Anda di halaman 1dari 43

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini

menduduki peringkat tertinggi serta terjadi pergeseran pola penyakit di

masyarakat yang awalnya penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif.

Tingginya prevalensi penyakit degeneratif salah satunya yang menjadi masalah

kesehatan adalah hipertensi. Hipertensi dapat terjadi pada setiap orang baik tua

maupun muda. Pemerintah melalui BPJS Kesehatan mencanangkan program

pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) yang ditujukan pada pasien dengan

kasus hipertensi untuk mengatasi kondisi hipertensi pasien. Aktifitas dalam

PROLANIS meliputi aktifitas konsultasi medis atau edukasi, home visit,

Reminder, aktifitas klub (BPJS Kesehatan, 2014). Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang didapatkan sudah adanya Program

Pengelola Penyakit Kronis (PROLANIS) dari BPJS Kesehatan tetapi masih ada

banyaknya pasien dengan kasus hipertensi, tidak rutin berkunjung setiap

bulannya, tidak kontrol, dan kurang seperti yang di harapkan.

Data WHO 2013 didapatkan bahwa 79% masyarakat beresiko mengalami

hipertensi, dan 67% masyarakat di Dunia positif mengalami hipertensi dengan

tekanan darah yang relatif tinggi (WHO, 2013). Indonesia kasus hipertensi

merupakan kasus yang banyak dialami khususnya pada usia tua. Dari data survey

kesehatan masyarakat didapatkan bahwa hipertensi masih mendominasi kasus

penyakit di Indonesia yaitu dengan 59% kejadian (Profil Kesehatan, 2014). Dari

1
2

data laporan bulanan Dinkes Propinsi Jawa Timur didapatkan bahwa kasus

hipertensi masuk dalam 10 besar penyakit teratas dengan 65% kasus. Dari Data

Dinkes Jombang 2015 didapatkan bahwa kasus hipertensi berada pada 10 besar

penyakit teratas, yaitu pada laki-laki 48,20% dan perempuan 30,91%. Dari studi

pendahuluan yang dilakukan peliti di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten

Jombang pada tahun 2016 didapatkan bahwa 3.361 pasien dengan kasus

hipertensi.

Hipertensi disebabkan oleh beberapa faktor yang meningkatkan resiko

hipertensi yaitu gaya hidup, makanan siap saji, obesitas, merokok, dan alkohol.

Masalah yang biasa muncul pada klien dengan hipertensi adalah gangguan

intoleransi aktifitas, nyeri (sakit kepala), resiko tinggi terhadap cedera, dan

defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Apabila tidak

dikelola dengan baik hipertensi dapat menimbulkan komplikasi seperti stroke,

penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, gagal ginjal

(BPJS Kesehatan, 2014).

Pemerintah melalui BPJS Kesehatan mengupayakan salah satu program

untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui program pengelolaan penyakit

kronis (PROLANIS). Tujuan dari kegiatan program pengelolaan penyakit kronis

adalah untuk mendorong peserta penyandang penyakit kronis khususnya

Hipertensi mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator 75% peserta

terdaftar yang berkunjung ke fasilitas tingkat pertama memiliki hasil baik pada

pemeriksaan spesifik terhadap Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi sesuai

panduan klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit

(BPJS Kesehatan, 2014). Sasaran dalam PROLANIS adalah seluruh peserta BPJS
3

Kesehatan penyandang penyakit kronis seperti Diabetes Melitus Tipe 2 dan

Hipertensi (BPJS Kesehatan, 2014). Dengan berjalannya program tersebut akan

dapat mengatasi kasus hipertensi yang dialami oleh pasien, sebaliknya tidak

berjalannya program tersebut maka kasus hipertensi akan teratasi lebih lama

karena program tersebut dapat sebagai screning kasus hipertensi dan sebagai

media evaluasi sejauh mana kasus hipertensi tersebut dialami oleh masyarakat.

Perlu peran dari berbagai pihak, baik dari tenaga kesehatan yang hendaknya

mengupayakan program pengelolaan penyakit kronis tersebut berjalan sehingga

dapat mengatasi kasus hipertensi pasien, dengan menggunakan metode promotif,

prefentif, kuratif, dan rehabilitatif. Dalam program tersebut tenaga kesehatan

dapat melakukan promotif dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit yang

dialami, prefentif dengan memberikan penyuluhan tentang pencegahan yang harus

dilakukan klien seperti melaksanakan diet rendah garam dan tinggi kalium dengan

tidak mengkonsumsi makanan dengan rasa asin dan sering mengonsumsi buah

seperti jeruk. Tindakan kuratif dapat dilakukan dengan kolaborasi dalam

pemberian terapi. Serta rehabilitatif dapat dilakukan dengan memberi dukungan

pada pasien untuk sembuh, serta mengembalikan kondisi pasien seperti sebelum

sakit (BPJS Kesehatan, 2014). Dari pasien hendaknya lebih aktif dalam mengikuti

program tersebut sehingga dapat mengatasi hipertensi yang dilihat dari normalnya

tekanan darah.
4

1.2 Rumusan Masalah

Apakah Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) efektif

terhadap penurunan tekanan darah pasien Hipertensi berbasis teori caring di

Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Mengidentifikasi efektifitas Program Pengelolaan Penyakit Kronis

(PROLANIS) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi berbasis

teori caring di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengidentifikasi pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis

(PROLANIS) di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten

Jombang tahun 2017.

2. Mengindentifikasi penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi di

Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017.

3. Menganalisis efektifitas pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit

Kronis (PROLANIS) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien

Hipertensi berbasis teori caring di Puskesmas Bandarkedungmulyo

Kabupaten Jombang tahun 2017.


5

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Teoritis

Mengembangkan ilmu keperawatan terkait dengan efektifitas pelaksanaan

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) terhadap penurunan tekanan

darah pada pasien Hipertensi berbasis teori caring.

1.4.2 Praktis

Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pelayanan kesehatan

guna meningkatkan mutu dari pelayanan kesehatan, sehingga diharapkan dapat

memberikan masukan informasi dan pengetahuan tenaga kesehatan tentang

efektifitas pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS)

terhadap penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi, dan dapat menambah

wawasan yang lebih luas untuk melaksanakan penelitian yang lebih lanjut.
6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Program Pengelolaan Penyakit Kronis

2.1.1 Pengertian program pengelolaan penyakit kronis

PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan

proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan peserta, fasilitas

kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan dalam

rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita

penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya

pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2014).

