Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

BEDAH DIGESTIF

Pembimbing :
dr. Saleh Setiawan, Sp. B

Disusun Oleh:
Karel Respati
2011730144

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

0
AKUT ABDOMEN
I. Pendahuluan
Akut abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di
rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan
utama. Secara umum dapat disimpulkan bahwa nyeri perut tiba-tiba pada pasien
yang sebelumnya sehat dan berlangsung lebih dari 6 jam disebabkan oleh kondisi
yang memerlukan tindakan pembedahan, misalnya pada obstruksi, perforasi atau
perdarahan. Infeksi, obstruksi, atau strangulasi saluran pencernaan dapat
menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi
saluran pencernaan sehingga terjadinya peritonitis.1,2,3
Penilaian diagnostik untuk pasien dengan akut abdomen merupakan salah
satu masalah yang paling menantang dan menarik dalam kedokteran klinik.
Kemajuan teknologi dalam 25 tahun terakhir (USG, CT scan, MRI, diagnostic
peritoneal lavage, dan Laparoscopy) telah meningkatkan kemampuan untuk
“melihat” ke dalam abdomen. Meskipun demikian, abdomen masih menyisakan
banyak “black box” bagi para klinisi di garis depan.4 Pemeriksaan pasien dengan
akut abdomen harus teliti dan seksama. Suatu akut abdomen mesti dicurigai
sekalipun pasien mengeluhkan gejala yang ringan ataupun tidak khas. Penilaian
seorang ahli bedah pada pasien dengan akut abdomen harus bisa menjawab dua
pertanyaan berikut : (1) Apa diagnosisnya? dan (2) Apakah pasien tersebut
membutuhkan suatu laparotomi emergensi?4. Keputusan untuk melakukan
tindakan bedah harus segera diambil, karena setiap keterlambatan akan
menimbulkan penyulit yang akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan
melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
Pengetahuan tentang etiologi nyeri perut dan perjalanan penyakit sangat
penting dalam penanganan pasien akut abdomen sehubungan dengan banyaknya
kemungkinan diagnosis banding akut abdomen. Demikian juga memahami
anatomi dan fisiologi rongga abdomen serta proses patologis yang terjadi sangat
membantu dalam menegakkan diagnosis yang tepat dan rencana pengobatan.1

1
II. NYERI
Nyeri merupakan gejala umum dari kelainan pada saluran pencernaan dan
lebih memerlukan tindakan bedah daripada manifestasi lainnya. Untuk memahami
keluhan nyeri pada pasien akut abdomen, perlu diketahui tentang neurofisiologi
dan anatomi nyeri.
II..1 Jalur Nyeri
Impuls sensoris ditransmisikan ke posterior horn medula spinalis dari
neuron sensoris primer yang badan selnya di dorsal root ganglion. Neuron
sensoris sekunder dari posterior horn mengantarkan impuls melalui traktus
spinothalamikus kontralateral ke nukleus thalamus posterolateral. Kemudian
neuron sensoris ketiga mengantarkan impuls dari thalamus ke girus postcentralis
korteks serebri (Gambar 1). Tiga macam nyeri dapat di gambarkan yaitu nyeri
superficial atau kutaneus; nyeri dalam dari otot, tendon, sendi dan fascia
( keduanya termasuk nyeri somatik); serta nyeri visceral.
Visceral afferents merupakan seluruh serat saraf yang berasal dari visera,
termasuk serat saraf yang meningkatkan reflek visera maupun yang mengurangi
rasa nyeri. Istilah autonomic, simpatis, parasimpatis termasuk dalam serat saraf
visceral efferent.
Rangsang nyeri dari rongga abdomen mencapai CNS melalui 2 rute yaitu :
a. Rangsang nyeri dari organ visera diantarkan melalui visceral
afferents yang berjalan bersama-sama dengan (1) saraf simpatis
dan (2) parasimpatis.
b. Sementara rangsang nyeri dari peritoneum parietal, dinding
perut, diafragma, dan radiks mesenterium diantarkan melalui
somatic afferents yang berjalan melalui segmental spinal nerves
atau phrenic nerves.
Rute perjalanan serat saraf afferen yang berasal dari rongga abdomen
adalah sebagai berikut: ujung serat saraf pada dinding organ berongga mengikuti
arteri ke arah aorta, kemudian melewati kolateral ganglion simpatis tanpa
mengadakan sinaps. Lalu masuk ke saraf splanchnic, melewati ganglion simpatis
paravertebal dan bergabung dengan saraf spinalis. Badan sel dari visceral afferent

2
primer ini ada di ganglion spinal yang selanjutnya ke dorsal horn medulla spinalis
melalui dorsal root.

