Anda di halaman 1dari 11

1.

M4 ttg Diagnosis dalam Bidang Orthodonti


2. M4 ttg Rencana Perawatan Orthodonti

Rencana Perawatan
Rencana perawatan dilakukan berdasarkan perhitungan diskrepansi total. Perhitungan diskrepansi
total meliputi perhitungan deiskrepansi model, segmental, path of closure, kurva spee, dan kehilangan
penjangkaran. Tujuan rencana perawatan untuk mendisain strategi operator dengan bijaksana dan hati-
hati dalam menggunakan keputusannya yang digunakan untuk menyelesaikan problem, dengan
memaksimalkan manfaat bagi pasien dan meminimalkan bahaya dan resikonya.
Untuk menentukan rencana perawatan, maka hasil diagnosis disusun dalam daftar yang lengkap
mengenai masalah yang dialami pada rongga mulut pasien. Langkah pertama dalam merencanakan
perawatan ortodontik adalah memisahkan problem patologi dari problem ortodontik (perkembangan),
maka proses rencana perawatan dapat diatur sebagai berikut.
1. problem ortodontik dijadikan prioritas
2. catat kemungkinan perawatan dengan lengkap
3. evaluasi kemungkinan solusinya, pertimbangkan factor-faktor yang berpengaruh
4. jelaskan konsep rencana perawatan dengan pasien dan keluarganya
5. buat rencana perawatan secara detail dan tahap-tahapnya
Dalam melakukan perawatan ortodontik, prinsip utamanya adalah pasien tidak harus dalam
keadaan kesehatan yang sempurna untuk mendapatkan perawatan ortodontik. Namun jika kondisi
pasen disertai dengan adanya suatu kondisi patologis yang menyertai harus dalam pengawasan atau
dihentikan. Sebelum dilakukan perawatan otodntik maka kondisi patologis pasien tersebut harus di
rawat terlebih dahulu. Pada serangkaian perawatan, perawatan ortodontik dapat dilakukan setelah
mengntrol keadaan penyakit sistemik, penyakit peridontal maupun pembuatan restorasi gigi.
Tahap selanjutnya dari rencana perawatan adalah dengan mendaftar kemungkinan-kemungkinan
perawatan yang dapat dilakukan dari tiap masalah yang ada di rongga mulut pasien dimulai dari
prioritas tertinggi. Pada tahap ini tiap problem dipertimbangakn secara individual.
Rencana perawatan yang pertama dilakukan ialah DHE, sebab tak jarang dijumpai penurunan tingkat
oral hygiene pengguna alat ortho setelah pemasangan diakibatkan proses adaptasi dan kemungkinan
kesulitan pembersihan. Kemudian, jika pasien memiliki kebiasaan buruk, dengan catatan kebiasaan ini
dapat menyebabkan maloklusi dan belum terkoreksi, maka kebiasaan buruk ini harus dihilangkan
terlebih dahulu. Setelah itu kemudian dilakukan koreksi maloklusi. Pada akhir perawatan ortho, perlu
dilakukan evaluasi dengan melalui index maloklusi, apakah berkurang atau bertambah setelah
perawatan. Evaluasi juga dapat dilakukan ketika gigi terakhir akan erupsi.
Selain mempertimbangkan faktor-faktor diatas, sebelum melakukan rencana perawatan juga harus
diketahui dasar pertimbangan dalam perawatan orthodontik, antara lain :
 Kesehatan mulut pasien / oral hygine
Sebelum memulai perawatan orthodontik pasien, diupayakan terlebih dahulu kesehatan
mulut pasien, apabila ada karies dan penyakit periodontal harus dilakukan perawatan terlebih
dahulu sebelum melakukan perawatan orthodontik.
 Perencanaan perawatan rahang bawah
Untuk perencanaan perawatan pada rahang bawah terutama di region insisive dilakukan
terlebih dahulu baru kemudia perencanaan perawatan rahang atas disesuaikan dengan rahang
bawah yang sudah dilakukan perawatan.
 Perencanaan perawatan rahang atas
Perencanaan perawatan yang dilakukan pada rahang atas dilakukan untuk mencapai relasi
caninus kelas I. pada akhir perawatan relasi C harus neutroklusi sebab gigi caninus berada pada
sudut mulut yang berfungsi menyangga senyum sehingga apabila gigi caninus tidak mencapai
posisi netroklusi dapat mengurangi estetika.
 Relasi gigi posterior
Pada perawatan ortodontik diupayakan untuk mendapatkan relasi molar pertama permanen
klas I yaitu mesiobukal cusp molar pertama permanen rahang atas berada pada bukal groove
molar pertama permanen rahang bawah. Namun demikian, terdapat sumber mengatakan
bahwasanya relasi molar tidak harus neutroklusi, melainkan kontak stabil meskipun relasi
molarnya berupa distoklusi maupun mesioklusi pada akhir parawatan.
 Penjangkaran
 Masa retensi
Masa retensi digunakan untuk mencegah gigi kembali atau relaps seperti semula sebelum
dilakukan perawatan ortodontik.
Macam-macam perawatan berdasarkan besarnya kekurangan tempat (diskrepansi) yaitu :
1. Ekstraksi
 Dilakukan pencabutan gigi permanen
 Kekurangan tempat lebih dari 8 mm
 Fase geligi permanen
2. Ekstraksi serial
Dilakukan pencabutan yang terencana dan pencabutan gigi sulung (kaninus sulung) untuk
koreksi gigi anterior yang berdesakan atau protrusi dan kemudian dilakukan pencabutan premolar
untuk tempat gigi kaninus permanen. Ekstraksi serial biasanya dilakukan pada kasus DDM
dimana gigi 2 sulung masih ada.
3. Non ekstraksi
 Tidak dilakukan pencabutan gigi permanen
 Kekurangan tempat kurang dari 8 mm
 Fase geligi : sulung, pergantian, permanen
 Untuk mengatasi kekurangan tempat dapat dilakukan perawatan ekspansi, stripping dan
slicing.
 Mempertimbangkan tipe profil wajah dan lebar lengkung
4. Orthodonsi bedah
 Gigi permanen yang berdesakan yang terlalu parah
 Gigi sulung yang mengalami ankylosis
 Gigi kelebihan
 Gigi sulung yang perlu dicabut untuk memberi tempat gigi lain untuk erupsi