2.1.2 Tujuan program pengelolaan penyakit kronis

Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup

optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke fasilitas

tingkat pertama memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap Diabetes

Melitus Tipe 2 dan Hipertensi sesuai panduan klinis terkait sehingga dapat

mencegah timbulnya komplikasi penyakit (BPJS Kesehatan, 2014).

2.1.3 Sasaran program pengelolaan penyakit kronis

Sasaran dalam PROLANIS adalah seluruh peserta BPJS Kesehatan

penyandang penyakit kronis seperti Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi (BPJS

Kesehatan, 2014).
7

2.1.4 Bentuk pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis

Aktifitas dalam PROLANIS meliputi aktifitas konsultasi medis atau

edukasi, home visit, Reminder, aktiftas klub dan pemantauan status kesehatan

(BPJS Kesehatan, 2014).

2.1.5 Penanggungjawab program pengelolaan penyakit kronis

Penanggungjawab adalah kantor cabang BPJS Kesehatan bagian

Manajemen Pelayanan Primer (BPJS Kesehatan, 2014).

2.1.6 Langkah pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis

Persiapan pelaksanaan PROLANIS:

1. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan:

a. Hasil skrining riwayat kesehatan

b. Hasil diagnosa Diabetes Melitus dan Hipertensi (pada fasilitas

tingkat pertama maupun Rumah Sakit)

2. Menentukan target sasaran

3. Melakukan pemetaan fasilitas kesehatan Dokter keluarga atau

Puskesmas berdasarkan distribusi target sasaran peserta

4. Menyelenggarakan sosialisasi PROLANIS kepada fasilitas pengelola

5. Melakukan pemetaan jejaring fasilitas kesehatan pengelola (apotek,

laboratorium)

6. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring fasilitas kesehatan untuk

melayani peserta PROLANIS

7. Melakukan sosialisasi PROLANIS kepada peserta (instansi,

pertemuan kelompok pasien kronis di Rumah Sakit, dan lain-lain)

8. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus

Tipe 2 dan Hipertensi untuk bergabung dalam PROLANIS


8

9. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dalam form

kesediaan yang diberikan oleh calon peserta PROLANIS

10. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta

terdaftar PROLANIS

11. Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar

12. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta PROLANIS

13. Melakukan distribusi data peserta PROLANIS sesuai fasilitas

kesehatan pengelola

14. Bersama dengan fasilitas kesehatan melakukan rekapitulasi data

pemeriksaan status kesehatan peserta, meliputi pemeriksaan GDP,

GDPP, tekanan darah, IMT, HbA1C. Bagi peserta yang belum pernah

dilakukan pemeriksaan, harus segera dilakukan pemeriksaan

15. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal

peserta per fasilitas kesehatan pengelola (data merupakan luaran

aplikasi P-Care)

16. Melakukan monitoring aktifitas PROLANIS pada masing-masing

fasilitas kesehatan pengelola:

a. Menerima laporan aktifitas PROLANIS dari fasilitas kesehatan

pengelola

b. Menganalisa data

17. Menyusun umpan balik kinerja fasilitas kesehatan PROLANIS

18. Membuat lapoan kepada Kantor Divisi Regional atau Kantor Pusat

(BPJS Kesehatan, 2014).


9

2.1.7 Aktivitas program pengelolaan penyakit kronis

1. Konsultasi medis peserta PROLANIS: jadwal konsultasi disepakati

bersama antara peserta dengan fasilitas kesehatan pengelola

2. Edukasi kelompok peserta PROLANIS

a. Definisi: Edukasi Klub Risti (Klub PROLANIS) adalah kegiatan

untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan dalam upaya

memulihkan peyakit dan mencegah timbulnya penyakit serta

meningkatkan status kesehatan bagi peserta PROLANIS

b. Sasaran: terbentuknya kelompok peserta (Klub) PROLANIS

minimal 1 fasilitas kesehatan pengelola 1 Klub. Pengelola

diutamakan berdasarkan kondisi kesehatan peserta dan

kebutuhan edukasi

c. Langkah–langkah:

1) Mendorong fasilitas kesehatan pengelola melakukan

identifikasi peserta terdaftar sesuai tingkat severitas

penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi yang

disandang.

2) Memfasilitasi koordinasi antara fasilitas kesehatan

pengelola dengan organisasi Profesi atau Dokter Spesialis

diwilayahnya

3) Memfasilitasi penyusunan kepengurusan dalam Klub

4) Memfasilitasi penyusunan kriteria duta PROLANIS yang

berasal dari peserta. Duta PROLANIS bertindak sebagai

motivator dalam kelompok PROLANIS (membantu

fasilitas kesehatan pengelola melakukan proses edukasi

bagi anggota Klub)


10

5) Memfasilitasi penyusunan jadwal dan rencana aktifitas

Klub minimal 3 bulan pertama

6) Melakukan monitoring aktifitas edukasi pada masing-

masing fasilitas kesehatan pengelola:

a) Menerima laporan aktifitas edukasi dari fasilitas

kesehatan pengelola

b) Menganalisa data

7) Menyusun umpan balik kinerja fasilitas kesehatan

PROLANIS

8) Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional atau

Kantor Pusat dengan tembusan kepada Organisasi Profesi

terkait diwilayahnya

3. Reminder melalui SMS Gateway

a. Definisi: Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta

untuk melakukan kunjungan rutin kepada fasilitas kesehatan

pengelola melalui pengingatan jadwal konsultasi ke fasilitas

kesehatan pengelola tersebut

b. Sasaran: Tersampaikannya Reminder jadwal konsultasi peserta

ke masing-masing fasilitas kesehatan pengelola

c. Langkah–langkah

1) Melakukan rekapitulasi nomor handphone peserta

PROLANIS atau keluarga peserta per masing-masing

fasilitas kesehatan pengelola

2) Entri data nomor handphone kedalam aplikasi SMS

Gateway
11

3) Melakukan rekapitulasi data kunjungan per peserta per

fasilitas kesehatan pengelola

4) Entri data jadwal kunjungan per peserta per fasilitas

kesehatan pengelola

5) Melakukan monitoring aktifitas Reminder (melakukan

rekapitulasi jumlah peserta yang telah mendapat

Reminder)

6) Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peseta yang

mendapat Reminder dengan jumlah kunjungan

7) Membuat laporan kepada Kantor Devisi Regional atau

Kantor Pusat

4. Home Visit

a. Definisi: Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke

rumah peserta PROLANIS untuk memberikan informasi atau

edukasi diri dan lingkungan bagi peserta PROLANIS dan

keluarga

b. Sasaran: peserta PROLANIS dengan kriteria

1) Peserta baru mendaftar

2) Peserta tidak hadir terapi di Dokter Praktik Perorangan

atau Klinik atau Puskesmas 3 bulan berturut-turut

3) Peserta dengan GDP atau GDPP di bawah standar 3 bulan

berturut-turut (PPDM)

4) Peserta dengan tekanan daerah tidak terkontrol 3 bulan

berturut-turut (PPHT)

5) Peserta pasca opname


12

c. Langkah–langkah

1) Melakukan identifikasi sasaran peserta yang perlu

dilakukan Home Visit

2) Memfasilitasi fasilitas kesehatan pengelola untuk

menetapkan waktu kunjungan

3) Bia perlu, dilakukan pendampingan pelaksanaan Home

Visit

4) Melakukan administrasi Home Visit kepada fasilitas

kesehatan pengelola dengan berkas sebagai berikut:

a) Formulir Home Visit yang mendapat tanda tangan

peserta atau keluarga peserta yang dikunjungi

b) Lembar tindak lanjut dari Home Visit atau lembar

anjuran fasilitas kesehatan pengelola

5) Melakukan monitoring aktifitas Home Visit (melakukan

rekapitulasi jumlah peserta yang telah mendapat Home

Visit

6) Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang

mendapatkan Home Visit dengan jumlah peningktan angka

kunjungan dan status kesehatan peserta

7) Membuat laporan kepada Kantor Devisi Regional atau

Kantor Pusat (BPJS Kesehatan, 2014).

2.1.8 Hal–hal yang perlu mendapatkan perhatian

1. Pengisian formulir kesediaan bergabung dalam PROLANIS oleh calon

peserta PROLANIS harus. Peserta PROLANIS harus sudah dapat


13

menjelaskan tentang program dan telah menyatakan kesediaan untuk

bergabung

2. Validasi kesesuaian diagnosis medis calon peserta. Peserta

PROLANIS adalah peserta BPJS Kesehatan yang telah terdiagnosa

Diabetes Melitus Tipe 2 dan atau Hipertensi oleh Dokter Spesialis di

fasilitas kesehatan tingkat lanjut

3. Peserta yang telah terdaftar dalam PROLANIS harus dilakukan proses

entri data dan pemberian flag peserta didalam aplikasi kepesertaan.

Demikian pula dengan peserta yang keluar dari program

4. Pencatatan dan pelaporan menggunakan aplikasi Pelayanan Primer (P-

Care) (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2 Konsep Hipertensi

2.2.1 Pengertian hipertensi

Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah arteri yang persisten (Nanda,

2015).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara menetap > 140 / 90

mmHg. Hipertensi yang tidak terkontrol atau tidak diobati, dapat menimbulkan

komplikasi dan kematian prematur (BPJS Kesehatan, 2014).

2.2.2 Etiologi hipertensi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan :


1. Hipertensi primer (esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya

Faktor yang mempengaruhinya yaitu genetik, lingkungan, hiperaktifitas

saraf simpatis sistem renin. Angiotensin dan peningkatan Na + Ca


14

intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko obesitas, merokok,

alkohol dan polisitemia.


2. Hipertensi sekunder
Penyebab yaitu penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom

cushing dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.


(Nanda, 2015)

2.2.3 Manifestasi klinis hipertensi

Tanda dan gejala pada hipertensi dapat dibedakan menjadi:


1. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang sepesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh

peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang

memeriksa. Hal ini berarti hipertensi tidak akan pernah terdiagnosa jika

tekanan arteri tidak teratur

2. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelemahan. Dalam kenyataannya ini merupakan

gejala lazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan

medis.

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu: mengeluh sakit

kepala atau pusing, lemas kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual muntah,

epistaksis, dan kesadaran menurun.

(Nanda, 2015)

2.2.4 Klasifikasi hipertensi


15

Diagnosis hipertensi ditegakkan bila tekanan darah > 140 / 90 mmHg.

Tingkatan hipertensi ditentukan berdasarkan ukuran tekanan darah sistolik dan

diastolik.

Kategori TD Sistolik TD Diastolik


Optimal <120 < 80
Normal 120-129 80-84
Normal tinggi 130-139 85-89
Hiertensi tingkat I 140-159 90-99
Hipertensi tingkat II 160-179 100-109
Hipertensi tingkat III >180 >110
Hipertensi isolated systolic > 140 < 90

Sumber : Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi, 2014

2.2.5 Patofisiologi hipertensi

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan

pada setiap detiknya. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku,

sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah

melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk

melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya

tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah

menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah

juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola)

untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di

dalam darah. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan

meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal

sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh.

Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat

(Wirawan, 2013).
16

2.2.6 Komplikasi hipertensi

Komplikasi yang terjadi pada kasus hipertensi:

1. Penyakit serebrovaskuler: stroke, gangguan kognetif

2. Penyakit jantung koroner, IMA, dan gagal jantung

3. Penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal

4. Retinopati (kerusakan retina) hingga kebutaan

5. Penyakit pembunuh darah perifer termasuk impotensi

(BPJS Kesehatan, 2014)

2.2.7 Masalah yang lazim muncul

1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan,

ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen


2. Nyeri akut (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan

vaskuler serebral dan iskemia


3. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit

lapang pandang, motorik atau persepsi


4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
(Nanda, 2015)

2.2.8 Discharge planning

1. Jelaskan klien agar berhenti merokok, kandungan nikotin memicu

terjadinya aterosklerosis
2. Ajarkan klien untuk mempertahankan gaya hidup sehat
3. Belajar untuk mengendalikan stres dan rileks
4. Batasi konsumsi alkohol bagi yang mengkonsumsi
5. Jika sudah menggunakan obat hipertensi teruskan penggunaannya

secara rutin
6. Batasi diet dan pengendalian berat badan
7. Diet garam
8. Periksa tekanan darah secara rutin
17

