Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aneurisme didefinisikan sebagai suatu pelebaran atau dilatasi dari


pembuluh darah. Bentuk yang paling sering dari aneurisme intracranial adalah
aneurisme arterial sakuler yang merupakan proses degenerative progresif
yang mengenai dinding arteri. Rupture aneurisme sarkuler merupakan
masalah kesehatan yang cukup serius dan sering didapatkan. Berdasarkan
hasil otopsi dan pemeriksaan angiografi, sekitar 5% sampai 6% individu
memiliki aneurisme intracranial. Rasio antara aneurisme yang rupture dengan
yang tidak rupture bekisar antara 5:3 sampai 5:6. Prevalensi aneuruisme
rendah selama 2 dekade pertama kehidupan dan meningkat setelah decade
ketiga. Hanya 2% aneurisme yang muncul pada masa kanak-kanak. Proses
aneurisma pada arteri yang memperdarahi susunan saraf pusat dapat
diklasifikasikan berdasarkan bentuknya (sarkuler, fusiform dan dissecting),
ukurannya (non-giant atau giant, dengan diameter maksimal > 2,5 cm), tipe
pembuluh darah (arteri atau vena), penyebabnya (didapat atau familia/genetic),
proses penyakit yang mendasari (infeksi traumatic, inflamasi, neoplastik) dan
lokasinya (intracranial, basis kranii, ekstrakranial, spinal dan sistemik).

Di banyak negara, prevalensi penyakit ini tergolong tinggi. Di Amerika


Serikat, misalnya, aneurisma mencapai rata-rata lima per 100.000 kasus,
tergolong paling tinggi dibandingkan dengan gangguan atau kelainan otak
lainnya. Kasus ini di banyak negara ditemui pada pasien berusia 3 - 50 tahun.
Insiden dari aneurisma baik yang pecah maupun yang utuh pada otopsi
ditemukan sebesar 5 % dari populasi umum. Insiden pada wanita ditemukan
lebih banyak dibandingkan pria, yaitu: 2 - 3 : 1, dan aneurisma multiple atau
lebih dari satu didapatkan antara 15 - 31% (Vale dan Hadley). Umumnya
diderita oleh orang dewasa pada lebih dari dekade kedua kehidupan dengan
persentase 6% di seluruh dunia dengan angka kematian lebih dari 50%
dengan insidensi pada wanita lebih banyak dibandingkan pria sekitar 2-3:1.

1
Penelitian menunjukkan prevalensi pada suatu populasi orang dewasa antara 1
dan 5 persen, 2 yang diterjemahkan sampai 10 juta untuk 12.000.000 orang di
Amerika Serikat.

Delapan puluh lima sampai sembilan puluh persen aneurisma berasal


dari bagian depan atau pembuluh darah karotis, dan sisanya berasal dari
bagian belakang atau pembuluh vertebralis. Aneurisma dikatakan hampir
tidak pemah menimbulkan gejala kecuali terjadi pembesaran dan menekan
salah satu saraf otak sehingga memberikan gejala sebagai kelainan saraf otak
yang tertekan seperti pada trigeminal neuralgia.

Aneurisma intrakranial sering ditemukan ketika terjadi ruptur yang


dapat menyebabkan perdarahan dalam otak atau pada ruang subarahnoid,
sehingga menyebabkan perdarahan subarahnoid. Perdarahan subarahnoid dari
suatu ruptur atau aneurisma otak dapat menyebabkan terjadinya stroke
hemoragik, kerusakan dan kematian otak. Orang yang menderita aneurisma di
otak, tidak diperbolehkan berolahraga berat seperti angkat besi. Bahaya
perdarahan otak mudah terjadi dan bisa berakibat fatal. Aneurisma sering baru
diketahui setelah dilakukan foto rontgen angiografi untuk keperluan lain.
Penyebab aneurisma ini bisa karena infeksi, aterosklerosis, rudapaksa, atau
kelemahan bawaan pada dinding pembuluh darah. Oleh karena itu sangat
penting diketahui tentang aneurisme secara lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Aneurisma Intrakranial ?
2. Bagaimana Anatomi system peredaran darah ?
3. Apa saja Etiologi dari Aneurisma Intrakranial ?
4. Bagaimana Patofisiologi Aneurisma Intrakranial ?
5. Bagaimana Manifestasi Klinis dari Aneurisma Intrakranial ?
6. Apa saja komplikasi dari Aneurisma Intrakranial ?
7. Apa saja Pemeriksaan Penunjang dari Aneurisma Intrakranial ?
8. Bagaimana Penatalaksanaan Aneurisma Intrakranial ?

2
9. Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan pasien dengan Aneurisma
Intrakranal ?
C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Pengertian dari Aneurisma Intrakranial.


2. Untuk mengetahui Anatomi system peredaran darah.
3. Untuk mengetahui Etiologi dari Aneurisma Intrakranial.
4. Untuk mengetahui Patofisiologi Aneurisma Intrakranial.
5. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis dari Aneurisma Intrakranial.
6. Untuk mengetahui Komplikasi dari Aneurisma Intrakranial.
7. Untuk mengetahui apa saja Pemeriksaan Penunjang Aneurisma
Intrakranial.
8. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Aneurisma Intrakranial.
9. Untuk mengetahui konsep asuuhan keperawatan pasien dengan
Aneurismsa Intrakranial.