Tingkat perawatan orthodontik tergantung pada usia pasien yang akan dirawat, diantaranya :
A. Perawatan pencegahan (preventif)
Ilmu perawatan orthodonti merupakan bagian ilmu kedokteran gigi pencegahan (preventif
dentistry) dan yang mempelajari usaha untuk mencegah terjadinya maloklusi.
B. Perawatan kuratif
Perawatan kuratif merupakan perawatan orthodontik untuk menghilangkan kelainan geligi
yang telah berkembang dan telah menyebabkan keluhan secara estetik dan fungsi yang
melibatkan maloklusi.
C. Perawatan interseptif
Perawatan interseptif merupakan prosedur perawatan orthodontik yang dilakukan pada
maloklusi yang baru atau sedang dalam proses untuk memperbaiki ke arah oklusi normal.
Macam-macam perawatan interseptif yaitu :
 Perawatan diastema anterior
 Perawatan crossbite anterior pada mixed dentition
 Penyesuaian atau koreksi disharmoni oklusal

3. M4 ttg Piranti Orthodonti `

PIRANTI ORTODONSI
Piranti yang digunakan untuk merawat maloklusi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga,
yaitu: piranti lepasan (removable appliance), piranti fungsional (functional appliance) dan piranti cekat
(fixed appliance). 17

2.5.1 Piranti Lepasan (Removable Appliance)


Piranti lepasan adalah piranti yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Beberapa contohnya
seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.4). Komponen utama piranti lepasan adalah: 1) komponen
aktif, 2) komponen pasif, 3) lempeng akrilik, 4) penjangkaran. Komponen aktif terdiri atas pegas, busur
dan sekrup ekspansi. Komponen pasif yang utama adalah cengkeram Adams dengan beberapa
modifikasinya, cengkeram Southend dan busur pendek.

