Anda di halaman 1dari 17

PROSEDUR PENANGANAN KEJADIAN LUAR BIASA

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Pengertian : Masalah yang terjadi di luar prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya
di Rumah Sakit

1. Permasalahan cepat diatasi


Tujuan :
2. Mengurangi persentasi Kejadian Luar Biasa

1. SK Kepala Rumah Sakit tentang pemberlakuan SOP / Protap


Tindakan Keperawatan.
Kebijakan : 2. SK Kepala Rumah Sakit tentang pemberlakuan prosedur
Rekruitanmen tenaga keperawatan.
3. SK Kepala Rumah Sakit tentang aturan pendelegasian
penaganan Kejadian Luar Biasa

1. Menginventaris kejadian – kejadian luar biasa yang terjadi pada


petugas jaga berikutnya
2. Melaksanakan diskusi dengan petugas berikutnya untuk mencari
pemecahan masalah
Prosedur : 3. Mendokumentasikan kejadian luar biasa dan hasil pemecahan
masalah
4. Melaporkan kepada koordinator tentang kejadian luar biasa
5. Koordinator menunjukkan laporan tentang kejadian luar biasa
kebidang pelayanan
1. Rawat Inap
2. Rawat Jalan / Poli
Unit Tekait :
3. IGD
PROSEDUR SURVEILENS

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Pengertian : Pengamatan yang dilakukan secara terus menerus terhadap masalah
kesehatan tertentu dan segala aspeknya.
1. Mengamati kecendrungan dan memperkirankan basar masalah
kesehatan
2. Mendeteksi serta memprediksi adanya Kejadian Luar Biasa
3. Memonitor kecendrungan penyakit endemik
Tujuan :
4. Mengamati kemajuan suatu program pencegahan dan pembrantasan
penyakit yang dilakukan
5. Memperkirakan dampak program intervensi yang ada
6. Mengevaluasi program intervensi
7. Mempermudah perencanaan program pemberantasan
Kebijakan : 1. UU Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1479 tentang
penyelenggaraan sistem surveilens
1. Pengumpulan data
2. Pengolahan data
3. Analisis data
Prosedur : 4. Interprestasi data
5. Penyebaran informasi kepada orang yang berkepentingan sehingga
dapat dipergunakan untuk pencegahan dan pengendalian masalah
kesehatan tersebut
1. Rawat Inap
2. Rawat Jalan / Poli
Unit Tekait :
3. IGD
PROSEDUR SKRINING DAN PENANGANAN MRSA

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
MRSA ( Methcillin Resistant Staphy Lococcus Aurens ) adalah salah
satu tipe bakteri Staphylococcus yang ditemukan pada kulit dari hidang
yang kebal terhadap Anti Biotik.
Pengertian :
Bakteri MRSA biasanya menginfeksi orang atau anak-anak yang
memiliki daya tahan tubuh yang lemah, jika daya tahan tubuhnya tinggi
tidak akan menimbulkan gejala apapun, bakteri yang dibawa oleh orang
tersebut biasanya berpindah ke orang lain dan menyebar dengan mudah
melalui kontak kulit dari menyentuh barang yang sudah terkontaminasi.
Tujuan : Mencegah terjadinya penyebaran infeksi MRSA ke tempat lain

Kebijakan : Dilakukan pada pasien yang masuk rumah sakit dengan terinfeksi
MRSA
1. Minor infeksi MRSA kadang-kadang mengalami komplikasi serius
seperti menyebar infeksi ke jaringan sekitarnya, abces, atau darah ,
tulang atau jantung infeksi
2. Karena MRSA yang tahan terhadap anti biotik banyak , akan sulit
untuk mengobati, namun beberapa anti biotik berhasil dapat
mengendalikan infeksi MRSA adalah penting untuk mengambil
Prosedur : semua dosis anti biotik anda, bahkan jika infeksi semakin baik
3. Beberapa orang dapat membawa MRSA di hidung mereka tetapi
tidak memiliki gejala dari infeksi,meraka biasanya tidak memerlukan
pengobatan tetapi harus mengetahui bagaimana melingdungi diri
mereka sendiri dan orang lain menjadi sakit
4. Beberapa pil dapat membunuh kuman terberat beberapa hari yang
lalu,beritahu dokter jika anda tidak mendapatkan kondisi yang lebih
baik dalam bebera hari atau jika anda mulai merasa memburuk.
1. Instansi Rawat inap
Unit Tekait : 2. Instansi Rawat jalan
3. IGD
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KLB