3
BAB II
PEMBHASAN

A. Pengertian
Aneurisma merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani
“ aneuyrisma” (ana : across, eurys : broad) yang berarti dilatasi abnormal dari
sebuah arteri. Aneurisma intrakranial/ serebral adalah pelebaran atau
menggelembungnya dinding pembuluh darah, yang didasarkan atas rusaknya
dua lapisan dinding pembuluh darah, yaitu tunika media dan tunika intima,
yang menjadi elastis mengakibatkan kelemahan pada pembuluh darah di
daerah tersebut sehingga membentuk tonjolan akibat tekanan pembuluh darah
(Robert D.Brown JR, 2008).
Aneurisma Intrakranial merupakan kelemahan dinding arteri serebral
yang menyebabkan dilatasi terlokalisasi. Bentuk paling lazim adalah
aneurisma berry, suatu penonjolan seperti kantong pada arteri. Biasanya
terdapat pada taut arterial pada lingkar Willis, anatomis sirkular yang
membentuk arteria serebral besar pada basal otak. Aneurisme juga seringkali
disertai rupture dan menyebabkan hemoragi subarknoid (Kimberley A.J.
Billota, 2011).
Dinding pembuluh darah pada aneurisma ini biasanya menjadi lebih
tipis dan mudah pecah. Aneurisma serebral (otak) meliputi sirkulasi otak
bagian anterior dan bagian posterior. Pembuluh Aneurisma otak adalah suatu
kelainan pada dinding darah otak dimana terdapat kelemahan yang
mengakibatkan terbentuknya tonjolan / pada daerah tersebut yang amat riskan
terjadi ruptur tiba-tiba. Tonjolan tersebut sering terlihat seprti berry yang
tergantung pada batangnya
Menurut Brunner & Suddarth (2001) Aneurisma intarkranial (serebral)
adalah dilatasi dinding arteri serebral yang berkembang sebagai hasil dari
kelemahan dinding arteri. Penyebab anurisme tidak diketahui, walaupun
penelitian terus menerus diusahakan untuk mengerti tentang masalah ini.
Aneurisma intrakranial mungkin karena aterosklerosis, yang
mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dengan di lanjutkan

4
kelemahan pada dinding pembuluh darah, kerusakan kongental, penyakit
vaskuler hipersensitif, trauma kepala , atau pertambahan usia. Arteri serebral
yang paling umum mengalami aneurisma adalah karotid internal , serebral
anterior, arteri komunis anterior, dan arteri serebral tengah. Persentase yang
kecil terjadi pada daerah vertebrobasilar adalah kecil. Aneurisma serebral
multipel tidak umum terjadi.

B. Anatomi system peredaran darah


Pada dasarnya sistem peredaran darah arteri ke otak terdiri 2 golongan
yaitu: sepasang peredaran darah karotis pada bagian depan dan
vertebrobasilaris pada bagian belakang . Arteria karotis ini masuk ke dalam
rongga tengkorak melalui kanalis karotikus dan kemudian bercabang menjadi
arteria serebri media dan arteria serebri anterior. Arteria vertebralis cabang
dari arteria subclavia memasuki otak melalui foramen magnum, di bagian
dorsal batang otak menyatu menjadi arteria basilaris dan kemudian berakhir
menjadi dua arteri serebri posterior. Pada dasar otak cabang-cabang dari
keduanya membentuk anastomosis (hubungan) yang disebut Circulus Willis.
Pada peredaran darah balik (vena), aliran darah vena akan bermuara ke dalam
sinus-sinus duramater, sinus merupakan saluran pembuluh darah yang
terdapat di dalam struktur duramater. dalam keadaan fisiologik jumlah darah
yang mengalir ke otak ialah 50-60 ml per 100 gram otak permenit. Jadi untuk
berat otak dewasa 1200-1400 gram diperlukan aliran darah 700-840 ml/menit.

Gambar 1 : Circulus Willisi pada dasar otak

5
Gambar 2 : The Intracranial Vasculature, Showing the Most Frequent
Locations of Intracranial Aneurysms. Percentages indicate the incidence of
intracranial aneurysms.

Gambar 3. Gambar 4.

Gambar 3 : The common carotid artery courses up the neck and divides into the internal
and external carotid arteries. The brain’s anterior circulation is fed by the internal
carotid arteries (ICA) and the posterior circulation is fed by the vertebral arteries (VA).
The two systems connect at the Circle of Willis (green circle).

Gambar 4: Top view of the circle of Willis. The internal carotid and vertebral-basilar
systems are joined by the anterior communicating and posterior communicating arteries

6
C. Etiologi
Penyebab dari aneurisma ini masih belum diketahui secara pasti,
Aneurisme mungkin bisa terjadi karena aterosklerosis, defek congenital,
proses degenerative, kombinasi defek congenital dan proses degenerative, dan
Trauma, hipertensi, emboli, dan infeksi. Peneyebab utama aneurisma masih
menjadi kontroversi. Akan tetapi bila dibandingkan dengan pembuluh darah
normal, pada aneurisma ditemukan suatu kelainan pada lapisan pembuluh
darah terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan tunika intima, media dan
adventitia (Brunner & Suddarth, 2001).

