Anda di halaman 1dari 45

BAB II

ANALISA KESTABILAN LERENG

A. DASAR DAN TUJUAN KESTABILAN TAMBANG


Dasar-dasar Kemantapan Lereng
Didalam operasi penambangan masalah Kemantapan Lereng atau Kestabilan Lereng
akan diketemukan pada penggalian tambang terbuka (open pit maupun open cut), di
tempat-tempat penimbunan “overburden” dan bahan buangan (tailing disposal), di
jalan-jalan tambang, pemotongan dan “cover” terowongan, dan di penimbunan bijih
(stockyard), bendungan bendungan untuk cadangan air kerja. Apabila lereng-lereng
yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pit slope) maupun yang
merupakan sarana penunjang operasi penambangan (bendungan, jalan, dan lain
lain) itu tidak stabil (tidak mantap) maka kegiatan produksi akan terganggu. Oleh
karena itu suatu analisis kemantapan lereng merupakan suatu bagian yang penting
untuk mencegah terjadinya gangguan gangguan terhadap kelancaran produksi
maupun terjadinya bencana yang fatal.

Tujuan analisis kemantapan lereng adalah sebagai berikut :


 Mengerti perkembangan, bentuk lereng alamiah dan proses yang bertanggung
jawab terhadap berbagai ciri alamiah.
 Menilai kemantapan lereng jangka pendek (sering selama konstruksi) dan
jangka panjang.
 Menilai kemungkinan kelongsoran yang melibatkan lereng alamiah dan lereng
rekayasa.
 Menganalisis kelongsoran dan mengerti mekanisme kelongsoran dan
pengaruh dari faktor lingkungan.
 Memungkinkan rancangan ulang dari lereng yang telah runtuh dan
merencanakan serta merancang pengukuran pengobatan dan pencegahan, jika
diperlukan.
 Mempelajari akibat pembebanan seismic terhadap lereng dan timbunan.

Tujuan Melakukan Analisis Kestabilan Lereng


Di alam, baik lereng alami maupun lereng buatan dapat terbentuk pada tanah (relatif
lemah), pada batu (sangat kuat), pada batuan berstruktur (massa batuan), maupun
merupakan gabungan dari beberapa kondisi tersebut. Untuk itu, metode analisis
kestabilan yang dapat diterapkan pada setiap kondisi (material) lereng yang berbeda,
akan berbeda pula. Artinya suatu metode yang cocok untuk tanah yang sifatnya
homogen dan kontinyu, serta relatif lemah tidak akan cocok untuk lereng pada massa
batuan atau pada batu yang keras (kuat) dan sebaliknya. Dalam usaha untuk
mengetahui atau menilai apakah suatu lereng dalam keadaan stabil atau tidak, perlu
dilakukan analisis terhadap kestabilannya.

B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMANTAPAN LERENG


Berdasarkan penelitian para ahli geoteknik [Barton, 1982; Singh, 1986; Hawley,
1986], faktor-faktor yang mempengaruhi kemantapan lereng, antara lain :
a. Geometri lereng
Geometri lereng adalah tinggi, kemiringan dan berm dari suatu lereng. Makin
kecil kemiringan dan ketinggian lereng maka lereng tersebut akan semakin
mantap, sebaliknya makin besar kemiringan dan ketinggian lereng maka
lereng semakin tidak mantap.
b. Karakteristik fisik dan mekanik
Karakteristik fisik dan mekanik batuan dalam hubungannya dengan
kelongsoran adalah mempengaruhi daya tahan terhadap longsoran.
Karakteristik fisik berupa bobot isi, porositas maupun kandungan air,
sedangkan karakteristik mekanik berupa sudut geser dalam, kohesi dan
kekuatan/strength material lereng.
c. Struktur Geologi
Struktur geologi ini berupa kekar, lipatan, patahan dan bidang lemah lainnya.
Kelongsoran lebih sering terjadi pada pada daerah yang memiliki bidang
lemah dengan kemiringan yang > 35. Struktur tersebut sangat
mempengaruhi kekuatan batuan karena merupakan bidang-bidang lemah
pada batuan tersebut atau paling tidak merupakan tempat-tempat rembesan
air dan hal ini akan mempercepat pelapukan dan pada umumnya bidang
lemah tersebut menjadi bidang longsor.
d. Hidrologi dan Hydrogeologi
Air hujan akan menyebabkan terjadinya erosi dan penambahan beban pada
lereng. Erosi akan menyebabkan perubahan geometri lereng dan
menyebabkan pendangkalan pada saluran-saluran air yang menyebabkan
terganggunya penirisan, sehingga dengan adanya faktor hidrologi akan
menyebabkan tingkat pelapukan yang tinggi. Adanya faktor hydrogeologi
mempunyai dampak yang negatif terhadap kemantapan lereng. Hidrologi
akan mempengaruhi nilai kekuatan material dan mempengaruhi penurunan
tekanan normal efektif dan daya tahan terhadap kuat geser (shear strength).
e. Gaya-gaya luar
Pengaruh gaya-gaya luar ini adalah percepatan seismik yang diakibatkan
oleh adanya gempa bumi, kegiatan peledakan dan trafik alat-alat berat.
f. Tegangan Regional
Tegangan regional adalah besarnya tegangan di sekitar lokasi lereng yang
sangat tergantung pada kondisi geologi di sekitar lereng (mengalami
fenomena tektonik yang dahsyat).
g. Waktu
Fungsi waktu dapat mempengaruhi kemantapan lereng, sedangkan waktu
dipengaruhi oleh musim atau iklim dan erosi. Bila iklim dan erosi kuat, maka
unsur waktu sangat berpengaruh.
C. JENIS LONGSORAN
Secara umum longsoran lereng mempunyai bentuk dan kinematika yang
berbeda tergantung dari karakteristik massa material pembentuknya. Suatu
material diklasifikasikan sebagai tanah atau batu biasanya didasarkan atas sifat
kuat tekannya, yaitu untuk yang lebih kecil daripada 1 MPa disebut tanah dan
lebih besar daripadanya disebut batuan (Gambar 1).
Kuat tekan suatu batuan ditentukan dari suatu contoh dengan ukuran
yang relatif kecil dan disebut utuh atau intact, sedangkan kumpulan dari material
utuh disebut massa.
Longsoran lereng dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :
a. Longsoran Bidang
Longsoran bidang (Gambar 2) terjadi bila seluruh kondisi dibawah ini
terpenuhi :
1) Jurus bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar terhadap jurus bidang
permukaan lereng dengan perbedaan maksimal 20 o.
2) Kemiringan bidang luncur harus lebih kecil dari kemiringan bidang
permukaan lereng, f > p (Gambar 3).
3) Kemiringan bidang luncur lebih besar dari sudut geser dalam atau p > 
4) Terdapat bidang bebas yang merupakan batas lateral dari massa batuan
yang longsor.
1 10 100
2 3 4 6 7 8 20 30 40 50 70 200 300 400 700
0.5 0.7

COATES
VERY WEAK WEAK STRONG VERY STRONG
1964

MEDIUM MIG. VERY HIGH DEERE &


VERY LOW STRENGTH LOW STRENGTH
STRENGTH STRENGTH STRENGTH MILLER 1966

MODERATELY MODERATELY VERY EXTREMELY GEOLOGICAL


VERY WEAK WEAK STRONG
STRONG STRONG STRONG STRONG SOCIETY 1970

EXTREMELY LOW VERY LOW LOW MEDIUM HIGH VERY HIGH EXTREMELY HIGH BROCH &
STRENGTH STRENGTH STRENGTH STRENGTH STRENGTH STRENGTH STRENG FRANKLIN 1972

VERY SOFT HARD JENNIN


SOIL SOFT ROCK VERY HARD ROCK EXTREMELY HARD ROCK
ROCK ROCK GS 1973

MEDIUM HIGH VERY HIGH BIENAW


SOIL VERY LOW STRENGTH LOW STRENGTH
STRENGTH STRENGTH STRENGTH SKI 1973

ISRM
VERY LOW LOW STRENGTH MODERATE MEDIUM HIGH VERY HIGH
1979

0.5 0.7
2 3 4 6 7 8 20 30 40 50 70 200 300 400 700
1 10 100
UNIAXIAL COMPRESSIVE STRENGTH, MPa

Gambar 1. Klasifikasi Kuat Tekan Batuan Utuh


Gambar 2
Longsoran Bidang

bidang
bebas

bidang
gelincir


p
f

Gambar 3
Penampang lereng dan bidang bebas pada longsoran bidang
b. Longsoran Baji
Longsoran ini (Gambar 4) terjadi bila dua buah jurus bidang diskontinu
berpotongan dan besar sudut garis potong kedua bidang tersebut (fi) lebih
besar dari sudut geser dalam () dan lebih kecil dari sudut kemiringan lereng
(i). Perhitungan faktor keamanan lebih rumit dibandingkan pada longsoran
bidang karena melibatkan dua bidang gelincir dimana gaya-gaya yang
bekerja turut diperhitungkan.

