Anda di halaman 1dari 21

BAB 17

Tambahan untuk Anestesia

Kata kunci :

1. Diphenhydramine adalah salah satu dari berbagai kelompok obat yang secara kompetitif
memotong kerja reseptor H1. Banyak obat antagonis reseptor H1 yang dianggap sebagai
antimuscarinic atau atropine-like atau antiserotonergic activity (antiemetic).
2. H2 blockers menurunkan resiko perioperative seperti aspirasi pneumonia dengan
menurunkan volume cairan lambung dan meningkatkan PH lambung.
3. Metoclopramide meningkatkan kerja LES, mengosongkan lambung, menurunkan cairan
lambung dengan menstimulasi efek acetylcholine pada otot polos usus.
4. Ondansetron, granisetron, dan dolasetron secara selektif menghambat reseptor serotonin
5-HT3 yang memiliki peran penting dalam memulai reflek muntah.
5. Ketorolak secara parental di administrasikan sebagai obat OAINS yang bekerja secara
analgetik dengan menghambat sintesis prostaglandin.
6. Klonidin biasa digunakan sebagai agen anti hipertensi, tetapi di anestesi digunakan
sebagai tambahan pada anestesi epidural dan nervus perifer serta analgesia. Obat ini juga
sering digunakan dalam mengatur nyeri pada pasien neuropatik kronik.
7. Dexmedetomidin adalah agonist a2 selektif yang diberikan dengan parenteral.
8. Aktivasi selektif kemoreseptor karotis dengan dosis rendah doxapram dapat menstimulasi
pengontrolan hipoksik, memproduksi peningkatan volume tidal. Namun, doxapram
bukan merupakan agen reversal yang spesifik dan tidak dapat diganti dengan terapi
suportif standar.
9. Nalokson mengembalikan aktivitas agonis yang berhubungan dengan endogenus atau
eksogenus komponen opioid.
10. Flumazenil berguna untuk mengembalikan sedasi benzodiazepine dan pengobatan
overdosis dari benzodiazepin.
11. Aspirasi tidak selalu menghasilkan aspirasi pneumonia. Kerusakan parah paru bergantung
kepada volume dan komposisi aspirasinya. Pasien dengan resiko merupakan pasien yang
memiliki volume cairan lambung lebih dari 25 mL (0,4 mL/kg) dan pH lambung kurang
dari 2,5.

1|Adjuncts of anesthesia
Banyak obat yang digunakan secara peripoperative dengan tujuan untuk
melindungi dan mencegah terjadinya insiden mual, muntah, aspirasi pneumonia, serta
mengurangi depresi respiratori secondary terhadap obat narkotika atau benzodiazepine.
1. Aspirasi
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya resiko aspirasi pada pasien, termasuk
perut yang “kenyang”, obstruksi intestinal, hiatal hernia, obesitas, kehamilan, reflux
disease, operasi emergency, dan tingkat kedalaman anesthesia yang tidak adekuat.
Banyak intervensi yang ditemukan guna mengurangi resiko tersebut, salah satunya adalah
dengan cricoid pressure atau sellick’s maneuver, yang mungkin hanya memberikan
proteksi terbatas dan jika gagal dapat memberikan efek buruk pada esophagus. Meskipun
memiliki efek yang bagus, hingga saat ini belum ada bukti pasti. Secara teoritis, agen
anestesi dapat menurunkan kerja LES, serta dapat meningkatkan resiko aspirasi. Selain
itu, anestesi yang tidak kuat dapat menyebabkan pasien muntah dengan airway yang
tidak terlindungi sehingga dapat menjadi aspirasi. Kombinasi berbeda premedikasi
dikatakan dapat menurunkan volume lambung, meningkatkan pH lambung, atau kerja
LES. Agen-agen tersebut adalah anti-histamin, antacid, dan , metoklopramid.
 Histaamine-Receptor Antagonists

2|Adjuncts of anesthesia
 Fisiologi Histamin
Histamine dapat ditemukan di SSP, mukosa lambung, dan jaringan perifer
lainnya. Histamin disintesisasi oleh dekarboksilasi dari asam amino
histidin. Konsentrasi tertinggi histamin didapatkan di storage granules
dari sirkulasi basofil dan sel mast di seluruh tubuh. Histamin dilepaskan
dari sel-sel ini dan distimulasi secara kimia, mekanik atau immunological.
Histamin memiliki berbagai macam reseptor, yaitu reseptor H1 yang
mengaktivasi fosfolipase C, reseptor H2 yang meningkatkan siklus
intraselular adenosine monofosfat (cAMP), reseptor H3 yang berlokasi di
histamine-secreting cells dan memediasi feedback negative, menghambat
sintesis dan pelepasan histamin tambahan.
o Kardiovaskular
Histamin menurunkan tekanan darah arteri tetapi meningkatkan
heart rate dan kontraktilitas miokardial. Reseptor H1 menstimulasi
peningkatan permebalitias kapiler dan inritabilita ventrikel,
sedangkan reseptor H2 menstimulasi peningkatan heart rate dan
peningkatan kontraktilitas. Kedua reseptor histamine tersebut
memediasi dilatasi arteri perifer dan vasodilatasi beberapa arteri
coroner.
o Respiratorik
Histamin melalui reseptor H1 dapat mengkontriksikan otot halus
bronkiolus. Reseptor H2 mungkin dapat menstimulasi
bronkodilatasi ringan. Histamin memiliki efek yang berbeda pada
pembuluh darah pulmonal. Reseptor H1 muncul pada mediasi
beberapa vasodilatasi pulmonal, sedangkan H2 reseptor mungkin
respon pada histamin yang mediasi vasokonstriksi pulmonal.
o Gastrointestinal
Reseptor H2 pada sel parietal dapat meningkatkan sekresi asam
lambung, sedangkan reseptor H1 dapat menyebabkan kontraksi
otot halus intestinal.

3|Adjuncts of anesthesia
o Dermal
Respon wheal-and-flare terhadap histamin pada kulit merupakan
hasil dari permeabilitas kapiler dan vasodilatasi melalui reseptor
H1.
o Immunological
Reseptor H1 menstimulasi leukosit dan sintesis prostaglandin.
Sedangkan reseptor H2 mengaktivasi penekan limfosit T.
 H1-Receptor Antagonist
o Mekanisme
 Difenhidramin
Antagonis reseptor H1 yang dianggap sebagai anti
muskarinik atau atropine-like activity atau aktivitas
antiserotonergik (antiemetik). Secara klinis digunakan
sebagai supresoe reaksi alergi dan gejala infeksi saluran
pernapasan atas (urtikaria, rhinitis, konjungtivitis), vertigo,
nausea, dan vomit (motion sickness, meniere’s disease),
penurun batuk, dyskinesia. Meskipun antagonis ini dapat
mencegah respon bronkokonstiktif terhadap histamin, tetapi
tidak dapat digunakan dalam pengobatan astma bronkial
yang disebabkan oleh mediator lain.
Efek antiemetik dan hipnotik ringan merupakan
salah dua alas an anti-histamin digunakan sebagai
premedikasi, sedangkan Anti-histamin terbaru (generasi
kedua) hanya sedikit atau tidak ada efek sedasi karena
terbatasnya peentrasi yang dapat melalui blood-brain
barrier. Obat jenis ini (loratadin, fexofenadine, dan
cetirizine) sering digunakan untuk rhinitis alergi dan
urtikaria. Meclizine dan dimenhidrinate digunakan sebagai
antiemetic, motion sickness¸dan manajemen vertigo.
Sedangkan cyproheptadine secara signifikan sebagai

4|Adjuncts of anesthesia
antagonis serotonin dan digunakan untuk cushing’s disease,
sindrom carcinoid, dan cluster headaches.

 Dosis
Dosis dewasa diphenhydramine adalah 25-50 mg (0,5-1,5
mg/kg) secara oral, intramuscular atau intravena setiap 4-6
jam.
 Interaksi obat
Efek sedative antagonis reseptor H1 dapat meningkatkan
depresan SSP lainnya seperti barbiturates, benzodiaepin,
dan opioid.
 H 2 -Receptor Antagonists
 Mekanisme
Cimetidine, famotidine, nizatidin, dan ranitidine, secara
kompetitif menghambat ikatan histamine dengan reseptor
H2, sehingga menurunkan asam lambung dan oeningkatkan
pH lambung.

 Penggunaan Klinis
Semua agen H2-receptor antagonists efektif dalam
pengobatan peptikum duodenal dan GERD. Persiapan
secara intavena juga digunakan untuk mencegah stress

5|Adjuncts of anesthesia
ulserasi pada pasien kritis. Dengan menurunkan volume
asam lambung, dapat menurunkan resiko aspirasi
pneumonia. Kombinasi antagonis reseptor H1 dan H2 dapat
menegah reaksi alergi terhadap penggunaan suatu obat.
Meskipun penggunaan pretreatment dari agen-agen ini
tidak terlalu menurunkan produksi histamine, namun
setidaknya dapat menurunkan hipotensi.
 Efek samping
Pemberian cimetidin atau ranitidin dari injeksi IV rapid
dapat menyebabkan hipotensi, bradikardi, dan cardiac
arrest pada pasien kritis. Sebaliknya, famotidine dapat
diberikan dengan aman melalui injeksi intravena dalam 2
menit setiap periode. Efek samping jangka panjang dari
cimetidine adalah hepatotoksisitas, nefritis interstisial,
granulositopenia, dan trombositopenia serta perubahan
sattus mental dari letargi dan halusinasi ke seizure, secara
particular pada pasien usia senja. Sebaliknya, ranitidine,
nizatidin, dan famotidine tidak memiliki efek terhadap
reseptor androgen dan penetrasi blood-brain barrier.
 Dosis
Sebagai premedikasi menurunkan risiko aspirasi
pneumonia, antagonis reseptor H2 administrasi pada waktu
tidur dan diberikan lagi 2 jam sebelum pembedahan (Table
17-2). Karena semua keempat obat eliminasi oleh ginjal,
dosis seharusnya diturunkan pada pasien dengan disfungsi
ginjal signifikan.
 Interkasi Obat
Rasio penyerapan digoksin, cimetidine dan ranitidine
menjadi lambat.

6|Adjuncts of anesthesia
 ANTACIDS
 Mekanisme

Aksi Antasida menetralkan keasaman cairan lambung dengan


menyediakan basa (biasanya hidroksida, karbonat bikarbonat, sitrat, atau
trisilikat) yang bereaksi dengan ion hidrogen untukmembentuk air.

 Penggunaan klinis

Penggunaan umum dari antasida termasuk pengobatan ulkus lambung dan


duodenum, GERD, dan Zollinger Ellison syndrome. Dalam anestesiologi,
antasid memberikan perlindungan terhadap efek berbahaya dari
pneumonia aspirasi dengan meningkatkan pH isi lambung. Tidak seperti H
, antagonis reseptor, antacid memiliki efek langsung. Sayang-nya, mereka
meningkatkan volume intragastrik. Aspirasi dari antasida-antasida tertentu
(aluminium atau magnesium hidroksida) menghasilkan kelainan pada
fungsi paru yang sebanding dengan yang terjadi setelah aspirasi asam.
Antasida nonpartikulat (natrium sitrat atau natrium bikarbonat) jauh
kurang merusak alveoli paru jika diaspirasi. Selanjutnya, antasida nonpar-
tikulat bercampur dengan isi lambung lebih baik daripada larutan partikula
t. Pengaturan waktu sangat penting, karena antasida nonparticulate
kehilangan efektivitasnya 30-60 menit setelah konsumsi.

 Dosis

Dosis umum dewasa 0,3 M larutan natrium sitrat-Bicitra (natrium sitrat


dan asam sitrat) atau Polycitra (natrium sitrat, kalium sitrat, dan asam
sitrat) -adalah 15-30 mL secara lisan, 15-30 menit sebelum induksi.

 Interaksi obat

Karena antasida mengubah pH lambung dan urin, mereka


mengubah penyerapan dan penghapusan banyak obat. Tingkat
penyerapan digoxin, cimetidine, dan ranitidin diperlambat,
sedangkan tingkat eliminasi feno-barbital dipercepat.

7|Adjuncts of anesthesia
 Metoclopramid
 Mekanisme
Secara perifer sebagai kolinomimetik, dan secara sentral
sebagai antagonis reseptor dopamine.
 Klinis
Dengan meningkatkan stimulasi efek acetylcholine pada
otot halus intertinal, metoclopramide meningkatkan kerja
LES, pengosongan lambung, menurunkan volume cairan
asam lambung. Metoclopramide tidak memiliki efek dalam
sekresi asam lambung atau pH cairan lambung.
Metoklopramid memiliki efek antiemetic dengan
menghambat reseptor dopamine pada CTZ di SSP.
 Efek Samping
Injeksi IV dapat menyebabkan kaku perut, dan obat ini di
kontraindikasikan pada pasien dengan obstruksi intestinal,
dapat menimbulkan hipertensi krisis pada pasien dengan
pheochromocytoma. Sedasi, nervousness, dan efek
ekstapiramidal dari antagonis dopamine, jarang terjadi dan
dapat disembuhkan. Metoklopramid jarang dapat
menimbulkan hipotensi dan aritmia.

8|Adjuncts of anesthesia
 Dosis
Dosis dewasa 10-20 mg (0,25 mg/kg) efektif secara oral,
intramuscular dan intravena (diinjeksikan lebih dari 5
menit). Karena obat ini diekskresikan melalui urin, maka
dosis harus diturunkan pada pasien dengan disfungsi renal.
 Interaksi Obat
Obat antimuskarinik menghambat efek metoklopramid
terhadap GI. Obat ini juga menurunkan absorbs cometidin
yang diberikan secara oral. Penggunaan dengan
phenothiazine atau butyrophenon (droperidol)
meningkatkan efek samping ekstrapiramidal.
 Proton Pump Inhibitors
 Mekanisme
Omeprazole, lansoprazole, rabeprazole, esomeprazole dan
pantprazole, mengikat pompa proton dari sel parietal di
mukosa lambung dan menghambat sekresi dari ion
hidrogen.
 Klinis
PPI diindikasikan dalam pengobatan ulser duodenum,
GERD dan zollingerellison syndrome. Obat ini lebih cepar
dari H2 receptor blockers dalam pengobatan GERD dan
ulkus peptikum. Masih Terdapat pertanyaan perihal
penggunaan PPI pada pasien yang mengkonsumsi
copidogrel, Karena terapi yang tidak adekuat ketika kedua
obat tersebut dikombinasikan.
 Efek Samping
Dalam sistem GI (mual, nyeri perut, konstipasi, diarea),
serta dapat menyebabkan myalgia, anafilaksis, angioedema,
dan rekasi buruk dermatological, namun jarang terjadi.
Dalam jangka panjang penggunaan obat ini dapat
menimbulkan hyperplasia sel gastric enterochromaffin-like

9|Adjuncts of anesthesia
dan meningkatkan resiko pneumonia terhadap bakteri
kolonisasi pada lingkungan pH yang lebih tinggi.
 Dosis
Dosis oral yang direkomendasikan untuk omeprazole
adalah 20 mg, lansoprazole 15 mg, rabeprazole 20 mg, dan
pantoprazole 40 mg. obat ini dieliminasikan melalui hepar,
sehingga dosis diturunkan pada pasien dengan gangguan
fungsi hepar yang buruk.
 Interaksi Obat
PPI dapat menganggu enzim hepatic p-450, secara
potensial menurunkan pembersihan diazepam, warfarin,
dan phenytoin. Penggunaan bersamaan dengan clopidogrel
dapat menurunkan efektifitas CPG.
2. Postoperative Nausea dan Vomiting (PONV)
Tanpa adanya profilaksis, PONV dapat muncul pada 20-30% dari populasi general
surgical dan 70-80% pada predisposing risk factors (Table 17-3). Semakin panjang
durasi anestetik, semakin meningkat pula resiko terjadinya PONV, sehingga pemberian
antiemetic profilaksis dilakukan guna menurunkan insidensi tersebut. Obat-obat yabg
digunakan untuk profilaksis dan pengobatan PONV (Table 17-4). Termasuk 5-HT3
antagonis, butyophenones, dexametason, neurokinin-1 receptor antagonist, antihistamin
dan skolapamin transdermal mungkin dapat digunakan.

10 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
 5-HT3 Receptor Antagonist
 Fisiologi Serotonin
Serotonin, 5-hydroxytryptamine (5-HT), hadir dalam jumlah besar di
trombosit dan saluran pencernaan (enterochromaffin sel dan pleksus
myenteric). sebuah neurotransmitter penting dalam berbagai bidang
sistem saraf pusat. Serotonin dibentuk oleh hidroksilasi dan dekarboksilasi
triptofan. Monoamine oxidase menonaktifkan serotonin menjadi 5
hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA). Fisiologi serotonin sangat kompleks
karena ada setidaknya tujuh jenis reseptor, sebagian besar dengan
beberapa subtipe. Reseptor 5-HT 3 memediasi muntah dan ditemukan di
saluran pencernaan dan otak (area postrema). Reseptor 5-HT 2A
bertanggung jawab untuk kelancaran kontraksi otot dan agregasi
trombosit, 5-HT4 reseptor di sekresi saluran pencernaan menengah dan
peristaltik, serta reseptor 5-HT 6 dan 5-HT 7 terletak terutama di sistem
limbik di mana mereka tampaknya memainkan peran dalam depresi.
Semua kecuali 5-HT 3 reseptor digabungkan ke protein G dan afeksi baik
adenylyl cyclase atau fosfolipase C; efek dari reseptor 5-HT 3 dimediasi
melalui saluran ion.
o Kardiovaskular
Serotonin sangat kuat dalam vasokontriksi arterioal dan vena-vena.
Vaskulatur renal dan pulmonary sangat sensitive terhadap
vasokotriksi arteri yang merupakan efek dari serotonin.
Kontraktilitas kardiak dan heart rate dapat muncul langsung
setelah pelepasan serotonin, dan sering diikuti dengan reflek
bradikardi. Vasodilatasi pada otot rangka dapat menyebabkan
hipotensi.
o Respiratori
Peningkatan kontraksi otot polos saluran penapasan.
Bronkokonstriksi sering muncul pada sindrom karsinoid.

11 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
o Gastrointestinal
Kontraksi otot polos (melalui reseptor 5-HT 2) dan pelepasan
acetylcholine yang diinduksi oleh serotonin di pleksus myenteric
(melalui reseptor 5-HT 3) sangat meningkatkan peristaltik.
o Hematologi
Aktivasi reseptor 5-HT 2 menyebabkan pengumpulan trombosit.
 Mekanisme
Ondansentron (Zofran), granisetron (Kytril), dan dolasetron (Anzemet) secara
selektif menghambat reseptor 5-HT3. Dengan sedikit atau tanpa efek terhadap
reseptor dopamine. 5-HT3 yang secara perifer berokasi di abdominal vagal
afferent dan secara sentral di area postrema CTZ dan nucleus tractus solitaries,
memiliki peran penting dalam memulai refleks muntah.

 Klinis
Antagonis reseptor 5 HT-3 secara general diberikan pada akhir operasi. Semua
agen-agen ini efektif sebagai antiemetic pada periode postoperative.
Dibandingkan dengan droperidol dan dexametason, ondansetron lebih efektif.
Agen baru yaitu palonosetron, memiliki durasi lebih panjang dan dapat
menurunkan insidensi PDNV (Post discharge nausea and vomiting).
 Efek samping
Antagonis reseptor 5-HT 3 pada dasarnya tidak memiliki efek samping yang
serius, bahkan dengan jumlah dosis lebih dari yang direkomendasikan. Tidak
menyebabkan sedasi, tanda-tanda ekstrapiramidal, atau depresi pernapasan. Efek
samping yang paling sering dilaporkan adalah sakit kepala. Ketiga obat ini bisa

12 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
sedikit memperpanjang interval QT pada elektrokardiogram. Lebih sering dengan
dolasetron Meskipun demikian, obat-obatan ini, khususnya dolasetron, harus
digunakan dengan hati-hati pada pasien yang menggunakan obat antiaritmia atau
yang memiliki interval QT yang panjang. Ondansetron mengalami metabolisme
yang luas di hati melalui hidroksilasi dan konjugasi oleh enzim sitokrom P-450.
 Butyrophenones
Droperidol (0,625-1,25 mg) sebelumnya digunakan secara rutin untuk profilaksis
PONV. Meskipun efektif, banyak praktisi secara rutin mengelola obat ini karena
FDA khawatir dapat menyebabkan perpanjangan QT dan pengembangan
torsadesdes menunjuk disritmia. Namun, , yang digunakan untuk anestesi
neurolept(5–15 mg), bukan dosis yang jauh lebih kecil untuk PONV. Tidak ada
bukti bahwa penggunaan droperidol dosis rutin digunakan untuk manajemen
PONV dapat meningkatkan resiko cardiac arrest. Phenothiazine, prochlorperazin
memiliki efek pada multiple reseptor (histaminergic, dopaminergic, muscarinic),
yang dapat digunakan untuk manajemen PONV. Promethazine bekerja secara
primer sebagai agen antikolinergic dan antihistamin dan dapat digunakan untuk
penanganan PONV. Sama dengan agen lainnya, efek antikolinergic (sedasi,
delirium, bingung, perubahan penglihatan) dapat menjadi komplikasi selama
periode postoperative.
 Dexamethason
Dexamethasone (Decadron) dalam dosis kecil4 mg telah terbukti efektif dalam
mengurangi kejadian PONV. Tampaknya tidak ada efek sistemik yang
berlangsung lama dari dosis glukokortikoid.
 Neurokinin-1 receptor antagonist
Substansi P adalah sebuah neuropeptide yang berinterkasi dengan reseptor
neurokinin-1 (NK1). Penghambat reseptor NK1 antagonis susbtansi p berada di
pusat dan reseptor perifer. NK1antagonist didapatkan dapat menurunkan PONV
perioperative dan dapat ditambahkan dengan ondansentron.

13 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
 Strategi PONV lainnya.
Transdermal scopolamine telah digunakan secara efektif, meskipun dapat
menimbulkan efek antikolinergik sentral. Akupuntur dapat mengurangi insidensi
PONV dan kebutuhan pengobatan.

3. Obat-obat lain yang ditambahkan pada anestesi


 Ketorolak
 Mekanisme
Suatu obat parenteral NSAID yang berfungsi sebagai analgesia dengan
menghambat sintesis prostaglandin.
 Klinis
Ketorolak diindikasikan untuk manajemen nyeri dalam jangka pendek (<5
hari) dan sangat berguna dalam periode postoperative. Dosis standar untuk
ketorolac adalah setara dengan 6-12 mg morfin yang diberikan. Onset juga
sama dengan morfin, tetapi ketorolac memiliki durasi yang lebih panjang.
Ketorolak dapat sebagai alternative dari opioid utnuk analgesia
postoperative karena minimnya efek samping dan tidak melewati blood-
brain barrier.
 Efek samping
Ketorolak menghambat agregasi platelet dan memperpanjang waktu
perdarahan. Penggunaan dalam jangka panjang dapat menyebabkan toksik
renal atau ulserasi di GI tract dengan perdarahan atau perforasi.ketorolak
dikontraindikasikan pada pasien alergi terhadap aspirin atau NSAIDs,
pasien dengan asma.
 Dosis
60 mg intramuscular atau 30 mg intravena loading dose, dosis
maintenance 15-30 mg setiap 6 jam direkomendasikan.
 Interaksi obat
Aspirin menurunkan ikatan protein ketorolak, meningkatkan jumlah obat
yang tidak terikat. Ketorolac tidak memiliki efek terhadap konsentrasi
agen anestesi inhalasi minimum di alveolar dan tidak menganggu

14 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
hemodinamika pasien yang di anestesi. Obat ini dapat menurunkan
kebutuhan postoperative intuk analgetik opoid.
 Obat-obat tambahan NSAID lainnya
Ketorolac dan agen NSAID lainnya menghambat COX. COX-1 melindungi
mukosa lambung dan menstimulasi agregasi platelet, COX-2 diekspresikan
selama inflamasi. Sedangkan, ketorolak merupakan penghambat COX tidak
selektif, agen-agen lainnya seperti parecoxib, celecoxib, dan rofecoxib spesifik
terhadap COX-2, dimana COX-2 menghambat perlindungan mukosa lambung
dan fungsi platelet. Namun penggunaan obat-obatan tersebut dapat meningkatan
thromboembolic kardiovaskuler.
Acetaminophen sebagai analgetik sentral menghambat COX. Dosis
dewasa (>50 kg)1 g dalam infus, dengan maksimum dosis 4 g/d. untuk pasien
dengan berat badan kurang dari 50 kg dapat menggunakan dosis 15-75 mg/kg.
dosis berlebihan dapat menimbulkan hepatotoksik dan harus diberikan perhatian
dalam pemberian kepada pasien dengan penyakit hepar atau operasi hepar.
 Klonidin
 Mekanisme
sebuah imidazoline derivatif dominan dengan agonis α2 –adrenergik,
sangat larut dalam lemak, mudah menembus penghalang darah otak dan
plasenta. Studi menunjukkan bahwa pengikatan clonidin ke reseptor
tertinggi di medulla ventrolateral rostral dibatang otak (jalur akhir akhir
untuk simpatikoutfl ow) di mana ia mengaktifkan neuron penghambat.
Keseluruhan efeknya adalah menurunkan aktivitas simpatik,
meningkatkan parasimpatis, dan mengurangi sirkulasi katekolamin.
Sebaliknya, efek analgesik, khususnya di sumsum tulang belakang,
dimediasi sepenuhnya melaluireseptor α2-adrenergik dan mungkin
postsinaptik yang memblokir transmisi nociceptive. Klonidin juga
memiliki efek anestesi local jika digunakan di nervus perifer.
 Klinis
Klonidin biasa digunakan digunakan sebagai obat anti hipertensi, namun
di anestesi, digunakan sebagai tambahan untuk epidural, caudal, anestesi

15 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
nervus perifer dan analgetik. Ketika diberikan secara epidural, efek
analgetik klonidin cukup segmental, terlokasi di bagian yang diinjeksikan.
Ketika diberikan secara lokal dengan durasi intermediate, klonidin akan
memperpanjang anestesi dan efek analgetik. Setelah diselidiki, klonidin
dapat mengurangi sindrom withdrawal .
 Efek Samping
Sedasi, pusing, bradikardia, dan mulut kering cukup sering terjadi.
Hipotensi orthostatic, bradikardia, nausea dan diare jarang sekali muncul.
Dalam penggunaan jangka lama dapat menimbulkan hipertensi rebound,
agitasi, dan overaktivitas simpatetik.
 Dosis
Klonidin epidural dimulai dari 30 mcg/h dengan dicampur opoid atau
anestesi local. Klonidin oral diabsorbsi dengan onset 30-60 menit dan
bertahan 6-12 jam. Pada pengobatan hipertensi akut diberikan 0,1 mg
secara oral setiap jam hingga tekanan darah stabil, dan dapat diberikan
secara maksimal 0,1-0,3 mg dua kali setiap hari. Klonidin dimetabolis
oleh hepar dan diekskresikan melalui renal. Dosis harus dikurangi pada
pasien dengan insufiensi renal.
 Interaksi Obat
Dengan anestesi lokal dapat memperpanjang sensori dan motor blocade.
Efek additive dapat muncul jika digunakan dengan agen hipnotik, anestesi
general, dan sedative. Klonidin dapat menimbulkan gejala hipoglikemia
pada pasiem diabetes.
 Dexmedetomidin
 Mekanisme
Sebuah parenteral agonis α2 selektif dengan sifat penenang dan
tampaknya lebih selektif untuk reseptor α2 daripada clonidine. Pada dosis
yang lebih tinggi, obat ini kehilangan selektivitasnya dan juga
menstimulasi reseptor α1-adrenergik.

16 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
 Klinis
Obat ini dapat menyebabkan sedasi bergantung dosis dan beberapa
analgetik. Yang terpenting adalah obat ini memiliki opioid-sparing effect
dan secara signifikan tidak mengontrol depresi pernapasan, sedasi
berlebihan, tetapi dapat menyebabkan obstruksi pernapasan. Obat ini juga
digunakan untuk sedasi intraoperative dan tambahan anestesi general.
 Efek Samping
Bradikardi, heart block, dan hipotensi, serta dapat menyebabkan nausea.
 Dosis
Dosis awal 1 mcg/kg intravena selama 10 menit dalam maintenance
infusion rate 0,2-0,7 mcg/kg/h. obat ini memiliki onset yang cepat dan
waktu paruh selama 2 jam. Obat ini dimetabolisasi di hepar dan
diekskresikan melalui urin.
 Interaksi obat
Hati-hati dengan obat-obat yang dapat menurunkan heart rate.
 Doxapram
 Mekanisme
Mengaktivasi sistem saraf pusat dan perifer. Secara selektif mengaktivasi
kemoreseptor karotis dengan dosis rendah dari doxapram dapat
menstimulasi pengontrolan hipoksik, meningkatkan volume tidal. Dalam
dosis besra, pusat pernapasan di medulla terstimulasi.
 Klinis
Karena doxapram meniru PaO2 yang rendah, akan berguna pada pasien
dengan penyakit paru obstruktif kronik. Obat depresi sistem saraf pusat
dan pernapasan, termasuk yang terlihat segera pasca operasi, bisa untuk
sementara diatasi. Doxapram tidak spesifik agen reversal, bagaimanapun,
dan seharusnya tidak menggantikan standar terapi suportif (ventilasi
mekanis). Yang paling umum penyebab hipoventilasi pasca operasi tidak
akan diringankan oleh doxapram.Untuk alasan ini, banyak ahli anestesi
percaya bahwa kegunaan doxapram sangat terbatas.

17 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
 Efek Samping
Perubahan status mental (pusing, bingung, dan seizure), abnormalitas
kardiak (takikardia, disritmia, hipertensi), dan disfungsi paru (wheezing,
takipnea), muntah dan laringospasme merupakan bagian penting yang
diperhatikan anestesiologis selama periode postoperative. Obat ini tidak
dapat digunakan pada pasien dengan riwayat epilepsy, cerebrovascular
disease, acute head injury, cad, hipertensi, dan asma bronkus.
 Dosis
Bolus intravena diberikan dengan dosis 0,5-1 mg/kg, dilanjutkan dengan
infus intravena 1-3 mg/menit, dengan maksimum dosis 4 mg/kg.
 Interaksi Obat
Doxapram tidak dapat digunakan pada pasien dengan anestesi halotan.
 Nalokson
 Mekanisme
Antagonis reseptor opioid yang afinitasnya pada reseptor opioid μ lebih
baik daripada reseptor opioid k atau δ. Nalokson tidak memiliki aktifitas
agonis yang spesifik.
 Klinis
Nalokson membalikkan aktivitas agonis yang terkait dengan endogen
(enkephalin,endorphin) atau senyawa opioid eksogen. Dosis rendah
intravena naloxone menegmbalikan efek samping opioid epidural tanpa
reverse analgetik.
 Efek samping
Takikradia, iritabilita ventrikel, hipertensi, edema pulmo. Sindrom
withdrawal muncul pada pasien yang bergantung opioid.
 Dosis
Pada pasien yang mengalami depresi pernapasan saat postoperative, dapat
diberikan nalokson secara IV 0,5-1 mcg/kg setiap 3-5 menit hingga
ventilasi adekuat dan kesadaran membaik. Nalokson intramuscular
direkomendasikan dua kali dari dosis IV dan dilanjutkan dengan infus 4-5
mcg/kg/h. depresi pernapasan pada neonatal dengan 10 mcg’kg, diulang

18 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
setiap 2 menit jika dibutuhkan. Pengobatan primer pada depresi
pernapasanselalu memperhatikan spontaneous, assisted, atau ventilasi
terkontrol.
 Interaksi Obat
Efek nalokson pada agen anesthesia nonopioid seperti NO, tidak
signifikan. Obat ini mungkin bersifat antagonis terhadap efek
antihipertensi dari klonidin.
 Naltrexon
Obat antagonis opioid murni dengan afinitas tinggi terhadap reseptor μ, tetapi
waktu paruhnya jauh lebih panjang dibandingkan nalokson. Obat ini biasa
diberikan secara oral dalam mengobati kecanduan opioid dan ethanol abuse.
 Flumazenil
 Mekanisme
Sebuah imidazobenzodiazeoin, antagonis spesifik benzodiazepine
terhadap reseptor benzodiazepine.
 Klinis
Obat ini digunakan untuk mengembalikan sedasi benzodiazepine dan
pengobatan overdosis benzodiazepine. Meskipun efek reversible terhadap
efek benzodiazepine tidak terlalu reliable, namun beberapa fakta
menunjukan keadaan pasien yang menjadi sadar, secara spesifik ditunjang
dengan volume tidal dan ventilasi per menit menjadi normal. Efek
reversible sulit muncul pada pasien dengan usia senja.
 Efek samping dan Interaksi obat
Penggunaan obat ini dapat menyebabkan anxietas dan gejala withdrawal
dalam penggunaan terapi benzodiazepine jangka panjang. Seperti teknik
midazolam-ketain, obat ini juga meningkatkan insiden emergency
dysphoria dan halusinasi. Efek reverse obat ini bergantung pada seberapa
kuatnya afinitas antagonis untuk reseptor benzodiazepinnya. Flumazenil
tidak memiliki efek terhadap konsentrasi minimum alveolar dari anestesi
inhalasi.

19 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
 Dosis
Intravena 0,2 mg/menit hingga mencapai derajat reversal. Total dosis
biasanya 0,6-1 mg, karena obat ini di bersihkan melalui hepar, maka dosis
diulang setelah 1-2 jam untuk menghindari resedasi dan premature
recovery room atau outpatient discgarge. Dilanjutkan dengan infus (0,5
mg/h), dapat berguna pada kasus overdosis benzodiazepine kerja lama.
Kegagalan hepar memperpanjang proses pembersihan flumazenil dan
benzodiazepine.

20 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a
DAFTAR PUSTAKA

Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Chronic Pain Managament. In : Clinical Anesthesiology,
5th ed. Lange Medical Books/McGraw-Hill, 2013, p. 277-290.

21 | A d j u n c t s o f a n e s t h e s i a