Anda di halaman 1dari 40

Presentasi Kasus

KEHAMILAN DENGAN MIOMA UTERI

Universitas Andalas

Oleh:

dr . Rimbun Wahyu Gumilar

Peserta PPDS

Pembimbing :

Dr. Hj. Desmiwarti, Sp.OG (K)

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNAND
RSUP Dr. M Djamil Padang
2018

i
DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... iii


DAFTAR SINGKATAN ..........................................................................................................iv
BAB I: PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
I.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1
II. 2 Tujuan ..................................................................................................................... 2
BAB II: LAPORAN KASUS..................................................................................................... 3
III. 1 Identitas Pasien...................................................................................................... 3
III.2 ANAMNESIS ........................................................................................................ 3
III.3 PEMERIKSAAN FISIK ........................................................................................ 5
III.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG ........................................................................... 7
III.5 DIAGNOSIS ........................................................................................................ 10
III.6 TATALAKSANA ................................................................................................ 11
III.7 FOLLOW UP ....................................................................................................... 11
BAB III: ANALISIS KASUS .................................................................................................. 14
BAB IV: TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 15
IV.1 DEFINISI ............................................................................................................. 15
IV. 2 KLASIFIKASI MIOMA UTERI ........................................................................ 17
IV. 3 EPIDEMIOLOGI .............................................................................................. 19
IV.4 ETIOLOGI ......................................................................................................... 19
IV.5 FAKTOR RISIKO ............................................................................................. 20
IV. 6 PATOGENESIS ................................................................................................. 22
IV. 7 MANIFESTASI KLINIS MIOMA UTERI SECARA UMUM ........................ 23
IV. 8 HUBUNGAN KEHAMILAN DENGAN MIOMA UTERI............................ 25
IV. 9 DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG .................................... 27
IV. 10 PENATALAKSANAAN ............................................................................... 28
IV.10 PROGNOSIS .................................................................................................... 32
BAB V: DISKUSI.................................................................................................................... 33
BAB VI: KESIMPULAN ........................................................................................................ 35
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 36

ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Mioma uteri pada submukosa, intramural, dan subserosa ………………… 17

Gambar 4.2 Mioma uteri subserosa besar……………………………………………….. 18

iii
DAFTAR SINGKATAN
AC : Abdominal Circumference
ACOG : American College of Obstetricans and Gynecologists
ANC : Antenatal care
APTT : Activated partial thromboplastin time
ASRM : American Society for Reproductive Medicine
BMI : Body Mass Index
BPD : Biparietal Diameter
CISH : classic intrafascial serrated edged macromorcellated hysterectomy
CT : Computed Tomography
CTG : Cardiotocography
DJJ : Detak Jantung Janin
DM : Diabetes Mellitus
EFW : Estimation Fetal Weight
FL : Femur length
GnRH : Gonadotropin releasing hormone
JVP : Jugular Venous Pressure
KGB : Kelenjar Getah Bening
LAVH : Laparoscopically assisted vaginal hysterectomy
MRI : Magnetic Resonance Imaging
PT : Prothrombin time
SCTPP : Sectio caesarea transperitoneal profunda
SPD : Single deepest pocket
STAH : Subtotal abdominal hysterectomy
TAH : Total Abdominal hysterectomy
TBA : Taksiran Berat Anak
TFU : Tinggi Fundus Uteri
USG : Ultrasonography

iv
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Mioma adalah suatu tumor jinak pada uterus yang berasal dari otot uterus atau jaringan

ikat. Biasa disebut mioma atau myom atau fibroid. Tumor ini letaknya pada alat reproduksi

wanita. Jumlah penderita belum diketahui secara akurat karena banyak yang tidak merasakan

keluhan sehingga tidak segera memeriksakannya ke dokter, namun diperkirakan sekitar 20-

30% terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun. Asal mulanya penyakit mioma uteri berasal

dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan

rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi

dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya sehingga mioma uteri ini

sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia reproduksi) dan

biasanya berkurang ukurannya sesudah menopause (mengecil pada pascamenopause).

Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun bisa juga mencapai 5 kilogram

atau lebih.(Gibbs, 2010; Edmonds, 2012)

Tidak sedikit kehamilan yang disertai dengan mioma uteri. Mioma dapat mengganggu

kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir,

kelemahan pada saat kontraksi rahim, pendarahan yang banyak setelah melahirkan dan

gangguan pelepasan plasenta, bahkan bisa menyebabkan keguguran.(Gibbs, 2010)

Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak memperparah mioma uteri. Saat hamil,

mioma uteri cenderung membesar, dan sering juga terjadi perubahan dari tumor yang

menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga menimbulkan nyeri. Selain itu, selama

kehamilan, tangkai tumor bisa terputar yang menyebabkan nyeri.(Baumgarten, 2005)

1
II. 2 Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui dan memahami mekanisme terjadinya mioma uteri serta mengetahui
penatalaksanaan gejala dan keluhan yang timbul pada wanita dengan dengan mioma
uteri pada kehamilan

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan tentang mioma uteri pada khemilan pada kasus
b. Mengetahui terapi pada pasien dengan keluhan dan gejala mioma uteri pada
kehamilan

2
BAB II
LAPORAN KASUS

III. 1 Identitas Pasien


− Nama : Ny. X

− Usia : 26 tahun

− No RM :

− Pekerjaan : IRT

− Pendidikan : SMA

− Tanggal Pemeriksaan : 26 Juni 2018

Identitas Suami :

− Nama : Tn. Y

− Usia : 27 tahun

− Pekerjaan : Pengusaha

− Pendidikan : S1

III.2 ANAMNESIS
Keluhan Utama:

Seorang pasien perempuan berusia 26 tahun dirawat di bangsal kebidanan rujukan

dari Poliklinik Fetomaternal RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 26 Juni 2018 pukul

14.00 dengan diagnosis G1P0A0H0 gravid preterm 39-40 minggu

3
Riwayat Penyakit Sekarang:

• Awalnya pada Juli 2017, pasien merasakan perutnya membesar, kemudian pasien

datang ke Sp.OG dan didiagnosis dengan mioma uteri. Pasien dijadwalkan untuk

operasi pada Oktober 2017. Namun 2 hari sebelum operasi, pasien diketahui hamil 8

minggu.

