Anda di halaman 1dari 27

PANDUAN PRATIKUM

PEMUPUKAN DAN KESUBURAN PERAIRAN

Oleh :
Tim Dosen Pemupukan dan Kesuburan Perairan
Ir. PUTUT WIDJANARKO, MP
Ir. KUSRIANI, MP
SETYA WIDI AYUNING P., S.Pi, MP

PROGRAM STUDI MANAJAMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN`
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
BIODATA PRAKTIKAN

Foto

3x4

NAMA LENGKAP :
NO.Hp :
EMAIL :
KELOMPOK / KELAS :
RENCANA KEGIATAN PRAKTIKUM, KONTRAK PRAKTIKUM

DAN SISTEM EVALUASI

A. Pengantar:

Mata Kuliah Pemupukan Dan Kesuburan Perairan merupakan mata kuliah wajib

yang harus diambil oleh mahasiswa program studi Manajemen Sumberdaya Perairan

pada semester 6. Mata kuliah ini mengenalkan mahasiswa mengenai jenis-jenis pupuk

anorganik. Mempelajari teknologi pemupukan pada kolam ini tidaklah cukup hanya

teoritis di kelas perkuliahan, namun juga harus dipraktekkan dan diaplikasikan secara

langsung melalui kegiatan praktikum. Kegiatan praktikum adalah kegiatan yang

dilakukan diluar kelas (dilaboratorium) dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan

mahasiswa mengenai proses penyiapan media pemupukan, proses pemberian pupuk

baik pupuk alami, pupuk buatan maupun pupuk campuran dan penghitungan dosis

pemberian pupuk. Sebelum mengikuti praktikum lebih lanjut, maka perlu dijelaskan

kepada mahasiswa mengenai tata tertib yang berlaku saat mengambil kegiatan

prktikum mata kuliah ini. Rencana kegiatan tutorial dan praktikum yang akan

dilaksanakan selama satu semester ini juga wajib dijelaskan oleh dosen kepada

mahasiswa, sehingga mahasiswa mempunyai pandangan mengenai materi apa saja

yang akan didapatkannya selama mengikuti tutorial dan praktikum pemupukan dan

kesuburan perairan.

B. Kontrak Praktikum MK. Pemupukan Dan Kesuburan Perairan

Tata tertib praktikum

1. Praktikan boleh mengikuti praktikum bila telah memenuhi syarat administrasi;


2. Pratikan diwajibkan untuk datang dan bertanggung jawab pada kegiatan pratikum
di kelompok masing-masing;
3. Sebelum kegiatan praktikum dimulai, praktikan harus sudah memahami materi
praktikum yang bersangkutan;
4. Praktikan diwajibkan mengikuti seluruh materi kegiatan praktikum dan ujian
praktikum;
5. Praktikan yang tidak bisa mengikuti praktikum karena suatu alasan, maka harus
memberitahukan kepada dosen pengampu praktikum sebelum praktikum saat itu
dan harus sudah mengikuti materi yang tertunda sebelum materi berikutnya
dimulai (mengikuti di kelas lain);
6. Bagi yang tidak memenuhi ketentuan 1-6 nilai praktikum akan ditunda sampai
persyaratan dipenuhi.

Dalam Laboratorium
1. Diwajibkan selalu menggunakan jas lab;
2. Dilarang melakukan kegiatan yang dapat menganggu jalannya praktikum;
3. Bekerja sesuai dengan materi yang dipraktikumkan (berkaitan dengan
penggunaan alat dan bahan), tidak diperkenankan menyentuh peralatan lain
yang tidak diperlukan dalam materi praktikum yang bersangkutan;
4. Selesai praktikum, alat-alat dan meja kerja yang digunakan harus tertata rapi
dan bersih;
5. Kerusakan alat menjadi tanggung jawab praktikan secara pribadi atau
kelompok;
6. Segala permasalahan yang terjadi dilaporkan kepada dosen pengampu
pratikum.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat,
rahmat dan karunia-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan Panduan
Praktikum Pemupukan Dan Kesuburan Perairan ini.

Panduan pratikum ini diharapkan dapat digunakan sebaik–baiknya


sebagaimana mestinya. Penyusun menyadari bahwa panduan ini banyak terdapat
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan ini di masa yang akan datang.

Penyusun ucapkan banyak terima kasih kepada tim pengajar dan para
asisten yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan panduan ini. Semoga
bantuan dari kalian akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi para praktikan mata
kuliah Pemupukan Dan Kesuburan Perairan.

Malang, APRIL 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... 5
DAFTAR ISI....................................................................................................................6

I. PENDAHULUAN.........................................................................................................7
1.1 Latar Belakang......................................................................................................7
1.2 Maksud dan Tujuan...............................................................................................8
1.3 Waktu dan Tempat................................................................................................8
1.4 Kegiatan Pratikum.................................................................................................9

II. MATERI PRATIKUM.................................................................................................10


2.1 PENGENALAN PUPUK......................................................................................10
2.2 PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK..............................................................13
2.3 PENYIAPAN CONTOH TANAH DAN CARA PEMUPUKAN................................18
2.4 PENGUKURAN KUALITAS AIR..........................................................................20

