Anda di halaman 1dari 21

10

Meter Gas Orifis

Meter gas orifis (orifice plate meter) adalah alat untuk mengukur aliran gas

berdasarkan pengukuran beda tekanan antara sisi hulu dan sisi hilir dari pelat orifis.

Orifice plate meter dapat diklasifikasikan sebagai differential pressure meter dan ada

beberapa cara dalam pengukuran untuk tipe meter dari jenis ini tergantung dari

perbedaan bentuk dan ukuran yang mana dikatagorikan ataupun disimpulkan

pengukuran aliran adalah hasil dari pengukuran beda tekanan yang disebabkan oleh

pembatas pada diameter pipa tersebut.

Sampai saat ini meter gas orifis masih sangat popular digunakan pada

perusahaan yang berkecimpung dalam bisnis gas disebabkan karena meter tersebut

sangat kuat dan sederhana sekali apalagi dalam pemeliharaannya.

2.1.1 Diameter Orifis

Diameter orifis rata-rata saat pengukuran tidak boleh berbeda dengan diameter

orifis yang digunakan dalam perhitungan faktor orifis dasar atau dari setiap diameter

dengan suatu ukuran yang mempunyai toleransi lebih besar dari yang ditunjukkan

pada tabel 1.
11

Tabel 1. Toleransi praktis untuk diameter orifis

No Diameter Orifis, d (inchi) Toleransi (  inchi)


1 0,250 0,0003
2 0,375 0,0004
3 0,500 0,0005
4 0,625 0,0005
5 0,750 0,0005
6 0,875 0,0005
7 1,000 0,0005
8 di atas 1,000 0,0005 per inch dari diameter
(GPSA, 1987 : 3-8).

Dalam menentukan diameter orifis diperlukan data-data sebagai berikut :

 Diameter dalam pipa, ID

 Specifik Gravity, SG

 Temperatur aliran gas (flowing temperature), Tf

 Tekanan alir gas (static pressure), Pf

 Perkiraan laju aliran gas (flowrate estimate), Qh

 Beda tekanan (differential pressure), hw

Contoh perhitungan untuk menentukan diameter orifis :

Suatu meter diketahui flowrate-nya 100 MMscfd, dengan spesifik gravity 0,67.

Tekanan aliran 700 psig, diameter dalam pipa 18.00 inchi, beda tekanan (P) 50 inchi

H2O, temperatur aliran 100 0 F. Tentukan diameter orifis yang dibutuhkan !

Penyelesaian :

Dengan persamaan Q = C1 hw. pf maka diameter orifis bisa dicari.


12

Q
C1 = 24 hw. pf

Diketahui : hw = 50

Pf = 700 + 14,7 = 714.7

Fg = 1 / sg = 1 / 0,67 = 1,2217

Ftf =  460  60  /  460  100   0,9636

100  10 6
C1 = 24 50  714,7 = 22041,53647

Untuk konstanta CI, kecuali faktor Fb, Fg dan faktor Ftf, maka faktor yang lain

bisa diabaikan.

C1 22041,53647
Fb = = = 18723,21825
Fg  Ftf 1,2217  0,9636

Sebagai contoh jika Fb diketahui maka hasilnya dapat dilihat pada lampiran 16,

faktor orifis dasar untuk tap flensa pada diameter pipa 18,00 inchi, dan hasilnya

adalah diameter orifis berikut :

d Fb
9,250 17951
? 18723,21825
9,500 19008

Untuk mendapatkan harga d pada Fb = 18723,21825 maka dengan diinterpolasi

akan mendapatkan diameter orifis :

18723,21825  17951
d  9,250    9,500  9,250  = 9,433 inchi.
19008  17951
13

Karena harga d dari hasil interpolasi adalah 9,433 inchi, yang mana tidak ada

dalam tabel maka untuk diameter orifis diambil yang paling mendekati yaitu 9,500

inchi atau yang tersedia di pasaran.