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Pengertian : KLB adalah kejadian penyakit infeksi yang meningkat dari keadaan
biasa pada suatu periode atau kelompok pasien tertentu

Tujuan : Agar tidak terjadinya kejadian penyakit infeksi yang meningkat

Kebijakan : Dilakukan pada pasien yang masuk rumah sakit

1. Tim PPI melakukan investigasi KLB


 Penemuan Kasus
 Menetapkan situasi KLB
 Menetapkan penyebab sumber penularan dan cara
penularan penyakit
 Membentuk tim pengendalian KLB

2. Verifikasi kasus
 Telusuri hasil laboratorium
 Telusuri rekam medis pasien
 Diskusi dengan dokter yang merawat
Prosedur :
3. Evaluasi besar masalah ( Morbiditas dan Mortalitas )

4. Lakukan upaya pengendalian dengan menerapkan kewaspadaan


berdasarkan transmisi kuman
 Kewaspadaan kontak
 Kewaspadaan droplet
 Kewaspadaan airborn

5. Buat laporan harian kepala rumah sakit

6. Jika diperlukan melakukan pertemuan dengan media


PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KLB

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/2
Dr. BRATANATA

7. Lakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penaganan KLB


 Pelaksanaan kewaspadaan berdasarkan transmisi
 Memberikan imunisasi jika diperluakan
Prosedur  Memberikan antibiotik profilaksis jika dibutuhkan
 Pertemuan rutin tim penaganan KLB

8. Bila KLB sudah berakhir


 Buat laporan yang lengka tentang KLB kepada komite
PPI dan Kepala Rumah Sakit.
1. Instansi Rawat Inap
Unit Tekait : 2. Instansi Rawat Jalan
3. IGD
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN SURVEILENS

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Suatu upaya meningkatkan mtu rumah sakit dengan tidak terjadinya
Pengertian :
penyebaran infeksi yang tidak diinginkan agar pencegahan dan
pengendalian infeksi di rumah sakit yang dapat dilakukan secara
sistematis, aktif dan terus menerus dilakukan
Tujuan : Untuk meningkatkan mutu rumah sakit dengan tidak terjadinya
penyebaran infeksi yang tidak diinginkan
Kebijakan : Dilakukan pada pasien yang masuk rumah sakit

1. Setiap pasien pasca bedah kecuali pasca bedah hemoroidektomy,


tonsilektomy dan polips dimasukkan dalam surveilens
2. Catat pada lembar pengumpulan data
3. Nama, nomor RM, usia, jenis kelamin, diagnosa, tanggal masuk RS,
tanggal Operasi, jenis tindakan operasi ( golongan pembedahan ),
Prosedur :
prosedur operasi, nomor kamar operasi, penyakit lain yang menyertai
dan keadaan luka operasi, catatatn khusus diberikan bila suhu tubuh
lebih dari 37,5 ˚C
4. Jika terdapat tanda infeksi, periksa kultur nanah dan test sensitifitas
5. Jika ditemukan tanda tanda diduga infeksi sampai hari ke tujuh,
periksakan kultur eksudat dan test sensititas
1. Instansi Rawat inap
Unit Tekait : 2. Instansi Rawat jalan
3. IGD
PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK
DI RS .TK.IV Dr. BRATANATA
JAMBI

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Pengertian Merupakan proses penggunaan obat yang benar sesuai dengan indikasi
Tujuan : Menghindari penyalahgunaan obat antibiotik yang tidak sesuai dengan
ketentuaan atau dosis
Kebijakan : Sebagai dasar dalam menetapkan Surveilans penggunaan Antibiotik
di rumah sakit secara sistimatik dan terstandar
1. Tempat indikasi memberiakn obat antibiotik sesuai dengan resep
yang diterima dari dokter jika obat antibiotik tersebut tidak atau
wajib memberitahukan kepada dokter yang tetap diganti.
2. Tempat dosis obat antibiotik diberikan dalam bentuk sirup kering
Prosedur :
diberikan dengan menambahkan air sesuai dengan ketentuan dari
sirup antibiotik tersebut.
3. Tepat secara pemberian dalam penyerahan kepada pasien herus
memberi informasi tentang dosis yang seharusnya diminum jaga
batas waktu pemakaian.
1. Instalasi Rawat Inap
Unit Tekait : 2. Instalasi Rawat Jalan
3. IGD
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN VAP DAN HAP

