Anda di halaman 1dari 74

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Daftar isi

HEPATITIS, SIROSIS HEPATIS, & VARISES ESOPHAGUS

2

Pengajar

: dr. Sapto Priatmo, Sp. PD

Noters

: Dian Christi, Hana Kristina

Editor

: Evan Cahyadi

Korektor

: Arsenius Kennard

KOLESISTITIS, KOLELITIASIS, & PANKREATITIS

33

Pengajar

: dr. Sapto Priatmo, Sp. PD

Noters

: Maria Devita, Vanessa Veronica

Editor

: Jessica Videlya

Korektor

: Reynaldy Marpaung

PK: PEMERIKSAAN LABORATORIUM KELAINAN HEPAR & PANKREAS

49

Pengajar

: Dr. Y. Sri Nining Wuryaningsih, dr. Sp. PK

Noters

: Dennis Ariel, Vace Liansia

Editor

: Sinta Putri

Korektor

: Advent Nara

Screener: Michael Sinarta

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

HEPATITIS, SIROSIS HEPATIS, & VARISES ESOPHAGUS

HEPATITIS

Penyakit hepatitis merupakan suatu penyakit komplikasi, jadi apabila penyakit utama ( si penyebabnya itu sembuh), hepatitisnya juga bakal sembuh.

Fungsi hati :

1. Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein

Glikoneogenesis penyimpanan

Glukoneogenesis pembentukan

2. Sekresi

Bakal hasilkan bilirubin, kolesterol, pigmen, empedu kantong empedu

3. Eksresi bilirubin, obat, toksin

4. Sintesis albumin, faktor koagulasi

ditaruh di

Pada pasien yang punya penyakit hati, lebih gampang atau sering mengalami perdarahan sebab adanya defisiensi faktor koagulasi

Ada

albuminnya berkurang

lagi

pasien

yang

bakal

ditemukan

udem

atau

asites,

karena

5. Storage vitamin, karbohidrat, lemak, dsb

6. Detoksifikasi toksin, amonia, dsb

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Hampir semua makanan, obat-obatan, zat kimia akan di detoksifikasi di hati

Hepatitis itu merupakan inflamasi pada hati. Kausa penyebabnya bisa karena virus, alkohol, imun, obat dan toksin. Hepatitis ada tipe :

a. Akut < 6 bulan

b. Kronik > 6 bulan

c. Fullminan sudah terjadi exaserbasi yang lebih hebat, dari akut lalu terjadi perburukan yang hebat jadi fullminan, bisa terjadi gagal hati

Viral Hepatitis itu ada:

- Spesifik : banyak, ada A B C D E, nah ada juga F dan G tapi yang hepatitis virus F dan G sangat jarang ditemukan

- Sistemik : CMV, EBV, DB dll bisa sebabkan hepatitis

Spektrum

- Carrier state/ asimptomatik tidak ada keluhan, padahal setelah di cek hasilnya positif (+)

- Akut hepatitis

- Kronik, dibedakan jadi persisten (Chronic Persintent Hepatitis (CPH)) dan aktif (Chronic Active Hepatitis (CAH)). Nah yang aktif ini lebih bahaya karena bisa menyebabkan peradangan berulang-ulang dan jadi fibrosis.

- Fullminan hepatitis

- Sirosis

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- HCC (hepacellular carcinoma)

Gambaran Klinis

- Flu like syndrome kayak demam, pusing, linu-linu, mual muntah. Sedangkan pada pasien carier itu asimptomatik

- Sakit perut

- Mata kuning

- Kencing berwarna seperti teh

HEPATITIS A

- Berupa virus RNA

- Enterovirus (penyebaran lewat fecal oral)

- 4 genotip dan paling sering adalah grup 1

- Gejala klinis :

4 genotip dan paling sering adalah grup 1 - Gejala klinis : Semakin dewasa seseorang terserang

Semakin dewasa seseorang terserang Hepatitis A, maka akan semakin ikterik, soalnya ada juga orang yang terkena Hepatitis A tapi tidak/hanya sedikit ikterik kayak di anak-anak.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Pada hepatitis A tidak ada sequele kronik, jadi seseorang yang terkena hepatitis A, melewati fase kritis, trus sembuh, yaudah jadi sembuh, kecuali terserang lagi. Soalnya hepatitis A dibiarkan akan sembuh sendiri

- Serologi Hepatitis A

Seseorang terkena hepatitis A dicek/dites fesesnya ALT meningkat diikuti oleh IgM anti HAV (infeksi akut), IgM anti HAV akan bertahan ± 6 bulan sebagai antibodi akan diikuti oleh Total anti HAV (IgM dan IgG)

 akan diikuti oleh Total anti HAV (IgM dan IgG) Hati hati, dengan data IgM yang

Hati hati, dengan data IgM yang positif soalnya belum tentu masih ada virusnya, kan IgM anti HAV nya bakal masih ada sampai ira kira 6 bulan.

Total anti HAV ini juga akan bertahan seumur hidup. Jadi kalau ngecek SGPT/SGOT tinggi, total anti HAV juga tinggi, belum tentu positif Hepatitis A.

Nanti kalo IgM anti HAV nya positif, trus tapi SGPT nya negatif/ normal, berarti bukan infeksi, tapi pasca/post infeksi.

- Cara penularan Hepatitis A

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

a. Kontak personal ( misal dalam anggota keluarga, seksual, tempat penitipan anak) Hepatitis A sering menjadi wabah karena cepat menular

b. Kontaminasi air dan makanan

c. Terpapar darah yang terkontaminasi tapi jarang terjadi (misal penggunaan suntikan, tranfusi)

tapi jarang terjadi (misal penggunaan suntikan, tranfusi) - Pemeriksaan Laboratorium a. Infeksi akut  cek IgM

- Pemeriksaan Laboratorium

a. Infeksi akut cek IgM anti HAV

3-4 bulan setelah infeksi, dicek, SGPT-SGOT normal, IgM anti HAV nya positif gak papa, kan IgM anti HAV bertahan 6 bulan

b. Post infeksi IgG anti HAV

c. Kultur sel sulit dan butuh 4 minggu tidak rutin, biasanya buat penelitian aja

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

d.

Dteksi langsung PCR berupa pemeriksaan imunologi tingkat tinggi, lebih mahal, lebih lama prosesnya

- Strategi Vaksinasi Hepatitis A

Orang yang berisiko tinggi terinfeksi itu wisatawan/travelers, homoseksual, pengguna obat-obatan injeksi

Kasus

Kamu belum pernah vaksin hepatitis, trus ternyata punya temen deket atau anggota keluarga yang kena hepatitis A. Kamu bakal ngapain, perlu apa ?

Kamu harus disuntik Imunoglobulin. Jangan disuntik vaksin yaa, soalnya kan kamu berada dilingkungan yang terancam gampang kena hepatitis A, nah langsung suntik Imunoglobulin biar langsung bikin antibodi hepatitis A. Kalo vaksin, onset nya lama, tetep ketularan ntar. Cari yang instan kalo terdesak. Onset vaksin itu perlu 1 bulan buat ngebentuk antibodinya.

- Imunoglobulin untuk pencegahan Hepatitis A langsung cuss suntik ya

1. Pre exposure

Wisatawan/ travelers yang berkunjung ke daerah endemik HAV sedang- tinggi (kayak di Indonesia)

2. Post exposure (<14 hari)

Rutin kontak diantara anggota keluarga atau pasangan intim yang terinfeksi Situasi tertentu kayak di TPA, panti asuhan, asrama, trus disituasi yang terpapar makanan yang disiapkan oleh orang yang terinfeksi

HEPATITIS B

- Virus DNA double stranded

- Partikel DNA komplet terdiri: HBcAg dan HBeAg. Partikel paling luar (surface):

HBsAg

Inget prinsipnya yaa !

HBcAg anggapan ini sebagai virusnya

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

HBeAg menunjukkan adanya virus yang berreplikasi, kalo hasilnya positif berarti sangat infektif karena berperan dalam inflamasi

HBsAg istilahnya kayak pintu masuk, kalo hasilnya positif berarti terinfeksi

- Ada 4 Fenotip HBsAg

- Hepatitis B virus (HBV) diklasifikasikan menjadi 8 genotip (A-H) menentukan respon terhadap obat interferon

(A-H)  menentukan respon terhadap obat interferon - Gambaran Klinis Hepatitis B Kalo terkenanya pada

- Gambaran Klinis Hepatitis B

terhadap obat interferon - Gambaran Klinis Hepatitis B Kalo terkenanya pada anak-anak, sebagian besar akan menjadi

Kalo terkenanya pada anak-anak, sebagian besar akan menjadi kronik, sedangkan pada dewasa sedikit yang menjadi kronik. Jadi di Indonesia memberi

kebijakan adanya imunisasi Hepatitis B pada anak-anak.

