Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN

PERILAKU KLIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BAHU MANADO


Riana D. Purwati
Hendro Bidjuni
Abram Babakal

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi Manado
Email: rianadewipurwati@gmail.com

Background: Hypertension is high blood pressure that is settled that the cause may not be known
(essential hypertension, idiopathic or primary) or associated with other diseases (secondary
hypertension). Based on data from Bahu Health Centers Manado mentioned in the period
January 2014 to March 2014 there were a total of 207 patients with hypertension. Purpose of
this research was to find out effect of health education on the knowledge of the client’s behavior
hypertension in Bahu Health Centers Manado. The research method used is pre experimental
design with “One group Pre test post test” in one group. Sample in this study were 59 people,
data processed by Wilcoxon Sign Rank test with significance (α) = 0.05. Results showed that
there was a effect of health education on knowledge of the client’s behavior hypertension in Bahu
Health Centers Manado, where before it was given health education clients have less knowledge
of the behavior of both (56%) and health education was given after the client has knowledge of
good behavior (100%). based on Wilcoxon statistical test obtained ρ = 0.000, which meant p
was smaller than α (0,05). Conclusion of this research there was a effect of health education
on knowledge of the client’s behavior hypertension in Bahu Health Centers Manado. Suggestion
this research can be made in the new source in improving the quality of healthcare by
making health counseling.
Keyword: Health education, Knowledge of the behavior, Client hypertension

Latar Belakang: Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang menetap yang penyebabnya
mungkin tidak diketahui (hipertensi essensial, idiopatik atau primer) maupun yang berhubungan
dengan penyakit yang lain (hipertensi sekunder). Berdasarkan data dari Puskesmas Bahu Manado
menyebutkan dalam kurun waktu Januari 2014 sampai dengan Maret 2014 terdapat sebanyak 207
pasien penderita hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyuluhan
kesehatan terhadap pengetahuan perilaku klien hipertensi di Puskesmas Bahu Manado. Metode
penelitian yang digunakan adalah Pre-eksperimen dengan desain “One group pre-post test
design” dalam satu kelompok, Sampel dalam penelitian ini adalah 59 orang. Data yang diperoleh
diolah dengan menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test dengan tingkat kemaknaan (α) ≤ 0,05.
Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan perilaku
klien hipertensi di Puskesmas Bahu Manado, dimana sebelum di beri penyuluhan kesehatan klien
memiliki pengetahuan perilaku kurang baik (56 %) dan sesudah diberi penyuluhan kesehatan
klien memiliki pengetahuan perilaku baik (100 %). berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon
diperoleh nilai ρ = 0.000, yang berarti nilai ρ lebih kecil dari α (0,05). Kesimpulan dalam
penelitian ini ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan perilaku klien hipertensi
di Puskesmas Bahu Manado. Saran penelitian ini dapat di jadikan sumber baru dalam
meningkatkan kualitas kesehatan dengan melakukan penyuluhan kesehatan.
Kata Kunci : Penyuluhan kesehatan, Pengetahuan perilaku, Klien hipertensi

