Anda di halaman 1dari 27

KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN JIWA

NASKAH REFLEKSI KASUS


Mania Tanpa Gejala Psikotik (F30.1)

OLEH
Luh Nyoman Mayaswari
H1A 013 036

PEMBIMBING
dr. Emmy Amalia, Sp.KJ

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN


ILMU KESEHATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA NTB
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan petunjuk,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Naskah Refleksi Kasus yang berjudul Mania
Tanpa Gejala Psikotik tepat pada waktunya. Tugas ini merupakan salah satu prasyarat
dalam rangka mengikuti kepaniteraan klinik madya di bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma
Provinsi NTB.

Tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik dari dalam
institusi maupun dari luar institusi Fakultas Kedokteran Universitas Mataram dan
jajaran RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB. Melalui kesempatan ini penulis
megucapkan terima kasih kepada dr. Emmy Amalia, Sp.KJ selaku pembimbing dan
juga seluruh pihak yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sekian.

Mataram, April 2018

Penulis

2
STATUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nur Aini
Jenis Kelamin : Perempuan
TTL/Usia : 46 tahun
Agama : Islam
Suku : Sasak
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status Pernikahan : Cerai
Alamat : Masbagik, Lombok Timur

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Data diperoleh dari:


 Autoanamnesis pada tanggal 12 April 2018 di Bangsal Dahlia RSJ Mutiara Sukma pukul
08.00 WITA.
 Alloanamnesis yang dilakukan pada tanggal 14 April 2017 dengan keluarga pasien:
Nama keluarga : Imron Rosidi
Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hubungan : Kakak Kandung
Alamat : Masbagik, Lombok Timur

A. Keluhan Utama:
Mengamuk.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Alloanamnesis
Pasien dibawa ke RSJ karena menjadi sangat banyak berbicara dan juga
mengumpat orang-orang di sekitarnya dan membicarakan kejelekan mereka. Pasien juga

3
menjadi sangat gelisah, sering keluyuran ke luar rumah dan juga marah-marah hingga
mengamuk. Emosi pasien menjadi semakin tidak terkendali sehari sebelum dibawa ke RSJ.
Sebelumnya, pasien pernah dirawat di RSJ 27 tahun yang lalu namun telah sembuh
dan bisa menjalani aktivitas serta bekerja kembali dengan baik. Perubahan perilaku pada
pasien menurut kakak pasien kembali terjadi mulai sejak pasien bercerai dengan suaminya
9 tahun yang lalu. Sejak saat itu emosinya tampak semakin labil dan pasien mulai sering
marah-marah hanya karena hal kecil. Pasien juga menjadi semakin banyak bicara hingga
bisa berjam-jam; topik yang ia bicarakan mudah berubah mulai dari pengalamannya dahulu
hingga menceritakan masalah atau kejelekkan orang di sekitarnya. Pasien juga menjadi
semakin sering keluyuran. Berdasarkan penuturan kakak pasien, pasien tidak pernah
mengeluhkan bahwa ia mendengar bisikan-bisikan atau melihat bayangan yang aneh.

Autoanamnesis
Pasien mengatakan bahwa dirinya dibawa ke RSJ Mutiara Sukma oleh kakak
kandung dan tetangganya. Pasien mengatakan bahwa ia tidak mengerti alasan ia dibawa ke
RSJ karena menurutnya ia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak wajar atau menyakiti
orang lain, dan pasien yakin bahwa ia tidak sedang sakit jiwa, hanya sedang stress karena
banyaknya permasalahan yang ia hadapi dan salah satunya adalah perselingkuhan
suaminya yang berujung pada perceraian.
Pasien menceritakan bahwa ia sering menjadi bahan gunjingan dan dikucilkan dari
lingkungan rumah dan keluarganya karena menikah dengan orang yang beda agama hingga
pindah agama dan hal itu yang membuatnya selalu merasa jengkel. Pasien juga merasa
bahwa hal tersebut menyebabkan orang tuanya tertekan hingga meninggal dunia. Pasien
juga mengaku sering tidak cocok dengan keluarga dan tetangga yang tinggal di sekitar
rumahnya sejak tinggal kembali di Masbagik 2 tahun yang lalu karena mereka sering
mengganggunya atau menyindir tentang pernikahan beda agama, perceraian, dan riwayat
gangguan jiwanya sehingga pasien merasa wajar baginya untuk langsung membicarakan
perilaku mereka yang mengganggunya ke hadapan kerabat di sekitar rumahnya. Pasien
juga menganggap wajar jika ia sering pergi keluyuran karena merasa tidak nyaman dengan
lingkungannya. Pasien menyangkal mendengar suara yang tidak berwujud, melihat wujud
bayangan atau hal-hal aneh, merasakan rabaan yang tak berwujud, dan tidak pernah

4
mencium bau yang aneh tanpa asalnya. Menurut pasien, ia menjadi agak susah tidur
beberapa hari terakhir sejak masuk RSJ karena mudah terbangun jika mendengar suara
teman atau perawat namun ia tidak merasa mengantuk atau kelelahan.

C. Riwayat Penyakit Dahulu:

1) Riwayat Gangguan Psikiatri

Pasien MRS dan rawat inap kedua kali di RSJ Mutiara Sukma. Pasien dirawat inap
pertama kali 27 tahun yang lalu dengan keluhan yang sama yaitu mengamuk dan
gelisah. Menurut kakak pasien, emosi pasien menjadi mulai kurang stabil sejak pasien
ditolak dari sekolah perguruan yang ia inginkan. Beberapa tahun kemudian pasien
mengalami kejadian pemerkosaan hingga pasien hamil dan melahirkan anak
perempuan. Sejak saat itu emosi pasien menjadi semakin tidak stabil, pasien sangat
mudah marah dan berteriak-teriak. Pasien juga menjadi tidak bisa tidur.
2) Riwayat Gangguan Medis
Pasien menyangkal adanya riwayat kecelakaan dan benturan kepala. Riwayat tekanan
darah tinggi, sesak napas atau asma, kejang, demam tinggi, dan penyakit lainnya
disangkal.
3) Riwayat Penggunaan Alkohol dan Zat Lain
- Riwayat mengonsumsi alkohol disangkal
- NAPZA disangkal oleh pasien dan keluargnya.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi:

1) Riwayat prenatal dan perinatal


Pasien merupakan anak kedua dari 5 bersaudara. Kakak pasien mengaku bahwa
selama hamil pasien, ibunya tidak pernah sakit berat dan persalinannya berlangsung
dengan baik. Pasien dikandung selama 9 bulan dan saat persalinan ditolong oleh
dukun. Saat lahir pasien langsung menangis dan tidak memiliki kelainan fisik.

2) Masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)

5
Keluarga pasien mengaku bahwa pasien tumbuh dan berkembang sesuai usia dan
seperti anak lainnya. Pasien tidak pernah mengalami keterlambatan dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Riwayat sakit yang berat disangkal. Tidak
pernah ada riwayat kejang.

3) Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)

Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya bergaul dengan teman-
teman sekitar rumah. Keluarga pasien mengaku bahwa pasien dulunya adalah anak
yang pendiam dan selalu rajin membantu orang tua. Hubungan pasien dengan
keluarga dan tetangga cukup baik.

4) Masa kanak-kanak akhir (11-19 tahun)


Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak yang lain. Pasien melewati masa
remajanya dengan cukup baik akan tetapi kakak pasien merasa bahwa pasien mudah
sensitif dengan hal yang bersifat kegagalan atau penolakan (gagal untuk masuk
sekolah, ditolak bekerja, ditolak cintanya oleh pria yang ia sukai, dll); pasien menjadi
sangat emosional bila hal itu terjadi. Pasien juga cukup sering menyalah artikan
maksud atau ucapan orang sebagai sesuatu yang negatif. Menurut kakak pasien juga
pasien sulit melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain akan tetapi hal ini
disangkal pasien karena menurut pasien ia bukan orang yang pendendam.
5) Dewasa

a. Riwayat Pendidikan
Pasien sekolah sampai tamat SMP namun tidak melanjutkan pendidikan karena
tidak diterima di sekolah yang ia inginkan. Sejak itu pasien memutuskan untuk
langsung bekerja saja.

b. Riwayat Pekerjaan

Pasien pernah bekerja sebagai TKW di Malaysia, Arab Saudi, Qatar, dan
Hongkong. Menurut pasien, pekerjaannya selalu memuaskan sehingga majikan-
majikannya lebih mempercayainya dibandingkan pembantu rumah tangga mereka
yang lainnya dan sering memintanya untuk terus bekerja dengan mereka, akan
tetapi ia sering bermasalah dengan anggota keluarga majikannya yang lain
sehingga ia memilih untuk berhenti. Selain itu, tujuan lain pasien menjadi TKW

6
adalah agar ia bisa berkeliling dunia. Pasien juga menceritakan bahwa ia memiliki
kemampuan mempelajari bahasa dengan cepat dan pasien juga mengikuti
berbagai pelatihan seperti pelatihan keperawatan, pelatihan khusus untuk
memasak, dan berbagai pelatihan lainnya yang berguna dalam pekerjaannya.
Setelah pulang dari pekerjaannya sebagai TKW pasien membuka warung dan
berjualan di rumah.

c. Riwayat Psikoseksual
Pasien pernah mengalami kejadian pemerkosaan sekitar 20 tahun lalu hingga
melahirkan seorang anak perempuan akibat kejadian tersebut. Setahun kemudian
pasien kemudian menikah dengan pria yang 6 tahun lebih muda darinya dan
melahirkan seorang anak laki-laki. Kini pasien telah bercerai dengan suaminya
sejak 9 tahun yang lalu.

d. Riwayat Agama
Pasien sebelumnya beragama Islam namun setelah menikah pasien ikut suami dan
pindah agama menjadi Hindu. Setelah bercerai dengan suaminya pasien kembali
menjalani kegiatan ibadah agama Islam namun juga masih tetap melakukan
peribadahan agama Hindu.
e. Aktivitas Sosial
Pasien menceritakan bahwa dirinya mudah bergaul dan memiliki banyak teman di
berbagai daerah. Kakak pasien juga menyetujui hal itu namun sebelum sakit,
pasien tergolong pendiam dan tidak banyak bicara seperti saat ini.

E. Riwayat Penyakit Keluarga:


Keluarga mengaku bahwa tidak terdapat riwayat keluhan serupa dalam keluarga pasien.
F. Riwayat Pengobatan:
Menurut keluarga pasien, pasien sudah dua kali dirawat inap di RSJ. Setelah pasien
diperbolehkan pulang saat rawat inapnya yang pertama kali pada 27 tahun yang lalu, pasien
tampak seperti orang normal lainnya apabila emosinya terkendali. Pasien tidak pernah
kontrol ke RSJ setelah pulang dan biasanya dibawa ke dukun apabila keluhannya muncul.
Berdasarkan pengakuan pasien juga ia tidak diberikan obat apapun setelah pulang dari RSJ

7
dan seingat pasien tidak pernah diminta untuk kontrol kembali karena pasien memang
sudah sembuh.

G. Situasi Kehidupan Sekarang:


Saat ini pasien tinggal di rumah yang ia bangun di Masbagik setelah bercerai
dengan suaminya. Pasien juga tinggal dengan keluarganya yang lain termasuk kakak
kandungnya di pekarangan yang sama namun berbeda rumah. Pasien saat ini tidak bekerja.
Kebutuhan ekonomi pasien masih dapat ia penuhi sendiri dari hasilnya bekerja sebagai
TKW dan berjualan sebelumnya. Kakak pasien juga mengaku bahwa ia sering membantu
memenuhi kebutuhan ekonomi pasien namun hal ini disangkal oleh pasien. Pasien juga
masih dapat merawat diri sendiri dengan baik.

H. Persepsi dan Harapan Keluarga:


Menurut keluarga pasien, keluarga berharap pasien dapat sembuh total dan
keluhannya tidak muncul lagi sehingga pasien dapat menjalani kehidupannya dengan lebih
baik dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya.

I. Persepsi dan Harapan Pasien:


Pasien mengetahui bahwa dirinya saat ini berada di RSJ dan saat wawancara pasien
menyatakan keinginan untuk segera pulang karena pasien menyakini bahwa dirinya sudah
pulih dan tidak sedang gangguan jiwa.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

Pemeriksaan status mental dilakukan pada tanggal 12 April 2018, di Bangsal Dahlia
Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB.

A. Deskripsi Umum

1) Penampilan
Pasien seorang perempuan, tampak sesuai usia, penampilan cukup rapi

2) Kesadaran

Compos mentis, jernih

8
3) Sikap terhadap Pemeriksa
Kooperatif

4) Pembicaraan
Spontan, volume suara sedikit keras, artikulasi cukup jelas, logorrhea.
B. Alam perasaan dan emosi
 Mood : Disforik
 Afek : Luas
 Keserasian : Serasi
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi atau ilusi disangkal.
D. Pikiran
 Bentuk pikir : realistik
 Arus pikir : sirkumstansial
 Isi pikir : terdapat ide-ide grandiose namun masih relevan dan koheren
E. Fungsi Intelektual

a. Taraf pendidikan pengetahuan dan kecerdasan

Pasien menempuh pendidikan sampai tingkat kelas 3 SMP, tingkat pengetahuan


dan kecerdasan pasien kesannya sesuai dengan taraf pendidikan.

b. Orientasi :
 Orang  baik. Pasien mengetahui bahwa yang membawa pasien saat masuk
rumah sakit adalah kakak kandung dan tetangganya.
 Tempat baik. Pasien mengetahui bahwa saat ini dirinya berada di RSJ
Mutiara Sukma
 Waktu  baik. Pasien mengetahui waktu saat dilakukan wawancara
c. Daya Ingat :
 Jangka segera  kesan baik. Pasien dapat menyebutkan kembali nama
pemeriksa.
 Jangka pendek  kesan baik. Pasien dapat mengingat aktivitasnya tadi pagi.
 Jangka menengah  kesan baik. Pasien dapat mengingat kegiatannya setelah
pulang bekerja sebagai TKW.

9
 Jangka panjang  kesan baik. Pasien dapat mengingat bulan dan tahun
lahirnya.

d. Konsentrasi dan Perhatian

Cukup baik, pasien dapat memusatkan perhatian pada pewawancara dan


menjawab sesuai pertanyaan akan tetapi pasien beberapa kali teralihkan
perhatiannya terhadap stimulus eksternal seperti suara pintu yang dibuka atau
ditutup atau suara semprotan pengharum ruangan.

e. Kemampuan Berhitung
Baik. Pasien dapat menjawab pengurangan, penjumlahan, dan perkalian angka
sederhana dengan hasil yang benar.
f. Kemampuan Membaca dan Menulis
Kesan baik, pasien dapat membaca dan menulis dengan baik dan lancar.
g. Kemampuan Visuospasial
Kesan baik.
h. Pikiran Abstrak
Kesan baik, pasien dapat menemukan persamaan buah (apel, jeruk, nanas),
persamaan binatang (anjing, kucing, kelinci).
F. Pengendalian Impuls
Selama wawancara, pasien dapat mengendalikan diri.
G. Daya Nilai dan Tilikan
 Daya Nilai Sosial : cukup baik
 Uji Daya Nilai : cukup baik
 Tilikan : derajat 1

H. Taraf Dapat Dipercaya


Secara umum, informasi yang disampaikan oleh pasien dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 12 April 2017 di Bangsal Dahlia, Rumah
Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB.

10
Status Internus

a. Status Generalis

Keadaan umum : Baik


Kesadaran/GCS : E4V5M6
Tanda vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi radialis : 80x/mnt
Pernapasan : 20x/mnt
Suhu axila : 36,5˚C (suhu aksila)

b. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Pucat : (-)
Sianosis : (-)
Konjungtiva anemis : (-)/(-)
Ikterus : (-) /(-)
Leher : tidak tampak adanya pulsasi vena jugularis,
tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
c. Pemeriksaan Thorax

Inspeksi : pergerakan dada simetris (+/+), retraksi (-/-)


Palpasi : gerakan dinding dada simetris
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Cor: S1 S2 tunggal reg, murmur (-), gallop (-)
Pulmo: Vesikuler+/+, ronki (-/-), wheezing (-/-)
d. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : jejas (-), distensi (-)
Auskultasi : bising usus normal
Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan abdomen (-) di seluruh kuadran
abdomen
e. Ekstremitas

11
Superior : dalam batas normal
Inferior : dalam batas normal

 Nervi Cranialis
a. N. Olfaktorius : kesan baik.
b. N. Optikus
Penglihatan : ODS kesan normal
Lapang pandang : ODS sesuai pemeriksa, luas
c. N III, IV, VI
Celah kelopak mata
Ptosis : (-/-)
Eksoftalmus : (-/-)
Posisi bola mata : ortotropia ODS
Pupil
Ukuran atau bentuk : bulat (3 mm/3 mm)
Isokor atau anisokor : Isokor
Refleks cahaya langsung : (+) pada ODS
Refleks cahaya tidak langsung : (+) pada ODS
Gerakan bola mata
Parese ke arah : tidak ada parese pada ODS
Nistagmus : tidak ada
d. N V (Trigeminus)
Sensibilitas :
N VI : baik
N V2 : baik
N V3 : baik
Motorik : baik

12
e. N VII ( Fasialis )
Motorik
Motorik M frontalis M Orbikularis M Orbi Oris
okuli
Istirahat Normal Normal Normal

Gerakan Normal Normal Normal


Pengecapan 2/3 lidah bagian depan : tidak dievaluasi
f. N VIII ( Auditorius )
Pendengaran : kesan baik aurikula dekstra dan sinistra
Tes rinne/ weber : tidak dievaluasi
g. N IX / X ( Glosopharingeus/ vagus )
Posisi arkus phariks (istirahat/AAH) : di tengah, deviasi uvula (-)
Refleks menelan atau muntah : tidak dievaluasi
Pengecap 1/3 lidah bagian belakang : tidak dievaluasi
Suara : baik, tidak ada disfonia
Takikardi/ bradikardi : (-)
h. N XI ( Accesorius)
Memalingkan kepala dengan atau tanpa tahanan : baik
Angkat Bahu : baik
i. N XII ( Hipoglosus)
Deviasi lidah : tidak ada deviasi lidah
Atropi : tidak ada atropi
Tremor : tidak ada tremor

13
 Ekstremitas Motorik
Motorik Superior Inferior
Dekstra Sinistra Dekstra Sinistra
Pergerakan Bergerak Bergerak Bergerak Bergerak
aktif aktif aktif aktif
Kekuatan 5 5 5 5
Tonus otot Normal Normal Normal Normal
Bentuk otot Normal Normal Normal Normal

Refleks Fisiologis
a. Biceps : ++ / ++
b. Triceps : ++ / ++
Refleks Patologis
a. Hoffman dan Tromer : (- / -)
b. Babinsky : (- / -)
c. Oppenheim : (- / -)
Sensibilitas Ekteroseptik atau Sensorik
1. Nyeri : baik dextra et sinistra
2. Raba Halus : baik dextra et sinistra
3. Suhu : tidak dievaluasi
 Tanda Efek Ekstrapiramidal
Pergerakan abnormal yang spontan
Parkinson : negatif
Akatisia : negatif
Bradikinesia : negatif
Tremor : negatif, baik saat aktivitas
maupun istirahat (resting
tremor)
Rigiditas : negatif
Postural Instability : negatif

14
Gangguan koordinasi
Tes jari hidung : baik, dextra et sinistra
Tes disdiadokokinesia : baik, dextra et sinistra
Tes tumit : baik, dextra et sinistra
Tes pegang jari : baik, dextra et sinistra
Gangguan keseimbangan
Tes Romberg : tidak ada gangguan
Cara berjalan : normal, tidak ada gait
 Pemeriksaan Fungsi Luhur (Fungsi Bicara)
Fluency atau kelancaran : baik
Pemahaman : baik
Repetisi atau mengulang : baik
Kesan tidak ditemukan afasia baik sensorik, motorik, ataupun campuran

V. FORMULASI DIAGNOSTIK
Berdasarkan anamnesis riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik serta
status mental, pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang
secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu hendaya (disability) dalam berbagai fungsi
baik psikososial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari pasien. Dengan demikian berdasarkan
PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, pasien tidak pernah mengalami
trauma kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat menimbulkan disfungsi
otak sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh karenanya, gangguan mental
organik dapat disingkirkan (F00-F09). Pada pasien, tidak didapatkan adanya riwayat
penggunaan zat psikoaktif, atau riwayat penggunaan alkohol sebelumnya. Oleh karenanya,
gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif dapat disingkirkan (F10-
F19).
Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis, ditemukan adanya perubahan
mood menjadi disforik dan peningkatan iritabilitas yang terjadi selama sekitar 2 tahun
terakhir menurut pasien dan sekitar 9 tahun terakhir menurut keluarga. pasien. Aktivitas
bicara pasien mengalami peningkatan drastis dibandingkan sebelumnya dan pasien sangat

15
banyak menceritakan pengalaman subjektifnya. Saat proses wawancara juga pasien mudah
teralihkan perhatiannya pada stimulus eksternal namun tetap dapat mengikuti proses
wawancara dengan baik. Aktivitas fisiknya juga tampak meningkat; hal ini ditunjukkan
dengan pasien yang menjadi semakin sering keluyuran dan tidak bisa tinggal diam di satu
tempat dalam waktu yang lama. Gejala-gejala yang tampak pada pasien tersebut telah
memenuhi kriteria episode manik menurut DSM V. Pada pasien juga didapatkan logorrhea,
arus pikir sirkumstansial, dan ide-ide grandiose. Oleh karena itu, berdasarkan DSM V dan
PPDGJ III pasien memenuhi kriteria gangguan mood episode mania tanpa gejala psikotik
(F30.1).

VI. DIAGNOSIS MULTI AKSIAL

 Aksis I : Episode mania tanpa gejala psikotik (F30.1)


 Aksis II : Ciri kepribadian paranoid
 Aksis III : Tidak ada diagnosis
 Aksis IV : Masalah dengan primary support group (keluarga dan rumah
tangga) serta masalah dengan lingkungan sosial
 Aksis V : GAF 80-71

VII. DAFTAR MASALAH

A. Organobiologik : Ketidakseimbangan neurotransmitter

B. Psikologi :
 Mengamuk hingga mengganggu/mengancam orang lain
 Mood disforik
 Sangat banyak bicara (logorrhea dan sirkumstansialitas)
 Meningkatnya aktivitas fisik
 Berkurangnya kebutuhan tidur
 Adanya ide-ide grandiose

VIII. RENCANA PENATALAKSANAAN

A. Psikofarmaka:

16
□ Asam valproat : 2 x 500 mg
□ Lorazepam: 1 x 1 mg (malam)

B. Psikoterapi:
- Psikoterapi yang diberikan pasien adalah psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif,
dan psikoterapi rekonstruktif. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat
mekanisme defens (pertahanan) pasien terhadap stress. Perlu diadakannya terapi
untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan memberikan motivasi hidup.
Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga untuk
mendukung kesembuhan pasien dengan mengawasi pasien untuk minum obat teratur.
Psikoterapi rekonstruktif bertujuan membangun kembali kepercayaan diri pasien,
menjelaskan kepada pasien bahwa pasien memiliki semangat hidup.
- Terapi interpersonal dan sosial. Terapi menggunakan terapi perilaku untuk
mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan pasien serta mengurangi sensitivitas
terhadap kritik dan penolakan. Pelatihan keterampilan sosial bermanfaat untuk
memungkinkan pasien melihat bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang
lain sehingga memperbaiki perilaku interpersonal mereka.
- Family Therapy
Terapi keluarga sangat membantu untuk mengurangi konflik dan stres yang dapat
memperburuk kondisi mental individu. Terapi keluarga melatih anggota keluarga
menghargai individu dengan meningkatkan komunikasi dan penyelesaian masalah
secara bersama-sama.
- Schema Therapy
Schema therapy merupakan pendekatan didasarkan pada perilaku-kognitif dan
gestalt. Fokus terapi ini pada aspek emosi, kepribadian dan bagaimana individu
bereaksi dengan lingkungan. Terapi ini menitikberatkan pada hubungan antara
terapis dan klien (pendampingan; reparenting), kehidupan sehari-hari klien diluar
terapi, dan pengalaman trauma masa kecil.

- Cognitive behavioural therapy.


Membantu pasien untuk mengubah pola pikir dan perilaku negatif.

17
IX. TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Perubahan suasana perasaan atau afek ke arah elasi, ekspansif, atau iritabel disertai
peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental.1
B. Epidemiologi
Serangan pertama bisa muncul pada usia 15 dan 30 tahun, tetapi bisa muncul pada
berbagai usia dari masa kanak-kanak hingga dekade 7 atau 8. Prevalensi terjadinya
mania di atas usia 65 tahun sebanyak 0,1% dan sebanyak 1,4% dapat terjadi dalam
kelompok usia 18-44 tahun. Mania dapat terjadi pada usia tua (rata-rata 55 tahun)
dengan perbadingan jumalh antara perempuan dan laki-laki sebesar 2:1.2
C. Etiologi
Dasar umum untuk gangguan ini tidak ketahui. Penyebabnya merupakan
interaksi antara faktor biologis, faktor genetik dan faktor psikososial. Bukan hanya
tidak mungkin untuk menyingkirkan faktor psikososial, namun faktor nongenetik
mungkin memainkan peranan kausatif dalam perkembangan gangguan ini pada
sekurangnya beberapa pasien.2,3
Genetika. Pola penurunan genetika terjadi melalui mekanisme yang
kompleks. Penelitian kembar menunjukkan angka kesamaan sebesar 70% untuk
kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot. Insiden dalam masyarakat
umum sebesar 1% dan dalam keluarga tingkat pertama 10-15%. Jenis transmisinya
kemungkinan poligenik, mengarah ke berbagai tingkat predisposisi. Penyakit
bipolar dan unipolar bersifat menurun. 2,3
Biokimia. Biokimia dari kelainan afektif tetap tidak diketahui, walaupun
dua hipotesis tentang senyawa amina menghasilkan banyak penyelidikan selama
bertahun-tahun. Hipotesis katekolamin menyatakan bahwa setidaknya beberapa
penyakit mania mungkin berhubungan dengan kelebihan katekolamin di dalam
otak. Hipotesis indolamina juga membuat pernyataan serupa untuk 5
hydroxytriptamin (5HT). Metabolit utamanya asam 5-hydroxyindoleacetic acid (5
HIAA). Kelainan metabolit amin biogenik seperti 5-hydroxyindoleacetic acid (5

18
HIAA), homovanillic acid (HVA), 3-metoksi-4-hidroksifenilglikol (MHPG) dalam
darah, urin, dan cairan cerebrospinal dilaporkan ditemukan pada pasien. 2,3
Terjadinya mania secara biologi sampai saat ini belum diketahui dengan
pasti. Terdapat hipotesis yang menjelaskan bahwa jumlah neurotransmitter
serotonin di lobus temporal mungkin sangat tinggi sehingga terjadi mania.
Dopamin, norepinephrine, glutamate dan GABA juga mengambil peranan yang
penting. Lobus temporal berperan dalam berbicara, belajar, membaca, asosiasi
huruf berisi amygdala, yang merupakan pusat emosional di otak. Bagian kiri
amygdala lebih aktif pada wanita yang mania dan korteks orbitofrontal merupakan
bagian yang kurang aktif. 2,3
Psikososial. Hal ini berhubungan dengan psikis (kejiwaan) dan keadaan
lingkungan sosial seorang penderita mania. Kepribadian premorbid biasanya
menunjukkan adanya gangguan afek yang ringan selama hidupnya. Keadaan ini
tidak berhubungan dengan penyebab eksterna. Kepribadian atau personalitas
penderita mania biasanya berperilaku lebih riang, energitik, dan lebih ramah dari
rata-rata. Penelitian terbaru menemukan bahwa penderita gangguan bipolar afektif
yang menggunakan obat-obatan maupun alkohol, memiliki onset yang lebih awal
dan penyakit yang lebih parah daripada yang tidak menggunakannya. Para
pengguna obat-obatan dan alkohol tersebut lebih bersifat iritabel dengan
mood/perasaan yang mudah berubah serta lebih resisten terhadap pengobatan dan
lebih cenderung untuk dirawat inap di rumah sakit. Meskipun terdapat perdebatan
dalam perbandingan penggunaan obat-obatan dan alkohol dan terjadinya gangguan
afektif, tetapi secara umum insidens terjadinya gangguan ini pada pengguna
alkohol beberapa kali lebih banyak daripada populasi lain yang tidak
menggunakannya (sekitar 6%-9%).2,3
D. Gejala Klinis
Episode mania
Biasanya paling sedikit berlangsung selama satu minggu hampir setiap hari,
afeknya meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung (iritabel) atau
membumbung tinggi (ekspresif) dan terdapat hendaya dalam fungsi kehidupan
sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala berupa: penurunan kemampuan bekerja,

19
hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin. Perasaannya hipethym, mudah
tersingggung, tidak mudah frustasi, mudah marah dan menyerang. Emosinya tidak
stabil, bisa cepta berubah dan gembira ke depresi dalam beberapa menit saja.
Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang berlebihan, merasa hebat.
Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat produktif dan tidak terkendalikan.1
 Tampilan umum: Bersemangat, banyak bicara, melawak, hiperaktif. Ada
kalanya mereka memperlihatkan gejala psikotik dan bingung sehingga perlu
difiksasi dan diberikan suntikan antipsikotik.
 Perasaan (mood): Moodnya hipertimik, mudah tersinggung, mudah frustrasi,
mudah marah dan menyerang.
 Pembicaraan: Bicaranya sukar dipotong, bombastis, volumenya keras, bermain
dengan kata-kata, bercanda, berpantun, dan tidak relevan. Selanjutnya bisa
terjadi loncat gagasan, asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa
inkoheren sehingga sukar dibedakan dengan pasien skizofrenia.
 Gangguan persepsi: 75 % pasien mania mengalami waham, yang biasanya
berhubungan dengan kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau
kehebatan yang luar biasa. Kadang-kadang ada waham dan halusinasi yang
kacau dan tidak serasi.
 Gangguan pikiran: Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang
berlebihan atau merasa hebat. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat
produktif dan tidak terkendalikan.
 Gangguan sensorium dan fungsi kognitif: Ada sedikit gangguan pada fungsi
sensorium dan kognitif, terkadang jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
meskipun tidak ada gangguan orientasi dan daya ingat.
 Gangguan pengendalian diri: Sekitar 75 % pasien mania suka mengancam dan
menyerang. Ada juga yang melakukan homicide dan suicide. Mereka sukar
menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan kalau sedang
tersinggung atau marah.
 Tilikan: Pada umumnya pasien mania mengalami gangguan tilikan. Mereka
mudah melanggar hukum, pelanggaran dibidang seksual dan keuangan,

20
kadang-kadang mereka menyebabkan kebangkrutan ekonomi keluarga.

Mania Tanpa Gejala Psikotik (F30.1)

Episode mania tanpa gejala psikotik dideskripsikan sebagai suasana perasaan


(mood) meninggi tidak sepadan dengan keadaan individu, dan dapat bervariasi
antara keriangan (seolah-olah bebas dari masalah apa pun) sampai keadaan eksitasi
yang hampir tak terkendali. Elasi (suasana perasaan yang meningkat) itu disertai
dengan energi yang meningkat, sehingga terjadi aktivitas berlebihan, percepatan dan
kebanyakan bicara, dan berkurangnya kebutuhan tidur. Pengendalian yang normal
dalam kelakuan sosial terlepas, perhatian yang terpusat tak dapat dipertahankan, dan
sering kali perhatian sangat mudah dialihkan. Harga diri membubung, dan pemikiran
yang serba hebat dan terlalu optimis sering diungkapkan.1

Pasien dengan episode mania dapat mengalami gangguan persepsi, seperti apresiasi
warna terutama yang menyala/amat cerah (dan biasanya indah), keasyikan
(mengikat perhatian) pada rincian sehalus-halusnya mengenai permukaan
penampilan barang, dan hiperakusis subjektif. Individu itu mungkin mulai dengan
perbagai rencana yang tidak praktis dan boros, membelanjakan uang secara
serampangan, atau menjadi agresif, bersifat cinta-kasih, atau berkelakar dalam
situasi yang tidak tepat. Suasana perasaan (mood) yang tampil pada beberapa
episode manik lebih banyak mudah tersinggung dan curiga, daripada elasi. Serangan
pertama paling banyak muncul pada usia antara 15 dan 30 tahun, namun dapat terjadi
pada setiap usia antara akhir masa kanak sampai dasawarsa ketujuh atau kedelapan.
1,2

E. Kriteria Diagnosis
Menurut DSM-IV-TR: Kriteria Diagnostik Episode Mania

21
Adanya periode nyata dari mood yang elasi, ekspansif, atau irritable yang abnormal
dan menetap selama sedikitnya 1 minggu.

Selama periode kekacauan mood di atas terdapat 3 gejala menetap (atau lebih atau
4 jika moodnya hanya irritable) dan pada derajat yang bermakna dari:

- Rasa harga diri meningkat atau kebesaran.


- Kebutuhan tidur berkurang.
- Lebih aktif bicara dari biasanya atau dorongan kuat bicara terus-menerus.
- Lompat gagasan atau pikiran dirasakan seperti berpacu.
- Disatraktibilitas (perhatian terlalu mudah berpindah ke stimuli eksternal yang tidak
penting atau berkaitan).
- Peningkatan intensitas aktivitas yang bertujuan atau agitasi psikomotor.
- Keterlibatan berlebihan dalam aktivitas-aktivitas yang menyenangkan dimana
berpotensi menimbulkan konsekuensi yang menyakitkan (misalnya kesenangan tak
tertahankan untuk berbelanja, perilaku seksual yang takabur, atau penanaman modal
tanpa perhitungan).

Gejala-gejala di atas tidak memenuhi kriteria episode campuran.

Kekacauan mood ini mampu menganggu fungsi-fungsi pekerjaan atau aktivitas


sosial dengan sesama, atau dibutuhkan rawat inap untuk mencegah tindakan
membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau adanya gambaran psikotik.

Gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (medikasi
penyalahgunaan obat atau terapi lainnya) atau kondisi medis umum (misalnya
hipertiroid)

Kriteria diagnostik episode mania tanpa gejala psikotik:

- Episode harus berlangsung sekurang – kurangnya 1 minggu, dan cukup berat sampai
mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa
dilakukan.

22
- Perubahan afek harus disertai dengan energiu yang bertambah sehingga terjadi
aktivitas berlabihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang
berkurang, ide – ide perihal kebesaran atau “grandiose ideas” dan terlalu optimistik.
F. Penatalaksanaan
□ Psikofarmaka
No Obat Nama Dagang sediaan Dosis Efek samping
1 Lithium FRIMANIA Tab 200- 250-500 Tremor, poliuria, polidipsi,
peningkatan berat badan,
Carbonate (Mersifarma) 400 mg mg
gangguan kognitif,
gangguan
saluran cerna, rambut
rontok,
leukositosis, jerawat,dan
edema
2 Karbamazepin TEGRETOL Tab 200mg 300- Lelah, mual, diplopia,
(Novartis) Caplet 600mg/h pandangan kabur, dan
BAMGETOL 200mg 2-3x ataxia
(Mersifarma) perhari
3 Valproic Acid DEPAKENE Syr. 2x250 Nyeri pada saluran cerna,
(Abbott) 250mg/ 5ml mg/h peningkatan ringan enzim
hati,
tremor, dan sedasi
4 Dilvaproex Na DEPAKOTE Tab. 250mg 3x250mg/ Sakit kepala, pusing, mual,
(Abbott) Tab ER h muntah, nyeri ulu hati,
500mg 1- pandangan kabur
2x250mg/
h
5 Clonazapine Tablet salut 0,5- Edema, palpitasi, ataksia,
selaput 2 20mg/hari sakit kepala, myalgia
mg

□ Psikoterapi
- terapi keluarga
- terapi interpersonal
- terapi tingkah laku

23
- therapeutic community
- kurangi jumlah dan berat stressor

G. Prognosis
Sejumlah 4% kasus mania dapat berulang, intervalnya tidak teratur dan tidak dapat
diramalkan, tetapi dengan peningkatan jumlah serangan, maka waktu interval
cenderung berkurang. Prognosis diperkirakan baik bila episodenya ringan, tidak ada
gejala psikotik, dan tinggal di RS dalam waktu yang singkat. Gambaran prognostik
yang memuaskan dan indikator respon yang baik terhadap terapi fisik mencakup
gejala endogen yang khas, misalnya mulainya mendadak, kepribadian premorbidnya
stabil tanpa sifat neurotik dan sebaliknya gambaran prognostik menjadi buruk jika
ada depersonalisasi, sifat bawaan histeri dan gejala atipik lainnya. Gangguan ini
cenderung memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan mengalami kekambuhan
90% berulang dalam 10 tahun.3

X. PEMBAHASAN KASUS DAN CLINICAL REASONING


Pada kasus ini ditemukan adanya berbagai gejala psikis antara lain adalah
perubahan mood menjadi disforik atau rasa tidak senang/jengkel, disertai dengan
peningkatan yang signifikan pada pembicaraan dan aktivitas fisik. Oleh karena gejala yang
dialami pasien sudah terjadi lebih dari 1 minggu maka pasien dapat didiagnosis mengalami
gangguan mood dengan tipe mania. Gejala-gejala mania disebabkan oleh tingginya kadar
serotonin dalam celah sinaps neuron, khususnya pada sistem limbik, yang berdampak
terhadap “dopamine receptor supersensitivity.”
Pasien menyangkal bahwa ia mengalami halusinasi dalam bentuk apapun dan
selama proses wawancara, pasien tidak menunjukkan adanya kecenderungan untuk
mempertahankan keyakinan-keyakinan yang tidak wajar. Hal ini menunjukkan bahwa
pasien belum jatuh dalam keadaan psikotik.
Permasalahan yang diduga menjadi pencetus pada pasien ini adalah permasalahan
yang berkaitan dengan primary support group yaitu keluarga dan lingkungan sosial serta

24
riwayat tidak teratur minum obat. Pemecahan permasalahan yang jelas dan komunikasi
yang baik dengan keluarga dapat menjadi faktor pendukung dalam terapi.
Penggunaan mood stabilizer pada pasien bertujuan untuk menormalkan
peningkatan mood yang dialami pasien. Litium merupakan mood stabilizer klasik yang
pertama kali ditemukan sebelum akhirnya agen-agen terapi lain ditemukan memiliki efek
antimania yang serupa. Berdasarkan beberapa penelitian, asam valproat juga merupakan
agen yang cukup bagus dalam menangani episode mania sehingga asam valproat dan juga
carbamazepine cukup sering digunakan sebagai pengganti litium yang tidak tersedia di
beberapa daerah. Selain anti-konvulsan, anti-psikotik golongan 2 juga ditemukan memiliki
efek mood-stabilizer sehingga obatnya sering dikombinasikan dan anti-konvulsan terutama
pada pasien dengan gejala psikotik. Seluruh anti-konvulsan bekerja sebagai mood-
stabilizer dengan cara menghambat kanal sodium bergerbang voltase yang kemudian
memengaruhi sistem glutamat di otak. Akan tetapi, pada asam valproat, carbamazepine,
dan oxcarbamazepine mekanismenya sebagai mood stabilizer lebih banyak berkaitan
dengan sistem GABA.1
Pada sebagian besar kasus, monoterapi tidak cukup untuk menangani kasus mania
sebagai terapi akut dan/atau rumatan sehingga pasien biasanya akan diberikan terapi
kombinasi. Terapi kombinasi (antipsikotik atipikal dengan litium atau asam valproat)
biasanya menunjukkan efikasi yang lebih baik dibandingkan monoterapi pada fase manik
terkait dengan efikasinya dan pencegahan relapsnya. Akan tetapi, efek samping dari
pemberian terapi kombinasi adalah tingkat kepatuhan minum obat menjadi lebih rendah
dan kejadian putus obat menjadi semakin meningkat.1
Pasien diberikan terapi asam valproat sebagai mood stabilizer dengan dosis
sebesar 10-15 mg/kgBB per hari atau sekitar 1000 mg/hari dalam dosis terbagi dan dapat
ditingkatkan hingga dosis maksimal yaitu sebesar 60 mg/kgBB per hari. Pasien juga
diberikan lorazepam dengan tujuan sebagai obat penenang atau anti-cemas sehingga
membantu pasien untuk mulai tidur dan tetap tidur. Dosis awal lorazepam yang diberikan
adalah 2-3 mg dan dapat diberikan setiap 8-12 jam per hari dengan dosis maksimal tidak
lebih dari 10 mg per hari. Pada pasien, lorazepam hanya diberikan sekali sehari pada malam
hari untuk membantu proses tidur malam pasien.1,3

25
Kurva Perjalanan Penyakit
3

2.5

normal
1.5
gangguan jiwa

0.5

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Kusumawardhani A, Husain AB, dkk. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010.

2. Sadock, Benjamin J, Virgina A. Kaplan & Sadock Synopsis of Psychiatry: Behavioral/


Clinical Psyciatry. 10th Edition. 2007. P. 777-858. New York. Lippincot William &
Wilkins.

3. Maslim R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III, pedoman
diagnostik F30-39: Gangguan Suasana Perasaan/Mood (Gangguan Afektif). H. 58-69.
Jakarta, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

27