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
VAP adalah Infeksi Pneomonia yang didapt lebih dari 48 jam setelah
menggunakan Ventilasi Mekanik secara sistematik
Pengertian :
HAP adalah Infeksi saluran nafas bawah mengenai Parenkim paru tidak
diintubasi yang terjadi lebih dari 48 jam hari rawat dan tidak dalam masa
intubasi secara sistematik
Tujuan : Kewaspadaan dini dalam mengidentifikasi penyaki yang disebabkan
oleh infeksi saluran nafas
Kebijakan : Dilakukan pada pasien yang dirawat atau mendapat tindakan yang
berisiko terjadinya infeksi di rumah sakit
1. Siapkan formulir, buku surveilans, alat tulis yang akan digunakan
untuk mendata pasien yang akan di survei
2. Tentukan ruangan yang akan disurvei
3. Catat nama, nomor RM, diagnosa penyakit, dan identitas lain dari
pasien yang akan disurvei dalam formulir Surveilans / buku
Prosedur : surveilans
4. Cata tanggal dilakukan tindakan serta lama tindakan
5. Observasi adanya tanda-tanda infeksi yang meliputi peningkatan
badan › 38 ˚ C produksi sputum banyak dan purulen, bunyi
pernafasan menurun / pekak, tonchi basah daerah paru, adanya batuk,
peningkatan leukosit ( pemeriksaan hapus sputum › 25 / LPK atau
hasil X _Ray adanya infeksi paru.
1. Instansi Rawat inap
Unit Tekait : 2. Instansi Rawat jalan
3. IGD
INFEKSI LUKA OPERASI
( ILO )

No. Dokumen Revisi : Halaman


00 1/1
RUMAH SAKIT TK. IV
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Infeksi yang terjadi pada daerah insisi dalam waktu 30 hari pasca
Pengertian bedah,atau sampai satu tahun pasca bedah dan meliputi jaringan lunak
yang dalam (Mis,lapisan-lapisan fascia dan otot) dari insisi
Tujuan : Mencegah terjadinya infeksi yang disebabkan luka insisi pasca bedah
Dilakukan pada semua pasien yang disebabkan luka insisi luka
Kebijakan :
operasi
1. Drainage Purulent dari Darain yang dipasang melalui luka tusuk ke
dalam organ/rongga
2. Di isolasi kuman dari biakan yang diambil secara oseptik dari
Prosedur :
cairan atau jaringan dari dalam organ atau ruangan
3. Abses atau bukti lain adanya infeksi yang mengenai organ /rongga
yang diketemukan pada pemeriksaan-pemeriksaan langsung waktu
pembedahan ulang,atau dengan pemeriksaan histopatologis atau
radiologis
 Instansi Rawat Inap
Unit Tekait :  Intansi Rawat Jalan
 UGD
INFEKSI ALIRAN DARAH PERIFER
( IADP )

No. Dokumen Revisi : Halaman


RUMAH SAKIT TK. IV 00 1/1
Dr. BRATANATA

Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Infeksi Aliran Darah Perifer adalah Infeksi aliran darah yang timbul
Pengertian tanpa ada organ atau jaringan lain yang dicurigai sebagai sumber
infeksi.
Agar tidak terjaadinya pembengkakan yang mengakibatkan infeksi
Tujuan :
aliran darah.
Dilakukan pada semua pasien yang akan atau sudah dilakukan
Kebijakan :
pemasangan alat
1. Laksanakan surveilens untuk menentukan angka infeksi masing-
masing jenis alat untuk memonitor kecenderungan angka-angka
tersebut,dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam
pratek pengendalian infeksi. Data dinyatakan dalam jumlah
kasus IAD-CR per 1000 hari kateter.
2. Raba dengan tangan (PALPASI) setiap hari lokasi pemasangan
kateter melalui perbon untuk mengetahui adanya pembengkakan.
3. Periksa secara visual lokasi pemasangan kateter untuk
Prosedur :
mengetahui apakah ada pembengkakan, dengan tanpa adanya
penyebab yang jelas, atau gejala infeksi lokal atau IAD.
4. Pada pasien yang memakai perban tebal sehingga susah diraba
atau dilihat. Lepas perban terlebih dahulu, periksa secara visual
setiap hari dan pasang perban baru.
5. Catat tanggal dan waktu pemasangan catfter dilokasi yang dapat
dilihat dengan jelas, misalnya pada perbannya atau ditempat
tidur.
6. Dengan melakukan kultur rutin pada pasien atau alam
Intravaskuler.
 Instansi Rawat Inap
Unit Tekait :  Intansi Rawat Jalan
 UGD
INFEKSI SALURAN KEMIH
( ISK )

