Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

TEKNIK PEMUPUKAN N DENGAN MENGGUNAKAN BWD


PADA BEBERAPA VARIETAS PADI DAN JAGUNG
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL

F.Tabri
Balai Penelitian Tanaman Serealia

Abstrak. Pertanaman padi yang membutuhkan banyak air semakin sulit


dipertahankan karena terjadinya perubahan iklim dan pola curah hujan, Pada
lahan sawah irigasi yang dulunya monokultur padi, kini sebagian telah
didiversifikasi dengan jagung. Diversifikasi komoditas yang diarahkan kepada
diversifikasi pangan akan menghasilkan keamanan pangan. Jagung yang
dihasilkan tidak hanya untuk pakan saja, tetapi sebagian untuk pangan. Dalam
upaya peningkatan produksi padi dan jagung maka komponen teknologi yang telah
dihasilkan dari berbagai penelitian yang dapat memberikan pengaruh sinergistik
dirakit dengan pendekatan sistem usahatani. Teknologi produksi tersebut mencakup
varitas unggul dan pemupukan yang efisien sesuai dengan kondisi lahan dan sosial
ekonomi masyarakat setempat. Pertumbuhan dan hasil tanaman, khususnya padi,
berhubungan erat dengan warna hijau dari daun, hasil penelitian memperlihatkan
tanaman yang diberi pupuk sesuai dengan BWD (N3) memberikan hasil tertinggi
untuk klorofil 60 hst (39.80) dan hasil GKP (P1N3) sebesar 6.01 t/ha, sedangkan
untuk jagung Cara pemberian N berdasarkan BWD juga nyata lebih tinggi hasilnya
dibanding pemberian N cara petani. Hasil yang diperoleh berkisar antara 5.38
t/ha hingga 6.83 t/ha

Kata Kunci : Pengelolaan, Nitrogen, Bagan Warna Daun, dan Pola Tanam

PENDAHULUAN

Padi dan jagung merupakan dua komoditas pangan pokok di Indonesia. Kedua
komoditas tersebut juga merupakan bahan baku beraneka macam pangan dan bahan
pakan. Demikian besarnya peran kedua komoditi tersebut dalam kehidupan masyarakat
sehingga keduanya harus diimpor karena produksi dalam negeri tidak mencukupi
kebutuhan. Meskipun Indonesia menghasilkan 5.445 juta ton gabah tahun 2006, tetapi
tetap masih mengimpor 1,9 juta ton beras (www.irri.org. 2007b). Jagung juga demikian.
Tahun 2005 dihasilkan 12,4 juta ton jagung, tetapi tetap diperlukan impor 1,8 juta ton
(Kasyrino. 2003. BPS 2006).
Di Indonesia jagung dibudidayakan pada lingkungan yang beragam. Jagung
diproduksi sekitar 79% di lahan kering, sisanya terdapat dilingkungan sawah irigasi 11%
dan sawah tadah hujan 10% (Mink et al. 1987). Diperkirakan areal pertanaman jagung
pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan berturut-turut meningkat 10–15% dan
20–30% terutama pada daerah produksi jagung komersial (Kasryno. 2003). Pada propinsi
Jawa Timur dan Lampung, dua propinsi penghasil utama jagung di Indonesia, teramati
bahwa dalam musim kemarau pada lahan sawah, tanaman jagung lebih diminati daripada
tanaman palawija lain, bahkan sebagian petani padi mulai beralih mengusahakan jagung.
Hal yang sama juga teramati di beberapa propinsi lainnya seperti Sulawesi Selatan, Jawa
Tengah, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat.
Tiga dasawarsa pra-swasembada beras pembangunan pertanian dilaksanakan
berdasarkan atas tiga strategi utama dengan urutan prioritas: intensifikasi, ekstensifikasi,
dan diversifikasi. Pasca-swasembada beras, skala prioritas strategi pembangunan dirubah
menjadi diversifikasi, intensifikasi, dan ekstensifikasi. Sejak dahulu petani telah