PENDAHULUAN (Kemenkes RI, 2012). Data dari Puskesmas


Bahu Manado menyebutkan bahwa dalam
Tekanan darah adalah kekuatan
kurun waktu Januari 2014 sampai dengan
darah untuk melawan tekanan dinding arteri
Maret 2014 terdapat sebanyak 207 pasien
ketika darah tersebut melewatinya (Dorland,
penderita Hipertensi.
2009). Hasil penelitian WHO menunjukkan
Salah satu usaha yang dilakukan
hampir setengah dari kasus serangan jantung
untuk meningkatkan pemahaman tentang
dipacu oleh tekanan darah tinggi. Dua
hipertensi yaitu dengan dilakukan
pertiga penderita hipertensi hidup di Negara
penyuluhan kesehatan. Penyuluhan
miskin dan berkembang, berdasarkan data
merupakan suatu upaya yang direncanakan
WHO dari 50% penderita hipertensi yang
untuk menyebarkan pesan, menanamkan
diketahui hanya 25% yang mendapat
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
pengobatan, dan hanya 12,5% yang diobati
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau
dengan baik. Tiap tahunnya, 7 juta orang
dan bisa melakukan suatu anjuran yang
diseluruh dunia meninggal akibat hipertensi.
diharapkan untuk meningkatkan status
Tahun 2000 saja hampir 1 milyar penduduk
kesehatan, mencegah timbulnya penyakit,
dunia menderita hipertensi (Anna, 2011).
mempertahankan derajat kesehatan,
memaksimalkan fungsi dan peran penderita
Prevelensi hipertensi di Indonesia
selama sakit, dan membantu penderita dan
yang didapat melalui pengukuran pada
keluarga mengatasi masalah kesehatan
umur diatas 18 tahun sebesar 25,8%,
(Pratiwi, 2010).
tertinggi di bangka belitung (30,9%), diikuti
Kurangnya pengetahuan akan
kalimantan selatan (30,8%) Kalimantan
mempengaruhi pasien hipertensi untuk
timur (29,6%) dan jawa barat (29,4%)
dapat mengatasi kekambuhan atau
(RISKESDAS, 2013) secara khusus di
melakukan pencegahan agar tidak terjadi
provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2011
komplikasi. Sehingga pengetahuan serta
jumlah kasus hipertensi berada pada
sikap tentang hipertensi merupakan suatu
peringkat kedua dari sepuluh penyakit
hal yang sangat penting untuk dimiliki, agar
menonjol dengan jumlah 20.202 kasus
bisa menanggulangi penyakit hipertensi itu berhubungan erat dengan kebiasaan hidup
sendiri (Dewi, 2010). yang salah sedangkan untuk mencapai
Dalam hal ini penyuluhan kesehatan kondisi fisik dan psikis tetap prima
sangatlah penting bagi masyarakat dibutuhkan serangkaian kebiasaan maupun
penderita hipertensi agar lebih memahami gaya hidup yang sehat. Gaya hidup
tentang penyakit tersebut dan dapat berpengaruh pada bentuk perilaku atau
merubah pola hidupnya demi tercapainya kebiasaan seseorang dalam merespon
hidup sehat. Menurut Notoatmodjo (2007) kesehatan fisik dan psikis, lingkungan,
menyatakan bahwa pengetahuan atau sosial, budaya dan ekonomi. Gaya hidup
kognitif merupakan domain yang sangat sehat dilakukan dengan tujuan agar hidup
penting untuk terbentuknya tindakan lebih panjang dan menghindari berbagai
seseorang. Perilaku yang didasari oleh macam penyakit. Gaya hidup sehat
pengetahuan akan lebih langgeng daripada merupakan suatu perilaku kesehatan yang
perilaku yang tidak didasari oleh merupakan suatu respon seseorang terhadap
pengetahuan. Pengetahuan seharusnya rangsangan dari luar untuk menjaga
dimiliki oleh pasien karena pasien adalah kesehatan secara utuh. Perilaku dibentuk
orang yang paling bertanggung jawab oleh tiga aspek penting, yaitu pengetahuan,
terhadap terkontrolnya tekanan darah. sikap dan tindakan tiap individu. (Pratiwi,
Berdasarkan konsep tersebut, faktor 2010)
pengetahuan tentang hipertensi Penelitian sebelumnya yang
kemungkinan mempunyai hubungan dengan dilakukan menunjukkan adanya perubahan
terkontrolnya tekanan darah. Seorang pengetahuan dan sikap tentang penyakit
perawat diharapkan dapat membantu hipertensi sebelum dan sesudah diberi
berperan serta memberikan informasi dan penyuluhan (Suparni, 2010).
mengawasi penderita hipertensi untuk
mengatasi masalah kesehatan dimasyarakat METODE PENELITIAN
(Pratiwi, 2010). Penelitian ini menggunakan rancangan
Gaya hidup adalah pola hidup Pre-eksperimen dengan design One-group-
seseorang didunia yang diekspresikan Pretest-Posttest Design. Pada rancangan
dalam aktifitas, minat dan opininya. Banyak penelitian ini kelompok subjek diobservasi
penyakit akibat gaya hidup yang sebelum dilakukan intervensi, kemudian
diobservasi lagi setelah diberi intervensi.
Umur n %
Penelitian ini telah dilaksanakan di
30 - 40 Tahun 10 17
Puskesmas Bahu Manado dimulai dari
41 – 50 Tahun 17 29
bulan Juni 2014 sampai Juli 2014.
51 – 60 Tahun 12 20
Populasi dalam penelitian ini adalah
61 – 70 Tahun 10 17
seluruh pasien penderita Hipertensi yang
> 70 Tahun 10 17
berkunjung di Puskesmas Bahu Manado.
Jumlah 59 100
Populasi kunjungan pasien hipertensi per bulan
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan
sebanyak 69 pasien. Pengambilan sampel dalam jenis kelamin
penelitian ini dilakukan dengan teknik Jenis Kelamin n %
Accidental sampling. Dengan besar sampel 1
Laki-laki 32
berjumlah 59 sampel. 4
Perempuan 68
Instrumen yang digunakan dalam
5
Jumlah 100
penelitian adalah kuesioner untuk mengukur
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan
pengetahuan perilaku yang terdiri dari 10 tingkat pendidikan
item pernyataan. Dikatakan pengetahuan
Tingkat
perilaku baik jika nilai ≥ 5 dan pengetahuan n %
Pendidikan
perilaku kurang jika < 5.
SD 11 19
Pengolahan data melalui tahap: Editing,
SMP 14 24
Coding, Tabulating dan kemudian analisa SMA 19 32
data yang terdiri dari analisa univariat dan PERGURUAN
15 25
TINGGI
analisa bivariat yang menggunakan uji
Jumlah 59 100
wilcoxon dengan tingkat kemaknaan α ≤ Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan
0,05 dengan menggunakan bantuan program pekerjaan
komputer. Etika dalam penelitian ini
Jenis Pekerjaan n %
ditekankan pada Informed
Wiraswasta 15 25
Consent,Anonimity, dan Confidentialy.
Pegawai swasta 7 12