(Nanda, 2015)

2.2.9 Terapi farmakologik dan non farmakologik

1. Terapi non farmakologik melalui penerapan pola hidup sehat

a. Stop merokok

Edukasi pasien agar tidak merokok, berhenti merokok dan

menghindari asap rokok.

b. Gaya hidup aktif

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup aktif yaitu

melakukan latihan fisik sederhana minimal 30 menit setiap hari dapat

menurunkan resiko terjadinya hipertensi sebanyak 30-50%. Tahap

latihan fisik dapat dilakukan dengan melakukan pemanasan 10-15

menit, dengan anti kegiatan aerobik daya tahan tubuh dan kelenturan

serta melakukan pendinginan dengan peregangan otot 10-15 menit.

c. Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal

Sebanyak 30-65% penderita hipertensi tergolong obesitas,

mengurangi berat badan dapat menurunkan TD. Menghitung indek

masa tubuh IMT dapat dilakukan dengan:

IMT = berat badan (Kg)

Tinggi badan (m)2


Tabel IMT
Klasifikasi IMT (Kg/M2)
BB Kurang < 18,5
BB Normal 18,5-22,9
BB lebih 23
Beresiko 23-24,9
Obesitas I 25-29,9
Obesitas II >30

d. Makan gizi seimbang


18

Modifikasi diet terbukti dapat menurunkan TD pada pasien

hipertensi, prinsip diet yang dianjurkan adalah gizi seimbang,

pembatasan asupan natrium, serta cukup asupan kalium, kalsium dan

magnesium. Pedoman umum gizi seimbang, yaitu mengkonsumsi

beragam jenis bahan makanan, meliputi sumber karbohidrat 3-8 porsi

per hari, sayuran 2-3 porsi per hari, buah 3 – 5 porsi perhari, protein

nabati dan hewani masing-masing 2-3 porsi perhari, serta sedikit

garam dan gula.

e. Menurunkan asupan garam

Asupan natrium untuk mencegah hipetensi dan pada pre

hipertensi yang dianjurkan adalah < 100 mmol (2,4 g) perhari setara

dengan 6g (satu sendok teh) garam dapur (natrium klorida). Bagi

pasien dengan hipertensi, asupan nutrisi dibatasi lebih rendah lagi

menjadi 1,5 g per hari atau 3,5 gram per hari.

f. Membatasi konsumsi akohol

Jangan mulai mengkonsumsi alkohol. Satu mata analisis

menunjukkan bahwa alkohol seberapapun akan meningkatkan

hipertensi mengurangi alkohol pada penderita hipertensi yang bisa

minum alkohol akan menurunkan TD setara 2,8 mmHg.

2. Terapi farmakologik

a. Golongan diuretik

b. Golongan β-Blockers (BB)

c. Golongan Angiotensin Convertng Enzime Inhibitor (ACEI) dan

Angiotensin Receptor Blocker (ARB)


19

d. Golongan Calsium Channel Blocker (CCB)

e. Golongan anti hipertensi lain

(BPJS Kesehatan, 2014)

2.2.10 Monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan pasien hipertensi

1. Monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan pasien hipertensi

dilakukan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama

a. Pada pasien hipertensi tanpa komplikasi lakukan kontrol tekanan

darah dan tanda vital setiap bulan

b. Pada pasien hipertensi agar setiap tahun dilakukan pemeriksaan

untuk mendeteksi kemungkinan komplikasi

c. Pada pasien hipertensi dengan komplikasi hasul dilakukan

pemeriksaan lanjutan

d. FKTP harus melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang

tepat

2. Monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan

a. Data hasil pemeriksaan di FKTP per peserta PROLANIS

b. Data disimpulkan hasil pemeriksaan dan kondisi kesehatan per

individu

c. Laporan pemanfaatan obat kronis sesuai terapi

d. Format pelaporan dari kantor cabang

(BPJS Kesehatan, 2014)

2.3 Konsep Caring

2.3.1 Pengertian caring science


20

Caring science merupakan suatu orientasi human science dan kemanusiaan

terhadap proses, fenomena, dan pengalaman human caring. Caring science,

seperti juga science lainnya, meliputi seni dan kemanusiaan. Transpersonal

Caring mengakui kesatuan dalam hidup dan hubungan-hubungan yang terdapat

dalam lingkaran caring yang konsentrik s a mp ai dari individu, pada orang lain,

pada masyarakat, pada dunia, pada planet Bumi, pada alam semesta (Watson,

2004).

Watson (1988) dalam George (1990) mendefinisikan caring lebih dari

sebuah exisestensial philosophy yaitu memandang sebagai dasar spiritual,

caring adalah ideal moral dari keperawatan. Manusia akan eksistensi bila

dimensi spiritualnya meningkat ditunjukkan dengan penerimaan diri, tingkat

kesadaran diri yang tinggi, kekuatan dari dalam diri, intuitif. Caring sebagai

esensi dari keperawatan berarti juga pertanggungjawaban hubungan antara

perawat dan klien, dimana perawat membantu partisipasi klien, membantu

memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kesehatan.

Teori human caring yang dikembangkan oleh Watson antara tahun 1975-

1979, hanya berkisar pada sepuluh carative factors sebagai suatu kerangka untuk

memberikan suatu bentuk dan fokus terhadap fenomena keperawatan. Watson

menganggap istilah “factors” terlalu stagnant terhadap sensibilitasnya di masa

kini. Kemudian menawarkan suatu konsep yang lebih sesuai dengan evolusi

teorinya dan arahnya di masa depan. Konsep tersebut adalah “clinical caritas”

dan “caritas processes”, yang dianggapnya lebih cocok dengan ide-ide dan arah

perkembangan teorinya (Watson, 2004).

2.3.2 Paradigma keperawatan menurut watson


21

1. Keperawatan

Keperawatan adalah penerapan art dan human science melalui

transaksi transpersonal caring untuk membantu manusia mencapai

keharmonisan pikiran, jiwa dan raga yang menimbulkan self knowlegde,

self control, self care, dan self healing.

2. Klien

Klien adalah individu atau kelompok yang mengalami

ketidakharmonisan pikiran, jiwa dan raga, yang membutuhkan bantuan

terhadap pengambilan keputusan tentang kondisi sehat sampai sakitnya

untuk meningkatkan harmonisasi, self control, pilihan dan self

determination.