c. Longsoran Busur
Bila longsoran bidang dan longsoran baji terjadi pada batuan keras, maka
longsoran busur lebih sering terjadi pada material tanah atau batuan lunak
dengan struktur kekar yang rapat. Bidang longsornya berbentuk busur
(Gambar 5).
d. Longsoran Guling
Longsoran ini terjadi pada lereng yang terjal dan pada batuan ‘yang keras
dimana struktur bidang lemahnya berbentuk kolom (Gambar 6).
Gambar 4 Gambar 5
Longsoran Baji Longsoran Busur

Gambar 6
Longsoran Guling
D. PERHITUNGAN KEMANTAPAN LERENG
Pada suatu kasus kelongsoran dapat diamati bahwa tanah yang longsor
itu bergerak pada suatu bidang tertentu. Bidang tersebut disebut bidang gelincir
(slip surface) atau bidang geser (shear surface). Bentuk bidang gelincir
bermacam-macam sebagaimana telah diuraikan pada jenis-jenis longsoran di
atas.
Bilamana terjadi tanah longsor, berarti kekuatan geser tanah telah
dilampaui; yaitu perlawanan geser pada bidang gelincir tidak cukup besar untuk
menahan gaya-gaya yang bekerja pada bidang tersebut. Karena itu untuk
menentukan kemantapan suatu lereng harus diketahui kekuatan geser tanah
pada lereng tersebut.

a. Kekuatan Geser
Kekuatan geser tanah dapat dinyatakan secara umum dengan rumus :
s = c’ + ( - u) tan ’ ………………………………………… (1)
dimana :
s = kekuatan geser tanah
 = tegangan normal pada bidang geser
c’ = kemiringan kohesi pada tegangan efektif
’ = sudut geser pada tegangan efektif
Untuk mengetahui kekuatan geser di suatu tempat, perlu dilakukan
pengambilan contoh tanah asli dari tempat tersebut dan mengukur c’ dan ’ di
laboratorium. Nilai tegangan air pori (u) dapat ditentukan, misalnya dengan
memasang pipa dan mengukur tinggi air di dalamnya (Gambar 7),
selanjutnya perlu ditentukan tegangan normal ().
Pada suatu tempat tertentu dalam lereng, nilai c’ dan ’ dapat
dianggap konstan, demikian juga dengan . Tetapi tegangan air pori
biasanya tidak merupakan angka yang konstan. Pada musim kering
mungkin tidak ada tegangan air pori, sedangkan pada musim hujan
tegangan air pori bisa menjadi tinggi.
Dengan demikian cara perhitungan kemantapan lereng harus dapat
memperhitungkan pengaruh tegangan air pori. Satu-satunya cara untuk
maksud ini ialah dengan memakai rumus kekuatan geser sebagaimana
pada persamaan (1). Perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan
rumus tersebut disebut “effective stress analysis”, yaitu berdasarkan pada
tegangan efektif.
Pipa untuk
mengukur
tegangan air pori
Tinggi Air

h
s = c' + (  - u) tan '
u = w h


Bidang Gelincir

Gambar 7
Sketsa Penentuan Kekuatan Geser pada Bidang Gelincir

Sebelum cara ini dipakai, perhitungan kemantapan lereng dilakukan


dengan memakai rumus kekuatan geser s = c +  tan . Di sini  adalah
tegangan total dan tidak terdapat nilai tegangan air pori. Cara ini disebut
“total stress analysis”, yaitu perhitungan berdasarkan pada tegangan total.
Sekarang telah disetujui secara umum bahwa perhitungan dengan
memakai tegangan efektif lebih dapat dipercaya daripada perhitungan
dengan memakai tegangan total.

b. Metode Keseimbangan Batas


Cara yang dipakai untuk menghitung kemantapan lereng ialah cara
keseimbangan batas (limit equilibrium method), yaitu dengan
membandingkan kekuatan geser yang diperlukan untuk mempertahankan
kemantapan dengan kekuatan geser yang ada. Dari perbandingan ini akan
didapatkan Faktor Keamanan.
Perhitungan dimulai dengan menganggap akan terjadi kelongsoran
pada bidang gelincir tertentu, selanjutnya dihitung gaya atau momen yang
menyebabkan kelongsoran pada bidang tersebut (akibat berat tanah). Ini
disebut gaya penggerak (sliding force) atau momen penggerak (turning
moment). Kemudian dilakukan perhitungan gaya atau momen yang
melawan kelongsoran (akibat kekuatan geser tanah), ini disebut momen
melawan (resisting moment). Dengan mempersamakan kedua momen
tersebut akan dapat ditentukan faktor keamanan lereng pada bidang gelincir
yang bersangkutan. Cara ini diulangi pada bidang gelincir lain sampai
tercapai nilai faktor keamanan yang terkecil.
Untuk melakukan perhitungan biasanya lereng perlu dibagi dalam
sejumlah segmen, supaya ketidakseragaman tanah dapat diperhitungkan,
juga supaya gaya normal pada bidang geser dapat ditentukan (Gambar 8).

b 

W R

s
l

Gaya Pada Segmen S


c'l
F P'tan
'
F

En

Xn
P'

W Xn + 1 W
P

En + 1
ul

Xn - Xn+1
S
P'
P
En - En+1
ul

Gambar 8
Sketsa Perhitungan Kemantapan Lereng
Momen penggerak segmen = W . x
Dimana W = berat segmen

Momen penggerak seluruhnya =  W x


=  W R Sin 
= R  W Sin 
Faktor keamanan (F) adalah perbandingan antara kekuatan geser
yang ada dengan kekuatan geser yang diperlukan untuk menahan
kemantapan.
Jadi bila kekuatan geser = s, maka kekuatan geser untuk
mempertahankan kemantapan adalah s/F.

Bilamana S = gaya pada dasar segmen, maka S = s.l / F


sl
Momen melawan segmen = R
F
sl R
Momen melawan seluruhnya =  F R  F  sl

Dengan mempersamakan momen melawan dengan momen penggerak,


maka
R
R  W Sin α   sl , sehingga
F

F
 sl …………………………………………………. ( 2 )
 W Sin α

Untuk menyelesaikan perhitungan faktor keamanan, nilai s pada


persamaan (2) harus diganti dengan rumus kekuatan geser sebagaimana
telah diuraikan pada persamaan (1), sehingga menjadi :

F
  c' l  (l - ul) tan '
 W Sin α …………………………… (3)
1
   c' l  (P - ul) tan '
 W Sin α

dimana P adalah gaya normal yang bekerja pada dasar segmen yang
bersangkutan.
Nilai W, , dan l dapat diperoleh secara langsung untuk setiap
segmen, dan nilai c’ dan ’ ditentukan di laboratorium, nilai tegangan air pori
(u) juga dapat diukur di lapangan. Tinggal nilai P yang belum diketahui.
Gaya normal (P) tidak dapat ditentukan dengan cara menghitung
keseimbangan statis (karena terdapat keadaan statis tidak tertentu), sehingga
harus dipakai suatu cara pendekatan untuk menentukan besarnya P.
Perbedaan cara-cara perhitungan kemantapan lereng yang dikenal
sebenarnya didasarkan pada perbedaan pendekatan yang digunakan dalam
perhitungan nilai gaya normal (P).

c. Metode Ordinary dan Metode Bishop


Ada dua cara yang paling terkenal dalam perhitungan kemantapan
lereng yaitu metode ordinary (disebut juga metode Fellenius) dan metode
Bishop. Perbedaan kedua cara ini dapat dipahami dengan mempelajari gaya-
gaya yang bekerja pada setiap segmen. Gaya E n, En+1, Xn dan Xn +1 (Gambar
8) adalah gaya horizontal dan gaya vertikal yang bekerja pada batas vertikal
segmen. Besarnya gaya ini tidak diketahui.
Pada metode ordinary, besarnya P ditentukan dengan menguraikan
gaya-gaya lain dalam arah garis bekerja P, dengan kata lain dianggap bahwa
resultan gaya pada batas vertikal segmen bekerja dalam arah sejajar dengan
dasar segmen, perhitungannya adalah sebagai berikut :
P = (W + Xn – Xn+1) Cos  - (En – En+1) Sin 
= W Cos  + (Xn – Xn+1) Cos  - (En – En+1) Sin 
Nilai (Xn – Xn+1) Cos  - (En – En+1) Sin  dianggap sama dengan nol,
sehingga
P = W cos 
Dengan demikian, persamaan (3) menjadi :
1
F   c' l  (W Cos  - ul) tan ' …………………… (4)
 W Sin α

Pada metode Bishop besarnya P diperoleh dengan menguraikan


gaya-gaya lain daripada arah vertikal, dengan kata lain dianggap bahwa
resultan gaya-gaya pada batas vertikal segmen bekerja pada arah
horizontal, perhitungannya adalah sebagai berikut :

 P  ul tan' sin  (P  ul)Cos  W  (X n  X n1 )  c' l Sin  ul Cos


F F
Sehingga :
 c' 
W  (X n  X n 1 )  l  Sin  u Cos 
 P  ul  F 
tan'
Cos  sin
F

Pada metode Bishop ini (Xn – Xn+1) dianggap sama dengan nol, sehingga:
 c' Sin 
W l   u Cos 
 P  ul   F 
tan'
Cos  sin
F
Dengan mensubstitusikan persamaan di atas ke persamaan (3), didapatkan:
1 Sec
F   c' l  ( W - ul) tan '
 W Sin α
1
tan ' tan  ………….. (5)
F