Gambar 1. Skema jalur yang terlibat pada nyeri abdomen.


II.2 Nyeri Abdomen
Identifikasi nyeri abdomen meliputi jenis nyeri, letak nyeri, sifat nyeri, dan
onset nyeri.
II.2.1 Jenis Nyeri
Persepsi nyeri abdomen berasal dari sistem saraf otonom (nyeri viseral)
dan sistem saraf somatik (nyeri somatik).
Peritoneum viseral tidak mempunyai serat saraf somatik dan dipersarafi
hanya oleh serat saraf otonom tipe C, yang transmisinya lambat, sensasi tumpul,
lokalisasi nyeri buruk, onset yang bertahap dan durasi yang lama. Adanya
stimulus berupa perubahan diameter organ berongga (termasuk tegangan dan
regangan), kontraksi spastik, regangan pada kapsul organ solid, iskemia dan bahan
kimia dapat menimbulkan nyeri viseral.
Nyeri viseral bersifat difus dan lokalisasi nyeri yang buruk, ambang batas
yang tinggi, dan adaptasi yang sangat lambat, hal ini mungkin berhubungan

3
dengan relatif jarangnya distribusi ujung saraf di organ visera dan persarafan yang
multi segmental.
Bila nyeri viseral timbul bersamaan dengan nyeri somatik yang dalam,
dapat menimbulkan reflek otonom seperti berkeringat, mual dan muntah, syok,
hiperestesia atau nyeri tekan, dan kontraksi spastik involunter pada otot perut.
Peritoneum parietal dan dinding abdomen dipersarafi oleh serat saraf
somatik, berupa serat A-delta yang juga terdapat pada kulit dan otot, yang
transmisinya tajam, lokalisasi nyeri yang baik, dan durasi yang cepat ke saraf
spinal. Nyeri dari tempat ini bersifat terlokalisasi baik dan bermacam karakteristik
tergantung dari stimulusnya.
Peritoneum pada pelvis tidak mempunyai serat saraf yang bermakna,
sehingga berbagai macam penyakit pada true pelvis dapat timbul tanpa keluhan
nyeri.

II.2.1.1 Nyeri visceral lokal (Unreferred visceral pain)


Organ abdomen dipersarafi oleh afferent autonomic secara bilateral
(kecuali ginjal, ureter, sekum, colon ascenden dan descenden secara unilateral),
dan biasanya nyeri visceral dirasakan di garis tengah perut. Lokasi nyeri pada
garis tengah berhubungan dengan perkembangan embryonal usus, yang sejak
terbagi menjadi foregut, midgut, hindgut, dan kloaka, mempunyai persediaan
darah dan persarafan masing-masing.
Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) yaitu lambung,
duodenum, system hepatobilier dan pancreas menyebabkan nyeri di ulu hati atau
epigastrium. Bagian saluran cerna yang berasal dari usus tengah (midgut) yaitu
usus halus dan usus besar sampai pertengahan kolon transversum menyebabkan
nyeri di disekiter umbilikus. Bagian saluran cerna lainnya yaitu pertengahan kolon
transversum sampai dengan kolon sigmoid yang berasal dari usus belakang
(hindgut) menimbulkan nyeri di perut bagian bawah (Gambar 2,3).Demikian juga
buli-buli dan rektosigmoid. 1,2

4
II.2.1.2 Nyeri Alih Viseral (Referred visceral pain)
Nyeri ini lebih terlokalisir daripada nyeri visceral yang sebenarnya,
lokasinya pada dermatom atau myotom yang mempunyai persarafan segmen
medulla spinalis yang sama dengan organ yang terkena. Misalnya distensi usus
halus dengan balon menimbulkan nyeri yang samar-samar, lokalisasi yang buruk
pada awalnya, namun dengan rangsangan yang lebih besar terjadi nyeri alih ke
dinding abdomen dan punggung.

Gambar 2.

