Anda di halaman 1dari 21

MINI CEX

STASE ANAK

Disusun Oleh :

Dika Christiyanti Pangarso (42160016)

Dosen Pembimbing Klinik :


dr. Deddy Afandi CN, M.Kes, Sp.A

KEPANITRAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN UDARA HARDJOLUKITO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA
WACANA
YOGYAKARTA
PERIODE 23 JULI – 3 AGUSTUS 2018
KASUS

A. DATA PASIEN
Nama : An. A
Tanggal Lahir : 21-04-2017
Usia : 1 tahun 3 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Tangkil, Bantul
Tanggal Periksa : 27-07-2018
Tempat Periksan : Poli Anak RSPAU Hardjolukito

B. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan orang tua pada tanggal 27-07-2018
1. Keluhan Utama
BB tidak naik, pilek

2. Riwayat Penyakit Sekarang


2 HSMRS (25/0/18)
Orangtua mengatakan bahwa sudah sejak lebih dari 5 bulan belakangan BB
tidak naik secara signifikan, tanpa disertai demam. Pasien tidak mengalami
mual muntah, sesak napas, maupun lemas. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Pasien masih mau menyusu dengan baik

1 HSMRS (24/04/18)
Pasien dibawa orangtuanya datang ke puskesmas masih dengan batuk berdahak,
tidak disertai demam. Pasien tidak mengalami muntah, tidak ada sesak napas,
lemas. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Pasien masih mau menyusu.
Dipuskesmas diberikan obat berupa tablet dan racikan.

HMRS (25/04/18)
Orang tua pasien membawa pasien ke polianak RSPAU dr. S. Hardjolukito
dengan keluhan semakin memburuk setelah selama 1 hari sebanyak 3 kali
pasien mengkonsumsi obat dari puskesmas. Orangtua mengatakan batuk pasien
semakin kencang, napas bertambah sering seperti sesak, pasien tidak rewel atau

2
menjadi lemas, dan tidak disertai demam. Selain itu, orangtua juga mengatakan
bahwa pasien muntah 3 kali Pasien masih menyusu dengan baik walau terlihat
tidak nyaman akibat sesak tersebut.. BAB dan BAK tidak ada keluhan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat keluhan serupa : (-)
 Riwayat kejang (dengan/tanpa demam) : (-)
 Riwayat batuk pilek : (-)
 Riwayat asma : (-)
 Riwayat flek paru : (-)
 Riwayat gondongan / parotitis : (-)
 Riwayat trauma : (-)
 Riwayat mondok : (-)
 Riwayat operasi : (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga


 Riwayat keluhan serupa dengan pasien : (+) kakek pasien batuk lama
 TB : (-)
 Hipertensi : (-)
 Diabetes Melitus : (-)
 Kejang : (-)
 Asma : (-)
 Alergi : (-)
 Penyakit ginjal : (-)
 Jantung : (-)

5. Riwayat Pengobatan
Orang tua pasien mengatakan bahwa anaknya belum pernah masuk rumah sakit
sebelumnya dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu.

6. Riwayat Alergi
Riwayat alergi terhadap jenis makanan, obat-obatan, debu di sangkal oleh pasien.

3
7. Pedigree:

: perempuan : pasien

: laki-laki : tinggal bersama

8. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah anak pertama. Ayah pasien merupakan karyawan di RSPAU dr. S.
Hardjolukito dan ibu adalah ibu rumah tangga
Kesan : Keadaan sosial ekonomi cukup baik

9. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


 Antenatal Care
Selama hamil, ibu kontrol melakukan pemeriksaan kandungan setiap bulan pada
trimester pertama dan kedua dan sebanyak 4 kali sebelum melahirkan oleh
dokter. Riwayat sakit saat hamil  Riwayat ibu muntah berlebih (-), riwayat
jatuh saat kehamilan (-), riwayat hipertensi (-) bengkak saat kehamilan (-),
keputihan (-), demam (-), riwayat perdarahan jalan lahir disangkal oleh ibu.