• Nyeri pinggang menjalar ke ari – ari (-)

• Keluar lendir campur darah dari kemaluan (-)

• Keluar air – air yang banyak dari kemaluan (-)

• Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-)

• Sudah tidak haid sejak 9 bulan yang lalu

• HPHT: 27-9-2017 TP: 4-7-2018

• Gerak janin dirasakan sejak 4 bulan yang lalu

• RHM : mual (-), muntah (-), perdarahan (-)

• RHT: mual (-), muntah (-), perdarahn (-)

• ANC: KONTROL Sp.OG pada usia kehamilan 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 bulan

• Riwayat menstruasi: menarche usia 13 tahun, siklus teratur setiap 28 hari, lamanya 5-

7 hari, 5-7 kali ganti duk/hari, nyeri (-)

Riwayat Penyakit Dahulu:

• Tidak pernah menderita penyakit jantung, hati, ginjal, DM, dan riwayat alergi obat

4
Riwayat Penyakit Keluarga:

• Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular, atau

kejiwaan

Riwayat Perkawinan: 1 x : tahun 2017

Riwayat Kehamilan/Abortus/Persalinan: 1/0/0

1. Sekarang

• Riwayat Kontrasepsi : (-)

• Riwayat Pendidikan : SMA

• Riwayat Kebiasaan : Merokok (-), Alkohol (-), Narkoba (-)

III.3 PEMERIKSAAN FISIK


KU Kes TD Nadi Nafas T .

Sedang CMC 120/80mmHg 88x/i 20x/i 36,7

BB sebelum hamil : 55 Kg

BB sekarang : 68 kg

Tinggi badan : 150 cm

BMI : 23,5 kg/m2 (normoweight)

5
STATUS GENERALIS

• Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

• Leher : JVP 5-2 cmH2O, tidak teraba pembesaran KGB

• Thorak : Cor/Pulmo dalam batas normal

• Abdomen : Status Obstetrikus

• Genitalia : Status Obstetrikus

• Ekstremitas : edema -/-, Refleks Fisiologis +/+, Refleks Patologis -/-

STATUS OBSTETRIKUS

Abdomen

Inspeksi : Perut tampak membuncit sesuai kehamilan aterm, striae gravidarum (+),

hiperpigmentasi line mediana (+), sikatrik (-)

Palpasi :

LI : TFU teraba 3 jari dibawah prsesus xyphoideus. Teraba massa bulat lunak

LII : Teraba tahanan terbesar di sebelah kiri dan bagian kecil janin di sebelah kanan

LIII : Teraba massa bulat keras, terfiksir

LIV : Konvergen

TFU : 31 cm TBA : 2.945 gram His : (-)

Au : Peristaltic normal.

DJJ : (+) 140-150 x/mnt

Genitalia : I : V/U tenang, PPV (-)

6
III.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG
CTG:

Interpretasi:

• Baseline : 130 bpm

• Variabilitas : 5-15 bpm

• Acceleration : (+)

• Deceleration : (-)

• Gerakan Janin : (+)

• Kesan : Kategori I

7
USG Fetomaternal

8
Interpretasi

• Janin hidup tunggal intrauterine presentasi kepala

• Gerak janin baik

• Biometri :

BPD : 85,3 mm

AC : 359 mm

FL : 70,3 mm

EFW : 3113 gr

SDP : 5 cm

• Plasenta tertanam di korpus anterior grade II

• Tampak massa hyperechoic ukuran 7,16 x 6,19 cm di istmus. Feeding artery (+)

9
• Kesan : gravid aterm 37-38 minggu

Mioma Uteri

Janin hidup tunggal intrauterine, presentasi kepala

Pemeriksaan Laboratorium

PARAMETER Hasil Nilai Rujukan

Hemoglobin 13,7 g/dl 12-14

Leukosit 6.440/mm3 5.000 – 10.000

Hematokrit 45 % 28 – 40

Trombosit 240.000/mm3 150.000 – 400.000

APTT 9,7 detik 10,0 – 13,6 detik

PT 31,7 detik 29,20 – 39,40 detik

Rapid Tes HIV Non Reaktif

HbsAg Non Reaktif

Anti HCV Negatif

III.5 DIAGNOSIS
G1P0A0H0 gravid aterm 39-40 minggu + mioma uteri subserosa

Janin hidup tunggal intrauterine presentasi kepala

10
III.6 TATALAKSANA
• Kontrol KU, TTV, DJJ, His

• Informed consent

• Crossmatch PRC 2 unit

• Konsul perinatologi

• Konsul Anesthesi

• Rencana SCTPP Pada 28/6/18

III.7 FOLLOW UP
28 Juni 2018

Pukul 08.30

Telah dilakukan SCTPP

Lahir bayi perempuan dengan BB 2950 gr, PB 48 cm, A/S 8/9

Plasenta lahir dengan sedikit tarikan, 1 buah, lengkap, ukuran 17 x 14 x 2.5 cm, berat 500 gr.

