Anda di halaman 1dari 108

Editor: Jabbar Sabil, MA

MA S J I D B E R S E J A R A H
DI NANGGROE
ACEH
jilid I

Diterbitkan Oleh:
Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid (Penamas)
Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Aceh
2009
Masjid Bersejarah di Nanggroe Aceh (jilid I)
© Kanwil Depag Prov. Aceh

Penasehat:
Drs. H. A. Rahman TB, Lt.
(Kepala Kantor Departemen Agama Provinsi Aceh)

Penanggungjawab:
H. Abrar Zym, S. Ag.
(Kepala Bidang Penamas Kanwil Depag Prov. Aceh)

Pelaksana:
Drs. Helmi Zakir ZA
(Kasi Pemberdayaan Masjid)

Tim Penulis Bid. Penamas Kanwil Depag Prov. Aceh


Kepala Seksi Penamas di masing-masing Kabupaten:
Kasi Penamas Kandepag Kota Banda Aceh
Kasi Penamas Kandepag Kota Sabang
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Besar
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Pidie
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Bireuen
Kasi Penamas Kandepag Kota Lhokseumawe
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Utara
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Timur
Kasi Penamas Kandepag Kota Langsa
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Tamiang
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Bener Meriah
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Tengah
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Tenggara
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Gayo Lues
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Jaya
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Barat
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Nagan Raya
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Barat Daya
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Aceh Singkil
Kasi Penamas Kandepag Kabupaten Simeulue

Editor:
Jabbar Sabil, MA

Disain artistik:
Abay S

Diterbitkan pertama kali, Desember 2009 oleh:


Bidang Penamas Kanwil Depag Prov. Aceh
Jl. Teungku Abu Lam U No. 9 Telp 0651-22442, 22510, 25103, Fax. 0651-25103, 22510
Banda Aceh, 23242 - Indonesia
xvi + 88 hlm.; 16 cm x 24 cm

Milik Departemen Agama tidak diperjual belikan.


Sambutan
Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi Aceh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih mem-


beri kita kesempatan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi
anak cucu kita nantinya. Selawat dan salam kepada Rasulullah
saw., pembawa risalah yang mengantar kita dalam kehidupan
yang bermartabat. Juga kepada keluarga dan sahabat beliau,
para pejuang sejati, rela berkorban demi usaha pewarisan
ajaran Islam yang humanis ini.
Tidak lupa pula kepada para ulama, mereka yang meng-
abdikan hidupnya demi umat, bukan untuk diri sendiri. Amal
sosial mereka ditujukan untuk generasi setelah mereka, agar
tetap tahu diri sebagai hamba Allah, dan dapat istiqamah
di jalan Allah. Semangat inilah yang menjiwai setiap tindak
mereka, semangat yang seringkali tidak disadari dan hargai
oleh generasi yang mereka bela dengan darah dan jiwanya.
Kini para ulama mujahid kita telah pergi, tapi bukan
berarti semangat itu ikut terkubur. Banyak perekam yang terus
mengabadikan semangat mereka, salah satunya adalah masjid.
Jika rekaman memori manusia bisa lupa, maka masjid terus
bercerita selama ia masih ada. Hanya saja kita yang sering alpa,
membiarkan telinga kita direcoki hingar-bingar zaman.
Mungkin banyak generasi muda Aceh yang tidak sadar,
bahwa hidup mereka sekarang menjadi nyaman berkat misi
para pendahulunya, yaitu misi jangka panjang pembangunan
umat Islam Aceh. Jika misi ini terputus, maka generasi muda
Islam Aceh tidak akan memiliki arah dan berjalan tanpa visi. Oleh
karena itu diperlukan suatu upaya penyambungan misi jangka
panjang pembangunan umat, serta pemeliharaan semangat yang
dulu menjiwai perjuangan ulama mujahid.
Untuk itu, kami mencoba ambil bagian dengan merekamnya
dalam buku sederhana ini. Mengajak pembaca melongok kembali
ke masjid, yang ternyata menyimpan selaksa kisah, tentang kecin-
taan kepada sesama, tentang kegigihan, tentang keikhlasan, dan
tentang pengorbanan demi misi pembangunan umat. Kami ber-
harap agar buku ini menjadi pembangkit semangat dan sumber
inspirasi. Buku ini juga sebentuk penghargaan bagi para pendahulu
kita, dan panjatkanlah doa saat kita terkenang.
Tidak lupa penghargaan dan luapan rasa terima kasih
kami kepada semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku
ini. Tentunya tidak mudah meramu tulisan yang bersumber dari
ingatan sosial masyarakat, untuk dipadukan dengan catatan fakta
sejarah. Demikian pula disain penampilan fisiknya, terlihat betapa
besar kreatifitas yang dituangkan sehingga buku ini tampil lebih
menarik. Semoga pembaca betah mengkaji buku ini.
Akhirnya kepada pembaca kami ucapkan selamat menikmati,
Andalah yang paling berhak menilai. Semoga hasil bacaan Anda
akan memberi masukan bagi pengembangan usaha yang sekarang
sudah dirintis. Billahittawfiq.

Banda Aceh, 9 November 2009


Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi Aceh

Drs. H. A. Rahman TB, Lt.


NIP. 195401011980031006

viii
Kata Pengantar
Kabid Penamas Kanwil Depag
Provinsi Aceh

Segenap puji kita persembahkan ke hadirat Allah swt.


atas limpahan rahmat-Nya. Selawat dan salam senantiasa
Allah limpahkan ke pangkuan Nabi Muhammad saw., ke-
luarga dan sahabat beliau. Tidak lupa kepada tabiin, dan para
ulama mutaqaddimin serta ulama mutaakhkhirin.
Pada kesempatan ini kami ingin mempersembahkan
sebuah karya yang telah lama kami cita-citakan, sebuah buku
yang merekam jejak masjid-masjid bersejarah di Aceh. Buku
masjid bersejarah memang bukan barang baru, telah banyak
beredar buku tentang masjid bersejarah secara nasional.
Namun kami merasa tidak puas, sebab buku-buku tersebut
hanya memuat beberapa masjid saja dari Aceh.
Buku ini justru ingin merekam semua masjid bersejarah
yang ada di Aceh. Oleh karena itu akan diterbitkan secara
berjilid sampai dipandang telah mencakup semua masjid
bersejarah di Aceh. Memang ini bukan pekerjaan mudah,
tapi tidak akan terwujud kalau kita tidak memulainya.
Untuk jilid pertama ini, kami membatasi tulisan kepada
lima belas masjid dalam lima kabupaten; Kota Banda Aceh,
Aceh Besar, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tamiang.
Sementara untuk masjid bersejarah di Kabupaten lainnya,
akan diketengahkan pada jilid berikutnya.
Jilid pertama ini pun belum mencakup semua masjid
bersejarah yang ada di lima kabupaten yang telah kami sebutkan.
Keterbatasan waktu dan ruang buku mengharuskan kami
secara periodik; menambah dan melengkapinya pada jilid-jilid
berikutnya. Oleh karena itu, urutan kabupaten belum bisa diatur
secara berurutan dalam terbitan yang masih bersifat eksploratif
ini. Kami berharap agar nantinya akan dapat diterbitkan ulang
dalam satu edisi lengkap yang lebih teratur saat eksplorasi ini telah
tiba pada tahap penyempurnaan, Insya Allah.
Mengenai kriteria masjid yang dijadikan objek penulisan,
antara lain dilihat dari sisi; 1) kepurbakalaan, atau sudut pandang
usia masjid sejak pertama didirikan; 2) arsitektur, yaitu ciri khas
rancangan, keunikan material bangunan dan dekorasi; 3) adanya
peristiwa penting yang melatarbelakangi berdirinya masjid; 4)
tokoh pendiri adalah figur yang mewarnai perjalanan sejarah
sebuah daerah; 5) mencatat banyak peristiwa penting sejarah yang
terjadi di masjid itu. Memang tidak semua kriteria ini terpenuhi
pada sebuah masjid, namun masjid-masjid yang diangkat memiliki
dua atau lebih dari kriteria ini.
Menurut hemat kami, kebanyakan masjid tua di Aceh
memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan sejarah
Aceh itu sendiri. Harus disadari bahwa kehidupan sosial di Aceh
tidak terlepas dari masjid, bahkan terbukti salah satu pembagian
wilayah tradisional Aceh tempo dulu justru terbentuk berdasarkan
keberadaan masjid, yaitu mukim. Mukim terbentuk dari persatuan
beberapa gampong yang penduduk laki-lakinya lebih 40 orang,
mereka mendirikan shalat Jumat pada satu masjid.
Selain itu masjid juga menjadi pusat pengembangan agama
yang dipimpin seorang Teungku Chik. Di perkarangan masjid
didirikan asrama sehingga menjadi pusat pendidikan yang disebut
dayah (zawiyah). Kondisi ini terus bertahan sampai meletusnya
perang Aceh, jihad melawan Belanda. Para Teungku Chik turun
ke medan jihad bersama muridnya dengan menjadikan masjid
sebagai markas sekaligus sebagai kuta (benteng).

x
Itulah sebabnya sehingga beberapa masjid menjadi objek
pelampiasan amarah serdadu Belanda, dihancurkan atau dibakar.
Bersamaan dengan itu dayah juga ikut menjadi hancur karena
sentral dayah adalah masjid. Maka tidak heran jika pendidikan di
Aceh nyaris lumpuh semasa perang.
Prihatin dengan terpuruknya pendidikan generasi muda
Aceh, para ulama membuat kesepakatan berbagi tugas. Sebagian
dari mereka tetap melancarkan perang gerilya, sementara sebagian
yang lain turun gunung untuk melaksanakan tugas kependidikan.
Sejak 1910 sebagian ulama membangun kembali dayah-nya. Pola
yang digunakan masih tetap sama, menjadikan masjid sebagai
sentral dayah. Oleh karena itu, menulis sejarah masjid sama artinya
dengan menulis sejarah Aceh itu sendiri.
Dengan demikian, buku ini menjadi sumbangan bagi kepus-
takaan sejarah Aceh. Hanya saja buku ini mengambil titik fokus
yang berbeda, yaitu menjadikan masjid sebagai topik utamanya.
Bagi kami masjid merupakan bagian dari identitas masyarakat
Aceh sebagai muslim. Oleh karena itu, dalam pandangan kami,
mewariskan sejarah masjid sama artinya dengan mempertahankan
identitas diri setiap generasi Aceh. Tanpa identitas, apalagi yang
bisa mereka banggakan?
Menulis sejarah tidak hanya mengabadikan peristiwa yang
terjadi di masa lampau, kejadian-kejadian yang terekam dalam
ingatan sosial masyarakat untuk kemudian tertimbun. Biasanya
ingatan ini akan terpanggil kembali saat ada momentum tertentu,
atau ada monumen yang mengingatkan kembali seperti masjid
tua misalnya. Masalahnya, apa yang akan diingat oleh orang-orang
muda yang tidak pernah mendengar riwayat masjid tua itu?
Disini terlihat posisi penting masjid dalam konteks sejarah.
Umumnya ia diperlakukan sebagai monumen yang merupakan
sumber tak tertulis bagi sejarah, atau hanya jadi pelengkap dalam
penulisan materi sejarah. Padahal masjid itu sendiri adalah sebuah
sejarah, dan di Aceh hal ini masih belum diperhatikan. Oleh
karena itu, penulisan sejarah masjid-masjid di Aceh menjadi sangat

xi
penting, minimal untuk mendokumentasikan rekaman peristiwa
bersejarah yang terkait dengannya agar tidak hilang.
Melihat sejarah sebagai kejadian masa lampau tentu tidak
akan berguna tanpa adanya kaitan dan relevansi dengan masa
sekarang dan masa depan. Sejarah juga merupakan bentuk
kejiwaan dengan apa sebuah kebudayaan menilai masa lalunya.
Perlu diingat bahwa sejarah adalah ilmu, bukan mitologi. Sejarah
akan mengantarkan pada sebuah peradaban, di mana peradaban
adalah gabungan dari spirit dan moueurs. Yaitu semangat dan sikap,
serta cara-cara yang menuntun kehidupan sosial dan perilaku
masyarakat, (Kuntowijoyo, 1994: 114 dan 165).
Kami berharap buku ini menjadi sumbangsih kami bagi
tujuan yang hendak dicapai dari penulisan sejarah. Sebagian amal
saleh yang akan bermanfaat bagi peradaban Aceh ke depan. Moga
usaha ini mendapat keridhaan Allah swt. dengan kebersihan niat
yang ikhlas.
Terima kasih kepada segenap pihak yang terlibat. Baik
pelaksana di Bidang Penamas Kanwil Depag Prov. Aceh maupun
para kasi Penamas dan jajarannya di Kandepag masing-masing
Kabupaten/Kota. Terbitnya buku ini adalah bukti solidnya kerja-
sama yang selama ini kita bangun bersama. Semoga semangat ini
tetap terpelihara dan menjadi modal untuk tugas-tugas ke depan.
Akhirul kalam, hanya kepada-Nya kita berserah diri, dan hanya
Allah lah yang dapat membalas pengorbanan kita semua. Amin.

Banda Aceh, 6 November 2009


Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam pada
Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid (Penamas)
Kanwil Depag Prov. Aceh

H. Abrar Zym, S.Ag


NIP. 196804261996031001

xii
Catatan Editor:
“Titik Balik Peradaban”

Masjid bukanlah sekedar bangunan bisu. Dalam buku ini


ia bercerita tentang orang-orang yang mendirikannya, tentang
alam pikiran yang melahirkannya. Masjid-masjid megah yang
kita dirikan sekarang, akan bertutur kepada anak cucu kita
nanti, meski mereka tidak hidup di alam dan zaman kita. Begitu
pula lah penuturan yang kita bisa simak dari masjid-masjid tua
yang sebagiannya dirangkum dalam buku ringan ini.
Jika kita mencoba menyimaknya, kita akan mencerna
kepiluan mereka atas kehidupan beragama generasi sekarang.
Coba perhatikan pembangunan masjid di masa lalu, selalu
terkait dengan pemukim di sekitarnya, selalu terkait dengan
pendidikan yang digelar di dalamnya. Sebuah masjid selalu
hadir untuk satu mukim dan selalu ada Teungku Chik yang geu-
seumeubeut di sana.
Kini pemukiman di sekitar masjid telah banyak yang
tergusur, digantikan oleh pusat-pusat perdagangan yang selalu
sibuk. Hal ini mengakibatkan terisolirnya masjid dari jamaah
yang seharusnya terdiri dari pemukim yang wajib shalat Jumat.
Di sisi lain kesibukan pusat perbelanjaan ikut melalaikan
orang dari shalat berjamaah, ditambah lagi dengan hingar
bingar pasar dan ruang ber-AC yang bertutup kaca, suara azan
menjadi tidak terdengar.
Jika dulu pendirian masjid sangat terikat dengan Teungku
Chik yang mengajar dan menjawab persoalan umat. Kini masjid
cukup membuat jadwal ceramah tertentu bagi para Teungku Chik
yang tinggal di menara gading perguruan tinggi atau dayah yang
jauh dari masjid. Akibatnya masjid tidak lagi menjadi pusat studi,
tapi hanya tempat shalat. Efek samping lainnya, akan tiba suatu
masa di mana masyarakat awam memandang masjid hanya sebagai
tempat shalat saja. Ilmu yang minim dan fanatisme yang buta,
melahirkan pemahaman distorsif, bahwa pantang melaksanakan
kegiatan di masjid, selain shalat. Masjid itu suci! Sakral!
Masyarakat berlomba-lomba menyumbang agar masjidnya
menjadi yang terindah dan termegah, karena menyumbang untuk
masjid adalah ibadah. Orang-orang berpikir bahwa masjid harus
indah agar mendatangkan kekhusyukan, sementara imam dan bilal
yang memimpin di masjid tersebut tidak mampu mengajarkan apa
itu khusyuk, dan bagaimana mencapainya. Maka saat masjid tidak
lagi menjadi tempat rujukan bagi masalah umat, tentu tidak heran
jika masjid semakin sepi dan hanya dikagumi keindahan material
dan kemewahan arsitekturnya saja. Jika saat ini telah tiba, maka
alam pikiran yang melahirkan masjid adalah materialisme.
Dalam kondisi seperti ini, pembangunan sebuah masjid
hanya memperhatikan kemegahan arsitekturnya saja, lalu menjadi
tempat shalat yang semakin sepi jamaah. Sangat kontras dengan
masjid tempo dulu yang arsitekturnya sederhana, namun dibangun
seiring dengan pembangunan manusianya.
Terkait dengan arsitektur masjid, ada satu fenomena yang
patut diwaspadai. Bahwa masyarakat kita cenderung melihat
masjid sebagai bangunan megah dengan kubah bundar sebagai
ciri khasnya. Lalu muncul imej bahwa masjid seperti inilah yang
paling Islami. Sementara arsitektur masjid kuno dipandang seba-
gai warisan Hindu yang tidak Islami. Sebagai contoh, gaya disain
mimbar pada masjid Indra Purwa yang oleh sebagian orang dipan-
dang bergaya Hindu. Dan fanatisme buta segera memunculkan
sikap memusuhi semua yang berbau Hindu.