 Natal Care

4
Usia kehamilan ibu 39 minggu lahir spontan dari ibu G1P0A0. Pasien lahir secara
spontan di rumah sakit dibantu oleh dokter dengan berat badan saat lahir 2700
gram dengan panjang badan 45 cm. Bayi menangis kuat, gerakan aktif, warna
kulit kemerahan, tonus otot baik.

 Post Natal Care


Pasien rutin kontrol ke puskesmas maupun rumah sakit untuk imunisasi 1
bulan/1kali selama beberapa bulan setelah kelahiran.
Kesimpulan: antenatal care, natal care dan post natal care: Baik

10. Riwayat Imunisasi


 Hepatitis B diberikan saat 0 bulan.
 BCG diberikan 1 kali, umur 1 bulan.
 DPT diberikan 1 kali, umur 2 bulan
 Polio diberikan 1 kali, umur 2 bulan
Kesan imunisasi : Imunisasi dasar sesuai dengan usia

11. Riwayat Menyusui dan Pemberian MPASI


Pasien memperoleh ASI eksklusif oleh ibunya selama 2 bulan tanpa campuran
dengan susu formula dan belum diberikan MPASI

12. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan


a. Pertumbuhan
o BB Lahir : 2700 gram
o PB : 45 cm
o BB sekarang : 5,3 kg (usia 2 bulan)
o PB sekarang : 60 cm

Dengan perhitungan Indeks Massa Tubuh – Usia

Berat Badan (Kg)


IMT = -----------------------------------------------------
--
Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)

IMT = 5,3/(0,6)2 = 14.72

5
Riwayat pertumbuhan, pasien saat ini memiliki berat badan 5,3 kg. Bila dilihat
berdasarkan grafik WHO usia terhadap berat badan terhadap anak disimpulkan
mrmilik pertumbuhan normal sesuai dengan usianya. Gambaran grafik sebagai
berikut:
BMI untuk usia

kesan : grafik berada pada garis di antara -1 SD sampai -2 SD, menunjukkan


bahwa indeks masa tubuh dengan usia tergolong normal

Berat Badan untuk Usia

6
Kesan: garis berada diantara 2 SD sampai 3 SD, menunjukkan bahwa berat
badan untuk usia tergolong normal

Tinggi Badan untuk Usia

7
Kesan: grafik berada di titik antara mean 2 SD-median, menunjukkan bahwa
tinggi badan untuk usia anak tergolong tinggi

Berat Badan untuk tinggi badan

Kesan: titik berada di antara -1 SD sampai -2 SD menunjukkan berat badan


untuk tinggi badan normal

b. Perkembangan Motorik
Pasien berkembang sesuai dengan umurnya oleh orang tuanya dan tidak dijumpai
adanya gangguan perkembangan hingga saat ini (Usia 2 bulan).

Motorik Kasar Mampu mengangkat kepala ketika tengkurap


Motorik Halus Kepala mampu menolah sedikit ke kanan dan kiri
Bicara Mampu bersuara dan tertawa
Sosial dan kemandirian Mampu tersenyum
Kesimpulan: Riwayat perkembangan normal.

C. PEMERIKSAAN FISIK

8
Pemeriksaan fisik dilakukan di ruang Parkit pada tanggal 25-04-18
1. Status Generalis
Keadaan umum : Sedang, Status gizi cukup
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : E4V5M6
TD : tidak dilakukan
Nadi : 132x/ menit
Suhu : 380C
Napas : 45x/ menit
Berat Badan : 5300 gr

2. Kepala
 Bentuk: Normocephali
 Mata: Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-)
 Telinga: bentuk normal, simetris, otore (-)
 Hidung: Napas cuping hidung (-), Sekret rongga hidung (-)
 Mulut: Bibir pucat (-), Mukosa oral basah,lidah kotor (-)