- Spektrum Hepatitis B kronis

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

1. Chronic Persistent Hepatitis asimptomatik

2. Chronic Active Hepatitis simptomatik

3. Cirrhosis of Liver

4. Hepatocelluler Carcinoma

3. Cirrhosis of Liver 4. Hepatocelluler Carcinoma - Serologi Hepatitis B Hepatitis B Akut  belajarnya

-

Serologi Hepatitis B Hepatitis B Akut belajarnya sambil mantau grafiknya ya gengs Diawal hasil HbsAg positif tanda infeksi Hepatitis B

Diawal hasil HbsAg positif  tanda infeksi Hepatitis B Kalau imun tubuh bagus  HbsAg hilang

Kalau imun tubuh bagus HbsAg hilang setelah 24 minggu kemudian Kalau enggak bagus ya lanjut proses infeksi nya kayak gini :

Setelah 4 minggu akan

muncul HbeAg (tanda adanya infeksi ya to) Kenapa baru muncul di 4 minggu ? soalnya kan nanti virusnya bisa jadi enggak aktif/infektif, cuman masuk doang di tubuh. Setelah itu kalau imunnya bagus akan terbentuk anti Hbe.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

IgM anti Hbc menandakan bahwa infeksinya akut kalo sembuh (IgM anti Hbc hilang) bakal timbul IgG Anti Hbc. IgG anti Hbc yang positif menandakan pasca infeksi. IgM anti Hbc yang positif menandakan bahwa masih ada virus di tubuh. Kalo SGPT normal, anti Hbc positif tubuh sudah punya antibodi Hepatitis B. Apalagi total anti Hbc positif petanda pernah kena atau post infeksi. Anti Hbs positif menandakan bahwa pintu masuknya ketutup buat si virus udah kebal dari hepatitis B *) Vaksin Hepatitis B dilakukan sebanyak 3x yaa. Habis tu dipantau anti Hbs nya, udah terbentuk atau belum, kalau udah ya syukurlah, udah punya imun. Kalau belum, anti Hbs < 50 ya disuntik lagi

Hepatitis B Kronik

belum, anti Hbs < 50 ya disuntik lagi Hepatitis B Kronik kronis ya turun HbeAg bakal

kronis ya turun

HbeAg bakal sering positif terus sampai terbentuk anti Hbe. HbsAg akan positif terus menerus meskipun titer akan naik turun. Total anti Hbc akan positif terus menerus. IgM anti Hbc akan turun kan IgM tanda infeksi akut, kalo udah

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 - Pola infeksi Kronis HBV o High (>8%): ▪ Risiko infeksi

- Pola infeksi Kronis HBV

o

High (>8%):

Risiko infeksi sepanjang hidup >60%

Sering terjadi infeksi pada awal kehidupan anak makanya perlu imunisasi hepatitis B pada semua anak baru lahir

o

Intermediate (2%-7%):

Risiko infeksi sepajang hidup 20%-60%

Infeksi terjadi pada semua kelompok umur

o

Low (<2%):

Risiko infeksi sepajang hidup <20%

Sebagian besar Infeksi terjadi pd orang dewasa yg berisiko, anak anak jarang

- Konsentrasi Virus Hepatitis B pada cairan tubuh

jarang - Konsentrasi Virus Hepatitis B pada cairan tubuh - Cara penularan virus Hepatitis B o

- Cara penularan virus Hepatitis B

o

Sexual pekerja sex, homoseksual.

o

Parenteral Injeksi, transfusi darah, Petugas kesehatan.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

o Perinatal Bayi dari ibu dengan HBeAg positif. Merupakan penularan utama pada populasi dengan prevalensi HBV tingggi.

- Diagnosis (Prinsip lagi yaa, HAFALKAN)

o

HBsAg marker infeksi. Kayak pintu masuk

o

Anti-HBsAg sembuh/ post imunisasi Hepatitis B

o

anti-HBc IgM Infeksi akut.

o

anti-HBc IgG paska infeksi atau infeksi kronis tergantung HbsAg-nya

o

HBeAg virus aktif bereplikasi (sangat infektif)

o

Anti-Hbe virus sudah tidak bereplikasi. Namun mungkin HbsAg bisa masih positif, oleh karena itu perlu periksa HBV-DNA

o

HBV-DNA virus aktif bereplikasi. Lebih akurat dibanding HBeAg. Biasanya digunakan untuk monitor respon terapi, melihat jumlah virusnya. Kalo < 10 4 maka hanya diobservasi, kalo > 10 4 perlu diobati

- Terapi

o

Interferon: untuk HBeAg (+) kronik aktif hepatitis. Response rate: 30 to 40%.

o

Lamivudine: Respon terapi cukup baik, namun sering relap bila terapi dihentikan. Sering terjadi resistensi obat.

o

Adefovirudin: Resistensi lebih jarang dibanding lamivudin. Digunakan utk terapi HBV yang resisten lamivudin. Namun lebih mahal dan toksik

o

Entecavir :sama dengan Adefovir

o

Keberhasilan terapi dilihat dari: Hilangnya HBsAg, HBV-DNA, serokonversi HBeAg menjadi anti HBeAg positif.

- Pencegahan

o

Vaksinasi: rutin pada neonatus, petugas kesehatan atau orang berisiko

o

Hepatitis B Immunoglobulin: HBIG digunakan utk melindung orang yang terpapar hepatitis B < 48 jam. Juga digunakan pada neonatus yang lahir dari ibu HBsAg dan HBeAg positive.

o

Other measures: Skreening darah donor

HEPATITIS C

- Flavivirus (RNA genome)

- HCV terdiri dari 6 genotypes (type 1 to 6)

- Genotype 1 dan 4 mempunyai prognosis dan respon terapi buruk

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Kalo kena Hepatitis C akan menjadi kronik, karena yang fase akut jarang di ketahui

- Hypervariable region sulit dibuat vaksinnya, soalnya molekul virus hepatitis C selalu berubah-ubah jadi sampe sekarang gak ada vaksinnya

- Gambaran klinis

jadi sampe sekarang gak ada vaksinnya - Gambaran klinis - Chronic Hepatitis C Infection Spektrum infeksi

- Chronic Hepatitis C Infection Spektrum infeksi kronis hepatitis C sama dengan hepatitis B. Meskipun dengan frekuensi lebih rendah:

kronik Persisten Hepatitis

Kronik Aktif Hepatitis

Cirrhosis Hepatis

Hepatocellular Carcinoma

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Serologi Hepatitis C

Gangguan Gastrointestinal Week 4 - Serologi Hepatitis C - Penularan Hepatitis C ALT/SGPT tidak pernah normal,

- Penularan Hepatitis C

ALT/SGPT tidak pernah normal, akan selalu naik turun diatas normal, anti HCV akan positif terus menerus. Nah kalo SGPT positif dan anti HCV juga positif tandanya kronik

o

Transfusi atau transpalantasi dr donor yg terinfeksi

o

Penggunaan obat injeksi

o

Hemodialisis

o

Kontak seksual dg orang anti-HCV-positive

o

Berganti-ganti pasangan seksual

o

Anak yg lahir dari ibu yang terinfeksi HCV

- Laboratorium

o

HCV antibody: Digunakan utk mendiagnosis hepatitis C. Tidak digunakan pada fase akut krn perlu waktu 4 minggu setelah terinfeksi, sebelum muncul antibodi.

o

HCV-RNA: dapat digunakan untuk mendiagnosis pada fase akut. Namun terutama digunakan utk memonitor respon terapi antiviral.

o

HCV-antigen penggunaan hampir sama dengan tes HCV-RNA tetapi lebih mudah di kerjakan.

- Terapi

o

Interferon: Digunakan utk terapi chronic active hepatitis. Respon terapi berkisar 50% namun 50%-nya akan relap setelah terapi dihentikan

o

Ribavirin: Lebih murah dibanding interferon. Kombinasi interferon dan ribavirin lebih efekstif dibanding interferon saja

- Prevention of Hepatitis C

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

o

Skrening darah, organ maupun jaringan donor

o

Perubahan perilaku yang berisiko tinggi

o

Hati-hati bila kontak dengan darah maupun cairan tubuh (universal precaution)

HEPATITIS D

Hepatitis yang gak bisa sendirian, harus ada temen nya. Butuh DNA dari hepatitis B buat jadi temen.

ada temen nya. Butuh DNA dari hepatitis B buat jadi temen. - Cara penularannya 1. Percutanous

- Cara penularannya

1. Percutanous exposures obat-obatan injeksi

2. Permucosal exposure kontak seksual

- Serologi Hepatitis D Co-infection

HDV merupakan partikel dg diameter 35 nm terdiri dari antigen delta dilingkupi oleh HBsAg

Genom virus sangat kecil dan terdiri dari single-stranded RNA

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Super-infection - Pencegahan Hepatitis D o HBV-HDV Coinfection  Pencegahan

Super-infection

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Super-infection - Pencegahan Hepatitis D o HBV-HDV Coinfection  Pencegahan

- Pencegahan Hepatitis D

o

HBV-HDV Coinfection Pencegahan Pre atau postexposure untuk mencegah infeksi HBV

o

HBV-HDV Superinfection Edukasi untuk menurunkan perilaku yang risiko pada orang dengan chronic HBV infection.

