Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Karir merupakan kondisi yang menunjukan adanya peningkatan

jenjang jabatan dan jenjang pangkat bagi seorang pegawai negeri pada suatu

organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam organisasinya.

Pengembangan karir bidan merpakan kondisi yang menunjukan adanya

peningkatan jejang jabatan dan jenjang pangkat bagis seorang pegawai dengeri

pada suatu organisasi dalam jalur karir yang telah ditetapkan dalam organisasi.

Pengembangan karir bidan meliputi karir fungsional dan karir

struktural. Paa saat ini pengembangan karir bidan secara fungsional telah

disiapkan dengan jabatan fungsional bagi bidan, serta melalui pendidikan

berkelanjutan baik secara formal maupun non formal yang hasil akhirnya akan

meningkatkan kemampuan profesional bidan dalam melaksanakan fungsinya.

Fungsi bidan nantinya sebagai pelaksana (pendidik, peneliti, bidan

koordinator dan bidan penyedian. Sedangkan karir bidan dalam jabatan

struktural tergantung dimana bidan bertugas apakah di Rumah Sakit,

Puskesmas, Bidan di desa, atau instansi swasta

Karir tersebut dapat dicapai oleh bidan di tiap tatanan pelayanan

kebidanan/kesehatan sesuai dengan tingkat kemampuan, kesempatan kebijakan

yang ada.

1
B. Rumusan masalah

C. Tujuan

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Reflektif Practice

1. Pengertian reflektif practice

Praktek reflektif adalah kemampuan untuk mencerminkan pada

tindakan sehingga untuk terlibat dalam proses pembelajaran yang

berkelanjutan, yang menurut pencetus istilah, adalah salah satu karakteristik

mendefinisikan praktek profesional. Refleksi juga dapat diartikan sebagai

suatu tindakan atau kegiatan untuk mengetahui serta memahami apa yang

terjadi sebelumnya, belum terjadi, dihasilkan apa yang belum dihasilkan,

atau apa yang belum tuntas dari suatu upaya atau tindakan yang telah

dilakukan (Tahir, 2011: 93). Istilah refleksi di sini dipahami dalam

pengertian khas, yaitu suatu upaya menyimak dengan penuh perhatian

terhadap bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi

spontan untuk mengerti pentingnya pemahaman mendalam sampai pada

makna dan konsekuensinya.

Refleksi berarti kegiatan yang dilakukan untuk mengingat kembali

suatu tindakan yang telah dilakukan dalam observasi. Refleksi mengkaji

ulang apa yang telah terjadi atau mempertimbangkan proses, permasalahan,

isu, dan kekurangan yang ada atau yang belum tuntas dari strategi penelitian

3
yang telah dilakukan. Refleksi menjadi dasar untuk mengetahui kembali

rencana tindakan dengan memperhatikan variasi perspektif yang mempunyai

aspek evaluatif bagi peneliti untuk mempertimbangkan atau menilai

apakah dampak tindakan yang timbul sudah sesuai dengan yang diinginkan

dan membuat perencanaan kembali. Langkah selanjutnya setelah

pelaksanaan tindakan dan observasi merupakan refleksi hasil pengamatan,

melalui refleksi maka dapat diketahui atau dipahami kelebihan dan

kekurangan yang terjadi dalam penelitian tindakan (Uno, dkk, 2012: 69).

Kegiatan mengingat, merenungkan, mencermati, dan menganalisis

kembali suatu tindakan yang telah dilakukan dalam observasi merupakan

refleksi yang dalam penelitian tindakan kelas akan memahami proses,

masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam tindakan yang telah

dilakukan selama proses pembelajaran. Dalam melakukan kegiatan refleksi

guru selain berperan sebagai peneliti itu sendiri juga harus bekerjasama

dengan guru yang sama mata pelajaran namun berbeda kelas atau peneliti

dari perguruan tinggi agar refleksi dapat dilakukan sampai pada tahap

pemaknaan tindakan dan situasi dalam pembelajaran yang ada sehingga

dapat memberikan dasar untuk memperbaiki rencana tindakan yang akan

dilakukan selanjutnya (Asrori, 2009: 54).

