabkan faktor alamiah1.

2. Abortus Provokatus
Abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus
provokatus1.
Abortus provokatus dibagi menjadi :
 Abortus provokatus medisinalis
Disebut medisinalis bila didasarkan pada pertimbangan dokter untuk
menyelamatkan ibu. Disini pertimbangan dilakukan oleh minimal 3
dokter spesialis, yaitu spesialis kebidangan dan kandungan, spesialis
penyakit dalam, dan spesialis jiwa1.

 Abortus provokatus kriminalis

2.3.2 Abortus Menurut Klinis


1. Abortus Iminens

Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus,


ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih
baik dalam kandungan. Diagnosis abortus iminens biasanya diawali dengan keluhan
perdarahan pervaginam pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Penderita
mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan
pervaginam. Ostium uteri masih tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan umur
kehamilan dan tes kehamilan urin masih positif3,4.
Untuk menentukan prognosis abortus iminens dapat dilakukan dengan melihat
kadar hormon hCG pada urin dengan cara melakukan tes urin kehamilan
menggunakan urin tanpa pengenceran dan pengenceran 1/l0.

12
Bila hasil tes urin masih positif keduanya maka prognosisnya adaiah baik, bila
pengenceran 1/10 hasilnya negatif maka prognosisnya dubia ad malam. Pengelolaan
penderita ini sangat bergantung pada informed consent yang diberikan.
Bila ibu ini masih menghendaki kehamilan rersebut, maka pengelolaan harus
maksimal untuk mempertahankan kehamilan ini. Pemeriksaan USG diperlukan untuk
mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan mengetahui keadaan plasenta apakah
sudah terjadi pelepasan atau belum. Diperhatikan ukuran biometri janin / kantong
gestasi apakah sesuai dengan umur kehamilan berdasarkan HPHT. Denyut jantung
janin dan gerakan janin diperhatikan di sarnping ada tidaknya hematoma retroplasenta
atau pembukaan kanalis servikalis. Pemeriksaan USG dapat dilakukan baik secara
transabdominal maupun transvaginal. Pada USG transabdominal jangan lupa pasien
harus tahan kencing terlebih dahulu untuk mendapatkan acoustic window yang baik
agar rincian hasil USG dapat jelas. Penderita diminta untuk melakukan tirah baring
sampai perdarahan berhenti. Bisa diberi spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi
atau diberi tambahan hormon progesteron atau derivatnya untuk mencegah rcrjadinya
abortus. Obat-obatan ini walaupun secara statistik kegunaannya tidak bermakna,
tetapi efek psikologis kepada penderita sangat menguntungkan. Penderita boleh
dipulangkan setelah tidak terjadi perdarahan dengan pesan khusus tidak boleh
berhubungan seksual dulu sampai lebih kurang 2 minggu1.

2. Abortus Insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar
dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran. Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang
sering dan kuat, perdarahannya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus
dan umur kehamilan. Besar uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dengan tes
urin kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan USG akan didapati pembesaran
uterus yang masih sesuai dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung
janin masih jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, biasanya terlihat
penipisan serviks uterus atau pembukaannya. Perhatikan pula ada tidaknya pelepasan
plasenta dari dinding uterus4.
Pengelolaan penderita ini harus memperhatikan keadaan umum dan perubahan
keadaan hemodinamik yang terjadi dan segera lakukan tindakan evakuasi /
pengeluaran hasil konsepsi disusul dengan kuretase bila perdarahan banyak.

13
Pada umur kehamilan di atas 12 minggu, uterus biasanya sudah melebihi telur
angsa tindakan evakuasi dan kuretase harus hati-hati, kalau perlu dilakukan evakuasi
dengan cara digital yang kemudian disusul dengan tindakan kuretase sambil diberikan
uterotonika.
Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya perforasi pada dinding uterus. Pasca
tindakan perlu perbaikan keadaan umum, pemberian uterotonika, dan antibiotika
profilaksis1.

3. Abortus kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Semua hasil konsepsi telah
dikeluarkan, ostium uteri telah menutup, uterus sudah mengecil sehingga perdarahan
sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan. Pemeriksaan USG tidak
perlu dilakukan bila pemeriksaan secara klinis sudah memadai. Pada pemeriksaan tes
urin biasanya masih positif sampai 7 - 10 hari setelah abortus. Pengelolaan penderita
tidak memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan. Biasanya hanya diberi
roboransia atau hematenik bila keadaan pasien memerlukan. Uterotonika tidak perlu
diberikan1.

4. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal. Batasan ini juga masih terpancang pada umur kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Sebagian jaringan hasil konsepsi masih
tertinggal di dalam uterus di mana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih
terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri
eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi jumlahnya pun bisa banyak atau sedikit
bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian placental site
masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus. Pasien dapat jatuh dalam keadaan
anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan konsepsi dikeluarkan.
Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan umum dan
mengatasi gangguan hemodinamik yang terjadi untuk kemudian disiapkan tindakan
kuretase. Pemeriksaan USG hanya dilakukan bila kita ragu dengan diagnosis secara
klinis.

14
Besar uterus sudah lebih kecil dari umur kehamilan dan kantong gestasi sudah
sulit dikenali, di karum uteri tampak massa hiperekoik yang bentuknya tidak
beraturan. Bila terjadi perdarahan yang hebat, dianjurkan segera melakukan
pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal
terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung
baik dan perdarahan bisa berhenti. Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase.
Tindakan kuretase harus dilakukan secara hati-hati sesuai dengan keadaan umum
ibu dan besarnya uteus. Tindakan yang dianjurkan ialah dengan karet vakum
menggunakan kanula dari plastik. Pascatindakan perlu diberikan uterotonika
parenteral ataupun per oral dan antibiotika1.

5. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih
tertahan dalam kandungan. Penderita rnissed abortion biasanya tidak merasakan
keluhan apa pun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang
diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20 minggu penderita justru
merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-tanda kehamilan sekunder
pada payudara mulai menghilang. Kadangkala missed abortion juga diawali
dengan abortus iminens yang kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin
terhenti. Pada pemeriksaan tes urin kehamilan biasanya negatif setelah satu
minggu dari terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan USG akan
didapatkan uteus yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil, dan bentuknya
tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4 minggu harus diperhatikan
kemungkinan terjadinya gangguan penjendalan darah oleh karena
hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan evakuasi
dan kuretase3,4.
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan keluarganya
secara baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan
komplikasi perdarahan atau tidak bersihnya evakuasi/kuretase dalam sekali
tindakan. Faktor mental penderita perlu diperhatikan, karena penderita umumnya
merasa gelisah setelah tahu kehamilannya tidak tumbuh atau mati.

15
Pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu tindakan evakuasi dapat
dilakukan secara langsung dengan melakukan dilatasi dan kuretase bila serviks
urerus memungkinkan. Bila umur kehamilan di atas 12 minggu atau kurang dari
20 minggu dengan keadaan serviks uterus yang masih kaku dianjurkan untuk
melakukan induksi terlebih dahulu untuk mengeluarkan janin atau mematangkan
kanalis servikalis. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain dengan pemberian
infus intravena cairan oksitosin dimulai dari dosis 10 unit dalam 500 cc dekstrose
5% tetesan 20 tetes per menit dan dapat diulangi sampai total oksitosin 50 unit
dengan tetesan dipertahankan untuk mencegah terjadinya retensi cairan tubuh.
Jika tidak berhasil, penderita diistirahatkan satu hari dan kemudian induksi
diulangi biasanya maksimal 3 kali. Setelah janin atau jaringan konsepsi berhasil
keluar dengan induksi ini dilanjutkan dengan tindakan kuretase sebersih mungkin.
Pada dekade belakangan ini banyak tulisan yang telah menggunakan
prostaglandin atau sintetisnya untuk melakukan induksi pada missed abonion.
Salah satu cara yang banyak disebutkan adalah dengan pemberian mesoprostol
secara sublingual sebanyak 400 mg yang dapat diulangi 2 kali dengan jarak enam
jam. Dengan obat ini akan terjadi pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi
pembukaan ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase dapat
dikerjakan untuk mengosongkan kawm uteri. Kemungkinan penyulit pada
tindakan missed abonion ini lebih besar mengingat jaringan plasenta yang
menempel pada dinding uterus biasanya sudah lebih kuat. Apabila terdapat
hipofibrinogenemia perlu disiapkan transfusi darah segar atau fibrinogen.
Pascatindakan kalau perlu dilakukan pemberian infus intravena cairan oksitosin
dan pemberian antibiotika1.