xiv
Terkait dengan hal ini, perlu dikutip pandangan seorang
penulis sejarah Aceh berkebangsaan Perancis, yaitu Denys Lombard.
Lombard menyatakan kekagumannya; “Terbuktilah di sini, arsi-
tektur keagamaan yang orisinil berhasil mengakar, lepas dari segala
model barat”, (Denys Lombard, 1986: 61). Penilaian ini tidak sebatas
amatan lahiriah, tapi apresiasi kepada alam pikiran yang melahirkan
arsitektur bangunan itu, alam pikiran moderat.
Berhasilnya pembangunan manusia zaman dahulu terbukti
dengan mampunya mereka menerima Islam dengan baik, dan
mampu memilah dan mengadopsi bagian-bagian budaya dalam
masyarakat yang tidak bertentangan dengan Islam. Hanya manusia
berpikiran moderat yang mampu berbuat seperti ini. Tentunya ini
bukan berarti memvonis kita yang hidup di zaman modern sebagai
berpikiran kolot. Tapi ini membuktikan sejauhmana telah terjadi
pendangkalan dalam pemahaman ke-Islam-an kita.
Akibat dari cara berpikir demikian, dengan mudahnya
masjid lama dirobohkan, tanpa sadar bahwa kita sedang mengubur
sejarah kita sendiri. Segala yang berbau Hindu dimusnahkan,
padahal endatu kita mampu memilah, sehingga budaya yang
dipertahankan adalah budaya yang telah disaring berdasarkan
ajaran Islam. Fanatisme buta mengakibatkan hilangnya identitas
diri, dan sejarah Aceh pun terkubur sebagai misteri.
Kedatangan Belanda adalah titik balik peradaban Aceh.
Masjid dengan arsitektur baru sempat ditolak oleh umat Islam
Aceh kala itu. Namun kemudian justru menjadi kebanggaan
dan ikon daerah. Masjid yang dibangun setelah perang masih
mengikuti gaya arsitektur tradisional seperti masjid Teungku
Fakinah misalnya. Namun kemudian, umumnya berkiblat kepada
arsitektur baru versi Belanda, padahal ia bergaya eropa. Hal ini
dapat disimak dari sajian buku ini.
Dari sudut pandang arsitektur, buku ini telah berhasil
merekam dua fase sejarah yang sangat kontras. Pertama, fase
Kerajaan Islam Aceh Darussalam dengan arsitektur perseginya
yang khas lokal dan mengesankan kesederhanaan. Kedua, fase

xv
kolonialisme Belanda di mana arsitekturnya mengadopsi paduan
gaya Eropa-Persia dengan kubah bundar yang mengutamakan
kemegahan arsitektur, dan mungkin, kemewahan.
Mungkin kita percaya bahwa budaya tidak statis, tapi dinamis
dan terus berubah. Namun begitu, seandainya gaya arsitektur baru
tidak diperkenalkan, apakah arsitektur tradisional akan begitu-gitu
saja? Kiranya tidak, kreatifitas pada masjid Baitul Musyahadah
di Seutui - Kota Banda Aceh menjadi bukti, bukankah ini suatu
kreatifitas tanpa harus menjiplak?
Kontrasnya gaya arsitektur, mewakili kontrasnya alam
pikiran yang melahirkan bentuk lahiriah masjid. Secara fisik,
peralihan bentuk ini seolah menawarkan style baru yang megah
dan segera menjadi kebanggaan. Namun sesegera itu pula, nilai
kesederhanaan dalam arsitektur masa lalu nyaris terlupakan.
Filosofi ini menjadi hilang seiring dengan menyejarahnya gaya
baru itu dalam ingatan sosial masyarakat. Generasi muda Aceh
sekarang umumnya hanya mengetahui bangunan fisik Masjid
Raya Baiturahman yang sekarang. Dan sebagian mereka meyakini,
inilah masjid warisan, peninggalan era kejayaan para sultan Aceh
masa lampau.
Masjid Raya Baiturrahman sering menjadi alasan dan
rujukan, saat masyarakat memutuskan untuk membangun masjid
dengan rancangan baru. Masjid Raya Baiturrahman menjadi acuan
saat mereka bermusyawarah untuk menggantikan masjid tua yang
sudah lapuk, masjid berarsitektur tradisional Aceh yang semakin
jarang terlihat di Aceh...

Banda Aceh, 2 November 2009

Editor

xvi
Daftar Isi

Sambutan Ka. Kanwil Depag Prov. Aceh


Drs. H. A. Rahman TB, Lt. ... ... ... v
Kata Pengantar
Kabid Penamas Kanwil Depag Prov. Aceh
H. Abrar Zym, S.Ag. ... ... ... vii
Catatan Editor
“Titik Balik Peradaban” ... ... ... xi
1. Masjid Raya Baiturrahman
Kota Banda Aceh ... ... ... 1
2. Masjid Teungku Di Anjong
Peulanggahan - Kota Banda Aceh .. ... ... 13
3. Masjid Baiturrahim
Ulee Lheue - Kota Banda Aceh ... ... ... 21
4. Masjid Indra Puri
Indra Puri - Aceh Besar ... ... ... 27
5. Masjid Indra Purwa
Lam Badeuk - Aceh Besar ... ... ... 33
6. Masjid Jamik Jantho
Jantho - Aceh Besar ... ... ... 41
7. Masjid Teungku Chik Kuta Karang
Kuta Karang - Aceh Besar ... ... ... 45
8. Masjid Teungku Fakinah
Blang Miro - Aceh Besar ... ... ... 51
9. Masjid al-Muhajirin
Mata Ie - Aceh Besar ... ... ... 57
10. Masjid Quba
Bebesen - Aceh Tengah ... ... ... 61
11. Masjid Tua Kabayakan
Kabayakan - Aceh Tengah ... ... ... 67
12. Masjid Jamik Baiturrahim
Celala - Aceh Tengah ... ... ... 69
13. Masjid Asal
Penampaan - Gayo Lues ... ... ... 73
14. Masjid al-Huda
Tanjung Karang - Aceh Tamiang ... ... ... 81
15. Masjid Al-Furqan
Kota Kualasimpang - Aceh Tamiang ... ... ... 85

Daftar Pustaka ... ... ... 87

xviii
KOTA BANDA ACEH

MASJID RAYA BAITURRAHMAN


Masjid Raya Baiturrahman terletak di pusat kota Banda Aceh,
kota yang menjadi ibukota sekaligus pusat pemerintahan
Aceh. Masjid ini telah mengalami beberapa kali perluasan dari
bangunan dasarnya yang berukuran 537,91 m2. Dari masjid
berkubah satu yang dibangun pemerintah Belanda di tahun
1879-1883. Kini Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah
dengan tujuh kubah, lima menara, dan luas 3.500 m2.

1
Interior Masjid
Raya Baiturrahman,
setelah renovasi dan
perluasan tahun
1992. Pandangan ke
arah bangunan lama
masjid.

Pandangan ke arah
mihrab dalam Masjid
Raya Baiturrahman,
setelah renovasi tahun
1992.

Masjid Raya
Baiturrahman di
tahun 1980-an. Megah
dengan lima kubah
dan dua menara yang
ditambahkan dalam
tahun 1958-1965.

2
Masjid Raya
Baiturrahman dengan
tiga kubah. Perluasan
dengan penambahan
dua kubah ini
dilakukan oleh
Gubernur Van Aken
pada tahun 1936.

Masjid Raya
Baiturrahman dengan
satu kubah, difoto
tahun 1900 M. Masjid
ini dibangun oleh
Pemerintah Kolonial
Belanda untuk
mengambil hati rakyat
Aceh, mulai dibangun
pada hari Kamis, 9
Oktober 1879 M/23
Syawal 1296 H.

Interior Masjid
Raya Baiturrahman.
Masjid berkubah
satu ini dikerjakan
konstruksinya oleh
seorang pengusaha
Cina yang bernama
Lie A Sie.

3
Masjid Raya
Baiturrahman di
tahun 1890 M,
pandangan dari
arah samping.
Arsitekturnya yang
bergaya Eropa menjadi
titik balik peralihan
gaya arsitektur masjid-
masjid di Aceh
kemudian hari.

Masjid Raya
Baiturrahman di tahun
1881 M. Pada awalnya
rakyat Aceh menolak,
karena menurut
mereka, masjid ini
dibangun oleh kaphe.
Masjid ini diserahkan
kepada rakyat Aceh
pada hari Selasa, 27
Desember 1881 M/6
Safar 1299 H.

Menjelang
penyelesaian kubah
masjid raya, tahun
1881 M, kota Banda
Aceh dilanda banjir
besar yang ikut
menggenangi daerah
sekitar Masjid Raya
Baiturrahman.

4
Menurut A. Hasjmy,
inilah bentuk Masjid
Raya Baiturrahman
yang dibangun oleh
Sultanah Nurul ‘Alam
Nakiatuddin Syah
(1675-1678 M). Masjid
inilah yang dibakar
pada tanggal 6 Januari
1874 oleh Belanda
dalam agresi keduanya.

Sketsa ini (Peter Mundy


1637), menunjukkan
bentuk masjid yang
dibangun oleh Sultan
Iskandar Muda tahun
1614 M. Masjid ini
terbakar sekitar tahun
1677 M, saat terjadi
pergolakan kaum
wujudiyyah di masa
Sultanah Nurul ‘Alam
Nakiatuddin Syah.

Masjid Raya
Baiturrahman dalam
sketsa Peter Mundy
di tahun 1637.
Setidaknya sketsa
ini menunjukkan
arsitektur tradisional
yang menjadi gaya
bangunan masjid di
Aceh kala itu. Gaya
ini berubah setelah
Belanda datang.

5
Sejarah Ringkas Masjid Raya Baiturrahman

Menurut ensiklopedi Islam Indonesia (1992: 162-163),


Masjid Raya Baiturrahman didirikan pada tahun 691 H/1292
M, di masa Sultan Alaidin Mahmud Syah I. Namun sayangnya
pendapat ini tidak memiliki rujukan kepada data primer, jadi
tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pegangan.
Dengan tidak adanya informasi tentang masjid ini dalam
catatan sejarah masa itu, maka kita hanya bisa berasumsi bahwa
raja di Aceh telah mengadopsi sistem pemerintahan Islam -yang
berkembang kala itu- sehingga memakai gelar sultan. Tentunya
fakta ini mengantar pemikiran kita untuk membenarkan, bahwa
di masa itu telah didirikan sebuah masjid induk. Namun tidak
dapat dipastikan bahwa masjid itu dibangun di lokasi Masjid Raya
Baiturrahman sekarang, dan tidak pula dapat dipastikan, bahwa
masjid itu diberi nama Masjid Raya Baiturrahman.
Catatan tentang mesjid juga tidak ditemukan di masa
berkuasanya Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1529 M). Padahal
kala itu telah terjadi penyatuan kerajaan Daruddunia dengan
Meukuta Alam. (Amirul Hadi, 2004:13). Tentunya Islam telah
lebih luas dianut oleh masyarakatnya. Dari sisi lain, catatan sejarah
Aceh sejak masa ini telah dapat dirujuk dan dirunut dengan jelas,
namun tetap saja catatan mengenai keberadaan Masjid Raya
Baiturrahman tidak ditemukan. Maka sejarah masjid ini sebelum
Iskandar Muda, tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan.
Satu-satunya keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan
adalah informasi yang menyatakan bahwa pembangunan Masjid
Raya Baiturrahman dilaksanakan oleh Sultan Iskandar Muda
(1607-1636 M). Informasi ini dapat kita peroleh, antara lain dari
Bustanussalatin (T. Iskandar, 1966: 35-36) dan Hikayat Aceh (T.
Iskandar, 1986: 176). Dari informasi ini diperoleh jawaban, bahwa
Masjid Raya Baiturrahman didirikan pada tahun 1614 oleh Sultan
Iskandar Muda, bersama beberapa masjid lainnya. Bustanus Salatin
menginformasikan:

6
“Tatkala hijrah seribu empat puluh lima tahun…, ialah yang
berbuat Masjid Baiturrahman dan beberapa masjid pada
tiap-tiap manzil. Dan ialah yang mengeraskan agama Islam
dan menyuruh segala rakyat shalat lima waktu, dan puasa
Ramadhan, dan puasa sunnah, dan menegahkan sekalian
mereka itu minum arak, dan berjudi. Dan ialah yang mem-
baiatkan bayt al-mal, dan ‘ushur (perangkat pemerintahan)
negeri Aceh Darussalam, dan cukai pekan. Dan ialah
yang sangat murah kurnianya akan segala rakyatnya, dan
mengaruniai sedekah akan segala fakir dan miskin pada
tiap-tiap berangkat shalat Jumat (T. Iskandar, 1996: 387).
Informasi tentang pendirian beberapa masjid oleh Iskandar
Muda juga direkam oleh Snouck Hurgronje. Bahwa oleh masya-
rakat Aceh, semua masjid yang didirikan oleh Iskandar Muda
itu disebut meuseujid raya, baik karena luas/besar bangunannya,
sebagai tempat ibadah utama, atau karena dibangun oleh Raja.
(Snouck Hurgronje, 1996: 64). Semua masjid yang didirikannya
memiliki arsitektur yang serupa, disain arsitektur atap bertingkat.
Selain masjid Raya Baiturrahman, Snouck mencatat bahwa
di kawasan Aceh Besar terdapat tiga mesjid yang juga dibangun
oleh Sultan Iskandar Muda, yaitu Masjid Indra Patra (Mukim
XXVI), Masjid Indra Puri (Mukim XXII), dan Masjid Indra Purwa
(Mukim XXV). Kabarnya, ketiga masjid ini dibangun di atas re-
runtuhan candi, ini dapat dilihat pada pondasi Masjid Indra
Puri yang masih tegak sampai sekarang. Sedangkan Masjid Indra
Purwa telah dipindahkan dari lokasi asalnya yang dikikis abrasi,
lalu hancur ditelan gelombang tsunami 2004 lalu.
Adapun Indra Patra, tidak tampak lagi tanda-tanda pendirian
masjid di atasnya, yang tinggal hanya bekas-bekas bangunan pur-
bakala yang sebagiannya masih tegak berdiri. Namun perlu dicatat,
bahwa empat orang ahli sejarah Aceh telah meneliti tempat ini, Dr.
T. Iskandar, H. M. Zainuddin, M. Junus Djamil dan A. K. Abdullah.
Menurut mereka, tidak ada bekas candi atau bekas masjid di sini,
bangunan ini diduga sebagai bekas gudang sejata.

7
Masjid lain yang dikabarkan dibangun oleh Iskandar Muda
terdapat di wilayah Pidie yang di antaranya dicatat oleh Snouck
Hurgronje, yaitu Masjid Labuy di Pidie. Hal ini menuntut
penelusuran lebih jauh, karena beberapa masjid tua di Kabupaten
Pidie menunjukkan arsitektur yang identik dengan masjid yang
dibangun di masa itu.
Tentang bentuk bangunannya, ada beberapa persepsi yang
berkembang. Sebagian pendatang asing ada yang menggambarkan
Masjid Raya Baiturrahman sebagai bangunan berkonstruksi beton
dan berkubah bundar. Namun tamu asing lainnya menampilkan
sketsa Masjid Raya Baiturrahman dalam konstruksi kayu dan
beratap lapis tiga (tiga atau empat tingkat).
Dari berbagai deskripsi itu, kiranya dapat disimpulkan
bahwa bentuk asli dari Masjid Raya Baiturrahman adalah sebangun
dengan Masjid Indra Puri. Beruntung sekali karena Masjid Indra
Puri masih bisa disaksikan sampai hari ini sebagai masjid yang
masa pembangunannya hampir berbarengan dengan Masjid Raya
Baiturrahman sebagai masjid induk, atau masjid kerajaan. Sebuah
sumber menyebutkan bahwa Masjid Indra Puri didirikan pada
tahun 1618 M. Dari sini maka gambaran yang paling dekat dengan
bentuk sebenarnya adalah sketsa yang dibuat oleh Peter Mundy.
(Denys Lombard, 1986: 364)
Sketsa ini dibuat berdasarkan amatan Peter Mundy ketika
ia mengunjungi Aceh. Ia sempat menyaksikan arak-arakan yang
dicatatnya tertanggal 26 April 1637 M. Menurut Lombard,
tanggal ini salah karena Mundy mengikuti penanggalan Julius,
yang benar menurut Lombard adalah 26 Mei 1637 M berdasar-
kan penanggalan Gregorius, bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1046
H, (Denys Lombard, 1986: 199). Arak-arakan yang dilaksanakan
adalah dalam rangka pelaksanan ibadah qurban menyambut hari
raya Idul Adha di bulan Zulhijjah 1046 H. Sultan yang berkuasa
pada masa ini adalah Sultan Iskandar Thani.
Ada versi lain yang juga membuat perhitungan berdasar
penanggalan Gregorius, bahwa tanggal itu jatuh pada bulan

