Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA SYOK PADA ANAK

Pembimbing:
dr. Andy Setiawan, Sp. A

Disusun oleh:
Jessica Wulansari 2016 061 012
Angelina Clara Alverina 2017 060 10061
Isabella Josephine 2017 060 1093

ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA
PERIODE 9 JULI – 15 SEPTEMBER 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Syok merupakan salah satu keadaan gawat darurat pada anak yang terjadi akibat gagalnya
sirkulasi dalam memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke jaringan dan organ, keadaan
tersebut diakibatkan oleh gangguan hemodinamik. Gangguan hemodinamik tersebut berupa
penurunan resistensi vaskuler sistemik, penurunan aliran darah balik, penurunan pengisian
ventrikel, dan rendahnya curah jantung. Berdasarkan penyebab dan mekanisme syok,
dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu syok hipovolemik, distributif, kardiogenik dan
obstruktif.1
Penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada anak. Sekitar 10 juta anak di
dunia meninggal setiap tahunnya akibat syok, pada kelompok anak usia dibawah 5 tahun
menunjukkan angka lebih tinggi di negara berkembang, yaitu sekitar 98%.2
Di Amerika, sekitar 37% pasien anak di departemen kegawatdaruratan pediatri dalam
keadaan syok. Angka kematian lebih tinggi pada pasien dengan syok (11.4%) dibandingkan
tidak dengan syok (2.6%). Angka kejadian syok juga dibedakan menjadi syok sepsis 57%,
syok hipovolemi 24%, syok distributif 14%, dan syok kardiogenik 5%.1
Syok hipovolemi merupakan syok yang paling sering terjadi pada anak-anak. Penyebab
syok hipovolemi yang paling sering adalah diare yang mengakibatkan penderita mengalami
dehidrasi. Di Amerika, syok hipovolemi masih terjadi pada sekitar 10% pasien anak di
bawah usia lima tahun yang dirawat di rumah sakit.1
Sepsis merupakan penyebab utama pasien anak dirawat di dalam ruang rawat Pediatric
Intensive Care Unit (PICU) masalah kesehatan yang diakibatkan oleh infeksi. Sebanyak
48% pasien di ruang rawat PICU mengalami syok sepsis. Penyebab terjadinya syok sepsis
adalah pneumonia (18%), diare (15%), malaria (8%).3

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gejala klinis dan penatalaksanaan syok pada anak
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi syok
b. Untuk mengetahui patofisiologi syok
c. Untuk mengetahui klasifikasi syok
d. Untuk mengetahui tatalaksana syok

1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai gejala klinis syok
1.3.2. Bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai syok, serta melakukan
pengelolaan yang tepat dan komprehensif
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi syok


Syok merupakan keadaan dimana kegagalan sirkulasi untuk membawa oksigen dan
nutrisi ke dalam jaringan dan organ tubuh sehingga terjadi metabolism anaerobic yang
membuat terakumulasinya asam laktat di jaringan.

2.2 Patofisiologi
Oksigen dihantarkan ke jaringan yang ditentukan oleh cardiac output yang tergantung
oleh laju jantung dan stroke volume. Stroke volume berdasarkan preload, afterload,
kontraktilitas, dan lusitropi. Pada pasien anak, dibandingkan dengan pasien dewasa, cardiac
output lebih dipengaruhi oleh laju nadi dibandingkan dengan stroke volume karena
imaturitas miokardium. 1
Keadaan awal yang menginduksi terjadinya syok adalah kurangnya hantaran oksigen dan
ke organ-organ dan jaringan. Terdapat mekanisme kompensasi untuk menjaga kestabilan
tekanan darah dengan cara meningkatkan cardiac output dan resistensi vaskuler (SVR).
Tubuh merespon dengan mengoptimalkan pendistribusian oksigen ke organ vital, seperti
otak, jantung, dan ginjal. Respon tubuh ini disebut compensated shock, saat tubuh menjaga
kestabilan tekanan darah. Jika dalam keadaan ini tidak segera dilakukan penanganan, maka
dapat masuk ke dalam decompensated shock, terjadi kerusakan jaringan dan penurunan
tekanan darah (hipotensi), hingga kematian.1
Pada awal fase syok, mekanisme kompensasi dilakukan oleh tubuh untuk menjaga
kestabilan tekanan darah dan untuk menjaga perfusi jaringan. Kompensasi kardiovaskular
terdapat efek peningkatan laju nadi, stroke volume, dan tonus otot. Kompensasi respirasi
dengan cara eliminasi karbondioksia untuk merespon terjadinya metabolic asidosis dan
meningkatan produksi karbondioksida pada perfusi jaringan yang buruk. Kompensasi ginjal
dengan cara mengekskresikan ion hydrogen dan retensi ion bikarbonat untuk menjaga
kestabilan pH tubuh. Volume intravascular dijaga kestabilannya dengan cara regulasi
sodium melalui renin-angiotensin-aldosteron, sintesis dan ekskresi katekolamin, serta
hormone antidiuretik.2
Syok hipovolemik awalnya ditandai dengan adanya kehilangan cairan dan penurunan
preload jantung, terjadilah takikardia dan peningkatan SVR pada fase awal kompensasi
untuk menjaga kestabilan cardiac output dan tekanan darah. Jika tidak diberikan pengganti
cairan, akan terjadi hipotensi, dan diikuti iskemia jaringan.2,4
Syok distributif, diawali dengan adanya fase vasodilatasi abnormal dan penurunan SVR.
Vasodilatasai dapat diakibatkan oleh keadaan seperti, sepsis, hipoksia, reaksi anafilaktik,
spinal cord injury. Penurunan dari SVR bersamaan dengan terjadinya penurunan aliran
darah ke organ-organ vital dan terjadi peningkatan kompensasi pada cardiac output. Pada
syok distributif terjadi penurunan pada preload serta afterload.
Syok kardiogenik dapat terjadi pada pasien myocarditis, cardiomyopathy, congenital
heart disease atau aritmia. Pada keadaan ini, kontraktilitas otot jantung terganggu, sehingga
membuat terjadinya disfungsi sistolik dan atau diastolik.2
Syok sepsis merupakan kombinasi dari syok distributif, hipovolemi, dan kardiogenik.
Hipovolemi terjadi dari kehilangan cairan melalui capillary leak. Syok kardiogenik berasal
dari efek sepsis yang menyebabkan myocardial depressant. Syok distributif berasal dari
penurunan SVR. 2