Panjang tali pusar 50 cm, insersi parasentral.

Perdarahan selama tindakan  300 cc

A/

P1A0H1 Post TPPCS a.i mioma uteri subserosa

Ibu dan bayi dalam perawatan

P/

• Kontrol KU, TTV, PPV, Kontraksi

11
• Cek darah lengkap 6 jam setelah operasi

• IVFD RL 500cc + Drip Oksitosin 10 IU + Methergine 0,2 mg  20 tpm

• Inj. Ceftriaxone 2x1 g IV

• Ketoprofen supp. II (jika perlu)

12
13
BAB III
ANALISIS KASUS

Dari kasus yang telah diajukan, terdapat beberapa permasalahan yang akan
dibahas pada bab selanjutnya, yaitu :
 Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
 Apakah penatalaksanaan sectio sesarea pada pasien ini sudah tepat?
 Bagaimana follow up lebih lanjut mioma uteri pada pasien ini setelah persalinan?

14
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
IV.1 DEFINISI
a. Definisi Kehamilan

Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan

pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm.(Keleher, 2008)

Lama kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari atau 40

minggu, dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut

kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan

postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur. (Keleher, 2008)

Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi atas 3 bagian; masing-masing (1)

kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu), (2) kehamilan triwulan kedua

(antara 12 sampai 28 minggu), dan (3) kehamilan triwulan terakhir (antara 28 sampai 40

minggu)(Keleher, 2008)

a. Tanda dan gejala kehamilan yaitu:(Keleher, 2008)

b. Amenorea (tidak dapat haid). Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil

tidak dapat haid lagi.

c. Nausea (mual) dan emesis (muntah). Mual terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama

kehamilan, kadang-kadang disertai emesis. Sering terjadi pagi hari, tapi tidak selalu.

Keadaan ini lazim disebut morning sickness.

d. Mengidam (mengingini makanan atau minuman tertentu). Mengidam terjadi pada bulan-

bulan pertama akan tetapi akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

e. Mammae menjadi tegang dan membesar. Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh

estrogen dan progesterone yang merangsang duktili dan alveoli di mamma. Glandula

Montgomery tampak lebih jelas.

15
f. Anoreksia (tidak ada nafsu makan). Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama tetapi

setelah itu nafsu makan akan timbul lagi.

g. Sering kencing terjadi karena kandung kemih pada bulan-bulan pertama kehamilan

tertekan oleh uterus yang mulai membesar.

h. Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon

steroid.

i. Pigmentasi kulit terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung, dan dahi

kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai kloasma

gravidarum. Areola mamma juga menjadi lebih hitam karena deposit pigmen yang

berlebihan. Daerah leher menjadi lebih hitam.

j. Epulis, adalah suatu hipertrofi papilla gingivae. Sering terjadi pada triwulan pertama.

k. Varises sering dijumpai pada triwulan terakhir. Didapat pada daerah genitalia eksterna,

fossa poplitea, kaki dan betis.

b. Definisi Mioma Uteri

Mioma Uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat,

disebut juga leiomioma, fibromioma, fibroleiomioma, atau fibroid.(Pangemanan et al, 2010)

Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim.(Lobi, 2017)

Dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa mioma uteri adalah suatu

pertumbuhan jinak dari otot – otot polos, tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikat,

neoplasma yang berasal dari otot uterus yang merupakan jenis tumor uterus yang paling

sering, dapat bersifat tunggal, ganda, dapat mencapai ukuran besar, biasanya mioma uteri

banyak terdapat pada wanita usia reproduksi terutama pada usia 35 tahun.(Gibbs et al, 2012)

16
IV. 2 KLASIFIKASI MIOMA UTERI
Klasifikasi mioma uteri dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena:

1. Lokasi(Keleher, 2008)

Cervical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. Isthmica

(7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal

(91%), merupakan lokasi paling sering terjadi dan seringkali tanpa gejala.

2. Lapisan Uterus(Keleher, 2008, Bajekal, 2000)

Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasinya dibagi menjadi tiga jenis,

yaitu:

Gambar 4.1 Mioma uteri pada submukosa, intramural, dan subserosa.(Gibbs et al, 2012)

a. Mioma Uteri Subserosa

Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula

sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke

arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma

intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritonial sebagai suatu

massa.

17
Perlengketan dengan usus, omentum, atau mensenterium di sekitarnya menyebabkan

sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin

mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor

yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.

Gambar 4.2 Mioma uteri subserosa besar.(Pangemanan et al, 2010)

b. Mioma Uteri Intramural

Mioma uteri pada intramural sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti

kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah.

Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang – kadang sebagai

mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar (jaringan ikat dominan) atau lunak

(jaringan otot rahim dominan).

c. Mioma Uteri Submukosa

Terletak dibawah endometrium. Dapat pula bertangkai maupun tidak. Mioma

bertangkai dapat menonjol melalui kanalis servikalis, dan pada keadaan ini mudah

terjadi torsi atau infeksi. Tumor ini memperluas permukaan ruang rahim.

Dari sudut klinik, mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih penting

dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural

18
walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak

berarti. Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberi

keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit berhenti sehingga sebagai

terapinya dilakukan histerektomi.