HEPATITIS E

- Calicivirus-like viruses

- unenveloped RNA viruS

- very labile and sensitive

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Can only be cultured recently

- Gambaran klinis

Week 4 - Can only be cultured recently - Gambaran klinis - Serologi Hepatitis E -

- Serologi Hepatitis E

cultured recently - Gambaran klinis - Serologi Hepatitis E - Epidemiologi o Sebagian besar wabah Hep.

- Epidemiologi

o

Sebagian besar wabah Hep. E berhubungan dengan air yang terkontaminasi dg feses yang terinfeksi.

o

Epidermi terjadi di India,Rusia, China, Africa dan Mexico.

o

Person-to-person transmission.

Africa dan Mexico. o Person-to-person transmission. Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved C o

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

SIROSIS HEPATIS

Patofisiologi

1. Inflamasi kronik parenkim hati yang irreversible

2. Terjadi fibrosis luas (kerusakan hati yang bersifat irreversible) perubahan arsitektur hati

3. Pembentukan nodul (makro maupun mikro nodul)

Faktor risiko

a. Penyalahgunaan alcohol (alcohol → jadi fatty liver → sirosis)

b. Sirosis Billiary : (tidak diobati → sirosis hepatis)

- Primer

- Sekunder

: intrahepatik cholestasis

: obstruksi saluran empedu ekstrahepatik

c. Obat-obatan : acetaminophen (paracetamol), methotrexate (sering pada pasien RA/kanker) , methyldopa, isoniazid (untuk TBC) → penggunaan

jangka panjang

d. Hepatitis kronik-aktif yg disebabkan oleh hepatitis B atau C

e. Kongesti hepar (berkepanjangan) akibat gagal jantung kanan

f. Gagal jantung yang lama

g. Penyakit katup

Gambaran klinis

a. Spider angiomas/ Spider naevi

b. Palmar erythema

c. Perubahan kuku

- Muehrcke's nails

- Terry’s nails

d. Gynecomastia (hiperesterogen → payudara besar pada laki-laki)

e. Atrofi testis (karena lebih dominan hormone esterogen)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

f. Fetor hepaticum (bau mulut seperti ammonia)

g. Jaundice/ikterik

h. Asterixis /flapping tremor

i. Pembesaran glandula parotis

j. Hepatomegaly (sangat jarang pada sirosis, hanya sekitar 10%)

k. Splenomegaly (sering pada sirosis karena sumbatan pada vena porta)

l. Caput medusa

m. Atrophy musculus temporalis(jadi sangat tipis)

medusa m. Atrophy musculus temporalis(jadi sangat tipis) Hipertensi porta memberikan gambaran: a. Varises esophagus
medusa m. Atrophy musculus temporalis(jadi sangat tipis) Hipertensi porta memberikan gambaran: a. Varises esophagus
medusa m. Atrophy musculus temporalis(jadi sangat tipis) Hipertensi porta memberikan gambaran: a. Varises esophagus

Hipertensi porta memberikan gambaran:

a. Varises esophagus

b. Caput medusa

c. Asites

d. Hernia

e. Splenomegaly (karena sumbatan → darah dari limpa tidak bisa lancar)

f. Hipersplenisme

g. Trombositopenia

h. Beutropenia

i. Anemia (lien membesar → banyak darah mengalami kerusakan karena lien adalah termasuk sistem retikuloendotelial → ada benda asing sedikit akan rusak

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan fungsi hati (LFT/Liver Functio Test):

o

Tes enzim hati: GPT, GOT, ALP, GGT, Bilirubin: bisa normal atau meningkat (Tes enzim hati untuk melihat inflamasi padahal pada sirosis inflamasi sering terhenti yang ada adalah fibrosis sehingga tidak spesifik untuk sirosis) → kecuali eksaserbasi→ sirosis perburukan → SGOT & SGPT naik

o

Tes Fungsi sintesis: serum albumin: rendah and prothrombin time:

memanjang normalnya lebih tinggi albumin → albumin penting untuk menjaga osmolaritas dalam darah tetap tinggi → kalau albumin rendah →osmolaritas ikut rendah → sehingga terjadi perpindahan cairan dari pembuluh darah ke ekstravaskuler masuk ke jaringan ekstraseluler→ udem Prothrombin time memanjang → ditambah hipersplenisme → mudah terjadi perdarahan

Pemeriksaan radiologi USG ABDOMEN:

o

Kurang sensitive atau spesifik untuk

diagnosis awal CH.

o

Tampak gambar liver mengecil dan ekostruktur kasar, hipertensi portal atau asites (pada beberapa kasus terdapat nodul-nodul karsinoma)

o

Evaluasi progresivitas CH/KHS

Diagnosis pasti Liver biopsy

o

Sensitivitas 80-100 % untuk mendiagnosis CH

o

Tidak diperlukan bila data klinis, laboratoris dan radiologis sudah jelas (strongly suggest)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

o

Bilopsi hati dapat menentukan etiologi CH

o

Tidak perlu jika data klinis, laboratorium, dan radiologis mengarah ke

adanya sirosis

o

Biopsi hati dapat menunjukkan penyebab yang mendasari sirosis

hati dapat menunjukkan penyebab yang mendasari sirosis Klasifikasi morfologi a. Micronodular cirrhosis Hati seperti

Klasifikasi morfologi

a. Micronodular cirrhosis

Hati seperti pulau-pulau karena adanya fibrosis

Fibrosis → pembuluh darah terjepit → hipertensi porta

- Nodul kurang dari 3 mm

- Kemungkinan penyebab: alcohol, hemochromatosis, cholestatic

and hepatic venous outflow obstruction

cholestatic and hepatic venous outflow obstruction b. Macronodular cirrhosis (sering dikira karsinoma

b. Macronodular cirrhosis (sering dikira karsinoma hepatoseluler)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Nodules lebih dari 3 mm

- Kemungkinan penyebab: chronic viral hepatitis

dari 3 mm - Kemungkinan penyebab: chronic viral hepatitis Copyright © 2016-2018 by Caem, All right

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Evaluasi sirosis

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Evaluasi sirosis Komplikasi a. Ascites → penting→ sering terjadi Diperiksa

Komplikasi

a. Ascites → penting→ sering terjadi Diperiksa menggunakan test undulasi, pekak beralih b. Spontaneous Bacterial Peritonitis →karena hipoalbumin → barrier di usus jadi lemah → bakteri didalam usus masuk ke dalam peritonieum →infeksi peritonieum → terjadi defans muskuler (peritoneum terasa tegang dan nyeri)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

c. Hepatorenal syndrome (ada asites, sirosis → ureum kreatinin naik → karena aliran darah yang ke ginjal menjadi berkurang)

d. Varises esophagus (pelebaran di daerah antara esophagus bawah dan kardia lambung)

e. Hepatopulmonary syndrome

f. Hepatic Encephalopathy (gejala : orangnya gelisah, tidak bisa tidur, emosional, kalau berat bisa jadi koma)

g. Hepatocellular carcinoma (paling berat)

Alat prognostik Child-Turcotte-Pugh (CTP) score a. Didasarkan pada 5 parameter: serum bilirubin, serum albumin, prothrombin time, ascites encephalopathy (penting untuk melihat outcoma pasien sirosis hepatis 1 tahun atau 5 tahun) b. Digunakan sebagai prediktor outcome passion CH dengan komplikasi portal hypertension

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Penatalaksanaan  Tujuan penatalaksanaan sirosis:  Memperlambat atau

Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan sirosis:

Memperlambat atau memperbaiki progresi penyakit CH

Mencegah dan mengobati komplikasi (karena sirosis tidak bisa disembuhkan)

Menentukan waktu yang tepat untuk transplantasi hati

asites, perdarahan varises esofagus,

encepalopati hepatikum, sindrom hepatorenal, infeksi 2. Memaksimalkan fungsi hepar (dengan pemberian hepatoprotektor), dengan diet yang bergizi, istirahat yang adekuat 3. Mengobati penyebabnya, spt pemaparan zat hepatotoksin dihilangkan (hindari pemberian parasetamol), tidak minum alkohol, obstruksi empedu dihilangkan

1. Mengontrol

komplikasi,

spt

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

4. Mencegah infeksi (mencegah perburukan sirosis)

Transplantasi hati

a. Terapi definitive sirosis → supaya pasien sembuh (obat tidak bisa mengobati, hanya mengurangi komplikasi dan mencegah perburukan)

b. Tergantung beratnya penyakit, kualitas hidup dan ada tidaknya kontra

indikasi

c. Kriteria dapat dilakukan transplantasi hati:

- A child-Pugh score 7

- Angka harapan hidup 1 tahaun < 90% bila tanpa transplantasi

- Pernah mengalami episode gastrointestinal hemorrhage yang disebabkan oleh portal hypertension

