Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien

a. Nama/Jenis Kelamin/Umur : Ny. RTS Nuraini / Perempuan / 43 tahun

b. Pekerjaan/Pendidikan : IRT/ SD

c. Alamat : Tanjung Raden RT.08

II. Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga

a. Status Perkawinan : Menikah

b. Jumlah anak :2

c. Status ekonomi keluarga : menengah kebawah

d. Kondisi Rumah :

Rumah pasien berupa rumah semi permanen beratap seng dengan ukuran

8x6 meter ketinggian ± 3 meter dari permukaan tanah. Terdiri dari 1 ruang

tamu, 1 kamar tidur, 1 ruang tengah, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Untuk

keperluan mandi dan cuci piring, cuci baju, pasien lakukan di belakang

rumahnya langsung dengan menggunakan sumber air dari sumur sedangkan

untuk air minum dari air PAM. Untuk buang air besar pasien lakukan di WC

yang berada di dalam rumah bagian belakangnya. Di langit-langit rumah

banyak debu, begitu juga dengan di lemari dan barang-barang yang ada

dirumahnya. Menurut pengakuan pasien, debu rumah dibersihkan 3 minggu

sekali. Ventilasasi rumah pasien cukup baik.

e. Kondisi Lingkungan Keluarga :

Pasien sudah bersuami dan mempunyai 2 orang anak. Sekarang pasien


tinggal bersama suami dan 2 orang anaknya yang masih sekolah. Sumber

1
penghasilan keluarga dari suaminya yang bekerja sebagai wiraswasta.
Keharmonisan keluarga pasien biasa-biasa saja. Tidak ada masalah dalam
hubungan satu sama lain.

III. Aspek Psikologis di Keluarga : baik

IV. Riwayat Penyakit Dahulu/keluarga :

- Riwayat asma (+) sejak usia 6 tahun

- Riwayat alergi (+)

- Riwayat asma dalam keluarga (+)

V. Keluhan Utama :

Sesak nafas sejak satu hari yang lalu disertai suara ngik

VI. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang dengan keluhan sesak nafas disertai suara ngik sejak

1 hari yang lalu. Pasien mengeluh sesak nafas disertai batuk kering. Pasien

mengaku sesak selalu datang apabila pasien mengalami batuk, terpapar oleh

asap , debu, dan cuaca yang dingin terutama malam dan pagi hari. Sesak nafas

karena beraktifitas disangkal. Sesak nafas disertai bunyi mengi. Os juga

mengeluh sering bersin-bersin terutama jika terpapar debu.

Keringat pada malam hari ada, demam (-), sakit kepala (-), pasien

menyangkal adanya keluhan mual dan muntah nafsu makan biasa. BAK dan

BAB tidak ada keluhan.

Pasien sudah mengalami keluhan sesak nafas sejak usia 6 tahun.

Pasien mengaku jika timbul sesak baru pasien berobat ke Puskesmas dan kini

sesak nafas timbul semakin hebat, tidak hanya malam dan pagi hari saja, bahkan

2
apabila os kehujanan saja keluhan os langsung kambuh, hingga akhirnya pasien

memutuskan berobat ke Puskesmas Olak Kemang.

VII. Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum

1. Keadaan sakit : tampak sakit sedang

2. Kesadaran : compos mentis

3. Suhu : 36,8°C

4. Nadi : 96x/menit

5. TD : 120/80 mmHg

6. Pernafasan

- Frekuensi : 26x/menit

- Irama : reguler

- Tipe : thorakoabdominal

7. Berat badan : 67 Kg

8. Tinggi Badan : 155cm

9. IMT : 27,9 (overweight I)

10. Kulit

- Turgor : baik

- Lembab / kering : lembab

- Lapisan lemak : ada

Pemeriksaan Organ

1. Kepala Bentuk : normocephal

Simetri : simetris

2. Mata Exopthalmus/enophtal: (-)

3
Kelopak : normal

Conjungtiva : anemis (-/-)

Sklera : ikterik (-/-)

Kornea : normal

Pupil : bulat, isokor, RC +/+

Lensa : normal, keruh (-)

3. Hidung : tak ada kelainan

4. Telinga : tak ada kelainan

5. Mulut Bibir : basah, tidak pucat

Bau pernafasan : normal

Gigi geligi : lengkap

Palatum : deviasi (-)

