Anda di halaman 1dari 13

Referat

Pneumonia Pada Anak

Disusun Oleh :

Pembimbing :
BAB I

Pendahuluan

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang disebabkan oleh
mikroorganisme. Manifestasi klinisnya adalah demam, batuk berdahak, sesak napas, dapat
disertai gejala lainnya seperti menggigil dan sakit kepala. Populasi yang mudah sekali
mengalami penyakit ini adalah anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun, orang tua usia <65
tahun dan orang dengan keadaan tertentu seperti malnutrisi dan gangguan imunologi.

The United Nations Children's Fund (UNICEF) memperkirakan bahwa penyakit


pneumonia pada anak merupakan penyebab kematian 3 juta anak diseluruh dunia setiap
tahunnya. Meskipun sebagian besar terjadi di negara berkembang, namun tetap menjadi
penyebab morbiditas yang signifikan di negara-negara industri.

1
BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1. Definisi

Infeksi saluran pernafasan akut terbagi menjadi dua yaitu infeksi pernafasan akut bagian
atas dan infeksi pernafasan akut bagian bawah. Pneumonia merupakan penyakit akibat infeksi
pernafasan akut bagian bawah yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme.
Mikroorganisme penyebab pneumonia yaitu bakteri, jamur, dan virus.1

Community-acquired pneumonia (CAP ) didefinisikan sebagai infeksi saluran pernafasan


yang diperoleh di luar rumah sakit. CAP terjadi dalam 48 jam setelah mengunjungi rumah sakit
atau pada pasien dengan pneumonia yang tidak memiliki riwayat sakit pneumonia sebelumnya.2

2.2. Etiologi dan Faktor Risiko

Pneumonia dapat disebabkan oleh macam-macam mikroorganisme. Kecurigaan klinis


agen penyebab tertentu berasal anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik. Sementara hampir
semua mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, infeksi bakteri spesifik, virus, jamur,
dan mikobakteri paling sering terjadi pada anak-anak. Usia infeksi, riwayat paparan, faktor
risiko, dan riwayat imunisasi semuanya memberikan petunjuk kepada agen penginfeksi.2

Agen etiologi spesifik bervariasi berdasarkan pada kelompok usia (yaitu, bayi baru lahir,
bayi muda, bayi dan balita, anak usia 5 tahun, anak usia sekolah dan remaja muda, remaja yang
lebih tua). 2

Tabel 1. Penyebab Pneumonia pada Anak Sesuai Anak 3

Usia Mikroorganisme penyebab Pneumonia

Bakteri Streptococcus grup B , Listeria monocytogenes, atau batang


Bayi baru lahir (usia 0-30 hari) gram negatif (misalnya, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae)
adalah penyebab umum pneumonia bakteri. Penyebab Viral
Pneumonia yaitu respiratory syncytial virus (RSV)
Bakteri : S.pneumoniae, S. aureus, and H. influenzae. Virus : RSV,
Anak (usia 1 - 3 bulan) parainfluenza viruses, influenza virus, adenovirus, and human
metapneumovirus (hMPV)

2
RSV adalah patogen virus yang paling umum, diikuti oleh
Balita parainfluenza tipe 1, 2, dan 3 dan influenza A atau B. Bakteri : H.
influenzae type B, S. pneumoniae, S. pyogenes, S. aureus
Anak sekolah dan Remaja M. pneumoniae, S. pneumoniae, Mycoplasma,

Faktor Risiko Definitif terjadinya penyakit Pneumonia :3

 Malnutrisi (weight-for-age z-score)

 Berat badan lahir rendah (≤ 2500 g)

 ASI tidak eksklusif (selama 4 bulan pertama kehidupan)

 Kurangnya imunisasi campak (dalam 12 bulan pertama kehidupan)

 Rokok Polusi udara

 Kekurangan zinc

2.3. Patofisiologi

Pneumonia dapat berasal dari paru-paru atau merupakan komplikasi fokal dari proses
inflamasi lokal atau sistemik. Abnormalitas patensi jalan napas serta ventilasi dan perfusi
alveolar sering terjadi karena berbagai mekanisme. Gangguan ini sering secara signifikan
mengubah pertukaran gas dan metabolisme seluler tergantung pada banyak jaringan dan organ
yang menentukan kelangsungan hidup dan berkontribusi terhadap kualitas hidup.4