- Pernah mengalami episode spontaneous bacterial peritonitis

Vaksinasi

a. Hepatitis A and B

b. Vaksin Pneumococcal

c. Vaksinasi Influenza

Pengawasan Rekomendasi screening : penentuan AFP (alfa feto protein → marker adanya kanker hati/ karsinoma hepatoseluler → karena 20% pasien sirosis akan berkembang menjadi karsinoma hepatoseluler) serum dan ultrasonography (karena beberpa kasus ASPnya normal, tapi pada USG ditemukan tanda-

tanda karsinoma hepatoseluler) setiap 6 bulan Penghindaran dari superimposed insult Penghindaran dari : alcohol, acetaminophen, dan medikasi herbal

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Seperti laba-laba : tengahnya merah pinggirnya ada seperti kaki-kakinya Copyright
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Seperti laba-laba : tengahnya merah pinggirnya ada seperti kaki-kakinya Copyright

Seperti laba-laba : tengahnya merah pinggirnya ada seperti kaki-kakinya

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

VARISES ESOPHAGUS

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 VARISES ESOPHAGUS Fibrosis → pembuluh darah tejepit → hipertensi portal →

Fibrosis → pembuluh darah tejepit → hipertensi portal → pembuluh darah dari esophagus → varises esofagus

Fibrosis → pembuluh darah tejepit → hipertensi portal → pembuluh darah dari limpa terhambat → splenomegaly

Fibrosis → pembuluh darah tejepit → hipertensi portal → pembuluh darah dari Usus → kaput medusa dan hemoroid

Darah dari usus : darah spanknik →

Komplikasi berkaitan dengan kelainan anatomic dan kelainan laboratorik

Kelainan anatomic : berkaitan dengan hipertensi porta → menyebabkan oerdarah varises esophagus

Hipertensi porta → asites → spontaneous bacterial peritonitis dan hepato renal syndrome

Gangguan fungsi hati → fungsi detoksikasi berkurang → ensefalopati

Gangguan metabolisme bilirubin → jaundice/ ikterik

Gangguan anatomic berkaitan dengan fibrosis

Gangguan fungsi berkaitan dengan sel-sel hati (Seperti pada hepatitis akut)

berkaitan dengan sel-sel hati (Seperti pada hepatitis akut) Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved
berkaitan dengan sel-sel hati (Seperti pada hepatitis akut) Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Kalau didapatkan sirosis → USG ditemukan hipertensi portal → perlu dilakukan
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Kalau didapatkan sirosis → USG ditemukan hipertensi portal → perlu dilakukan
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Kalau didapatkan sirosis → USG ditemukan hipertensi portal → perlu dilakukan

Kalau didapatkan sirosis → USG ditemukan hipertensi portal → perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi

7-8%/tahun hipertensi portal menjadi varies esophagus → kalau tidak diobati optimal → jadi varises yang besar

Varises mirip yang ada di kaki namun ini di esophagus → esophagus mukosanya sangat tipis → sehingga mudah sekali terjadi perdarahan

Semakin tinggi chart CTP →semakin tinggi terjadi varises esofagus

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Terapi dari varises (terapinya yang penting menurunkan hipertensi porta supaya

Terapi dari varises (terapinya yang penting menurunkan hipertensi porta supaya tidak jadi varises sehingga tekanan di esofagus jadi berkurang)

Terapi dengan propranolol (golongan beta blocker → mampu mengurangi/ merlekasasi dari pembuluh darah porta→ mengurangi hipertensi porta→ komplikasi : bronkokonstriksi sehingga ditanyakan punya sakit asma atau tidak)telah diawali pada sebuah dosis dari 40 mg p.o. (per oral) BID (2 kali sehari)

Denyut jantung berkurang sampai 58 bpm (beta blocker menyebabkan denyut jantung berkurang); pasien tetep asimptomatik

Terapi harus dilanjutkan tanpa batas

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Terapi dari hemoragi varises akut 1. Manajemen umum : a. Akses

Terapi dari hemoragi varises akut

1. Manajemen umum :

a. Akses IV dan resusitasi cairan (pasien datang dengan hematemesis dan melena → dijaga hemodinamiknya dulu dengan iv line untuk resusitasi sehinga tidak sampai shock hipovolemik → kalau shock

venanya susah dicari karena kolaps semua)

b. Jangan overtransfuse (transfusi kalau hemoglobin < 8g/dL)

c. Profilaksis antibiotik (karena terjadi luka disitu → terjadi infeksi)

2. Terapi spesifik :

a. Terapi farmakologis : terlipressin, somatostatin (untuk mengurangi hipertensi portal sehingga tekanan darah dalam pembuluh darah esofagus berkurang sehingga tekanan pendarahan berkurang) dan analog, vasopressin + nitrogliserin

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

b. Terapi endoskopik (terapi definitif) : ligasi (diikat) , schlerotherapy

(disuntik alkohol supaya jadi sklerosis → vena terjepit → seperti

diligasi)

c. Shunt therapy : TIPS, surgical shunt

seperti diligasi) c. Shunt therapy : TIPS, surgical shunt Dengan ligasi bisa mengendalikan perdarahan hampir 90%
seperti diligasi) c. Shunt therapy : TIPS, surgical shunt Dengan ligasi bisa mengendalikan perdarahan hampir 90%
seperti diligasi) c. Shunt therapy : TIPS, surgical shunt Dengan ligasi bisa mengendalikan perdarahan hampir 90%

Dengan ligasi bisa mengendalikan perdarahan hampir 90% tapi walaupun sudah diligasi kadang terjadi perdarahan ulang ± 30%

Tapi dengan ligasi punya keunggual daripada skleroterapi :

komplikasi lebih sedikit (kadang pada skleroterapi menusuk terlalu dalam (harusnya submukosa) menembus keluar esophagus sehingga terjadi mediastinitis/ radang pada mediastinum atau terjadi peritonitis)

TIP → shunting → melewati vena porta langsung ke vena hepatica (seperti bypass pada pasien infark miokard akut) → supaya pembuluh darah bisa lancar

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

KOLESISTITIS, KOLELITIASIS, & PANKREATITIS

Hai guys, how’s life? Okay semangat yaaa and cheer up! Mari kita mulai dan jangan lupa berdoa. Lets start it!

KOLESISTITIS Ini sering terjadi pada pasien batu empedu ini. Kolesistitis akut merupakan reaksi inflamasi akut dinding kantung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan demam. Kolesistitis kronik merupakan Peradangan kronik dinding empedu. Gejala dan keluhan tidak menonjol ( dispepsi, rasa penuh di epigastrium, nausea khususnya setelah makan berlemak). Jadi, kalau pasien yang akut itu gejalanya khas banget (Murphy's sign (+), kadang bisa menjalar sakitnya ke punggung, terus demam). Kalau yang kronik itu gak jelas, malah kadang-kadang dikira sakit maag. ETIIOLOGI DAN PATOGENESIS

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

1. Stasis cairan empedu, contoh: karena ada batu di saluran empedu (koledokolitiasis) atau di kantung empedu (kolelitiasis); bisa juga karena stenosis 2. Infeksi 3. Iskemik dinding empedu, contoh: ada tumor yang menekan pembuluh darah

Penyebab tersering adalah Batu empedu di duktus sistikus (90%) . Terdapat < 10% kolesistitis tanpa ada batu empedu (kolesistitis akut akalkulus) →sering terjadi pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi parenteral.

PEMERIKSAAN FISIK

Nyeri perut kanan atas dan epigastrium

Nyeri menjalar ke skapula

Demam

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Ikterus

Murphy’s sign positif= nyeri daerah hipokondrium mid clavicula

Kadang teraba pembesaran kantung empedu

PEMERIKSAAN KLINIS

Laboratorium , sebenernya ga terlaluu spesifik hasilnya.

- Leukositosis

- Peningkatan bilirubin terdapat pada (20%) kasus

- Peningkatan enzim transaminase dan fosfatase alkali. Transaminase:

SGOT dan SGPT bisa naik; GGT naik.

Foto polos abdomen

- tidak sensitif untuk kolesistitis akut

- 15 % kasus tampak batu radioopak

USG → Gold Standard

- Sangat bermanfaat spesifisitas dan sensitifitas mencapai 90-95%

-Tampak : penebalan dinding empedu pembesaran kantong empedu (hidrop vesica felea), batu empedu

CT-scan Abdomen

- kurang sensitif dan mahal

PENGOBATAN

Biasanya pasien akan kesakitan, jadi jangan ragu beri obat anti nyeri

Pengobatan umum : istirahat total, pemberian nutrisi parenteral, diet rendah lemak, analgetik (peptidin dan antispasmodik)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Antibiotik diberikan terutama jika leukosit sangat tinggi.

-

Penting

untuk

mencegah

komplikasi

peritonitis,

kolangitis

dan

septikemia

 

- Antibiotik golongan: Ampisilin, Sefalosporin, Metronidazole

 

Komplikasi

terutama

terjadi

pada

pasien

lanjut

usia

dan

immunocompromised

Pembedahan dilakukan bila ada komplikasi seperti empiema (nanah di katung empedu), gangren, dan perforasi batu empedu.

Teknik pembedahan ada 2 cara nih:

1. Kolesistektomi konvensional

2. Kolesistektomi laparskopik: dilakukan jika batu hanya di kantung empedu. Tidak dapat mengambil yang di saluran empedu.

