Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Asfiksia neonatorum merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan

gangguan pertukaran gas pernafasan (oksigen dan karbondioksida) yang

mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan hiperkapnia serta asidosis metabolik.

Karakteristik asfiksia neonatorum ditandai dengan asidemia metabolik atau

campuran (metabolik dan respiratorik), nilai apgar score 0-3 pada menit ke 5,

adanya manifestasi neurologi pada bayi baru lahir (termasuk kejang hipotonia,

koma, atau ensefalopati hipoksia toksik), dan adanya disfungsi sistem

multiorgan.1

Asfiksia neonatorum masih menjadi salah satu masalah yang penting di

dunia yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir.

Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator dalam menentukan derajat

kesehatan anak. Periode neonatal (28 hari pertama kehidupan) merupakan waktu

yang paling rentan untuk kelangsungan hidup anak. Tahun 2013 hampir 1 juta

bayi baru lahir meninggal pada 24 jam pertama kehidupan, artinya sebesar 16%

dari total kematian balita dan lebih dari sepertiga dari total kematian neonatal.

Dua juta bayi baru lahir meninggal dalam tujuh hari pertama kehidupan (73% dari

kematian neonatal). Tahun 1990 sampai dengan tahun 2013, 86 juta bayi baru

lahir yang lahir di seluruh dunia meninggal 28 hari pertama kehidupan.2 Ada

banyak faktor yang mempengaruhi tingkat Angka Kematian Bayi. Data dari Riset

Kesehatan Dasar pada tahun 2007 menyebutkan bahwa penyebab tersering

kematian neonatus (0- 28 hari) adalah gangguan pernafasan sebesar 37%.3

1
Selain mengakibatkan tingginya angka morbiditas dan mortalitas, asfiksia

juga akan mengakibatkan gejala sisa pada berbagai sistem organ, paling banyak

sistem saraf pusat. Diperkirakan 1 juta anak yang bertahan, setelah mengalami

asfiksia saat lahir akan mengalami cerebral palsy, retardasi mental, dan gangguan

belajar sebagai dampak jangka panjang kelainan ini. Prognosis bergantung pada

penanganan dan adanya gejala sisa dari asfiksia neonatorum. Karena dapat

mempengaruhi perilaku, masalah sosial dan perhatian anak pada kehidupannya

sehari-hari. 4

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka referat ini dibuat untuk lebih

memahami mengenai asfiksia neonatorum.

2.2 Batasan Penulisan

Referat ini membahas tentang asfiksia neonatorum (definisi, epidemiologi,

etiologi, faktor resiko, patofisiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis,

tatalaksana, komplikasi, dan prognosis).

2.3 Tujuan Penulisan

Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah wawasan tentang asfiksia

neonatorum.

2.4 Metode Penulisan

Penulisan referat ini dilakukan melalui tinjauan berbagai literatur yang

relevan terkait asfiksia neonatorum.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Asfiksia pada bayi baru lahir adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang

gagal bernafas secara spontan dan teratur segera lahir. 5 Istilah "asfiksia" berasal

dari bahasa Yunani yang berarti "stopping of the pulse". Asfiksia bayi baru lahir

adalah suatu kondisi yang ditandai dengan gangguan pertukaran gas pernafasan

(oksigen dan karbon dioksida) yang mengakibatkan terjadinya hipoksemia dan

hiperkapnia serta asidosis metabolik.6 Asfiksia diartikan sebagai suatu kondisi

kekurangan pasokan oksigen yang bisa menyebabkan kerusakan organ yang parah

berupa hipoksia iskemik pada bayi baru lahir yang diikuti oleh outcome yang fatal

atau kondisi patologi berat yang berlangsung seumur hidup.7

Asfiksia merupakan kondisi pada bayi baru lahir akibat berkurangnya

oksigen dan perfusi pada berbagai organ. Hal ini disebabkan karena bayi tidak

mendapatkan cukup oksigen sebelum, selama, dan setelah persalinan. Seorang ibu

mungkin memiliki kondisi kesehatan yang menyebakan kadar oksigen tubuhnya

menurun, atau mungkin karena masalah pada plasenta yang mengganggu sirkulasi

plasenta, atau karena bayi tidak mampu bernafas setelah dilahirkan.8 Literatur lain

menyebutkan asfiksia sebagai kegagalan untuk memulai dan mempertahankan

pernapasan saat lahir. Resusitasi yang efektif saat lahir dapat mencegah kematian

akibat kondisi ini.5

Dalam penelitian lain disebutkan bahwa asfiksia bayi baru lahir adalah

gangguan sementara pasokan oksigen yang berimplikasi pada perubahan

3
metabolik walaupun tidak menimbulkan outcome yang fatal. Asfiksia terjadi

karena terdapat tiga faktor yang saling terkait yaitu adanya fetal distres, depresi

nafas saat lahir, dan asidosis metabolik.6

2.2 Epidemiologi Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Asfiksia neonatal merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan

mortalitas pada periode bayi baru lahir. Asfiksia bayi baru lahir memiliki insidensi

1 sampai 6 per 1.000 kelahiran hidup, dan merupakan penyebab kematian

neonatal ketiga yang paling umum (23%) setelah kelahiran prematur (28%) dan

infeksi berat (26%). Sedangkan menurut laporan World Health Organitation

(WHO) tahun 2000 – 2003 asfiksia menempati urutan ke-6, yaitu sebanyak 8%,

sebagai penyebab kematian anak diseluruh dunia setelah pneumonia, malaria,

sepsis neonatorum dan kelahiran prematur. Diperkirakan 1 juta anak yang

bertahan setelah mengalami asfiksia saat lahir, kini hidup dengan morbiditas

(angka kesakitan) jangka panjang seperti cerebral palsy, retardasi mental dan

gangguan belajar. 5,7

Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007

menunjukkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi yaitu

34/1.000 kelahiran hidup. Sekitar 56% kematian terjadi pada periode sangat dini

yaitu di masa neonatal. Angka Kematian Neonatal (AKN) yaitu bayi 0 – 28 hari

di Indonesia periode 5 tahun terakhir mengalami stagnansi. Berdasarkan laporan

SDKI 2007 kematian neonatal sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup dan 2012

sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup. Kematian neonatal menyumbang lebih dari

setengahnya kematian bayi (59,4%), jika dibandingkan dengan angka kematian

balita, kematian neonatal menyumbangkan 47,5%.7

4
2.3 Etiologi dan Faktor Risiko Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Faktor risiko yang telah terbukti berkaitan dengan asfiksia bayi baru lahir

meliputi faktor prakonsepsi, antepartum dan intrapartum.1

Tabel 2.1 Faktor Resiko Asfiksia Bayi Baru Lahir26


Faktor Resiko Antepartum Faktor Resiko Intrapartum
Ibu diabetes Operasi sesar darurat
Hipertensi saat hamil Kelahiran dibantu vakum atau
forceps
Penyakit kronis ibu Kelahiran kurang bulan
(kradiovaskular, tiroid,
neurologis, paru dan ginjal)
Anemia PROM berkepanjangan (> 18 jam)
Riwayat keguguran Korioamionitis
Perdarahan pada trimester 3 Persalinan lama (> 24 jam)
Infeksi maternal Kala dua memanjang (> 3 jam)
Oligohidramnion Plasenta previa
Premature Rupture of Abrupsio plasenta
Membrane (PROM)
Medikasi pada ibu Penggunaan anestesi umum
Malformasi janin Cairan amnion-terwarnai
mekonium
Ibu usia < 16 atau > 35 tahun Tetanus uterus