No. Dokumen Revisi : Halaman


00 1/1
RUMAH SAKIT TK. IV
Dr. BRATANATA
Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Terdapat 3 Jjenis Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yaitu : ISK
Simtomatik, bakteriuri, Asimtomatik, dan ISK lainya. ( Ginjal, Ureter,
Pengertian
Kandung kemih, Uretra, Jaringan sekitar Reftroperitonkal, atau rongga
perinefrik )
Tujuan : Agar tidak terjadi Infeksi Saluran Kemih
Dilakukan pada semua pasien yang mengalami Infeksi Saluran Kemih
Kebijakan :
pada saat pemasangan kateter
1. Cuci Tangan
Cuci tangna haris dilakukan sebelum dan sesudah manipulasi lokasi
kateterisasi atau peralatannya
2. Pemasangan Kateter
a. Kateter harus dipasang menggunakan teknik aseptikdan dengan
peralatan steril
b. Untuk membersihkan darah sekitar uretra harus digunakan
sarung tangan, drope, sepon, dan larutan antiseptik, yang
sesuaidan harus pakai jelly / pelumas kemasan sekali pakai
c. Gunakan kateter sekecil mungkin dengan laju aliran dranase
pada badan pasien untuk mencegah pergerakan dan tegangan
Prosedur : pada uretra
3. Interal pergantian kateter
a. Kateter menerap maksimal dipertahankan selama 7 hari, bila
pasien masih masih memerlukan kateter maka harus dipasang
alat yang baru
b. Pemisahan ruangan untuk pasien dengan kateter
Untuk mengurangi kemungkinan infeksi silang pasien dengan
kateter yang terinfeksi tidak boleh bersebelahan tempat tidur
atau tinggal sekamar dengan pasien berkateter yang tidak infeksi
c. Monitor bakteriologi
Monitor bakteriologi pada pasien berkateter secara reguler tidak
ada gunanya bagi pengendalian infeksi dan tidak
direkomendasikan
d. Cek urine hari ke 6 perawatan
 Instansi Rawat Inap
Unit Tekait :  Intansi Rawat Jalan
 UGD
PNEUMONIA

No. Dokumen Revisi : Halaman


00 1/1
RUMAH SAKIT TK. IV
Dr. BRATANATA
Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
Salah satu jenis Infeksi Saluran Pernafasan (ISP) bahwa, sebagian besar
Pneumonia Nasokomial Bakterial, disebabkan oleh terhisapnya bakteri yang
berkolonisasi dalam orofarings atau saluran gastoinfestinal atas pada pasien.
Pengertian
Karena Intubasi dan ventilasi mekanis menurunkan pertahanan pasien,
nasokomial, pneumonia disebabkan oleh Legonella Sp Aspergillus Sp. Dan
virus Influenza yang terhirup melalui aerosol yang terkontaminasi.
Mencegah terjadinya Infeksi saluran pernafasan yang disebabkan
Tujuan :
terhisapnya bakteri/virus yang terkontaminasi.
Dilakukan pada semua pasien yang mempunyai penyakit Infeksi Saluran
Kebijakan :
Nafas bawah.
Foto thorak menunjukkan adanya Infiltrat, Konsolidasi,kavitasi,efusi
pieura baru atau progesif, dan salah satu diantara keadaan berikut:
1. Timbul perubahan baru berupa sputum purulen atau terjadi perubahan
sifat sputum.
Prosedur : 2. Isolasi kuman potogen positif dari aspirasi trakea, sikatan /cuci bronkus
atau blopsi.
3. Isolasi kuman positif pada biakan darah.
4. Virus dapat diisolasi atau terdapat antigen virus dalam sekresi saluran
nafas.
5. Titer igm atau igp spesifik meningkat 4 x lipat dalam 2 x pemeriksaan.
6. Terdapat tanda-tanda pneumonia pada pemeriksaan histopatologi.
Pada pemeriksaan fisik terdapat rongki basah atau pekar ( dullnes ) pada
perkusi dan salh satu diantara keadaan berikut :
1. Timbul perubahan baru berupa sputum purulen atau terjadi
perubahan sifat sputum
2. Isolasi kuman positif pada biaran daran
3. Isolasi kuman patogen ppsitif dari aspirasi traktaf, sikatan / suci
bronkus atau bropsi
 Instansi Rawat Inap
Unit Tekait :
 Instansi Rawat Jalan
 IGD