PROGNOSIS

Sembuh spontan (85%): karena ini sebenernya penyakit cukup ringan

Kolesistitis rekuren fibrosis dan penebalan dinding empedu

Komplikasi: gangren, empiema, perforasi, peritonitis, sepsis

Pembedahan pada usia > 75 tahun mempunyai prognosis jelek dan sering timbul komplikasi paska bedah . Jadi, pembedahan juga harus dipertimbangkan baik-baik dulu. Apakah manfaatnya lebih dari komplikasi?

Apabila keluhan nyeri bertambah hebat disertai lekositosis berat kemungkinan terjadi EMPIEMA atau PERFORASI KANTONG EMPEDU , harus pemeriksaan USG ulang.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

KOLELITIASIS

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 KOLELITIASIS • Kolelitasis Primer: Batu saluran empedu yang terbentuk primer di

Kolelitasis Primer: Batu saluran empedu yang terbentuk primer di dalam saluran empedu tanpa melibatkan kantung empedu.

Kolelitiasis Sekunder: Batu saluran empedu yang berasal dari batu kantung empedu. Jadi, batu bisa terjadi dimana saja! dan pembedaan primer sekunder ini berdasarkan asal batunya.

TIPE BATU

Nah, kalo ini pembedaannya berdasarkan kandungannya :

Batu kolesterol kandungan kolesterol > 70%

Batu pigmen coklat kandungan utamanya calcium billirubinate

Batu pigmen hitam yang kaya akan residu hitam tak terekstraksi

Paling sering = batu kolesterol, batunya berwarna kuning-kuning gitu, tapi kalo difoto ga kelihatan.

PATOGENESIS

Ada tiga faktor yang berperan :

- Hipersaturasi kolesterol dalam kandung empedu

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Percepatan terjadinya kristalisasi kolesterol

- Gangguan motilitas kandung empedu dan usus= jadinya ga bisa keluar

GEJALA

Ada 3 kelompok:

1. Kolelitiasis asimtomatik (80%)

2. Kolelitiasis simtomatik

3. Kolelitiasis dengan komplikasi (kolesistitis dan pankreatitis)

akut, ikterus, kolangitis

Biasanya itu tanpa gejala. Gejala malah dirasakan setelah diberi tahu ada batu empedu, jadi ada kaitannya dengan psikologinya. Gejala yang sering muncul adalah KOLIK BILIER (nyeri hebat hilang timbul di kuadran kanan atas perut).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

USG

- Batu empedu (Sensitifitas : 95%)

- Batu saluran empedu (Sensitifitas: 18-74%): karena batu du saluran

empedu kecil, jadi seringnya ga kelihatan. Tapi kalau pembengkakannya

kelihatan

EUS (Endoskopic Ultrasonography)

- Echoprobe dimasukkan ke duktus koledokus memakai gastroskop

- Gambaran batu lebih jelas dibandingkan USG dan CT scan untuk

mendiagnosis batu saluran empedu. Tapi ini jarang dilakukan karena mahal dan invasif.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 • Pada USG, terlihat bayangan yang gelap di bagian bawah karena

Pada USG, terlihat bayangan yang gelap di bagian bawah karena ada

sumbatan, jadi gelombang suara tidak terpantulkan (acoustic shadow).

jadi gelombang suara tidak terpantulkan (acoustic shadow). Kolesistitis akut Kolelitiasis dengan kolesistitis Akut

Kolesistitis akut

tidak terpantulkan (acoustic shadow). Kolesistitis akut Kolelitiasis dengan kolesistitis Akut Copyright © 2016-2018

Kolelitiasis dengan kolesistitis Akut

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Kolesistitis Akut • Kantung empedu dapat terlihat double layer (berlapis 2).

Kolesistitis Akut

Kantung empedu dapat terlihat double layer (berlapis 2). Terjadi penebalan dinding kantung empedu pada kasus kronik.

MRCP (Magnetic Resonance Cholangiopancreatography)

- Cocok untuk mendeteksi batu saluran empedu

- Sensitifitas 91% - 100%

- Spesitifitas 92% - 100%

- Lebih unggul dibandingkan ERCP karena tidak invasif, tidak ada radiasi, tidak memakai zat kontras

ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography )

- Zat kontras dimasukkan ke duktus coledocus melalui gastroskop, kemudian di foto rontgen. Sensitifitas 90% , Spesifitas 98% , prosedur invasif dan dapat menimbulkan komplikasi pankreatitis dan kolangitis yang dapat berakibat fatal.

PENANGANAN

Jika asimtomatik , tidak dianjurkan pembedahan terapi medikamentosa: ursodioxycolic acid.

Simtom akut meliputi: kolesistitis akut, kolangitis, dan pankreatitis tapi jarang terjadi pada kasus simtomatik.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Tindakan

bedah:

laparoskopik.

jika

simptomatik,

nama

prosedur:

kolesistektomi

ERCP terapeutik yaitu dengan melakukan sfingterektomi endoskopik untuk mengeluarkan batu saluran empedu.

Open Kolesistektomi

PENANGANAN KOLANGITIS AKUT

Terjadi karena obstruksi yang diikuti invasi bakteri

Penyulit: batu terjepit di muara ampula vateri

Gambaran khas: Trias Charchot (nyeri perut kuadran kanan atas, ikterus, demam).

Kolangitis

akut

supuratif:

gangguan kesadaran.

Penatalaksanaan:

Trias

1. Pemberian cairan dan elektrolit

Charchot

+

hipotensi,

oligouria,

2. Pemberian antibiotik parenteral , karena ada invasi bakteri

3. Drainase empedu yang tersumbat

PENANGANAN PANKREATITIS BILIER

Terjadi karena obstruksi papila Vater

Untungnya: masih respon dengan terapi konservatif

Kadang-kadang perlu sfingterotomi endoskopik, kalau tidak dilakukan bisa terjadi pankreatitis berulang.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Anatomi Pankreas

PANKREATITIS

Gastrointestinal Week 4 Anatomi Pankreas PANKREATITIS Ada batu empedu yang menyumbat di ampula vateri pankreas

Ada batu empedu yang menyumbat di ampula vateri pankreas menyebabkan pankreatitis.

I. PANKREATITIS AKUT

Gambaran klinis bervariasi dari yang ringan sampai nyeri abdomen hebat dan syok.

Etiologi: Kolelitiasis, Alkohol, obat-obatan, trauma, dan gangguan metabolik. Sebagian besar Pankreatitis Akut disebabkan oleh batu di saluran empedu dan alkohol.

Obat-obat yang dapat menyebabkan Pankreatitis akut:

- Amiodarone, amlodipine

- Antibiotik (macrolides,sulfa, rifampin)

- Antiepileptics (carbamazepine, valproic acid, topiramate)

- Hyperlipidemic drugs (simvastatin)

- Antineoplastic agents

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Antipsychotics (risperdal)

- Antiretrovirals: all types

- Diuretics

- GI agents: H2 blockers, PPI’s

- Glucocorticoids

- NSAIDS

- ASA

*obat obatan ini menyebabkan peristaltik dari saluran empedu menjadi lambat sehingga terjadi stasis-> saturasi-> dan akhirnya timbul pembentukan batu empedu.

PATOGENESIS

Pankreatitis Akut dimulai dengan adanya edem atau obstruksi pada ampula vateri sehingga terjadi :

1.Refluk cairan empedu ke duktus

pankreatikus

2.Refluk enzim pankreas(bersifat proteolitik) menyebabkan kerusakan sel-sel aciner pankreas

jika tidak diatasi menyebabkan edem, perdarahan intersisial, kerusakan vaskuler dan nekrosis seluler karena sifat enzim pankeas yang sangat proteolisis.

GAMBARAN KLINIS

- Gejala Utama: Nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas (karena melibatkan saluran empedu) , Nyeri timbul mendadak, sangat nyeri, menetap dan dapat menjalar ke punggung, dada atau perut bawah

- Mual, muntah, kembung

- Nyeri tekan di perut bagian atas karena rangsangan peritoneum

- Bising usus berkurang/hilang (ileus paralitik)

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Kadang teraba masa di epigastrium disekitar pankreas

pembengkakan dan infiltrat

- Suhu tinggi kolangitis, kolesistitis atau abses pankreas

- Ikterus ( bisa terbentuk karena gangguan hati, pankreas, saluran empedu maupun kantung empedunya karena organ2 ini saling berdekatan)

kantung empedunya karena organ2 ini saling berdekatan) - Cullen sign (Warna merah kebiruan di sekitar umbilikus)

-

Cullen sign (Warna merah kebiruan di sekitar umbilikus)

-

Grey Turner sign (Warna kemerahan di daerah pinggang/ flanks)

-

Pada kasus berat dapat terjadi syok hipovolemik dan MOF (Multi Organ Failure)

dapat terjadi syok hipovolemik dan MOF (Multi Organ Failure)  LABORATORIUM 1. Amylase: diproduksi di pankreas
dapat terjadi syok hipovolemik dan MOF (Multi Organ Failure)  LABORATORIUM 1. Amylase: diproduksi di pankreas

LABORATORIUM

1.