162
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

menerapkan diversifikasi komoditi usahatani untuk memenuhi aneka kebutuhan keluarga,


memenuhi permintaan pasar, menstabilkan usahatani, dan meningkatkan pendapatan.
Kini disadari bahwa diversifikasi usahatani akan mengurangi resiko perubahan iklim,
serangan hama dan penyakit, tingkat harga yang rendah, serta akan meningkatkan
pemanfaatan sumber daya manusia, kesempatan kerja, kesempatan berusaha,
pemanfaatan sumber daya alam dan modal, dan kesuburan tanah (Kasyrino et al., 2004).
Pada lahan sawah irigasi yang dulunya monokultur padi, kini sebagian telah
didiversifikasi dengan jagung. Diversifikasi komoditi yang diarahkan kepada diversifikasi
pangan akan menghasilkan keamanan pangan. Jagung yang dihasilkan tidak hanya untuk
pakan saja, tetapi sebagian untuk pangan, baik dikonsumsi langsung tanpa proses, dalam
bentuk biji kering yang telah diproses, ataupun ditepungkan untuk bahan baku beraneka
pangan. Demikian pula halnya dengan padi, bukan hanya dikonsumsi dalam bentuk
butiran (Sadjad, 2007).
Pertanaman padi yang membutuhkan banyak air semakin sulit dipertahankan
karena terjadinya perubahan iklim dan pola curah hujan, pendangkalan sungai dan waduk,
rusaknya saluran irigasi. Akibatnya tanaman padi sering mengalami kekeringan.
Pemanfaatan air yang tidak mencukupi untuk padi pada sawah dengan jagung yang
kebutuhan airnya lebih sedikit dapat terkendala berbagai masalah. Masalah yang mungkin
dihadapi di antaranya, tanah yang terlalu basah untuk tanaman jagung ketika padi telah
dipanen, pertanaman jagung yang dapat mengalami kekeringan jika selang waktu
pertanaman padi dan jagung cukup lama, dan pertanaman jagung tergenang air jika hujan
turun di luar perkiraan. Untuk itu perlu diketahui waktu tanam yang tepat, varietas yang
sesuai dalam pola tanam padi-jagung, penyiapan lahan tanpa olah tanah untuk mengejar
waktu tanam, sistem drainase dan irigasi mengantisipasi turunnya hujan dan kekeringan.
Dalam upaya peningkatan produksi padi dan jagung maka komponen teknologi
yang telah dihasilkan dari berbagai penelitian yang dapat memberikan pengaruh
sinergistik dirakit dengan pendekatan sistem usahatani. Teknologi produksi tersebut
mencakup varitas unggul dan pemupukan yang efisien sesuai dengan kondisi lahan dan
sosial ekonomi masyarakat setempat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari respon komponen hasil
tanaman jagung dan komponen hasil dari tiga varitas padi terhadap pemberian N
berdasarkan BWD.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di kecamatan Bontonompo, kabupaten Gowa, Sulawesi


Selatan. Diperkirakan sekitar 80% pola pertanaman pada sawah irigasi di kecamatan
tersebut adalah padi-padi-jagung. Pada kecamatan ini diusahakan untuk ditingkatkan
intensitas pertanamannya menjadi 4 kali (IP 400), yaitu padi-padi-jagung-jagung.
Sawah irigasi di Kecamatan Bontonompo sebagian besar masih mendapat pasokan
air dari air irigasi untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi hingga dua kali
pertanaman. Setelah pertanaman padi kedua, tanaman jagung merupakan pilihan utama
yang dipandang petani memberikan hasil tertinggi.
Tingkat dan mutu hasil jagung yang diusahakan rendah akibat terkena hujan yang
telah turun pada akhir pertanaman (Fadhly et al., 2008). Untuk menghindari kerusakan
biji jagung yang dihasilkan maka perlu diusahakan agar panen terhindar dari hujan.
Karena itu padi yang ditanam perlu dipilih kultivar yang memiliki umur yang lebih
genjah dari pada yang diusahakan petani, penggunaan bibit padi umur muda, selang
waktu antara pertanaman perlu dipersingkat, bibit telah siap pada saat panen padi I,