D. Patofisiologi
Gejala-gejala yang ditimbulkan bila terjadi pelebaran aneurisma dan
tekanan pada daerah sekitar saraf intrakranial atau substansi otak atau lebih
hebat lagi bila aneurisma pecah, menyebabkan hemoragi subarahnoid
(hemoragi ke dalam ruang subrakrhoid kranial). Metabolisme otak yang
normal di rusak oleh otak yang tertutup darah , dengan peningkatan TIK yang
diakibatkan dari masuknya darah ke ruang subarakhoid dengan tiba-tiba, yang
menekan dan membuat cedera jaringan otak, atau iskemia otak yang
diakibatkan oleh penurunan perfusi , adanya tekanan dan spasme vaskular
yang sering disertai perdarahaan subarachnoid (Brunner & Suddarth, 2001)
Aliran darah menyebabkan tekanan pada dinding arteri serebral yang
lemah secara kokngenital, merenggangkannya seperti balon yang sedang
dikembangkan, dan membuatnya cenderung rupture. Rupture semacam itu
diikuti oleh hemoragi subaraknoid, ditandai dengan darah yang tumpah
kedalam ruang yang biasanya diisi oleh cairan serebrospinal. Darah masuk
kedalam jaringan otak sehingga menimbulkan bekuan yang sangat berpotensi
menyebabkan peningkatan tekanan intrakarnial (TIK) dan kerusakan jaringan
otak (Kimberly A. J. Billota, 2011)

E. Manifestasi klinis
Menurut Brunner & Suddarth (2001), Pecahnya aneurisma selalu terjadi
tiba-tiba , tidak selalu disertai dengan sakit kepala yang berat dan sering

7
kehilanga\kesadaran untuk periode bervariasi . mungkin ada nyeri dan kaku
leher bagian belakang dan medula spinalis akibat adanya iritasi meningan .
gangguan penglihatan (hilangnya penglihatan,diplopia,ptosis) terjadi pada
saat aneurisme berdekatan dengan saraf okulomocorius.dapat terjadi tinitus ,
pusing , dan hemiparesis.
Pada saat aneurisma “membocorkan” darah , yang ditandai adanya
bentuk bekuan yang menutupi daerah yang pecah.dalam keadaan sesaat
pasien dapat memperlihatkan adanya sedikit defisit neurologik atau mungkin
terjadi perdarahan yang menyebabkan kerusakan serebral yang dengan cepat
diikuti koma dan kematian .
Prognosis bergantung pada kondisi neurologik pasien , usia , keadaan
penyakitnya dan luasnya lokasi aneurisma .perdarahan subarakhnoid dari
aneurisma merupakan bencana besar dengan angka mortalitas sampai 50%.

Menurut Kimberly A. J. Billota (2011) karakteristik umum dari


Aneurisma Intrakranial yaitu :
- Sakit kepala
- Kaku kuduk
- Punggung dan tungkai kaki
- Sakit kepala hebat mendadak (dengan rupture)
- Perubahan tingkat kesadaran (dengan rupture).

Pada anamnesis dapat di temukan gejala-gejalan klinis dari aneurisma


itu sendiri, gejala pada ruptur aneurisma dapat berupa:
- Mual dan muntah
- Kaku leher atau nyeri leher
- Kabur atau penglihatan danda
- Nyeri di atas dan di belakang mata
- Pupil dilatasi
- Sensitivitas terhadap cahaya
- Hilangnya sensasi
- Kejang

8
Sedangkan gejala pada unruptur aneurisma dapat berupa :
- Nyeri kepala berat
- Penurunan fungsi penglihatan
- Gangguan berpikir
- Gangguan bahasa
- Gangguan persepsi
- Mendadak perubahan sikap dan perilaku
- Kehilangan keseimbangan dan koordinasi
- Penurunan kesadaran
- Gangguan ingatan jangka panjang dan pendek
- Kelelahan

F. Komplikasi

Menurut Robert D. Brown JR (2008) Aneurisma yang pecah dapat


mengakibatkan :
- Perdarahan subarachnoid saja.
- Perdarahan subarachnoid dan perdarahan intra serebral (60%).
- Infark serebri (50%).
- Perdarahan subarachnoid dan subdural.
- Perdarahan subarachnoid dan hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi
hidrosephalus normotensif (30%).
- Aneurisma a. carotis interna dapat menjadi fistula caroticocavernosum.
- Masuk ke sinus sphenoid bisa timbul epistaksis.
- Perdarahan subdural saja.
Bahaya dari Aneurisma yang terbentuk, dapat menyebabkan terjadinya
stroke atau kematian, karena pecahnya Aneurisma tersebut.

G. Pemeriksaan Penunjang
Di negara maju, aneurisma pada stadium dini lebih banyak ditemukan.
Hal ini karena banyak orang yang menjalani pemeriksaan magnetic resonance
imaging (MRI) sehingga aneurisma pada tingkat awal dapat terlihat jelas.