Refleksi praktik dalam pelayanan kebidanan dimaksudkan sebagai

bentuk pedoman/acuan yang merupakan kerangka kerja seorang bidan

dalam memberikan asuhan kebidanan, dipengaruhi oleh filosofi yang dianut

bidan (filosofi asuhan kebidanan) meliputi unsur-unsur yang terdapat dalam

4
paradigma kesehatan (manusia-perilaku, lingkungan & pelayanan

kesehatan). Dalam praktek kebidanan, pemberian asuhan kebidanan yang

berkualitas sangat dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara

bidan membina hubungan, baik sesama rekan sejawat ataupun dengan orang

yang diberi asuhan. Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan juga

ditentukan oleh ketrampilan bidan untuk berkomunikasi secara efektif dan

melakukan konseling yang baik kepada klien.

Bidan merupakan ujung tombak memberikan pelayanan yang

berkuliatas dan sebagai tenaga kesehatan yang professional, bekerja sebagai

mitra masyarakat, khususnya keluarga sebagai unit terkecilnya, yang berarti

bidan memiliki posisi strategis untuk memberikan pelayanan kesehatan yang

bersifat holistik komprehensif (berkesinambungan, terpadu, dan paripurna),

yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam

upaya mencapai terwujudnya paradigma sehat. Jadi seorang bidan dituntut

untuk menjadi individu yang professional dan handal memberikan

pelayanan yang berkualitas karena konsep kerjanya berhubungan dengan

nyawa manusia.

2. Hak dan kewajiban bidan

Hak dan kewajiban adalah hubungan timbal balik dalam kehidupan

sosial sehari-hari. Pasien memiliki hak terhadap bidan atas pelayanan yang

diterimanya. Hak pasti berhubungan dengan individu, yaitu pasien.

Sedangkan bidan mempunyai kewajiban/keharusan untuk pasien, jadi hak

adalah sesuatu yang diterima oleh pasien. Sedang kewajiban adalah suatu

5
yang diberikan oleh bidan. Seharusnya juga ada hak yang harus diterima

oleh bidan dan kewajiban yang harus diberikan oleh pasien.

a. Hak bidan

1) Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melakasanakan

tugas sesuai denga profesinya.

2) Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap

tingkat/jenjang pelayanan kesehatan.

3) Bidan berhak menolak keinginan pasien/ klien dan keluarga yang

beertentangan dengan peraturan perundangan, dan kode etik profesi.

4) Bidan berhak atas privasi/kedirian dan menuntut apabila nama

baiknya dicemarkan oleh pasien, keluarga maupun profesi lain.

5) Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui

pendidikan maupun pelatihan.

6) Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan

jabatan yang sesuai.

7) Bidan berhak mendapatkan kompensasi dan kesahjeteraan yang

sesuai.

b. Kewajiban bidan dalam pengabdian profesinya

1) Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat

a) Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan

mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas

pengabdiannya.

6
b) Setiap bidan dalam menjalankan tugas proofesinya menjunjung

tinggi harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara

citra bidan

c) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman

pada peran tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien,

keluarga dan masyarakat

d) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan

kepentingan klien, menghormati hak klien, dan menghormati nilai –

nilai yang berlaku dimasyarakat

e) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan

kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan indentitas yang

sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang

dimilikinya.

f) Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam

hubungan pelaksanaan tugasnya, dengan mendorong partisipasi

masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal

2) Kewajiban terhadap tugasnya

a) Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna terhadap

klien, keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesi

yang dimilikinya berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan

masyarakat

7
b) Setiap bidan berhak memberikan pertolongan dan mempunyai

kewenangan dalam mengambil keputusan mengadakan konsultasi dan

atau rujukan

c) Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat dan

atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilan

atau diperlukan sehubungan kepentingan klien

3) Kewajiban bidan terhadap sejahwat dan tenaga kesehatan lainnya

a) Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya

untuk menciptakan suasana kerja yang serasi

b) Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling

menghormati baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan

lainnya.