Nilai F pada persamaan (5) terdapat di bagian kiri maupun di bagian


kanan persamaan, sehingga untuk menentukan nilai F harus digunakan
cara perulangan (iterative), dengan menggunakan suatu nilai F tertentu
sebagai langkah awal perhitungan; nilai F yang dihasilkan dari perhitungan,
selanjutnya digunakan lagi untuk perhitungan berikutnya.
Umumnya diambil nilai F = 1,00 sebagai pedoman awal dalam
perhitungan, dan proses pengulangan (iteration) dilakukan terus hingga
selisih antara nilai F yang dicobakan dan nilai F yang dihasilkan tidak lebih
dari 0,01.
BAB III
PEMBENTUKAN BATUBARA

Batubara merupakan sumber energi yang selama ini banyak dimanfaatkan dalam
berbagai bidang kehidupan. Batubara merupakan salah satu energi alternatif penganti bahan
bakar minyak (BBM) yang akan dikembangan dimasa depan untuk mengantikan dan
mengurangi pengunaan bahan bakar minyak di Indonesia. Sampai saat ini Indonesia masih
mengantungkan sumber energi utama pada minyak bumi dan belum sepenuhnya
memaksimalkan sumberdaya alam batubaranya yang cukup melimpah. Sumberdaya alam
batubara Indonesia hampir terdapat di seluruh wilayah indonesia namun yang endapan
batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan tersier, yang terletak di bagian paparan
sunda termasuk Pulau Sumatra dan Kalimantan.

A. PENGERTIAN BATUBARA
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-
sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari
karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat
fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisa unsur
memberikan rumus formula empiris seperti : C 137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS
untuk antrasit. (Abdullah, 2010)
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan
Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang berlangsung antara
360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh
suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’.
Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal (batu bara
coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan
batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat
sampai kecoklat-coklatan.
Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu
bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan
mengubah batu bara muda menjadi batu bara ‘sub-bitumen’. Perubahan kimiawi dan fisika
terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan
membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik
yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
B. GENESA BATUBARA

Proses Pembentukan Batubara


Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu
hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang
kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatubaraan
(coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia, maupun geologi. Oleh karena itu, batubara
termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Secara ringkas ada 2 tahap proses pembatubaraan
yang terjadi, yakni :
1. Tahap Diagenetik atau Biokimia (Penggambutan), dimulai pada saat dimana tumbuhan
yang telah mati mengalami pembusukan (terdeposisi) dan menjadi humus. Humus ini
kemudian diubah menjadi gambut oleh bakteri anaerobic dan fungi hingga lignit (gambut)
terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat
oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan
(dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus
dan akhirnya antrasit.

Prinsip Sedimentasi
Pada dasarnya batubara termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen
terbentuk dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu cekungan dalam kondisi
tertentu, dan mengalami kompaksi serta transformasi balk secara fisik, kimia maupun
biokimia. Pada saat pengendapannya material ini selalu membentuk perlapisan yang
horizontal.

Skala Waktu Geologi


Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar
pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan se lama jutaan tahun. Kedua
konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara vang mencakup proses :
1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay)
akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa
oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa,
protoplasma, dan pati.
2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan
mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan
berair, misalnya rawa-rawa.
3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami
perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H2O) clan sebagian
akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), clan
metana (CH4).
4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan
kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami perlipatan dan patahan. _Selain itu gaya
tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah
batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka
zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.
5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan
kemudian di erosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada
permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini.

Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batubara


Faktor-Faktor dalam pembentukan batubara sangat berpengaruh terhadap bentuk
maupun kualitas dari lapisan batubara. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan
batubara adalah :
1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu,
yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan
topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari
batubara yang terbentuk.
2. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk
batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan
mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
3. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama
material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan
dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah
fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang tinggi.
4. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara
dari :
a. Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang
terbentuk.
b. Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau
patahan.
c. Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan
batubara yang dihasilkan.
5. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material
dasar menjadi material sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari
beberapa aspek sebagai berikut:
a. Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan.
Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi
geotektonik.
b. Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan
pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat
pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana
batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses
geotektonik.
c. Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan
batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses
pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat.
Interpretasi Lingkungan Pengendapan dari Litotipe dan Viikrolitotipe
Tosch (1960) dalam Bustin dkk. (1983), Teichmuller and Teichmuller (1968) dalam
Murchissen (1968) berpendapat bahwa litotipe dan mikrolitotipe batubara berhubungan erat
dengan lingkungan pengendapannya.

a. Lingkungan pengendapan dari masing-masing litotipe adalah sebagai berikut :


1. Vitrain dan Clarain, di endapkan di daerah pasang surut dimana terjadi perubahan
muka air laut.
2. Fusain, diendapkan pada lingkungan dengan kecepatan pengendapan rendah, yaitu
lingkungan air dangkal yang dekat dengan daratan.
3. Durain, diendapkan dalam lingkungan yang lebih dalam lagi, diperkirakan
lingkungan laut dangkal.
b. Sedangkan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan mikrolitotipe adalah sebagai
berikut :
1. Vitrit, berasal dari kayu-kayuan seperti batang, dahan, akar, yang menunjukkan
lingkungan rawa berhutan.
2. Clarit, berasal dari tumbuhan yang mengandung serat kayu dan diperkirakan
terbentuk pada lingkungan rawa.
3. Durit, kaya akan jejak jejak akar dan spora, hal ini diperkirakan terbentuk pada
lingkungan laut dangkal.
4. Trimaserit, yang kaya akan vitrinit terbentuk di lingkungan rawa, sedangkan yang
kaya akan liptinit terbentuk di lingkungan laut dangkal clan yang kaya akan inertinit
terbentuk dekat daratan.
Lingkungan Pengendapan Batubara
Pembentukan batubara terjadi pada kondisi reduksi di daerah rawa-rawa lebih dari 90%
batubara di dunia terbentuk pada lingkungan paralik. Daerah seperti ini dapat dijumpai di
dataran pantai, laguna, delta, dan fluviatil.
Di dataran pantai, pengendapan batubara terjadi pada rawa-rawa di lelakang pematang
pasir pantai yang berasosiasi dengan sistem laguna ke arah darat. Di daerah ini tidak
berhubungan dengan laut terbuka sehingga efek oksidasi au laut tidak ada sehingga menunjang
pada pembentukan batubara di daerah rawa-rawa pantai.
Pada lingkungan delta, batubara terbentuk di backswamp dan delta plain. Sedangkan di
delta front dan prodelta tidak terbentuk batubara disebabkan oleh adanya pengaruh air laut
yang besar clan berada di bawah permulcaan air laut.
Pada lingkungan fluviatil terjadi pada rawa-rawa dataran banjir dan belakang tanggul
alam atau natural leave dari sistem sungai yang are-ander. Umumnya batubara di lingkungan
ini berbentuk lensa-lensa karena membaii ke segala arah mengikuti bentuk cekungan
limpahnya.
1. Endapan Batubara Paralik
Lingkungan paralik terbagi ke dalam 3 sub lingkungan, yakni endapan lmuhara belakang
pematang (back barrier), endapan batubara delta, endapan batubara antar delta dan dataran
pantai (Bustin, Cameron, Grieve, dan Kalkreuth). Ketiganya mempunyai bentuk lapisan
tersendiri, akan tetapi pada , umummnya tipis-tipis, tidak menerus secara lateral,
mengandung kadar sulfur, abu dar. nitrogen yang tinggi.
2. Endapan Batubara Belakang Pematang (back barrier)
Batubara belakang pematang terakumulasi ke arah darat dari pulau-pulau pcmatang
(barrier island) yang telah ada sebelumnya dan terbentuk sebagai ai.:hat dari pengisian
laguna. Kemudian terjadi proses pendangkalan cekungan antar pulau-pulau bar sehingga
material yang diendapkan pada umumnya tergolong ke dalam klastika halus seperti batu
lempung sisipan batupasir dan batugamping. Selanjutnya terbentuk rawa-rawa air asin dan
pada keadaan ini cn.iapan sedimen dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga
moluska dapat berkembang dengan baik sebab terjadi pelemparan oleh ombak dari laut
terbuka le laguna yang membawa materi organik sebagai makanan yang baik bagi
penghuni laguna. Sedangkan endapan sedimen yang berkembang pada umumnya terdiri
dari perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan batubara dan batugamping.
Struktur sedimen yang berkembang ialah lapisan bersusun, silang siur dan laminasi halus.
Endapan batubara terbentuk akibat dari meluasnya permukaan rawa dari pulau-pulau
gambut (marsh) yang ditumbuhi oleh tumbuhan air tawar.
3. Endapan Batubara Delta
Berdasarkan bentuk dataran deltanya, batubara daerah ini terbentuk pada beberapa sub
lingkungan yakni delta yang dipengaruhi sungai, gelombang pasang surut, dataran delta
bawah dan atas, dan dataran aluvium. Kecepatan pengendapan sangat berpengaruh pada
penyebaran dan ketebalan endapan batubara. Batubara daerah ini tidak menerus secara
lateral akibat dari perubahan fasies yang relatif pendek dan cepat yang disebabkan oleh
kemiringan yang tajam sehingga ketebalan dan kualitasnya bervariasi. Pada umumnya
batubara tersebut berasal dari alang-alang dan tumbuhan paku.
4. Endapan Batubara Antar Delta dan Dataran Pantai
Batubara daerah ini terbentuk pada daerah rawa yang berkembang di :jerah pantai yang
tenang dengan water table tinggi dan pengaruh endapan liaaik sangat kecil. Daerah rawa
pantai biasanya banyak ditumbuhi oleh :umbuhan air tawar dan air payau. Batubara ini
pada umumnya tipis-tipis dan secara lateral tidak lebih dari 1 km. Batubara lingkungan ini
kaya akan abu, sulfur, nitrogen, dan mengandung fosil laut. Di daerah tropis biasanya
terbentuk dari bakau dan kaya sulfur. Kandungan sulfur tinggi akibat oleh naiknya ion
sulfat dari air laut dan oleh salinitas bakteri anaerobik.