2.5.2 Piranti Fungsional (Functional Appliance)


Piranti fungsional digunakan untuk mengoreksi maloklusi dengan memanfaatkan, menghalangi
atau memodifikasi kekuatan yang dihasilkan oleh otot orofasial, erupsi gigi dan pertumbuhkembangan
dentomaksilofasial. Ada juga yang mengatakan bahwa piranti fungsional dapat berupa piranti lepasan
atau cekat yang menggunakan kekuatan yang berasal dari regangan otot, fasia dan atau jaringan yang lain
untuk mengubah relasi skelet dan gigi. Dengan menggunakan piranti fungsional, diharapkan terjadi
perubahan lingkungan fungsional dalam suatu upaya untuk mempengaruhi dan mengubah relasi rahang
secara permanen. Biasanya piranti fungsional tidak menggunakan pegas sehingga tidak dapat
menggerakkan gigi secara individual.
Piranti ini hanya efektif pada anak yang sedang bertumbuh kembang terutama yang belum
melewati pubertal growth spurt. Kekuatan otot yang digunakan tergantung pada desain piranti fungsional,
tetapi utamanya kekuatan otot yang digunakan menempatkan mandibula ke bawah dan ke depan pada
maloklusi Klas II atau ke bawah dan belakang pada maloklusi Klas III. Penempatan mandibula ke bawah
dan belakang lebih sukar daripada ke bawah dan depan sehingga piranti ini lebih efektif bila digunakan
pada maloklusi Klas II.
Indikasi
Piranti fungsional secara terbatas dapat digunakan pada maloklusi :
- Mandibula yang retrusi pada kelainan skeletal Klas II ringan disertai insisivus bawah yang
retroklinasi atau tegak.
- Tinggi muka yang normal atau sedikit berkurang.
- Mandibula yang protrusi pada kelainan skeletal Klas III ringan
- Tidak ada gigi yang crowded

Maloklusi Klas II dengan insisivus bawah yang proklinasi merupakan kontraindikasi pemakaian
piranti fungsional. Pada maloklusi Klas II skeletal yang parah, piranti fungsional digunakan sebagai
perawatan pendahuluan untuk mengubah relasi rahang pada saat masih ada pertumbuhan (phase one)
kemudian digunakan piranti cekat untuk mengoreksi letak gigi dan kadang-kadang diperlukan ekstraksi
gigi permanen (phase two).

Tipe Piranti Fungsional


1. Removable Tooth-Borne Appliance atau Passive Tooth-Borne
Piranti ini bekerjanya hanya tergantung pada jaringan lunak yang menegang serta
aktivitas otot sehingga menghasilkan efek untuk mengoreksi maloklusi. Termasuk dalam tipe ini
adalah :
a. Aktivator
Disebut juga piranti Andresen, desain aktivator yang asli terdiri atas blok akrilik yang
menutupi lengkung geligi atas dan bawah serta palatal, blok ini longgar karena tidak
mempunyai cengkeram. Aktivator dapat memajukan mandibula beberapa milimeter untuk
mengoreksi maloklusi Klas II dan membuka gigitan kira-kira 3-4 mm.
Piranti ini berpengaruh pada pertumbuhan rahang dan piranti yang pasif ini dapat
menggerakkan gigi anterior secara tipping serta mengontrol erupsi gigi-gigi untuk mengubah
dimensi vertikal. Piranti ini memberi kesempatan gigi posterior bawah tumbuh vertikal
sedangkan gigi posterior atas ditahan oleh lempeng akrilik untuk mengurangi tumpang gigit.
Piranti ini dipakai selama 14-16 jam sehari. Berbagai contoh aktivator seperti terlihat pada
gambar (Gambar 2.5)
b. Bionator
Kadang-kadang disebut piranti Balters sesuai dengan penemunya. Prinsipnya hampir
seperti aktivator tetapi kurang bulky sehingga lebih disukai. Lempeng bagian palatal dibuang
dan masih terdapat sayap lingual untuk menstimulasi mandibula agar diposisikan ke anterior
serta adanya lempeng akrilik di antara gigi-gigi atas dan bawah untuk mengontrol dimensi
vertikalnya. Pemakaian selama 24 jam sehari sangat dianjurkan. Seperti yang terlihat pada
gambar. (Gambar 2.6)

2. Twin Blok Appliance


Piranti ini terdiri atas piranti atas dan bawah yang pada saat pasien beroklusi membentuk
satu kesatuan di bukal, seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.7). Serta mempunyai
lempengan yang berfungsi menempatkan mandibula ke depan pada saat menutup. Twin blok
appliance cocok untuk pasien yang mempunyai tumpang gigit normal atau sedikit berkurang dan
dimungkinkan dipakai selama 24 jam setiap hari bahkan waktu malam tetap bisa dipakai.
Pengurangan jarak gigit dapat terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