Pembatasan Rasio Beta

Pembatasan rasio beta yaitu perbandingan diameter orifis terhadap diameter

tube meter  = d/D sebagai berikut :

1. Meter yang menggunakan tap flensa, rasio beta harus diantara 0.15 dan 0.70.

2. Meter yang menggunakan tap pipa, rasio beta harus diantara 0.2 dan 0.67.

(Handono, 1999 : 18).

Jenis Pelat Orifis

Bentuk lubang orifis bermacam-macam (lihat gambar 4), dan sesuai dengan

bentuk lubang tersebut dan letaknya serta penggunaannya maka jenis orifis dibagi

menjadi tiga, yaitu :

a). Tipe Concentric, merupakan tipe yang paling banyak dipakai, yang dipergunakan

untuk suatu range yang luas dari fluida seperti air, steam dan gas. Fluida yang

diukur harus bersih, tidak boleh mengandung zat padat yang abrasive yang akan

menyebabkan erosi.

b). Tipe Excentric, dipakai untuk mengukur fluida yang masih mengandung partikel.

c). Tipe Segmental, khusus dipakai pada aliran berat, yaitu fluida yang mengandung

bagian-bagian padat atau suatu aliran yang bersifat korosif. (Rudolf, 1998 : 27).
14

a. Concentric b. Excentric a. Segmental

Gambar 4. Macam pelat orifis

Ketebalan Tepi Orifis

Ketebalan tepi orifis hendaknya dibatasi yaitu e  D/50 atau e  d/8. Dimana D

adalah diameter luar orifis dan d adalah diameter lubang orifis. Ketentuan mengenai

ketebalan tepi orifis dapat dilihat pada lampira 4. (SNI, 1994 : 2-5 s.d. 2-8).

Tepi hulu orifis harus persegi dan tajam sehingga tidak menimbulkan pantulan

sinar ketika diperiksa dengan pengukur tepi orifis, atau tidak memantulkan berkas

sinar bila dilihat tanpa kaca pembesar. Pelat orifis tidak boleh mempunyai tepi yang

kasar dan berserabut, kondisi ini harus dipelihara setiap waktu.

Spesifikasi Tube Meter

Yang dimaksud tube meter adalah pipa lurus sebelah hulu dengan diameter

sama (sepanjang A-A’ pada lampiran 6 s.d 10), mencakup pelurus aliran (jika
15

digunakan), flensa (orifis fiting) dan pipa sebelah hilir yang berdiameter sama dengan

pipa hulu (sepanjang B pada pada lampiran 6 s.d 10) dan tidak termasuk pelat orifis.

Toleransi diameter dan restriksi dari permukaan dalam tube meter adalah :

1. Perbedaan antara diameter maksimum dan minimum tube meter terukur pada

seksi hulu harus tidak melampaui toleransi yang diijinkan pada lampiran 11

sebagai suatu persentase.

2. Dinding pipa bagian dalam harus halus dimana kekasaran tidak boleh melebihi

300 mikroinchi.

3. Perubahan yang mencolok pada diameter dalam (groove/alur, pit/lekukan,

ridge/tonjolan) tidak boleh ada dalam tube meter.

4. Bagian permukaan dalam dari tube meter harus selalu bersih sepanjang waktu dan

bebas dari akumulasi kontaminasi (kotoran, cairan, dan sebagainya).

Diameter Bagian Dalam Tube Meter

Diameter dalam tube meter rata-rata harus ditentukan sebagai berikut :

1. Pengukuran diameter dilakukan sekurang-kurangnya empat kali dengan spasi

yang sama dalam satu bidang, 1 inchi dari permukaan hulu pelat orifis. Rata-rata

dari keempat atau lebih pengukuran diidentifikasikan sebagai diameter tube rata-

rata yang akan digunakan dalam kalkulasi koefisien alir untuk mencapai

ketidaktentuan minimum dari variabel ini.

2. Pengukuran untuk memeriksa diameter dalam tube meter hulu harus dilakukan

pada dua atau lebih seksi penampang tambahan. Lokasi aktual dari pengukuran
16

untuk mengecek diameter, secara melingkar dan aksial sepanjang tube tidak

dispesifikasikan. Pengecekan harus pada titik-titik yang menunjukkan diameter

maksimum dan minimum yang ada, yang mencakup paling sedikit dua diameter

pipa dari permukaan pelat orifis atau melewati flensa atau lasan fiting, dipilih

yang mana jaraknya lebih panjang. Pengukuran pengecekan dilakukan untuk

verifikasi keseragaman diameter internal tube meter seksi hulu tetapi tidak

menjadi bagian penentuan diameter internal tube meter rata-rata.