5
Gambar 3. Skema nyeri viseral (Unreferred visceral pain)

II.2.1.3 Nyeri parietal lokal (Unreferred parietal pain)


Nyeri ini terjadi ketika inflamasi organ berongga mengenai serat nociseptif
dari peritoneum parietal, dimana nyeri terlokalisir pada dinding abdomen diatas
tempat inflamasi, misalnya apendisitis pada titik Mc Burney.
II.2.1.4 Nyeri Alih Parietal (Referred parietal pain)
Nyeri ini karakteristik dengan nyeri di tempat lain yang jauh dari tempat
stimulasi nociseptif, contoh klasik adalah Kehr,s sign (nyeri di bahu kiri) pada
ruptur limpa setelah trauma.
II.2.2 Letak nyeri
Nyeri viseral dari suatu organ biasanya sesuai letaknya dengan asal organ
tersebut pada masa embrional. Sedangkan nyeri somatik biasanya dekat dengan
organ sumber nyeri sehingga relatif mudah menentukan penyebabnya.

II.2.3 Sifat nyeri


Berdasarkan letak dan penyebarannya, nyeri dapat bersifat nyeri alih,
nyeri radiasi dan nyeri yang diproyeksikan.

6
II.2.3.1 Nyeri alih
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu
daerah. Misalnya diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5 pindah ke bawah
pada masa embrional, sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau
peradangan akan dirasakan di bahu. Demikian juga pada kholesistitis akut, nyeri
dirasakan di daerah ujung belikat (Gambar 4). Abses dibawah diafragma atau
rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan atas limfa atau hati juga
dapat mengakibatkan nyeri di bahu.2,3

Gambar 4.
II.2.3.2 Nyeri radiasi
Nyeri radiasi adalah nyeri yang menyebar di dalam sistem atau jalur
anatomi yang sama. Misalnya kolik ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya
dirasakan sampai ke alat kelamin luar (testis atau labium mayor).
II.2.3.3 Nyeri proyeksi
Nyeri proyeksi adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf
sensorik akibat cedera atau peradangan saraf. Contoh; nyeri phantom setelah
tindakan amputasi, atau nyeri perifer setempat pada herpes zoster. Radang saraf

7
ini pada herpes zoster dapat menyebabkan nyeri hebat di dinding perut sebelum
gejala atau tanda herpes zoster menjadi jelas.3
II.2.3.4 Nyeri Kontinyu
Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietal akan dirasakan terus
menerus karena berlangsung terus, missal pada reaksi radang.
II.2.3.5 Nyeri kolik
Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga,
dan biasanya sering disebabkan oleh hambatan pasase dalam organ tersebut. Nyeri
ini timbul akibat hipoksia yang dialami oleh jaringan dinding saluran, karena
kontraksi ini berjeda maka kolik dirasakan hilang timbul. Hingga dikenal trias
kolik, yang terdiri dari serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau
muntah yang disertai gerak paksa.
II.2.3.6 Nyeri iskemik
Nyeri iskemik merupakan tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis.
Nyerinya sangat hebat, menetap dan tidak menyurut. Lebih lanjut akan tampak
tanda intoksikasi umum seperti takhikardia, merosotnya keadaan umum, dan shok
karena reabsorbsi toksin dari jaringan nekrosis.3
II.2.3.7 Nyeri pindah
Kadang kala nyeri dapat berpindah dan berubah sesuai dengan
perkembangan patologi. Misalnya pada permulaan apendisitis sebelum radang
mencapai permukaan peritoneum, nyeri viseral dirasakan di sekitar pusat. Setelah
terjadi peradangan diseluruh dinding termasuk peritoneum parietal, timbul nyeri
somatic akibat rangsang peritoneum, yang dirasakan tepat pada letak peritoneum
yang meradang yaitu di perut kanan bawah.
II.2.3.8 Onset nyeri
Onset nyeri perlu diketahui untuk mengindikasikan derajat beratnya lesi
dan untuk memperkirakan kemungkinan perubahan patologik yang terjadi.
Contoh, perforasi apendiks jarang sekali terjadi dalam waktu 24 jam setelah
timbulnya gejala sehingga jika tidak menggambarkan keadaan peritonitis difus,
ahli bedah dapat melakukan apendektomi dalam waktu 24 jam tersebut dengan
prognosis lebih yang baik.2,3