163
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

penyiapan lahan untuk pertanaman jagung dengan tanpa olah tanah, dan sistem
pertanaman secara bersisipan yang dilakukan 7 hari sebelum jagung pertama dipanen.
Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak
perlakuan berukuran 6 m x 4 m. Varitas ditempatkan pada petak utama dan pemupukan N
pada anak petak. Penelitian tersebut dilakukan empat kali, yaitu dua kali untuk padi dan
dua kali untuk jagung. Padi ditanam dengan jarak 25 cm x 20 cm sebanyak 2-3
bibit/rumpun, dan jagung ditanam dengan jarak 75 cm x 40 cm, dua benih/lubang tanam.
Untuk padi, varitas yang akan diuji adalah Ciherang (V1), Inpari -7 (V2) dan
Dodokan (V3). Adapun pupuk N yang akan diuji adalah pemberian N cara petani, yaitu
diberikan sekaligus pada dengan 14 hst dengan takaran 300 urea dan 100 ZA/ha (N1),
pemberian N berdasarkan rekomendasi (N3), dan pemberian N berdasarkan BWD (N3).
Cara penggunaan BWD pada pertanaman padi adalah:
• Dipilih secara acak 10 rumpun tanaman sehat yang seragam, lalu didiamati daun
teratas yang telah membuka penuh pada setiap rumpun.
• Ditaruh bagian tengah daun di atas BWD dan dibandingkan antara warna daun dengan
warna pada panel BWD. Jika warna daun berada di antara dua skala, gunakan nilai
rata-ratanya, misalnya 3,5 untuk skala antara 3 dan 4.
• Sewaktu mengukur warna daun dengan BWD, jangan menghadap sinar matahari,
sebab pantulan sinar matahari dari daun padi dapat berpengaruh pada pengukuran
warna daun.
• Dipilih waktu pembacaan daun pada pagi atau siang hari. Hindari menilai warna daun
dengan BWD di tengah terik matahari.
• Pengukuran dilakukan pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama.
• Jika 6 atau lebih dari 10 daun yang diamati warnanya berada antara skala 4-5 pada
BWD maka diberi 50 kg urea/ha, berada antara skala 3-4 pada BWD diberi 125 kg
urea/ha, dan antara skala 2-3 BWD diberi 150 kg urea/ha.
Untuk jagung, varitas yang akan diuji adalah NK-33 (J1), BISI -16 (J2) dan Bima 5
(J3). Sedangkan pemberian N yang diuji adalah cara petani yaitu cara dengan takaran 500
kg urea dan 200kg ZA/ha yang diberikan pada 15 hst (N1), pemberian N dengan takaran
400 kg/ha, 1/3 takaran pada 7 hst dan 2/3 pada 30 hst (N2), dan pemberian N berdasarkan
BWD (N3).
Cara penggunaan BWD pada pertanaman jagung adalah:
• Daun yang akan diamati warnanya adalah daun yang telah terbuka sempurna (daun ke-
3 dri atas). Dipilih 10 tanaman secara acak.
• Daun yang akan diamati warnanya dilindungi dari sinar langsung dengan
membelakangi matahari, sehingga daun atau BWD tidak terkena langsung sinar
matahari agar pengamatan tidak terganggu oleh pantulan sinar yang menyebabkan
mata silau.
• Daun diletakkan di atas BWD. Bagian daun yang diamati adalah sekitar 1/3 dari ujung
daun, kemudian warna daun dibandingkan dengan skala warna pada BWD. Skala yang
paling sesuai dengan warna daun dicatat. Jika warna daun berada di antara dua skala
maka digunakan nilai tengahnya, misalnya antara 2,5 antara skala 2 dan 3.
• Nilai rata-rata dari hasil pengamatan BWD digunakan untuk menentukan takaran
pupuk yang akan diberikan. Jika nilai pengamatan <4,0 maka diberikan 150 kg
urea/ha, ≥4,0-4,5 diberikan 100 kg urea/ha, dan ≥4,5-5,0 diberikan 50 kg urea/ha.