3. Pengukuran diameter dalam dari seksi hilir tube meter harus dibuat pada bidang

penampang berjarak 1 inchi dari permukaan hilir pelat orifis.

Peralatan Pendukung Pengukuran Aliran Gas

Ada beberapa peralatan pendukung pengukur aliran gas dalam sistem meter

orifis, yaitu :

a. Differential Pressure Transmitter (DPT);

b. Presuure Transmitter (SPT);

c. Temperatur Transmitter (TT); dan

d. Flow Recorder.

Masing-masing peralatan tersebut di atas akan dijelaskan satu per satu dalam

sub-sub bab di bawah ini.

Differential Pressure Transmitter


17

Peralatan ini digunakan untuk mengukur perbedaan tekanan yang terjadi pada

bagian hulu dan hilir pelat orifis secara fisis dan dihubungkan dengan masing-masing

sistem membrane selanjutnya dihubungkan dengan Amplifier Board dan kemudian

diterjemahkan atau dirubah keluarannya menjadi sinyal standar 4-20 mA DC.

Terdapat ZERO dan SPAN untuk menadjust (menambah atau mengurangi) jika

mengalami perubahan besaran angka yang dibandingkan dengan hasil besaran listrik

yang dikeluarkan oleh Multimeter pada saat kalibrasi.

Ada fasilitas mengubah range atau kemampuan dari transmitter akan lebih

rendah atau lebih tinggi, namun tidak boleh lebih dari batasan (range) spesifikasi

yang ditentukan oleh pabrik yang tertera pada peralatan tersebut.

Pressure Transmitter

Peralatan ini digunakan untuk mengukur tekanan alir gas dengan sistem

membrane dan dihubungkan dengan Amplifier Board yang selanjutnya merubah

satuan tekanan menjadi sinyal output berupa sinyal standar 4-20 mA DC.

Terdapat ZERO dan SPAN untuk menadjust (menambah atau mengurangi) jika

mengalami perubahan besaran angka yang dibandingkan dengan hasil besaran listrik

yang dikeluarkan oleh Multimeter pada saat kalibrasi.

Ada fasilitas mengubah range atau kemampuan dari transmitter akan lebih

rendah atau lebih tinggi, namun tidak boleh lebih dari batasan (range) spesifikasi

yang ditentukan oleh pabrik yang tertera pada peralatan tersebut.

Temperatur Transmitter
18

Peralatan ini hanya digunakan untuk mengukur temperatur gas secara fisis

dengan sistem RTD probe dan dihubungkan dengan Amplifier Board selanjutnya

diterjemahkan atau dirubah keluarannya menjadi sinyal standar 4-20 mA DC.

Terdapat ZERO dan SPAN untuk menadjust (menambah atau mengurangi) jika

mengalami perubahan besaran angka yang dibandingkan dengan hasil besaran listrik

yang dikeluarkan oleh Multimeter pada saat kalibrasi.

Ada fasilitas mengubah range atau kemampuan dari transmitter akan lebih

rendah atau lebih tinggi, namun tidak boleh lebih dari batasan (range) spesifikasi

yang ditentukan oleh pabrik yang tertera pada peralatan tersebut.

Flow Recorder

Peralatan flow recorder bisa dikatakan dengan sistem pengukuran 3 pens dan

merupakan alat ukur gas yang paling sederhana yang sering dijumpai di lapangan

stasiun meter sebagai ITT BARTON tipe 220 A/E.

Cara kerjanya dimana ada aliran gas yang mengalir di dalam pipa yang terdapat

fasilitas orifis meter yang selanjutnya akan diukur beda tekanan, tekanan dan

temperatur alir gas dan akan dicatat oleh ketiga pen tersebut yang terbentuk pada

suatu grafik bundar (circle chart) secara terus menerus selama 24 jam.