8
III. AKUT ABDOMEN
III.1 Anamnesis dan Manifestasi Klinis
Dari anamnesis yang teliti, ketepatan diagnosis akan mencapai 60-80%.
Pada akut abdomen keluhan dapat berupa nyeri ( paling banyak), muntah, diare,
konstipasi, hematemesis,melena, perdarahan renal akut, hematuria.
Onset nyeri sangat penting dalam menegakkan diagnosis, nyeri yang
tiba-tiba lebih menunjukkan perlunya tindakan bedah, yang biasanya disebabkan
oleh perforasi, volvulus, pergerakan batu atau benda lain yang menyumbat organ
berongga. Nyeri yang bertahap biasanya mengindikasikan suatu proses inflamasi
atau proses obstruksi yang lambat.
Hubungan gejala lain dengan onset nyeri juga sangat penting, dimana
nyeri akut yang segera diikuti oleh mual dan muntah kemungkinan obstruksi usus
letak tinggi yang disebabkan volvulus. Mual dan muntah yang terjadi 6 sampai 12
jam setelah nyeri timbul kemungkinan obstruksi letak rendah, dan nyeri yng
berlangsung lama kemungkinan obstruksi sekunder dari keganasan, divertikulitis
atau volvulus.
Inflamasi pada foregut atau midgut sering diikuti oleh anoreksia, mual
atau muntah karena sensory afferents disalurkan melalui serat vagus, dan
inflamasi pada hindgut biasanya tidak diikuti gejala diatas kecuali ada komplikasi
obstruksi. Sebaliknya, adanya anoreksia, mual, muntah yang mendahului nyeri
umumnya menunjukkan proses yang tidak memelukan pembedahan.
Karakteristik nyeri juga penting, yang digambarkan sebagai nyeri tekan,
nyeri tajam, nyeri tumpul, atau kram (Gambar 5). Lokasi nyeri di 4 kuadran
abdomen juga dapat digunakan sebagai perkiraan diagnosis, namun kadang tidak
sesuai dengan etiologi nyeri tersebut (Gambar 6).1,2

9
Gambar 5.

10
Gambar 6. Lokasi karakteristik nyeri abdomen dengan penyakitnya.

III.2 Pemeriksaan Fisik


III.2.1 Penampakan secara umum
Wajah penderita dapat menjadi petunjuk keseriusan serangan nyeri pada
kasus akut abdomen atau keadaan syok yang dideritanya. Penampakan ikterik,
dehidrasi, disorientasi mental atau keadaan lainnya perlu dicermati pula.1,2,3,4
III.2.2 Sikap pasien
Sikap pasien di tempat pemeriksaan bisa menjadi sumber keterangan
beratnya sakit yang diderita, kegelisahan penderita saat kolik hebat atau
perdarahan intraperitoneal berlawanan dengan sikap statis penderita peritonitis,
pada peritonitis yang luas, kedua lutut penderita kerap ditekuk agar mengurangi
ketegangan dinding abdomen, sedangkan pada tiap inflamasi yang mengenai m.
psoas menyebabkan fleksi paha sepihak.2
III.2.3 Tanda-tanda Vital
Mengetahui tekanan darah sangat bermakna terutama pada kasus
perdarahan internal, syok, dan kegagalan sirkulasi pasca obstruksi. Nadi yang
normal tidak menggambarkan keadaan yang abdomen yang normal pula. Nadi
cepat dan lemah ditemukan pada keadaan syok, peningkatan frekuensi nadi selalu
menyertai stadium lanjut episode peritonitis dan perdarahan, namun dapat pula
timbul nadi yang agak ireguler atau intermiten.

11
Frekuensi respirasi penting sebagai pembanding kelainan abdomen dan
thoraks. Jika frekuensi respirasi meningkat dua kali dari normal sejak awal onset,
kemungkinan bersumber kelainan di thoraks, namun pada kasus peritonitis difus
atau obstruksi dengan distensi yang hebat, atau perdarahan intraabdomen berat,
respirasi jauh lebih cepat dibandingkan biasanya.
Suhu tubuh subnormal, normal, atau meninggi dapat menyertai keadaan
akut abdomen.2
III.2.4 Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi.
Abdomem sebaiknya diamati dengan cahaya tidak langsung untuk
melihat tonjolan atau kelainan lain di dinding abdomen. Pada pasien yang kurus
mungkin dapat dilihat ladder pattern yang menunjukkan adanya obstruksi usus
halus atau massa keganasan atau volvulus. Daerah depan, inguinal dan paha harus
diamati untuk kemungkinan adanya hernia.
Auskultasi
Pemeriksaan ini sangat bermanfaat pada kasus akut abdomen. Silent abdomen
mengindikasikan peritonitis difus dengan penampakkan sepsis abdomen mayor,
iskemia usus atau gangren, atau prolong (lebih dari 3 hari) obstruksi mekanik
dengan tanda distensi usus. Hilangnya peristaltik juga mengindikasikan ileus
akibat beberapa kondisi seperti pneumonia, batu renal, atau trauma. Intermittent
peristaltic rushes dengan ciri kresendo diikuti silence mengarah pada obstruksi
usus terutama saat episode nyeri. Beberapa kondisi inflamasi nonbedah seperti
gastroenteritis memberikan bunyi high-pitched intermittent peristaltic rushes.1,4
Palpasi
Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan penuh perasaan dan seksama
dimulai dari lokasi yang terjauh dari nyeri atau tanpa kelainan. Nyeri pun harus
dapat dibedakan antara nyeri yang nyata atau nyeri alih. Area inguinal dilakukan
untuk menilai hernia atau kondisi inflamasi. Nyeri lepas akan dirasakan pada
penderita yang mengalami iritasi peritoneum akut. Spasme dinilai dengan
menekan otot dinding abdomen dengan gentle; membandingkannya secara
simultan satu sama lain memberikan perbandingan area abnormal dengan yang
normal.

