Anda di halaman 1dari 7

A.

Uji Binomial
1. Pengertian Uji Binomial
Uji binomial adalah uji non parametrik yang digunakan untuk menguji
hipotesis suatu proporsi populasi yang terdiri dari kelompok kelas, misalnya kelas
pria dan wanita, senior dan yunior, dll, datanya berbentuk nominal dan jumlah
sampelnya kecil. Uji binomial akan membandingkan frekuensi yang diobservasi
dari dua kategori pada sebuah variabel dikotomi terhadap frekuensi harapan di
bawah distribusi binomial dengan parameter probabilitas tertentu.
2. Prosedur atau Cara Penelitian Uji Binomial
 Tata cara penelitian
a. Menentukan hipotesis
b. Menentukan tes statistik/ statistik uji. Tes binomial dipilih karena datanya
ada dalam dua kategori diskrit, dan desainnya bertipe satu sampel
c. Menentukan tingkat signifikansi. Tingkat signifikan atau taraf nyata adalah
bilangan – bilangan yang mencerminkan seberapa besar peluang untuk
melakukan kekeliruan menolak yang seharusnya diterima
d. Menentukan distribusi sampling. Distribusi sampling diberikan dalam rumus
metode jika n > 25, tetapi bila n , dan P = Q = ½ dapat langsung melihat
table D yang menyajikan kemungkinan kejadian di bawah
e. Menentukan daerah penolakan. Daerah penolakan terdiri dari semua harga x
yang sangat kecil. Karena arah perb edaannya diramalkan sebelumnya,
daerah penolakan berisi satu.
f. Menentukan keputusan toak atau terimadan mengambil kesimpulan
 Prosedur pengujian :
a. Tentukan n = jumlah semua kasus yang diteliti
b. Tentukan jumlah frekuensi dari masing – masing kategori
c. Jika n dan jika P = Q = ½ lihat table D (Siegel, 1997) yang menyajikan
kemungkinan satu sisi / one tailed kemunculan harga x yang lebih kecil
dari pengamatan di bawah . Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki
perkiraan frekuensi mana yang lebih kecil. Jika belum memiliki perkiraan,
harga P dalam Tabel dikalikan dua (harga p = p Tabel x 2)
d. Jika n > 25 dan P mendekati ½, digunakan rumus dibawah ini. Sedangkan
table yang digunakan adalah Tabel A (Siegel, 1997) yang menyajikan
kemungkinan satu sisi/one tailed untuk kemunculan harga z pengamatan
dibawah . Uji satu sisi digunakan apabila telah memiliki perkiraan rekuensi
mana yang lebih kecil. Jika belum memiliki perkiraan, harga P dalam Tabel
A dkalikan dua (harga p = tabel x 2)
e. Jika p diasosiasikan denggan harga x atau x yang diamati ternyata , maka
tolak
3. Rumus Uji Binomial
Hipotesa dalam Uji Binomial
Dua sisi : Ho: p = po dan Ha: p ≠ po
Satu sisi : Ho: p <= po dan Ha: p > po
Ho: p >= po dan Ha: p < po

p = proporsi pada sampel


po = proporsi pada populasi

a. Dua Sisi
Jika p ≤ po, maka:

Jika p > po, maka:


b. Satu Sisi

Jika Ho: p ≥ po dan Ha: p < po, maka:

Jika Ho: p ≤ po dan Ha: p > po, maka :

B. Uji Chi Kuadrat


1. Pengertian Uji Chi Kuadrat
Uji chi kuadrat merupakan pengujian hipotesis tentang perbandingan antara
frekuensi sampel yang benar-benar terjadi ( selanjutnya disebut dengan frekuensi
observasi, dilambangkan dengan fₒ ) dengan frekuensi harapan yang didasarkan atas
hipotesis tertentu pada setiap kasus atau data ( selanjutnya disebut dengan frekuensi
harapan, dilambangkan dengan fₑ ).Hal yang perlu di ingat bahwa teknik chi
kwadrat, skala yang digunakan adalah skala yang bersifat nominal. Hal ini berarti
jika data berskala interval, maka tidak dapat diolah dengan chi kwadrat (tetapi
menggunakan teknik uji t / uji F).
2. Prosedur atau Cara Pengujian Chi Kuadrat
Uji normalitas dengan menggunakan Chi-Kuadrat dapat pula dilakukan
dengan prosedur atau cara pengujian seperti berikut :
a. Mencari nilai terbesar dan terkecil
b. Mencari nilai rentang
c. Mencari banyak kelas
d. Mencari panjang kelas interval (i)
e. Membuat tabel distribusi frekuensi
f. Mencari rata-rata (mean)
g. Mencari simpangan baku (standar deviasi)
h. Membuat daftar frekuensi yang diharapkan dengan cara sebagai berikut :
 Menentukan batas kelas, yaitu ujung bawah kelas interval dikurangi 0.5 dan
kemudian ujung atas kelas interval ditambah 0.5
 Mencari nilai Z menggunakan batas bawah dan batas atas kelas interval
 Mencari luas 0-Z dari Tabel Kurva Normal dari 0-Z dengan menggunakan Z
hitung.
 Mencari selisih luas tiap kelas interval dengan cara mengurangkan nilai-nilai
0-Z tepi bawah dengan tepi atas.