Organisme infeksi yang dihirup harus melewati mekanisme pertahanan nonimmune dan
kekebalan tubuh inang yang normal. Mekanisme nonimun termasuk penyaringan aerodinamis
partikel yang dihirup berdasarkan ukuran, bentuk, dan muatan elektrostatik; refleks batuk;
pembersihan mukosiliar; dan beberapa zat yang disekresikan (misalnya, lysozymes, pelengkap,
defensin). Makrofag, neutrofil, limfosit, dan eosinofil melakukan pertahanan pejamu yang
dimediasi imun.

2.4. Manifestasi Klinis

3
Anamnesis merupakan hal terpenting dalam mendiagnosis pneumonia pada anak.
Keluhan demam biasanya muncul tapi tidak selalu ada saat pertama kali diperiksa oleh dokter.
Gejala demam saja tanpa adanya batuk ataupun distress pernafasan dapat menjadi gejala
pneumonia. Penurunan nafsu makan dan rasa mual juga sering timbul pada anak dengan
pneumonia. 2

Anak dengan kondisi khusus tertentu dapat meningkatkan kejadian pneumonia. Kondisi
khusus tersebut yaitu cystic fibrosis, bronkiektasis, imunodefisiensi dan kondisi yang terkait
dengan aspirasi berulang. Tanyakan pula riwayat imunisasi anak, riwayat berpergian, riwayat
pemakaian obat-obatan. Dari hal-hal tersebut dapat memprediksi organisme penyebab
penyakitnya. Pneumonia dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk tergantung pada usia anak,
derajat keparahan dan mikro organisme yang mendasarinya. 2

Kriteria rawat inap pasien anak dengan CAP : 6

a. Hipoksemia (SpO2 < 90% udara ruangan)

b. Bayi (3-6 bulan) dengan dugaan CAP

c. Tachypnea:

o Bayi <12 bulan usia: frekuensi pernapasan> 70 napas per menit

o Anak-anak: frekuensi pernapasan > 50 napas per menit

d. Distres pernapasan: apnea, mendengkur, kesulitan bernafas

e. Intake sulit dan penurunan nafsu makan

f. Tanda-tanda dehidrasi

g. Capillary refill time > 2 detik

h. Suspek atau positif terinfeksi bakteri community-acquired methicillin-resistant


Staphylococcus aureus atau bakteri Streptococcus group A

i. Timbul komplikasi seperti efusi atau empyema

4
j. Kegagalan terapi dalam waktu 48 – 72 jam

2.5. Diagnosis

2.5.1. Pemeriksaan Fisik

 Vital Sign

Tanda-tanda vital abnormal yang ditemukan pada pneumonia yaitu


peningkatan laju pernapasan, peningkatan denyut jantung atau saturasi
oksigen rendah.

Dari pemeriksaan suhu dapat ditemui peningkatan suhu pada anak. Demam
sering muncul. Keadaan umum anak dapat menunjukan pada wajah pucat,
berkeringat, dan dahak yang berwarna pucat. med

Tekanan darah biasanya normal kecuali pneumonia sangat berat dan / atau
anak sangat dehidrasi. Pada anak dengan keadaan syok dapat menunjukan
tanda-tanda yaitu anak tampak kelelahan, takikardia, dan capillary refill time
yang buruk.NSW

Takipnea merupakan tanda sensitive untuk memprediksi pneumonia pada


anak dengan hasil rontgen toraks yang positif. Standar derajat takipnea
menurut NSW Health sebagai berikut :

 Frekuensi Nafas >65 x/ menit pada anak usia <3 bulan

 Frekuensi Nafas >55 x/ menit pada anak usia 3-12 bulan

 Frekuensi Nafas >50 x/ menit pada anak usia 1-4 tahun

 Frekuensi Nafas >35 x/ menit pada anak usia 5 – 11 tahun

 Frekuensi Nafas >30 x/ menit pada anak usia > 12 tahun

5
2.5.2. Pemeriksaan Penunjang

 Laboratorium

Untuk pasien rawat inap, pengujian laboratorium dapat membantu untuk


menilai kondisi pasien dari waktu ke waktu. Hal-hal yang dievaluasi yaitu
jumlah sel darah putih, hitung sel leukosit, dan jumlah sel eritrosit. Jumlah
sel darah putih dapat memprediksi organisme penyebab pneumonia.

