Anda di halaman 1dari 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

SELULITIS

II. 1 DEFINISI
Istilah selulitis pada umumnya digunakan sebagai suatu inflamasi non nekrosis pada
jaringan kulit dan subkutan, atau disebut juga skin and soft tissue infection (SSTI), yang
biasanya berhubungan dengan infeksi akut tanpa melibatkan jaringan ikat dan otot.1

II. 2 EPIDEMIOLOGI
Selulitis bukan termasuk penyakit yang banyak dilaporkan sehingga untuk prevalensinya
sendiri tidak pasti. Namun, penyakit ini merupakan infeksi yang relatif umum dan dapat
mengenai segala jenis ras dan etnis.1 Dalam dua decade terakhir, insidens dari SSTI (termasuk
selulitis) meningkat bersamaan dengan meningkatnya rasio staphylococcus aureus yang resisten
terhadap methicillin.2 Secara statistik tidak ada perbedaan insidens antara pria dengan wanita.1
Terdapat faktor yang meningkatkan kejadian selulitis yaitu apabila adanya pajanan
terhadap organisme yang patogen, adanya kerusakan pada fungsi barier kulit, dan menurunnya
sistem imun. Beberapa faktor resiko juga yang menyebabkan selulitis yaitu individu pada umur
ekstrim (anak-anak dan lansia), penderita diabetes mellitus, sindrom nefrotik, dan kebersihan
yang buruk.2,3

II. 3 ETIOLOGI
Selulitis termasuk dalam penyakit pioderma, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh
jenis bakteri staphylococcus, streptococcus, atau keduanya.4 Untuk selulitis sendiri pada
umumnya disebabkan oleh staphylococcus aureus (50%) dan streptococcus β hemolitikus grup A
(35%).2 Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk coccus. Pada
gambaran mikroskopis ditemukan bentuk seperti anggur. Bakteri ini terdapat pada hidung (30%)
dan kulit (20%) pada orang dewasa sehat. Infeksi pada kulit dapat menyebabkan timbulnya bula,
abses, dan pembengkakan pada area yang terinfeksi.5 Sedangkan bakteri streptococcus terbagi
atas dua yaitu alfa hemolitik dan beta hemolitik. Pada selulitis streptococcus beta hemolitikus