Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL

DENGAN PIH
December 28, 2010 dcolz Leave a comment Go to comments

BAB I

PENDAHULUAN

1. I. LATAR BELAKANG

“ Tekanan darah yang naik tiba-tiba pada usia kehamilan 20 minggu bisa jadi petunjuk awal
adanya preeklamsia-eklamsia. Kalau tidak cepat ditangani bisa membayangkan jiwa sang ibu
dan bayi”

Pre eklamsia dan eklamsia merupakan faktor penyulit dalam proses persalinan. Pre eklamsia dan
eklamsia sendiri merupakan satu kesatuan yang disebabkan oleh kehamilan, walaupun belum
jelas apayang menjadi penyebab sebenarnya. Tingginya angka pre eklamsia merupakan faktor
utama penyebab timbulnya eklamsia yang dapat mengancam hidup ibu bersalin. Tingginya
angka kematian ibu bersalin sebagai akibat perkembangan dari pree eklamsia yang tidak
terkontrol dan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tingginya angka kematian.

Dari kasus persalinan yang dirawat di rumah sakit 3-5 % merupakan kasus preeklamsia dan
eklamsia (Manuaba, 1998). Dari kasus tersebut 6% terjadi pada semua proses persalinan, 12 5
terjadi pada primigravida. Masih tingginya angka kejadian ini masih dapat dijadikan sebagai
gambaran umum tingkat kesehatan ibu bersalin dan tingkat kesehatan masyarakat secara umum.

Dengan pengaruh eklamsia yang keras terhadap tingginya angka kematian bulin, maka sudah
selayaknya dilakukan untuk mencegah dan menangani kasus-kasus pre eklamsia. Perawatan pada
bulin dengan pre eklamsia merupakan salah satu usaha nyata yang dapat dilakukan untuk
mencegah timbulnya komplikasi-komplikasi sebagai akibat lanjut dari eklamsia tersebut.

II. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti seminar ini mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan
pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia.

1. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti seminar ini mahasiswa diharapkan :

2.1. Dapat melakukan pengkajian pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia
2.2. Dapat menentukan masalah keperawtan pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia

2.3. Dapat menentukan perencanaan pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia

2.4. Dapat menerapkan rencana keperawatn pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia

2.5. Dapat melakukan evaluasi pada ibu bersalin dengan pre eklamsia/ eklamsia

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1. A. Definisi

Pregnancy-induced hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis) bagi
wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada ibu hamil bisa sedang ataupun
tergolong parah/berbahaya. Seorang ibu hamil dengan tekanan darah tinggi bisa mengalami
Preeclampsia/ eklamsia dimasa kehamilannya itu.

1. Pree-Eklamsia

Preeclampsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga
merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka yang
membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila terjadi kekejangan sebagai
dampak hipertensi maka disebut Eclamsia. (www.nurses-recruitment.blogspot.com)

Pre eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan proteinuria yang timbul
karena kehamilan. (Sarwono, 2005)

Pre eklamsia adalh timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah
usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. (Mansyur, 2000)

1. Eklamsia

 Eklamsia adalah suatu penyakit yang pada umumnya terjadi pada wanita hamil atau nifas
dengan tanda-tanda pre eklamsia. (sarwono, 2005)
 Eklamsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan pre eklamsia yang tidak
dapt disebabkan oleh hal lain. (Cunningham, 2005)
 Eklamsia adalah pre eklamsia tang disertai kejang-kejang, kelainan akut pada ibu hamil.
(Maimunah, 2005)

1. B. Etiologi dan Faktor Resiko

Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat hormon,
termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus (sering) dapat
meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman
yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya
tekanan darah tinggi. Stop menjadi alcoholic!

Apa yang menjadi penyebab preeclampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui.
Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab-musabab penyakit tersebut, akan
tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat diterima harus
dapat menerangkan hal-hal berikut:

1. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan


mola hidatidosa.
2. Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan.
3. Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus.
4. Sebab jarangnya terjadi eklampsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya.
5. Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang, dan koma. Penyebab PIH tidak
diketahui; namun demikian, penelitian terakhir menemukan suatu organisme yang disebut
hydatoxi lualba.

1. C. Patofisiologis

Pre eklamsia/ eklamsia menyebabkan adanya kerusakan berbagai macam sistem organ seperti
susunan saraf pusat, hematologi, hati, ginjal, otak dan sistem kardiovaskuler. Kerusakan sistem
organ yang terjadi dapat berupa berikut ini :

 Kardiovaskuler
 Hematologi
 SSP
 Otak
 Ginjal
 URI
 Paru
 Hepar

Meningkat (TD ≥ 140/190 )


Tekanan darah

PATHWAY
1. D. Manifestasi Klinis
Pre eklamsia ditandai dengan gejala trias hipertemsi, edema, dan proteinuria. Pada pre eklamsia
ringan tidak dijumpai gejala-gejala obyektif. Sedangkan pada pre eklamsia berat disertai dengan
gejala-gejala yang subyektif, seperti sakit kepala pada daerah frontal, skotoma, diplopia
pengelihatan kabur, nyeri didaerah epigastrium, mual dan muntah, kegelisahan atau hiperfleksi.
Tanda dan gejala pre eklamsia yang disusun dengan serangan kejang menandakan adanya
eklamsia.

Kejang dalam eklamsia ada 4 tingkat, meliputi :

1. Tingkat awal atau aura (invasi)

Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong) kelopak
mata dang tangan bergetar, kepala diputar kekanan dan kekiri.

1. Stadium kejang tonik

Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku atngan menggenggam dan kaki membengkok
kedalam, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung
kira-kira 20-30 detik.

1. Stadium kejang klonik

Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan
menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit. Mata melotot,muka kelihatan kongesti
dan sianosis. Setelah berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak
sadar, menarik nafas seperti mendengkur.

1. Stadium koma

Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran
timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma. (Muchtar Rustam, 1998
: 275)

1. E. Komplikasi

 Ablatio retinae
 DIC
 Gagal ginjal
 Perdarahan otak
 Gagal jantung
 Edema paru

1. F. Pemeriksaan Diagnostik

 Tes celup strip


 Tes toleransi glukosa oral
1. G. Penatalaksanaan Medis

PRINSIP PENATALAKSANAAN PRE-EKLAMPSIA

1. Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah


2. Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia
3. Mengatasi atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan janin terhambat,
hipoksia sampai kematian janin)
4. Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera mungkin setelah
matur, atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin atau ibu akan lebih berat jika
persalinan ditunda lebih lama.