2.3 Klasifikasi Syok


Syok dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu syok hipovolemik, syok distributive, syok
kardiogenik dan syok obstruktif.
2.3.1. Syok Hipovolemik
Hipovolemik merupakan penyebab syok tersering pada anak-anak. Kehilangan
cairan akibat diare merupakan penyebab utama terjadinya syok hipovolemik yang
menjadi penyebab utama kematian anak-anak di dunia. Kehilangan volume cairan
yang menyebabkan syok hipovolemik dapat disebabkan oleh diare, muntah,
perdarahan (interna dan eksterna), asupan cairan yang tidak adekuat, diuresis osmotik
(DKA), perpindahan cairan transelular (third space losses), luka bakar.
Syok hipovolemik merupakan hasil dari defisiensi absolut volume darah
intravascular yang ditandai dengan penurunan cairan intravaskular dan ekstravaskular.
Untuk mengatasinya, dibutuhkan bolus cairan yang melebihi estimasi volume deficit
intravaskular untuk resusitasi cairan.
Takipnea seringkali muncul pada syok hipovolemik sebagai kompensasi respirasi
untuk menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh. Alkalosis respiratorik juga
terjadi akibat hiperventilasi pada syok hipovolemik sebagai kompensasi dari asidosis
metabolik.5
2.3.2. Syok Distributif
Syok distributif ditandai dengan distribusi darah yang tidak adekuat sehingga
menyebabkan perfusi organ dan jaringan terganggu. Bentuk syok distributif antara
lain; syok sepsis, syok anafilaktik dan syok neurogenic (cedera kepala, cedera spinal).
Syok distributif yang diakibatkan oleh sepsis ditandai dengan penurunan atau
peningkatan resistensi vascular sistemik yang menyebabkan gangguan distribusi aliran
darah. Vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan darah berkumpul di system vena
dan menyebabkan hypovolemia relatif. Syok sepsis juga menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler, sehingga terjadi kehilangan plasma dari celah vaskular. Hal ini
menyebabkan kondisi hypovolemia semakin parah. Kontraktilitas miokardial juga
dapat menurun pada syok sepsis.
Pada syok anafilaktik, terjadi vasodilatasi arteri dan vena dan peningkatan
permeabilitas kapiler yang terjadi bersamaan dengan vasokonstriksi pulmoner yang
menurunkan curah jantung. Penurunan curah jantung disebabkan oleh adanya
hypovolemia relative dan meningkatkan afterload ventrikel kanan.
Syok neurogenik ditandai dengan hilangnya tonus vaskular yang diakibatkan oleh
cedera servikal bagian atas. Kehilangan tonus vaskular menyebabkan vasodilatasi
yang berlebihan sehingga terjadi hipotensi. Pada umumnya, system saraf simpatid
akan meningkatkan laju jantung sebagai respon dari hipotemsi. Anak-anak dengan
syok neurogenik biasanya tidak mampu untuk mengkompensasi penurunan darah
dengan meningkatkan laju jantung. Akibatnya, laju jantung dan aliran darah menurun
secara drastis.5
2.3.3. Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik terjadi akibat perfusi jaringan yang tidak adekuat karena
disfungsi miokard. Penyebab umum dari syok kardiogenik adalah; penyakit jantung
kongenital, miokarditis, kardiomiopati, aritmia, sepsis, keracunan, cedera miokard
(trauma).5
2.3.4. Syok Obstruktif
Pada syok obstruktif, terjadi gangguan curah jantung karena adanya obstruksi pada
aliran darah. Penyebab syok obstruktif antara lain yaitu cardiac tamponade, tension
pneumothorax, emboli paru massif.
Adanya obstruksi aliran darah menyebabkan perfusi jaringan tidak adekuat, dan
sebagai kompensasi akna terjadi peningkatan resistensi vaskular sistemik. Manifestasi
awal dari syok obstruktif adalah adanya kongesti vena pulmoner dengan hipovolemia.
Lama-kelamaan akan terjadi juga peningkatan usaha napas, sianosis dan gejala
kongesti vaskuler akan semakin jelas.5