Tempat Pembentukan Batubara


Terdapat dua teori yang menjelaskan tentang tempat dalam proses pembentukan batu
bara, yaitu :
1. Teori insitu
Proses pembentukan batu bara terjadi di tempat asal tumbuhan tersebut berada.
Tumbuhan yang telah mati akan langsung tertimbun lapisan sedimen dan kemudian
mengalami proses pembatubaraan tanpa mengalami proses perpindahan tempat. Batubara
yang dihasilkan dari proses ini memiliki kualitas yang baik. Penyebaran batubara jenis ini
sifatnya merata dan luas, bisa dijumpai di wilayah Muara Enim, Sumatera Selatan
2. Teori drift
Berdasarkan teori ini, batubara terbentuk bukan di tempat asal tumbuhan itu berada.
Tumbuhan yang telah mati akan terangkut air hingga terkumpul di suatu tempat dan
mengalami proses sedimentasi dan pembatubaraan.
Kualitas batubara yang dihasilkan dari proses ini tergolong kurang baik karena
tercampur material pengotor pada saat proses pengangkutan. Penyebaran batubara ini
tidak begitu luas, namun dapat dijumpai di beberapa tempat seperti di lapangan batubara
delta Mahakam Purba, Kalimantan Timur.

Komposisi Kimia Batubara


Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam dengan
komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk
batubara, yaitu :
1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat dibakar/dioksidasi oleh
oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari :
 Karbon padat (fixed carbon)
 Senyawa hidrokarbon
 Senyawa sulfur
 Senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil.
2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi
oleh oksigen. Material tersebut umumnya terediri dari senyawa anorganik (SiO 2, A12O3,
Fe2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, MgO, Na2 O, K2O, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah
yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non combustible
material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya. Pada proses
pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan faktor ti:ika dan kimia alam, selulosa
yang berasal dari tanaman akan mengalami pcruhahan menjadi lignit, subbituminus,
bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini dapat digambarkan dengan persamaan
reaksi sebagai berikut :

5(C6H10O5) → C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO


Selulosa lignit + gas metan

6(C6H10O5) → C22H20O3 + 5CH4 + 1OH2O + 8CO2 + CO


Cellulose bituminous + gas metan

Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan bantuan
pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan bertambah sehingga
grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini hidrogen yang terikat pada air yang
terbentuk akan menjadi semakin sedikit.

Kelas dan Jenis Batubara


Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan
waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit
dan gambut.
1. Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,
mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
2. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.
Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.
3. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi
sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
4. Lignit atau batubara coklat (brown coal) adalah batubara yang sangat lunak yang
mengandung air 35-75% dari beratnya.
5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
Struktur Batubara

Antrasit Bituminous

Sub-Bituminous Lignit

Gambar .1 Stuktur Batubara

Materi Pembentuk Batubara


Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan
pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:
1. Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit
endapan batubara dari perioda ini.
2. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit
endapan batubara dari perioda ini.
3. Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama pembentuk batubara
berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji,
berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
4. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah.
Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar
getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah
penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah
yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding
gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

C. FASE BIOKIMIA DAN FASE GEOKIMIA


Gambar
GambarFASE
FASEBIOKIMIA
BIOKIMIADAN
DANMaterial
FASE
FASEGEOKIMIA.2
GEOKIMIA.
Asal Skema
SkemaPembentukan
Pembentukan
Batubara
Allochthon Allochthon
Autochton

Udara Air
Rawa Gambut
Dibedakan berdasarkan lingkungan
Air Tanah pengendapan (Facies) Sedimen

Penggambutan
Perusakan oleh Mikroba dan
Pembentkan Humin, Penurunan
Keseimbangan Bioteknik

Batuan Sedimen Organik Batubara


C% Lignite
H2O %
Rmax Sub-Bituminous VM %
CV Bituminous H%
Antrasite O%

Berdarakan gambar di atas dapat kita lihat bahwa, material asal pembentuk rawa
gambut ada dua yaitu, Autochton (Material yang tidak mengalami transportasi) dan Allochton
(material yang mengalami transportasi).
Material rawa gambut tersebut mengalami proses peatification atau proses
penggambutan. Dalam proses tersebut mikroba memiliki peranan yang sangat penting, seiring
dengan proses penggambutan, proses pembentukan humin dan penurunan keseimbangan
biotektonik pun dapat berlangsung.
Mulai dari proses penggambutan sampai pada tahap Lignite disebut sebagai tahapan
diagenesa (Fase Biokimia), sedangkan pada Lignite sampai pada Anthrachite disebut sebagai
atahapan Metamorfosa (Fase Geokimia).

Fase Biokimia (Diagenesa)


Tingkatan biokimia (atau biogenetik) daripada metamorfisme organik adalah aksi
orgasnisme hidup, khususnya dominan bakteri. Bakteri yang berperan yaitu bakteri aerob dan
bakteri anaerob serta jamur, Bakteri aerob menguraikan unsur karbon (C), nitrogen (N) dan
karbon dioksida (CO2) pada material tumbuhan, sedangkan bakteri anaerob menguraikan
unsure hidrokarbon (CH), asam (acid) serta alkohol (C2H5OH) pada material tumbuhan, proses
ini berlangsung di bawah permukaan.
Dalam pembentukan batubara, material tanaman mengalami proses penggambutan dan
proses pembentukan humin terhadap humic matter. Komposisi microbiologi tidak dapat terjadi
di atas temperatur tertentu (> ± 800C). Proses ini berlangsung pada kedalaman satu sampai
sepuluh meter dibawah permukaan.

Fase Geokimia (Metamorfism)


Fase geokimia (fase ini tidak ada lagi aktivitas organism seperti bakteri, tetapi
didominasi oleh pengaruh peningkatan temperatur dan tekanan, disebabkan oleh peningkatan
kedalaman penimbunan unsur organik di bawah tutupan sedimen (sedimentary overburden).
Batas dari fase tersebut yaitu pada kedalaman lebih dari sepuluh meter, tetapi bisa dikatakan
reaksi berakhir pada tingkat gambut dan aksi geokimia menjadi agen utama pada tingkat
brown-coal dan hard-coal.
Pada tahapan geokimia, terjadi peningkatan rank pada batubara mulai dari lignite sampai pada
tahap anthracite, seiring dengan kenaikan rank, maka terjadi pula kenaikan unsur karbon, nilai
reflectan (Rmax) dan CV (Caloric Value) atau nilai kalori, serta terjadi penurunan kandungan
air (H2O), Vollatil Matter (VM), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Nilai Kalori batubara
bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat batubara, semakin tinggi nilai
kalorinya. Pada batubara yang sama Nilai kalori dapat dipengaruhi oleh moisture dan juga
Abu. Semakin tinggi moisture atau abu, semakin kecil nilai kalorinya. Kandungan karbon
secara sesuai pada rank batubara yaitu: Gambut (55% C), Lignite (60% C), Sub-bituminous
(70%), Bituminous (80% C) dan Anthracite (95% C).
BAB III
JENIS DAN KUALITAS BATU BARA

Batu bara atau batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya
adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik,
utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan.
Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara juga
adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang
dapat ditemui dalam berbagai bentuk. Analisis unsur memberikan rumus formula
empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminous dan C240H90O4NS untuk antrasit.

A. ANALISA KUALITAS BATUBARA


Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi
potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral
matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank). Umumnya, untuk
menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang
diantaranya berupa analisis proksimat (Proximate Analysis) dan analisis ultimat
(Ultimate Analysis).
 Analisis Proksimat, dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat
terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash).
 Analisis Ultimat, dilakukan untuk menentukan unsur kimia pada batubara
seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga
unsur jarang.

Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut


menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di
daerah penelitian. Untuk menentukan jenis batubara, digunakan klasifikasi American
Society for Testing and Material (ASTM, 1981, op cit Wood et al., 1983) (Tabel).
Klasifikasi ini dibuat berdasarkan jumlah karbon padat dan nilai karbon dalam
basis dry mineral matter free (dmmf). Untuk mengubah basis air dried (adb)
menjadi dry mineral matter free (dmmf) maka digunakan Parr Formulas (ASTM,
1981, op cit Wood et al., 1983), dimana :
FC = % karbon padat (adb)
VM = % zat terbang (adb)
M = % air total (adb)
A = % abu (adb)
S = % sulfur (adb)

Btu = british termal unit = 1,8185*CV adb


Istilah-istilah “Basis” :
As Received disingkat : ar
Air Dried disingkat : ad atau adb
Dry disingkat : db
Dry Ash Free disingkat : daf
Dry Mineral Matter Free disingkat : dmmf
Harus dicantumkan setiap menuliskan Nilai Parameter Kualitas.

B. JENIS BATUBARA
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan
waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas yaitu, antrasit, bituminous, sub-
bituminous, lignit dan gambut.

Jenis-jenis Batubara

 Antrasit (C94OH3O3), adalah kelas batubara tertinggi dengan warna hitam


berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C)
dengan kadar air kurang dari 8%. Antarsit memiliki kandungan kalori yang
paling tinggi yaitu diatas 7777 kcal/kg.
 Bituminus (C80OH5O15), merupakan kelas batubara yang memiliki kandungan
kalori antara 5833 kcal/kg – 7777 kcal/kg, dengan unsur karbon (C) 68% –
86% dan kadar air 8% – 10% dari beratnya. Bituminous paling banyak
ditambang di Australia.
 Sub-bituminus (C75OH5O20), merupakan kelas batubara yang mengandung
sedikit karbon dan banyak air serta dengan kandungan kalori yang lebih
rendah rendah yaitu antara 4611 kcal/kg – 5833 kcal/kg, oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminous.
 Lignit atau batubara coklat (C70OH5O25 ), adalah batubara yang sangat lunak
dengan nilai kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan sub-bituminus
sekitar 3500 kcal/kg – 4611 kcal/kg dan mengandung air 35% - 75% dari
beratnya.
 Gambut (C60H6O34), adalah kelas batubara yang paling rendah nilai kalorinya
dibawah 3500 kcal/kg dengan kandungan kadar air diatas 75% dari beratnya.

Batubara merupakan endapan organik yang mutunya sangat ditentukan oleh


beberapa faktor antara lain tempat terdapatnya cekungan, umur dan banyaknya
kontaminasi. Di dalam penggunaannya perancangan mesin yang mempergunakan
batubara sebagai bahan bakarnya harus menyesuaikan dengan kualitas batubaranya
agar mesin yang dipergunakannya tahan lama. Seperti halnya sebuah PLTU yang
menggunakan batubara sebagai bahan bakar utamnya, maka harus diperhatikan
kandungan kalori yang sesuai dengan desain unit pembangkit agar memperoleh
efisiensi penggunaan energinya dan keamanan peralatan utama unit pembangkit itu
sendiri.

Konversi Nilai Kalor

C. HAL YANG MENENTUKAN KUALITAS BATUBARA


Karena batubara merupakan bahan baku pembangkit energi salah satunya PLTU
yang dipergunakan untuk masyarakat luas, maka mutu dari batubara akan sangat
penting dalam menentukan peralatan yang dipergunakan. Untuk menentukan kualitas
batubara, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
· High Heating Value (kcal/kg)
· Total Moisture (%)
· Inherent Moisture (%)
· Volatile Matter (%)
· Ash Content (%)
· Sulfur Content (%)
· Coal size (%)
· Hardgrove Grindability Index (<3mm>)

High Heating Value (HHV)


High heating value sangat berpengaruh terhadap pengoperasian alat,
seperti crusher, pulverizer, pipa batubara, windbox, dan burner. Semakin tinggi high
heating value maka aliran batubara setiap jamnya semakin rendah sehingga
kecepatan coal feeder harus disesuaikan.

Moisture Content
Kandungan moisture mempengaruhi jumlah pemakaian udara primernya, pada
batubara dengan kandungan moisture tinggi akan membutuhkan udara primer lebih
banyak guna mengeringkan batubara tersebut pada suhu keluar mill
tetap. Kandungan air ini dapat dibedakan atas kandungan air bebas (free moisture),
kandungan air bawaan (inherent moisture) dan kandungan air total (total moisture).
Kandungan air ini akan banyak pengaruhnya pada pengangkutan, penanganan,
penggerusan maupun pada pembakarannya.

Volatile Matter
Kandungan volatile matter mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas
nyala api, kesempurnaan nyala api ditentukan oleh :
Fixed carbon
Fuel Ratio = ----------------------
Volatile Matter

Semakin tinggi fuel ratio maka karbon yang tidak terbakar semakin banyak.
Kandungan zat terbang sangat erat kaitannya dengan kelas batubara tersebut, makin
tinggi kandungan zat terbang makin rendah kelasnya. Pada pembakaran batubara,
maka kandungan zat terbang yang tinggi akan lebih mempercepat pembakaran
karbon padatnya dan sebaliknya zat terbang yang rendah lebih mempersukar proses
pembakaran. Nisbah kandungan carbon tertambat terhadap kandungan zat terbang
disebut fuel ratio.

Fuel Ratio Berbagai Jenis Batubara

Ash Content dan Komposisi


Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan
daerah konveksi dalam bentuk abu terbang (fly ash) atau abu dasar (bottom ash).
Sekitar 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Semakin
tinggi kandungan abu dan tergantung komposisinya mempengaruhi tingkat
pengotoran (fouling), keausan dan korosi peralatan yang dilalui. Selain kualitas yang
akan mempengaruhi penanganannya, baik sebagai fly ash maupun bottom ash tetapi
juga komposisinya yang akan mempengaruhi pemanfaatannya dan juga titik leleh
yang dapat menimbulkanfouling pada pipa-pipa. Dalam hal ini kandungan Na 2O
dalam abu akan sangat mempengaruhi titik leleh abu. Abu ini dapat dihasilkan dari
pengotor bawaan (inherent impurities) maupun pengotor sebagai hasil
penambangannya. Komposisi abu seyogyanya diketahui dengan baik untuk
kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan bangunan atau keramik dan
penanggulangannya terhadap masalah lingkungan yang dapat ditimbulkannya.
Sulfur Content
Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang terjadi pada
elemen pemanas udara, terutama apabila temperatur kerja lebih rendah dari letak
embun sulfur, disamping berpengaruh terhadap efektifitas penangkapan abu pada
peralatan electrostatic precipitator.

Coal Size
Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar dengan butir
paling halus untuk ukuran <3 mm>.

Hardgrove Grindability Index (HGI)


Kapasitas mill (pulverizer) dirancang pada hardgrove grindability index tertentu, maka
untuk HGI lebih rendah dari nilai patokannya untuk menghasilkan fineness yang
sama. Hardgrove Grindability Index merupakan petunjuk mengenai mudah sukarnya
batubara untuk digerus. Harga Hardgrove Grindability Index diperoleh dengan
rumus :
HGI = 13,6 + 6,93 W
W adalah berat dalam gram dari batubara lembut berukuran 200 mesh. Semakin
tinggi harga HGI semakin lunak batubara tersebut. Suatu PLTU biasanya disiapkan
untuk menggunakan kapasitas penggerusan terhadap suatu jenis batubara dengan
HGI tertentu.

Ash Fusion Characteristic


Hal ini akan mempengaruhi tingkat fouling, slagging dan operasi blower.

Sifat Caking dan Coking


Kedua sifat tersebut ditunjukan oleh nilai muai bebas (free swelling index) dan harga
dilatasi, yang terutama memberikan gambaran sifat fisik pelunakan batubara pada
pemanasannya.

Parameter Kualitas Batubara


Cukup banyak parameter untuk menentukan kualitas batubara antara lain :
· Total Moisture (%)*)**)***)
· Inherent Moisture (%)*)**)***)
· Ash Content (%)*)**)
· Volatile Matter (%)*)**)
· Fixed Carbon
· Caloric Value (kcal/kg)*)**)
· Total Sulphur (%)***)
· Hardgrove Index *)**)
· Indeks Muai Bebas ***)
· Roga Index ***)
· Gray King ***)
· Diatometri ***)
· Nitrogen (%)**)
· Phosphor *)
· P2O5 *)
· Plastometri ***)
Keterangan :
*) Diperlukan datanya untuk PLTU
**) Diperlukan datanya untuk bahan bakar
***) Diperlukan datanya untuk industri kokas metallurgi

Pemanfaatan suatu jenis batubara tertentu perlu diketahui suatu set data kualitas
batubara yang diperlukan untuk suatu keperluan tertentu. Data ini diperoleh dari hasil
suatu analisis pengujian. Dari sekian banyak parameter kualitas batubara, biasanya
hanya beberapa saja yang bermakna dalam melanjutkan suatu kemanfaatan tertentu.
Tetapi dengan mempunyai data lengkap parameter kualitas batubara dari suatu
cadangan tertentu, akan lebih terlihat seluruh kemungkinan pemanfaatan batubara
tersebut yang dapat membantu industri pemakai.
BAB IV
GENESA BAHAN GALIAN
Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan,
proses pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan
faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah sebagai
pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru, mengungkapkan
sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu dalam penentuan
(penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta membantu dalam
penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan galian tersebut.