8
Muharram 1046 H. Jadi arak-arakan itu diselenggarakan dalam
rangka menyambut bulan Muharram, atau syahidnya Husein.
Hal ini bisa saja benar atau salah, yang jelas sketsa Peter Mundy
tentang Masjid Raya Baiturrahman memberi kita gambaran
tentang bentuk fisik bangunan Masjid Raya Baiturrahman.
Informasi lain tentang bentuk fisik Masjid Raya Baiturrahman
dapat kita peroleh dari Bustanussalatin:
“Ada dalam negeri itu sebuah masjid terlalu besar dan
terlalu tinggi kemuncaknya dari pada perak yang berapit
dengan cermin balur. Maka ada segala orang yang sembah-
yang dalamnya terlalu banyak. Maka pada penglihat kami
diperhamba yang mengatasi banyak orang sembahyang
dari pada dalam masjid itu hanya dalam masjid yang dalam
Haram Mekah Allah yang mulia itu jua. Maka masjid yang
dalam segala negeri yang lain tiada ada seperti dalam masjid
itu... Maka ada luas masjid itu seyojana mata memandang
dan ada mimbarnya dari pada mas dan kemuncak mimbar
itu dari pada suasa. Maka ada disebutkan orang pada puji-
pujian dari mulut orang banyak: ‘Sayyidina Sultan Perkasa
‘Alam Johan berdaulat shahib al-barrayn wa al-bahrayn’, ya’ni
tuan kami Sultan Perkasa ‘Alam yang mengempukan dua
darat dan dua laut ya’ni darat dan laut masyrik-maghrib.
Di masa sultan Iskandar Muda, selain untuk shalat, masjid
ini juga dipakai sebagai tempat pelaksanaan berbagai upacara
keagamaan dan peringatan hari besar Islam lainnya. Misalnya
menyantuni rakyat di saat meugang menyambut puasa, meugang
hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), laylat al-qadar (i‘tikaf), qurban,
tempat pengkajian agama, dan lain-lain.
Bangunan Masjid Raya Baiturrahman sebagaimana yang
digambarkan Bustanussalatin telah terbakar di masa Sultanah
Nurul ‘Alam Naqiatuddin Syah (1675-1678 M). Ketika itu terjadi
pergolakan yang dipicu oleh kaum wujudiyyah. Mereka menyatakan
sikapnya terkait dengan sah-tidaknya kepemimpinan perempuan.
Pergolakan ini menimbulkan kepanikan dan berakibat terbakarnya

9
masjid dan istana. Peristiwa ini diperkirakan terjadi dalam tahun
1677 M, lalu Sultanah Nurul ‘Alam mangkat pada tahun 1678,
(M. Yunus Jamil, 1968: 47).
Mengingat keberadaan Masjid Raya Baiturrahman sebagai
masjid induk, dapat diperkirakan bahwa masjid ini segera dibangun
kembali oleh Nurul ‘Alam. Lalu pembangunannya diteruskan oleh
Sultanah Zakiyyat al-Din (1678-1688 M). Mengenai bentuk fisik
masjid yang dibangun setelah kebakaran besar itu tidak diperoleh
keterangan yang jelas. Dari buku Ali Hasjmy diperoleh gambaran
sebuah sketsa yang dibuat berdasarkan penuturan Teungku Syekh
Ibrahim Lambhuk, (A. Hasjmy, 1977: 193).
Sketsa ini memperlihatkan bentuk arsitektur yang berbeda
dari masjid yang dibangun Sultan Iskandar Muda, (lihat gambar
di halaman sebelumnya, bandingkan dengan gambar dalam sketsa
Peter Mundy). Masjid yang dibangun oleh sultanah inilah yang
dibakar dalam masa perang Kolonial Belanda di Aceh.
Dalam masa perang Kolonial Belanda di Aceh, Masjid Raya
Baiturrahman menjadi benteng pertahanan para mujahid perang
Aceh. Dalam agresi pertama pihak Belanda sempat menguasai
Masjid Raya Baiturrahman beberapa waktu. Namun masjid ini
berhasil direbut kembali oleh pejuang Aceh di bawah pimpinan
Teungku Imum Lueng Bata. Kegagalan Belanda ini diperparah
oleh tewasnya Jenderal Kohler tanggal 14 April 1873 M.
Pihak Belanda memandang Masjid Raya Baiturrahman
sebagai simbol kekuatan pihak Aceh. Maka pada agresi kedua
mereka memusatkan serangan ke masjid ini sehingga berhasil
merebutnya pada tanggal 6 Januari 1874. Akibat serangan besar-
besaran ini, Masjid Raya Baiturrahman hancur, dan disebabkan
karena Belanda menganggap masjid ini juga pusat pertahanan para
pejuang Aceh yang telah merenggut nyawa banyak serdadu Belanda,
termasuk Jenderal J.H.R. Kohler, maka masjid yang telah hancur ini
juga dibakar, (Rusdi Sufi, dalam Azman Ismail, et al., 2004: 24).
Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman terbakar.
Pada pertengahan bulan Safar 1294 H/awal Maret 1877 M, dengan

10
mengulangi janji Jenderal Van Swieten, Gubernur Jenderal Van
Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya
Baiturrahman. Pernyataan itu diumumkan setelah diadakan per-
musyawarahan dengan kepala-kepala negeri sekitar Kuta Raja.
Pihak Belanda berhasrat mengambil hati rakyat Aceh yang
justru bertambah semangat perangnya akibat penghancuran masjid
raya. Mereka menyatakan menghormati sepenuhnya kemerdekaan
beragama rakyat Aceh. Janji ini dilaksanakan oleh Jenderal K. Van
der Heyden. Maka dilaksanakanlah peletakan batu pertamanya
pada tanggal 9 Oktober 1879. Mengenai arsitekturnya, pihak
Belanda meminta masukan dari seorang ulama di Garut, agar tidak
bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Masjid senilai f 203.000
(Dua Ratus Tiga Ribu Gulden) ini dibangun di bawah pengawasan
arsitek Meneer BRUINS dari Departement van Burgelijke Openbare
Werken Batavia, dan selesai pada tahun 1881. Pembangunannya
dikerjakan oleh seorang letnan Cina bernama Lie A Sie.
Menjelang selesainya pembangunan masjid ini, saat kubah
sedang dikerjakan, kota Banda Aceh dilanda banjir besar yang
ikut menggenangi sekitar lokasi masjid. Entahkah peristiwa banjir
ini dianggap sebagai pertanda tertentu oleh sebagian masyarakat,
yang jelas sebagian mereka menolak kehadiran masjid ini. Mereka
tidak mau menerima karena menurut mereka masjid ini dibangun
oleh kaphe (non muslim).
Meskipun ada penolakan dari sebagian masyarakat, namun
penyerahannya kepada masyarakat tetap direalisir. Maka diadakan
lah upacara penyerahterimaan Masjid Raya Baiturrahman pada
tanggal 27 Desember 1881. Seremoni ini diawali dengan tembakan
meriam, dan diakhiri dengan pembacaan doa. Adapun pengelolaan
masjid ini, diserahkan kepada seorang ulama dari Pidie bernama
Teungku Syekh Murhaban. Ia menjadi imam besar Masjid Raya
Baiturahman kala itu.
Pada tahun 1936, masjid ini diperluas oleh Gubernur
Van Aken dengan biaya sebesar f 35.000 (Tiga Puluh Lima
Ribu Gulden). Dalam perluasan ini, Masjid Raya Baiturrahman

11
ditambah dua kubah lagi dengan luas 741 m2. Berikutnya masjid
ini mengalami renovasi yang dapat diringkas sebagai berikut:
• Perluasan dengan penambahan dua
kubah serta dua menara utara-selatan
(Surat Keputusan Menteri Agama RI
tanggal 31 Oktober 1957). Peletakan
batu pertamanya dilaksanakan pada hari
Sabtu, 16 Agustus 1958 oleh Menteri
Agama yang kala itu dijabat oleh K. H.
M. Ilyas. Hasil renovasi ini, luas Masjid Raya Baiturrahman
menjadi 1.945 m2 dengan lima kubah.
• Pada tahun 1981, saat diadakan MTQ Nasional ke XII,
Masjid Raya Baiturrahman diperindah dengan tambahan
pelataran, pemasangan klimkers di atas jalan-
jalan di perkarangan, interior, sound system,
penambahan tepat wudhuk, pemasangan
pintu kriwang, chondelir dan kaligrafi
berbahan kuningan. Selain itu juga dipasang
instalasi air mancur di kolam depan.
• Tahun 1986, Masjid Raya Baiturrahman diperluas menjadi
2240 m2. Selain ruang shalat, juga ditambah
ruang para imam dan muazin, ruang tamu,
ruang belajar dan pekantoran serta tempat
penitipan kende-raan.
• Tahun 1992, Masjid Raya Baiturrahman
diperluas lagi menjadi tujuh kubah dan lima
menara dengan luas 3.500 m2, dan tanah
di bagian halaman depan dibebaskan seluas
16.070 m2 dengan biaya sebesar 1.2 M. Di
halaman depan didirikan menara utama
dengan ketinggian 53 meter.

12
KOTA BANDA ACEH

MASJID TEUNGKU DI ANJONG


Masjid ini terletak di Gampong Peulanggahan Kecamatan Kuta
Raja Kota Banda Aceh. Masjid Teungku Di Anjong yang aslinya
berkonstruksi kayu telah hancur dilumat gelombang tsunami.
Kini telah dibangun masjid baru dengan konstruksi beton,
tapi tetap mengikuti arsitektur tradisional Aceh, sebagaimana
bentuk Masjid Teungku Di Anjong sebelumnya.

13
Masjid Teungku di
Anjong tahun 80-an.
Telah ditambahkan
teras oleh masyarakat
guna mengantisipasi
lonjakan jumlah
jamaah shalat Jumat.

Masjid Teungku Di
Anjong dalam tahun
90-an. Di belakangnya
dibangun masjid baru
dengan gaya arsitektur
yang sama. Namun
masjid lama masih
tetap dipertahankan.

Beginilah kondisi
masjid Teungku
Di Anjong sampai
tsunami menerjang
26 Desember 2004.
Di samping masjid
terletak makam
Teungku Di Anjong
yang sering diziarahi
warga.

14
Masjid Teungku Di
Anjong dalam sketsa,
di tahun 1882 M.

Masjid Teungku Di
Anjong, difoto tahun
1882 M.

Masjid Teungku Di
Anjong dalam sketsa,
di tahun 1876 M.

15
Sejarah Ringkas Masjid Teungku Di Anjong
Nama Peulanggahan berasal dari kata persinggahan, karena
tempat ini menjadi persinggahan bagi mereka yang hendak
menuntut ilmu. Kabarnya di masa hidup Teungku Di Anjong
dulu, masjid ini menjadi tempat belajar dan pelatihan manasik
haji bagi jamaah calon haji. Peserta pelatihan tidak hanya dari
kawasan Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan daerah lain sekitar
Aceh, bahkan dari luar Aceh.
Letak lokasi dayah ini sangat strategis, yaitu di lembah
Krueng Aceh yang menjadi urat nadi penghubung kota Bandar
Aceh Darussalam dengan dusun. Sungai ini juga merupakan pintu
masuk bagi para pengunjung dari luar negeri yang ingin bertemu
sultan di istana di pinggir sungai Krueng Daroy.
Gaya bangunan masjid ini mengikuti asitektur tradisional
yang berkembang di Aceh kala itu. Konstruksinya dibangun dengan
bahan kayu, atap dan kubah berbentuk segi empat mengkerucut ke
atas. Menurut masyarakat setempat, bangun atapnya yang berlapis
tiga memiliki arti yang merupakan perlambang dari tiga bagian
keilmuan dasar Islam, sesuai dengan fungsinya sebagai dayah
(zawiyah/pesantren) yaitu:
• Lantai pertama merupakan Hakikat
• Lantai kedua merupakapan tarekat
• Lantai ketiga merupakan makrifat

16
Bangunan ini pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai
masjid, tapi dibangun sebagai tempat belajar (Dayah/pesantren).
Dayah ini didirikan kira-kira pada tahun 1769 M oleh Teungku Di
Anjong yang hidup di masa Sultan Alaidin Mahmud Syah (1760-
1781 M). Teungku di Anjung wafat tahun 1782 M, tidak diketahui
siapa yang melanjutkan kepemimpinan dayah ini sepeninggal
beliau dan bagaimana kelanjutan dayah ini. Teungku Di Anjong
dikebumikan di dayah beliau di Desa Peulanggahan.
Tentang makam Teungku Di Anjong, Snouck Hurgronje
mencatat, bahwa tempat peristirahatan Sayid Abu Bakr ibn Husayn
Bil-Faqih ini sangat dihormati masyarakat. Ia mengasumsikan
penghormatan masyarakat terhadap makam Teungku Anjong
melebihi penghor-matan kepada makam Teungku di Kuala
(Syaikh ‘Abdurra’uf al-Singkili), yang dimakamkan di Syiah Kuala.
Menurut catatan Snouck, masyarakat juga sering bernazar kepada
Teungku Anjong. (Snouck Hurgronje, 1996: 56 dan 116).
Di zaman perang kolonial Belanda di Aceh, dayah ini menjadi
markas pertahanan mujahid perang Aceh. Namun kemudian
dikuasai Belanda bersamaan dengan dikuasainya wilayah Banda
Aceh dan sekitarnya oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, dayah peninggalan
Teungku Di Anjong digunakan sebagai masjid oleh masyarakat
setempat. Setelah pemugaran, dayah ini diresmikan penggunaannya
sebagai masjid pada tahun 1982. Riwayatnya dapat diringkas
sebagai berikut:
• Tahun 1899, dilakukan renovasi menggantikan atap rumbia
dengan atap dari bahan seng.
• Tahun 1982, diusulkan agar digantikan dengan bangunan
baru yang permanen, namun usulan ini ditolak oleh Balai
Purbakala.
• Tahun 2003, Dinas Kebudayaan mengalokasikan dana dari
APBD untuk merehab bangunan dayah agar dikembalikan ke
bentuk aslinya.
• Tahun 2004, renovasi masjid mulai dilakukan, tapi musibah

17
tsunami meluluhlantakkan bangunan dayah ini sehingga yang
tersisa hanya pondasinya saja.
• Tahun 2005, BRR mengucurkan data tanggap darurat sebesar
Rp 49 juta untuk pembenahan.
• Tahun 2008, masjid baru berkonstruksi permanen dibangun
dengan tetap mengikuti arsitektur tradisional masjid aslinya.
Untuk tahap pertama, BRR mengalokasikan anggaran sebesar
Rp 300 juta.
• Tahun 2009, pembangunan masjid dilanjutkan dengan dana
bantuan BRR untuk tahap II sebesar Rp 250 juta.
Masjid Teungku Di Anjong me-
rupakan kebanggaan masyarakat sekitar
Peulanggahan. Kecintaan masyarakat ter-
hadap masjid ini dimanifestasikan dalam
berbagai bentuk. Salah satunya diadopsi
dalam logo dan menjadi ikon dalam
MTQ ke 30 se-Kota Banda Aceh yang
diselenggarakan dalam tahun 2008.

Riwayat Ringkas Teungku Di Anjong


Nama lengkap Teungku Di Anjong ialah Sayyid Abu Bakar
ibn Husayn Bil-Faqih. Dua orang saudara beliau yang lain ialah Ali,
dan Umar Bil-Faqih asal keturunan dari dari Tarim Hadralmaut,
Yaman.
Sayyid Abu Bakar ibn Husayn Bil-Faqih hijrah ke Aceh
kira-kira dalam tahun 1742 M. Sesampainya di Aceh beliau
mempersunting salah seorang anak dari uleebalang Ulee Kareng
(Lam Gapang).
Karena beliau seorang miskin yang menikah dengan anak
ulebalang, maka beliau bersama isteri tidak bertempat tinggal
di rumah ulee balang tersebut. Tetapi ditempatkan di salah satu
anjungan rumah (teras rumah). Padahal kebiasaan dan adat yang
berlaku di Aceh Besar, rumah diberikan kepada anak perempuan

18
setelah ia menikah. Menurut satu sumber, kondisi ini menyebabkan
beliau digelar dengan nama Teungku Di Anjong, karena beliau
tinggal di anjungan rumah mertuanya.
Dalam versi lain, menurut Panitia Pemugaran Masjid
Teungku Di Anjung, gelar Teungku Di Anjong justru diberikan
oleh masyarakat sebab beliau disanjung oleh masyarakat karena
keluasan ilmunya. Keluasan ilmunya telah mengundang santri
dari berbagai daerah datang untuk berguru padanya.
Penghormatan masyarakat sangatlah besar padanya, hal
ini dapat dipahami dari kisah-kisah yang beredar di kalangan
masyarakat. Cerita yang cenderung berlebihan tentang keramat-
nya Teungku Di Anjong, salah satunya ialah kisah berikut;
Diriwayatkan bahwa pada suatu waktu, di kediaman Sayyidil
Mukammil, ayah dari sultan Aceh, berlangsung pesta ulang tahun
raja. Teungku Di Anjong beserta keluarga dan mertua juga turut
diundang ke pesta di kediaman raja itu. Pada saat itu, mertua
Teungku Di Anjong meminta kepada Teungku Di Anjong agar
membawa tiga buah talam hindangan guna dipersembahkan kepa-
da raja sebagai hadiah.
Akan tetapi, Teungku Di Anjong tidak memiliki bekal apa
pun, beliau tidak tahu harus memberi hadiah apa kepada raja.
Menurut sahibul hikayah, dalam kondisi terdesak Teungku Di
Ajong melakukan tindakan luar biasa yang tidak masuk akal.
Beliau mengisi talam pertama dengan kotoran ayam, lalu talam
kedua diisi dengan kotoran sapi, dan talam ketiga diisi dengan batu
kerikil yang diambil di dekat jembatan Pante Perak sekarang.
Singkat cerita, ketika ketiga talam tersebut dibawa untuk
dipersembahkan kepada raja. Pada saat sang raja memerintah agar
talam tersebut dibuka, maka semua yang hadir kala itu terperanjat.
Orang semiskin Teungku Di Anjong mampu mempersembahkan
hadiah yang bahkan tidak sanggup dibayangkan oleh orang terkaya
di Aceh sekalipun.
Kata sahibul hikayah, talam yang pertama berisi intan
berlian, talam kedua berisi emas, dan talam yang ketiga berisi