Buruh 4 7
HASIL dan PEMBAHASAN IRT 25 42
Pensiunan 8 14
Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan
Jumlah 59 100
umur
Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan Pengetahuan
perilaku Mea
riwayat keturunan hipertensi Variabel ρ
Kurang n

Riwayat baik Baik


n %
Hipertensi
- Sebelum 26
penyuluh 33 4,97
Tidak ada 37 63
an
0,00
Ada 22 37
0
Jumlah 59 100 - Sesudah
penyuluh 0 59 8,14
Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan an
pengetahuan perilaku sebelum diberikan ρ <0,05 = signifikan
penyuluhan kesehatan tentang hipertensi
Paling banyak subjek yang menjadi klien
Tingkat
N % Hipertensi berada pada kelompok umur 41-50
Pendidikan
tahun. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa
Baik 26 44
semakin bertambahnya umur seseorang maka
Kurang baik 33 56
semakin tinggi resiko untuk terkena berbagai
Jumlah 59 100
macam penyakit. Secara biologis penuaan
Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan
menjadikan manusia rentan terhadap berbagai
pengetahuan perilaku setelah diberikan
penyakit karena menurunnya fungsi berbagai
penyuluhan kesehatan tentang hipertensi
alat tubuh. (Ginting, 2010). Berdasarkan
Tingkat
n %
Pendidikan penelitian terhadap jenis kelamin, jenis kelamin

Baik 59 100 perempuan lebih banyak daripada jenis kelamin

Kurang baik 0 0
laki-laki. Perempuan lebih berisiko untuk
terkena Hipertensi dibandingkan dengan laki-
Jumlah 59 100
laki, sebelum menopause wanita cenderung

Tabel 8. Analisis pengaruh penyuluhan terlindungi oleh hormon estrogen yang dimana

kesehatan terhadap pengetahuan perilaku kadar estrogen menurun setelah menopause.

klien Hipertensi di Puskesmas Bahu Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku

Manado tidak sehat (konsumsi makanan dalam jumlah


berlebihan, kelebihan berat badan/overweight),
depresi, dan status pekerjaan yang
menyebabkan kurang gerak (Arief, 2008).
Berdasarkan tingkat pendidikan paling tergoda dengan berbagai makanan yang tidak
banyak responden berpendidikan SMA. Tingkat terkontrol untuk bisa meningkatkan tekanan
pendidikan seseorang mempengaruhi darah yang menyebabkan Hipertensi.
pengetahuan. Pendidikan merupakan suatu Pengetahuan perilaku sebelum diberikan
kegiatan sadar tujuan, yaitu kegiatan secara penyuluhan kesehatan masih menunjukkan
sistematika terarah pada perubahan tingkah laku bahwa sebagian besar responden memiliki
menuju tercapainya tujuan yang diinginkan. pengetahuan perilaku kurang baik terhadap
Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan penyakit hipertensi yaitu 33 responden. Menurut
perilaku seseorang atau sekelompok orang Ginting (2008), Tingkat pengetahuan penderita
dalam usaha mendewasakan manusia melalui tentang hipertensi sangat bervariasi. Sebagian
upaya pelatihan dan pengajaran, proses, penderita kurang memahami penyakit
perbuatan dan cara mendidik (Ngatimin, 2003). hipertensi, gejala serta faktor resikonya,
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih sebagian lagi penderita sudah memiliki
banyak responden penelitian yang pengetahuan yang baik tentang hipertensi
berpendidikan SD. Rendahnya tingkat namun dalam tindakannya masih sulit
pendidikan maka akan diikuti oleh penurunan meninggalkan kebiasaan yang justru
derajat kesehatan seseorang, dikarenakan memperparah penyakit tersebut.
pengetahuan yang cukup untuk seseorang Setelah diberikan penyuluhan kesehatan
melakukan pencegahan terhadap penyakit keseluruhan responden sudah memiliki
Hipertensi. pengetahuan perilaku baik (100%). Hal ini
Berdasarkan penelitian terhadap pekerjaan sesuai pendapat Notoatmodjo (2007)
penderita hipertensi paling banyak responden menunjukkan bahwa usia, pendidikan,
yang hanya sebagai ibu rumah tangga (IRT) pengalaman, informasi dan fasilitas merupakan
yaitu, IRT yang kesehariannya dihabiskan di faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
rumah dengan kurangnya aktifitas fisik pengetahuan seseorang. Pengetahuan
cenderung memberikan dampak resiko untuk merupakan proses belajar dengan menggunakan
terkena penyakit Hipertensi. Semakin ringan pancaindra yang dilakukan seseorang terhadap
pekerjaan yang dihadapi maka aktifitasnya pun objek tertentu untuk dapat menghasilkan
berkurang. Perempuan yang sering dirumah pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan
yang aktifitasnya banyak di dapur dalam sangat erat kaitannya dengan pendidikan maka,
mengelola makanan cenderung akan lebih
orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuan perilaku responden sebelum
pengetahuannya. diberikan penyuluhan kesehatan dan setelah
Berdasarkan hasil analisis statistik diberikan penyuluhan kesehatan. Sebelum
pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap diberikan penyuluhan kesehatan (44 %) yang
pengetahuan perilaku klien Hipertensi di pengetahuan perilakunya baik dan setelah
Puskesmas Bahu Manado dengan menggunakan diberikan penyuluhan kesehatan tingkat
Wilcoxon Signed Ranks Test pada tingkat pengetahuan perilakunya semakin baik (100 %).
kemaknaan 95 % (α ≤ 0,05) diperoleh bahwa Hal ini menandakan bahwa dengan adanya
terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan pemberian penyuluhan kesehatan akan
terhadap pengetahuan perilaku klien Hipertensi. meningkatkan pengetahuan perilaku seseorang
Secara statistik diperoleh nilai ρ = 0,000 dalam mengintervensi penyakitnya dengan
(ρ<0,05). mengontrol dan mencegah terjadinya kenaikan
Menurut Notoatmodjo (2003), tekanan darah yang melebihi batas normal.
penyuluhan kesehatan tidak dapat lepas dari Penelitian yang dilakukan Suparni
media, pesan-pesan di sampaikan dengan (2010) berjudul Pengaruh penyuluhan terhadap
mudah dipahami, dan lebih menarik. Media juga pengetahuan dan sikap pasien tentang penyakit
dapat menghindari kesalahan persepsi, Hipertensi di Desa beton wilayah kerja
memperjelas informasi, mempermudah puskesmas siman kabupaten ponorogo
pengertian, dapat mengurangi komunikasi yang didapatkan ada perubahan pengetahuan dan
verbalistik, dan memperlancar komunikasi. sikap tentang penyakit Hipertensi sebelum dan
Dengan demikian, sasaran dapat mempelajari sesudah diberi penyuluhan di Desa beton
pesan tersebut dan mampu memutuskan wilayah kerja puskesmas siman ponorogo.
mengadopsi perilaku sesuai dengan pesan-pesan Penelitian yang dilakukan Umah (2012)
yang disampaikan. berjudul Pengaruh pendidikan kesehatan
Penyuluhan kesehatan bagi masyarakat terhadap perilaku diet rendah garam pada pasien
atau komunitas yang lebih luas dapat dilakukan Hipertensi di Desa banjarsari RT 1 RW 01
melalui media massa, sedangkan untuk manyar gresik didapatkan bahwa ada pengaruh
komunitas yang lebih kecil misalnya di lingkup pendidikan kesehatan terhadap perilaku
rumah sakit, puskesmas atau dokter praktek (pengetahuan, sikap, tindakan) pada pasien
swasta dapat dibuat brosur atau leaflet. Dari hipertensi.
hasil penelitian diperoleh perbedaan
Hasil penelitian diatas menunjukan Dewi M, 2010. Teori Dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
bahwa penderita Hipertensi yang diberikan
Manusia. Jakarta : Nuha Medika
pendidikan dan pedoman dalam perawatan diri
Ginting M, 2008. Determinan Tindakan
akan meningkatkan pola hidupnya yang dapat
Masyarakat Dalam Pencegahan
mengontrol tekanan darah dengan baik
Penyakit Hipertensi.
sekaligus mengingatkan bahwa pendidikan
http://resipitory.usu.ac.id/. Diaskes
kesehatan akan lebih efektif bila petugas
tanggal 3 Juni 2014
kesehatan mengenal tingkat pengetahuan
perilaku dan kebiasaan sehari-hari klien Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2012. Masalah Hiperensi
tersebut.
DiIndonesia. Diakses tanggal 31
Maret 2014
KESIMPULAN
Notoatmodjo S, 2003. Ilmu Kesehatan
Pengetahuan perilaku klien tentang
Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta
Hipertensi sebelum diberikan penyuluhan
kesehatan banyak responden memiliki Notoatmodjo S, 2007. Promosi Kesehatan
Dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
pengetahuan perilaku kurang baik. setelah Cipta
diberikan penyuluhan kesehatan sudah
Ngatimin, 2003. Ilmu Perilaku Kesehatan.
memiliki pengetahuan perilaku yang baik. BAB VI Perubahan Perilaku
Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan Kesehatan. Makasar : FKM UNHAS