Gusi : warna merah muda,

perdarahan (-)

Selaput Lendir : normal

Lidah : putih kotor (-), ulkus (-)

6. Leher KGB : tak ada pembengkakan

Kel.tiroid : tak ada pembesaran

7. Thorax Bentuk : simetris

Pergerakan dinding dada : tidak ada yang

Tertinggal

4
Pulmo
Pemeriksaan Kanan Kiri
Inspeksi Statis : simetris
Palpasi Stem fremitus normal Stem fremitus normal
Perkusi Sonor Sonor
Batas paru-hepar :ICS
VI kanan
Auskultasi Ekspirasi memanjang, Ekspirasi
Wheezing (+), memanjang,
Ronkhi (-) Wheezing (+),
Ronkhi (-)
Jantung

Ictus cordis terlihat di ICS V linea


Inspeksi midclavicula kiri

Ictus cordis teraba di ICS V linea


Palpasi midclavicula kiri

Perkusi Batas-batas jantung :


Atas : ICS II kiri
Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS VI linea midclavicula kiri
Auskultasi BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi Datar, skar (-), venektasi (-), spidernevi (-)

Palpasi Hepar dan lien tak teraba

Perkusi Timpani

Auskultasi Bising usus (+) normal

5
8. Ekstremitas Atas
Akral hangat (+)/(+)

9. Ekstremitas bawah

Akral hangat (+)/(+)

VIII. Diagnosa Banding :

Asma Eksaserbasi akut

Bronkitis Kronis

IX. Diagnosis Kerja :

Asma Eksaserbasi Akut

X. Manajemen

a. Promotif :
- Edukasi kepada pasien tentang tata cara menghindari faktor pencetus
- Edukasi kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaan
penyakit apabila dalam serangan.
b. Preventif :
- Hindari faktor pencetus, seperti cuaca dingin (pakai jaket),
makanan, asap rokok, dll.
- Menjaga kebersihan lingkungan rumah.
- Tingkatkan daya tahan tubuh, dengan makan makanan bergizi
- Jika batuk segera berobat sehingga tidak menyebabkan asma
c. Kuratif :

- Salbutamol tablet 4 mg (3 x 1)

- GG tablet (3x1)

- Cetirizine tablet (3x1)

- Vitamin B Complex tablet (3 x 1)

6
d. Rehabilitatif :
- Minum obat sesuai anjuran.
- Jika serangan asma semakin bertambah berat, maka segera
konsulkan ke puskesmas atau RS terdekat.

Dinas Kesehatan Kota Jambi

Puskesmas : Olak Kemang


Dokter : Yuniasih Restu Putri
Tanggal : 29 Juni 2016

R/ Salbutamol tab 4 mg No. IX


S 3dd tab I
R/Cetirizine tab No. IX
S 3 dd tab I
R/ GG tab No. IX
S 3 dd tab I
R/ Vitamin B Complex No. IX
S 3 dd tab I

Pro : Ny.RTS Umur : 43 tahun


Alamat : Tanjung Raden RT. 08

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang


dihubungkan dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversibel dan
gejala pernapasan.1

Asma bronkial adalah salah satu penyakit paru yang termasuk dalam
kelompok penyakit paru alergi dan imunologi yang merupakan suatu penyakit yang
ditandai oleh tanggap reaksi yang meningkat dari trakea dan bronkus terhadap
berbagai macam rangsangan dengan manifestasi berupa kesukaran bernapas yang
disebabkan oleh penyempitan yang menyeluruh dari saluran napas. Penyempitan
ini bersifat dinamis dan derajat penyempitan dapat berubah, baik secara spontan
maupun karena pemberian obat.2,3

2.2 Faktor Resiko

Faktor resiko asma dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :4

a. Atopi

Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui


bagaimana cara penurunannya. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Dengan adanya bakat alergi
ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan
dengan faktor pencetus.

b. Hiperreaktivitas bronkus
Saluran pernapasan sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun
iritan.
c. Jenis Kelamin
Perbandingan laki – laki dan perempuan pada usia dini adalah 2:1 dan pada
usia remaja menjadi 1:1. Prevalensi asma lebih besar pada wanita usia
dewasa.