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI ALIRAN


DARAH ( IAD )

No. Dokumen Revisi : Halaman


00 1/1
RUMAH SAKIT TK. IV
Dr. BRATANATA
Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
IAD yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang di curigai sebagai
sumber infeksi, terdapat kuman patogen yang dikenal dari satu kali atau
Pengertian
lebih biakan darah dari biakan dari darah tersebuat tidak berhubungan
dengan infeksi di tempat lain yang ditandai dengan gejala demam › 38˚ C
Agar tidak terjadi peraadangan yang disebkan oleh kuman patogen dan
Tujuan :
menyebabkan Infeksi Aliran Darah
Dilakukan pemeriksaan pad semua pasien yang terdapat resiko Infeksi
Kebijakan :
Aliran Darah
1. Kontaminasi kulit biasa ( Misalnya Diphteroid, bacillus SP,
Propionibacterium SP, Coaulase negative staphy lococci atau
Micrococci ). Ditemukan dari dua kali atau lebih biakan darah yang
diambil dari waktu yang berbeda
2. Kontaminasi kulit biasa ( Misalnya Diphtiroid, bacillus SP,
Prosedur : Propionibacterium SP, Coaulase negative staphy lococci atau
Micrococci ). Ditemukan dari paling sedikit satu biakan darah
pasien dengan saluran IV dan Dokter memberikan terapi anti
microba yang sesuai
3. Test Antigen positif pada darah ( Misalnya : H. Influenza, S.
Pheumoniac, N. Mertingitis atau gejala – gejala dan hasil
laboratorium yang positif tidak berhubungan dengan suatu Infeksi
di tempat lain
 Instansi Rawat Inap
Unit Tekait :  Instansi Rawat Jalan
 IGD
PELAKSANAAN SURVEILENS INFEKSI RUMAH SAKIT

No. Dokumen Revisi : Halaman


00 1/1
RUMAH SAKIT TK. IV
Dr. BRATANATA
Ditetapkan Oleh
Karumkit Tk.IV Dr. Bratanata