A.PENGERTIAN UMUM BAHAN GALIAN

Pengertian umum bahan galian adalah semua bahan atau subtansi yang terjadi
dengan sendirinya di alam dan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk berbagai
keperluan industrinya .
• Menurut UU No. 11 thn . 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan; Bahan
Galian adalah unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih dan segala macam
batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan alam.
• Bahan galian dapat berupa logam maupun bukan logam, dan dapat berupa
bahan tunggal ataupun berupa campuran lebih dari satu bahan.

Di Indonesia, berdasarkan PP No. 27 thn. 1980 bahan galian dibagi atas tiga
golongan yaitu :
1. Golongan A : Golongan bahan galian strategis artinya strategis dalam Pertahanan
dan Keamanan Negara serta Perekonomian Negara.
Contoh : minyakbumi, gas alam, uranium, batubara, dan lain-lain.
2. Golongan B : Golongan bahan galian vital artinya dapat menjamin hajat
hidup orang banyak atau yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
secara luas.
Contoh : besi, mangan, kromit, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas,
platina, air raksa, dan lain-lain.
3. Golongan C : Golongan bahan galian yang tidak termasuk golongan A dan B.
Contoh : pasir, talk, magnesit, dan lain-lain.

Unsur-unsur yang membentuk bahan-bahan deposit bahan galian diperoleh dari


massa batuan cair pijar (magma) yang berasal dari mantel bumi bagian atas atau dari
kerak bumi bagian luar.

Dari 98 unsur yang diketahui, hanya ada 8 unsur saja yang dijumpai pada kerak bumi
dalam jumlah lebih dari 1%; sedangkan kerak luar bumi sendiri (sampai kedalaman
kurang lebih 15km) tersusun dari 13 unsur utama, yaitu : oksigen (O) silicon (Si).
aluminium (Al), besi (Fe), kalsium (Ca), natrium (Na), kalium (K), magnesium
(Mg),titanium (Ti), fosfor (P), hydrogen (H), karbon (C), dan mangan (Mn).

Termasuk dalam unsur-unsur yang jumlahnya sangat sedikit adalah kelompok logam
mulia dan bahan-bahan yang ekonomis seperti : platina , emas, perak, tembaga,
timbal, seng, timah putih, nikel, dan lain-lain. Jadi jelaslah, tanpa proses-proses
geologi yang dapat mengakumulasikan bahan-bahan tersebut, maka bahan-bahan
tersebut tidak dapat dijumpai dalam jumlah yang ekonomis.
B. KLASIFIKASI BAHAN GALIAN
Lingdren (1911) mengemukakan suatu klasifikasi yang didasarkan pada
genetic suatu deposit bijih. Dengan berfokus pada penelitian kumpulan mineral
yang dilakukan baik di lapangan maupun di laboratorium, Lingdren berusaha
meneliti kondisi Tekanan (P) dan Temperatur (T) pembentukan masing-
masing mineral. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa kebanyakan
deposit mineral terbentuk dari :
(i) proses fisika-kimia dalam intrusi dan ekstrusi batuan beku, larutan atau
dalam gas, yang terkumpul dalam jumlah besar, dan
(ii) proses konsentrasi secara mekanik.

Klasifikasi Bahan Galian (Lingdren, 1911) :


I. Deposit dari Proses Mekanik
II. Deposit dari Proses Kimia Temperatur C
o
Tekanan
A. Pada Permukaan Air
- Deposit Epitermal 50 – 200 Menengah
- Deposit Mesotermal 200 – 500 Tinggi
- Deposit Hipotermal 500 – 600 Sangat Tinggi
(ii) Emanasi magma langsung
- Deposit Pirometasomatik 500 – 800 Sangat Tinggi
- Sublimasi 100 – 600 Rendah - Menengah
C. Konsentrasi dalam magma oleh difrensiasi
1. Deposit Magmatik 700 – 1500 Sangat Tinggi
2. Pegmatites ±575 Sangat tinggi
1. Oleh Reaksi 0 – 70 Menengah – Tinggi
2. Evaporasi
B. Pada Tubuh Batuan
1. Konsentrasi subtansi yang terkandung
dalam batuan
a. oleh pelapukan 0 – 100 Menengah
b. oleh airtanah 0 – 100 Menengah
c. oleh metamorfisme 0 – 400 Tinggi
2. Konsentrasi dari subtansi luar
a. Tanpa aktifitas magma 0 – 100 Menengah
b. Berhubungan dengan aktifitas magma
(i) Berkaitan dengan air
Karena dasar utama klasifikasi tersebut adalah T dan P pembentukan deposit yang
kadang hanya didasarkan pada pengamatan di laboratorium, beberapa deposit belum
dapat dimasukkan kedalam klasifikasi diatas dan harus dipisahkan dengan istilah lain
seperti deposits of native copper dan deposits resulting from oxidation and supergen
sulfide enrichment, serta regionally metamorphosed sulfide deposits.

Kesulitan lain dalam penempatan deposit tertentu dalam klasifikasi Lingdren adalah
seperti deposit yang terdapat di Cerro de Pesco Peru, dimana secara
mineralogi deposit tersebut termasuk deposit mesotermal, tapi menurut Craton dan
Bowditch mineral-mineral tersebut ternyata terbentuk pada kedalaman yang relatif
dangkal dengan kondisi pada tekanan rendah. Dengan demikian deposit tersebut
bisa juga dimasukkan kedalam deposit epitermal. Untuk itu, faktor-faktor
pengontrol terbentuknya suatu deposit bahan galian (selain temperatur dan tekanan)
harus juga mendapat perhatian seperti faktor struktur geologi, pengaruh fisika dan
kimia batuan samping, ratio relatif dari konsentrasi ion-ion yang berbeda dalam
larutan asal, dan kompleksitas kimiawi.

Niggli (1925) memperkenalkan suatu klasifikasi yang didasarkan pada pemisahan


proses magmatik menjadi plutonik dan vulkanik, yang terdiri atas :
I. Plutonik :
1. Hidrotermal
2. Pegmatitik-Pneumatolitik
3. Orto-magmatik
II. Vulkanik :
1. Exhalative to hydrothermal
2. Pneumatolitik
3. Ortomagmatik

Schnederhohn (1932) mengembangkan klasifikasi genetic sebagai berikut :


A. Magmatic Rocks and Ore
Deposition a. Intrusive Magmatic
I. Intrusive Rocks and Liquid Magmatic Deposits
I-II. Liquid Magmatic – Pneumatolytic
II. Pneumatolytic;
1. Pegmatite Veins,
2. Pneumatolytic Veins and Impregnations,
3. Contact
Pneumatolytic II-III.
Pneumatolytic – Hydrothermal
III. Hydrothermal
c. Extrusive Magmatic
I. Extrusive – Hydrothermal
II. Exhalation
B. Sedimentary Deposits :
1. Weathered Zone (Oxidation & Enrichment);
2. Placers;
3. Residual;
4. Biochemical-inorganic;
5. Salts;
6. Fuels;
7. Descending groundwater deposits.
C. Metamorphic Deposits
1. Thermal Contact Metamorphism
2. Metamorphism Rocks
3. Metamorphosed Ore Deposits
4. Rarely formed metamorphic deposits

Mead L. Jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi


sebagai berikut :

TEORI PROSES TIPE DEPOSIT


Terbentuk oleh proses internal

Kristalisasi Magmatik Presipitasi mineral bijih sebagai unsur ƒ Disseminated intan di Kimberlit,
Magmatic crystallization utama atau unsur minor batuan beku ƒ Mineral REE di Carbonatites,
dalam bentuk disseminated grains ƒ Semua deposit granit, basal,
atau segregations. dunit, nefelin-senit.

Segregasi Magmatik Pemisahan mineral bijih oleh ƒ Layer kromit di Great Dyke
Magmatic kristalisasi fraksinasi dan proses Zimbabwe dan Bushveld Co,plex,
segregation yang berhubungan selama difrensiasi RSA
magma.

Liquation, Pemisahan liquid (liquid ƒ Tubuh bijih tembaga-nikel


immiscibility), pemisahan sulfida dari Sudbury, Canada; Pechenga,
magma, larutan sulfida-oksida atau USSR dan Yilgam Block, Western
oksida yang terakumulasidi bawah Australia
silikat atau diinjeksikan ke batuan ƒ Deposit Titanium Allard
samping atau pada sejumlah kasus Lake, Quebec, Canada.
dierupsikan ke permukaan.

Hidrotermal Pengendapan dari hot aquaeous ƒ Vein dan stockwork timah-


Hydrothermal solution, yang bisa berasal dari tungsten- tembaga Cornwall, UK
magmatik, metamorfik, permukaan ƒ Deposit tembaga porfiri
atau sumber lainnya. Panguna, PNG dan Bingham,
USA

Sekresi Lateral Difusi material pembentuk bijih atau ƒ Deposit tembaga


Lateral secretion gangue dari batuan samping kedalam Yellowknife, Canada.
patahan atau struktur lainnya. ƒ Deposit emas Mother Lode, USA.