4) Kewajiban bidan terhadap profesinya

a) setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra

profesinya dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan

memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat

b) Setiap bidan harus senantiasa mengembangkan diri dan

mmeningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi

c) Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan

kegiatan sejenisnya yang dapat meniingkatkan mutu dan citra

profesinya

8
5) Kewajiban bidan terhadap diri sendiri

a) Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dapat

melaksanakan tugas profesinya dengan baik.

b) Setiap bidan harus berusaha secara terus – menerus untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

6) Kewajiban bidan terhadap pemerintah

a) Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan

ketentuan – ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan,

khususnya dalam palayanan KIA / KB dan kesehatan keluarga dan

masyarakat

b) Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan

pemikirannya kepada pemerintahan untuk meningkatakan mutu

jangkauan pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA / KB dan

kesehatan keluarga.

3. Etiko legal

a. Etik dan etika

1) Pengertian

Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya

tingkah laku manusia, baik secara sendirian maupun bersama-sama dan

mengatur hidup ke arah tujuannya (Pastur scalia, 1971). Etika juga

berasal dari bahasa yunani, yaitu Ethos, yang menurut Araskar dan

9
David (1978) berarti ” kebiasaaan ”. ”model prilaku” atau standar yang

diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan.

Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang

perilaku benar atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan

dengan perilaku. Perilaku adalah respon individu terhadap stimulus atau

suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik,

durasi dan tujuan baik disadari ataupun tidak. Secara sederhana dapat

dikatakan bahwa etik adalah disiplin yang mempelajari tentang baik dan

buruk sikap dan perilaku manusia.

Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola

atau cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar

seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional. Berdasarkan uraian

diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang digunakan

untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa

yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain. Sehingga

juga dapat disimpulkan bahwa etika mengandung 3 pengertian pokok

yaitu (1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak

dan kewajiban moral, (2) Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan

dengan akhlak, (3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu

golongan atau masyarakat (DepDikbud).

10
Terdapat lagi beberapa teori etik, sebagai berikut:

a) Utilitarisme

Sesuai dengan namanya Utilitarisme berasal dari kata utility dengan

bahasa latinnya utilis yang artinya “bermanfaat”. Teori ini

menekankan pada perbuatan yang menghasilkan manfaat, tentu bukan

sembarang manfaat tetapi manfaat yang banyak memberikan

kebahagiaan kepada banyak orang. Teori ini sebelum melakukan

perbuatan harus sudah memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.

Contoh:

(1) Mengambil keputusan antara melahirkan normal dan melahirkan

secara operasi sesar membawa konsekuesi tersendiri. Namun

keduanya bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

(2) Mempertahankan kehamilan yang beresiko tinggi misalnya

mempertahankan sampai bayi aterm (cukup bulan) bisa

mengakibatkan hal yang tidak nyaman bagi keluarga, namun hal

tersebut bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya.

Dalam pelaksanaannya, teori ini mempunyai beberapa kelemahan,

yaitu:

(1) Ukuran manfaat tidak jelas. Setiap orang memiliki konsep yang

berbeda tentang manfaat

(2) Perbedaan prioritas. Setiap orang mempunyai skala prioritas yang

berbeda, sehingga jika mengukur manfaat terhadap sesuatu hal,

pendapat orang akan berbeda.

11
(3) Manfaat siapa yang harus dijadikan pertimbangan. Manusia

secara intuisi akan mementingkan manfaat bagi dirinya sendiri

dulu sebelum memikirkan manfaat buat keluarganya.

(4) Manusia mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungannya.

(5) Kesulitan membanadingkan keuntungan untuk masing – masing

individu, sehingga kebahagiaan total” bisa berarti dua hal, (a)

meningkatkan tingkat kesenangan individu; (b) meningkatkan

jumlah individu yang bahagia.

(6) Menganggap semua orang sama, padahal setiap manusia

mempunyai karakteristik yang berbeda.

(7) Dalam manjalani kehidupan bermasyarakat, seringkali indivisu

harus mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain.