9
Kadang-kadang aneurisma tidak sengaja ditemukan saat ''check up'' dengan
menggunakan alat canggih seperti CT scan, MRI atau angiogram. Diagnosis
pasti aneurisma pembuluh darah otak, beserta lokasi dan ukuran aneurisma
dapat ditetapkan dengan menggunakan pemeriksaan ''angiogram''.
1. CT-scan
Computed Tomography (CT) scan adalah noninvasif X-ray yang
menyediakan gambar struktur anatomi dalam otak. Hal ini sangat berguna
untuk mendeteksi darah di dalam atau di sekitar otak. Teknologi yang lebih
baru yang disebut CT angiography (CTA) melibatkan penyuntikan kontras
ke dalam aliran darah untuk melihat arteri otak. CTA memberikan gambar
terbaik dari pembuluh darah (melalui angiography) dan jaringan lunak
(melalui CT). CT Scan sangat baik dalam mengidentifikasi perdarahan
intraventrikel (dijumpai pada 13-28 % kasus aneurisma), hematoma
parenkim, dan hematoma subdural yang sering dijumpau pada kasus-kasus
perdarahan subarakhnoid. Sensitivitas pemeriksaan CT dapat
mengidentifikasi adanya aneurisma serebri dengan diameter 5 mm atau
lebih dengan baik, sedangkan untuk diameter 3-5 mm identifikasi mencapai
60-70%, sedangkan untuk aneurisma besar / Giant memiliki ketepatan
mencapai 100%.
Ciri-ciri aneurisma serebri yang dapat dinilai dengan pemeriksaan CT
meliputi sebagai berikut:
- area dengan densitas meningkat, focal yang berasal dari darah diluminal.
- area elongatio / globular focal dari penyangatan kontras.
- kalsifikasi didinding aneurisma.
- clot / bekuan darah didalam aneurisma besar. Aneurisma yang besar
mempunyai diameter transversal 1-2,4 cm dan giant aneurisma bisa
mencapai 2,5 cm atau lebih.
2. MRI
Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan adalah tes non-invasif yang
menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio untuk
memberikan tampilan rinci tentang jaringan lunak otak. Sebuah MRA
(Magnetic Resonance Angiogram) adalah studi non-invasif yang sama,

10
kecuali bahwa itu juga merupakan angiogram, yang berarti meneliti
pembuluh darah di samping struktur otak.
3. Angiogram
Angiogram merupakan prosedur invasif di mana sebuah kateter
dimasukkan ke arteri dan melewati pembuluh darah ke otak. Setelah
kateter tersebut di tempat, pewarna kontras disuntikkan ke dalam aliran
darah dan x-ray diambil.
4. MRA dan Angiografi
MRA baik dalam menilai aneurisma serebri (55-86%) dan sensitivitas akan
meningkat bila dikombinasikan dengan pemeriksaan MRI. MRA
merupakan pemeriksaan skrining. Pemeriksaan yang sering dipakai adalah
TOF 3D. MOTSA dipakai jika aliran lambat pada aneurisma distal (flow
saturasi rendah, sehingga tak terlihat pada TOF 3D).
Pemeriksaan MRA dikombinasikan dengan pemeriksaan MRI dapat
memperlihatkan pola aliran interna pada aneurisma besar dan giant dengan
aliran cepat di daerah perifer dan aliran yang stagnant disentral. Kontras
gadolinium I.V tidak di anjurkan dipakai untuk mengidentifikasi
aneurisma serebri, namun dapat membantu memperjelas gambaran
aneurisma kecil. Kekurangannya dapat menimbulkan artefak sehingga
menimbulkan penyulitan dalam menilai aneurisma (karena efek
penyangatan pada sinus dura, vena intracranial dan struktur intracranial).

Gambar 5

11
Gambar 5 : Preoperative MR angiogram (A) and DS angiogram (B)
demonstrating a 2-mm ACoA aneurysm (arrows),
which was successfully treated with coil embolization. Magnetic resonance
angiogram (C) and DS angiogram (D) obtained in another patient of a
wide-necked 2-mm aneurysm on the left M1 branch.

Computer tomografi Angiografi (CTA) adalah sebuah alternatif dengan


metode tradisional dan dapat dilakukan tanpa perlu kateterisasi arteri. Tes
ini menggabungkan CT scan biasa dengan pewarna kontras disuntikkan ke
pembuluh darah. Setelah pewarna yang disuntikkan ke dalam vena, itu
perjalanan ke arteri otak, dan gambar yang dibuat dengan menggunakan CT
scan. Gambar-gambar ini menunjukkan dengan tepat bagaimana darah
mengalir ke pembuluh otak.

H. Penatalaksanaan
Sasaran pengobatan adalah untuk memungkinkan otak pulih dari akibat
awal (perdarahan) , untuk mencegah atau meminimalkan risiko perdarahan
ulang , dan untuk mencegah atau mengobati komplikasi lain . komplikasi
potensial yang muncul mencakup perdarahan ulang , spasme vaskuler
serebral yang menyebabkaniskemia serebral ; hidrosefalus akut , yang
menyebabkan darah bebas menghambat reabsorbsi cairan serebrospinal oleh
vili subarakhnois ; kejang ; dan kecemasan .penatalaksanaan terdiri dri tirah
baring untuk mencegah agitasi stress, penatalaksanaan spasma vaskuler dan
pembedahan ataunpengobatan medis untuk mencegah perdarahan ulang.
Vasospasme. Terjadinya vasospasme serebral (menyempitnya lumen
pembuluh darah yang terdapat pada kranial ) merupakan komplikasi yang
serius dari perdarahan subarakhoid dan jumlahnya sekitar 40%sampai50%
dari mordiditas dan mortalitas pasien yang bertahan hidup pada perdarahan
intrakranial awal . mekanisme yang bertanggung jawab terjadinya spasma
tidak jelas tetapi adanya vasospasme dihubungkan dengan
meningkatnyajumlah darah di dalam ruang subarkhnoiddan fisura serebral ,
sebagaimana terlihat oleh pemindaian CT.
Vasospasme menimbulkan peningkatan tekanan vaskuler , yang
menghalangi aliran darah serebral dan menyebabkan iskemia otak dan infrak