Penatalaksanaan pre-eklampsia ringan

1. Dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin


2. Tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya, tidak perlu dirawat
kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90-100 mmhg).
3. Istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang hari dan minimal 8
jam pada malam hari)
4. Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
5. Pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari.
6. Bila tekanan darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi :
metildopa 3 x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x 5-10 mg/hari, atau
nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari (max.30 mg/hari).
7. Diet rendah garam dan diuretik tidak perlu
8. Jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1 minggu
9. Indikasi rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah 2 minggu rawat
jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu 2 kali berturut-turut, atau pasien
menunjukkan tanda-tanda pre-eklampsia berat. Berikan juga obat antihipertensi.

10. Jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-eklampsia berat. Jika
perbaikan, lanjutkan rawat jalan

11. Pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali ditemukan pertumbuhan
janin terhambat, gawat janin, solusio plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya.
Minimal usia 38 minggu, janin sudah dinyatakan matur.

12. Persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau dengan bantuan
ekstraksi untuk mempercepat kala ii.

Penatalaksanaan pre-eklampsia berat

Dapat ditangani secara aktif atau konservatif. Aktif berarti : kehamilan diakhiri / diterminasi
bersama dengan pengobatan medisinal. Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama
dengan pengobatan medisinal. Prinsip : Tetap PEMANTAUAN JANIN dengan klinis, USG,
kardiotokografi !!!
1. Penanganan aktif.

Penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang khusus di daerah kamar bersalin.
Tidak harus ruangan gelap. Penderita ditangani aktif bila ada satu atau lebih kriteria ini.

– Ada tanda-tanda impending eklampsia

– Ada hellp syndrome

– Ada kegagalan penanganan konservatif

– Ada tanda-tanda gawat janin atau iugr

– Usia kehamilan 35 minggu atau lebih

Pengobatan medisinal : diberikan obat anti kejang MgSO4 dalam infus dextrose 5% sebanyak
500 cc tiap 6 jam. Cara pemberian MgSO4 : dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10
menit, dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80 ml/jam
atau 15-20 tetes/menit). Syarat pemberian MgSO4 : – frekuensi napas lebih dari 16 kali permenit
– tidak ada tanda-tanda gawat napas – diuresis lebih dari 100 ml dalam 4 jam sebelumnya –
refleks patella positif. MgSO4 dihentikan bila : – ada tanda-tanda intoksikasi – atau setelah 24
jam pasca persalinan – atau bila baru 6 jam pasca persalinan sudah terdapat perbaikan yang
nyata. Siapkan antidotum MgSO4 yaitu Ca-glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc NaCl 0.9%,
diberikan intravena dalam 3 menit). Obat anti hipertensi diberikan bila tekanan darah sistolik
lebih dari 160 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg. Obat yang dipakai
umumnya nifedipin dengan dosis 3-4 kali 10 mg oral. Bila dalam 2 jam belum turun dapat diberi
tambahan 10 mg lagi. Terminasi kehamilan : bila penderita belum in partu, dilakukan induksi
persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter Folley, atau prostaglandin E2. Sectio
cesarea dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi partus pervaginam.
Pada persalinan pervaginam kala 2, bila perlu dibantu ekstraksi vakum atau cunam.

1. Penanganan konservatif

Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia dengan
keadaan janin baik, dilakukan penanganan konservatif. Medisinal : sama dengan pada
penanganan aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda pre-eklampsia ringan,
selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini
dianggap sebagai kegagalan pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi. JANGAN LUPA
: OKSIGEN DENGAN NASAL KANUL, 4-6 L / MENIT !! Obstetrik : pemantauan ketat
keadaan ibu dan janin. Bila ada indikasi, langsung terminasi.

PENATALAKSANAAN EKLAMPSIA

Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas, yang ditandai
dengan timbulnya kejang dan / atau koma.
Sebelumnya wanita hamil itu menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia (kejang-kejang
dipastikan BUKAN timbul akibat kelainan neurologik lain). Diagnosis ditegakkan berdasarkan
gejala-gejala pre-eklampsia disertai kejang dan atau koma.

Tujuan pengobatan : menghentikan / mencegah kejang, mempertahankan fungsi organ vital,


koreksi hipoksia / asidosis, kendalikan tekanan darah sampai batas aman, pengakhiran
kehamilan, serta mencegah / mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi, sebagai penunjang
untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin.

Sikap obstetrik : mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu.
Pengobatan medisinal : sama seperti pada pre-eklampsia berat. Dosis MgSO4 dapat ditambah 2 g
intravena bila timbul kejang lagi, diberikan sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian
terakhir. Dosis tambahan ini hanya diberikan satu kali saja. Jika masih kejang, diberikan
amobarbital 3-5 mg/kgBB intravena perlahan-lahan. JANGAN LUPA : OKSIGEN DENGAN
NASAL KANUL, 4-6 L / MENIT !! Perawatan pada serangan kejang : dirawat di kamar isolasi
dengan penerangan cukup, masukkan sudip lidah ke dalam mulut penderita, daerah orofaring
dihisap. Fiksasi badan pada tempat tidur secukupnya.

(www.cklobpt2.com)

1. H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian

1.1. Data subyektif

 Data demografi
 Umur biasanya sering terjadi pada primy gravid, < 20 tahun > 35 tahun
 Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedem, pusing, nyeri
epigastrum, mual muntah, penglihatan kabur
 Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi
kronik, DM.
 Riwayat keluarga : apakah ada sebelumnya keluarga yang menderita hipertensi.
 Pola nutria : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan.
 Psikososial spiritual : emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh
karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.

1.2. Data obyektif

 Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam


 Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema
 Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress
 Perkusi : intuk mengetahui reflex patella sebagai syarat pemberian SM (jika reflex + )
 Pemeriksaan penunjang :

– Tanda vital yang diukur dalam posisi berbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6
jam
– Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream (biasanya meningkat hingga 0,3
gr/lt +1 hingga +2 pada skala kualitatif), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum
kreatinin menigkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml.

– Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/mgg

– Tingkat kesadaran : penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan otak.

– USG : untuk mengetahui keadaan janin

– NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin

 Pemeriksaan diagnostic

Pemeriksaan Diagnostik Hasil :


1. Pemeriksaan TD tiap 4 jam kecuali  TD sistol 140 mmHg atau lebih atau
pada malam hari pada saat pasien kenaikan 30 mmHg di atas tekanan
tidur. biasa
 TD diastole 90 mmHg atau lebih atau
1. Pemeriksaan proteinuria tiap hari kenaikan 15 mmHg di atas tekanan
secara kuantitatif biasa.

1. Pemeriksaan cairan keluar masuk  > 0,3 gr/L dalam urine 24 jam atau
setiap hari lebih dari 1 gr/L pada urine
sembarang
1. Sakit kepala, gangguan penglihatan,
oedem jaringan dan kelopak mata  CM tidak seimbang dengan CK

1. BB tiap 2 hari  Oedem yang tetap pada jari tangan


dan kelopak mata
1. Pemeriksaan retina
 Peningkatan BB
 Penurunan reflex retina

1. Diagnosa Keperawatan

 Gangguan perfusi jaringan otak b/d penurunan kardiak out put sekunder terhadap
vasopasme pembuluh darah.
 Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) b/d penurunan suplay O2 dan nutrisi
kejaringan plasenta sekunderterhadap penurunan cardiac out put.
 Kelebihan volum cairan b/d kerusakan fungsi glumerolus sekunder terhadap penurunan
cardiac out put
 Gangguan pemenuhan ADL b/d immobilisasi; kelemahan
 Kurang pengetahuan mengenai penatalaksanaan terapi dan perawatan b/d misinterpretasi
informasi
 Pola nafas tidak efektif b/d penurunann ekspansi paru.

DiagnosaKeperawatan Tujuan dan Kriteria Rencana Intervensi R


1. Gangguan perfusi Perfusi jaringan otak adekuat  Monitor perubahan tiba-tiba atau
jaringan otak b/d danTercapai secara optimal. gangguan mental kontinu (
penurunan cardiac cemas bingung, letargi, pingsan )
output sekunder Kriteria hasil :
terhadap vasopasme  Obsevasi adanya pucat, sianosis,
pembuluh darah  Keluhan nyeri pada kepala belang, kulit dingin/ lembab,
tidak cacat kekuatan nadi perifer.
 Kaji tanda Homan ( nyeri pada
ada, bebas nyeri / ketidak- betis dengan posisi dorsofleksi )
eritema, edema
nyamanan.  Dorong latihan kaki aktif / pasif

 GCS : E4V5M6, pasien sadar /  Pantau pernafasan

terorientasi baik.  Kaji fungsi GI, catat anoreksia,


penurunan bising usus, muntah/
 TD sistolik ≤ 140 mmHg, mual, distaensi abdomen,
kontipasi
TD sistolik ≤ 90 mmHg.
 Pantau masukan dan perubahan
 Vital sign dalam batas yang keluaran

dapat diterima, nadi perifer

kuat.

 Intake output seimbang, tidak


ada oedem.
 Akral terasa hangat.
 Sianosis (-)

1. Resiko terjadi gawat Gawat janin tidak terjadi, bayi Dapat  Anjurkan penderita untuk tidur
Janin intrauteri dipertahankan sampai Umur 37 miring ke kiri
(hipoksia) b/d minggu dan atau BBL ≥ 2500
penurunan suplay O2 gr.Kriteria hasil :  Anjurkan pasien untuk
dan nutrisi ke melakukan ANC secara teratur
jaringan plasenta  Gerakan janin aktif sesuai dengan masa kehamilan:
sekunder terhadap  DJJ 120-140 x/mnt
penurunan cardiac  Kontraksi uterus/ his tidak ada – 1 x/bln pada trisemester I
output
kehamilan dapat dipertahankan – 2 x/bln pada trisemester II

Sampai umur 37 minggu dan atau


BBL ≥ 2500 gr – 1 x/minggu pada trisemester III

 Pantau DJJ, kontraksi uterus/his


gerakan janin setiap hari

 Motivasi pasien untuk


meningkatkan fase istirahat
 Jelaskan pada pasien untuk
segera memeriksakan
kehamilannya bila terdapat :

– Gerakan janin berkurang atau

Menurun

– Kontraksi/ his terus-menerus

– Pendarahan

– Nyeri abdomen

– Perut mengeras dan sangat

nyeri

 Bila perlu beri O2 2 liter/mnt

1. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan teratasi.  Auskultasi bunyi nafas akan
cairan fungsi kriteria hasil : adanya krekels.
glomerulus skunder  Catat adanya DVJ, adanya edema
terhadap penurunan  Balance cairan masuk dan dependen
cardic output. keluar  Ukur masukan atau keluaran,
 Vital sign dalam batas catat penurunan pengeluaran,
yang diterima sifat konsentrasi, hitung
 Tanda-tanda edema tidak ada keseimbangan cairan.
 Suara nafass bersih
 Pertahankan pemasukan total
cairan 2000 cc/24 jam dalam
toleransi kardiovaskuler.
 Berikan diet rendah natrium atau
garam.
 Delegatif pemberian diuretik.

1. gangguan ADL dan kebutuhan beraktifitas  Kaji toleransi pasien terhadap


pemenuhan ADL pasien terpenuhi secara adekuat. aktifitas menggunakn termometer
berdasarkan Kriteria hasil : berikut : nadi 20/m diatas
immobilisasi frekuensi nadi istirahat, catat
kelemahan  Menunjukkan peningkatan peningkatan tekanan darah,
dalam beraktifitas. Dispenia, nyeri dada, kelelahan
 Kelemahan dan kelelahan berat, kelemahan, berkeringat,
berkuarang. pusing atau pingsang.
 Kebutuhan ADL terpenuhi  Tingakat istirahat, batasi aktifitas
secara mandiri atau bantuan. pada dasar nyeri atau respon
 Frekuensi jantung atau irama hemodinamik, berikan aktifitas
dan tekanan darah dalam batas senggang yang taidak berat.
normal.  Kaji kesiapan untuk
 Kulit hangat, merah muda dan meningkatkan aktifitas contao ;
kering. penurunan kelemahan dan
kelelahan, tekanan darah stabil,
peningkatan perhatian pada
aktifitas dan perawatan diri.
 Dorong memjukan aktifitas atau
toleransi perawatan diri.