IV. 3 EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai

sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak.(Bajekal, 2000)

Sebanyak 20% dari wanita kulit putih dan 50% dari wanita kulit hitam dengan usia di atas 30

tahun mengalami mioma uteri.(Gibbs et al, 2012)

Mioma uteri belum pernah (dilaporkan) terjadi sebelum menarke. Jarang sekali mioma

ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, paling banyak pada umur 35-45 tahun (kurang

lebih 25%). Setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Di

Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39 – 11,7% pada semua penderita ginekologi yang

dirawat.(Bajekal, 2000,Lobi, 2017)

Mioma uteri terjadi pada 20% wanita di atas 35 tahun. Insiden terjadinya mioma pada

kehamilan berkisar antara 0,3 – 2,6%.(2)

IV.4 ETIOLOGI
Etiologi dari mioma uteri sampai saat ini belum diketahui pasti, diduga merupakan

penyakit multifaktorial. Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tumor, di samping

faktor predisposisi genetik, adalah estrogen, progesteron, dan Human Growth Hormone.

 Estrogen(Gibbs et al, 2012,Lee et al, 2010)

Mioma uteri dijumpai setelah menarke. Sering kali terdapat pertumbuhan tumor

yang cepat selama kehamilan dan terapi estrogen eksogen. Mioma uteri akan

mengecil pada saat menopause dan pengangkatan ovarium. Adanya hubungan dengan

kelainan lainnya yang tergantung estrogen seperti endometriosis (50%), perubahan


19
fibrosistik dari payudara (14,8%), adenomiosis (16,5 %), dan hiperplasia

endometrium (9,3%). Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi

ovarium dan wanita dengan sterilitas.

Enzim 17B hidroxydesidrogenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat)

menjadi estron (estrogen lemah). Aktivitas enzim ini berkurang pada jaringan

miomatous, yang juga mempunyai jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak

daripada miometrium normal.

 Progesteron(Gibbs et al, 2012)

Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron

menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu: mengaktifkan 17B

hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.

 Human Growth Hormone(Gibbs et al, 2012)

Level hormon pertumbuhan menurun selama kehamilan, tetapi hormon yang

mempunyai struktur dan aktivitas biologik serupa yaitu Human Placental Lactogen

(HPL), terlihat pada periode ini, memberi kesan bahwa pertumbuhan yang cepat dari

leiomioma selama kehamilan mungkin merupakan hasil dari aksi sinergistik antara

HPL dan Estrogen.

IV.5 FAKTOR RISIKO


Ada beberapa faktor yang di duga kuat sebagai faktor risiko terjadinya mioma

uteri, yaitu:

20
a. Umur

Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar

10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan

gejala klinis antara 35-45 tahun.(Gibbs et al, 2012)

b. Riwayat Keluarga

Adanya riwayat keluarga dengan mioma meningkatkan faktor risiko. Jika

seorang ibu mempunyai mioma, maka risiko yang dihadapi putrinya sekitar 3 kali

lebih tinggi berbanding dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga.(Gibbs et al,

2012)

c. Paritas

Lebih sering terjadi pada nullipara atau wanita yang relatif intertil, tetapi

sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri atau

sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah kedua keadaan

ini saling mempengaruhi.(Gibbs et al, 2012)

d. Ras dan Etnik

Statistik menggambarkan wanita dari Afrika-Amerika mempunyai 3 hingga 5

kali lipat risiko mengalami fibroid berbanding wanita kulit putih. Seperti yang

disebutkan di atas, sebanyak 20% dari wanita kulit putih dan 50% dari wanita kulit

hitam dengan usia di atas 30 tahun mengalami mioma uteri. (4)

e. Obesitas

Obesitas akan menjurus kepada peningkatan BMI sekaligus meningkatkan

risiko kejadian dan perkembangan mioma.(Gibbs et al, 2012)

21
f. Makanan

Makan daging yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya mioma.

Makan makanan mengandungi sayuran hijau dapat melindungi wanita dari

pertumbuhan mioma.(5)

g. Fungsi Ovarium

Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan

mioma, dimana uteri muncul setelah menarke, berkembang saat kehamilan dan

mengalami regresi setelah menopause. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama

sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen

pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh

estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan

produksi reseptor progesterone, faktor – faktor yang distimulasi oleh estrogen.

Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasikan oleh

estrogen lebih banyak pada mioma dari pada miometrium normal, yang mana hal ini

mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti – bukti masih kurang

menyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah

menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu, tumor ini kadang –

kadang berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada

usia dini.(Gibbs et al, 2012)

IV. 6 PATOGENESIS
Etiologi yang pasti terjadinya mioma uteri sampai saat ini belum diketahui. Stimulasi

estrogen diduga sangat berperan untuk terjadinya mioma uteri. Hipotesis ini didukung oleh

22
adanya mioma uteri yang banyak ditemukan pada usia reproduksi dan kejadiannya rendah

pada usia menopause. Ichimura mengatakan bahwa hormon ovarium dipercaya menstimulasi

pertumbuhan mioma karena adanya peningkatan insidennya setelah menarke. Pada

kehamilan, pertumbuhan tumor ini makin besar, tetapi menurun setelah menopause.

Perempuan nulipara mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya mioma uteri, sedangkan

perempuan multipara mempunyai risiko relatif menurun untuk terjadinya mioma

uteri.(Wallach, 2004)

Pukka dan kawan-kawan melaporkan bahwa jaringan mioma uteri lebih banyak

mengandung reseptor estrogen jika dibandingkan dengan miometrium normal. Pertumbuhan

mioma uteri bervariasi pada setiap individu, bahkan pada nodul mioma pada uterus yang

sama. Perbedaan ini berkaitan dengan jumlah reseptor estrogen dan reseptor progesteron.