164
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

Pengamatan untuk padi meliputi


• Jumlah anakan dan tinggi tanaman pada saat 70 HST, dari 12 rumpun sampel tiap
petak percobaan.
• Intensitas warna hijau daun diamati menggunakan SPAD-502, dari daun-daun rumpun
sampel.
• Bobot kering bagian-bagian tanaman dari 12 rumpun sampel tiap petak percobaan yang
terdiri dari batang, daun dan malai/gabah pada waktu panen.
• Komponen hasil dari 12 rumpun tiap petak percobaan berupa jumlah malai, jumlah
gabah (total, isi dan hampa) per rumpun, persentase gabah hampa, kadar air gabah dan
bobot 1000 butir gabah isi.
• Hasil gabah diambil dari ubinan seluas 3 m x 4 m dan ditentukan kadar airnya waktu
panen. Produksi gabah ditentukan berdasarkan Gabah Kering Giling (GKG), dalam
kg/ha.

Pengamatan untuk jagung meliputi


ƒ Tinggi Tanaman
ƒ Tinggi letak tongkol
ƒ Bobot tongkol
ƒ Bobot biji/tongkol
ƒ Bobot 100 biji
ƒ Produktivitas (biji dan biomas)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan pemupukan pada padi dengan mengikuti cara petani, rekomendasi dari
Bimas dan Bagan Warna Daun (BWD). Penelitian dilakukan di lahan petani di
Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa dengan tkstur tanah lempung berdebu.Hasil
análisis tanah sebelum penelitian seperti tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisis tanah lokasi penelitian efisiensi hara. Gowa, MK 2009
Macam Penetapan kadar Kriteria
Tekstur : Lempung berdebu
Liat (%) 11
Debu (%) 62
Pasir (%) 27
pH H2O (1 : 2.5) 5.55 Agak Masam
pH KCl (1 : 2,5) 4.92
C- Organik (%) 0.66 Sangat Rendah
N-Total (%) 0.09 Sangat Rendah
C/N 0.09 Rendah
P-Bray I (ppm) 18.25 Rendah
Kdd (me/100 g) 0.13 Rendah
Cadd (me/100g) 3.98 Sedang
Mgdd (me/100g) 1.76 Sangat Rendah
Nadd (me/100g) 0.12 Sangat Rendah
Aldd (me/100 g) 0.09 Rendah
+
H (me/100 g) 0.08 Sangat Rendah
Nilai Tukar Kation 10.09 Rendah
(me/100 g)
Berdasarkan hasil analisis laboratorium tanah, Balitsereal, Maros. 2009

165
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

Dari hasil análisis tanah, terlihat bahwa lokasi penelitian mempunyai tekstur
Lempung berdebu, dengan kandungan N, P, K tergolong sangat rendah sampai sedang.

Pertumbuhan Tanaman Padi

Komponen hasil pertumbuhan tanaman merupakan indikator untuk mengetahui


karakteristik dari tanaman dalam hubungannya dengan hasil tanaman dan bagaimana
hasil tersebut dapat dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan dan faktor lingkungan
setempat.

Tabel 2. Pengaruh Varietas dan Pemupukan terhadap tinggi tanaman padi dan Klorofil
daun tanaman pada Pengelolaan Nitrogen dalam Sistem Usahatani Padi-Padi -
Jagung-Jagung, Bontonompo Kab Gowa, sulawesi selatan MK 2009

Perlakuan TinggiTanaman Klorofil Klorofil Jumlah anakan


(70 hst) (40 hst) (60 hst) (45 hst)
P1N1 87.70 c 35.01 b 36.29 bc 16.63 bc
P1N2 87.28 c 32.25 c 36.53 bc 16.60 bc
P1N3 93.07 a 39.77 a 37.51 bc 18.50 ab
P2N1 88.48 c 34.36 bc 38.29 ab 16.33 bc
P2N2 90.73 b 34.12 bc 37.10 bc 15.47 c
P2N3 92.17 ab 40.63 a 38.40 ab 18.70 ab
P3N1 80.59 d 34.31 bc 36.07 c 15.13 c
P3N2 83.57 c 35.60 b 38.37 ab 16.43 bc
P3N3 84.20 c 41.24 a 39.80 a 20.83 a

Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji BNT

Pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil yang tinggi membutuhkan suplai
nitrogen (N) yang cukup, bila suplai N tak cukup tanaman akan mengalami kekurangan
N, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan organ dan keseluruhan tanaman yang tidak
normal. Gejala kekurangan N yang paling jelas dan biasa terlihat adalah berkurangnya
warna hijau dari dedaunan (chlorosis), yang umumnya agak terdistribusi merata pada
keseluruhan daun. Pada tanaman padi, kekurangan N ditandai oleh berkurangnya anakan;
jumlah malai per satuan luas dan juga jumlah gabah per malai berkurang. Karena itu,
pertumbuhan dan hasil tanaman, khususnya padi, berhubungan erat dengan warna hijau
dari daun.Terlihat dari hasil penelitian bahwa tanaman yang diberi pupuk sesuai dengan
BWD (N3) memberikan hasil tertinggi untuk klorofil 60 hst (39.80) dan hasil GKP
(P1N3) sebesar 6.01 t/ha, dibandingkan dengan cara petani dan rekomendasi (Tabel 2,3).
Efisiensi penggunaan pupuk N rendah, hanya 19-47% dari N yang diberikan bisa diserap
oleh tanaman padi. Mukherjee (1986) juga sudah melaporkan bahwa, pada kondisi paling
optimum, penyerapan pupuk N yang diberikan ke tanaman hanyalah sekitar 40-50%.
Pada awal pertumbuhan (Fase vegetative), peranan pupuk sebagai penyedia unsur
Nitrogen, Phosfor dan Kalium sangat penting untuk mendukung pembentukan dan
pemanjangan organ tanaman yang dicirikan oleh pembentukan jumlah anakan.Memasuki
fase generarif fotosintat yang dihasilkan dimanfaatkan untuk pemasakan bulir padi
sehingga tampak bernas yang dicirikan dengan bobot 1000 biji. Hasil penelitian untuk
berat 1000 biji tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara perlakuan cara petani
(N1), berdasarkan rekomendasi (N2) dan BWD (N3) untuk varietas Ciherang (P1) dan
Inpari-3 (P2) (Tabel 3).

166
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

Fagi et al. (2004) melaporkan bahwa pemberian pupuk N, P, K dan kombinasinya


pada varietas IR64 di Sukamandi berpengaruh terhadap jumlah malai per rumpun dan
jumlah gabah per malai, namun tidak berpengaruh terhadap bobot 1000 butir gabah.
Syafruddin et al. (2003) melaporkan pula bahwa pemupukan N secara konsisten
menambah panjang malai, dan menurunkan persentase gabah hampa varietas Kapuas,
Lematang, Lalan, dan Cisanggarung pada lahan sawah bukaan baru dan lahan rawa.

Tabel 3 .Pengaruh Varietas dan Pemupukan terhadap tinggi tanaman padi dan Klorofil
tanaman pada Pengelolaan Nitrogen dalam Sistem Usahatani Padi-Padi-
Jagung-Jagung, Bontonompo, Kab Gowa,Sulawesi Selatan MK 2009.

Perlakuan Jumlah Malai Bobot 1000 Hasil GKP


/rumpun biji
P1N1 124.00 a 24.00 a 5.81 abc
P1N2 111.33 ab 23.40 ab 5.39 bcd
P1N3 131.00 a 24.10 a 6.01 a
P2N1 93.00 bc 24.27 a 5.35 cd
P2N2 94.00 bc 24.43 a 5.02 d
P2N3 108.00 ab 24.46 a 5.99 ab
P3N1 74.33 c 21.43 c 5.52 abcd
P3N2 118.33 ab 20.76 c 5.17 d
P3N3 124.00 ab 21.73 bc 5.90 abc
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut uji
BNT

Hasil yang di capai berkisar antara 5.02 hingga 6.01 t/ha GKP (Tabel 3). Ini
menunjukkan bahwa kandungan hara dalam tanah ditambah dengan pemberian pupuk
berdasarkan BWD sudah cukup untuk mensuplai sebagian kebutuhan hara oleh tanaman
yang ditunjukkan dari hasil P1N3 sebesar 6.01 t/ha GKP.