(8) Munculnya ketimpangan moral dan ketidakadilan.

b) Deontology

Deontology berasal dari kata “deon” dari bahasa yunani yang

artinya kewajiban. Teori ini menekankan pada pelaksanaan

kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan

kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban sudah melakukan

kebaikan. Teori ini tidak terpatok pada konsekuensi perbuatan dengan

kata lain teori ini melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan

akibatnya.

12
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi

moral ke dalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip – prinsip dan

konsep yang membimbing manusia dalam berfikir dan bertindak

dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai - nilai yang dianutnya.

Menurut Martin, etika didefinisikan sebagai “the discipline which can

act as the performanceindex or reference for our control system”

yang artinya disiplin yang dapat bertindak sebagai acuan atau indeks

capaian untuk sistem kendali kita/kami. Etika disebut juga filsafat

moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan)

manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan

mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Etika adalah acuan dasar bagi bidan dalam menjalankan

profesinya baik yang berkaitan dengan pemakaian teknologi kebidanan

maupun pengetahuan kebidanan. Seringkali bidan dihadapkan pada

situasi yang memerlukan keputusan untuk mengambil tindakan. Bidan

memberi asuhan kebidanan pada individu, keluarga dan masyarakat,

menerima tanggungjawab untuk membuat keadaan lingkungan fisik,

sosial dan spiritual yang memungkinkan untuk melayani klien sesuai

kebutuhan dan menekankan pencegahan komplikasi kebidanan serta

memberikan pendidikan kesehatan.

b. Kode etik kebidanan

1) Definisi kode etik

13
Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari

nilai – nilai internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan

pernyataan komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntutan bagi

anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.

2) Kode etik kebidanan

Setiap profesi mutlak mengenal atau mempunyai kode etik.

Kode etik suatu profesi adalah berupa nroma-norma yang harus

diindahkan oleh setiap anggota profesi yang bersangkutan didalm

melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya dimasyarakat.

Kode etik profesi merupakan ”Suatu pernyataan komprehensif dari

profesi yang memberikan tuntunan bagi anggotanya untuk

melaksanakan praktik dalam bidang profesinya baik yang berhubun

dengan klien/pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat, profesi dan

dirinya sendiri. Tujuan kode etik adalah :

a) Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra profesi

b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota

c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggoa profesi

d) Untuk meningkatkan mutu profesi

Dimensi kode etik :

a) Anggota profesi dan klien/pasien

b) Anggota profesi dan sistem kesehatan

c) Anggota profesi dan profesi kesehatan

d) Anggota profesi dan sesama anggota profesi

14
Prinsip kode etik :

a) Menghargai otonomi

b) Melakukan tindakan yang benar

c) Mencegah tindakan yang dapat merugikan

d) Memperlakukan manusia dengan adil

e) Menjelaskan dengan benar

f) Menepati janji yang telah disepakati

g) Menjaga kerahasiaan

B. Pengembangan Profesi dan Karir Bidan

1. Pengertian perkembangan karir profesi

Karir mempunyai beberapa arti, yaitu :

a. Karir adalah suatu rangkaian promosi jabatan atau mutasi ke jabatan yang

lebih tinggi dalam jenjang hirarki yang dialami oleh seorang tenaga kerja

selama masa kerjanya.

b. Karir adalah suatu penunjuk pekerjaan yang memiliki gambaran atau pola

pengembangan yang jelas dan sistematis.

c. Karir adalah suatu sejarah kedudukan seseorang, suatu rangkaian

pekerjaan atau posisi yang pernah dipegang seseorang selama masa

kerjanya. Oleh karena itu, pengertian yang terakhir ini sangat luas dan

15
umum, karena setiap orang pasti mempunyai sejarah pekerjaan yang

berarti setiap orang pasti mempunyai karir.

2. Perkembangan karir profesi bidan

Pengembangan karir bidan adalah perjalanan pekerjaan seseorang dalam

organisasi sejak diterima dan berakhir pada saat tidak lagi bekerja

diorganisasi tersebut. Pengembangan karir (career development) menurut

Mondy meliputi aktivitas-aktivitas untuk mempersiapkan seorang individu

pada kemajuan jalur karir yang direncanakan.