19
perak. Sungguh mencengangkan, talam pertama yang diisi
kotoran ayam, kini telah berubah menjadi intan berlian. Talam
kedua yang diisi kotoran sapi, berubah menjadi emas. Dan talam
ketiga yang diisi batu kerikil, berubah menjadi perak. Sejak saat
itu, tempat di mana Teungku Di Anjong memungut batu kerikil
itu lalu dinamakan Pante Perak.
Demikian riwayat ini, tentunya tidak diperlukan suatu upaya
untuk meneliti kebenaran kisah seperti ini. Kisah-kisah seperti
ini memang lumrah dalam perjalanan catatan sejarah masa lalu.
Keberadaan Teungku Di Anjong dalam catatan sejarah Aceh tidak
menjadi pudar akibat kisah-kisah seperti ini.
Selama tinggal di Aceh, Teungku Di Anjong pernah kembali
pulang ke kampung halamannya. Sebuah sumber mengatakan,
bahwa setelah isteri pertama beliau wafat, beliau kebali ke Timur
Tengah. Tidak diperoleh catatan tentang kapan isteri pertama
beliau wafat, hanya diketahui pemakamannya saja di Desa Lam
Gapang.
Di kampung halamannya Teungku Di Anjong menikah
untuk yang kedua kalinya. Istri kedua beliau bernama Syarifah
Fathimah binti ‘Abdurrahman ‘Aidid. Anak seorang Sayyid
keturunan ‘Aidid. Kemudian beliau kembali lagi ke Aceh, dan
menetap di Kampong Jawa bersama istrinya. Dikatakan bahwa
pada masa inilah beliau mendirikan dayah tempat pengajian, di
desa yang dikenal sekarang sebagai Gampong Peulanggahan.
Isteri Teungku Di Anjong juga sangat disegani masyarakat
sebagai guru, terutama oleh kaum perempuan. Beliau wafat di
Kampong Jawa dan dimakamkan berdampingan dengan kuburan
Teungku Di Anjong. Snouck Hurgronje mencatat, bahwa isteri
Teungku Di Anjong bernama Fatimah, wafat tanggal 16 Rajab
1235 H (Mei 1820 M). Menurut Snouck, setiap tanggal 18 bulan
molot, masyarakat mengadakan kenduri di makam Fatimah yang
sehari-hari disebut Aja Eseutiri, (Snouck Hurgronje, 1996: 171).

Sumber: Kandepag Kota Banda Aceh, BKM Masjid Teungku Di Anjong,


Imam Masjid, dan masyarakat setempat.

20
KOTA BANDA ACEH

MASJID BAITURRAHIM
Masjid Baiturrahim - Ulee Lheue adalah masjid di kemukiman
Meuraxa, Desa Ulee Lheue, kira-kira berjarak 5 kilometer dari
kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada tahun 1343 H,
bertepatan dengan tahun 1926 M. Masjid ini telah mengalami
beberapa kali renovasi, terakhir sempat rusak dalam terjangan
tsunami 26 Desember 2004. Pada gambar di atas, tampak masjid
Baiturrahim yang telah dipugar setelah tsunami.

21
Kondisi Masjid
Baiturrahim Ulee
Lheue yang direnovasi
setelah musibah
tsunami.

Masjid Baiturrahim,
satu-satunya bangunan
yang tertinggal di
daerah Ulee Lheue,
selamat secara
menakjubkan dari
terjangan gelombang
tsunami. Pemukiman
yang padat di
sekitarnya tampak
telah lapang, tersapu
bersih.

Beberapa hari setelah


tsunami, kerusakan
masjid ini tergolong
ringan dibanding
kekuatan gelombang
yang dahsyat di pagi
hari Minggu, 26
Desember 2004.

22
Beginilah kondisi
Masjid Baiturrahim
Ulee Lheue sebelum
tsunami. Foto ini
diabadikan beberapa
hari sebelum
gelombang Tsunami
melanda Aceh.
Tampak Kubahnya
telah dibongkar dalam
rangka renovasi.

Di tahun 70-an,
Masjid Baiturrahim
Ulee Lheue masih
terlihat utuh
sebagaimana semula ia
dibangun.

Masjid Baiturrahim
Ulee Lheue, tampak
dari samping. Gaya
arsitektur eropa sangat
kentara pada masjid
yang dibangun dalam
masa pemerintahan
Kolonial Belanda ini.

23
Sejarah Ringkas Masjid Baiturrahim - Ulee Lheue
Masjid Baiturrahim - Ulee Lheue adalah masjid di kemukiman
Meuraxa, Desa Ulee Lheue terletak kira-kira 5 kilometer dari Banda
Aceh. Mesjid ini dibangun oleh almarhum Teuku Teungoh, yaitu
Uleebalang Kemukiman Meuraxa pada tahun 1343 H, bertepatan
dengan tahun 1926 M dengan biaya swadaya masyarakat dan tokoh-
tokoh masyarakat. Di antaranya ialah:
• Tgk. H. Muhammad Lamjabat
• H. Mahmud Puteh Kampung Blang
• H. Bintang Kampung Baro
• H. Ali Meuraxa
• H. Yoenoes Kampung Blang
• H. Nya’ Su’id Kampung Blang
• Toke Gam Kampung Surin
• H. Neh Kampung Cot Lamkuweuh
• H. Ishak Kampung Surin
• Tgk. H. Hanafiah Kampung Lambung

24
Konstruksi mesjid ini dibangun dari bahan beton/bata
dengan atap seng gelombang ukuran 25 x 18 meter. Dari awal
pembangunannya, tata ruang dalam masjid dibuat dalam dua
bagian. Bagian pertama digunakan untuk shalat dan bagian
belakang dimaksudkan sebagai ruang belajar.
Kapasitas masjid sebagaimana awal pendiriannya, diperkira-
kan mampu menampung lebih kurang 450 orang jamaah shalat.
Namun karena pertumbuhan penduduk, ruang shalat mesjid ini
sudah tidak dapat lagi menampung jamaah, maka di tahun 1960,
ruang bagian belakang pun dijadikan sebagai ruang shalat Jumat.
Air untuk berwudhuk pada saat itu diambil dari sumur, dan
ditampung di dalam bak berukuran isi 20 m3.
Pada tahun 1965, kedua ruangan masjid itu tidak mampu
lagi menampung jamaah shalat Jumat. Akibatnya sebagian jamaah
shalat Jumat tepaksa shalat di alam terbuka, di perkarangan
masjid.
Pada tahun 1981 Masjid Baiturrahim Meuraxa mendapat
bantuan dari Kerajaan Arab Saudi sebesar Rp 37.000.000,- (tiga
puluh tujuh juta rupiah). Biaya tersebut dipergunakan untuk
membangun perluasan mesjid ke samping kiri dan kanan. Dengan
pembangunan ini maka jamaah shalat (khususnya Jumat) dapat
tertampung. Namun kondisi ini tidak bertahan lama, pertumbuhan
penduduk yang demikian pesat mengakibatkan daya tampung
masjid ini segera menjadi tidak memadai.
Oleh karena itu, pada tahun 1991 dilakukan renovasi dan
perluasan pada bagian belakang bangunan mesjid. Alhamdulillah,
dengan renovasi ini mesjid Baiturrahim dapat menampung jamaah
shalat lebih kurang 1500 orang. Adapun bagian depan mesjid
tidak direnovasi karena telah dijadikan sebagai situs purbakala
kesejarahan.
Upaya mempertahankan bentuk asli dari bagian depan masjid
ini terus dipertahankan sampai masa-masa berikutnya. Bahkan
ketika direnovasi kembali setelah hantaman gelombang tsunami.

25
Sungguh sangat menakjubkan dan sekaligus keberuntungan, karena
terjangan gelombang tsunami tidak mengakibatkan kerusakan
yang fatal bagi masjid ini. Selamatnya Masjid Baiturrahim adalah
bukti Kemahakuasaan Allah. Karena hanya masjid inilah satu-
satunya bangunan yang luput dari tsunami, padahal rumah-rumah
pemukiman yang padat disekelilingnya lenyap tersapu gelombang
dahsyat tsunami.
Dengan demikian, masjid Baiturrahim Ulee Lheue telah
menjadi saksi bisu bagi jejak perjalanan anak manusia di bumi
Aceh. Tidak hanya sekedar merekam sejarah sosial masa silam,
tapi juga menjadi monumen bagi sejarah bencana alam dunia.
Masjid ini patut dilestarikan, tidak hanya sebagai situs
sejarah purbakala, tapi juga situs sejarah tsunami.

Sumber: Kandepag Kota Banda Aceh, BKM Masjid Baiturrahim Ulee Lheue,
Imam Masjid, dan masyarakat setempat.

26
KABUPATEN ACEH BESAR

MASJID INDRAPURI
Mesjid ini terletak di Pasar Indrapuri Kecamatan Indrapuri
Kabupaten Aceh Besar, berjarak sekitar 24 km ke arah Utara
Kota Banda Aceh. Bangunan mesjid berdiri di atas tanah seluas
33.875 m2, dipinggir sungai yang memisahkan Pasar Indrapuri
dengan jalan raya Medan-Banda Aceh. Ukuran masjid 18.8 x
18.8 meter, dan tinggi 11.65 meter.

27
Masjid Indrapuri,
berdiri megah di
atas tembok bekas
candi yang di bangun
sekitar Abad ke 10
M, sebelum Islam
berkembang di Aceh.

Masjid Indrapuri,
tampak dari depan.

Ruang dalam masjid


Indrapuri, arsitektur
tradisional Aceh yang
masih kokoh sampai
sekarang.

28
Masjid Indrapuri di
tahun 1980-an.

Masjid Indrapuri dari


pinggir Sungai, foto
tahun 1900 M.

Masjid Indrapuri
setelah dikuasai
Belanda. Sebuah
sumber mengatakan
bahwa masjid ini
pernah dijadikan
sebagai kandang kuda
oleh Belanda.

29
Sejarah Ringkas Masjid Indrapuri
Mesjid ini dibangun di atas pondasi yang diduga merupakan
bekas candi, demikian pula Masjid Indrapurwa di Lampageu Kec.
Peukan Bada. Kedua bangunan ini berada di kawasan Kabupaten
Aceh Besar, dan menurut catatan sejarah, kedua masjid ini
dibangun di atas reruntuhan candi oleh Sultan Iskandar Muda.
Sayangnya yang masih tertinggal hanya Masjid Indrapuri,
sedangkan masjid Indrapurwa telah hancur ditelan abrasi. Bukan
hanya sekarang, tapi di masa Snouck Hurgronje berada di Aceh
pun bekas masjid ini sudah tidak dapat dilihat lagi, (Snouck
Hurgronje, 1996: 64). Kondisi ini menyulitkan Snouck Hurgronje
untuk mengungkap keberadaan agama Hindu di Aceh. Ia hanya
bisa menunjukkan model bersanggul miring perempuan Aceh
sebagai bukti terwarisi dan mengakarnya budaya Hindu dalam
masyarakat Aceh, (Mohammad Said, 1981: 23).
Bangunan candi yang menjadi pondasi mesjid ini diperkira-
kan dibangun sekitar abad 10 masehi, atau lebih awal dari perkiraan
ini. Sebelum ajaran Islam merata di Aceh, bangunan ini diduga
sebagai candi Hindu/Budha milik Kerajaan yang oleh orang Arab
disebut Lamuri dan disebut Lambri oleh Marcopolo.

30
Meskipun bentuk candi tidak dapat disaksikan lagi, tapi
masih ada peninggalan tembok tebal yang sebagiannya telah
terkelupas. Tembok inilah yang menjadi pegangan para ahli sejarah,
bahwa bangunan ini adalah sebuah candi. Candi itu terbuat dari
batu hitam berbentuk lempengan berukuran panjang sekitar 40
cm dan tebal 20 cm dengan ketebalan 5 cm. Sampai sekarang,
tembok (berbentuk seperti punden berundak tiga tingkat dengan
ketinggian 1,46 meter masih berdiri dengan kokoh.
Di masa Sultan Iskandar Muda, bangunan ini dirombak
menjadi masjid agar tidak mubazir. Oleh karena itu, sepulangnya
dari Malaka, dibangunlah masjid Indrapuri di atas reruntuhan
candi yang telah lama terbengkalai. Pondasi candi yang bertingkat-
tingkat dibongkar sebagiannya sampai tingkat empat. Di tingkat
empat inilah tiang-tiang mesjid didirikan, luas lokasinya cukup
memadai bagi pertapakan mesjid untuk kadar jumlah jamaah
pada waktu itu. Peristiwa pengalihan fungsi ini terjadi pada tahun
1207 H (1618 M).
Sebagaimana mesjid tradisional lainnya di Aceh, mesjid
Indrapuri dibangun dengan konstruksi kayu. Pintu masuk
mesjid berada di sebelah Timur. Di halaman depan terdapat bak
penampungan air hujan untuk berwudhuk. Bangunan berukuran
18.8 x 18.8 meter, dan tinggi 11.65 meter ini didirikan dengan 36
buah tiang yang berdiri di atas batu kali sebagai landasan.
Di masa kesultanan, masjid Indrapuri tidak hanya berfungsi
sebagai tempat ibadah. Tapi juga sebagai tempat belajar (dayah/
pesantren). Namun belum diperoleh informasi yang jelas tentang
siapa yang mendirikan dan mengembangkan dayah di sini. Hanya
diketahui bahwa motivasi menghidupkan dayah Indra Puri setelah
perang kolonial, termotivasi oleh keberadaan dayah di masjid ini
dalam masa kesultanan.
Dalam masa perang kolonial Belanda di Aceh, Masjid
Indrapuri menjadi saksi bisu bagi banyak peristiwa penting bagi
sejarah. Salah satunya adalah penggunaanya sebagai markas besar
mujahid Aceh saat pusat pemerintahan sementara berada di

31
Indrapuri.
Sebagaimana diketahui dalam catatan sejarah, bahwa setelah
Dalam (istana) berhasil direbut Belanda di tahun 1874, Sultan
Mahmud Syah (1870-1874 M) memindahkan pusat pemerintahan
ke Indrapuri. Baru kemudian berpindah ke Keumala setelah
Montasik jatuh pada tahun 1878. (Mohammad Said, 1981: 100).
Dalam masa ini Sultan Mahmud Syah wafat (28 Januari
1874). Kembali masjid Indra Puri menjadi saksi bisu bagi peristiwa
penting. Di hari yang sama (28 Januari 1874), Muhammad Daud
Syah dinobatkan sebagai Sultan Aceh. Upacara penobatan ini
diselenggarakan di Masjid Indrapuri.
Teungku Chik Di Tiro juga pernah menjadikan masjid
ini sebagai benteng pertahanan, sampai ketika wafatnya, beliau
dimakamkan di Gampong Meureu Kecamatan Indra Puri Kabu-
paten Aceh Besar. Dikabarkan bahwa beliau meninggal karena
diracun oleh isterinya sendiri.
Setelah ditawannya Sultan Muhammad Daud Syah oleh
Belanda pada tahun 1903, para ulama membuat kesepakatan agar
sebagian dari mereka turun gunung untuk menghidupkan kembali
pendidikan untuk anak-anak Aceh, (A. Hasjmy, 1978: 84-85).
Dalam masa itu, Panglima Polem berinisiatif mendirikan dayah
di masjid Indrapuri. Lalu beliau memanggil Teungku Hasballah
Indrapuri untuk mengajar di Dayah ini. Salah seorang ulama Aceh
yang juga sempat belajar dan mengajar di Dayah ini ialah Syeikh
Muhammad Waly al-Khalidy dari Labuhan Haji, (Muhibuddin
Waly, 1997: 67).
Teungku H. Ahmad Hasballah seorang tokoh ulama yang
berpikiran moderat, beliau wafat sekitar tahun 1955 di Malaysia,
dan dikebumikan di Kampung Yan, Kedah.
Di masa kemerdekaan, Masjid Indrapuri dipugar oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada saat dilakukan
pemugaran, ditemukan 12 koin mata uang Aceh kuno yang
bertuliskan Aceh Darussalam.

32
KABUPATEN ACEH BESAR

MASJID INDRAPURWA
Menurut keterangan dari imam masjid, masjid ini dulu dibangun
di Desa Pante Ara. Akibat abrasi, lokasi itu telah menjadi
laut, pondasi mesjid itu masih terlihat saat air surut, kira-kira
berjarak sejauh 2 kilometer dari bibir pantai. Kemudian masjid
ini dipindahkan ke Desa Lam Badeuk Kecamatan Peukan Bada
Kabupaten Aceh Besar.