8
d. Obesitas
Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI) merupakan faktor resiko
asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran
pernapasan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. Meskipun
mekanismenya belum jelas, penurunan berat badan penderita obesitas
dengan asma, dapat mempengaruhi gejala fungsi paru, morbiditas dan status
kesehatan.

2.3 Klasifikasi

Berat-ringannya asma ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain


gambaran klinik sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam
hari, pemberian obat inhalasi β-2 agonis dan uji faal paru) serta obat-obat
yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat, kombinasi obat dan
frekuensi pemakaian obat). Tidak ada suatu pemeriksaan tunggal yang dapat
menentukan berat-ringannya suatu penyakit. Dengan adanya pemeriksaan
klinis termasuk uji faal paru dapat menentukan klasifikasi menurut berat-
ringannya asma yang sangat penting dalam penatalaksanaannya.3
Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat
serangan (akut)3 :

1. Asma saat tanpa serangan


Pada orang dewasa, asma saat tanpa atau diluar serangan, terdiri
dari: 1) Intermitten; 2) Persisten ringan; 3) Persisten sedang; dan 4)
Persisten berat (Tabel.1)
Tabel 1. Klasifikasi derajat asma berdasarkan gambaran klinis (Sebelum
Pengobatan)

Derajat Asma Gejala klinis Fungsi paru


Asma bronkial Intermiten, gejala <1x/mgg, gejala asma APE atau VEP1
intermiten malam <2x/bln, eksaserbasi hanya  >80% nilai duga
sebentar, tdk ada gejala dan fungsi paru  Variabilitas < 20%
normal diantara serangan

Asma bronkial APE atau VEP1


persisten ringan  >80% nilai duga

9
Gejala >1x/mgg, tetapi <1x/hr, gejala  Variabilitas 20-30%
asma malam >2x/bln, eksaserbasi dapat
Asma bronkial mengganggu aktivitas dan tidur APE atau VEP1
persisten sedang  60-80% nilai duga
Setiap hari gejala, gejala asma malam  Variabilitas >30%
>1x/bln, eksaserbasi dapat mengganggu
APE atau VEP1
Asma bronkial aktifitas dan tidur
 <60% nilai duga
persisten berat  Variabilitas > 30%
Kambuhan sering, gejala sesak terus
menerus/kontinyu, gejala asma malam
hari sering, aktivitas fisik terbatas karena
asma

2. Asma saat serangan


Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat
yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat-
ringannya serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) membuat
pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis,
uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan
menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi
asma serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan berat.
Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma
(aspek akut). Sebagai contoh: seorang pasien asma persisten berat dapat
mengalami serangan ringan saja, tetapi ada kemungkinan pada pasien
yang tergolong episodik jarang mengalami serangan asma berat, bahkan
serangan ancaman henti napas yang dapat menyebabkan kematian.
Tabel 2. Klasifikasi berat serangan asma akut
Gejala dan Berat Serangan Akut Keadaan
Tanda Ringan Sedang Berat mengancam jiwa
Sesak napas Berjalan Berbicara Istirahat

Posisi Dpt tidur Duduk Duduk


terlentang membungkuk

Cara berbicara Satu kalimat Beberapa kata Kata demi kata

Kesadaran Mungkin gelisah Gelisah Gelisah Mengantuk,


gelisah, kesadaran
menurun

Frekuensi napas <20/i 20-30/i >30/i

10
Nadi <100 100-120 >120 Bradikardi

Pulsus - +/-10-20 + -
paradoksus 10 mmHg mmHg >25 mmHg Kelelahan otot

Otot bantu napas - + + Torakoabdominal


dan retraksi Paradoksal
suprasternal

Mengi Akhir ekspirasi Akhir ekspirasi Inspirasi dan Silent Chest


paksa ekspirasi

APE >80% 60-80% <60 %

PaO2 >80 mmHg 80-60 mmHg <60 mmHg

PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg >45 mmHg

SaO2 >95% 91-95% <90%

11
2.6 Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang.
Tabel 4. Diagnosis Asma5

2.7 Penatalaksanaan

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan


mempertahankan kualiti hidup agar penderita asma dapat hidup normal
tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti sehari-hari.5