Amylase: diproduksi di pankreas dan kelenjar ludah

-

Didapatkan dengan kadar rendah di beberapa jaringan, sehingga tes ini tidak spesifik

-

Amylase mungkin bisa normal pada Pankreatitis Akut

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

-

Spesifisitasnya rendah

2.

Lipase: Ditemukan terutama di Pankreas, mukosa usus dan hati

-

Diekskresikan lewat ginjal, sehingga pada gagal ginjal kadar lipase akan tinggi

-

Lipase lebih akurat dari pada Amilase untuk mendeteksi Pankreatitis Akut, Spesifitas lebih baik (90% vs 75 %)

RADIOLOGIS

1.

Rontgen thorak/abdomen:

-

Kalsifikasi pancreas dapat ditemukan pada pankreatitis kronik

-

Dapat terlihat sentinel loop, peninggian hemi-diafragma(diafragma sebelah kanan akan lebih tinggi dibandingkan diafragma kiri), efusi pleura.

lebih tinggi dibandingkan diafragma kiri), efusi pleura. Acute Pancreatitis:  Bervariasi shg sensitifitas

Acute Pancreatitis:

Bervariasi shg sensitifitas rendah

- Normal

- Ileus Lokal (“sentinel loop”) atau

- “Colon cut-off sign”

- terjadi karena spasme kolon desenden yg disebabkan adanya peradangan *gambaran banyak udara di colon

disebabkan adanya peradangan *gambaran banyak udara di colon Chronic Pancreatitis Kalsifikasi (Tampak pada 30% pasien)
disebabkan adanya peradangan *gambaran banyak udara di colon Chronic Pancreatitis Kalsifikasi (Tampak pada 30% pasien)

Chronic Pancreatitis

Kalsifikasi (Tampak pada 30% pasien)

Chronic Pancreatitis Kalsifikasi (Tampak pada 30% pasien) Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 44

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

2. USG abdomen: dapat mendeteksi batu empedu

- Tampak pembesaran pankreras dan hipoekoik pankreas (acute)

- Sensitivitas 62-95% utk mendiagosis pankreatitis akut. Jadi USG khas untuk deteksi pankreatitis akut

- Dapat ditemukan juga:

Kalsifikasi

Dilatasi duktus

Pseudokista Pseudokista- gambaran bulat tengah hitam (adanya cairan)

Pseudokista- gambaran bulat tengah hitam (adanya cairan) 3. MSCT Abdomen: penting untuk menentukan derajat beratnya

3. MSCT Abdomen: penting untuk menentukan derajat beratnya penyakit dan prognosis

- Penunjang diagnoisis yang baik untuk deteksi Pankreatitis akut, namun juga dapat bermanfaat pada pankreastitis kronik

- Sensitivitas 60%, spesifisitas 98%

- Dapat ditemukan:

Peripancreatic inflammation

Nekrosis

Pseudokista

Kalsifikasi

Dilatasi common bile duct

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Abdominal CT: pankreatitis Acute-> Pseudokista

Week 4 Abdominal CT: pankreatitis Acute-> Pseudokista Abdominal CT: pankreastitis Chronic -> kalsifikasi 

Abdominal CT: pankreastitis Chronic -> kalsifikasi

Abdominal CT: pankreastitis Chronic -> kalsifikasi  PROGNOSIS Ada beberapa macam sistem skoring untuk

PROGNOSIS

Ada beberapa macam sistem skoring untuk menentukan prognosis panktreatitis akut :

RANSON (Paling populer)

APACHE II

RANSON CRITERIA :

Pada saat masuk RS

- USIA > 55 TAHUN

- WBC > 16,000

- Glukosa > 200

CT severity Index

Imrie Score

- LDH > 350

- AST > 250

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

48 jam pertama

- Hematocrit drop > 10%

- Serum calcium < 8

5 % mortality risk : skor < 2

15

% - 20 % mortality risk: skor 3 -4

- Base deficit > 4.0

 

40

% mortality risk: skor 5 6

- Increase in BUN > 5

99

% mortality risk: skor > 7

- Fluid sequestration > 6L

- Arterial PO2 < 60

KOMPLIKASI PANKREATITIS AKUT

- PARU: efusi pelura, ARDS (sindrom distres pernapasan akut)

- KARDIOVASKULER: perdarahan, syok, depresi miokard

- Metabolik: Hypocalcemia, hyperglycemia, Hyperlipidemia, coagulopathy/DIC.

- Lain-lain: Gagal ginjal akut, abses, pseudokista, perforasi kolon

TREATMENT

- Prinsip Umum: istirahatkan pankreas dengan Stop makan minum dan pemberian Nutrisi Parenteral.

- Resusitasi cairan

- Lakukan NGT bila diperlukan (kosongkan lambung agar pankreas bisa istirahat/relaksasi).

- Beri obat anti nyeri yang kuat (morphin/pethidin), o Hindari anti nyeri golongan NSAID karena dapat mengiritasi lambung dan menambah penyakit gastropati OAINS.

- Jika muntah hebat beri Anti-emetik (Metoklopramid/Ondansetron)

- Antibiotik kuat terutama untuk gram negatif -> IV imipenem atau quinolone dikombinasi dengan Metronidazole

- Pasien pankreatitis akut ringan tanpa ada penyakit sistemik atau penyakit bilier, dapat makan dan minum cukup dan tidak terlalu nyeri dapat diterapi rawat jalan.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Pasien diluar itu harus rawat inap

II. PANKREATITIS KRONIK

- Definisi Suatu kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan struktur dan fungsi pankreas yang bersifat irreversibel.

- Penyebab: Pecandu alkohol, malnutrisi, stenosis ampula vateri, kistik fibrosis, trauma, idiopatik dll

- Gejala klinis: Nyeri epigastrium, mual, muntah

- Pasien kadang tampak sakit kronis yang ditandai penurunan berat badan, steatorea, kaheksia dll

- Perbedaan pankreatitis akut vs kronik sangat sulit, perbedaan ditemukan hanya berdasarkan reversibilitas penyakit Akut -> bisa normal kembali Kronik-> irreversible , ada fibrosis pankreas dan kalsifikasi menyebabkan radang pankreas yang berulang-ulang

- Amylase and lipase dapat normal jika pankreatitis disebabkan fibrosis

- MSCT abdomen dapat membantu apakah ada pseudokista atau abses

- Terapi: anti emetik iv, analgetik

- Ekstrak enzim pankreas untuk membantu meningkatkan absorpsi

- Jika nyeri bertambah hebat maka perlu dilakukan pemeriksaan MSCT abdomen segera untuk mencari apakah ada komplikasi.

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

PK: PEMERIKSAAN LABORATORIUM KELAINAN HEPAR & PANKREAS

Fungsi Hati :

Storage

Sintesis

Detoksifikasi

Katabolisme hormon

Ekskresi

Metabolisme

Tes Fungsi Hati :

Fungsi ekskresi bilirubin, asam empedu

Fungsi sintesis protein, lipid dan lipoprotein, urea

Fungsi metabolisme ammonia, karbohidrat

Enzim yang dilepaskan dari sel yang sakit :

AST/SGOT : mitokondria dan sitoplasma

- Terdapat pada jaringan hepar, jantung, otot skelet, ginjal, otak, pankreas, limpa, paru-paru dan serum

- Half life 12-22 jam

ALT/SGPT : sitoplasma

- Terdapat terutama pada hepar

- Half life 37-57 jam

Half Life waktu paruh

- Lebih spesifik untuk kelainan hepar

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

ALP/Alkali Phosphatase : sinusoid & endothelium, vena sentral & perifer

- Terdapat di hepar (hepatobilier), tulang (osteoblast), tubulus ginjal, epitel usus dan plasenta

- Half life 3-7 hari

Saluran empedu

GGT/Gamma Glutamyl Transferase : saluran empedu dan epitel kandung empedu

- Terdapat di sel hepar, saluran empedu, ginjal, usus dan pancreas, prostat

- Half life 3-4 hari

- Meningkat pada alkoholik, obese, terapi acetaminophen dosis tinggi

LDH/Lactate Dehydrogenase

- LD 1&2 terutama di otot jantung, ginjal dan erotrosit

- LD 4&5 terutama di hepar dan otot skelet

- Half life 8-12 jam

5-NT/ 5-Nucleo Tidase

- Terdapat di selaput sinusoid dan saluran bilier

- Berfungsi untuk menguatkan ALP karena gangguan hepar

CHE :

- CHE/pseudo-CHE terdapat di serum, jantung, bagian putih otak (white matter), pancreas dan hepar

- Half life 8-10 hari

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- AcCHE/true-CHE terdapat di sel darah merah, paru-paru, limpa, sel saraf, sinaps dan motor end plate dan bagian abu-abu dari otak (grey matter)

Hepatitis B/HBV

Penularan dapat melalui cairan tubuh penderita dan dapat menjadi hepatitis akut dan kronis merusak fungsi hati

Kasusnya paling sering

Cairan tubuh meliputi transfusi darah, penggunaan barang pribadi secara bersama, penggunaan suntik berulang (penularan lewat darah), hubungan seksual, dan dari ibu ke bayi (ASI, ketuban, plasenta yang berdarah atau luka)