33
Kondisi masjid
Indrapurwa, foto
diambil di tahun
1994.

Masjid Indrapurwa
dari arah belakang.
Foto ini diabadikan
tahun 2004, sebelum
musibah tsunami
melanda Aceh.

Kubah pada mimbar


masjid Indrapurwa.
Disain yang terkesan
dipengaruhi oleh
unsur-unsur seni
yang diwarisi dari
kebudayaan Hindu.

34
Ukiran dekorasi floral
pada mimbar masjid
Indrapurwa. Motif
ini memperlihatkan
perpaduan gaya
Persia dan lokal. Di
sini tertulis tahun
pembuatannya 1276
H. Bisa saja ini adalah
tahun pembuatan
mimbar, bukan tahun
pembuatan masjidnya.

Mimbar masjid
Indrapurwa,
mencerminkan
tingginya seni-budaya
masa lalu.

Guci di Masjid
Indrapurwa.

35
Sejarah Ringkas Masjid Indrapurwa
Masjid Indra Purwa adalah salah satu dari tiga masjid
yang oleh Snouck Hurgronje dinyatakan dibangun di atas bekas
reruntuhan candi. Masjid lainnya ialah
Masjid Indrapuri yang sekarang ini masih
mungkin untuk diteliti. Sementara
Indrapatra tidak terbukti dibangun
sebagai candi, dan tidak berbukti pernah
dibangun masjid di atasnya.
Keberadaan Masjid Indrapurwa
sebagai situs sejarah tidak bisa lagi dilacak karena telah hancur
dalam musibah tsunami. Sebelum dihantam tsunami, masjid ini
pun sudah tidak pada lokasi aslinya yang dikatakan berada di atas
candi. Menurut keterangan dari Imam Masjid, masjid itu dulu
berada di Gampong Pante Ara, namun karena dikikis abrasi, lalu
dipindahkan ke lokasi baru di Gampong Lam Badeuk Kecamatan
Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Sayangnya tahun pemindahan masjid ini ke Gampong Lam
Badeuk juga tidak diketahui. Masyarakat setempat percaya, bahwa
pemindahan itu telah dilakukan ratusan tahun lalu, malah ada
yang menyebut angka 500 tahun. Menurut keterangan penduduk
setempat, pondasi masjid itu masih bisa dilihat saat air surut, kira-
kira jaraknya 2 kilometer dari bibir pantai.
Keberadaan Masjid Indrapurwa tidak mungkin lagi diteliti
karena telah musnah oleh tsunami. Namun memperhatikan dari
foto-fotonya yang diambil sebelum tsunami, dapat diperhatikan
bentuk arsitekturnya yang mengikuti gaya tradisional Aceh. Jika
benar masjid ini dipindahkan apa adanya dari lokasi semula, maka
dapat dibenarkan bahwa masjid ini dibangun semasa dengan
masjid Indrapuri. Dapat disimpulkan bahwa masjid ini dibangun
oleh Sultan Iskandar Muda dalam abad 17.
Pada mimbar yang terdapat di Masjid Indrapurwa terdapat
ukiran yang bertuliskan tahun 1276 Hijriyyah. Kalau dikonversi ke

36
tahun miladiyyah, angka ini menunjuk tahun 1859 M, tentunya ini
harus diasumsikan sebagai tahun pembuatan mimbarnya. Adapun
tentang tahun pendirian masjid, tidak diperoleh keterangan.
Satu kemungkinan yang lain, jika diasumsikan mimbar ini
dibuat saat pemindahan masjid ke lokasi baru, maka angka itu bisa
menjadi petunjuk tentang tahun pemindahan Masjid Indrapurwa
dari Gampong Pante Ara ke Gampong Lam Badeuk. Sebab jika
diperhatikan, mimbar-mimbar di masjid tua lain di Aceh yang
semasa, justru berkonstruksi beton. Dengan demikian, sementara
ini dapat diduga, bahwa masjid ini dipindahkan ke lokasi baru di
masa Sultan Ibrahim Mansur Syah (1858-1870 M).
Dari sudut pandang lain, ukiran yang ada pada mimbar
Masjid Indrapurwa juga menunjukkan suatu ciri tersendiri.
Pada gaya ukiran telihat adanya pengaruh dekorasi floral Persia.
Mungkin saja pembuatnya terinspirasi dari gaya Persia atau Timur
Tengah lainnya, namun tidak mengikutinya secara penuh. Bentuk-
bentuk yang diadopsi sebagai unsur disain tidak mengambil pola
yang lazim digunakan seniman Persia, tapi pola-pola floral lokal
yang dekat dengan keseharian orang Aceh.
Pada mimbar ini juga tampak pola lekukan yang lazim
ditemukan pada disain arsitektur dan pola dekorasi Hindu yang
ditolerir dan berkembang menjadi bagian seni budaya Islam-Aceh.
Hal ini dapat diasumsikan sebagai gaya lokal yang dipengaruhi
unsur senibudaya Hindu, tapi telah jauh meninggalkan pola-pola
kearcaan. Kiranya ini menjadi bukti lain akan kuatnya pengaruh
Islam terhadap masyarakat Hindu yang bermukim di Aceh.
Sayangnya pengaruh itu juga telah menghilangkan hampir
semua catatan tentang keberadaan agama Hindu di Aceh.
Akibatnya sejarah Aceh sebelum Islam juga menjadi kabur.
Bangunan candi peninggalan Hindu yang masih tersisa pun tidak
sanggup mengungkapkannya.
Salah satu bangunan purbakala yang diduga peninggalan
Hindu di Aceh adalah situs yang dikenal masyarakat sebagai
Ben-teng Indrapatra. Benteng ini terletak di muara Krueng Raya,

37
sebelah barat laut Ladong. Kebanyakan
penulis meyakini tempat ini sebagai bekas
candi yang kemudian dijadikan masjid
oleh Sultan Iskandar Muda.
Tetapi ketika diteliti lebih jauh, ternyata
tidak terdapat satu bukti pun bahwa di-
sini pernah didirikan masjid. Demikian
pula tidak terbukti bahwa bangunan
tersebut didirikan sebagai candi.
H. M. Zainuddin dalam bukunya Tarich Atjeh dan Nusantara,
menyatakan pernah melakukan penelitian secara seksama di situs
purbakala Indrapatra. Di bulan September 1953, ia bersama Dr. T.
Iskandar, Tgk. M. Junus Djamil yang kala itu menjabat wakil ketua
Lembaga Kebudayaan Aceh, dan A.K. Abdullah (sekretaris Lembaga
Kebudayaan Aceh) melakukan penelitian untuk kedua kalinya di
situs purbakala tersebut. Dalam penelitian itu tidak ditemukan
bekas-bekas candi ataupun bekas masjid semisal bekas mimbar yang
posisinya ke barat sebagaimana lazimnya masjid. Dari penelitian ini,
Dr. T. Iskandar menyimpulkan bahwa tempat ini adalah gudang
penyimpanan senjata. (H. M. Zainuddin, 1961: 43).

38
Saat ini benteng Indrapatra dibiarkan begitu saja tidak
terurus. Tidak ada suatu keterangan yang bisa menjelaskan rasa
penasaran bagi orang yang berkunjung ke sana. Akibatnya persepsi
bahwa bangunan ini merupakan bekas candi dan sekaligus bekas
masjid, terus terpelihara dalam benak sebagian masyarakat.
Ada satu pendapat yang berkembang di masyarakat tentang
temuan pola segi tiga Aceh yang secara mengejutkan ternyata
sesuai dengan pola yang terbangun dari tiga titik posisi Candi.
Sebagian masyarakat mengaitkan temuan ini dengan teritori
kerajaan Aceh Darussalam yang kerap dikonotasikan sebagai Lhee
Sagoe Aceh (wilayah Aceh yang berbentuk tiga segi). Lalu sebagian
orang menganggap identitas Lhee Sagoe Aceh sebagai warisan alam
pikiran Hindu. Hal ini tentu tidak sertamerta dapat dibenarkan,
namun juga tidak mudah untuk segera dibantah.
Bagi orang Aceh yang terlahir sebagai muslim, ungkapan
seperti itu menimbulkan tanda tanya dan kesan batin yang sulit
menerima. Mereka yang menduga Lhee Sagoe Aceh sebagai politik
penyebaran Hindu juga kesulitan menunjukkan ketiga titik yang
dimaksudnya. Tiga titik yang sering ditunjuk adalah Indrapuri,
Indrapurwa, dan Indrapatra. Namun ada yang menyatakan bahwa
Indrapurwa bukan terletak di ujung Pancu (Peukan Bada, di
lokasi masjid tua Indrapurwa), tapi di wilayah pedalaman dekat
perbatasan Pidie dan Aceh Besar. Akibatnya pola ini tidak lagi
membentuk ji’e (tampi beras) yang sering dijadikan pelambang.
Dari sisi lain, dengan tidak terbuktinya Indrapatra sebagai
candi, maka asumsi di atas kehilangan dasar pegangan. Satu dari
tiga titik yang ditunjukkan telah hilang dari posisinya. Sedangkan
titik lainnya (Indrapurwa), tidak bisa dipastikan karena lokasi
sebenarnya telah dikikis abrasi, dan kini menjadi lautan. Hanya
Indrapuri satu-satunya titik yang masih bisa diteliti statusnya
sebagai candi.
Rujukan lain untuk meneguhkan pendapat ini tidak ada.
Karena tidak ditemukan sumber primer yang mencatat keberadaan
Indrapatra dan Indrapurwa, baik sebagai candi atau sebagai

39
masjid. Informasi tentang ini hanya ditemukan dalam catatan
Snouck Hurgronje. Ia mengulas tentang tiga sagi Aceh sambil
mengaitkannya dengan tiga mukim yang membentuk konfederasi
lhee sagoe Aceh. (Snouck Hurgronje, 1996: 3). Di bagian lain Snouck
menyebutkan adanya tiga candi di ketiga mukim tersebut, lalu
menyatakan bahwa di atas ketiga candi tersebut telah didirikan
masjid. Namun ia menambahkan, bahwa pada dua candi terakhir
selain Indra Puri, yang ada hanya bekas-bekas, (Snouck Hurgronje,
1996: 64).
Apa yang diungkapkan Snouck ternyata tidak terbukti. Bekas-
bekas yang disebutkan Snouck ternyata tidak ada. Maka anggapan
bahwa segitiga lhee sagoe Aceh terbentuk dari tiga titik candi itu
tidak bisa dipertanggungjawabkan. Terlepas dari perdebatan ini,
ternyata peralihan agama kala itu berjalan dengan damai dan
saling terima. Terbukti dengan ditolerirnya sebagian budaya
masyarakat yang berunsur Hindu, dan totalitas masyarakat Hindu
yang memeluk Islam. Oleh karena itu, kelihatannya sebutan tiga
sagi Aceh muncul secara alamiah karena kerajaan Aceh kala itu
terbentuk oleh persatuan tiga persekutuan gampong, yaitu Mukim
XXVI, Mukim XXII, dan Mukim XXV.

40
KABUPATEN ACEH BESAR

MASJID JAMIK JANTHO


Masjid ini terletak di Desa Weu Kemukiman Jantho Kecamatan
Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar. Berjarak sekitar 60 km dari
Banda Aceh, dan 28 km dari Saree. Informasi dari imam masjid
menyebutkan bahwa masjid ini dipindahkan ke lokasi yang
sekarang di tahun 1710 M. Sebelumnya masjid ini dibangun di
Desa Jantho Lama sekitar tahun 1640 M, di masa pemerintahan
Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)

41
Masjid Jamik
kemukiman Jantho,
Kabupaten Aceh
Besar, sejarah masjid
ini diperlu ditelusuri
lebih jauh.

Masjid Jamik
kemukiman Jantho,
Kabupaten Aceh Besar
yang didirikan pada
tahun 1939.

Mimbar dalam Masjid


Jamik kemukiman
Jantho, Kabupaten
Aceh Besar.

42
Sejarah Ringkas Masjid Jamik Jantho
Pada awalnya masjid ini didirikan di Desa Jantho lama,
itulah maka disebut Masjid Jamik Kemukiman Jantho. Kemudian
dipindahkan ke desa Weu setelah berdiri selama 150 tahun di
Desa Jantho Lama.
Belum ditemukan data yang akurat tentang tahun pendirian
masjid ini. Ada yang mengatakan masjid ini didirikan pada tahun
1710 M, dan ada pula yang mengatakan bahwa 1710 M adalah
tahun pemindahannya ke Desa Weu.
Jika diasumsikan pendiriannya pada tahun 1710 M, lalu
dipindahkan ke Desa Weu setelah 150 tahun, maka pemindahan
masjid Jamik Jantho ke Desa Weu dilakukan kira-kira dalam
tahun 1860 M. Dengan asumsi ini, berarti pendirian masjid ini
dilakukan dalam masa pemerintahan Sultan Jamal al-Alam (1704-
1726 M), dan dipindahkan dalam masa pemerintahan Sultan
Ibrahim Mansur Syah (1858-1870 M).
Sebaliknya jika diasumsikan bahwa tahun 1710 M adalah
tahun pemindahan masjid ini ke Desa Weu, berarti masjid ini
didirikan sekitar tahun 1640 M. Jadi masjid ini didirikan pada
masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M). Mana
pun yang benar dari dua kemungkinan ini, tetap tidak menafikan
urgennya nilai sejarah yang terekam dari masjid ini. Oleh karena
itu, perlu dilakukan kajian mendalam agar fakta sejarah terkuak.
Dari sebuah sumber, diperoleh informassi bahwa dalam
masa keberadaan masjid di Desa Weu, jabatan imam di masjid
ini dipangku oleh Teungku Nago. Sumber ini mengatakan bahwa
Teungku Nago meninggal dunia pada tahun 1720 M, lalu jabatan
imam dipegang oleh Teungku Ibrahim Desa Bueng. Selama ia
menjadi imam baru, masjid direhab dengan melakukan pemasangan
atap rumbia. Rehabilitasi ini dilakukan sekitar tahun 1723, dan
beliau memimpin sebagai imam selama lebih kurang 20 tahun.
Pada tahun-tahin berikutnya terjadi pergantian imam secara
alamiah. Informasi yang diperolah mengemukakan nama-nama

43
berikut sebagai yang telah dapat dicatat:
• Teungku M. Yusuf (Yah Nek) lebih kurang menjabat sebagai
imam sekitar 25 tahun.
• Teungku Maun Desa Barueh, lebih kurang menjabat selama
10 tahun.
• Teungku Abdullah Cot Agoh, beliau memimpin selama 3,5
tahun.
• Teugku Usman Sagop Desa Bueng, lebih kurang memimpin
sebagai imam masjid selama 20 tahun.
• Teungku Ishak Desa Weu, lebih kurang memimpin sebagai
imam selama 3,5 tahun.
• Teungku M. Adam Desa Jalin, mulai menjadi imam pada
tanggal 1 Agustus 1969 sampai dengan tahun 1994. Selama
Teungku Adam memimpin, mesjid telah direhab, yaitu
pemasangan dinding dan sisip puncak, serta pembuatan
mimbar.

Demikian sekilas pandang sejarah ringkas Masjid Jamik


Jantho yag dapat disajikan. Semoga tulisan ini menjadi masukan
bagi peminat sejarah yang tertarik untuk menelusurinya lebih
jauh. Wa Allah A‘lam bissawab.

Sumber: Iman masjid setempat

44
KABUPATEN ACEH BESAR

Mesjid Teungku Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu I


Kemukiman Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah Kabupaten
Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Tgk. Chik Kuta Karang
sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997.
Imam mesjid ini sekarang dipangku oleh Teungku Muhammad,
sebagai penanggungjawab pelaksanaan ibadah dan kegiatan
lainnya di masjid.

45
Bagian kubah masjid
Teungku Chik Kuta
Karang, atapnya telah
diganti dengan seng,
beberapa bagian
terlihat telah mulai
lapuk.

Tiang utama masjid


ini tampak masih
kokoh, konstruksi
aslinya masih layak
dipertahankan.

Tampak dari kiri,


masjid ini seperti
tidak hendak
dipertahankan,
padahal sejarah yang
direkamnya wajib
dilestarikan

46
Mimbar masjid yang
terbuat dari beton,
kalau masjid ini
rubuh, mungkin hanya
mimbar ini saja yang
akan tersisa.

Sumur tua, kini airnya


terancam kering.

Kolam ini dulunya


dipakai sebagai tempat
berwudhuk.