Jenis grafik bundar ada 3 dilihat dari pembagian skala chart, yaitu :

1. Uniform Chart, merupakan jenis chart yang pada persen penambahan yang sama

memerlukan lebar span yang sama pula pada chart (bersifat perbandingan tetap

atau linier).
19

2. Square Root Chart, merupakan jenis chart yang pada persen penambahan yang

sama tidak membutuhkan lebar span yang sama pada chart (bersifat perbandingan

akar atau root square).

3. Uniform dan Square Root Chart, merupakan chart yang berbentuk gabungan

dari bentuk uniform chart dan square root chart.

Guna mempermudah pembacaan dan membedakan antara beda tekanan

(differential pressure) dan tekanan statis (static pressure), maka pada skala chart

recorder dibedakan dengan warna pen, yaitu :

 Warna merah menunjukkan Differential Pressure;

 Warna biru menunjukkan Static Pressure;

 Warna hijau menunjukkan Temperatur.

Kemudian hasil catatan pada grafik bundar ini dibaca dengan alat Planimeter

sehingga nilai rata-rata dari beda tekanan, tekanan statis, dan temperatur alir dapat

diperoleh dengan lebih akurat.

Variabel yang Diukur

Untuk menghitung flowrate gas pada meter orifis, pada umumnya ada tiga

parameter yaitu beda tekanan (differential pressure), Tekanan statis (static pressure)

dan temperatur. Parameter-parameter tersebut diukur masing-masing oleh Differential

Pressure Transmitter, Pressure Transmitter, dan Temperatur Transmitter secara terus

menerus selama 24 jam yang kemudian sinyal pengukurannya dikirim ke peralatan


20

DCS (Distributed Control System). Selain itu ketiga parameter tersebut juga diukur

dan dicatat oleh Flow Recorder.

Persamaan Umum dan Perhitungan Laju Alir Gas Orifis Meter

Persamaan yang mendasari perhitungan laju alir (flowrate) gas pada umumnya

menggunakan formula AGA (American Gas Assosiation) Report No. 3 ANSI/API

2530 – 1985, yaitu :

Q  CI H W . Pf

Dimana : Q = Laju aliran gas dalam kondisi dasar, cuft/jam (kondisi dasar untuk

temperatur = 60 oF dan untuk tekanan = 14,73 psia);

CI = Konstanta aliran orifis;

hw = Beda tekanan antara bagian hulu dan hilir dari orifis, in H2O;

Pf = Tekanan aliran gas (static pressure), Psia.

Rumus di atas berdasar pada prinsip fisika, jika kehilangan atau berkurangnya

tekanan pada fluida yang mengalir melalui suatu penghalang akan berbanding

langsung dengan kuadrat kecepatan fluida tersebut. Dengan adanya pernyataan ini

maka dengan memberikan suatu penghalang terhadap aliran fluida dan mengukur

kehilangan tekanan fluida setelah melewati penghalang tersebut maka akan dapat

dihitung jumlah volume aliran fluidanya.

1. Konstanta Aliran Orifis, CI


21

Konstanta aliran orifis atau sering disingkat CI adalah jumlah aliran fluida

dalam ft3/jam pada suhu dan tekanan dasar dan ekstensi tekanan (h w.Pf). Besarnya

konstanta aliran orifis dinyatakan dengan persamaan berikut :

CI = ( Fb )( Fr )( Y )( Fpb )( Ftb )( Ftf )( Fg )( Fpv )( Fm )( F1 )( Fa )

Dimana :

Fb = Faktor orifis dasar

Fr = Faktor bilangan Reynolds

Y = Faktor ekspansi

Fpb = Faktor tekanan dasar

Ftb = Faktor suhu dasar

Ftf = Faktor suhu saat gas mengalir

Fg = Faktor spesifik gravity

Fpv = Faktor super kompressibilitas

Fm = Faktor manometer

F1 = Faktor lokasi pengukuran

Fa = Faktor ekspansi thermal orifis

Pada rumus di atas CI diperoleh dari perkalian Fb dengan 10 buah faktor koreksi

atau dengan kata lain CI adalah sama dengan faktor dasar aliran orifis F b yang telah

dikoreksi. Kesebelas faktor di atas dapat dicari dengan menggunakan tabel dan rumus

yang tercakup dalam standar AGA (American Gas Assosiation) Report No. 3

ANSI/API 2530 - 1985.