Pertumbuhan Tanaman jagung

Secara statistik, Varitas dan cara pemberian N tidak berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman jagung, tetapi berpengaruh nyata terhadap jumlah biji/tongkol, bobot 100
biji dan hasil biji (Tabel 4). Varitas hibrida Bima 3 dan Bima 5 memberikan hasil biji
yang lebih tinggi dibanding NK 33 yang diusahakan petani. Cara pemberian N
berdasarkan BWD juga nyata lebih tinggi hasilnya dibanding pemberian N cara petani.
Hasil yang diperoleh berkisar antara 5.38 t/ha hingga 6.83 t/ha. (Tabel 4). Hal ini
menunjukkan bahwa hara N lebih tinggi terdapat dalam biji dibanding yang terdapat
dalam brangkasan.

167
Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009 ISBN :978-979-8940-27-9

Tabel 4 . Pengaruh varitas dan cara pemberian N terhadap tinggi tanaman, biji dan hasil
biji jagung pada Pengelolaan Nitrogen dalam Sistem Usahatani Padi-Padi-
Jagung-Jagung, Bontonompo, Gowa, 2009.

Perrlakuan Tinggi Jumlah Bobot 100 biji Hasil (t/ha)


tanaman (cm) biji/tongkol (g) KA 15%
J1N1 132.33 tn 365 e 33.5 b 4.87 d
J1N2 125.33 352 e 35.3 a 5.77 c
J1N3 123.67 415 b 35.7 a 6.13 b
J2N1 128.33 392 d 31.6 c 5.38 c
J2N2 121.67 425 a 33.6 b 6.33 ab
J2N3 127.33 410 bc 34.7 a 6.05 b
J3N1 130.00 419 b 33.4 b 5.83 bc
J3N2 133.67 430 ab 34.6 ab 6.80 a
J3N3 136.67 432 a 34.3 ab 6.83 a
Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji BNT

KESIMPULAN

• Pemberian pupuk nitrogen berdasarkan bagan warna daun (BWD) pada padi maupun
jagung lebih efisien dibanding pemberian N dengan cara petani atau berdasarkan
rekombinasi Tim Teknis Pengkajian Teknologi setempat.
• Pemberian N berdasarkan BWD memberikan hasil lebih tinggi baik untuk tanaman
padi maupun untuk jagung.

DAFTAR PUSTAKA

Fadhly, A.F., Zubachtirodin, Syafrudin, F. Tabri, M. Aqil, Bahtiar dan S. Panikkai. 2008.
Identifikasi petani dan lahan dengan sistem usahatani padi-padi-jagung dan padi-jagung-
jagung pada sawah irigasi. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, 26p.
Fagi, A.M. dan S. Partohardjono. 2004. Diversifikasi usahatani berorientasi padi. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Jakarta., p.201-224.
Kasryno, F. 2003 Perkembangan produksi dan konsumsi jagung dunia dan implikasinya bagi
Indonesia. Dalam F. Kasyrino, E. Pasandaran dan A.M. Fagi (ed) Ekonomi Jagung
Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta, p.15-36.
Kasryno, F. A.M. Fagi dan E. Pasandaran. 2003. Kebijakan produksi padi dan diversifikasi
pertanian. Ekonomi padi dan beras Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Jakarta., p.73-106.
Syafruddin, S. Saenong dan Subandi. 2008. Penggunaan bagan warna daun untuk efisiensi
pemupukan N pada tanaman jagung. Penelitian Pertanian 27(1):24-31.
Tirtoutomo, S., S. Solehuddin, G.Soepardi dan H. Taslim. 1991. Pengaruh macam dan waktu
pemberian pupuk nitrogen terhadap efisiensi pengambilan nitrogen oleh tanaman jagung.
Media Penelitian Sukamandi, 9:5-10.
www.irri.org. 2007a. Workgroups. About CURE.
www.irri.org. 2007b. Workgroups. Council for Partnership on Rice Research in Asia. Country
Report: Indonesia.

168