3. Kesehatan

Kesehatan adalah kesatuan dan keharmonisan didalam pikiran, jiwa

dan raga antara diri dengan orang lain dan antara diri dengan lingkungan.

4. Lingkungan

Lingkungan adalah dimana interaksi transpersonal caring terjadi

antara klien dan perawat.

2.3.3 Asumsi dasar science of caring

Watson mengidentifikasi banyak asumsi dan beberapa prinsip dasar dari

transpersonal caring. Watson meyakini bahwa jiwa seseorang tidak dapat

dibatasi oleh ruang dan waktu. Watson menyatakan tujuh asumsi tentang science

of caring. Asumsi dasar tersebut yaitu:


22

1. Caring dapat didemonstrasikan dan dipraktekkan dengan efektif

hanya secara interpersonal

2. Caring terdiri dari carative factors yang menghasilkan kepuasan

terhadap kebutuhan manusia tertentu

3. Efektif caring meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu

dan keluarga

4. Respon caring menerima seseorang tidak hanya sebagai dia saat ini,

tetapi juga menerima akan jadi apa dia kemudian

5. Lingkungan caring adalah sesuatu yang menawarkan perkembangan

dari potensi yang ada, dan di saat yang sama membiarkan sesorang

untuk memilih tindakan yang terbaik bagi dirinya saat itu

6. Caring lebih “health ogenic” daripada curing

7. Praktek caring merupakan sentral bagi keperawatan

2.3.4 Faktor carative dalam caring

Original carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi

clinical caritas processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka

(Watson, 2004), yaitu:

1. Menerapkan perilaku yang penuh kasih sayang dan kebaikan dan

ketenangan dalam konteks kesadaran terhadap caring

2. Hadir dengan sepenuhnya, dan mewujudkan dan mempertahankan

sistem keperacayaan yang dalam dan dunia kehidupan subjektif dari

dirinya dan orang dirawat


23

3. Memberikan perhatian terhadap praktik-praktik spiritual dan

transpersonal diri orang lain, melebihi ego dirinya

4. Mengembangkan dan mempertahakan suatu hubungan caring yang

sebenarnya, yang saling bantu dan saling percaya

5. Hadir untuk menampung dan mendukung ekspresi perasaan positif

dan negatif sebagai suatu hubungan dengan semangat yang dalam

dari diri sendiri dan orang yang dirawat

6. Menggunakan diri sendiri dan semua cara yang diketahui secara

kreatif sebagai bagian dari proses caring, untuk terlibat dalam

penerapan caring healing yang artistik

7. Terlibat dalam pengalaman belajar mengajar yang sebenarnya yang

mengakui keutuhan diri orang lain dan berusaha untuk memahami

sudut pandang orang lain

8. Menciptakan lingkungan healing pada seluruh tingkatan, baik fisik

maupun non fisik, lingkungan yang kompleks dari energi dan

kesadaran, yang memiliki keholistikan, keindahan, kenyamanan,

martabat, dan kedamaian

9. Membantu terpenuhinya kebutuhan dasar, dengan kesadaran caring

yang penuh, memberikan “human care essentials”, yang

memunculkan penyesuaian jiwa, raga dan pikiran, keholistikan, dan

kesatuan diri dalam seluruh aspek care dengan melibatkan jiwa dan

keberadaan secara spiritual


24

10. Menelaah dan menghargai misteri spritual, dan dimensi eksistensial

dari kehidupan dan kematian seseorang, “soul care” bagi diri sendiri

dan orang yang dirawat

2.3.5 Perilaku caring

Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI) yang didesain

oleh Watson dan Lea (1997) merupakan instrumen yang dikembangkan untuk

meneliti perilaku perawat (perilaku caring). Daftar dimensi caring tersebut

antara lain:

1. CDI 1: Membantu klien dalam ADL.

2. CDI 2: Membuat catatan keperawatan mengenai klien.

3. CDI 3: Merasa bersalah/menyesal kepada klien

4. CDI 4: Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu

5. CDI 5: Menjelaskan prosedur klinik

6. CDI 6: Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien

7. CDI 7: Duduk dengan klien

8. CDI 8: Mengidentifikasi gaya hidup klien

9. CDI 9: Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior

10. CDI 10: Bersama klien selama prosedur klinik

11. CDI 11: Bersikap manis dengan klien

12. CDI 12: Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien

13. CDI 13: Mendengarkan klien

14. CDI 14: Konsultasi dengan dokter mengenai klien

15. CDI 15: Menganjurkan klien mengenai aspek self care

16. CDI 16: Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien
25

17. CDI 17: Memberikan informasi mengenai klien

18. CDI 18: Mengukur tanda vital klien

19. CDI 19: Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi

20. CDI 20: Bersikap kompeten dalam prosedur klinik

21. CDI 21: Melibatkan klien dalam perawatan

22. CDI 22: Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik

23. CDI 23: Memberikan privasi kepada klien

24. CDI 24: Bersikap gembira dengan klien

25. CDI 25: Mengobservasi efek medikasi kepada klien

2.3.6 Proses keperawatan dalam teori caring

Watson (1979) menekankan bahwa proses keperawatan memiliki langkah-

langkah yang sama dengan proses riset ilmiah, karena kedua proses tersebut

mencoba untuk menyelesaikan masalah dan menemukan solusi yang terbaik.

Lebih lanjut Watson menggambarkan kedua proses tersebut sebagai berikut

(tulisan yang dimiringkan menandakan proses riset yang terdapat dalam proses

keperawatan):

1. Pengkajian

Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah menggunakan

pengetahuan dari literature yang dapat diterapkan, melibatkan

pengetahuan konseptual untuk pembentukan dan konseptualisasi kerangka

kerja yang digunakan untuk memandang dan mengkaji masalah dan

pengkajian juga meliputi definisi variabel yang akan diteliti dalam


26

memecahkan masalah Watson (1979) dalam Julia (1995) menjelaskan

kebutuhan yang harus dikaji oleh perawat yaitu:

a. Lower order needs (biophysical needs) yaitu kebutuhan untuk

tetap hidup meliputi kebutuhan nutrisi, cairan, eliminasi, dan

oksigenisasi

b. Lower order needs (psychophysical needs) yaitu kebutuhan

untuk berfungsi, meliputi kebutuhan aktifitas, aman, nyaman,

seksualitas

c. Higher order needs (psychosocial needs), yaitu kebutuhan

integritas yang meliputi kebutuhan akan penghargaan dan

beraffiliasi

d. Higher order needs (intrapersonal dan interpersonal needs),

yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri

2. Perencanaan

Perencanaan membantu untuk menentukan bagaimana variabel-

variabel akan diteliti atau diukur, meliputi suatu pendekatan konseptual

atau design untuk memecahan masalah yang mengacu pada asuhan

keperawatan serta meliputi penentuan data apa yang akan dikumpulkan

dan pada siapa dan bagaimana data akan dikumpulkan.