Mayoritas kasus asfiksia perinatal terjadi intrapartum, meskipun 20% terjadi

antepartum dan kasus lain terjadi pada awal periode postnatal. Asfiksia perinatal

dapat terjadi karena peristiwa pada ibu (perdarahan, emboli cairan amnion;

keruntuhan hemodinamik), abruptio plasenta, ruptur uteri, tali pusat (tali pusat

terikat, prolaps tali pusat/avulsi) dan infeksi intrapartum (demam pada ibu saat

persalinan). Menganalisis riwayat kehamilan dan persalinan sangat penting untuk

menentukan etiologi.10

a. Perdarahan saat kehamilan

Pendarahan pervaginam selama kehamilan sering disebabkan oleh plasenta

previa atau abrupsio plasenta. Solusio plasenta menyulitkan 3 hingga 10 pada

1000 kehamilan dan didefinisikan sebagai perdarahan pada antar plasenta-

5
desidual, atau pemisahan plasenta sebelum melahirkan. Tergantung pada tingkat

keparahan, abrupsi plasenta dapat menyebabkan malapetaka ibu / janin karena

kehilangan darah akut dan penurunan aliran darah janin.12

Abruptio plasenta adalah salah satu faktor risiko terkuat (bersama dengan

prolaps tali pusat dan ruptur uterus) untuk ensefalopati neonatal. Plasenta previa

dan akreta telah dikaitkan dengan peningkatan kecil risiko asfiksia perinatal

karena perdarahan berat. Sulit untuk mengartikan penyebab utama asfiksia dari

perdarahan antepartum saja. Paling sering, pendarahan terjadi bersama dengan

faktor risiko atau penyebab yang mendasari. Misalnya, abruptio plasenta biasanya

berhubungan dengan hipertensi maternal yang sebelumnya, penyalahgunaan zat,

overdistensi uterus, trauma, atau ketuban pecah. 12

Dengan demikian, pendarahan selama kehamilan sering merupakan hasil

dari (kadang sudah berangsung lama) kondisi pendarahan yang mendasarinya.

Intervensi selama persalinan mungkin tidak berdampak pada kasus semacam itu.12

b. Komplikasi Persalinan

Komplikasi persalinan, seperti distosia bahu dan komplikasi sulit lainnya

atau persalinan (berkepanjangan), misalnya, distosia dinding perut, juga terkait

dengan peningkatan risiko asfiksia. Risiko ini terutama disebabkan oleh

kurangnya oksigenasi janin selama kontraksi uterus, kompresi tali pusat, dan

upaya ekspulsif ibu proksimal pada persalinan. Kala dua yang memanjang tanpa

distosia saat melahirkan belum dikaitkan dengan hasil yang merugikan. 12

Cairan amnion dengan meconium stain menjadi salah satu faktor risiko.

Pada janin sehat dan teroksigenasi, mekonium encer ini siap dibersihkan dari

6
paru-paru oleh mekanisme fisiologis normal, namun pada beberapa kasus sindrom

aspirasi mekonium terjadi.13

Presentasi sungsang menunjukkan risiko yang lebih tinggi 2.96 kali lebih

tinggi dari asfiksia lahir daripada presentasi lainnya, hasilnya serupa dengan

penelitian sebelumnya. Mungkin karena fakta bahwa presentasi sungsang

memiliki risiko lebih tinggi prolaps tali pusat, kepala yang terjebak, trauma lahir

dan kematian perinatal. 13

c. Kondisi Medis Ibu

Insufisiensi plasenta adalah salah satu penyebab paling umum dari denyut

jantung janin yang abnormal dan dapat menyebabkan asfiksia, terutama saat

pengaturan kontraksi uterus. Insufisiensi plasenta sering dikaitkan dengan kondisi

ibu yang mendasarinya seperti hipertensi, penyakit ginjal, atau diabetes. 12

Hipertensi dapat menyebabkan penurunan aliran darah sehingga terjadi

asfiksia, sedangkan anemia menyebabkan hipoksia intrapartum. 13 Pre-eclampsia /

eclampsia keduanya mengarah pada penurunan aliran darah plasenta, hilangnya

integritas plasenta, dan kerusakan sel-sel endotel. Semua fenomena ini dapat

menyebabkan aliran darah feto-plasenta yang tidak adekuat sehingga dapat terjadi

hipoksia janin yang menyebabkan retardasi pertumbuhan dan asfiksia perinatal.14

Penyakit tiroid ibu, obesitas, dan usia 35 tahun atau lebih tua juga telah

berkaitan dengan asfiksia perinatal. Hipertiroidisme yang tidak terkontrol dan

hipotiroidisme dapat dikaitkan dengan hambatan pertumbuhan janin, kelahiran

prematur, dan gangguan hipertensi pada kehamilan.Selain itu, hipotiroidisme yang

tidak diobati dapat menyebabkan gangguan kognitif masa kanak-kanak dan

7
gangguan perkembangan saraf. Namun, tampaknya tidak ada peningkatan risiko

asfiksia perinatal pada kehamilan karena penyakit tiroid. 12

Demikian pula, usia ibu lanjut (lebih tua dari 35 tahun) dikaitkan dengan

peningkatan risiko lahir mati; tetapi risiko asfiksia perinatal tidak meningkat di

atas wanita yang lebih muda. Terakhir, obesitas merupakan faktor risiko penting

untuk asfiksia perinatal. Peningkatan zat inflamasi karena adipokin, resistensi

insulin, dan asam lemak, yang dapat menyebabkan lipotoxicity menghasilkan

stres oksidatif dan disfungsi endotel di ibu dan jaringan plasenta. 12

2.4 Patofisiologi Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Oksigen sangat penting bagi kehidupan sebelum dan setelah

persalinan.Selama di dalam rahim, janin mendapatkan oksigen dan nutrisi dari ibu

melalui mekanisme difusi plasenta.Sebelum lahir, alveoli paru bayi menguncup

dan berisi cairan.Paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau jalan

untuk mengeluarkan CO2 (karbon dioksida) sehingga paru tidak perlu diperfusi

atau dialiri darah dalam jumlah besar.15

Setelah lahir, bayi tidak berhubungan dengan plasenta lagi sehingga akan

bergantung kepada paru sebagai sumber utama oksigen. Oleh karena itu, beberapa

saat setelah lahir paru harus segera terisi oksigen dan pembuluh darah paru harus

berelaksasi untuk memberikan perfusi pada alveoli dan menyerap oksigen untuk

diedarkan ke seluruh tubuh.15

Biasanya Bayi Baru Lahir (BBL) akan melakukan usaha untuk menghirup

udara ke dalam paru yang menyebabkan cairan paru keluar dari alveoli ke

jaringan interstisial di paru, sehingga oksigen dapat diantarkan ke arteri pulmonal

dan menyebabkan arteriol berelaksasi. Pada bayi yang menangis segera setelah

8
lahir, paru-paru dengan cepat akan mengembang (ekspansi) yang membutuhkan

tekanan puncak inspirasi dan tekanan akhir ekspirasi yang lebih tinggi serta

resistensi pembuluh darah paru akan turun, sehingga aliran darah pulmonal

meningkat secara signifikan. Shunt dari kanan-ke-kiri pada duktus arteriosus

menurun dan akhirnya berbalik saat tekanan arteri pulmonalis menurun di bawah

tekanan darah sistemik. Meningkatnya PaO2 merangsang penutupan duktal.