3. Leher
Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar lnn regional (-),
peningkatan JVP (-) nyeri tekan (-)

4. Thorax
Paru
 Inspeksi : gerakan dada simetris, retraksi interkosta (-), jejas (-)
 Palpasi : fremitus tidak dikerjakan , nyeri tekan (-)
 Perkusi : hipersonor semua lapang paru
 Auskultasi : vesikuler (-/-), ronki (+/+),wheezing (+/+),krepitasi (-/-
)

Jantung
 Inspeksi : Bentuk dada normal

9
 Palpasi : Iktus kordis teraba di SIC 5 linea midclavicula sinistra
 Perkusi : kontor jantung dalam batas normal
 Auskultasi : suara jantung S1/S2 normal (reguler) , S3 (-) dan S4(-)

5. Abdomen
Inspeksi : supel, distensi (-), massa (-)
Auskultasi : peristaltik usus (+) dalam batas normal
Perkusi : timpani
Palpasi : nyeri tekan (-),tidak teraba adanya perbesaran hepar dan lien

6. Ekstremitas
akral teraba hangat, perabaan nadi kuat, capilarry refil < 2 dtk, edema (-),
sianosis (-), nadi kuat dan regular, ptekie (-), rash (-), Ikterik (-)

D. PLANNING
a. Monitor tanda vital
b. PDL
c. Ro Thorax

E. DIAGNOSIS BANDING
Pneumonia
Bronkitis

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan Laboratorium (25-04-18)
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 11,4 12,0-16,8 g/dl
Leukosit 11.580 4.600-10.000/mm3
Hematrokit 25,50 40-54%
Eritrosit 3,02 3,9-5,9 jt/mm3
Trombosit 478.000 150.000-400.000/mm3
MCV 84 82,0-95,0 fL
MCH 37,7 27,0-31,0 pg

10
MCHC 44,7 32,0-36,0 g/dl
LED 35 <10 mm/jam
HITUNG JENIS
Eosinofil 0 2-4%
Basofil 0 0-1%
Batang 0 3-5%
Segmen 41 50-70%
Limfosit 50 25-40%
Monosit 9 2-6%

 Pemeriksaan radiologi

Hasil (25-04-18):
Jantung, Aorta dan mesiadtinum tak membesar
Pulmo : kedua hilus tak membesar
Tampak gambaran infiltrate kasar pada suprahiler, perihiler, parakardial
Kedua paru
Sinus dan diafragma normal
Kesan : bronkopneumonia

G. DIAGNOSIS KERJA
Pneumonia

11
H. TATALAKSANA

 Non Farmakoterapi
 Pemberian Oksigen 2L/menit
 Terapi cairan
Kebutuhan cairan, BB: 5,3 (Menggunakan Rumus Holiday Segar)
Untuk 10 kg pertama : 100 ml/kgBB  100 x 5,3 = 530 ml
Kebutuhan total cairan adalah 530 ml/hari

Tetes mikro = 1/3x Kebutuhan cairan perhari x factor tetes = 1/3 x 530 x 60
Waktu (jam x menit) 24 x 60
= 7,36 = 7 tpm
atau
Tetes makro = 1/3x Kebutuhan cairan perhari x factor tetes = 1/3 x 530 x 20
Waktu (jam x menit) 24 x 60
= 2,45= 2 tpm
 Farmokoterapi
o Antipiretik (jika demam)
Dosis Paracetamol : 10-15 mg/kgBB/x
Dosis yang dibutuhkan : 10 x 5,3= 53 mg/x
R/ Paracetamol syr 120mg/5ml No. Lag I
S .p.r.n 3 d.d cth ½. Pc

o B2 agonist
Salbutamol nebulizer  dosis 2,5 mg (nebulizer)
R/ Salbutamol nebule 2.5 mg amp no V
S. Pro. Nebul

o Mukolitik
Dosis Ambroxol : 1,2 – 1,6 mg/kgBB/hari, diminum 3 kali sehari
Dosis yang dibutuhkan : 1,2 x 5,3 = 6,36 atau 1,6 x 5,3 = 8,48 mg/hari  dibagi
menjadi 3 kali sehingga dosis yang dibutuhkan 2-3 mg setiap kali konsumsi obat
R/ Ambroxol 3 mg