22

2. Faktor Orifis Dasar, Fb

Faktor orifis dasar atau disebut juga faktor dasar aliran orifis, besarnya dihitung

dengan kondisi suhu dasar,Tb = 60 0F atau 520 0R. Besar Fb juga tergantung pada letak

tempat asal pengukuran beda tekanan (tap flensa atau tap pipa), diameter dalam pipa

dan diameter orifis. Faktor orifis dasar Fb dikalkulsi menggunakan persamaan empiris

berikut :

Fb = 338,17 d2 K0

Harga Ko untuk tap flensa atau tap pipa :

Ke
K0 
1  (15.E / d .10 6 )

Harga Ke untuk tap flensa :


5
5
0,007  0,076  4  1  0,5 2
Ke  0,5993   0,364  0.5 
  0,41,6   (0,07  )
D  D   D  D 

 0,034   65 
- 0,009   (0,5   ) 3 / 2 (0,5   ) 3 / 2   2  3 (   0,7) 5 / 2
 D  D 

Harga Ke untuk tap pipa :

0,0182  0,06  2  0,225  5 1,43


Ke = 0,5925   0,440     0,935     1,35 14  0.5
D  D   D  D

(0,25 -  )5/2

Catatan : Bagian–bagian yang pangkat pecahan atau pada persamaan tersebut yang

digaris bawahi hasilnya negatif ( - ), maka bagian tersebut dianggap nol.

Harga E diperoleh dengan persamaan sebagai berikut :


23

E = d (830 – 5000  + 9000 2 – 4200 3 + B)

d

D

530
B untuk tap flensa
D 0,5

875
B  75 untuk tap pipa
D

Dimana :

d = Diameter orifis, inchi

D = Diameter dalam pipa, inchi

 = Perbandingan diameter orifis dengan diameter dalam pipa

K0 = Koefisien alir pada Rd sama dengan tak terhingga

d .10 6
Ke = Koefisien alir pada bilangan Reynolds orifis yang Rd 
15

Rd = Bilangan Reynolds pada diameter orifis

Faktor orifis dasar Fb untuk berbagai macam diameter orifis dan diameter pipa

dapat dilihat pada lampiran . Tapi bila ukuran orifis dan diameter dalam pipa tidak

terdapat pada tabel tersebut, maka untuk menghitungnya dilakukan tidak dengan

interpolasi, melainkan menurut rumus dalam AGA Report No. 3.

3. Faktor Tekanan Dasar, Fpb

Faktor tekanan dasar Fpb adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi

persamaan laju aliran gas ke kondisi tekanan dasar, yang dihitung pada suatu keadaan

sehingga nantinya akan menghasilkan volume gas pada tekanan basis Pb = 14,73 psi
24

absolut. Jadi bila untuk perhitungan volume gas yang digunakan tekanan basis P b

yang besarnya bukan 14,73 psi absolut maka harus diadakan koreksi terhadap tekanan

basis dengan rumus :

14,73
Fpb = , Pb adalah tekanan dasar sesuai dengan perjanjian.
pb

Faktor Fpb juga bisa dilihat pada lampiran.

4. Faktor Suhu Dasar, Ftb

Faktor suhu dasar Ftb adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi

persamaan laju aliran gas ke kondisi suhu dasar, yang dihitung pada suatu keadaan

sehingga nantinya akan menghasilkan volume gas pada suhu dasar Tb = 60 oF. Jadi

bila untuk perhitungan volume gas digunakan suhu basis Tb yang besarnya tidak sama

dengan 60 oF atau 520 oR maka harus diadakan koreksi terhadap suhu basis, dengan

persamaan :