Sistem vena pulmonal kemudian mengembalikan lebih banyak darah ke atrium

kiri dari pada pada kehidupan janin. Tekanan atrium kiri akan melebihi tekanan

atrium kanan sehingga menyebabkan foramen ovale ditutup secara fungsional.

Resistansi plasenta yang rendah telah hilang dari sirkulasi pada saat tali pusar

dijepit. Peningkatan resistensi vaskular sistemik menyebabkan peningkatan

tekanan darah sistemik yang membantu dalam pembalikan shunt duktus. Sehingga

terbentuklah pola sirkulasi orang dewasa. 16

Pernapasan adalah tanda vital pertama yang berhenti ketika BBL

kekurangan oksigen. Pada periode awal, bayi akan mengalami pernapasan cepat

(rapid breathing) yang disebut gasping primer. Setelah periode awal ini akan

diikuti dengan keadaan bayi tidak bernapas (apnoe) yang disebut apnoe primer.

Pada saat ini frekuensi jantung mulai menurun, namun tekanan darah masih tetap

bertahan. 15

Bila keadaan ini berlangsung lama dan tidak dilakukan pertolongan pada

BBL, maka bayi akan melakukan usaha napas megap-megap yang disebut gasping

sekunder, dan kemudian masuk dalam periode apnoe sekunder. Pada saat ini

frekuensi jantung semakin menurun dan tekanan darah semakin menurun dan

dapat menyebabkan kematian bila bayi tidak segera ditolong.Sehingga setiap

9
menjumpai kasus dengan apnoe, harus dianggap sebagai apnoe sekunder dan

segera dilakukan resusitasi. 15

Adanya gangguan aliran darah plasenta memulai mekanisme adaptif yang

penting dalam janin yang bersifat sirkulasi dan nonsirkulasi. Perubahan sirkulasi

melibatkan redistribusi output jantung dan "sentralisasi" aliran darah ke organ

vital. Respons non-sirkulatoris bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup sel.

Gangguan aliran darah plasenta yang parah atau berkepanjangan, kurangnya

kemampuan untuk adaptasi, meningkatkan risiko cedera organ .

Ketika aliran darah plasenta terganggu, janin bertujuan untuk

mendistribusikan kembali cardiac output untuk melindungi lebih banyak organ

vital (mis., otak, miokardium, dan kelenjar adrenal). Diketahui sebagai "diving

reflex" perubahan aliran darah ini dengan mengorbankan aliran ke organ yang

kurang vital, seperti ginjal, usus, kulit, dan otot. 11

Sejumlah faktor berkontribusi pada refleks ini. Hipoksemia dirasakan oleh

kemoreseptor arteri karotid, memimpin untuk pelepasan katekolamin.

Katekolamin ini, menyebabkan vasokonstriksi perifer dan sentralisasi aliran

darah. Hipoksemia juga menyebabkan penyempitan dari pembuluh darah paru,

dengan penurunan yang dihasilkan dalam aliran darah pulmonal, mengembalikan

darah atrium kiri, dan tekanan atrium. Shunting kanan-ke-kiri di foramen ovale

meningkatkan upaya untuk memberikan lebih banyak darah beroksigen ke jantung

kiri (diarahkan ke otak dan miokardium). Selain itu, mekanisme adaptif dalam

sirkulasi serebral memfasilitasi proses ini. Dengan demikian, resistensi pembuluh

darah otak menurun pada keadaan hipoksemia. Resistensi pembuluh dapat

10
berkurang sebanyak 50%, meningkatkan aliran darah otak, dan mengkompensasi

untuk menurunkan kadar oksigen darah selama awal asfiksia. 11

Ketika tekanan darah sistemik turun cukup rendah, mekanisme kompensasi

gagal. Ambang kritis ini berada pada titik di bawah mana sirkulasi otak tidak bisa

lagi berdilatasi untuk mempertahankan aliran. Pengiriman oksigen serebral

digantikan oleh permintaan dan cedera otak terjadi. 11

Meskipun refleks ini menjadi langkah ideal untuk mempertahankan fungsi

organ kritis tidak semua neonatus tampaknya menunjukkan mekanisme adaptif

pelindung ini secara konsisten. Phelan dan rekannya 18 menjelaskan 14 kasus

hipoksia-iskemik encephalopati (HIE) di mana disfungsi multiorgan tidak terjadi.

Semua ini bayi menjadi cerebral palsy. Itu mengartikan bahwa mekanisme ini

berkontribusi hingga asfiksia pada kasus-kasus ini tidak memungkinkan cukup

waktu untuk memusatkan aliran darah janin (misalnya, ruptur uterus, deselerasi

denyut jantung janin berkepanjangan). Studi pada kedua manusia dan hewan telah

menyarankan bahwa asfiksia intermiten selama kurang dari 1 jam tidak mungkin

untuk menyebabkan cedera otak, tetapi asfiksia "total" berat dapat menyebabkan

cedera otak. 11

2.5 Manifestasi Klinis Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Asfiksia biasanya merupakan akibat hipoksia janin yang menimbulkan

tanda-tanda klinis pada janin atau bayi berikut ini :

1. Denyut Jantung Janin (DJJ) lebih dari 100x/menit atau kurang dari

100x/menit tidak teratur

2. Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala

11
3. Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot, dan organ lain

4. Depresi pernafasan karena otak kekurangan oksigen

5. Bradikardi (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan oksigen pada

otot-otot jantung atau sel-sel otak

6. Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,

kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke plasenta

sebelum dan selama proses persalinan

7. Takipnu (pernafasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan paru-paru atau

nafas tidak teratur/megap-megap

8. Sianosis (warna kebiruan) karena kekurangan oksigen didalam darah

9. Penurunan terhadap spinkters

10. Pucat 6

2.6 Diagnosis Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Asfiksia neonatal dapat terjadi pada seluruh bayi tanpa memandang usia

gestasi, namun resiko meningkat pada bayi dengan usia gestasi preterm dan

berbanding lurus dengan semakin mudanya usia gestasi. Penyakit ini dapat

disebabkan masalah pada saat masa kandungan, partus dan setelah lahir sehingga

beberapa ahli beralih menggunakan istilah asfiksia perinatal.17

Anamnesis lengkap pada ibu perlu dilakukan untuk meramalkan kejadian

asfiksia neonatal yaitu dengan menanyakan faktor resiko. Faktor resiko pada

asfiksia neonatal dibedakan menjadi resiko anterpartum dan intrapartum. Resiko

anterpartum dapat berupa usia ibu >40 tahun, BMI >30, oligo atau

polihidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR), induksi lahir, penyakit ibu dan

riwayat operasi sesar sebelumnya, sedangkan resiko intrapartum seperti sentinel

12
event, mekonium grade 2-3, demam dan takisistol7. Penilaian objektif pada

asfiksia neonatal menurut AAP dan ACOG tahun 2002 yaitu :

1. Asidemia metabolik atau campuran yang jelas, yaitu pH dibawah 7 dari

sampel darah arteri umbilikal.

2. Nilai apgar 0-3 pada menit ke 5 atau lebih.

3. Manifestasi neorologi pada periode bayi baru lahir segera termasuk kejang,

hipotoni, koma, ensefalopati hipoksik –iskemik.

4. Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera setelah lahir dalam 72 jam

Sedangkan menurut Laura L (2018), asfiksia neonatal didefinisikan

dengan keadaan pH ≤ 7 atau BE ≤ -12 mMol/L pada arteri umbilikal pada satu

jam pertama, skor Apgar < 5 selama 10 menit dan membutuhkan resusitasi > 10

menit. Penelitian menunjukkan asfiksia neonatal pada bayi aterm memiliki waktu

yang berbeda dengan bayi preterm. Bayi aterm lebih sering terjadi sebelum dan

saat partus, masalah-masalah seperti kecil masa kelahiran (KMK), plasenta

patologis dan ruptur uterus lebih sering dikaitkan dibandingkan masalah

pertukaran gas seperti pada bayi preterm18.

Tabel 2.2 Skor Apgar


Skor 0 1 2
Frekuensi Tidak ada <100x/menit >100x/menit
jantung
Usaha Napas Tidak ada Tidak teratur, Teratur, menangis
lambat
Tonus otot Lambat Beberapa tungkai Semua tungkai
fleksi fleksi
Iritabilitas reflex Tidak ada Menyeringai Batuk/menangis
Warna kulit Pucat Biru Merah muda

13
2.7 Tatalaksana Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Beberapa situasi selama kehamilan dan persalinan, menempatkan bayi pada

peningkatan risiko asfiksia: (1) penyakit ibu, seperti diabetes mellitus dan

hipertensi, pendarahan trimester ketiga dan pecah ketuban yang berkepanjangan;

(2) kondisi janin, seperti prematuritas, kehamilan multipel, pembatasan

pertumbuhan, anomali janin, dan isoimunisasi rhesus; dan (3) kondisi yang

berkaitan dengan persalinan dan persalinan, termasuk gawat janin, pewarnaan

mekonium, presentasi sungsang, dan pemberian anestesi dan analgesik.19

Bila bayi yang diduga asfiksia, tim resusitasi harus berada di ruang

persalinan. Tim harus terdiri dari setidaknya dua orang, satu untuk mengelola

jalan napas dan satu untuk memantau denyut jantung dan memberikan bantuan

apa pun yang dibutuhkan. Peralatan harus diperiksa secara teratur dan harus dalam

keadaan siap. Langkah-langkah dalam proses resusitasi diuraikan dalam algoritma

resusitasi. 18

14
Gambar 2.1 Algoritma American Academy of Pediatrics Neonatal Resuscitation
Program. bpm, beats / mnt; HR, denyut jantung; Continuous Positive Airway
Pressure (CPAP); Positive Pressure Ventilation (PPV), ventilasi tekanan positif.
19,21

15
Beberapa titik kunci dari algoritma berikut :19

1. Jangan biarkan bayi menjadi hipertermia di bawah panas.

2. Kriteria terbaik yang digunakan untuk menilai kondisi bayi adalah usaha

pernapasan - apakah itu apneu, megap, atau denyut jantung ( >100 atau

<100).

3. Sebagian besar neonatus dapat secara efektif diresusitasi dengan kantong

dan masker wajah. Perangkat bagging yang tepat digambarkan pada Gambar

3. Selain itu, T-piece resuscitator bisa digunakan. Untuk inflasi awal,

tekanan 30 sampai 40 cmH2O mungkin diperlukan untuk kekuatan aktif

permukaan di paru-paru. Kecukupan ventilasi dinilai dengan mengamati

ekspansi dada bayi dengan bagging dan mengamati peningkatan gradual

warna, perfusi, dan denyut jantung secara bertahap. Tingkatan bagging

harus 40 sampai 60 denyut/menit. Jika pada awalnya bayi tidak merespons

ventilasi kantung dan masker, cobalah untuk memposisikan kepala dengan

sedikit ekstensi, pasang kembali masker untuk mencapai bagus,

pertimbangkan untuk menghisap (suctioning) ke mulut dan orofaring, dan

cobalah ventilasi dengan mulut terbuka. Mungkin perlu untuk meningkatkan

tekanan yang digunakan. Namun, jika tidak ada respon yang baik terlihat

dalam 30 sampai 40 detik, lanjutkan ke intubasi (Gambar 1).

16
Gambar 2.2 Pengelolaan segera dari bayi baru lahir yang sesak14

4. Gagal merespons intubasi dan ventilasi bisa diakibatkan oleh mekanis atau

asfiksia berat. Penyebab mekanis harus segera dikesampingkan.

5. Sangat tidak biasa untuk resusitasi neonatal untuk meminta pijatan atau obat

jantung, dan hampir semua bayi baru lahir merespons ventilasi dengan

oksigen tambahan. Jika kompresi dada diperlukan, mereka perlu

dikoordinasikan dengan bagging rasio 3: 1 (90 tekanan sampai 30 napas /

menit). Hal ini bahkan kurang umum untuk kebutuhan obat-obatan. Rute

pengiriman yang optimal adalah melalui jalur vena umbilikalis.

Untuk koreksi asidosis metabolik hanya setelah ventilasi memadai tercapai;

berikan perlahan selama beberapa menit. Tidak ada bukti yang mendukung

penggunaan rutin. Infus perlahan selama 5 sampai 10 menit. Tidak cukup bukti

untuk mendukung keamanan dan kemanjuran dosis subkutan. Gunakan setelah

menjalani penanganan jalan napas yang benar dan teknik resusitasi lainnya.14

Kesesuaian upaya resusitasi lanjutan harus selalu dievaluasi ulang pada bayi

yang tidak menanggapi semua upaya yang telah disebutkan sebelumnya. Saat ini,

upaya resusitasi dilakukan bayi yang skor Apgar 1 menitnya adalah 0 sampai 1.

Namun, upaya tidak dipertahankan dalam menghadapi sedikit atau bahkan tidak

17
ada perbaikan meskipun resusitasi yang tepat pada keadaan yang wajar periode

waktu (yaitu, 10 sampai 15 menit). 19

Bayi cukup bulan dengan asfiksia perinatal

i. Semua bayi tanpa cairan amnion dengan mekonium harus dikeringkan dan

dilakukan penghisapan orofaring. Jika bayi tidak kuat (tangisan yang kuat,

tonus bagus), periode singkat stimulasi taktil dengan menggosok bagian

belakang dan / atau mengetuk telapak kaki bisa digunakan. Diikuti segera

dengan mengevaluasi respirasi dan detak jantung.21

ii. Bayi dengan denyut jantung <100 denyut / menit atau pernafasan tidak

spontan. Aktivitas pernafasan membutuhkan ventilasi tekanan positif. Jika

stimulasi taktil singkat gagal untuk merangsang pernapasan yang memadai,

ventilasi tekanan positif harus dimulai pada 40-60 napas / menit. Jika ini

tidak berhasil dalam merangsang usaha pernapasan spontan atau denyut

jantung yang membaik, nilai apakah jalan napas paten dan posisi masker

harus benar dan kemudian puncak tekanan harus disesuaikan seperlunya

untuk mengekspansikan paru-paru Jika ambu bag dan masker tidak efektif

atau berkepanjangan diperlukan ventilasi, intubasi endotrakeal atau

pemakaian laryngeal mask. 21

Obat-obatan yang umum digunakan dalam resusitasi neonatal:

a. Epinefrin

Epinefrin mungkin diperlukan saat resusitasi saat kompensasi ventilasi,

oksigenasi, dan pengembangan dada yang memadai telah gagal dan denyut

jantung masih <60 denyut / menit. Obat ini menyebabkan vasokonstriksi perifer,

meningkatkan kontraktilitas jantung, dan meningkatkan denyut jantung. Dosisnya

18
adalah 0,1-0,3 mL / kg 1: 10.000 solusi yang diberikan secara intravena atau 0,5-1

mL / kg dari 1: 10.000 jika diberikan oleh tabung endotrakea. Hal ini bisa diulang

setiap 3-5 menit. 21

b. Terapi cairan

Hipovolemia harus dicurigai pada bayi yang membutuhkan resusitasi bila

ada bukti kehilangan darah akut dengan pucat yang ekstrem meskipun oksigenasi

memadai, volume nadi perifer yang buruk meskipun denyut jantung normal,

waktu pengisian kapiler yang lama, atau respons yang buruk terhadap upaya

resusitasi. Cairan yang tepat yaitu normal saline, ringer laktat, atau sel darah

merah O negatif (cross match untuk melawan darah ibu). Semua diberikan 10 ml /

kg intravena selama 5-10 menit. 21

c. Sodium bikarbonat

Natrium bikarbonat biasanya tidak berguna selama fase akut resusitasi

neonatal. Tanpa ventilasi dan oksigenasi yang memadai, itu tidak akan

memperbaiki pH darah dan bisa memperburuk asidosis serebral. Setelah resusitasi

berkepanjangan, natrium bikarbonat mungkin berguna dalam mengoreksi asidosis

metabolik terdokumentasi. Berikan 1-2 mEq / kg secara intravena dengan laju 1

mEq / kg / menit atau lebih lambat. 21

d. Atropin dan kalsium

Meskipun sebelumnya digunakan selama resusitasi bayi baru lahir asri,

atropin dan kalsium tidak lagi dianjurkan oleh AAP () atau AHA selama fase akut

resusitasi neonatal. Obat-obat ini kadang-kadang digunakan dalam keadaan

khusus pada resusitasi (seperti atropin untuk refleks bradikardia berat berulang

19
setelah upaya pengisapan atau intubasi menyebabkan respons vagal bradikardi

berkepanjangan). 21

2.7.1 Stabilisasi Neonatus Pasca Resusitasi/ Pra Rujukan

Penanganan pasca resusitasi pada neonatus yang mengalami asfiksia

perinatal, sangat kompleks, membutuhkan monitoring ketat dan tindakan

antisipasi yang cepat, karena bayi berisiko mengalami disfungsi multiorgan dan

perubahan dalam kemampuan mempertahankan homeostasis fisiologis. Prinsip

umum dari penanganan pasca resusitasi neonatus diantaranya melanjutkan

dukungan kardiorespiratorik, stabilitas suhu, koreksi hipoglikemia, asidosis

metabolik, abnormalitas elektrolit, serta penanganan hipotensi. Salah satu acuan

yang telah mempunyai bukti ilmiah yang kuat dalam melaksanakan stabilisasi

pasca resusitasi neonatus dikenal sebagai S.T.A.B.L.E., yaitu tindakan stabilisasi

yang terfokus pada 6 dasar penanganan yang direkomendasikan oleh AAP,

bertujuan untuk meningkatkan keamanan pasien, baik dalam manajemen,

mencegah kemungkinan adanya kesalahan, serta mengurangi efek samping.

Stabilisasi neonatus yang tepat terbukti menurunkan tingkat morbiditas dan

mortalitas. Prinsip stabilisasi neonatus dalam STABLE, terdiri dari:22

S -- Sugar and Safe Care

T -- Temperature

A -- Airway

B -- Blood pressure

L -- Laboratory

E -- Emotional support

20
2.7.1.1 S (Sugar and Safe Care)

Merupakan langkah untuk menstabilkan kadar gula darah neonatus. Pada

awal kehidupan, kelangsungan pasokan nutrisi terhenti setelah pemotongan tali

pusat. Bayi baru lahir memerlukan kelangsungan nutrisi untuk mempertahankan

asupan glukosa. Kecukupan glukosa diperlukan agar metabolisme sel tertap

berlangsung terutama sel otak. Ada 3 faktor risiko yang mempengaruhi kadar gula

darah yaitu: cadangan glikogen terbatas, hiperinsulinemia, dan peningkatan

penggunaan glukosa. 22

Bayi prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), bayi yang ibunya menderita

diabetes melitus, dan bayi yang sakit berat memiliki risiko tinggi

hipoglikemia.Skrining hipoglikemia: 22

1. Menggunakan darah kapiler

2. Dekstrostix, pemeriksaan simple, dan cukup akurat

3. Target gula darah : 50-110 mg/dl (15% lebih rendah dari gula serum)

4. Frekuensi pemeriksaan yaitu : sebelum transpor, diulang lagi saat akan

ditranspor, dan proses transpor. Bila hasil pemeriksaan pertama normal :

tidak perlu diulang.

Bila terjadi hipoglikemia, mulai terapi dengan infus mengandung dekstrosa

(Dex 10%), 80 ml/kg/hari dengan target setidaknya : Glucose Infusion Rate = 4-6

mg/kg/menit. Sebelum bayi dirujuk sebaiknya pasang akses intra vena pilihan

utama adalah vena umbilikal atau pada vena perifer.22

2.7.1.2 T (Temperature)

Merupakan usaha untuk mempertahankan suhu normal bayi dan mencegah

hipotermia. Pada bayi dengan hipotermi akan terjadi vasokonstriksi pembuluh

21
darah sehingga mengakibatkan ketidakcukupan sirkulasi di jaringan tubuh. Selain

itu kondisi hipotermia dapat meningkatkan metabolism dalam rangka untuk

meningkatkan kalori tubuh, kondisi ini akan meningkatkan kebutuhan tubuh

terhadap oksigen. Dengan demikian suhu-gula darah-oksigen mempunyai

keterkaitan erat. 22

Neonatus lebih mudah mengalami hipotermia daripada hipertermia.

Lingkungan ekstrauterin berbeda dengan lingkungan intrauterin. Lingkungan

ekstrauterin meningkatkan risiko hipotermia karena lingkungan udara bukan

cairan hangat, selain itu juga pengaruh konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi.

Suhu normal adalah 36,50C – 37,2/37,50C.

Beberapa bayi mempunyai risiko hipotermia: Bayi prematur, BBLR, bayi

sakit berat, bayi dengan resusitasi lama, bayi dengan kelainan (bagian mukosa

terbuka: gastroschisis, spina bifida, omfalokel dll). Mencegah hipotermia sangat

penting. Lebih mudah mencegah daripada mengatasi hipotermia dengan

komplikasi. 22

1. Bayi kecil < 35 minggu: bungkus badan dengan kantong plastik, tutup

kepala

2. Saat resusitasi bayi: meja dan kain hangat

3. Mengeringkan bayi

4. Bila sudah hipotermia segera hangatkan kembali

5. Tersedia inkubator atau alat penghangat

6. Alternatif: lampu sorot, perawatan metode kanguru

7. Saat menghangatkan kembali: jangan lupa pemberian oksigen, kenaikan

suhu bertahap (amati takikardi atau hipotensi) dan monitor suhu rektal.