Yang berisiko tinggi tertular HBV :

Bayi baru lahir dari ibu karier HBV

Anggota keluarga karies HBV

Pemakai obat suntik narkoba yang dipakai berkali-kali dan beberapa orang

Orang dengan partner seks banyak/berganti-ganti pasangan seks

Wisatawan ke wilayah endemik tinggi

Petugas kesehatan

Penyebaran :

Vertikal (perinatal) dari ibu HBV+ kepada bayinya di sekitar saat kelahiran

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Horizontal (keluarga) hubungan erat antara anak kecil dan anggota keluarga

Seksual hetero atau homoseksual

Parenteral melalui darah, produk darah, atau bahan terkontaminasi

Perlu diperhatikan :

Jumlah pengidap HBV sangat banyak dimana 80% tanpa gejala (tidak disadari)

Dapat menular dan berpotensi menjadi fatal

Pengobatan yang diperlukan berjalan cukup lama

Tapi, hal ini dapat dicegah salah satunya vaksinasi Hepatitis B

Beberapa data penting :

Di seluruh dunia , didapatkan 2.000 juta orang dengan tanda HBV dimana 350 juta merupakan karier kronis dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahunnya

80% kanker hati primer berhubungan dengan HBV

Namun, tidak semua HBV menyebabkan kematian. Memang beberapa kasus HBV dapat menjadi kerusakan hepar (sirosis) dan dapat berkembang juga menjadi kanker hepar yang dapat menyebabkan kematian. Tetapi, perawatan medis yang baik bisa mengurangi risiko tersebut !

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved C o s
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved C o s

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 54 | C
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 54 | C

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved C o s
3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved C o s

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 • Gejala “mirip influenza” • Ikterus/kuning : - Urin seperti the

Gejala “mirip influenza”

Ikterus/kuning :

- Urin seperti the (merah tua)

- Tinja berwarna pucat

- Konjungtiva mata dan kulit berwarna kuning

Gejala hepatitis menahun :

Sebagian besar tanpa gejala sekitar

80%

Stadium

lanjut

dengan keluhan :

sirosis

hati,

- Muntah darah/hematemesis

- Berah darah

- Perut buncit

- Muntah darah/hematemesis - Berah darah - Perut buncit Copyright © 2016-2018 by Caem, All right

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 SIROSIS HEPATIS ➢ Bahaya sirosis hati : - Aliran darah hati

SIROSIS HEPATIS

Bahaya sirosis hati :

- Aliran darah hati terbendung kembali ke saluran darah pencernaan atau rongganya pembuluh darah pecah muntah darah/hematemesis dan berak darah kematian

- Racun tidak dapat dikeluarkan karena HATI RUSAK penumpukan racun dalam darah kematian

Gejala :

- Muntah darah dan berak darah

- Bendungan vena

- Ikterus/kuning

- Kesadaran menurun

- Anemia

- Kanker hati

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

HEPATITIS KRONIS

Kriteria: HBsAg + sekurang-kurangnya 6 bln

70 90 % bayi yang terinfeksi (akut) akan menjadi karier kronis

6 10 % dewasa yang terinfeksi (akut) akan menjadi kronis

Dampak jangka panjang serius (sirosis hati, kanker hati primer) terjadi pd 25% karir kronis.

hati, kanker hati primer) terjadi pd 25% karir kronis. ➢ Komplikasi : - Hepatitis fulminan 

Komplikasi :

- Hepatitis fulminan kurang dari 1% kasus akut pada orang dewasa dan angka kematian sangat tinggi

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Karsinoma hepatoseluler periode laten sangat panjang, 80% karsinoma hepar berhubungan dengan infeksi HBV kronis. Tetapi vaksinasi Hepatitis B menurunkan insidens karsinoma hepar

HEPATITIS C

Penyebab hepacivirus (HCV) termasuk family Flaviviridae seperti : Virus Yellow fever, Virus Dengue

Termasuk RNA virus yang berenvelope

Estimasi penderita :

- 5 juta penderita Eropa Barat

- 3-5 juta penderita di USA (Regev, Schiff,2005)

- Lebih dari 177 juta di seluruh dunia (Iken, Koziel, 2005)

Penularan :

- Faktor utama :

1. Parenteral (terbanyak) pemakai obat IV, suntikan jarum tidak steril, transfuse darah/produk darah hemodialisis, cangkok jaringan/organ dan sebagainya

2. Non-parenteral (lebih jarang) transmisi vertical, seksual, pemakai obat tidak melalui suntikan dan sebagainya

Sifat karakteristik

1. Menyebabkan >85% kasus kronis pada paparan dengan HCV sirosis kanker hati primer

2. Mutasi dengan kecepatan tinggi mudah terhindar dari sistem imun tubuh

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Struktur genom HCV

- Belum jelas , karena :

1. Rendahnya titer virus dalam darah

2. Kesukaran pembiakan di luar tubuh (in vitro)

- Di dalam HCV, terdapat region yang relative stabil (region Non-coding dan HCV protein core), dan hanya mengalami sedikit perubahan/evolusi akibat perbedaan lingkungan perubahan fenotipe dikenal 6 genotipe HCV yang berbeda

- Semua genotype berbeda memberikan :

1. Gejala klinik yang kurang lebih sama

2. Respon terhadap terapi IFN yang berbeda

3. Genotype 2 & 3 terapinya IFN cukup 24 minggu

4. Genotype 1 dan yang lain perlu 48 minggu

Faktor yang mempengaruhi respon terapi antivirus hepatitis C

Faktor yang mempengaruhi respon terapi antivirus hepatitis C ➢ Diagnosa : - Gejala klinik - Pemeriksaan

Diagnosa :

- Gejala klinik

- Pemeriksaan laboratorium

- Pemeriksaan radiologic

- Jarang diagnosa dibuat berdasarkan biopsi di klinik

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

DIAGNOSIS HEPATITIS C VIRUS

Umumnya diagnosa dibuat berdasarkan

1. Gejala klinik

2. Pemeriksaan Laboratorium

3. Pemeriksaan radiologik

4. Pada biopsi jarang digunakan pada klinik

Gejala klinik Hepatitis C Akut :

Umumnya asimptomatik juga kasusnya fulminan dan jarang di temukan di klinik namun bila terjadi harus diketahui ko-infeksi dengan virus hepatitis lain / HIV

PAPARAN HCV

1. Paska transfusi anak

2. Suntikan anti D imunoglobulin pada wanita

Penelitian prospetik

Menjadi 30% setelah 30 tahun “30-30 rule”

Penderita sirorsi

- 5% tiap tahun timbul HCC

- 2-3% timbul penyakit hati dekompensata , perlu diketahu faktor apa yang mempengaruhi progesifitas .

- Konsumsi alkohol 40 gm/hari juga dapat menjadi agen ko-infeksi

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

1. Pemeriksaan Laboratorium Biokimiawi

- SGOT

- SGPT

- GGT (Gamma GT) / Alkali fosfatase dengan ketepatan 90-95%

Dengan catatan diagnosis banding hepatitis virus akut , perlu pertanda virus spesifik

HCV dapat ditemukan secara asimptomatik disertai peningkatan aktivitas serum aminotransferase. Pada kasus aminotransferase normal perjalanan penyakit akan ditemukan relatif lebih ringan.

perjalanan penyakit akan ditemukan relatif lebih ringan. Kelainan laboratorium lain (sering dijumpai infeksi HCV) -

Kelainan laboratorium lain (sering dijumpai infeksi HCV)

- Peningkatan kadar serum globulin

- Kadar serum albumin : waktu protrombrin mula mula normal pada stadium lanjut menurun

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

- Krioglobulin campuran

- Proteinuria dan penurunan fungsi ginjal

- Penurunan kadar fragmen komponen komplemen

Pemeriksaan Laboratorium Serologi Infeksi HCV

Penting untuk DD hepatitis virus akut

→ Antibodi IgM Virus Spesifik

- IgM Anti HAV

- IgM Anti HBC

- IgM Anti HCV

- IgM Anti-Delta

- IgM Anti HEV

Pertanda Pernah Terpapar HCV

Terpapar HCV → yang dilihat total Anti HCV yang terdiri dari 3 generasi tes

GENEERASI II EIA Anti HCV ( eia 2 )

Disini disamping antigen c100-3 juga dipakai antigen rekombinan c22-3 dari regio core lebih peka dari generasi I dimana kemampuan mendeteksi HCV kronik mencapai 95%

GENERASI III EIA Anti HCV ( eia-3 )

Kecuali menggunakan semua antigen diatas ditambah antigen rekombinan dari NS5 yang lebih peka daripada EIA-1 dan EIA II (kepekaan mencapai 95-98%) namun spesifisitas tergantung profil risiko infeksi HCV populasi daerah tersebut

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Daerah dengan resiko infeksi HCV rendah berkolerasi dengan hiper gammaglobulinaemia