Tanggal terbit :
Prosedur Tetap

Dr. Nirwan Arief,SpM, MARS


Mayor Ckm NRP.11000010390473
1. Surveilens Infeksi Rumah Sakit adalah suatu kegiatan pengamatan
yang sistematis, aktif,berkelanjutan, dan terus menerus terhadap
suatu kejadian penyebaran penyakit pada suatu populasi tertentu,
seta hal-hal yang mempengaruhi terjadinya infeksi tersebut.
2. Surveilens Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) adalah
pengumpulan data kejadian infeksi aliran darah akibat penggunaan
alat intravaskuler secara sistematik, analisis dan interpretasi yang
terus menerus untuk digunakan dalam perencanaan penerapan dan
evaluasi suatu tindakan yang berhububungan dengan kesehatan yang
didesiminasikan secara berkala kepada pihak-pihak yang
memerlukan.
3. Surveilens Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) adalah pengumpulan data
kejadian infeksi saluran kemih akibat penggunaan alat dower kateter
atau tindakan aseptik lain melalui saluran kemih secara sisitematik,
analisis dan interpretasi yang terus menerus untuk digunakan dalam
perencanaan penerapan dan evaluasi suatu tindakan yang
Pengertian berhubungan dengan kesehatan yang di desiminasikan secara
berkala kepada pihak-pihak yang memerlukan.
4. Surveilens Ventilator Aquired Pneumonia ( VAP ) adalah
pengumpulan data kejadian infeksi pneumonia yang didapat lebih
dari 48 jam setelah menggunakan ventilasi mekanik secara
sistematik,analisis dan interpretasi yang terus menerus untuk
digunakan dalam perencanaan penerapan dan evaluasi suatu
tindakan yang berhubungan dengan kesehatan yang didesiminasikan
secara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukan.
5. Surveilens Hospital Aquired Pneumonia (HAP) adalah
pengumpulan data kejadian infeksi saluran napas bawah, mengenai
parenkim paru tidak diintubasi yang terjadi lebih dari 48 jam hari
rawat dan tidak dalam masa inkubasi secara sistematik,analisis dan
interpretasi yang terus menerus untuk digunakan dalam peren
canaan penerapan dan evaluasi suatu tindakan yang berhubungan
dengan kesehatan yang didesiminasiakan secara berkala kepada
pihak-pihak yang memerlukan.
6. Surveilens Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah pengumpulan data
kejadian infeksi akibat tindakan pembedahan yang dapat mengenai :
a.Superfisial (Superficial Incicional Site) : ILO yang terjadi 30 hari
setelah pembedahan, dan hanya mengenai kulit dan jaringan sub
kutan.
b. Profunda ( Deep Incicional) :ILO yang terjadi 30 hari setelah
tindakan pembedahan bila tidak ada pemasngan implan atau infeksi
terjadi dalam satu tahun bila ada pemasangan implan,mengenai
jaringan lunak dalam dari tempat insisi (faskia dan otot).
c.Organ/rongga : ILO yang terjadi 30 hari pasca bedah tanpa implan
atau 1 tahun pasca bedah apbila terdapat implan, mengenai semua
organ yang dimanipulasi selama operasi kecuali jaringan lunak
superficial dan dalam.
1. Mengetahui data dasar infeksi rumah sakit
2. Pemantauan masalah dan pola infeksi
3. Kewaspadaan dini dslsm mengidentifikasi kejadiaan luar biasa
(outbreak) dan cara penanggulangannya
Tujuan :
4. Mendapatkan informasi epidemiologi sebagai dasar tindakan
pencegahan dan pengendalian infeksi untuk menurunkan insiden dan
resiko
5. Mengetahui pola kuman di RS
1. Surveilens infeksi rumah sakit dilaksanakan oleh IPCN puma waktu
dan IPCLN disetiap ruangan lain beresiko terhadap terjadinya
infeksi dirumah sakit.
2. Surveilens dilakukan pada pasien yang dirawat atau mendapat
tindakan yang berisiko terjadinya infeksi rmah sakit.
Kebijakan :
3. Perlu dibentuk koordinator surveilens sesusai jenis parameter infeksi
(IADP, ISK ,VAP dan HAP, serta ILO).
4. Dalam pelaksanaan surveilens ditentuken : what ( jenis infeksi
rumah sakit), when (kapan terjadinya infeksi), where (tempat unit
perawatan), dan who (umur , jenis kelamin, dan faktor resiko lain.
A. Surveilens IADP
Langkah-langkah
1. Siapkan formulir surveilens dan alat tulis yang akan digunakan untuk
mendata pasien yang akan disurvei
2. Tentukan ruangan yang akan disurvei
3. Catat nama, no medik,diagnosapenyakit dan identitas lain dari pasien
yang akan disurvei dalam formulir surveilens
4. Catat tanggal di lakukan tindakan serta lama tindakan.
5. Observasi tempat dan lokasi insersi intra vaskuler
Prosedur : 6. Observasi adanya tanda-tanda infeksi yang meliputi adanya
pembengkakan, kemerahan, panas area insersi, dan adanya rasa nyeri
7. Apabila ditemukan tanda-tanda infeksi tersebut segera lakukan
pemeriksaan kultur (darah atau ujung kateter infus)
8. Apabila hasil kultur positif dilaporkan ulang ke IPCO untuk
menentukan adanya IADP
9. Dokumentasikan kejadian IADP yang ditemukan ke formulir
surveilens yang diletakkan dalam status pasien, formulir harian dan
formulir bulanan Surveilens Infeksi Rumah Sakit.