12
(kematian otak). Tanda dan gejala yang di tunjukakan oleh pasien
merefleksikan daerah otak yang terkena. Vasospasme sering
menggambarkan adanya sakit kepala yang buruk, penurunan tingkat
kesadaran (konfusi,latergik,disorientasi) atau munculnya penurunan
neurologik fokal baru (afasia ,hemiparesis [paralisis parsial yang dipengaruhi
salah satu sisi tubuh]).
Vasospasme sering terjadi dalam hari ke 4 sampai hari ke 12 hari
setelah awal perdarahan t(hemoragi) , apabila bekuan darah mengalami
proses litik (penghancuran) dan meningkatnya perubahan akibat perdarahan
ulang.
Dinyakini bahwa oprasi dilakukan untuk menjepit aneurisme sehingga
dapat mencegah perdarah ulang dapat di percaya , dan mengeluarkan darah
dari wajah pada daerah basal di sekitar arteri mayor serebral dapat mencegah
berkembangnya vasospasme .pemberianpenyekat kalsium nimodipin melalui
intavena selama masakritis dimana vasospasme dapat berkembang , dapat
melindungi perlahan-lahan untuk melawan iskemia yang bertambah buruk .
kemajuan teknologi mempunyai peranan penting untuk mengarahkan
intervensi neuroradiologik dalam pengobatan aneurisma. Tekanan
endovaskuler digunakan dalam menyeleksi pasien untuk melihat suplai arteri
pada aneurisma dengan menggunakan sebuah balon atau melihat aneurisma
itu sendiri. Banyak penelitian terhadap teknik ini dilakukan lengkap ,
sejalan denganpenggunaan teknik ini yang meningkat.
Penatalaksanaan vasospasme tetap sukar dan kontroversial . satu
penjelasan tentang vasospasme bahwa vasospasme (spasma vaskuler) di
sebabkan oleh meningkatnya kalsium yang masuk kedalam sel ; sehingga
terapi obat ditetapkan untuk menghalangi atau melawan aksi ini dan dapat
mencegah atau mengembalikan aksi vasospasme yang telah ada . penyakit
kalsium di setujui dan di gunakan , yang terdiri dari verapanmil (isoptin) dan
nefidipin (procardia) . tetapi lain untuk vasospasme ditujukan pada proses
meminimalkan pengaruh yang merusak yang di hubungkan dengan iskemia
serebral dan mencakup perluasan volume cairan dan menyebabkan hipertensi
arteri , normotensi , atau hemodilusi . penggunaan papaverin dan rekombinen
jaringan aktivator plasminogen sedang di teliti.

13
Peningkatan tekanan intracranial. Tinnginya tekanan intrakranial
hampir selalu mengikuti perdarahan subarakhnoid , biasanya terjadi karena
kerusakan sirkulasi CSS disebabkan oleh darah yang mengumpul di daerah
basal . pasien memperlihatkan adanya kemunduran akibat peningkatan TIK
(akibat edema serebral ,herniasi,hidrosefalus,atau vasespasme).untuk
menurunkan peningkatan TIK dilakuakn pengeluaran cairan intrakranial
dapat dilakukan dengan pungsi lumbal atau menghitung CSS dengan
menggunakan kateter ventrikuler dan amnnitol.
Bila mannitol digunakan sepanjang pengukuran kontrol TIK dehidrasi
dan gangguan keseimbangan elektrolit (hiponatremia/hipernatremia ;
hipokalemia/hiperkalemia) mungkin terjadi . mannitol beraktifitas melalui
proses osmotik yang menarik cairan keluar dari otak sama seperti
menurunkan total cairan tubuh melalui diuresis . pasien di pantau terhadap
tanda-tanda dehidrasi dan terhadap peningkatan TIK.
Jika pembedahan dilakukan terlambat atau dikontraindikasikan maka
agens-agens anti-fibronolitik (asam aminokaproat;asam traneksamik)
mungkin diberikan untuk menunda atau mencegah pecahnya bekuan pada
daerah aneurisma yang pecah.
Hipertensi sistemik. Usaha yang di buat untuk mencegah hipertensi
sistemik . jika tekanan datah tinggi , terapi antihipertensi (nitroprusid) di
berikan pada pasien.pemantauan himodinamikpada jalur arteri yang hasilnya
untuk mendeteksi atau menghindari turunnya tekanan darah yang cepat,yang
dapat menyebabkan iskemia otak.karena kejang menyebabkan tekanan darah
tinggi , maka agens-agens antikonvulasi (antikejang) di berikan sebagai
profilaksis.obat pelunak feses di gunakan untuk mencegah ketegangan yang
juga meningkatkan tekanan darah.
Analgetik (kodein, asetamibofen) mungkin diberikan untuk nyeri
kepala dan leher. pasien patut menggunakan tekanan kaos kaki elastis untuk
mencegah trombosis vena profunda dan pengobatan untuk beberapa pasien
adalah tirah baring.