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................26
FORMAT...................................................................................................................... 27
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kolam yang sering dijadikan kegiatan budidaya tidak dapat lepas dari
keberadaan air sebagai media dan juga tanah, dimana di dalamnya terdapat unsur-
unsur hara makro dan mikro. Perairan yang subur adalah perairan yang mengandung
unsur hara terutama unsur hara yang tersedia bagi organisme perairan (khususnya
fitoplankton), guna mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan keanekaragaman
fitoplankton tersebut, maka perlu adanya upaya penambahan unsur hara baik unsur
hara anorganik maupun organik. Kesuburan perairan adalah kapasitas atau
kemampuan perairan dalam menyediakan unsur hara yang sesuai bagi kehidupan
fitoplankton, sehingga dapat menghasilkan produksi optimum dalam menyediakan
pakan alami.
Dalam usaha budidaya perlu adanya pengelolaan kolam atau tambak merupakan
faktor penting setelah penentuan kesesuaian lahan budidaya kolam dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan dan budidaya kolam berkelanjutan (Ratnawati et al,
2010). Salah satu dari kegiatan dalam pengelolaan kolam atau tambak adalah
pemupukan. Menurut Amin dan Pantjara (2002), pemupukan dimaksudkan sebagai
usaha pemberian nutrien kedalam tanah atau di kolam dengan tujuan untuk
meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami bagi
fitoplankton. Lebih lanjut ditegaskan oleh Huet (1978), bahwa pemupukan merupakan
usaha untuk meningkatkan kesuburan perairan. Dengan menambah unsur hara secara
periodik melalui pemupukan dalam jumlah tertentu ke dalam perairan akan
merangsang pertumbuhan fitoplankton sehingga mempengaruhi kesuburan perairan.
Pakan alami pada dasarnya sudah terdapat pada kolam, namun untuk
meningkatkan jumlah kelimpahan pakan alami dilakukan dengan proses pemupukan
kolam atau tambak, terutama pada kolam atau tambak yang memiliki dasar tanah.
Tujuan utama pemupukan dikolam atau tambak adalah untuk menumbuhkan pakan
alami berupa: fitoplankton, klekap dan lumut.
Pada prinsipnya, tanah yang subur adalah tanah yang konsisten memberikan
hasil yang baik tanpa adanya penambahan pupuk. Dalam pengertian sehari-hari pupuk
adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Pupuk
adalah semua bahan yang diberikan kepada tanah dengan tujuan memperbaiki sifat
fisika, kimia dan biologi tanah. Pemupukan adalah salah satu upaya dalam
penambahan unsur hara ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur, yang
selanjutnya akan mempengaruhi kesuburan perairan (Hardjowigeno, 2004). Pupuk
diaplikasikan pada kolam atau tambak guna menambah unsur hara yang sangat
penting dalam pertumbuhan fitoplankton. Sehingga keberadaan fitoplankton yang
penuh akan nutrisi ini akan meningkatkan populasi zooplankton, dimana zooplankton
ini merupakan pakan alami protein hewani bagi ikan dan udang (Byod, 1991).
Pupuk dapat dibedakan menjadi pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam
adalah pupuk yang langsung di dapat dari alam, misalnya phospat alam, pupuk organik
(pupuk kandang, kompos, hijau dan sebagainya). Jumlah dan jenis unsur hara dalam
pupuk akan terdapat secara alami. Pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat di pabrik
yang biasa dikenal dengan pupuk anorganik. Pupuk buatan ini memiliki jenis dan unsur
haranya sengaja ditambahkan pada pupuk tersebut dalam jumlah tertentu.
(Hardjowigeno, 2007; Purwohadiyanto,2006).
Praktikum pemupukan dan kesuburan perairan dilaksanakan guna menerapkan
teori yang telah diperoleh sebelumnya. Pemupukan yang digunakan adalah pupuk
buatan (pupuk UREA dan pupuk TSP). Pupuk-pupuk tersebut diberikan pada tanah
yang diletakkan di ember yang selanjutnya diberi air dan 4x24 jam diukur unsur hara
dalam air serta kelimpahan fitoplankton. Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa
diharapkan akan lebih memahami mengenai teori dan aplikasi. Pemupukan dan
Kesuburan Perairan sehingga memiliki bekal keterampilan dalam menjaga kesuburan
perairan.
.
1.2 Maksud dan Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat mengetahui
pengaruh pemberian pupuk dengan dosis berbeda terhadap kesuburan perairan,
diantaranya Suhu, pH, Oksigen terlarut, CO2, Nitrat, Phospat dan kelimpahan plankton.

1.3 Waktu dan Tempat


Praktikum Pemupukan dan Kesuburan Perairan sedianya akan dilaksanakan di
Laboratorium Lingkungan dan Bioteknologi Perairan dan Laboratorium Reproduksi
Ikan serta Laboratorium Budidaya Ikan divisi Reproduksi Ikan Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Malang. Pelaksanaan pratikum dilaksanakan
pada tanggal 9 Mei 2018 - 18 Mei 2018 pukul 07.00 WIB−selesai.
1.4 Kegiatan Pratikum

Penanggung
No Waktu/ Pukul Acara Praktikum
Jawab
 Persiapan alat dan bahan praktikum
 Pengambilan contoh tanah
1 2 Mei 2018
 Pengeringan tanah ± 3 hari dan
pengayakan media tanah
 Penyiapan media pemupukan
 Pengukuran parameter fisika, kimia air
9 Mei 2018
dan plankton sebelum diberi pupuk
Kelompok
2  Pemberian pupuk dengan dosis yang
1-16
berbeda
(M01 & M02)
 Pengamatan plankton setelah 3 jam
diberi pupuk & air
11 Mei 2018
Kelompok  Pengamatan plankton pada perlakuan 2
3
1-16 x 24 Jam Tim Dosen
(M01&M02) Pemupukan Dan
 Penyiapan media pemupukan Kesuburan
14 Mei 2018  Pengukuran parameter fisika, kimia air Perairan
Kelompok dan plankton sebelum diberi pupuk
1-16 (Shift1)  Pemberian pupuk dengan dosis yang
4
(M01&M02) berbeda
17-32 (Shift2)  Pemberian air
(M03&M04)  Pengamatan plankton setelah 3 jam
diberi pupuk & air
16 Mei 2018
Kelompok  Pengamatan plankton pada perlakuan 2
5
17-32 x 24 Jam
(M03&M04)
18 Mei 2018  Pengukuran parameter fisika dan kimia
6 Kel 17-32 Perairan
(M03&M04)  Pengamatan plankton 4x24 jam
II. MATERI PRATIKUM
2.1 PENGENALAN PUPUK
A. Pengertian dan Macam-Macam Pupuk
Dalam pengertian sehari-hari pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk
memperbaiki kesuburan tanah. Sedangkan pemupukan adalah penambahan bahan-
bahan tersebut ke tanah agar tanah lebih subur (Hardjowigeno, 2004). Pupuk adalah
semua bahan yang diberikan kepada tanah dengan maksud untuk memperbaiki sifat–
sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan pupuk adalah bahan yang diberikan pada
system medium tanaman untuk memperoleh kenaikan hasil yang setinggi–tingginya
(keuntungan) baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Gambar 1. Macam-macam pupuk anorganik