 Sputum

Dahak jarang diproduksi pada anak-anak yang berusia kurang dari 10 tahun,
dan sampel selalu terkontaminasi oleh flora normal. Pada anak yang
kooperatif dan batuk yang produktif, pada pemeriksaan perwarnaan Gram
sputum dapat diperoleh (lihat gambar di bawah). Namun, sangat sedikit
anak yang dapat bekerja sama dengan tes semacam itu. Suatu kultur sputum
yang adekuat harus mengandung lebih dari 25 sel PMN per lapang dan
kurang dari 10 sel skuamosa per lapang pandang.

(A) (B)

Gambar 1. gambar A menunjukan hasil perwarnaan gram ditemukan bakteri gram positif coccus, gambar B
menunjukan hasil kultur darah positif bakteri Streptococcus pneumoniae.

 Radiologi

o Rontgent Thorax

Radiografi toraks adalah modalitas pencitraan utama yang digunakan


untuk mengkonfirmasi diagnosis pneumonia. Proyeksi yang

6
digunakan pada dugaan pneumonia yaitu lateral dan anteroposterior.
Hal-hal yang dinilai saat melihat foto toraks dengan kecurigaan
pneumonia antara lain:

 Sudut costofrenik

 Ruang dan permukaan pleura

 Margin diafragma

 Siluet cardiothymic

 Vaskularisasi paru

 Fisura mayor kanan

 Air bronchogram menutupi bayangan jantung

 Perluasan paru-paru

 Pola aerasi

Pada anak yang lebih tua dan remaja, diagnosis pneumonia sering
didasarkan pada presentasi klinis. Rontgen thorax mungkin tidak
diperlukan untuk membuat diagnosis. Rontgen thorax juga membantu
untuk mengkonfirmasi diagnosis tuberkulosis aktif pada anak dengan
hasil tes Mantoux positif.

Gambaran positif pneumonia pada foto thoraks :

 Hiperinflasi generalisata dengan infiltrat menunjukkan


obstruksi jalan napas parsial dari partikel-partikel atau debris
sel-sel inflamasi. Pneumatoceles (terutama dengan gambaran
air-fluid level) dan penumpukan cairan pleura juga
mendukung adanya proses infeksi.

 Radiografi toraks bayi yang terinfeksi dengan organisme dari


dalam rahim atau melalui saluran kelamin ibu dapat
menunjukkan ground-glass appearance dan air

7
bronchograms. Terdapat infiltrat yang relatif homogen yang
menyerupai pola ground-glass appearance disertai sindrom
distres pernapasan adalah sugestif dari proses hematogen.

Gambar 2 . Konsolidasi lobus kanan bawah pada pasien dengan pneumonia


bacterial.

Gambar 3 . Foto toraks proyeksi anteroposterior pasien dengan pneumonia


lobaris

o Broncoscopy

Bronkoskopi dengan flexible fiberoptic berguna untuk mendapatkan


sekresi saluran napas bawah untuk pemeriksaan kultur atau sitologi.
Prosedur ini paling berguna pada pasien immunocompromised yang
diyakini terinfeksi dengan organisme yang tidak biasa
(Pneumocystis, jamur lain) atau pada pasien yang sakit parah.

8
Tidak adanya sel-sel inflamasi yang signifikan dalam aspirasi
endotrakeal atau spesimen pernafasan lainnya menunjukkan bahwa
organisme yang diambil dari lokasi tersebut bersifat tidak invasif
(kecuali bayi tersebut mengalami leukopenia nyata). Dengan
demikian, organisme merupakan kolonisasi saluran pernapasan dan
bukan infeksi.