2.4. Manifestasi Klinis6,7


Manifestasi yang pertama kali muncul sebagai kompensasi syok adalah :
 Takikardia
 Ujung ekstremitas dingin dan pucat
 CRT > detik
 Nadi perifer melemah
 Tekanan darah normal
Apabila terjadi kegagalan kompensasi, maka akan muncul gejala perfusi organ yang tidak
adekuat seperti :
 Penurunan kesadaran
 Penurunan urine output
 Asidosis metabolic
 Takipnea
 Denyut jantung melemah

Manifestasi Hipovolemik Distributif Kardiogenik Obstruktif


Klinis
Penyebab Muntah, diare, Sepsis, cedera Penyakit jantung Cardiac tamponade,
perdarahan, kepala, cedera kongenital, tension
DKA, spinal, keracunan, pneumothorax, defek
kebocoran anafilaktik miokarditis, jantung kongenital,
cairan dari sel kardiomiopati, emboli pulmoner
ke jaringan, luka aritmia
bakar,
penurunan
asupan cairan
Preload Menurun Normal atau Variatif Variatif
menurun
Kontraktilitas Normal atau Normal atau Menurun Normal
meningkat menurun
Afterload Meningkat Variatif Meningkat Meningkat
Patensi Jalan Jalan napas terbuka dan dapat dipertahankan pada stadium awal, tidak dapat
Napas dipertahankan lagi apabila syok berlanjut.
Laju dan Peningkatan laju Peningkatan laju Peningkatan usaha Peningkatan laju dan
Usaha Napas tanpa mungkin disertai napas dengan retraksi usaha napas
peningkatan peningkatan dan napas cuping
usaha napas usaha napas hidung
Suara Napas Normal Mungkin Ronki dan suara Ronki dan suara
terdapat ronki mendengkur/merintih mendengkur/merintih
(grunting) (grunting), suara
napas mungkin
berkurang atau
menghilang pada
tension
pneumothorax
TD sistolik Mungkin normal pada syok terkompensasi tetapi apabila syok berlanjut akan terjadi
syok hipotensif
Tekanan Sempit Variatif Sempit Sempit
Nadi
(Perbedaan
antara Sistol
dan Diastol)
Laju Jantung Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat disertai
muffled heart sound
Nadi Perifer Lemah Lemah Lemah atau Lemah
menghilang, distensi
vena jugular
Capillary Melambat Variatif Melambat Melambat
Refill
Warna Kulit Pucat, lembab, Hangat, Pucat, ekstremitas Pucat, dingin,
dan Suhu dingin kemerahan, dingin mungkin sianosis
pucat. Pada syok pada emboli paru
sepsis mungkin
muncul ptekiae
atau purpura,
bengkak
kemerahan pada
syok anafilaktik
Urin Output Menurun
Kesadaran Iritabel dan gelisah. Penurunan kesadaran terjadi pada kondisi lanjut dan
merupakan tanda bahaya
Suhu Inti Variatif
DAFTAR PUSTAKA

1. Mendelson J. Emergency Department Management of Pediatric Shock. Emerg Med Clin


North Am. 2018 May;36(2):427–40.

2. Turner DA, Cheifetz IM. Shock. In: Nelson Textbook of Pediatrics [Internet]. 20th ed.
Philadelphia, PA: Elsevier; 2016. p. 516–528.e1. Available from:
https://www.clinicalkey.com/#!/content/book/3-s2.0-
B9781455775668000703?scrollTo=%23hl0001318

3. Jaramillo-Bustamante JC, Marín-Agudelo A, Fernández-Laverde M. Epidemiology of sepsis


in pediatric intensive care units: first Colombian multicenter study. Pediatr Crit Care Med.
2012 Sep;13(5):501–8.

4. Michael J. Hobson, Ranjit S. Chima. Pediatric Hypovolemic Shock. Open Pediatr Med J.
2013;7.

5. Chameides L, Ralston M. Pediatric advanced life support. Dallas, TX: American Heart
Association; 2011.

6. PALS Provider Manual eBook - AHA [Internet]. Ebooks.heart.org. 2018 [cited 15 July
2018]. Available from: https://ebooks.heart.org/product/pediatric-advanced-life-support-pals-
provider-manual-ebook50051780

7. Kleinman M, Chameides L, Schexnayder S, Samson R, Hazinski M, Atkins D et al.


Part 14: Pediatric Advanced Life Support: 2010 American Heart Association
Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.
Circulation. 2010;122(18_suppl_3):S876-S908.