Proses Metamorfik Metamorfisme kontak atau regional ƒ Deposit Andalusit, Transvaal, RSA
Metamorphic Processes yang menghasilkan deposit mineral ƒ Deposit Garnet, NY, USA.
industri
ƒ Deposit tembaga Mackay, USA dan
Deposit pirometasomatik (skarn) Craigmont, Canada.
terbentuk oleh proses replasemen ƒ Deposit talk, Luzenac, France
batuan samping disekitar intrusi.

Konsentrasi awal atau further elemen ƒ Beberapa vein emas dan


bijih oleh proses metamorfisme, deposit disseminated nikel dalam
seperti granitisasi, proses alterasi, dll. tubuh ultramafik.
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk oleh proses eksternal

Akumulasi Mekanik Konsentrasi gravitasi, mineral ƒ Timah placer Malaysia


resisten ke dalam endapan placer. ƒ Emas placer Yukon, Canada.
ƒ Deposit kaolin Georgia, USA

Presipitasi Sedimenter Presipitasi particular elements dalam ƒ Banded iron formations of the
Sedimentary suitable sedimentary environment, Precambrian shields.
precipitates dengan atau tanpa intervensi ƒ Deposit mangan Chiaturi, USSR
organisme biologis. ƒ Deposit evaporit Zechstein, Eropa.
ƒ Deposit Posfat Florida, USA.

Proses Residual Pencucian (leaching) elemen yang ƒ Nikel laterit New Caledonia,
mudah larut dari batuan dan ƒ Bauksit Hungaria, Prancis,
meninggalkan elemen yang tidak Jamaika dan Arkansas, USA.
larut sebagai material sisa.

Pengayaan sekunder atau Pencucian (leaching) elemen ƒ Beberapa bonanza emas dan perak
supergen berharga dari bagian atas suatu ƒ Bagian atas sejumlah
Secondary or supergene deposit mineral dan kemudian di- deposit tembaga porfiri
enrichment presipitasikan pada kedalaman untuk
membentuk konsentrasi yang tinggi.

Volcanic exhalatif Exhalations larutan hidrotermal di ƒ Deposit logam dasar


( = Sedimentary permukaan, biasanya di bawah laut Meggan, Jerman;
exhalatif) dan umumnya menghasilkan tubuh ƒ Deposit Kuroko, Jepang; Black
bijih stratiform. Smoker deposits of modern oceans
ƒ Merkuri Almaden, Spanyol
ƒ Deposit solfatara (kaolin +
alunit), Sisili
Beberapa Bahan Galian
Sumber daya minerals merupakan bagian dari sumber daya alam atau
biasa disebut juga BAHAN GALIAN , proses pembentukannya
berlangsung dalam jangka waktu lama (jutaan tahun). Keberadaannya
jika dibandingkan dengan masa hidup di alam seperti manusia maka
bahan galian digolongkan kepada sumber daya alam yang tidak
terbarukan (Un renewable). Keberadan mineral yang berbentuk bahan
galian di alam dijumpai dalam dua bentuk yaitu yang pertama dalam
bentuk ASLI nya atau native element, serta bahan galian tersebut dapat
langsung diambil serta digunakan untuk keperluan manusia, sedangkan
bentuk kedua berbentuk SENYAWA dengan unsur lain, serta untuk
mendapatkan mineral yang diinginkan bahan galian tersebut harus
diolah lebih dahulu. Berdasarkan jenisnya BAHAN GALIAN secara garis
besar digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu :

1. Bahan Galian LOGAM


a. Logam Mulia ( Au, Ag, Pt dan Hg )
b. Logam Besi ( Fe, Ni, Mn, Cr, Wo dan Mo )
c. Logam Bukan Besi ( Sn, Al, Cu, Pb, Zn, Bi, Sb dan Ti )
d. Mineral Jarang (Cr, Co, Mg)

2. Bahan Galian BUKAN LOGAM


a. Mineral Industri b. Batu Mulia

3. Bahan Galian BATUAN / Konstruksi

4. Bahan Galian RADIO AKTIF


a. Uranium
b. Rhadium, Thorium dll

Berdasarkan UU PMB Nomor 4 Tahun 2009, Tgl 12 Januari 2009

C. GENESA BAHAN GALIAN

Emas (Au), Mineral Emas dialam bijihnya dapat diperoleh sebagai emas
murni (Native Gold) , Elektum (Au,Ag). Biasanya emas terdapat dalam
cebakan pada berbagai macam batuan seperti batuan sedimen, batuan
volkanik, batuan beku dan batuan metamorf.

Perak (Ag), kebanyakan perak berasal dari cebakan hidrotermal tipe


pengisian ( Fisure filling) pada urat-urat (Vein) .
1
Platina (Pt), Bijih platina terjadi secara konsentrasi magmatik didalam
batuan beku ultra basa. Bijih platina placer (Endapan sekunder)
terbentuk karena proses pengendapan kembali dari hasil pelapukan /
erosi terhadap endapan bijih primer.

Air Raksa (Hg), hampir semua bijih air raksa terjadi dari larutan
hydrothermal sebagai aktifitas pengisi rongga (Cavity Filling) dan alih
tempat (Replacement).

Bauksit (Al), bijih bauksit terjadi karena proses pelapukan (Residual


Concentration ) dari batuan yang kaya akan mineral feldspar atau
mineral alumina silikat lainnya. Adapun batuan induknya tersebut antara
lain Granit, Granodiorit, Syenit, Dasit , Riolit dll.

Besi (Fe), bijih besi seperti logam yang lainnya terbentuknya akibat
proses magmatik, kontak metasomatik dan replacemen. Bijih besi yang
didapat dialam antara lain Magnetit, Hematit, Pirit dan Siderit.

Tembaga (Cu), Hampir sebagian besar cebakan Tembaga terjadi dari


Proses larutan Hidrothermal, dengan tipe alih tempat (Replacemen) dan
pengisian rongga (Cavity filling) pada batuan beku, sedimen maupun
metamorf.

Timah Hitam (Pb), Dialam timah hitam selalu bersosiasi dengan mineral
seng, yang terjadi karena proses hydrothermal suhu rendah dengan type
endapan pengisian rongga ( Cavity filling ) dan alih tempat (Replacemen
). Bahan tambangnya di alam antara lain didapat sebagai mineral
Galena, Serusit dan Anglesit.

Antimoni (Sb), Kebanyakan bijih antimoni terjadi dari larutan


Hidrothermal temperatur rendah dan dangkal, mengisi celah-celah dan
rongga-rongga yang bentuknya tak beraturan. Beberapa endapan primer
telah mengalami pengayaan oleh residu pelapukan, membentuk bijih
oksida.

Mangan (Mn), Kebanyakan endapan mangan yang prospek merupakan


endapan sedimenter dan residual. Secara primer bisa terjadi akibat
proses Hidrothermal dan Metamorfosa (Malihan ).

Barit , Secara primer merupakan hasil endapan larutan hydrothermal


dalam bentuk pengisian rekahan (Fissure filling), pengisian antar breksi

2
(Breccia filling) atau merupakan hasil alih tempat (Replacemen
deposits).

Feldspar, Mineral feldspar merupakan mineral pembentuk batuan beku


terutama batuan beku dalam, terjadi selama proses kristalisasi magma
baik melalui proses pneumatolitic ataupun proses hydrothermal dalam
urat pegmatite.

Garam Alam, Yodium atau Garam Alam sebagai bahan galian


berasosiasi dengan cekungan minyak bumi dan gas bumi ataupun pada
mata air garam. Biasanya Yodium berasosiasi dengan Bromium.

Batugamping, Batugamping terjadinya dilaut karena proses biologi,


yakni sisa-sisa binatang laut seperti koral, foram, kerang yang mati dan
terkumpul . Atau karena proses kimiawi yakni pengendapan secara
kimiawi larutan-larutan karbonat yang terbawa sungai kelaut dan pada
kedalaman tertentu mengendap.

Kalsit, Kalsit biasa terdapat dalam batugamping atau batuan sedimen


lainnya yang merupakan hasil rekristalisasi larutan kalsium karbonat
dari batugamping atau batuan karbonat lainnya, mengisi celah-celah
atau goa didalam tanah.

Batu Sabak, Terjadi akibat proses metamorfosa regional pada batuan


sedimen (Batu lanau dan Batu Lempung) dan mengakibatkan
kekerasannya cukup tinggi.

Intan (C), Terjadinya karena proses metamorfosa dibawah permukaan


bumi yang sangat dalam sekali. Intan Primer terdapat sebagai Xenocryst
pada batuan Kimberlit. Endapan Intan Placer/Alluvial terjadi karena
“Rework” dari endapan primer.

Agate, Agate merupakan kelompok Kalsedon atau mineral yang terjadi


oleh pembekuan larutan magma yang mengisi rekahan (Cavity filling)
dan urat-urat (Vein) batuan.