3. Konsep dasar berubah dalam rangka mengembangkan profesi dan karir

bidan

Pekerjaan itu sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar

terhadap perkembangan karir. Bila setiap hari pekerjaan menyajikan suatu

tantangan yang berbeda, apa yang dipelajari dipekerjaan jauh lebih penting

daripada aktivitas rencana pengembangan formal.

Bentuk pengembangan skill yang dibutuhkan ditentukan oleh

permintaan pekerjaan yang spesifik. Skill yang dibutuhkan untuk menjadi

supervisor akan berbeda dengan skill yang dibutuhkan untuk menjadi

middle manager.

Pengembangan hanya akan terjadi jika seorang individu belum

memperoleh skill yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Jika tujuan

tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh seorang individu maka individu

16
yang telah memiliki skill yang dituntut pekerjaan akan menempati pekerjaan

yang baru.

Waktu yang digunakan untuk pengembangan dapat

diredukasi/dikurangi dengan mengidentifikasi rangkaian penempatan

pekerjaan individu yang rasional.

Pengembangan karir (career development) terdiri dari :

a. Perencanaan karir (career planning), yaitu suatu proses dimana individu

dapat mengidentifikasi dan mengambil langkah untuk mencapai tujuan-

tujuan karirnya. Perencanaan karir melibatkan pengidentifikasian tujuan-

tujuan yang berkaitan dengan karir dan penyusunan rencana-rencana

untuk mencapai tujuan tersebut.

b. Manajemen karir (career management) , proses dimana organisasi

memilih, menilai, menugaskan, dan mengembangkan para pegawainya

guna menyediakan suatu kumpulan orang-orang yang berbobot untuk

memenuhi kebutuhan-kebutuhan dimasa yang akan datang

(Simamora,2001:504).

Berdasarkan pengertian diatas maka terdapat tanggung jawab yang

berbeda antara individu/pegawai dan organisasi dalam mengelola karir,

perencanaan karir merupakan proses untuk :

a. Menyadari diri sendiri terhadap peluang, kesempatan, kendala, pilihan dan

konsekuensi.

b. Mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan dengan karir

17
c. Penyusunan program kerja, pendidikan, dan yang beruhubungan dengan

pengalaman-pengalaman yeng bersifat pengembangan guna menyediakan

arah, waktu, dan urutan atau langkah-langkah yang diambil untuk meraih

tujuan karir.

Tujuan dan pengembangan karir bidan, diantaranya :

a. Mendapatkan persyaratan menempati posisi/jabatan tertentu.

b. Mengusahakan pengembangan karir karena tidak otomatis tercapai,

tergantung pada lowongan/jabatan, keputusan dan tergantung presensi

pimpinan.

c. Peraturan, ketentuan dan cara pengembangan karir terdapat pada Permen neg

Pendayagunaan Aparatur Negara No : 01/PER/M.PAN/1/2008.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

1. Tenaga Kesehatan

Sebagai tenaga kesehatan, diharapkan untuk menjadi seorang bidan

(konselor) yang baik, kita harus memiliki kualitas pribadi serta

pengetahuan yang luas,perilaku yang baik dan memiliki kualitas tenaga

kesehatan yang memadai agar dapat memberikan terapi yang tepat untuk

klien.

2. Masyarakat/ Klien

a. Diharapkan penggunaan obat analgetik bagi ibu hamil harus

diperhatikan .

b. Penggunaan obat yang berlebihan dapat membahayakan, di anjurkan

memenuhi resep dokter.

c. Penyalahgunaan obat-obat analgetika narkotik oleh ibu hamil dapat

menyebabkan ketergantungan pada janin dalam kandungan

19
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan.G.Sulistia. 2012. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbit

FKUI. Jakarta

Tjay, T.H., K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan

Efek-Efek Sampingnya. Edisi Kelima. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT

Elex Media

20

Anda mungkin juga menyukai