Hasil tes Anti-HCV positif perlu di konfirmasi dengan rekombinan imunoblot assay (RIBA)

Pemeriksaan Laboratorium Molekular Infeksi HCV

- Tes HCV RNA

- HCV Genotyping

Merupakan kemajuan dalam bidang pemeriksaan

1. Lebih peka mendeteksi HCV

2. Dampak lebih menguntungkan dalam pemantauan terpai penderita

infeksi HCV

Tes HCV RNA :

Keuntungan

1. Lebih peka mendeteksi hepatitis C akut / kronik

2. Konfirmasi hasil tes HCV EIA positif

3. Menunjukan adanya transmisi HCV perinatal

4. Deteksi adanya paparan HCV dalam pekerjaan

5. Pemantauan respon obat anti viral pada pengobatan infeksi HCV

PEMERIKSAAN HARUS DIPERIKSA BERKALA ! KARENA SATU KALI PEMERIKSAAN HCV RNA NEGATIF TIDAK DAPAT MENGEKLUSI ADANYA VIRAEMI

TES HCV RNA KUALITATIF

FUNGSI : Deteksi HCV RNA dalam darah

Tahapan

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

1. Preparasi sampel : ekstrasi asam nukleat

2. Transkripsi balik dari RNA --> cDNA

3. Amplifikasi DNA : disini dipakai 2 oligonukleotida primer dan thermostabil

DNA polimerase --> 10^5 hingga 10^6 sekuensi target dalam 25-30 siklus

CONTOH

1 TMA / Transcription Mediated Amplification

2 Real Time PCR / RT PCR

Batasan deteksi terndah <50 copie IU/ml

RT PCR : 10 copies/ml

Versant HCV RNA : 2,4 IU/ml

TES HCV RNA KUANTITATIF

Fungsi : Pemantaun respons terapi antiviral , batasan deteksi terendah 100- 1000 IU/ml

Assay range :

Branch DNA : 615 - 7 690 000 IU/ml

RT PCR : 600 - 850.000 IU/ml

TES GENOTYPING HCV

Teknik molekuler juga digunakan untuk penentuan genotipe HCV secara rutin sebelum IFN

Ada 2 Cara :

1. Reverse Hybridization Assay

Contoh : Versant HCV Genotyping Assay (Lipa) dan Bayer Diagnostik

2. Direct Nucleic Acid Sequence Analysis of the 5’ Non-coding Region of the HCV Genove

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Contoh : Trugene HCV 5’ NC Genotyping Kit , Canada

Kesimpulan nya :

Diagnose spesifik hepatitis virus akut/ kronik, perlu pemeriksaan petanda virus spesifik (serologik dan molekuler)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PANKREAS

Anatomi Pankreas

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PANKREAS ➢ Anatomi Pankreas Berbentuk oblique , ➢ Pancreas terdiri 4 bagian: kepala,

Berbentuk oblique ,

Pancreas terdiri 4 bagian:

kepala, leher, badan dan

ekor.

Kepalanya:melekat langsung dengan bagian dari duodenum.

Function:

a. Endocrine

b. Exocrine

Terdiri kepala leher badan dan ekor . Melekat langsung

1. Insulin

Disekresikan ke dalam darah.

Dikontrol oleh :

A. Konsentrasi Glukosa darah

B. Vagal interaksi

C. Konsentrasi lokal dari somatosin

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

2. Polipeptida pankreas

A. Berfungsi untuk regulasi sekresi kelenjar eksokrin dari pankreas

B. Motitilitas tractus biliaris

3. Somatostatin

Sangat menghambat aktivitas gastrointestinal

Produk akhir eksokrin pankreas

1. Larutan isotonik : pH range of 8

Cairan pankreas yang mensekresi enzim , air dan elektrolit

a. Protease: - proenzyme

enzim , air dan elektrolit a. Protease: - proenzyme tripsinogen ,chymotripsinogen. Metabolisme protein. b.

tripsinogen ,chymotripsinogen.

Metabolisme protein.

b. Pancreatic lipase

Metabolisme lipid

c. Pancreatic Amylase

Metabolisme Karbohidrat.

d. Lain-lain:

Ribonuclease, deoxyribonuclease, gelatine, elastase.

Penyakit pankreas :

1. PANKREASITIS AKUT Infeksi :

Insiden 1990 2000 meningkat 10 kali , mortalitas 2 9 persen

Akut pankreatitis tanpa komplikasi

Pankreasitis kronik dengan komplikasi

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Proses inflamasi akut dari pankreas

Dapat menyerang jaringan pankreas, mempengaruhi sistem organ atau keduanya

Mortalitas :

1. 5 - 10

2. SIRS (Sistem Inflammatory Response Syndrome)

3. Gangguan Multi organ

Patofisiolgi

1. Udem intestisial ,

2. Terdapat nekrosis jaringan lemak dan sekelilingnya

3. Terjadi nerkrosis jaringan

lemak dan sekelilingnya 3. Terjadi nerkrosis jaringan Tripsin mempengaruhi kalikrein , phospolipase , e lastase

Tripsin mempengaruhi kalikrein , phospolipase , elastase → autodigesti jaringan pankreas → vasodilatasi , peningkatan permeabilitas kapiler .

Aktivasi Enzim Pankreas:

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Obat untuk Pankreasitis A. Definite association Azathioprine; 6-merkaptopurine;

Obat untuk Pankreasitis

A. Definite association

Azathioprine; 6-merkaptopurine; asparaginase; pentamidine;

didanosine.

B. Probable

Valproic acid; furosemide; hidrochlortiazide; sulphonamide; tetracycline; estrogen; paracetamol overdose; ergotamine overdose.

C. Possible

Corticosteroids; cyclosporine; methyldopa; metronidazole; erithromycin; cimetidine.

GEJALA KLINIS

- Nyeri epigastrium, localisasi tidak jelas, menyebar ke punggung.

- Tanda2 iritasi peritoneal (DD: Ischemi akut dari usus).

- Nausea, vomitus, abdominal distentio

KRITERIA RANSON

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 KRITERIA IMRIE Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 70

KRITERIA IMRIE

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 KRITERIA IMRIE Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 70

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Diagnoses pankreatitis

1. Serum amylase nya Meningkat 2 12 jam setelah ada gejala

Cutoff 3 kali dari harga normal Level peak dapat dinilai 12-72 jam Kembali normal pada 2-3 hari Level persisten kurang dari 10 hari

2. Serum Lipase meningkat 4-8 jam setelah onset , menurut 3-5 hari , menurun 8-14 hari , sensitifitas 50-99 persen , spesifitas 86-100, Lebih mendingan daripada pankreatis alkoholik

3. Tripsinogen Human pancreatic juice , Tripsinogen 19% dari total protein Three tirpsinogen isoenzim Tersekresi oleh sel acinal pankreas Teraktivasi oleh enterokinase Aktif pada pH 5,6 1mM Ca 2 Tripsinogen inhibotor PSTI - Pankreatik Sekretori Tripsin Inhibitor TATI - Tumar Associated Trypsin Inhibitor

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Laboratorium

Ekspresi Trypsinogen:

di luar pankreas: usus kecil, mukosa lambung, kerongkongan, perut, paru-paru, ginjal, hati

Ekspresi dalam Tumor:

Ca ovarii, Ca gaster, Ca kolorektal, Ca pankreas, Ca kerongkongan, kolangarsinoma, kanker paru-paru, Ca prostat

kerongkongan, kolangarsinoma, kanker paru-paru, Ca prostat Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved 72 |

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

3.02 Gangguan Gastrointestinal Week 4 Diagnosa A. Computed Tomography (CT) B. Magnetic Resonance Imaging (MRI) C.

Diagnosa

A. Computed Tomography (CT)

B. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

C. Cytologyc

D. Tumor maker

Cancer antigen (CA) 19-9

Adenokarsinoma pankreas

Konsentrasi dalam cairan kista

- belum ditetapkan sebagai berguna

indikator

- Indikator untuk membedakan musinosum

dan lesi kistik non-mucinous.

- meningkat pada lesi kistik ganas

Kanker antigen (CA) 72-4

Lesi mukosa

menyarankan bahwa CA 72-4 berguna untuk mengidentifikasi lesi musinosum

:

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved

3.02 Gangguan Gastrointestinal

Week 4

Mucin seperti antigen yang mencerminkan adanya epitelium musinum juga telah digunakan untuk lesi dx mucinous dan kanker

Amilase bukan penanda tumor

Karsinoma Embryonic Antigen (CEA)

Oncofetal antigen

Bisa ditemukan di: usus, hati, pankreas

Tingkat yang ditinggikan:

- Kanker kolorektal (stadium awal 40%, terlambat

tahap 60%).

- Ca payudara, paru-paru Ca, ovarium Ca, perut

kanker, kanker pankreas.

CEA

Fungsi CEA:

Monitoring tiap 3 bulan

Reaksi monitoring normal 1-2 bulan setelah operasi

Prognosis :

Pre operatif: CEA < 10 mg/ml metastase

Post operatif: menurun < 5 mg/L recidive

Copyright © 2016-2018 by Caem, All right Reserved