Anda di halaman 1dari 35

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DIARE AKUT

2.1.1 DEFISINI

Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali dalam sehari
pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensinya feces encer, dapat berwarna
hijau atau dapat pula bercampur lender dan darah (Ngastiyah, 2005).

Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang
dari 14 hari (E Lung, 2003). Sedangkat menurut Ngastiyah (2005), diare akut adalah
meningkatnya kekerapan, bertambahnya cairan atau banyaknya tinja yang dikeluarkan
relative terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari 1
minggu atau keluarnya tinja cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam.

Sedangkan menurut Amin (2015), diare atau mencret didefinisikan sebagai


buang air besar dengan feses tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan
frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Bila diare berlangsung kurang dari 2 minggu,
disebut sebagai diare akut. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih, digolongkan
pada diare kronik. Feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus. Gejala
penyerta dapat berupa mual, muntah,nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam,dan
tanda-tanda dehidrasi.

2.1.2 ETIOLOGI

Menurut Ngastiyah (2005), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor :

1. Faktor infeksi
a) Infeksi eteranal, merupakan penyebab utama diare meliputi : infeksi
virus, infeksi bakteri, dan infeksi parasit (protozoa, helminths).
 Infeksi virus
Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70-80%).
Beberapa jenis virus penyebab diare akut antara lain Rotavirus
serotype 1, 2, 8, dan 9 pada manusia, Norwalkvirus,Astrovirus,
Adenovirus (tipe 40, 41), Small bowel structured virus,
Cytomegalovirus.
 Infeksi bakteri
Enterotoxigenic E. coli (ETEC), Enteropathogenic E. coli
(EPEC), Enteroaggregative E.coli (EAggEC), Enteroinvasive

1
E. coli (EIEC),Enterohemorrhagic E. coli (EHEC), Shigella
spp., Campylobacter jejuni (Helicobacterjejuni), Vibrio
cholerae 01, dan V. choleare 0139,Salmonella (non-thypoid).
 Infeksi Protozoa
Giardia lamblia, Entamoeba histolytica,Cryptosporidium,
Microsporidium spp., Isospora belli, Cyclospora cayatanensis.
 Infeksi helminths
Strongyloides stercoralis, Schistosoma spp., Capilaria
philippinensis, Trichuris trichuria.
b) Faktor parenteral, adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan
seperti : otitis media akut, tonsillitis atau tonsilofaringitis,
bronkopneumonia, encephalitis dan sebagainya.
2. Faktor malabsorbsi
a) Malabsorbsi disakarida, yaitu intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa,
serta monosakarida, yaitu intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
b) Malabsorbsi lemak
c) Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Diare yang ditularkan melalui makanan dapat terjadi secara sekunder
akibat ingesti agen infeksius atau ingesti toksin yang belum terbentuk, sejumlah
pathogen bakteri dapat ditransmisikan melalui makanan atau air yang
terkontaminasi atau melalui orang yang memegang makanan. Agen yang
menyebabkan diare melalui toxin yang belum terbentuk adalah Staphylococus
Aureus, Bacilud Cereus, Clostridium Perfingen (M. William Schwarz, 2005)
Menurut Arief Masjoer (2001), bahwa diare akibat infeksi terutama
ditularkan secara fekal oral, hal ini disebabkan masukan makanan atau
minuman yang terkontaminasi tinja ditambah dengan hygine yang buruk,
seperti makanan yang tidak matang, bahkan disajikan tanpa dimasak, makanan
yang sudah basi, dan berjamur. Penularannya adalah transmisi orang ke orang
melalui tangan yang terkontaminasi atau Clustidium Difficile.
4. Faktor psikologis
Perasaan yang gelisah atau takut sehingga menyebabkan terjadinya
peningkatan reseptor pada otak sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan
peristaltic usus sehingga terjadi diare.

2.1.3 PATOFISIOLOGI

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan


yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus
meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus, isi
rongga usus yang berlebihan dapat menimbulkan diare). Selain itu menimbulkan
gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit

2
meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan
hiperperistaltik dan hipoperistaltik.

Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi)
yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolic dan hipokalemia),
gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi
darah.

Diare disebabkan oleh 4 faktor yaitu infeksi virus, makanan, malabsorbsi dan
psikologis. Virus berkembang didalam usus halus dan malabsorbsi KH, lemak
meningkatkan tekanan osmotic sehingga terjadi kelebihan pengeluaran air dan
elektrolit dan peningkatan isi rongga usus, kemudian abdomen menjadi distensi dan
menyebabkan diare. Sedangkan dari faktor makanan dan psikologi ini menyebabkan
gerakan peristaltic yang berlebihan di usus, sehingga makanan tidak dicerna dengan
baik yang menyebabkan penurunan kemampuan absorbs makanan didalam usus,
kemudian terjadi diare.

Ketika seseorang terkena diare, maka frekuensi BAB menjadi meningkat.


Peningkatan frekuensi BAB ini menyebabkan banyak air dan elektrrolit yang keluar,
sehingga menyebabkan kekurangan cairan (dehidrasi), dan hipovolemi. Frekuensi yang
meningkat dapat menyebabkan gangguan integritas kulit perianal.

Diare juga menyebabkan distensi abdomen, yang menyebabkan mual, muntah,


sehingga nafsu makan menurun, dan menimbulkan ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh.

Patofisiologi diare akut menurut Ngastiyah (2005) dibagi menjadi 4, yaitu :

1. Diare sekretorik, berasal dari infeksi bakteri yang menghasilkan toxin atau
enterotoxic merangsang peningkatan aktivitas enzim adenil siklase dalam
eritrosit sehingga menyebabkan C-AMP meningkat danmerangsang cairan dan
elektrolit dalam sel kripta sehingga menghambat absorbs dan menyebabkan
diare.
2. Diare cytotoxic, berasal dari virus yang merusak sel-sel pada vili usus sehingga
menyebabkan permukaan intestinal menyempit, akibatnya kapasitas absorbs
cairan dan elektrolit menurun.
3. Diare osmotic, berawal dari makanan yang tidak dicerna seperti laktosa (susu)
merupakan makanan bagi bakteri diusus besar, laktosa difermentasi oleh
bakteri secara anaerob menjadi molekul kecil H2, CO2, dan H2O sehingga
tekanan osmotic meningkat yang akhirnya mengakibatkan hiperosmolaritas
peristaltic usus.
4. Diare disentrik, inflamasi mukosa dan sub mukosa ileus dan colon karena
infeksi kuman campylobacter, salmonella dan shigella menyebabkan udema
mukosa yang mengakibatkan infiltrasi leukosit.

3
2.1.4 WOC DIARE AKUT

Faktor

Faktor Faktor Faktor Faktor

Toksin tidak Ansietas Kuman masuk Meningkatkan


dapat diabsorbsi & berkembang tekanan osmotik
diusus halus

Hiperperistaltik
Hipersekresi air & elektrolit

Penyerapan Diare
makanan di usus Peningkatan isi rongga usus
menurun
Frekuensi BAB
meningkat Distensi abdomen

Hilang cairan & Gangguan Mual muntah


elektrolit integritas kulit
berlebihan
perianal
Nafsu makan menurun

Gangguan Asidosis Ketidakseimbangan


keseimbangan metabolik nutrisi kurang dari
cairan& elektrolit kebutuhaan

Sesak
Dehidrasi

Gangguan
pertukaran gas

Kekurangan
volume cairan Resiko syok
(hipovolemi)

4
2.1.5 TANDA DAN GEJALA

Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi gelisah dan
cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada,
timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir ataupun
darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau hijauan karena
tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi
dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal
dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat
terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut
meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Kliegman,
2006).
Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi mulai tampak. Akan terjadi penurunan volume dan tekanan darah, nadi cepat
dan kecil, peningkatan denyut jantung, penurunan kesadaran dan diakhiri dengan syok,
berat badan menurun, turgor kulit menurun, mata dan ubun-ubun cekung, dan selaput
lendir dan mulut serta kulit menjadi kering (Ngastiyah, 2005).
Banyaknya cairan yang hilang maka penderita merasa haus, berat badan
berkurang, mata cekung, lidah/ mulut kering, tulang pipi menonjol, turgor berkurang,
suara serak. Akibat asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan cepat,
gangguan kardiovaskuler berupa nadi yang cepat tekanan darah menurun, pucat, akral
dingin kadang-kadang sianosis, aritmia jantung karena gangguan elektrolit, anura
sampai gagal ginjal akut(Sudigbya, 1992; Triadmodjo, 1993).
Gejala diare akut dapat dibagi dalam 3 fase, yaitu :
 Fase prodromal (sindroma pra-diare) : pasien mengeluh penuh di abdomen,
nausea, vomitus, berkeringat dan sakit kepala (Kolopaking, 2002; Joan et al,.
1998).
 Fase diare : pasien mengeluh diare dengan komplikasi (dehidrasi, asidosis,
syok, dan lain-lain), kolik abdomen, kejang dengan atau tanpa demam, sakit
kepala (Kolopaking, 2002; Joan et al,. 1998).
 Fase pemulihan : gejala diare dan kolik abdomen berkurang, disertai fatigue.
(Kolopaking, 2002; Joan et al,. 1998).

1.1.6 PEMERIKSAAN FISIK

Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna


dalam menentukan beratnya diare dari pada menentukan penyebab diare. Status volume
dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi,
temperature tubuh, dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama

5
merupakan hal yang penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak
adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan ”clue” bagi penentuan etiologi.

2.1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mencari


penyebab diare akut, yakni pemeriksaan leukosit dan darah samar feses, pemeriksaan
laktoferin feses, endoskopi saluran cerna bagian bawah, kultur feses, serta pemeriksaan
telur cacing dan parasit.

A. Leukosit dan Darah Samar Feses


Sejumlah penelitian telah mengevaluasi akurasi pemeriksaan leukosit feses
baik secara sendiri maupun dikombinasikan dengan pemeriksaan darah samar.
Kemampuan pemeriksaan tersebut untuk memprediksi adanya diare inflamasi amat
bervariasi, dengan sensitivitas dan specificity berkisar 20–90%. Variasi hasil
penelitian tersebut kemungkinan akibat perbedaan dalam pemrosesan spesimen dan
pengalaman operator. Akan tetapi, hasil meta-analisis tentang pemeriksaan ini
menunjukkan sensitivitas dan specifitynya yang lemah, hanya sebesar 70% dan
50%. Leukosit feses juga bukan prediksi yang akurat bagi respon terapi terhadap
antibiotik.
Karena berbagai keterbatasan tersebut, peran pemeriksaan leukosit feses
masih dipertanyakan. Akan tetapi, adanya darah samar dan leukosit pada feses
mendukung diagnosis diare akibat infeksi bakteri bersama-sama dengan riwayat
penyakit dan pemeriksaan diagnostik lainnya. Pemeriksaan leukosit feses kurang
bermanfaat dibandingkan pemeriksaan terhadap C. difficile untuk diare yang timbul
selama perawatan di rumah sakit. Pada umumnya pemeriksaan sel radang pada feses
diperlukan pada pasien dengan penyakit berat, yang ditandai oleh satu atau lebih hal
berikut ini:
1. Watery diarrhea yang masif (profuse), disertai dehidrasi.
2. Terdapat banyak gumpalan feses berukuran kecil yang mengandung
darah dan mukus.
3. Temperatur tubuh ≥38,5°C (101,3°F)
4. Keluarnya ≥6 kali feses tak berbentuk dalam 24 jam atau lama sakit >48
jam.
5. Nyeri abdomen hebat pada pasien berumur >50 tahun.
6. Diare pada pasien usia lanjut (≥70 tahun) atau immunocompromise.

B. Laktoferin Feses
Keterbatasan pemeriksaan leukosit feses seperti yang dikemukakan di atas
mendasari pengembangan pemeriksaan lactoferrin latex agglutination assay
(LFLA) feses. Laktoferin merupakan penanda bagi adanya leukosit pada feses,

6
akan tetapi pengukurannya lebih akurat dan kurang rentan terhadap berbagai
variasi dalam pemrosesan spesimen.

C. Endoskopi Saluran Cerna


Bagian Bawah Endoskopi umumnya tidak dibutuhkan dalam mendiagnosis
diare akut. Akan tetapi, pemeriksaan ini dapat digunakan untuk:
1. Membedakan inflammatory bowel disease dari diare akibat infeksi.
2. Mendiagnosis infeksi C. difficile dan menemukan pseudomembran
pada pasien yang toksik sambil menunggu hasil pemeriksaan kultur
jaringan. Namun, saat ini pemeriksaan enzyme linked immunosorbent
assays (ELISA) dari feses untuk toksin A telah mempersingkat waktu
untuk mendiagnosis infeksi C. difficile dan mengurangi kebutuhan
pemeriksaan endoskopi pada kasus-kasus tersebut.
3. Mendiagnosis adanya infeksi oportunistik (seperti, cytomegalovirus)
pada pasien immunocompromise.
4. Mendiagnosis adanya iskemia pada pasien kolitis yang dicurigai
namun diagnosisnya masih belum jelas sesudah pemeriksaan klinis
dan radiologis.

D. Kultur Feses
Belum ada konsensus yang secara jelas memasukkan kultur feses sebagai
salah satu strategi optimum dalam mendiagnosis diare akut. Walaupun, cukup
sulit untuk memprediksi etiologi diare akut akibat infeksi bakteri hanya
berdasarkan gambaran klinisnya, akan tetapi dokumentasi patogen penyebab
tidak selalu diperlukan karena sebagian besar diare akut akibat infeksi
disebabkan oleh virus yang dapat sembuh sendiri (self-limited) dan akan
membaik hampir separuhnya dalam waktu <1 hari.
Pada diare akut, mempertahankan volume intravaskuler yang adekuat
serta mengoreksi gangguan cairan dan elektrolit lebih prioritas dibandingkan
mencari patogen penyebab. Pemeriksaan kultur feses diindikasikan pada pasien
dengan diare inflamasi dengan darah/mukus pada fesesnya.
Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 53% dokter baru
melakukan kultur darah bila diare telah berlangsung >3 hari. Kultur feses kurang
bernilai pada pasien yang mengalami diare sesudah >72 jam perawatan di rumah
sakit karena penyebabnya hampir selalu infeksi C. difficile atau suatu penyebab
noninfeksi.
Kultur feses juga diperlukan pada:
1. Pasien immunocompromise, misalnya pasien dengan HIV.
2. Pasien dengan co-morbidity yang meningkatkan risiko untuk
mendapatkan komplikasi.

7
3. Pasien dengan penyakit dasar inflammatory bowel disease dimana
amat penting untuk membedakan antara kekambuhan dengan
infeksi sekunder.
4. Beberapa pekerjaan tertentu, seperti pengelola makanan, yang
terkadang baru dapat kembali bekerja sesudah hasil kultur
fesesnya negatif.
Klinisi sebaiknya menyebutkan secara spesifik patogen yang dicurigai
sewaktu mengirimkan feses untuk memudahkan proses di laboratorium
mikrobiologi; serta menentukan media, metode, atau pewarnaan yang tepat
untuk mengisolasi atau mengidentifikasi organisme yang diinginkan. Spesimen
sebaiknya dibiakkan sesegera mungkin pada media kultur yang sesuai.
Kultur feses rutin sudah akan akan dapat mengidentifikasi Salmonella,
Campylobacter, dan Shigella. Bila terdapat kecurigaan adanya infeksi
Aeromonas atau berbagai strain Yersinia maka laboratorium perlu diberitahu
karena berbagai patogen tersebut tumbuh pada kultur rutin akan tetapi seringkali
terlewat bila tidak dicari secara khusus.
Hasil kultur yang positif untuk salah satu dari organisme tersebut pada
pasien dengan gejala diare akut dapat diinterpretasikan sebagai positif yang
sebenarnya, walaupun terapi antibiotik tidak selalu diperlukan untuk semua
organisme tersebut. Tidak seperti telur cacing dan parasit yang seringkali
ditemukan secara intermiten, berbagai patogen ini umumnya diekskresikan
secara terus-menerus. Jadi, hasil kultur yang negatif biasanya bukan merupakan
hasil negatif palsu, dan pengulangan spesimen jarang diperlukan. Organisme lain
yang perlu diperhatikan pada keadaan tertentu adalah Enterohemorrhagic E. coli,
virus, Vibrio, Giardia, Cryptospori-dium, dan Cyclospora.

D. Pemeriksaan Telur Cacing dan Parasit


Pengiriman sampel feses untuk pemeriksaan telur cacing dan parasit tidak
cost-effective untuk sebagian besar kasus diare akut. Pemeriksaan telur cacing
dan parasit, hanya diindikasikan pada:
1. Diare persisten (dihubungkan dengan Giardia, Cryptosporidium, dan
E. histolytica)
2. Diare sesudah perjalanan dari Rusia, Nepal, atau wilayah pegunungan
(dihubungkan dengan Giardia, Cryptosporidium, dan Cyclospora)
3. Diare persisten dengan paparan terhadap bayi pada pusat perawatan
harian (dihubungkan dengan Giardia dan Cryptosporidium)
4. Diare pada lelaki yang berhubungan seks dengan sesama jenis atau
seorang pasien AIDS (dihubungkan pertama-tama dengan Giardia dan
E. histolytica, selanjutnya dengan berbagai parasit lainnya)

8
5. Pada KLB penyakit yang ditularkan melalui air di komunitas
(dihubungkan dengan Giardia dan Cryptosporidium)
6. Diare berdarah dengan sedikit atau tanpa leukosit pada feses
(dihubungkan dengan amebiasis intestinal)
Karena ekskresi telur cacing dan parasit yang intermiten, maka diperlukan
3 spesimen yang masing-masing diambil pada hari yang berbeda selama 3 hari
berturut-turut atau pengambilan masing-masing spesimen berjarak ≤ 24 jam.

2.2 TYPHOID FEVER

2.2.1 DEFINISI

Secara historis, typhus berasal darii bahasa Yunani “typhos’ yang berarti asap,
merupakan kiasan yang menggambarkan orang melamun yang dipengaruhi oleh asap
yang sedang naik di awan. Dari asal nama tersebut menggambarkan bahwa kesadaran
penderita demam tifoid seperti diliputi awan (kabut).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella Enterica Serotipe Typhi (Salmonella Typhi) ditandai dengan demam
berkepanjangan, bakteremia tanpa perubahan pada sistem endotel atau endokardial,
invasi dan multiplikasi bakteri dalam sel pagosit mononuklear pada hati, limpa,
lymphnode
dan plaque peyer.. Demam tifoid merupakan penyakit yang menyerang saluran
pencernaan. Penularan bakteri Salmonella Typhi diperantai oleh air dan makanan.
Penyakit ini bersifat endemis dan merupakan masalah kesehatan yang serius di negara-
negara berkembang yang menyebabkan angka kematian rata-rata 600.000 setiap
tahunnya.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menduduki posisi ke-
3 dengan angka kejadian 3,5 % dalam kasus demam tifoid. Berdasarkan survey
kesehatan nasional (Surkesnas) tahun 2001, demam tifoid merupakan penyebab
kematian umum kedelapan di Indonesia dengan angka sebesar 4,3 %.

2.2.2 ETIOLOGI

Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab


bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan
demam tifoid yang berat disertai bakteriemia. Bakteri Salmonella Typhi berbentuk
batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat negatif, berukuran 1 – 3,5 um x
0,5 – 0,6 um, dengan besar koloni rata-rata 2 -4 mm, mempunyai flagel peritrikh.
Kuman ini tumbuh pada suasana aerob dan anaerob, pada suhu 15-41 0 C dan pH
pertumbuhan 6-8. Bakteri Salmonella Typhi mudah tumbuh pada pembenihan biasa,
tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. Salmonella Typhi resisten

9
terhadap zat-zat kimia tertentu yang menghambat bakteri enterik lainnya. Kuman mati
pada suhu 560 0C juga pada keadaan kering. Di dalam air, bakteri Salmonella Typhi
bisa tahan selama 4 minggu.
Bakteri Salmonella Typhi mempunyai beberapa komponen antigen, yaitu:
1. Antigen Dinding Sel (O) yang merupakan lipopolisakarida dan bersifat spesifik
group.
2. Antigen Flagella (H) yang merupakan komponen protein dalam flagella dan
bersifat spesifik spesies.
3. Antigen Virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di kapsul yang
melindungi seluruh permukaan sel. Antigen Vi berhubungan dengan daya
invasif bakteri dan efektivitas vaksin.
4. Antigen Outer Membrane Protein (OMP). Antigen OMP merupakan bagian
dari dinding sel terluar yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan
peptidoglikan yang membatasi sel dengan lingkungan sekitarnya.
Demam tifoid merupakan penyakit yang penularannya erat dengan masalah
higienitas pada suatu komunitas. Negara berkembang termasuk Indonesia memiliki
tingkat higienitas lingkungan yang kurang baik dibandingkan dengan negara-negara
maju. Kondisi inilah yang menjadi faktor risiko tingginya angka morbiditas akibat
Salmonella Typhi di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, ada
beberapa faktor risiko yang dominan menyebabkan demam tifoid di Indonesia, yaitu:
1) Jenis kelamin
Laki-laki memiliki peluang sakit demam tifoid sebesar 1.142 kali lebih
tinggi dibandingkan perempuan. Hal itu dikarenakan kebiasaan jajan di jalan dan
kurang memperhatikan kesehatan.
2) Umur
Kelompok usia yang memiliki peluang paling tinggi yaitu pada usia 1 – 14
tahun yang merupakan usia sekolah dan memiliki mobilitas tinggi, sehingga
memungkinkan untuk mengenal jajanan di luar rumah yang belum tentu bersih.
3) Pendidikan
Pengetahuan yang dimiliki akan mempengaruhi persepsi seseorang akan
konsep sehat dan sakit pada akhirnya akan mempengaruhi kebiasaan individu dan
keluarga untuk hidup sehat termasuk upaya individu dan keluarga di dalam
melakukan pencegahan penyakit.
4) Jumlah penderita dalam rumah tangga
5) Wilayah
6) Waktu tempuh ke fasilitas kesehatan
7) Tersedianya tempat sampah
8) Kecukupan air bersih

10
Masyarakat yang menggunakan air dengan kualitas buruk, air tercemar dan
keterbatasan sumber daya air memiliki peluang sakit demam tifoid lebih tinggi.

2.2.3 PATOFISIOLOGI

Penularan demam tifoid terjadi secara enternal. Bakteri Salmonella Typhi masuk
ke mulut melalui makanan dan air yang terkontaminasi (˃10.000 basil kuman).
Sebagian bakteri yang masuk dimusnahkan oleh asam HCL lambung dan sebagian
akan masuk ke usus halus. Basil Salmonella Typhi akan menembus sel-sel epitel (sel
M) jika imunitas humoral mukosa Ig A usus tidak berfungsi dengan baik. Salmonella
Typhi menuju lamina propia dan berkembang biak di jaringan limfoid plak peyer di
ilium distal dan kelenjar getah bening mesentrika.
Pada akhirnya jaringan limfoid plak peyeri dan kelenjar getah bening mesentrika
mengalami hiperplasia kemudian melalui duktus thoracicus, basil Salmonella masuk
ke aliran darah dan tubuh mengalami fase bakteremia, menyebar ke seluruh organ
retikulo endotelial tubuh seperti hati, sumsum tulang, dan limfa disusul dengan
hepatomegali yang terjadi akibat infiltrasi limfosit, plasma, dan sel mononuklear.
Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa (splenomegali) di mana Salmonella
Typhi berkembang biak dan kembali memasuki sirkulasi darah sehingga
mengakibatkan bakteremia kedua yang disertai tanda dan gejala infeksi sistemik seperti
demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut dan instabilitas vaskuler.
Erosi pembuluh darah di sekitar plak peyer yang sedang mengalami nekrosis dan
hiperplasia menyebabkan terjadinya perdarahan saluran cerna. Proses patologis ini
dapat berlangsung hingga ke lapisan otot dan serosa sehingga menyebabkan perforasi
usus. Secara singkat, pada minggu pertama penyakit terjadi hiperplasia plak peyeri,
pada minggu kedua terjadi nekrosis, pada minggu ketiga terjadi ulserasi serta
penyembuhan ulkus yang meninggalkan jaringan parut pada minggu keempat

11
2.2.4 WOC TYPHOID FEVER

Bakteri Salmonella Typhi


masuk ke saluran cerna

Sebagian bakteri Salmonella Salmonella Typhi


Typhi dimusnahkan oleh asam masuk ke usus halus
HCL di lambung
Infeksi usus halus
Peningkatan produksi
asam lambung Inflamasi

Mual dan muntah Masuk ke aliran limfe

Penurunan nafsu makan Menembus dan masuk ke aliran darah Risiko kekurangan
(bakteremia primer) volume cairan

Berat badan menurun


Masuk dan berkembang Pendarahan dan perforasi
di hati dan limfa
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh Basil membentuk tukak
Inflamasi pada di atas plak payeri
hati dan limfa
Masuk lagi ke aliran darah
Hepatomegali dan splenomegali
(bakteremia sekunder)

Nyeri tekan Bakteri mengeluarkan


Nyeri tekan endotoksin

Gangguan rasa Nyeri akut


Peradangan lokal
nyaman meningkat
Nyeri tekan

Gangguan Gangguan
Suhu tubuh pada dan
emningkat termoregulator
termoregulasi terjadi demam (hipotermi) suhu)
(pusat pengaturan

12
2.2.5 TANDA GEJALA

Gejala klinis

Setelah 7-14 hari tanpa keluhan atau gejala, dapat muncul keluhan atau gejala
yang bervariasi mulai dari yang ringan dengan demam yang tidak tinggi, malaise, dan
batuk kering sampai dengan gejala yang berat dengan demam yang berangsur makin
tinggi setiap harinya, rasa tidak nyaman di perut, serta beraneka ragam keluhan lainnya.

Gejala yang biasanya dijumpai adalah demam sore hari dengan serangkaian
keluhan klinis, seperti anoreksia, mialgia, nyeri abdomen, dan obstipasi. Dapat disertai
dengan lidah kotor, nyeri tekan perut, dan pembengkakan pada stadium lebih lanjut
dari hati atau limpa atau kedua-duanya. Pada anak, diare sering dijumpai pada awal
gejala yang baru, kemudian dilanjutkan dengan konstipasi. Konstipasi pada permulaan
sering dijumpai pada orang dewasa. Walaupun tidak selalu konsisten, bradikardi relatif
saat demam tinggi dapat dijadikan indikator demam tifoid. Pada sekitar 25% dari kasus,
ruam makular atau makulopapular (rose spots) mulai terlihat pada hari ke 7-10,
terutama pada orang berkulit putih, dan terlihat pada dada bagian bawah dan abdomen
pada hari ke 10-15 serta menetap selama 2-3 hari.2

Sekitar 10-15% dari pasien akan mengalami komplikasi, terutama pada yang
sudah sakit selama lebih dari 2 minggu. Komplikasi yang sering dijumpai adalah reaktif
hepatitis, perdarahan gastrointestinal, perforasi usus, ensefalopati tifosa, serta
gangguan pada sistem tubuh lainnya mengingat penyebaran kuman adalah secara
hematogen.

Bila tidak terdapat komplikasi, gejala klinis akan mengalami perbaikan dalam
waktu 2-4 minggu. Tifoid fever ditandai dengan gejala demam satu minggu atau lebih
disertai dengan gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan
kesadaran (Soedarmo, dkk, 2002)

Tanda yang paling sering didapatkan pada pasien adalah

1. pembesaran hati
2. nyeri tekan abdomen
3. limfadenopati
4. letargi
5. lidah kotor
6. pembesaran limpa
7. penurunan kesadaran

13
2.2.6 PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pemeriksaan pada :

1. pengukuran suhu tubuh (lebih tinggi dari suhu normal)


2. denyut jantung (cenderung bradikardi)
3. warna lidah (cenderung lebih kotor)
4. pengukuran hati dan limpa (cenderung lebih besar, hepatomegaly dan
slenomegali)
5. kembung pada bagian perut (meteorismus)
6. adanya radang paru (pneumonia)
7. pemeriksaan labolatorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah rutin, kimia
klinik, kultur organisme dan uji serologis seperti uji widal, uji tubex, typhidot
dan dipstick.

2.2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Hematologi
Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit
perdarahan usus atau perforasi. Pemeriksaan darah dilakukan pada biakan
kuman (paling tinggi pada minggu I sakit),diagnosis pasti Demam Tifoid.
(Minggu I : 80-90%, minggu II : 20-25%, minggu III : 10-15%)Hitung leukosit
sering rendah (leukopenia), tetapi dapat pula normal atau tinggi. Hitung
jenisleukosit: sering neutropenia dengan limfositosis relatif. LED meningkat
(Djoko, 2009)
B. Urinalis
 Tes Diazo Positif : Urine + Reagens Diazo + beberapa tetes ammonia
30% (dalam tabung reaksi)→dikocok→buih berwarna merah atau
merah muda (Djoko, 2009)
 Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam)
 Leukosit dan eritrosit normal; bilameningkat kemungkinan terjadi
penyulit.
 Biakan kuman (paling tinggi pada minggu II/III diagnosis pasti atau
sakit “carrier” ( Sumarmo et al, 2010)
C. Tinja (feses)
Ditemukian banyak eritrosit dalam tinja (Pra-Soup Stool), kadang-
kadang darah (bloody stool).Biakan kuman (diagnosis pasti atau carrier
posttyphi) pada minggu II atau III sakit. (Sumarmo etal, 2010)
D. Kimia Klinik
Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran
peradangan sampai hepatitis akut
E. Uji Widal

14
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam
serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji
widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang
disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
 Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari
tubuh kuman).
 Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari
flagel kuman).
 Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari
simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan


titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typhoid.
Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :
A. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan
antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru
dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai
puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat
menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi
seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat
anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.
5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut
dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi
sistem retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi
dengan kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat.
Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun,
sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau
2 tahun. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah
divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.

15
7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya :
keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun
dengan hasil titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer
aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan
demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular
salmonella di masa lalu.

2.2.8 KOMPLIKASI

A. komplikasi intra intestinal


1. Perdarahan usus
2. Perporasi usus
3. Ilius paralitik
B. Komplikasi extra intestinal
1. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis),
miokarditis, trombosis, tromboplebitis.
2. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma
uremia hemolitik.
3. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan
arthritis.
7. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis,
polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

16
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 ASUHAN KEPERAWATAN DIARE AKUT

3.1.1 PENGKAJIAN

A. Anamnesis: pengkajian mengenai nama lengkap, jenis kelamin, tanggal lahir,


umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua, pekerjaan orang tua, dan
penghasilan.
1. Keluhan Utama
Biasanya pasien mengalamin buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali
sehari, BAB < 4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan
cair (dehidrasi ringan/ sedang), atau BAB >10 kali (dehidrasi berat).
Apabila diare berlangsung <14 hari maka diare tersebut adalah diare akut
(Nursalam, 2008).
2. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya pasien mengalami:

 Bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin


meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, dan kemungkinan
timbul diare.
 Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna
tinja berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.
 Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam.
 Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
 Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan eletrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak.
 Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi
dehidrasi. Urine normal pada diare tanpa dehidrasi. Urine sedikit gelap
pada dehidrasi ringan atau sedang. Tidak ada urine dalam waktu 6 jam
(dehidrasi berat) (Nursalam, 2008).
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
 Kemungkinan anak tidak dapat imunisasi campak Diare lebih sering
terjadi pada anak-anak dengan campak atau yang baru menderita
campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai akibat dari penuruan
kekebalan tubuh pada pasien. Selain imunisasi campak, anak juga
harus mendapat imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi BCG,
imunisasi DPT, serta imunisasi polio.

17
 Adanya riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik),
makan makanan basi, karena faktor ini merupakan salah satu
kemungkinan penyebab diare.
 Riwayat air minum yang tercemar dengan bakteri tinja, menggunakan
botol susu, tidak mencuci tangan setelah buang air besar, dan tidak
mencuci tangan saat menjamah makanan.
 Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak berusia dibawah 2
tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, dan kejang yang terjadi
sebelumnya, selama, atau setelah diare. Informasi ini diperlukan untuk
melihat tanda dan gejala infeksi lain yang menyebabkan diare seperti
OMA, tonsilitis, faringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis
(Nursalam, 2008).
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya anggota keluarga yang menderita diare sebelumnya, yang
dapat menular ke anggota keluarga lainnya. Dan juga makanan yang tidak
dijamin kebersihannya yang disajikan kepada anak. Riwayat keluarga
melakukan perjalanan ke daerah tropis (Nursalam, 2008; Wong, 2008).
5. Riwayat Nutrisi

Riwayat pemberian makanan sebelum mengalami diare, meliputi:

 Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat mengurangi
resiko diare dan infeksi yang serius.
 Pemberian susu formula. Apakah dibuat menggunakan air masak dan
diberikan dengan botol atau dot, karena botol yang tidak bersih akan
mudah menimbulkan pencemaran.
 Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak merasa haus
(minum biasa). Pada dehidrasi ringan atau sedang anak merasa haus
ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi berat, anak malas
minum atau tidak bisa minum (Nursalam, 2008).
B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
 Diare tanpa dehidrasi: baik, sadar
 Diare dehidrasi ringan atau sedang: gelisah, rewel
 Diare dehidrasi berat: lesu, lunglai, atau tidak sadar
2. Berat badan
Menurut S. Partono dalam Nursalam (2008), anak yang
mengalami diare dengan dehidrasi biasanya mengalami penurunan
berat badan
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala

18
Anak berusia di bawah 2 tahun yang mengalami dehidrasi,
ubun-ubunnya biasanya cekung
b. Mata
Anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak
matanya normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan atau
sedang kelopak matanya cekung (cowong). Sedangkan apabila
mengalami dehidrasi berat, kelopak matanya sangat cekung.
c. Hidung
Biasanya tidak ada kelainan dan gangguan pada hidung, tidak
sianosis, tidak ada pernapasan cuping hidung.
d. Telinga
Biasanya tidak ada kelainan pada telinga.
e. Mulut dan Lidah
 Diare tanpa dehidrasi: Mulut dan lidah basah
 Diare dehidrasi ringan: Mulut dan lidah kering
 Diare dehidrasi berat: Mulut dan lidah sangat kering
f. Leher
Tidak ada pembengkakan pada kelenjar getah bening, tidak ada
kelainan pada kelenjar tyroid.
g. Thorak
1) Jantung
 Inspeksi. Pada anak biasanya iktus kordis tampak
terlihat.
 Auskultasi
Pada diare tanpa dehidrasi denyut jantung
normal, diare dehidrasi ringan atau sedang denyut
jantung pasien normal hingga meningkat, diare dengan
dehidrasi berat biasanya pasien mengalami takikardi
dan bradikardi.
2) Paru-paru
 Inspeksi
Diare tanpa dehidrasi biasanya pernapasan
normal, diare dehidrasi ringan pernapasan normal
hingga melemah, diare dengan dehidrasi berat
pernapasannya dalam.
h. Abdomen
 Inspeksi
Anak akan mengalami distensi abdomen, dan
kram.
 Palpasi

19
Turgor kulit pada pasien diare tanpa dehidrasi
baik, pada pasien diare dehidrasi ringan kembali < 2
detik, pada pasien dehidrasi berat kembali > 2 detik.
 Auskultasi
Biasanya anak yang mengalami diare bising
ususnya meningkat
i. Ektremitas
Anak dengan diare tanpa dehidrasi Capillary refill
(CRT) normal, akral teraba hangat. Anak dengan diare dehidrasi
ringan CRT kembali < 2 detik, akral dingin. Pada anak dehidrasi
berat CRT kembali > 2 detik, akral teraba dingin, sianosis.
j. Genitalia
Anak dengan diare akan sering BAB maka hal yang
perlu di lakukan pemeriksaan yaitu apakah ada iritasi pada anus.

3.1.2 DIAGNOSA DAN IMPLEMENTASI KEPERAWAT

Diagnosa NOC NIC


Kekurangan volume Setelah dilakukan Manajemen Cairan
cairan b.d Kehilangan asuhan keperawatan
cairan aktif selama 3 x 24 jam 1. Timbang berat badan
diharapkan cairan dan setiap hari dan monitor
Definisi: penurunan elektrolit anak status klien.
cairan intravaskuler. seimbang, dengan Rasional: sebagai
Interstisial, dan/atau outcome: Indikator cairan dan
intraselular. Ini mengacu status nutrisi.
pada dehidrasi Keseimbangan 2. Jaga intake/asupan yang
kehilangan cairan saja Cairan (0601) akurat dan catat output.
tanpa perubahan kadar Rasional: Memberikan
natrium. 1. Intake dan informasi tentang
output cairan keseimbangan cairan.
(Domain 2. Nutrisi, kelas anak 3. Monitor status hidrasi
5. Hidrasi, kode 00027) seimbang (mislanya membrane
dalam 24 jam. mukosa lembab, denyut
2. Turgor kulit nadi adekuat, dan
anak elastis. tekanan darah
3. Membrane ortostatik).
mukosa anak Rasional: Hipotensi
lembab. (termasuk postural),
takhikardia, demam

20
Tanda-tanda Vital dapat
(0802) menunjukanrespon
terhadap dan /atau efek
1. Suhu tubuh kehilangan cairan.
anak dalam 4. Monitor tanda-tanda
rentang vital klien.
normal: 36,5- Rasional: Hipotensi
37,5. (termasuk postural),
2. Respirasi anak takhikardia, demam
dalam rentang dapat
normal: 20-30 menunjukanrespon
x/menit. terhadap dan /atau efek
3. Tekanan kehilangan cairan.
darah anak 5. Berikan terapi IV,
dalam rentang seperti yang ditentukan.
normal: 80- Rasional:
100/60 Mempertahankan
mmHg. istirahat usus akan
4. Denyut nadi memerlukan
anak dalam penggantian cairan
rentang untuk memperbaiki
normal: 80-90 kehilangan.
x/menit.
Monitor Cairan

1. Tentukan jumlah dan


jenis intake/asupan
cairan serta kebiasaan
eliminasi.
Rasional: Mengatahui
jumlah nutrisi yang
masuk dan keluar.
2. Tentukan faktor-faktor
risiko yang mungkin
menyebabkan
ketidakseimbangan
cairan (misalnya diare).
Rasional: untuk
mengetahui penyebab

21
diare dan menentukan
intervensi yang tepat.
3. Periksa turgor kulit
dengan memegang
jaringan sekitar tulang
seperti tangan atau
tulang kering, mencubit
kulit dengan lembut,
pegang dengan kedua
tangan dan lepasakan
(dimana kulit akan turun
kembali dengan cepat
jika pasien terhidrasi
dengan baik).
Rasional: untuk
mengetahui pemenuhan
nutrisi.
4. Monitor berat badan.
Rasional: untuk
mengetahui adanya
perubahan berat badan.
5. Monitor asupan dan
pengeluaran.
Rasional: Mengatahui
jumlah nutrisi yang
masuk dan keluar.
6. Catat dengan akurat
asupan dan pnegeluaran
(misalnya asupan oral).
Rasional: Mengatahui
jumlah nutrisi yang
masuk dan keluar.
7. Monitor membran
mukosa, turgor kulit dan
respon haus.
Rasional: untuk
mengetahui pemenuhan
nutrisi.

Monitor Tanda-tanda Vital

22
1. Monitor tekanan darah,
nadi, suhu, dan status
pernafasan.
Rasional: untuk
mengethaui kondisi
klien.
Ketidakseimbangan Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi
nutrisi: kurang dari asuhan keperawatan
kebutuhan tubuh b.d selama 3 x 24 jam 1. Tentukan status gizi
Diare diharapkan klien dan kemampuan
pemenuhan untuk memenuhi
Definisi: asupan nutrisi kebutuhan anak kebutuhan gizi.
tidak cukup untuk tercukupi, dengan Rasional: untuk
memenuhi kebutuhan outcome: mengetahui status
metabolic. nutrisi pasien sehingga
Status Nutrisi (1004) dapat menentukan
(Domain 2. Nutrisi, kelas intervensi yang
1. Makan, kode 00002) 1. Asupan diberikan.
makanan anak 2. Tentukan jumlah kalori
terpenuhi. dan jenis nutrsisi yang
2. Asupan cairan dibutuhkan untuk
anak memenuhi persyaratan
terpenuhi. gizi.
Rasional: Memperbaiki
Status Nutrisi: status nutrisi pasien.
Asupan Nutrisi 3. Ciptakan lingkungan
(10080) yang optimal apada saat
mengkonsumsi
1. Asupan makanan (misalnya,
makanan anak bersih, berventilasi,
secara oral santai, dan bebas dari
meningkat. bau yang menyengat).
2. Asupan cairan Rasional: untuk
anak secara meningkatkan nafsu
oral makan klien
meningkat. 4. Monitor kalori dan
asupan makanan.
Rasional: Mengetahui
status nutrisi pasien.

23
Berat Badan: Massa
Tubuh (1006) Bantuan Peningkatan Berat
Badan
1. Tidak terjadi
penurunan 1. Timbang klien pada jam
berat badan yang sama setiap hari.
pada anak. Rasional: Dengan
2. Persentil berat menimbang berat badan
badan anak dapat memantau
adalam peningkatan dan
kisaran penrunan status gizi.
normal. 2. Diskusikan
kemungkinan terjadinya
penurunan berat badan.
Rasional: Membantu
memilih alternatif
pemenuhan nutrisi yang
adekuat.
Kerusakan integritas Setelah dilakukan Terapi Nutrisi
jaringan b.d Kurang asuhan keperawatan
volume cairan. selama 24 jam 1. Monitor intake
diharapkan integritas makanan/cairan dan
Definisi: cedera pada jaringan tidak hitung masukan kalori
membrane mukosa, mengalami kerusakan perhari, sesuai
kornea, system lebih jauh, dengan kebutuhan.
integumen, fascia outcome: Rasional: Mengetahui
muscular otot, tendon, status nutrisi pasien.
tulang kartilago, kapsul Integritas Jaringan: 2. Tentukan jumlah kaori
sendi, dan/atau ligamen. Kulit & Membran dan tipe nutrisi yang
Mukosa (1101) diperlukan untuk
(Domain 11. memenuhi kebutuha
Keamanan/Perlindungan 1. Suhu kulit nutrisi dengan
, kelas 2. Cedera Fisik, anak normal. berkolarborasi dengan
kode 00044) 2. Sensasi kulit ahli gizi sesuai,
anak normal. kebutuhan.
3. Kulit anak Rasional: Memperbaiki
elastis. status nutrisi pasien.
4. Hidrasi kulit 3. Kaji kebutuhan nutrisi
anak adekuat. parenteral.

24
5. Perfusi Rasional: Mengganti
jaringan anak cairan dan elektrolit
baik. secara adekuat dan
6. Integritas kulit cepat.
anak baik dan Pengecekan Kulit
bisa
dipertahankan 1. Periksa kulit dan selaput
. lendir terkait dengan
7. Tidak ada lesi adanya kemerahan,
pada kulit kehangatan ekstrim,
anak. edema atau drainase.
Rasional: Mengetahui
kekurangan kebutuhan
nutrisi klien.
2. Amati warna,
kehangatan, bengkak,
pulsasi. Tekstur, edema,
dan ulserasi pada
ekstrimitas.
Rasional: Mengetahui
kekurangan kebutuhan
nutrisi klien.
3. Monitor warna dan suhu
kulit.
Rasional: Deteksi dini
terjadinya perubahan
abnormal fungsi tubuh
(adanya infeksi)
4. Monitor kulit dan
selaput lendir terhadap
area perubahan warna,
memar, dan pecah.
Rasional: Mengetahui
kekurangan kebutuhan
nutrisi klien.
5. Monitor kulit untuk
adanya ruam dan lecet.
Rasional: Untuk
mengetahui adanya
infeksi

25
6. Monitor kulit untuk
adanya kekeringan yang
berlebihan dan
kelembaban.
Rasional: untuk
menghindari adanya
kehilangan air yang
berlebihan pada kulit.

3.2 ASUHAN KEPERAWATAN TYPHOID FEVER

3.2.1 PENGKAJIAN

Pengkajian menurut (Carpeniti,2007) yaitu tahap proses keperawatan yang


meliputi pengumpulan data secara sistematis dan cermat untuk menentukan status
kesehatan klien saat ini dan riwayat kesehatan masa lalu, serta menentukan status
fungsional serta evaluasi koping klien saat ini dan masa lalu. Sumber dari informasi
didapatkan dari wawancara, observasi, dan pemeriksaan.

1. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no.rekam medis,
agama, tinggi badan, berat badan, tanggal masuk rumah sakit.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Klien dengan penyakit mengeluh demam, nafsu makan menurun, mual, dan
muntah.
b. Riwayat penyakit dahulu
c. Riwayat penyakit sekarang
d. Riwayat penyakit keluarga
3. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya penurunan nafsu makan disertai dengan rasa mual dan muntah, lidah
pasien kotor dan rasa pahit.
c. Pola Aktifitas dan Latihan
Adanya keterbatasan aktifitas bagi anak yang menderita deman thyoid
d. Pola Istirahat dan Tidur
Peningkatan suhu tubuh pada anak dan nutrisi yang tidak aduquat
mempengaruhi kebutuhan istirahat dan tidur
e. Pola Persepsi Sensori dan Kognitif
f. Pola Hubungan dengan Orang lain

26
g. Persepsi diri dan konsep diri
h. Pola mekanisme koping
i. Pola nilai kepercayaan/keyakinan
4. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pada pasien typoid ditemukan adanta demam, pucat, tidak
nafsu makan, dan mual. Pada lidah kotor di tepi dengan kemerahan di tengah.
Bagian perut adanya nyeri tekan karena adanya peradangan pada usus.
5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien typoid antara lain pemeriksaan SGOT
dan SGPT (pada pasien meningkat), biakan darah, dan uji widal

3.2.2 DIAGNOSA DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN TYPHOID FEVER

Diagnosis

1. Diagnosis Keperawatan : Hipertermia berhubungan dengan penyakit

Domain 11 Keamanan/Perlindungan Kelas 6 Termoregulasi

Definisi: Suhu inti tubuh di atas kisaran normal diurnal karena kegagalan
termoregulasi.

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Setelah diberikan asuhan Perawatan Demam
keperawatan selama 2 x 24 jam 1. Jangan memberikan 1. Aspirin memiliki efek
suhu tubuh normal dengan aspirin apada anak samping yang perlu
kriteria hasil berikut: 2. Memandikan (pasien) diwaspadai pada anak
Termoregulasi (0800) dengan spons hangat 2. Menjaga kebersihan
1. Melaporkan kenyamanan dengan hati-hati klien secara tepat dan
suhu (080001) 3. Memantau mengurangi risiko
2. Tidak mengalami komplikasi- peningkatan suhu
hipertermia (080019) komplikasi yang tubuh
3. Tidak mengalami sakit berhubungan dengan 3. Mengkontrol apabila
kepala (080003) demam serta tanda terjadi komplikasi
Status kenyamanan: Fisik dan gejala kondisi akibat demam dan
(2010) penyebab demam mendapatkan penangan
1. Kontrol terhadap gejala segera
secara baik (201001)

27
2. Tingkat energi meningkat Pengaturan Suhu 1. Mencegah terjadinya
(201009) 1. Memonitori suhu efek
3. Suhu tubuh normal ( paling tidak setiap 2 peningkatan/penurunan
36,50C-37,50C) (201010) jam, sesuai kebutuhan suhu secara drastis
2. Memberikan 2. Antipiretik yang sesuai
Kontrol Risiko: Hipertermia antipieretik, sesuai dengan anak secara
(1922) kebutuhan dosis dan jenis obat
1. Memonitor lingkungan 3. Meningkatkan intake mempengaruhi
terkait faktor yang cairan dan nutrisi kesehatannya dan
meningkatkan suhu tubuh mempertimbangkan
(192222) efek samping yang
2. Mencegah ektivitas berlebih terjadi
yang mengurangi risiko 3. Cairan dan nutri
(192215) berpengaruh terhadap
3. Mengenali obat-obatan peningkatan suhu pada
yang berefek pada suhu anak
tubun (192214)

2. Diagnosis Keperawatan : Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan

Domain 2 Nutrisi Kelas 6 Makan

Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Setelah diberikan asuhan Monotor nutrisi
keperawatan selama 3 x 24 jam 1. Memonitori 1. Mengetahui
asupan nutrisi klien terpenuhi kecenderungan turun terjadinya
dengan kriteria hasil berikut: dan naiknya berat pertumbuhan dan
Status Nutrisi (1004) badan perkembangan pada
1. Asuhan gizi terpenuhi 2. Menentukan pola anak serta mengetahui
(100401) makan adanya gangguan
2. Kebutuhan asupan makanan 3. Menentukan faktor- kesehatan
cukup (100402) faktor yang 2. Meningkatkan
3. Asupan cairan terpenuhi mempengaruhi kebutuhan nutrisi
(100408) asupan nutrisi dengan pola makan
Nafsu Makan (1014) yang sesuai dengan
1. Memiliki hasrat/keinginan klien
untuk makan (101404) 3. Faktor-faktor yang
mempengaruhi

28
2. Menyenangi makanan asupan nutrisi
(101403) mempengaruhi nafsu
3. Intake nutrisi terpenuhi makan anak
(101407) Pemberian makan
Fungsi Gatrointestinal 1. Mangatur meja dan 1. Memberikan
1. Nafsu makan meningkat nampan makanan rangsangan pada anak
(101524) agar menarik untuk makan
2. Tidak dirasakan nyeri perut 2. Menciptakan 2. Meningkatkan
(101513) lingkungan yang kenyamanan selama
3. Tidak muntah (101533) menyenangkan makan dan
selama makan mempengaruhi
3. Mengatur makanan keinginan untuk
sesuai dengan makan
kesenangan pasien 3. Menu makan yang
bervariasi atau
seseuai dengan
keinginan anak
menambah keinginan
anak untuk makan

3. Diagnosis Keperawatan : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala


terkait penyakit

Domain 12 Kenyamanan Kelas 1 Kenyamanan Fisik

Kelas 2 Keamanan Lingkungan

Kelas 3 Kenyamanan Sosial

Definisi: Merasa kurang nyaman, lega, dan sempurna dalam dimensi fisik,
psikospiritual lingkungan, budaya, dan/atau sosial.

Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Setelah diberikan asuhan Manajemen lingkungan:
keperawatan selama 2 x 24 jam klien kenyamanan
merasa nyaman dengan kriteria hasil 1. Memudahkan transisi 1. Menciptakan
berikut: pasien dan keluarga lingkungan
Tingkat nyeri (2102) dalam mengelola yang
1. Mengerang dan menangis tidak lingkungan dan terapeutik
terjadi (210217) kenyamanan yang untuk anak
optimal dan mencegah

29
2. Tidak ditemukan ekspresi nyeri 2. Menyediakan lingkungan terjadinya efek
wajah (210206) yang aman dan bersih hospitalisasi
3. Tidak merasakan mual (210227) 3. Menghindari paparan dan 2. Menciptakan
Kontrol gejala (1608) aliran udara yang tidak kenyamanan
1. Memantau munculnya gejala perlu, terlalu panas, terhadap
(160801) maupun terlalu dingin lingkungan
2. Melakukan tindakan utnuk 3. Mencegah
mengurangi gejala (160807) terjadinya
3. Mendapatkan perawatan peningkatan
kesehatan ketika gejala yang atau
berbahaya muncul (160813) penurunan
Keparahan gejala (2103) suhu di bawah
1. Tidak adanya ketidaknyamanan normal pada
(210304) anak
2. Tidur yang cukup (210313) Manajemen Nyeri
3. Tidak merasakan kehilangan 1. Menggunakan metode 1. Metode
nafsu makan (210314) penilaian yang sesuai penilaian nyeri
dengan tahapan pada anak
perkembangan yang berbeda
memungkinkan untuk dengan
memonitor perubahan dewasa
nyeri dan akan dapat ataupun
membantu lansia, hal
mengidentifikasi faktor tersebut untuk
pencetus aktual dan bertujuan
potensial keakuratan
2. Memilih dan terhadap rasa
mengimplementasikan nyeri pada
tindakan yang beragam anak
untuk menfasilitasi 2. Tindakan yang
penurunan nyeri, sesuai bervariasi
dengan kebutuhan dapat
3. Melibatkan keluarga mengurangi
dalam modalitas rasa bosan dan
penurunan nyeri, apabila dapat
memungkinkan disesuaikan
dengan
kebutuhan
anak

30
3. Keluarga
merupakan
anggota yang
terdekat dan
terpercaya
bagi anak dan
alangkan
baiknya
keluarga untuk
dilibatkan
dalam
memanajemen
nyeri pada
anak.

31
BAB 4

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Diare akut adalah meningkatnya kekerapan, bertambahnya cairan atau
banyaknya tinja yang dikeluarkan relative terhadap kebiasaan yang ada pada
penderita dan berlangsung t idak lebih dari 1 minggu atau keluarnya tinja cair
lebih dari 3 kali dalam 24 jam.
Jadi diare akut dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak
normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat
disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya
proses inflamasi pada lambung atau usus.
Sedangkan Typhoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada
saluran cerna dan gangguan kesadaran. Penyakit pada usus yang menimbulkan
gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhi, salmonella type
A.B.C penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi.
Cara pencegahan penyakit typoid yang dilakukan adalah cuci tangan
setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan
makanan, hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi), hindari
minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas.

4.2 SARAN

Dengan dibuatnya asuhan keperawatan pada klien yang


mengalami Diare akut dan typhoid fever ini diharapkan mahasiswa untuk lebih
bisa memahami, mengetahui dan mengerti tentang cara mengimplementasikan
pada klien yang mengalami Diare akut serta typhoid fever serta membuat
perawat dan pembaca lebih mengerti cara penanganan untuk penyakit diare akut
dan typhoid fever.

32
DAFTAR PUSTAKA

Sucipta, A.A. Made . 2015 . Baku Emas Pemeriksaan Laboratorium Demam Tifoid
pada Anak. Denpasar.

NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi 2015


2017/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan Nike
Budhi Subekti; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester,
Dan Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.

Moorhed, (et al). 2013. Nursing Outcomes Classifications (NOC) 5th Edition.
Missouri: Mosby Elsevier

Gloria M. Bulechek, (et al).2013. Nursing Interventions Classifications (NIC) 6th


Edition. Missouri: Mosby Elsevier

Paramita, L. (2017). Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diare di Ruang 2 Ibu
dan Anak RS Reksodiwiryo Padang. Karya Tulis Ilmiah Tugas Akhir, 32-38.

Lung E, Acute Diarrheal Disease. In: Friedman SL, McQuaid KR, Grendell JH,
nd
editors. Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology. 2 edition.
New York: Lange Medical Books, 2003. 131 - 50.

Amin, L. Z. (2015). Tatalaksana Diare Akut. Continuing Medical Education, 42(7),


504-508.

Aman, M. C., Manoppo, J. I. C., & Wilar, R. (2015). Gambaran gejala dan tanda
klinis diare akut pada anak karena Blastocystis hominis. e-CliniC, 3(1).
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/7483

Adyanastri, F., & Sofro, M. A. (2012). Etiologi Dan Gambaran Klinis Diare Akut Di
Rsup Dr Kariadi Semarang (Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran).
http://eprints.undip.ac.id/37538/1/Festy_G2A008082_Lap_kti.pdf

Wayan , I (2012). Probiotik sebagai Terapi Diare Akut pada Bayi dan Anak.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82605&val=970

Eppy.(2009).Medicinus scientific Journal of Pharmaceutical Development and


Medical Aplication. Dexa Medica.
http://www.dexamedica.com/sites/default/files/publish_upload09092851420500125
4127496FA%20MEDICINUS%20edisi%20III%202009%28small%29.pdf

33
Adisasmito, A. W. (2016). Penggunaan antibiotik pada terapi demam tifoid anak di
RSAB Harapan Kita. Sari Pediatri, 8(3), 174-80.
Broto, A. S., Santoso, I., & Zahra, A. A. (2011). Perancangan dan Implementasi
Sistem Pakar untuk Analisa Penyakit Dalam (Doctoral dissertation,
Diponegoro University).

Hadinegoro, S. R. S., Tumbelaka, A. R., & Satari, H. I. (2016). Pengobatan cefixime


pada demam tifoid anak. Sari Pediatri, 2(4), 182-7.

Lestari, R. P., & Arguni, E. (2018). Profil Klinis Anak dengan Demam Tifoid di
Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito Yogyakarta. Sari Pediatri, 19(3), 139-
44.

Maulina, M., & De Nanda, S. (2018). PERBEDAAN PENGETAHUAN


MAHASISWA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN TENTANG
PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM TIFOID. Idea Nursing Journal, 8(2),
50-55.

Nelwan, R. H. H. (2012). Tata laksana terkini demam tifoid. Cermin Dunia


Kedokteran, 39(4), 247-250.
Paputungan, W. (2016). Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Dengan
Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota
Kotamobagu Tahun 2015. PHARMACON, 5(2).

Rampengan, N. H. (2016). Antibiotik terapi demam tifoid tanpa komplikasi pada


anak. Sari Pediatri, 14(5), 271-6.

Wardhani, P., Prihatini, P., & Probohoesodo, M. Y. (2018). Kemampuan uji tabung
widal menggunakan antigen import dan antigen lokal. Indonesian Journal of
Clinical Pathology and Medical Laboratory, 12(1), 31-37.

Romanna Julia Duma Simanjuntak, H. M. (2016, Desember). Pengaruh Pemberian


Teh Kombucha terhadap Pertumbuhan Salmonella Typhi. Majority, Vol. 5,
No. 5, 48 - 54. Diambil kembali dari
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/923

Santoso, H. (2009). Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Kasus Demam


Tifoid yang Dirawat pada Bangsal Penyakit dalam di RSUP Dr. Kariadi

34
Semarang Tahun 2008. Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah. Diambil kembali
dari http://eprints.undip.ac.id/8069/

Sucipta, A. M. (2015, April). Baku Emas Pemeriksaan Laboratorium Demam Tifoid


pada Anak. Jurnal Skala Husada(Vol. 12, No. 1), 22 - 26. Diambil kembali
daripoltekkes-
denpasar.ac.id/files/JSH/V12N1/A.A%20Made%20Sucipta.pdf

Safii, L. I. (2012). ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN DEMAM


TYPHOID DI BANGSAL SOFA RS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA.
SURAKARTA

35