14
Penatalaksanaan Pembedahan
Pasien dapat disiapkan untuk intervensi pembedahan sesegera mungkin
pada keadaan yang dinyatakan stabil. Tujuan pembedahan untuk mencegah
perdarahan berat. Tujuan ini merupakan penyelesaian denganmemisahkan
aneurisma dari sirkulasi ini atau menguatkan dinding arteri . aneurisma dapat
dikeluarkan dari sirkulasi serebral dengan cara ligasi atau pemasangan klip
melewati leher . jika tidak mungkin secara anatomi , aneurisma dapat di
kuatkan melalui cara membungkusnya dengan plastik , otot , atau substansi
lain .
Bypass arteri ekstrakranial-intrakranial dapat dilakukan untuk
mebentuk suplai darah kolateral , untuk menyediakan darah pada
pembedahan aneurisma . alternatif lain berupa metoda ekstrakranial dapat
digunakan , diman arteri karotid secara bertahap di sumbat di leher untuk
menurunkan tekanan di dalam pembuluh darah . setelah ligasi arteri karotid ,
beberapa risiko dapat terjadi seperti iskemia serebral dan hemiplegi yang
tiba-tiba karena selama prosedur pembedahan itu lairan darah keotak
sementara tersumbat (kecuali digunakan penyilangan pirau bypass sementara),
sebagai antisipasi terjadinya komplikasi, pengkajian aliran darah serebral dan
tekanan carotid interna dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang
beresiko mengalami episode iskemia pasca operasi.
Komplikasi pasca operasi lain mencakup gejala gangguan psikologis
(disorientasi, amnesia, sindrom korsakoff, dan gangguan kepribadian), pada
intraoperatif dapat mengalami emboli, pada pasca operatif arteri interna
tersumbat, gangguan xaiean dan elektrolit (dari akibat disfungsi system
neurohipofisis) dan pendarahan gastrointestinal.

Menentukan perawatan bedah terbaik untuk aneurisma pecah melibatkan


banyak faktor, seperti ukuran, lokasi, dan jenis aneurisma serta kesehatan
pasien secara keseluruhan dan riwayat medis mereka.

Bedah kliping: membuka dibuat dalam tengkorak, yang disebut


craniotomy, untuk mencari aneurisma tersebut. Sebuah klip kecil ditempatkan

15
di leher "" dari aneurisma tersebut untuk memblokir aliran darah normal masuk
(gambar 6) klip ini terbuat dari titanium dan tetap pada arteri secara permanen.

Gambar 6. A titanium clip is placed


across the neck of an aneurysm. The
arrow indicates bloodflow through
the artery, but not the aneurysm.

Endovascular melingkar: dilakukan selama angiogram di departemen


radiologi dan kadang-kadang membutuhkan anestesi umum. Sebuah kateter
dimasukkan ke arteri di pangkal paha dan kemudian melewati pembuluh darah
ke aneurisma tersebut. Melalui kateter, aneurisma yang dikemas dengan koil
platinum atau lem akrilik, yang mencegah aliran darah ke dalam aneurisma
(Gambar 7).

Gambar 7: The aneurysm is packed


with platinum coils by way of a small
catheter. The arrow indicates
bloodflow through the artery, but not
the aneurysm.

Arteri oklusi dan memotong: jika kliping bedah tidak mungkin atau arteri
terlalu rusak, ahli bedah yang benar-benar dapat menghalangi (menutup jalan)
arteri yang memiliki aneurisma tersebut. Aliran darah berbelok (bypass) di

16
sekitar bagian occluded arteri dengan menyisipkan cangkok kapal (gambar 8).
graft adalah arteri kecil, biasanya diambil dari kaki Anda, yang terhubung di
atas dan di bawah arteri yang tersumbat sehingga aliran darah dialihkan
(memotong) melalui gratifikasi tersebut.

Gambar 8 :The aneurysm is


blocked off between two clips
and a bypass is sewn to
detour blood flow around the
aneurysm.

Gambar 9 Microsurgical Clipping of an Aneurysm of the Posterior Communicating


Artery. Panel A shows the typical skin incision (unbroken curved line) and
craniotomy (dashed lines) needed to access the aneurysm. Panel B shows the
application of the clip blade to the neck of the aneurysm.

17
I. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
- Kaku kuduk
- Nyeri punggung dan tungkai
- Demam
- Gelisah
- Iritabilits
- Hemiparesis
- Defek hemisensorik
- Disfagia
- Defek penglihatan (diplopia, ptosis, dilatasi pupil, dan tidak
mampu merotasi mata karena kompresi saraf okulomotorius bila
aneurisma dekat arteri carotid interna)
b. Pengkajian neurologic yang lengkap dilakukan pada awal dan
mencakup evaluasi hal berikut : (1) tingkat kesadaran; (2) Reaksi
pupil; (3) Fungsi sensori dan motorik; (4) deficit saraf cranial
(gerakan mata ekstraokular, facial droop, adanya ptosis); dan (5)
kesukaran bicara, gangguan penglihatan atau penurunan neurologic
atau sakit kepala.
Temuan pengkajian neurologic didokumentasikan dan
dilaporkan sebagai indikasi. Pengkajian ini sering berubah-ubah dan
disesuaikan dengan keadaan pasien. Beberapa perubahan keadaan
pasien membutuhkan pengkajian ulang dan didokumentasikan dengan
teliti, perubahan yang terjadi dilaporkan segera.
Perubahan tingkat kesadaran sering merupakan tanda paling
awal dari penyimpangan pasien aneurisme cerebral. Karena perawat
mempunyai kontak yang paling sering dengan pasien, maka perawat
sering menjadi orang yang pertama mendeteksi perubahan yang
halus sekalipun. Perasaan mengantuk sedang dan bicara tidak jelas
mungkin gejala awal tingkat kesadaran memburuk. Pengkajian

18
keperawatan perlu sering dilakukan pada pasien kritis yang
diketahui atau kemungkinan mengalami anuerisma serebral.
c. Hasil pemeriksaan
- CT-Scan menunjukkan perdarahan subaraknoid atau ventricular
dengan darah ditemukan pada ruang subaraknoid dan menggeser
posisi srruktur ditengahnya
- MRI menunjukkan lubang aliran darah serebral
- Ronsen tengkorak dapat menunjukkan klasifikasi dinding
aneurisma dan area erosi tulang.
- Angiografi serebral menunjukkan perubahan aliran darah, dilatasi
lumen pembuluh darah, dan diferensiasi pengisian arterial.