6. Abortus Habitualis
Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-
turut. Penderita abortus habitualis pada umumnya tidak sulit untuk menjadi hamil
kembali, tetapi kehamilannya berakhir dengan keguguran/abortus secara berturut-
turut. Bishop melaporkan kejadian abortus habitualis sekitar 0,41% dari seluruh
kehamilan, Penyebab abortus habitualis selain faktor anatomis banyak yang
mengaitkannya dengan reaksi imunologik yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen
lymphocyte trofoblast cross reactive (TLX). Bila reaksi terhadap antigen ini rendah
atau tidak ada, maka akan terjadi abortus4.

16
Kelainan ini dapat diobati dengan transfusi leukosit atau heparinisasi. Akan tetapi,
dekade terakhir menyebutkan perlunya mencari penyebab abortus ini secara lengkap
sehingga dapat diobati sesuai dengan penyebabnya. Salah satu penyebab yang sering
dijumpai ialah inkompetensia serviks yaitu keadaan di mana serviks uterus tidak dapat
menerima beban untuk tetap bertahan menurup setelah kehamilan melewati trimester
pertama, di mana osrium serviks akan membuka (inkompeten) tanpa disertai rasa
mules/kontraksi rahim dan akhirnya terjadi pengeluaran janin. Kelainan ini sering
disebabkan oleh trauma serviks pada kehamilan sebelumnya, misalnya pada tindakan
usaha pembukaan serviks yang berlebihan, robekan serviks yang luas sehingga
diameter kanalis servikalis sudah melebar3,4.
Diagnosis inkompetensia serviks tidak sulit dengan anamnesis yang cermat.
Dengan pemeriksaan dalam/inspekulo kita bisa menilai diameter kanalis servikalis
dan didapati selaput ketuban yang mulai menonjol pada saat mulai memasuki
trimester kedua. Diameter ini melebihi 8 mm. Untuk itu, pengelolaan penderita
inkompetensia serviks dianjurkan untuk periksa hamil seawal mungkin dan bila
dicurigai adanya inkompetensia serviks harus dilakukan tindakan untuk memberikan
fiksasi pada serviks agar dapat menerima beban dengan berkembangnya umur
kehamilan. Operasi dilakukan pada umur kehamilan 12 - 14 minggu dengan cara
SHIRODKAR atau McDONALD dengan melingkari kanalis servikalis dengan
benang sutera/MERSILENE yang tebal dan simpul baru dibuka setelah umur
kehamilan aterm dan bayi siap dilahirkan1.

7. Abortus Infeksius, Abortus Septik


Abortus infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia. Abortus
septik ialah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah tubuh atau
peritoneum (septikemia atau peritonitis)4. Keiadian ini merupakan salah satu
komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi apalagi bila dilakukan kurang
memperhatikan asepsis dan antisepsis. Abortus infeksiosus dan abortus septik perlu
segera mendapatkan pengelolaan yang adekuat karena dapat terjadi infeksi yang lebih
luas selain di sekitar alat genitalia juga ke rongga peritoneum, bahkan dapat ke
seluruh tubuh (sepsis, septikemia) dan dapat jatuh dalam keadaan syok septik4.

17
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat tentang upaya tindakan
abortus yang tidak menggunakan peralatan yang asepsis dengan didapat gejala dan
tanda panas tinggi, tampak sakit dan lelah, takikardia, perdarahan pervaginam yang
berbau, uterus yang membesar dan lembut, serta nyeri tekan. Pada laboratorium
didapatkan tanda infeksi dengan leukositosis. Bila sampai terjadi sepsis dan syok,
penderita akan tampak lelah, panas tinggi, menggigil, dan tekanan darah turun.
Pengelolaan pasien ini harus mempenimbangkan keseimbangan cairan tubuh dan
perlunya pemberian antibiotika yang adekuat sesuai dengan hasil kultur dan
sensitivitas kuman yang diambil dari darah dan cairan fluksus/fluor yang keluar
pervaginam. Untuk tahap pertama dapat diberikan Penisiiin 4 x 1,2 juta unit atau
Ampisilin 4 x 1 gram ditambah Gentamisin 2 x 80 mg dan Metronidazol 2 x I gram.
Selanjutnya antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur. Tindakan kuretase
dilaksanakan bila keadaan tubuh sudah membaik minimal 5 jam setelah antibiotika
adekuat diberikan.
Jangan lupa pada saat tindakan uterus dilindungi dengan uterotonika. Antibiotik
dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam dan bila dalam waktu 2 hari pemberian tidak
memberikan respons harus diganti dengan antibiotik yang lebih sesuai. Apabila
ditakutkan terjadi tetanus, perlu ditambah dengan injeksi ATS dan irigasi kanalis
vaginal uterus dengan larutan peroksida (H2O2) kalau perlu histerektomi total
secepatnya1.