22
2.7.1.3 A (Airway)

Masalah pernapasan menjadi morbiditas yang sering dialami bayi yang

mendapat perawatan di NICU. Saat resusitasi dilakukan upaya membuka alveoli

paru, pasca resusitasi alveoli paru belum sepenuhnya terbuka. Beberapa faktor

predisposisi : 22

1. Prematuritas

2. Persalinan seksio cesaria

3. Sindroma aspirasi mekoneum (MAS)

4. Proses inflamasi

5. Pneumotoraks: komplikasi, spontan

6. Kelainan bawaan : kista paru,

7. Masalah lain di luar paru (hipotermia, hipoglikemia, kelainan jantung, dll)

8. Problema sumbatan jalan napas

Deteksi dini kegawatan napas dan evaluasi terapi, termasuk menilai

progresifitas gangguan pernapasan sangat penting. Salah satu penilaian dini

gangguan pernapasan yang mudah adalah menggunakan Skor Down. 22

Skor < 4 Gangguan pernapasan ringan

Skor 4-5 Gangguan pernapasan sedang

Skor ≥ 6 Gangguan pernapasan berat

(diperlukan analisis gas darah)

2.7.1.4 B (Blood Pressure)

Syok terjadi akibat adanya gangguan perfusi dan oksigenasi organ. Ada 3

jenis syok, yaitu: hipovolemi (tersering pada neonatus), kardiogenik, dan septik.

Penyebab syok hipovolemi tersering pada neonatus adalah kehilangan darah saat

23
intrauterin/persalinan, kehilangan darah setelah lahir, serta dehidrasi. Pada

neonatus harus dicegah agar jangan sampai jatuh pada kondisi syok.22

Gejala dini gangguan sirkulasi pada neonatus lebih sering berupa gangguan

pernapasan takipnu, kerja nafas meningkat,dan takikardi. Pada fase lanjut akan

terjadi megap-megap/apnu, bradikardi, nadi perifer lemah, hipotensi, dan mottle

sign (perfusi perifer buruk).22

Hal penting dalam menentukan bayi mulai mengalami hipotensi adalah

menilai tekanan darah. Tekanan darah normal bayi berbeda, tergantung pada usia

gestasi. Penghitungan cara mudah adalah: 22

1. Melihat grafik tabel tekanan darah berdasarkan BB

2. Cara cepat, berdasarkan usia gestasi bayi (= diastolik)

3. Menggunakan ukuran manset sesuai untuk neonates

Prinsip penanganan22

1. Identifikasi syok

2. Beri bantuan ventilasi

3. Beri cairan fisiologis 10 cc/kg BB

4. Sambil cari penyebab

5. Hindari terapi Biknat secara agresif

6. Bila perlu berikan Dopamine 5-10 mcg/kg/menit

2.7.1.5 L (Laboratory)

Pada bayi yang akan dirujuk, wajib dilakukan pemeriksaan laboratorium

untuk kemungkinan infeksi (bila fasilitas memadai). Perlu dilakukan juga pada

bayi berisiko infeksi. Faktor risiko tersering: 22

24
◦ KPD > 18 jam

◦ Ibu dengan riwayat korioamnionitis

◦ Ibu sakit (infeksi) menjelang persalinan, misalnya keputihan, diare, suhu ibu

> 380C, persalinan prematur, bayi dengan riwayat gawat janin.

Pemeriksaan laboratorium pada neonatus: hitung jenis, jumlah lekosit, IT

ratio, trombosit, kultur darah, gula darah, dan analisis gas darah (bila mungkin).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan/atau bila dicurigai adanya infeksi, berikan

antibiotika sesaat sebelum bayi dirujuk. Menanggulangi infeksi dengan gejala

yang lebih jelas atau dengan komplikasi akan lebih sulit. 22

2.7.1.5 E (Emotional Support)

Kelahiran anak merupakan saat yang dinantikan dan membahagiakan. Bila

kondisi tidak seperti yang diharapkan akan mengganggu emosi. Orangtua

biasanya akan memiliki perasaan bersalah, menyangkal, marah, tidak percaya,

merasa gagal, takut, saling menyalahkan, depresi. Dukungan emosi terhadap

orangtua atau keluarga bayi sangat penting.22

Petugas kesehatan perlu juga mendapat dukungan emosi, perawat adalah

ujung tombak dalam perawatan bayi. Sebaiknya sebelum bayi dirujuk, bila

kondisi ibu memungkinkan, beri ibu kesempatan untuk melihat bayinya, beri

dorongan ibu untuk kontak dengan bayinya. Beri dorongan dan keyakinan pada

ibu untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya, dengan melakukan pompa dan

mengirim ASI ke rumah sakit dimana bayi dirujuk.

25
Hal lain yang perlu dipersiapkan untuk disampaikan kepada tim transpor adalah: 22

1. Informed consent

2. Catatan medis ibu

3. Catatan medis bayi

4. Hasil laboratorium atau radiologi

5. Catatan pemberian terapi yang sudah diberikan dan yang akan diberikan

2.7.2 Terapeutik Hipotermia (Whole Body Cooling pada HIE)

Dengan ensefalopati berat, mortalitas lebih tinggi (sebanyak 60%). Manfaat

hipotermia yang diinduksi pada ensefalopati pasca-asfiksia telah terbukti dalam

uji coba high-quality randomized controlled. Bukti saat ini tidak mendukung

pendinginan bayi dengan ensefalopati hipoksik-iskemik ringan (HIE) atau mereka

yang lahir sebelum 35 minggu.23

Tujuannya adalah untuk mendinginkan bayi dengan HIE sedang atau berat

dalam 6 jam kelahiran hingga suhu tubuh antara 33,5 ° C dan 34,5 ° C dan

mempertahankan tingkat pendinginan tanpa gangguan selama 72 jam. 23

Ini akan diikuti oleh pemanasan ulang setidaknya 4 jam pada tingkat 0,5 °C

per jam sampai suhu rektal mereka mencapai kisaran yang diinginkan (36,5-37 °

C). 23

Bayi baru lahir yang lahir cukup bulan atau mendekati cukup bulan

memenuhi syarat untuk menjalani terapeutik hipotermia jika mereka lahir dalam

kondisi buruk dengan asfiksia perinatal. Kondisi ini harus didukung oleh

parameter fisiologis, biokimia dan klinis asfiksia, dengan atau tanpa kelainan

neurofisiologis pada elektro-ensefalogram amplitudo terpadu (aEEG). Kelainan

pada aEEG mungkin berguna tetapi bukan merupakan kriteria yang esensial

26
ketika membuat keputusan mengenai kesesuaian untuk dilakukannya terapi

hipotermia. Bayi dengan usia kehamilan ≥ 36 minggu yang memiliki setidaknya

satu dari faktor-faktor berikut ini: skor Apgar ≤ 5 pada 10 menit setelah kelahiran

atau memerlukan resusitasi berkelanjutan termasuk intubasi atau ventilasi dengan

sungkup wajah pada 10 menit setelah lahir atau asidosis (pH ≤ 7.00 atau defisit

basa ≥ 16 mmol/ l dalam waktu 60 menit dari kelahiran), menjalani penilaian

untuk mengetahui ada tidaknya ensefalopati sedang hingga berat. 23

Terapeutik hipotermia dirawat pada suhu 33,50C (temperatur pusat tubuh)

selama 72 jam. Temperatur ini dicapai dengan cara membungkus kepala atau

seluruh tubuh dengan selimut pendingin atau menempatkan bayi di atas matras

pendingin yang di dalamnya mengalir air dingin. Kemajuan teknologi saat ini

memungkinkan peralatan-peralatan ini melakukan pengaturan secara otomatis

untuk mencapai temperatur yang ditetapkan (servo-controlled). Suhu tubuh harus

dipertahankan dengan ketat dan dicatat, dan fluktuasi/ gejolak perubahan suhu

yang besar harus dihindari. Perawatan intensif suportif harus disediakan seperti

ventilasi serta tekanan darah. Sebagai upaya tambahan terhadap penatalaksanaan,

hidrasi intravena, dukungan nutrisi, dan pemantauan fungsi ginjal dan hati harus

dilakukan.