Meyer dan De Snoo mengemukakan patogenesis mioma uteri dengan teori cell nest atau

genitoblas. Pendapat ini lebih lanjut diperkuat oleh hasil penelitian Miller dan Lipschutz yang

mengatakan bahwa terjadinya mioma uteri bergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat

pada cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen.(Wallach,

2004)

IV. 7 MANIFESTASI KLINIS MIOMA UTERI SECARA UMUM


Nyeri abdomen dapat disebabkan oleh torsi, degenerasi, atau perdarahan di dalam

tumor. Nyeri kram dapat disebabkan oleh kontraksi uterus sebagai upaya untuk

mengeluarkan suatu polip fibroid melalui kanalis servikalis.(Bajekal, 2000)

Rasa nyeri bukan merupakan gejala khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi

darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran

mioma submukosa yang akan dilahirkan, pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis

servikalis dapat menyebabkan dismenore.(Bajekal, 2000)

23
Lokasi mioma penting dalam menentukan tingkat keparahan perdarahan yang

berhubungan dengan fibroid. Mioma submukosa dapat meningkatkan terjadinya menoragia

baik secara efek lokal terhadap endometrium atau alterasi endometrium terhadap permukaan

fibroid. Namun, tak bukti dari histeroskopik atau mikroskopik yang menyokong hipotesa

ini.(Lee et al, 2010)

Perubahan dari vaskular dapat menjadi mekanisme yang berpotensi terhadap fibroid

dalam mempengaruhi menoragia. Miometrium yang berdekatan dengan mioma mengalami

kompresi vena yang mengarah kepada formasi venous lake di dalam miometrium sekaligus

mempengaruhi corak perdarahan.(Lee et al, 2010)

Berhubungan dengan lokasi mioma di antara miometrium, fibroid dapat bertumbuh

besar sehingga menekan organ yang berdekatan dan mengganggu fungsi pelvik. Oleh karena

itu, penderita akan mengalami sakit di bagian bawah abdominal, sakit belakang atau masalah

berkemih.(Bajekal, 2000)

Gangguan penekanan dari mioma tergantung dari besar dan lokasi mioma uteri.

Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan

retensio urin, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum

dapat menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di

panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.(Bajekal, 2000)

Ukuran fibroid yang sangat besar dapat mengganggu kehamilan karena mioma

mengambil terlalu banyak ruang. Tambahan pula, fibroid dapat bertambah besar sehingga

penderita yang tidak hamil dapat menyerupai wanita hamil.(Lee et al, 2010)

Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars interstisialis

tuba, sedangkan mioma submukosa memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi

rongga uterus.(Bajekal, 2000)

24
Wanita dengan mioma subserosa dan mioma intramural tidak mempunyai risiko

infertilitas walaupun sub analisis dari 4000 pasien mengarah kepada penurunan kadar

implantasi yang signifikan. Presentasi mioma submukosa menghasilkan 68% penurunan

implantasi dan 73% penurunan kehamilan klinis. Ini adalah penting bagi menunjukkan dari

meta-analisis bahwa tak ada makna yang signifikan dalam peningkatan infertilitas pada

wanita dengan jumlah fibroid yang banyak atau lokasi leiomioma. Kebanyakan peneliti

menyokong kepada konsep fibroid dan fertilitas dengan penurunan signifikan dari lokasi

anatomik submukosa kepada intramural kepada subserosa.(Lee et al, 2010)

IV. 8 HUBUNGAN KEHAMILAN DENGAN MIOMA UTERI


Reseptor estrogen menurun pada miometrium yang normal semasa fase sekresi dari

siklus menstruasi dan semasa kehamilan. Pada mioma, reseptor estrogen terdapat sepanjang

siklus menstruasi, tetapi mengalami supresi semasa kehamilan. Reseptor progesteron terdapat

pada miometrium dan mioma sepanjang siklus menstruasi dan kehamilan. Tambahan pula

mioma berkembang pada awal kehamilan akibat dari stimulasi hormonal dan growth factors

yang sama yang memicu perkembangan uterus. Paradoks, mioma memberi respon yang

berbeda pada setiap individu wanita dan tidak dapat diprediksi secara akurat perkembangan

setiap mioma.(Wallach, 2004)

Pada trimester pertama, ukuran mioma tidak berubah atau makin membesar sehubungan

dengan peningkatan estrogen. Pada trimester kedua, mioma yang berukuran 2 hingga 6 cm

biasanya tidak berubah atau mungkin membesar, namun bagi mioma yang berukuran besar

akan mengecil, kemungkinan dari inisiasi penurunan regulasi reseptor esterogen. Pada

trimester ketiga, tanpa mengirakan ukuran mioma, sejatinya mioma tidak berubah atau

mengecil akibat dari penurunan regulasi reseptor esterogen. Biasanya mioma akan

mengalami involusi yang nyata setelah kelahiran.(1Keleher, 2008)

25
Munculnya gejala tergantung pada jumlah, ukuran, dan letak mioma uteri. Mioma

intramural dan subserosa dengan ukuran <3 cm biasanya tidak memberikan gejala klinis yang

signifikan. Sekitar 10% sampai 30% wanita dengan mioma uteri timbul komplikasi selama

kehamilannya.(Wallach, 2004,; Vilos, 2003)

Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan:(1,2,

1. Infertile (mandul). Terutama pada mioma uteri submukosa. Lokasi anatomi dari mioma

menjadi faktor penting dalam hubungannya dengan infertilitas. Mioma yang berukuran

>5 cm dan berlokasi dekat serviks atau dekat ostium tuba, lebih berisiko menyebabkan

masalah infertilitas. Mioma submukosa atau intramural dapat menyebabkan disfungsi

kontraksi uterus yang selanjutnya menyebabkan gangguan pada migrasi sperma,

pergerakan atau nidasi ovum.