D. HUBUNGAN ANTARA GENESA DAN BAHAN GALIAN


Hubungan antara genesa endapan mineral (bahan galian) dengan beberapa
ilmu yang ada pada industri mineral
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya disebut
dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah terubah
3
melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes) disebut dengan
endapan sekunder (supergen).

1. Keterdapatan Mineral Bijih


Kerak bumi terdiri dari batuan-batuan beku, sedimen, dan metamorfik. Pada Tabel
1 dapat dilihat komposisi umum dari kerak bumi dan beberapa logam-logam lain
mempunyai kuantitas kecil dan umum terdapat pada batuan beku.
Tabel 1 Komposisi elemen-elemen penyusun kerak bumi dan pada batuan beku (Sumber; Bateman,
1982).

a. Elemen penyusun kerak bumi b. Logam-logam yang umum pada batuan beku

Elemen % Berat %Atom %Volume Elemen % Elemen %

Oksigen 47,71 60,5 94,24 Alumunium 8,13 Kobalt 0,0023

Silikon 27,69 20,5 0,51 Besi 5,00 Timbal 0,0016

Titanium 0,62 0,3 0,03 Magnesium 2,09 Arsenik 0,0005

Alumunium 8,07 6,2 0,44 Titanium 0,44 Uranium 0,0004

Besi 5,05 1,9 0,37 Mangan 0,10 Molibdenum 0,00025

Magnesium 2,08 1,8 0,28 Kromiun 0,02 Tungsten 0,00015

Kalsium 3,65 1,9 1,04 Vanadium 0,015 Antimony 0,0001

Sodium 2,75 2,5 1,21 Zink 0,011 Air Raksa 0,00005

Potassium 2,58 1.4 1,88 Nikel 0,008 Perak 0,00001

Hidrogen 0,14 3,0 Tembaga 0,005 Emas 0,0000005

Timah 0,004 Platinum 0,0000005

Pengertian bijih adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak


(diambil) mineral berharganya secara ekonomis, dan bijih dalam suatu endapan ini
tergantung pada dua faktor utama, yaitu tingkat terkonsentrasi (kandungan logam
berharga pada endapan), letak serta ukuran (dimensi) endapan tsb.
Untuk mencapai kadar yang ekonomis, mineral-mineral bijih atau komponen
bahan galian yang berharga terkonsentrasi secara alamiah pada kerak bumi
sampai tingkat minimum yang tertentu tergantung pada jenis bijih atau mineralnya.
Dalam Tabel 2 dapat dilihat beberapa bijih logam yang dapat diambil (diekstrak)
dari mineral bijihnya, dan pada Tabel 3 dapat dilihat beberapa gangue
4
mineral yang merupakan mineral-mineral (dalam jumlah sedikit/kecil) yang
terdapat bersamaan dengan mineral bijih dan relatif tidak ekonomis.
Tabel 2. Beberapa mineral bijih yang dapat diekstrak sebagai komoditi logam (Sumber ; Bateman,
1982).

Logam Mineral Bijih Komposisi % Logam Hyporgen Supergen

Emas NativeKalaverit AuAuTe2 10039 xx


Emas xx
Silvanit (Au,Ag)Te2 – x

Perak NativeArgentit AgAg2S 10087 xx


Perak xx
Seragirit AgCl 75 x

MagnetitHematit FeO.Fe2O3Fe2O3 7270


xx xx
Besi Limonit Fe2O3.H2O 60
x x
Siderit FeCO3 48

Tembaga NativeBornit CuCu5FeS4 10063


xx
Brokhantit CuSO4.3Cu(OH)2 62
x
Kalkosit Cu2S 80
xx x
Kalkopirit CuFeS2 34
x x
Kovelit CuS 66
x x
Tembaga Kuprit Cu2O 89
x x
Digenit Cu9S5 78
x x
Enargit 3Cu2S.As2S5 48
x x
Malasit CuCO3.Cu(OH)2 57
x
Azurit 2CuCO3.Cu(OH)2 55
x
Krisokola CuSiO3.Cu(OH)2 36

Timbal GalenaSerusit PbSPbCO3 8677


x xx
(Lead) Anglesit PbSO4 68

SfaleritSmitsonit ZnSZnCO3 6752


Seng (Zinc) Hemimorfit H2ZnSiO5 54 xx xx
Zinksit ZnO 80

Timah KasiteritStannit SnO2Cu2S.FeS.SnS2 7827 xx ??

Nikel PentlanditGarneirit (Fe,Ni)SH2(Ni,Mg)SiO3.H2O 22- x x

Kromium Kromit FeO.Cr2O3 68 x

PirolusitPsilomelan MnO2Mn2O3.xH2O 6345 xx


xx
Mangan Braunit 3Mn2O3.MnSiO3 69 x
?
Manganit Mn2O3.MnSiO3 62 x

Alumunium Bauksit Al2O3.2H2O 39 x

Antimon Stibnit Sb2S3 71 x

5
Logam Mineral Bijih Komposisi % Logam Hyporgen Supergen

Bismuth Bismuthit Bi2S3 81 x x

Kobalt SmaltitCobaltit CoAs2CoAsS 2835 xx

Air Raksa Sinabar HgS 86 x

Molibdenum MolibdenitWulfenit MoS2PbMoO4 6039 x x

WolframitHuebnerit (Fe,Mn)WO4MnWO4 7676 xx


Tungsten
Scheelit CaWO4 80 x

UraninitPitcblende Combined UO2dan UO3


50-8575
Uranium Coffinit USiO4 xx xx
60 U2O3
Carnotit K2O.2U2O3

Tabel 3. Beberapa mineral gangue yang umum muncul pada mineral bijih, (Sumber ; Bateman, 1982).
Kelas Nama Komposisi Hyporgen Supergen

KuarsaSilikat lain SiO2SiO2 xx


xx
Oksida Bauksit Al2O3.2H2O x
x
Limonit Fe2O3.H2O x

KalsitDolomit CaCO3(Ca,Mg)CO3 xx
xx
Karbonat Siderit FeCO3 x
x
Rodokrosit MnCO3 x

Sulfat BaritGipsum BaSO4CaSO4+H2O xx xx

FeldsparGarnet — xx
Rhodonit MnSiO3 x
Silikat x
Klorit – x
Mineral Lempung – x

Bahan
batuanFlorit CaF2(CaF)Ca4(PO4)3 xx
Apatit FeS2 x
Lain-lain Pirit FeS2 x xx
Markasit Fe1-xS x
Pirotit FeAsS x
Arsenopirit

Batuan merupakan suatu bentuk alami yang disusun oleh satu atau lebih mineral,
dan kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan merupakan
6
heterogen (terbentuk dari beberapa tipe/jenis mineral), dan hanya beberapa yang
merupakan homogen. Deret Reaksi Bowen (deret pembentukan mineral pada
batuan) telah dimodifikasi oleh Niggli, V.M. Goldshmidt, dan H. Schneiderhohn, s
Sedangkan proses pembentukan mineral berdasarkan komposisi kimiawi larutan
(konsentrasi suatu unsur/mineral), temperatur, dan tekanan pada kondisi
kristalisasi dari magma induk.

Jika pembentukan endapan mineral dikelompokkan menurut proses


pembentukannya, maka salah satu pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :

Klasifikasi Lindgren (Modifikasi)


Endapan yang terbentuk melalui proses konsentrasi kimia (Suhu dan Tekanan
Bervariasi)

A. Dalam magma, oleh proses differensiasi


Endapan Magmatik (segresi magma, magmatik cair); T 700-1500 0C; P sangat
tinggi.
Endapan Pegmatit; T sedang-sangat tinggi; P sangat tinggi

B. Dalam badan batuan


1. Konsentrasi karena ada penambahan dari luar (epigenetik)
1.1. Asal bahan tergantung dari erupsi batuan beku

a. Oleh hembusan langsung bekuan (magma


– dari efusif; sublimat; fumarol, T 100-6000C; P atmosfer-sedang
– dari intrusif, igneous metamorphic deposits; T 500-800 0C, P sangat tinggi

b. Oleh penambahan air panas yang terisi bahan magma


Endapan hipothermal; T 300-5000C, P sangat tinggi
Endapan mesothermal; T 200-3000C, P sangat tinggi
Endapan epithermal; T 50-2000C, P sangat tinggi
Endapan telethermal; T rendah, P rendah
Endapan xenothermal; T tinggi-sedang, P sedang-atmosfer

1.2. Konsentrasi bahan dalam badan batuan itu sendiri :


Konsentrasi oleh metamorfosis dinamik dan regional, T s/d 400 0C; P tinggi.
Konsentrasi oleh air tanah dalam; T 0-1000C; P sedang
Konsentrasi oleh lapukan batuan dan pelapukan residu dekat permukaan; T 0-
1000C; P sedang-atmosfer

C. Dalam masa air permukaan


7
1. Oleh interaksi larutan; T 0-700C; P sedang
a. Reaksi anorganik
b. Reaksi organic

2. Oleh penguapan pelarut


Endapan yang dihasilkan melalui konsentrasi mekanis; T & P sedang.

8
9