3. Implementasi

Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta

meliputi pengumpulan data.

4. Evaluasi
27

Merupakan metode dan proses untuk menganalisa data, juga untuk

meneliti efek dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi

hasil, tingkat dimana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah hasil

tersebut dapat digeneralisasikan.

2.3.7 Diagram cabang kebutuhan manusia menurut jean watson

Kebutuhan makanan dan cairan


Kebutuhan Biofisikal
Kebutuhan eliminasi
Kebutuhan ventilasi

Kebutuhan Psikofisikal Kebutuhan aktivitas dan istirahat


Kebutuhan seksualitas

Kebutuhan Psikososial Kebutuhan berprestasi


Kebutuhan berorganisasi

Intrapersonal-Interpersonal Kebutuhan aktualisasi diri

Gambar 2.1 cabang kebutuhan manusia menurut Jean Watson


28

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Faktor-faktor Hipertensi
resiko TD >140/90
hipertensi:
1. Obesitas
2. Merokok Aktifitas dalam
3. Alkohol PROLANIS meliputi:
4. Polisitemia 1. Aktifitas
konsultasi medis
atau edukasi
Program Pengelolaan 2. Home visit
Penyakit Kronis 3. Reminder,
Caring:
(PROLANIS) 4. Aktiftas klub
1. Pengkajian
(BPJS Kesehatan,
2. Perencanaan
2014).
3. Implementasi
4. Evaluasi
Efektif Tidak efektif

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Efektifitas Program Pengelolaan Penyakit Kronis


(PROLANIS) terhadap penurunan tekanan darah pasien Hipertensi
di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang
29

3.2 Penjelasan Kerangka Konsep

PROLANIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan meliputi aktivitas

yaitu aktifitas konsultasi medis atau edukasi, Home visit, Reminder, dan Aktiftas

klub. Faktor-faktor resiko hipertensi yaitu obesitas, merokok, alkohol, dan

polisitemia. Watson (1988) dalam George (1990) mendefinisikan caring lebih

dari sebuah exisestensial philosophy yaitu memandang sebagai dasar spiritual,

caring adalah ideal moral dari keperawatan. Caring dipengaruhi oleh Original

carative factors kemudian dikembangkan oleh Watson menjadi clinical caritas

processes yang menawarkan pandangan yang lebih terbuka (Watson, 2004).

Caring adalah sebuah proses yang memiliki beberapa fase yaitu pengkajian,

perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Sedangkan yang diteliti adalah

efektifitas program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS) terhadap

penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang.

3.3 Hipotesis

Hipotesis dalam suatu penelitian merupakan jawaban sementara penelitian,

patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam

penelitian tersebut (Notoatmojo, 2010).

Dari kajian diatas tersebut maka hipotesis dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

H1: Ada efektifitas program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS)

terhadap penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi di Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang


30

BAB 4

METODE PENELITIAN

Metode penelitian sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran dan

pengetahuan atau pemecahan suatu masalah pada dasarnya menggunakan metode

ilmiah (Notoatmodjo, 2010).

4.1. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini desain yang digunakan adalah kuantitatif korelasional

yang mengkaji hubungan antara variabel. Sampel perlu mewakili seluruh rentang

nilai yang ada. Penelitian korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan

korelatif antara variabel. Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa

variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain. Dengan minimal dua

variabel (Nursalam, 2013).

Rancangan penelitian yang digunakan model cross sectional yaitu jenis

penelitian yang menekankan waktu pengukuran atau observasi data variabel

independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat (Hidayat, 2010). Dalam

penelitian menggunakan penelitian korelasional yang meneliti tentang efektifitas

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) terhadap penurunan tekanan

darah pada pasien Hipertensi.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

4.2.1 Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai penyusunan proposal sampai dengan

penyusunan laporan akhir pada bulan Februari sampai Mei tahun 2017.

41
31

4.2.2 Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten

Jombang tahun 2017, alasan mengambil tempat penelitian di daerah itu karena

angka kejadian hipertensi jumlahnya banyak.

4.3 Populasi, Sampel dan Sampling

4.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Nursalam, 2013). Menurut

Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh pasien hipertensi di

Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017 berjumlah 40

orang.

4.3.2 Sampel

Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan

sebagai subyek penelitian (Nursalam, 2013). Sampel dalam penelitian ini adalah

pasien hipertensi di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahu

2017 berjumlah 36 orang.

Menurut Nursalam (2013) dalam penentuan besar sampel dapat digunakan

rumus :

N
n =
1  N (d) 2
Keterangan :
n = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d = tingkat signifikansi = 5 % = 0,05

1. Kriteria inklusi
32

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian pada

populasi target dan populasi terjangkau (Nursalam, 2013). Kriteria inklusi

dalam penelitian ini adalah:

a. Pasien Hipertensi di yang bersedia diteliti dan menandatangani

informed concent
b. Pasien Hipertensi yang tergabung dalam PROLANIS dan tidak

tergabung dalam PROLANIS di Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017

2. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah mengeluarkan sebagian subyek yang

memenuhi inklusi dari penelitian karena berbagai sebab (Nursalam, 2013).

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

c. Pasien Hipertensi di yang bersedia diteliti dan menandatangani

informed concent
d. Pasien Hipertensi yang tergabung dalam PROLANIS dan tidak

tergabung dalam PROLANIS di Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun 2017

4.3.3 Sampling

Sampling merupakan suatu proses dalam menyeleksi sampel yang

digunakan dalam penelitian (Hidayat, 2010). Sampling merupakan suatu proses

menyeleksi dari populasi untuk dapat mewakili. Teknik sampling yang digunakan

dalam penelitian ini adalah probability sampling dengan metode simple random

sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara acak tanpa memperhatikan strata

yang ada dalam anggota populasi (Hidayat, 2010).