2. Sering terjadi abortus dan perdarahan hamil muda. Kejadian abortus meningkat jika

mioma berada pada lapisan submukosa. Mioma yang terletak dekat dengan plasenta

banyak dihubungkan dengan kejadian abortus perdarahan pada hamil muda.

3. Terjadi kelainan letak janin dalam rahim (malpresentasi), terutama pada mioma yang

besar dan letak subserosa.

4. Distosia akibat tumor yang menghalangi jalan lahir, terutama pada mioma yang letaknya

di serviks.

5. Inersia uteri terutama pada kala I dan kala II.

6. Atonia uteri terutama pada persalinan: perdarahan banyak, biasanya pada mioma yang

letaknya di dalam dinding rahim.

7. Kelainan letak plasenta.

8. Pada kala III terjadi retensio plasenta, terutama pada mioma submukosa dan intramural

yang mengakibatkan perdarahan aktif.

9. Persalinan prematuritas.

26
10. Pertumbuhan janin terhambat dan anomali fetal.

Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri:(1,Wallach, 2004,)

1. Cepat bertambah besar, mungkin karena pengaruh hormon estrogen yang meningkat dalam

kehamilan.

2. Degenerasi merah dan degenerasi karnosa: tumor menjadi lebih lunak, berubah bentuk, dan

warna merah. Bisa terjadi gangguan sirkulasi sehingga terjadi pendarahan.

3. Mioma subserosa yang bertangkai oleh desakan uterus yang membesar atau setelah bayi

lahir, terjadi torsi (terpelintir) pada tangkainya, menyebabkan gangguan sirkulasi dan

nekrosis pada tumor. Wanita hamil merasa nyeri yang hebat pada perut (abdomen akut).

4. Mioma yang lokasinya dibelakang dapat terdesak ke dalam kavum douglasi dan terjadi

inkaserasi.

IV. 9 DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Diagnosis dari mioma uteri dapat ditegakkan melalui pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang lain.

 Pemeriksaan Fisik

a. Palpasi abdomen didapatkan massa tumor di abdomen bagian bawah serta

pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas, teraba suatu massa pelvis yang

besar, midline, irregular-contoured mobile dengan karakteristik hard feel atau

keras.(1,1

b. Pemeriksaan ginekologik pada rahim dengan pemeriksaan bimanual didapatkan

tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum douglas. Pada

pemeriksaan ini, pemeriksa memeriksa ukuran uterus dengan meletakkan dua

jari dari sebelah tangan ke dalam vagina sedangkan tangan yang berlawanan

memberi sedikit penekanan dari atas abdomen. Jika terdapat fibroid, uterus akan
27
teraba lebih besar atau uterus akan membesar mengarah ke kawasan yang tidak

sepatutnya. Pada pemeriksaan dapat ditemukan pembesaran uterus yang

irregular dan mengeras atau protrusi batu bulat (cobblestone) yang dapat teraba

agak keras sewaktu palpasi. Konsistensi padat dan kenyal.(1)

 Pemeriksaan Penunjang

1. USG dan MRI

Untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium, dan

keadaan adneksa dalam rongga pelvis. Pelvis ultrasonografi digunakan untuk

memastikan (bila perlu) kehadiran mioma uteri, tetapi biasanya ditegakkan

secara klinis. Komponen mioma sering terlihat hipoekogenik dan penampakan

yang konsisten dengan mioma yang melalui degenerasi. Struktur adneksal

termasuk ovari dapat dibedakan dari tumor. Mioma juga dapat dideteksi dengan

MRI, tetapi pemeriksaan ini lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik

USG. MRI berguna untuk evaluasi mioma yang berukuran besar karena

ultrasonografi tidak dapat menggambarkannya. Untungnya, leiomiosarkoma

sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya dengan mioma dan

konfirmasinya membutuhkan diagnosa jaringan. CT scan merupakan

kontraindikasi oleh karena radiasi.(2)

2. Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.(Lee et al, 2010)

IV. 10 PENATALAKSANAAN
Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma dalam

kehamilan karena risiko terjadinya perdarahan tinggi. Demikian pula tidak dilakukan abortus

provokatus. Pilihan manajemen mioma uteri yang dapat dilakukan adalah miomektomi,

28
histerektomi dan observasi. Pemilihan cara manahemen tergantung pada gejala yang timbul,

besar dan lokasi mioma, usia dan fungsi reproduksi pasien. (POGI, 2006)

Pada usia kehamilan 12 – 22 minggu, suplai darah ke mioma dapat terhenti

menyebabkan terjadinya degenerasi merah. Apabila terjadi degenerasi merah pada mioma,

biasanya sikap konservatif dengan istirahat-baring dengan pengawasan yang ketat memberi

hasil yang cukup memuaskan. Terapi pembedahan pada mioma uteri dilakukan terhadap

mioma yang menimbulkan gejala. Menurut American College of Obstetricans and

Gynecologists(ACOG) dan American Society for Reproductive Medicine (ASRM) indikasi

pembedahan pada pasien dengan mioma uteri adalah.(4)

1. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif.

2. Sangkaan adanya keganasan.

3. Pertumbuhan mioma pada masa menopause.

4. Infertilitas karena gangguan ada cavum uteri maupun karena oklusi tuba

fallopi.

5. Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu.

6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius.

7. Anemia akibat perdarahan

Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi dan juga histerektomi.

a. Miomektomi

Miomektomi dengan indikasi harus dilakukan segera karena ditakutkan akan

membahayakan nyawa maternal dan jika perlu harus dilakukan terminasi kehamilan.