3. Removable Tissue-Borne
Satu-satunya piranti fungsional tipe removable tissue-borne adalah functional corrector
atau functional regulator ciptaan Rolf Frankel sehingga piranti ini dikenal sebagai piranti
Frankel. Seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.8). Piranti ini terdiri atas akrilik dengan
kerangka dari kawat, didesain untuk mengurangi gerakan gigi yang tidak diinginkan dan
mengatur otot yang terletak dekat dengan gigi dan menempatkan rahang dalam letak yang
dikehendaki. Sayap akrilik lingual menempatkan mandibula ke depan sedangkan bantalan akrilik
di labial dan sayap akrilik yang lebar di bukal (buccal shield) menahan tekanan dari bibir dan
pipi. Pemakaian piranti Frankel dimulai bertahap 2-3 jam tiap hari pada minggu-minggu pertama,
kemudian dipakai semalaman tiap hari sampai akhirnya selama 24 jam tiap hari kecuali pada saat
makan
Ada empat tipe piranti Frankel :
- FR I untuk mengoreksi maloklusi Klas I dan Klas II Divisi 1
- FR II untuk mengoreksi maloklusi Klas II Divisi 2
- FR III untuk mengoreksi maloklusi Klas III
- FR IV untuk mengoreksi gigitan terbuka anterior

Gambar 2.8 Piranti Frankel

4. Fixed Tooth-Borne Appliance


Tipe ketiga adalah fixed tooth-borne appliance yang mempunyai pengertian bahwa
piranti ini melekat pada gigi. Sebagai contoh adalah Herbst Appliance dan Jasper jumper. Herbst
appliance pada awalnya merupakan piranti lepasan kemudian pada perkembangannya menjadi
piranti cekat yang terdiri atas splint yang disemen ke lengkung gigi atas dan bawah, biasanya
molar pertama atas dan premolar pertama bawah, dihubungkan oleh lengan telescopic pin and
tube yang menentukan seberapa banyak mandibula dimajukan. Beberapa contoh herbst appliance
seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.9). Oleh karena merupakan piranti cekat, maka
herbst appliance dipakai terus-menerus sehingga keberhasilan untuk mengoreksi maloklusi lebih
tinggi. Kekurangan piranti ini ialah dapat menyebabkan insisivus bawah terdorong ke labial.
Herbst appliance yang baru tidak mengganggu pergerakan rahang bawah ke lateral dan dibuat
dari bahan yang lebih kuat sehingga tidak mudah patah.
WAKTU PERAWATAN
Lama Perawatan
Perawatan ortodontik pada periode geligi campuran ini berlangsung sekitar satu tahun, biasa
disebut dengan intial phase. Kemudian diikuti oleh observasi sampai semua gigi erupsi. Keuntungan
perawatan ini adalah terjadi peningkatan/penambahan ruangan dengan menggunakan molar sebagai
penjangkar. Selain itu, dapat juga digunakan transpalatal arch pada maksila, dapat juga digunakan
lingual arch pada mandibula setelah gigi tetap erupsi penuh sampai dengan oklusi (kecuali molar
ketiga). Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan piranti cekat untuk align dan untuk merapikan gigi
hingga oklusi menjadi normal. Terapi final phase dapat dimulai dengan pemasangan transpalatal arch,
dipasang kurang lebih 6 bulan dipasang sebelum semua gigi premolar erupsi sempurna. Biasanya
perawatan orthodontik akan terus berlangsung kira-kira 12-18 bulan dengan piranti cekat