12
m.f.l.a. pulv. No. XV
S.3.d.d. pulv I. pc

o Kortikosteroid
Dosis : 0,08-0,3mg/KgBB tiap 6-12 jam
0,08x5,3 kg = 0,42 mg  0,5 mg per 12 jam
Dexamethasone inj 2x0,5mg

o Antibiotik
Amoksisilin 30 mg/kgBB tiap 12 jam
Dosis : 30 x 5,3 = 159 mg/ 12 jam
R/ Amoksisilin 125 mg
m.f.l.a. pulv. Dtd. No. I
S.2.d.d. pulv I. pc

I. PROGNOSIS

- Quo ad vitam : dubia et bonam


- Quo ad sanam : dubia et bonam
- Quo ad functionam : dubia et bonam

J. EDUKASI
- Menginformasikan mengenai keadaan pasien dari hasil pemeriksaan fisik dan
kemungkinan diagnosa pasien, juga meminta persetujuan perlunya dilakukan
beberapa pemeriksaan penunjang dan terapi yang akan dilakukan
- Mengkonsumsi obat dengan teratur
- Untuk keluarga menggunakan masker jika sedang batuk dan hindari merokok dekat
pasien, serta menghindari polusi udara dan paparan debu.

K. FOLLOW UP PASIEN

13
Hari ke II, 26 April 2018
S Batuk (+),Demam(-), muntah (-) menyusu baik
O KU: Sedang , CM
VS: T= 36,7ᵒC ; RR=36x/mnt ; HR= 110x/mnt
Status Lokalis
Kepala : KA (-), SI(-), mata cekung (-), napas cuping hidung (-), sianosis (-)
Thorax : Dinding dada simetris , retraki (-) suara paru vesikuler (+/+), rhonki(-/-),
wheexing (-/-), dan jantung dalam batas normal
Abd : distensi (-), peristaltik (+), nyeri tekan (-) ,
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk , nadi kuat dan reguler
A pneumonia
P RL Mikro 7 tpm
Paracetamol 3x1/2 cth (KP)
Dexamethasone 2x 0,5 mg
Ambroxol 3x3mg pulv
Salbutamol nebul 2x2,5 mg
Amoksisilin 2x125 mg pulv
Hari ke III, 27 April 2018
S Batuk (+),Demam(-), muntah (-) menyusu baik
O KU: Sedang , CM
VS: T= 36,7 ᵒC ; RR=50x/mnt ; HR= 150x/mnt
Status Lokalis
Kepala : KA (-), SI (-), mata cekung (-), napas cuping hidung (-), sianosis (-)
Thorax : Dinding dada simetris , suara paru vesikuler (+/+), rhonki(-/-), wheexing
(+/+), dan jantung dalam batas normal
Abd : distensi (-), peristaltik (+), nyeri tekan (-) ,
Eks: akral teraba hangat , CRT <2 dtk , nadi kuat dan reguler
A pneumonia
P RL Mikro 7 tpm
Paracetamol 3x1/2 cth (KP)
Dexamethasone 2x 0,5 mg
Ambroxol 3x3mg pulv

14
Salbutamol nebul 2x2,5 mg
Amoksisilin 2x125 mg

DASAR TEORI

Pneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan


bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution).
Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-infeksi yang akan
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.3

Penyebab pneumonia yang biasa dijumpai adalah :1,4,5


1. Faktor Infeksi
a. Pada neonatus: Streptokokus group B, RSV.

15
b. Pada bayi :
- Virus: Virus parainfluensa, virus influenza,Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.
- Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.
- Bakteri: Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium
tuberculosa, Bordetellapertusis.
c. Pada anak-anak :
- Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV
- Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia
Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosis

Faktor faktor yang dapat meningkatkan risiko kejadian dan derajat pneumonia, antara
lain defek anatomi bawaan, defisit imunologi, polusi, GER (gastroesofageal reflux), aspirasi,
gizi buruk, berat badan lahir rendah, tidak mendapat air susu ibu (ASI), imunisasi tidak
lengkap, adanya saudara serumah yang menderita batuk, dan kamar tidur yang teralu padat
penghuninya.
Klasifikasi gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan - <5 tahun :
a) Pneumonia sangat berat, adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indawing), adanya sianosis sentral,
dan anak tidak sanggup minum.
b) Pneumonia berat, adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai adanya nafas cepat sesuai
umur. Batas nafas cepat (fast breathing) pada anak umur 2 bulan - <1 tahun adalah 50 kali
atau lebih per menit dan untuk anak umur 1 - <5 tahun adalah 40 kali per menit, adanya
retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup minum.
c) Pneumonia: bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat yakni >60 x/menit
pada anak usia kurang dari dua bulan; >50 x/menit pada anak usia 2 bulan-1 tahun; >40
x/menit pada anak usia 1-5 tahun.
d) Bukan bronkopneumonia, batuk tanpa pernafasan cepat atau penarikan dinding dada.

Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang memuaskan, dan pada
umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan
bahwa pembagian pneumonia berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan
terapi yang lebih relevan. Berdasarkan lokasi lesi di paru, pneumonia dibagi
menjadi Pneumonia lobaris, pneumonia interstitialis dan bronkopneumonia.2

16
Normalnya, saluran pernafasan steril dari daerah sublaring sampai parenkim paru. Paru-
paru dilindungi dari infeksi bakteri melalui mekanisme pertahanan anatomis dan mekanis, dan
faktor imun lokal dan sistemik. Mekanisme pertahanan awal berupa filtrasi bulu hidung, refleks
batuk dan mukosilier aparatus. Mekanisme pertahanan lanjut berupa sekresi Ig A lokal dan
respon inflamasi yang diperantarai leukosit, komplemen, sitokin, imunoglobulin, makrofag
alveolar, dan imunitas yang diperantarai sel. Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme
di atas terganggu, atau bila virulensi organisme bertambah. Agen infeksius masuk ke saluran
nafas bagian bawah melalui inhalasi atau aspirasi flora komensal dari saluran nafas bagian atas,
dan jarang melalui hematogen.1,2

Invasi bakteri ke parenkim paru menimbulkan konsolidasi eksudatif jaringan ikat paru
yang bisa lobular (bronkhopneumoni), lobar, atau intersisial. Secara patologis, terdapat 4
stadium pneumonia, yaitu :
1. Stadium I (4-12 jam pertama atau stadium kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung
pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan
permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-
mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan.
Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast
juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan
prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas
kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang
interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus.
Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus
ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling
berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

2. Stadium II (48 jam berikutnya)


Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah,
eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi
peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan
leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan
seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak
akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

17
3. Stadium III (3-8 hari berikutnya)
Disebut hepatisasi kelabu, yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi
daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah
yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai
diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi
pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

4. Stadium IV (7-11 hari berikutnya)


Disebut juga stadium resolusi, yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan
mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga
jaringan kembali ke strukturnya semula.5

Pneumonia khususnya bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas


bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak dan mungkin disertai
kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan dangkal
disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya
tidak dijumpai pada awal penyakit, anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana
pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif. Diagnosis ditegakkan bila
ditemukan 3 dari 5 gejala berikut :2,3,4
1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax menunjukkan gambaran infiltrat difus
5. Leukositosis

Bila bronkopneumonia tidak ditangani secara tepat, maka komplikasinya adalah


sebagai berikut
- Otitis media akut (OMA) : Terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan
masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah
dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan
timbul efusi.
- Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru.