Tb  460
Ftb 
520

Dimana : Tb adalah suhu basis absolut sesuai dengan perjanjian

Faktor Ftb bisa juga dilihat pada lampiran

5. Faktor Specifik Gravity, Fg

Faktor specifik gravity atau faktor berat jenis spesifik F g adalah faktor koreksi

untuk gas yang berat jenis spesifikasinya berbeda dengan udara, yang dihitung

berdasarkan gas yang mempunyai spesifik gravity = 1,00. Bila gas yang volumenya
25

akan dihitung mempunyai spesifik gravity tidak sama dengan 1,00 maka harus

dikoreksi terhadap spesifik gravity dengan persamaan :

Fg  1/ G

Faktor Fg juga bisa dilihat pada lampiran.

6. Faktor Suhu Aliran, Ftf

Faktor suhu aliran Ftf adalah faktor koreksi untuk suhu aliran sebenarnya dari

gas. Faktor orifis dasar Fb dihitung berdasarkan suhu aliran gas Tf yang besarnya 60
0
F. Bila gas yang volumenya akan dihitung mempunyai suhu aliran tidak sama dengan

60 0F atau 520 0R, maka harus diadakan koreksi terhadap suhu aliran gas dengan

rumus :

520
Ftf  atau Ftf  520 /(460  T f )
Tf

Faktor Ftf juga bisa dilihat pada lampiran.

7. Faktor Bilangan Reynolds, Fr

Faktor bilangan Reynolds Fr adalah faktor yang digunakan sebagai dasar untuk

menghubungkan keadaan sebenarnya dengan kondisi yang dipakai dalam

menentukan faktor orifis dasar. Bilangan Reynolds Re diperoleh dari :

Re = Kecepatan x diameter x densitas, atau dapat ditulis


Viskositas absolut

xVxd
Dengan Re = 
, dan tidak ada satuannya
26

Karena faktor orifis dihitung dengan menganggap bahwa pengaruh perubahan

viskositas fluida dapat diabaikan, walaupun tidak selamanya demikian maka suatu

faktor koreksi terhadap bilangan Reynolds harus diadakan berdasarkan rumus :

b
Fr = 1 + ( H .P ) 0.5
w. f

Harga b untuk berbagai macam diameter orifis dan diameter pipa dapat dilihat pada

lampiran, atau dengan persamaan :

E
b =
12835dK

Harga K bisa dilihat pada lampiran atau dengan persamaan berikut :

0,604
K =
(1   4 ) 0.5

8. Faktor Ekspansi, Y

Faktor ekspansi Y adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi persamaan

laju aliran gas akibat perbedaan densitas gas pada waktu melewati orifis yaitu dari

daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan lebih rendah. Bila suatu gas melewati suatu

orifis, gas tersebut akan mengalami perubahan kecepatan dan tekanan yang juga

diikuti oleh perubahan gravitasi. Karena itu untuk mengoreksi diperlukan faktor

ekspansi. Faktor ekspansi dipengaruhi oleh :

1. Lokasi pengukuran beda tekanan (tap flensa atau tap pipa) ;

2. Lokasi pengukuran tekanan statis (dari hilir atau hulu orifis);

3. Beta rasio, yaitu perbandingan diameter orifis (d) terhadap diameter pipa (D).
27

4. Perbandingan beda tekanan dan tekanan statis ;

5. Perbandingan panas spesifik, cp/cv semua chart yang diterbitkan oleh AGA

Report No. 3 ANSI/API 2530 - 1985 didasarkan pada anggapan bahwa nilai

perbandingan cp/cv = k = 1,3.

Apabila cp/cv berbeda jauh dengan 1,3 maka faktor ekspansi dikoreksi :

1,3
Y1 terkoreksi = 1 – ( 1 – Y1 ) ( )
k

 Y terkoreksi 
Y2 Terkoreksi = Y2  1 
 Y1 

Dimana :

Y1 = adalah faktor ekspansi bila tekanan statis diukur dari hulu orifis.

Y2 = adalah faktor ekspansi bila tekanan statis diukur dari hilir orifis.

Harga Y dapat dilihat juga pada lampiran 23.