4. M4 ttg Etiologi Maloklusi

Etiologi maloklusi dapat digolongkan menjadi dua yaitu primary etiologi site dan etiologi
pendukung lainya.
A. Primary etiologi site terbagi menjadi :
1. System Neuromuskular
Beberapa pola kontraksi neuromuscular beradaptsi terhadap ketidakseimbangan skeletal
/ malposisi gigi. Pola- pola kontraksi yang tidak seimbang adalah bagian penting dari hamper
semua maloklusi.
2. Tulang
Karena tulang muka, terutama maxilla dan mandibula berfungsi sebagai dasar untuk
dental arch, kesalahan dalam marfologi / pertumbuhannya dapat merubah hubungan dan
fungsi oklusi. Sebagian besar dari maloklusi ynag sangat serius adalah membantu dalam
identifikasi dishamorni osseus.
3. Gigi
Gigi adalah tempat utama dalam etiologi dari kesalahan bentuk dentofacial dalam
berbagai macam cara. Variasi dalam ukuran, bentuk, jumlah dan posisis gigi semua dapat
menyebabkan maloklusi. Hal yang sering dilupakan adalah kemungkinan bahwa malposisisi
dapat menyebabkan malfungsi, secara tidak langsung malfungsi merubah pertumbuhan tulang.
Yang sering bermasalah adalah gigi yang terlalu besar.
4. Jaringan Lunak (tidak termasuk otot)
Peran dari jaringan lunak, selain neuromuskulat dalam etiologi maloklusi, dapat dilihat
dengan jelas seperti tempat- tempat yang didiskusi sebelumnya. Tetapi, maloklusi dapat
disebabkan oleh penyakit periodontal / kehilangan perlekatan dan berbagai macam lesi
jaringan lunak termasuk struktur TMJ.
B. Etiologi Pendukung antara lain :
1. Herediter
Herediter telah lama dikenal sebagai penyebab maloklusi. Kesalahan asal genetic dapat
menyebabkan penampilan gigi sebelum lahir / mereka tidak dapat dilihat sampai 6 tahun
setelah kelahiran (contoh : pola erupsi gigi). Peran herediter dalam pertumbuhan craniofacial
dan etiologi kesalahan bentuk dentalfacial telah menjadii banyak subjek penelitian. Genetic
gigi adalah kesamaan dalam bentuk keluaraga sangat sering terjadi tetapi jenis transmisi /
tempat aksi genetiknya tidak diketahui kecuali pada beberapa kasus ( contoh : absennya gigi /
penampilan beberapa syndrome craniofacial).
2. Perkembangan abnormal yang tidak diketahui penyebabnya
Misalnya : deferensiasi yang penting pada perkembangan embrio. Contoh : facial cleft.
3. Trauma
Baik trauma prenatal atau setelah kelahiran dapat menyebabkan kerusakan atau kesalahan
bentuk dentofacial.
a. Prenatal trauma / injuri semasa kelahiran. Contohnya:
1. Hipoplasia dari mandibula yang disebabkan karena tekanan intrauterine (kandungan)
atau trauma selama proses kelahiran.
2. Asymetri. Disebabkan karena lutut atau kaki menekan muka sehingga menyebabkan
ketidaksimetrian pertumbuhan muka.
b. Prostnatal trauma
1. Retak tulang rahang dan gigi
2. Kebiasaan dapat menyebabkan mikrotrauma dalam masa yang lama.
4. Agen Fisik
a. Ekstraksi yang terlalu awal dari gigi sulung.
b. Makanan. Makanan yang dapat menyebabkan stimulasi otot yang bekerja lebih dan
peningkatan fungsi gigi. Jenis makanan seperti ini menimbulkan karies yang lebih
sedikit.
5. Kebiasaan buruk
Terdapat bermacam-macam kebiasaan buruk dalam mulut anak, antara lain
bernafas melalui mulut, menjulurkan lidah, menggigit jari, mengisap jari, menghisap
bibir. Kebiasaanburuk pada seseorang bisa berdiri sendiri-sendiri atau terjadi bersama-
sama dengan kebiasaanburuk lainnya. Artinya pada pasien yang sama dapat
terjadi beberapa kebiasaan buruk (Yuniasih E.N. dan Soenawan H., 2006)
Klasifikasi kebiasaan buruk oral pada anak menurut V i k e n S . ( 1 9 7 1 ) s e b a g a i berikut :
1. Bernafas melalui mulut (mouth breathing)Bernafas melalui mulut dapat diklasifikasikan
menjadi tiga sebagai berikut :
a. Obstruktif : Anak yang mempunyai gangguan dalam menghirup udara
melaluisaluran hidung (nasal passage).
b. Habitual : D i s e b a b k a n k a r e n a k e b i a s a a n m e s k i p u n g a n g g u a n y a n g
a b n o r m a l sudah dihilangkan.
c. Anatomical : Bila anatomi bibir atas-bawah pendek sehingga tidak dapat mengatup