Tujuan penatalaksanaan asma5:

12
 Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma

 Mencegah eksaserbasi akut

 Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin

 Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise

 Menghindari efek samping obat

 Mencegah terjadi keterbatasan aliran udara (airflow limitation)


ireversibel

 Mencegah kematian karena asma

Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut


sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal
dalam waktu satu bulan.5

Penatalaksanaan asma bronkial terdiri dari pengobatan non-


medikamentosa dan pengobatan medikamentosa :

2.7.1 Pengobatan non-medikamentosa

 Penyuluhan
 Menghindari faktor pencetus
 Pengendali emosi
 Pemakaian oksigen
2.7.2 Pengobatan medikamentosa
Pengobatan ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala
obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.5

Pengontrol (Controllers)

Pengontrol adalah medikasi asma jangka panjang untuk mengontrol


asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan
asma terkontrol pada asma persisten. Pengontrol sering disebut pencegah,
yang termasuk obat pengontrol :

 Kortikosteroid inhalasi
 Kortikosteroid sistemik

13
 Sodium kromoglikat
 Nedokromil sodium
 Metilsantin
 Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi
 Agonis beta-2 kerja lama, oral
 Leukotrien modifiers
 Antihistamin generasi ke dua (antagonis -H1)
 Lain-lain

Glukokortikosteroid inhalasi

Pengobatan jangka panjang yang paling efektif untuk mengontrol


asma. Penggunaan steroid inhalasi menghasilkan perbaikan faal paru,
menurunkan hiperesponsif jalan napas, mengurangi gejala, mengurangi
frekuensi dan berat serangan dan memperbaiki kualiti hidup. Steroid
inhalasi adalah pilihan bagi pengobatan asma persisten (ringan sampai
berat).

Glukokortikosteroid sistemik

Cara pemberian melalui oral atau parenteral. Harus selalu diingat


indeks terapi (efek/ efek samping), steroid inhalasi jangka panjang lebih
baik daripada steroid oral jangka panjang.

Kromolin (sodium kromoglikat dan nedokromil sodium)

Pemberiannya secara inhalasi. Digunakan sebagai pengontrol pada


asma persisten ringan. Dibutuhkan waktu 4-6 minggu pengobatan untuk
menetapkan apakah obat ini bermanfaat atau tidak.

Metilsantin

Teofilin adalah bronkodilator yang juga mempunyai efek


ekstrapulmoner seperti antiinflamasi. Teofilin atau aminofilin lepas lambat
dapat digunakan sebagai obat pengontrol, berbagai studi menunjukkan
pemberian jangka lama efektif mengontrol gejala dan memperbaiki faal
paru.

14
Agonis beta-2 kerja lama

Termasuk di dalam agonis beta-2 kerja lama inhalasi adalah


salmeterol dan formoterol yang mempunyai waktu kerja lama (> 12 jam).
Seperti lazimnya agonis beta-2 mempunyai efek relaksasi otot polos,
meningkatkan pembersihan mukosilier, menurunkan permeabiliti pembuluh
darah dan memodulasi penglepasan mediator dari sel mast dan basofil.

Leukotriene modifiers

Obat ini merupakan antiasma yang relatif baru dan pemberiannya


melalui oral. Mekanisme kerja menghasilkan efek bronkodilator minimal
dan menurunkan bronkokonstriksi akibat alergen, sulfurdioksida dan
exercise. Selain bersifat bronkodilator, juga mempunyai efek antiinflamasi.
Kelebihan obat ini adalah preparatnya dalam bentuk tablet (oral) sehingga
mudah diberikan. Saat ini yang beredar di Indonesia adalah zafirlukas
(antagonis reseptor leukotrien sisteinil).