 Anjurkan keluarga untuk


membantu pemenuhan kebutuhan
ADL pasienn.

 Anjurakan pasiien menghindari


peningkatan tekanan abdomen,
mengejan saat defekasi.

 Jelasakn pola peningkatan


bertahap dari aktifitas, contoh :
posisi duduk diatas tempat tidur
bila tidak ada pusing dan nyeri,
bangun dari tempat tidur, belajar
berdiri dst.

1. Defisit knowledge Kebutuhan pengetahuan terpenuhi  Identifikasi dan ketahui persepsi


mengenai secara adekuat. pasien terhadap ancaman atau
penatalaksanaan Kriteria hasil : situasi. Dorong mengekspresikan
terapi dan perawatn dan jangan menolak perasaan
berdasarkan  Pasien memahami regimen marah, takut dll.
misinterpretasi teraupeutik dan perawatan  Mempertahankan kepercayaan
informasi. yang diberikan. pasien ( tanpa adanya keyakinan
 Pasien kooperatif terhadap yang salah )
tindakan pengobatan dan  Terima tapi jangan beri
perwatan yang diberikan. penguatan terhadap penolakan
 Pasien taat terhadap program
pengobatan yang diberikan.  Orientasikan klien atau keluarga
terhadap prosedur rutin dan
aktifitas, tingkatkan partisipasi
bila mungkin.
 Jawab pertanyaan dengan nyata
dan jujur, berikan informasi yang
konsisten, ulangi bila perlu.
 Dorong kemandirian, perawatan
diri, libatkan keluarga secara
aktif dalam perawatan.

1. Pola nafas tak efektif Pola nafas yang efektif.  Pantau tingkat pernafasan dan
berdasarkan Kriteria hasil : suara nafas.
penurunan ekspansi
paru.  Hilangnya sianosis  Atur posisi fowler atau semi
fowler.
Kapiler refil <3 detik dan suhu tubuh  Sediakan perlengkapan
normal. penghisapan atau penambahan
aliran udara.

 Berikan obat sesuai petunjuk.

 Sediakan oksigen tambahan

1. Implementasi

Penatalaksanaandisesuaikan dengan intervensi yang telah ditentukan

1. Evaluasi

Evaluasi disesuaikan dengan criteria hasil yang telah ditentukan.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Preeklamsia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kehamilan yang ditandai dengan gejala
hipertensi, edema serta proteinuria. Gejala yang timbul oleh pre eklamsia sangat mendadak
sehingga perlu kewaspadaan yang sangat tinggi saat kehamilan. Memang sampai saat ini belum
diketahui apa penyebabnya. Namun para pakar telah mencoba mengungkapnya dengan teori-
teori. Tanda-tanda yang pertama kali muncul pada pre eklamsia adalah hipertensi, edema dan
kemudian disertai proteinuria. Edema merupakan penimbunan cairan secara umum dan
berlebihan dalam jaringan tubuh. Proteinuria merupakan konsentrasi protein dalam air kencing
yang melebihi 0,3 gr/L air kencing 24 jam.

Eklamsia adalah pre eklamsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat
kelainan nurologi. Pre eklamsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA

(http ://www.Trinia’s.blogspot.com/).2008. Asuhan Keperawatan Pre-eklamsia, Eklamsia.

Cunningham Gary. Obstetri Williams. Ed 18. Jakarta. EGC.

Doengoes, Marlynn E. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan/bayi. Jakarta. ECG.

Mansjoer Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed.3, cet. 1. Jakarta : Media Aesculapius.

Manuaba Gde 1. B., Prof. dr. Penuntun Diskusi Obstetric dan Ginekologi untuk Mahasiswa
Kedokteran. Jakartan. EGC.

(www.cklobpt2.com). Hipertensi dalam kehamilan. Di akses 1 maret 2009

(www.nurses-recruitment.blogspot.com). Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi). Di akses 1 maret


2009
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI

KONSEP DASAR PENYAKIT

I. PENGERTIAN

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di
atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Suzanne C. Smeltzer,
2001)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan
tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-
kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan
mempunyai keadaan darah tinggi. (http://www.ningharmanto.com/2009/01/hipertensi/)

Secara sederhana, seseorang dikatakan menderita Tekanan Darah Tinggi jika tekanan Sistolik
lebih besar daripada 140 mmHg atau tekanan Diastolik lebih besar dari 90 mmHg. Tekanan darah ideal
adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk Diastolik.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh
pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung
berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai “normal”. Pada
tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi
pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa
minggu.

II. EPIDEMIOLOGI

Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat. Sekitar seperempat
jumlah pendududk dewasa menderita hipertensi, dan insidennya lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika
setelah usia remaja.

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi essensial dan sisanya mengalami kenaikan tekanan
darah dengan penyebab tertentu.
III. ETIOLOGI

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara mereka menderita
hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan penyebab medisnya. Sisanya mengalami
kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu (hipertensi sekunder).

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :

1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya
(terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).

2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.

Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung
dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan
hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar
adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:

1. Penyakit Ginjal

 Stenosis arteri renalis

 Pielonefritis

 Glomerulonefritis

 Tumor-tumor ginjal

 Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)

 Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)


 Terapi penyinaran yang mengenai ginjal

2. Kelainan Hormonal

 Hiperaldosteronism

 Sindroma Cushing

 Feokromositoma

3. Obat-obatan

 Pil KB

 Kortikosteroid

 Siklosporin

 Eritropoietin

 Kokain

 Penyalahgunaan alkohol

 Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)

4. Penyebab Lainnya

 Koartasio aorta

 Preeklamsi pada kehamilan

 Porfiria intermiten akut

 Keracunan timbal akut

Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :

1. Peningkatan kecepatan denyut jantung

2. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama

3. Peningkatan TPR yang berlangsung lama


IV. FAKTOR PREDISPOSISI

Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti umur, jenis
kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur),
apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai
peran didalam terjadinya Hipertensi.

Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang olahraga, merokok,
serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga berpengaruh terhadap timbulnya
hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis.
Saraf simpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang
bekerja pada saat kita tidak beraktivitas.

Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten
(tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi.
Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi
dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami
kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi Hipertensi dan
dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan terjadinya Hipertensi dikemudian hari.
Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan
membuktikan bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan
hipertensi lebih tinggi dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.

V. PATOFISIOLOGI

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat
vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut
ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatis di torak dan
abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah
melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti
kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan
vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak
diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bias terjadi.

Pada saat bersamaan dimana system simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon
rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.
Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatnkan pelepasan
rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
saat vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.
Hormone ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan
volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

VI. MANIFESTASI KLINIS

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak
sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi
(padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung,
pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun
pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

 sakit kepala

 kelelahan

 mual

 muntah

 sesak nafas
 gelisah

 pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena
terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan
segera.

VII. KLASIFIKASI

The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure membuat
suatu klasifikasi baru yaitu :

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *

Kategori Sistolik Diastolik

(mmhg) (mmhg)

Normal < 130 <85


Normal tinggi 130-139 85-89

Hipertensi †

Tingkat 1 (ringan) 140-159 90-99

Tingkat 2 (sedang) 160-179 100-109

Tingkat 3 (berat) ≥180 ≥110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan sistolik dan diastolic
turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah kategori yang lebih tinggi. berdasarkan
pada rata-rata dari dua kali pembacaan atau lebih yang dilakukan pada setiap dua kali kunjungan atau
lebih setelah skrining awal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh
pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung
berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada
tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi
pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa
minggu.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi
tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini
sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami
kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik
terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun
drastis.

Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan ( pregnancy-induced hypertension, PIH )
PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena hipertensinya reversible setelah bayi lahir. PIH tampaknya
terjadi akibat dari kombinasi peningkatan curah jantung dan TPR. Selama kehamilan normal volume
darah meningkat secara drastis. Pada wanita sehat, peningkatan volume darah diakomodasikan oleh
penurunan responsifitas vascular terhadap hormon-hormon vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal ini
menyebabkan TPR berkurang pada kehamilan normal dan tekanan darah rendah. Pada wanita dengan
PIH, tidak terjadi penurunan sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga
peningkatan besar volume darah secara langsung meningkatkan curah jantung dan tekanan darah. PIH
dapat timbul sebagai akibat dari gangguan imunologik yang mengganggu perkembangan plasenta. PIH
sangat berbahaya bagi wanita dan dapat menyebabkan kejang,koma, dan kematian.

VIII. KOMPLIKASI

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS Harapan

Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah diantaranya :

 Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient ischemic attack (TIA).

 Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA).

 Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

 Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas kedokteran USU, Abdul
Madjid (2004), meliputi :
 Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya
kerusakan organ dan factor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin
analisa, darah perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol
total, HDL, LDL

 Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP (dapat mengidentifikasi
hipertensi, sebagai tambahan dapat dilakukan pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam
urat, TSH dan ekordiografi.

 Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose (DM) kalium serum (meningkat
menunjukkan aldosteron yang meningkat), kalsium serum (peningkatan dapat menyebabkan hipertensi:
kolesterol dan tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi), pemeriksaan tiroid (menyebabkan vasokonstrisi),
urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam urat (factor penyebab hipertensi)

 Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan

X. PENATALAKSANAAN

Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah raga isotonik
(spt bersepeda, jogging, aerobic) yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat
menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan
mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat
kulit).

Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Pengobatan non obat (non farmakologis)

2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Pengobatan non obat (non farmakologis)

Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga


pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada
keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai
pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.

Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :

1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh

2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.

Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan


asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai
sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan
farmakologis.

3. Ciptakan keadaan rileks

Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang
akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.

4. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak

3-4 kali seminggu.

5. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini.
Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.

 Diuretik

Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing)
sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih
ringan. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.

 Penghambat Simpatetik

Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada
saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
 Betabloker

Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis
betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan
seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita
diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula
dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang
tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus
hati-hati.

 Vasodilator

Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot
pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang
kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.

 Penghambat ensim konversi Angiotensin

Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah
Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

 Antagonis kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi
jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil.
Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.

 Penghambat Reseptor Angiotensin II

Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya
yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini
adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan
mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya
hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN

AKTIVITAS/ISTIRAHAT

Gejala : kelemehan, keletihan, napas pendek, gaya hidup monoton.

Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea

SIRKULASI

Gejala : riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit serebrovaskular. Episode
palpitasi, perspirasi.
Tanda : kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakan diagnosis).
Hipotensi postural (mungkin berhubungna dengan regimen obat ). Nadi : denyutan jelas dari karotis,
jugularis, radialis ; perbedaan denyut seperti denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan
radialis atau brakialis; denyut popliteal, tibialis posterior, pedalis tidak teraba atau lemah.
Frekuensi/irama : takikardia berbagai disritmia. Bunyi jantung : terdengar S2 pada dasar ; S3 (CHF dini);
S4 (pergeseran ventrikel kiri/hipertrofi ventrikel kiri). Murmur stenosis valvular. Ekstremitas ; perubahan
warna kulit, suhu dingin (vasokonstriksi perifer) ; pengisian kapiler mungkin melambat /tertunda
(vasokonstriksi)

INTEGRITAS EGO

Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, atau marah kronik (dapat mengindikasikan
kerusakan serebral). Faktor-faktor stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan
pekerjaan)

Tanda : letupan suara hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak. Gerak tangan empati,
otot muka tegang (khusus sekitar mata), gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, peningkatan pola
bicara.

ELIMINASI

Gejala : gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (seperti, infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal dimasa lalu)

MAKANAN/CAIRAN

Gejala : makanan yang disukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol
(seperti makanan yang digoreng, keju, telur); kandungan tinggi kalori. Mual, muntah. Perubahan berat
badan akhir-akhir ini (meningkat/menurun).

Tanda : berat badan normal atau obesitas. Adanya edema (mungkin umum atau tertentu); kongesti vena;
glukosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diabetik)

NEUROSENSORI
Gejala : keluhan pening/pusing. Berdenyut. Sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara
spontan stelah beberapa jam ). Episode kebas/kelemahan pada satu sisi tubuh. Gangguan penglihatan
(diplopia, penglihatan kabur). Episode epistaksis.