i. Mencari frekuensi yang diharapkan dengan cara mengalikan luas tiap interval
dengan jumlah responden. Serta mencari Chi-Kuadrat hitung

3. Rumus Uji Chi Kuadrat


 Rumus umum uji chi kuadrat

Keterangan
Oi = frekuensi hasil pengamatan pada klasifikasi ke-i
Ei = frekuensi yang diharapkan pada klasifikasi ke-i

 Mencari nilai Z menggunakan batas bawah dan batas atas kelas interval dengan
rumus :
C. Uji Wilcoxon
1. Pengertian Uji Wilcoxon
Pengertian uji bertanda wilcoxon adalah suatu pengujian yang digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua sampel dependen yang berpasangan
atau berkaitan dan digunakan sebagai alternatif pengganti uji Paired Sample T Test
jika data tidak berdistribusi normal. Uji wilcoxon cocok digunakan apabila kita tidak
hanya mengetahui besarnya setiap beda tetapi juga arah harga pengamatan yang
bersangkutan, maka kita dapat menetapkan peringkat untuk masing-masing beda
tersebut. Uji wilcoxon berfungsi untuk menguji perbedaan antar data berpasangan,
menguji komparasi antar 2 pengamatan sebelum dan sesudah (before after design)
dan mengetahui efektivitas suatu perlakuan.
2. Prosedur atau Cara Pengujian Uji Wilcoxon
Berikut adalah prosedur atau cara pengujian uji Wilcoxon :
a. Menentukan Hipotesis
H0 : tidak terdapat ketahanan antara …… Terhadap……
H1 : terdapat ketahanan antara…..Terhadap….
b. Menentukan taraf nyata α dengan T tabelnya.
α = …. n = ….. Ttabel(α;n) = ….
c. Menentukan kriteria pengujiannya yaitu
Jika H1: μ > μ0, maka uji dengan satu sisi gunakan Thitung
Jika H1 : μ < μ0, maka uji dengan satu sisi gunakan Thitung+
Jika H1 : μ ≠ μ0, maka uji dengan dua sisi.
d. Pilih nilai terkecil diantara nilai Thitung+ dan Thitung
e. Menentukan nilai uji statistic
f. Membuat Kesimpulan
Kesimpulan dibuat untuk mengambil keputusan apakah H0 diterima atau H1 yang
diterima.
3. Rumus Uji Wilcoxon
D. Uji Tanda
1. Pengertian Uji Tanda
Uji tanda ( sign-test ) merupakan uji statistika non parametrik yang sederhana

dan paling awal digunakan. Dinamakan “uji tanda” karena hasil pengamatan

didasarkan atas tanda (positif atau negatif) dan bukan pada besarnya nilai numerik.

Dapat dilakukan pada satu sampel dan sampel berpasangan.

a. Uji Tanda Satu Sampel.

Untuk mengetahui apakah sampel yang kita peroleh berasal dari populasi dengan

median atau patokan nilai tertentu. Untuk menguji hipotesis, data sampel disusun

sedemikian rupa sehingga untuk nilai yang “> median” populasi kita beri tanda

(+), untuk nilai yang “< median” populasi diberi tanda (-) dan untuk yang “=

median” populasi diberi tanda (0). H 0 : jumlah tanda (+) = jumlah tanda (-) Bila

hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan tanda, maka kita ingin

mengetahui apakah perbedaan tersebut memang berbeda atau hanya karena faktor

kebetulan saja.

b. Uji sampel berpasangan

Uji tanda dipakai untuk data yang berpasangan dengan kategori/perlakuan dua

(P=2) dan terbaik jika digunakan pada data dengan skala pengukuran nominal

(ada/tidak, mati/hidup,sakit/sehat dan sebagainya). Pada statistika parametric,

untuk membandingkan dua proporsi pada sampel yang berpasangan digunakan

Mc.Nemar’s test.Untuk membandingkan dua proporsi melalui dua sampel yang

berpasangan atau setiap penderita diperlakukan dua kali pada statistika non-

parametrik digunakan sign test.


2. Prosedur atau Cara Pengujian Uji Tanda