47
Sejarah Ringkas Masjid Teungku Chik Kuta Karang
Masjid Tgk. Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu
Kemukiman Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten
Aceh Besar. Mesjid ini didirikan oleh Teungku Chik Kuta Karang
sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997. Imam
masjid ini sekarang dijabat oleh Teungku Muhammad.
Masjid ini berada di lokasi Dayah Babussalam, sebuah
lembaga pendidikan Islam tradisional Aceh yang dipimpin oleh
Teungku Chik Kuta Karang sendiri. Dayah Ulee Susu didirikan
pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansur Syah
(1273-1286 H/ 1857-1870 M). Sebelum perang kolonial Belanda
di Aceh, dayah ini telah mencapai kemajuan yang pesat. Santrinya
datang dari berbagai daerah di Aceh. Selain memimpin dayah,
Teungku Chik Kuta Karang juga menjadi Qadi Malikul ‘Adil di
zaman Sultan ‘Alaiddin Mansur Syah. (A. Hasjmy, 1978: 62).
Dalam masa jabatannya sebagai Qadi Malikul ‘Adil, beliau
lah yang menyarankan agar Sultan mengumumkan seruan jihad fi
sabilillah. Dikisahkan bahwa suatu masa Sultan Aceh bermimpi,
lalu ditanyakan ta‘bir-nya kepada Teungku Chik Kuta Karang.
Beliau menjelaskan ta‘bir-nya; bahwa Aceh akan berperang dengan
Belanda. Teungku Chik Kuta Karang menyatakan, satu-satunya
jalan menghindari bahaya itu ialah mengumumkan tekad perang
sabil yang harus dijalankan dengan yakin dan sungguh-sungguh.
(Mohammad Said, 1981: 707).
Keahlian men-ta‘bir adalah salah satu bidang kepakaran
Teungku Chik Kuta Karang yang diakui secara luas. Bidang ini
didukung oleh penguasaan beliau terhadap ilmu falak (astronomi),
ilmu perbintangan dan kedokteran. Satu hal yang menarik, beliau
menuliskan ilmu-ilmu yang dikuasainya dalam banyak kitab. Kitab-
kitab yang beliau tinggalkan menunjukkan bahwa beliau adalah
seorang ulama yang produktif. Sebagian dari naskah tulisan beliau
telah hilang ditelan zaman, oleh karena itu, naskah yang masih

48
tersisa perlu segera direstorasi agar dapat dijadikan bahan studi,
kapanpun diperlukan.
Karya-karya Teungku Chik Kuta Karang antara lain Kitab
ar-Rahmah yang membahas tentang ilmu kedokteran dan obat-
obatan. Siraj az-Zulam fi ma‘rifat Sa‘adi wa an-Nahas yang berisi
tentang ilmu hisab dan perbintangan. Kitab ‘Ilmu Falak wal Mikat
yang membahas tentang ilmu astronomi. Taj al-Mulk yang berisi
tentang astronomi dan pertanian. Sebagian dari naskah ini masih
ada di Dayah Babussalam, Lam Kunyet, Ulee Susu. Namun sayang
kondisinya sudah banyak yang dimakan rayap. (Tim Penulis IAIN
Ar-Raniry, 2004: 63).
Melihat dari keilmuannya, maka tidak diragukan lagi bahwa
Syaikh Abbas ibn Muhammad adalah seorang ulama besar, ahli
sufi, dan intelektual reformis. Beliau juga seorang pemimpin
perang. Dalam hal ini beliau menulis dua buah kitab mengenai
seluk beluk perang sabil, yaitu Maw‘idhatul Ikhwan pada, (Nasehat
Kepada Sahabat) tahun 1886 dan Tazkiratur Rakidin (Peringatan
untuk Orang yang Berdiam Diri) pada tahun 1889.
Mengenai kitab Tazkiratur Rakidin, Paul van’t Veer mengo-
mentarinya sebagai sebuah penemuan yang hebat, (Paul van’t
Veer, 1977: 211). Dalam kitab itu, Teungku Chik Kuta Karang juga
menulis bahwa Belanda tidak bisa dipercaya, buktinya Jenderal
“buta siblah” (Van der Heyden) yang merupakan bangsanya sendiri,
ternyata dibuang karena tidak memenuhi keinginan mereka, (H.
C. Zentgraaf, 1983: 8-9).
Dalam kitab Tazkiratur Rakidin, Teungku Chik Kuta Karang
mengajarkan bahwa “Barangsiapa yang memerangi kafir hendaklah
dengan mempergunakan alat-alat senjata yang dipakai oleh musuh”.
Sumber-sumber sejarah Aceh menunjukkan bahwa dalam pelbagai
kesempatan pihak pejuang Aceh memang berusaha merampas dan
membawa lari senjata-senjata Belanda. (PDIA, 1990: 146).
Di masa perang kolonial Belanda di Aceh, Teungku Chik
Kuta Karang sempat menjadi penasehat utama Teungku Chik Di

49
Tiro bersama Teungku Chik Tanoh Abe dan ulama terkemuka
lainnya. Keahlian beliau dalam ilmu Falak sangat membantu
pemetaan medan perang untuk mengatur strategi perang. (Tim
Penulis IAIN Ar-Raniry, 2004: 62). Selain itu, Teungku Chik
Kuta Karang juga sangat aktif menyebarkan tulisan-tulisan yang
membangkitkan semangat perang rakyat bertentuk syair. Syair-syair
ini menjadi hiburan populer bagi anak muda Aceh yang dibaca di
meunasah pada malam hari. (Anthony Reid, 2005: 273)
Setelah wafatnya Teungku Chik Di Tiro pada bulan Januari
1891, keadaan berubah. Konsentrasi kekuatan terpecah, dan
tekanan pihak Belanda makin menguat. Akibatnya para ulama
diharuskan berjuang secara gerilya dalam kelompok-kelompok
yang lebih kecil. Dalam masa ini, Teungku Chik Kuta Karang
kerap bekerjasama dengan Teuku Umar dalam melancarkan
serangan jihad gerilyanya.
Teungku Chik Kuta Karang berpulang ke rahmatullah pada
bulan November tahun 1895. Beliau tidak sempat mengembangkan
ilmunya lebih jauh sebagaimana yang dilakukan ulama lain setelah
perang. Namun begitu ada murid-muridnya yang meneruskan
upaya pewarisan ilmu yang bersumber dari beliau. Setelah perang,
ada salah seorang murid Teungku Chik Kuta Karang yang diketahui
membangun Dayah Indrapuri.

50
KABUPATEN ACEH BESAR

MASJID TEUNGKU FAKINAH


Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada
tahun 1915 oleh Teungku Fakinah dan dibantu oleh santriwan
dan santriwati yang mengaji di dayahnya. Luas masjid Teungku
Fakinah adalah 15 x 15 meter. Bangunan ini terletak di Desa
Blang Miro Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar.
Masjid ini telah dimasukkan sebagai salah satu cagar budaya
oleh Pemerintah Daerah setempat.

51
Masjid Teungku
Fakinah, tampak
dari samping sebelah
kanan masjid.

Ruang shalat masjid


Teungku Fakinah,
didisain terbuka
sehingga mendapat
cukup cahaya untuk
proses belajar
mengajar.

Empat tiang utama


yang menjulang
menyangga kubah,
ciri khas arsitektur
tradisional masjid
Aceh masa lalu.

52
Mimbar berkonstruksi
beton, saksi sejarah
yang tak lapuk
dimakan waktu.

Sumur dan bak


penampungan air
untuk berwudhuk.
Terletak di sebelah
kiri pintu masuk
sebagaimana lazimnya
masjid-masjid tua lain
di Aceh.

Masuk ke masjid harus


menaiki tiga anak
tangga.

53
Sejarah Ringkas Masjid Teungku Fakinah
Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid ini didirikan pada
tahun 1915 oleh Teungku Fakinah dan dibantu oleh santriwan
dan santriwati yang mengaji di dayahnya. Luas masjid Teungku
Fakinah adalah 15 x 15 meter. Bangunan ini terletak di Desa Blang
Miro Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar.
Jika informasi di atas benar, maka masjid Teungku Fakinah
dibangun sekembalinya Teungku Fakinah dari perang gerilya.
Catatan sejarah menginformasikan bahwa Dayah Lam Diran
(Lam Krak - Sibreh), telah maju berkembang di bawah pimpinan
Teungku Fakinah bersama suaminya Teungku Ahmad, jauh
sebelum Belanda menyerang. Lalu apakah di masa ini tidak ada
masjid di komplek Dayah Lam Diran, atau masjid itu telah dibakar
oleh Belanda saat menyerang benteng Inong Balee?
Pada saat Belanda mendarat di pantai Cermin, Teungku
Ahmad dan muridnya ikut ber-jihad menghadang pendaratan
Belanda. H. M. Zainuddin dalam bukunya Srikandi Aceh, menulis
bahwa suami Teungku Fakinah ini syahid dalam pertempuran itu,
beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 8 Safar
1290 H/6 April 1873. (H. M. Zainuddin, 1966: 70)
Sejak suaminya syahid, Teungku Fakinah memutuskan
untuk terjun dalam peperangan bersama para janda yang suaminya
telah syahid di medan perang. Lalu di lokasi dekat masjid itu
didirikan sebuah benteng yang diberi nama inong balee (perempuan
yang sudah janda). Benteng ini merupakan tempat bagi Teungku
Fakinah dan para pejuang lainnya berkumpul menyusun strategi

54
perang. Namun sekarang benteng tersebut sudah tidak tampak
lagi, bangunannya sudah rata dengan tanah dimakan usia.
Pada tanggal 9 Juni 1896, Belanda mengirim pasukan yang
dipimpin oleh J. W. Stempoort untuk menyerang Kuta Inong
Balee di Lam Krak. Penyerangan ini memakan waktu selama dua
bulan, ini membuktikan kuat dan gigihnya pertahanan Teungku
Fakinah. Pada bulan Agustus 1896, benteng Inong Balee di Lam
Krak dapat diduduki Belanda. (A. Hasjmy, 1978: 130). Dalam
pendudukan ini, bisa saja masjid Teungku Fakinah dibakar seperti
halnya masjid Baiturrahman.
Sejak kejatuhan benteng Inong Balee, Teungku Fakinah
hidup berpindah-pindah dari satu benteng ke benteng lainnya.
Dalam pergerakan ini beliau tetap mengajar secara darurat,
bahkan sampai ketika beliau bermarkas di Tangse dan Gayo
Lues. Pergerakan gerilya ini berakhir setelah ada kesepakatan
ulama untuk secara teratur mengurangi gerakan gerilya menyusul
ditawannya Sultan ‘Alaiddin Muhammad Daud Syah.
Terkait dengan hasil keputusan musyawarah ulama ini,
maka pada tahun 1911, Teungku Fakinah turun gunung. Beliau
kembali ke kampung halamannya di daerah Lam Krak dan
membangun kembali Dayah Lam Diran yang telah porak poranda
selama perang. Teungku Fakinah dibantu oleh murid-muridnya
yang sama-sama baru pulang dari bergerilya.
Pada tahun 1915, Teungku Fakinah menunaikan ibadah haji.
Beliau menikah dengan Teungku Ibrahim sehingga perjalanan
hajinya ditemani oleh suaminya ini. Teungku Fakinah bermukim
di Makkah selama empat tahun untuk belajar. Suaminya, Teungku
Ibrahim, meninggal di Makkah. Teungku Fakinah kembali ke
tanah air pada tahun 1918.
Pada tahun 1925, Teungku Fakinah sempat menunaikan
ibadah haji untuk kali kedua, dan bermukim di sana selama
setahun. Perjalanan haji dimanfaatkannya untuk menambah ilmu
yang kemudian dikembangkannya di Dayah Lam Diran. Teungku

55
Fakinah wafat pada tanggal 14 Jumadil Akhir 1352 H/3 Oktober
1933 M. (A. Hasjmy, 1978: 130).
Demikian perjalanan hidup Teungku Fakinah yang selalu
mengabdikan diri untuk agama dan ilmu. Maka tidak heran
jika masjid yang didirikannya itu menjadi sentral kegiatan yang
digelutinya. Pada waktu itu masjid Teungku Fakinah digunakan
sebagai pusat kegiatan keagamaan dan perjuangan selama hidupnya.
Demikian pula seninggalnya berpulang ke rahmatullah, masyarakat
tetap memanfaatkan tempat itu sebagai pusat pengembangan ilmu
agama sekaligus sebagai sarana ibadah.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk, masjid berukuran
15 x 15 meter ini tidak lagi mampu menampung jamaah. Maka
pada tahun 1983, pelaksanaan shalat jamaah lima waktu dan shalat
Jumat dipindahkan ke masjid baru, yaitu masjid at-Taqwa yang
terletak tidak jauh dari masjid Teungku Fakinah. Namun begitu,
masjid Teungku Fakinah tetap digunakan sebagai tempat pengajian
dan pertemuan oleh masyarakat setempat, sampai sekarang ini.
Beberapa tahun kemudian di masjid tersebut didirikan pondok
pesantren al-Istiqamah Teungku Chik Rangkang Manyang yang
santrinya berasal dari penduduk desa setempat.
Pemda Aceh Besar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
telah menetapkan masjid Teungku Fakinah sebagai salah satu
masjid bersejarah. Selain karena nilai historisitas dan religiusitas,
penetapan masjid ini sebagai masjid bersejarah juga dikarenakan
pendirinya yang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan. Teungku
Fakinah, menjadi contoh keperkasaan yang berpadu dengan
kepakaran seorang wanita di Aceh. Beliau dimakamkan di desa
Lambeunot Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar.

Sebagian dari tulisan ini bersumber dari hasil wawancara dengan:


1. Ibu Ainal Mardhiah, beliau masih mempunyai hubungan persaudaraan
dengan Teungku Fakinah.
2. Drs. Teungku H. M. Radhi Idris, beliau adalah imam masjid Teungku
Fakinah sejak tahun 70-an sampai sekarang. Beliau juga menjabat
sebagai imam masjid at-Taqwa Lam Krak.

56
KABUPATEN ACEH BESAR

MASJID AL-MUHAJIRIN
Masjid Al-Muhajirin berada di lingkungan Rindam Iskandar
Muda - Mata Ie. Tepatnya di Desa Lheu-U Kemukiman Daroe
Jeumpet Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar.
Masjid ini didirikan pada tahun 1835, bangunan aslinya telah
direnovasi menjadi seperti yang terlihat sekarang.

57
Masjid Al-Muhajirin
Rindam Iskandar
Muda.

Berlatar belakang
alam pegunungan,
masjid Al-Muhajirin
memancarkan suasana
khusyuk dan sejuk,
menentramkan
hati siapa saja yang
memandangnya.

Interior masjid
dihiasi kaligrafi,
mengingatkan jamaah
akan kalam Ilahi yang
selalu harus dihayati.

58
Mihrab masjid Al-
Muhajirin, setiap
orang yang memenuhi
kualifikasi sebagai
imam, boleh
memimpin di sini.

Mimbar di masjid
Al-Muhajirin

Masjid Al-Muhajirin
dilihat dari samping.

59
Sejarah Ringkas Masjid Al-Muhajirin Mata Ie

Masjid al-Muhajirin terletak di Desa Lheu-Ue Mata Ie


Kemukiman Daroi Jeumpet Kecamatan Darul Imarah Kabupaten
Aceh Besar. Mesjid ini berdiri di atas tanah seluas lebih kurang
8500 m2 dengan luas bangunan 30 x 40 m. Masjid ini didirikan
oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1835 dan terakhir direnovasi
pada tahun 1992.
Pada tahun 1905, mesjid al-Muhajirin direnovasi oleh
masyarakat Mata Ie dan sekitarnya dengan dana yang bersumber
dari swadaya masyarakat Mata Ie dan sekitarnya.
• Pada tahun 1958 Mesjid ini direhab oleh pimpinan TNI
Depot XIII (Letkol. Holil Juanta).
• Pada tahun 1984 Mesjid al-Muhajirin dibangun ulang oleh
Dankodiklat I/IM (Kolonel Dolok, atap belum lengkap).
• Pada tahun 1992, mesjid ini dilanjutkan pembangunannya
oleh Dan Secata Kodan I/BB (Letkol Inf. Rawi).
• Pada tahun 2003, Mesjid ini dipasangi lantai keramik untuk
lantai di dalam ruangan oleh Dan Secata Kodam IM (Letkol
Inf. Jalaluddin S).
• Pada tahun 2005, dilakukan penimbunan dan pemasangan
keramik di halaman masjid oleh Danrindam IM (Kolonel
Inf. Ridwan).
• Pada tahun 2007 mesjid ini direnovasi sekaligus pengecatan
seluruh dinding masjid, pembuatan taman serta tempat
wudhuk oleh Danrindam IM (Kolonel Inf. Toto S. Moerasad,
S.Ip, MM).
• Pada tanggal 17 September 2007, renovasi mesjid ini
diresmikan oleh Pangdam IM (Mayor Jenderal TNI Supiadin
AS).

Sumber: Resimen induk Daerah Militer Iskandar Muda-BKM al-Muhajirin

60
KABUPATEN ACEH TENGAH

MASJID QUBA-BEBESEN
Masjid ini terletak di Kampung Bebesen, Kecamatan Bebesen
Kabupaten Aceh Tengah, lebih kurang berjarak 2.5 km dari
ibukota Takengon. Di lokasi masjid ini, sebelumnya berdiri masjid
kayu beratap ijuk yang didirikan pada masa awal kedatangan
Islam ke tanah Gayo. Lalu digantikan dengan masjid bertiang
beton dan beratap seng pada tahun 1917. Berikutnya pada tahun
1947 dibangun masjid semipermanen yang kemudian dibakar
oknum PKI pada tahun 1965. Maka pada tahun 1966, dimulailah
pembangunan masjid Quba yang sekarang ini.

61
Masjid Quba,
dilihat dari arah
belakang masjid.

Masjid Quba- Bebesan.


Tampak dari samping.

Ruang shalat
masjid Quba, disain
interiornya merupakan
perpaduan gaya Timur
Tengah dan gaya lokal.