Tanda : status mental : perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori
(ingatan). Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan dan /atau reflex tendon dalam.
Perubahan-perubahan retinal optik: dari sklerosis/penyempitan arteri ringan sampai berat dan
perubahan sklerotik dengan edema atau papiledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada
berat/lamanya hipertensi.

NYERI/KETIDAKNYAMANAN

Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung). Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudasi (indikasi
arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah). Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi
sebelumnya. Nyeri abdomen/massa (feokromositoma)

PERNAPASAN

Gejala : dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja. Takipnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksismal. Batuk
dengan/tanpa pembentukan sputum. Riwayat merokok.

Tanda : distress respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan. Bunyi napas tambahan (krekles/mengi).
Sianosis.

KEAMANAN

Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan. Episode parestesia unilateral transien. Hipotensi posturnal.

PEMBELAJARAN/PENYULUHAN

Gejala : faktor-faktor risiko keluarga :hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, DM, penyakit
serebrovaskular/ginjal.

r risiko etnik : seperti orang Afrika-Amerika, Asia tenggara. Penggunaan pil KB atau hormone lain; penggunaan
obat/alcohol.
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload,


vasokontriksi pembuluh darah.
2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan penurunan suplai oksigen otak
3. Perubahan nutrisi : lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan berlebih
sehubungan dengan kebutuhan metabolik.
4. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vascular serebral dan iskemia miokard
5. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan edema, peningkatan cairan intravaskular
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum dan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen
7. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan Krisis situasional
8. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan rencana pengobatan berhubungan dengan
Misinterpretasi informasi
9. Risiko injuri/cedera berhubungan dengan penglihatan ganda ( diplopia )
10. Ansietas berhubungan dengan perubahan kondisi kesehatan
III. RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RAS

1 Gangguan perfusi Setelah diberikan asuhan


1. Pantau TD, catat adanya  Normalnya
serebral berhubungan keperawatan diharapkan pasien hipertensi sistolik secara mempertahank
dengan penurunan dapat mencapai atau terus menerus dan tekanan otak yang kons
suplai oksigen otak mempertahankan tingkat umum nadi yang semakin berat. fluktuasi TD si
sadar penuh,bebas dari gejala autoregulasi
atau komplikasi neurologis kerusakan keru
merugikan dengan kriteria hasil : serebral lokal/m

 Pasien dapat mendemonstrasikan


2. Pantau frekuensi jantung,  Perubahan pa
tanda-tanda vital stabil catat adanya Bradikardi, sering Bradika
Tacikardia atau bentuk dapat timbul y
Disritmia lainnya. adanya depr
batang otak p
tidak memiliki
sebelumnya.

 Napas yang t
menunjukkan
3. Pantau pernapasan meliputi
gangguan
pola dan iramanya.
memerlukan in
lanjut.

4. Catat status neurologis  Pengkajian


dengan teratur dan adanya per
bandingkan dengan keadaan kesadaran adal
normalnya dalam men
penyebaran/lua
perkembangan
serebral.
5. Berikan obat anti hipertensif  Efektif dal
misal diazoksida (hiperstat) tekanan darah
dan hidralazin (apresolin) krisis hiperten
dihubungkan d
PCP.

2 Perubahan nutrisi : Setelah diberikan asuhan


1. Kaji pemahaman pasien  Kegemukan
lebih dari kebutuhan keperawatan diharapkan pasien tentang hubungan langsung tambahan te
tubuh berhubungan mampu mengidentifikasi antara hipertensi dan darah tinggi k
dengan masukan hubungan antara hipertensi kegemukan antara kapas
berlebih sehubungan dengan kegemukan, dengan peningkatan
dengan kebutuhan kriteria hasil : jantungberkaita
metabolik. 2. Bicarakan pentingnya peningkatan ma
 Pasien menunjukkan perubahan
menurunkan masuka kalori
pola makan  kesalahan k
dan batasi batasan lemak,
menunjang
 Mempertahankan berat badan garam dan gula
aterosklerosis
dengan pemeliharaan kesehatan
yang merupa
optimal
hipertensi. Ke
 Melakukan/mempertahankan garam memp
program olahraga yang tepat cairan intrava
secara individual merusak gin
memperburuk k
3. Tetapkan keinginan pasien
 motivasi untuk
untuk menurunkan berat
badan adalah
badan
harus berke
menurunkan b
tidak maka pr
berhasil
4. Kaji ulang masukan kalori
harian dan pilihan diet. .


kekuatan/kelem
program diet t
dalam menentu
5. Rujuk ke ahli gizi sesuai
penyesuaian/pe
indikasi
 Memberikan
bantuan den
kebutuhan diet

3 Kelebihan volume Setelah diberikan asuhan


1. Awasi denyut jantung, TD,  Tacikardi dan
cairan berhubungan keperawatan diharapkan pasien CVP karena 1. Kega
dengan edema menunjukkan keseimbangan mengeluarkan
masukan dan haluaran,BB stabil, Pembatasan
tanda vital dalam rentang normal selama
dan tak ada oedema dengan hipovolemia/hip
kriteria hasil : perubahan fase
dan 3. Peruba
 Menyatakan pemahaman diet
angiotensin.
individu/pembatasan cairan 2. Catat pemasukan dan
pengeluaran secara akurat.  Perlu untuk m
gnjal, kebutu
cairan
3. Awasi berat jenis urine

 Mengukur k
4. Timbang tiap hari dengan
untuk mengkon
alat dan pakaian yang sama
 Penimbangan b
adalah pengaw
terbaru. Pening
lebih dari 0,5 k
5. Kaji kulit, wajah area ada retensi cair
tergantung untuk edema
 Edema terjad
6. Berikan obat sesuai indikasi jaringan yang
(diuretik) tubuh contoh :
lumbosakral

 Membantu d
cairan

4 Nyeri berhubungan Setelah diberikan asuhan


1. Observasi derajat nyeri  Mengetahui d
dengan peningkatan keperawatan diharapkan pasien dirasakan
tekanan vascular Nyeri terkontrol dengan kriteria mempermudah
serebral dan iskemia hasil : selanjutnya
miokard
 Mengungkapkan metode yang
2. Pertahankan tirah baring
memberikan pengurangan selama fase akut

 Mengikuti regimen farmakologi stimulasi/menin
yang diresepkan
3. Berikan tindakan
 Skala nyri 0-1 nonfarmakologi untuk
 Tindakan y
menghilangkan sakit kepala
 Wajah pasien tidak meringis tekanan vasku
atau nyeri dada misal,
yang memper
kompres dingin pada dahi,
respon simpat
pijat punggung dan leher,
menghilangkan
teknik relaksasi ( panduan
komplikasinya.
imajinasi, distraksi ) dan
aktivitas waktu senggang.