sempurna tanpa ada usaha untuk menutupnya.
Anak yang mouth breathing biasanya berwajah sempit, gigi anterior atas maju ke arah
labial, dan bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang insisif atas. Karena
kurangnya stimulasi muscular normal dari lidah dan karena adanyat e k a n a n
berlebih pada caninus dan daerah molar oleh otot orbicularis oris dan
bucinator, maka segmen bukal dari maksila berkontraksi mengakibatkan maksila
berbentuk V dan palatal tinggi. Sehingga menurut beberapa pendapat mouthbreathers
cenderung memberikan klinis memilki wajah yang panjang (long faced) dan
sempit.Bila hal ini dilakukan terus menerus dapat mengakibatkan kelainan berupagigi depan
rahang atas baas mrongos (protusif) dan gigitan depan menjadi terbuka (open bite).
2. Kebiasaan menghisap ibu jari
Menghisap ibu jari merupakan kebiasaan yang umum pada anak. Kebiasaan
menghisap ibu jari yang berkepanjangan dapat menyebabkan maloklusi. Menurut
Profit (2000), karakteristik maloklusi berhubungan dengan adanya kombinasi tekanan
langsung dari ibu jari dan perubahan pola tekanan pipi dan bibir. Tekanan pipi
pada sudut mulut merupakan tekanan yang tertinggi, Tekanan otot pipi terhadap
gigi-gigi posterior rahang atas ini meningkat akibat kontraksi otot buccinators selama
mengisap pada saat yang sama.sehingga memberikan risiko lengkung maksilamenjadi
berbentuk V.
Mengisap ibu jari bukanlah suatu penyebab atau gejala dari masalah fisik atau
psikologis (Dionne, 2001). Beberapa kasus menunjukkan kebiasaan mengisap ibu jari dapat
menjadi masalah karena ada kemungkinan terjadinya misalignment gigi permanen jika
seorang anak yang berusia lima atau enam tahun masih melakukan kebiasaan mengisap ibu
jari (Stuani, et al, 2006). Oral habit ini dapat menyebabkan perubahan bidang incisal gigi seri,
yaitu retroklinasi pada gigi incisivus rahang bawah dan proklinasi pada gigi incisivus rahang
sehingga meningkatkan overjet dan menciptakan crossbite bukal unilateral yang berhubungan
dengan pergeseran mandibula. Hal tersebut juga dapat mengubah rasio antara bagian atas dan
bawah ketinggian wajah anterior. Akibatnya posisi gigi depan jauh lebih maju dari gigi bawah,
dan terjadi open bite (Millett and Welbury, 2005; Dionne, 2001). Sebuah data penelitian
menunjukkan bahwa aktivitas mengisap benda non-nutritif, dibandingkan dengan benda
nutritif, sejak bulan pertama kelahiran memiliki faktor resiko yang lebih tinggi dalam
mengakibatkan penyimpangan perkembangan oklusi dan open bite pada gigi desidui
(Viggiano, et al, 2004).
3. Kebiasaan mendorong lidah (tongue thr usting)
Menurut Straub (1960), kebiasaan mendorong lidah dapat disebabkan karena
bottle feeding yang tidak tepat dan biasanya disertai dengan kebiasaan buruk
lain seperti kebiasaan menghisap ibu jari, menggigit bibir, dan menggigit kuku. Jika
kebiasaan initerus berlanjut akan menyebabkan open bite dan incomplete coverbite
serta ujung lidah terposisi lebih anterior dari normal.
4. Kebiasaan menggigit benda
Terdiri dari :
a. Menggigit kuku
Menggigit kuku (nail biting)M e r u p a k a n k e b i a s a a n b u r u k o r a l d i m a n a
posisi gigi insisif atas dan bawah mengalami penekanan gigi pada
b a g i a n k u k u t e r s e b u t . M e u r u t F i n n ( 1 9 7 1 ) , kebiasaan menggigit kuku
adalah kebiasaan normal pada anak yang sebelumnya memiliki kebiasaan
menghisap. Selain itu menurut Alexander dan Lane (1990), etiologi menggigit
kuku disebabkan karena stres, imitasi terhadap anggota keluarga, herediter,
transfer dari kebiasaan menghisap jari, dan kuku jari yang tidak rapi. Pada
beberapa kasus kebiasaan ini dapat menyebabkan atrisi pada gigi anterior bawah.
b. Menggigit jari
Kebiasaan menggigit jari pada anak -anak timbul pada usia 1-2
t a h u n . J i k a dibiarkan terus menerus sampai usia 5 tahun atau lebih dapat
berakibat kelaina npada posisi gigi. Jari akan menekan gigi rahang atas k e
depan dan gigi rahang bawah ke dalam, sehingga gigi tampak merongos (protrusif).