8. Kehamilan Anembrionik (Blighted Ovum)


Kehamilan anembrionik merupakan kehamilan patologi di mana mudigah tidak
terbentuk sejak awal walaupun kantong gestasi tetap terbentuk. Di samping mudigah,
kantong kuning telur juga tidak ikut terbentuk. Kelainan ini merupakan suatu kelainan
kehamilan yang baru terdeteksi seteiah berkembangnya ultrasonografi. Bila tidak
dilakukan tindakan, kehamilan ini akan berkembang terus walaupun tanpa ada janin di
dalamnya. Biasanya sampai sekitar 14 - 16 minggu akan terjadi abortus spontan.
Sebelum alat USG ditemukan, kelainan kehamilan ini mungkin banyak dianggap
sebagai abortus biasa. Diagnosis kehamilan anembrionik ditegakkan pada usia
kehamilan 7 – 8 minggu bila pada pemeriksaan USG didapatkan kantong gestasi tidak
berkembang atau pada diameter 2,5 cm yang tidak disertai adanya gambaran
mudigah. Untuk itu, bila pada saat USG penama kita mendapatkan gambaran seperti
ini perlu dilakukan evaluasi USG 2 minggu kemudian.

18
Bila tetap tidak dijumpai struktur mudigah atau kantong kuning telur dan diameter
kantong gestasi sudah mencapai 25 mm maka dapat dinyatakan sebagai kehamilan
anembrionik. Pengelolaan kehamilan anembrionik dilakukan terminasi kehamilan
dengan dilatasi dan kuretase secara elektif1.

19
2.4 Penegakan Diagnosa dan Tatalaksana
Adapun penegakan diagnosa dan tatalaksana dari masaing-masing abortus adalah sebagai
berikut2 :
Diagnosis Gejala Tatalaksana
Abortus iminens  Amenore  Istirahat-tirah baring
 Tanda-tanda hamil muda  Tokolitik : isoxuprine tiap 8
 Perdarahan pervaginam, jam
cramping pain  Preparat progesteron 2-3x 1
 VT : Ostium uteri menutup tablet tiap 8-12 jam
 Antiprostaglandin 500mg
setiap 8 jam
Abortus Insipiens  Pendarahan pervaginam  Kuret atau drip oxytocin bila
 Nyeri (his) kehamilan lebih dari 12
 VT : Ostium uteri menipis dan minggu dilanjutkan
terbuka, ketuban menonjol  Methylergomethrine maleat
1 tablet setiap 8 jam selama
5 hari
 Amoxycilline 500mg setiap
6 jam selama 5 hari
Abortus Inkomplet  Perdarahan pervaginam  Memperbaiki KU
 Nyeri, kadang disertai syok  Kosongkan isi uterus
 VT : Ostium uteri terbuka,  Jika kehamilan ≥ 12 minggu
didapat sisa kehamilan / : methyergomethrine maleat
plasenta 1 tablet setiap 8 jam selama
5 hari
 Amoxycilline 500mg tiap 8
jam selama 5 hari
Missed Abortion  Perdarahan dan keluhan  MRS
kehamilan  Pemeriksaan faal hemostasis
 Pemeriksaan fisik : TFU yang  Kehamilan ≤ 12 minggu
menetap bahkan mengecil langsung kuretase
tidaak sesuai umur kehamilan  Kehamilan ≥ 12 minggu

20
berikan misoprostol 1 tablet
intra vaginal tiap 6 jam
selama 1 hari dilanjutkan
OD dan kuretase
 Monitoring Fibrinogen
Serum