62
Sejarah Ringkas Masjid Quba - Bebesen
Bebesen adalah sebuah kejurun (wilayah) yang muncul setelah
Kerajaan Aceh menetapkan empat kejurun di Gayo, yaitu Kejurun
Bukit, Siah Utama, Linge dan Gayo Lues, (Snouck Hurgronje, 1996:
107). Diriwayatkan bahwa pihak Batak Karo 27 berperang melawan
Kejurun Bukit. Pihak Batak Karo 27 memperoleh kemenangan,
dan setelah perdamaian Kejurun Bukit terpaksa dipindahkan ke
Kampung Kebayakan. Setelah Batak Karo 27 menguasai Bebesen,
diangkatlah Lebe Kader (pemimpin pasukan Batak Karo 27) sebagai
Raja Cik Bebesen. Raja Cik Bebesen tidak memperoleh pengukuhan
resmi dari Sultan Aceh, tapi ia telah memerintah dengan tanpa
halangan dari Sultan Aceh. (H. M. Gayo, 1983: 51).
Kini Bebesen merupakan Ibukota Kecamatan Bebesen yang
terletak di sebelah Barat yang jaraknya lebih kurang 2.5 km dari
ibukota Takengon. Sejak zaman Belanda sampai zaman Jepang
(tahun 1904-1942), Bebesan merupakan ibukota negeri dari
Zelfbestuurder van Cik yang meliputi wilayah Bebesan, Pegasing, Silih
Nara dan Katal. Wilayah ini dipimpin oleh seorang Zelfbestuurder.
Pada masa permerintahan Jepang (1942-1945) pemerintahan
di wilayah tersebut dipimpin oleh seorang Sunco dari keturunan
Zelfbastuurder van Cik. Di zaman kemerdekaan Republik Indonesia,
nama wilayah ini dirubah menjadi Kenegerian Bebesen. Peme-
rintahannya pada saat itu dipimpin oleh beberapa orang yang
disebut Bestuur Comisi dengan seorang ketuanya.

63
Pembangunan Mesjid.
Sejak masuknya agama Islam ke Bebesen telah dibangun
sebuah mesjid beratap ijuk, dinding papan dan lantai tanah liat.
Lalu pada tahun 1917, bangunan masjid ini direnovasi menjadi
masjid dengan tiang beton, atap seng, dan lantai semen.
Mengingat kondisi mesjid yang tidak dapat lagi menampung
jamaah yang meliputi Kampung Bebesen, Daling, Tan Saran,
Lalabu, Umang, Blang Kolak I, Blang Kolak II, Kemili dan Mongal,
maka pada tahun 1947 dimulai pembangunan masjid baru secara
swadaya masyarakat dengan ukuran 18 x 12 m. Bangunan masjid
ini berkonstruksi semipermanen. Pembangunannya diprakarsai
dan dikoordinir oleh Teungku M. Nur Thalib, Teungku Abdur-
rahman, Teungku M. Saleh, dan Teungku Imam Aman Dolah.
Mesjid tersebut selesai dibangun pada tahun 1950 dan merupakan
kebanggaan bagi masyarakat sekitar Bebesen. Masjid ini menjadi
tempat ibadah pusat kegiatan masyarakat Bebesen dan sekitarnya
(antara lain; Daling, Tan Saran, Lalabu, Umang, Blang Kolak I,
Blang Kolak II, Kemili dan Mongal).

Masjid Dibakar Oknum PKI


Pada hari Rabu malam tanggal 20/21 Juli 1965, di tengah
malam buta terdengarlah teriakan masyarakat yang panik karena
melihat api menyala di bahagian mimbar masjid. Masyarakat dari
beberapa kampung berdatangan menuju masjid untuk berusaha
memadamkan api. Namun api terus berkobar walaupun pemadam
kebakaran berusaha membantu masyarakat memadamkannya.
Usaha tersebut tidak berhasil sehinggga dalam tempo 2.5 jam
masjid tersebut musnah dilalap api.
Di kala api sedang menyala terdengar dari seorang penduduk
yang mengungkapkan bahwa sumber api berasal dari wayer
mikrofon yang tidak dilepaskan dari baterai. Akibatnya timbul api
dan menjilat sajadah yang terletak dekat mikrofon. Api menyala
mulai pukul 22.15 wib dan padam pukul 24.45 wib.
Masyarakat amat sedih bercampur geram melihat masjid yang
telah runtuh dimakan api, menjadi puing-puing yang berserakan
tak karuan. Sebahagian masyarakat terpaku dan tidak beranjak

64
dari lokasi sampai siang hari. Pemerintah dan masyarakat berusaha
menyelidiki sebab-sebab terjadinya kebakaran.

Petunjuk tentang Sebab Kebakaran


Pada tanggal 21 Juli 1965 pukul 09.00 wib, Tripida kecamatan
Bebesen bersama masyarakat membongkar puing-puing reruntuhan
masjid untuk mencari spiker mikrofon yang mungkin ikut terbakar.
Ternyaka spiker tersebut tidak ditemukan dalam reruntuhan. Lalu
diambillah kesimpulan sementara, bahwa spiker telah dicuri orang,
dan pencurinya diduga sebagai pelaku pembakaran.
Di samping penelitian yang dilakukan oleh pihak berwajib,
masyarakat melakukan usaha pula dalam bentuk sembahyang
hajat. Shalat ini diikuti oleh tidak kurang dari 1000 orang selama
dua malam berturu-turut (Kamis dan Jumat tanggal 22 dan 23
Juli 1965). Mereka memohon kepada Allah swt. agar memberikan
hukuman setimpal kepada orang yang telah melakukan pembakaran
mesjid ini, dan agar memberikan kesabaran kepada masyarakat.
Masyarakat Bebesen dan sekitarnya sangat terikat hatinya
dengan masjid ini, sehingga shalat Jumat tetap dilakukan di lokasi
bekas reruntuhan masjid. Meskipun harus shalat di alam terbuka,
namun masyarakat tetap tidak mau beralih ke masjid lain.

Masjid Baru
Sementara itu pada tanggal 23 Juli 1965 pukul 13.30 wib,
atas permintaan asisten Wedana Kecamatan Bebesan, masyarakat
Kecamatan Bebesan berkumpul di Meunasah Uken. Mereka ber-
musyawarah untuk membentuk panitia pembangunaan masjid
Bebesan yang baru. Dari musyawarah ini terbentuklah susunan
panitia pembangunan masjid sebagai berikut:
Ketua I : Mansoer (Asisten Wedana)
Ketua II: Tgk. M. Nur A. Thalib
Sekretaris I: Amir Abdullah
Sekretaris II: Ismail
Bendahara; Tgk. H. Abdurrahmah
Pembantu-pembantu:
Para Keuchik dan Imum dalam Kecamatan Bebesan.

65
Panitia memutuskan untuk membangun mesjid dengan fisik
permanen. Masyarakat bergotong-royong, bekerja dan memberi
sumbangan yang tidak sedikit, karena terdorong oleh perasaan
haru di samping juga sebagai wujud pengabdian kepada Allah
swt., akhirnya usaha ini terlaksana. Para tokoh yang terlibat dalam
pendirian masjid ini antara lain ialah; Teungku Bilel Ujung,
Teungku Aman Bedu Melala, Teungku Umah Uken, Teungku
H. Abdurrahman, Teungku M. Thaib Tan, Teungku Aman Raoh
Melala dan Teungku Ibrahim Aman Muji.
Bapak Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh (Brib. Nyak
Adam Kamil), juga sempat melihat dari dekat keadaan masjid
yang telah terbakar. Dan beliau juga menyampaikan pesan-pesan
pembangunan masjid yang baru. Sementara di tengah kesibukan
masyarakat membangun masjid yang baru, tersiarlah kabar bahwa
PKI melakukan pemberontakan. Akibatnya kegiatan masyarakat
membangun masjid agak terganggu.
Setelah gerakan penumpasan G. 30 S/PKI berakhir, panitia
pembangunan masjid bersama masyarakat meningkatkan usaha
pembanguna masjid. Lebih kurang selama 10 tahun berselang,
bangunan induk masjid ini dapat dimanfaatkan, yaitu dalam
tahun 1977. Pembangunan masjid baru ini menelan biaya sebesar
Rp 150.000.000,- dan diberi nama mesjid Quba.

Oknum Pembakar Mesjid


Dalam proses penumpasan G.30 S/PKI, salah seorang
anggota PKI yang tertangkap mengaku dan memberikan keterangan
bahwa orang yang membakar Masjid Bebesen adalah anggota PKI.
Pelaku pembakaran terdiri dari tujuh orang anggota kelompok.
Ketujuh orang ini telah diamankan oleh masyarakat.
Sekarang ini masjid Quba telah dilengkapi dengan ruang
kantor, perpustakaan dan ruang ganti untuk muazzin/khatib.Hal
ini merupakan langkah yang diambil oleh generasi muda guna
menjawab kebutuhan zaman. Demikianlah sejarah ringkas masjid
Quba, semoga tulisan ini ada manfaatnya.

66
KABUPATEN ACEH TENGAH

MASJID TUA KABAYAKAN


Masjid ini didirikan pada tahun 1895 di Kampung Kabayakan,
Kabupaten Aceh Tengah. Pada saat Belanda menyerang
Kampung Kabayakan pada 22 Mei 1905, masjid ini hampir
rampung dibangun. Pembangunan masjid ini dilakukan secara
bergotong-royong oleh masyarakat Kampung Lot Kala, Gunung
Bukit, dan Kampung Jongok Meluem (Sagi Onom dan Sagi
Lime) yang kepanitiaannya diketuai oleh Teungku Khatib.
Arsitektur masjid ini dirancang oleh seorang arsitek berdarah
Cina bernama Burik.

67
Masjid Tua
Kabayakan, dilihat
dari belakang.
Konstruksi
bangunannya masih
tetap kokoh meski
telah cukup renta
dimakan usia.

Tampak depan.
Masjid tua ini
meyimpan ribuan
kisah kegigihan
masyarakat dataran
tinggi Gayo dalam
mempertahankan
imannya dari
gempuran missionaris
Belanda

Di zaman modern ini,


masjid tua Kabayakan
juga masih berperan
dalam penguatan
akidah anak bangsa.

68
KABUPATEN ACEH TENGAH

MASJID JAMIK BAITURRAHIM


Masjid ini terletak di Kampung Celala Kecamatan Celala
Kabupaten Aceh Tengah. Bangunan yang tampak dalam foto di
atas adalah konstruksi masjid yang dibangun sekitar tahun 80-
an. Di pertapakan masjid ini sebelumnya berdiri sebuah masjid
dengan arsitektur tradisional Aceh beratap ijuk. Namun sayang
masjid kuno tersebut tidak berhasil dilestarikan sehingga posisi
masjid itu digantikan oleh masjid baru berkonstruksi beton.

69
Masjid Baiturrahim,
kebanggaan
masyarakat Celala.
Tampak megah
dengan kubahnya.

Masjid Baiturrahim
Kampung Celala,
dilihat dari samping
sebelah kanan.

Masjid Baiturrahim
Kampung Celala,
dilihat dari samping
sebelah kiri.

70
Sejarah Ringkas Masjid Baiturrahim Kampung Celala

Dahulu, masyarakat Kampung Celala melaksanakan salat


Jumat ke Kampung Blang Mancung (Kecamatan Ketol sekarang).
Masyarakat Kampung Celala harus menempuh jarak sejauh 30
kilometer untuk mencapai Kampung Blang Mancung di mana
masjid berada. Untuk menempuh jarak 30 km, masyarakat
Kampung Celala harus mempersiapkan bekal secukupnya dan
menginap. Di hari Kamis mereka harus berangkat, menginap di
Blang Mancung, dan segera bergegas pulang setelah salat Jumat
selesai ditunaikan. Mereka tiba kembali di Kampung Celala
setelah hari gelap.
Kondisi seperti ini terus berlanjut sampai sekitar tahun 1930-
an. Pada masa ini masyarakat Kampung Celala bermusyawarah
untuk mendirikan sebuah masjid di kampungya. Dari hasil
musyawarah ini, secara bergotong-royong, dibangunlah sebuah
masjid dengan ukuran 4 x 6 meter. Bangunan masjid dibuat
dengan konstruksi kayu dan beratap ijuk. Dindingnya dari kayu
bulat yang dibentuk menjadi papan dengan hanya menggunakan
kapak sebagai alat, dapat dibayangkan betapa berat usaha yang
harus ditempuh. Tokoh masyarakat yang memprakarsai pendirian
masjid ini pada waktu itu ialah Teungku Aman Asa.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk, melalui suatu
musyawarah bersama, diputuskanlah untuk melakukan perluasan
masjid pada tahun 1945. Tokoh yang terlibat aktif dalam usaha
ini ialah Teungku Aman Cut, Teungku Aman Nyak Arif, Teungku
Aman Dolah Kuyun, Teungku Aman Kerani dan Teungku
Abdurrahman Aman Nir (Pak Sarung Celala). Pada masa ini atap
masjid telah menggunakan bahan seng, dan masjid diperluas
menjadi 6 x 6 meter.
Pada tahun 1955, kembali diadakan musyawarah perluasan
masjid. Untuk mengumpulkan penduduk, diadakanlah kenduri
dengan memotong seekor kerbau. Tokoh yang memprakarsai

71
renovasi kali ini ialah Reje Bedel, Reje Ali, Abdurrahman, Guru
Karim, dan Mude Kilang. Dari hasil musyawarah ini, dibangunlah
sebuah masjid berkonstruksi kayu dan beratap seng seluas 6 x 10
meter.
Kemudian masjid ini kembali direnovasi pada tahun 1961.
Dalam renovasi di masa ini, masjid diperluas sehingga ukurannya
menjadi 10 x 16 meter. Konstruksi bangunan pun mengalami
perubahan menjadi bangunan semi permanen dengan atap dari
bahan seng.
Pada renovasi terakhir, bangunan masjid dirombak total
menjadi bangunan permanen. Ukurannya diperluas menjadi
21 x 15 meter di atas tanah seluas 26 x 20 meter. Pembangunan
masjid ini dilaksanakan oleh panitia yang diketuai oleh Abdul
Kadir, sekretarisnya ialah Jamaluddin, dan Abdul Hakim sebagai
bendahara. Pembangunan terus dilaksanakan sampai menjadi
seperti sekarang ini dengan dana yang dikutip dari masyarakat.
Kepada masyarakat dikenakan iuran wajib sebesar 2 gating (10
kaleng padi) dalam setahun ditambah sumbangan tenaga untuk
mengangkut pasir dan batu dari sungai secara bergotong-royong.
Demikianlah pembangunan masjid ini terlaksana berkat semangat
gotong-royong masyarakat Celala.

72
KABUPATEN GAYO LUES

MASJID ASAL
Masjid Asal merupakan salah satu peninggalan sejarah terpenting
yang harus dilestarikan di dataran tinggi Gayo dan Alas. Sampai
saat ini masjid ini masih berdiri megah di pinggir sungai Desa
Penampaan Belah Imam dengan pesona masa lalunya. Tepatnya,
masjid ini berada di Kecamatan Blangkejeren - Kabupaten Gayo
Lues, kira-kira berjarak sekitar 700 meter dari komplek Pendopo
Bupati Gayo Lues.

73
Masjid Asal, tidak
pudar kharismanya
meski diapit bangunan
baru yang megah dan
permanen..

Tembok masjid Asal


yang dibuat dari tanah
kuning. Mengabadikan
gairah masa lalu untuk
generasi masa kini...

Mimbar dalam mihrab


masjid Asal, warisan
masa lalu yang masih
dipertahankan.

74
Suasana khusyuk
melingkupi setiap
muslim yang shalat di
bawah atap ijuk. Atap
yang menjaga hawa
tetap sejuk.

Semua yang ada di


sini seolah bertutur
kepada kita, tentang
kegigihan syuhada
mengembangkan Islam
di dataran tinggi Gayo
Lues.

Ini adalah contoh,


bagaimana bangunan
asli masjid Asal masih
bisa dipertahankan
di tengah tuntutan
perluasan masjid.