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnose keperawatan utama pasien
meliputi berikut ini :

 Perubahan perfusi serebral yang berhubungan dengan perdarahan


dari aneurisma.
 Perubahan sensori atau persepsi yang berhubungan dengan
pembatasan terhadap kewaspadaan subarachnoid.
 Ansietas yang berhubungan dengan penyakitnya atau hambatan pada
subarachnoid.

Adapun masalah kolaboratif (Komplikasi potensial)


Berdasarkan data pengkajian, komplikasi potensial yang dapat
terjadi meliputi hal berikut :
 Kejang
 Vasospasme

3. Intervensi Keperawatan
Sasaran : sasaran untuk pasien ini mencakup peningkatan perfusi
jaringan, berkurangnya gangguan sensori dan persepsi, ansietas
berkurang, dan tidak ada komplikasi.

19
Menurut Brunneer & Suddarth (2001) adapun intervensi
keperawatan pada pasien Aneurisma Intrakranial adalah :
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
perdarahan dari aneurisma
Tujuan : memperbaiki perfusi jaringan serebral
Tindakan :
1) pasien dipantau secara kontinu terhadap adanya penurunan
neurologic yang terjadi akibat perdarahan ulang, peningkatan
TIK, vasospasme
2) Pertahankan catatan berkas neurologic
3) Periksa setiap jam untuk tekanan darah, denyut nadi, tingkat
responsig (sebagai indikator perfusi serebral), respon pupil dan
fungsi motorik
4) Status respiratorik dipantau karena adanya penurunan PO2 pada
daerah otak akibat peningkatan kerusakan antoregulasi yang
disebabkan oleh infark serebral. Adanya perubahan harus dicatat
segera.

b. Perubahan sensori atau persepsi yang berhubungan dengan


pembatasan terhadap kewaspadaan subarachnoid.
Tujuan : memberikan lingkungan yang tidak menstimulasi dan
mencegah peningkatan TIK dan perdarahan berat.
Tindakan :
1) Pasien diletakan segera dan tirah baring pada lingkungan yang
sepi, tidak membentuk stress, karena aktivitas, nyeri dan cemas
menyebabkan tekanan darah meninggi, yang dapat
meningkatkan perdarahan
2) Batasi kunjungan dan kecuali untuk keluarga.
3) Tinggikan tempat tidur bagian kepala dengan ketinggian
sedang untuk memberikan aliran vena dan untuk menurunkan
TIK. Beberapa ahli saraf, mengatakan walaupun demikian

20
posisi pasien tetap dalam keadaan datar adalah untuk
meningkatkan perfusi srebral.
4) Hindari Beberapa aktivitas yang tiba-tiba dapat meningkatkan
tekanan darah atau obstruksi aliran darah vena balik vena,
misalnya mengejan (maneuver Valsava), ketegangan, bersin
yang kuat, mendorong tubuh untuk bangun dari tempat tidur,
fleksi tiba-tiba atau memutar kepala dan leher (yang mana
dapat membahayakan vena jugularis) dan merokok
5) Pasien dianjurkan untuk mengeluarkan napas melalui mulut
selama buang air kecil atau besar, yang mana hal ini untuk
menurunkan ketegangan
6) Enema tidak diizinkan, tetapi dipertimbangkan penggunaan
obat pelunak feses dan laksatif sedang
7) Hindari konstipasi dan enema, karena akan menyebabkan
peningkatan TIK
8) Kurangi pencahayaan yang berlebihan. Cahaya yang suram
dapat membantu karena pasien mengalami fotofobia
(penglihatan yang tidak toleransi terhadap cahaya).
9) Kurangi meminum the dan kopi. Kopi dan teh tidak menjadi
pantangan, tetapi akan lebih baik jika dikurangi.
10) Bantu pasien dalam personal hygiene (mandi) bila perlu. Hal
ini untuk meingkatkan kenyamanan pasien dan mencegah
pasien melakukan hal yang melelahkan bagi pasien.

c. Ansietas yang berhubungan dengan penyakitnya atau hambatan


pada subarachnoid.
Tujuan : mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien.
Tindakan :
1) Orientasikan pada realitas untuk membantu mempertahankan
orientasi.
2) Mempertahankan pasien mendapat informasi tentang rencana
perawatan memberikan ketenangan dan membantu

21
meminimalkan ansietas pasien. Keluarga juga memerlukan
informasi dan dukungan.
3) Ajarkan pasien tehnik relaksasi dan distraksi untuk mengurangi
kecemasan.