33

4.4 Kerangka Kerja (Frame Work)

Identifikasi masalah

Populasi
Seluruh pasien Hipertensi di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun
2017 sebanyak 40 orang

Sampling
Simple random sampling

Sampel
Sebagian pasien Hipertensi di Puskesmas Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang tahun
2017 sebanyak 36 orang

Desain Penelitian
Analitik cross sectional

Pengumpulan Data
Rekam medis dan kuesioner

Variabel Independen Variabel Dependen


PROLANIS Penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi

Pengolahan data
Editing, Coding, Scoring, Tabulating

Analisa data
Uji wilcoxon

Penyusunan Laporan Akhir

Gambar 4.1: Kerangka kerja penelitian tentang efektifitas Program


Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) terhadap penurunan
tekanan darah pada pasien Hipertensi di tahun 2017
34

4.5 Identifikasi Variabel

Variabel adalah konsep dari berbagai level abstrak yang didefinisikan

sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran atau manipulasi suatu penenlitian

(Nursalam, 2016). Dalam penelitian ini dibedakan antara variabel independent dan

variabel dependent.

4.5.1 Variabel independent (bebas)

Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau nilainya

menetukan variabel lain (Nursalam, 2016). Variabel independent pada penelitian

ini adalah Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS).

4.5.2 Variabel Dependent (terikat)

Variabel dependen merupakan variabel yang nilainya dipengaruhi oleh

variabel lain (Nursalam, 2016). Variabel dependent dalam penelitian ini adalah

penurunan tekanan darah pada pasien Hipertensi.

4.6 Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu definisi berdasarkan karakteristik yang diamati

dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (diukur)

itulah yang merupakan kunci definisi operasional (Nursalam, 2016).


35

Tabel 4.1 Definisi Operasional efektifitas program pengelolaan penyakit kronis


(PROLANIS) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien
Hipertensi di tahun 2017

Definisi Alat
Variabel Parameter Skala Skor
Operasional ukur
Independent: Suatu sistem Pelaksanaan Rekam Nominal 1. Efektif: Bila
PROLANIS pelayanan dalam medik aktivitas
kesehatan PROLANIS PROLANIS
dan meliputi: terlaksana
pendekatan 1. Aktifitas 100 %
proaktif yang konsultasi jumlah > 6
dilaksanakan medis atau 2. Kurang
secara edukasi Efektif: Bila
terintegrasi 2. Home visit aktivitas
yang 3. Reminder PROLANIS
melibatkan 4. Aktiftas klub terlaksana
Peserta, 60% jumlah
Fasilitas 6
Kesehatan 3. Tidak
dan BPJS Efektif:Bila
Kesehatan aktifitas
PROLANIS
terlaksana <
30% jumlah
3

Variabel Penurunan 1. Naik jika Tensi Ordinal 1. Naik jika


dependent: perubahan tekanan meter tekanan
Penurunan tekanan darah lebih darah lebih
tekanan darah darah dari tinggi dari tinggi dari
pada pasien tinggi ke pengukuran pengukuran
Hipertensi lebih rendah pertama. pertama.
pada pasien 2. Menurun Kode 1
Hipertensi jika: tekanan 2. Tetap jika
sebelum dan darah lebih tekanan
sesudah rendah dari darah sama
mengikuti pengukuran dengan
PROLANIS pertama. pengukuran
3. Tetap jika pertama.
tekanan Kode 2
darah sama 3. Turun jika :
dengan tekanan
pengukuran darah lebih
pertama. rendah dari
pengukuran
pertama
Kode 3
36

4.7 Pengumpulan dan Analisa Data

4.7.1 Instrumen penelitian

Untuk membuat data yang relevan dengan tujuan penelitian, maka peneliti

menggunakan instrumen pengumpulan data berupa kuesioner. Kuesioner yaitu

suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah

dengan menyediakan pertanyaan kepada sejumlah obyek (Notoatmojo, 2010).

Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian, telah terlebih dahulu

dilakukan uji coba. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting

yaitu valid dan reliabel (Arikunto, 2010).

1. Uji Validitas

Pengujian yang pertama dilakukan adalah pengujian validitas

kuesioner. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya

suatu kuesioner (Arikunto, 2010). Suatu kuesioner dikatakan valid jika

pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang di

ukur oleh kuesioner tersebut. Untuk uji validitas menggunakan program

SPSS 16.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah suatu data yang memperlihatkan sejauh mana suatu

alat pengukur dapat dipercaya (Notoatmojo, 2010). Dengan kata lain,

reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur gejala

yang sama. Untuk mengetahui reliabilitas kuesioner, penelitian ini

menggunakan pendekatan pengukuran reliabilitas konsistensi internal

dengan menghitung koefisien alpha. Koefisien alpha ini berkisar antara 0

sampai 1 Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika memberikan


37

nilai cronchbach’s alpha > 0,6. Untuk uji reliabilitas menggunakan program

SPSS 16.

4.7.2 Prosedur penelitian atau proses penelitian

Sebelum melakukan pengumpulan data terlebih dahulu, prosedur yang

ditetapkan adalah sebagai berikut:

1. Mengurus izin penelitian kepada STIKES ICME Jombang.

2. Mengurus izin penelitian kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten

Jombang

3. Mengurus izin penelitian kepada Kepala Puskesmas

Bandarkedungmulyo Kabupaten Jombang Kabupaten Jombang.

4. Menjelaskan kepada calon responden tentang penelitian dan bila

bersedia menjadi responden dipersilahkan untuk menandatangani

informed consent.

5. Responden harus mengisi semua daftar pertanyaan dalam kuesioner

yang telah diberikan, dan jika telah selesai kuesioner diserahkan pada

peneliti.

6. Peneliti mengisi lembar observasi terkait kehadiran aktif PROLANIS

dan pemantauan tekanan darah.

7. Setelah kuesioner dan lembar observasi terkumpul, peneliti melakukan

tabulasi dan analisa data.