Abortus infeksi  Perdarahan pervaginam  Perbaiki KU


 Nyeri  Antipiretik : xylomidon 2cc
 Sering disertai syok im
 VT : ostium uteri terbuka, nyeri  Amoxycilline 1g iv tiap 8
adnexa dan fluor yang berbau jam selama 3-5 hari
 Kuret setelah 3-6 jam
Abortus Sepsis  Tanda-tanda sepsis  MRS
 Amoxycilline 1g iv tiap 6
jam
 Gentamycine 80mg im tiap
12 jam
 Metronidazole 1g tiap 8 jam
 Oksigen masker 6-8lpm
 12-24 jam kemudian
dilakukan kuret, observasi
selama 12 jam. Bila kondisi
tidak membaik berikan
ceftriaxone. Bila 12 jam
berikutnya tidak membaik
lakukan TAH+BSO

21
2.5 Komplikasi
 Perdarahan : mengakibatkan anemi dan syok hipovolemik
 Infeksi : menyebabkan abortus infeksi dan sepsis

2.6 Diagnosis Banding


1. KET
2. Hipermenorrhea
3. Abortus mola hidatidosa

22
BAB III
KESIMPULAN

Abortus adalah adalah ancaman atau penegeluaran hasil konsepsi sebelum janin

dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau

berat janin kurang dari 500 gram.

Abortus dapat disebabkan antara lain karena kelainan genetik, anatomis,

autoimun, hormonal, terjadi infeksi, hematologik maupun lingkungan

Abortus sendiri diklasifikasikan berdasarkan menurut terjadinya dan menurut

klinisnya. Abortus menurut terjadinya dibagi menjadi abortus spontan dan abortus

provokatus. Sedangkan menurut klinis dibedakan menjadi abortus iminens, abortus insipiens,

abortus kompletus, abortus inkompletus, missed abortion, abortus habitualis, abortus

infeksius dan kehamilan anembriogenik.

Tatalaksana yang diberikan bergantung pada klinis abortus itu sendiri .

Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh abortus adalah perdarahan yang apabila tidak

ditanggulangi akan menyebabkan syok hipovolemik dan infeksi yang dapat menyebabkan

sepsis.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo S (1976). Perdarahan Dalam Kehamilan Muda dalam Ilmu Kebidanan.

edisi ke-4. Wiknjosastro H, Saifuddin A, Rachimhadhi T, penyunting. Jakarta :

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009: 460-474

2. Paraton H, dkk (2008). Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kebidanan
Dan Penyakit Kandungan edisi ke-3. Surabaya : Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya
3. William & Oxorn. (2003). Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Essentia Medika
4. Kiwi, R., 2006. Recurrent Pregnancy Loss: Evaluation and Discussion of the Causes
and Their Management. Cleveland Clinic Journal of Medicine 73 (10): 913-921

24
REFERAT

ABORTUS

Disusun oleh :

I Gede Kade Dwi Dharma Kayika

09700149

Pembimbing :

dr. Wasis Nupikso Sp.OG

SMF OBSGYN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SIDOARJO

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

2014

25
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya,

sehingga saya bisa menyelesaikan tugas referat berjudul abortusini. Tugas ini

merupakan salah satu persyaratan untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik di

bagian SMF OSBGYN

Bersamaan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada:

1. dr . Wasis Nupikso Sp.OG sebagai pembimbing klinik.

2. Para teman sejawat dokter muda yang telah memberikan masukan serta

membantu dalam penyelesaian referat ini, dan semua pihak yang tidak

mampu penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu terwujudnya

referat ini.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan referat ini masih jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis sangat mengharapkan segala masukan serta kritik yang

membangun demi sempurnanya tulisan ini. Akhirnya penulis berharap semoga referat

ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait.

Sidoarjo , 19 August 2014

Penulis

26
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI HALAMAN

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

BABII. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi.................................................................................................3

2.2 Etiologi.................................................................................................3

2.3 Klasifikasi............................................................................................12

2.3.1 Abortus Menurut Terjadinya.........................................................12

2.3.2 Abortus Menurut Klinis.................................................................12

2.4 Penegakan Diagnosa dan Tatalaksana..................................................20

2.5 Komplikasi............................................................................................22

2.6 Diagnosis Banding...............................................................................22

BABIII. KESIMPULAN............................................................................... .........23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 24

27