B. Surveilens ISK
Langkah-langkah:
1. Siapkan formulir surveilens dan alat tulis yang akan digunakan
untuk mendata pasien yang akan disurvei
2. Tentukan ruangan yang akan disurvei
3. Catat nama, no medik,diagnosapenyakit dan identitas lain dari pasien
yang akan disurvei dalam formulir surveilens
4. Catat tanggal di lakukan tindakan serta lama tindakan.
5. Observasi tempat dan lokasi pemasangan dower kateter atau tindakan
aseptik lain
6. Observasi adanya tanda-tanda infeksi yang meliputi peningkatan
suhu badan › 38 ˚c, anyang –anyangan,polakisuri,disuri,atau nyeri
suprapubik, catat dan laporkan pada IPCO untuk menetapkan apakah
benar terjadi infeksi saluran kemih.
7. Apabiala ditemukan tanda –tanda infeksi tersebut segera lakukan
pemeriksaan kultur urine dari selang kateter
8. Apabila hasil kultur positif dilaporkan ulang ke IPCO untuk
menentukan adanya ISK
9. Dokumentasikan kejadian IADP yang ditemuken ke formulir
surveilens yang diletakkan dalam status pasien, Formulir Harian, dan
Formulir Bulanan Surveilens Infesksi Rumah Sakit.

C. Surveilens VAP dan HAP


Langkah – langkah :
1. Siapkan formulir surveilens dan alat tulis yang akan digunakan
untuk mendata pasien yang akan disurvei
2. Tentukan ruangan yang akan disurvei
3. Catat nama, no medik,diagnosapenyakit dan identitas lain dari pasien
yang akan disurvei dalam formulir surveilens
4. Catat tanggal di lakukan tindakan serta lama tindakan.
5. Observasi adanya tanda-tanda infeksi yang meliputi peningkatan suhu
badan › 38 ˚c, produksi sputum banyak dan purulen, bunyi pernafasan
menurun / pekak, ronchi basah daerah paru, adanya batuk,
peningkatan leukosit ( pemeriksaan hapus sputum C 25 /LPK ), atau
hasil Xray adanya infiltrat paru
6. Apabila ditemukan tanda – tanda infeksi tersebut segera lakukan
pemeriksaan kultur sputum disekitar ETT ( VAP ), atau kultur sputum
melalui batuk efektif ( HAP )
7. Apabila hasil kultur positif dilaporkan ulang ke IPCO untuk
menemukan adanya VAP / HAP
8. Dokumentasikan kejadian VAP / HAP yang ditemukan ke formulir
surveilans yang dilakukan dalam status pasien, formulir harian dan
formulir bulanan surveilans infeksi rumah sakit

D. Surveilans ILO
Langkah – langkah :
1. Siapkan formulir surveilens dan alat tulis yang akan digunakan untuk
mendata pasien yang akan disurvei
2. Tentukan ruangan yang akan disurvei
3. Catat nama, no medik,diagnosapenyakit dan identitas lain dari pasien
yang akan disurvei dalam formulir surveilens
4. Catat tanggal di lakukan tindakan serta lama tindakan.
5. Observasi adanya tanda – tanda infeksi yang meliputi :
a. Superfisial : adanya nyeri atau tenderness, bengkak lokal,
kemerahan atau panas, keluarnya cairan purulen dari area insisi
b. Deep insisional ( Insisional dalam ) : Keluarnya cairan purulen
dari jaringan lunak dalam dan bukan dari organ, ditemuakn abses,
adanaya peningkatan suhu tubuh › 38˚C, atau nyeri / tenderness
c. Organ / rongga : Adanya cairan purulen melalui stab wound pada
organ / rongga dan abses
6. Apabila ditemukan tanda-tanda infeksi tersebut, segera lakukan
pemeriksaan kultur luka operasi dengan teknik aseptik
7. Apabila hasil kultur positif dilaporkan ulang ke IPCO untuk
menentukan adanya ILO
8. Dokumentasikan kejadian ILO yang dilakukan formulir surveilans
yang diletakkan dalam status pasien, formulir harian, formulir
bulanan, surveilans infeksi rumah sakit
 Instansi Rawat Inap
 Instansi Rawat Jalan
 IGD
Unit Tekait :
 Instalasi Kamar Operasi
 Sub Instalasi Reanimasi
 Haemodialisa
1. Buku Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit
Lampiran 2. Formulir Surveilans ( Harian Bulanan )
3. Lembar Laporan Infeksi Nasokomial