18
- Emfisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat
di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
- Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
- Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
- Endokarditis bakterial yaitu peradangan pada katup endokardial

Kriteria rawat inap untuk penumonia adalah sebagai berikut:


1. Bayi :
- Saturasi oksigen <= 92%, sianosis
- Frekuensi napas >60x/menit
- Distress pernafasan, apnea intermitten, atau grunting
- Tidak mau minum/netek
- Keluarga tidak bisa merawat dirumah
2. Anak
- Saturasi oksigen <92%, sianosis
- Frekuensi napas >60x/menit
- Distress pernafasan
- grunting
- Terdapat tanda dehidrasi
- Keluarga tidak bisa merawat dirumah

Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak terdiri dari 2


macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus9
1. Penatalaksaan Umum
a. Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang
b. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
2. Penatalaksanaan Khusus
a. Mukolitik dan ekspektoran
b. Nebulisasi dengan beta2 agonis dana tau NaCl dapat diberikan untuk memperbaikin
mucocilliary clearance
c. Antipiretik dan analgetik
d. Kortikosteroid

19
e. Pemberian antibiotika. Pneumonia ringan dapat diberikan
- amoksisilin 20-40 mg/kgBB/hari (3x sehari) atau
- ampisilin 10-25 mg/kgBB/dosis atau ampisilin injeksi 100mg/kg/hari setiap
6 jam.
Selain itu, pemberian antibiotic dapat berdasarkan jenis mikroorganisme
penyebabnya, yaitu
- M. Pneumoniae atau C.Pneumonia : Makrolid
- S. Pneumoniae : Amoksisilin
- S. Aureus : makrolid atau kombinasi dengan flucloxacilin dengan
amoksisilin

Diagnosis etiologik pneumonia sangat sulit untuk dilakukan, sehingga pemberian


antibiotik dilakukan secara empirik sesuai dengan pola kuman tersering yaitu Streptococcus
pneumoniae dan Haemophilus influenzae.
Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok umur. Untuk neonatus sampai 2 bulan
diberikan golongan penisilin dan aminoglikosida. Untuk usia >2 bulan, ampisilin dan ditambah
dengan dengan kloramfenikol jika tidak membaik. Kombinasi ampisilin dan kloramfenikol
merupakan obat lini pertama. Sedangkan lini kedua dapat menggunakan seftriakson sebanyak
20-50 mg/kgBB/hari (1 kali sehari)
Antibiotik parenteral diberikan sampai 48-72 jam setelah panas turun, dilanjutkan
dengan pemberian per oral selama 7-10 hari. Bila diduga penyebab pneumonia adalah S aureus,
kloksasilin dapat segera diberikan. Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan cefazolin,
klindamisin, atau vancomycin. Lama pengobatan untuk stafilokok adalah 3-4 minggu.
Pada pneumonia berat, perlu dilakukan pemantauan balans cairan ketat agar anak tidak
mengalami overhidrasi karena pada pneumonia berat terjadi peningkatan sekresi hormon
antidiuretik. Bronkopneumonia pada kasus ini memiliki prognosis yang baik bila didiagnosis
dini dan ditangani secara adekuat. Mortalitas lebih tinggi didapatkan pada anak-anak dengan
keadaan malnutrisi energi- protein dan datang terlambat untuk pengobatan.4,6

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajoe N., Supriyatno B., Setyanto D. 2010. Buku Ajar Respirologi Anak, Edisi
Pertama. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2. Sumarmo, S., Soedarmo, P., Hadinegoro, S. R. 2010. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
Tropis. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
3. Sectish, Theodore C, and Charles G, Prober. Tuberculosis Paru. Dalam: Behrman R.E.,
et.al (editor). 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson’s vol. 2 edisi. 15. Jakarta: EGC.
4. FKUI. 1985. Ilmu Kesehatan Anak Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. McPhee,S., Papadakis,MA. 2008. Curreny Medical Diagnosis and Treatment, California
: McGraw hill.
6. Widagdo, 2011, Masalah dan Tatalaksana Penyakit Infeksi pada Anak, Sagung Seto,
Jakarta.
7. Mansjoer A, 2000 Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 2. Jakarta. Media Aesculapius
FK UI.
8. IDAI. 2009. Pedoman Pelayanan Medik: Pneumonia. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia

21