Pelega (Reliever)

Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos,


memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan dengan
gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki
inflamasi jalan napas atau menurunkan hiperesponsif jalan napas. Termasuk
pelega adalah 5:

 Agonis beta2 kerja singkat

 Kortikosteroid sistemik. (Steroid sistemik digunakan sebagai obat


pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi
hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan
bronkodilator lain).
 Antikolinergik

 Aminofillin

 Adrenalin
Agonis beta-2 kerja singkat

15
Termasuk golongan ini adalah salbutamol, terbutalin, fenoterol, dan
prokaterol yang telah beredar di Indonesia. Mempunyai waktu mulai kerja
(onset) yang cepat. Mekanisme kerja sebagaimana agonis beta-2 yaitu
relaksasi otot polos saluran napas, meningkatkan bersihan mukosilier,
menurunkan permeabiliti pembuluh darah dan modulasi penglepasan
mediator dari sel mast. Merupakan terapi pilihan pada serangan akut dan
sangat bermanfaat sebagai praterapi pada exercise-induced asthma

Metilsantin

Termasuk dalam bronkodilator walau efek bronkodilatasinya lebih


lemah dibandingkan agonis beta-2 kerja singkat.

Antikolinergik

Pemberiannya secara inhalasi. Mekanisme kerjanya memblok efek


penglepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan napas.
Menimbulkan bronkodilatasi dengan menurunkan tonus kolinergik vagal
intrinsik, selain itu juga menghambat refleks bronkokostriksi yang
disebabkan iritan. Termasuk dalam golongan ini adalah ipratropium
bromide dan tiotropium bromide.

Adrenalin

Dapat sebagai pilihan pada asma eksaserbasi sedang sampai berat.


Pemberian secara subkutan harus dilakukan hati-hati pada penderita usia
lanjut atau dengan gangguan kardiovaskular. Pemberian intravena dapat
diberikan bila dibutuhkan, tetapi harus dengan pengawasan ketat (bedside
monitoring).

2.7.3 Cara pemberian pengobatan


Pengobatan asma dapat diberikan melalui berbagai cara yaitu inhalasi,
oral dan parenteral (subkutan, intramuskular, intravena). Kelebihan
pemberian pengobatan langsung ke jalan napas (inhalasi) adalah 5:

 lebih efektif untuk dapat mencapai konsentrasi tinggi di jalan napas

16
 efek sistemik minimal atau dihindarkan
 beberapa obat hanya dapat diberikan melalui inhalasi, karena tidak
terabsorpsi pada pemberian oral (antikolinergik dan kromolin).
Waktu kerja bronkodilator adalah lebih cepat bila diberikan inhalasi
daripada oral.
Tabel 7. Pengobatan sesuai berat asma 5
Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan, tidak
melebihi 3-4 kali sehari.

Berat Asma Medikasi Alternatif / Pilihan lain Alternatif


pengontrol harian lain
Asma Tidak perlu -------- -------
/Intermiten
Asma Glukokortikosteroid  Teofilin lepas lambat ------
Persisten inhalasi (200-400  Kromolin
Ringan ug BD/hari atau  Leukotriene modifiers
ekivalennya)

Asma Kombinasi inhalasi  Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD  Ditambah


Persisten glukokortikosteroid atau ekivalennya) ditambah Teofilin lepas agonis beta-
Sedang lambat ,atau 2 kerja lama
(400-800 ug  Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD oral, atau
BD/hari atau atau ekivalennya) ditambah agonis beta-2  Ditambah
ekivalennya) dan kerja lama oral, atau teofilin lepas
 Glukokortikosteroid inhalasi dosis tinggi lambat
agonis beta-2 kerja (>800 ug BD atau ekivalennya) atau
lama  Glukokortikosteroid inhalasi (400-800 ug BD
atau ekivalennya) ditambah leukotriene
modifiers

Asma Kombinasi inhalasi Prednisolon/ metilprednisolon oral selang sehari


Persisten glukokortikosteroid 10 mg
Berat (> 800 ug BD atau
ekivalennya) dan ditambah agonis beta-2 kerja lama oral, ditambah
agonis beta-2 kerja teofilin lepas lambat
lama, ditambah  1
di bawah ini:

 teofilin lepas
lambat
 leukotriene
modifiers
 glukokortikosteroi
d oral

17
BAB III
ANALISIS KASUS

ANALISIS PASIEN SECARA HOLISTIK


a. Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar
Pasien Ny RTS Nuraini 43 tahun, Pasien datang dengan keluhan sesak nafas
disertai suara ngik + 1 hari yang lalu, sesak didahului dengan batuk, sesak
terutama malam hari dan pagi hari saat cuaca dingin. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan suara mengi pada kedua lapangan paru, ekspirasi
memanjang, RR 26 x/I, N 96 x/i. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik,
akhirnya didapatkan diagnosa penyakit yang diderita pasien yaitu Asma
eksarsebasi akut.
 Rumah pasien berupa rumah semi permanen beratap seng dengan
ukuran 8 x 6 meter ketinggian ± 3 meter dari permukaan tanah. Terdiri
dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, 1 ruang tengah, 1 dapur dan 1 kamar
mandi. Untuk keperluan mandi dan cuci piring, cuci baju, pasien
lakukan di belakang rumahnya langsung dengan menggunakan sumber
air dari sumur sedangkan untuk air minum dari air PAM. Untuk buang
air besar pasien lakukan di WC yang berada di dalam rumah bagian
belakangnya. Di langit-langit rumah banyak debu, begitu juga dengan
di lemari dan barang-barang yang ada dirumahnya. Menurut pengakuan
pasien, debu rumah dibersihkan 3 minggu sekali. Ventilasasi rumah
pasien cukup baik.
 Disini ada hubungan keadaan rumah dengan penyakit yang diderita
pasien dikarenakan kekambuhan penyakit asma sendiri bias dicetuskan
dari alergen dalam rumah seperti debu-debu yang ada dirumahnya.

b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga


Secara psikologis pasien tidak punya masalah dalam keluarga.
 Didalam hubungan diagnosis dan aspek psikologis dikeluarga tidak ada
hubungannya dengan penyakit pasien, karena didalam keluarga pasien
berhubungan baik dengan anggota keluarga lainnya.

18
c. Hubungan diagnosis dengan prilaku kesehatan dalam keluarga dan
lingkungan sekitar
 Prilaku kesehatan dalam keluarga os yang membersihkan debu-debu
dirumah 3 minggu sekali merupakan perilaku kesehatan yang cukup
buruk. Selain itu pada kasus ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan
berupa infeksi saluran pernapasan yaitu batuk.

 Bila dilihat dari keadaan prilaku kesehatan dalam keluargan maka jelas
ada hubungannya dengan penyakit yang dialami oleh pasien karena
debu yang menumpuk dirumah tersebut merupakan faktor pencetus dari
penyakit asma.
d. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi pada
penyakit ini
 Adapun faktor yang menimbulkan penyakit asma pada pasien ini terdiri
dari 2 faktor yakni bakat yang diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Dimana bakat yang diturunkan adalah atopi, hiperaktivitas bronkus, dan
obesitas. Sedangkan faktor yang dicetuskan dari lingkungan berupa
alergen dalam rumah. Seperti debu- debu yang dibiarkan didalam
rumah.
e. Analisis untuk mengurangi paparan/ memutus rantai penularan
dengan faktor resiko atau etiologi pada pasien ini
 Edukasi kepada pasien tentang tata cara menghindari faktor pencetus
 Edukasi kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaan
penyakit apabila dalam serangan.
 Hindari faktor pencetus, seperti cuaca dingin (pakai jaket), makanan,
asap rokok, dll.
 Menjaga kebersihan lingkungan rumah.
 Tingkatkan daya tahan tubuh, dengan makan makanan bergizi
 Jika batuk segera berobat sehingga tidak menyebabkan asma
 Minum obat secara rutin seumur hidup dan kontrol ulang tiap bulan
 Mengikuti saran-saran dokter.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Riyanto BS, Hisyam B. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut. Dalam : Buku


Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi ke - 4. Jakarta : Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006. h 978 – 87.
2. Alsagaff H, Mukty A. Dasar - Dasar Ilmu Penyakit Paru. Edisi ke – 2.
Surabaya : Airlangga University Press. 2002. h 263 – 300.
3. Rahmawati I, Yunus F, Wiyono WH. Patogenesis dan Patofisiologi Asma.
Jurnal Cermin Kedokteran. 2003; 141. 5 – 6.
4. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardani WI, Setiowulan W. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta : Media Aesculapius FKUI. 2001. h
477 – 82.
5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan di Indonesia. 2003. h 73-5
6. Mcfadden ER. Penyakit Asma. Dalam Harrison Prinsip-prinsip Ilmu
Penyakit Dalam. Isselbacher KJ et al, editor. Jakrta : EGC. 2000. 1311-18.

20
LAMPIRAN

21