Kejang yang terjadi harus segera ditangani. Setelah periode pendinginan,

bayi dihangatkan kembali secara perlahan ke normotermia (suhu 36,5 sampai

370C) bayi akan secara bertahap dihangatkan kembali setidaknya selama 4 jam.

Pada saat menyelesaikan periode penghangatan kembali, bayi perlu menjalani

pemeriksaan pencitraan resonansi magnetis otak guna menentukan luasnya cedera

otak (jika ada) dan memperkirakan hasil neurologis. Setelah keluar dari rumah

27
sakit, bayi yang menjalani terapeutik hipotermia memerlukan pengawasan yang

ketat terhadap kemungkinan terjadinya masalah perkembangan saraf di kemudian

hari. 23

Pengelolaan Asfiksia Bayi Baru Lahir

Bagan 1
Pengelolaan Segera dari bayi baru lahir yang sesak
napas
Bayi baru lahir dengan asfiksia
Baby membutuhkan kantong dan masker ventilasi
(Bagging Mask Ventilation/BMV) atau intubasi dengan
atau tanpa obat saat lahir

Kategorikan berdasarkan beratnya asfiksia

Asfiksia ringan Asfiksia sedang atau berat


 Membutuhkan BMV  Membutuhkan BMV
kurang dari 60 detik selama 60 detik atau
 Tidak ada intubasi atau lebih dan / atau
pengobatan saat lahir  Diperlukan untuk
intubasi atau pengobatan
saat lahir
Kaji pada 5 menit setelah
kelahiran: Lihat Bagan 2
Menilai sensorium dan nada
Carilah gerakan abnormal

tonus dan sensor normal; Sensitivitas / nada tidak


Tidak ada gerakan normal atau
abnormal; Tidak ada Gerakan yang tidak normal
komplikasi lainnya

Pergeseran ke sisi ibu;


Memulai menyusui;
Jika tidak bisa menyusui, mulailah
metode alternatif pemberian makan

Gambar 2.3 Pengelolaan segera dari bayi baru lahir yang sesak24

28
Gambar 2.4 Penatalaksanaan bayi baru lahir yang telah diresusitasi untuk asfiksia

sedang dan berat. 24

29
2.8 Strategi Pencegahan Asfiksia Bayi Baru Lahir

Skrining kehamilan berisiko tinggi adalah salah satu cara paling efektif

untuk megurangi risiko asfiksia perinatal. Wanita dengan hipertensi kronis,

diabetes, trombofilia, penyakit ginjal, atau penyakit autoimun beresiko

insufisiensi plasenta; harus melakukan ultrasonografi (USG) serial pada

persalinan dini seperti telah diindikasikan oleh skrining. 11

USG rutin pada midtrimester (sekitar 20 minggu) adalah waktu optimal

untuk menyingkirkan plasentasi abnormal, seperti plasenta previa, akreta, atau

vasa previa. Wanita dengan salah satu dari kondisi berisiko tinggi ini biasanya

melahirkan melalui operasi caesar dalam jangka waktu awal (37-39 minggu) atau

prematur (34-37 minggu). Selain itu, wanita dengan riwayat sesar sebelumnya

harus diberi konseling tentang risiko ruptur uteri dan pentingnya melahirkan di

rumah sakit dengan pemantauan terus menerus dan layanan obstetri dan anestesi

24-jam. 11

Seperti disebutkan sebelumnya, kebanyakan kasus asfiksia perinatal tidak

disebabkan oleh persalinan acara atau kasus yang telah diprediksi oleh kebidanan.

Untuk kejadian intrapartum yang tidak umum yang dapat menyebabkan asfiksia,

tenaga kesehatan harus waspada untuk mengenali kondisi, dan mempercepat

persalinan yang aman untuk ibu dan janin. 11

2.9 Komplikasi Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

2.9.1 Sekuele Pada Asfiksia Bayi Baru Lahir

Insidensi asfiksia lahir sekitar 0,1% pada bayi yang berusia lanjut, dengan

kejadian meningkat pada bayi pada usia gestasi rendah. Beberapa sekuele akut

yang perlu ditangani pada periode neonatal tercantum dalam tabel 2. Kerusakan

30
berbagai organ dapat terjadi dan meluas. Tatalaksana secara umum berfokus pada

perawatan suportif dan pengobatan kelainan yang spesifik, seperti manajemen

cairan dan tekanan darah, pemberian glukosa intravena, dan secara khusus seperti

tatalaksana kejang. Pemberian fenobarbital (40mg / kg) diberikan 1 hingga 6 jam

setelah kejang sebagai neuroprotektif terhadap hipoksik-iskemik enselopati

dikaitkan dengan perkembangan neurologis yang membaik.25

Tabel 2.3 Sekuele Pada Asfiksia Bayi Baru Lahir25


Sistem Manifestasi
Saraf Pusat Edema serebral, kejang, perdarahan,
ensefalopati hipoksia-iskemik

Jantung Nekrosis otot papilae, insufisiensi


trikuspid transien, syok kardiogenik
Paru Sindrom Aspirasi Paru (mekonium,
cairan bening), kekurangan surfaktan
yang didapat, hipertensi pulmonal
persisten, perdarahan paru
Ginjal Renal Acute tubular necrosis dengan
anuria atau oliguria
Hati Elevasi enzim hepatik, liver failure
Gastrointestinal Necrotizing Enterocolitis
Metabolik Hipoglikemia metabolik, hipokalsemia

Hematologi Gangguan pembekuan darah,


trombositopenia

2.9.2 Sekuele kronis

Jika bayi dapat bertahan, kekhawatiran jangka panjang yang paling utama

adalah kerusakan sistem saraf pusat permanen (CNS). Identifikasi kriteria-kriteria

yang dapat menunjukkan risiko masalah bayi di masa depan sangat diperlukan,

beberapa penanda telah diuji untuk menidentifikasi asfiksia bayi baru lahir

terhadap kejadian neurologis yang merugikan. Rendahnya skor apgar apda menit

pertama dan ke-5 kurang sensitif meramalkan kejadian cerebral palsy, namun

skor apgar yang rendah dan menetap pada menit ke-15 dan 20 setelah lahir

31
memiliki resiko 50% terhadap kejadian cerebral palsy. Penurunan pH sampai di

bawah 7 merupakan prediktor penting untuk memperkirakan tingkat keparahan

neonatal neurologic syndrome.19

2.10 Prognosis Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir

Asfiksia neonatorum memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

Tingkat kematian yang dilaporkan adalah sekitar 20% pada bayi sesak nafas

jangka panjang, sementara kejadian gangguan neurologis pada bayi yang selamat

diperkirakan sekitar 25%. Literatur terbaru melaporkan 45% gejala sisa diwakili

oleh keterlambatan kognitif dan perkembangan, 29% oleh cerebral palsy, 26%

oleh kebutaan atau cacat penglihatan, 17% oleh masalah motorik dan koordinasi

kasar, 12% oleh epilepsi, 9% oleh gangguan pendengaran atau tuli, dan 1% oleh

masalah perilaku. Penelitian lain dari Ellenberg dkk mengungkapkan bahwa

tingkat cerebral palsy berkisar kurang dari 3% sampai lebih dari 50% dalam

berbagai penelitian. Penelitian oleh Graham et al. juga menunjukkan bahwa

asfiksia neonatorum menghasilkan cerebral palsy pada setidaknya 14% kasus.