29
Akan tetapi miomektomi yang tanpa indikasi bisa ditunda sehingga umur kehamilan

menjadi aterm.5

Pada umumnya miomektomi tidak dilakukan bersamaan dengan seksio sesarea

karena dapat terjadi perdarahan yang massif sewaktu operasi sebagai akibat

vaskularisasi bertambah, dan juga operasi akan berlangsung berlangsung lebih lama

karena ada kemungkinan teknik operasi yang sulit.(5)

Kebanyakan tumor terletak pada uterus bagian atas (sekitar 30-50% kasus) yang

memungkinkan persalinan pervaginam. Cuma terdapat beberapa kasus yang mana

tumornya terletak di bagian uterus bawah dan ini bisa menghalangi jalan lahir dan harus

dilakukan Seksio Caesaria.

Miomektomi sering dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan fungsi

reproduksinya. Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi

maupun dengan laparoskopi.(Wallach, 2004)

Keuntungan pada pembedahan secara laparotomy adalah lapangan pandang operasi

lebih luas sehingga penanganan pada perdarahan yang mungkin timbul dapat ditangani

dengan segera. Namun resiko miomektomi secara laparotomi adalah bisa terjadi

perlengketan yang besar sehingga dapat mempengaruhi faktor fertilitas pada pasien.

Disamping itu juga, waktu penyembuhan pasca operasi juga lebih lama.(Lobi, 2017)

Pada miomektomi secara histeroskopi, biasanya dilakukan pada mioma

submukosum yang terletak pada kavum uteri. Alat histeroskop akan dimasukkan melalui

serviks dan mengisi kavum uteri dengan cairan untuk memperluas dinding uterus.

Keuntungan teknik ini adalah waktu penyembuhan pasca operasi lebih cepat(2 hari).

30
Komplikasi operasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul perlukaan pada

dinding uterus dan terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dan perdarahan.

Pada miomektomi secara laparoskopi dilakukan untuk mengangkat mioma yang

bertangkai di luar kavum uteri dan mioma subserosum yang terletak di luar kavum uteri.

Alat laparoskop dimasukkan kedalam abdomen melalui insisi yang kecil pada dinding

abdomen. Keuntungan teknik ini adalah waktu penyembuhan pasca operasi yang lebih

cepat(2-7 hari). Resiko daripada teknik ini bisa terjadi perlengketan,trauma terhadap

organ sekitar seperti usus, ovarium, dan rektum. Miomektomi dengan teknik ini

sehingga sekarang merupakkan prosedur standar bagi wanita dengan mioma uteri yang

masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya.(Lobi, 2017)

b. Histerektomi

Pada mioma uteri, sebesar 30% dari seluruh kasus dilakukan histerektomi. Teknik

ini dilakukan pada pasien dengan indikasi bila didapati keluhan menorrhagia,

metrorhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia

kehamilan 12-14 minggu.1

Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total abdominal

histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). 2

STAH dilakukan untuk menghindari daripada terjadinya perdarahan yang massif,

trauma pada ureter, kandung kemih dan rektum. 2

Histerektomi dapat dilakukan melalui pendekatan dari vagina, dimana tindakan

operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Oleh karena pendekatan operasi tidak

melalui abdominal, maka histerektomi vaginal tidak terlihat sikatriks sehingga

memuaskan pasien dari segi kosmetik. Selain itu kemungkinan terjadinya perlengketan

31
pasca operasi juga lebih minimal dan waktu penyembuhan lebih cepat berbanding yang

menjalani histerektomi abdominal.(Lobi, 2017)

Pengangkatan seluruh uterus dengan mioma juga dapat dilakukan dengan

laparoskopi. Ada beberapa teknik histerektomi laparoskopi. Pertama adalah histerektomi

vaginal (Laparoscopically assisted vaginal hysterectomy/LAVH). Pada prosedur

tindakan ini dilakukan untuk memisahkan adneksa dari dinding pelvik dan memotong

mesosalfing kea rah ligamentum di bagian bawah. Kedua, teknik classic intrafascial

serrated edged macromorcellated hysterectomy (CISH) tanpa colpotomy. Prosedur ini

merupakan modifikasi dari STAH, dimana lapisan dalam dari serviks dan uterus

direseksi dengan menggunakan morselator. Dengan prosedur ini diharapkan dapat

mempertahankan integritas lantai pelvik dan mempertahankan aliran darah pada pelvik

untuk mencegah prolapsus. Keuntungan dari CISH adalah untuk mengurangi resiko

trauma pada ureter dan kadung kemih, perdarahan lebih minimal, waktu operasi lebih

cepat, resiko infeksi lebih minimal dan waktu penyembuhan lebih singkat.(Wallach,

2004)

Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa terapi yang terbaik untuk mioma uteri

adalah melakukan histerektomi. Dari berbagai pendekatan, prosedur histerektomi

laparoskopi memiliki kelebihan di mana resiko perdarahan yang lebih minimal, waktu

penyembuhan yang lebih cepat dan angka morbiditas yang lebih rendah dibanding

prosedur histerektomi abdominal.

IV.10 PROGNOSIS
Meskipun ada banyak komplikasi yang bisa saja terjadi, pada umumnya banyak ibu

hamil dengan mioma uteri memiliki kehamilan yang normal dan persalinan yang

sukses.(Vilos, 2003)

32
BAB V
DISKUSI
Pada kasus ini wanita, 26 tahun dengan mioma uteri dalam kehamilan. Dalam kasus

ini, diagnosis kehamilan dengan mioma uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang disesuaikan dengan literatur.

Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien sudah dikenal menderita mioma uteri sejak

1 tahun SMRS namun 2 hari sebelum rencana operasi pasien diketahui hamil 8 minggu.