2.6. Tatalaksana

Algoritma Tatalaksana Community Acquired Pneumonia pada Anak

Penilaian Derajat
RINGAN SEDANG BERAT
Keparahan

Usaha Bernafas Normal atau meningkat Meningkat sedang Sangat meningkat


ringan
Zona Biru SPOC Zona Kuning SPOC Zona Merah SPOC
Frekuensi Pernafasan Dalam batas normal Terus meningkat atau
sesuai usia Diatas normal sesuai usia terlihat kelelahan
Zona Putih SPOC Zona Kuning SPOC Zona Merah SPOC
Sulit mempertahankan
Saturasi Oksigen ≥95 % udara ruangan <95 % udara ruangan saturasi ≥95 % dengan
Oksigen 6 Lpm ATAU
<90% udara ruangan
Sirkulasi Normal Takikardia Takikardia/ syok
Capillary refill time ≥3 Capillary refill time ≥ 3
detik detik
MANAGEMENT RINGAN SEDANG BERAT
Gunakan oksigen dengan
humidifer untuk
Oksigen dipertahankan mempertahankan SpO2 di
Oksigen Tidak diperlukan
pada SpO2 diatas 95% atas 95%

Antibiotik antibiotik oral bila tidak dapat melalui antibiotik IV


oral, antibiotik IV

Analgesik obat analgesik diperlukan bila anak merasa tidak nyaman atau nyeri karena
pneumonia
Tidak diperlukan, bila tidak bisa melalui
Cairan Rehidrasi rehidrasi oral saja oral, gunakan NGT atau IV
IV
INVESTIGASI RINGAN SEDANG BERAT
Rontgent Thorax Tidak perlu Dipertimbangkan Diperlukan
Laboratorium Tidak perlu Dipertimbangkan Diperlukan

9
Keterangan :

SPOC = Standard Paediatric Observation Charts

Algoritma Pemberian Terapi Empirik Community Acquired Pneumonia

Community Acquired
Pneumonia

Viral Pneumonia Bacterial Pneumonia

Terapi suportif Indikasi rawat inap ?

(+/-) Antibiotik

Ya Tidak

Ada komplikasi CAP? Amoksisilin (PO)

ALTERNATIF

Ya Tidak Amoksisilin- clavulanat


ATAU cefuroxime (PO)

Ceftriakson / cefotaxime Ampicilin atau penicillin G


(IV) (IV)

Tambahan ALTERNATIF

Clindamycin / vancomycin Amoksisilin- clavulanat


(IV) untuk pasien suspek ATAU cefuroxime (IV)
MRSA

Gambar 4. Saudi Pediatric Infectious Diseases Society recommendations for the management of community-
acquired pneumonia in children aged >3 months.

10
Gambar 5. Terapi empiric pasien anak rawat jalan dengan CAP

Gambar 6. Terapi empiric pasien anak rawat inap dengan CAP

11
BAB III

Kesimpulan

Daftar Pustaka

1. Moffat D, Faiz O. 2014. Esofagus. Anatomi At a Glance. Jakart : Erlangga Medical Series

2. Infants and Children: Acute Management of Community Acquired Pneumonia. 2018.


Guideline Summary. New South Wales Health Journal

3. Etiologi http://www.who.int/bulletin/volumes/86/5/07-048769/en/ [Diakses pada tanggal


15 Agustus 2018 pukul 17:00]

4. Pemeriksaan Penunjang Pneumonia pada Anak


https://emedicine.medscape.com/article/1926980-overview#a1 [Diakses pada tanggal 15
Agustus 2018 pukul 17:20]

5. Alzomor O, Alhajjar S, Aljobair F, et al. 2017. Management of community-acquired


pneumonia in infants and children: Clinical practice guidelines endorsed by the Saudi
Pediatric Infectious Diseases Society. International Journal of Pediatrics and Adolescent
Medicine

6. Messinger AI, Kupfer O, Hurst A, Parker S. 2017. Management of Pediatric Community-


acquired Bacterial Pneumonia. Pediatrics in review. 38(9):394

12