12
Perkusi
Pemeriksaan ini berguna untuk mengidentifikasi adanya gas dan cairan
yang menimbulkan distensi, serta konfirmasi area dengan nyeri lokal atau nyeri
lepas. Dengan perkusi dapat diperkirakan jumlah usus yang distensi, daerah yang
pekak, perkiraan dilatasi lambung, pekak hati yang tidak normal, dan kadang buli-
buli yang distensi.
III.2.5. Pemeriksaan Rektum
Pemeriksaan ini harus selalu dilakukan pada setiap kasus akut abdomen.
Dengan menekan ke arah depan, belakang , atas dan samping, seluruh bagian
pelvis dapat diperiksa. Ke depan, pada penderita pria dapat dinilai adanya
pembesaran prostat, distensi vesika urinaria, atau pembesaran vesikula seminalis
yang abnormal. Pada wanita, kita dapat menilai kavum Douglasi, pembesaran,
maupun pergeseran uterus. Ke lateral, palpasi rektal pada kasus apendisitis
tampak sebagai nyeri pada pelvis bagian kanan atau terabanya nyeri apendiks atau
abses. Ke posterior, kita dapat menilai setiap tumor atau peradangan daerah
piriformis atau lengkung sakrum. Adanya darah pada faeces mengindikasikan
kemungkinan keganasan, hemoroid, atau proses gastrointestinal akut seperti ulkus
atau kolitis. Massa yang teraba pada pemeriksaan rektal dapat merupakan suatu
abses pelvis yang berjalan sekunder terhadap perforasi organ viseral, tanda
penyakit inflamasi pelvis, atau metastse. Prostatitis akut pada pria dapat
didiagnosis walau terkadang terkaburkan oleh nyeri perut yang tidak khas.
Pemeriksaan vagino-abdominalis atau rekto-abdominalis bimanual dapat
menentukan posisi tumor dan pembengkakan pelvis, atau bahkan memungkinkan
kita memeriksa seluruh bagian bawah rongga abdomen serta memanipulasi
invaginasi.1,2,3,4

13
III.3 Pemeriksaan Laboratorium
Dengan menggunakan pemeriksaan penunjang, laboratorium dan
radiologis maka akan didapatkan ketepatan diagnosis sebesar 10-15%.
Pemeriksaan darah lengkap dan urine dapat berguna dalam menerangkan status
hidrasi penderita, keadaan anemia, sepsis/infeksi, fungsi hati, fungsi ginjal,
kemungkinan kehamilan ektopik dan parameter kondisi lainnya. Serum amilase
diperiksa pada penderita nyeri abdomen akut dengan kecurigaan pankreatitis akut.
Analisis gas darah berperan sebagai parameter identifikasi keadaan asidosis
metabolik.1,2,3,4
III.4 Pemeriksaan Radiologis
Radiografi abdomen datar dan tegak merupakan evaluasi diagnostik
radiologik sederhana yang dapat memberikan informasi kondisi organ. Radiografi
datar dan tegak dapat menginformasikan adanya obstruksi gastric outlet dengan
obstruksi pada usus besar maupun kecil. Foto polos abdomen berguna dalam
evaluasi obstruksi mekanik traktus gastrointestinal. Udara bebas intraperitoneal
tampak sebagai tanda perforasi gaster atau duodenal ulkus peptik, perforasi
caecum akibat obstruksi dan/atau iskemi, serta perforasi sehubungan dengan
keadaan divertikulitis kolon.
Pencitraan diagnostik lain berupa CT scan dan USG berperan besar dalam
membantu diagnostik yang lebih mutakhir dalam beberapa dekade terakhir. USG
maupun CT scan dapat memberikan evaluasi cepat gambaran morfologi dan
kelainan organ abdomen disamping itu aneurisma arteri viseral dan aorta,
trombus, fistula arteriovenosa, bahkan malformasi arteriovenosa dapat
diidentifikasi. Pencitraan teknik angiografi saat ini berkembang pesat dan dapat
digunakan untuk konfirmasi diagnostik, bahkan terapeutik pada beberapa
kasus.1,2,3,4
III.5 Penyebab Akut Abdomen
Akut abdomen dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa
inflamasi dan penyulitnya, ileus obstruktif, iskhemia, dan perdarahan. Sebagian
kelainan disebabkan oleh cedera langsung atau tidak langsung yang
mengakibatkan perforasi saluran cerna atau perdarahan.1,2,3