Pupuk dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk fasenya, reaksi kimia, cara
penyediaan unsur hara, kandungan senyawa, proses pembuatannya, dan jumlah
unsur hara yang terkandung didalamnya.
Berdasarkan bentuk fasenya, pupuk dapat digolongkan menjadi tiga golongan ,
yaitu :
a) Fase padat : Bentuk Kristal (ZA), granuler (SP-36), briket (Urea tablet).
b) Fase cair : WuxalTM, ammonia cair.
c) Fase gas : ammonia (NH3)

Pupuk berdasarkan reaksinya dapat dibedakan menjadi pupuk masam, pupuk


basa dan pupuk netral. Pupuk masam adalah pupuk yang jika ditentukan pH-nya
menunjukkan nilai yang rendah atau bereaksi masam, contoh pupuk ini yaitu ZA.
Hal ini disebabkan karena pupuk tersebut mengandung asam bebas, demikian pula
pupuk basa maupun pupuk netral. Pupuk basa mengandung basa bebas.
Berdasarkan cara pelepasan hara/penyediaan hara bahan pupuk dapat
digolongkan menjadi (1) pupuk pelepas hara cepat, misalnya urea dan (2) pupuk
pelepas hara perlahan. Pupuk pelepas hara perlahan dapat terjadi karena
kelarutannya memang kecil, misalnya fosfat alam, atau dapat dibuat dengan
penyelaputan (coating), misalnya SCU (Sulphur coated urea) atau karena dibuat
suatu campuran sehingga kelarutannya menurun, misalnya urea-formaldehida.
Pupuk berdasarkan senyawanya digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk organik
dan pupuk anorganik. Contoh pupuk organik adalah kompos, pupuk kandang, pupuk
hijau, guano. Sedangkan contoh pupuk anorganik : Urea, ZA, KCl.
Berdasarkan cara pembuatannya, bahan pupuk dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu pupuk alam (misalnya pupuk kandang, pupuk fosfat alam, guano) dan
pupuk buatan (pupuk yang dibuat di pabrik) misalnya : urea, ZA.
Pupuk dibagi 2 golongan berdasarkan jumlah unsur hara yang terkandung
didalamnya, yaitu (1) pupuk tunggal (single fertilizers) jika hanya mengandung satu
unsur hara saja, contoh pupuk ini yaitu Urea, TSP, SP-36, dan (2) pupuk majemuk
(compound fertilizers) jika mengandung dua atau lebih unsur hara pokok, misalnya
nitrofosfat/NP (23-23-0). Pupuk yang dibuat dengan mencampur pupuk tunggal
disebut sebagai pupuk campur (mixed fertilizers).
Menurut Knoty, katpo dan Hide (1970) dalam Hardjowigeno (2007), secara umum
dapat disebutkan bahwa setiap ton pupuk kandang mengandung 5 kg N, 3 kg P 2O5 dan
5 kg K2O serta unsur-unsur piara esensial lain dalam jumlah yang relative kecil.
Menurut Herwadi (1990) dalam Purwohardiyanto (2006), bahwa penggunaan pupuk
kandang adalah
- Pupuk kotoran sapi sebanyak 7.5 ton / ha
- Pupuk kotoran kuda sebanyak 5-7.5 ton / ha
- Pupuk kotoran kambing sebanyak < - 5.5 ton / ha
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak yang
sudah melalui proses fermentasi , baik dari jenis mamalia maupun unggas. Kandungan
hara pada setiap pupuk kandang berbeda, tergantungpada jenis hewannya.
Kandungan/komposisi unsur hara berbagai pupuk kandang disajikan dalam tabel
sebagai berikut:

Tabel 1. Kandungan Unsur Hara Pada Pupuk Kandang


Jenis Pupuk Kandungan Unsur Hara (%)
No
Kandang Nitrogen P2O5 K2O
1 Sapi/ Kuda 0,5 0,2 0,5
2 Domba/ kambing 0,7 0,2 0,7
3 Ayam/ unggas 1,5 1,5 0,8

Pupuk digunakan dua minggu sebelum tanah atau tebar benih ikan. Menurut
Subarijanti (2000) pupuk alam umumnya mengandung sedikit unsur hara, sehingga
dalam penggunaannya diperlukan jumlah yang cukup banyak. Penggunaan pupuk
kandang dapat meningkatkan kelimpahan fitoplankton pada media budidaya, akan
tetapi kandungan etabo haranya (N, P dan K) yang rendah mengakibatkan
penggunaan yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak (besar). Hal ini
berdampak pada penurunan kualitas air, diantaranya terjad peningkatan kekeruhan,
peningkatan kandungan CO2 bebas dan peningkatan suhu perairan. Maka menurut
Pamukas dan Niken (2011), penggunaan pupuk kandang dapat diganti dengan pupuk
etabol cair yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil (hanya 1 liter/Ha pada
tambak-tambak udang). Penggunaan etabol cair tidak memberikan dampak etaboli
terhadap kualitas air.
Pupuk hijau atau lebih dikenal dengan pupuk kompos adalah bahan organik yang
sengaja dibusukkan pada suatu tempat tertutup (terlindung dari sinar matahari dan
hujan). Dalam pembuatan kompos ini memperhatikan kelembapan tempat tertutup tadi,
guna mempercepat perombakan yang terjadi dapat ditambahkan kapur, sehingga
terbentuk kompos dengan kandungan C/N rasio rendah yang siap digunakan. Menurut
Annas (2007), teknis pembuatan kompos untuk setiap kuintal bahan kompos
dibutuhkan beberapa bahan sebagai berikut : Kotoran hewan/jerami = 100 kg; Serbuk
gergaji = 20 kg; Bekatul = 2 kg; EM4 = 50 cc; Tetes tebu/larutan tanah gula = 100 cc; Air
= 25 liter; Nutrisi = secukupnya.