8. Terakhir dilakukan penyusunan laporan hasil penelitian.


38

4.7.3 Pengolahan data

Setelah kuesioner dari responder terkumpul, selanjutnya dilakukan

pengolahan data dengan cara sebagai berikut:

1. Editing

Editing adalah hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari

lapangan harus dilakukan penyuntinga (editing)terlebih dahulu. Secara

umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian

formulir atau kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2012).

2. Coding

Coding setelah kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

pengkodean atau coding yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf

menjadi data angka atau bilangan (Notoatmodjo, 2012).

Pada variabel independent pelaksanaan program pengelolaan

penyakit kronis. Bila mendapatkan program pengelolaan penyakit kronis

(PROLANIS):

1) Data umum

a. Responden

Responden 1 = R1

Responden 2 = R2

Responden 3 = R3, dst

b. Jenis Kelamin

Laki-laki = K1

Perempuan = K2
39

c. Umur

21-35 tahun = U1

36-45 tahun = U2

46-65 tahun = U3

>65 tahun = U4

d. Pendidikan

Tidak Sekolah = P1

SD = P2

SMP = P3

SMA = P4

Perguruan Tinggi = P5

e. Pekerjaan

Guru = S1

Petani = S2

Pedagang = S3

Wiraswasta = S4

2) Data khusus

Pada variabel independent pelaksanaan program pengelolaan

penyakit kronis:

a. Kode 1: Bila mendapatkan Program Pengelolaan Penyakit

Kronis (PROLANIS)

b. Kode 2: Bila tidak mendapatkan Program Pengelolaan Penyakit

Kronis (PROLANIS)
40

Pada variabel dependent penurunan tekanan darah pada pasien

Hipertensi.

a. Kode 1: Naik jika tekanan darah lebih tinggi dari pengukuran

pertama

b. Kode 2: Menurun jika tekanan darah lebih rendah dari

pengukuran pertama

c. Kode 3: Tetap jika tekanan darah sama dengan pengukuran

pertama

3. Skoring

Scoring adalah kegiatan penilaian hasil kuesioner yang dilakukan pada

responden (Nursalam, 2013).

Dari pengolahan data yang dilakukan kemudian dimasukkan dalam

tabel distribusi frekuensi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase

dan narasi. Kemudian dilakukan perbandingan antara pelaksanaan program

pengelolaan penyakit konis dengan penurunan tekanan darah pada pasien

hipertensi

Setelah data terkumpul pada lembar observasi kemudian dilakukan

analisis pelaksanaan PROLANIS terhadap penurunan tekanan darah

menggunakan pehitungan sebagai berikut :

Sp
N  x 100%
Sm

Keterangan :

N : Nilai yang didapat

Sp : Skor yang diperoleh

Sm : Skor tertinggi maksimum (Arikunto, 2002)


41

Keterangan :

90-100% : Mayoritas

70-89% : Sebagian besar

51-69% : Lebih dari sebagian

50% : Sebagian

< 50% : Kurang dari sebagian (Nursalam, 2008)

4. Tabulating

Tabulating adalah mengelompokkan data ke dalam satu tabel tertentu

menurut sifat-sifat yang dimiliki. Pada data ini dianggap bahwa data telah

diproses sehingga harus segera disusun pola format yang telah dirancang

(Nursalam, 2013).

4.7.4 Analisa data


1. Analisis univariat
Analisis ini dilakukan untuk melihat permasalahan pada masing-

masing variabel yang diamati melalui prosedur statistik deskriptif dilihat

kecenderungan pemusatan dari masing-masing variabel. Semua variabel

berskala dikotomi, kecenderungan pemusatan data dianalisis dengan cara

menentukan porsi dari masing-masing kategori. Pengamatan pada setiap

variabel, analisis univariat dengan melihat distribusi variabel dikotomi

dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

f
Keterangan
P= x: 100%
P N
: Prosentase
f : Jumlah responden berdasarkan karakteristik kategori
N : Jumlah seluruh responden (Budiarto, 2010)
42

Adapun hasil pengolahan data tersebut diinterprestasikan

menggunakan skala kumulatif (Arikunto, 2010):


100 % = Seluruhnya
76 % - 99 % = Hampir seluruhnya
51 % - 75 % = Sebagian besar dari responden
50 % = Setengah responden
26 % - 49 % = Hampir dari setengahnya
1 % - 25 % = Sebagian kecil dari responden
0% = Tidak ada satupun dari responden
2. Analisis bivariat
Analisis bivariat merupakan uji statistik yang digunakan untuk

variabel sikapi dilakukan uji statistik wilcoxon dengan tingkat signifikan

0,05 menggunakan SPSS 16 for windows untuk mengetahui ada tidaknya

perbedaan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel tergantung

(Sugiyono, 2010). Dimana pengambilan keputusan uji statistik ini yaitu: jika

 < 0,05 maka Ho (hipotesa nol) ditolak, artinya ada perbedaan sikap

setelah dan sebelum diberikan penyuluhan.

4.8 Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan kepada

Institusi Program Studi Sarjana I Keperawatan STIKES ICME Jombang untuk

mendapatkan persetujuan. Setelah itu baru melakukan penelitian pada responden

dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi:

4.8.1 Informed consent (lembar persetujuan)

Informed consent diberikan sebelum penelitian dilakukan pada subjek

penelitian. Subjek diberi tahu tentang maksud dan tujuan penelitian. Jika subjek

bersedia responden menandatangani lembar persetujuan.

4.8.2 Anonymity (tanpa nama)


43

Responden tidak perlu mencantumkan namanya pada lembar pengumpulan

data. Cukup menulis nomor responden atau inisial saja untuk menjamin

kerahasiaan identitas.

4.8.3 Confidentiality (kerahasian)

Kerahasian informasi responden dijamin oleh peneliti dengan cara tidak

menulis nama di daftar kuesioner serta memusnahkan lembar kuesioner setelah

peneliti mentabulasi data-data yang digunakan dalam penelitian dan hanya

kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil

penelitian.

4.9 Keterbatasan Penelitian

4.9.1 Keterbatasan waktu


Waktu penyebaran kuesioner hanya satu minggu. Hal ini membuat peneliti

kurang maksimal memperoleh data.


4.9.2 Responden kurang kooperatif
Waktu pembagian kuesioner ada beberapa responden yang kurang

kooperatif. Hal ini membuat hasil peneliti kurang maksiamal.