9. Faktor Super Kompresibitas, Fpv

Faktor super kompressibilitas Fpv adalah faktor yang digunakan untuk

mengoreksi penyimpangan dari keadaan gas ideal (PV=nRT). Untuk gas nyata

(PV=ZnRT), dimana Z adalah faktor kompresibilitas. Untuk gas bertekanan rendah

harga Z mendekati 1, dan bila tekanan gas semakin tinggi harga Z semakin

menyimpang dari 1. Disamping tekanan, harga Z juga tergantung dari komposisi gas.

Kandungan CO2 dan N2 sebagai pengencer juga mempengaruhi harga Fpv.


28

Untuk menghitung Fpv, maka dalam AGA Report No. 3 ANSI/API 2530 - 1985

telah disusun suatu tabel, bila kondisi suhu dan tekanan diketahui maka F pv dapat

dihitung, dengan ketentuan persamaan yang digunakan sebagai berikut :

1. Bila specific gravity antara 0,560 s/d 0,750

 Fp xPf x3.444 x10 5 x101.785 xSG 


Fpv = 1  3.825 
 FT xT f 

2. Bila specific grafity 0,760 s/d 0,950

 Fp xPf x9.16 x10 5 x101.785 xSG 


Fpv = 1  3.825 
 FP xT f 

156,47
Fp = , dimana Kp = % CO2 – (0,392 x % N2)
160,8  (7,22 xG )  K P

226,29
FT = , dimana KT = % CO2 – (1,681 x %
99,15  ( 211,9 xG )  K T

N2)

Dimana : Pf = Tekanan operasi + 14.73 psia

Tf = Temperatur operasi + 460 0R

Faktor Fpv bisa dilihat juga pada lampiran 24a-24b.

10. Faktor Manometer, Fm


29

Faktor Fm adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi berat gas di atas

kolom air raksa dan perubahan densitas air raksa pada suhu selain 60 oF. Faktor ini

berlaku untuk meter orifis air raksa, sedangkan orifis jenis bellow harga F m = 1.000.

Harga Fm tergantung pada tekanan statis, spesifik gravity, dan suhu sekeliling, dan Fm

bisa dilihat pada lampiran atau dengan persamaan berikut:


0, 5
 m  g 
Fm   
 846,324 

Dimana : m = Densitas air raksa pada ambient temperatur dan standard gravity,

lb/cuft.

g = Densitas gas di atas kolom air raksa pada ambient temperatur dan

tekanan static pengukuran, lb/cuft.

11. Faktor Ekspansi Termal Orifis, Fa

Faktor ekspansi thermal Fa adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi

penyimpangan garis tengah orifis (pemuaian atau penyusutan orifis) akibat perubahan

suhu ekstrim, yaitu bila suhu operasi berbeda dengan suhu standar pengukuran

dimensi orifis. Faktor ekspansi thermal dihitung dengan persamaan :

1. Untuk orifis terbuat dari stainless steel tipe 304 dan 316 :

Fa = 1 +  0.0000185 (0F – 60)

2. Untuk orifis terbuat dari monel :

Fa = 1 +  0.0000159 (0F – 60)

Dimana : 0F = suhu aliran gas di orifis, oF.


30

Faktor ekspansi Fa juga dapat dilihat pada lampiran 26.

12. Faktor Letak Pengukuran Berdasarkan Garis Lintang, F1

Faktor lokasi pengukuran F1 adalah faktor yang digunakan untuk mengoreksi

bila tempat pengukuran tidak terletak di garis lintang 45o dan di ketinggian sama

dengan permukaan laut. Hal ini hanya dilakukan pada meteran tipe air raksa.

Faktor letak pengukuran ini sebenarnya merupakan koreksi terhadap gaya tarik

bumi yang besarnya = 980.665 cm/detik kwadrat pada garis lintang 45 0 pada

permukaan laut. Untuk menentukan F1 bisa dilihat pada lampiran 25 atau dengan

persamaan berikut :
0,5
 g1 
F1    , dimana g1 = Percepatan gravity lokal, cm/det2
 980,665 

(AGA 3, 1985) dan (Pertamina, 1998 : 16-34).

Contoh Perhitungan