14
Tabel 1. Proses patologis yang mengakibatkan akut abdomen
3
Penyebab Contoh
Radang Apendisitis akut
Perforasi apendiks
Perforasi tukak lambung
Perforasi usus tifus
Pankreatitis akut
Kolesistitis akut
Adneksitis akut
Ileus obstruktif Hernia inkarserata
Volvulus usus
Iskemia Hernia strangulata
Volvulus
Kelainan atu penyumbatan pembuluh
darah
Perdarahan Kehamilan ektopik
Aneurisma yang pecah
Cedera Perforasi organ berongga
Perdarahan limpa atau hati
III.6 Keputusan Pembedahan
Setelah dilakukan anamnesis, yang dikonfirmasi dengan pemeriksan fisik
serta pemeriksaan penunjang,maka kemungkinan diagnosis dapat ditegakkan.
Sebenarnya untuk keputusan dilakukannya pembedahan khususnya pada akut
abdomen tidak memerlukan diagnosis yang spesifik, tetapi rencana kerja.
Keputusan pembedahan harus meliputi : (1) Presumptive Diagnosis, (2) Indikasi
operasi, (3) Waktu Operasi, (4) Approach.
Pada beberapa kasus akut abdomen gejala mungkin tidak jelas, terutama
pada pasien anak-anak, pasien tua, pasien dalam terapi steroid, pasien daya tahan
tubuh yang lemah (immunocompromised) dan pasien yang tidak mengalami
respon inflamasi secara normal. Pasien immunocompromised dan tua yang
terlantar dan tidak punya keluarga, menimbulkan masalah etika. Pasien yang
prolonged vegetative state yang tidak mendapat pehatian keluarga juga
menimbulkan masalah etika. Pasien dengan keluhan fungsional, dengan

15
psikologis yang tidak normal, dibawah pengaruh obat, atau pasien yang ingin
operasi (Munchusen Syndrom) sebaiknya tidak dioperasi.
IV. Kesimpulan
Akut abdomen merupakan suatu kasus emergensi serius yang
memerlukan kemampuan menilai secara dini kombinasi hasil temuan anamnesis,
pemeriksaan fisik disertai studi laboratorik dan pemeriksaan lanjutan terpilih.
Indikasi operatif diperlukan pada sebagian besar kasus berdasarkan diagnosis
yang akurat sehingga mengarah pada keberhasilan operasi guna mencegah serta
mengurangi angka morbiditas dan mortalitas.

Daftar Pustaka

16
1. Fischer J.E., Nussbaun M.S., Chance W.T., Luchette F. Manifestations of
Gastrointestinal Disease. In : Principles of Surgery 7th Ed. Vol. 1, Schwartz,
editor. New york : McGraw-Hill Co; 2000.p. 1033-1043.
2. Diethelm A.G., Stanley R.G.,. The Acute Abdomen. In : Textbook of Surgery
15th Ed., Sabiston, editor. Philadelphia: WB Saunders Co; 1997.p. 825-834.
3. William P. Schecter,Peritoneum and Acute Abdomen. In : Basic science and
Clinical Evidence Base. Vol. 1, p.413-426.
4. John H. Boey, The Acute Abdomen. In : Current Surgical Diagnosis &
Treatment 10th Ed., Lawrence W. Way, editor. Appleton & Lange; 1994.p.441-
452.

17