75
Sekilas Sejarah Masjid Asal - Penampaan
Sebuah sumber mengatakan bahwa masjid Asal - Penampaan
didirikan pada tahun 815 H/1412 M. Jika informasi ini akurat,
berarti masjid Asal didirikan dalam masa Kerajaan Pasai. Sebab
setidaknya, Kerajaan Pasai telah berdiri dari tahun 1282 M,
(Ibrahim Alfian, 2004: 26) dan jatuh dalam kekuasaan Kerajaan
Aceh Darussalam di tahun 1524 M, (Amirul Hadi, 2004: 13).
Sejak pendiriannya sampai saat ini masjid Asal-Penampaan
tidak pernah dirombak dan tetap difungsikan oleh masyarakat
sekitar sebagai tempat ibadah. Masjid ini dipandang keramat oleh
masyarakat sekitar, sebab secara logika bangunan berkonstruksi
kayu seperti masjid ini tidak mungkin dapat bertahan sampai 500
tahun. Namun kenyataannya, masjid Asal-Penampaan masih tetap
berdiri kokoh sampai sekarang.
Masjid Asal juga menjadi dasar pemberian nama kampung di
mana masjid itu berada. Nama Desa Penampaan berasal dari kata
“penampaan” yang artinya “penampakan/tampak atau terlihat”.
Konon menurut riwayat, di masa lalu masjid ini bisa dilihat dari
berbagai wilayah di Gayo Lues. Mungkin hal ini disebabkan
oleh kondisi wilayah sekitar masjid Asal yang merupakan daerah
datar dan masih minim dihuni penduduk. Dengan demikian ia
bisa dilihat dari berbagai arah yang umumnya berdataran tinggi.
Oleh karena itu, daerah di mana masjid Asal berada disebut Desa
Penampaan (yang tampak dari berbagai arah).
Masjid Asal-Penampaan didirikan atas prakarsa beberapa
tokoh dan pemuka agama. Dari beberapa sumber yang berhasil
dihimpun, tokoh pendiri masjid ini adalah sebagai berikut:
1. Datok Masjid
2. Syekh Siti Mulia
3. Syekh Said Ibrahim
4. Syekh Said Ahmad
5. Syekh Abdurrahman
6. Syekh Abdullah
7. Syekh Abdul Wahab

76
8. Said Hasan
9. Said Husin
10. Syekh Abdul Qadir
11. Said Ali Muhammad
12. Datok Gunung Gerudung
13. Mamang Mujra
Masjid ini dinamakan masjid Asal karena merupakan masjid
yang pertama sekali dibangun di wilayah sekitar Gayo Lues dan
Aceh Tenggara. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai “Masjid
Asal” yang konotasinya adalah asal-muasal pendirian masjid di
seluruh Gayo Lues dan sekitarnya.
Bangunan fisik masjid Asal dibina dengan kostruksi yang
bahan utamanya adalah kayu. Bahan-bahan bangunan masjid
ini diperoleh dari pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar
desa, bebatuan sungai serta tanah kuning yang ada di sekitar
masjid itu sendiri. Bahan-bahan dasar yang digunakan pada saat
pembangunan masjid ini masih utuh bertahan sampai sekarang,
termasuk dinding dari tanah kuning.
Arsitektur masjid Asal Kampung Penampaan mengikuti
karakteristik arsitektur masjid tradisional Aceh yang berkembang
selama berabad-abad. Arsitektur masjid seperti ini sudah jarang
ditemukan di masa sekarang, kecuali pada masjid yang dibangun
Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila dengan mengadopsi
arsitektur masjid Demak. Arsitektur masjid yang khas ini menjadi
bukti terhubungnya kerajaan Demak dengan Aceh dalam
pengembangan Islam di Nusantara. Dengan demikian, masjid
Asal merupakan salah satu masjid bersejarah yang merekam jejak
pengembangan Islam di Aceh dan Indonesia umumnya.
Arsitektur tradisional bangunan Masjid Asal segera memberi
kesan kepurbakalaan masjid ini. Kesederhanaan konstruksinya
memancarkan kharisma dari kemegahan Islam masa lalu. Kubah
masjid berbentuk runcing berwarna hitam pekat terbuat dari
logam. Atapnya terbuat dari ijuk (serat serabut pohon aren) serta
plafon yang dibuat dari pelepah aren yang dirajut dengan rotan.

77
Masjid berukuran luas 8 x 10 meter ini dikelilingi oleh dinding
yang terbuat dari tanah kuning di sepanjang sisi tiang sebelah luar.
Empat tiang penyangga utama masjid dihubungkan dengan empat
balok kayu sebagai penyokong kubah dan atap Masjid. Menurut
masyarakat setempat, keempat tiang tersebut merupakan kayu
pilihan yang diambil dari beberapa desa. Dua di antaranya diambil
dari desa Gele-Penampaan, menjadi pelengkap keenambelas tiang
yang masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini.
Di bagian luar sebelah kiri masjid terdapat makam para
pendiri masjid. Mereka merupakan tokoh agama yang disegani,
salah seorang di antaranya dikenal sebagai tokoh penyebaran
agama Islam di dataran tinggi tanah Gayo.
Di halaman masjid terdapat sebuah sumur tua yang
dahulu digunakan sebagai sumber air untuk berwudhuk. Dalam
perkembangannya kemudian, sumur ini mulai jarang digunakan.
Namun air sumur ini masih tetap diambil masyarakat meskipun
untuk maksud yang lain. Konon menurut penuturan masyarakat,
sumur tersebut disebut “Telaga Nampak” yang keramat. Air dari
sumur ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit,
menyegarkan jasmani dan digunakan sebagai air untuk tepung
tawar (pesijuek) dalam berbagai acara masyarakat.
Menilik tahun pendiriannya (1412 M), jika ini valid maka
dapat disimpulkan bahwa masjid ini telah berdiri jauh sebelum
berdirinya kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh Darussalam
adalah kerajaan pertama yang menyatukan seluruh wilayah Aceh
dalam satu kekuasaan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa upaya
penyatuan oleh Kerajaan Aceh Darussalam ini dimulai dengan
ditaklukkannya kerajaan Daya pada tahun 1520 M.
Di masa kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam, pengelolaan
dan perawatan masjid Asal diemban oleh pejabat kerajaan Kejurun
Patiambang. Kejurun Patiambang merupakan salah satu dari enam
kejurun di daerah Gayo. Keenam teritori tersebut adalah; Kejurun
Bukit, Kejurun Linge, Kejurun Siah Utama, Kejurun Patiambang,
Kejurun Bebesan, dan Kejurun Ambuq. (lihat Snouck Hurgronje,

78
1996: 107, dst. dan H. M. Gayo, 1983: 51). Untuk pengelolaan mas-
jid Asal, Raja Patiambang mengangkat Reje Cik yang ditugaskan
untuk merawat dan mengelola pelaksanaan kegiatan keagamaan
di Masjid Asal.
Masjid Asal telah mengalami beberapakali renovasi. Pada
tahun 90-an masjid ini di rehab bagian luarnya dengan pemasangan
tembok keliling di sekitar masjid sampai ke perkuburan. Lalu
pada tahun 1989, dilakukan pemasangan kaca pada lubang angin
bagian atas (kubah masjid).
Rehabilitasi di atas dilakukan dalam masa daerah ini masih
masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Lalu pada tahun
2002, daerah ini masuk dalam wilayah pemekaran Kabupaten
Gayo Lues. Maka Pemerintah Daerah Kabupaten Gayo Lues
melakukan rehabilitasi Masjid Asal, dan menjadikan masjid ini
sebagai icon Kabupaten Gayo Lues.
Pada tahun 2008, masjid Asal direhab kembali dengan
bantuan dana dari BRR NAD-Nias, namun tidak merombak
bangunan dasarnya. Pada masa ini dibangun mesjid baru dengan
konstruksi beton berukuran 60 x 40 meter berdampingan dengan
mesjid lama yang berkonstruksi kayu. Dengan demikian masjid
Asal menjadi dua bagian, bagian utama merupakan bangunan inti,
yaitu masjid Asal yang asli. Sedangkan bagian kedua merupakan
masjid baru sebagai perluasan masjid Asal, sehingga pengujung
akan medapati dua ruang berbeda di dalam masjid.
Masjid Asal Penampaan dipadati pengunjung pada setiap
hari Jumat, mulai dari subuh sampai masuk waktu shalat Jumat.
Para pengunjung berdatangan dari berbagai daerah, baik dari Aceh
sendiri maupun dari luar Provinsi Aceh. Biasanya pengunjung
datang untuk bersedekah, memenuhi niatan dan melunasi
nazar mereka. Selain hari Jumat, masjid akan dipadati pada saat
perayaan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi‘raj,
Megang Ramadhan dan Megang Hari Raya (Idul Fitri dan Idul
Adha). Pada saat-saat seperti ini, masjid akan dipadati pengunjung
untuk beribadah dan memenuhi nazar mereka.

79
Masjid Asal-Penampaan masih banyak menyimpan misteri
sejarah kehidupan masyarakat Gayo Lues yang belum tergali. Pada
masa kejayaan Kerajaan Aceh, daerah ini dipimpin oleh Kejurun
Patiambang yang banyak berkontribusi bagi hidupnya beragam
adat dan budaya dalam masyarakat. Di masa penyerbuan Kolonialis
Belanda ke tanah Gayo, konon masjid ini pernah dibom, tapi
anehnya bom itu tidak meledak.
Ada pula kisah lain yang mengatakan bahwa mesjid ini pernah
dicoba hancurkan oleh Belanda. Upaya ini juga tidak berhasil, dan
sampai sekarang bekas tebasan pedang masih terlihat pada tiang
mesjid ini. Setidaknya kisah ini menjadi cermin kuatnya upaya
masyarakat mempertahankan masjid ini dari serbuan Belanda.
Namun sayangnya masih belum bisa terungkap, fakta-fakta itu
masih terpendam dalam warisan khasanah masa lalu. Kondisi ini
terus menjadi misteri seiring dengan tidak terjawabnya misteri
masjid Asal itu sendiri. Misalnya beberapa pertanyaan berikut:
1. Berapa usia masjid Asal sebenarnya? Hendaknya dilakukan
penelitian ilmiah semisal penghitungan usia kayu masjid.
Mungkin dapat dilakukan dengan karbon isotop 12 (C12)
seperti menghitung fosil peninggalan zaman purba.
2. Apa kandungan air sumur di masjid Asal yang dipercaya
masyarakat bisa menyembuhkan?
3. Apa benar sumur masjid Asal merupakan air dari Telaga
Nampak yang ada di masjid pada masa ulama dan aulia masa
lalu? Konon katanya bisa memperlihatkan niat seseorang
kala ia berada di Telaga Nampak….?
Semua pertanyaan ini cukup urgen untuk dijawab, kiranya
pihak berwenang perlu melakukan langkah-langkah positif untuk
menjawab rasa penasaran masyarakat. Wa Allah a‘lam bissawab.

80
KABUPATEN ACEH TAMIANG

MASJID AL-HUDA
Masjid ini terletak di Kampung Tanjung Karang, Kecamatan
Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, berjarak sekitar 2 km
dari pusat kota Kota Kuala Simpang. Sampai saat ini, Masjid
Al-Huda masih berdiri megah di pinggir jalan negara lintas
Kuala Simpang - Langsa. Meskipun sempat direnovasi, namun
keaslian dari mesjid yang didirikan pada tahun 1928 ini, masih
tetap dipertahankan.

81
Pintu masuk dari
arah Timur Masjid
Al-Huda, setelah
renovasi/perluasan
dengan penambahan
teras depan.

Masjid Al-Huda dari


arah belakang. Di
bagian inilah para
tokoh pendiri masjid
Al-Huda dikebumikan.

Masjid Al-Huda,
dilihat dari arah
samping sebelah
kanan.

82
Ruang dalam masjid
Al-Huda, langit-langit
yang tinggi memberi
kelegaan bagi jamaah.

Mihrab dan mimbar


dalam masjid Al-
Huda. Mimbar
ini merupakan
peninggalan yang
mencerminkan
tingginya seni-budaya
masa lalu.

Masjid Al-Huda,
dilihat dari samping
kanan

83
Sejarah Ringkas Masjid Al-Huda

Masjid Al-Huda Kampung Tanjung


Karang Kecamatan Karang Baru,
dibangun pada tahun 1928-1931 dengan
luas 14 x 16 meter. Setelah direnovasi
luasnya menjadi 18 x 16 m. Pada masa
pembangunannya, masjid Al-Huda merupakan satu-satunya masjid
yang ada di wilayah kemukiman Benua Raja, Kemukiman Karang,
Kemukiman Seruway dan Kemukiman Tamiang Hulu. Hal inilah
yang mendasari antusiasme masyarakat untuk bahu membahu
membangun masjid ini semegah-megahnya.
Pembangunan masjid ini digerakkan oleh para tokoh agama
dan tokoh masyarakat setempat. Berdasar keterangan sementara
yang berhasil dihimpun, tokoh-tokoh tersebut antara lain ialah;
T. M. Arifin, T. M. Khalifah dan T. M. Basyir. Makam tokoh-
tokoh ini berada di belakang masjid, dan telah dipugar oleh Dinas
Pendidikan dan kebudayaan.
Dilihat dari potongan dan tekstur melengkung pada
beberapa bagian bangunan, tampak bahwa arsitektur masjid ini
mengadopsi gaya arsitektur Portugis yang kala itu sedang diminati.
Di samping masjid juga dibangun sebuah menara dengan gaya
yang senada pula.
Konstruksi bangunan masjid terbuat dari beton tanpa rangka
baja, demikian pula dengan menara pasir setinggi 25 meter, juga
dibangun tanpa kerangka baja. Meskipun tidak memakai kerangka
baja, namun bangunan ini tetap kokoh sampai sekarang.
Sepanjang perjalanan sejarahnya, konstruksi bangunan
masjid Al-Huda tidak banyak mengalami perubahan. Renovasi
yang dilakukan tidak sampai merubah bangunan aslinya. termasuk
mimbarnya. Mimbar masjid ini masih asli sebagaimana pertama
kali dibuat.
Selain itu, kemakmuran masjid pun masih terus terjaga.
Kegiatan keagamaan yang meliputi ceramah agama dan pengajian
bagi kaum bapak, ibu-ibu dan remaja mesjid pun masih lestari dan
terus dilaksanakan sampai sekarang.

84
KABUPATEN ACEH TAMIANG

MASJID AL-FURQAN
Masjid ini terletak di pusat kota Kualasimpang, Kelurahan
Kota Kualasimpang Kecamatan Kota Kualasimpang Kabupaten
Aceh Tamiang. Bangunan fisik masjid ini berkonstruksi beton,
didirikan pada tahun 1950 dengan luas bangunan 40 x 40
meter.

85
Masjid Al-Furqan Kelurahan Kota Kualasimpang Kecamatan
Kota Kualasimpang, masjid ini didirikan pada tahun 1950. Pada
awalnya, bangunan fisik ini dimaksudkan sebagai sebuah Meunasah
di atas tanah wakaf seluas 1.187 m, dengan luas bangunan 40 x 40
meter.
Sehubungan dengan permintaan dari masyarakat sekitar,
dan karena minimnya sarana tempat ibadah kala itu, maka
meunasah ini dialihfungsikan menjadi masjid. Pengalihan fungsi
ini dilaksanakan pada tahun 1973. Sejak saat itu, masjid ini
menjadi tempat shalat Jumat bagi masyarakat sekitar kemukiman;
Imam Bali, Benua Raja, Bukit Tempurung, Perdamaian, Sriwijaya
dan Kota Kualasimpang.
Dari informasi yang berhasil dihimpun, pendirian masjid ini
diprakarsai oleh beberapa orang tokoh. Antara lain dapat dicatat;
Teungku Mahmud, H. Nurdin Shaleh dan Datok Zakaria Helmi.
Pada tahun 2000 dilakukan renovasi dan rehabilitasi pada fisik
bangunan masjid. Namun rehabilitasi ini tidak merobah bentuk
dasar dari arsitektur bangunan masjid.
Dari sisi kemakmuran masjid, kegiatan keagamaan yang
digelar di masjid ini meliputi pengajian rutin ba‘da shalat Ashar,
dakwah Islamiyyah dalam rangka Peringatan Hari Besar Islam dan
pengajian anak-anak (Taman Pendidikan Alquran).

86
Daftar Pustaka

Amirul Hadi, Islam and State in Sumatra; A Study of Sevententh-


Century Aceh, Leiden: Brill, 2004
Azman Ismail, et al., Masjid Raya Baiturrahman, Lhokseumawe:
Nadiya, 2004
Hasjmy, A., Bunga Rampai Revolusi dari Tanah Aceh, Jakarta:
Bulan Bintang, 1978
_______, 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu,
Jakarta: Bulan Bintang, 1977
Hurgronje, Snouck, Aceh; Rakyat dan Adat Istiadatnya, terj. Sutan
Maimoen, Jakarta: INIS, 1996
Ibrahim Alfian, Kronika Pasai; Sebuah Tinjauan Sejarah, cet. II,
Yogyakarta: Cenninets Press, 2004
Kusumo, Sardono W (pengantar), Aceh Kembali ke Masa Depan,
Jakarta: IKJ Press, 2005
Lombard, Denys, Kerajaan Aceh Jaman Sultan Iskandar Muda
(1607-1636), terj. Winarsih Arifin, Jakarta: Balai
Pustaka, 1986
M. H. Gayo, Perang Gayo Alas Melawan Kolonialis Belanda,
Jakarta: Balai Pustaka, 1983
Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981
Muhamad Hasan Basry dan Ibrahim Alfian, (ed), Perang Kolonial
Belanda di Aceh, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi
dan Informasi Aceh, 1990
Muhibuddin Waly, Maulana Teungku Syeikh Haji Muhammad Muda
Waly, Jakarta: Intermasa, 1997
Paul van’t Veer, Perang Belanda di Aceh, terj. Aboe Bakar, Banda
Aceh: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 1977
Reid, Anthony, Asal Mula Konflik Aceh, terj. Masri Maris, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2005
Tim IAIN Ar-Raniry, Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh, Banda
Aceh: Ar-Raniry Press, 2004
Yunus Jamil, M., Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh, Banda Aceh:
Ajdam I IM, 1968
Zainuddin, H. M., Tarich Atjeh dan Nusantara, Medan: Pustaka
Iskandar Muda, 1961
________, Srikandi Aceh, Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1966
Zentgraaf, H. C., Aceh, terj. Aboe Bakar, Jakarta: Beuna, 1983

88