Selanjutnya, van Handel dkk. menyelidiki perilaku pada anak usia sekolah yang

telah terkena ensefalopati neonatal, menunjukkan bahwa mereka memiliki

perilaku bermasalah, dengan masalah sosial dan perhatian.4

BAB III

32
KESIMPULAN

Asfiksia pada bayi baru lahir adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang

gagal bernafas secara spontan dan teratur segera lahir.5 Asfiksia merupakan

kondisi pada bayi baru lahir akibat berkurangnya oksigen dan perfusi pada

berbagai organ. Hal ini disebabkan karena bayi tidak mendapatkan cukup oksigen

sebelum, selama, dan setelah persalinan.8 Literatur lain menyebutkan asfiksia

sebagai kegagalan untuk memulai dan mempertahankan pernapasan saat lahir. 5

Asfiksia neonatal dapat terjadi pada seluruh bayi tanpa memandang usia

gestasi, namun resiko meningkat pada bayi dengan usia gestasi preterm dan

berbanding lurus dengan semakin mudanya usia gestasi. Penyakit ini dapat

disebabkan masalah pada saat masa kandungan, partus dan setelah lahir sehingga

beberapa ahli beralih menggunakan istilah asfiksia perinatal.17

Bila bayi yang diduga asfiksia, tim resusitasi harus berada di ruang

persalinan. Tim harus terdiri dari setidaknya dua orang, satu untuk mengelola

jalan napas dan satu untuk memantau denyut jantung dan memberikan bantuan

apa pun yang dibutuhkan. Peralatan harus diperiksa secara teratur dan harus dalam

keadaan siap. 19

DAFTAR PUSTAKA

33
1. Dharmasetiawani N. Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir. Dalam: Buku

Ajar Neonatologi, Kosin MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A,

penyunting. Edisi Pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2008. h. 104.

2. WHO. Preterm birth, updated november 2013. Diakses dari

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs363/en/ pada tanggal 15 Maret

2018

3. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI, Riset

Kesehatan Dasar 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2008.h. 323

4. Antonucci R, Porcella A, Pilloni MD. Perinatal Asphyxia in The Term

Newborn Jpnim 2014;3(2) 1-14

5. Andi Sitti Rahma, Mahdinah Armah. Analisis faktor risiko kejadian asfiksia

pada bayi baru lahir di RSUD Syekh Yusuf Gowa dan RSUP Dr Wahidin

Sudirohusodo Makassar. Jurnal Kesehatan 2014;7;277.

6. Aslam HM, Saleem S, Afzal R, et al. Risk factors of birth asphyxia. Ital J

Pediatr. 2014;2-9.

7. Golubnitschaja O, Yeghiazaryan K, Cebioglu M. Birth asphyxia as the major

complication in newborns: moving towards improved individual outcomes by

prediction, targeted prevention and tailored medical care. EPMA Journal.

2011; 2:197–98.

8. Majeed R, Memon Y, Majeed F, Naheed PS, Uzma DMR. Risk factor of

birth asphyxia. Journal of Ayub Medical College. 2007;3;67-8.

9. World Health Organization. Guidelines on Basic Newborn Resusitation.

Patophysiology of perinatal asphyxia: causative predict and improve

individual outcome. 2011;2;15

34
10. Krakauer MG, Gowen Jr CW. Birth Asphyxia. NCBI Bookshelf. 14 Februari

2017. Diunduh tanggal 31 Maret 2018. Didapat dari

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430782/

11. Rainaldi MA, Perlman JM. Pathophysiology of birth asphyxia. Clin perinatal.

2016; 43(3):1-14

12. Herrera CA, Silver RM. Perinatal Asphyxia from the Obstetric Standpoint.

Clin perinatal. 2016; 43(3):423-38.

13. Aslam HM, et al. Risk of Birth Asphyxia. Ital J Pediatr. 2014; 40: 94.

14. Chiabi A, et al. Risk Factors for Birth Asphyxia in an Urban Health Facility

in Cameroon. Iran J Child Neurol. 2013; 7(3): 46–54.

15. UKK Perinatologi IDAI. Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri Neonatan

Essensial Dasar Buku Acuan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Indonesia; 2005. h. 61-69.

16. Rainaldi MA, Perlman JM. Pathophysiology of birth asphyxia. Clin perinatal.

2016; 43(3):1-14

17. Lambicchi, Laura et al. Is Neonatal Asphyxia Predictable?.AJ O G. 2018;

218: S181-2.

18. Laptook, AR. Birth Asphyxia And Hypoxic-Ischemic Brain Injury In The

Preterm Infant. Clinics in Perinatology. 2016; 43(3): 529-45.

19. Rosenberg A dan Rozance PJ. The Neonate.Dalam :, Steven G, Jennifer R,

Joe LS, et al., penyunting.Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies Edisi

ketujuh. Problem Pregnancies. London: Elsevier; 2017. h.468-498.

35
20. Syalfina AD, Devy SR. Analisis faktor resiko yang berpengaruh terhadap

kejadian asfiksia neonatorum. Jurnal Berkala Epidemiologi. 2015; 3(3):265-

76.

21. Gomell TL, Cunningham MD, dan Eyal FG. Neonatology Management, On

call Problems, Diseases, and Drugs. Edisi ketujuh. United State: Mc Graw

Hill; 2013. h.15-24.

22. Mosali, R. Whole Body Cooling for Infants with Hypoxic-Ischemic

Encephalopathy. J Clin Neonatol. 2012; 1(2): 101–6.

23. Rifai RF. Stabilisasi Neonates Pasca Resusitasi / Pra Rujukan. Perkumpulan

Perinatologi Indonesia (Perinasia). 22 Agustus 2013. Diunduh tanggal 31

Maret 2018. Didapat dari

http://perinasia.com/post/189?title=Stabilisasi+Neonatus+Pasca+Resusitasi%

2F+Pra-rujukan

24. WHO for Training and Research in Newborn Care. India Institute of Medical

of Science Ansari Nagar New Delhi. Diunduh tanggal 18 Maret 2018.

Standard Treatment Protocol for management of common newborn

conditions in small hospitals (Adapted from WHO Guidelines) didapat dari

http://www.newbornwhocc.org/STPs/STP_Asphyxia-management_Pre-

Final.pdf

25. Paul JR, Adam AR. Obstetrics. Edisi Keempat. Philadelphia, PA: Elsevier,

2017.

26. Jay P. Overview and Initial Management of Delivery Room Resuscitation

dalam Advanced cardiac life support. Oxford: Wiley-Blackwell; 2010; 32,

460-470

36
37