Pasien tidak mengalami keluhan selama kehamilan dan rutin kontrol ANC dengan Sp.OG.

Menurut literatur, munculnya gejala mioma dalam kehamilan tergantung pada jumlah,

ukuran, dan letak mioma uteri. Mioma intramural dan subserosa dengan ukuran <3 cm

biasanya tidak memberikan gejala klinis yang signifikan. Sekitar 10% sampai 30% wanita

dengan mioma uteri timbul komplikasi selama kehamilannya.

Pada pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan obstetri, inspeksi menjelaskan tanda- tanda

kehamilan pada pasien ini sesuai umur kehamilan 39-40 minggu. Pada pemeriksaan USG,

ditemukan massa hiperechoic ukuran 7,16 x 6,19 cm di istmus, feeding artery (+) Janin hidup

tunggal intrauterine, presentasi kepala, dengan usia kehamilan 37-38 minggu. Dari USG

didapatkan kesan mioma uteri subserosa. Pada mioma uteri subserosa ataupun intramural

walaupun ditemukan cukup besar tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti.

Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu memberi keluhan perdarahan

melalui vagina

Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma dalam kehamilan

karena risiko terjadinya perdarahan tinggi. Demikian pula tidak dilakukan abortus

provokatus. Persalinan yang terhambat oleh adanya mioma uteri harus dilakukan seksio

33
sesarea. Tetapi miomektomi tidak dilakukan kecuali mioma tersebut berada pada daerah yang

akan dilakukan insisi, karena dapat terjadi perdarahan yang hebat. Apabila tetap akan

dilakukan miomektomi maka sebaiknya dilakukan sekaligus histerektomi. Dari berbagai

pendekatan, prosedur histerektomi laparoskopi memiliki kelebihan di mana resiko perdarahan

yang lebih minimal, waktu penyembuhan yang lebih cepat dan angka morbiditas yang lebih

rendah dibanding prosedur histerektomi abdominal. Pada pasien ini dilakukan sectio sesarea

dengan perdarahn selama tindakan  300 cc.

Komplikasi yang sering ditemui mioma dalam kehamilan adalah nyeri yang

merupakan suatu syndroma yang disertai dengan mual, muntah dan demam yang muncul

pada trimester kedua kehamilan atau awal trimester ketiga kehamilan. Sindroma ini pertanda

dari perubahan degenerativ dari mioma dan merupakan hasil dari insufisiensi vaskuler

karena tidak adekuatnya suplay darah. Mioma yang ukurannya kecil dari 5 cm jarang

mengalami degenerasi dalam kehamilan sedangkan yang berukuran lebih dari 8 cm sering

berhubungan dengan insiden yang tinggi menimbulkan komplikasi dalam kehamilan. Namun,

tidak ditemukan keluhan komplikasi selama kehamilan, maupun sesudah persalinan. Menurut

literatur, meskipun ada banyak komplikasi yang bisa saja terjadi, pada umumnya banyak ibu

hamil dengan mioma uteri memiliki kehamilan yang normal dan persalinan yang sukses.

34
BAB VI
KESIMPULAN
 Pada pasien ini ditegakkan diagnosis mioma uteri dalam kehamilan berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

 Pengetahuan ibu mengenai pemeriksaan Ante Natal Care yang teratur dan efektif

sangat dibutuhkan untuk mengetahui adanya komplikasi adanya mioma uteri selama

kehamilan berlangsung

 Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma dalam kehamilan

karena risiko terjadinya perdarahan tinggi. Demikian pula tidak dilakukan abortus

provokatus.

 Persalinan yang terhambat oleh adanya mioma uteri harus dilakukan seksio sesarea.

Miomektomi dilakukan apabila mioma terdapat pada lokasi insisi dan sekaligus

dilakukan histerektomi

 Pada pasien ini tidak ditemukan adanya komplikasi selama kehamilan maupun setelah

persalinan.

35
DAFTAR PUSTAKA
Bajekal N, Li TC. 2000. Fibroids, Infertility, and Pregnancy Wastage. Human Reproduction
Update ; 6(6): 614-20
Baumgarten G. 1995. Myoma and Pregnancy. Zentralbl Gynakol ; 97(12): 729-33
Edmonds DK. 2012. Uterine Leiomyomata. In: Dewhurst’s Textbook of Obstetrics &
Gynaecology.8th ed. P: 638-42
Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, Nygaard I. 2012. Leiomyomata.In:Danforth’s Obstetrics
and Gynecology 10th ed. P: 916-32
Keleher KC. 2008. Uterine Myoma in Pregnancy: Two Case Reports. Journal of Nurse-
Midwifery; 33(6): 285-8
Lee HJ, Norwitz ER, Shaw J. 2010. Contemporary Management of Fibroids in Pregnancy.
Rev Obstet Gynecol ; 3(1): 20-27
Lobo R, Gerhenson D, Lentz G. 2017. Leiomyomas. In:Comprehensive Gynecology 7th ed.
Pangemanan WT. 2010. Penyakit Neoplasma. Dalam: Saifuddin AB, Rachimhadhi T,
Wiknjosastro GH, eds. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; p. 891-4
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.. 2006. Mioma Uteri. In: Standar Pelayanan
Medik Obstetri dan Ginekologi. Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S (eds).
pp: 129-130
Vilos GA, Allaire C, Laberge P, Leylsnd N. 2003. The Management of Uterine Leiomyomas.
In: SOGC Clinical Practice Guidelines Journal.
Wallach EE,Vlahos NF. 2004. Uterine Myomas:An overview of development,clinical
features and management.In:Journal of American College of Obstetricians and
Gynecologist.

36