terhadap pengetahuan perilaku klien Pratiwi, 2010. Pengaruh Penyuluhan


Hipertensi Terhadap Tingkat
Hipertensi di Puskesmas Bahu Manado. Pengetahuan Pada Penderita
Hipertensi. http://digilib.unimus.ac.id/ .
DAFTAR PUSTAKA Diakses tanggal 30 April 2014
Anna Lusia Kus, 2011. Penyakit Hipertensi.
http://pjnkh.go.id. Diakses tanggal 31 Suparni, 2010. Pengaruh Penyuluhan
Maret 2014 Terhadap Pengetahuan dan Sikap
Pasien Tentang Penyakit
Arief, 2008. Promosi Kesehatan. Hipertensi. http://dglib.uns.ac.id/ .
http://www.promosikesehatan.com/ar Diakses tanggal 2 April 2014
tikel.php. Diakses tanggal 17 Juli
2014 Umah K, 2012. Pengaruh Pendidikan
Kesehatan Terhadap Perilaku Diet
Badan Penelitian Dan Pengembangan Rendah Garam Pada Pasien
Kesehatan Republik Indonesia, 2013. Hipertensi. http://jurnal.unigres.ac.id/
Laporan Nasional Riskesda 2013. . Diakses tanggal 17 Juli 2014
http://litbag.depkes.go.id/. Diakses
tanggal 31 Maret 2014