Memantau dan menatalaksanakan Komplikasi potensial (Brunner &


Suddarth, 2001):
a. Kejang.
Tujuan : Kewaspadaan kejang dipertahankan untuk setiap pasien
yang mungkin beresiko terhadapa aktivitas kejang.
Tindakan : Hal ini meliputi
1) Menyediakan alat pengisap yang berfungsi penuh di samping
tempat tidur, kateter penghisap, spatel lidah yang diberi
bantalan.
2) Bantalan tempat tidur diberikan untuk melindungi pasien dari
kemungkinan cidera.
3) Bila terjadi kejang, pertahankan jalan napas pasien dan
pencegahan cidera merupakan tujuan utama. Pemberian terapi
obat dimulai saat ini, jika tidakada, siapkan obat-obatan
tersebut segera. Obat yang dipilih adalah fenitoin (Dilantin),
obat ini biasanya memberikan kerja anti kejang adekuat, yang
tidak memyebabkan kantuk pada kadar terapeutik.

b. Vasospasme. pasien harus dikaji untuk adanya tanda


kemungkinan vasospasme: sakit kepala terus menerus,
penurunan tingkat responsivitas (konfusi, disorientasi, letargik,)
atau adanya afasia dan paralisis parsial. Tanda-tanda ini dapat
terjadi beberapa hari yang diikuti dengan tindakan pembedahan
atau dimulainya pengobatan dan harus segera dilaporkan.
Jika Vasospasme telah didiagnosis, medikasi direesepkan
meliputi terapi penyekat kalsium atau memberikan volume
cairan ekspander.

22
4. Impementasi
Dilakukan sesuai dengan intervensi .

5. Evaluasi
Adapun hasil yang diharapkan yaitu (Brunner & Suddart, 2001):

1. Menunjukan status neurologic utuh, tanda vital dan pola pernapasan


normal.
a. Pasien sadar dan berorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
b. Memperlihatkan pola bicara normal dan proses berpikir utuh
c. Memperlihatkan kekuatan otot yang sama dan kuat pada gerakan
dan sensasi keempat ekstremitas.
d. Memperlihatkan reflex tendon yang dalam dan respon pupil tetap
normal
2. Menunjukan persepsi sensori normal
a. Menyatakan rasional kewaspadaan subarachnoid
b. Memperlihatkan proses berpikir yang bersih
3. Memperlihatkan penurunan tingkat ansietas
a. Kegelisahan berkurang
b. Tidak menunjukan indikator fisiologik ansietas (mis. Tanda vital
normal; frekuensi pernapasan normal; tidak ada bicara cepat
atau berlebihan).
4. Bebas dari komplikasi
a. Menunjukan tanda vital normal dan aktivitas neuromuscular
tanpa kejang
b. Mengungkapkan pemahaman tentang kewaspadaan kejang
c. Menunjukan tidak ada vasospasme
d. Menunjukan status mental normal, status motorik dan sensori
normal
e. Tidakada keluhan perubahan penglihatan

23
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Aneurisma intarkranial (serebral) adalah dilatasi dinding arteri serebral
yang berkembang sebagai hasil dari kelemahan dinding arteri. Perdarahan
subarahnoid dari suatu ruptur atau aneurisma otak dapat menyebabkan
terjadinya stroke hemoragik, kerusakan dan kematian otak. Penyebab
anurisme tidak diketahui, walaupun penelitian terus menerus diusahakan
untuk mengerti tentang masalah ini.
Aneurisma intrakranial mungkin karena aterosklerosis, yang
mengakibatkan kerusakan dinding pembuluh darah dengan di lanjutkan
kelemahan pada dinding pembuluh darah, kerusakan kongental, penyakit
vaskuler hipersensitif, trauma kepala , atau pertambahan usia, emboli, dan
infeksi. Arteri serebral yang paling umum mengalami aneurisma adalah
karotid internal , serebral anterior, arteri komunis anterior, dan arteri serebral
tengah.

Adapun gejala yang ditimbulkan dari aneurisme intracranial yaitu

- Sakit kepala
- Kaku kuduk
- Punggung dan tungkai kaki
- Sakit kepala hebat mendadak (dengan rupture)
- Perubahan tingkat kesadaran (dengan rupture).

Bahaya dari Aneurisma yang terbentuk, dapat menyebabkan terjadinya


stroke atau kematian, karena pecahnya Aneurisma tersebut. Orang yang
menderita aneurisma di otak, tidak diperbolehkan berolahraga berat seperti
angkat besi. Bahaya perdarahan otak mudah terjadi dan bisa berakibat fatal.
Aneurisma sering baru diketahui setelah dilakukan foto rontgen angiografi
untuk keperluan.

24
Daftara Pustaka

Hynes T, Anatomy Of The Brain, 2010. Available from URL :


http://www.mayfieldclinic.com/PE-AnatBrain.htm

Kimberley A. J. Billota. 2011. Kapita Selekta Penyakit: dengan Implikasi


Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Robert D.Brown JR. 2008. Screening for brain aneurysm in the familial
intracranial aneurysm study: frequency and predictors of lesion
detection, 108:1132-38. J.Neurosurg, New York.

Rusman Kadri. 2010. Available from URL :


http//www.scribd.com/ANEURISMA-INTRAKRANIAL. Diaakses pada
tanggal 24 Agustus 2017 pukul 15.30 WITA

Smeltzer, Suzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal–Bedah Brunner &


Suddarth Ed.8 Vol.3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Unruptured intracranial aneurysms—risk of rupture and risks of surgical


intervention. International Study of Unruptured Intracranial Aneurysms
Investigators.N Engl J Med. 1998;339:1725–33.

25