4. Minimalkan aktivitas
vasokontriksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala
misalnya, mengejan saat  Aktivitas ya
BAB, batuk panjang, vasokontriksi m
membungkuk. kepala pada a
tekanan vaskula
5. Kaji tanda-tanda vital

 Mengetahui
pasien. Peningk
6. Kolaborasi : vital mengindik
dapat terkontro
- Analgesik

 Menurunkan/
dan menurunka
saraf simpatis.

- Antiansietas mis, lorazepam,  Dapat mengur


diazepam ketidaknyaman
oleh stres.

5 Intoleransi aktivitas Setelah diberikan 1. Kaji respon pasien terhadap  Menyebutkan p


asuhan
berhubungan dengan keperawatan diharapkan pasien aktivitas, perhatikan membantu dala
Kelemahan umum dan dapat berpartisipasi dalam frekuensi nadi lebih dari 20 respons fisiolog
ketidakseimbangan aktivitas yang kali per menit di atas aktivitas dan bil
antara suplai dan diinginkan/diperukan dengan frekuensi istirahat, indikator dari ke
kebutuhan oksigen kriteria hasil : peningkatan tekanan darah berkaitan denga
yang nyata selama /sesudah
 Melaporkan peningkatan dalam
aktivitas, dpsnea atau nyeri
toleransi aktivitas yang dapat
dada, keletihan dan
diukur
kelemahan yang berlebihan,
 Menunjukkan penurunan dalam diaforesis, pusing atau
tanda-tanda intoleransi fisiologi pingsan

2. Instruksikan pasien tentang


teknik penghematan energi ,  Teknik menghem
misalnya menggunakan kursi mengurangi pen
saat mandi, duduk saat juga membantu
menyisir rambut atau antara suplai da
menggosok gigi, melakukan oksigen
aktivitas dengan perlahan

3. Kaji sejauh mana aktivitas


yang dapat ditoleransi

 Mengidentifika
4. Berikan dorongan untuk
kemampuan pa
melakukan
melakukan akti
aktivitas/perawatan diri
perawatan diri.
bertahap jika dapat
ditoleransi

 Kemajuan aktiv
mencegah penin
jantung tiba-tib
bantuan hanya
hanya akan me
kemandirian da
aktivitas.

6 Ansietas berhubungan Setelah diberikan asuhan 1. Observasi tingkah laku yang  Ansietas ringan
dengan perubahan keperawatan diharapkan pasien menunjukkan tingkat dengan peka ra
kondisi kesehatan tampak rileks ansietas insomnia. Ansie
berkembang ke
Kriteria hasil:
panik dapat me
 Melaporkan cemas berkurang perasaan teranc
sampai hilang ketidakmampua

 Mampu mengidentifikasi cara


hidup yang sehat untuk 2. Tinggal bersama pasien, dan bergerak.
membagikan perasaannya mempertahankan sikap yang
 Menegaskan pa
tenang. Mengakui atau
orang terdekat
menjawab kekhawatirannya
perasaan pasien
dan mengizinkan perilaku
lingkungannya t
pasien yang umum.

3. Jelaskan prosedur,
lingkungan sekeliling atau  Memberikan inf
suara yang mungkin akurat yang dap
didengar oleh pasien kesalahan inter
berperan pada r

4. Bicara singkat dengan kata


sederhana.  Rentang perhat
menjadi pendek
berkurang yang
kemampuan un
5. Kurangi stimulasi dari luar : informasi.
tempatkan pada ruangan
yang tenang, kurangi lampu
yang terlalu terang, kurangi  Menciptakan lin
orang jumlah orang yang terapiutik
berhubungan dengan pasien

7 Koping individu tidak Setelah diberikan asuhan


1. kaji keefektifan strategi  Mekanisme a
efektif berhubungan keperawatan diharapkan pasien koping dengan mengubah pola
dengan Krisis mampu mengidentifikasi perilaku mengobservasi perilaku mengatasi hipe
situasional koping efektif dengan kriteria misal, kemampuan mengintegrasik
hasil : menyatakan perasaan dan diharuskan ke
perhatian, keinginan dalam sehari-hari
 Menyatakan kesadaran
partisipasi dalam rencana
kemampuan koping/kekuatan
pengobatan
pribadi
2. Bantu pasien untuk
 Mengidentifikasi potensial situasi
mengidentifikasi stresor  Manifestasi m
stres dan mengambil langkah
spesifik dan kemungkinan maladaptif mu
untuk menghindari atau
strategi untuk mengatasinya indikator marah
mengubahnya.
diketahui telah
 Mendemonstrasikan pengguanaan utama TD diasto
keterampilan atau metode koping
3. Libatkan pasien dalam
 Keterlibatan m
efektif perencanaan perawatan dan
perasan kon
beri dorongan partisipasi
berkelanjutan,
maksimum dalam rencana
keterampilan k
pengobatan
meningkatkan
regimen terape

4. Dorong pasien untuk


mengevaluasi
 Fokus perhatia
prioritas/tujuan hidup.
realitas situasi
Tanyakan ” apakah yang
terhadap pa
anda lakukan merupakan
tentang apa yan
apa yang anda inginkan?”