B. Tujuan
Mengenal berbagai jenis pupuk dan mencirikan sifat–sifat pupuk.

C. Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan oleh mahasiswa dalam pratikum ini adalah:
a) Pupuk Buatan Tunggal
Pupuk N (Urea, ZA), pupuk P (SP-36) atau TSP
b) Pupuk Alami
Pupuk kandang, pupuk hijau dan ampas tahu

D. Cara Kerja
Setiap praktikan mengamati dan mencatat kriteria pupuk baik secara langsung
maupun dari brosur atau literatur yang tersedia. Kriteria–kriteria yang harus diamati
yaitu :
 Sifat fisik : bentuk, ukuran butir, warna
 Sifat kimia : rumus kimia, kadar hara, kemasaman
 Aplikasi : cara dan takaran penggunaan

E. Hasil dan Pembahasan


1. Bagaimana sifat fisika, kimia dan aplikasi pupuk setiap kelompok?
a. Sifat fisik : bentuk, ukuran butir, warna
b. Sifat kimia : rumus kimia, kadar hara, kemasaman
c. Aplikasi : cara dan takaran penggunaan

2.2 PERHITUNGAN KEBUTUHAN PUPUK


A. Perhitungan Kebutuhan Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik
Menurut Fuady et al. (2013), pemupukan dan pengapuran merupakan salah satu
aplikasi pengelolaan kualitas air yang sangat berperan dalam meningkatkan nilai
parameter kualitas air. Pemupukan pada kolam dilakukan 2-3 hari sebelum penebaran.
Pupuk yang digunakan adalah pupuk komersil seperti urea, TSP, dan KCl. Dahlia et al.
(2015), pemupukan pada tambak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
organisme didalamnya.
1. Menghitung Kebutuhan Pupuk Per Hektar
Banyaknya pupuk yang dibutuhkan per hektar pada jumlah unsur hara yang
dibutuhkan (dosis) dan besarnya kandungan hara dalam pupuk yang bersangkutan.
Misalnya kita menganggap lahan yang akan pupuk membutuhkan unsur hara N, P dan
K. Dari percobaan terbukti bahwa untuk mencapai hasil yang optimal
direkomendasikan untuk diberikan pemupukan dengan dosis 150 kg N, 100 kg P 2O5
dan 75 kg K2O. Bila pupuk yang tersedia adalah ZA (21% N), TSP (46% P 2O5) dan
KCL (60% K2O), maka banyaknya tiap jenis pupuk yang harus disediakan adalah :
2. Menghitung Kebutuhan Pupuk Untuk Luasan Tertentu
Untuk menghitung kebutuhan pupuk untuk luasan tertentu dapat digunakan
rumus:

Keterangan :
A : Luas lahan yang akan dipupuk (m2)
B : kadar pupuk (%)
C : dosis pemupukan (Kg/Ha)

Contoh perhitungan :
Sebidang tambak seluas 500m2 akan dipupuk dengan dosis 120 kg N, 75 kg P2O5
dan 50 kg K2O. Pupuk yang tersedia yaitu urea (46% N), SP-36 (36% P2O5), dan ZK
(50% K2O). Maka jumlah pupuk yang dibutukan adalah :

3. Menghitung Kebutuhan Pupuk Untuk Massa/Berat Tertentu


Hal yang perlu kita ketahui untuk menghitung kebutuhan pupuk untuk
massa/berat tertentu adalah mengetahui bobot tanahper hektar.
Bobot tanah/ha = luas tanah x kedalaman olah x bobot isi tanah
Untuk menghitung kebutuhan pupuk per massa tertentu dapat digunakan rumus :

Keterangan :
A : massa tanah yang digunakan (kg)
B : massa tanah per hektar
C : kadar pupuk (%)
D : dosis pemupukan (Kg/Ha)
4. Menghitung Kebutuhan Pupuk Bila Yang Tersedia Pupuk Majemuk Dan Pupuk
Tunggal
Bila yang tersedia adalah pupuk majemuk dan pupuk tunggal , untuk memenuhi
dosis pemupukan maka yang dilakukan pertama kali ialah memenuhi kebutuhan pupuk
dengan pupuk majemuk (sebagai pupuk dasar) dan kekurangannya dilengkapi dengan
pupuk tunggal.
Contoh perhitungan :
Dosis pemupukan tambak udang vanname di suatu daerah adalah 80 kg N dan
20 kg P2O5 per hektar. Pupuk yang tersedia adalah NP 20-20 dan urea (46% N).
Berapakah masing–masing pupuk yang harus disediakan dan kapan waktu
pemberiannya?
 Dosis pupuk per hektar : 80 kg N + 20 kg P2O5
 Penuhi dengan pupuk NP 20 -20 kebutuhan 20 kg N dan 20 kg P2O5 dan
sisanya sebanyak 60 kg urea.
 Jumlah pupuk NP 20-20 yang harus disediakan adalah : 100 kg pupuk NP 20-
20 yang mengandung 20 kg N dan 20 kg P2O5
 Sedangkan pupuk UREA yang dibutuhkan yaitu :

 Sehingga jumlah kebutuhan pupuk seluruhnya dan jumlah pemberiaanya


adalah:
- 100 Kg pupuk NP 20-20 diberikan sebagai pupuk dasar
- 65 Kg UREA diberikan sebagai pupuk susulan I
- dan 65 Kg UREA diberikan sebagai pupuk susulan II

5. Cara Menghitung Persentase Unsur Hara Yang Diketahui Jumlah Pupuknya


Misalnya akan dianalisis campuran pupuk yang terdiri dari 200 kg ZA (21%N),
350 kg ES (20% P2O5) dan 50 kg KCl (60% K2O). Untuk mengetahui jumlah N, P2O5
dan K2O yang tersedia dalam campuran pupuk tersebut adalah :
Untuk menghitung persentase N, P2O5 dan K2O dalam campuran adalah
membagi tiap–tiap jumlah unsur hara tersebut dengan berat total dikalikan 100% . Jadi
pada pupuk tersebut terdapat :

Dengan demikian komposisi N – P2O5 – K20 dari pupuk campuran itu adalah
7-11,67-5.

6. Menghitung Kebutuhan Kapur


Cara untuk menghitung kebutuhan kapur biasanya dengan mengkalibrasikan
dengan kandungan Al-dd. Yaitu dengan cara :
 Jika diketahui kebutuhan kapur = 1 x Al-dd artinya 1 me Ca/100g
tanah untuk menetralkan 1 me Al/100 g tanah.

1 me Ca/100 gr tanah = Berat Atom Ca/Valensi x me Ca/100 g tanah


1 me Ca/100 gr tanah = 40/2 x 1 me Ca/100 g tanah
= 20 mg Ca/100 g tanah

= 200 mg Ca/1 kg tanah x 2 x 106

(asumsi kedalaman tanah 20 cm, BV = 1 gr/cm3)


= 400 kg Ca/ha

 Untuk mengitung kebutuhan kapur pertanian :

= Berat Atom Total/Berat Atom Ca x Kebutuhan Ca


a) Untuk menghitung kebutuhan CaCO3 (1 x Al-dd):
= 100/40 x 400 Kg Ca/ha = 1 ton CaCO3/ha

b) Untuk CaO (1 x Al-dd):


= 56/40 x 400 Kg Ca/ha = 0.56 ton CaO/ha

c) Untuk Ca(OH)2 (1 x Al-dd):


= 74/40 x 400 Kg Ca/ha = 0,74 ton Ca(OH)2/ha

B. Tujuan
Untuk mempelajari cara menghitung kebutuhan pupuk.

C. Hasil Dan Pembahasan


1. Dosis pemupukan tambak Semi Insentif Budidaya udang vanname adalah 60
kg N, 100 kg P2O5 dan 50 kg K2O. Bila pupuk yang tersedia adalah UREA
(46% N), TSP (46% P 2O5) dan KCL (60% K2O), hitunglah berapa banyak
jenis pupuk yang dibutuhkan ?
2. Dosis pemupukan tambak Tradisional ikan Bandeng (Chanos chanos) per
hektar adalah 75 kg N + 60 kg P2O5 + 50 kg K2O. Pupuk yang tersedia
adalah pupuk NPK 15-15-15, pupuk urea (46%) dan SP-36 (36% P2O5).
Hitung kebutuhan masing–masing pupuk ?
3. Hitung kebutuhan pupuk kelompok kalian masing-masing?

2.3 PENYIAPAN CONTOH TANAH DAN CARA PEMUPUKAN


A. Pendahuluan
1. Cara Pemupukan di Kolam dan Tambak
Dalam mencapai hasil pemupukan yang memuaskan, tidak hanya memperhatikan
pemakaian dosis pupuk yang tepat saja, namun juga perlu diperhatikan bagaimana
cara penggunaan atau pengaplikasikan pupuk tersebut. Maka sebelum diberi pupuk,
harus menyiapkan terlebih dahulu lahan yang akan diberi pupuk.
Pemupukan pada kolam dilakukan pada saat persiapan kolam. Hal pertama yang
dilakukan adalah mengeringkan terlebih dahulu kolam. Tanah dasar kolam di cangkul
terlebih dahulu dan dibiarkan kering 2-3 hari, namun pada saat musim penghujan ini
dikering anginkan selama 7-14 hari. Apabila dasar tanah mengalami kemasaman maka
perlu diberikan kapur sebelum diberi pupuk organik maupun anorganik. Penggunaan
kapur merupakan aksi penting untuk memperbaiki kesuburan tanah kolam.
Pengapuran adalah pemberian kapur ke dalam tanah pada umumnya bukan karena
tanah kekurangan unsur Ca tetapi karena tanah terlalu masam. Oleh karena itu pH
tanah perlu dinaikkan agar unsur-unur hara seperti P mudah diserap tanaman dan
keracunan Al dapat dihindarkan. Pengapuran adalah salah satu bentuk dari remediasi
selain pengoksidasian dan pembìlasan tanah.
Pupuk organik atau anorganik ditebarkan secara merata dan kolam digenangi air
30-40 cm kolam dibiarkan terlebih dahulu 5-7 hari agar pakan alami bertumbuh
kembang. Penggunaan pupuk organik, tidak dapat langsung ditebarkan namun harus
ditaruh di karung yang sedikit dilubangi. Hal ini dilakukan agar menghindari penurunan
kualitas air kolam. Pemupukan kolam dilakukan dengan cara memasukkan pupuk
etabol ke dalam karung, lalu karung tersebut dimasukkan ke dalam kolam. Pada hari
ke 5-7 pakan alami akan tumbuh.

2. Cara Pemupukan.
Terdapat 3 macam cara pemupukan di kolam/ tambak yaitu :
a) Langsung di tebar diatas tanah.
Apabila pemberian dosis berlebih maka organisme yang hidup akan berusaha
mencari tempat yang lebih aman. Keuntungan, apabila menggunakan pupuk
organik dapat langsung dimakan dan apabila dosis tepat kesuburan akan merata.
Tetapi apabila digunakan pupuk anorganik, bila ditebarkan langsung kemungkinan
akan hilang. Tujuan dari cara ini adalah untuk menstimulir atau merangsang
tumbuhnya fitoplankton, tetapi dapat juga menstimulir gulma yang mengapung.

b) Dengan diaduk di dasar perairan


Tujuan dari cara ini adalah untuk menstimulir organisme benthos. Keuntungan dari
pupuk organik adalah: dapat memperbaiki habitat; dapat mengurangi
porocity/kebocoran dasar kolam; banyak digunakan pada kolam-kolam yang baru
dibuat, sehingga untuk membuat dasar kolam lebih lunak. Sedangkan kerugian
jika menggunakan pupuk organik adalah : apabila dasar kolam sangat
asam/sangat basa maka pupuk akan masuk ke dalam tanah (liching) sehingga
tidak terjangkau oleh organisme nabati/fitoplankton.
c) Digundukkan di suatu tempat
Cara ini khusus untuk pupuk organik. Tujuan dari pemupukan ini untuk membatasi
terjadinya overdosis.

3. Pengambilan Contoh Tanah


Tanah diambil dari daerah persawahan atau dari dari lokasi mana saja, dicatat
lokasi tanah sampel, cara pengambilan sampel dijelaskan sebagai berikut :
a. pengambilan tanah dilakukan pada kedalaman 5 cm dengan menggunakan ring
sampel (diusahakan pada saat musim kemarau atau dalam kondisi kering).
b. Kemudian tanah dikering-anginkan selama 3-5 hari.
c. Diukur kualitas tanah diantaranya tekstur tanah, KTK (Kapasitas Tukar Kation),
pH, kandungan (C-organik, N, P, K) total.

4. Tata Cara Pemupukan Dalam Pratikum


Tata cara pemupukan dalam pratikum ini, dijelaskan sebagai berikut:
a. Tanah yang telah dikering-anginkan ditumbuk dan diayak terlebih dahulu
b. Dimasukkan kedalam ember dengan kedalaman
c. Diberi air sedikit (macak-macak) dan dicampur pada tanah sampel tersebut.
Sebelumnya air yang digunakan harus diukur kandungan Nitrat, Ortophospat
dan kelimpahan plankton
d. Disiapkan pupuk dan dihitung kebutuhan dosis pupuk pada lahan tertentu
e. Diberi perlakuan dengan dosis tertentu sesuai dengan kelompok masing-
masing,
f. Dibiarkan selama 1 x 24 jam dengan kondisi ember ditutup kain kasa (untuk
menghindari masuknya bakteri dari udara)
g. Setelah 1 x 24 jam, diberi air setinggi ¾ ember, ditutup kain kasa lagi
h. Setelah itu 3 x 24 jam diukur kualitas air diantaranya : suhu, pH, Oksigen
Terlarut, CO2 bebas, nitrat, ortophospat dan kelimpahan plankton.
i. Pengukuran kualitas air dapat melihat pada buku Byod (1978) dan Hariyadi et
al (1992).

B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemupukan dengan menggunakan pupuk
organik maupun pupuk anorganik serta mengetahui efek dari pemupukan
terhadap kesuburan perairan.

2.4 PENGUKURAN KUALITAS AIR


A. Pendahuluan
1. SUHU
Tujuan : Mampu mengukur suhu air sungai dan kolam.

Alat : Termometer Hg.


Bagian ujung termometer yang ber-Hg dimasukkan ke dalam perairan hingga
seluruh bagiannya masuk dalam badan air dan ditunggu beberapa saat sampai air
raksa dalam termometer menunjuk atau berhenti pada skala tertentu. Kemudian
dicatat angka yang tertera di skala tersebut dalam satuan derajat Celcius (ºC).
Pembacaan termometer dilakukan pada saat termometer masih dalam air dan pada
bagian air raksa (termometer) tidak sampai tersentuh oleh tangan secara langsung.

2. pH (Poisoning Hidrogen/Puisance negatif de H )


Tujuan : Mampu mengukur pH airasam atau basa atau netral.

Alat : pH paper dan pH pen.

Memasukkan pH paper ke dalam air sekitar 0,5 menit, dikibaskan sampai


setengah kering, kemudian dicocokkan perubahan warna pada pH paper dengan
kotak standart.
Standarisasi dahulu pH pen sebelum dipakai dengan cairan pH standar.
Dimasukkan pH pen ke dalam air yang akan diukur kadar pH-nya kemudian dilihat
angka pada layar pH pen. Setelah dipakai segera standarisasi kembali.

3. OKSIGEN TERLARUT (DO/Dissolved Oxygen)


Tujuan : Mampu mengukur kadar oksigen terlarut di dalam perairan dalam
mg/L.
Pereaksi :

1. MnSO4 = 120gr MnSO4 dilarutkan dalam 250 ml aquades, kemudian diaduk


dan disaring.

2. NaOH + KI = 125 gr NaOH dan 33,75 gr KI dilarutkan dalam 250 ml aquades


dan disimpan dalam botol yang tertutup rapat.

3. Natrium thiosulfate (Na2S2O3) 0,025 N = 3,1025 gr Na2S2O3 dilarutkan dalam


500 ml aquades dan disimpan dalam botol gelas. Aquades yang dipakai
dididihkan terlebih dahulu kemudian didinginkan.

4. H2SO4 pekat atau sulfuric acid 97% tehnis atau pa.

5. Amylum = 2 gr starch (amylum) dilarutkan dalam 100 ml aquades dan


dipanaskan sampai mendidih, kemudian ditambahkan 0,5 ml formalin
sebagai pengawet.
Prosedur :
1. Volume botol DO yang akan digunakan diukur dan dicatat.
2. Memasukkan botol DO ke dalam air yang akan diukur kadar oksigennya
secara perlahan-lahan dengan posisi miring, membelakangi arus dan
diusahakan jangan sampai terjadi gelembung udara.
3. Selanjutnya botol DO yang masih dalam perairan ditutup dan diangkat
dari dalam perairan.
4. Kemudian buka tutup botol yang berisi air sampel dan ditambahkan 2 ml
MnSO4 dan 2 ml NaOH+KI lalu tutup kembali dan dibolak-balik sampai
tercampur lalu biarkan sekitar 30 menit hingga terbentuk endapan
kecoklatan.
5. Filtrat (air bening di atas endapan) dibuang dengan hati-hati, kemudian
endapan yang tersisa diberi 1-2 ml H2SO4 pekat dan dikocok perlahan
sampai endapan larut (2 ml H2SO4 untuk volume botol ±250 ml dan 1 ml
untuk volume botol ±150 ml).
6. Ditambahkan 3-4 tetes amylum, selanjutnya dititrasi dengan Na-thiosulfat
(Na2S2O3) 0,025 N sampai jernih atau tidak berwarna untuk pertama kali.
7. Volume Na-thiosulfat yang terpakai (ml titran) dicatat.

Perhitungan :

o N titran = normalitas Na-thiosulfat


o V titran = volume Na-thiosulfat
o 8 adalah nilai ½ MR oksigen
o 1000 adalah konversi dari ml ke liter
o 4 adalah 2 ml dari MnSO4 dan 2 ml dari NaOH+KI

4. KARBONDIOKSIDA (CO2)
Tujuan : Mampu mengukur kadar karbondioksida di dalam air dalam bentuk
bebas.

Pereaksi :
1. PP (Phenolph ptalien) sebagai indikator  0,05 gr bubuk PP dilarutkan
dalam 25 ml alkohol 50 %.
2. Na2CO3 0,0454 N = 2,407 gr Na 2CO3 yang telah dipanaskan (140ºC)
selama 2 jamdilarutkan dalam aquades 1000 ml kemudian disimpan dalam
botol coklat.

Prosedur :
1. Memasukkan 25 ml air sampel ke dalam erlenmeyer, kemudian
ditambahkan 3 tetes indikator PP.
2. a. Bila air berwarna merah muda berarti air tersebut tidak mengandung
CO2 bebas.
b. Bila air tetap tidak berwarna setelah ditambahi PP, cepat titrasi dengan
Na2CO3 0,0454 N sampai warna menjadi merah muda (pink) pertama
kali.
3. Volume Na2CO3 yang terpakai (ml titran) dicatat.

o N titran = normalitas Na2CO3


o V titran = volume Na2CO3
o 22 adalah nilai ½ MR karbondioksida
o 1000 adalah konversi dari ml ke liter

5. ORTHOFOSFAT
Tujuan: Mampu mengukur kandungan orthophosfat perairan.

Pereaksi :

1. Ammonium molybdate – asam sulfat : larutkan 25 gr ammonium


molybdate asam sulfat dalam 200 ml aquades. Dioven pada suhu 240ºC
dan saringlah. 280 ml H2SO4 pekat ditambahkan sedikit demi sedikit dengan
hati-hati ke dalam 420 ml aquades dan biarkan dingin. Tambahkan larutan
ammonium molybdate, ke dalam larutan H2SO4 yang telah dingin
goyangkan perlahan-lahan. Dinginkan dan encerkan dengan aquades
sampai volume 1 liter.
2. Larutan SnCl2 : menimbang 2,5 gr SnCl2.2H2O masukkan dalam 100
ml glyserol.
3. Larutan standar fosfat : larutkan 0,2195 gr KH2PO4 dan tambahkan
aquades sampai 1000 ml. Larutan ini mengandung 50 ppm fosfor. Ambil 5
ml larutan tersebut dan encerkan sampai 50 ml dengan aquades. Larutan
ini mengandung 5 ppm fosfor.

Prosedur :
1. Menuangkan 25 ml air sampel ke dalam erlenmeyer berukuran 50ml.
2. Menambahkan 1 ml ammonium molybdat ke dalam masing-masing larutan
standar yang telah dibuat dan dihomogenkan sampai larutan bercampur.
3. Ditambahkan 5 tetes larutan SnCl2 yang masih baru dibuat dan
dihomogenkan. Warna biru akan timbul (10-12 menit) sesuai dengan kadar
fosfornya.
4. Memasukkan larutan (No.3) ke dalam cuvet.
5. Bandingkan warna biru air sampel dengan larutan standar, baik secara
visual atau dengan spektrofotometer (panjang gelombang 690 µm).

6. NITRAT NITROGEN
Tujuan : Mampu mengetahui dan menghitung jumlah nitrogen dalam air.

Pereaksi :
1. Larutan asam fenol disulfonik :
a. larutkan 25 gr fenol dalam 150 ml H2SO4 di oven 4 jam dengan suhu
1000C.

b. 11,2 ml H2SO4 p.a ditambah 64 ml aquades.


c. larutan (b) dimasukkan dalam larutan (a),
d. larutan (c) di oven pada suhu 1000C selama 2 jam.
2. Larutan standar nitrat : Larutkan 0.607 gr Na2NO3 (p.a) dalam 1 liter
aquades. Uapkan 50 ml dalam cawan porselin sampai kering. Bila sudah
dingin tambahkan 2 ml larutan asam fenol disulfonik dan encerkan sampai
500 ml dengan aquades (1 ml larutan standar ini mengandung 0,01 ml nitrat-
nitrogen).
3. Amonium hidroksida: encerkan 500ml NH4OH dengan 1 L aquades
4. Siapkan larutan standar pembanding seperti berikut :

Prosedur :
1. Menyaring 12,5 ml sampel dan dituangkan ke dalam cawan porselin.
2. Diuapkan diatas hot plate sampai kering hati-hati jangan sampai pecah dan
didinginkan.
3. Ditambahkan 0,25 ml asam fenol disulfonik, diaduk dengan pengaduk
gelas dan diencerkan dengan sedikit aquades.
4. Ditambahkan (dengan meneteskan) NH4OH 1:1 sampai terbentuk warna.
Encerkan dengan aquades hingga 12,5 ml. Kemudian dimasukkan dalam
cuvet.
5. Bandingkan dengan larutan standar pembanding secara visual atau
dengan spektrofotometer (panjang gelombang 410 µm).

7. KELIMPAHAN PLANKTON
Pada umumnya estimasi kelimpahan plankton yang sering dilakukan
adalah pengukuran biomassa (berat kering, berat basa, atau volume plankton)
dan menghitung jumlah plankter per satuan volume. Masing-masing cara
tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pengukuran biomassa
bertujuan untuk mengetahui banyaknya plankton secara kuantitatif tanpa
mengidentifikasi. Ini merupakan cara yang praktis dan sederhana namun
kurang teliti karena sering terbawa materi lain di luar plankton. Pengukuran
volume plankton kurang memberikan informasi yang tepat, oleh karena rongga
antara plankton sering ikut terukur. Estimasi kelimpahan plankton dengan cara
menghitung jumlah plankter per satuan volume merupakan informasi yang lebih
teliti, karena dapat memberikan gambaran yang lebih pasti mengenai
kelimpahan plankton di suatu tempat. Kelimpahan plankton dapat digunakan
untuk mengetahui penyebaran atau distribusi plankton dalam suatu area
(Pirzan dan Pong-Masak, 2008).
Setelah mendapatkan data dari perhitungan plankton disetiap bidang
pandang dan mengidentifikasinya maka bisa dihitung kelimpahan planktonnya.
Kelimpahan plankton (sel/liter atau individu/liter) dihitung dengan persamaan
modifikasi lackey drop.
Rumus perhitungan kelimpahan plankton (Barus, 2004):

Keterangan :
T : Luas cover glass (mm2)
V : Volume konsentrat plankton dalam botol tampung
L : Luas lapang pandang dalam mikroskop (mm2)
v : Volume konsentrat plankton di bawah cover glass
P : Jumlah lapang pandang
W : Volume air sampel yang disaring
N : Kelimpahan plankton (sel/l atau ind/l)
n : jumlah plankton yang dalam bidang pandang

B. Hasil Dan Pembahasan


1. Bagaimana Cara Aplikasi Pupuk Anorganik dan Organik pada kelompok
Saudara masing-masing?
2. Bagaimana kondisi awal kualitas tanah sampel dan air sampel?
3. Bagaimana kualitas air (suhu, pH, Oksigen Terlarut, CO2 bebas, nitrat,
ortophospat dan kelimpahan plankton) setelah diberi pupuk pada kelompok
masing-masing?
4. Bagaimana pengaruh pupuk terhadap kesuburan perairan (diskusikan):
a. Pada kelompok masing-masing
b. Pada keseluruhan kelompok

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F dan J. Ruitjer. 2004. Kebutuhan Perhitungan Pupuk. Brosur World


Agroforestry Center

Amin, M, dan Pantjara, B. 2002. Penggunaan Berbagai Pupuk Organik Terhadap


Kelimpahan Plankton Pada Bak Terkontrol. Prosiding Seminar Nasional
Inovasi Teknologi Tepat Guna Berorientasi Agribisnis Untuk Pemberdayaan
Masyarakat Dalam Pembangunan Pertanian Wilayah. Balitbang Pertanian,
hlm: 263-269.

Barus, T.A. 2004. Faktor-Faktor Lingktjngan Abiotik Dan Keanekaragaman Plankton


Sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba. Manusia dan Lingkungan.
11(2): 64-72.

Byod, C.E. 1978. Effluent From Catfish Pond During Fish Harvest. J. Environ. Qual., 7 :
59-62 p.

Hanafiah, Kemas Air. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta

Hardjowigeno, Surema. 2007. Ilmu Tanah. Hadimuka Pressindo. Bogor


Hartati dan Widowati. 2005. Pupuk Kandang. http://widowati.pupuk-kandang.pdf.
Diakses tanggal 20 Maret 2016 pukul 12.45 WIB

Huet, M. 1978. Texbook of fish culture: Breeding and Cultivation of Fish. Fishing Press.
Inc. Cueson City, Philippines, 436 pp.

Pamukas,Niken Ayu. 2011. Perkembangan Fitoplankton Dengan Pemberian Pupuk


Organik Cair. Berkala Perikanan Terubuk, Februari 2011,vol 39 no.1, hlm 79-
90 ISSN 0216-6165.

Pirzan, A.M dan P.R. Pong-Masak. 2008. Hubungan Keragaman Fitoplankton dengan
Kualitas Air di Pulau Bauluang, kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Biodiversitas. 9(3): 217-221.

Purwohadiyanto, Prapti, S., dan Andayani, S., 2006. Pemupukan Dan Kesuburan
Perairan Budidaya. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya.

Ratnawati, E., A. Mustafa, Anugriati. 2010. Faktor Pengelolaan yang Mempengaruhi


Produksi Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Kolam Kabupaten Bone, Provinsi
Sulawesi Selatan. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur hal. 151-159.

Subarijanti, H. U. 2000. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Universitas Brawijaya


Malang.

Suyanto, Rachmatan. 1984. Pemupukan Tambak Departemen Pertanian. Jakarta.

FORMAT
Kata Pengantar
Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Waktu dan Tempat

Bab II. Tinpus


2.1 Macam-macam Pupuk
2.2 Aplikasi Pupuk
2.3 Kebutuhan Pupuk

Bab III. Metode


3.1 Materi
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Perhitungan Pupuk
3.4 Analisa Data

Bab IV Hasil dan Pembahasan (menjawab setiap pertanyaan tiap materi di


panduan ini)
4.1 Hasil Pengamatan tiap parameter
4.2 Pembahasan tiap parameter

Bab V. Kesimpulan Dan Saran


5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

DAPUS

(minimal terdapat 60% jurnal internasional dari jumlah total dapus)


Dalam latar belakang dan tinpus setiap paragraf harus ada minimal 2
dapus