5. Bantu pasien utuk


mengidentifikasi dan mulai  Perubahan y
merencanakan perubahan diprioritaskan
hidup yang perlu. Bantu untuk menghi
untuk menyesuaikan menentu dan tid
daripada membatalkan
tujuan diri/keluarga

8 Kurang pengetahuan Setelah diberikan asuhan 1. Kaji kesiapan dan hambatan  Kesalahan kons
mengenai kondisi dan keperawatan diharapkan pasien dalam belajar. Termasuk menyangkal dia
rencana pengobatan menyatakan pemahaman tentang orang terdekat perasaan sejaht
berhubungan dengan proses penyakit dan regimen lama dinikmati
Misinterpretasi pengobatan dengan kriteria hasil : minat pasien/or
informasi untuk mempela
 Mengidentifikasi efek samping
kemajuan dan p
obat dan kemungkinan komplikasi
pasien tidak me
yang perlu diperhatikan
bahwa membut
 Mempertahankan TD dalam kontinu, maka p
parameter normal tidak akan dipe

 Pemahaman ba
2. Tetapkan dan nyatakan batas darah tinggi dap
TD normal. Jelaskan tentang gejala adalah u
hipertensi efeknya pada memungkinkan
jantung, pembuluh darah, melanjutkan pe
ginjal dan otak. meskipun ketika

3. Hindari mengatakan TD ”  Karena pengob


normal ” dan gunakan istilah hipertensi adala
” terkontrol dengan baik ” kehidupan, mak
saat menggambarkan TD penyampaian id
pasien dalam batas yang membantu pasi
diinginkan. memahami keb
melanjutkan
4. Bantu pasien dalam
pengobatan/me
mengidentifikasi faktor-
faktor risiko kardiovaskuler  Faktor-faktor ri
yang dapa diubah misal, menunjukkan h
obesitas, diet tinggi lemak
jenuh dan kolesterol, pola menunjang hipe
hidup monoton,merokok, penyakit kardio
minum alkohol, pola hidup ginjal.
penuh stres.

5. Atasi masalah dengan pasien


untuk mengidentifikasi cara
dimana perubahan gaya
hidup yang tepat dapat
dibuat untuk mengurangi
faktor-faktor penyebab  Dengan mengu
Hipertensi yang ”biasa/me
aman”akan san
6. Bahas pentingnya
Dukungan, petu
menghentikan merokok dan
dapat meningka
bantu pasien dalam
pasien dalam m
membuat rencana untuk
berhenti merokok.  Nikotin mening
ketokolamin, m
peningkatan fre
TD, dan vasokon
oksigenasi jarin
meningkatkan b
miokardium.

9 Risiko tinggi Setelah diberikan 1. Pantau TD. Ukur pada kedua 


asuhan Perbandinga
penurunan curah keperawatan diharapkan pasien tangan/ paha untuk evaluasi memberikan ga
jantung berhubungan mampu berpartisipasi dalam awal. Gunakan ukuran lengkap tenta
dengan Peningkatan aktivitas yang menurunkan manset yang tepat dan bidang ma
afterload, tekanan darah/ beban kerja teknik yang akurat. Hipertensi dik
vasokontriksi jantung dengan criteria hasil : orang dew
pembuluh darah. peningkatan
 Mempertahankan tekanan darah
sampai 130,
dalam rentang individu yang
dapat diterima diastolik di
dipertimbangka
 Memperlihatkan irama dan
peningkatan p
frekuensi jantung yang stabil
maligna. Hipe
dalam rentang normal pasien
merupakan fa
ditentukan
serebrovaskular
iskemi jantun
diastolik 90-115

 Denyutan karot
2. Catat keberadaan, kualitas dan femoralis m
denyutan sentral dan perifer Denyut pada
menurun, menc
vasokontriksi (
dan kongesti ve

 S4 umum terde
hipertensi bera
3. Auskultasi tonus jantung dan
hipertrofi atriu
bunyi nafas
mengi dapat
kongesti paru
terjadinya ata
kronik

 Adanya puc
lembab dan
kapiler lambat
4. Amati warnakulit,
dengan vas
kelembaban, suhu dan masa
mencerminkan
pengisian kapiler
dekompensasi/p
jantung.

 Menurunka
ketegangan ya
tekanan darah
penyakit hiperte
5. Pertahankan pembatasan
aktivitas seperti istirahat di
tempat tidur/ kursi, jadwal
periode istirahat tanpa
gangguan, bantu pasien
melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai
 Membantu u
kebutuhan
rangsang simpa
6. Berikan lingkungan tenang, relaksasi.
nyaman, kurangi aktivitas /
keributan lingkungan. Batasi
jumlah pengunjung dan
lamanya tinggal.

7. Kolaborasi :
 Tiazid mungkin
- Berikan obat-obat sesuai atau dicampur
indikasi seperti Diuretik untuk menurun
tiazid dan vasodilator dengan fungsi
normal. Diuret
agen-agen a
dengan memba
Vasodilator me
kontriksi arteri
ujung saraf sim

10 Risiko injuri/cedera Setelah diberikan asuhan 1. Jauhkan dari benda-benda  Meminimalkan


berhubungan dengan keperawatan diharapkan pasien tajam
penglihatan ganda ( tidak mengalami suatu injury
dalam perawatan di rumah sakit
diplopia ) maupun di rumah dengan kriteria2. Berikan penerangan yang  Meminimalkan
hasil : cukup benturan

- Pasien tidak mengalami cedera. 3. Usahakan lantai tidak licin  Meminimalkan


dan basah
 Menghindari kli
4. Pasang side rail saat istirahat

5. Anjurkan pada keluarga klien  Untuk meningk


untuk selalu menemani klien keamanan
dalam beraktivitas
IV. EVALUASI

Dx 1: Pasien dapat mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil

Dx 2: Pasien menunjukkan perubahan pola makan

Mempertahankan berat badan dengan pemeliharaan kesehatan optimal

Melakukan/mempertahankan program olahraga yang tepat secara individual

Dx 3: Pasien menunjukkan keseimbangan masukan dan haluaran,BB stabil, tanda vital dalam rentang normal
dan tak ada oedema

Menyatakan pemahaman diet individu/pembatasan cairan

Dx.4: Pasien mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan

Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan

Skala nyri 0-1

Wajah pasien tidak meringis

Dx.5:Pasien tampak rileks

Melaporkan cemas berkurang sampai hilang

Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya

Dx.6 : Pasien tampak rileks

Melaporkan cemas berkurang sampai hilang

Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya

Dx.7 : Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi

Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langkah untuk menghindari atau mengubahnya.

Mendemonstrasikan pengguanaan keterampilan atau metode kopi


Dx.8 : Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan

Mempertahankan TD dalam parameter normal

Dx.9 : Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima

Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung yang stabil dalam rentang normal pasien

Dx.10 : Pasien tidak mengalami cedera.


DAFTAR PUSTAKA

Doenges,Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan


pendokumentasian perawatan pasien edisi 3. Jakarta :EGC

Price, Sylvia A.2005. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit edisi 6 volume 1. Jakarta ;EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta :EGC

http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi